Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN GADAR III

KASUS KEGAWATDARURATAN PADA PSIKIATRI: GADUH


GELISAH

OLEH :
DIV KEPERAWATAN TINGKAT 4 SEMESTER VII
1. KOMANG PANDE DEWI AYUNI (P07120216001)
2. PUTU INDAH PRAPTIKA SUCI (P07120216002)
3. KADEK DWI DHARMA PRADNYANI (P07120216003)
4. EKA WAHYU RIFANI MEILIA DEWI (P07120216004)
5. NI KOMANG SRI ARDINA (P07120216005)
6. NI LUH PUTU DESY TRISNA EKAYANTI (P07120216006)
7. NI LUH PUTU INTAN SARI (P07120216007)
8. NI MADE ANASARI (P07120216008)
9. NI LUH PUTU MANIK JUNI ASTRI DEWI (P07120216009)
10. NI LUH PUTU PUTRI WIDIARI (P07120216010)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha
Esa. karena berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik
dan tepat waktu. Selain itu penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen
pembimbing yang telah memberikan tugas dan membimbing kami. Penulis membuat makalah
ini untuk memenuhi tugas mata kuliah ASKEP GADAR III tentang “KASUS
KEGAWATDARURATAN PADA PSIKIATRI : GADUH GELISAH”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka penulis berharap
kritik dan saran dari pembaca . Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembacat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan kita semua.

Denpasar, 19 Agustus 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI........................................................................................ Error! Bookmark not defined.
BAB 1 ................................................................................................... Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN ............................................................................... Error! Bookmark not defined.
A. Latar Belakang ........................................................................... Error! Bookmark not defined.
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................................ 5
C. Tujuan.......................................................................................................................................... 5
BAB 2 ..................................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN .................................................................................................................................... 6
A. Konsep dasar gaduh gelisah ......................................................................................................... 6
1. Definisi ................................................................................................................................... 6
2. Etiologi ................................................................................................................................... 6
3. Manifestasi Klinis .................................................................................................................... 8
4. Penatalaksanaan....................................................................................................................... 9
B. Konsep asuhan keperawatan gaduh gelisah.................................................................................. 17
1. Pengkajian ............................................................................................................................. 17
2. Diagnosa ............................................................................................................................... 19
3. Intervensi ............................................................................................................................... 20
4. Implementasi ......................................................................................................................... 22
5. Evaluasi ................................................................................................................................. 23
BAB 3 ................................................................................................................................................... 24
PENUTUP............................................................................................................................................ 24
A. Kesimpulan................................................................................................................................. 24
B. Saran ........................................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 25

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan
Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang
memerlukan intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain di
rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, klinik dan sentra primer. Kasus kedaruratan
psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi
terapeutik segera, antara lain: (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010)
Kegawatdaruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada kondisi
darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatrik seperti percobaan bunuh diri,
penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan lainnya pada
perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para profesional di bidang
kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial.
Permintaan untuk layanan kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di
seluruh dunia sejak tahun 1960-an, terutama di perkotaan. Penatalaksanaan pada pasien
kegawatdaruratan psikiatrik sangat kompleks. Para profesional yang bekerja pada
pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan kekerasan
akibat keadaan mental pasien mereka.
Pasien biasanya datang atas kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas
kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja. Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi
psikiatrik pada umumnya meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa
meliputi gejala atau kekacauan mental baik sifatnya kronis ataupun akut.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep dasar dari kegawatdaruratan psikiatri kususnya gaduh gelisah?
2. Bagaimana konsep asuhan kegawatdaruratan psikiatri dengan gaduh gelisah?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui konsep dasar dari gaduh gelisah.
2. Untuk mengetahui asuhan kegawatdaruratan psikiatri dengan gaduh gelisah.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT GADUH GELISAH


1. DEFINISI
Keadaan gaduh gelisah bukanlah diagnosis dalam arti kata sebenarnya,
tetapi hanya menunjuk pada suatu keadaan tertentu, suatu sindrom dengan
sekelompok gejala tertentu. Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutan
sementara untuk suatu gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh dan
gelisah. (Maramis dan Maramis, 2009).
Keadaan gaduh gelisah biasanya timbul akut atau sub akut. Gejala utama
ialah psikomotorik yang sangat meningkat, seperti banyak berbicara, berjalan
mondar mandir, tidak jarang berlari-lari dan meloncat-loncat bila keadaan itu berat.
Gerakan tangan dan kaki serta ajuk (mimic) dan suaranya cepat dan hebat. Ekspresi
wajah terlihatan bingung, marah-marah atau takut. Ekspresi ini mencerminkan
gangguan afek-emosi dan proses berpikir yang tidak realistic lagi. Jalan pikiran
biasanya cepat dan sering terdapat waham curiga. Tidak jarang juga timbul
halusinasi penglihatan (terutama pada sindroma otak organic yang akut) dan
halusinasi pendengaran (terutama pada skizofrenia).

