Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN PRAKTEK KERJA

PROFESIAPOTEKER DI EXELTIS INDONESIA


(PT NUFARINDO SEMARANG)
PERIODE 27 AGUSTUS 2018 – 20 OKTOBER 2018

Disusun Oleh :

Amanatun Nurwulan 20174040065

Religia Eka Cahya 20174040095

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan karunia dan
rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi
Apoteker di Exeltis Indonesia PT. Nufarindo Jl. Raya Mangkang Kulon KM 16,5
Semarang. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini disusun sebagai salah satu syarat
yang harus dipenuhi oleh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker untuk mencapai
gelar profesi Apoteker. Selain itu juga program kerja ini dapat memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk memahami peran dan tugas Apoteker di bidang industri yang
dapat memberi kesempatan kepada mahasiswa calon Apoteker untuk lebih mengetahui
secara langsung tugas, peran dan tanggung jawab seorang Apoteker di bidang industri.
Praktek Kerja Profesi Apoteker di Exeltis Indonesia PT. Nufarindo Jl. Raya Mangkang
Kulon KM 16,5 Semarang Periode 27 Agustus – 20 Oktober 2018.
Kami menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, kami tidak dapat
menyelesaikan laporan PKPA ini. Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan
terima kasih atas bantuan dan bimbingan kepada:
1. Eka Susy Ambarwati, S.Si., Apt dan A. M. Verdei Ereco Gaudianta, S,Si., Apt selaku
pembimbing (preceptor) di PT. Nufarindo yang telah membimbing dan memberikan
pengarahan.
2. Ingenida Hadning, M.Sc., Apt. sebagai pembimbing dari Program Studi Profesi
Apoteker, Fakultas Kodokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis
melaksanakan PKPA serta dalam penulisan laporan ini.
3. Nurul Mazziyah, M.Sc., Apt., sebagai Ketua Program Studi Profesi Apoteker
Fakultas Kodokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama perkuliahan
dan ketika PKPA berlangsung.
4. Seluruh staf dan operator di PT. Nufarindo khususnya bagian QC, QA, RnD, dan
Produksi.
5. Keluarga tercinta yang senantiasa memberi dukungan, doa, semangat dan kasih
sayang yang tiada henti.
6. Teman-teman seperjuangan di PT. Nufarindo atas kerjasama selama pelaksanaan
PKPA.

iii
7. Semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan pengarahan kepada
penulis selama penulisan laporan PKPA ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami dengan senang hati menerima segala kritik dan
saran demi perbaikan di masa yang akan datang. Tak ada yang kami harapkan selain
sebuah keinginan agar laporan PKPA ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan pada umumnya dan ilmu farmasi pada khususnya.

Yogyakarta, 5 Desember 2018

Tim Penyusun

iv
DAFTAR ISI

Contents
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI............................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................................................ iii
DAFTAR ISI ................................................................................................................................ v
BAB I ............................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG ..................................................................................................... 1
B. TUJUAN........................................................................................................................... 2
BAB II .......................................................................................................................................... 3
A. Sejarah Singkat PT.Nufarindo-Exeltis .......................................................................... 3
B. Visi dan Misi PT. Exeltis................................................................................................. 4
C. Kegiatan di Industri ........................................................................................................ 4
1. Production Planning and Inventory Control (PPIC) ...................................................... 4
2. Procurement .................................................................................................................. 7
3. Quality Assurance (QA) ................................................................................................ 9
4. Quality Control (QC) .................................................................................................. 10
5. Produksi....................................................................................................................... 11
6. Research and Development (R&D) ............................................................................. 12
7. Engineering ................................................................................................................. 12
8. Regulatory Affairs ....................................................................................................... 12
9. Operational Excellence (OE) ...................................................................................... 15
BAB III PEMBAHASAN DAN OBSERVASI ........................................................................ 16
A. SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) DEPARTEMENT ............................... 16
B. QUALITY ASSURANCE ............................................................................................. 22
C. QUALITY CONTROL ................................................................................................. 38
D. PRODUCTION DEPARTEMENT.............................................................................. 46
E. RESEARCH AND DEVELOPMEND DEPARTEMENT......................................... 64
F. ENGINEERING DEPARTEMENT ............................................................................ 70
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................... 82
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 83

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi suhu ............................................................................................................. 21


Tabel 2. Daftar mesin laboratorium RnD .................................................................................... 65

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur departemen Quality Assurance .................................................................... 22


Gambar 2. Struktur departemen Quality Control ........................................................................ 46
Gambar 3.Struktur departemen RnD ........................................................................................... 64
Gambar 4. HVAC Sistem Terbuka (Open System) .................................................................... 73
Gambar 5. HVAC Sistem Tertutup (Close System).................................................................... 74
Gambar 6. HVAC Sistem Campuran (Mixed System) ............................................................... 74

vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan
yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia Tahun 1945.
Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif,
partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia
Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan
nasional. Setiap orang memiliki hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber
daya di bidang kesehatan dan pelayan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau
(Presiden Republik Indonesia, 2009).
Industri farmasi merupakan salah satu industri yang menyangkut kesehatan
manusia. Melalui perannya dalam bidang pembuatan obat, industri farmasi dapat
membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Industri farmasi memiliki
moral dan tanggung jawab sosial untuk senantiasa menghasilkan produk obat yang
memenuhi standar mutu, khasiat, dan keamanan. Oleh karena itu, industri farmasi
menjadi salah satu industri yang dikontrol dan diawasi dengan ketat oleh pemerintah
dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) baik dalam segi perizinan,
produksi, peredaran, maupun kualitas obat yang diedarkan. Industri farmasi harus
memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam melakukan
produksi obat jadi. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1799/MENKES/PER/XII/2010 dijelaskan bahwa pedoman pembuatan obat yang baik
dan benar diseluruh aspek kegiatan produksi bertujuan untuk memastikan bahwa sifat
maupun mutu obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah
ditentukan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pedoman ini juga dimaksudkan
untuk digunakan oleh industri farmasi sebagai dasar pengembangan aturan internal
sesuai kebutuhan (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2012).
Apoteker memiliki peran yang penting dalam industri farmasi agar obat yang
dihasilkan bermutu, aman dan berkhasiat. Kedudukan Apoteker diatur dalam CPOB,

1
yaitu sebagai penanggung jawab produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu
sehingga seorang Apoteker dituntuk untuk memiliki wawasan, pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan dalam mengaplikasikan dan mengembangkan ilmunya
secara professional agar dapat mengatasi permasalahanpermasalahan yang muncul di
industri farmasi. Calon Apoteker perlu mendapat bekal pengetahuan dan pengalaman
yang memadai agar memenuhi standart kompetensi yang diperlukan. Salah satu cara
untuk mencapainya adalah melalui kegiaan praktek kerja profesi di industri farmasi.
Oleh karena itu, Universitas Muhadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan PT.
Nufarindo. menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA). Pada PKPA ini
peserta mendapat tugas untuk mengamati dan mempelajari langsung kegiatan yang
dilaksanakan di PT.Nufarindo. Pelaksaan praktek kerja berlangsung dari tanggal 27
Agustus 2018 hingga 20 Oktober 2018. Melalui praktek kerja ini diharapkan mahasiswa
calon Apoteker dapat mengambil manfaat dan ilmu sebanyak mungkin yang dapat
diaplikasikan dengan baik untuk kepentingan dunia kesehatan.

B. TUJUAN
Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker di industri farmasi bagi pada calon
Apoteker bertujuan untuk :
1. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang segala aspek industri farmasi
yang berhubungan dengan CPOB serta mengetahui penerapan CPOB di PT.
Nufarindo.
2. Mengetahui dan memahami peran dan tanggung jawab Apoteker dalam
industri farmasi khususnya di PT.Nufarindo yang diharapkan dapat menjadi
bekal untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

2
BAB II
TINJAUAN UMUM INDUSTRI
A. Sejarah Singkat PT.Nufarindo-Exeltis
Nufarindo didirikan pada 30 April 1974 dengan nama PT. Empecco kemudian
pada 24 Februari 1977 terjadi perubahan nama menjadi PT. Nusa Jaya Farma Indonesia
dan pada 15 Juni 1981 terjadi perubahan nama kembali menjadi PT.Nufarindo. Awal
mula berdiri PT. Nufarindo merupakan Industri dengan Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) kemudian pada 10 Desember 2012 PT.Nufarindo sebagai anggota
Chemo-Group. Chemo-Group merupakan perusahaan farmasi multinasional sebagai
Industri Active Pharmaceutical (API) yang berbasis di Madrid, Spanyol. Dengan
bergabungnya PT.Nufarindo pada Chemo-Group maka PT. Nufarindo berpindah haluan
menjadi Industri Farmasi dengan Penanaman Modal Asing (PMA). Tujuan
bergabungnya PT. Nufarindo sebagai anggota Chemo-Group adalah untuk mengubah
perusahaan farmasi yang dahulunya masih lokal menjadi perusahaan farmasi terkemuka
di pasar dunia.
Pada 15 Oktober 2013, PT. Nufarindo meluncurkan brand nama baru dengan
nama Exeltis. Ambisi dari PT. Nufarindo adalah untuk mengungguli pasar secara
konsisten dengan mempertahankan fokus pada pelanggan secara penuh dan dengan
lingkungan kerja yang memungkinkan orang untuk bertindak fleksibel dalam batas
tertentu.
Nilai-nilai yang selalu ditekankan oleh PT.Nufarindo adalah kerjasama
(Teamwork), mengutamakan hal yang penting (Sense of Urgency), Inovasi (Innovation),
peningkatan secara konstan (Constant Improvement), kewirausahaan
(Enterpreneurship), komunikasi (Communication), integritas dan transparan (Integrity
and Transparency).
Sampai saat ini PT. Nufarindo telah memproduksi berbagai macam produk.
Produk – produk yang dihasilkan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
1. Produk-produk ethical diantaranya : Termicef Injeksi, Taximax Injeksi,
Panzol Injeksi, Collacure, Hiblok, Valto, Idesar, Vasgard, Nulox forte,
Matsunaflam dan lain-lain.
2. Produk-produk Trading diantaranya : Gastrucid, Colfin, Seltifort kids,
Bronchitin Expectorant, Nufadol, Inamid dan lain-lain.

3
B. Visi dan Misi PT. Exeltis
VISI
Menjadi perusahaan farmai terkemuka di semua bidang terapi dengan tingkat
pertumbuhan yang pesat.
MISI
1. Mengingkatkan layanan kesehatan di masa depan dengan melakukan penelitian
dan pengembangan produk, menciptakan terapi yang baru dan lebih baik.
2. Menjaga kualitas terbaik, menggunakan penerapan teknologi untuk
mengurangi biaya guna menawarkan pengobatan farmakologis dengan harga
terjangkau.
3. Mengidentifikasi peluang guna mencapai pertumbuhan yang pesat.
4. Membangun budaya yang ambisius, berorientasi pada pelanggan, efisien,
fleksibel, proaktif dan membentuk organisasi yang didorong kinerja.

C. Kegiatan di Industri

1. Production Planning and Inventory Control (PPIC)


PPIC merupakan bagian dari departemen material manajemen yang
mempunyai peranan sebagai perancang perencanaan produksi dan pengendalian
persediaan serta bagian dari organisasi perusahaan yang menjembatani antara
divisi marketing dengan produksi. PPIC akan menerjemahkan kebutuhan
pengadaan obat jadi untuk marketing dalam bentuk rencana produksi dan
ketersediaan bahan baku serta bahan pengemas (BPOM, 2012).
PPIC mempunyai peran penting dalam perusahaan karena berkaitan erat
dengan cash flow dan kinerja bagian produksi. PPIC harus mampu mengendalikan
persediaan mulai dari bahan awal (bahan baku dan bahan kemas) sampai obat jadi.
Tujuan untuk menjaga persediaan agar tidak habis (stock out) sehingga proses
produksi dan pemasaran nantinya tidak terlambat. PPIC dibagi menjadi 2 yakni :
a) IPC (Inventory Planning and Control)
Persediaan (Inventory) memiliki arti sangat penting dalam operasi
bisnis suatu perusahaan, guna untuk memenuhi kebutuhan produksi dan
memberikan keputusan pada kebutuhan organisasi. Terdapat lima kategori
biaya yang dikaitkan dengan keputusan persediaan yakni :

4
1) Biaya Pemesanan (Order Cost)
Biaya pemesanan adalah biaya yang dikaitkan dengan usaha
untuk mendapatkan bahan atau bahan dari luar. Biaya pemesanan
dapat berupa biaya penulisan pemesanan, biaya proses pemesanan,
biaya materai, biaya faktur, biaya pengetesan, biaya pengawasan,
dan biaya transportasi. Sifat biaya pemesanan ini adalah semakin
besar frekuensi pembelian semakin besar biaya pemesanan.
2) Biaya Penyimpanan (Carrying cost)
Komponen utama dari biaya simpan, terdiri dari biaya modal,
biaya simpan dan biaya resiko. Sifat biaya penyimpanan adalah
semakin besar frekuensi pembelian bahan, maka semakin kecil biaya
penyimpanan.
3) Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas
Biaya ini terjadi karena perubahan dalam kapasitas produksi yang
diperlukan karena untuk memenuhi fluktuasi pasar/permintaan.
Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas dapat berupa biaya kerja
lembur, biaya pelatihan tenaga kerja baru, dan biaya perputaran
tenaga kerja.
4) Biaya Kekurangan Persediaan (Stock Out)
Biaya yang dikaitkan dengan stock out meliputi biaya penjualan
atau permintaan yang hilang, biaya yang dikaitkan dengan proses
pemesanan kembali seperti biaya ekspedisi khusus, penanganan
khusus, biaya penjadwalan kembali produksi, biaya penundaan, dan
biaya bahan pengganti.
5) Biaya bahan atau barang
Biaya barang atau bahan adalah harga yang harus dibayar atas
item yang dibeli. Biaya ini akan dipengaruhi oleh besarnya diskon
yang diberikan oleh suplier. Oleh karena itu, biaya bahan atau
barang akan bermanfaat dalam menentukan apakah perusahaan
tersebut sebaiknya menggunakan harga diskon.

5
b) PPC (Production Planning and Control)
Perencanaan produksi merupakan salah satu dari acuan untuk
memenuhi permintaan marketing. Perencanaan produksi terbagi menjadi
rencana produksi tahunan, rencana produksi periodik (semester atau
triwulan), rencana produksi bulanan, mingguan dan harian. Sasaran pokok
dari perencanaan produksi, antara lain:
 Ketepatan waktu dalam memenuhi janji atau permintaan pelanggan
 Kecepatan waktu penyelesaian pesanan
 Berkurangnya biaya produksi
 Produk baru launching dan produk lama berjalan lancar
Perencanaan produksi dipengaruhi beberapa faktor eksternal maupun
internal. Faktor internal anatara lain kapasitas terpasang, kapasitas produksi,
jumlah persediaan dan aktifitas lain yang diperlukan untuk produksi. Sedangkan
untuk faktor eksternal yang mempengaruhi perencanaan produksi antara lain
kebutuhan atau permintaan pasar, kondisi perekonomian, keterssediaan bahan
baku/bahan pengemas, aktifitas kompetitor dan kapasitas eksternal.
PPIC membuat production planning dan production schedule (bersama
pihak produksi) berdasarkan forecast marketing yang dibuat oleh departemen
marketing. Dari production planning diketahui material yang digunakan untuk
kegiatan produksi, kemudian PPIC membuat purchase order (PO) yang
dikirimkan ke supplier. Supplier akan memberikan jenis dan jumlah barang
sesuai dengan pesanan dan menyerahkan ke gudang.
Tujuan PPIC yakni menyeimbangkan diadakannya persediaan dengan
biaya yang dikeluarkan agar sasaran yang direncakan dapat tercapai, maka
bagian PPIC memiliki prinsip kerja sebagai berikut:
1. Planning
2. Doing
3. Controlling
4. Action

6
2. Procurement
a. Purchasing (Pengadaan Barang)
Purchasing melakukan kegiatan berkaitan struktur biaya produk seperti biaya
pengadaan barang, termasuk di dalamnya adalah pengadaan bahan awal (starting
material) yang terdiri dari bahan baku (bahan baku aktif maupun bahan tambahan
serta bahan pengemas). Terdapat empat kegiatan utama dalam pengadaan yaitu:
1) Pemilihan supplier, bernegosiasi mengenai harga, dan jadwal
penerimaan bahan, termasuk didalamnya menerbitkan surat pesanan.
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam memilih suppliyer:
 Kualitas bahan yang dipesan harus mempunyai Certificate of Analsis
(COA)
 Kesanggupan supllier dalam menyuplai barang yang berkualitas
secara terus menerus
 Ketepatan waktu pengiriman sesuai dengan waktu pengiriman yang
telah ditentukan
2) Melakukan pemantauan pengiriman (expediting delivery) yang
dilakukan oleh supplier.
3) Menjembatani antara supplier dengan bagian terkait dalam perusahaan,
misalnya bagian QC, produksi, keuangan dan lain-lain yang berkaitan
dengan masalah pembelian bahan baku.
4) Kontribusi dan keuntungan pada perusahaan. Terdapat tiga sistem
pembelian (pengadaan) yang biasa dilakukan di industri farmasi, yakni:
a) Open Purchase Order
Sistem ini merupakan sistem order atau pembelian yang
dilakukan dalam jumlah kecil, dengan nilai yang kecil serta proses
transaksi dengan frekuensi yang tinggi. Sistem pembelian dengan
cara ini biasanya dilakukan untuk material yang mudah didapat,
supllier cukup banyak dan kebutuhannya fluktuatif.
b) Blanket Purchase Order
Pada sistem ini pembelian dilakukan dalam jumlah besar secara
total, dengan harga yang tetap tetapi pengirimannya diatur dalam
jangka waktu tertentu. Sistem pembelian ini biasanya digunakan

7
untuk material yang nilainya cukup tinggi, adanya potongan harga
yang cukup besal bila order quantitynya besar atau material
tersebut sukar didapat.
c) Just In Time Purchase
Dengan semakin meningkatnya biaya penanganan bahan
(handling cost), saat ini berkembang sistem pembelian tepat waktu
(Just In Time Purchasing).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengadaan
adalah stok bahan yang ada, bahan pengemas dan produk jadi. Selain itu, yang
perlu diperhatikan adalah lead time yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pengadaan
barang mulai dari pemesanan sampai barang tiba di gudang pabrik.
b. Warehousing (Pergudangan)
Gudang merupakan saran pendukung kegiatan produksi dan operasi industri
farmasi yang memiliki fungsi sebagai tempat untuk menyimpan bahan awal,
bahan kemas, dan obat jadi yang belum didistribusikan. Selain itu gudang juga
berfungsi untuk me,indungi bahan awal, bahan pengemas, dan obat jadi dari
pengaruh luar dan binatang pengerat, serangga, dan melindungi obat dari
kerusakan. Agar dapat menjalankan fungsinya dengan benar, maka gudang harus
dikelola dengan sistem manajemen pergudangan.
Manajemen pergudangan memiliki cakupan antara lain mengatur
orang/petugas (SDM), mengatur penerimaan barang, mengatur
penataan/penyimpnanan barang, dan mengatur pelayanan akan permintaan barang.
Agar dapat menjalankan fungsinya dengan benar, maka gudang harus memenuhi
persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dalam CPOB yaitu:
1) Harus ada prosedur tetap (protap) yang mengatur/ tata cara kerja bagian
gudang, termasuk didalamnya mencakup tentang tata cara penerimaan bahan,
penyimpanan dan distribusi bahan produk.
2) Gudang harus cukup luas, terang dan dapat menyimpan bahan dalam keadaan
kering, bersuhu sesuai dengan persyaratan, bersih, dan teratur.
3) Harus terdapat tempat khusus untuk menyimpan bahan yang mudah terbakar
atau mudah meledak (misalnya alkohol atau pelarut-pelarut organik).

8
4) Tersedia tempat khusus untuk produk atau bahan dalam status “karantina”
dan “ditolak”.
5) Tersedia tempat khusus untuk melakukan sampling dengan kualitas ruangan
seperti ruang produksi (grey area).
6) Pengeluaran bahan harus menggunakan prinsip FIFO (First In First Out) atau
FEFO (First Expired First Out).

3. Quality Assurance (QA)


Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan
penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen izin edar
(registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena
tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen bertanggung jawab untuk
pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu”, yang memerlukan partisipasi
dan komitmen jajaran disemua departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para
distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan,
diperlukan sistem pemastian mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan
secara benar serta mengikorporasi Cara Pembuatan Obat yang Baik termasuk
Pengawasan Mutu dan Manajemen Resiko Mutu.
Quality Assurance atau Pemastian Mutu menurut WHO (2004) didefinisikan
sebagai semua aspek yang secara kolektif maupun individual mempengaruhi mutu
produk dari konsep desain hingga produk tersebut ditangan konsumen. Oleh karena itu,
Quality Assurance dapat juga diartikan sebagai keseluruhan sistem yang dibuat dengan
tujuan agar semua produk industri farmasi yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu
yang telah ditetapkan.
Quality Assurance tidak saja mencakup pelaksanaan Cara Pembuatan Obat yang
Baik (Good Manufacturing Practices/GMP) melainkan juga Cara Berlaboratorium yang
Baik (Good Laboratory Practices/GLP) dan Cara Uji Klinis yang Baik (Good Clinical
Practices/GCP) serta Cara Distribusi yang Baik (Good Distribution Practices/GDP).
Tugas dan tanggung jawab Quality Assurance yakni:
a. Merumuskan dan menetapkan kebijakan mutu (Quality Policy) perusahaan.
b. Merumuskan dan menetapkan sistem manajemen mutu (Quality Management
System) perusahaan.

