Anda di halaman 1dari 46

KRITERIA RUNTUH BATUAN - 5

Suseno Kramadibrata
Made Astawa Rai
Ridho K Wattimena
Laboratorium Geomeknika
FIKTM - ITB
Kriteria Runtuh

 Ekspresi utama dari kriteria failure adalah memperkirakan


kekuatan batuan
 Kriteria failure batuan ditentukan berdasarkan hasil percobaan
 Kriteria failure batuan ditentukan secara teoritik dan empirik

Asumsi Kriteria Runtuh Batuan

 Ekspresi dari kriteria ini mengandung satu atau lebih parameter sifat
mekanik dari batuan dan menjadi sederhana jika dihitung dalam 2
dimensi dengan asumsi regangan bidang (plane strain) atau
tegangan bidang (plane stress).
 Pada regangan bidang, jika dipunyai 1 > 2 > 3, maka intermediate
principal stress 2 merupakan fungsi dari dua tegangan utama
lainnya atau kriteria failure hanya berfungsi pada dua tegangan
utama tersebut ( 1 dan 3).
 Pada tegangan bidang, dua tegangan prinsipal (principal stresses)
saja yang berpengaruh karena satu tegangan utama sama dengan
nol.

Ruang Tegangan
Uji kuat tekan unconfined
 1= C 1

M
 2= 3= 0
 Titik C
C
Uji kuat tarik
 1= 2= 0
 3= - t

 Titik T T O 3

Uji triaksial
 1> 2= 3

 Kurva CM 2= 3

2
Teori Mohr-1

Asumsi
 Untuk suatu keadaan tegangan 1 > 2 > 3, → intermediate stress tidak
mempengaruhi failure batuan
 t# c

 Hipotesa: N & yang bekerja pada permukaan rupture memainkan


peranan pada proses failure batuan.
 Untuk beberapa bidang rupture di mana N sama besarnya, maka
bidang yang paling lemah adalah bidang yang mempunyai paling
besar sehingga kriteria Mohr dapat ditulis sebagai berikut: ll = f( )
 Pada umumnya Mohr Envelope sedikit kurva kebawah
 Pada kondisi limit envelope bisa mulai membentuk garis lurus
(Coulomb) atau parabola (Griffith)
Kriteria Mohr – 2
l l = f( )
Mohr-Coulomb
A - Mohr

D
O
t 31 32 33 2 12 13

c=
11
Kriteria Coulomb 1773-1
 Menjelaskan kondisi runtuhan geser batuan dalam bentuk garis lurus & N

 l l = C + tan ( )
 =½( ½ ( Cos 2
 = -½ ( Cos 2
 = sudut antara & major principal stress
 can be defined at failure by requiring that the difference l l - tan ( ) reach its max value
 C=( Sin 2 Cos 2 tan ) - ( dideferensial ke utk max C

1 2Ctan 3

1 Co  q 3

Co 2Ctan
q tan 2 tan2
Kriteria Coulomb 1773-2
 Menurut Jaeger & Cook (1979/96), intercept of the criterion (*) on the 3 axis
does not represent t of the rock. In fact implicit assumption of l l = C + tan ( ),
that be (+) requires that o

 For 3 < 0 → limiting value L of 1

 L =Co[1-CoTo/4C2]
 1 > L 1 < L → 3 = To

C Co
B

A O 3 1 D O 3
>C /2, hence only ABD represents the criterion
Kriteria Griffith
 Kriteria Griffith & pengembangannya berkaitan dengan tegangan-tegangan yg
bekerja saat rekahan mikro mulai beropropagasi & berperilaku brittle murni,
tapi tidak harus selalu berhubungan dgn keruntuhan material dalam skala
besar.
 Runtuhan terjadi pada ujung rekahan mikro ketika mencapai tmax
 Jika 1 & 3 tegangan prinsipal & t adalah tensile strength, maka
 ( 1 - 3)2 = 8 t ( 1 + 3) untuk ( 1 + 3 3) > 0
 3= -t untuk ( 1 + 3 3) < 0
 Kriteria Griffith dijelaskan oleh kurva parabolik CDE & yg bergabung dengan
garis lurus CBA, & titik C berada pada;
 3= - t& 1= 3 t sedangkan titik awal A dari garis lurus adalah;
 3= - t& 1= - t
 UCS diperoleh untuk 3 = 0& 1 = 8 t
 Murrel (1966) menunjukkan bahwa jika kuat tekan adalah 8 kali kuat tarik,
kriteria Griffith dapat dimodifikasi sebagai berikut
- 2
 ( 1 3 )2 - 8 t ( 1 + 3) = 16 t
Kriteria Griffith