Keadaan gaduh – gelisah dapat dimasukkan ke dalam golongan kedaruratan


psikiatrik, bukan karena frekuensinya yang cukup tinggi, akan tetapi karena
keadaan ini berbahaya, baik bagi pasien sendiri maupun bagi lingkungannya,
termasuk orang – orang dan benda – benda.

2. ETIOLOGI
Keadaan gaduh gelisah merupakan manifestasi klinis salah satu jenis psikosis
(Maramis dan Maramis, 2009):
a) Psikosis karena gangguan mental organik: delirium
Pasien dengan keadaan gaduh-gelisah yang berhubungan dengan
sindroma otak organik akut menunjukkan kesadaran yang menurun. Sindroma
ini dinamakan delirium. Istilah sindroma otak organik menunjuk kepada
keadaan gangguan fungsi otak karena suatu penyakit badaniah (Maramis dan
Maramis, 2009). Penyakit badaniah ini yang menyebabkan gangguan fungsi
otak itu mungkin terdapat di otak sendiri dan karenanya mengakibatkan

5
kelainan patologik-anatomik (misalnya meningo-ensefalitis, gangguan
pembuluh darah otak, neoplasma intracranial, dan sebagainya), atau mungkin
terletak di luar otak (umpamanya tifus abdominalis, pneumonia, malaria,
uremia, keracunan atropine/kecubung atau alcohol, dan sebagainya) dan hanya
mengakibatkan gangguan fungsi otak dengan manifestasi sebagai psikosa atau
keadaan gaduh-gelisah, tetapi tidak ditemukan kelainan patologik-anatomik
pada otak sendiri (Maramis dan Maramis, 2009).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada sindrom otak organik akut
biasanya terdapat kesadaran menurun sedangkan pada sindrom otak organik
menahun biasanya terdapat dementia. Akan tetapi suatu sindrom otak organik
menahun (misalnya tumor otak, demensia paralitika, aterosklerosis otak, dan
sebagainya) dapat saja pada suatu waktu menimbulkan psikosis atau pun
keadaan gaduh gelisah. Untuk mengetahui penyebabnya secara lebih tepat,
perlu sekali dilakukan evaluasi internal dan neurologis yang teliti (Maramis dan
Maramis, 2009).

b) Skizofrenia dan gangguan skizotipal


Bila kesadaran tidak menurun, maka biasanya keadaan gaduh gelisah itu
merupakan manifestasi suatu psikosis dari kelompok ini, yaitu psikosis yang
tidak berhubungan atau sampai sekarang belum diketahui dengan pasti adanya
hubungan dengan suatu penyakit badaniah seperti pada gangguan mental
organik.
Skizofrenia merupakan psikosis yang paling sering didapat di negara kita.
Secara mudah dapat dikatakan bahwa bila kesadaran tidak menurun dan
terdapat inkoherensi serta afek-emosi yang inadequate, tanpa frustasi atau
konflik yang jelas maka hal ini biasanya suatu skizofrenia. Diagnosa kita
diperkuat bila kelihatan juga tidak ada perpaduan (disharmoni) antara berbagai
aspek kepribadian seperti proses berpikir, afek-emosi, psikomotorik dan
kemauan (kepribadian yang retak, terpecah-belah atau bercabang = schizo; jiwa
= phren) yaitu yang satu meningkat, tetapi yang lain menurun. Pokok
gangguannya terletak pada proses berpikir (Maramis dan Maramis, 2009).
Dari berbagai jenis skizofrenia, yang sering menimbulkan keadaan gaduh-
gelisah ialah episode skizofrenia akut dan skizofrenia jenis gaduh-gelisah
katatonik. Di samping psikomotor yang meningkat, pasien menunjukkan

6
inkoherensi dan afek-emosi yang inadequate. Proses berpikir sama sekali tidak
realistik lagi (Maramis dan Maramis, 2009).

c) Gangguan psikotik akut dan sementara


Gangguan ini timbul tidak lama sesudah terjadi stress psikologik yang
dirasakan hebat sekali oleh individu. Stress ini disebabkan oleh suatu frustasi
atau konflik dari dalam ataupun dari luar individu yang mendadak dan jelas,
umpamanya dengan tiba-tiba kehilangan seorang yang dicintainya, kegagalan,
kerugian dan bencana. Gangguan psikotik akut yang biasanya disertai keadaan
gaduh-gelisah adalah gaduh-gelisah reaktif dan kebingungan reaktif (Maramis
dan Maramis, 2009).

