Anda di halaman 1dari 17

Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No.

1, Januari-Juni 2018

PERKEMBANGAN NILAI AGAMA DAN MORAL (STTPA TERCAPAI)

Siti Nurjanah

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Jl. Lakda Adi Sucipto, Sleman, D.I Yogyakarta
nurjanahs926@gmail.com

Abstract
This study aims to determine the development of religious and moral values of early
childhood in achieving STPPA and to know what can affect the development of religious
and moral values of early childhood in achieving STPPA. This research is a qualitative
research with analytic descriptive method. Technique of collecting data using interview
then subject in this research is student of Kindergarten 'Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen
Yogyakarta with name of Siti Aisyah Khaira. The results of this study indicate that the
development of religious values and moral subject has been achieved in accordance with
the standards of achievement level of child development.
Keywords : Development, Religious and moral values

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan nilai agama dan moral anak usia
dini dalam mencapai STPPA dan untuk mengetahui apasaja yang dapat mempengaruhi
perkembangan nilai agama dan moral anak usia dini dalam mencapai STPPA. Penelitian
ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitik. Teknik pengumpulan
data menggunakan wawancara kemudian subjek dalam penelitian ini adalah siswi Taman
Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen Yogyakarta dengan nama Siti Aisyah
Khaira. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan nilai agama dan moral
subjek sudah tercapai sesuai dengan standar tingkat pencapaian perkembangan anak.
Kata kunci : Perkembangan, Nilai agama dan moral
Siti Nurjanah

A. PENDAHULUAN yang sangat penting untuk diikuti guna


Di antara amanat Allah yang agung dan mewujudkan generasi yang cermat dan
indah namun juga berat adalah anak. Banyak kuat. Selain itu lembaga PAUD merupakan
orang tua yang bahagia mendapat karunia salah satu penyelenggaraan pendidikan
anak, Saking bahagianya seluruh kasih sayang yang menitikberatkan pada peletakan dasar
tercurah kepadanya namun memberikan kasih kearah pertumbuhan dan perkembangan
sayang yang berlebihan dapat membentuk fisik (koordinasi motorik halus dan kasar),
karakter anak yang tidak baik bagi anak. Untuk kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan
dapat membentuk karakter baik tentunya perlu emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional
dipersiapakan sejak sedini mungkin karena (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan
masa usia dini merupakan masa keemasan, pada komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-
masa ini anak akan menyerap apa saja yang di tahap perkembangan yang dilalui anak.
berikan kepadanya entah itu dari perkataan dan Salah satu aspek yang harus dikembangkan
perbuatan orang tua atau dari lingkungannya. di PAUD adalah nilai agama dan moral.
Salah satu cara untuk membentuk Pendidikan nilai agama dan moral erat kaitanya
karakter yang baik adalah orang tua harus dengan budi pekerti seorang anak, sikap sopan
mempersiapkan sejak dalam kandungan untuk santun, kemauan melaksanakan ajaran agama
membiasakan diri menghindari berbuatan yang dalam kehidupan sehari-hari.1 Kemudian
tidak baik, kemudian mendidiknya dengan keberadaan pendidikan nilai agama dan moral
baik, membiasakan perbuatan baik sehingga pada program PAUD merupakan pondasi yang
anak akan memiliki karakter yang baik. Namun kokoh dan sangat penting keberadaannya, dan
itu saja tidak cukup orang tua juga harus jika hal ini akan tertanam dan terpatri dengan
mengetahui perkembangan tingkat pencapaian baik dalam setiap insan sejak dini, hal tersebut
perkembangan anak, nah dalam hal ini tidak merupakan awal yang baik bagi pendidikan anak
semua orang tua mengetahui bagaimana tingkat bangsa untuk menjalani pendidikan selanjutnya.
perkembangan pencapaian anak yang sesuai Bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai
STTPA. Oleh karena itu sudah seharusnya agama dan moral. Nilai luhur inipun dikehendaki
orang tua memasukan anaknya pada lembaga menjadi motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam
pendidikan anak usia dini yang mengetahui rangka melaksanakan sila-sila lainya dalam
bagaimana perkembangan anak sesuai dengan pancasila.2
STTPA. Hal ini sesuai dengan undang-undang 1 Anik Lestari, pengaruh penggunaan media vcd
RI No.20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan terhadap nilainilai agama dan moral anak, dalam
Jurnal Pendidikan anak usia dini, Vol 8 No 2
nasional pasa 28 ayat 3 yang menyatakan bahwa
(November 2014), di akses pada tanggal 4Juni201
taman kanak-kanak merupakan pendidikan 7pukul10:00WIBdarihttps://scholar.google.co.id/sch
anak usia dini pada jalur formal yang bertujuan olar?hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama+
dan+moral&oq=ju
membantu anak didik mengembangkan berbagai
2 Mahlan Asmar dan Siti Nurliana, upaya
potensi baik itu psikis dan fisik yang meliputi mengembangkan aspek nilai-bilai agama dan moral
moral dan nilai agama, sosial emosional, dalam membedakan perbuatan baik dan buruk
menggunakan model examples non examples dengan
kemandirian, kognitif, dan fisik motorik untuk
variasi media papan planel pada anak kelompok
mempersiapkan memasuki sekolah dasar. B TK puspa kencana banjarmasin, dalam Jurnal
Paradigma, Vol 9 No 1 (Januari 2014), di akses pada
Berdasarkan landasan diatas bahwa tanggal 1 Juni 2017 pukul 10:00 WIBdarihttps://
memang lembaga PAUD merupakan lembaga scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=jurnal+perke
mbangan+nilai+agama+dan+moral&oq=ju

