Anda di halaman 1dari 4

A.

Efikasi Diri
Keyakinan orang-orang tentang efikasi diri mereka dapat dikembangkan oleh empat
bentuk pengaruh utama.
1. Mastery Experience (Pengalaman tentang penguasaan)
Cara paling efektif untuk menciptakan rasa keberhasilan yang kuat yaitu melalui
pengalaman tentang penguasaan. Pengalaman penguasaan yang baik akan melatih diri
menjadi lebih tangguh saat menghadapi tantangan. Pengalaman keberhasilan atau
kesuksesan yang dialami seseorang dapat meningkatkan efikasi diri. Namun
sebaliknya, pengalaman kegagalan dapat menurunkan tingkat efikasi diri. Pengalaman
dibutuhkan untuk membentuk efikasi diri yang kuat sehingga segala hambatan dapat
dihadapi melalui usaha yang gigih.
2. Vicarious Experience (Pengalaman orang lain)
Cara kedua untuk memperkuat efikasi diri adalah melalui pengalaman orang lain yang
dijadikan model atau teladan sehingga meningkatkan keinginan untuk maju. Melihat
keberhasilan orang-orang yang dijadikan model akan meningkatkan motivasi untuk
dapat memperoleh keberhasilan sama atau bahkan melebihi keberhasilan orang yang
dijadikan model tersebut. Oleh karena itu pengalaman orang-orang di sekitar dapat
berdampak terhadap efikasi diri seseorang. Model yang berkompeten dapat
mentransmisikan pengetahuan dan mengajarkan pengamat keterampilan dan strategi
yang efektif dalam menghadapi tantangan. Sikap gigih yang ditunjukkan oleh model
ini dapat dijadikan contoh oleh pengamat sehingga dapat mempengaruhi tingkat efikasi
diri pengamat itu sendiri.
3. Social Persuation (Persuasi Sosial)
Persuasi sosial atau pengaruh yang diberikan orang lain dapat berdampak pada efikasi
diri. Persuasi sosial dapat dilakukan melalui lisan maupun tulisan. Pengaruh dari orang-
orang terdekat seperti orang tua atau guru dapat memperkuat efikasi diri. Ketika
seorang anak diberikan pengaruh, dorongan dan motivasi bahwa mereka dapat
menghadapi tantangan apapun kedepannya, maka hal ini dapat meningkatkan
keyakinan akan kemampuan diri mereka untuk berhasil. Namun perningkatan efikasi
diri dengan persuasi sosial tidak mudah dilakukan. Jika seorang anak diberikan
pengaruh sosial tetapi tidak memberikan efek pada keberhasilannya atau bahkan
mengalami kegagalan maka efikasi diri juga bisa menurun. Hal terburuknya adalah
ketika seorang anak telah diyakini bahwa mereka tidak memiliki kemampuan, maka
mereka akan cenderung menghindar pada hal-hal menantang yang dapat
mengembangkan potensi mereka dan mereka akan lebih mudah putus asa dalam
menghadapai masalah.
4. Psycological and Emotional States (Kondisi Psikologis dan Emosional)
Keadaan psikologis dan emosional dapat mempengaruhi seseorang dalam menilai
kemampuan serta keyakinan mereka. Suasana hati yang baik dapat meningkatkan
persepsi efikasi diri, sementara sebaliknya suasana hati yang buruk dapat menurukan
persepsi efikasi diri. Misalnya seseorang yang depresi akan mengalami
ketidakpercayaan diri yang akan mengakibatkan keterpurukan sehingga kinerja
menjadi tidak maksimal. Sedangkan emosi yang positif dapat meningkatkan
kepercayaan diri terhadap keterampilan dan kemampuan yang dimiliki. Dengan
demikian untuk meningkatkan efikasi diri diperlukan kondisi fisik yang baik, tidak
stress dan tidak emosi. Keberhasilan atau kesuksesan dapat memberikan energi positif
sehingga dapat membuat seseorang menjadi lebih bersemangat. Mempelajari cara
meminimalkan stres dan meningkatkan suasana hati ketika menghadapi situasi yang
sulit atau menantang dapat meningkatkan kesadaran terhadap efikasi diri.

Keempat faktor setiap mode pengaruh dikaitkan dengan serangkaian faktor tertentu yang
memiliki signifikansi dalam penilaian diri dari efikasi pribadi.