d) Psikosis Bipolar.
Psikosis bipolar termasuk dalam kelompok psikosa afektif karena pokok
gangguannya terletak pada afek-emosi. Tidak jelas ada frustasi atau konflik
yang menimbulkan gangguan mental ini. Belum ditemukan juga penyakit
badaniah yang dianggap berhubungan dengan psikosa bipolar, biarpun
penelitian menunjuk kearah itu. Tidak ditemukan juga disharmoni atau
keretakan kepribadian seperti pada skizofrenia; pada jenis depresi ataupun
mania, bila aspek afek-emosinya menurun, maka aspek yang lain juga menurun,
dan sebaliknya (Maramis dan Maramis, 2009).
Pada psikosa bipolar jenis mania tidak terdapat inkoherensi dalam arti kata
yang sebenarnya, tetapi pasien itu memperlihatkan jalan pikiran yang meloncat-
loncat atau melayang (“flight of ideas”). Dia merasa gembira luar biasa (efori),
segala hal dianggap mudah saja. Psikomotorik meningkat, banyak sekali
berbicara

e) Amok
Amok adalah keadaan gaduh-gelisah yang timbul mendadak dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor sosiobudaya. Karena itu PPDGJ-III (Pedoman
Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa ke-III di Indonesia) memasukkannya
ke dalam kelompok “Fenomena dan Sindrom yang Berkaitan dengan Faktor
Sosial Budaya di Indonesia” (“culture bound phenomena”). Efek “malu”
(pengaruh sosibudaya) memegang peranan penting. Biasanya seorang pria,

7
sesudah periode “meditasi” atau tindakan ritualistic, maka mendadak Ia bangkit
dan mulai mengamuk. Ia menjadi agresif dan destruktif, mungkin mula-mula
terhadap yang menyebabkan ia malu tetapi kemudian terhadap siapa saja dan
apa saja yang dirasakan menghalanginya.
Kesadaran menurun atau berkabut (seperti dalam keadaan trance).
Sesudahnya terdapat amnesia total atau sebagian. Amok sering berakhir karena
individu itu dibuat tidak berdaya oleh orang lain, karena kehabisan tenaga atau
karena ia melukai diri sendiri, dan mungkin sampai ia menemui ajalnya
(Maramis dan Maramis, 2009).

3. MANIFESTASI KLINIS
a. Banyak bicara
b. Mondar-mandir
c. Lari-lari
d. Loncat-loncat
e. Destruktif
f. Bingung
Afek/emosi excitement, yaitu :
a. Marah-marah
b. Mengancam
c. Agresif
d. Ketakutan
e. Euphoria

Keadaan gaduh-gelisah biasanya timbul akut atau subakut. Gejala utama adalah
psikomotorik yang sangat meningkat, seperti banyak berbicara, berjalan mondar –
mandir, berlari – berlari dan meloncat – loncat bila keadaan itu berat. Gerakan tangan
dan kaki serta ajuk (mimik), suara cepat dan hebat. Wajah terlihat bingung, marah-
marah atau takut. Ekspresi ini mencerminkan gangguan afek-emosi dan proses berpikir
yang tidak realistik lagi. Jalan pikiran biasanya cepat dan sering terdapat waham curiga.
Tidak jarang juga timbul halusinasi penglihatan (terutama pada sindrom otak organik
yang akut) atau halusinasi pendengaran (terutama pada skizofrenia).

8
Karena gangguan berpikir ini, serta waham curiga dan halusinasi (lebih – lebih
bila halusinasi itu menakutkan), maka pasien menjadi sangat bingung, gelisah dan
gaduh. Ia bersikap bermusuhan dan mungkin menjadi berbahaya bagi dirinya sendiri
dan/atau lingkungannya. Ia dapat melukai diri sendiri atau mengalami kecelakaan maut
dalam kegelisahan yang hebat itu. Jika waham curiganya keras atau halusinasinya
sangat menakutkan, maka ia dapat menyerang orang lain atau merusak barang – barang
di sekitarnya.

Bila orang dalam keadaan gaduh-gelisah tidak dihentikan atau dibuat tidak
berdaya oleh orang – orang di sekitarnya untuk mengamankan si pasien maupun
lingkungannya, maka ia akan kehabisan tenaga dengan segala akibatnya atau ia
meninggal karena kecelakaan.

