Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FIQH DAKWAH (KARYA SYAIKH MUSHTHAFA MASYHUR)

BAB II
PRINSIP DAN PENYIMPANGAN GERAKAN ISLAM
Penyimpangan itu berasal dari hal-hal kecil dan sederhana, lalu semakin membesar
seiring perputaran waktu. Wajib dipahami berbagai motif dari penyimpangan sambil
memperingatkan mereka yang berjalan di jalan dakwah ini, agar terhindar darinya, sehingga
perjalanan dakwah dapat dilanjutkan sesuai dengan petunjuk dan bashirah tanpa keraguan dan
penyimpangan. Siapapun yang akan melangkah untuk mencapai tujuan atau sasaran, ia harus
meniti jalan yang benar. Jalan yang akan mengantarkannya kepada tujuan dan sasaran yang
hendak dicapai. Sebelumnya, ia harus berusaha semaksimal mungkin mengenali jalan beserta
rambu-rambunya agar ia tidak tersesat dan menghabiskan waktu, amal, dan usaha dengan sia-
sia.
1. Bentuk-bentuk Penyimpangan Dakwah
Banyak bentuk penyimpangan dari prinsip dakwah. Ada yang jelas, ada pula yang
tersembunyi dan samar-samar. Adapun bentuk-bentuk itu adalah sebagai berikut.
a. Penyimpangan Tujuan
Penyimpangan tujuan termasuk salah satu penyelewengan paling berbahaya yang harus
dihindari. Tujuan dakwah semata-mata karena Allah. Dakwah yang bertujuan selain Allah, atau
menyertai tujuan-tujuan lain, seperti tujuan dalam bentuk kepentingan pribadi selain tujuan
kepada Allah adalah sutu penyimpangan. Penyimpangan tujuan tidak harus berarti
mengarahkan secara total kepada tujuan-tujuan duniawi; berpaling secara total dari Allah
sedikit saja di dalam hati , itu sudah termasuk penyimpangan. Akibatnya, membatalkan amal
dan mengeluarkannya dari batasan ikhlas karena Allah. Penyimpangan tujuan sangat
berbahaya, karena niat berada di hati sehingga sulit diketahui walaupun sudah terjadi.
b. Penyimpangan dari Sasaran Utama (Ahdaf)
Penyimpangan dari sasaran utama kepada sasaran yang sifatnya juz’iyah (sektoral) atau kepada
tujuan-tujuan yang sama sekali menyimpang dari sasaran utama, akibatnya hanya
menghabiskan usaha dan potensi yang tidak sedikit dengan sia-sia. Selain itu juga dapat
meruntuhkan amal islami yang benar dan hasil yang diharapkan. Imam Hasan Al-Banna
menjelaskan kepada kita bahwa sasaran yang hendak dituju ialah menegakkan agama Allah di
bumi dengan mendirikan Islam kepada seluruh manusia.
Beliau mengatakan bahwa kita mempunyai dua sasaran pokok, yaitu; pertama, membebaskan
bumi Islam dari semua dominasi asing. Kemerdekaan adalah hak asasi manusia. Tidak ada
yang mengingkarinya kecuali orang zalim, durhaka dan penindasan kejam; kedua,
menegakkan daulah Islam merdeka di negara yang merdeka. Bebas melaksanakan hukum-
hukum islam, menerapkan sistem sosialnya, memproklamirkan dasar-dasarnya yang lurus, dan
menyampaikan dakwah dengan hikmah.
Dalam risalah Ikhwanul Muslimin, dijelaskan tugas dan tujuan kita: Tugas global kita,
membendung arus kebudayaan materi. Mengahncurkan budaya konsumerisme dan peradaban
bejat yang menghancurkan umat islam. Dhasan Al-Banna menyatakan dengan gamblang,
”merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan; undang-undang Islam berada di suatu
lembah, sedang realitas amaliyah berada di lembah yang lain. Karena itu, keengganan
para pembaru muslim untuk melaksanakan tuntutan diberlakukannya hukum islam
merupakan suatu tindakan kriminal. Menurut islam tidak dapat diampuni dosanya
secuil oleh kebangkitan dan pembebasan sistem pemerintahan dari tangan pemerintah
yang tidak memberlakukan hukum-hukum islam secara murni”.
