Anda di halaman 1dari 23

FILSAFAT HUKUM

“ANALISIS TERHADAP PENYELESAIAN KETIDAKADILAN DITINJAU


DARI ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT HUKUM”

Disusun Oleh:
Meidho Satriawan
B2A017044
M I H (Semeseter 2)

UNIVERSITAS BENGKULU
PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS HUKUM
2018
ii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum,Wr.Wb
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala berkat

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat membuat makalah yang berjudul : “Analisis

Terhadap Penyelesaian Ketidakadilan Ditinjau Dari Aliran-aliran Filsafat Hukum ” Dan juga

penulis berterima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Juanda, S.H.,M.H. selaku dosen mata kuliah

Filsafat Hukum yang telah memberikan tugas ini kepada penulis. penulis sangat berharap

makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai

Filsafat Hukum. penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat

kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran

dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat di masa yang akan datang,

mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna.

Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang

berkenan.

Bengkulu, 09 Desember 2018

penuils

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN ..........................................................................

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 7

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................

A. Ketidakadilan Ditinjau Dari Filsafat Hukum ....................................... 8

BAB III PENUTUP ........................................................................................

B. Kesimpulan .......................................................................................... 18

Daftar Pustaka

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia bukanlah sekadar terdiri dari kerangka tubuh jasmani, didalam diri manusia

terdapat unsur-unsur lain yang nonmateriil, yaitu pikiran dan perasaan, akal dan hati, untuk

itulah, sejatinya manusia membutuhkan dua hal sekaligus, yaitu pemenuhan kebutuhan-

kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Peradaban sebagai upaya menyejahterakan

kehidupan adalah adalah bentuk lain dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia,

tetapi, dalam rangka melengkapi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rohani manusia,

peradaban harus diberi pengertian tambahan tanpa harus mengurangi dan bertentangan

dengan definisi pertama. Pada level inilah perlu disampaikan bahwa peradaban adalah usaha

manusia untuk membangun kehidupan yang bermoral, berakhlak, dan beretika. Disamping

itu moralitas juga diukur oleh humanisme. Seringkali nilai-nilai humanisme menjadi

landasan formulasi moralitas dan etika di kehidupan masyarakat. 1

Masyarakat sebagai kumpulan individu tumbuh dan berkembang sejalan dengan

kemampuan mengaktualisasikan potensi diri dan beradaptasi dengan dunianya. Kemampuan

mengaktulisasikan diri pada manusia dipicu oleh kekuatan akal sehingga dapat menghasilkan

sesuatu yang bersifat kreatif dan inovatif. Berkat kemampuan bernalarnya membuat dia

terusmenerus berusaha menciptakan kebudayaan baru yang lebih manusiawi. Demikian juga

dalam proses beradaptasi terhadap dunianya senantiasa diikuti dengan proses refleksi apakah

tata kehidupan di sekitarnya masih perlu dipertahankan atau sudah saatnya diubah. Pada saat

1
John A. Saliba, “Homo Religius” In Mircea Eliade: An Anthropological Evaluation, (Leiden;
E.J.Brill,1976),halaman 5

1
beradaptasi dan bersosialisasi manusia terus-menerus berusaha memikirkan dan

meningkatkan mutu penataan hidup bersama dengan cara merumuskan aturan hukum yang

semakin adil, rasional, kontekstual dan berdaya guna . Masyarakat Indonesia pada saat ini

sedang mengalami proses perubahan akibat dari pengaruh eksternal dalam bentuk globalisasi

serta gejolak dinamika internal berupa pencarian jati diri. Masa transisi bersifat simultan

akibat dari adanya proses transformasi sosial budaya yang berlangsung secara cepat

memunculkan persoalan yang bersifat kompleks. Masa transisi diikuti berbagai perubahan

fundamental, baik menyangkut perilaku/sikap, pola pikir bahkan cara pandang masyarakat

terhadap dunianya. Arah perubahan kadang tidak berjalan secara linier sehingga

memunculkan berbagai situasi yang bersifat paradoksal. Masyarakat di satu pihak mengalami

transformasi kultural dari budaya agraris tradisional menuju ke budaya industri maju, hal ini

berdampak terhadap sistem nilai yang menjadi pegangan hidup bersama mengalami

pergeseran pula. Paradigma berpikir masyarakat agraris tradisional yang cenderung hidup

selaras dengan alam dengan mendasarkan atas penghormatan terhadap mitos yang bersifat

religio magis; bergeser menuju masyarakat industri yang mendasarkan atas paradigma

berpikir rasionalistik, pertimbangan efisiensi dan efektivitas dalam pengambilan keputusan.

