Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR KLAVIKULA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

klavikula(tulang selangka) adalah tulang menonjol di kedua sisi di


bagian depan bahu dan atas dada. Dalam anatomi manusia, tulang selangka
atau klavikulaadalah tulang yang membentuk bahu dan menghubungkan
lengan atas pada batang tubuh serta memberikan perlindungan kepada bagian
penting yang mendasari pembuluh darah dan saraf. Tulang
klavikulamerupakan tumpuan beban dari tangan, sehingga jika terdapat
beban berlebih akan menyebabkan beban tulang klavikulaberlebih, hal ini
bisa menyebabkan terputusnya kontinuitas tulang tersebut.

Fraktur klavikulamerupakan 5% dari semua fraktur sehingga tidak jarang


terjadi. Fraktur klavikulajuga merupakan cedera umum di bidang olahraga
seperti seni bela diri, menunggang kuda dan balap motor melalui mekanisme
langsung maupun tidak angsung. Tidak menutup kemungkinan fraktur
klavikulayang terjadi disertai dengan trauma yang lain, karena letaknya yang
berdekatan dengan leher, setiap kejadian fraktur klavikulaharus dilakukan
pemeriksaan cervical. Fraktur klavikulabisa bersifat terbuka atau tertutup,
tergantung dari mekanisme terjadinya.

Penatalaksanaan yang paling sering dilakukan dengan menggunakan


tindakan operatif, dengan pemasangan plat / orif. Hal ini berpotensi
menimbulkan beberapa masalah dalam penatalaksanaan perioperatif.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mempunyai rumusan masalah


sebagai beriku :

1. Bagaimana asuhan keperawatan post operatif pada pasien dengan fraktur


clavikula?
C. Ruang Lingkup

Dari rumusan masalah diatas penulis membatasi area meliputi asuhan


keperawatan pre operatif dan post operatif pada pasien dengan fraktur
klavikuladi Ruang Menur RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata
Purbalingga .

D. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui secara lengkap asuhan keperawatan pre dan postoperatif


pada pasien dengan fraktur clavikula.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu merencanakan dan melakukan asuhan


keperawatan pre operatif pada pasien dengan fraktur clavikula.

b. Mahasiswa mampu merencanakan dan melakukan asuhan


keperawatan post operatif pada pasien dengan fraktur clavikula.

c. Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian asuhan


keperawatan perioperatif pada pasien dengan fraktur clavikula.

E. Manfaat

1. Bagi individu

Membandingkan teori yang diperoleh dengan praktik nyata di lapangan


dalam melakukan asuhan keperawatan nyata pada pasien fraktur
clavikula.

2. Bagi rumah sakit

Membantu memberikan informasi tentang asuhan keperawatan pre dan


post operatif dengan kasus fraktur clavikula.
3. Bagi institusi

Menambah kepustakaan mengenai asuhan keperawatan dengan fraktur


clavikula, sehingga bisa dikembangkan kembali oleh mahasiswa yang
lain, sesuai dengan perkembangan ilmu yang semakin berkembang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi

Dalam anatomi manusia, klavikulaatau tulang leher diklasifikasikan


sebagai tulang panjang yang membentuk bagian dari sabuk bahu ( pectoral
korset) atau artinya kunci kecil. klavikulamerupakan tulang yang berbentuk
huruf S, bagian medial melengkung lebih besar dan menuju anterior,
lengkungan bagian lateral lebih kecil dan menghadap ke posterior. Ujung
medial klavikuladisebut ekstremitas sternalis, membentuk persendian dengan
sternum, dan ujung lateral disebut ekstremitas acromalis, membentuk
persendian dengan akromion. Shoulder komplek merupakan sendi yang
paling kompleks pada tubuh manusia, karena memiliki 5 sendi yang saling
terpisah. Shoulder komplek terdiri dari 3 sendi sinovial dan 2 sendi non
sinovial. Tiga sendi sinovial adalah sterno clavikular joint, acromioclavikular
joint, dan glenohu-meral joint. 2 sendi non-sinovial adalah suprahumeral
joint dan scapulothoracic joint.