Tergantung pada gangguan primer, maka kesadaran dapat menurun secara


“kuantitatif” (tidak compos mentis lagi) dengan amnesia sesudahnya (seperti pada
sindrom otak organik yang akut), atau kesadaran itu tidak menurun, akan tetapi toh
tidak normal, kesadaran itu “berubah” secara kualitatif (seperti pada psikosis
skizofrenia dan bipolar).

Seperti pada semua psikosis, maka individu dalam keadaan gaduh-gelisah itu
sudah kehilangan kontak dengan kenyataan: proses berpikir, afek-emosi, psikomotor
dan kemauannya sudah tidak sesuai lagi dengan realitas.

4. PENATALAKSANAAN

Pasien dalam episode kekerasan tidak memperhatikan campur tangan


rasional dari orang lain dan kemungkinan tidak mendengarkan mereka. Jika
memiliki senjata, pasien tersebut secara khusus berbahaya dan mampu untuk
membunuh. Pasien tersebut harus dilucuti senjatanya dan kalau bisa tanpa
membahayakan pasien tersebut. Hal ini sebaiknya dilakukan oleh aparat keamanan
yang terlatih.

Pasien harus ditempatkan dalam lingkungan yang aman. Beberapa pasien


perlu dipindahkan ke unit forensik karena beratnya potensi kekerasan mereka.
Medikasi yang spesifik diberikan jika diindikasikan, kecuali diperlukan tindakan

9
non spesifik untuk memodifikasi perilaku sampai penyebabanya dipastikan dan
terapi psesifik dimulai.

Pemakaian medikasi adalah dikontraindikasikan pasien yang teragitasi akut


yang menderita cidera kepala, karena medikasi dapat membingungkan gambaran
klinis. Pada umumnya, haloperidol intramuskular (IM) adalah salah satu terapi
gawat darurat yang paling bermanfaat untuk pasien psikotik yang melakukan
kekerasan.

Terapi elektrokonvulsif (ECT) juga telah digunakan dalam ruang gawat


darurat untuk mengendalikan kekerasan psikotik. Satu atau beberapa kali ECT
dalam beberapa jam biasanya mengakhiri suatu episode kekerasan psikotik.

Psikoterapi

Dalam intervensi psikiatri gawat darurat, semua usaha dilakukan untuk


membantu pasien mempertahankan harga dirinya. Empati adalah penting untuk
penyembuhan pasien psikiatri. Pengetahuan yang diperlukan adalah bagaimana
biogenetik, situasional, perkembangan dan eksistensial berkumpul pada satu titik
dalam riwayat penyakit untuk menciptakan kegawat daruratan psikiatri adalah
seruppa untuk kematangan keterampilan pada dokter psikiatri.

Untuk keadaan kegawatdaruratan psikiatri, diperlukan lebih dari satu orang


psikiater. Dan tidak ada prosedur yang baku untuk setiap orang, karena masing-
masing orang memiliki kerentanan yang berbeda dan proses psikoterapi yang
berbeda.

Farmakoterapi

Indikasi utama untuk pemakaian medikasi psikotropik diruang gawat


darurat adalah perilaku kekerasan atau menyerang, kecemasan atau panik yang
masif, dan reaksi ekstrapiramidalis, seperti distonia dan akathisia sebagai efek
samping dari obat psikiatri. Suatu bentuk yang jarang dari distonia adalah
laringospame, dan dokter psikiatri harus siap untuk mempertahankan jalan nafas
yang terbuka dengan intubasi jika diperlukan.

10
Orang yang paranoid atau dalam keadaan luapan katatonik memerlukan
trankuilisasi. Ledakan kekerasan yang episodik berespon terhadap lithium
(Eskalith), penghambat-beta, dan carbamazepine (Tegretol). Jika riwayat penyakit
mengarahkan suatu gangguan kejang, penelitian klinis dilakukan untuk
menegakkan diagnosis, dan suatu pemeriksaan dilakukan untuk memastikan
penyebabnya. Jika temuan adalah positif, antikonvulsan adalah dimulai, atau
dilakukan pembedahan yang sesuai (sebagai contohnya, pada massa serebral).
Untuk intoksikasi akibat zat rekreasional, dilakukan tindakan konservatif mungkin
adekuat. Pada beberapa keadaan, obat-obat seperti thiothixene (Navane) dan
Haloperidol (Haldol), 5-10 mg setiap setengah sampai satu jam diperlukan sampai
pasien distabilkan. Benzodiazepine digunakan sebagai pengganti atau sebagai
tambahan antipsikotik (untuk menurunkan dosis antipsikotik). Jika obat reaksional
memiliki sifat antikolinergik yang kuat, maka benzodiazepine lebih tepat
dibandingkan antipsikotik. Orang dengan respon alergik atau menyimpang
terhadap antipsikotik atau benzodiazepine diobati dengan sodium amobarbital
(Amytal) (sebagai contohnya, 130 mg oral atau IM), paraldehyde, atau
diphenhydramine (Benadril, 50 sampai 100 mg oral atau IM).