9
c. Melakukan evaluasi terhadap materi pelatihan karyawan, terutama yang terkait
dengan CPOB.
d. Bertanggung jawab terhadap program inspeksi diri maupun eksternal inspection
(terhadap supplier, contract manufacture dan lain-lain).
e. Melakukan overview terhadap sistem protap di perusahaan.
f. Melakukan pengkajian dan persetujuan terhadap protap, protokol dan laporan
validasi, usulan terhadap perubahan proses, bahan maupun metode,
g. Menyetujui seluruh perubahan sebelum diterapkan.
h. Menyusun dan menetapkan sistem pelulusan bahan awal, produk antara dan obat
jadi.
i. Memberikan persetujuan terhadap laporan penyimpangan.
j. Menyetujui seluruh sistem dokumentasi perusahaan (protap, spesifikasi, master
batch, batch record, protokol dan laporan validasi, program kalibrasi, audit
lingkungan dan lain-lain).
Bagian penjaminan mutu memantau keseluruhan proses pembuatan obat mulai
dari rencana desain industri (R&D), pembelian bahan hingga distribusi obat jadi. Semua
bagian sistem Pemastian Mutu didukung dengan ketersediaan personil yang kompeten,
bangunan dan sarana serta peralatan yang cukup dan memadai. Tambahan tanggung
jawab legal hendaklah diberikan kepada kepala Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).
Untuk mengkaji kembali secara objektif seluruh tata kerja personel yang dapat
mempengaruhi pada jaminan mutu maka harus dilakukan inspeksi diri yang diketuai
oleh manager QA. Team inspkesi diri harus mampu menilai secara objektif pelaksanaan
CPOB pada semua bagian yang terkait dalam pembuatan obat, termasuk berbagai
dokumen terkait dengan bagian yang diinspeksi, seperti protap, dokumen
validasi/kualifikasi, catatan bets, dan lain-lain.

4. Quality Control (QC)


Pengawasan Mutu merupakan bagian yang esensial dari Cara Pembuatan Obat
yang Baik untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai
mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Keterlibatan dan komitmen semua
pihak yang berkepentingan pada semua tahap merupakan keharusan untuk mencapai
sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai kepada distribusi produk jadi.

10
Pengawasan Mutu mencakup pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian serta
termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa
semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan tidak diluluskan untuk
dipakai atau produk diluluskan untuk dijual, sampai mutunya telah dibuktikan
memenuhi persyaratan.

5. Produksi
Departemen produksi bertanggung jawab atas pelaksanaan produksi mulai dari
perencanaan, kelancaran proses pembuatan obat, proses pengemasan, dan tersedianya
obat jadi. Kepala bagian produksi memiliki tugas dan tanggung jawab, yaitu:
1) Bertanggung jawab atas terlaksananya pembuatan obat mulai dari
penimbangan, pengolahan, pengemasan sampai pengiriman obat ke gudang
obat jadi.
2) Memimpin dan mengarahkan secara teknis dan administrasi semua
pelaksanaan tugas, mulai dari penimbangan, pengolahan sampai dengan
pengemasan.
3) Bersama-sama dengan manager PPIC menyusun rencana produksi.
4) Bertanggung jwab memeriksa Catatan Pengolahan Batch (CPB) dan
menjamin produksi dilaksanakan sesuai CPB.
5) Mengusahakan efisiensi produksi dan perbaikan biaya produksi.
6) Bekerja sama dengan bagian R&D untuk percobaan skala produksi setelah
uji laboratorium.
Kegiatan produksi secara umum dibagi menjadi 2 tahap, yaitu processing
(manufacturing) dan pengemasan (packaging). Proses produksi dilakukan berdasarkan
Manufacturing Order (MO). Sistem penomoran batch dan lot dipakai untuk
memudahkan pengendalian selama produksi berlangsung dan penelusuran kembali
apabila terjadi keluhan produk dari konsumen. Proses produksi dikontrol dengan adanya
rekaman batch (batch record), yaitu suatu dokumen yang berisi seluruh hal yang
berkaitan dengan proses, langkah kerja dan waktu pengerjaan, yang diawasi serta
ditandatangani oleh supervisor maupun personel yang mngerjakan. Hal ini bertujuan
untuk mendokumentasikan seluruh proses yang dikerjakan sehingga jika terjadi
ketidaksesuaian, complaint dan lain sebagainya.

11
6. Research and Development (R&D)
Research and Development merupakan suatu departemen pada industri farmasi
yang berperan dalam penelitian produk baru maupun pengembangan produk lama.
Secara umum, depertemen Research and Development di industri farmasi terbagi
menjadi packaging development, analytical development dan formulation development.

7. Engineering
Departemen ini bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan pabrik terutama
pemeliharaan mesin-mesin, fasilitas produksi dan peralatan penunjang produksi seperti
listrik, sistem udara, supply air dan sistem pendingin ruangan. Departemen teknik
bertanggung jawab untuk mengatur semua mesin dapat berjalan dengan baik dan lancar
sesuai dengan fungsinya, melakukan pemeliharaan terhadap mesin-mesin yang ada dan
melakukan perbaikan apabila terdapat kerusakan pada mesin-mesin, peralatan dan
fasilitas produksi.

8. Regulatory Affairs
Registrasi adalah prosedur pendaftaran dan evaluasi obat untuk mendapatkan
izin edar. Izin edar merupakan bentuk persetujuan registrasi obat untuk dapat diedarkan
di suatu wilayah tertentu. Izin edar obat hanya diberikan kepada pendaftar yang
memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis berupa hasil evaluasi
khasiat, keamanan, mutu, kemanfaatan dan penandaan. Izin edar obat berlaku selama 5
tahun selama memenuhi ketentuan yang berlaku.
Proses registrasi obat di Indonesia, diajukan oleh pendaftar (industri
farmasi/PBF) kepada Institusi BPOM sebagai regulator industri farmasi di Indonesia
dengan menggunakan formulir registrasi. Proses registrasi dibagi menjadi 2 kategori,
yaitu registrasi obat baru (berlaku selama 5 tahun untuk mempermudah pemantauan)
dan registrasi variasi (dapat dilakukan setiap waktu jika terjadi perubahan).
Registrasi obat mutlak dilakukan dengan tujuan untuk melindungi masyarakat
dari peredaran obat yang tidak memenudi persyaratan efikasi, keamanan, mutu, dan
manfaatnya. Adapun tanggung jawab dari bagian registrasi yakni:
a. Kelengkapan dokumen yang diserahkan untuk pendaftaran registrasi.
b. Kebenaran semua informasi yang tercantum dalam dokumen registrasi.
c. Kebenaran dan keabsahan dokumen yang dilampirkan untuk kelengkapan
registrasi.

12
d. Perubahan data dan informasi dari produk yang sedang dalam proses
registrasi atau sudah memiliki izin edar.
Registrasi obat dikategorikan menjadi registrasi baru dan registrasi variasi.
Registrasi baru terdiri dari:
1. Kategori 1, adalah registrasi obat baru dengan zat aktif atau derivat baru atau
kombinasi baru produk biologi dengan zat aktif baru atau kombinasi baru
atau dalam bentuk sediaan baru.
2. Kategori 2, adalah registrasi obat baru dengan komposisi lama dalam bentuk
sediaan baru atau kekuatan baru atau produk biologi sejenis.
3. Kategori 3, adalah registrasi obat atau produk biologi dengan komposisi lama
dengan indikasi atau posoligi baru.
4. Kategori 4, adalah registrasi obat copy dengan nama dagang atau obat copy
dengan nama generik.
5. Kategori 5, adalah registrasi sediaan lain yang mengandung obat.
Registrasi variasi terdiri dari:
1. Kategori 6, adalah registrasi obat copy yang sudah mendapat izin edar dengan
oerubahan yang sudah dipernah disetujui di Indonesia.
2. Kategori 7, adalah registrasi obat yang sudah mendapat izin edar dengan
perubahan klim penandaan yang mempengaruhi keamanan.
3. Kategori 8, adalah registrasi obat yang sudah mendapat izin edar dengan
perubahan zat tambahan, spesifikasi dan/atau metode analisa, stabilitas dan
teknologi produksi dan/atau tempat produksi.
4. Kategori 9, adalah registrasi obat yangsudah mendapat izin edar dengan
perubahan atau penambahan jenis kemasan.
5. Kategori 10, adalah registrasi obat yang sudah mendapat izin edar dengan
mutu, perubahan desain kemasan, nama pabrik atau nama pemberi lisensi,
perubahan importir, perubahan/penambahan besar kemasan, dan perubahan
nama dagang tanpa perubahan formula dan jenis kemasan.
Tatalaksana registrasi obat diatur oleh Badan POM dalam Peraturan Ka BPOM RI
No. HK.03.1.23.10.11.08481 Tahun 2011 tentang Kriteria dan Tata Laksana Regostrasi
Obat. Secara umum, regostrasi obat dilakukan dalam dua tahapan yaitu tahapan pra-
registrasi yang bertujuan untuk menilai kelengkapan administrasi dari Industri Farmasi

13
yang akan meregistrasi obat dan sekaligus menentukan kriteria registrasi dan jalur
evaluasi, serta tahapan registrasi untuk menilai apakah obat tersebut layak mendapatkan
izin edar.
Tahap pra registrasi bertujuan untuk mempertimbangkan jalur evalusi dan
kelengkapan dokumenregistrasi obat. Dokumen yang diajukan mepiluti dokumen
formula obat, cara pembuatan obat dan tanggal kadaluarsa obat. Pada tahap pra
registrasi dokumen yang masuk akan dievaluasi dan diproses oleh BPOM selama 40
hari kerja. Pengujian pra registrasi disertai dengan dokumen pra registrasi, dilengkapi
dengan bukti penelusuran nama obat, dan dokumen administratif. Formulir data
administrasi yang harus dilengkapi atau dilampirkan yaitu:
a. Dokumen administrasi berupa data pendaftar dan data produk yang didaftarkan
b. Formulir data teknis
- Formulir data dokumen administrasi
- Formulir data formula dan cara pembuatan
- Formulir cara pemeriksaan mutu bahan baku
- Formulir data produk jadi, berupa klaim indikasi, dosis, cara penggunaan, dan
penomoran bets.
Jika dokumen yang diajukan memenuhi persyaratan maka BPOM akan
mengeluarkan surat Hasil Pra Registrasi (HPR). Tahap registrasi merupakan prosedur
pendaftaran dan evaluasi obat untuk mendapatkan izin edar. Dokumen registrasi obat
terdiri dari 2 bagian, yaitu dokumen administratif dan informasi obat dan dokumen
mutu. Tahap registrasi dilakukan dengan menyerahkan berkas registrasi dengan mengisi
formulir registrasi disertai bukti pembayaran biaya evaluasi dan pendaftaran hasil pra
registrasi.
Izin edar obat hanya diberikan bila memenuhi persyaratan administrasi dan teknis
berupa hasil evaluasi efikasi, keamanan, mutu, kemanfaatan dan penandaan. Izin edar
ini berlaku selama lima tahun, bila sudah habis mas izin edarnya maka dilakukan
registrasi ulang dan prosesnya tidak dari awal lagi, melainkan hanya menyerahkan
dokumen-dokumen yang berhubungan dengan produk tersebut.
Registrasi obat ini dilakukan untuk produk baru dan untuk perubahan pada
produk. Registrasi untuk perubahan pada produk tersebut disebut dengan registrasi
variasi. Variasi kemasan bila perubahan produk tersebut adalah perubahan pada

14
kemasan maka perlu dilengkapi adalah dokumen-dokumen kemasannya, protap bahan
kemas, uji stabilitas selanjutnya diregostrasi tanpa proses pra registrasi.

9. Operational Excellence (OE)


Sumber daya manusia (SDM) sangat penting dalam pembentukan dan penerapan
sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang baik dan benar.
Setiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing dan harus
memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan,
termasuk instruksi mengenai hygiene yang berkaitan dengan pekerjaan. Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam masalah personalia adalah:
1) Unit produksi, unit pengawasan mutu dan unit penjaminan mutu dikepalai oleh
Apoteker (Farmasis) yang berbeda dan bertanggung jawab terhadap unitnya
masing-masing serta memiliki pengalaman dan mampu membawahi para
supervisor pada setiap tingkat pekerjaan yang dilakukan.
2) Jumlah personil yang cukup agar kegiatan produksi dan pengawannya dapat
dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan spesifikasi yang telah ditetapkan.
3) Sarana dan lingkungan tempat kerja, pakaian kerja serta peralatan atau
perlengkapan pengaman yang memadai perlu disediakan agar produk maupun
orangnya bebas dari resiko kontaminasi.

15
BAB III
HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

A. SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM) DEPARTEMENT


1. Ruang Lingkup
Supply Chain Management (SCM) memiliki peran sebagai perencana dan
pengendalian persediaan mulai dari material bahan baku, bahan kemas, proses
produksi, dan produk jadi, serta distribusi produk jadi sampai ke tangan pelanggan /
distributor.
SCM di PT. Exeltis dikepalai oleh seorang apoteker sebagai Manajer.
Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, manager SCM dibantu oleh
supervisor, dan officer yang sudah terkualifikasi. Departemen SCM terdapat
bagian-bagian yang terkait yaitu PPIC, Material Warehouse, Finished Good
Warehouse, dan Distribution. Sedangkan bagian procurement terpisah dan menjadi
departemen yang berdiri sendiri.
Rangkaian aktivitas SCM adalah menerima forecast (ramalan penjualan)
yang telah dibuat oleh bagian pemasaran untuk kemudian dianalisis dengan
mempertimbangkan prioritas, kapasitas material, kapasitas mesin, dan riwayat
penjualan sebelumnya kemudian diaplikasikan dengan bagian produksi untuk
merancang jadwal proses produksi.
2. Tugas dan peran
Berikut adalah tugas dan peran bagian SCM :
a) Membuat perencanaan produksi setiap bulannya berupa Master Production
Schedule (MPS) berdasarkan Rolling Forecast (ROFO) yang merupakan
ramalan penjualan departemen sales & marketing.
b) Membuat perencanaan produksi berdasarkan skala prioritas (level stock)
dengan mempertimbangkan sifat produk fast moving atau slow moving, kondisi
stok di gudang, kapasitas alat yang digunakan, bahan baku yang tersedia, lama
proses produksi dan safety stock.
c) Membuat perencanaan pengadaan bahan beberapa bulan kedepan berdasarkan
rencana dan kondisi stok dengan menghitung kebutuhan material produksi
menurut standar stok yang ideal (ada batasan jumlah minimal dan maksimal
bahan).

16
d) Memantau semua inventori, baik untuk proses produksi, stok yang ada di
gudang maupun barang yang didatangkan, sehingga pelaksanaan proses dan
pemasukan tetap berjalan lancar dan seimbang.
e) Membuat evaluasi hasil produksi, hasil penjualan, maupun kondisi inventori.
f) Mengolah data dan menganalisa mengenai rencana dan realisasi produksi dan
penjualan serta data inventori.
g) Sebagai perantara perusahaan dalam bekerja sama dengan perusahaan lain,
terkait program toll manufacturing
h) Melakukan pendistribusian produk jadi ke pelanggan maupun konsumen.
3. Bagian SCM
a. PPIC (Production Planning and Inventory Control)
PPIC merupakan bagian penting dari departemen SCM yang terkait
pengendalian proses produksi dan pengendalian bahan baku maupun bahan
kemas. Tugas bagian PPIC di PT.Nufarindo adalah melakukan:
1) Perencanaan pengadaan material yang akan dipakai pada proses
produksi.
2) Membuat penyusunan jadwal proses produksi di pabrik.
3) Mengendalikan persediaan bahan baku dan produk jadi yang ada di
gudang.
4) Menyiapkan catatan pengolahan dan pengemasan bets. (batch record)
5) Melakukan kegiatan Production Actvity Control (PAC).
6) Memfollow up barang jadi sesuai permintaan marketing maupun stok
barang di gudang dengan bekerja sama dengan bagian gudang produk
jadi.
7) Bertanggung jawab terhadap kegiatan toll in-toll out manufacturing.
8) Tujuan dilakukannya pengelolaan persediaan adalah untuk memberikan
layanan terbaik bagi para pelanggan, memperlancar proses produksi,
mengantisipasi kemungkinan kekurangan persediaan (stock out) dan
mengantisipasi fluktuasi harga bahan.

17
Dalam menjalakan tugasnya, PPIC memiliki dua bagian terkait, yaitu :
a) Production Planner
Production Planner memiliki peran penting dalam mengatur
penjadwalan proses produksi masing-masing produk, mengatur kapan
mesin harus siap digunakan dan kapan harus diistirahatkan. Tujuan
dilakukan perencanaan produksi, yaitu ketepatan waktu dalam memenuhi
permintaan pelanggan dan kecepatan waktu penyelesaian pesanan
pelanggan.
Production Planner mengatur penjadwalan berdasarkan ROFO
yang selanjutnya diolah menjadi Master Production Planning dan dioleh
kembali menjadi Daily Production Schedule. Hasil penyusunan
penjadwalan dalam mingguan dan bulanan telah selesai selanjutnya
didistribusikan ke semua departemen di PT. Exeltis.
b) Material Planner
Material Planner berperanmengatur ketersediaan bahan baku,
bahan kemas baik primer, sekunder, maupun tersier. Material Planner
mengelola persediaan bahan baku berdasarkan Master Production
Schedule (MPS) kemudian menyerahkan ke bagian procurement dengan
form purchase request (PR) untuk melakukan pembelian material dengan
menggunakan purchase order (PO). Material Planner merupakan bagian
yang mengatur waktu untuk order, repeat order, untuk menggunakan
material tersebut sesuai kebutuhan produk yang akan diproses.
Kebutuhan pemesanan harus memperhatikan sisa stok, buffer stock,
waktu tunggu (lead time), kapasitas mesin, kapasitas gudang. Kapasitas
mesin bertujuan untuk mengetahui kemampuan mesin dalam
menghasilkan berapa batch setiap proses produksi untuk selanjutnya
dikonversi menjadi batch size. Bagian procurement dalam melakukan
pengadaan material seperti bahan baku, bahan kemas harus mengacu
berdasarkan dari approval vendor list yang telah disetujui oleh
departemen QA. Approval vendor list merupakan daftar pemasok bahan
baku dan bahan kemas yang telah disetujui oleh perusahaan dan
didaftarkan kepada BPOM.

18
Toll in manufacturing adalah permintaan produksi sesuai
tahapan/bentuk sediaan dari perusahaan lain yang bisa dipenuhi oleh
perusahaan penerima toll in karena masih tersedia kapasitas produksi
berdasarkan perjanjian/kontrak. Hal tersebut juga disebabkan karena
perusahaan pemberi toll tidak memiliki fasilitas produksi untuk produk
bersangkutan atau karena kapasitas produksi tidak mencukupi.
Sedangkan toll out adalah proses produksi obat dengan menggunakan
fasilitas produksi perusahaan farmasi lainnya khusus produk-produk
yang fasilitas produksinya belum dimiliki oleh pabrik yang mengajukan
toll out. PT Nufarindo saat ini menjalin kerjasama untuk melakukan toll
out dengan PT. Phapros Semarang berupa produk injeksi.
b. Warehouse ( Gudang )
Warehouse merupakan sarana pendukung dan bagian terpenting di industri
farmasi. Warehouse berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas dan
produk jadi yang belum didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, warehouse
juga berfungsi untuk melindungi bahan baku, bahan kemas dan produk jadi dari
pengaruh lingkungan luar, seperti cahaya, suhu, kelembaban, dan binatang asing
yang berpotensi terjadi kerusakan.
PT. Exeltis memiliki berbagai macam gudang, diantaranya :
1) Gudang bahan awal (Raw Material Warehouse)
Alur kegiatan di gudang material (Raw Material & Packaging Material)
yaitu:
a) Material yang datang diberi label karantina (warna kuning) di
gudang bahan awal
b) Bagian gudang melakukan penomoran artikel pada masing-masing
bahan, bertujuan untuk melakukan proses identifikasi
c) Bagian SCM menginformasikan kepada bagian QC bahwa ada
bahan baku atau bahan kemas datang dengan menyerahkan nota
penerimaan barang.
d) Bagian gudang mengambil sampel di ruang sampling yang terpisah
oleh airlock untuk selanjutnya diuji di laboratorium QC. Setelah

19
sampel diambil oleh QC maka diberi label “SAMPEL TELAH
DIAMBIL” warna kuning.
e) Apabila hasil pengujian QC menunjukkan bahwa bahan memenuhi
syarat “MS” maka bahan diberi label “diluluskan” berwarna hijau.
Apabila hasil pengujian QC menunjukkan bahan tidak memenuhi
syarat (TMS) maka bagian QC melakukan uji ulang dengan analis
yang berbeda untuk memastikan bahwa bahan tersebut benar tidak
memenuhi syarat atau hanya terjadi kesalahan pengujian yang bisa
disebabkan berbagai fakor.
f) Apabila hasil pengujian QC tetap menunjukkan bahan tidak
memenuhi syarat (TMS) maka bagian QC memberikan label merah
bertuliskan “DITOLAK”.
g) Bahan yang telah mendapatkan disposisi diluluskan dari QC akan
dipindahkan dari area karantina ke area diluluskan. Sedangkan bahan
yang telah menerima disposisi ditolak dari QC, akan dipindahkan
dari area karantina ke area ditolak.
h) Bahan yang telah diluluskan dapat melalui proses selanjutnya yaitu
ditimbang.
i) Bahan yang akan ditimbang diletakkan pada ruang airlock,
kemudian diambil oleh petugas dispensing untuk ditimbang di ruang
penimbangan. Proses dispensing dilakukan oleh bagian SCM,
supaya dapat secara langsung mengendalikan persediaan bahan
sekaligus proses pencatatan dan pelaporan. Bagian produksi hanya
sebagai eksekutor setelah bahan ditimbang.
j) Bahan yang telah ditimbang kemudian diletakkan di stagging area
ruang produksi untuk selanjutnya dilakukan proses produksi oleh
bagian produksi.
Penyimpanan bahan baku di gudang bahan baku ditata dengan sistem
FEFO (First Expired First Out) atau FIFO (First In First Out).
PT Exeltis memiliki gudang yang digunakan untuk penimpanan bahan
baku yang berupa prekursor. Pengamanan yang dilakukan untuk penyimpanan
prekursor yaitu disimpan dalam jeruji dengan 2 gembok yang kuncinya dibawa

