Anda di halaman 1dari 11

JURNAL INKUIRI

ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)


http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
PEMBELAJARAN BIOLOGI DENGAN MODEL PBL DENGAN METODE
EKSPERIMEN DISERTAI TEKNIK “VEE DIAGRAM” DAN
“FISHBONE DIAGRAM” DITINJAU DARI AKTIVITAS
DAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA

Asrorul Azizi1, Suciati2, Maridi3

1
Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, 57126, Indonesia
asrorula88@gmail.com

2
Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret, 57126, Indonesia
suciati.sudarisman@yahoo.com
3
Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret, 57126, Indonesia
maridi_uns@yahoo.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model PBL dengan metode
eksperimen disertai teknik ‘Vee diagram’ dan ‘Fishbone diagram’, aktivitas belajar, dan kreativitas belajar
siswa serta interaksinya terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor siswa pada materi ekosistem.
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X MA
Negeri 1 Praya Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013 yang terdiri dari 6 kelas. Sampel penelitian
ditentukan dengan teknik cluster random sampling terdiri dari dua kelas. Kelas eksperimen I (X.2) belajar
menggunakan model PBL dengan metode eksperimen disertai teknik Vee diagram dan kelas eksperimen II (X.3)
belajar menggunakan model PBL dengan metode eksperimen disertai teknik Fishbone diagram. Teknik
pengumpulan data menggunakan metode tes untuk data prestasi belajar kognitif, angket dan lembar observasi
untuk prestasi belajar afektif dan prestasi belajar psikomotor serta angket untuk aktivitas belajar dan kreativitas
belajar. Uji hipotesis penelitian menggunakan Anava tiga jalan dengan desain faktorial 2x2x2 dengan
mengunakan Software SPSS 18 for Windows. Berdasarkan hasil olah data disimpulkan: 1) ada pengaruh model
PBL dengan metode eksperimen disertai teknik ‘Vee diagram’ dan ‘Fishbone diagram’ terhadap prestasi belajar
psikomotor siswa, tetapi tidak pada prestasi belajar kognitif dan belajar afektif siswa; 2) ada pengaruh aktivitas
belajar tinggi dan aktivitas belajar rendah terhadap prestasi belajar kognitif siswa tetapi tidak pada prestasi
belajar afektif dan belajar psikomotor siswa; 3) ada pengaruh kreativitas belajar tinggi dan kreativitas belajar
rendah terhadap prestasi belajar kognitif siswa tetapi tidak pada prestasi belajar afektif dan belajar psikomotor
siswa; 4) tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan aktivitas belajar terhadap prestasi belajar
kognitif, afektif, dan psikomotor siswa; 5) ada interaksi antara model pembelajaran dengan kreativitas belajar
siswa terhadap prestasi belajar kognitif siswa tetapi tidak pada prestasi belajar afektif dan psikomotor siswa; 6)
tidak ada interaksi antara aktivitas belajar dengan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar kognitif,
afektif, dan psikomotor siswa; 7) tidak ada interaksi antara model pembelajaran, aktivitas belajar, dan kreativitas
belajar belajar siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor siswa.
Kata kunci: Vee diagram, Fishbone diagram, aktivitas belajar, kreativitas belajar.

Pendahuluan Biologi harus bisa mengkomunikasikan


Biologi merupakan salah satu mata pengetahuannya dan mendemonstrasikan materi
pelajaran yang mengkaji tentang mahluk hidup ajar agar konsep pelajaran bisa dicapai.
dan komponen penyusun kehidupan. Menurut Pembelajaran adalah mampu memberikan efek
Nuryani (2005:13), seorang guru Biologi harus positif kepada siswa dalam memaknai proses
mengetahui prinsip Biologi yakni bisa pembelajaran agar siswa bisa memiliki motivasi
berkomunikasi dengan alam terutama mahluk yang tinggi dalam belajar, belajar dalam suasana
hidup, gejala dan ciri hidup serta bisa yang menyenangkan, gembira, penuh semangat,
merencanakan dan melakukan persiapan- tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat
persiapan untuk mengajarkan Biologi. Guru secara terbuka. Menurut Slameto (2010:106)

8
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
untuk menarik perhatian siswa dan kemudian kesempatan diskusi yang masih bersifat
menjaga agar perhatian itu tetap ada maka guru merangkum materi yang sudah ada dibuku teks.
harus mengarahkan siswa kepada hal-hal baru, Kegiatan siswa yakni mendengarkan, menulis
mengarahkan perhatian siswa kepada hal-hal materi yang disampaikan oleh guru dan
yang dianggap rumit dan hal-hal yang merangkum buku teks yang ada. Pemanfaatan
diminatinya. sarana penunjang dan potensi lingkungan yang
Banyak guru yang masih berasumsi jika ada belum dimanfaatkan secara optimal, keadaan
mempunyai pengetahuan dan keahlian dalam tersebut menyebabkan siswa menjadi kurang
suatu materi, dia pasti akan dapat mengajar. terlibat ketika pembelajaran berlangsung dan
Adanya anggapan bahwa guru tidak perlu tahu membuat interaksi antara siswa-siswa dan siswa-
mengenai proses belajar mengajar yang tepat, guru masih sangat kurang.
guru hanya perlu menuangkan apa yang Materi pelajaran yang dipilih adalah
diketahuinya kepada siswa yang siap materi ekosistem, konsep dan permasalahan
menerimanya. Alternatif satu-satunya yang ekosistem yang begitu dekat dengan siswa serta
sering dipakai adalah metode ceramah dan interaksinya siswa dengan ekosistem selalu ada
mengharapkan siswa duduk, diam, mendengar, di kehidupan sehari-hari. Problem Based
mencatat dan menghafal. Pembelajaran dengan Learning (PBL) dirasa mampu untuk
paradigma tersebut tidak bisa secara aktif membangkitkan interaksi siswa dan
melibatkan siswa, sehingga pembelajaran sains meningkatkan potensi kemampuan analisis
diantarannya pelajaran Biologi belum sesuai masalah siswa. Menurut Sanjaya (2007: 214):
harapan. “PBL dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas
Chinn dan Malhotra (dalam Chinn, pembelajaran yang menekankan kepada proses
2005:45) menyatakan bahwa: tujuan ahir dari penyelesaian masalah yang dihadapi secara
pendidikan sains yaitu untuk memicu berfikir ilmiah”. Masalah dalam PBL adalah masalah
ilmiah siswa. Guru mendukung siswa untuk yang bersifat terbuka, artinya jawaban dari
menggunakan inkuiri berdasarkan masalah yang masalah tersebut belum pasti. sehingga setiap
memicu proses kognitif yang para ahli gunakan siswa, bahkan guru, dapat mengembangkan
ketika penelitian. Proses kognitif yang kemungkinan jawaban. PBL memberikan
digunakan meliputi keinginan untuk menjawab kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi
permasalahan dalam penelitian, merancang mengumpulkan dan menganalisis data secara
pembelajaran berdasarkan masalah, melakukan lengkap untuk memecahkan masalah yang
observasi, menjelaskan hasil, mengembangkan dihadapi.