Pasien yang melakukan kekerasan dan melawan paling efektif ditenangkan


dengan sedatif atau antipsikotik yang sesuai. Diazepam (Valium), 5-10 mg, atau
lorazepam (Ativan), 2-4 mg, dapat diberikan intravena (IV) perlahan-lahan sampai
2 menit. Klinisi harus memberikan medikasi IV dengan sangat berhati-hati,
sehingga henti pernafasan tidak terjadi. Pasien yang memerlukan medikasi IM
dapat disedasi dengan haloperidol, 5-10 mg IM, atau dengan chlorpromazine
(Thorazine), 25 mg IM. Jika kemarahan disebabkan oleh alkohol atau sebagai
bagian dari gangguan psikomotor pascakejang, tidur yang ditimbulkan oleh
medikasi IV dengan jumlah relatif kecil dapat berlangsung selama berjam-jam. Saat
terjaga, pasien seringkali sepenuhnya terjaga dan rasonal dan biasanya memiliki
amnesia lengkap untuk episode kekerasan.

Jika kemarahan adalah bagian dari proses psikotik yang sedang berlangsung dan
kembali setelah medikasi IV menghilang, medikasi kontinu dapat diberikan.
Kadang-kadang lebih baik menggunakan dosis IM atau oral kecil dengan interval

11
½ sampai 1 jam–sebagai contohnya, Haloperidol 2-5 mg, diazepam 10 mg– sampai
pasien terkendali dibandingkan dengan menggunakan dosis besar pada awalnya
dan menghentikannya dengan pasien yang mengalami overmedikasi. Saat perilaku
pasien yang terganggu telah dikendalikan, dosis yang semakin kecil dan lebih
jarang dapat diberikan. Selama terapi pendahuluan, tekanan darah pasien dan tanda
vital lainnya harus dimonitor.

Transkuilisasi cepat.

Medikasi antipsikotik dapat diberikan dalam cara cepat dengan interval 30-
60 menit untuk mencapai hasil terapetik yang secepat mungkin. Prosedur ini
bermanfaat bagi pasien yang teragitasi dan pasien yang dalam keadaan tereksitasi.
Obat yang dipilih untuk trankuilisasi cepat adalah haloperidol dan antipsikotik
potensi tinggi lainnya. Pada orang dewasa 5-10 mg Haloperidol peroral atau IM
dan diulangi dalam 20-30 menit sampai pasien menjadi tenang. Beberapa pasien
mungkin mengalami gejala ekstrapiramidal ringan dalam 24 jan pertama setelah
transkuilisasi cepat. Walaupun keadaan ini jarang, tetapi dokter psikiatri harus bisa
mengatasinya. Dan keadaan ini biasanya terjadi sebelum diberikan dosis total 50
mg. Tujuan dari pemberian ini bukanlah untuk proses sedasi atau somnolensi.

Tetapi agar pasien mampu bekerja sama dalam proses pemeriksaan dan dapat
memeberikan penjelasan tentang perilaku teragitasi. Pasien yang teragitasi atau
panik dapat diobati dengan dosis kecil lorazepam, 2-4 mg IV atau IM yang dapat
diulangi jika diperlukan dalam 20-30 menit sampai pasien ditenagkan

Kegawatan ekstrapiramidal berespon terhadap benztropine (Cogetin) 2 mg


peroral atau IM, atau diphenhydramine 50 mg IM atau IV. Beberapa pasien
berespon terhadap diazepam 5-10 mg peroral atu IV.

Pengikatan

Pengikatan digunakan jika pasien sangat berbahaya bagi dirinya sendiri atau
orang lain karena memiliki ancaman yang sangat parah yang tidak dapat
dikendalikan dengan cara lain. Pasien dapat diikat secara sementara untuk

12
mendapatkan medikasi atau untuk periode yang lama jika medikasi tidak dapat
digunakan. Paling sering, pasien yang diikat menjadi tenang setelah beberapa
waktu. Pada tingkat psikodinamika, pasien tersebut mungkin menerima
pengendalian impuls yang diberikan oleh pengikatan.

Fiksasi adalah upaya yg dilakukan petugas untuk membatasi perilaku pasien


supaya tidak mencedarai diri sendiri maupun orang lain.