Namun, di sisi lain kejenuhan terhadap gaya hidup modernitas memunculkan gerakan yang

menginginkan kembali ke alam tradisional hidup selaras dengan alam.2

Dalam beberapa dekade terakhir fenomena pelecehan terhadap hukum semakin

marak , tindakan pengadilan seringkali tidak bijak karena tidak memberi kepuasan pada

masyarakat . hakim tidak lagi memberikan putusan adil pada setiap pengadilan yang berjalan

karena tidak melalui prosedur yang benar. Perkara diputuskan dengan undang-undang yang

2
file:///C:/Users/user/Downloads/23230-45227-1-SM%20(1).pdf.diunduh pada tanggal 09-12-2018 pukul
21.09 wib.

2
telah dipesan dengan kerjasama antara pembuat undang-undang dengan pelaku kejahatan

yang kecerdasannya mampu membelokan makna peraturan hukum dengan pendapat hakim

sehingga berkembanglah “mafia peradilan”. Produk hukum telah dikelabui oleh

pelanggarnya sehingga kewibawaan hukum jatuh. Manusia lepas dari jeratan hukum karena

hukum yang dipakai telah dikemas secara sistematik sehingga perkara tidak dapat diadili

secara tuntas bahkan justru berkepanjangan dan akhirnya lenyap tertimbun masalah baru

yang lebih aktual.

Keadilan dan kenyataan hukum dewasa ini sangat memperihatinkan karena peraturan

perundang-undangan hanya menjadi lalu lintas peraturan, tidak menyentuh persoalan

pokoknya, tetapi berkembang menjabat dengan aspirasi dan interpretasi yang tidak sampai

pada kebenaran, keadilan dan kejujuran. Fungsi hukum tidak bermakna lagi, karena adanya

kebebasan tafsiran tanpa batas yang dimotori oleh kekuatan politik yang dikemas dengan

tujuan tertentu.3 Hukum hanya menjadi sandaran politik untuk mencapai tujuan, padahal

politik sulit ditemukan arahnya. Politik berdimensi multi tujuan, bergeser sesuai dengan garis

partai yang mampu menerobos hukum dari sudut manapun asal sampai pada tujuan dan

target yang dikehendaki. Indonesia merupakan negara yang berdasarkan hukum, yang

dimana termuat dalam UUD 1945. Oleh karena itu, semua rakyat Indonesia mendapat

perlakuan yang sama di mata hukum. Berbicara mengenai hukum akan banyak ditemui

konsep dari hukum itu sendiri. Menemukan hukum sebagai konsep yang mana bergantung

pada konsep yang dipakai apakah konsep doktrinal (normatif) atau konsep hukum yang non

doktrinal (empiris). Hukum merupakan suatu aturan yang diperlukan dalam hampir setiap

aspek kehidupan. Hukum dapat digunakan untuk menertibkan masyarakat. Hukum adalah

3
http://contoh-karya-tulis.blogspot.com/2014/07/contoh-makalah-filsafat-hukum-lengkap.html.diunduh
pada tanggal 09-12-2018 pukul 21 23 wib.

3
suatu tatanan perbuatan manusia. “tatanan” adalah suatu sistem aturan. Hukum bukanlah

seperti yang terkadang dikatakan, sebuah peraturan. Hukum adalah seperangkat peraturan

yang mengandung semacam kesatuan yang kita pahami melalui sebuah sistem. Pernyataan

bahwa hukum merupakan sebuah tatanan perbuatan manusia tidak berarti bahwa hukum

hanya berkenaan dengan perbuatan manusia; bahwa tidak ada hal lain kecuali perbuatan

manusia yang masuk ke dalam isi dari peraturan-peraturan hukum. Keadilan merupakan

salah satu tujuan hukum. Tujuan hukum memang tidak hanya keadilan, tetapi juga kepastian

hukum dan kemanfaatan. Idealnya, hukum memang harus mengakomodasikan ketiganya.

Putusan hakim, misalnya sedapat mungkin merupakan resultante ketiganya. Sekalipun

demikian, tetap ada yang berpendapat, diantara ketiga tujuan hukum itu, keadilan merupakan

tujuan yang paling penting, bahkan ada yang berpendapat merupakan tujuan hukum satu-

satunya. Bismar Siregar dengan mengatakan, bila untuk menegakkan keadilan saya

korbankan kepastian hukum, akan saya korbankan hukum itu. Hukum hanya sarana,

sedangkan tujuannya adalah keadilan. Kepeloporan manusia ini menjadi jalan untuk mencari

keadilan dan kebenaran sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan mengukur apakah sesuatu

itu adil, benar, dan sah. Kondisi geografi yang tenang, keadaan sosial-ekonomi dan politik

yang damai memungkinkan orang berpikir bijak, memunculkan filsuf yang memikiran

bagaimana keadilan itu sebenarnya, akan kemana hokum diberlakukan bagi seluruh anggota

masyarakat, bagaimana ukuran objektif hokum berlaku secara universal yang berlaku untuk

menadapatkan penilaian yang tepat dan pasti . perkembangan filsafat hukum romawi tidak

seperti di yunani, karena filosof tidak hanya memikirkan bagaimana ketertiban harus berlaku

tetapi juga karena wilayah romawi sangat luas serta persoalan yang dihadapi cukup rumit.