teori dan mempelajari penelitian-penelitian lain. Metode pembelajaran eksperimen
Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran efektip mengembangkan kemampuan siswa yang
sains adalah untuk meningkatkan kemampuan tidak dapat ditemui pada metode pembelajaran
berfikir ilmiah siswa dan guru berperan dalam konvensional. Menurut Sagala (2011:220)
memfasilitasi kemampuan menemuan eksperimen adalah percobaan untuk
berdasarkan tugas-tugas yang mendukung proses membuktikan suatu pernyataan atau hipotesis
kognitif siswa. Sistem pengetahuan yang bersifat tertentu, eksperimen dapat dilakukan di
menyeluruh yang diperoleh melalui observasi, laboratorium atau di luar laboratorium.
penjelasan hasil pembelajaran, mengembangkan Karakteristik metode pembelajaran eksperimen
teori dan mempelajari hasil penelitian lainnya. yaitu mengarahkan siswa untuk menemukan
Belajar sains adalah belajar berproses, maka permasalahan yang sedang terjadi kemudian
dalam proses belajar seharusnya memberikan mendorong siswa untuk menemukan cara dalam
kesempatan siswa untuk mencari pengalaman memecahkan permasalahan. Metode ini sangat
secara langsung agar memperoleh pemahaman sesuai dengan karakteristik materi Biologi yang
secara lebih mendalam. mempelajari fakta-fakta ilmiah.
Hasil observasi di MA Negeri 1 Praya Kemampuan siswa dalam menentukan
menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran masalah, merumuskan masalah dan
sudah cukup bervariasi, tetapi masih didominasi menyimpulkan suatu fenomena dirasa sangat
dengan penjelasan materi oleh guru. Kegiatan penting di dalam mengambil penyelesaian
pembelajaran yang dilaksanakan hanya dengan masalah secara tepat. Banyak cara yang bisa
menyampaikan materi di depan kelas, kadang- digunkan untuk menyimpulkan suatu
kadang memberi pertanyaan kepada siswa, tetapi permasalahan seperti menggunakan rangkuman

9
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
teks, diagram, tabel dan juga presentasi. Analisis proses belajar mengajar. Kreativitas belajar
akar permasalahan bisa menggunakan Vee dapat diartikan sebagai kemampuan siswa
digram dan Fishbone diagram. Menurut Novak menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik
& Gowin (dalam Calais, 2009), Vee diagram berupa kemampuan mengembangkan
pada dasarnya merupakan metode untuk kemampuan formasi yang diperoleh dari guru
membuat hubungan antara thinking dan doing dalam proses belajar mengajar yang berupa
yang terjadi selama di laboratorium. Vee pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi
diagram digunakan untuk menjelaskan ide yang baru dalam belajarnya. Gufron (2010:103)
pokok yang memperhatikan dasar pengetahuan menyimpulkan bahwa kreativitas adalah prestasi
dan proses penyusunan pengetahuan di dalam yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang
pengajaran laboratorium. Fishbone diagram baru berdasarkan bahan, informasi, data, atau
digunakan untuk membantu mengkategorikan elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya
penyebab banyak potensi masalah atau isu yang menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat
mungkin ada dalam bisnis atau bahkan dalam serta memecahkan masalah yang tidak dapat
kehidupan sehari-hari, dengan cara yang tertib ditemukan oleh kebanyakan orang.
dalam mengidentifikasi akar penyebab. Dalam pembelajaran memiliki indikator
Fredendall (dalam Dogget, 2005) menyebut yaitu prestasi belajar yang mengacu pada tujuan
proses dalam Fishbone sebagai satu latihan yang belajar menurut taksonomi Bloom (dalam
terstruktur dalam mengungkapkan pendapat Azwar, 2010:8) meliputi tiga ranah yaitu ranah
(Brainstorming). Kedua diagram ini bisa kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.
digunakan dalam pembelajaran dengan model Relevansi prestasi belajar dengan kareakteristik
PBL karena kedua diagram sama-sama memiliki sains adalah ranah kognitif menunjukkan produk
tujuan untuk menganalisis sebab-sebab dari sains yang dihasilkan, ranah afektif
suatu masalah. menunjukkan sikap ilmiah siswa, serta ranah
Menurut Ben-Hur (dalam Sabri, 2011): psikomotor menunjukkan proses sains atau
“Diagram Venn, diagram V, peta konsep, atau metode ilmiah untuk menghasilkan produk.
tabel adalah perangkat yang, bagi guru, bisa Prestasi belajar ranah kognitif
membantu dalam mengidentifikasi miskonsepsi berhubungan dengan ingatan atau pengenalan
dan cacat dalam struktur kognitif siswa”. terhadap pengetahuan dan informasi serta
Penggunaan perangkat tersebut, siswa pengembangan kemampuan intelektual.
mengilustrasikan secara terbuka hasil penapsiran Kemampuan kognitif meliputi kemampuan
dan pemahaman siswa tentang topik yang dikaji intelektual siswa yang dapat diukur
atau masalah yang dipecahkan. menggunakan tes prestasi dan hasilnya dapat
Faktor internal siswa harus diperhatikan dinyatakan secara kuantitatif. Ranah kognitif
dalam penelitian pembelajaran. Faktor internal dalam taksonomi Bloom terdiri dari enam
yang bepengaruh antara lain aktivitas dan tingkatan perilaku yaitu: pengetahuan,
kreativitas belajar. Menurut Dimyati dan pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
Mudjiono (2002:236): ”Aktivitas belajar yang evaluasi. Keenam jenis perilaku tersebut
dialami oleh anak didik merupakan suatu proses menggambarkan tingkatan kemampuan yang
yaitu proses belajar sesuatu”. Artinya, proses dimiliki siswa yang tersusun secara hirarkis.