44 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680


Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

Berdasarkan uraian dari latar belakang merupakan serangkaian praktik perilaku tertentu
tersebut dapat dirumuskan beberapa masalah yang dihubungkan dengan kepercayaan yang
yakni bagaimanakah pengembangan nilai dinyatakan oleh institusi tertentu dan dianut
agama dan moral anak usia dini dalam mencapai oleh anggotanya. Agama memberikan informasi
STPPA dan apasajakah yang mempengaruhi apa yang harus dikerjakan oleh seseorang
perkembangan nilai agama dan moral dalam (perilaku atau tindakan). Jadi perkembangan
mencapai STPPA agama dapat diartikan sebagai perkembangan
Penelitian ini menggunakan kajian teori yang terkait dengan perilaku yang harus
perkembangan nilai agama dan moral anak usia dilakukan dan perilaku yang harus dihindari
dini. Dimana teori ini menghubungkan konsep oleh individu berdasarkan kepercayaan yang
dasar perkembangan nilai agama dan moral serta diyakininya.4 Perkembangan keagamaan peserta
tahap dan indikator pencapaian perkembangan didik dapat mempengaruhi perkembangan
nilai agama dan moral anak usia dini. moral peserta didik, karena banyak norma
keagamaan yang menjadi acuan orang dalam
Penelitian ini menggunakan pendekatan bersikap dan berprilaku.5 Oleh karena itu ketika
kualitatif dengan metode deskriptif analitik. membicarakan tentang perkembangan agama,
Teknik pengumpulan data yang menjadi pada saat bersamaan kita juga membicarakan
instrument adalah wawancara. Penelitian ini tentang perkembangan moral.
ditunjukan untuk mengetahui perkembangan nilai
agama dan moral yang tercapai sesuai dengan Secara etimologi, kata moral berasal dari
standar tingkat pencapaian perkembangan anak. kata mos dalam bahasa latin, bentuk jamanya
Adapun subjek dalam penelitian pengembangan mores, yang artinya adalah tata cara atau adat
nilai agama dan moral adalah siswi Taman istiadat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia
Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen moral diartikan sebagai akhlak, budi pekerti atau
susila.
Yogyakarta dengan nama Siti Aisyah Khaira.
Sedangkan secara terminologi, terdapat
B. PEMBAHASAN
berbagai rumusan pengertian moral, yang dari
1. Konsep Perkembangan Nilai Agama Dan segi substantive materiilnya tidak ada perbedaan.
Moral Akan tetapi, bentuk formalnya berbeda. Dalam
Agama berasal dari bahasa sansekerta, kamus psikologi menyebutkan bahwa moral
yang terdiri dari “a” yang berarti tidak dan mengacu pada akhlak yang sesuai dengan
“gam” yang berarti pergi. Jadi secara bahasa peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau
agama dapat diartikan dengan tidak pergi, tetap adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.6
ditempat, langgeng, abadi, yang diwariskan 4 Novan Ardy Wiyani, Psikologi Perkembangan Anak
secara terus menerus dari satu generasi ke Usia Dini, (Yogyakarta: Gava Media, 2014), hlm.
174-175
generasi lainya. Ada juga yang mengartikan 5 Muhibbin Syah, Telaah Singkat Perkembangan
dengan “gama” yang berarti kacau sehingga Peserta Didik, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada,
secara bahasa agama diartikan dengan tidak 2014), hlm. 50
6 Mahlan Asmar dan Siti Nurliana, upaya
kacau. Ini berarti orang yang beragama hidupnya mengembangkan aspek nilai-bilai agama dan moral
tidak akan mengalami kekacauan.3 dalam membedakan perbuatan baik dan buruk
menggunakan model examples non examples dengan
Sedangkan secara istilah agama variasi media papan planel pada anak kelompok
B TK puspa kencana banjarmasin, dalam Jurnal
3 Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Agama Islam, Paradigma, Vol 9 No 1 (Januari 2014), di akses pada
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013, hlm. 14 tanggal 4 Juni 2017 pukul 10:00 WIBdarihttps://

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 45


Siti Nurjanah

Sementara itu menurut Sjarkawi, memahami dan melakukan perilaku yang baik
secara istilah moral merupakan norma yang serta memahami dan menghindari perilaku yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu buruk berdasarkan ajaran agama yang diyakini.
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.7 Kemudian setidaknya ada dua teori yang
Sementara menurut Alian B. Purwakania hasan mengungkapkan munculnya keagamaan pada
mendefinisikan moral dengan suatu kapasitas anak usia dini, yaitu:
yang dimiliki oleh individu untuk membedakan
yang benar dan yang salah, bertindak atas a. Rasa ketergantungan (sense of depend)
perbedaan tersebut, dan mendapatkan Manusia dilahirkan kedunia ini memiliki
penghargaan diri ketika melakukan yang benar empat kebutuhan, yakni keinginan untuk
dan merasa bersalah atau malu ketika melanggar perlindungan (security dan safety), keinginan
standar tersebut.8 akan pengalaman baru (new experience),
Lebih lanjut Desmita mengungkapkan keinginan untuk mendapatkan tanggapan
bahwa perkembangan moral adalah (respone) dan keinginan untuk dikenal
perkembangan yang berkaitan dengan aturan (recognition). Berdasarkan kenyataan dan
dan konvensi mengenai apa yang seharusnya kerjasama dari keempat keinginan itu, maka bayi
dilakukan oleh individu dalam interaksinya sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan.
dengan orang lain. Menurutnya anak-anak pada Melalui pengalaman-pengalaman yang
saat dilahirkan tidak memiliki moral, tetapi dalam diterimanya dari lingkungan itu kemudian
dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
dikembangkan. Melalui pengalamanya ketika b. Instink keagamaan
berinteraksi dengan orang lain, anak belajar
Bayi yang dilahirkan sudah memiliki
memahami mengenai perilaku mana yang baik
beberapa instink, diantaranya instink keagamaan.
yang boleh dilakukan, dan tingkah laku mmana
Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri
yang buruk yang tidak boleh dilakukan.9
anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang
Dengan demikian dapatlah disimpulkan menopang kematangan berfungsinya insting itu
bahwa perkembangan moral pada anak usia belum sempurna.10 Dengan demikian pendidikan
dini adalah perubahan psikis pada anak usia agama perlu diperkenalkan kepada anak jauh
dini yang memungkinkannya dapat mengetahui sebelum usia 7 tahun. Artinya, jauh sebelum usia
mana perilaku yang baik yang harus dilakukan tersebut, nilai-nilai keagamaan perlu ditanamkan
dan mengetahui mana perilaku yang buruk kepada anak sejak usia dini. nilai keagamaan itu
yang harus dihindarinya berdasarkan norma- sendiri bisa berarti perbuatan yang berhubungan
norma tertentu. Berdasarkan deskripsi di atas, antara manusia dengan tuhan atau hubungan
maka perkembangan nilai agama dan moral antar sesama manusia. 11
adalah perubahan psikis yang dialami oleh anak
Kedua teori tersebut dapat dijadikan
usia dini terkait dengan kemampuannya dalam
sebagai pijakan bagi pendidik PAUD maupun
scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=jurnal+perke orang tua bahwa sebagaiknya pengembangan
mbangan+nilai+agama+dan+moral&oq=ju nilai agama dan moral hendaknya mulai
7 Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, diperkenalkan kepada anak sejak usia dini.
(Jakarta:Bumi Aksara, 2006), hlm. 27
8 Aliah B Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangann 10 Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam,
Islami, (Jakarta: Rajawali Press, 2006), hlm. 261 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 47-48
9 Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, 11 Toni Pransiska, Kado Istimewa Untuk Anaku,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 258 (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2015), Hlm 34