Walaupun dikelompokkan dalam tulang panjang, klavikulaadalah tulang


satu- satunya yang tidak memiliki rongga sumsum tulang seperti pada tulang
panjang lainnya. klavikulatersusun dari tulang spons. Perlekatan otot-otot
dan ligamentum yang berlekatan pada klavikula:

1. Permukaan superior :

a. Otot deltoideus pada bagian tuberculum deltoideus

b. Otot trapezius

2. Permukaan inferior

a. Otot subclavius pada sulcus musculi subclavii


b. Ligamentum conoideum

(bagian medial dari ligamentumcoracoclavikulare) pada tuberculum


conoideum

c. Ligamentumtrap zoideum (bagian lateral dari ligamentum


Coracoclavikulare) pada linea trapezoidea.

3. Batas anterior :

a. Otot pectoralis mayor

b. Otot deltoideus

c. Otot sternocleidomastoid

d. Otot sternohyoideus

e. Otot trapezius

B. Definisi

1. Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai tipe


dan luasnya.

2. Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh

3. Fraktur (patah tulang) adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan


ditentukan sesuai jenis dan luasnya.

4. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang


rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.

5. Fraktur klavikula(tulang kolar) merupakan cedera yang sering terjadi


akibat jatuh atau hantaman langsung ke bahu. Lebih dari 80% fraktur ini
terjadi pada sepertiga tengah atau proksimal clavikula.
C. Tanda & Gejala

Kemungkinan akan mengalami sakit, nyeri, pembengkakan, memar, atau


benjolan pada daerah bahu atau dada atas. Tulang dapat menyodok melalui
kulit, tidak terlihat normal. Bahu dan lengan bisa terasa lemah, mati rasa, dan
kesemutan. Pergerakan bahu dan lengan juga akan terasa susah. Anda
mungkin perlu untuk membantu pergerakan lengan dengan tangan yang lain
untuk mengurangi rasa sakit atau ketika ingin menggerakan.

D. Patofisiologi

Patah tulang selangka ( fraktur clavikula) umumnya disebabkan oleh


cedera atau trauma. Hal ini biasanya terjadi ketika jatuh sementara posisi
tangan ketika terbentur terentang atau mendarat di bahu. Sebuah pukulan
langsung ke bahu juga dapat menyebabkan patah tulang selangka / fraktur
clavikula. Hal ini mungkin terjadi selama perkelahian, kecelakaan mobil,
atau dalam olahraga, seperti sepak bola dan gulat.

Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma


gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan
metabolik, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang
terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan
pendarahan, maka volume darah menurun. Cardiac Out Put (COP) menurun
maka terjadi peubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi
plasma dan poliferasi menjadi oedema lokal maka penumpukan di dalam
tubuh.

Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat
menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai
tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak
sehingga mobilitas fisik terganggu. Disamping itu fraktur terbuka dapat
mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan
kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur
terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan
gangguan rasa nyaman berupa nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang
sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak
sehingga mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat
mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi
terkontaminasi dengan udara luar. Pada umumnya pada pasien fraktur
terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk
mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya
sampai sembuh.

E. Pemeriksaan Penunjang

1. CT-Scan

Sebuah mesin x-ray khusus menggunakan komputer untuk


mengambil gambar dari clavikula. seseorang mungkin akan diberi
pewarna sebelum gambar diambil. Pewarna biasanya diberikan dalam
pembuluh darah seseorang (Intra Vena). Pewarna ini dapat membantu
petugas melihat foto yang lebih baik. Orang yang alergi terhadap yodium
atau kerang (lobster, kepiting, atau udang) mungkin alergi terhadap
beberapa pewarna. Beritahu petugas jika Anda alergi terhadap kerang,
atau memiliki alergi atau kondisi medis lainnya.

2. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Scan :

Magnetic Resonance Imaging atau biasa disebut dengan MRI


menggunakan gelombang magnetik untuk mengambil gambar tulang
selangka / clavikula, tulang dada, dan daerah bahu. Selama MRI, gambar
diambil dari tulang, otot, sendi, atau pembuluh darah. Seseorang perlu
berbaring diam selama MRI.