Untuk membangun kondisi ini diperlukan pemikiran yang mendalam”apakah keadilan,

4
dimana letak keadilan serta bagaimana membangun keadilan itu? Keadilan dibentuk oleh

pemikiran yang benar, dilakukan secara adil dan jujur serta bertanggung jawab atas tindakan

yang dilakukan. Rasa keadilan dan hukum harus ditegakan beradasarkan hukum positif untuk

menegakan keadilan dalam hukum sesuai dengan realitas masyarakat yang menghendaki

tercapainya masyarakat yang aman dan damai, keadilan harus dibangun sesuai dengan cita-

cita hukum rechtidee dalam Negara hukum rechstaat bukan Negara kekuasaan machstaat.

Hukum berpungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia, penegakan hukun harus sesuai

dan memperhatikan 4 unsur.

1. Kepastian hukum (rechssichherkeit)

2. Kemanfaatan hukum (zeweckmasigkeit)

3. Keadilan hukum (gerechtigkeit)

4. Jaminan hukum (doelmatigkeit)

Penegakan hukum dan keadilan harus menggunakan jalur pemikiran yang tepat dengan

alat bukti dan barang bukti untuk merealisasikan keadilan hukum dan isi hukum harus ditentukan

oleh keyakinan etis, adil tidaknya suatu perkara. Persoalan hukum menjadi nyata jika para

perangkat hukum melaksanakan dengan baik serta memenuhi, menepati aturan yang telah

dibakukan sehingga tidak terjadi penyelewengan aturan dan hukum yang telah dilakukan secara

sistematis, artinya menggunakan kodifikasi dan unifikasi hukum demi terwujudnya kepastian

hukum dan keadilan hukum. Permasalahan filsafat hukum yang muncul dalam kehidupan Tata

Negara yang berkaitan dengan hukum dan kekuasaan bahwa hukum bersifat imperative, agar

hukum ditaati, tapi kenyataannya hukum dalam kehidupan masayarakat tidak ditaati maka

hukum perlu didukung dengan kekuasaan, seberapa dukungan kekuasaan tergantung pada tingkat

“kesadaran masyarakat” makin tinggi kesadaran hukum masyarakat makin kurang dukungan

5
kekuasaan yang diperlukan. Hukum merupakan sumber kekuasaan berupa kekuatan dan

kewibawaan dalam praktek kekuasaan bersifat negative karena kekuasaan merangsang berbuat

melampaui batas, melebihi kewenangan yang dimiliki, hukum tanpa kekuasaan adalah angan-

angan, kekuasaan tanpa hukum adalah dholim. Hukum mempunyai hubungan erat dengan nilai

sosial budaya, hukum yang baik adalah hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam

masyarakat, masyarakat berubah tak dapat dielakan dan perubahan itu sendiri dipertanyakan

nilai-nilai mana yang dipakai. Didalam perubahan pasti ada hambatan anatara lain :

1. Nilai yang akan dirubah ternyata masih relevan dengan kepribadian nasional

2. Adanya sifat heteroginitas dalam agama dan kepercayaan yang berbeda

3. Adanya sikap masyarakat yang tidak menerima perubahan dan tidak mempraktekan

perubahan yang ada

6
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan deskripsi diatas maka penulis merasa perlu meengidentifikasi masalah

sebagai objek pembahasan dan batasan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu sebagai

berikut :

1. Bagaimana Analisis Terhadap Penyelesaian Ketidakadilan Ditinjau Dari Aliran-

aliran Filsafat Hukum ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mendeskripsikan dan

menjelaskan bagaimana analisis terhadap penyelesaian ketidakadilan ditinjau dari aliran-

aliran filsafat hukum.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan ini adalah untuk menambah wawasan dan wacana ilmu

pengetahuan, khususnya dibidang penegakan hukum di Indonesia.