20
oleh manajer SCM dan manajer QA, dan masing-masing drum prekursor dikunci
dan kunci tersebut dibawa oleh kepala gudang. Proses pengambilan dan
penimbangan precursor hanya dilakukan pada shift 1 untuk menghindari
terjadinya penyalahgunaan.
2) Gudang bahan kemas (Packaging Material Warehouse)
Gudang bahan kemas terdapat 4 bagian klasifikasi yang memiliki
persyaratan suhu yang berbeda yaitu :

Alu Foil T : ≤25°C ; RH : tidak diklasifikasikan

Warehouse I T : ≤35°C ; RH : tidak diklasifikasikan

Warehouse II T : ≤35°C ; RH : tidak diklasifikasikan

Warehouse III T : ≤35°C ; RH : tidak diklasifikasikan

Tabel 1. Klasifikasi suhu


3) Gudang produk jadi (Finished Good Warehouse)
Gudang produk jadi memiliki persyaratan suhu yaitu pada suhu kamar
(25-30°C) dan RH tidak diklasifikasikan.
4) Gudang produk kembalian (Return Warehouse)
Gudang produk kembalian memiliki persyaratan suhu yaitu pada suhu
kamar (25-30°C) dan RH tidak diklasifikasikan.

c. Distribusi dan Logistik


Fungsi dan tugas bagian distribusi dan logistik di PT. Exeltis yaitu
menerima rencana permintaan produk jadi dari distributor, menerima permintaan
pengiriman produk jadi dari distributor, mengirimkan produk jadi ke distributor,
dan menerima barang pengembalian dari distributor.
Adapun kegiatan yang dilakukan bagian logistik di gudang bahan jadi meliputi:
a. Order handling (mengelola order yang masuk )
b. Memantau stock distributor (dengan menghubungi atau dihubungi
pihak distributor)
c. Pelaporan omset harian ke pimpinan

21
d. Melakukan pengadministrasian berupa tender e-catalog meliputi
produk trading dan ethical.
e. Melakukan pendataan yang terkait dengan data penjualan.
Pendistribusian produk jadi ke distributor dilakukan dengan cara
menggunakan jasa ekspedisi. Apabila konsumen atau pelanggan berada di dalam
kota, maka pendistribusian dilakukan menggunakan armada dan driver internal.
Apabila konsumenatau pelanggan berada di luar kota atau berada luar pulau,
makadilakukan kerjasama pendistribusian dengan pihak ketiga. Hal yang perlu
diperhatikan sebelum pendistribusian, yaitu dilakukan line clearance.Hal ini
bertujuan untuk melakukan pengecekan pada armada terkait kesiapan dan
kelayakan armada. Evaluasi pendistribusian dilakukan 6 bulan sekali untuk
mengevaluasi kinerja dari transporter.
B. QUALITY ASSURANCE
1. Ruang lingkup
Departemen QA atau pemastian mutu merupakan departemen yang
memiliki tanggung jawab besar dalam rangkaian sistem di suatu industri farmasi.
Departemen QA juga terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu
produk untuk memastikan tercapainya sasaran mutu, mulai dari awal pembuatan
suatu produk obat sampai dengan produk didistribusikan hingga pemantauan
produk di pasaran, sehingga tidak jarang QA sering disebut sebagai polisinya
industri farmasi.
2. Struktur Organisai di Departemen QA di PT. Nufarindo

Gambar 1. Struktur Departement Quality Assurance

22
3. Tugas dan peran
Departemen QA memiliki peran penting dalam regulasi sistem berjalan di
industry farmasi, adapun tugas dan perannya secara umum sebagai berikut :
1. Membentuk dan memastikan penerapan sistem mutu
2. Membentuk dan mengawasi audit internal atau inspeksi diri berkala
3. Memastikan pemenuhan persyaratan teknik atau peraturan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang berkaitan mutu produk
jadi
4. Mengevaluasi dan mengkaji catatan bets
5. Meluluskan atau menolak produk jadi untuk penjualan dengan
mempertimbangkan semua faktor terkait.
4. Bagian QA
a) Perilisan produk (Product Release)
Product release officerr bertanggung jawab dalam mengevaluasi semua
dokumen terkait proses sebagai penentu kelayakan perilisan produk. Dokumen
yang harus tersedia adalah sebagai berikut :
1) CPB (Catatan Pengolahan dan Pengemasan Bets)
2) LHA (Laporan Hasil Analisa)
3) Form Final Inspection, DP kemas primer, DP kemas sekunder
4) Sampel pertinggal Setelah semua dokumen tersebut terkumpul maka
produk tersebut diinput ke dalam sistem QAD.
QAD merupakan software yang digunakan PT. Nufarindo untuk
melihat dan memantau perkembangan produk dan kinerja masing-masing
departemen. Produk yang selesai diproses diletakkan di gudang karantina
dengan diberi status karantina dengan label warna kuning, apabila seluruh
dokumen sudah lengkap dan direview maka produk tersebut layak untuk
diluluskan. Adapun yang berhak meluluskan produk jadi adalah :
1) Manager QA
2) Supervisor QA, apabila manager QA berhalangan hadir
3) Apoteker yang telah ditunjuk.
Setelah dinyatakan diluluskan oleh QA, maka inspector QA akan
menempelkan label diluluskan pada masing-masing pallet produk karantina

23
Produk yang sudah dinyatakan rilis, akan dipindah ke gudang produk jadi dan
siap untuk didistribusikan
b) Kalibrasi dan Kualifikasi (Calibration and Qualification)
1) Kalibrasi (Calibration)
Kalibrasi adalah serangkaian tindakan atau kegiatan yang
dilakukan pada kondisi tertentu untuk menentukan tingkat kesamaan nilai
yang diperoleh dari sebuah alat, mesin, atau sistem ukur yang digunakan
kemudian dibandingkan dengan standar acuan nilai yang telah diketahui.
Kalibrasi lebih cenderung dilakukan pada alat ukur. Kalibrasi yang
dilakukan di PT Nufarindo ada 2 macam yaitu :
a) Kalibrasi internal
Kalibrasi eksternal merupakan kalibrasi yang dilakukan
sendiri oleh calibration officer di PT Nufarindo yang memiliki
keahlian dan secara keilmuan kompeten untuk melakukan kalibrasi,
dibuktikan dengan sertifikat pelatihan kalibrasi. Standar acuan yang
digunakan untuk kalibrasi harus memiliki ketelitian atau resolusi
yang lebih baik dari alat yang akan dikalibrasi.
b) Kalibrasi Eksternal
Kalibrasi eksternal merupakan kalibrasi yang dilakukan
dengan menggunakan jasa pihak ketiga yang telah bersertifikat.
Proses kalibrasi eksternal dilakukan dengan menyerahkan alat pada
pihak yang memiliki wewenang untuk melakukan kalibrasi. Serah
terima alat dilakukan dengan memberikan tanda terima dan dicatat
dalam logbook. Proses kalibrasi eksternal dilakukan dengan
mengirim alat atau mesin kepada pihak ketiga, atau bisa juga pihak
ketiga yang datang ke PT. Nufarindo untuk melakukan kalibrasi,
seperti contoh HPLC dan UPLC di laboratorium QC. Alat yang
telah dikalibrasi akan mendapatkan sertifikat atau label kalibrasi
dan hasil kalibrasi. Hal yang tercantum dalam sertifikat atau label
kalibrasi sebagai berikut :
i) Keterangan mengenai alat yang dikalibrasi (nama alat,
pabrik, tipe/model, nomor seri, kapasitas, dan resolusi)

24
ii) Pemilik alat beserta alamat
iii) Standar yang digunakan
iv) Referensi
v) Tanggal dilakukan kalibrasi
vi) Kondisi lingkungan saat dilakukan kalibrasi (suhu dan
kelembaban)
vii) Tempat dilakukan kalibrasi
viii)Hasil atau laporan kalibrasi meliputi nomor sertifikat,
nama alat dan pabrik pembuatnya, tipe alat, nomor seri,
kapasitas alat, hasil pembacaan alat, koreksi, dan
ketidakpastian.
2) Kualifikasi (Qualification)
Kualifikasi merupakan proses pembuktian secara tertulis
berdasarkan data yang menunjukkan kelayakan suatu peralatan, fasilitas,
sistem penunjuang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Tahapan
kualifikasi ada empat, yaitu :
a) Kualifikasi Desain
Kualifikasi yang dilakukan pertama kali dalam melakukan
validasi fasilitas, peralatan atau sistem yang baru. Kualifikasi
desain dilakukan pada saat ingin melakukan pembelian atau
pengadaan peralatan, harus memuat informasi yang jelas seperti
spesifikasi alat, manufacturer, dll.
b) Kualifikasi Instalasi
Kualifikasi dilakukan terhadap fasilitas, sistem dan peralatan
baru atau yang dimodifikasi, mencakup : instalasi peralatan, pipa
dan sarana penunjang hendaklah sesuai dengan spesifikasi dan
gambar teknik yang didesain. Kualifikasi instalasi dilakukan pada
saat pemasangan awal suatu peralatan atau instrumen.
c) Kualifikasi Operasional
Kualifikasi operasional dilakukan setelah kualifikasi
instalasi selesai dilaksanakan, dikaji dan disetujui. Kualifikasi
operasional dilakukan dengan melakukan proses atau

25
pengoperasian alat atau mesin tanpa produk. Contoh, mesin blister
dioperasikan dan diatur waktu 1 menit, apakah dalam waktu 1
menit tersebut mesin blister dapat menyelesaikan 30 cetakan yang
sesuai dengan spesifikasi mesin tersebut.
d) Kualifikasi Kinerja
Kualifikasi yang dilakukan pada saat pengoperasian mesin
dengan produk, bertujuan untuk melihat kemampuan atau kinerja
mesin dalam menjalankan skema produksi. Contoh mesin blister
dioperasikan dengan produk X, apakah proses dari semua produk X
(300 tablet) akan masuk blister dengan baik atau justru ada yang
terlewat, sehingga ada blister yang kosong tanpa tablet produk X.
c). Validasi (Validation Officer)
Validasi merupakan bagian dari departemen QA yang bertujuan untuk
memberikan pembuktian bahwa setiap proses, metode, prosedur, kegiatan,
sistem, perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi obat senantiasa
mencapai hasil yang diinginkan baik dari segi khasiat (efficacy), kualitas
(quality), maupun keamanan (safety). Validasi ada 3 yaitu validasi metode
analisa, validasi proses (prospektif, konkuren, dan retrospektif), dan validasi
pembersihan. Validasi metode analisa di PT. Nufarindo masuk ke dalam
departemen Quality Control (QC), yang dimana dikelola oleh bagian
Analytical Development (Andev). Sedangkan departemen QA di PT. Nufarindo
menaungi validasi proses dan validasi pembersihan
. 1) Validasi Proses
Validasi proses adalah suatu tindakan atau kegiatan yang bertujuan
dalam rangka penjaminan bahwa rangkaian proses yang dilakukan dalam
produksi obat senantiasa memenuhi standar dan sesuai dengan yang
diharapkan. Terdapat 3 janis validasi proses produksi yaitu :
a) Prospective validation
Validasi proses produksi yang dilakukan untuk produk-produk
baru (belum pernah diproduksi/dipasarkan sebelumnya) dan sebelum
dirilis ke market place. Validasi ini dilakukan setelah proses scale up
dan optimalisasi prosedur oleh departemen R&D.

26
b) Concurrent Validation
Validasi proses produksi yang dilakukan bersamaan dengan
produksi rutin dan produk sudah dipasarkan. Validasi ini juga perlu
dilakukan bila terdapat perubahan pada parameter kritis yang dapat
mempengaruhi mutu dan spesifikasi produk pada 3 bets berurutan.
c) Retrospective Validation
Validasi proses produksi yang dilakukan terhadap produk-
produk yang sudah lama diproduksi namun belum dilakukan validasi
proses. Validasi ini dilakukan dengan cara penelusuran dan review
data produk yang bersumber dari LHA dan batch record. Validasi
retrospektif dilakukan pada 10-30 bets yang telah diproduksi dan
untuk olah data hasil validasi dilakukan dengan menentukan
kapabilitas data masingmasing parameter uji. Jika dinyatakan tidak
ada perubahan berkaitan dengan parameter kritis yang mempengaruhi
mutuproduk, maka validasi dilakukan setiap 5 tahun sekali.
2) Validasi Pembersihan (Cleaning Validation)
Validasi pembersihan hendaklah dilakukan guna bertujuan untuk
meminimalkan kontaminasi. Perlu adanya penentuan batas kandungan
residu suatu poduk, bahan pembersih, dan pencemaran mikroba. Validasi
pembersihan dilakukan hanya untuk permukaan alat yang bersentuhan
langsung dengan produk namun perlu dipertimbangkan juga permukaan
yang tidak bersentuhan dengan produk.
Validasi pembersihan dilakukan dengan tujuan untuk memastikan
bahwa hasil pembersihan pembersihan menghasilkan output sesuai yang
telah dipersyaratkan misalnya (sisa residu zat aktif, deterjen, dan mikroba).
Validasi pembersihan dilakukan pada prosedur pembersihan suatu alat /
mesin terhadap produk tertentu yang disebut produk marker, dengan
kriteria sebagai berikut:
a) Bahan-bahan yang sulit dibersihkan
b) Produk-produk yang memiliki tingkat kelarutan yang jelek
c) Produk-produk dengan risiko dan potensivitas yang tinggi.

27
d) Untuk bahan yang sama, dipilih yang memiliki dosis yang
lebih tinggi.
Adapun untuk kriteria alat-alat atau mesin yang dilakukan validasi
pembersihan yaitu:
a) Peralatan atau mesin baru
b) Prosedur pembersihan yang baru (terjadi perubahan bahan /
alat / cara pembersihan)
Metode pengambilan sample dalam validasi pembersihan, diantaranya :
a) Swab, yaitu cara sampling dengan menggunakan swab test
b) Inert, cara sampling yang jarang digunakan karena
membutuhkan placebo
c) Rinsing, yaitu cara sampling dengan mengumpulkan air
bilasan akhir yang dilewatkan pada bagian mesin yang
hendak disampling. Metode ini dapat digunakan pada
permukaan mesin yang sukar dijangkau seperti pipa. Akan
tetapi, tidak menutup kemungkinan diaplikasikan pada
permukaan mesin yang luas atau lebar.
d. Document Review
Document review merupakan bagian yang terpenting karena
keseluruhan dokumen yang terkait dengan penjaminan kualitas produk
akan disimpan oleh document control. Tujuan document review yaitu
a) Menjamin ketersediaan dokumen apabila sewaktu-waktu
dibutuhkan
b) Melakukan pemantauan terhadap dokumen-dokumen yang
telah terdistribusi ke departemen terkait
c) Mengingatkan departemen terkait untuk melakukan review
terhadap dokumen yang dimaksud
d) Melakukan pencatatan apabila terjadi perubahan dokumen
dan dokumen tidak berlaku
e) Melakukan pendistribusian dokumen kepada departemen
terkait

28
Sistem dokumentasi ini diharapkan dapat diterima oleh seluruh
pegawai yang bersangkutan untuk dapat memahami dan mengerti secara
jelas alur atau proses yang harus dilakukan, supaya dapat mengurangi
terjadinya penyimpangan dan kesalahan. Sistem dokumentasi terbagi
menjadi dua, yaitu :
a) Dokumen original, yaitu dokumentasi yang memuat approval
manajer QA dengan tanda tangan basah menggunakan pena warna
biru
b) Dokumen copy, yaitu dokumen yang telah didistribusikan kepada
departemen terkait dan merupakan hasil copy dari dokumen
original.
Adapun dokumen-dokumen yang dimaksud, sebagai berikut :
a) SOP (Standard Operating Procedure)
b) Spesifikasi bahan baku, pengemas, produk jadi
c) Catatan Pengolahan Batch / Catatan Pengemasan Batch
d) Identifikasi (kode/penomoran SOP, peralatan, batch)
e) Penandaan (status ruangan, mesin, label bahan baku, karantina,
rejected)
f) Protokol dan laporan kualifikasi atau validasi
g) Dokumen registrasi
h) Dokumen Penyimpanan dan distribusi
i) Kartu persediaan
j) Catatan distribusi obat jadi
k) Dokumen penanganan keluhan, obat kembalian dan penarikan obat
jadi.
Berdasarkan Standar Operasional Prosedur dilakukan revisi paling
lama 3 tahun atau setiap saat apabila terjadi perubahan. GMP
Compliance officer akan menyusun program review dokumen dalam 1
tahun yang akan dirincikan menjadi setiap bulannya. Setelah dilakukan
review dan dicatat pada formreview document, selanjutnya akan
diputuskan apakah dokumen tersebut harus direvisi atau sudah tidak
berlaku (obsolete). Apabila dokumen tersebut harus direvisi maka

29
departemen yang bersangkutan harus segera merevisi dan menyerahkan
ke bagian GMP Compliance officer. Kemudian dokumen yang lama akan
ditarik dan dianggap sudah tidak berlaku (obsolete).
Dokumen yang sudah tidak berlaku (obsolete) akan dicatat dalam
BAP (Berita Acara Pemusnahan) sebelum proses pemusnahan. Sebelum
dimusnahkan dokumen tersebut dilakukan proses scanning, untuk
mempersiapkan apabila sewaktuwaktu diperlukan. Proses pemusnahan
dilakukan kerjasama dengan pihak ketiga
e.Training Kepegawaian
Training kepegawaian merupakan pelatihan yang diberikan
kepada pegawai dengan harapan pegawai tersebut mampu menjalankan
tugas dan perannya sesuai dengan bagian yang dikerjakan. PT Nufarindo
membagi dua training kepegawaian, yaitu :
1) Training internal, yaitu pelatihan yang diberikan oleh
supervisor departemen terkait atau pegawai lama yang sudah
dianggap berkompeten untuk melakukan training kepada
karyawan atau pegawai baru. Training internal terbagi lagi
menjadi 2, yaitu :
a) Training pegawai baru, yaitu pelatihan yang diberikan
kepada pegawai baru yang belum pernah mendapatkan
pelatihan, atau yang sering disebut OJT (On the Job
Training).
b) Refresh Training, yaitu pelatihan rutin yang diberikan
kepada pegawai dengan harapan memperkuat ketrampilan
dan ingatan dalam bidang tersebut, dan dilakukan biasanya
1 tahun sekali atau terdapat penyimpangan yang perlu
dilakukan training ulang.
2) Training eksternal, yaitu fasilitas yang diberikan oleh industri
atau perusahaan kepada pegawai atau karyawan untuk melakukan
pelatihan di luar, seperti dengan mengirimkan pegawai tersebut
untuk ikut serta dalam kegiatan seminar, biasanya training
eksternal ini akan bergabung dengan pegawai-pegawai lain di

30
industri farmasi lain. Sehingga diharapkan wawasan akan
semakin luas dan pengalaman semakin bertambah.
f. Penanganan Keluhan dan Penarikan Kembali Produk Keluhan
(compliance) atau informasi lain yang berhubungan dengan
kemungkinan terjadinya kerusakan atau kesalahan produk merupakan
evaluasi umpan balik yang diterima dari dalam dan luar perusahaan
terhadap produk yang telah didistribusikan. Apabila terjadi keluhan dari
konsumen perlu dilakukan penangaan serta pengkajian secara teliti untuk
memperbaiki dan meningkatkan proses serta kualitas produk. Sumber
keluhan ada dua, yaitu :
1) Keluhan internal, yaitu keluhan yang berasal dari dalam perusahaan
seperti diterima dari departemen marketing, produksi, QA,QC, SCM
dan departemen lain.
2) Keluhan eksternal, yaitu keluhan yang berasal dari pihak luar seperti
Distributor, Rumah Sakit, Apotek, Toko Obat, Dokter, Pemakai,
Pasien. Keluhan eksternal merupakan keluhan dari produk yang telah
didistribusikan dan diedarkan.
Penanganan keluhan ditunjuk personil yang bertanggungjawab
untuk menangani keluhan dan memutuskan tindakan yang harus
dilakukan. Apabila mendapat keluhan, bagian marketing terlebih dahulu
yang akan menerima keluhan tersebut, bagian marketing memberikan form
laporan keluhan kepada pihak pelapor supaya menjadi laporan yang valid,
selanjutnya pihak marketing meneruskan kepada departemen QA untuk
dilakukan investigasi, departemen QA menginformasikan kepada seluruh
departemen terkait untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Setelah
dilakukan investigasi maka didapatkan rootcause selanjutnya ditentukan
CAPA, supaya akar permasalahan menjadi rinci dan dapat ditarik
kesimpulan dan solusi. Setelah didapatkan kesimpulan dan solusi
departemen QA membuat surat balasan untuk diserahkan kepada pihak
pelapor. Proses investigasi sampai diterbitkan surat balasan harus selesai
dalam waktu 20 hari. Penarikan produk kembali diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu:

31
1) Recall Mandatory, yaitu penarikan produk atas perintah dari
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal itu dapat terjadi
karena pihak BPOM melakukan pengujian dari produk yang telah
diedarkan di pasaran, dan mendapatkan hasil yang tidak sesuai
dengan standar persyaratan yang telah disubmit ke BPOM.
Penarikan produk jenis ini bersifat wajib, walaupun pihak internal
perusahaan telah melakukan uji ulang dan mendapatkan hasil yang
sesuai dengan persyaratan menggunakan sampel pertinggal.
2) Recall Voluntary, yaitu penarikan produk atas inisiatif
perusahaan setelah produk diedarkan di pasaran dan dalam jangka
waktu tertentu dilakukan pengujian stabilitas yang didapatkan hasil
tidak memenuhi standar persyaratan. Penarikan keluhan jenis ini
jarang terjadi di industri farmasi.