46 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680


Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

perkembangan nilai agama dan moral pada maka mereka harus menjauhkan dirinya dari
anak usia dini sendiri sangat dipengaruhi oleh perilaku berbohong atau tidak jujur.12
sikap orang tua terhadapnya sejak ia dilahirkan. Kemudian setidaknya ada tiga aspek yang
Berikut beberapa sikap orang tua yang perlu harus dikembangkan dalam perkembangan nilai
diperhatikan dalam menentukan perkembangan agama dan moral pada anak usia dini antara lain:
nilai agama dan moral anak usia dini antara lain:
a. Aspek kognitif
a. Konsisten dalam mendidik anak
Aspek kognitif ini berhubungan dengan
Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan kemampuan anak usia dini dalam mengetahui
perlakuan yang sama dalam melarang atau perilaku yang baik serta perilaku yang buruk
membolehkan tingkah laku tertentu kepada berdasarkan ajaran agamanya. Kemampuan
anak. Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh tersebut dapat menjadikan anak memiliki
orang tua pada suatu waktu, harus juga dilarang berbagai pengetahuan tentang kebaikan sesuai
apabila dilakukan kembali pada waktu lain dengan ajaran agamanya.
b. Sikap orang tua dalam keluarga b. Aspek afektif
Sikap orang tua terhadap anak dapat Aspek afektif ini berhubungan dengan
mempengaruhi perkembangan nilai agama kemampuan anak usia dini dalam merasakan
dan moral anak, yaitu melalui proses peniruan dan mencintai berbagai perilaku yang baik
(imitasi). Sikap orang tua yang keras (otoriter) berdasarkan ajaran agamanya. Kemampuan
cenderung melahirkan sikap disiplin semua pada tersebut dapat menjadikan anak memiliki
anak, adapun sikap yang acuh tak acuh, atau kecintaan terhadap kebaikan sesuai dengan
sikap masa bodo cenderung mengembangkan ajaran agamanya.
sikap kurang bertanggung jawab dan kurang
memperdulikan norma pada diri anak. Sikap c. Aspek perilaku
yang sebaliknya dimiliki oleh orang tua yaitu Aspek perilaku ini berhubungan dengan
sikap kasih sayang, keterbukaan, musyawarah kemampuan anak usia dini dalam memilih
(dialogis), konsistem serta memberikan teladan melakukan perbuatan yang baik serta memilih
yang baik menghindari perbuatan yang buruk sesuai
c. Penghayatan dan pengamalan agama yang dengan peraturan yang didasari ajaran agamanya.
dianut Kemampuan tersebut dapat memotivasi anak
untuk konsisten dalam melakukan kebaikan
Orang tua merupakan panutan (teladan) sesuai dengan peraturan-peraturan yang
bagi anak, termasuk disini panutan dalam diberlakukan untuknya.
mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang
menciptakan iklim yang religious (agamis) Optimalisasi perkembangan nilai agama
dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan dan moral pada anak usia dini harus mencakup
tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka ketiga aspek diatas. Pendidikan PAUD maupun
anak akan mengalami perkembangan nilai orang tua tidak boleh cenderung pada salah
agama dan moral yang baik satu aspek, misalnya cenderung pada aspek
kognitif. Kecenderungan tersebut hanya
d. Sikap orang tua dalam menerapkan norma
12 Syamsul Yusup LN, Psikologi Perkembangan Anak
Orang tua yang tidak menghendaki dan Remaja, (Bandung: Rosda, 2011), hlm. 133
anaknya berbohong atau berlaku tidak jujur,

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 47


Siti Nurjanah

dapat menjadikan anak usia dini memiliki keteladanan ini perlu adanya kesesuaian antara
pengetahuan tentang berbagai kebaikan tetapi perilaku orang tua atau pendidik PAUD dengan
tidak mencintai kebaikan, bahkan enggan untuk apa yang orang tua atau pendidik PAUD
melakukan kebaikan tersebut. Oleh karena itu tuntutkan kepada anak-anak. Kedua, orang tua
pengembangan nilai agama dan moral harus pada atau pendidik harus menunjukan respon positif
aspek kognitif, afektif, maupun perilaku harus ketika menggunakan metode keteladanan. Jika
berjalan saling beriringan satu sama lainnya. hal itu bisa dilakukan maka anak akan benar-
Selain itu ada beberapa metode yang benar menjadikannya sebagai tokoh panutan.
dapat digunakan untuk mengoptimalisasikan b. Metode pembiasaan
perkembangan nilai agama dan moral pada anak
Metode pembiasaan dinilai sangat efektif
usia dini dalam kehidupan anak diantaranya
jika diterapkan terhadap anak usia dini. hal itu
sebagai berikut:
dikarenakan anak usia dini memiliki rekaman
a. Metode teladan ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang
Perilaku yang ditampilkan orang tua belum matang, sehingga mereka mudah diatur
ataupun pendidik sangat menentukan baik dengan berbagai kebiasaan yang mereka lakukan
buruknya perilaku anak usia dini. Jika orang sehari-hari. Itulah sebebnya pembiasaan menjadi
tua atau pendidik bertutur kata dengan santun, cara yang efektif dalam mengoptimalkan
berpenampilan sederhana, dan mampu perkembangan nilai agama dan moral pada usia
menampilkan perilaku moral yang sesuai dini.
dengan ajaran agamanya maka anak juga akan Metode pembiasaan merupakan suatu
menunjukan perilaku moral dan kehidupan kegiatan untuk melakukan hal yang sama,
beragama yang baik dengan cara meniru berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan
orang tua atau pendidiknya. Itulah sebabnya tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau
perkembangan moral dan emosi pada anak menyempurnakan suatu keterampilan agar
usia dini dapat dioptimalkan dengan cara menjadi terbiasa. Dengan kata lain metode
memberikan contoh perilaku perilaku moral pembiasaan merupakan cara mendidik anak
yang sesuai dengan ajaran agama.13 Tujuan dari dengan penanaman proses kebiasaan. Hal
metode ini adalah anak diberi contoh prilaku tersebut dimaksudkan agar anak mampu untuk
yang baik secara terus menerus oleh orang membiasakan diri pada perbuatan-perbuatan
dewasa agar anak meniru, karena pada masa ini yang baik oleh norma, agama maupun hukum
anak cenderung meniru.14 yang berlaku. Tujuan metode ini ialah anak
Ada dua hal yang harus diperhatikan dibiasakan melakukan perbuatan rutin. 15
dalam dalam menggunakan metode keteladanan Metode pembiasaan ini mempunyai
yaitu pertama, dalam pelaksanaan metode hubungan yang erat dengan metode keteladanan
karena kebiasaan anak erat kaitannya dengan
13 Novan Ardy Wiyani, Psikologi Perkembangan Anak figure yang menjadi panutan dalam perilakunya.
Usia Dini, hlm. 177-178
14 Amir Syamsudin, Pengembangan Nilai-Nilai Oleh karena itu ada beberapa syarat yang harus
Agama Dan Moral Pada Anak Usia Dini, dalam 15 Sapendi, internalisasi nilai-nilai moral agama pada
Jurnal Pendidikan Anak, vol 1 edisi 2 (Desember anak usia dini, dalam Jurnal AT-Turats, Vol 9 No 2
2012), di akses pada tanggal 4 Juni 2017 (Desember 2015), di akses pada tanggal 4 Juni 2017
pukul10:00WIBdarihttps://scholar.google.co.id/scho pukul 10:00 WIB dari https://scholar.google.co.id/sc
lar?hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama+d holar?hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama
an+moral&oq=ju +dan+moral&oq=ju