7
BAB II

PEMBAHASAN

A. Ketidakadilan Ditinjau Dari Aliran-aliran Filsafat Hukum

Keadilan dan ketidakadilan selalui dilakukan atas kesukarelaan. Kesukarelaan

tersebut meliputi sikap dan perbuatan. Pada saat orang melakukan tindakan secara tidak

sukarela, maka tindakan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai tidak adil ataupun adil,

kecuali dalam beberapa cara khusus. Melakukan tindakan yang dapat dikategorikan adil

harus ada ruang untuk memilih sebagai tempat pertimbangan. Sehingga dalam hubungan

antara manusia ada beberapa aspek untuk menilai tindakan tersebut yaitu, niat, tindakan, alat,

dan hasil akhirnya. Ketika kecideraan berlawanan deengan harapan rasional, adalah sebuah

kesalahan sasaran misadventure, ketika hal itu tidak bertentangan dengan harapan rasional,

tetapi tidak menyebabkan tindak kejahatan, itu adalah sebuah kesalahan. Ketika tindakan

dengan pengetahuan tetapi tanpa pertimbangan, adalah tindakan ketidakadilan, dan seseorang

yang bertindak atas dasar pilihan, dia adalah orang yang tidak adil dan orang yang jahat.

Melakukan tindakan yang tidak adil adalah tidak sama dengan melakukan sesuatu dengan

cara yang tidak adil. Tidak mungkin diperlakukan secara tidak adil apabila orang lain tidak

melakukan sesuatu secara tidak adil. Mungkin seseorang rela menderita karena ketidakadilan,

tetapi tidak ada seorangpun yang berharap diperlakukan secara tidak adil. Dengan demikian

memiliki makna yang cukup luas, sebagian merupakan keadilan yang telah ditentukan oleh

alam, sebagian merupakan hasil ketetapan manusia (keadilan hukum).4 Keadilan alam

berlaku universal, sedangkan keadilan yang ditetapkan manusia tisak sama di setiap tempat.

4
https://alisafaat.wordpress.com/2008/04/10/pemikiran-keadilan-plato-aristoteles-dan-john-
rawls/.diunduh pada tanggal 10-12-2018 pukul 23.01 wib.

8
Keadilan yang ditetapkan oleh manusia inilah yang disebut dengan nilai. Akibat adanya

ketidak samaan ini maka ada perbedaan kelas antara keadilan universal dan keadilan hukum

yang memungkinkan pembenaran keadilan hukum. Bisa jadi semua hukum adalah universal,

tetapi dalam waktu tertentu tidak mungkin untuk membuat suatu pernyataan universal yang

harus benar. Adalah sangat penting untuk berbicara secara universal, tetapi tidak mungkin

melakukan sesuatu selalu benar karena hukum dalam kasus-kasus tertentu tidak terhindarkan

dari kekeliruan. Saat suatu hukum memuat hal yang universal, namun kemudian suatu kasus

muncul dan tidak tercantum dalam hukum tersebut. Karena itulah persamaan dan keadilan

alam memperbaiki kesalahan tersebut

Secara terminology filsafat adalah suka pada kebijaksanaan atau teman

kebijaksanaan, yang asal katanya dari bahasa Arab filsafah yang berasal dari bahasa Yunani

philosophia. Philos berarti suka atau cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan. Sedangkan arti

secara praktisnya filsafat berarti alam berfikir jadi berfilsafat ialah berfikir secara mendalam

dan dengan sungguh-sungguh. Dalam filsafat, ada cabang filsafat yang membahas mendalam

mengenai makna, yakni hermeneutika. Pengertian hermeneutika secara etimologis adalah

menafsirkan, ini merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hermeneuein. Jadi,

kata bendanya adalah hermeneia yang secara harfiah artinya penafsiran atau interpretasi.

Sedangkan dalam batasan umum, hermeneutika adalah suatu proses mengubah sesuatu atau

situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.5

Hermeneutika mempunyai dasar lingkaran berupa kesatuan titik-titik acu (roh) yang

menyebabkan sesuatu menjadi bermakna. Disini, hermeneutika bertugas (meminjam istilah

Ast) yang dirumuskan dalam tiga bentuk pemahaman, yaitu pemahaman materi yang

5
Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam lintasan sejarah, cet VIII, Yogyakarta: kanisius, 1995.

9
diperbincangkan di dalam keadilan hukum, pemahaman bahasa keadilan hukum, dan

pemahaman roh keadilan hukum, yaitu berupa pemahaman roh zaman dan pandangan

semesta dari para pembuat dan pelaksana hukum yang saling berinteraksi serta saling

menerangi satu sama lain. Dengan demikian filsafat hermeneutik, merupakan filsafat yang

menelusuri tentang suatu makna dengan menggunakan metode penafsiran apa yang ada di

dalam suatu kata atau teks itu, yaitu menyingkap tabir di dalamnya. Misalnya penelusuran

makna keadilan dalam konteks ke Indonesiaan, apabila menggunakan filsafat hermeneutik,

tentu akan menyingkap baik dari segi linguistiknya maupun kontekstualitasnya.