E C

O 3 t D
1 B
t Garis lurus
Kurva parabolik
A B C
3
Dasar Kriteria Griffith
 Kekuatan material dihitung berdasarkan kekuatan molekul-molekul
yang terdapat di dalamnya
 Nilai kekuatan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan kekuatan yg
diperoleh dari eksperimen
 Teori Griffith menganggap bahwa di dalam material terdapat crack
(fissure) mikroskopik dimana pada saat dikenakan suatu kondisi
tegangan terjadi konsentrasi tegangan tarik sangat tinggi pada ujung
crack tsb.

Kekuatan mata rantai


Kekuatan rantai

 Menurut Teori Griffith, adanya konsentrasi stress pada crack tip akan
mengurangi kekuatan molekul. Crack tsb akan bertambah besar
sehingga terjadi rupture makroskopik
 Rupture stress yaitu stress rata-rata yg terdapat di dalam material
lebih kecil daripada stress yg terdapat pada crack tips
 Teori terjadinya rupture dimulai dari crack yg sudah ada oleh Griffith
didasarkan pada energi deformasi yg diperlukan utk memperbesar
sebuah crack pada seksi transversal ellips yg terdapat di dalam
sebuah solid elastik yg mengalami stress tarik ( t)
 Stress maksimum pada ujung sumbu terbesar ellips adalah;
 max = o {1+2(C/ )0.5}
 C = setengah sumbu terbesar
= jari-jari lengkung ujung sumbu terbesar

Kriteria Mohr Coulomb


 Untuk mempermudah perhitungan di dalam mekanika batuan maka
envelope Mohr dianggap sebagai garis lurus. Oleh karena itu
didefinisikan kriteria Mohr-Coulomb sebagai berikut
 =C+
 = tegangan geser
= tegangan normal
 C = kohesi
 = koefisien geser dalam dari batuan = tan
 Misalkan 1 dan 3 adalah tegangan-tegangan utama ekstrim, maka
kriteria Mohr-Coulomb dapat ditulis :
 1 { (1+ 2)½ - }- 3 {(1+
2 ½
) +}=2C
 Dapat disimpulkan bahwa batuan dapat mengalami rupture pada dua
bidang dengan kondisi tegangan yang berbeda
Kriteria Mohr Coulomb
Persamaan tsb dapat disederhanakan menjadi fungsi c & t
}=2C)
+}=2C

digambarkan garis EF, tp karena maka


kriteria digambarkan garis KF.
dimana terjadi failure terletak pada
sudut BKF & sudut AKF utk kondisi dimana tdk
terjadi failure
 Teori ini menduga bahwa c > t & utk = 1 artinya = 45o, maka c = 5.8 t

B
semakin brittle
Kriteria Mohr Coulomb

xy
C y
x 1
O 3
m

 =C+ m =½( 1 + 3)

 R = {( 1 - 3)/2} = [{( y - x)/2}


2 + 2 ]0.5
xy

 R = C Cos + m Sin = C Cos + ½ ( 1 + 3) Sin


 R radius Mohr Circle = shear stress
Kriteria Mohr Coulomb – C = 0

A B 2
O M 1
3 N
Kriteria Mohr Coulomb – =0
N

C
A =45o 2

O 3
M 1

Kriteria Mohr – 2
Kriteria Tegangan Tarik Maksimum

 Kriteria ini menganggap bahwa batuan mengalami failure oleh


fracture fragile (brittle) yang diakibatkan oleh tarikan (tension) jika
padanya dikenakan tegangan utama - 3 yang besarnya sama
dengan kuat tarik uniaxial (st) dari batuan tersebut.
 3 =- t

Kriteria Tegangan Geser Maksimum

 Kriteria failure dari Tresca berlaku untuk batuan isotrop dan ductile.
Kriteria ini merupakan fungsi dari tegangan utama 1 & 3
 Menurut kriteria ini, batuan mengalami failure jika tegangan geser
maksimum max sama dengan kuat geser batuan S.