Bentuk-bentuk penyimpangan dapat terjadi dalam bentuk antara lain:
- Pemisahan sasaran, dapat berupa pembatasan dakwah hanya pada masalah-masalah
ibadah mahdhah, dzikir, ilmu pengetahuan, dakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi
mungkar dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Tetapi meninggalkan persoalan tasyri’
(perundang-undangan), pemerintahan, jihad, menegakkan negara islam, menegakkan
khilafah dan menegakkan dien Allah. Pemisahan sasaran pada hakikatnya merupakan
distorsi dan pendangkalan serta pelaksanaan yang keliru terhadap ajaran islam.
- Pembatasan negara, yaitu merupakan bentuk penyimpangan ahdaf lainnya bila
penegakan daulah islam dibatasi pada salah satu negara saja tanpa memikirkan dan
berusaha bekerja sama menegakkan negara islam sedunia.
- Hanya untuk kekuasaan, perjuangan yang sasarannya sekedar menduduki pemerintahan
juga termasuk penyimpangan ahdaf karena akan mendorong melakukan lompatan-
lompatan dan pelanggaran terhadap garis islam yang benar mengenai sistem dan saran
akibat ambisi merebut pemerintahan dan mengikuti jejak partai politik yang ada.
Karena kelemahan fondasi, maka penyimpangan seperti ini akan menyeret amal islami
(gerakan islam) kepada malapetaka besar dan kehancuran.
- Pemerintahan islam yang parsial, penyimpangan ahdaf yang mungkin terjadi jika puas
dengan berdirinya satu departemen yang mengurusi masalah-masalah islam tertentu
tanpa menegakkan pemerintahan islam secara total, hal tersebut jelas salah. Islam
adalah totalitas yang integral dan tidak mengenal pemisahan dalam penerapannya.

2. Persoalan Jama’ah dan Komitmen


Sasaran besar yang wajib dicapai sekaligus menjadi kewajiban setiap muslim dan
muslimah mustahil dapat dicapai melalui upaya fardhiyah tanpa adanya jama’ah yang
mengorganisasikan seluruh potensi yang ada, menggariskan langkah-langkah perjuangan serta
mempersiapkan sarana dan fasilitas. Karena ini kita wajib berjama’ah dalam rangka
mewujudkan ahdaf islam. Dalam masalah jama’ah ini, mungkin terjadi berbagai bentuk
penyimpangan antara lain:
a. Meremehkan amal jama’i
b. Banyaknya jama’ah dan pemimpin
c. Friksi-friksi (blok) dalam jama’ah
d. Bergantung kepada individu lebih kuat
e. Menimbulkan perselisihan
f. Keluar dari jama’ah
g. Tidak memenuhi arkanul bai’ah
h. Perasaan lebih tinggi
3. Sekitar Persoalan Jama’ah
Salah satu persoalan dalam gerakan jama’ah islam ialah pemahaman. Pemahaman yang
mneyatu merupakan keharusan guna terwujudnya orientasi perjuangan, karena antara
pemahaman dengan perjuangan berkaitan erat sehingga dalam satu jama’ah harus dihindari
timbulnya berbagai aliran pemikiran. Karena sasaran ikhwanul muslimin adalah tegaknya
daulah islamiyah dan mengembalikan khilafah islamiyah, maka bangunan raksasa ini harus
tegak di atas pemahaman yang benar, menyeluruhu dan bersih. Tidak mungkin dalam
menegakkan daulah islamiyah ‘alamiyah yang memerlukan pengerahan segala upaya
maksimal bahkan pengorbanannya di jalan dakwah, dibangun di atas fondasi pemahaman
madzhab (aliran) tertentu yang tidak mneyatupadukan umat islam atau atas dasar pemahaman
keislaman yang tidak sempurna dan tidak benar. Bentuk-bentuk pemyimpangan dan persoalan
pemahaman ini antara lain:
a. Mengadopsi pemikiran yang jelas-jelas bertentangan dengan pemahaman yang benar
tentang islam, al-qur’an. Sunnah nabi-Nya, dan persoalan-persoalan yang telah
ditentukan kerangkanya.
b. Setiap upaya yang bermaksud mengebiri nilai as sunnah nabawiyah, yaitu
menggunakan al-qur’an sja, memenagkan pandangan rasional atas hadist shahih, upaya
menyeret islam untuk kepentingan penguasa dengan dalih pengembangan dan
pembaruan atau pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan uslub (cara) terdensius
lainnya.
c. Upaya memaksakan semua anggota jama’ah untuk mengikuti suatu pendapat dalam
masalah furu’ yang mempunyai beberapa pendapat.
d. Memperbesar masalah juz’iyah dan far’iyah dengan mengorbankan masalah kulliyat
(prinsip).
e. Pengebirian islam dalam pelaksanaannya, seperti membatasi jama’ah membicarakan
islam di sekitar masalah yang tidak menyinggung para penguasa.