Salah satu pemikiran filsafat hermeneutik yang sering menjadi rujukan dalam bidang

penegakan hukum adalah pemikiran dari Francis Lieber. Lieber menafsirkan hermeneutik

secara umum, yaitu menganggap cabang ilmu pengetahuan ini membahas prinsip-prinsip dan

aturan interpretasi dan konstruksi. Menurutnya secara etimologis pengertian hermeneutik

yang berarti menjalankan interpretasi ini berbeda dengan eksegesis yang berarti penjelasan.

Jadi hermeneutika dibandingkan eksegesis ibarat teori dibandingkan dengan praktik, karena

penafsiran pada umumnya meliputi segala cabang (ilmu pengetahuan) dimana kita terhubung

secara cermat dengan makna kata-kata dan mengatur tindakan sesuai dengan semangat dan

kandungannya yang sebenarnya.

Dengan mempelajari filsafat ilmu, akan diketahui hakekat ilmu pengetahuan dan

hakekat pengetahuan, kita tidak akan terbenam dalam suatu ilmu yang spesifik sehingga

semakin menyempit dan eksklusif.6 Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan

membuka perspektif wawasan yang luas, sehingga kita dapat menghargai dan berkomunikasi

dengan ilmu lainnya. Dengan demikian kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan

6
Liang Gie, The., 1982, Teori-teori Tentang Keadilan, Super Sukses, Yogyakarta.

10
secara interdisipliner. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman empiris dan akal ratio.

Sehingga timbul paham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. rasionalisme

menyusun teorinya berdasarkan ratio. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah

induksi, sedangkan rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant merupakan

tokoh yang mensintesakan paham empirisme dan rasionalisme.

Pada dasarnya manusia menghendaki keadilan, manusia memiliki tanggung jawab

besar terhadap hidupnya, karena hati nurani manusia berfungsi sebagai index, ludex, dan

vindex. Proses reformasi menunjukkan bahwa hukum harus ditegakkan demi terwujudnya

supremasi hukum dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan sesuai dengan tujuan

hukum: Ketertiban, keamanan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, kebenaran dan

keadilan. Pemikiran filosofis keadilan yang berkaitan dengan filsafat hukum berkaitan erat

dengan pemikiran John Rawis mengungkapkan 3 faktor utama yaitu Perimbangan tentang

keadilan Gerechtigkeit, Kepastian hukum Rechtessisherkeit, serta Kemanfaatan hukum

Zweckinassigkeit. Keadilan berkaitan erat dengan pendistribusian hak dan kewajiban, hak

yang bersifat mendasar sebagai anugerah Ilahi sesuai dengan hak asasinya yaitu hak yang

dimiliki seseorang sejak lahir dan tidak dapat diganggu gugat. Keadilan merupakan salah

satu tujuan sepanjang perjalanan sejarah filsafat hukum. Keadilan adalah kehendak yang

ajeg, tetap untuk memberikan kepada siapapun sesuai dengan pertumbuhan dan

perkembangan masyarakat dan tuntutan jaman. 7

Korelasi antara filsafat, hukum dan keadilan sangat erat, karena terjadi tali temali

antara kearifan, norma dan keseimbangan hak dan kewajiban. Hukum tidak dapat dipisahkan

7
Soejadi , R., 1989, Arti Keadilan Menurut Pandangan Para Filsuf Klasik, Fakultas Filsafat
UGM,Yogyakarta.

11
dengan masyarakat dan negara, materi hukum digali, dibuat dari nilai-nilai yang terkandung

dalam bumi pertiwi yang berupa kesadaran dan cita hukum rechtidee, cita moral,

kemerdekaan individu dan bangsa, perikemanusiaan, perdamaian, cita politik dan tujuan

negara. Hukum mencerminkan nilai hidup yang ada dalam masyarakat yang mempunyai

kekuatan berlaku secara yuridis, sosiologis dan filosofis. Hukum yang hidup pada

masyarakat bersumber pada Hukum Positif, yaitu Undang-undang Constitutional, Hukum

kebiasaan Costumary of law, Perjanjian Internasional International treaty, Keputusan hakim

Jurisprudence, Doktrin Doctrine, Perjanjian Treaty, dan Kesadaran hukum Consciousness of

law

Tata rakit antara filsafat, hukum dan keadilan, dengan filsafat sebagai induk ilmu

mother of science, adalah untuk mencari jalan keluar dari belenggu kehidupan secara rational

dengan menggunakan hukum yang berlaku untuk mencapai keadilan dalam hidupnya.