belajar yang berhubungan dengan bahan belajar Artinya, untuk belajar menuju perubahan
tersebut dapat diamati oleh guru, umumnya perilaku harus harus diawali dari kemampuan-
dikenal sebagai aktivitas belajar siswa. Setiap kemampuan yang lebih rendah terlebih dahulu
aktivitas belajar akan menghasilkan perubahan- kemudian meningkat kearah kemampuan yang
perubahan yang dapat berupa tingkah laku, lebih tinggi.
kecakapan, sikap, minat, nilai maupun pola Prestasi belajar ranah afektif berhubungan
dalam beraktivitas. dengan perhatian, sikap, penghargaan, nilai,
Kreativitas merupakan istilah yang perasaan dan emosi. Hal lain yang patut
banyak digunakan di berbagai macam bidang, mendapat perhatian dari ranah afektif adalah
baik di lingkungan sekolah maupun di respon terhadap pelajaran, sikap disiplin,
lingkungan kehidupan bermasyarakat. Menurut motivasi belajar, menghargai guru dan teman,
Slameto (2010: 138), kreativitas merupakan hasil perasaan, keingintahuan, dan hasrat untuk
belajar dalam kecakapan kognitif, sehingga bertanya. Ranah afektif berdasarkan taksonomi
untuk menjadi kreatif dapat dipelajari melalui Bloom terdiri dari lima jenis perilaku yang

10
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
meliputi: menerima, merespon, menilai, serta aktivitas belajar dan kreativitas belajar
mengorganisasi, dan mengkarakterisasi. siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah
Prestasi belajar ranah psikomotor seluruh siswa kelas X semester 2 MA Negeri 1
berhubungan dengan keterampilan motorik, Praya kabepaten Lombok Tengah Tahun
manipulasi benda atau kegiatan yang Pelajaran 2012/2013. Sedangkan sampel
memerlukan peranan sistem koordinasi. Prestasi penelitian adalah siswa kelas X.2 dan kelas X.3.
belajar ranah psikomotor yang digunakan dalam Penentuan kelas yang dijadikan sampel
penelitian ini adalah kemampuan menganalisis dilakukan dengan teknik klaster secara acak
meliputi keterampilan mengamati (observation), (cluster random sampling) untuk mementukan
mengajukan pertanyaan (question), membuat kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2.
hipotesis, melakukan eksperimen, dan Penggunaan teknik klaster dikarenakan
mengkomunikasikan prestasi (communication). pemilihan sampel bukan berdasarkan individual,
menyimpulkan (inferention). tetapi lebih didasarkan pada kelompok yang
Tujuan penelitian ini adalah untuk secara alami berkumpul bersama (Sukardi,
mengetahui: 1) pengaruh model PBL dengan 2007:61). Kelas X.2 dan X.3 yang menjadi
metode eksperimen disertai teknik Vee diagram sampel pada penelitian ini ditentukan dengan
dan teknik diagram Fishbone diagram terhadap pengujian kesetaraan menggunakan uji t dua
prestasi belajar siswa; 2) pengaruh aktivitas variabel bebas dan dilakukan sebelum
belajar tinggi dan aktivitas belajar rendah diberikan perlakuan.
terhadap prestasi belajar siswa; 3) pengaruh Variabel bebas dalam penelitian ini
kreativitas belajar tinggi dan kreativitas belajar adalah model pembelajaran yang terdiri dari
rendah terhadap prestasi belajar siswa; 4) model PBL dengan metode eksperimen disertai
interaksi antara aktivitas belajar dengan teknik Vee diagram dan model PBL dengan
kreativitas belajar terhadap prestasi belajar metode eksperimen disertai teknik Fishbone
siswa; 5) interaksi antara model PBL dengan diagram. Model PBL dengan metode
metode eksperimen disertai teknik Vee diagram eksperimen disertai Vee diagram dalam
dan teknik Fishbone diagram dengan dengan penelitian ini merupakan suatu penerapan
aktivitas belajar terhadap prestasi belajar siswa; pembelajaran yang berorientasi kepada suatu
6) interaksi antara model PBL dengan metode permasalahan yang akan diuji melalui suatu
eksperimen disertai teknik Vee diagram dan percobaan dan akan ditarik kesimpulan
teknik diagram Fishbone diagram dengan menggunakan teknik Vee diagram. Model
kreativitas belajar terhadap prestasi belajar pembelajaran PBL dengan metode eksperimen
siswa; 7). interaksi antara model PBL dengan disertai Fishbone diagram dalam penelitian ini
metode eksperimen disertai teknik Vee diagram merupakan suatu penerapan pembelajaran yang
dan teknik Fishbone diagram dengan aktivitas berorientasi kepada suatu permasalahan yang
belajar dan kreativitas belajar terhadap prestasi akan diuji melalui suatu percobaan dan akan
belajar siswa. ditarik kesimpulan menggunakan teknik
Metode Penelitian Fishbone diagram. Variabel moderator adalah
Penelitian ini dilaksanakan di MA aktivitas belajar dan kreativitas belajar siswa.