Tidak mungkin mencapai sasaran beasar seperti ini secara spontanitas tanpa adanya
khiththah yang jelas, tahapan pencapaian dan sarana yang disepakati. Kekuatan aqidah,
wahdah, militer dan persenjataan merupakan asas mutlak bagi bangunan dan penopang amal
dakwah. Imam Hasan Al-Banna menyebutkan wasilah dakwah secara umum ialah iman yang
kukuh, pembentukan jama’ah yang rapi dan amal usaha yang kontinyu. Adapun tahapan-
tahapan asasinya yaitu pengenalan terhadap penyebaran dakwah (ta’rif), pembentukan dan
persiapan dengan mendidik setiap pribadi (takwin) dan mewujudkan tuntunan operasioanl.
Tuntunan amal dan langkah-langkahnya yakni dari persiapan pribadi muslim yang
ideal, keluarga muslim teladan, masyarakat muslim yang saling mendukung, kemudian
pemerintahan islam. Semua itu harus berjalan pada setiap tingkat umat islam, lalu
pemerintahan-pemerintahan ini membentuk daulah islamiyah di bawah kepemimpinan
khilafah islamiyah, dan menjadi teladan dunia dengan izin Allah.
Dalam menerapkan langkah operasional, terdapat berbagai bentuk penyimpangan yang
mungkin terjadi dalam langkah operasional, agar kita dapat menghindari.
- Mengikuti pola partai politik
- Tidak memperhatikan faktor tarbiyah
- Mengabaikan unsur persatuan dan potensi jalinan antar individu
- Mengabaikan pemeliharaan potensi struktur jama’ah dan komitmen keanggotaan
- Penyimpangan-penyimpangan yang berkaitan dengan masalah jihad dan persiapannya
- Faham kedaerahan
- Menerima prinsip dan ideologi sekuler
- Mendorong jama’ah untuk didominasi orang lain
- Berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak menjalankan hukum Allah
- Berkoalisi bersama musuh dengan mengorbankan prinsip dan tujuan
- Mengabaikan prinsip syuro dan nasihat
- Mementingkan fomalitas, bukan esensinya serta mengutamakan perdebatan dan diskusi
daripada kerja
- Reaksioner tanpa perencanaan
- Mengarah kepada pertarungan sampingan dan persoalan far’iyah
- Memisahkan diri dari masyarakat

4. Jalan Dakwah antara Kepercayaan dan Keraguan


Perjuangan islam dan perjalanan dakwah seorang ikhwan dalam jama’ah merupakan
masalah yang menentukan, karena akan mengorbankan waktu, tenaga, harta, jiwa dan semua
yang dimilikinya di dunia ini demi masa depan ukhrawinya. Karena itu, ia harus memiliki
kepercayaan penuh dan kemantapan serta tetap berpijak dalam jalan dakwah yang benar dan
dalam jama’ah islam sebagai wadah perjuangannya dalam melaksanakan kewajiban islam.
Generasi muda islam harus mantap dan mencari kejelasan untuk mendapatkan keyakinan
tentang jama’ah, jalan, dan pemimpinnya, mengingat persoalan ini sangat menentukan
perjalanan hidup seorang muslim.
Mengingat pentingnya kepercayaan ini, maka perlu dijaga kontinyuintasnya. Iman
Syahud Hasan Al-Banna menjadikannya sebagai salah satu rukun bai’at agar selalu dijaga oleh
setiap ikhwan sebagai bukti kesetiaan terhadap bai’at dan janjinya kepada Allah; agar tidak
terjadi krisis kepercayaan atau hilangnya kepercayaan, karena krisis kepercayaan tidak kurang
bahayanya dari pelanggaran rukun jihad, ketaatan dan ketulusan. Karena masalah kepercayaan
(tsiqah) ini sangat penting, maka musuh-musuh Allah selalu berupaya merusaknya denga
tasykik (menciptakan keraguan) dengan melemparkan tuduhan-tuduhan palsu, kadang dengan
menggunakan cara penekanan dan rayuan sebagai cara untuk merusak kepercayaan ini. Imam
Hasan Al-Banna mengatakan bahwa “Bersikaplah kamu terhadap orang-orang seperti pohon,
orang-orang melemparinya dengan batu, tetapi pohon itu sebaliknya melempari mereka dengan
buah”.