3. X-ray

X-ray digunakan untuk memeriksa patah tulang atau masalah lain.


X-ray dari kedua klavikulaseseorang yang terluka dan terluka dapat
diambil.
4. Pemeriksaan Labolatorium

F. Terapi

Pengobatan akan sangat tergantung pada kerusakan dan jenis fraktur


yang terjadi. Kebanyakan klavikulapatah sembuh dengan sendiri. S mungkin
perlu istirahat dan melakukan latihan khusus untuk membantu
menyembuhkanya. Hal ini sangat penting untuk menjaga lengan seseorang
tersebut dari bergerak untuk memungkinkan klavikulauntuk sembuh total
atau perlu salah satu dari tindakan dibawah berikut :

1. Obat-obatan

Obat-obatan dapat diberikan untuk meringankan rasa sakit. Seseorang


juga mungkin perlu obat antibiotik atau suntikan tetanus jika terdapat luka
robek di kulit.

2. Sling atau selempang

Ada beberapa jenis sling yang dapat digunakan untuk mencegah


klavikulapatah dari kerusakan lebih lanjut. Sling diikatkan di lengan dan
digantungkan ke leher untuk kenyamanan dan keamanan.

3. Terapi pendukung

Paket es dapat ditempatkan pada klavikulayang patah untuk


mengurangi pembengkakan, nyeri, dan kemerahan. Latihan yang
meningkatkan jangkauan gerak dapat dilakukan setelah rasa sakit
berkurang. Hal ini membantu untuk membawa kembali kekuatan dan
kekuatan bahu dan lengan.

4. Pembedahan

Mungkin memerlukan pembedahan untuk mengembalikan tulang


kembali ke posisi normal jika patah / fraktur parah. Pembedahan juga
mungkin diperlukan untuk memperbaiki klavikulayang menonjol keluar
keluar melalui kulit. Pemasangan Plate screw / pen dapat digunakan untuk
menahan tulang lebih stabil. Masalah lebih lanjut, seperti cedera pada
saraf atau pembuluh darah juga dapat diobati dengan operasi.

G. Fokus Pengkajian

Pengkajian pada klien fraktur menurut Doengoes, (2000) diperoleh data


sebagai berikut :

1. Aktivitas (istirahat)

Tanda : Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena


(mungkin segera fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari
pembengkakan jaringan nyeri)

2. Sirkulasi

Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri)


atau hipotensi ( kehilangan darah), takikardia ( respon stress,
hipovolemia), penurunan / tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera :
pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena pembengkakan
jaringan atau massa hepatoma pada sisi cedera.

3. Neurosensori

Gejala : Hilang sensasi, spasme otot, kebas / kesemutan (panastesis)

Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi,


krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi, agitasi
(mungkin berhubungan dengan nyeri atau trauma)

4. Nyeri / kenyamanan

Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area jaringan / kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi ;
tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf, spasme / kram otot (setelah
imobilisasi)
5. Keamanan

Tanda : Laserasi kulit, avulse jaringan, perubahan warna, pendarahan,


pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba

H. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen


tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress,
ansietas

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan


status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan
oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor
kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan,


kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan
kekuatan/tahanan.

4. Risiko perdarahan berhubungan dengan proses pembedahan

I. Intervensi Keperawatan

No Dx kep Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi

1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan a.Kaji KU pasien


berhubungan keperawatan selama proses terhadap nyeri
dengan keperawatan pasien diharap kan
diskontinuitas mampu mempertahan kan tingkat
tulang nyeri pada: b.Kaji PQRST
nyeri pasien
Indikator IR ER

Skala nyeri 2 4
berkurang c.Jelaskan tentang
prosedur yang
Menggunakan 2 4
dapat menurunkan
teknik relaksasi dan meningkatkan
untukmenurunka nyeri
n nyeri