Negeri 1 Praya Kabupaten Lombok Tengah Variabel terikat adalah prestasi belajar yaitu
Nusa Tenggara Barat. Waktu pelaksanaan pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
penelitian yaitu di semester II Tahun Pelajaran Teknik pengumpulan data prestasi
2012-2013, bulan Maret 2013 sampai dengan kognitif menggunakan metode tes, pengumpulan
bulan April 2013. Jenis penelitian ini adalah data prestasi afektif dan psikomotor siswa
penelitian kuasi eksperimen dengan dua diperoleh dengan metode observasi dan angket,
perlakuan yang melibatkan lebih dari satu dan pengumpulan data aktivitas belajar dan
kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen kreativitas belajar menggunakan angket.
pertama merupakan kelompok yang diberi Kriteria aktivitas belajar dan kreativitas
pembelajaran model PBL dengan metode belajar siswa dianalisis dari skor angket . Data
eksperimen disertai teknik Vee diagram dan dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu
kelompok eksperimen kedua diberi pembelajaran kategori tinggi dan rendah yang bertujuan untuk
model PBL dengan metode eksperimen disertai mengkategorikan interaksi yang dimiliki oleh
teknik Fishbone diagram dengan melihat siswa. Siswa yang memiliki kategori tinggi
prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor apabila nilai yang diperoleh lebih besar atau
11
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
sama dengan nilai rata-rata dan siswa yang pada pembeljaran menggunakan model PBL
memiliki kategori rendah apabila nilai lebih kecil dengan metode eksperimen disertai Fishbone
dari nilai rata-rata. Sedangkan untuk mengetahui diagram aktivitas belajar rendah dan kreativitas
prestasi belajar kognitif, sampel diberikan tes belajar rendah dengan nilai yaitu 62,18. Pada
yang berupa soal-soal pilihan ganda untuk materi ranah afektif, nilai rata-rata siswa tertinggi
ekosistem. Soal-soal tersebut disesuaikan dengan berada pada pembelajaran yang menggunakan
kisi-kisi soal yang disusun denagan orientasi model PBL dengan metode eksperimen disertai
pada silabus. Fishbone diagram aktivitas belajar tinggi dan
Berdasarkan hasil uji coba soal tes kreativitas belajar tinggi, dan nilai rata-rata siswa
didapatkan validitas dan realibilitas tes tersebut. terendah berada pada pembelajaran yang
Instrumen dalam penelitian ini terbagi menjadi menggunakan model PBL dengan metode
dua yaitu: instrumen pelaksanaan penelitian dan eksperimen disertai Vee diagram aktivitas
instrumen pengambilan data. Instrumen belajar tinggi dan kreativitas belajar rendah
pelaksanaan penelitian yang meliputi silabus, dengan nilai rata-rata yaitu 80,10. Pada ranah
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), psikomotor nilai rata-rata siswa tertinggi berada
lembar kerja siswa (LKS). Instrumen pembelajaran yang menggunakan model PBL
pengambilan data yang meliputi angket aktivitas dengan metode eksperimen disertai Vee diagram
belajar dan angket kreativitas belajar, angket aktivitas belajar rendah dan kreativitas belajar
afektif, angket psikomotor, lembar observasi tinggi dengan nilai rata-rata yaitu 81,50, dan
afektif dan lembar observasi psikomotor. nilai rata-rata siswa terendah berada pada
Sebelum melaksanakan tes, instrumen pembelajaran yang menggunakan model PBL
pengambilan data harus diuji cobakan terlebih dengan metode eksperimen disertai Fishbone
dahulu untuk mengetahui validitas, reliabilitas, diagram aktivitas belajar tinggi dan kreativitas
dan untuk tes prestasi belajar kognitif diuji juga belajar tinggi.
daya pembeda dan derajat kesukaran dari tes Analisis data yang digunakan dalam
tersebut. penelitian ini adalah ANAVA 2x2x2 dengan α =
5%. Tujuan dari analisis untuk menguji
Hasil Penelitian dan Pembahasan
signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap
Data yang diperoleh dari penelitian ini satu variabel terikat dan interaksi variabel
adalah data variabel moderator yang terdiri atas moderator, variabel bebas terhadap variabel
data aktivitas belajar, kreativitas belajar serta terikat. Statistik uji menggunakan General
data prestasi belajar kognitif, afektif dan Linear Model yang terdapat dalam Software
psikomotor siswa. Deskripsi data tersebut SPSS 18 for Windows.
disajikan pada Tabel 1. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu Ho
Tabel 1. Data Prestasi Belajar Siswa (hipotesis nol) dan H1 (hipotesis alternatif).
Variabel Nilai Rata-Rata Hipotesis nol menyatakan tidak ada pengaruh
Model
Aktivi- Kreati-
Jumlah Kogni Afek psikomo atau interaksi antara variabel satu dengan
tas vitas
pembelajaran
belajar belajar
siswa tif tif tor variabel yang lain. Sedangkan hipotesis alternatif
PBL dengan Tinggi 17 83.35 89.79 77.35 menyatakan ada pengaruh atau interaksi antara
Tinggi
metode Rendah 5 75.40 80.10 74.68 variabel satu dengan variabel yang lain. Kriteria
eksperimen Tinggi 2 65.00 89.00 81.50
disertai teknik Rendah 71.85 87.90 77.71 pengujiannya yaitu jika α < 0,05 maka Ho
Rendah 13
Vee diagram ditolak dan H1 diterima dan jika α > 0,05 maka
PBL dengan Tinggi 9 84.67 91.11 69.22 Ho diterima dan H1 ditolak. Pada hipotesis yang
Tinggi
metode Rendah 3 75.00 94.67 70.67
eksperimen Rendah Tinggi 7 74.57 89.14 75.57 Ho-nya ditolak dilakukan uji lanjut Anava untuk
disertai teknik Rendah 17 62.18 89.00 69.53 mengetahui variabel yang lebih berpengaruh
Fishbone
diagram
terhadap prestasi belajar. Uji lanjut yang
digunakan adalah analisis Compare Mean yang
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa nilai terdapat dalam Software SPSS 18 for Windows.
rata-rata tertinggi untuk prestasi belajar kognitif Rangkuman data hasil pengujian
siswa diperoleh pada pembeljaran menggunakan hipotesis disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Uji Hipotesis Penelitian Ranah Kognitif
model PBL dengan metode eksperimen disertai
Nilai Signifikansi
Fishbone diagram aktivitas belajar tinggi dan Hipo
Grouping Variable Kognitif Afektif Psiko-
tesis
kreativitas belajar tinggi dengan nilai rata-rata motor
yaitu 84,67, dan nilai rata-rata terendah berada 1 Metode .976 .106 .003
2 Aktivitas .000 .953 .155
12
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
3 Kreativitas .024 .483 .204 dipengaruhi model pembelajaran. Menurut teori
4 Aktivitas*Kreativitas .968 .166 .819
5 Metode* Aktivitas .041 .179 .830 kognitif Piaget (dalam Sagala, 2011:24-25)
6 Metode*Kreativitas .227 .641 .321 yaitu teori keseimbangan yang disebut
7 Metode* .080 .244 .462 “accommodation” memberi penjelasan bahwa
Aktivitas*Kreativitas
Berdsarkan Tabel 2, dapat disimpulkan struktur kognitif siswa dapat berubah kalau
dari pengujian hipotesis pada ranah kognitif, individu berhadapan dengan hal-hal baru yang
afektif, dan psikomotor sebagai berikut: tidak dapat diorganisasikan kedalam struktur
1) Ada Pengaruh Model PBL dengan Metode yang telah ada.