5. Sekitar Ujian dan Cobaan
Ujian (mihnah) merupakan sunnatullah dalam dakwah yang merupakan bagian asasi
dari jalan dakwah serta dijadikan Allah sebagai media untuk mewujudkan kebaikan bagi
dakwah dan du’at (juru dakwah). Tetapi, dalam melintasi salah satu tahapan jalan dakwah yang
penting ini sering terjadi penyimpangan atau kesalahan yang harus diketahui agar kita dapat
menghindarinya. Imam Hasan Al-Banna mengenalkan kepada kita bahwa jalan dakwah ini
penuh duri dan rintangan, tidak ditaburi bunga mawar. Pada dasarnya kita wajib bersabar,
bersedia menanggung dan melintasi rintangan tanpa berhenti, mundur, lemah atau
menyimpang.
Berikut ini akan diketengahkan beberapa rintangan kesalahan sekitar ujian, agar dapat
menghindarinya. Penyimpangan-penyimpangan ini antara lain:
a. Berupa anggapan bahwa ujian bukan hal yang wajar terjadi di atas jalan dakwah,
atau anggapan bahwa ujian merupakan kesalahan dari pihak pemimpin.
b. Bila ujian ini sampai mengguncangkan kepercayaan terhadap jalan dakwah.
c. Bila seseorang beranggapan ujian ini sebenarnya dapat dihindari dengan sedikit
bertindak bijaksana dan taktis atau apa yang mereka sebut sebagai diplomasi dengan
musuh. Tetapi, karena para penanggung jawab tidak pernah berdiplomasi sama
sekali akhirnya terjadilah ujian tersebut.
d. Berlindung dan mendukung orang-orang zhalim serta menyatakan keluar dari
jama’ah dan menyerangnya karena ingin menghindari ancaman pemenjaraan dan
penyiksaan.
e. Bila ujian ini mengakibatkan berhentinya perjalanan dakwah.
f. Bila kita tidak mengambil hikmah Allah dan penempaan serta seleksi yang
terkandung dalam ujian.
g. Tidak memaklumi orang yang tidak tahan menganggung kerasnya siksaan dan
orang yang lemah.
h. Terlalu berlebihan perhatian kita hanya untuk menghentikan gangguan dan
penyiksaan terhadap sesama anggota dalam bentuk apa saja.
i. Menganggap ujian sebagai pukulan keras yang mematikan atau melumpuhkan.
j. Menghentikan dakwah kepada Allah dan gerakan dakwah setelah mengalami ujian
agar tidak mendapat siksaan baru.
k. Mempersempit aktivitas-aktivitas adanya cobaan kepada masalah yang tidak
menyinggung musuh atau penguasa.
l. Menjangkitnya penyakit keputusasaan dengan sebab ujian.
Hasan Al-Banna memperingatkan hendaknya kita selalu ingat faktor-faktor
keberhasilan yang dapat menundukkan rintangan dakwah, yaitu:
a. Dakwah kita adalah dakwah menuju jalan Allah.
b. Dunia memerlukan dakwah ini.
c. Jauh dari kepentingan pribadi.
d. Menantikan dukungan dan pertolongan Allah.

6. Sikap Menghadapi Musibah dan Kekuatannya


Musuh islam itu banyak. Mereka memiliki faktor-faktor kekuatan dan pelbagai macam
senjata. Kepada para pembela islam, tidak ada jalan lain kecuali harus menghadapinya. Tidak
mungkin agama Allah dan daulah islamiyah tegak tanpa kita berani menghadapi musuh. Sikap
ini bukan permusuhan dan bukan pula bersifat memulai permusuhan. Ia adalah pembelaan
(difa’) dan pembebasan rintangan yang menghalangi penyampaian dakwah Allah kepada
semua manusia.