 S = max = ( 1 - 3 )/2

 1= tegangan prinsipal mayor = tegangan prinsipal minor


3
 Intermmediate principal stress 2 tidak berperan di dalam
kriteria ini.
 Kriteria Tresca adalah hal khusus dari Kriteria Mohr-Coulomb
Kriteria Runtuh Empirik

Terminologi
 Kriteria empirik adalah suatu persamaan yg cocok, secara statistik,
terhadap suatu kumpulan data yg diperoleh dari hasil
eksperimentasi
 Persamaan ini memberikan prediksi yg cukup akurat suatu batuan
& dapat digunakan utk kepentingan praktis
 Hal yg sangat penting diperhatikan adalah jangan melakukan
ekstrapolasi diluar rentang data yang tersedia
Franklin (1971) Persamaan Kriteria
Runtuh Empirik
12 Kriteria Empirik Runtuhan Batuan

 Murrel (1963)
 Fairhurst (1964)
 Hobbs (1966)
 Hoek (1968)
 Franklin (1971)
 Bieniawski (1974)
 Yoshina & Yamabe (1980)
 Hoek & Brown (1980)
 Kim & Lade (1984)
 Johnston (1985)
 Desai & Salami (1987)
 Michelis (1987)
A brief history of the development of
the Hoek-Brown failure criterion
Prepared by Evert Hoek 10 June 2002

 1980 Hoek E. & Brown E.T. 1980. Underground Excavations in Rock . London: Institution of
Mining & Metallurgy 527 pages
 Hoek, E. & Brown, E.T. 1980. Empirical strength criterion for rock masses. J. Geotech. Engng
Div., ASCE 106(GT9), 1013-1035.
 1983 Hoek, E. 1983. Strength of jointed rock masses, 23rd. Rankine Lecture. Géotechnique
33(3), 187-223.
 1988 Hoek E & Brown E.T. 1988. The Hoek-Brown failure criterion - a 1988 update. Proc.
15th Canadian Rock Mech. Symp. (ed. J.H. Curran), pp. 31-38. Toronto: Civil Engineering
Dept., University of Toronto
 1990 Hoek, E. 1990. Estimating Mohr-Coulomb friction & cohesion values from the
HoekBrown failure criterion. Intnl. J. Rock Mech. & Mining Sci. & Geomechanics Abstracts.
12(3), 227-229.
 1992 Hoek, E., Wood, D. & Shah, S. 1992. A modified Hoek-Brown criterion for jointed rock
masses. Proc. rock characterization, symp. Int. Soc. Rock Mech.: Eurock ‘92, (J.Hudson ed.).
209-213.

A brief history of the development of


the Hoek-Brown failure criterion
Prepared by Evert Hoek 10 June 2002

 1994 Hoek, E. 1994. Strength of rock and rock masses, ISRM News Journal, 2(2), 4-16.
 1995 Hoek, E., Kaiser, P.K. & Bawden. W.F. 1995. Support of underground excavations in
hard rock. Rotterdam: Balkema
 1997 Hoek, E. & Brown, E.T. 1997. Practical estimates of rock mass strength. Intnl. J. Rock
Mech. & Mining Sci. & Geomechanics Abstracts. 34(8), 1165-1186.
 1998 Hoek, E., Marinos, P. & Benissi, M. (1998) Applicability of the Geological Strength Index
(GSI) classification for very weak and sheared rock masses. The case of the Athens Schist
Formation. Bull. Engg. Geol. Env. 57(2), 151-160.
 2000 Hoek, E. & Marinos, P. (2000) Predicting Tunnel Squeezing. Tunnels & Tunnelling
International. Part 1 - November Issue 2000,. 45-51, Part 2 - December, 2000, 34-36.
 2000 Marinos, P.G. & Hoek, E. (2000): "GSI: A geological friendly tool for rock mass strength
estimation", Proceedings of the International Conference on Geotechnical & Geological
Engineering (GeoEng 2000), Technomic Publishing Co. Inc., p.p. 1422-1440, Melbourne,
Australia.
 2001 Marinos. P, & Hoek, E. (2001) - Estimating the geotechnical properties of heterogeneous
rock masses such as flysch, Bull. Engg. Geol. Env. 60, 85-92.
 2002 Hoek, E., Carranza-Torres, C.T., & Corkum, B. (2002), Hoek-Brown failure criterion –
2002 ed. Proc. North American Rock Mechanics Society meeting in Toronto in July 2002.