Fiksasi dapat dilakukan dengan 3 cara :

1) Fiksasi Psikologis : menarik perhatian pasien dg melakukan penerimaan yg


menyenangkan, memberi perhatian terhadap masalahnya, mencoba
menenteramkan, atau memberi solusi sementara. Dalam hal ini seluruh
perhatian pasien ditarik oleh petugas sehingga melupakan kegelisahannya.
2) Fiksasi Farmakologis/ Medikasional : dengan pemberian obat-obatan yg
berefek menenangkan atau Sedatif-Hipnotik.
3) Fiksasi Fisik/Mekanis : dengan melakukan pengikatan atau memasukkan
dalam ruang Isolasi (Isolasi/Seclution)
Fiksasi mekanis pada pasien gaduh gelisah:

a. Fiksasi digunakan untuk penjagaan/perawatan pasien. agar jangan melukai


diri sendiri, menyerang orang lain atau merusak barang.
b. Harus dilakukan dengan mengingat, kenyamanan pasien tak terganggu,
pemberian makanan & obat tetap dapat berlangsung.
c. Penjelasan kepada pasien penanggung jawab pasien

d. Seharusnya memakai alat yang telah disiapkan secara standar (Pengikat


kulit yang paling aman/bukan tali).

e. Gunakan petugas terlatih sebanyak 3 – 5 orang.

f. Jelaskan pada pasien meengapa hrs diikat.

g. Seorang petugas hrs selalu terlihat pasien dan menenteramkan untuk


menghilangkan rasa takut, ketidakberdayaan & hilangnya kendali pasien

13
h. Pasien diikat dg tungkai terpisah, satu lengan diikat di satu sisi & lengan
lain di atas kepala.

i. Pengikatan harus dilakukan sedemikian rupa shg cairan IV dapat diberikan


jika perlu.

j. Kepala pasien agak ditinggikan untuk menurunkan perasaan rentan &


menghindari kemungkinan aspirasi.

k. Pengikatan harus diperiksa berkala demi keamanan & kenyamanan pasien

a. Setelah pasien diikat, dimulai intervensi terapi.

b. Setelah pasien terkendali, satu ikatan sekali waktu hrs dilepas dg intervel 5
menit, sampai pasien hanya memiliki dua ikatan (di kaki). Ke dua ikatan
lainnya harus dilepas bersamaan.
c. Selalu mencatat dengan lengkap alasan pengikatan, perjalanan terapi &
respon pasien terhadap terapi selama pengikatan.

Peran Keluarga Mencegah Kekambuhan


1. Memotivasi pasien, mendukung tumbuhnya harapan

2. Pemberian obat dan pengawasan minum obat

3. Menjadi pendengar yang baik

4. Memberi tanggung jawab dan kewajiban peran dari keluarga sebagai


pemberi asuhan
5. Dapat mengontrol ekspresi emosi keluarga, mengurangi tekanan pada
klien

Cara Keluarga Mengontrol Gaduh Gelisah

1. Mengajarkan klien menarik nafas dalam

14
2. Bila ada sesuatu yang tidak disukai anjurkan klien mengucapkan apa yang
tidak disukai klien

3. Melakukan kegiatan keagamaan seperti berwudhu, sholat, berdoa

4. Meminta bantuan petugas terkait dan terdekat untuk membantu membawa


klien ke rumah sakit jiwa terdekat. sebelum dibawa usahakan dan utamakan
keselamatan diri klien dan penolong

15
16
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN GADUH GELISAH
1. PENGKAJIAN
Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama
dan hal yang paling penting dilakukan oleh perawat, baik pada saat penderita
pertama kali masuk Rumah Sakit (untuk mengetahui riwayat penyakit dan
perjalanan penyakit yang dialami pasien) maupun selama penderita dalam masa
perawatan (untuk mengetahui perkembangan pasien dan kebutuhannya serta
mengidentifikasi masalah yang dihadapinya). Hasil pengkajian yang dilakukan
perawat terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data
yang dilakukan dalam pengkajian:
a. Wawancara
b. Pemeriksaan fisik
c. Observasi atau pengamatan
d. Catatan atau status pasien
e. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain

1) Pengkajian Primer meliputi


a. Airway
Menilai apakah jalan nafas pasien bebas. Apakah klien dapat berbicara
dan bernafas dengan mudah, nilai kemampuan klien untuk bernafas secara
normal.
Pada klien dengan kasus gaduh gelisahi secara penenggelaman,
mungkin akan ditemukan adanya timbunan cairan di paru-paru yang ditandai
dengan muntah dan sesak nafas hebat.