Sikap dalam menghadapi musuh Allah, sering terjadi penyimpangan dan kekeliruan
diantaranya:
a. Membesar-besarkan kekuatan musuh
b. Terlalu meremehkan kekuatan musuh
c. Buruknya sistem pemilihan pimpinan militer
d. Berkelompok dan saling berkhianat di kalangan pemimpin
e. Spontanitas
f. Mengikutsertakan orang-orang yang lemah iman dan munafiq
g. Bangga dengan mayoritas
h. Merasa berat ke dunia dan tidak menyambut panggilan jihad
i. Mundur dari medan pertempuran
j. Merasa sombong dan congkak pada saat kemenangan
k. Jatuh mental dan semangat pada saat terjadi serangan
BAB V
QADHAYA ASASIYAH DALAM DAKWAH
Jalan dakwah adalah jalan yang satu. Jalan yang harus ditempuh dengan iman dan amal,
mahabbah (kecintaan) dan ikha’ (persaudaraan). Bertolak dari kebenaran jalan dakwah dan
para penggagasnya, kita membutuhkan qhadaya asasiyah (isu-isu dakwah yang bersifat asasi)
yang dapat membantu membentengi dakwah dan para pembelanya dari penyimpangan,
kemandegan dan keterpecahbelahan.
1. Pandangan yang Jelas
Pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang da’i adalah pandangan yang jelas
terhadap jalan dakwah, megenal pasti petunjuk-petunjuknya serta seluruh yang berkaitan
dengannya. Ini adalah qadhiyyah paling penting bagi setiap orang yang berjalan di atas jalan
dakwah. Seorang da’i terlebih dahulu harus menumpukan seluruh perhatiannya kepada
qadhiyyah ini agar ia memiliki kejelasan jalan sejak langkah pertamanya.Seseorang yang
berjalan di atas jalan dakwah harus konsisten dengan jalan yang dapat mengantarkan ke tujuan
luhurnya. Ia harus meminta petunjuk dan penjelasan kepada orang yang terpercaya
kejujurannya dan diyakini sangat mengenal karakter jalan dakwah agar ia tak menyimpang dan
tidak gentar terhadap kenyataan yang dihadapi di luar perhitungan dan pengetahuannya.
Ketiadaan pengetahuan yang jelas terhadap karakter perjalanan tidak jarang menyebabkan
seseorang menjadi ragu dan sangsi terhadap keselamatan perjalanannya. Bahkan sering
menyebabkan seseorang dilanda kegoncangan yang mnegakibatkan terjadinya penyimpangan
dan takut meneruskan perjalanan.
Karena itu, hendaknya ghayah (tujuan) yang akan dicapai harus jelas tanpa ada yang
tersembunyi sedikit pun. Kejelasan tujuan ini merupakan dasar qadhiyyah dan orbit
keberhasilan dan kemenangan. Allah adalah tujuan kita. Dengan berjalan di atas jalan dakwah
kita harus berusaha mencapai keridhaan-Nya, mencapai kenikmatan dan keselamatan dari api
neraka dalam menyambut seruan Allah. Selain kejelasan tujuan, seorang da’i harus memiliki
kejelasan sasaran yang akan dicapai, termasuk jauh, besar atau luasnya sasaran yang termaksud
serta tahapan pencapainnya, juga berupa waktu, tenaga, kesungguhan dan pengorbanan yang
diperlukannya. Salah satu sasaran yang akan dicapai para aktivis dakwah ialah tegaknya dien
Allah di bumi dengan berdirinya daulah islamiyah yang dipimpin oleh sistem khilafah
islamiyah.
Pandangan yang jelas terhadap persoalan yang sangat mendasar, memperjelas bahwa
beramal di dalam satu jama’ah memiliki syarat, janji dan komitmen yang harus dilakukan
dalam rangka menjamin kelancaran aktivitas dan terjalinnya kekuatan di dalam ittijah (arah)
yang benar. Atas dasar ini, maka orang yang berjalan di atas jalan dakwah wajib memiliki
kesiapan untuk beriltizam dengan syarat, janji dan komitmen termaksud.