Peranan filsafat tak pernah selesai, tidak pernah berakhir karena filsafat tidak menyelidiki

satu segi tetapi tidak terbatas objeknya, namun filsafat tetap setia kepada metodenya sendiri

dengan menyatakan semua di dunia ini tidak ada yang abadi yang tetap hanya perubahan,

jadi benar filsafat ilmu tanpa batas. Filsafat memiliki objek, metode, dan sistematika yang

bersifat universal.8 Filsafat memiliki cabang umum dan khusus serta beberapa aliran di

dalamnya, terkait deagan persoalan hukum yang selalu mencari keadilan, hukum dan

keadilan tidak semata-mata ditentukan oleh manusia tetapi alam dan Tuhan ikut menentukan.

Alam akan memberikan hukum dan keadilan lebih karena alam mempunyai sifat keselarasan,

keseimbangan, keajegan dan keharmonisan terhadap segalanya, alam lebih bijaksana dari

segalanya. Manusia terlibat dalam alam semesta sehingga manusia tunduk dan taat pada

8
Notohamidjojo, O., 1971, Masalah Keadilan, Tirta Amerta, Semarang.

12
alam semesta walaupun hukum alam dapat disimpangi oleh akal manusia tetapi tidak

semuanya, hanya hal-hal yang khusus terjadi. Kebenaran hukum sangat diharapkan untuk

mendukung tegaknya keadilan. Kebenaran pragmatis, koresponden, konsistensi maupun

kebenaran hermeneutik yang dapat menjaga terbentuknya keadilan dalam hidup manusia.

Manusia dan hukum terlibat dalam pikiran dan tindakannya, karena hati nurani manusia

berfungsi sebagal index, ludex dan vindex pada setiap persoalan yang dihadapi manusia.

Filsafat hukum memfokuskan pada segi filosofisnya hukum yang berorientasi pada masalah-

masalah fungsi dan filsafat hukum itu sendiri yaitu melakukan penertiban hukum,

penyelesaian pertikaian, pertahankan dan memelihara tata tertib, mengadakan perubahan,

pengaturan tata tertib demi terwujudnya rasa keadilan berdasarkan kaidah hukum abstrak dan

konkrit. Pemikiran filsafat hukum berdampak positif sebab melakukan analisis yang tidak

dangkal tetapi mendalam dari setiap persoalan hukum yang timbul dalam masyarakat atau

perkembangan ilmu hukum itu sendiri secara teoritis, cakrawalanya berkembang luas dan

komprehensive. Pemanfaatan penggabungan ilmu hukum dengan filsafat hukum adalah

politik hukum, sebab politik hukum lebih praktis, fungsional dengan cara menguraikan

pemikiran teleologis konstruktif yang dilakukan di dalam hubungannya dengan pembentukan

hukum dan penemuan hukum yang merupakan kaidah abstrak yang berlaku umum,

sedangkan penemuan hukum merupakan penentuan kaidah konkrit yang berlaku secara

khusus. Di dalam memahami adanya hubungan ilmu hukum dengan Hukum Positif,

menyangkut hukum normatif diperlukan telaah terhadap unsur-unsur hukum. Unsur hukum

mencakup unsur ideal dan rational. Unsur ideal mencakup hasrat susila dan ratio manusia

yang menghasilkan asas-asas hukum, unsur riil mencakup kebudayaan, lingkungan alam

yang menghasilkan tata hukum.9 Unsur ideal menghasilkan kaidah-kaidah hukum melalui
9
__________., 2003, Refleksi Mengenai Hukum dan Keadilan, Aktualisasinya di Indonesia, Pidato

13
filsafat hukum. Unsur riil menghasilkan tata hukum yang dalam hal ini dipengaruhi asas-asas

hukum yang bertitik tolak dari bidang-bidang tata hukum tertentu dengan cara mengadakan

identifikasi kaidah-kaidah hukum yang telah dirumuskan di dalam perundang undangan

tertentu Kaedah hukum merupakan ketentuan, pedoman, perumusan pendapat, berisi

kenyataan normatif bersifat memerintah, mengharuskan untuk ditaati agar tidak terjadi

pelanggaran sehingga manusia terbebaskan dan sanksi.

Keadilan harus terwujud di semua lini kehidupan, dan setiap produk manusia haruslah

mengandung nilai-nilai keadilan, karena sejatinya perilaku dan produk yang tidak adil akan

melahirkan ketidakseimbangan, ketidakserasian yang berakibat kerusakan, baik pada diri

manusia sendiri maupun alam semesta. Walaupun keadilan merupakan hal yang esensial bagi

kehidupan manusia, namun kadang kala keadilan hanya menjadi bahan perdebatan tiada

akhir; apa itu keadilan, bagaimana wujud keadilan, di mana itu keadilan dan kapan seseorang

memperoleh keadilan, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang rumit mengenai

keadilan, sehingga keadilan muncul hanya sebagai wacana perdebatan, diskusi-diskusi kaum

intelektual. Keadilan harus diwujudkan, agar mampu memaknai supremasi hukum,

menghilangkan imparsialitas hukum dan tetap pada entitas keadilan. Hukum mungkin telah

mati jika roh hukum, yaitu keadilan hanya telah menjadi sebuah angan-angan, dan dalam

keadaan seperti itu hukum tidak lagi kondusif bagi pencari keadilan justitiabelen. Masyarakat