g.Penanganan Penyimpangan (Deviation Handling)


Penanganan Penyimpangan (Deviation Handling) merupakan bagian
untuk melakukan penelusuran apabila terdapat penyimpangan.
Penyimpangan dapat berasal dari departemen manapun, namun bagian QA
yang akan melakukan tindak lanjutnya setelah mendapat laporan dari form
penanganan penyimpangan.
Dokumentasi penyimpangan ditulis bagaimana kronologis
terjadinya penyimpangan dan diidentifikasi akar permasalahannya.
Kemudian dilakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mengatasi
penyimpangan yang dimaksudkan. Penyimpangan di industry farmasi
terbagi menjadi dua, yaitu :
1) Penyimpangan bets, yaitu penyimpangan yang terjadi selama
proses batch tersebut berlangsung, seperti contoh salah saat proses
coding box atau coding etiket.
2) Penyimpangan non bets, yaitu penyimpangan yang terjadi diluar
proses batch tersebut, seperti suhu, kelembaban (RH), dan Standar
Operasional Prosedur.
h. Audit Internal dan Eksternal
1) Audit Internal

32
Audit internal / inspeksi diri secara internal merupakan cara
untuk mengkaji kembali secara objektif seluruh tata kerja diri sendiri
dari setiap aspek yang mungkin berpengaruh pada jaminan mutu. Audit
internal artinya, audit atau inspeksi tersebut dilakukan oleh pihak PT.
Nufarindo sendiri. Proses audit dilakukan terhadap personalia,
dokumen, dan ruangan atau bangunan. Audit internal dilakukan setiap 6
bulan sekali, dan biasanya dilakukan oleh departemen yang netral untuk
menilai departmen lain bertujuan supaya hasilnya tidak terjadi
konspirasi suara, kemudian setelah dilakukan audit dibuat laporan
CAPA (Corrective Action Plan).
Laporan tersebut kemudian dibagikan ke departemen
bersangkutan sebagai evaluasi bagi departemen tersebut agar
melakukan tindakan pencegahan agar kedepannya tidak ditemukan
penyimpangan kembali. Dalam pelaksanaannya, tim yang audit internal
harus mampu menilai secara obyektif pelaksanaan CPOB terkini pada
semua bagian yang terkait dengan pembuatan obat, termasuk berbagai
dokumen yang terkait dengan bagian yang dinspeksi seperti protap,
dokumen validasi/kualifikasi, catatan bets, dan lain-lain. Protap
pelaksanan audit internal dan catatan hasil audit harus disimpan dan
didokumentasikan. Salah satu contoh audit internal di PT. Nufarindo
adalah audit terkait slogan 5R (Resik, Rapi, Ringkas, Rajin, Rawat).
Hal-hal yang perlu dilakukan audit yaitu diantaranya:
i) Karyawan : Catatan kesehatan,Catatan pelatihan, Sanitasi
dan Higiene
ii) Bangunan (termasuk sarana penunjang)
Kualitas ruangan produksi (jumlah partikel, suhu/kelembaban
yang dipatau melalui dengan magnehelic, kebersihan dll)
2) Audit eksternal
Audit eksternal yaitu audit yang dilaksanakan terhadap pihak ketiga yang
berhubungan dengan industri farmasi yang bersangkutan, misalnya
terhadap pemasok (supplier) baik bahan baku maupun bahan kemas,
dan audit kepada distributor . Seperti halnya dalam pelaksanaan

33
program audit internal, pelaksanaan audit eksternal harus terdapat
prosedur tetap serta dilakukan secara berkala. Berdasarkan SOP yang
telah dibuat, audit eksternal terhadap supplier dilakukan setiap 5 tahun
sekali untuk supplier yang tidak bermasalah. Audit eksternal juga dapat
dilakukan kurang dari 5 tahun sekali apabila supplier tersebut
bermasalah. Selain itu audit eksternal juga dapat berupa audit dari pihak
lain seperti BPOM ke industri farmasi.
i.Packaging Development and Registration Dossier
1) Packaging Development
Packaging Development berperan dalam pengembangan
kemasan bekerjasama dengan bagian desainer kemasan, marketing,
SCM, produksi, teknisi, procurement, QC, dan regulatory affair.
Sejatinya packagingdevelopment adalah bagian dari departemen
Research and Development (RnD). Namun di PT. Nufarindo
Packaging Development masuk dalam departemen QA. Bagian ini
melakukan koreksi terhadap penandaan dengan cara yaitu
penyesuaian dengan penandaan pada kemasan yang telah disetujui
BPOM atau sudah mendapat izin edar dari BPOM. Pengembangan
kemasan meliputi penandaan, etiket, brosur, box, warna, huruf yang
mengacu pada kriteria yang ditetapkan. Standar warna dan
spesifikasi bahan kemas yang telah disetujui akan menjadi acuan QC
dalam melakukan pemeriksaan dan pelulusan kemasan yang akan
digunakan untuk proses pengemasan obat.
Untuk kemasan primer yang diterima dari supplier, dilakukan
pengecekan CoA yang disertakan oleh pihak supplier, kemudian
dilakukan pengecekan terhadap parameterparameter yang
ditentukan, cek visual seperti ukuran, lay out, warna, teks dan juga
cek fungsional seperti filling level dan kebocoran (trial mesin).
2) Registration Dossier
Registrasi dilakukan untuk mendaftarkan produk sehingga
mendapatkan izin untuk diedarkan dalam bentuk NIE (Nomor Izin

34
Edar) yang dikeluarkan oleh BPOM. Registrasi yang dilakukan
adalah:
a) Registrasi Obat Baru untuk mendapatkan NIE.
b) Registrasi Renewal untuk memperpanjang NIE produk
yang masa berlaku NIE akan berakhir.
c) Registrasi variasi, yaitu registrasi untuk produk yang
mengalami perubahan, seperti perubahan formula dan
perubahan kemasan.
Alur registrasi obat yang ada di PT. Nufarindo adalah QA
officer yang bertanggungjawab terhadap pengumpulan dokumen
registrasi obat melengkapi semua keperluan dokumen yang
diperlukan untuk melakukan registrasi kemudian dikirimkan kepada
bagian Regulatory Affair untuk selanjutnya diperiksa kelengkapan
dokumen dan diserahkan ke BPOM Dossier atau dokumen-dokumen
mutu obat yang diperlukan dan harus dilengkapi untuk melakukan
registrasi obat meliputi:
a) Catatan pengolahan bets dan pengemasan bets (batch
record)
b) Kontrol bahan baku meliputi spesifikasi dan WI pengujian
bahan baku (bahan aktif dan tambahan), sertifikat analisa
(CoA) produk jadi.
c) Kontrol baku pembanding, meliputi sertifikat analisa baku
pembanding primer (Reference Standard) dan baku
pembanding kerja (WorkingStandard)
d) Protokol dan laporan validasi proses
e) Protokol dan laporan validasi metode analisa
f) Protokol dan laporan uji stabilitas
g) Dokumen kemasan, meliputi spesifikasi bahan kemas,
sertifikat analisa (CoA) bahan kemas, desain kemasan, dan
foto produk
h) Dokumen uji disolusi terbanding atau uji Bioekivalensi
(bila dipersyaratkan)

35
i) Dokumen pengembangan produk (apabila yang diajukan
obat baru)
Registrasi dilakukan dengan submit dokumen registrasi dengan
mengisi formulir registrasi produk dan produk biologi disertai bukti
pembayaran biaya evaluasi dan pendaftaran pada pihak BPOM. Izin edar
obat yang telah dikeluarkan oleh BPOM berlaku selama 5 tahun.
Diharapkan sebelum izin edar berakhir harus sudah melakukan registrasi
ulang sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum masa berlaku habis. BPOM
memiliki persyaratan untuk dapat meluluskan dan mengeluarkan nomor
izin edar dengan syarat yang harus dimiliki suatu produk obat, adapun
persyaratannya adalah sebagai berikut:
a) Khasiat (Efficacy) yang meyakinkan bahwa obat tersebut
memiliki indikasi sesuai dengan yang tertulis pada kemasan
obat
b) Keamanan (Safety) yang memadai yang dibuktikan melalui
uji preklinik dan uji klinik atau bukti-bukti lain yang sesuai
dengan status perkembangan ilmu pengetahuan.
c) Mutu (Quality) yang memenuhi syarat, dinilai dari
personalia yang sudah terkualifikasi dan berkompeten pda
bidangnya, bangunan, proses produksi telah sesuai dengan
CPOB, spesifikasi dan metode analisa terhadap semua bahan
yang digunakan serta produk jadi dengan bukti yang valid.
d) Penandaan (Labelling) berisi informasi yang lengkap dan
obyektif yang dapat menjamin penggunaan obat secara tepat,
rasional, dan aman.
PT. Nufarindo selalu menekankan di setiap tahapan untuk selalu
mementingkan quality dan labeling dari mulai material datang, proses,
sampai produk jadi dan didistribusikan ke pelanggan atau konsumen.
j. QA Inspector
QA Inspector pada departemen QA bertugas untuk melakukan
inProcess Control (IPC) terhadap produk yang sedang dalam masa
Produksi dilakukan di ruang IPC di bagian produksi. Sediaan tablet atau

36
kapsul dicek secara fisik, meliputi keseragaman bobot, kerapuhan, waktu
hancur, uji kekerasan, diameter serta ketebalan, untuk sediaan sirup
dilakukan pemeriksaan pemerian, uji kebocoran menggunakan leak test
apparatus dan uji keseragaman volume, sedangkan sediaan salep
dilakukan pemeriksaan pemerian, uji keseragaman bobot. QA Inspector
juga melakukan inspeksi akhir terhadap produk akhir hasil produksi atau
disebut final inspection, yang meliputi :
1) Master box : kondisi fisik, label, jumlah box, berat
2) Box : kondisi fisik, nama produk, segel (logo), jumlah strip /
blister / botol / tube / pot tiap bos, no batch, tanggal produksi,
kadaluarsa, HET, brosur.
3) Pemeriksaan strip / blister / botol / tube / pot : kondisi fisik, nama
produk, no batch, jumlah tablet / kaplet / kapsul / per strip / blister,
sendok/measuring cup, kesempurnaan sealing (tidak bocor), tube /
pot / PP cap tidak penyok.
k. QA Administration
QA Administration memiliki tugas dan tanggung jawab :
1) Melakukan input data ke dalam sistem komputerisasi. Data yang
diinput adalah semua data produksi dan hasil pengujian suatu produk
yang dilihat dari catatan pengolahan bets, catatan pengemasan bets
dan catatan pengujian.
2) Melakukan distribusi dokumen yang telah disetujui (Batch record,
SOP, Catatan mutu, dll) dan mendokumentasikan guna pemenuhan
terhadap CPOB
3) Mengatur penyimpanan dan pemusnahan dokumen mutu seperti
Batch
record, SOP, Catatan mutu, dll.
Masa simpan batch record dan catatan pengujian maksimal 1 tahun
setelah tanggal kadaluarsa produk. Sedangkan untuk masa simpan
dokumen SOP, catatan mutu, master batch record maksimal 1 bulan
setelah dokumen obsolete (tidak berlaku) untuk selanjutnya
dilakukan pemusnahan dokumen.

37
C. QUALITY CONTROL
1. Ruang lingkup
Quality Control (QC) merupakan bagian dari Good ManufacturingPractice
(GMP) dengan tujuan memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten
mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Departemen Quality
Control bertanggung jawab dalam melaksanakan mutu suatu produk yang dihasilkan
oleh industri farmasi agar senantiasa memiliki persyaratan mutu yang telah
ditetapkan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Pengawasan Mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tetapi juga harus
terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk.
Ketidaktergantungan pengawasan mutu dari produksi dianggap hal yang fundamental
agar pengawasan mutu dapat melakukan kegiatan dengan memuaskan (CPOB,
2012).
Kegiatan pengawasan mutu meliputi penyusunan dan pembaharuan spesifikasi
bahan dan produk serta metode pengujiannya pemeriksaan bahan awal, bahan
pengemas, produk antara, produk ruahan, produk jadi, sampel air untuk proses
produksi, sampel validasi proses, pengembangan metode analisis, pembakuan baku
kerja, melakukan validasi metode analisis, pengambilan sampel dan pemeriksaan
sampel limbah dan lingkungan.
Secara umum, keberadaan pengawasan mutu meliputi pembangunan, validasi
dan implementasi dari seluruh prosedur pengawasan mutu, dimana kesemuanya
bertujuan untuk mengevaluasi, pemeliharaan dan penyimpanan untuk pemenuhan
terhadap standar yang berlaku. Tahapan dari pada saat awal bahan baku masuk,
kemudian sampai pada tahapan pembuatan produk serta pemasaran produk tidaklah
terlepas dari bagian pengawasan mutu. Oleh karena itu seluruh rangkaian kegiatan
tersebut harus terdokumentasikan, sebagai bukti bahwa semua telah sesuai dengan
prosedur.
Departemen QC di PT. Nufarindo memiliki tugas dan wewenang diantaranya,
sebagai berikut
1) Pembuatan Standar Operasional Prosedur terkait
2) Pelulusan/penolakan raw material dan packaging material.
3) Pelulusan/penolakan produk antara dan produk ruahan.

38
4) Stabilitas produk
5) Pengelolaan sample pertinggal (retained sample)
6) Pengembangan metode analisa
2.Tugas dan peran
a. QC Manager
Penanggung jawab departemen pengawasan mutu atau yang biasa disebut
manager QC harus dikepalai oleh seorang Apoteker, hal tersebut sudah diatur
dalam buku pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB 2012).
Manager QC di PT. Nufarindo saat ini dikepalai oleh seorang Apoteker, sehingga
sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Adapaun tugas dan tanggung
jawab manager QC, diantaranya :
1) Mengevaluasi dan menetapkan stabilitas produk dan bahan sesuai
standar
2) Mereview dokumen-dokumen terkait pengawasan mutu
3) Mereview laporan hasil analisa pengujian stabilitas
4) Bertanggung jawab atas ketersediaan spesifikasi dan metode uji bahan
awal, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi
5) Bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan seluruh aktifitas
departemen pengawasan mutu mencakup pelaksanaan tugas di
laboratorium fisika kimia, mikrobiologi
6) Bertanggung jawab atas keputusan meluluskan atau menolak bahan
awal, produk antara dan produk ruahan
7) Bertanggung jawab untuk pengembangan dan pelatihan karyawan
bawahannya, menjaga disiplin, memelihara, memotivasi kerja dan
melakukan evaluasi kinerja
b. Analytical Development (ANDEV)
Analytical Development merupakan bagian yang bertanggung jawab
melakukan pengembangan metode analisis. Proses pengembangan metode
analisis dilakukan menyesuaikan produk yang akan dibuat dan produk yang
telah beredar di pasaran dengan mengidentifikasi perubahan metode pengujian
apabila diperlukan yang mengacu literature seperti Farmakope Indonesia, USP,
EP, BP dll.

39
Secara teori ANDEV tergabung dalam departemen Reasearch and
Development (R&D), namun di PT. Nufarindo bagian ANDEV tergabung dalam
departemen QC. Hal ini dikarenakan secara teknis pelaksanaan ANDEV lebih
sering melakukan pengembangan maupun pengujian metode di laboratorium QC
Validasi metode yang harus terpenuhi pada saat pengembangan metode analisis
meliputi kecermatan (accuracy), keseksamaan (precision), selektivitas
(spesifisitas), batas deteksi (LOD), linearitas (linearity), batas kuantitasi (LOQ),
ketangguhan metode (ruggedness), kekuatan (robustness).
c. Stability Analyst
Pengujian stabilitas dilakukan untuk mengetahui kecepatan penurunan
mutu obat jadi sehingga dapat membantu dalam penanggulangannya dan untuk
menentukan formulasi, jenis dan spesifikasi bahan kemas, kondisi penyimpanan
yang sesuai dan penetapan kadaluarsa, dengan demikian obat yang dihasilkan
dengan identitas, kekuatan dan kualitas dan kemurniannya, berdaya guna sesuai
dengan fungsinya. Setiap perubahan formula diperlukan uji stabilitas. Produk
yang dilakukan pengujian stabilitas disimpan dalam Climatic Chamber sesuai
dengan suhu masing-masing pengujian. Metode pengujian stabilitas terbagi
menjadi 3 tipe, yaitu jangka cepat (Accelerated Time), jangka panjang (Real
Time), dan on going.
1) Uji stabilitas jangka cepat (Accelerated Time)
Pengujian stabilitas Accelerated Time dilakukan minimal 2 batch pada
setiap produk. Pengujian tipe ini dilakukan pada kondisi penyimpanan
sebagai berikut yaitu pada suhu 40°C ± 2˚C dan kelembaban (RH) 75% ±
5%, lama periode pengujian ini yaitu 6 bulan dengan interval 0 bulan, 3
bulan, dan 6 bulan. Pengujian selama 6 bulan pada suhu dan kelembaban
tersebut sudah merefleksikan pengujian 2 tahun real time.
2) Uji stabilitas jangka panjang (Real Time)
Pengujian stabilitas Real Time dilakukan pada dilakukan minimal 2 batch
setiap produk. Pengujian tipe ini dilakukan pada kondisi penyimpanan
sebagai berikut yaitu pada suhu 30°C ± 2˚C dan kelembaban (RH) 75% ±
5%, lama periode pengujian tergantung dari waktu kadaluarsa produk.
Pengujian Real Time terbagi dalam berbagai interval, yaitu pada tahun

40
pertama setiap 3 bulan sekali, tahun kedua setiap 6 bulan sekali, tahun
ketiga dan seterusnya setiap 1 tahun sekali.
3) Uji stabilitas On-Going
Pengujian stabilitas On-Going dilakukan terhadap produk yang telah
diproduksi dan beredar di pasaran berdasarkan masa edar untuk menjamin
bahwa produk tetap serta memenuhi spesifikasi selama dijaga dalam
kondisi penyimpangan suhu 30°C ± 2 dan kelembaban (RH) 75% ± 5%,
berbeda dengan pengujian stabilitas Accelerated Time maupun Real Time,
dimana pengujian stabilitas on-going dilakukan minimal pada 1 batch
produk yang diproduksi pada setiap tahunnya, dipilih batch yang pertama
untuk memudahkan identifikasi. Hal tersebut telah diatur dalam buku
pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) 2012, lama periode
pengujian tergantung dari waktu kadaluarsa, dengan interval pengujian 1
tahun sekali sampai masa kadaluarsa berakhir. Jenis pengujian yang
dilakukan dalam uji stabilitas produk di PT. Nufarindo mengacu pada
spesifikasi masing-masing produk.
d. Microbiology Analyst
Bagian analisis mikiobiologi bertugas melakukan pengujian mikrobiologi
terhadap bahan baku dan produk, melakukan pemantuan lingkungan, dan
validasi pembersihan. Pengujian mikrobiologi tidak dilakukan pada semua bahan
baku dan produk, melainkan beberapa produk saja yang dipersyaratkan.
Penyiapan pengujian mikrobiologi dimulai dari pembuatan media.Pembuatan
media dilakukan secara aseptis di bawah Laminar Air Flow, untuk menghindari
kontaminasi mikroba lain selama analisis dilakukan. Pengujian mikrobiologi
dilakukan di laboratorium uji mikrobiologi yang berada di laboratorium QC,
laboratorium mikrobiologi didesain seperti ruang produksi yaitu grey area
dengan lantai epoksi dan dilengkapi sistem HVAC sendiri sebagai pengaturan
sirkulasi udara, karena sirkulasi udara sangat berpengaruh dengan terjadinya
kontaminasi. yang memiliki kelas A untuk area di bawah LAF, kelas C untuk
area micro lab testing, dan kelas D untuk area di sekitar (di luar) micro lab
testing. Uji mikroba yang dilakukan di PT. Nufarindo berupa pengujian angka
lempeng total (ALT), angka kapang - khamir (AKK), dan uji mikroba spesifik

41
meliputi bakteri Escherichia coli,Staphylococcus aureus, Pseudomonas
aeroginosa, Salmonella sp.
e. Product Analyst
Analis produk merupakan bagian dari QC yang bertugas untuk melakukan
pengujian terhadap produk antara dan produk ruahan. Produk antara adalah
setiap campuran bahan obat yang masih memerlukan satu atau lebih tahapan
pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan, contoh dari produk antara
adalah hasil granulasi karena masih memerlukan tahapan lain seperti tableting,
coating, atau polishing. Pengujian produk antara bertujuan untuk memastikan
sudah memenuhi spesifikasi dan mencegah kesalahan pada tahapan berikutnya.
Produk ruahan adalah bahan obat yang telah selesai diolah tinggal
memerlukan pengemasan untuk menjadi produk setengah jadi, contoh dari
produk ruahan adalah hasil pencetakan tablet, hasil pengisian kapsul. Pengujian
produk ruahan mengacu padaspesifikasi dari masing-masing produk. Pengujian
dilakukan terhadap sampel yang mewakili, yang diambil pada bagian atas,
tengah, dan bawah (ATB). Alur pengujian produk antara dan ruahan,
diantaranya :
1) Hasil pengujian memenuhi syarat maka digunakan untuk proses
selanjutnya.
2) Hasil pengujian tidak memenuhi syarat dilakukan investigasi, dibuat
laporan penyimpangan, dilakukan proses ulang (reprocess), atau ditolak
(rejected), setelah dilakukan reprocess dan memenuhi syarat maka dapat
digunakan untuk proses selanjutnya.
Macam-macam pengujian yang dilakukan pada produk antara dan produk
ruahan berdasarkan bentuk sediaan, diantaranya :
1) Tablet Produk antara, meliputi identifikasi, keseragaman bobot,
disolusi dan kadar zat aktif. Produk ruahan, meliputi keseragaman bobot,
waktu hancur, kekerasan, kerapuhan, diameter atau tebal, kadar zat aktif
dan disolusi.
2) Kapsul Produk ruahan, meliputi keseragaman bobot, waktu hancur,
kadar zat aktif, dan disolusi.