48 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680


Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

dilakukan oleh orang tua atau pendidik dalam dan tidak peduli dengan dirinya sendiri dan
menggunakan metode pembiasaan diantaranya serta lingkungannya. Jika pada tahap awal
pertama, pembiasaan mulai dilakukan sejak anak kehidupannya anak telah kehilangan perhatian
berada pada masa bayi, dimana masa tersebut dan kasih sayangnya, maka pada tahap
merupakan masa yang paling tepat untuk selanjutnya akan sulit bersimpati, berempati,
menerapkan metode ini. Hal itu dikarenakan dan menyayangi orang lain. Sementara itu
setiap anak memiliki rekaman yang kuat dalam pengawasan juga perlu dilakukan sebagai
menerima pengaruh lingkungan sekitarnya yang bentuk kontrol terhadap perilaku yang hendak
secara langsung dapat membentuk karakter ditampilkan anak, baik itu perilaku yang baik
seorang anak. Kebiasaan positif maupun ataupun yang buruk.
kebiasaan negative itu akan muncul sesuai
d. Metote Hadiah dan Hukuman
dengan lingkungan yang membentuknya.
Kedua, pembiasaan hendaknya dilakukan secara Orang tua dan pendidik dapat
berlanjut, teratur, dan terprogram atau terjadwal menggunakan metode hadiah dan hukuman
sehingga pada akhirnya akan terbentuk sebuah dalam mengoptimalkan perkembangan nilai
kebiasaan yang utuh, permanen, dan konsisten. agama dan moral anak usia dini.Tujuan dari
Pembiasaan rutin dapat dilaksanakan dengan metode ini adalah anak diarahkan agar menjadi
maksimal manakala disertai dengan kegiatan manusia yang berdisiplin diri dalam pergaulan
pengawasan. Ketiga, pembiasaan sebaiknya sosialnya. Metode pendisiplinan diri tersebut
diawasi secara ketat, konsisten, dan tegas. ialah memberikan hukuman nonfisik bagi anak
Orang tua maupun pendidik tidak boleh yang tidak disiplin dan memberikan hadiah bagi
memberikan kesempatan luas kepada anak anak yang berdisiplin.
didik untuk melanggar kebiasaan yang telah Pada prakteknya sebaiknya orang tua
ditanamkan. Keempat, pembiasaan yang semula atau pendidik menghindari pemberian hadiah
bersifat mekanis, sebaiknya secara beransur- secara materi seperti dalam bentuk uang, dan
ansur dirubah menjadi kebiasaan yang tidak yang menyenangkan lainya bagi anak karena
verbalistik dan menjadi kebiasaan yang disertai hal itu hanya akan membuat anak berprilaku
dengan kata hati anak itu sendiri seiring dengan baik lantaran ingin mendapatkan berbagai
bertambahnya usia anak. materi tersebut. Bolehlah orang tua atau
c. Metode Perhatian dan Pengawasan pendidik memberikan hadiah secara materi,
tetapi harus disertai dengan tindakan sosial
Metode perhatian dan pengawasan dalam penggunaan hadiah tersebut. Misalnya
merupakan kegiatan mendampingi orang tua memberikan hadiah berupa uang,
anak diberbagai kegiatan dalam upaya tetapi kemudian orang tua meminta kepada
mengoptimalkan perkembangan nilai agama dan anak untuk menyumbangkan sebagian uang
moral anak usia dini. Ketika anak diperhatikan, tersebut di kotak amal masjid. Pemberian hadian
ia akan merasa nyaman dan aman, hidup dengan berupa non-fisik yang dapat diberikan kepada
penuh rasa cinta, optimis dan memandang anak yang berprilaku baik seperti pemberian
positif pada dirinya serta lingkungannya. pujian, senyuman, belaian, dan pelukan. Hadiah
Sebaliknya, jika kurang mendapatkan perhatian semacam itu sepintas terkesan biasa-biasa saja, itu
atau bahkan terlantar, anak akan tumbuh dalam karena kita menilaiannya dari sisi materi, tetapi
rasa terabaikan. Anak akan memandang negatif jika kita menilaianya dari sisi kejiwaan (psikis),

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 49


Siti Nurjanah

pemberian hadiah semacam itu sungguh luar Selanjutnya permainan yang dapat
biasa. Pemberian pujian, senyuman, belaian, dan digunakan untuk perkembangan nilai agama
pelukan dapat membesarkan hati anak bahkan dan moral adalah permainan nyanyian. Pada
akan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah permainan nyanyian ini anak diajak bernyanyi
dia lupakan yang suatu saat dapat memunculkan oleh orang tua ataupun pendidik dengan nyanyian-
motivasi untuk melakukan kebaikan lagi. nyanyian tentang nilai agama dan moral.
Permainan nyanyian ini dalam pembelajaran di
e. Metode nasehat
KB ataupun TK biasanya digunakan disela-sela
Dalam metode nasehat ini orang tua kegiatan belajar. Selain untuk mengenalkan nilai
atau pendidik memberikan pesan-pesan positif agama dan moral, tujuanya juga untuk mengatasi
dengan berceramah kepada anak baik itu secara kebosanan pada anak.Karena nyanyi merupakan
individu maupun klasikal. Pemberian nasehat pembelajaran secara nyata yang membuat anak
secara individu dilakukan secara face to face senang dan gembira.16
antara orang tua atau pendidik dengan anak.
Kemudian permainan yang dapat
Diperlukan moment khusus dalam pemberian
digunakan adalah permainan alat pendidikan,
nasehat secara individual ini. Misalnya moment
salah satu alat permainan pendidikan yang dapat
ketika seorang anak melakukan keburukan.
digunakan adalah permainan puzzle hijaiyah
Tentu saja pemberian nasehat tersebut tidak
dan kartu pasangan (index card match).
hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi lebih dari
itu bahkan tak terhingga, dilakukan kapan saja g. Metode Karya Wisata
dan dimana saja. Sedangkan pemberian nasehat Untuk mengoptimalkan perkembangan
secara klasikal merupakan pemberian pesan- nilai agama dan moral anak usia dini, orang
pesan positif kepada kelompok anak. Biasanya tua ataupun pendidik dapat mengajak anak
orang tua ataupun pendidik dapat menggunakan melakukan kegiatan karya wisata, misalkan
pemberian nasehat secara klasikal ini setelah mengunjungi masjid-masjid, berziarah kemakam
melakukan sholat berjamaah, sebelum memulai pahlawan. Berziarah kemakam para wali, dan
pelajaran, pada saat mengakhiri pelajaran, lainya.
maupun ditengah-tengah kegiatan bermain anak.
Dengan mengunjungi masjid anak
f. Metode Permainan akan semakin mengetahui seluk beluk tempat
Metode permainan dapat digunakan oleh ibadahnya, melihat dan mengetahui aktivitas
orang tua atau pendidik dalam mengoptimalkan peribadatan di masjid (seperti sholat, berdoa,
perkembangan nilai agama dan moral anak dan berdzikir), serta memunculkan motivasi
usia dini. Permainan yang dapat digunakan pada diri anak untuk ikut melaksanakan berbagai
diantaranya permainan tepukan. Permainan aktivitas tersebut. Kemudian dengan berziarah
tepukan ini merupakan suatu gerakan bermain kemakam pahlawan dan makam para wali, anak
yang menggabungkan aktivitas fisik dan aktivitas diajarkan untuk menghargai jasa para pahlawan
khayal. Ada beberapa permainan yang dapat dan para wali serta diajarkan untuk berdoa.
digunakan untuk mengembangkan pengetahuan 16 Muhammad Ali Saputra, penanaman nilai-nilai
tentang nilai agama dan moral yaitu tepukan agama pada anak usia dini di r.a ddi addariyah
anak sholeh, tepuk wudhu, tepuk malaikat, tepuk kota palopo, dalam Jurnal Al-Qolam, Vol 20 No 2
(Desember 2014), di akses pada tanggal4Juni2017p
tenang, tepuk jari, dan tepuk sholat. ukul10:00WIBdarihttps://scholar.google.co.id/schol
ar?hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama+da
n+moral&oq=ju