Pengukuhan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

14
sebagai konsumen hukum tidak lagi dapat menikmati cita rasa keadilan sehingga masyarakat

hanya mendapatkan ketidakadilan.10

Hukum bukan lagi tempat yang kondusif untuk menciptakan keharmonisan dan

keserasian sosial, bahkan hukum telah menjelma menjadi neo-imperium (penjajah baru) di

mana keadilan telah tereliminasi dan hukum menjadi sesuatu yang anarki. Oleh karena

hukum dan keadilan telah terpisahkan, maka keadilan dianggap sebagai pihak oposisi dan

hukum. Ketika masyarakat menuntut keadilan, hukum begitu reaktif dengan melakukan

rasionalisasi prosedural hukum, kualitas kepastian dan alasan-alasan lainnya. Masyarakat

begitu apatis terhadap hukum karena hukum telah kehilangan kepercayaan loosing

trust. Masyarakat lebih memilih jalan sendiri untuk menyelesaikan konflik yang mengganggu

kepentingan sosial.

Hukum dan keadilan sebenarnya adalah dua elemen yang saling bertaut yang

merupakan conditio sine qua non bagi yang lainnya. Supremasi hukum yang selama ini

diidentikkan dengan kepastian hukum sehingga mengkultuskan undang-undang, menjadi titik

awal timbulnya masalah penegakan hukum. Pemikiran ini sebenarnya tidak salah, namun

bukan berarti absolut benar adanya. Undang-undang memàng harus ditempatkan sebagai

sesuatu yang harus dilaksanakan karena merupakan manifestasi konsensus sosial (walaupun

dalam banyak hal undang-undang tidak lebih dan sebuah manipulasi hukum). Namun kita

tidak boleh menutup mata dan telinga bahwa konsensus tersebut adalah sebuah momentum

sesaat yang tidak mampu mengikuti arah gerak keadilan yang terus bergerak mengikuti

waktu dan ruang. Konsensus tersebut sifatnya hanya sementara dan bukan permanen, sebab

10
Soejadi , R., 1989, Arti Keadilan Menurut Pandangan Para Filsuf Klasik, Fakultas Filsafat
UGM,Yogyakarta

15
rasa keadilan akan bergerak cepat mengimbangi suksesi ritme dan ruang. Rasa keadilan

terkadang hidup di luar undang-undang, yang jelas undang-undang akan sangat sulit untuk

mengimbanginya. Begitu pula sebaliknya undang-undang itu sendiri dirasakan tidak

adil. Ketika rasa keadilan ini benar-benar eksis dan dirasakan oleh mayoritas kolektif, maka

kepastian hukum akan bergerak menuju rasa keadilan itu sendiri, Kepastian hukum adalah

rasa keadilan itu sendiri sebab keadilan dan hukum bukanlah dua elemen yang terpisah.

Hukum adalah manifestasi eksternal keadilan dan keadilan adalah internal autentik

dan esensi roh wujud hukum. Sehingga supremasi hukum supremacy of law adalah

supremasi keadilan supremacy of justice begitu pula sebaliknya, keduanya adalah hal yang

komutatif.

Hukum tidak berada dalam dimensi kemutlakan undang-undang, namun hukum

berada dalam dimensi kemutlakan keadilan. Hukum tidak akan mampu bertahan hidup

apabila roh keadilan telah hilang. Akibat distorsi pemikiran hukum dengan hilangnya

integritas hukum menyebabkan hukum terasa belum mampu menjadi sarana produksi

keadilan. Komponen aparat hukum seperti produsen peraturan perundang-undangan ataupun

penegak hukum belum mampu menjadi produsen keadilan justice producer, hal ini

disebabkan produsen peraturan perundang-undangan tidak mampu menempatkan keadilan

sebagai roh perundang-undangan, maupun penegak hukum sendiri tidak memiliki integritas

moral yang tinggi.