42
3) Sirup dan suspensi Produk antara, meliputi bobot jenis, pH, kadar, dan
kekentalan (viskositas) Produk ruahan, meliputi keseragaman volume
(volume terpindahkan), kadar, dan batas mikroba.
f. Raw Material Analyst
Analis bahan baku merupakan bagian yang bertanggung jawab atas
pemeriksaan kualitas bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi
maupun trial departemen R&D. Parameter pemeriksaan dan pengujian terhadap
bahan baku disesuaikan dengan kompendia dan spesifikasi dari masing-masing
bahan baku, diantaranya pemerian bahan baku,LossOn Drying (LOD), kadar
bahan baku, kelarutan, kadar air. Proses pengujian bahan baku dimulai dari
bahan baku datang dan masuk ke Raw Material Warehouse setelah melalui
proses pengecekan awal yang dikelola oleh departemen Supply Chain
Management (SCM), bagian gudang membuat order pengujian ke bagian QC.
Selanjutnya bagian QC akan menginput order pengujian ke system dan
dilakukan proses selanjutnya yaitu pengambilan sampel bahan baku . Analis
bahan baku melakukan pengujian identifikasi menggunakan alat Handheld
RamanSpectroscopy terhadap semua wadah bahan baku aktif yang datang .
Proses pengambilan sampel pengujian bahan baku dilakukan oleh analis
sampling departemen QC di ruang sampling dengan menggunakan APD lengkap
dan ruang yang terpisah untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Setelah
dilakukan sampling berdasarkan jumlah yang ditetapkan masing-masing bahan
baku, dilakukan pengujian di laboratorium QC.
Alur proses pengujian bahan baku, diantaranya :
1) Hasil pengujian memenuhi syarat, maka bagian admin QC akan
mencetak label warna hijau “DILULUSKAN” dan analis QC akan
menempelkan label tersebut di gudang bahan baku.sesuai nama bahan
baku, nomer artikel.
2) Hasil pengujian tidak memenuhi syarat, maka dilakukan pengujian
ulang oleh analis yang berbeda. Apabila masih dinyatakan tidak
memenuhi syarat, maka bahan baku tersebut diberi label warna merah
“DITOLAK” dan analis QC akan menempelkan label tersebut di

43
gudang bahan baku sesuai nama bahan baku, nomer artikel kemudian
bahan baku akan dipindahkan ke area reject.
G.Retain Sample
Retained sample merupakan merupakan sampel pertinggal yang disimpan
di ruang retain sample, bertujuan untuk apabila terjadi klaim dari pihak internal
maupun eksternal dapat dilakukan pemeriksaan dan pengujian sesuai spesifikasi
produk masing-masing. Retain sample dikelola oleh departemen QC, karena
bagian pengujian dan pengawasan dilakukan oleh departemen QC.
Retainedsample diambil untuk setiap batch dengan diamabil secukupnya
minimal untuk dua kali analisis. Retained sample disimpan sesuai dengan klaim
suhu yang ada pada kemasan masing-masing produk. Retained sample disimpan
sampai satu tahun setelah masa kadaluwarsa produk berakhir.
H. Monitoring air
PT. Nufarindo memiliki 2 jenis air, yaitu purified water (PW) dan treated
water (TW). Purified water merupakan air yang digunakan pada proses produksi
dan pembilasan terakhir untuk peralatan yang kontak langsung dengan produk
maupun bahan baku, sedangkan treated water digunakan untuk proses
pembersihan alat. Walaupun kedua jenis air tersebut berbeda fungsinya, namun
harus tetap dikontrol selama 1 minggu dengan cara sampling air yang dilakukan
oleh analis. Proses sampling air dilakukan setiap hari kerja, dan dilakukan pada
titiktitik yang berbeda pada setiap harinya.
Purified water memiliki 23 titik, sedangkan treated water memiliki 15
titik. Purified water monitoring dilakukan dalam seminggu yang mencakup
semua titik sampling, akan tetapi jika PW atau TW dilakukan sanitasi maka
setelah sanitasi semua titik sampling harus diambil sampelnya. Alur sampling air
dimulai dari operator menyiapkan botol-botol untuk wadah air hasil sampling,
selanjutnya operator menggunakan APD lengkap apabila melakukan sampling
air di area produksi. Masing-masing titik sampling air, sebelum kran dibuka
dilakukan fiksasi dengan mengapikan dan menyemprot alcohol, hal ini bertujuan
agar air yang dikeluarkan terbebas dari kuman dan bakteri. Biarkan air mengalir
dan buang sebanyak ±2 mat @1000 mL, hal ini bertujuan supaya mendapatkan
air yang stabil dan bersih. Setelah itu diambil untuk pengisian 3 botol, yang

44
selanjutnya untuk dilakukan pengujian pemerian,conductivity, pH, dan Total
Organic Carbon (TOC), dan uji batas mikroba.
i. Packaging Material Analyst
Analis packaging material merupakan bagian yang bertanggung jawab
melakukan pemeriksaan bahan kemas berdasarkan spesifikasi masing-masing
bahan kemas. Pemeriksaan bahan kemas dilakukan terhadap sampel yang
mewakili populasi bahan kemas. Proses pemeriksaan bahan kemas hampir mirip
dengan pengujian bahan baku yaitu dimulai dari bahan kemas datang dan periksa
oleh bagian gudang dan diteruskan ke departemen QC.
Sampling dilakukan oleh analis QC bagian analis bahan kemas di
Packaging Material Warehouse dan pengujian dilakukan di laboratorium QC
area packaging material. Beberapa hal yang diperiksa oleh analis packaging
material diantaranya : Bahan pengemas primer alumunium foil, yang meliputi
mengukur panjang, lebar, gramatur, tulisan nama , warna, tebal. Tube, meliputi
uji kebocoran warna, berat, ukuran, tebal. Blister dan strip, meliputi pengujian
panajng, lebat ketebalan, grammatur. Botol, meliputi diameter, tinggi, ketebalan
uji mikrobakteri. Master box dan box, meliputi panjang, lebar, tinggi, tebal,
grammatur, warna, dan tulisan. Pemeriksaan ketebalan kemasan yang meliputi
alumunium foil, etiket, stiker, master box, box menggunakan alat thickness
tester. Jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter tutup, PP cap, mulut
botol, dan tinggi botol. Penggunaan alat pemeriksaan tersebut mengacu Work
Instruction penggunaan dan pemeliharaan masing-masing alat. Dokumen
spesifikasi bahan kemas, work instruction, maupun standar color guide di PT.
Nufarindo sudah disusun secara rapi berdasarkan jenis bahan kemas dan
diurutkan sesuai alfabetis.

45
3. Struktur Departement Quality Control

Plant Director

Manager QC

Analitical
Development

Analis Analis Analis Analis Analis Admin


Development Stability RPM Mikrobiologi Produks
i

Gambar 2. Struktur departemen Quality Control

D. PRODUCTION DEPARTEMENT
Departemen produksi Exeltis (PT Nufarindo) dipimpin oleh seorang apoteker
sebagai kepala bagian (manager) produksi dengan membawahi tiga orang apoteker
sebagai supervisor, lima officer dan seorang administrator. Kepala bagian Produksi
hendaklah memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam produksi obat,
termasuk (CPOB, 2012) :
1. Memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai prosedur agar
memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan;
2. Memberikan persetujuan petunjuk kerja yang terkait dengan produksi dan
memastikan bahwa petunjuk kerja diterapkan secara tepat;
3. Memastikan bahwa catatan produksi telah dievaluasi dan ditandatangani oleh
kepala bagian produksi sebelum diserahkan kepada kepala bagian manajemen
mutu (pemastian mutu);
4. Memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan di bagian
produksi;
5. Memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan; dan
6. Memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi personil di
departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan.

46
Supervisor produksi bekerja dibawah pimpinan kepala bagian produksi dan
bertanggung jawab dalam merencanakan, mengawasi, dan mengontrol terkait jalannya
seluruh kegiatan produksi mulai dari plan production hingga packing product.
Seluruh kegiatan produksi dilakukan oleh operator dengan diawasi oleh
supervisor dan manajer produksi. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di bagian produksi Exeltis (PT
Nufarindo). Proses pengolahan produk di bagian produksi berdasarkan instruksi/jadwal
dari PPIC yang dikoordinasikan bersama semua kepala bagian departemen.
1. Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk produksi sediaan farmasi merujuk pada standar
yang telah ditetapkan, yaitu CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Tujuan dari
standarisasi fasilitas pada perusahaan farmasi adalah untuk memudahkan pelaksanaan
operasi, memperkecil risiko kemungkinan terjadinya pencemaran ataupun kekeliruan,
mempermudah proses pembersihan, sanitasi dan perawatan yang berdampak pada mutu
sediaan farmasi. Bangunan produksi PT Nufarindo sudah merujuk pada persyaratan
CPOB, diantaranya:
a. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam ruangan di mana
terdapat bahan baku dan bahan pengemas primer, produk antara atau produk
ruahan yang terpapar ke lingkungan halus, bebas retak dan sambungan terbuka,
tidak melepaskan partikulat, serta memungkinkan pelaksanaan pembersihan
yang mudah dan efektif.
b. Konstruksi lantai di area pengolahan dibuat dari bahan kedap air,
permukaannya rata dan memungkinkan pembersihan yang cepat dan efisien
apabila terjadi tumpahan bahan. Sudut antara dinding dan lantai di area
pengolahan hendaklah berbentuk lengkungan.
c. Pipa, fiting lampu, titik ventilasi dan instalasi sarana penunjang lain didesain
dan dipasang sedemikian rupa untuk menghindarkan pembentukan ceruk yang
sulit dibersihkan.
d. Pipa yang terpasang di dalam ruangan tidak menempel pada dinding tetapi
digantungkan dengan menggunakan siku-siku pada jarak cukup untuk
memudahkan pembersihan menyeluruh.

47
e. Lubang udara masuk dan keluar serta pipa-pipa dan salurannya dipasang
sedemikian rupa untuk mencegah pencemaran terhadap produk.
f. Area produksi menggunakan sistem pengendali udara yang dapat mencegah
pencemaran silang, alat pemantau suhu, kelembaban, dust collector untuk
menghindari kontaminan serbuk, pemantau tekanan. Pemantauan terhadap
suhu, kelembaban, dan perbedaan tekanan (ΔP) dilakukan setiap hari di setiap
ruang produksi untuk memastikan pemenuhan terhadap spesifikasi yang
dirancang sebelumnya.
2. Personalia dan Higienitas
Setiap karyawan yang bekerja maupun tamu yang akan masuk ke dalam ruang
produksi diharuskan mengenakan pakaian dan sepatukhusus area produksi untuk
menjaga higienitas produk dan personalia. Karyawan ataupun tamu yang akan masuk
melewati ruang ganti (locker). Ruang ganti tersebut dibedakan antara ruang ganti pria
dan wanita. Pada ruang ganti dilengkapi dengan almari untuk meletakkan benda-benda
miliki karyawan, alamari pakaian bersih, almari sepatu produksi, tempat baju kotor,
kamar mandi, dan wastafel. PT Nufarindo memproduksi sediaan non-steril yang terdiri
dari sediaan solid, semisolid, dan likuid. Pakaian yang digunakan ialah pakaian yang
menutupi seluruh tubuh yang dilengkapi dengan kaus kaki, penutup kepala, dan masker
yang menyambung pada pakaian tersebut. Pakaian terdiri dari dua macam warna, yaitu
biru dan putih. Pakaian bewarna biru digunakan untuk operator produksi sedangkan
pakaian bewarna putih digunakan untuk non-operator, seperti manajer, supervisor,
pengawas, tenaga administrator, karyawan dari departemen lain, ataupun tamu. Selain
itu, sepatu yang digunakan dibagikan kepada masing-masing personel. Sepatu yang
digunakan hanya terdiri dari satu macam warna, yaitu putih sehingga operator maupun
non-operator memilki warna sepatu yang sama. Selain pakaian dan sepatu, pada
masing–masing ruang produksi terdapat APD yang digunakan oleh operator produksi,
diantaranya sarung tangan¸ masker, kacamata (google), ear plugpada ruang pengisian
sediaan likuid, sepatu boot untuk washing room dan cuci botol bagian luar, dan lain
sebagainya. Aturan yang diberlakukan untuk meminimalisasi kontaminan pada area
produksi, diantaranya karyawan dan tamu dilarang menggunakan arloji, kosmetika, dan
perhiasan. Selain itu, pada area produksi penggunaan sarung tangan dilarang digunakan

48
pada area koridor untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi yang terdapat pada
sarung tangan ke produk atau ruang lain.
3. Pengolahan Produk
Proses pengolahan produk di produksi berdasarkan instruksi/jadwal dari
departemen SCM (Supply Chain Management), yaitu production planner officer.
SCMbertugas mendistribusikan CPB kepada bagian yang terkait. Selanjutnya dapat
dilakukan dispensing/penimbangan awal. Bahan yang telah didispensing diperiksa
kelengkapannya, yaitu label identitas, dan jumlah bahan yang ditimbang dan diletakkan
pada ruang staging kemudian operator yang bertugas dapat melakukan proses
pengolahan. Sebelum memulai proses pengolahan, supervisor atau pengawas
melakukan pemeriksaan kesiapan jalur (line clearance) dan bahan yang akan diproses.
Setiap kegiatan yang sedang dilakukan oleh operator di ruang produksi dicatat pada
label produksi yang telah ditanda tangani supervisor atau pengawas. Selama proses
pengolahan, dilakukan proses pengawasan produk sehingga dapat menjamin kualitas
produk yang dihasilkan sama. Selain pengawasan selama proses, pengawasan dan
pengujian produk juga dilakukan. Jika terdapat penyimpangan maka dapat dilakukan
penanganan penyimpangan. Penanganan penyimpangan yang dilakukan berupa
correction dan corrective action yang selanjutnya dilakukan pelaksanaan tindakan dan
perbaikan, diverifikasi dan diukur efektivitas. Jika telah memenuhi persyaratan maka
produk dapat dilakukan pengemasan.
Proses pengolahan diawali dengan penimbangan bahan awal. Bahan yang telah
ditimbang diperiksa kelengkapannya, mulai dari label identitas, dan jumlah bahan yang
ditimbang dan diserahkan kepada operator sehingga dapat dilakukan proses pengolahan.
Sebelum memulai proses pengolahan, supervisor/pengawas melakukan pemeriksaan
kesiapan jalur (line clearance) dan bahan yang akan diproses. Setiap kegiatan yang
sedang dilakukan oleh operator di ruang produksi di catat pada label produksi yang
telah ditandatangani supervisor/pengawas. Selama proses pengolahan, dilakukan proses
pengawasan produk sehingga dapat menjamin kualitas produk yang dihasilkan sama.
Selain pengawasan selama proses, pengawasan dan pengujian produk juga dilakukan.
Jika terdapat penyimpangan maka perlu dilakukan penanganan penyimpangan.
Penanganan penyimpanan dapat berupa correction dan corrective action yang

49
selanjutnya dilakukan pelaksanaan tindakan dan perbaikan, diverifikasi dan diukur
efektivitas. Jika telah memenuhi persyaratan maka produk dapat dilakukan pengemasan.
1. Pengolahan Sediaan Solid
Exeltis memproduksi sediaan solid berupa tablet, tablet salut selaput, dan kapsul.
Proses untuk sediaan solid ini diantaranya penimbangan, pencampuran, pencetakan, dan
pengemasan. Untuk pembuatan sediaan tablet ada tiga metode yang dapat dilakukan,
yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung (Direct Compression). Dari
ketiga metode tersebut, dua metode dilakukan dalam pembuatan tablet di Exeltis, yaitu
granulasi basah dan kempa langsung (Direct Compression). Penggunaan metode
granulasi basah dikarenakan sifat alir, sebaran, dan kompresibilitas bahan kurang baik.
Sedangkan kempa langsung digunakan karena bahan yang digunakan memiliki sifat alir,
sebaran, dan kompresibilitas yang baik.
a. Penimbangan Bahan
Proses penimbangan dilakukan sesuai dengan jadwal produksi yang telah
dibuat oleh bagian SCM, yaitu production planner officer yang menentukan jadwal
produksi selama satu bulan kedepan secara day by day, batch by batch, dan machine by
machine. Sebelum melakukan penimbangan, ruangan penimbangan dibersihkan terlebih
dahulu dan diberikan label/identitas bahwa ruangan telah bersih jika telah selesai
dibersihkan dan label aktivitas proses. Operator memverifikasi alat penimbangan
sebelum akan dilakukan penimbangan setiap hari untuk memastikan bahwa alat
penimbangan berfungsi dengan baik dan menyiapkan dokumen yang diperlukan selama
penimbangan, seperti label-label bahan baku yang akan ditimbang, logbook harian
penimbangan bahan baku, batch record, alat-alat yang dibutuhkan selama penimbangan
seperti hand pump, plastik, dan sebagainya. Bahan-bahan yang akan ditimbang diambil
dari gudang bahan baku kemudian wadah dibebas debukan dengan cara di vakum dan
diserahkan melalui ruang airlock bahan baku. Ruang airlock bahan baku berdekatan
dengan ruang penimbangan bahan baku sehingga memudahkan antar operator dalam
menyalurkan bahan baku dan mengurangi kontaminasi silang. Kedua sisi pintu airlock
tidak boleh terbuka secara bersamaan sehingga masing-masing operator yang akan
memasuki ruang airlockharus bergantian.
Setiap barang yang diperbolehkan masuk ke dalam ruang produksi hanya bahan
baku dengan kemasan yang kontak langsung dengan bahan atau dengan kemasan

50
sekunder yang telah dibungkus dengan plastik untuk menghindari kontaminasi. Ketika
saat atau telah diambil, bahan dicocokkan dengan nomor artikel yang tertera pada
wadah dan kartu stok. Banyaknya bahan yang akan ditimbang dicatat dalam kartu stok
dan dikurangkan dengan jumlah sebelumnya. Saat proses penimbangan, bahan
tambahan sediaan ditimbang terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan bahan aktif
sediaan. Ada tiga macam merek alat timbang yang digunakan yang memiliki kapasitas
yang berbeda-beda. Masing-masing alat digunakan untuk mengukur berat bahan awal
sesuai dengan minimal dan kapasitas penimbangannya. Pengkalibrasian alat dilakukan
satu tahun sekali atau jika ada perubahan. Untuk bahan cair ditimbang pada wadah
stainless tertutup dan serbuk ditimbang dalam wadah plastik bersih. Dust collector
digunakan ketika bahan-bahan serbuk mengandung dust yang dapat menganggu
lingkungan maupun operator.
Setelah ditimbang sesuai dengan jumlah dalam batch record, hasil
penimbangan dicetak dengan printer sebagai bukti bahwa penimbangan telah sesuai
dengan jumlah yang dibutuhkan dan ditempelkan pada bahan tersebut sebagai identitas
bahan. Selain itu, setiap penimbangan yang dilakukan dicatat dalam logbook harian
mencakup tanggal, jam mulai dan selesai, verifikasi, pemakaian, pembersihan, dan
tanda tangan pegawas dan pelaksana. Bahan yang digunakan dalam satu batch
diletakkan pada satu pallet yang sama dan selanjutnya disimpan pada ruang stagging
dan diberikan sekat untuk menghindari kontaminasi silang dan kesalahan pengambilan.
b. Pencampuran dan Granulasi Basah
Untuk pencampuran kering bahan dilakukan pada ruang high shear granule
dengan menggunakan mesin super mixer. Prinsip mesin ini adalah mencampur bahan
aktif dan tambahan produk agar homogen dengan menggunakan kecepatan tinggi
sehingga waktu yang diperlukan untuk pencampuran lebih singkat. Pencampuran bahan
dilakukan sesuai dengan batch record masing-masing produk yang selanjutnya
campuran tersebut dilakukan proses granulasi basah. Setiap yang dikerjakan dicatat
dalam batch record produk. Sebelum memulai proses dan bahan yang telah diambil dari
ruang staging, pengawas produksi melakukan pengecekan kesiapan jalur (line
clearance). Mesin super mixer juga dapat digunakan untuk proses pengranulasian basah
jika produk yang dibuat dalam batch size kecil dan jika produk dalam ukuran batch
besar dilakukan dengan sistem lot.

51
c. Pengayakan Granul Basah
Setelah dilakukan pencampuran di super mixer, campuran bulk yang masih
basah diayak menggunakan alat granulator dengan ayakan mesh nomor 18. Mesin
dinyalakan sesuai petunjuk pengoperasian dan bulk basah dimasukkan sedikit demi
sedikit ke dalam alat penggranulan dan ditampung dalam kontainer berbahan stainless
untuk menampung granul basah yang telah diayak.
d. Pengeringan Granul Basah
Pengeringan granul basah dapat dilakukan dengan menggunakan dua mesin,
yaitu oven dan mesin FBD (Fluid Bed Dryer). Oven digunakan jika produk yang
diproduksi dalam ukuran batch kecil. Sedangkan mesin FBD digunakan untuk produk-
produk dengan ukuran batch besar. Mesin FBD ini memiliki prinsip kerja
mengeringkan granul dengan mengalirkan udara panas pada granul dengan suhu,
tekanan udara dengan kecepatan tertentu sehingga granul yang dikeringkan seperti
mengalami fluidisasi yaitu dengan dihamburkan granul ke atas oleh adanya tekanan
udara. Suhu dan tekanan udara yang dikontrol oleh air supply control bergantung
kepada spesifikasi produk yang dikeringkan.
Pada mesin ini terdapat pengaturan waktu diataranya time pause, time shaking,
dan time process. Time pause adalah waktu yang dibutuhkan granul basah untuk
mengalami proses pengeringan hingga alat berhenti sementara untuk dilakukan
pengadukan/pengocokan granul. Time shaking adalah waktu yang dibutuhkan alat untuk
mengocok bag filter secara berulang selama proses pengeringan agar granul tidak
terlalu banyak menempel di bag filter. Time process adalah waktu yang dibutuhkan
untuk proses pengeringan granul basah.
Pada kualifikasi operasi FBD maka parameter-parameter yang perlu diamati
adalah parameter yang menunjukkan bahwa mesin tersebut berjalan sesuai tujuan
penggunaan. Parameter-parameter operasi meliputi temperatur udara masuk, temperatur
udara keluar, temperatur suhu selama proses, kecepatan udara masuk dan keluar.
e. Pengayakan Granul Kering
Granul kering diayak menggunakan ayakan mesh nomor 16 dengan alat dry
granulator dan selanjutnya dapat dilakukan proses lubrikasi.