Keterangan :
d.Ajarkan teknik
1.Tidak pernah menunjukan nafas dalam

2.Jarang menunjukan

3.Kadang-kadang menunjukan e.Kolaborasi


pemberian obat
4.Sering menunjukan
analgetik jika
5.Selalu menunjukan perlu.

f.Kaji TTV dan


KU pasien

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN

Hari / Tanggal : Sabtu, 26 Juni 2014

Tempat : Ruang Menur

Jam : 07.35 WIB

B. IDENTITAS PASIEN

Identitas Pasien Penanggung Jawab

Nama : Ny. M Status : Suami

Umur : 38 Tahun Nama : Tn. W

Agama : Islam Umur : 38 Tahun

Pendidikan : SMP Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMP

Suku Bangsa: Indonesia Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Wanogara Kulon RT Suku Bangsa: Indonesia


04/01, Purbalingga
Alamat : Wanogara Kulon RT
04/01, Purbalingga
C. DATA SUBYEKTIF

1. Alasan Datang

Pasien datang ke rumah sakit dngan keluhan nyeri pada bahu kiri
pasca kecelakaan lalu lintas seminggu yang lalu, sudah di bawa ke IGD
dan dirontgen hasilnya adalah fraktur klavikula sinistra, pasien menolak
untuk dioperasi namun besoknya pasien datang ke pengobatan
tradsional. Sekarang pasien mengeluh nyeri pada punggung kiri, dan
sesak nafas.

2. Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri pada bahu kiri

P : Nyeri bertambah ketika bergera, nyeri berkurang saat diimobilisasi

Q : Nyeri seperti tertusuk

R : Bahu kiri

S:5

T : Hilang timbul mulai sampai dimobilisasi

3. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien datang dari ruang IGD ke ruang Menur pada tanggal 24 Juni
2014 pukul 18.00 WIB dengan riwayat fraktur klavikula sinstra . Pada
tanggal 25 Juni 2014 dilakukan operasi ORIF . Setelah dilakukan
operaso ORIF atau post operasi ORIF hari pertama pasien mengeluh
nyeri pada bahu kiri.

4. Riwayat Kesehatanyang Lalu

Pasien mengatakan tidak pernah mengalami kecelakaan dan belum


pernah mengalami penyakit lainnya.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga

Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit menurun dalam


keluargnya.

6. Pola Fungsi Kesehatan

a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

DS : Pasien mengatakan jika sakit maka ia akan berobat ke tempat


pelayanan kesehatan terdekat.

DO : Pasien menuju ke RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata.

b. Pola aktivitas latihan

DS : Pasien mengatakan bahwa sebelum sakit pasien mampu


melakukan pekerjaannya sebagai seorang ibu rumah tangga
secara mandiri. Namun setelah sakit, pasien melakukan
sebagian besar aktivitasnya dengan bantuan orang lain.

DO : Pasien terlihat selalu berbaring di tempat tidur dan


melakukan segala aktivitasnya di atas tempat tidur. Berikut
merupakan skala aktivitas dari pasien tersebut.

Skala : 0 : Mandiri

1 : Menggunakan alat bantu

2 : Dibantu orang lain

3 : Dibantu dengan peralatan

4 : Ketergantungan atau tidak mampu


Skala

0 1 2 3 4
Kemampuan

Makan √

Mandi √

Berpakaian √

Penggunaan toilet √

Mobilitas

Berjalan √

c. Pola nutrisi dan metabolik

DS : Pasien mengatakan nafsu makannya sedikit berkurang karena


kondisisnya tidak mendukung aktifitasnya.Pasien makan 3 kali
sehari dengan menghbiskan 1/2 porsi saja (nasi,sayur dan lauk) serta
pasien minum air putih krang lebih 4 gelas belimbing.

DO : Pasien tidak menghabiskan makanannya.

d. Pola eliminasi

DS : Pasien mengatakan sebelum sakit BAB nya sehari sekali dengan


konsisten lembek dan berwarna kuning kecoklatan serta BAK sehari
kurang lebih 4 kali dengan jumlah kurang lebih 500 cc per miksi dan
berwarna kuning jernih. Namun setelah dioperasi BABnya 2 hari
sekali dengan konsistensi lembek dan berwarana kuning kecoklatan
serta BAKnya 2 kali sehari.