Sebuah jama’ah yang berjalan di jalan dakwah yang lurus harus menjelaskan beberapa
sifat asai yang menjadi karakteristiknya, diantaranya: 1) manhaj dan sasarannya ialah tegaknya
daulah islmiyah, terutama tegaknya sistem khilafah; 2) pemahaman terhadap islam yang
menyeluruh dan bersih, bersumber dari kitab dan sunnah; 3) cara mewujudkan sasarannya
sejalan dengan cara rasulullah Saw. menegakkan daulah isliyah pertama. Daulah ini ditegakkan
diatas 3 asas, yaitu kekuatan aqidah dan iman, kekuatan wihdah (persatuan) dan ukhuwah,
kekuatan fisik dan persenjataan.
2. Kesinambungan
Dakwah dan jama’ah tidak terlepas dari pembicaraan faktor-faktor yang menjamin
kesinambungan yang wajib diperhatikan, selain upaya musuh melindas kesinambungan ini,
termasuk sebab internal yang melahirkan kegagalan dan cara mengantisipasinya. Sasaran
utama konspirasi yang dilancarkan musuh-musuh Allah kepada jama’ah ialah menggilas
jama’ah dan menghentikan gerak dakwah. Atas dasar kesinambungan dakwah, dalam tahap
ujian dan cobaan merupakan satu kemenangan, sedangkan tidak adanya kesinambungan adalah
satu kesalahan. Yang dimaksud kesinambungan di sini adalah tetap adanya oarng yang
memikul beban dakwah dan berusaha mewujudkan sasarannya serta mewariskannya kepada
orang lain. Wujudnya seorang ikhwan yang teguh dan konsisten dengan dakwah serta beramal
untuknya menandakan masih adanya kesinambungan dan kelestarian dakwah.
3. Pertumbuhan dan Kekuatan
Pertumbuhan dan kekuatan gerakan, disamping kesinambungan adalah qadhiyyah
asasiyah yang harus dijaga kewujudannya. Kesinambungan yang stabil saja belum cukup bagi
satu harakah yang dinamis. Ada 2 jenis pertumbuhan dan perkembangan yang dimaksud adalah
pertumbuhan dan perkembangan horizontal (berkembangnya hasil keseriusan manuver
dakwah, sehingga medan dakwah semakin meluas) serta pertumbuhan dan perkembangan
vertikal (meningkatnya mustawa (tingkat) afrad dan pembentukannya.
Pertumbuhan dan perkembangan hendaknya dibarengi kekuatan agar tidak lemah dan
lembek. Wasilah paling utama dalam mewujudkan kekuatan yang mengiringi pertumbuhan dan
perkembangan ialah tarbiyah dan praktek lapangan. Jenis kekuatan utama kita ialah iman,
wihdah, ilmu, fisik, dana, senjata, publikasi dan kekuatan lainnya. Tiga di antara kekuatan itu
yaitu kekuatan aqidah, wihdah dan silah (persenjataan) tergolong kekuatan asasi. Sisanya
merupakan kekuatan dharuri, yang tidak boleh diabaikan kewujudannya.
4. Menjaga Orisinalitas
Agar harakah terjamin keberadaannya di jalan yang benar menuju sasaran, maka ia
harus menjaga dan memeilhara orisinalitasnya, sebab sekecil-kecilnya penyimpangan atau
berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semamin besar sejalan
dengan kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Ini dapat
menarik harakah semakin jauh dari jalannya dan semakin menjauhkan tercapainya sasaran
harakah. Menajag orisinalitas berarti berpegang teguh kepada islam dan tidak menyalahinya
baik dalam teori maupun prakteknya. Kita wajib memelihara orisinalitas pemahaman:
keshalihan, kelurusan dab keuniversalannya, kendati waktu telah berlalu lama, berbagai
kondisi telah berubah. Meskipun perubahan atau penyimpangan tersebut mengatasnamakan
pengembangan, pembaruan, modernisasi, aktualisasi dan semacamnya, kita akan tetap
menolak setiap perubahan yang merusak orisinalitas.
5. Perencanaan dan Pengembangan
Untuk mencapai daulah islamiyah, amal islami harus berjalan dengan takhthith
(perencanaan) yang teliti, tidak boleh asal-asalan, spontanitas atau reaksioner. Karena itu untuk
mencapai sasaran besar tersebut, amal islami perlu menentukan sasaran disertai program yang
jelas dan saran yang diperlukan oleh masing-masing sasaran. Seterusnya amal islami
melakukan evaluasi seluruh pelaksanaan program pencapaian sasaran yang telah digariskan.