b. Breathing
Kaji pernafasan klien, berupa pola nafas, ritme, kedalaman, dan nilai
berapa frekuensi pernafasan klien per menitnya. Penurunan oksigen yang tajam
( 10 liter/menit ) harus dilakukan suatu tindakan ventilasi. Analisa gas darah
dan pulse oxymeter dapat membantu untuk mengetahui kualitas ventilasi dari
penderita.
Tanda hipoksia dan hiperkapnia bisa terjadi pada penderita dengan
kegagalan ventilasi seperti pada klien dengan kasus percobaan bunuh diri yang

17
dapat mengakibatkan asfiksia. Kegagalan oksigenasi harus dinilai dengan
dilakukan observasi dan auskultasi pada leher dan dada melalui distensi vena.

c. Circulation
Nilai sirkulasi dan peredaran darah, kaji pengisian kapiler, kaji
kemampuan venus return klien, lebih lanjut kaji output dan intake klien
Penurunan kardiak output dan tekanan darah, klien dengan syok hipovolemik
karena gaduh gelisah biasanya akan menunjukan beberapa gejala antara lain,
Urin output menurun kurang dari 20cc/jam, Kulit terasa dingin,
Gangguan fungsi mental, Takikardi, Aritmia

d. Disability
Menilai kesadaran dengan cepat dan akurat. Hanya respon terhadap
nyeri atau sama sekali tidak sadar. Tidak di anjurkan menggunakan GCS,
adapun cara yang cukup jelas dan cepat adalah:
A : Awakening
V : Respon Bicara
P : Respon Nyerin
U : Tidak Ada Nyeri
Penurunan kesadaran dapat disebabkan penrunan oksigenasi atau
penurunan perfusi ke otak atau disebabkan trauma langsung pada otak.
Penurunan kesadaran menuntut dilakukannya reevaluasi terhadap keadaan
oksigenasi, ventilasi dan perfusi karena keadaan gaduh gelisah.

e. Exposure
Lepaskan pakaian yang dikenakan dan penutup tubuh agar dapat
diketahui kelaianan atau cidera yang berhubungan dengan keseimbangan cairan
atau trauma yang mungkin dialami oleh klien dengan tentamen suicide, beberapa
klien dengan tentamen suicide akan mengalami trauma pada lokasi tubuh,
misalnya di leher, pergelangan tangan dan dibagian-bagian tubuh yang lain.

2) Pengkajian sekunder
a. Data pasien
Data pasien merupakan identitas pasien yang meliputi
18
1) Nama
2) Usia, jenis kelamin
3) Kebangsaan/suku
4) Berat badan, tinggi badan
5) Tingkat pendidikan
6) Pekerjaan
7) Status perkawinan
8) Anggota keluarga
9) Agama
10) Kondisi medis, prosedur pembedahan
11) Masalah emosional
12) Dirawat di RS sebelumnya
13) Pengobatan sebelumnya
14) Alergi

b. Review sistem tubuh (pada sistem utama yang mengalami gangguan)


c. Pengkajian dilanjutkan dengan mengkaji keluhan utama, keluhan tambahan serta
aspek psikologis dari klien dengan percobaan bunuh diri.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional
b. Risiko perilaku kekerasan berhubungan dengan pemikiran waham/ delusi, curiga
pada orang lain, halusinasi.

19
3. INTERVENSI
NO Diagnosa Standar luaran keperawatan Standar Intervensi
Indonesia Keperawatan Indonesia
(SLKI) (SIKI)
1 Ansietas Setelah dilakukan tindakan Terapi Relaksasi
berhubungan selama …x… jam diharapkan 1. Observasi
dengan krisis memenuhi standar hasil : a. Identifikasi penurunan
situasional Tingkat Ansietas (L.09093) tingkat energi,
1. Verbalisasi kebingungan ketidakmampuan
menurun (5) berkonsentrasi, atau
2. Verbalisasi khawatir akibat gejala lain yang
kondisi yang dihadapi mengganggu
menurun (5) kemampuan kognitif
3. Perilaku gelisah menurun (5) b. Identifikasi Teknik
4. Perilaku tegang menurun (5) relaksasi yang pernah
5. Konsentrasi membaik (5) efektif digunakan
6. Pola tidur membaik (5) c. Identifikasi kesediaan,
7. Frekuensi pernapasan kemampuan, dan
membaik (5) penggunaan Teknik
8. Frekuensi nadi membaik (5) sebelumnya
9. Tekanan darah membaik (5) d. Periksa tegangan otot,
10. Kontak mata membaik (5) frekuensi nadi, tekanan
11. Orientasi membaik (5) darah, dan suhu sebelum
dan sesudah latihan
e. Monitor respon terhadap
terapi relaksasi
2. Terapeutik
a. Ciptakan lingkungan
tenang dan tanpa
gangguan dengan
pencahayaan dan suhu
ruang nyaman, jika
memungkinkan