Masyarakat sering bertanya ke mana keadilan tersebut, dan yang selalu dijawab oleh

pemerintah/aparatur hukum dengan argumentasi-argumentasi prosedural hukum. Sebenarnya

aparatur hukum tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah ekspresi ketidaktahuan

16
hukum ignorantia juris, di mana hukum telah mensubversi keadilan. Realita keadilan inilah

yang membuat makna keadilan menjadi hilang dalam perjalanan hukum bangsa in Pada

lapisan horizontal, anarkisme sosial menjadi potret keseharian hukum. Kekecewaan pada

potret penegakan hukum pada lapisan elite yang sangat berbeda perlakuannya unequal

treatment, eksklusivisme bagi elite yang melanggar hukum menjadi stimulan kekecewaan

masyarakat.Keadilan pada bangsa ini telah menjadi sesuatu yang langka, negara belum

mampu memberi jaminan lahirnya peraturan perundang-undangan yang memiliki roh

keadilan,serta tegaknya hukum yang bersandar pada keadilan. Makna keadilan seolah-olah

tereliminasi oleh penegakan hukum, karena konsep hukum yang adil demokratis belum

menjadi sebuah realita yang dapat memberikan suatu jaminan bahwa hukum mampu

memberi solusi yang adil bagi masyarakat.

Keadilan dalam cita hukum yang merupakan pergulatan kemanusiaan berevolusi

mengikuti ritme zaman dan ruang, dan dahulu sampai sekarang tanpa henti dan akan terus

ber-. lanjut sampai manusia tidak beraktivitas lagi. Manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan

yang terdiri atas roh dan jasad memiliki daya rasa dan daya pikir yang dua-duanya

merupakan daya rohani, di mana rasa dapat berfungsi untuk mengendalikan keputusan-

keputusan akal agar berjalan di atas nilai-nilai moral seperti kebaikan dan keburukan, karena

yang dapat menentukan baik dan buruk adalah rasa.11

Manusia dalam semua perbuatannya akan selalu mengejar sesuatu yang baik, sesuatu

yang dikejar atau dituju oleh kehidupan manusia. Perbuatan manusia merupakan ekspresi dan

bisikan-bisikan kalbu. Seluruh sifat yang muncul dan hati akan terekspresikan anggota tubuh,

sehingga hati adalah pemegang kendali dan anggota tubuh tunduk kepadanya, Sehingga tidak

11
) Abdulkadir Besar, 1986, Pancasila : Filsafat, Idiologi, Metoda Berftkir dan llmu, Jakarta, Meimo, hal. 10

17
ada perbuatan yang dilakukan anggota tubuh kecuali atas tanda-tanda dan hati. Jika hati suci,

maka perbuatan akan baik. Perbuatan manusia akan bernilai jika perbuatan tersebut baik dan

bermanfaat yang lahir dan bisikan hati yang suci, sehingga dengan demikian

nilai value merupakan suatu prinsip etik yang bermutu tinggi dengan pedoman bahwa

keberadaan manusia itu harus memerhatikan kewajibannya untuk bertanggung jawab

terhadap sesamanya.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Etika penegakan hukum yang berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan

kesadaran bahwa tertib sosial, ketenangan dan keteraturan hidup bersama hanya dapat

diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan semua peraturan yang berlaku. Etika ini

meniscayakan penegakan hukum secara adil, perlakuan yang sama dan tidak diskriminatif

terhadap setiap warganegara di hadapan hukum, bagi bangsa indonesia nilai, norma dan etika

yang dipergunakan sebagai pegangan dalam bersikap dan tingkah laku adalah konsep, prinsip

dan nilai yang terkandung dalam pancasila. Keadilan merupakan suatu prasyarat untuk

tersenggalaranya citanegara persatuan dan menegakkan sitem pemerintahan yang demokratis

yang terwujud dalam bentuk musyawarah untuk mencapai mufakat.

19
DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdulkadir Besar, 1986, Pancasila : Filsafat, Idiologi, Metoda Berftkir dan llmu, Jakarta, Meimo,

Liang Gie, The., 1982, Teori-teori Tentang Keadilan, Super Sukses, Yogyakarta.

Notohamidjojo, O., 1971, Masalah Keadilan, Tirta Amerta, Semarang.

ohn A. Saliba, “Homo Religius” In Mircea Eliade: An Anthropological Evaluation, (Leiden; E.J.Brill,1976)

Soejadi , R., 1989, Arti Keadilan Menurut Pandangan Para Filsuf Klasik, Fakultas Filsafat UGM,Yogyakarta

Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam lintasan sejarah, cet VIII, Yogyakarta: kanisius, 1995.

__________., 2003, Refleksi Mengenai Hukum dan Keadilan, Aktualisasinya di Indonesia, Pidato
Pengukuhan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

Internet
https://alisafaat.wordpress.com/2008/04/10/pemikiran-keadilan-plato-aristoteles-dan-john-
rawls/.diunduh pada tanggal 10-12-2018 pukul 23.01 wib.

http://contoh-karya-tulis.blogspot.com/2014/07/contoh-makalah-filsafat-hukum-lengkap.html.diunduh
pada tanggal 09-12-2018 pukul 21 23 wib.

file:///C:/Users/user/Downloads/23230-45227-1-SM%20(1).pdf.diunduh pada tanggal 09-12-2018 pukul


21.09 wib.

20