50 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680


Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

Selain itu dalam menggunakan metode perencanaan pembelajaran kegiatan rutinitas ini
karya wisata, orang tua atau pendidik juga bisa meliputi: mengucapkan salam, berdoa sebelum
mengajak anak bepergian ketempat-tempat dan sesudah makan, dan berdoa sebelum dan
wisata alam seperti kepantai dan kepegunungan. sesudah belajar.
Pada tempat itu anak dapat langsung mengetahui
b. Melalui kegiatan terintegrasi
kebesaran tuhan dalam menciptakan alam
semesta ini dengan bimbingan dari orang tua Kegiatan terintegrasi adalah kegiatan
atau pendidiknya. pengembangan materi nilai-nilai agama dan
moral yang disisipkan melalui pengembangan
h. Metode Cerita kemampuan dasar lainya seperti bahasa, kognitif,
Metode bercerita dapat digunakan sebagai fisik-motorik, sosial emosional.
upaya untuk mengoptimalkan perkembangan Program ini dimasukan kedalam
nilai agama dan moral anak usia dini. orang rencana kegiatan harian secara terprogram
tua atau pendidik dapat mengambil berbagai dan diintegrasikan dengan pengembangan
cerita tentang Nabi, tentang keberanian dan kemampuan dasar lainya. Salah satu contoh
kedermawanan sahabat Nabi, tentang peristiwa- ketika menyampaikan tema “Aku” sub tema
peristiwa penting yang dialami para nabi dan “Bagian Tubuhku”, disamping mengembangkan
sahabat, cerita tentang kealiman dan kepandaian kemampuan kognitif, bahasa, fisik, juga nilai-
tokoh-tokoh islam seperti Al-Ghazali, Abdul nilai agama seperti bagian-bagian alat indera
Qodir Jailani, Ibnu Sina, dan lainya. ciptaan tuhan kaitanya dengan bagaimana
Cerita-cerita yang berasal dari nusantara anak harus mensyukuri terhadap fungsi-
juga dapat diberikan kepada anak sepanjang fungsinya yang bisa diperoleh, kemudian di
terdapat nilai-nilai yang positif pada cerita situ dikembangkan nilai-nilai moralnya dimana
tersebut, misalnya cerita tentang Maling anak mampu menjaga dan merawat semua panca
Kundang yang durhaka kepada ibunya, cerita indera yang diberikan oleh tuhan kepada kita.
tentang Batu Menangis, dan cerita tentang
c. Melalui kegiatan khusus
timun mas. Orang tua ataupun pendidik harus
selektif dalam memilih cerita-cerita yang Kegiatan khusus ini lebih menitik
hendak diberikan kepada anak karena memang beratkan kepada pengembangan nilai-nilai
ada cerita yang terlihat baik tetapi sebenarnya agama yang pelaksanaanya secara khusus
memiliki muatan yang buruk, misalnya tentang dan tidak dimasukan dengan pengembangan
si kancil.17 dasar lainya. Pembelajaran secara khusus ini
membutuhkan waktu khusus dan fasilitas yang
Kemudian ada beberapa strategi yang
memadai disesuaikan dengan kebutuhan dan
dapat digunakan dalam pengembangan nilai
waktu yang tersedia. Seperti tempat-tempat
agama dan moral diantaranya:
praktek beribadah dalam agama islam meliputi
a. Melalui kegiatan rutinitas praktek wudhu, praktek sholat, manasik haji,
Kegiatan rutinitas adalah kegiatan sehari- belajar membaca Al-Qur’an, hafalan surat-surat
hari yang dilaksanakan secara terus menerus pendek.18
namun terprogram dengan pasti. Kegiatan 18 Arif Hakim, Pengembangan Nilai-Nilai Agama Dan
ini biasanya tidak terdokumentasi dalam Moral Ditaman Kanak-Kanak (Analisis Deskriptif
Di Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, dalam
17 Novan Ardy Wiyani, Psikologi Perkembangan Anak Jurnal Ta’dip, Vol 5 No 1 (November 2016), di akses
Usia Dini, hlm.193-207 pada tanggal 4 Juni 2017 pukul 10:00 WIB dari

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 51


Siti Nurjanah

2. Tahap dan tugas perkembangan nilai berubah dan dimodifikasi. Apabila anak usia
agama dan moral lima tahun memandang bohong selalu salah,
maka pada anak usia diatasnya memandang
Selama ini telah banyak psikolog yang
bohong tidak selamanya salah, kadang-kadang
mencoba melakukan penelitian untuk mengkaji
bohong tidak selamanya salah, kadang-kadang
perkembangan keagamaan pada anak. Salah
dibenarkan selama ada alasan yang dapat
satu psikolog itu adalah pieget. Ia mengkaji
diterima.
perkembangan keagamaan pada anak dengan
pendekatan moral-kognitif. Tahap kedua ini berbarengan dengan tahap
perkembangan kognitif operasional formal,
Dengan membandingkan perbedaan
yaitu tahap dimana anak mampu untuk berpikir
antara kognitif anak-anak dengan orang dewasa,
abstrak, memahami, dan memecahkan masalah
ditentukan bahwa terdapat proses hukum moral
berdasarkan asumsi, dalil atau teori tertentu.
yang terus meningkat. Hal ini menunjukan
Berdasarkan karakteristik tahap perkembangan
bahwa perkembangan kognitif merupakan
moral tersebut diatas, perkembangan moral anak
dasar bagi perkembangan moral. Akan tetapi,
usia dini termasuk dalam tahap perkembangan
pieget masih ragu apakah perkembangan moral
realism moral dengan berbagai karakteristik.19
bisa menjadi dasar atau pijakan perkembangan
agama pada anak-anak atau tidak. Oleh karena Selain dua tahap moral sebagaimana
itu, pieget hanya berharap agar pendekatan disebutkan diatas, pieget juga mengusulkan
moral kognitifnya mempunyai korelasi parallel sebuah teori perkembangan kognitif secara
dengan perkembangan agama, tidak lebih dari general melalui tiga tahap yaitu tahap
itu. praoperasional, tahap operasional, dan tahap
operasi formal.20
Piaget membagi perkembangan moral
pada anak menjadi dua tahap, yaitu tahap realism Selanjutnya, Lawrence kohlerberg
moral atau moralitas oleh pembatasan dan dan melanjutkan dan mengembangkan kedua tahap
tahap moralitas otonomi atau moralitas oleh moral pieget dan tiga tahap perkembangan
kerjasama atau hubungan timbal balik. Pada kognitifnya. Lawrence mengekplorasi secara
tahap pertama perilaku anak dikendalikan oleh langsung teori pieget menjadi tiga tahap
ketaatan secara otomatis terhadap peraturan. perkembangan moral yaitu tahap pra-konvesional,
Anak belum dapat melakukan penalaran atau konvesional, dan pascakonvensional.
penilaian terhadap aturan atau norma yang Tahap pra-konvensional berisi tentang
dikenakan padanya, sehingga anak memandang ukuran moral yang dibuat otoritas oleh lembaga
kaku pada aturan atau norma yang dikenakan terkait. Pada tahapan perkembangan ini anak-
padanya, sehingga anak masih menganggap anak tidak akan melanggar ketentuan yang
kaku pada aturan-aturan tersebut. Pada tahap berlaku dilembaga dikarenakan merasa takut atas
ini anak memandang benar atau salah atas dasar ancaman dan hukuman yang telah ditentukan
konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi
dibelakangnya. Tahap ini terjadi pada anak usia 19 Denok Dwi Anggraini, peningkatan pengembangan
nilai agama dan moral melalui metode bercerita,
2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini anak tidak
dalam Jurnal PG-PAUD Trunojoyo, Vol 2 No 2
kaku lagi dalam memandang aturan. Konsep (Oktober 2015), di akses pada tanggal4Juni2017puk
anak dalam memandang aturan secara bertahap ul10:00WIBdarihttps://scholar.google.co.id/scholar?
hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama+dan+
https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=jurnal moral&oq=ju
+perkembangan+nilai+agama+dan+moral&oq=ju 20 Suyadi, Psikologi Belajar Paud, (Yogyakarta:
Pedagogia, 2010), hlm. 131
52 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680
Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