Eksperimen Disertai Teknik Vee Diagram Hasil uji lanjut didapatkan nilai
dan Model PBL dengan Metode Eksperimen signifikansi 0,00 dan lebih kecil dari 0,05 dengan
Disertai Teknik Fishbone diagram terhadap demikian terdapat perbedaan pengaruh antar
prestasi belajar Siswa. kedua cara pembelajaran yang diberikan pada
Berdasarkan uji hipotesis diketagui ranah psikomotor. Nilai rata-rata prestasi belajar
bahwa hipotesis nol diterima pada ranah kognitif siswa yang menggunakan model PBL dengan
dan afektif, pada ranah psikomotor hipotesis nol metode eksperimen disertai teknik Vee diagram
ditolak, sehingga diketahui ada pengaruh model adalah 77,38, nilai ini lebih tinggi dibandingkan
PBL dengan metode eksperimen disertai teknik dengan nilai rata-rata siswa yang menggunakan
Vee diagram dan model PBL dengan metode model PBL dengan metode eksperimen disertai
eksperimen disertai teknik Fishbone diagram teknik Fishbone diagram yaitu 70,72. Artinya,
terhadap prestasi psikomotor. pembelajaran menggunakan model PBL dengan
Sintaks awal PBL yang begitu penting metode eksperimen disertai teknik Vee diagram
sebelum memecahkan masalah adalah lebih baik daripada model PBL dengan metode
mengorganisasi siswa untuk belajar dan eksperimen disertai teknik Fishbone diagram
melakukan eksperimen. Pelaksanaan eksperimen dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada
akan lebih baik dengan cara berkelompok. ranah psikomotor.
Melalui kerja kelompok, siswa akan lebih mudah 2) Ada Pengaruh Aktivitas Belajar Tinggi dan
dalam menemukan konsep dan mengasah Aktivitas Belajar Rendah Terhadap Prestasi
kemampuan memecahkan masalah. menurut Belajar Siswa.
Halizah dkk.(18:2008) bahwa: “Group learning Berdasrkan uji hipotesis didapatkan
facilitates not only the acquisition of knowledge hipotesis nol ditolak pada ranah kognitif. Pada
but also several other desirable attributes such ranah afektif dan psikomotor hipotesis nol
as communication skills, teamwork, problem diterima. Artinya ada pengaruh aktivitas belajar
solving, independent responsibility for learning, tinggi dan aktivitas belajar rendah terhadap
sharing information and respect for others”, prestasi belajar siswa pada ranah kognitif tetapi
yang intinya pembelajaran dengan cara tidak pengaruhnya terhadap prestasi belajar
berkelompok tidak hanya berpengaruh terhadap ranah afektif dan psikomotor.
pengetahuan saja, tetapi bisa berpengaruh Aktivitas merupakan prinsip atau asas
terhadap berbagai macam aspek lain yaitu yang sangat penting dalam interaksi belajar
berpengaruh terhadapat kemampuan mengajar. Kelangsungan belajar sangat
berkomunikasi, bekerjasama dan kemampuan diperlukan adanya aktivitas. Dapat dikatakan
berbagi informasi. Pada penelitian yang bahwa tanpa aktivitas, maka proses belajar
dilakukan, pemecahan masalah yang dilakukan tidak mungkin berlangsung dengan baik.
siswa dipengaruhi oleh aspek psikomotor siswa. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:236):
Kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan ”Aktivitas belajar yang dialami oleh anak didik
kemampuan berbagi informasi melalui presentasi merupakan suatu proses yaitu proses belajar
yang difasilitasi oleh model PBL membuat sesuatu”.
aktivitas siswa semakin tinggi sehingga prestasi Bruner (dalam Dahar, 2008:74)
belajar psikomotor menjadi lebih baik. menganggap bahwa belajar penemuan sesuai
Penggunaan model pembelajaran PBL dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
dengan metode eksperimen disertai teknik Vee manusia, dan dengan sendirinya memberikan
diagram dan Fishbone diagram adalah hasil yang paling baik. Sehingga implementasi
perpaduan yang menjadi hal baru dalam pandangan Bruner dalam pembelajaran sains
pelaksanaan pembelajaran, sehingga ranah adalah peserta didik didorong untuk
prestasi ranah kognitif dan afektif belum bisa meningkatkan aktivitasnya dalam proses

13
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
pembelajaran yang dilakukan untuk yaitu: “ Yang terpenting dalam kreativitas itu
mendapatkan pengalaman yang memungkinkan bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah
peserta didik menemukan pengetahuan sendiri. diketahui orang sebelumnya, melainkan bahwa
Dengan melihat nilai signifikansi yang produk kreativitas itu merupakan sesuatu yang
diperoleh yaitu 0,00 < 0,05 dan nilai rata-rata baru bagi diri sendiri dan tidak harus merupakan
siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi sesuatu yang baru bagi orang lain”. Dapat
yaitu 81,79 dan siswa yang memiliki aktivitas disimpulkan bahwa kreativitas merupakan
belajar rendah yaitu 67,77. Artinya siswa yang kemampuan untuk mengkombinasikan antara
memiliki aktivitas belajar tinggi dan siswa unsur-unsur yang baru dari hal-hal yang
yang memiliki aktivitas belajar rendah sudah ada sebelumnya dan menerapkannya
memiliki perbedaan pengaruh yang signifikan. dalam pemecahan masalah.