52
f. Lubrikasi
Proses lubrikasi dilakukan dengan mesin double cone 25 kg atau 250 kg sesuai
dengan ukuran bets, yang merupakan proses terakhir sebelum granul dicetak menjadi
tablet. Lubrikasi merupakan proses penambahan bahan lubrikan untuk mempermudah
proses pencetakan dan pengeluaran tablet dari die.
g. Pencetakan
Pencetakan tablet dilakukan dengan mesin rotary otomatis. PT Nufarindo -
Exeltis memiliki tiga mesin cetak tablet, dengan dua mesin berspesifikasi single layer
dan satu mesin double layer. Masing-masing mesin memiliki jumlah dan jenis punch
dan die yang berbeda, baik dalam bentuk tablet maupun kaplet. Pada awal proses
pencetakan operator melakukan set up produk sampai memenuhi semua parameter
proses pencetakan, seperti bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, dan dimensi.
Jika sudah memenuhi syarat proses berjalan sambil dilakukan pemeriksaan selama
proses (IPC) hingga selesai.
h. Coating (Penyalutan)
Ada beberapa obat yang hrus disalut untuk menjadi sebuah produk. Tablet salut
adalah compressed tablet yang pada permukaan luarnya dilapisi oleh bahan polimer
coating. Pada dasarnya, tablet salut proses pembuatannya sama dengan pembuatan
tablet/kaplet hanya saja terdapat proses tambahan berupa proses penyalutan. Terdapat
tiga jenis penyalutan, yaitu tablet salut gula (sugar-coated tablet), tablet salut film (film-
coated tablet), dan tablet salut enterik (enteric-coated tablet). Untuk produksi tablet
salut, PT Nufarindo - Exeltis hanya membuat salut film-coated dan enteric-coated
tablet. Proses coating ini dilakukan pada tablet seperti Inamid®, Gitaramin®, dan
Stavit®. Proses penyalutan ini menggunakan mesin High Efficiency Coating Machine
(HECM) dan Coating Pan.
Prinsip kerja dari mesin HECM adalah dengan spray atomization larutan
coating dengan dibantu suhu. Suhu yang disetting sekitar 55-60℃ untuk pelarut purified
water dan 40-45℃ untuk pelarut alkohol yang bertujuan untuk menguapkan pelarut dari
larutan coatingsehingga penyalutan tablet rata dan halus. Titik kritis yang perlu
diperhatikan ketika proses penyalutan tablet adalah jarak antara penyemprot dengan
tablet, kecepatan putar alat, suhu alat, dan peristaltic pump. Jika pada satu proses
didapatkan larutan coating telah habis maka alat tetap dijalankan sambil suhu dan

53
kecepatan putar alat diturunkan secara perlahan. Proses pembuatan larutan penyalutan
dilakukan di ruang penyalutan sehingga larutan tersebut langsung dialiri ke mesin
penyalutan dan disemprotkan.
2. Pengolahan Sediaan Kapsul
Pengolahan sediaan kapsul sedikit berbeda dengan pengolahan sediaan tablet.
Berikut metode pengolahan kapsul ada dua macam, yaitu:
a. Bahan baku/bulk (pellet) langsung di-filling; dan
b. Bahan baku di-mixing lalu dilubrikasi kemudian di-filling;
c. Bahan baku (serbuk)  proses pencampuran slugging ayak slugging
lubrikasi  proses filling.
Proses pengisian dilakukan tergantung alat atau mesin yang tersedia (secara manual
atau otomatis). Mesin yang digunakan adalah mesin filling capsule. Sama seperti halnya
cetak tablet/kaplet, sebelum mesin dijalankan untuk produksi satu batch produk kapsul
dilakukan pengecekan jalur kesiapan (line cleareance) oleh pengawas. Operator
melakukan setting mesin kemudian melakukan pengecekan bobot kapsul. Apabila bobot
sudah memenuhi standar maka proses dapat dilanjutkan. Apabila bobot belum
memenuhi standar maka dilakukan setting ulang pada mesin. Mesin filling kapsul
memiliki dua hopper, yaitu untuk cangkang kapsul dan serbuk/pellet. Bagian cangkang
kapsul dimasukkan hopper cangkang kapsul kemudian dialirkan menuju shaft kapsul.
Bagian penutup dan badan kapsul akan terpisah secara otomatis berdasarkan bobot
cangkang kapsul.
Sedangkan bagian serbuk akan mengalir pada dosing station dan akan
dimasukkan dalam badan cangkang kapsul. Cangkang kapsul yang telah terisi akan
digabungkan dengan penutupnya dan secara otomatis cangkang kapsul akan saling
mengunci. Kapsul selanjutnya masuk ke dalam alat polisher agar kapsul
mengkilapkan/membuat bebas debu. Selanjutnya kapsul akan keluar dari mesin vakum
dan lansung ditampung dalam kontainer. Selama proses filling, kapsul disampling oleh
bagian IPC (In Process Control) tiap 30 menit sekali untuk diperiksa keseragaman
bobot kapsul.

54
3. Pengemasan
Pengemasan yang dilakukan di PT Exeltis dilakukan secara 2 tahap, yatu
pengemasan primer dan pengemasan sekunder.
a. Pengemasan Primer
Pengemasan primer produk solid tablet dan kapsul yang dibuat oleh PT Exeltis
adalah dengan menggunakan strip dan blister. Mesin strip dan blister yang akan
digunakan dikondisikan (di-setting) sesuai dengan spesifikasi produknya. Dari masing-
masing tipe mesin strip dibedakan dari spesifikasi dan jumlah strip yang dapat
dihasilkan dalam satu kali cutting. Mesin strip mempunyai bagian-bagian dengan
fungsinya tersendiri. Bagian-bagian tersebut diantaranya adalah hopper, track line,
feeding chut, sealing roll, cutting horizontal dan vertikal (pembelah), counter, dan foil
roll.
Sesuai dengan mesin strip beroperasi, produk solid (tablet/kaplet/kapsul)
ditampung pada hopper dan akan turun mengisi track line dan masuk ke feeder. Setelah
masuk ke feeder produk solid akan masuk ke sealing roll pocket. Selanjutnya produk
solid akan di-sealing diantara front foil dan back foil sehingga produk dikemas dengan
aman. Masing-masing roller depan dan belakang dipapar dengan panas melalui heater
yang telah di-setting suhunya sesuai dengan spesifikasi produk. Pemaparan panas ini
bertujuan untuk melekatkan foil depan dan belakang yang akan membungkus produk
sehingga produk aman dan kemasan tidak bocor. Selain pengaturan suhu sealing roll,
tekanan antara kedua roll diatur sedemikian rupa agar hasil strip tidak bocor. Setelah
terkemas dalam foil, alat penghitung (counter) akan menghitung jumlah tablet dalam
satu kemasan strip yang kemudian akan terpotong secara vertikal (diantara tiap bagian
strip) dan horizontal oleh pemotong secara otomatis.
Sedangkan untuk mesin blister, bagian-bagian mesin diantaranya adalah form
film uncoiler, forming station, moving station, sealing station, sliter station, draw-off
station, dan punch station. Fungsi dari masing-masing bagian yaitu:
1) Form Film Uncoiler
Pada bagian ini, PVC sebagai pengemas blister diletakkan yang
selanjutnya akan diproses sebagai wadah produk solid.

55
2) Heating Station
Pada bagian ini berfungsi untuk memanaskan PVC agar konsistensinya
menjadi lembek sehingga memudahkan untuk dalam pembentukan
kantong di forming station.
3) Forming Station
Pada bagian ini, PVC dibentuk sesuai cetakan dan bentuk produk yang
akan dikemas dengan blister.
4) Moving Station
Tablet akan dimasukkan ke dalam wadah-wadah PVC yang telah
terbentuk dengan bantuan kipas pengaduk (brush). Setelah terisi, mesin
akan berjalan ke proses selanjutnya.
5) Sealing Station
Bagian kantong PVC yang sudah terisi produk akan diberi Lid Foil
Uncoiler (Aluhard foil) dan dipress sehingga kedua bagian dapat menempel
dengan baik. Setelah sealing, blister akan diberikan nomor bets dan diproses
ke bagian selanjutnya.
6) Emboss Coding
Pemberian penanda nomor bets dan expired date (ED).
7) Sliter Station
Pada bagian ini, blister yang telah tersealing akan ditandai bentuk
pemotongannya dalam bentuk perforasi.
8) Draw-Off Station
Bagian ini berfungsi sebagai conveyor blister.
9) Punch Station
Bagian terkahir dari mesin ini adalah pemotongan blister sesuai dengan
bentuk blister.
Pengawasan selama proses atau IPC yang dilakukan untuk kemasan strip dan blister
ada beberapa macam, yaitu penampilan fisik, jumlah isi tablet, penandaan nomor bets
dan ED (untuk blister), dan uji kebocoran kemasan (leaking test). IPC dilakukan setiap
30 menit sekali dan kemasan akan dimasukkan ke dalam alat vaccum leaking test untuk
diuji. Strip dan blister yang telah disampling dimasukkan ke dalam larutan metilen blue
dan divakum hingga tekanan 500-600 mmHg selama lima menit. Setelah proses vakum

56
selesai, tekanan di dalam alat akan berkurang dan kemasan dapat diambil. Jika terdapat
kebocoran pada kemasan maka cairan metilen blue masuk ke dalam kemasan dan
mencemari tablet yang telah dikemas.
Kebocoran kemasan primer ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu
kualitas foil, pressure, suhu. Pressure yang terlalu rendah dapat mengakibatkan foil
mengelupas sehingga menyebabkan kebocoran, sedangkan jika pressure terlalu tinggi
hasil strip berlubang-lubang kecil karena ruster sealing roll. Jika suhu yang digunakan
terlalu rendah (kurang dari spesifikasi alat) maka foil bagian depan dan belakang tidak
akan melekat sempurna sehingga dapat menyebabkan kebocoran kemasan, sedangkan
jika suhu terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan foil (mengering dan mengelupas).
Suhu dapat meningkat akibat kecepatan putar mesin sehingga perlu penyesuaian
kecepatan mesin oleh operator.

b. Pengemasan Sekunder
Produk yang telah selesai dikemas primer oleh produksi segera dikemas sekunder
ke dalam ruang pengemasan sekunder. Produk-produk tersebut meliputi strip, botol, pot
salep, dan tube. Kegiatan yang ada di ruang pengemasan sekunder adalah coding,
pengemasan sekunder, dan pengemasan tersier. Pihak produksi membuat jadwal
pengemasan sekunder untuk setiap harinya kemudian selanjutnya bisa memesan etiket,
brosur, kemasan sekunder di gudang embalage (PPIC). Setelah barang yang dipesan
datang, maka operator coding melakukan coding pada etiket dan/atau dusbox yang
meliputi BN (Batch Number), MD (Manufacturing Date), ED (Expired Date), HET
(Harga Eceran Tertinggi) dengan menggunakan printer Hitachi Inkjet.
Proses pengemasan sekunder sediaan likuid dilakukan dengan cara botol hasil
filling dikemas primer disalurkan ke proses kemas sekunder melalui conveyor secara in
line. Produk akan melewati mesin labelling stiker yang sudah di coding (penandaan).
Produk sediaan likuid akan melewati measuring cup yang selanjutnya menuju mesin
cartoning untuk dimasukan ke dalamdusbox yang sudah tercoding dan diberi brosur
secara otomatis. Produk tersebut dimasukkan ke dalam master box sesuai dengan
jumlah yang tertera di CPB dan dilakukan pengecekan bobot.
Sediaan solid yang dikemas dengan strip dan blister dicoding terlebih dahulu
yang selanjutnya dilewatkan ke conveyor untuk di kemas ke dalam dusbox yang sudah

57
dicoding sesuai dengan jumlah yang tertera di CPB. Kemasan akan disegel dengan
isolasi khusus yang selanjutnya dilewatkan mesin check weigher yang sudah diatur
rentang bobotnya. Apabila bobot tidak sesuai dengan rentang yang diatur maka obat
akan tereject secara otomatis. Produk dimasukkan ke dalam master box sesuai dengan
jumlah yang tertera di CPB dan ditimbang sesuai dengan rentang bobot di master box.
Sediaan semisolid (salep) yang telah berada di dalam pot diberi etiket yang
sudah dicoding. Pot-pot tersebut akan dimasukkan ke dalam dusbox yang disegel
dengna isolasi khusus. Selanjutnya, produk dimasukkan ke dalam master box dan dicek
bobotnya. Produk yang telah dikemas sekunder dan tersier ditimbang, kemudian dicatat
berat pada kemasan dan diletakkan dalam palet-palet yang sesuai dengan nama dan bets
produk.
4. Pengolahan Sediaan Semisolid
Sediaan semisolid yang diproduksi oleh Exeltis diantaranya salep, krim dan gel.
Dari ketiga produk tersebut yang sering diproduksi adalah sediaan salep dan krim,
sedangkan gel sudah jarang diproduksi. Proses pengolahan sediaan semisolid diawali
proses mixing dengan menggunakan mesin Vacuum Emulsify Mixer. Alat ini tidak
hanya digunakan untuk pembuatan sediaan salep, akan tetapi juga untuk sediaan krim
dan gel. Prinsip kerja dari alat tersebut adalah pencampuran semua bahan sediaan
(mixing) dengan menggunakan suhu dan vacum. Penggunaan vacum ini bertujuan untuk
menghilangkan udara yang terjebak ketika pencampuran bahan sediaan semisolid.
Adanya udara ketika proses pencampuran bahan dapat mempengaruhi viskositas,
jumlah, bobot, dan proses filling sediaan. Langkah pembuatan salep ini ada tiga, yaitu
pembuatan basis salep, pencampuran bahan excipient lain, dan pencampuran akhir (zat
aktif).
Setelah sediaan semi solid selesai dilakukan pencampuran, maka selanjutnya
sediaan semisolid akan dilakukan filling. Alat fillingsemisolid process dapat di-setting
untuk menambah atau mengurangi jumlah salep yang akan diisi ke dalam pot. Selama
proses filling, salep dimasukkan dalam hopper yang dipanaskan dengan air bersuhu
55oC untuk menjaga viskositas salep agar mudah proses filling.
Selama proses filling, staff IPC (In Process Control) mengambil sampel salep
yang sedang di-filling dan diuji apakah sudah sesuai dengan karakteristik dalam batch
record. Untuk IPC sediaan semisolid yang dilakukan adalah keseragaman bobot.

58
Sampel diambil secara acak sebanyak 20 pot salep tiap 20 menit selama proses filling.
Pot salep kosong ditimbang dan kemudian diisi dengan salep dan ditimbang kembali.
Hasil pengurangan dari pot yang terisi bulk dengan bobot pot kosong akan
menghasilkan netto salep. IPC dilakukan agar diketahui bahwa selama proses produk
yang dihasilkan stabil dan sesuai.

5. Pengolahan Sediaan Liquid


Produk liquid yang diproduksi oleh Exeltis berupa sirup dan suspensi. Proses
dilakukan dalam ruang liquid process. Terdapat dua ruang liquid process untuk
kapasitas berbeda. Terdapat empat tahapan alur pembuatan proses sediaan liquid, yaitu
pencampuran awal, pencampuran awal-akhir, pencampuran akhir, dan pemindahan bulk
ke ruang proses filling.
Dalam satu batch pembuatan produk liquid dibagi dalam beberapa sub (bagian)
sesuai dengan kapasitas mesin Homomixer. Pencampuran awal dilakukan untuk setiap
subnya dengan pencampuran dengan mesin Homomixer yang berfungsi untuk
menghaluskan partikel bahan awal. Selain dengan Homomixer, proses pengadukan
dibantu dengan mesin In Line High Shear Mixer. Mesin ini membantu proses
pengecilan/penghalusan partikel agar larut sempurna sehingga mempercepat proses
menghomogenkan campuran. Setelah dilakukan pencampuran, bahan akan dimasukkan
ke dalam mixer tank untuk proses pencampuran akhir. Proses pemindahan produk liquid
menggunakan Moveable Filter yang mana produk dipindahkan menggunakan selang
dan akan disaring terlebih dahulu menggunakan filter untuk memastikan produk bebas
dari partikel atau endapan.
Proses pengisian produk liquid melalui mesin filling empat channel dan dan
mesin filling delapan channel. Setiap sebelum dilakukan pengisian produk dalam
kemasan botol, operator melakukan uji coba volume dan kesiapan jalur (line
cleareance) pada mesin filing liquid agar sesuai dengan spesifikasi produknya. Jika
telah siap maka mesin filling dapat dijalankan untuk filling produk. Bagian-bagian dari
mesin filling liquid yang berperan selama proses secara berkesinambungan adalah table
bottle, conveyor, nozzle piston, starwheel, dan kemudian yang terakhir adalah capper.
Fungsi masing-masing bagian tersebut adalah:
a. Table bottle : meja untuk meletakkan botol kemas;

59
b. Conveyor : untuk membawa botol menuju piston pengisian;
c. Nozzle piston : pipa semprot untuk pengisi botol kemas;
d. Starwheel : roda pembawa botol untuk dilakukan capping;
e. Capper : bagian melekatkan tutup botol pada mulut botol.
Dalam satu menit mesin dioperasikan dapat menghasilkan 55 botol atau 3300
botol/jam. Jika proses capping telah selesai operator mengecek kerapian peng-capping-
an. Jika hasil capping tidak rapi, maka botol akan di capping ulang. Selama proses
filling, IPC melakukan pengujian volume terhadap produk setiap 30 menit sekali dan
hasil akan di catat dalam CPB produk. Uji IPC pada sediaan likuid yang dilakukan ialah
volume terpindahkan dan uji kebocoran kemasan primer (botol). Uji volume
terpindahkan sesuai dengan jumlah nozzle piston, yaitu 4 atau 8 botol yang dilakukan
pada ruang pengisian cairan sedangkan uji kebocoran dilakukan pada ruang IPC
menggunakan alat leak test apparatus dengan cara botol diletakkan di dalam vakum
secara terbalik dan diberi alas tisu. Waktu uji dilakukan selama 5 menit dengan tekanan
500-650 mmHg. Apabila terjadi kebocoran, cairan akan terserap oleh tisu yang berada
dibawahnya karena udara vakum menarik cairan di dalam kemasan.
Adapun tugas khusus selama kegiatan PKPA di PT Exeltis, di antaranya
sebagai berikut:
1. Melakukan Kegiatan IPC
Pengawasan selama proses atau In Proccess Control (IPC) di Exeltis dibagi
menjadi dua divisi, yaitu (1) Divisi solid dan (2) Divisi liquid dan semisolid. Divisi
solid bertanggung jawab mengawasi selama proses pembuatan sediaan tablet,
kaplet, dan kapsul. Sedangkan, divisi liquid dan semisolid bertanggung jawab
mengawasi selama proses pembuatan sediaan sirup, suspensi, salep, krim, dan gel.
Pengawasan yang dilakukan oleh divisi solid terdiri dari pengecekan bobot
(tablet/kaplet/kapsul), ketebalan (tablet/kaplet), kekerasan (tablet/kaplet),
kerapuhan (tablet/kaplet), dan waktu hancur (tablet/kaplet/kapsul). Pengambilan
sampel selama proses, dilakukan terhadap sampel atas, tengah dan bawah. Untuk
menentukan waktu pengambilan sampel atas, tengah dan bawah dihitung
berdasarkan lama proses pembuatan sediaan berlangsung kemudian dibagi tiga,
sehingga dapat ditentukan waktu pengambilan sampel atas, tengah dan bawah.
Pengambilan sampel atas diakukan setelah operator selesai melakukan trial

60
pencetakan tablet/kaplet/kapsul. Trial tersebut dilakukan agar produk yang
diahasilkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentuakan, sehingga akan
mengurangi kerugian.
Untuk sediaan solid yang sedang dalam proses produksi dilakukan
beberapa pengecekan di IPC. Terdapat beberapa uji ketika tablet sedang dalam
proses produksi, antara lain :
1. Uji bobot sediaan
2. Uji kerapuhan tablet
3. Uji waktu hancur tablet
4. Uji kekerasan tablet
5. Uji ketebalan tablet
6. Uji diameter tablet
Uji bobot sediaan dilakukan dengan menggunakan timbangan analitik yang
telah dilengkapi dengan mesin printer yang sekaligus memberikan output berupa
tanggal dan waktu, jumlah sampel, bobot rata-rata, bobot total, bobot minimum dan
maksimum sampel. Penimbangan sampel dilakukan setiap 15 menit sekali selama
proses pembuatan sediaan berlangsung, dengan jumlah sampel sebanyak 20
tablet/kaplet/kapsul. Dari hasil penimbangan yang diperoleh, kemudian dihitung
persentase bobot minimum dan maksimum sediaan. Selanjutnya, dibuat grafik rata-
rata bobot sampel dengan rentang setiap 15 menit sekali.
Pengecekan kerapuhan hanya dilakukan terhadap sediaan bentuk tablet dan
kaplet. Pengecekan dilakukan pada saat pengambilan sampel atas, tengah dan
bawah (3 kali selama proses berlangsung). Jumlah sampel yang diammbil sebanyak
20 tablet/kaplet, dengan kecepatan 25 rpm selama 4 menit. Sampel yang diambil
ditimbang terlebih dahulu dan dicatat sebagai bobot awal, kemudian sampel
dimasukaan ke dalam alat uji kerapuhan dan diputar selama 4 menit. Selanjutnya,
sampel dikeluarkan dan kembali ditimbang serta dicatat sebagai bobot akhir,
kemudian dihitung presentase kerapuhannya.
Pengecekan waktu hancur dilakukan terhadap sediaan tablet, kaplet dan
kapsul. Pengecekan dilakukan pada saat pengambilan sampel atas, tengah dan
bawah (3 kali selama proses berlangsung). Jumlah sampel yang diambil sebanyak 6

61
sampel sesuai dengan jumlah tabung pada alat uji waktu hancur, dengan suhu 37℃
± 1℃.
Pengecekan ketebalan dan kekerasan hanya dilakukan terhadap sediaan
bentuk tablet dan kaplet. Pengecekan dilakukan pada saat pengambilan sampel atas,
tengah dan bawah (3 kali selama proses berlangsung). Jumlah sampel yang diambil
sebanyak 3 tablet/kaplet setiap pengecekan atas, tengah dan bawah. Alat yang
digunakan adalah hardness tester yang dilengkapi dengan printer. Output yang
dihasilkan berupa tanggal dan waktu, thickness, diameter dan hardness.
Apabila pada saat pengecekan bobot, ketebalan, kekerasan, kerapuhan,
atau waktu hancur, diperoleh hasil yang tidak sesuai spesifikasi, maka petugas IPC
akan langsung memberitahukan kepada operator yang sedang bertugas dalam
pembuatan suatu sediaan tersebut, sehingga operator akan segera melakukan setting
ulang alat. Apabila telah sesuai spesifikasi, maka proses dilanjutkan kembali.
Selanjutnya, petugas IPC menyiapkan sampel untuk keperluan
pemeriksaan oleh bagian Quality Control (QC) yang terdiri dari variasi bobot,
disolusi, waktu hancur, kandungan sediaan, ketebalan, dan kerapuhan. Sampel yang
diambil adalah sampel atas, tengah dan bawah dengan jumlah tertentu sesuai
dengan yang diminta.
Uji IPC pada sediaan likuid yang dilakukan ialah volume terpindahkan dan
uji kebocoran kemasan primer (botol). Uji volume terpindahkan sesuai dengan
jumlah nozzle piston, yaitu 4 atau 8 botol yang dilakukan pada ruang pengisian
cairan. Pengecekan volume terpindahkan dilakukan dengan cara menuangkan
cairan dari dalam botol ke dalam gelas ukur secara perlahan. Cairan yang telah
dituang ke dalam gelas ukur kemudain diukur jumlah cairannya dengan syarat
memenuhi jika yang tertera dalam gleas ukur sebanyak ≥60 ml. Sedangkan uji
kebocoran dilakukan pada ruang IPC menggunakan alat leak test apparatus dengan
cara botol diletakkan di dalam vakum secara terbalik dan diberi alas tisu. Waktu uji
dilakukan selama 5 menit dengan tekanan 500-650 mmHg. Apabila terjadi
kebocoran, cairan akan terserap oleh tisu yang berada dibawahnya karena udara
vakum menarik cairan di dalam kemasan.