DO : Pasien tidak BAB namun pasien BAK sehari dua kali dengan warna
kuning jernih ketika dirawat di Ruang Menur RSUD Dr. R.
Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.

e. Pola tidur dan istirahat


DS : Pasien mengatakan sebelum operasi susah tidur tetapi setelah
operasi bisa tidur selama 9 jam per hari dengan tidur malam mulai
dari jam 21.00 WIB sampai 05.00 WIB dan tidur siang dari jam
13.00 WIB sampai jam 15.00 WIB.
DO : Pasien terlihat tidur pulas .
f. Pola kognitif persepsi

DS : Pasien mengatakan tidak ada gangguan indra seperti pendengaran,


penglihatan, penciuman, perasa dan pengecapnya. Semua indra
normal dan pasien terlihat sadar sepenuhnya.

DO : Pasien merespon setiap pertanyaan dengan baik dan


komunikatif .

g. Pola toleransi dan koping terhadap stress

DS : Pasien mengatakan jika ada masalah didiskusikan dengan


anggota keluarga lainnya untuk mencari solusinya .

DO : Pasien tidak terlihat stress dan tabah serta sabar dalam proses
penyembuhan penyakitnya

h. Konsep diri

DS : Pasien mengatakan sudah tidak cemas lagi namun pasien


khawatir dengan perannya di dalam keluarga yang belum bisa
pulih seperti sebelumnya karena pasca operasi fraktur
klavikula sinistra.

DO : Pasien terlihat tidak cemas lagi namun ia merasa khawatir.

i. Pola seksual dan reproduksi


DS : Pasien mengatakan sudah menikah dan mempunyai dua anak
serta menggunakan program keluarga berencana dengan cara
suntik. Pasien mengatakan kegiatan seksualnya untuk
sementara waktu dihentikan karena kondisinya yang tidak
memungkinkan.

DO : Pasien berjenis kelamin perempuan.

j. Pola hubungan dan peran

DS : Pasien mengatakan hubungannya dengan keluarganya baik.


Dan ia berperan sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.

DO : Keluarga pasien selalu menemani pasien dan banyak sanak


saudara yang secara bergilir terlihat menjenguk pasien.

k. Pola nilai dan keyakinan

DS : Pasien mengatakan bahwa dirinya beragama islam

DO : Pasien selalu berdoa untuk kesembuhannya

D. DATA OBYEKTIF

1. Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda-Tanda Vital

Suhu : 36,20C TD : 120/90

Nadi : 80 x/menit RR : 24 x/menit

Pemeriksaan fisik head to toe


Kepala : Bentuk mesocepal, tidak ada benjolan,
distribusi rambut baik dan bersih
Mata : Sklera un ikterik, konjungtiva tidak anemis,
mata simetris
Hidung : Tidak ada serumen
Mulut : Mukosa bibir lembab, gigi agak kotor, tidak
ada pembesaran tonsil, bibir pucat
Telinga : Mimetris, tidak ada serumen, pendengaran
baik.
Dada : Bentuk dada normal, tidak ada masa, tidak ada
otot bantu nafas
Abdomen : turgor kulit normal,
Genetalia : Tidak ada penyakit kelamin
Ekstremitas atas : Tangan kanan terpasang infuse RL, tangan kiri
terdapat balutan luka post op dibahu kiri,
tangan belum dapat di gerakkan.
Ekstremitas bawah : Kaki dapat digerakkan

2.Pemeriksaan Penunjang

a. Computed Radiography

Hasil pemeriksaan radiologi ( Rontgen Thorak ) Terdapat


fraktur klavikula sinistra.

b. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


HEMATOLOGI

Paket darah Rutin

Hemoglobin 13,5 g/dL 11,7 -15,5

Leukosit 7,6 10^3/ul 3,6- 11

Hematokrit 41 - 35 - 47

Eritrosit 4,3 10^6/ul 3,8 - 5,2

Trombosit 267 10^3/ul 150 - 440

MCH 31 Pg 26-34

MCHC 33 g/dl 32-36

MCV 95 FL 80-100

DIFE COUNT

Eosinofil 2 - 1-3

Basofil 0 - 0-1

Netrofil Segmen 74 - 50-70

Limfosit 17 - 25-40

Manosit 7 - 2-8

Masa Pembekuan / CT 4,00 Menit 3-5

Masa Perdarahan / BT 30 Menit 2-5

Kimia Klinik

Gula darah sewaktu 100,4 Mmol/L 100-150

Ureum 43,1 Mmol/L 10-50

Creatinin 0,69 Mmol/L 0,4-0,9

Sero Imunoglobin

HBsAg -/negatif’
c. Pengobatan

1). Terpasang infus RL 500 cc dengan 20 tpm

2). Ranitidin 2 x 1 (50 mg)

3). Ketorolac 3 x 1 (30 mg )

4). Ceftriaxon 2 x 1 (1 gram )

E. Analisa Maslah

No Masalah Respon Pasien

Gangguang keamanan dan S : Pasien mengatakan bahwa luka


kenyamanan (nyeri) bekas operasinya masih terasa
sakit.

O: - Pasien terlihat menahan sakit

- Pasien tampak puat

- Pasien tampak lemas

P: Faktor penyakit

Q: Seperti tertusuk-tusuk

R: Bahu kiri

S: 4

T: Bila digerakkan

F. Intervensi

No Dx kep Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi

1 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan a.Kaji KU pasien


berhubungan keperawatan selama proses
dengan keperawatan pasien diharap kan terhadap nyeri
diskontinuitas mampu mempertahan kan tingkat
tulang nyeri pada:
b.Kaji PQRST
Indikator IR ER
nyeri pasien
Skala nyeri 2 4
berkurang
c.Jelaskan tentang
Menggunakan 2 4
prosedur yang
teknik relaksasi
dapat menurunkan
untukmenurunka
dan meningkatkan
n nyeri
nyeri
Keterangan :

1.Tidak pernah menunjukan


d.Ajarkan teknik
2.Jarang menunjukan
nafas dalam
3.Kadang-kadang menunjukan

4.Sering menunjukan
e.Kolaborasi
5.Selalu menunjukan pemberian obat
analgetik jika
perlu.

f.Kaji TTV dan


KU pasien

G. Implementasi keperawatan

No Tanggal/ waktu Implementasi Respon


1 26 Juni 2014 - Mengobservasi KU pasien DS : Pasien mengatakan
keadaannya sudah mulai
14:30
membaik

DO : Keadaan pasien
cukup baik

DS : Pasien mengatakan
- Mengkaji nyeri pasien dan
masih nyeri pada luka
Mengajarkan teknik relaksasi
operasinya dan pasien
mau melakukan teknik
relaksasi yang diajarkan

DO : Ekspresi pasien
terlihat menahan sakit
dan pasien telah
melakukan teknik
relaksasi

- Mengkaji tanda-tanda vital DS : Pasien mengatakan


dan memonitor tetesan infus pusing dan nyeri

DO : Tekanan darah
pasien 120/80 mmHg, N :
72 x /menit, S : 36˚C, dan
tetesan infus 30 tpm

- Memotivasi pasien untuk


22:00 istirahat
DS : Pasien mengatakan
susah untuk tidur

DO : Mata pasien terlihat


sayu dan lemas

DS : Pasien mengatakan
-Memberi injeksi Ceftriaxon
membutuhkan obat untuk
2x1 hari ( 1 gram), Ranitidin
mengurangi rasa nyeri
2x1 hari (50 mg), Ketorolac
3x1 hari (30 mg) DO : Pasien menerima
injeksi obat

DS : Pasien mengatakan
27 Juni 2014 - Memberikan asuhan post
mengerti akan asuhan
operasi dengan latihan
08:30 yang diberikan
mobilitas sebelum pasien
pulang DO : Pasien melakuka
mobilitas menggerakan
bahu kirinya

DS : Pasien mengatakan
- Mengkaji TTV pusing dan nyeri

DO : Tekanan darah
pasien 120/80 mmHg, N :
72 x /menit, S : 36˚C.