oleh lembaganya sehingga naka secara tidak Tahap pascakonvensional ini disebut
sadar dituntut untuk melaksanakan peraturan dan juga moralitas yang berprinsip.21 Pada tahap ini
takut melakukan larangan yang ada. Imbasnya anak mematuhi peraturan untuk menghindari
anak akan selalu melakukan perbuatan yang hukuman kata hatinya. tahapan ini terdiri dari
baik dan meninggalkan yang jelek. Tahapan ini dua tahapan yaitu:
dibagi menjadi dua tahapan yaitu: a. Tahap orientasi terhadap perjanjian anatara
a. Tahap orientasi terhadap kepatuhan dan dirinya dengan lingkungan sosialnya. Pada
hukuman : tahapan ini mau atau tidak harus tahap ini ada hubungan timbal balik antara
menaati peraturan yang ada, dikarenakan dirinya dengan lingkungan sosial dan
kalau tidak anak akan mendapatkan masyarakat. jadi dalam tahapan ini anak
hukuman sesuai dengan pelanggaran yang akan menaati aturan sebagai kewajiban dan
dilakukan. tanggung jawab atas dirinya dalam menjaga
b. Tahap relativistik : pada tahap ini anak keserasian hidupnya disekitarnya.
sudah mulai sadar bahwa setiap kejadian b. Tahapan universal: pada tahapan ini selain
mempunyai beberapa segi yang bergantung ada norma pribadi yang bersifat subjektif
pada kebutuhan orang yang membuat ada pula norma etik (baik atau buruk, benar
peraturan dan kesenangan seseorang. atau salah) yang bersifat universal sebagai
Tahap konvensional ini dituntut untuk sumber menentukan suaru perbuatan yang
mematuhi peraturan yang telah disepakati berhubungan dengan moralitas. 22
bersama-sama agar dia mau diterima dikelompok Selanjutnya John Dewey mengemukakan
sebayanya. Kelompok ini terdiri dari dua tahap perkembangan moral dalam tiga tahap yakni
yaitu: pertama tahap pra-moral, pada tahap ini ditandai
a. Tahap orientasi mengenai anak yang bahwa anak belum menyadari keterikatannya
baik: dalam tahapan ini anak mulai pada aturan. Kedua tahap konvensional, tahap
memperlihatkan orientasi terhadap ini ditandai dengan berkembangnya kesadaran
perbuatan yang dinilai baik atau tidak baik akan ketaatan pada kekuasaan. Dan yang
oleh orang lain atau sekitarnya. Sesuatu ketiga tahap otonomi, tahap ini ditandai dengan
dikatakan baik dan benar apabila segala berkembanganya keterikatan pada aturan yang
sikap dan perilaku atau perbuatannya dapat didasarkan pada tahap resiprositas (timbal balik
ditrima oleh orang lain atau sekitarnya, yang sama).
b. Tahapan mempertahankan norma sosial dan Sedangkan menurut Norman J. Bull
otoritas: pada tahapan ini anak-anak mulai terdapat empat tahap perkembangan moral yakni
menunjukan perbuatan yang benar-benar pertama tahap anatomi yaitu anak tidak merasa
bukan hanya agar supaya diterima oleh wajib untuk menaati peraturan. Kedua tahap
lingkunganya atau sekitarnya saja, tetapi
21 Anata Ikrommullah, tahap perkembangan moral
juga bertujuan agar dirinya dapat ikut serta santri mahasiswa menurut Lawrence Kohlberg, dalam
mempertahankan aturan dan norma atau Jurnal Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan,
No 2 (Agustus 2015), di aksespadatanggal4Juni201
nilai sosial yang ada sebagai kewajiban dan 7pukul10:00WIBdarihttps://scholar.google.co.id/sch
tanggung jawab moral untuk melaksanakan olar?hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama+
dan+moral&oq=ju
peraturan yang ada.
22 Mursid, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2015), hlm. 77-79

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 53


Siti Nurjanah
heteronomy yaitu anak merasa bahwa yang a. Tahap firetale, pada tahap ini anak
benar adalah yang patuh kepada peraturan, dan merepresentasikan keadaan tuhan yang
merasa perlu menaati kekuasaan. Ketiga tahap menyerupai raksasa, hantu, malaikat
sosionomi yaitu anak merasa bahwa yang benar bersayap, dan lain sebagainya.
adalah patuh pada peraturan yang sesuai dengan
b. Tahap realistis, pada tahap ini anak
peraturan kelompok. Dan yang keempat tahap
cenderung mengongkritkan beragama
autonomi yaitu anak telah mempertimbangkan
konsekuensi ketaatan pada peraturan. 23 c. Tahap individualistik, tahap ini ditandai
dengan adanya tiga kategori yaitu ide
Perkembangan pieget, kohlerberg, John
Dewey, dan Norman J Bull diatas baru menyentuh beragama kolot, mistik, dan simbol.
pada wilayah moral secara umum, dan belum Dengan demikian pengembangan
menyentuh pada wilayah agama secara khusus, agama pada anak usia dini sebenarnya lebih
terlebih lagi perkembangan keagamaan pada dititikberatkat kepada pembiasaan dalam
anak. Teori pieget di samping dikembangkan melakukan ibadah sesuai agamanya. Dengan
oleh kohlerberg juga diikuti oleh david elkind. tahap berpikir yang masih imajinatif, anak usia
Elkind inilah yang mengembangkan teori Piaget dini sulit memahami adanya tuhan; oleh karena
kedalam pola perkembangan keagamaan pada itu lebih difokuskan kepada pembiasaan gerakan
wilayah anak. ibadah, hafalan doa-doa pendek, dan pemerintah
Elkind menyatakan bahwa terdapat 4 tipe agama untuk berbuat baik kepada orang orang
kebutuhan mental yang muncul ketika anak tua, kerabat, dan sesama. Pembelajaran agama
tumbuh. Pertama, pencarian untuk konservasi. untuk anak usia dini dapat diajarkan dengan
Penyebutan ini berdasarkan ide bahwa anak- metode bermain, bercerita, bercakap-cakap,
anak memiliki ketetapan sebagai objek yang bermain peran, dan melihat langsung ciptaan
mempunyai kekurangan. Pada tahap ini, anak- tuhan.
anak menganggap hidup adalah abadi. Kedua, Begitupun dengan Pengembangan moral
tahap pencarian representasi. Tahap ini dimulai diajarkan melalui pembiasaan secara berulang-
sejak masa prasekolah. Dua hal yang terpenting ulang pada akhirnya akan membentuk kebiasaan
pada masa ini adalah gambaran mental dan baru yang baik, dan menghilangkan kebiasaan
perkembangan bahasa. Ketiga, pencarian relasi. buruk di bawah anak dari rumah. Rumah adalah
Tahap ini dimulai pada masa pertengahan lingkungan pertama yang membentuk moral
kanak-kanak. Pada tahap ini, anak-anak sudah anak usia dini. 24
mulai mengalami kematangan mental, sehingga 3. Indikator Tahap Pencapaian
mereka dapat merasakan hubungan dengan
Perkembangan Nilai Agama Dan Moral
tuhan. Keempat, pencarian tentang pemahaman.
Tingkat pencapaian perkembangan nilai
Sedikit berbeda dengan Elkind, Harms
agama dan moral pada anak usia dini dipengaruhi
justru menyimpulkan bahwa hanya ada tiga
usia anak. Berikut adalah standar tingkat
tahapan tentang pemikiran atau perkembangan
pencapaian perkembangan nilai agama dan
beragama pada anak. Tiga tahapan tersebut
moral pada anak usia dini yang telah ditetapkan
adalah:
oleh BNSP: 25
23 Yuningsih, menguatkan kembali pendidikan
keagamaan dan moral anak didik, Vol VII 24 Masnifal, Siap Menjadi Guru dan Pengelola Paud
No2(Agustus2014),diakses pada tanggal 4 Juni 2017 Professional, (Jakarta: PT Alex Media Komputinto,
pukul 10:00 WIB dari https://scholar.google.co.id/sc 2013), hal. 162-163
holar?hl=id&q=jurnal+perkembangan+nilai+agama 25 Novan Ardy Wiyani Dan Barnawi, Format Paud,
+dan+moral&oq=ju (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), hlm.189-193
54 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680
Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