Kriteria Empirik Bieniawski (1974)

1 3 1 3

2 2 c
c 0.1 B

 Eksponen a menyatakan kurva dari muka kekuatan dan diasumsikan


nilainya 0.85 – 0.93
 Konstanta B mengontrol posisi selubung dan nilainya antara 0.7 –
0.8 utk sebgian besar tipe batuan

Kriteria Runtuh Mohr-Coulomb,


Bieniawski & Hoek & Brown Untuk
Batupasir
Failure Criteria Oven dried Saturated

Mohr-Coulomb = n tan 47o+9.90 = ntan23o+16.72

Bieniawski I 1n=4.9 3n 0.98 +1 1n=1.52 3n0.25 +1

Bieniawski II =0.92 0.99+0.1 mn


=0.750.44+0.1 mn
mn mn

= +(15.75 = +(8.03
Hoek & Brown 3n 3n
+1)0.5 1n 3n +1)0.5 1n 3n
Kriteria Empirik Hoek & Brown (1980)

1 3 1
m s
c c c

 Nilai m & s adalah parameter tanpa dimensi & tergantung dari derajat
persekutuan diantara blok-blok dalam massa batuan terkekarkan
 Nilai m mengontrol kurva 1 terhadap kurva 3 & s adalah konstanta
material yg mengontrol lokasi kurva dalam ruan tegangan
 Nilai m & s sudah dikorelasikan dan dapat diprediksi dari nilai indeks
kualitas massa batuan Q dan RMR
Kriteria Empirik Yudhbir dkk (1983)
a
1 3
A B
c c

 Yudhbir dkk menguji 122 spesimen batu gamping, batu pasir, granit &
material model dari campuran gipsum & resin poliester, keduanya
dalam bentuk padatan dan mengandung rekahan
 Nilai a antara 0.65 – 0.75 dan nilai A dan B merupakan fungsi dari tipe
batuan
Kriteria Empirik Kim & Lade (1984)

m
I1 I33n1
27
Pa
I3

 I1 = x + y + z I3 = x y z

 Pa adalah tekanan atmosfir yg diekspresikan dengan satuan yg sama


dengan tegangan yg terjadi
 n1 dan m adalah dua parameter yg diperoleh dari analisa regresi
 Untuk memasukkan efek tarikan dan kohesi pada batuan, satu
parameter translasi sumbu a diperkenalkan dan a konstanta Pa
diaplikasikan ke tegangan x y dan z

Kriteria Empirik Johnston (1985)


B
1 M 3
s
c B c

 Kriteria Johnston menggambarkan perilaku material kasar yg berkisar


mulai dari lempung hingga batuan keras
 Material intacts s = 1 seperti pada Hoek & Brown
 Parameter B menggambarkan ketidak-linieran selubung kekuatan &
penurunannya dari 1.0 utk lempung terkonsolidasi hingga ke 0.5
batuan yang berkekuatan c = 250 MPa
 Parameter M menggambarkan kemiringan dari selubung kekuatan
pada 3 = 0 & meningkat dari 2.0 ( =20o) utk lempung terkonsolidasi
hingga ke antara 7 & 21 utk batuan keras

Kriteria Runtuh Teoritik

Kriteria Mohr-Coulomb
 Kriteria Mohr-Coulomb merupakan kri=teria yg pertama & sederhana,
walaupun ada yg mengatakan kurang teliti dalam mempresentasikan
batuan
 Kriteria ini dapat dinyatakan dalam sumbu utama