H. Evaluasi Keperawatan

Tanggal Implementasi Evaluasi


26 Juni - Mengobservasi KU pasien S : Pasien mengatakan
2014 keadaannya mulai membaik

14:30 O : KU cukup, kesadaran


Compos metis

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

- Mengkaji nyeri pasien dan S : Pasien mengatakan


Mengajarkan teknik relaksasi bahwa bahunya masih nyeri,
tapi sedikit berkurang

O : Pasien terllihat menahan


sakit ketika bahunya
digerakan perlahan

A : Masalah belum teratasi

P : lanjutkan intervensi

22:00 - Mengkaji tanda-tanda vital S : Pasien mengatakan


dan memonitor tetesan infus pusing

O : KU cukup, kesadaran
Compos metis, infus RL 30
tpm, ekspresi menahan nyeri
dan terlihat belum rileks,
TD: 120/70 mmHg, N: 88
x/menit, S: 36.7˚C

A : Masalah belum tearatasi


P : Lanjutkan intervensi

S : Pasien mengatakan
membutuhkan obat untuk
27 Juni -Memberi injeksi Ceftriaxon
mengurangi rasa nyeri
2014 2x1 hari ( 1 gram), Ranitidin
2x1 hari (50 mg), Ketorolac O : Pasien mau menerima
3x1 hari (30 mg) injeksi yang diberikan

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

S : Pasien mengatakan
- Memberikan asuhan post
bahwa bahunya masih nyeri
operasi dengan latihan
mobilitas sebelum pasien O : Pasien terlihat menahan
pulang sakit saat dilakukan
mobilitas menggerakan
bahunya dan perawatan ganti
balut sebelum pulang

A : asalah sudah teratasi


sebagian

P:-

S : Pasien mengatakan
pusing
- Mengkaji TTV
O : KU cukup, kesadaran
Compos metis, infus RL 30
tpm, ekspresi menahan nyeri
dan terlihat belum rileks,
TD: 120/80 mmHg, N: 72
x/menit, S: 36˚C

A : Masalah tearatasi
sebagian

P : Hentikan intervensi
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada pasien bernama Ny. M dengan diagnosis


fraktur klavikula sinistra H1 karena jatuh dari motor dan terserempet jatuh
miring ke kiri dengan trauma pada bahu,tidak ada jejas di abdomen dan
belum pernah melakukan operasi .

B. Proses Keperawatan

Post Operasi

a. Pada post operasi dilakukan tindakan pengkajian diantaranya


pengkajian primer, sekunder dan pemeriksaan fisik.

b. Setelah pengkajian, ditemukan diagnosa nyeri akut, karena efek


general anestesi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa general anestesi
memiliki efek, dengan tindakannya meliputi :

1). Memperhatikan posisi pasien

2). Mendekatkan bed di samping pasien

3). Melindungi organ vital pasien

4). Kolaborasi dengan 2-3 perawat yang ada

5). Mengakat pasien secara bersamaan

6). Memberikan penyangga di tempat tidur pasien.


Dengan hasil evaluasi yang ditunjukan, yaitu:

1). S :

2). O :

3). A :

4). P :
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan post operasi dengan


fraktur klavikula

B. Saran

1.Pasien atau keluarga pasien yang sudah di operasi sebaiknya di beri


pendidikan kesehatan terkait perawatan post operasi.

3. Kerjasama team bedah perlu ditingkatkan guna tercapinya model praktek


keperawatan professional di ruang IBS.
DAFTAR PUSTAKA

Apley. A. Graham. 1995. Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley.Edisi 1. Jakarta :

EGC.

Brunner and Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3,

Volume 8. Jakarta : EGC.

Donges, Marilyn B, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Edisi 3. Jakarta :

EGC.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. FKUI.

Media Aesculapius.

Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang

Lamupate.

Sjamsuhidrajat, R. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edis 2. Jakarta : EGC.