62
2. Pembuatan Log Book mesin produksi dan Log Book Timbangan
Pembuatan Log book mesin produksi dan log book timbangan dilakukan setiap
satu bulan sekali. Log book ditulis oleh operator mesin yang sedang bertugas. Log
book mesin produksi dan log book timbangan berisi laporan tentang penggunaan
mesin ketika sedang beroperasi. Seperti waktu penggunaan, operator yang
menjalankan, dan sebagainya. Setiap selesai digunakan, log book akan diserahkan
kepada pengawas/supervisor untuk diberikan tandan tangan. Selanjutnya, setiap
harinya atau setelah selesai digunakan data yang terdapat di log book akan diinput
ke dalam sistem.
Tujuan dari dibuatnya log book bagi mesin produksi dan bagi timbangan adalah
untuk mengetahui Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE merupakan standart
pengukuran produktivitas di industri. OEE berupa persentase waktu produksi yang
benar-benar produktif. Komponen dari OEE terdiri dari availability, performance
rate, dan quality. Semakin tinggi nilai ketiganya maka semakin tinggi nilai OEE.
Availability menghitung waktu teori dibandingkan dengan waktu operasi mesin.
Availability digunakan untuk menghitung availability Loss yaitu kejadian yang
menghentikan produksi baik tidak terencana (seperti kegagalan peralatan) dan
terencana (seperti ganti shift). Performance rate menghitung waktu operasi mesin
dibandingkan jumlah shift. Quality yang terdiri dari set up deffect dan production
deffect.
Adapun rumus OEE yakni sebagai berikut :

OEE = Availability × Performance × Quality

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎−(𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑏𝑟𝑒𝑎𝑘𝑑𝑜𝑤𝑛+𝑠𝑒𝑡 𝑢𝑝)


Avaibility = x 100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖


𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑥 𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒x 100%

𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑠𝑖


𝑄𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 = 𝑥100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖

Standar nilai OEE yang baik adalah ≥ 85%

63
E. RESEARCH AND DEVELOPMEND DEPARTEMENT
1. Ruang Lingkup
Departemen Research and Development (R&D) atau dalam bahasa
Indonesia departemen Penelitian dan Pengembangan pada dasarnya merupakan dua
ruang lingkup yang berbeda. Departemen R&D di PT Nufarindo lebih menekankan
pada pengembangan produk yang telah ada bukan melakukan penelitian baru dan
pencetusan produk dengan molekul obat baru. Sarana dan prasarana laboratorium
departemen R&D dibangun pada tahun 2016 dan resmi digunakan pada awal tahun
2017 dengan luas area ± 54 m2. Ruangan yang berada di departemen R&D mengikuti
standar ruang bersih ISO class 9, walaupun tidak ada standar khusus ruangan yang
mengatur untuk ruang Laboratorium R&D karena penelitian dan pengembangan obat di
R&D tidak untuk dikonsumsi oleh manusia. Laboratorium R&D di PT Nufarindo
didesain mengikuti standar ruang produksi untuk sediaan non-steril, seperti suhu,
kelembaban, dan tekanan udara tetapi tidak ada pengontrol ukuran partikel seperti di
ruang produksi.

R&D Manager

R&D Supervisor

R&D Officer

R&D Operator

Gambar 3.Struktur departemen RnD


Fasilitas yang terdapat di laboratorium R&D, diantaranya untuk pembuatan
bentuk sediaan solid dan sediaan liquid.sedian solid berupa Tablet, Fim Coated tablet,
Sugar film coated tablet, dan enteric coated tablet. Sedian liquid berupa Sirup, Suspensi,
Emulsi. Mesin-mesin yang tersedia sebagai penunjang proses pengembangan produk
hampir sama dengan mesin-mesin yang berada di ruang produksi, hanya saja kapasitas

64
mesin lebih kecil karena hanya untuk percobaan skala laboratorium, sedangkan
percobaan skala pilot menggunakan mesin dan peralatan yang berada di ruang produksi.

Mesin / Alat Kapaitas


High Share Mixer Granulator 10. L
Fluid bed dryer 5 kg
Tabletting machine 25.000 tablet/jam.
Coating machine 2 kg.
Tabel 2. Daftar mesin laboratorium RnD
Departemen R&D fokus pada beberapa nilai penting, yaitu :
a. Quality
Kualitas produk sangat perlu diperhatikan terkait keamanan, khasiat,
mutu, dan resikonya sehingga tidak jarang dilakukan peningkatan bahkan
perbaikan terhadap produk-produk existing PT. Nufarindo. Departemen R&D
merupakan urutan awal sebelum dilakukan proses produksi, sehingga pemilihan
formula sangat penting untuk menjaga kualitas produk. Peningkatan kualitas
dapat dilakukan misalnya dengan cara sediaan padat yang dahulunya
menggunakan pengawet dapat dihilangkan karena produk sudah terjamin mulai
dari sebelum proses, saat proses, hingga produk jadi dihasilkan yang sesuai
dengan standar yang berlaku.
b. Innovation
Inovasi yang dilakukan di PT. Nufarindo dengan cara menghasilkan
produk baru yang sebelumnya belum diproduksi oleh perusahaan sehingga
menambah variasi produk dari segi bisnis dan membantu ketersediaan obat di
masyarakat.
c. Productivity
Produktivitas dilakukan melalui perbaikan proses pembuatan suatu
produk obat dengan mempersingkat proses pembuatan, misalnya mempersingkat
waktu proses pengeringan suatu sediaan solid. Produktivitas diharapkan dapat
menunjang permintaan marketing dengan kapasitas mesin atau alat dalam
serangkaian produksi, supaya target tercapai.

65
d. Cost-saving initiative
Penghematan biaya produksi juga dapat diinisiasi oleh departemen R&D,
misalnya dengan menambahkan sumber alternatif (supplier). Supplier harus
sesuai dengan yang didaftarkan oleh perusahaan ke BPOM sehingga apabila
terdapat penambahan supplier perlu dilakukan registrasi terlebih dahulu.
PT. Nufarindo menghasilkan produk copy (me too), sehingga
departemen R&D hanya melakukan pengembangan terhadap produk-produk
yang sudah ada produk originatornya. Produk obat copy (me too) hanya
dilakukan uji bioekivalensi tetapi tidak dilakukan uji toksisitas ataupun
efektivitas karena telah dilakukan oleh produk originator. Uji bioekivalensi (BE)
merupakan uji yang dilakukan untuk membandingkan dengan produk originator
atau comparator. Uji BE dilakukan secara in vivo sehingga diketahui apakah
produk bioekivalen dengan produk originatornya yaitu menghasilkan
bioavailabilitas yang sama dalam hal efikasi. Uji ini memerlukan waktu selama
± 6 bulan dengan melakukan kerja sama dengan laboratorium eksternal yaitu
laboratorium uji BE. Produk originator disebut juga dengan komparator yang
berarti produk yang pertama kali dibuat atau dapat dipilih produk market leader
yang berarti produk yang menguasai pangsa pasar. Beberapa obat yang wajib
dilakukan uji BE diatur oleh BPOM.
Kualitas suatu produk dibangun bukan hanya pada saat produk jadi
melainkan dimulai dari sebelum proses produksi, saat produksi hingga produk
dipasarkan. Hal tersebut mengacu pada QbD (Qualitiy by Design) yang disusun
melalui standar operasional prosedur pengembangan produk.
Standar tersebut bertujuan untuk mengembangkan produk yang dapat
menghasilkan :
a) Formula yang sesuai dengan QTPP (Quality Target Product Profile) dan CQA
(Critical Quality Attribute) yang telah ditetapkan.
b) Proses pembuatan yang dapat diterapkan pada skala produksi secara efisien
dan efektif sesuai dengan CPP (Critical Process Parameters) yang telah
ditetapkan.
c) Metode analisa yang dapat diterapkan secara konsisten yang mampu
membuktikan kualitas bahan baku, produk antara, dan produk jadi.

66
d) Container Closure System dengan desain yang sesuai dengan
mempertimbangkan aspek stabilitas, keamanan, estetika, dan regulasi.
e) Dosier yang berkualitas sesuai dengan cGMP (current Good Manufacturing
Practice) dan regulasi yang berlaku.
Tujuan-tujuan tersebut dilaksanakan secara bersama-sama oleh
departemen R&D, QC, dan QA. Poin diatas pada umumnya menjadi tanggung
jawab departemen R&D. Namun di PT. Nufarindo analisa metode tergabung
dalam departemen QC, sehingga tanggung jawab metode analisa dilimpahkan
kepada departemen QC. Poin d dan e menjadi tanggung jawab departemen QA.
Ide pengembangan produk baru berasal dari bagian Business
Development sedangkan ide perbaikan produk yang telah ada/eksisting berasal
dari QA melalui CC (Change Control). Manajer R&D akan menerima form
pengendalian perubahan (PP) atau form pengembangan produk baru (PPB).
Kemudian manajer R&D mengalokasikan kepada PIC pengembangan produk
yang terdiri dari bagian pengembangan proses pada departemen R&D,
pengembangan metode analisa pada departemen QC , dan pengembangan
kemasan pada departemen QA menggunakan form alokasi pengembangan
produk.
Tim pengembangan produk melakukan studi literature dan menyusun
timeline pengembangan produk dan melakukan identifikasi ketersediaan bahan,
seperti bahan baku, bahan kemas, komparator. Apabila tersedia, PIC tersebut
membuat bon bahan ke SCM sehingga bagian SCM dapat menyediakan bahan
yang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, PIC pengembangan proses,
pengembangan metode analisa, dan pengembangan kemasan membuat form
permintaan bahan ke procurement sehingga procurement melakukan pencarian
bahan yang dibutuhkan untuk pengembangan produk. PIC pengembangan proses
dan pengembangan kemasan melakukan pemeriksaan fisik komparator dengan
menggunakan form evaluasi komparator, sedangkan PIC pengembangan metode
analisa melakukan raw material assessment dengan menggunakan raw
material evaluation form. Tim pengembangan produk akan membuat QTPP dan
CQA dengan menggunakan form QTPP dan CQA.

67
PT Nufarindo merupakan anggota dari Global Exeltis yang memiliki
beberapa perusahaan di berbagai macam negara, seperti Leon di Madrid,
Liconsa di Spanyol,dan Ordain di India. Keuntungan dari perusahaan
multinasional ialah proses transfer teknologi dapat dilakukan lebih mudah dan
cepat sehingga menghemat waktu proses pengembangan. Proses transfer
teknologi yang dimaksud meliputi, saling tukar formula, saling tukar produk,
dan saling tukar proses. Informasi senyawa obat yang diperlukan untuk proses
pengembangan, diantaranya :
1) Aspek fisikokimia, yang meliputi nama kimia menurut farmakope dan
IUPAC, nomor CAS (Chemical Abstracts Service), rumus kimia, bobot molekul,
struktur molekul, kelarutan, pH, bentuk fisik, polimorfisme, BCS
(Biopharmaceutical Classification System), titik leleh, titik beku, pKa/pKb.
Indeks bias, koefisien partisi, sifat fisika dan kimia lain yang berhubungan
dengan senyawa obat.
2) Stabilitas
3) Sifat farmakokinetik yang meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme, eksresi,
waktu paruh (T1/2), dan sifat farmakokinetik lain dari senyawa obat.
4) Efek farmakologi
5) Ketidakcampuran senyawa lain yang diketahui melalui studi preformulasi.
6) Acuan kualitas atau monograf sesuai dengan farmakope edisi terbaru atau
dokumen terstandar lainnya, misalnya USP, BP, EP, FI, JP. Informasi bentuk
sediaan farmasi atau produk competitor dan originator meliputi :
a) Nama produk
b) Komposisi
c) Kekuatan
d) Bentuk sediaan
e) Aspek klinik yang meliputi indikasi terapeutik, dosis penggunaan, cara
penggunaan, kontraindikasi, peringatan khusu dan tindakan pencegahan,
interaksi obat, informasi khusu untuk kondisi hamil dan menyusui, efek samping
dan over dosis.
f) Aspek farmakologi yang terdiri dari farmakodinamik, farmakokinetik, dan
data uji pre-kilinik.

68
g) Aspek farmasetik terdiri dari daftar bahan tambahan, inkompatibilitas, masa
kadaluarsa, kondisi penyimpanan, kemasan primer dan sekunder, dan
penanganan khusus.
h) Perusahaan pemegang nomor registrasi obat
i) Perusahaan tempat pembuatan obat
j) Metode disolusi
k) Pemerian obat
l) Informasi lainnya mengenai kompetitor yang diperlukan.
Informasi paten yang terkait dengan formula dan proses pembuatan
produk yang akan dikembangkan dapat diperoleh dari berbagai media buku,
jurnal, dan internet. Studi literatur tersebut dilakukan sebelum pengembangan
dan selama proses pengembangan berlangsung.
PIC pengembangan proses akan melakukan studi preformulasi
menggunakan form studi preformulasi dan pihak pengembangan metode analisa
melakukan pengembangan metode analisa menggunakan form pengembangan
metode analisa. Departemen pengembangan kemasan melakukan pemilihan
bahan kemas yang sesuai (Container & Closure System). PIC pengembangan
proses akan melakukan trial skala laboratorium dengan menggunakan form trial
skala lab sedangkan PIC pengembangan metode analisa akan melakukan
pengujian sampel hasil trial skala laboratorium menggunakan lembar hasil
analisa. PIC pengembangan metode analisa akan melakukan stabilita skala
laboratorium menggunakan form stabilita skala laboratorium.
Apabila sesuai maka PIC pengembangan proses memberikan sampel
hasil trial ke bagian Business Developmet untuk dilakukan penilaian
menggunakan form sample assessment sedangkan manajer R&D membuat
material costing dan diserahkan ke bagian finance, sehingga pihak finance
melakukan perhitungan COGS menggunakan form COGS. Apabila tidak sesuai
maka PIC pengembangan kemasan, proses, dan metode analisa melakukan
pemilihan bahan dan trial skala laboratorium ulang. Jika form sample assessment
dan form COGS telah sesuai dengan form PPB maka PIC pengembangan
metode analisa melakukan validasi atau verifikasi metode analisa dan PIC
pengembangan proses melakukan optimasi proses terhadap formula terpilih. Tim

69
pengembangan produk akan melakukan preparasi pembuatan skala pilot dengan
melampirkan beberapa dokumen, diantaranya CPB, protocol validasi proses
skala pilot, dan form persetujuan bahan baku. PIC pengembangan proses
menyerahkan data validasi pembersihan produk baru ke QA sesuai SOP validasi
pembersihan. PIC pengembangan proses membuat PR (Purchase Requisition)
dengan menggunakan form PR sehingga procurement melakukan proses
pembelian bahan dengan menggunakan form PO. Apabila produk memerlukan
uji BE maka dapat dilakukan uji BE yang bekerja sama dengan laboratorium
eksternal uji BE.
Uji skala trial biasanya diperlukan sampel 1-2 kg sedangkan uji skala
pilot membutuhkan sampel sebanyak 1/10 dari ukuran produksi atau 100.000
tablet, dipilih salah satu yang jumlahnya lebih besar. Paralel dengan
dilaksanakan uji stabilita pada pilot batch oleh QC. Manajer R&D melakukan
koordinasi pelaksanaan uji BE yang membutuhkan sampel, CDP, dan
komparator. Apabila produk lulus uji BE maka PIC pengembangan kemasan
mengkoordinasikan pembuatan desain kemasan. Tim pengembangan produk
menyusun dossier untuk kebutuhan registrasi. Registrasi dilakukan setelah
rangkaian uji dilaksanakan dan memenuhi kriteria. Registrasi dapat dilakukan
terhadap produk baru ataupun variasi produk yang telah beredar.

F. ENGINEERING DEPARTEMENT
Departemen engineering PT. Nufarindo – Exeltis merupakan departemen yang
berada dibawah naungan Head of Plant. Departemen engineering memiliki tanggung
jawab terhadap pengawasan dan pemeliharaan terhadap fasilitas mesin dan peralatan
yang berada di dalam ruangan produksi, sistem tata udara, sistem pengolahan air dan
sistem pengolahan limbah.
1. Sistem Tata Udara
Sistem Tata Udara atau yang dikenal dengan Air Handling Unit (AHU) atau
Heating, Ventilating and Air Conditioning (HVAC), adalah suatu system untuk
mengkondisikan udara di ruangan melalui pengendalian mutu udara seperti
pengendalian partikel, pengendalian suhu ruangan, pengendalian kelembaban, dan
pembuangan kontaminan yang terdapat di udara. HVAC memberikan perlindungan
terhadap lingkungan pembuatan produk, memastikan produksi obat yang bermutu,

70
memberikan lingkungan kerja yang nyaman bagi personil serta memberikan
perlindungan pada lingkungan dimana terdapat bahan berbahaya melalui pengaturan
sistem pembuangan udara yang efektif dan aman dari bahan tersebut.
Berikut adalahbagian-bagian HVAC, antara lain:
a. Filter
Filter berfungsi untuk mengendalikan dan mengontrol jumlah partikel
dan mikroorganisme yang dapat menjadi kontaminan udara yang dapat masuk
ke dalam ruang produksi. Filter bekerja dengan cara menyaring partikel dan
kontamian yang terdapat di dalam udara. PT. Nufarindo-Exeltis memilki dua
bagian filter dalam suatu sistem HVAC, yaitu Pre-Eliminary Filter dan Final
Filter. Dalam filter Pre-Eliminary terdapat tiga bagian filter yang masing-
masing bagian saling terhubung untuk menyaring partikel dan kontaminan
yang terdapat di udara. Bagian- bagian tersebut yaitu Washable Filter,
Disposable Filter dan Medium Filter. Pada bagian Washable Filter partikel
dan kotaminan dapat tersaring dengan efisiensi sebesar 20%; selanjutnya Pre-
Filter mempunyai efisiensi filtrasi sebesar 30–40%; dan bagian terakhir dari
Pre-eliminary Filter, yaitu Medium Filter dengan efisiensi filtrasi 90–95%.
Kemudian pada bagian Final Filter yang digunakan dalam sistem HVAC
adalah HEPA Filter dengan efisiensi filtrasi sebesar 99, 95%.
b. Cooling Coil/Evaporator
Cooling Coil / evaporator berfungsi untuk menurunkan temperatur udara.
c. Re-Heater
Re- Heater berfungsi untuk memanaskan dengan tujuan mengambil titik
- titik air di udara dan menurunkan kadar kelembaban udara yang akan
didistribusikan ke dalam ruangan produksi. Rendahnya kada RH diperlukan
dalam suatu ruangan produksi dengan tujuan supaya terjaganya kualitas dan
mutu produk.
d. Static Blower Fan
Static Blower Fan berfungsi untuk mengalirkan udara sepanjang sistem
distribusi yang terhubung. Blower ini dapat diatur agar selalu menghasilkan
frekuensi perputaran yang tetap sehingga dapat menghasilkan output udara
dengan debit yang tetap.