Tugas asasi perencanaan yang paling menonjol ialah menentukan sasaran, yang kemudian
dibagi menjadi sasaran antara serta penentuan skala prioritasnya. Tugas utama lainnya ialah
mengkaji kondisi yang berkembang, mengetahui segala potensi yang dimiliki dan potensi apa
saja yang sudah terpenuhi dan harus dipenuhi. Selain itu, perencanaan bertugas menentukan
langkah dan program dalam mewujudkan setiap sasaran, menentukan sarana, prasarana dan
aparat serta personil pelaksanaannya. Pengembangan dan pembaruan adalah dua hal yang
sangat diperlukan, mendorong ummatnya supaya selalu meningkatkan kualitas, cara kerja dan
sarana hidup serta memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin
6. Kesatuan Pandangan
Mewujudkan persatuan dan kesatuan pandangan kaum muslimin merupakan salah satu
qadhiyah paling penting dalam gerakan islam. Tanpa persatuan dan kesatuan boleh dikatakan
hampir mustahil kaum muslimin dapat mewujudkan sasaran besarnya, yaitu menegakkan
daulah islamiyah ‘alamiyah. Setiap bangunan besar memerlukan fondasi kokoh, kuat,
mencengkram dan menyatu, sehingga bangunan di atasnya menjadi mantap dan kuat. Wihdah
(persatuan) itu lambang kekuatan, sedangkan tafarruq (perpecahan) merupakan lambang
kelemahan dan jalan menuju kegagalan.
7. Bekerja dalam Lapangan Dakwah
Besarnya sasaran yang harus diwujudkan jama’ah menjadikan amal semakin meluas
dan jenis kegiatannya semakin beraneka ragam serta membutuhkan waktu yang lama dan
tenaga besar. Kita harus menanamkan pemahaman tentang kerja dalam lapangan dakwah dan
urgensinya secara jelas ke dalam hati yang paling dalam serta mewujudkan standar dan
timbangan rabbani dalam menghadapi persoalan kehidupan dan menjauhkan standar dan
timbangan materialisme sejauh-jauhnya.
8. Pewarisan dan Regenerasi
Menegakkan dien Allah dan mendirikan daulah islamiyah dalam bentuk khilafah
islmaiyah adalah program yang sangat besar, yang memerlukan tenaga besar dan waktu lama.
Untuk mencapainya jelas memerlukan pentahapan dan beberapa fase, karena itu issu dakwah
asasi lain yang harus mendapat perhatian serius ialah pewarisan dakwah. Pewarisan yang
mencakup berbagai dimensi dakwah seperti tujuan, sasaran, wasilah, seluruh orisinalitas dan
pengalamannya secara utuh dari generasi ke generasi tanpa adanya perubahan dan
penyimpangan. Suatu hal yang dapat membantu penyempurnaan pewarisan ini dalam
bentuknya yang asli ialah regenerasi yang mantap, tidak ada jurang pemisah antara satu
generasi dengan generasi berikutnya.
Setiap generasi harus memahami benar sejarah jama’ah masa lalu, ini diperlukan agar
setiap generasi dapat merasakan kebersatuan amal dan konsistensi perjalanan di dalam
marhalah yang digariskan. Menyatunya masa lalu dengan masa kini dan masa mendatang,
menjadikan generasi baru berjalan dengan penuh tsiqah dab mantap di dalam mewujudkan
sasaran yang dituju.
BAB VII
AL-QIYADAH WAL-JUNDIYAH
Islam sama sekali tidak rela atas penyerahan, ketundukan, dan ketidakberdayaan kaum
muslimin dalam menghadapi kenyataan. Islam sama sekali tidak menghendaki umatnya lemah
dan takluk kepada musuh-musuhnya, karena itu ia mewajibkan umatnya bangkit dari
kejatuhannya dengan bergerak dan berjuang serta berkorban untuk mengembalikan
eksistensinya yang hakiki.
1. Kewajiban Beramal Jama’i
2. Amanah dan Tanggung Jawab Pemimpin
3. Hal-hal yang Membantu Terlaksananya Tugas Pemimpin
4. Keanggotaan dan Tuntutannya
5. Aturan dan Adab Pergaulan Pemimpin dan Anggota
6. Sistem dan Peraturan
7. Pengendalian Peraturan-peraturan