Hal ini disebabkan karena pembelajaran Menurut Cobb (dalam Paul, 2007:11):
menggunakan model PBL dengan metode “Dalam teori sosiokultural kegiatan seseorang
eksperimen siswa dituntut banyak beraktivitas dalam mengerti sesuatu selalu dipengaruhi oleh
melakukan percobaan, ikut serta dalam kegiatan partisipasinya dalam praktek-praktek sosial dan
belajar dan diskusi kelompok secara aktip untuk kultur yang ada seperti situasi sekolah,
menemukan pemecahan masalah yang di ajukan masyarakat, teman dan lain-lain”. Oleh karena
dalam pembelajaran. itu, terdapat faktor lain yang mempengaruhi
3) Ada Pengaruh Kreativitas Belajar Tinggi dan kreativitas belajar yaitu interaksi sosial. Hasil
Kreativitas Belajar Rendah Terhadap penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa
Prestasi Belajar Siswa. interaksi siswa kurang maksimal. Masih terdapat
Berdasarkan keputusan uji maka siswa yang tidak berperan dalam kegiatan
hipotesis nol ditolak pada ranah kognitif dan penyelidikan atau praktikum. Inilah yang
hipotesis nol diterima pada ranah afektif dan menyebabkan kreativitas belajar siswa kurang
psikomotor. Artinya, ada pengaruh kreativitas berkembang dan tidak mempengaruhi hasil
belajar tinggi dan kreativitas belajar rendah belajar. Faktor yang mempengaruhi prestasi
terhadap prestasi belajar kognitif siswa tetapi belajar ranah afektif psikomotor adalah adanya
tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar ranah siswa siswa kurang menghargai pendapat teman
afektif, dan psikomotor. kelompoknya dan teman di kelompok lainnya,
Nilai rata-rata prestasi belajar kognitif kerjasama dalam bekerja kelompok juga belum
siswa dengan kreativitas belajar tinggi adalah maksimal. Pada penelitian didapatkan bahwa
80,89 dan siswa dengan kreativitas belajar keterampilan siswa di dalam, merencanakan
rendah adalah 68,24. Berdasarkan perbedaan praktikum, melakukan praktikum, menafsirkan,
nilai rata-rata ini dan nilai signifikansi yang 0,00 dan mengkomunikasikan masih belum optimal.
< 0,05 diketahui bahwa siswa dengan kreativitas 4) Tidak Ada Interaksi Antara Metode PBL
belajar tinggi lebih baik daripada siswa dengan dengan Metode Eksperimen Disertai Vee
kreativitas belajar rendah. Hal ini sejalan Diagram dan Model PBL dengan Metode
dengan harapan beberapa ahli seperti Toreence Eksperimen Disertai Fishbone Diagram
(dalam Gufron, 2010:103) yang menyatakan dengan Aktivitas Belajar Siswa Terhadap
bahwa kreativitas bisa memberikan kemampuan Prestasi Belajar Siswa.
yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, Berdasarkan keputusan uji maka
orisinalitas dalam berpikir dan kemampuan hipotesis nol diterima pada ranah kognitif,
untuk mengelaborasi suatu gagasan. afektif, dan psikomotor. Artinya tidak ada
Model PBL dengan metode eksperimen interaksi antara metode PBL dengan metode
disertai teknik Vee diagram dan Fishbone eksperimen disertai Vee diagram dan model PBL
diagram meningkatkan pemikiran kreatif. Hal ini dengan metode eksperimen disertai Fishbone
dikarenakan, di dalam kedua metode ini diagram dengan aktivitas belajar siswa terhadap
terkandung proses memikirkan berbagai gagasan prestasi belajar siswa baik pada ranah kognitif,
atau pemecahan masalah. Proses pemikiran afektif, dan psikomotor. Hal ini menunjukkan
kreatif bersifat holistik dan imajinatif dengan bahwa siswa yang memiliki aktivitas tinggi akan
mempertimbangkan berbagai kemungkinan. memperoleh prestasi belajar yang lebih baik jika
Sejalan dengan teori kreativitas, Moreno dibandingkan dengan siswa yang memiliki
dalam Slameto (2003:146) yang mengungkapkan kreativitas rendah baik yang diajarkan dengan
hubungan antara kreativitas dengan penemuan metode PBL dengan metode eksperimen disertai

14
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
Vee diagram maupun dengan metode PBL model konstruktivisme, guru harus
dengan metode eksperimen disertai Fishbone memperhatikan berfikir kritis dan kreatif, siswa
diagram. Demikian juga siswa yang memiliki dapat menggunakan berfikir tingkat tinggi secara
kreativitas tinggi akan tetap memperoleh prestasi kritis dan kreatif agar siswa bisa menganalisis,
afektif dan psikomotor lebih baik meskipun membuat sintesis, memecahkan masalah dan
metode yang digunakan berbeda. membuat kesimpulan (Hilda, 2007: 29).
Menurut Vigotsky (dalam Suswoyo, Penentuan peningkatan prestasi belajar
2011:115), pembelajaran terjadi apabila anak kognitif siswa adalah pemahaman siswa tentang
bekerjasama atau menangani tugas-tugas yang materi yang dipelajari melalui kegiatan
belum dipelajari namun tugas-tugas itu berada penyelidikan atau praktikum. Prestasi belajar
dalam zone of proximal development (ZPD). afektif ditentukan oleh sikap atau perilaku siswa
Tidak adanya interaksi antara model dalam melakukan kegiatan pembelajaran seperti
pembelajaran dengan aktivitas belajar jujur, cermat, disiplin, berani menyampaikan
dimungkinkan karena model PBL dengan gagasan, bekerjasama, kritis dan lain-lain.
metode eksperimen disertai teknik Vee diagram Prestasi belajar psikomotor ditentukan oleh
dan Fishbone diagram yang digunakan masih keterampilan siswa dalam melakukan praktikum
diluar ZPD siswa, sehingga aktivitas belajar di laboratorium ataupun di kelas seperti
siswa tidak berinteraksi dengan model PBL keterampilan mengamati, berhipotesis,
dengan metode eksperimen disertai teknik Vee merencanakan percobaan, melakukan percobaan,
diagram dan Fishbone diagram terhadap prestasi menafsirkan data, memprediksi, menerapkan
belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa. konsep, dan mengkomunikasikan.