1 3 1 3
2(SoCot 2 )Sin
 Persamaan tsb dapat disederhanakan menjadi,
 1 =A+B 3

 Persamaan tsb dapat dinormalkan terhadap kuat tekan c & bila


datanya di plot dalam ruang sumbu tegangan utama akan membentuk
sebuah konus dari suatu parabola

1 3 1 Sin C
1 C 1 Sin
c c
 Jika persamaan Mohr-Coulomb ini diplotkan dalam daerah
tekan, secara umum kuat tariknya menjadi terlalu besar, tetapi hal ini tidak
terlalu penting karena besaran ini dapat dipilih sembarang, dan bahkan bisa
menjadi nol (pendekatan tension cut-off)
 Kriteria ini sering digunakan untuk memecahkan permasalahan mekanika
tanah, karena pada umumnya tanah memiliki selubung kuat berbentuk
konus dengan kuat tarik = nol. Sedangkan kurva dari selubung murni akan
lebih nyata untuk batuan
 Kriteria runtuh Mohr-Coulomb lebih sering ditulis dalam bentuk plot Mohr
dengan sumbu-sumbunya tegangan geser & normal N
 Konstruksi grafik lingkaran Mohr adalah setengah lingkaran yg
masingmasing merupakan pasangan tegangan utama minor & major saat
batu runtuh. Sumbu tegangan geser & tegangan normla harus berskala
sama

c N tan
1 3

2
1 3
N
2 tegangangeser
Yield Kriteria
 Dasar teori kekuatan adalah utk mendua perilaku material didalam kondisi 1,
2, 3 berdasarkan data eksperimentasi yg seringnya diperoleh dari tegangan
uniaksial
 Teori plastisitas mendasarkan pada hipotesa awal plastisitas atau plastic flow
 Pada beban uniaksial keadaan ini ditunjukkan oleh tegangan yield
 Pada beban multiaksial agak sedikit kompleks & dinyatakan dalam kriteria yield
atau konsisi yield
 F ({ }) = konstan
 { } – 6 buah komponen tegangan dalam 3D
 F < konstan dinyatakan elastik
 Jika material dianggap isotropik, YC tdk bergantung pd sumbu koordinat, maka
dapat ditulis;
 Tegangan prinsipal F( 1, 2, 3) = konstan
xx xy xz
Tegangan invariant F(I1, I2, I3)
 I1 1 + 2 + 3
yx yz
= 1 2 + 2 3 + 3 1
zx zy zz
yy
1 2 3
 I2
=
 I3 =

Tegangan Deviatorik
 Dalam kondisi plastisitas, tegangan dibagi dalam
Komponen hidrostatik/volumetrik
Komponen deviatorik/distortional

 Dalam deformasi plastik, volumterik dianggap sangat tdk berarti, maka hanya tegangan
deviatorik yg signifikan
 Tegangan hidrostatik # m = [( x + y + z)/3] = [( 1 + 2 + 3)/3] = [(I3)/3]
 Deviatorik stress ‘ = diberikan dalam ‘ = - m

 Misal; ’x = x - [( x + y + z)/3] → ’x = (2 x - y- z)/3]

 Sama halnya dengan ’y & ’z , namun ’xy = xy ; ’yz = yz ; ’zx = zx Invariant deviatorik stress
dinyatakan dalam J1, J2 & J3

 J1 = ’x + ’y + ’z = 0; J2 = {(I1)2/3} – I2

 J2 = (1/6) {( x - y)2 + ( y- z)2 + ( z - x )2} + 2xy + 2yz + 2zx

 J 3 = I3 - I2 m+ 2m

 Contoh: x = 100 kPa; y = 200 kPa; z=-100 kPa; xy=-200kPa; yz=100kPa; zx=-300kPa
Terminologi
Tambang Bawah
Tanah
Shaft – single stage hoisting

Ore body
Levels
Stope

Ladderway / ventilation / service raise

Cross cuts / drives


Raise
Development end
Winze

Sub-levels Prospecting / exploration


Ore body
Drive
Sump Plats, station / insets