20
b. Berikan informasi tertulis
tentang persiapan dan
prosedur Teknik
relaksasi
c. Gunakan pakaian longgar
d. Gunakan nada sura
lembut dengan irama
lambat dan berirama
e. Gunakan relaksasi
sebagai strategi
penunjang dengan
analgetil atai tindakan
medis lain, jika sesuai
3. Edukasi
a. Jelaskan tujuan,
manfaat, Batasan dan
jenis relaksasi yang
tersedia
b. Jelaskan secara rinci
intervensi relaksasi
yang dipilih
c. Anjurkan mengambil
posisi nyaman
d. Anjurkan rileks dan
merasakan sensasi
relaksasi
e. Anjurkan sering
mengulangi atau
melatih Teknik yang
dipilih
f. Demonstrasikan dan
latih Teknik relaksasi.

21
2 Risiko perilaku Setelah dilakukan tindakan Pencegahan perilaku
kekerasan selama …x… jam diharapkan kekerasan (I.14544)
berhubungan memenuhi standar hasil : 1. Observasi
dengan pemikiran Control diri a. Monitor adanya benda
waham/ delusi, 1. Verbalisasi ancaman kepada yang berpotensi
curiga pada orang orang lain menurun (5) membahayakan
lain, halusinasi. 2. Verbalisasi umpatan b. Monitor keamanan
menurun (5) barang yang dibawa oleh
3. Perilaku menyerang pengunjung
menurun (5) c. Monitor selama
4. Perilaku melukai diri sendiri/ penggunaan barang
orang lain menurum (5) yang dapat
5. Perilaku merusak membahayakan
lingkungan sekitar menurun 2. Terapeutik
(5) a. Pertahankan lingkungan
6. Perilaku agresif/ amuk bebas dari bahaya secara
menurun (5) rutin
7. Suara keras menurun (5) b. Libatkan keluarga dalam
8. Bicara ketus menurun (5) perawatan
9. Verbalisasi keinginan bunuh 3. Edukasi
diri menurun (5) a. Anjurkan pengunjung
dan keluarga untuk
mendukung keselamatan
pasien
b. Latih cara
mengungkapkan
perasaan secara asetif
c. Latih mengurangi
kemarahan secara verbal
dan non verbal.

4. IMPLEMENTASI
Menurut Keliat (2006), implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama yang
22
aktual dan mengancam integritas pasien beserta lingkungannya. Sebelum
melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah di rencanakan, perawat perlu
memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan masih di butuhkan dan sesuai
dengan kondisi pasien pada saat ini (here and now). Hubungan saling percaya antara
perawat dengan pasien merupakan dasar utama dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan.

5. EVALUASI
Evaluasi menurut Keliat (2006) adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai
efek dari tindakan keperawatan yang dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua
jenis yaitu evaluasi proses atau formatif dan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan
dengan membandingkan respon pasien dengan tujuan yang telah ditentukan.

23
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan
Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang
memerlukan intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain
di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, klinik dan sentra primer. Kasus kedaruratan
psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan
intervensi terapeutik segera, antara lain: (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto,
2010)
Keadaan gaduh gelisah bukanlah diagnosis dalam arti kata sebenarnya, tetapi
hanya menunjuk pada suatu keadaan tertentu, suatu sindrom dengan sekelompok gejala
tertentu. Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutan sementara untuk suatu
gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh dan gelisah. (Maramis dan
Maramis, 2009).

B. SARAN
Perawat dalam menangani pasien dengan gaduh gelisah harus dapat
menerapkan komunikasi yang baik agar proses penyembuhan dan penenangan pasien
dapat tercapai secara semaksimal mungkin

24
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 2000. Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan. Jakarta : Depkes


Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI
Keliat, B.A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa : Edisi 2.Jakarta: EGC
Keliat, B.A,. 2011. Model Praktek Keperawatan Jiwa Profesional. Jakarta: EGC
Kusumawati, Farida. 2010. Buku Ajar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press.
Ma’rifatul, Lilik. 2011. Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu
Muhith, A. 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi
Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams &
Wilkins.
Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Purba. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Masalah Psikososial dan Gangguan
Jiwa. Medan : USU Press
Videbeck, Sheila L. 2001. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Alih bahasa: Renata
Komalasari.Jakarta: EGC

25

Anda mungkin juga menyukai