B. Pengetahuan Awal
Menurut Liang, pengetahuan awal adalah jumlah domain pengetahuan peserta didik yang
berada pada ingatan jangka panjangnya1. Pengetahuan awal diperoleh peserta didik
berdasarkan pengalaman yang telah dilalui peserta didik dan berada pada ingatan jangka
panjangnya sebelum peserta didik menerima proses pembelajaran di kelas. Semakin banyak
pengalaman peserta didik maka semakin banyak pengetahuan awal yang dimiliki. Dalam hal
proses memori, proses pembelajaran merupakan hasil interaksi antara pengetahuan awal
dengan informasi baru sebagai bentuk asosiasi dalam penyimpanan memori jangka panjang
dan belajar juga dapat dihasilkan dari interaksi pengetahuan awal dengan pengetahuan awal
lainnya namun dengan cara yang baru 2.

1
Liang-Yi Li, “Effect of Prior Knowledge on Attitudes, Behavior, and Learning Performance in Video Lecture
Viewing”, International Journal of Human–Computer Interaction ISSN: 1044-7318 (Print) 1532-7590 (Online),
2018, h.1
2
Mary McLaughlin, et.al, “Student Content Engagement as a Construct for the Measurement of Effective
Classroom Instruction and Teacher Knowledge”, Washington DC : America institutes for Research, 2005, h.12
Variasi tingkat pengetahuan awal seseorang dapat menjadi faktor kunci dalam menentukan
beban kognitif yang dihasilkan dan ditangani oleh kontrol pelajar dan informasi sementara.
Peserta didik dengan pengetahuan awal tinggi (high prior knowledge) memiliki lebih banyak
domain pengetahuan dalam ingatan jangka panjang dan memiliki struktur konseptual yang
lebih lengkap, dibandingkan dengan peserta didik dengan pengetahuan awal rendah (low prior
knowledge)3. Individu dengan pengetahuan awal yang tinggi akan menghasilkan pemahaman
yang lebih baik tentang ilmu yang baru diperoleh dan ini akan memberi petunjuk lebih lanjut
kepada peserta didik dalam mempelajari ilmu-ilmu baru lainnya, dibandingkan dengan
individu dengan tingkat pengetahuan awal yang rendah4. Beberapa penelitian telah
menemukan bahwa peserta didik dengan pengetahuan awal yang tinggi memiliki tingkat
motivasi yang lebih tinggi5.
Pengetahuan awal yang dikelola secara benar oleh pendidik akan menjadi pondasi untuk
membangun pembelajaran yang lebih bermakna yaitu 1) Pembelajaran yang mampu membuat
siswa dapat mengaitkan antara konsep yang dipelajari dengan konsep sebelumnya atau kondisi
nyata, 2) Pembelajaran yang mampu membuat siswa memahami konsep secara utuh, dan 3)
Pembelajaran yang mampu membuat siswa menerpkan konsep pada kondisi yang berbeda dan
dalam kehidupan nyata6.
Jika peserta didik memiliki pengetahuan awal yang tidak akurat dan kesalahpahaman
dalam domain tertentu, hal itu dapat membuatnya sulit untuk memahami atau mempelajari
informasi baru (Exploring Alternative Ways Of Assessing Prior Knowledge, Its Components
And Their Relation To Student Achievement: A Mathematics Based Case Study) .

3
Fethi Calisir, Mert Eryazici, Mark. R. Lehto, “The Effects of Text Structure and Prior Knowledge of The
Learner on Computer-Based Learning”, Computers in Human Behavior 24, (2008), h. 441
4
John Dunlosky, et.al, “Improving Students’ Learning With Effective Learning Techniques: Promising Directions
From Cognitive and Educational Psychology”, Psychological Science in the Public Interest 14(1) 4-58, 2013, h.9
5
Liang-Yi Li, “Effect of Prior Knowledge on Attitudes, Behavior, and Learning Performance in Video Lecture
Viewing”, International Journal of Human–Computer Interaction ISSN: 1044-7318 (Print) 1532-7590 (Online),
2018, h.3
6
Abdul Latip, “Prior Knowledge, Pondasi untuk Membangun Pembelajaran Bermakna”, Kompasiana
https://www.kompasiana.com/altip/5ae4456adcad5b6814070e92/prior-knowledge-pondasi-untuk-membangun-
pembelajaran-bermakna, 2018, (diakses : 10 Mei 2019)
Efikasi Diri
Efikasi diri akademik menjadi faktor penting yang akan memengaruhi pilihan siswa atas
tugas dan perilaku belajar mereka, serta mentalitas dan emosi mereka dalam belajar.
(sumber : Determining the Relationship between Academic Self-efficacy and Student
Engagement by Meta- analysis)
1. Pengertian efikasi diri
2. Hubungan efikasi diri dengan keterlibatan siswa (student engagement)
3. Apa pentingnya keterlibatan siswa
4. Fungsi keterlibatan siswa dalam pembelajaran