Usia Tingkat Pencapaian Perkembangan


1. Mulai meniru gerakan berdoa/sembahyang sesuai dengan
agamanya
2-3 tahun 2. Mulai meniru doa pendek sesuai dengan agamanya
3. Mulai memahami kapan mengucapkan salam, terima kasih, maaf,
dsb.
1. Mulai memahami pengertian perilaku yang berlawanan meskipun
belum selalu dilakukan seperti pemahaman perilaku baik-buruk,
3-4 tahun benar-salah, sopan-tidak sopan
2. Mulai memahami arti kasihan dan sayang kepada ciptaan tuhan.
1. Mengenal tuhan melalui agama yang dianutnya
2. Meniru gerakan beribadah
3. Mengucapkan doa sebelum dan/atau sesudah melakukan sesuatu
4-5 tahun 4. Mengenal perilaku baik/sopan dan buruk
5. Membiasakan diri berperilaku baik
6. Mengucapkan salam dan membalas salam
1. Mengenal agama yang dianut
2. Membiasakan diri beribadah
3. Memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb)
5-6 tahun 4. Membedakan perilaku baik dan buruk
5. Mengenal ritual dan hari besar agama
6. Menghormati agama orang lain

Jika kita perhatikan tabel perkembangan Pada usia 4-5 tahun disebut fase fantasia
nilai agama dan moral diatas yang pertama tau kreatifitas.28 Pada usia ini anak mulai
kali harus dicapai oleh anak usia dini adalah bisa mengenali tuhanya melalui agama yang
kemampuannya dalam menirukan gerakan dianutnya. Masing-masing agama yang
sembahyang. Sembahyang dapat diartikan dianut anak berbagai macam ritual. Anak
dengan beribadahnya. dapat mengenal tuhan melalui ritual-ritual
Pada usia 2-3 tahun disebut fase identitas. tersebut. Kepercyaan anak kepada tuhan pada
26
Pada usia ini anak sudah bisa dikenalkan usia ini, bukanlah keyakinan hasil pemikiran,
dengan rumah ibadah dan perlengkapan ibadah akan tetapi merupakan sikap emosi yang
bagi agamanya, serta pengenalan terhadap berhubungan erat dengan kebutuhan jiwa akan
berbagai gerakan dalam sembahyang, misalnya kasih sayang dan perlindungan. Oleh karena
saja gerakan-gerakan dalam sholat dan gerakan- itu, dalam mengenalkan tuhan kepada anak,
gerakan wudhu. Bagi anak yang berusia 2-3 sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan
tahun, doa menjadi pengikat antara anak dan penyayangnya, jangan menonjolkan sifat-
dengan orang tua dan tuhanya.27 sifat tuhan yang menghukum, mengazab, atau
memberikan siksaan dengan neraka.29

26 Ki Fudyartanta, Psikologi Perkembangan, 28 Ki Fudyartanta, Psikologi Perkembangan, hlm 250


(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 250 29 Syamsu Yusuf Dan Nani M Sugandhi, Perkembangan
27 Novan Ardy Wiyani, Psikologi Perkembangan Anak Peserta Didik, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada,
Usia Dini. hlm. 40 2011), hal. 67-68
ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 55
Siti Nurjanah
Dengan demikian, pada dasarnya sejak Selain itu perkembangan subjek yang lain
usia 2-6 tahun anak sudah bisa merasakan terlihat dari segi bahasanya, kemudian sudah
keberadaan tuhanya, mengenal tuhanya, serta lancar membaca hal ini menunjukan bahwa
mengenal agamanya. Perasaan dan pengenalan subjek memang siswa yang cerdas. Subjek
tersebut akan semakin luas makala orang tua juga berhasil memenangkan juara satu hafalan
maupun pendidikan anak usia dini mengajarkan surat pendek kemudian subjek juga aktif dalam
kepada doa-doa harian, menyampaikan cerita- mengikuti ektrakulikuler baik itu baca tulis arab,
cerita tentang nabi, membiasakan anak untuk menari, melukis, dan drum band.
melaksanakan peribadatan maupun mengenalkan
Dari perkembangan-perkembangan subjek
berbagai macam praktik ritual serta hari besar
yang telah tercapai tentunya tidak terlepas dari
keagamaan pada agama yang dianut oleh anak. 
kerjasama antara orang tua baik itu ibu dan
4. Analisis Perkembangan Subjek ayahnya dengan anaknya, kemudian pihak
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, orang tua dengan sekolah dan lingkungan sekitar
subjek yang diteliti merupakan anak usia 6 tahun dalam mendidik subjek. Berdasarkan wawancara
yang berada di kelas b2. Jika dilihat dari tingkat dengan orang tua subjek beliau menyatakan
perkembangan anak, perkembangan subjek bahwa memang dari sejak kandungan sudah
sudah tercapai dengan ketentuan standar tingkat menanamkan hal-hal yang baik dengan cara
pencapaian perkembangan anak. Diantara hal- selalu berkata baik, berbuat baik, membaca
hal yang sudah tercapai tersebut adalah sebagai Al-Qur’an dan lain sebagainya. Karena beliau
berikut: menyadari bahwa untuk membentuk karakter
yang baik tidak bisa dilakukan secara instan.
a. Usia 2-3 tahun Oleh karena itu orang tua subjek menanamkan
1) Sudah mengikuti gerakan sholat hal-hal baik sejak kandungan.
2) Sudah hafal do’a sebelum makan dan
Selain itu selama hamil nutrisi yang
sesudah makan, sebelum tidur dan
dikosumsi orang tua subjek juga sesuai dengan
sesudah tidur.
yang dianjurkan untuk ibu hamil yakni dengan
b. Usia 3-4 tahun makan nasi merah, buah-buahan stroberi
1) Ketika berangkat dan pulang sekolah dan pisang, sayuran hijau, serta minum susu
mengucapkan salam kehamilan. Kemudian sejak lahir sampai umur
2) Sudah mengetahui baik buruk seperti satu tahun khaira didengarkan lagu-lagu religi
makan menggunakan tangan kanan diajarkan doa-doa sebelum makan sesudah
3) Sudah memahami kapan mengucapkan makan, mau tidur sesudah tidur dan doa-doa
maaf lainya serta sudah diajarkan baca tulis oleh orang
c. Usia 4-5 tahun tuanya. Selanjutnya pada umur satu sampai dua
tahun khaira diajarkan untuk sholat, dan pada
1) Sudah mengetahui sopan santun seperti
umur satu tahun setengan sudah dimasukan ke
mengucapkan permisi
paud.
2) Sudah membiasakan diri jujur,
menolong temanya. Kemudian konsisten orang tua subjek
d. Usia 5 tahun sampai sekarang dalam mendidik anak hal ini dibuktikan dengan
ibu subjek yang rela melepaskan pekerjaannya
1) Sudah menghafal surat-surat pendek
demi untuk fokus mempersiapkan dan mendidik
2) Sudah mengetahui bahwa agamanya
subjek serta guna mengetahui perkembangan
islam
subjek. Selanjutnya sikap orang tua subjek dalam
3) Sudah melaksakan sholat lima waktu
56 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680
Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)
mendidik dengan cara memberi teladan yang baik C. SIMPULAN
yakni selalu mengajak anak sholat berjamaah
Perkembangan nilai agama dan moral
kemudian mengajak anak berdoa sebelum dan
adalah perubahan psikis yang dialami oleh anak
sesudah bangun tidur. Sebagaimana John locked
usia dini terkait dengan kemampuannya dalam
and J.B Watson, mengungkapkan faktor-faktor
memahami dan melakukan perilaku yang baik
yang mempengaruhi perkembangan moral
manusia, meliputi pengalaman sebagai proses serta memahami dan menghindari perilaku yang
belajar, keluarga. buruk berdasarkan ajaran agama yang diyakini.