71
e. Ducting
Ducting merupakan saluran tertutup sebagai perantara udara yang
terdapat di ruangan produksi dengan sistem HVAC. Terdapat 2 macam
ducting di dalam sistem HVAC, yaitu Supply Air Perforated (SAP) dan Return
Air Perforated (RAP). Fungsi SAP sebagai penghantar udara yang telah
melalui sistem HVAC untuk masuk ke dalam ruangan produksi. Kemudian
fungsi dari RAP yaitu sebagai penarik udara yang terdapat di dalam ruang
produksi untuk dikeluarkan atau disalurkan kedalam sistem HVAC.
f. Dumper
Dumper berfungsi untuk mengatur jumlah (debit) udara yang
dipindahkan ke dalam ruangan produksi. Besar kecilnya debit udara yang
dipindahkan dapat diatur sesuai dengan pengaturan tertentu pada dumper.
Prinsip kerja dalam sistem HVAC dipilih berdasarkan tingkat tingginya resiko
kontaminasi udara yang dibawa dari ruangan produksi untuk melalui sistem HVAC.
Prinsip kerja HVAC pada PT. Nufarindo – Exeltis antara lain :
1) Sistem Terbuka (Full Fresh Air System atau open system)
Sistem ini digunakan untuk produk yang sifatnya berbahaya, seperti
produk yang mengandung alkohol atau produk yang memiliki kontak terhadap
alkohol. Sistem ini bekerja dengan cara memberikan suplai udara dari luar /
lingkungan yang kemudian diolah sehingga memenuhi persyaratan kondisi
suatu ruangan. Udara dari lingkungan luar masuk kedalam sistem HVAC
untuk diolah. Pada bagian Pre-Eliminary System, udara luar akan difiltrasi
dari partikel, kontaminan, atau mikroorganisme dengan didalamnya terdapat
tiga filter yaitu Washable filter, Disposable Filter, dan Medium Filter.
Kemudian udara akan digerakan oleh Static Blower Fan melewati Cooling
Coil/Evaporator yang bertujuan untuk mengontrol suhu dan kelembaban udara
yang masuk. Udara yang telah melewati evaporator menjadi udara dingin dan
terdapat titik air (lembab). Kemudian udara akan melalui Re-Heat untuk
memanaskan udara kembali dan mengatur tingkat kelembaban udara yang
sesuai dengan kelas ruangan di produksi. Selanjutnya udara akan melewati
final filter, yaitu HEPA Filter dengan efisiensi 99,95%. Udara yang telah
melewati HEPA filter akan didistribusikan ke dalam ruang produksi melalui

72
SAP. Udara yang digunakan didalam ruang produksi dan telah terkontaminasi
akan masuk kembali melalui RAP dan akan melalui proses di dalam system
HVAC. Sistem ini digunakan untuk mencegah udara tercemar disirkulasikan
kembali yang akan menimbulkan kontaminasi untuk produk dan juga
berbahaya bagi pekerja.

Gambar 4. HVAC Sistem Terbuka (Open System)


2) Sistem Tertutup (Close System)
Pada sistem ini udara yang digunakan berasal dari dalam ruangan
produksi yang akan diolah kembali oleh sistem HVAC dan akan masuk
kembali ke ruangan poduksi. Sistem ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu
udara lebih stabil (RH, ukuran partikel dan suhu) karena tidak terpengaruhi
oleh kondisi luar ruangan dan kontaminasi sedikit. Sistem ini diperuntukkan
untuk ruangan yang bertujuan untuk meminimalkan kontaminan, seperti ruang
steril, semisolid dan liquid. Tetapi sistem HVAC tertutup memiliki
kekurangan yaitu udara yang terdapat di dalam ruangan produksi menjadi
jenuh.

73
Gambar 5. HVAC Sistem Tertutup (Close System)
3) Sistem Campuran (Mix System)
Sistem ini menggabungkan dua sistem sebelumnya, yaitu sistem terbuka
dan tertutup. Seperti halnya sistem tertutup, pada sistem ini akan dilakukan
inject ducting 10% fresh air yang akan diolah di dalam sitem HVAC melalui
Filter, kemudian masuk ke dalam Cooling Coil, Re – Heat, Blower, Hepa
Filter dan kemudian didistribusikan menuju ruangan produksi melalui ducting.

Gambar 6. HVAC Sistem Campuran (Mixed System)


Tata letak ruang memberikan efek pada kaskade perbedaan
tekanan udara ruangan dan pengendalian kontaminasi silang. Pencegahan
kontaminasi dan kontaminasi silang merupakan suatu pertimbangan desain
yang esensial dari sistem tata udara. Sistem tata udara juga dapat
mempengaruhi tata letak ruang berkaitan dengan hal seperti posisi ruang
penyangga udara (air lock) dan pintu.

74
Area produksi memiliki beberapa ruangan yang memiliki nilai
tekanan udara.Tekanan udara di ruangan produksi digambarkan dengan nilai
positif (+), nilai positif setara dengan 5-20 Pa. Koridor bangunan produksi
memiliki nilai (+++) yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
tekanan pada ruang produksi lainnya sehingga dapat menentukan arah aliran
udara. Prinsip ruang bertekanan udara adalah tekanan udara akan mengalir
dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.
Tekanan setiap ruangan dapat dilihat pada magnehelik yang
diletakkan pada dinding bagian depan ruangan tersebut. Ruang produksi yang
memiliki tekanan (++), yaitu washing room, IPC, ruang pencetakan tablet,
ruang penyalutan, ruang liquid process II, ruang blister, ruang stripping, ruang
penyimpanan, ruang FBD, ruang pencampuran, ruang pengayakan, ruang high
shear granule, dan ruang low shear granule. Nilai (++) menunjukkan ruangan
tersebut negatif terhadap koridor sehingga aliran udara dari koridor bergerak
menuju ruangan-ruangan tersebut. Ruangan di bangunan produksi yang
bernilai (++++), diantaranya ruang peralatan bersih, stagging, ruang kemasan,
liquid process I, office, liquid filling, dan semisolid process. Nilai (++++)
menunjukkan ruangan tersebut positif terhadap koridor sehingga aliran udara
bergerak dari ruangan menuju koridor. Ruang liquid process I dan II memiliki
tekanan yang berbeda. Ruang liquid process II memiliki tekanan negatif
terhadap koridor dikarenakan terdapat mesin double jacket tank pada ruangan
tersebut agar aliran udara bergerak dari koridor ke ruangan dan tidak
mengganggu suhu ruangan lainnya.
G. SISTEM PENGOLAHAN AIR
Air merupakan bahan baku, dalam jumlah besar, terutama untuk produk
sirup, obat suntik cair, cairan infus, dan lain-lain sehingga apabila tercemar, beresiko
sangat fatal bagi pemakai.
Tujuan dari sistem pengolahan air untuk produksi adalah untuk
menghilangkan cemaran yang sesuai dengan standar kualitas air yang telah ditetapkan
dan memastikan produksi obat yang dihasilkan aman bagi para penggunanya. Terdapat
4 hal yang diatur dalam sistem pengolahan air, yaitu spesifikasi mutu air, sistem
pemurnian air, sistem penyimpanan air, dan sistem distribusi air.

75
Ada 3 fase sistem pengolahan air yang digunakan oleh PT Nufarindo yakni
fase 1 (Filtrasi), fase 2 (silica remover), dan fase 3 (purified water).
a. Fase 1 (Filtrasi)
Pada fase satu, air yang diambil dari sumur masih mengandung sedimen. Air
yang diambil dari sumur dipompa masuk ke dalam tandon 1 kemudian diberikan
larutan NaoH untuk memisahkan silica, logam berat lainnya dan menurunkan
konduktifitas sampai <500 µS/cm. kemudian, air dialirkan masuk kedalam filter
pertama yaitu filter fiber silica. Pengolahan ini merupakan tahap pertama yang
bertujuan untuk penjernihan, memfiltrasi lumpur dan mengurangi jumlah partikel-
partikel asing. Metode yang digunakan adalah filtrasi (penyaringan) dengan
menggunakan pasir silica. Kemudian air dialirkan menuju acvite carbon filter
yang berisi karbon aktif yang berfungsi sebagai pre treatment sebelum proses de
ionisasi untuk menghilangkan chlorine, chloramine, benzene, pestisida, bahan-bahan
organik, warna, bau dan rasa dalam air. Selanjutnya air yang sudah disaring akan
masuk dan disimpan ke dalam water tank. Kemudian air dari dalam WaterTank akan
dialirkan menuju Multimedia Filter (MMF) yang berfungsi untuk menghilangkan
lumpur, endapan dan partikel-partikel yang terdapat pada raw water.. Filter-filter ini
tersusun dalam vessel (tabung) atau pasir sebagai alas vessel. Kemudian masuk ke
softener yang berisi kationic berfungsi untuk menghilangkan dan/atau menurunkan
kesadahan air dengan cara mengikat ion Ca++ dan Mg++ yang menyebabkan
tingginya kesadahan air. Pada fase ini air yang berasal dari sumur sudah jernih namun
belum bisa digunakan.
b. Fase 2 (silica remover)
Air yang telah memlui proses fase 1 selanjutnya disaring kandungan silica
nya dengan menggunakan Silica Removal. Kandungan silica di dalam air dapat
bereaksi dengan bahan-bahan tertentu yang ada dalam obat. Kemudian air
ditampung di break tank yang kemudian dipompa menuju PWG (Purified Water
Generation) dengan alat HPP (High Pressure Pump). Selanjutnya air akan masuk
kedalammembrane untuk memfilter sedimen dan mikroba yang lolos pada proses
sebelumnya. Membran ini dapat memfilter partikel diatas ukuran 0,001 mikron.
Air yang tidak dapat memenuhi persyaratan selanjutnya dibuang ke menuju
saluran limbah.

76
c. Fase 3 (purified water)
Sistem ini merupakan sistem pengolahan air yang dapat menghilangkan
berbagai macam cemaran (ion, bahan organik, mikroba dan gas) yang terdapat di
dalam air yang digunakan untuk produksi. Pada fase ini, air yang sudah di
tampung pada break tank selanjutnya dialirkan ke high preassure pump kemudian
ke membran filter. Setelah menghasilkan produk yang baik melewati EDI (electro
deionizing system) merupakan perkembangan dari ion exchange sistem dimana
sebagai pengikat ion (+) dan (-) dipakai juga eletroda disamping resin. Elektroda
ini dihubungkan dengan arus listrik searah sehingga proses pemurnian air dapat
berlangsung terus menerus tanpa perlu regenerasi. Air yang sudah melewat EDI
akan dialirkan untuk melewati UV lamp 1 dan disimpan dalam purified water tank
. Air PW yang berada didalam tank akan didistribusikan ke ruang produksi
melewati UV lamp 2 dengan sistem looping sehingga air yang tidak di gunakan
oleh produksi masuk lagi ke dalam PW tank.
d. Looping System
Purified water system harus dilengkapi dengan looping system sehingga
dapat memungkinkan air tersebut disirkulasi selama 24 jam. Pada sistem ini harus
dilengkapi dengan TOC (Total Organic Carbon) monitor untuk memantau jumlah
senyawa karbon yang terdapat didalam air. Senyawa-senyawa karbon tersebut
dapat berasal dari bangkai kuman (bakteri) yang mati saat proses pengolahan air.
Air dari purified water tank akan mengalami proses looping yang di sterilisasi
menggunakan sinar UV serta dilakukan pemanasan sampai 80℃.

H. SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH


Limbah terbagi menjadi dua jenis, yakni limbah B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun) dan limbah Non B3. Limbah B3 menurut PP Nomor 101 tahun 2014 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun menyebutkan bahwa B3
merupakan zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau
jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan
merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, dan
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain. Limbah B3 perusahaan farmasi

77
ialah limbah yang bersentuhan langsung dengan obat. Limbah B3 juga dapat didaur
ulang, contohnya plastik kemas primer.
Pengolahan limbah di PT. Nufarindo-Exeltis memiliki titik koordinat BT =
110o17’ 31, 03”; LS = 6o58’ 12, 22”. Limbah dibagi menjadi 3 yaitu limbah B3, limbah
non B3 (buku, kertas, plastik yang tidak mengandung kontaminan), dan limbah cair
(liquid). Kemudian terdapat juga limbah yang dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu
limbah dari kegiatan produksi, limbah laboratorium Quality Unit (Laboratorium Kimia
dan Mikrobiologi), limbah hasil percobaan, pengemasan, kantin, kamar mandi, dan
sebagainya.
a. Limbah Cair
Penanganan limbah cair PT. Nufarindo-Exeltis ditangani dengan
pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL merupakan suatu
instalasi yang berfungsi mengolah air limbah menjadi air yang lebih aman, tidak
mencemarkan dan merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain Tujuan IPAL
adalah untuk menurunkan kadar zat pencemar yang terkandung dalam air limbah
sehingga memenuhi persyaratan baku mutu yang telah ditetapkan. Oleh karena
itu tujuan pengolahan limbah memang hanya ditunjukan untuk menurunkan kadar
zat pencemar sampai pada batas waktu mutu yang diperbolehkan. Sumber limbah
cair PT. Nufarindo-Exeltis berasal dari aktivitas produksi liquid, air pencucian
peralatan produksi, air cucian alat dan reagensia dari laboratorium, dan air dari
limbah rumah tangga (kamar mandi dan kantin).
Pengolahan limbah cair dibedakan menjadi dua yaitu limbah yang
langsung dibuang ke saluran air berupa air limbah rumah tangga (kantin).
Sedangkan limbah cair yang harus diolah dialirkan ke IPAL sebelum di buang ke
saluran pembuangan air. Limbah yang masuk ke saluran IPAL merupakan limbah
cair non β-laktam.Limbah cair yang harus diolah sebelum dibuang yaitu berupa
limbah produksi, pencucian peralatan produksi dan alat laboratorium dan limbah
reagensia laboratorium. Tahapan pengolahan limbah cair melalui IPAL adalah
sebagai berikut;
1) Bak Influent

78
Bak influent merupakan bak yang berfungsi sebagai tempat masuknya semua
limbah cair dan sebagai pengatur aliran limbah yang akan diolah ke proses bak
pengumpul. Bak Influent memiliki luas 2,5 m × 2,5 m. Pada bak influent ini
terjadi proses pengendapan awal.
2) Bak Penampung (Equalisasi 1&2)
Air limbah yang terdapat di bak influent dialirkan menuju bak ekualisasi.
Terdapat 2 macam bak equalisasi, yaitu bak equalisasi 1 dan bak equalisasi 2.
Bak ekualisasi 1 berfungsi menangkap kotoran-kotoran seperti minyak/lemak.
Bak ini dilengkapi mixer untuk air limbah agar lebih cepat homogen. Setelah air
limbah sudah homogen karakteristiknya maka dilakukan netralisasi. Netralisasi
bertujuan agar pH air limbah berada pada kondisi netral sehingga mudah untuk
diolah. pH yang diinginkan sekitar 6,5-9 agar pada saat proses anaerobik pH
tersebut optimal bagi mikroorganisme. Netralisasi diberikan larutan kimia
tergantung pH awal limbah. Jika pH air limbah bersifat asam, maka ditambahkan
larutan NaOH dan jika pH air limbah besifat basa ditambah larutan H2SO4 atau
larutan HCl.
Selanjutnya air limbah akan melalui proses pengendapan limbah di dalam bak
equalisasi 2. Air limbah akan didiamkan minimal 8 jam agar limbah benar benar
terpisah dari lumpurnya. Pengendapan limbah dengan penambahan koagulan dan
flokulan. Kemudian lumpur tersebut dialirkan ke bak sludge aktif (Activated
Sludge). Syarat yang digunakan dalam bak equalisasi 2 yaitu pH air minimal 5,5
dan maksimal 8,5 . Suhu air minimal 25oC dan suhu air maksimal 45oC. Dimensi
bak ekualisasi adalah 2,5 m × 3 m × 3 m.
3) Bak UASB (Underflow Anaerobic Sludge Blanked)
Bak UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) merupakan bak
penampungan yang mengolah air limbah menggunakan bantuan bakteri anaerob
dengan suhu 24-45 ℃.Bak ini diberikan mikroorganisme untuk merombak
limbah tersebut. Sumber oksigen berasal dari ganggang yang berada di
perairan.Dimensi bak UASB adalah 2,5 𝑚 6 𝑚 × 2,5 𝑚.
4) Bak Aerasi
Bak aerasi merupakan bak penampungan yang mengolah limbah
menggunakan bakteri aerob.Pada bak ini digunakan untuk menambahkan oksigen

79
dalam limbah menggunakan oxigen injector/aerator. Melalui oxigen injector
udara akan dihembuskan kedalam bak aerasi berupa gelembung gelembung
kecil. Jumlah rata-rata oksigen yang dihasilkan ± 2943m3 / HP / jam. Waktu
yang diperlukan untuk injeksi dan pengadukan rata-rata 38 menit. Air limbah
yang terdapat di dalam bak aerasiakan diaduk secara terus menerus selama 24
jam agar tidak terjadi pengendapan sehingga hasil uraiannya maksimal.
Dimensi bak areasi yaitu 4 𝑚 × 2,5 𝑚 × 2 𝑚. Pada bak aerasi ini terdapat
penambahan O2 dengan menggunakan blower dan aerator yang bekerja secara
bergantian. Blower akan meniupkan udara secara langsung, sedangkan aerator
mensirkulasi air limbah untuk mendapatkan O2.
5) Bak Setling / Stabilasi
Bak setling berfungsi untuk mengecek kualitas limbah sebelum dibuang.
Pengecekan limbah dimaksudkan agar limbah cair tersebut memenuhi syarat
baku mutu limbah cair kegiatan industri farmasi. Jika belum memenuhi maka
limbah dikembalikan kepada proses IPAL. Parameter limbah yang di cek yaitu
pH air netral (6–7). Apabila pH air telah memeuhi persyaratan (netral), air akan
dialirkan menuju bak efluent. Dimensi stabilisasi dan kontrol yaitu 90 𝑚 × 80 𝑚
× 100 𝑚.
6) Bak Efluent
Pada bak ini digunakan sebagi bak kontrol sebelum air dari proses IPAL
masuk kedalam saluran pembuangan. Saluran ini ditentukan titik koordinatnya
dan tidak diboleh dipindahkan ke titik lain. Titik koordinat penataan outlet
Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) PT. Nufrindo-Exeltisadalah LS = 6o5’, 42”
dan BT = 110o25’, 56”. Saluran ini juga berfungsi untuk pengambilan sampel
oleh QC maupun oleh Badan Lingkungan Hidup setiap bulan.
7) Saluran Pembuangan
Saluran pembuangan ini berfungsi untuk menghubungkan bak effluentyang
berisikan air limbah yang sudah di olah ke saluran pembuangan luar seperti
parit, sungai, maupun saluran air lainnya.

b. Limbah Padat

80
Limbah padat yang terdapat di PT. Nufarindo-Exeltis terdiri dari produk yang
tidak memenuhi persyaratan/produk gagal, produk yang mengalami kontaminasi dengan
bahan baku, elektronik, debu-debu selama proses produksi (debu bahan baku, debu
mesin) dan hormone. Pemusnahan limbah precursor dilakukan pemantauan oleh BPOM.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) industri dapat melakukan penyimpanan
paling lama 90 hari sejak limbah B3 dihasilkan sebesar 50 kg per hari/lebih. Sedangkan
untuk limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 kg per hari dapat dilakukan
penyimpanan paling lama 180 hari. Segala bentuk pemusnahan dilakukan pencatatan
dalam Logbook dan di dokumentasikan dalam Berita Acara Pemusnahan (BAP).
Penyimpanan sementara limbah B3 dipisahkan dengan limbah padat lainnya..
Penempatan limbah tergantung dari sifat dan karakteristik limbah, ada beberapa limbah
yang dapat dicampur dan ada pula yang tidak boleh dicampur. Limbah yang bersifat
reaktif tidak boleh dijadikan 1 (satu) dengan limbah yang mudah terbakar.
Pada pengelolaan limbah padat non B3 seperti kertas, karton, palet, dan lain
sebagainya disimpan di tempat penyimpanan yang terpisah dengan limbah B3 dan
limbah-limbah tersebut akan diserahkan kepada pihak ketiga.

81
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Mahasiswa calon Apoteker mampu mengetahui peran, tugas, posisi


serta tanggung jawab sebagai Apoteker di industri farmasi.

2. Mahasiswa Profesi Apoteker memperoleh wawasan, pengetahuan, serta


pengalaman tambahan mengenai seluruh aspek di dalam industri
farmasi dalam menerapkan konsep CPOB dan standar lain yang
digunakan untuk membuat produk yang aman dan berkualitas.

3. Mahasiswa calon apoteker mampu mengetahui permasalahan-


permasalahan apa saja yang muncul di industry farmasi beserta cara
penanganannya.

4. PT. Nufarindo telah menerapkan sistem sesuai CPOB dalam proses


pembuatan obat mulai dari awal sampai akhir.

B. SARAN

1. Penerapan sistem di PT. Nufarindo sesuai CPOB perlu untuk


dipertahankan untuk menjaga konsistensi mutu produk yang dihasilkan.

2. PT. Nufarindo perlu melakukan usaha pencegahan dan penunjang untuk


menurunkan tingkat penyimpangan pada berbagai proses yang dapat
berpengaruh pada mutu produk perlu untuk terus dilakukan.

3. PT. Nufarindo diharapkan sering mengadakan gathering bersama


seluruh karyawan perusahaan untuk mempererat tali silaturrahmi.

82
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Anonim, 2012. Petunjuk Operasional Penerapan Cara Pembuatan Obat Yang


Baik. Badan Pengawas Obat Dan Makanan, Jakarta

Depkes RI, 2010, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi, Departemen
KesehatanRepublik Indonesia, Jakarta.

MenkesRI, 2010, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

83

Beri Nilai