Masalah prestasi afektif dan psikomotor yang Kreativitas belajar tinggi menjadi
ditemui, dikarenakan perkembangan sosial anak variabel yang begitu menentukan terhadap
yang masih tidak stabil dan masih prestasi kognitif siswa. dengan perbandingan
mementingkan kepentingan pribadi. Menurut kombinasi model dan teknik, kreativitas tinggi
Erikson (dalam Suswoyo, 2011:114): “Siswa tetap menunjukkan keunggulannya. Menurut
yang usianya 12-18 masih dalam fase Treffinger (dalam Reni, 2002:13), kreativitas
perkembangan ego-identity vs role onfusion”, memiliki nilai penting dalam kehidupan, dengan
yaitu siswa ingin mencari identitas diri, ingin kreativitasnya seorang dapat melakukan model
memegang peranan sosial di masyarakat tetapi secara bervariasi dengan bermacam-macam
masih belum bisa mengatur dan memisahkan kemungkinan penyelesaian terhadap sesuatu
tugas dan peran yang berbeda. persoalan. Potensi kreatifnya, seseorang dapat
5) Terdapat Interaksi Antara Pembelajaran menunjukkan hasil perbuatan, kinerja atau karya
Model PBL dengan Metode Eksperimen baik dalam bentuk barang maupun gagasan
Disertai Teknik Vee Diagram dan Model secara bermakna dan berkualitas.
PBL dengan Metode Eksperimen Disertai Penggunaan teknik diagram pada
Teknik Fishbone Diagram dengan penelitian ini menunjukkan penggunaan Vee
Kreativitas Belajar Siswa Terhadap Prestasi diagram lebih unggul daripada Fishbone
Belajar Siswa. diagram . Hal ini bisa dilihat dari perbandingan
Berdasarkan keputusan uji maka antara Vee diagram dan Fishbone dengan
hipotesis nol ditolak pada ranah kognitif. variabel moderator yang sama yaitu kreativitas
Terdapat interaksi antara pembelajaran model rendah menunjukkan pengaruh Vee diagram jauh
PBL dengan metode eksperimen disertai teknik lebih baik. Keunggulan ini dikarenakan jika
Vee diagram dan model PBL dengan metode seseorang mengikuti proses Vee diagram,
eksperimen disertai teknik Fishbone diagram seseorang akan dengan tepat membangun
dengan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi struktur pengetahuannya. Menurut Passmore
kognitif, dan tidak ada interaksi terhadap prestasi (1998) bahwa Vee diagram, menghubungkan
afektif, dan psikomotor. antara pengembangan atau penemuan
Adanya interaksi antara model pengetahuan dari aktivitas prosedural yang
pembelajaran dengan kreativitas belajar siswa dilakukan di laboratorium dan konsep-konsep
mampu meningkatkan kognisi siswa. Pemilihan dan ide teoritis yang membimbing ke arah
model pembelajaran yang tepat seperti model inkuiri ilmiah.
PBL akan mendorong siswa untuk berpikir
tingkat tinggi. Pembelajaran yang menggunakan

15
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
6) Tidak Ada Interaksi Antara Aktivitas Belajar Metode Eksperimen Disertai Teknik
Siswa dengan Kreativitas Belajar Terhadap Fishbone Diagram dengan Aktivitas Belajar
Prestasi Belajar. dan Kreativitas Belajar Siswa Terhadap
Berdasarkan uji hipotesis diketahui Prestasi Belajar
bahwa hipotesis nol diterima untuk ranah Berdasarkan uji hipotesis maka hipotesis
kognitif, afektif dan psikomotor, berarti tidak nol diterima baik itu pada ranah kognitif, afektif,
ada interaksi antara aktivitas belajar siswa dan psikomotor. Artinya tidak ada interaksi
dengan kreativitas belajar terhadap prestasi antara menggunakan model PBL dengan metode
belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa. eksperimen disertai teknik Vee diagram dan
Pada penelitian ini tidak didapatkan model PBL dengan metode eksperimen disertai
pengaruh bersama yang signifikan antara teknik Fishbone diagram dengan aktivitas
aktivitas siswa dan kreativitas belajar terhadap belajar dan kreativitas belajar siswa terhadap
prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor
siswa. Pengaruh yang diberikan aktivitas belajar siswa. Hasil ini menjelaskan bahwa metode PBL
terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, dan dengan Vee diagram selalu menghasilkan
psikomotor merupakan pengaruh yang prestasi kognitif, afektif, dan psikomotor lebih
independen dan tidak berhubungan dengan baik daripada menggunakan metode PBL dengan
kreativitas belajar siswa. Pengaruh yang metode eksperimen disertai teknik Fishbone
diberikan kreativitas belajar terhadap prestasi diagram meskipun kreativitas belajar dan
belajar kognitif, afektif maupun psikomotor kreativitas belajar siswa tinggi atau rendah.
merupakan pengaruh yang berdiri sendiri dan Pembelajaran dengan model PBL adalah
tidak berhubungan dengan kreativitas siswa. pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa
Kedua variabel ini tidak menghasilkan efek dalam berpikir aktif dan menemukan sendiri
interaksi yang signifikan, sehingga dapat pengetahuannya. Pada pembelajaran PBL, siswa
disimpulkan tidak ada interaksi antara aktivitas dituntut untuk dapat merumuskan masalah,
dengan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi mengajukan hipotesis, dan mencari jalan untuk
belajar kognitif, afektif maupun psikomotor. pemecahan masalah sampai mendapatkan
Siswa yang memiliki kreativitas belajar kesimpulan. Pembelajaran menggunakan model
yang tinggi belum tentu memiliki aktivitas PBL baik itu model PBL dengan metode
belajar yang baik seperti: cermat, disiplin, berani eksperimen disertai teknik Vee diagram maupun
menyampaikan gagasan, bersifat terbuka, sikap model PBL dengan metode eksperimen disertai
ingin tahu, bekerjasama, dan kritis. Hal ini teknik Fishbone diagram tidak dipengaruhi oleh
dikarenakan pada dasarnya kreativitas aktivitas siswa namun dipengaruhi oleh
merupakan dorongan untuk berprilaku dan kreativitas belajar. Aktivitas siswa tidak
berpikir ilmiah sesuai dengan metode ilmiah. mempengaruhi kreativitas belajar siswa sehingga
Menurut Bruner (dalam Sagala, antara semua variabel tidak terjadi interaksi.