Dengan tercapainya perkembangan Berdasarkan penelitian yang dilakukan


subjek yang sesuai dengan tingkat standar menunjukan bahwa perkembangan nilai agama
pencapaiannya maka anak akan tumbuh dan dan moral subjek sudah tercapai sesuai dengan
berkembang menjadi genius dalam nilai agama standar tingkat pencapaian perkembangan anak.
dan moralnya. Dengan melalui kecerdasan Hal ini tentunya tidak lepas dari peran orang tua
spiritual agamanya anak akan tumbuh menjadi baik itu ibu dan ayahnya, kemudian pihak orang
manusia yang berakhlak mulia, sabar dalam tua dengan sekolah dan lingkungan sekitar.
memecahkan masalah atau persoalan hidup
Kemudian yang mempengaruhi
secara baik serta mampu mengembangkan
maknanya secara spiritual. Kemudian subjek perkembangan nilai agama dan moral subjek
akan tumbuh dengan karakter yang baik, karena diantaranya konsisten orang tua subjek dalam
dari kecil sudah dibekali pondasi yang kokoh mendidik anak dan sikap orang tua subjek
dalam bertindak, berprilaku dan bertutur kata dengan mendidik melalui memberi teladan yang
untuk menghadapi krisis pergeserah nilai-nilai baik kepada subjek.
moral.

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 57


Siti Nurjanah

DAFTAR PUSTAKA Yusup LN, Syamsul .2011. Psikologi


Perkembangan Anak dan Remaja,
Ardy wiyani, Novan. 2013. Pendidikan Agama Bandung: Rosda
Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Anik Lestari, pengaruh penggunaan media vcd
Ardy wiyani, Novan. 2014. Psikologi terhadap nilainilai agama dan moral
Perkembangan Anak Usia Dini, anak, dalam Jurnal Pendidikan anak
Yogyakarta: Gava Media usia dini, Vol 8 No 2 (November 2014),
Ardy Wiyani dan Barnawi, Novan. 2016. Format di akses pada tangga l4 Juni 2017 pukul
Paud, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media 10:00 WIB dari https://scholar.google.
co.id/
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta
didik, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mahlan Asmar dan Siti Nurliana, upaya
mengembangkan aspek nilai-bilai agama
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan,
dan moral dalam membedakan perbuatan
Jakarta: Kencana
baik dan buruk menggunakan model
Ki fudyartanta. 2012. Psikologi Perkembangan, examples non examples dengan variasi
Yogyakarta: Pustaka Pelajar media papan planel pada anak kelompok
Masnifal. 2013. Siap Menjadi Guru Dan B TK puspa kencana banjarmasin, dalam
Pengelola Paud Professional, Jakarta: Jurnal Paradigma, Vol 9 No 1 (Januari
PT Alex Media Komputinto 2014),di akses pada tanggal 4 Juni 2017
pukul 10:00 WIB dari https://scholar.
Mursid. 2015. Belajar dan Pembelajaran.
google.co.id/
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Amir Syamsudin, Pengembangan Nilai-Nilai
Mansur. 2007. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam
Agama Dan Moral Pada Anak Usia
Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Dini, dalam jurnal pendidikan anak,
Pransiska, Toni . 2015. Kado Istimewa Untuk vol 1 edisi 2 (Desember 2012), di akses
Anaku, Yogyakarta: Pustaka Ilmu padatanggal4Juni2017pukul10:00WIB
Purwakania Hasan, Aliah B. 2006. Psikologi dari https://scholar.google.co.id/
Perkembangann Islami, Jakarta: Sapendi, internalisasi nilai-nilai moral agama
Rajawali Press pada anak usia dini, dalam Jurnal AT-
Pramunditya Ambara, Didith. 2014. Asesmen Turats, Vol 9 No 2 (Desember 2015),
Anak Usia Dini, Yogyakarta: Graha Ilmu di akses pada tanggal 4 Juni 2017
pukul10:00WIBdarihttps://scholar.
Syah, Muhibbin. 2014. Telaah Singkat
google.co.id/
Perkembangan Peserta Didik, Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada Muhammad Ali Saputra, penanaman nilai-nilai
agama pada anak usia dini di r.a ddi
Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian
addariyah kota palopo, dalam Jurnal
Anak, Jakarta: Bumi Aksara
Al-Qolam, Vol 20 No 2 (Desember
Suyadi. 2013. Psikologi Belajar Paud, 2014),diakses pada tanggal 4 Juni 2017
Yogyakarta: Pedagogia pukul 10:00 WIB dari https://scholar.
Yusuf dan Nani M Sugandhi, Syamsu. 2011. google.co.id/
Perkembangan Peserta Didik, Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada
58 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 ISSN : 2615-5680
Perkembangan Nilai Agama dan Moral (STTPA Tercapai)

Arif Hakim, Pengembangan Nilai-Nilai Agama


Dan Moral Ditaman Kanak-Kanak
(Analisis Deskriptif Di Kecamatan
Cileunyi Kabupaten Bandung, dalam
Jurnal Ta’dip, Vol 5 No 1 (November
2016), di akses pada tanggal 4 Juni 2017
pukul 10:00 WIB dari https://scholar.
google.co.id/
Denok Dwi Anggraini, peningkatan
pengembangan nilai agama dan moral
melalui metode bercerita, dalam Jurnal
PG-PAUD Trunojoyo, Vol 2 No 2
(Oktober2015), diakses pada tanggal 4
Juni 2017 pukul 10:00 WIB dari https://
scholar.google.co.id/
Anata Ikrommullah, tahap perkembangan moral
santri mahasiswa menurut Lawrence
Kohlberg, dalam Jurnal Pendidikan
pancasila dan kewarganegaraan, No 2
(Agustus2015), diakses pada tanggal 4
Juni 2017 pukul 10:00 WIB dari https://
scholar.google.co.id/
Yuningsih, menguatkan kembali pendidikan
keagamaan dan moral anak didik, Vol
VII No 2 (Agustus2014), diakses pada
tanggal 4 Juni 2017 pukul 10:00 WIB
dari https://scholar.google.co.id/
Siti Nurliana, upaya mengembangkan aspek
nilai-bilai agama dan moral dalam
membedakan perbuatan baik dan buruk
menggunakan model examples non
examples dengan variasi media papan
planel pada anak kelompok B TK puspa
kencana banjarmasin, dalam Jurnal
Paradigma, Vol 9 No 1 (Januari 2014),
di akses pada tanggal 4 Juni 2017 pukul
10:00 WIB dari https://scholar.google.
co.id/

ISSN : 2615-5680 Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2018 59