2011:34) yang terpenting dalam belajar adalah Menurut Sagala (2011:35), dalam proses
bagaimana cara orang memilih, mempertahankan pembelajaran yang menjadi masalah adalah
dan mentransformasi informasi secara efektip. berapa banyak informasi yang dibutuhkan agar
Disimpulkan bahwa dalam meningkatkan informasi dapat ditransformasi, waktu yang
prestasi kognitifnya, siswa masih dipengaruhi dialokasikan, minat dan ketertarikan untuk
oleh satu variabel intern yang berdiri sendiri. mengetahui sesuatu. Oleh karena itu, tidak
Tidak adanya interaksi ini antara aktivitas adanya interaksi dalam hipotesis ini
dengan kreativitas dapat dijelaskan sebagai dimungkinkan karena penerapan model PBL
berikut : berdasarkan hipotesis kedua, aktivitas dengan metode eksperimen disertai teknik Vee
diperlukan oleh siswa dalam meningkatkan diagram dan Fishbone diagram sebagai metode
prestasi belajar. Pada hipotesis ketiga, pembelajaran baru dalam pembelajaran
kreativitas juga dibutuhkan oleh siswa dalam membutuhkan waktu yang lebih untuk
meningkatkan prestasi belajar. Sehingga dapat memperkenalkannya kepada siswa. Pelaksanaan
disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi penelitian yang singkat membuat aktivitas
antara aktivitas dan kreativitas. belajar dan kreativitas belajar siswa belum bisa
7) Tidak Ada Interaksi Antara Model PBL terkoneksi dengan baik.
dengan Metode Eksperimen Disertai Teknik
Vee Diagram dan Model PBL dengan
Kesimpulan dan Rekomendasi
16
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
Berdasarkan hasi uji hipotesis maka dan kreativitas belajar tinggi memberikan
dapat disimpulkan: rerata prestasi lebih tinggi dibandingkan
dibandingkan dengan siswa yang memiliki
1. Ada pengaruh model PBL dengan metode
aktivitas belajar rendah dan kreativitas
eksperimen disertai teknik Vee diagram dan
belajar rendah.
model PBL dengan metode eksperimen
7. Tidak ada interaksi antara model PBL
disertai teknik Fishbone diagram terhadap
dengan metode eksperimen disertai teknik
prestasi belajar psikomotor siswa pada
Vee diagram dan model PBL dengan metode
pembelajaran Biologi materi Ekosistem
eksperimen disertai teknik Fishbone
kelas X MA Negeri 1 Praya Tahun Pelajaran
diagram dengan aktivitas belajar dan
2012/2013.
kreativitas belajar terhadap prestasi kognitif,
2. Ada pengaruh aktivitas belajar tinggi dan
afektif, dan psikomotorik siswa. Tidak
aktivitas belajar rendah terhadap prestasi
adanya interaksi disebabkan karena masih
belajar kognitif siswa. Siswa dengan
banyak faktor-faktor lain yang
aktivitas belajar tinggi memiliki prestasi
mempengaruhi pencapaian prestasi belajar
belajar kognitif yang lebih baik daripada
baik faktor internal maupun eksternal siswa.
siswa dengan aktivitas belajar rendah.
Berdasarkan kesimpulan dalam
3. Ada pengaruh kreativitas belajar tinggi dan
penelitian ini, maka dapat diajukan rekomendasi
kreativitas belajar rendah terhadap prestasi
sebagai berikut:
belajar kognitif siswa. Siswa yang memiliki
1. Guru drekomendasikan menggunakan model
kreativitas belajar tinggi memiliki prestasi
pembelajaran ini di dalam pembelajran
kognitif yang lebih baik dibandingkan
Biologi materi Ekosistem.
dengan siswa yang memiliki kreativitas
2. Guru, membagi siswa ke dalam kelompok
belajar rendah.
secara heterogen dengan memperhatikan
4. Tidak ada interaksi antara Model PBL
jenis kelamin dan kemampuan siswa yang
dengan metode eksperimen disertai teknik
bervariasi pada saat pembelajaran.
Vee diagram dan Fishbone diagram
3. Guru memberikan apersepsi dengan gambar
terhadap aktivitas belajar. Pembelajaran
atau video agar siswa tertarik dan memiliki
Biologi model pembelajaran PBL dengan
semangat mengikuti proses pembelajaran.
metode eksperimen disertai teknik Vee
4. Perlu dilakukan penelitian yang lebih luas
diagram dan Fishbone diagram dengan
untuk mengetahui keefektifan dari
aktivitas belajar siswa. Siswa yang memiliki
penggunaan variabel-variabel yang
aktivitas belajar tinggi akan selalu
digunakan dalam penelitian.
menghasilkan prestasi kognitif, afektif, dan
5. Perlu dilakukan penelitian tentang faktor-
psikomotorik lebih baik dibandingkan
faktor lain yang berpengaruh terhadap
dengan siswa yang memiliki aktivitas belajar
prestasi belajar agar dapat menambah
rendah.
pengetahuan guru dalam upaya
5. Ada interaksi antara model PBL dengan
meningkatkan prestasi belajar siswa.
metode eksperimen disertai teknik Vee
6. Peneliti lain direkomendasikan bisa
diagram dan model PBL dengan metode
mengembangkan penelitian sejenis dengan
eksperimen disertai teknik Fishbone
materi pelajaran lain.
diagram dengan kreativitas belajar terhadap
7. Peneliti direkomendasikan bisa bertindak
prestasi kognitif siswa. Pembelajaran
sebagai guru yang aktif membimbing dan
Biologi materi ekosistem, model
mengontrol setiap kegiatn yang dilakukan
pembelajaran PBL dengan metode
siswa.
eksperimen disertai teknik Vee diagram dan
8. Peneliti sebaiknya menyediakan alat dan
Fishbone diagram dipengaruhi oleh tinggi
bahan yang digunakan untuk mengurangi
rendahnya kreativitas belajar siswa. Siswa
kelemahan dalam eksperimen yang
yang memiliki kreativitas belajar tinggi akan
disebabkan kesalahan alat dan bahan yang
selalu menghasilkan prestasi kognitif lebih
dipakai sehingga pelaksanaan eksperimen
baik.
bisa sesuai harapan.
6. Tidak ada interaksi antara aktivitas belajar
9. Kepala sekolah sebaiknya berperan aktif
dengan kreativitas belajar siswa terhadap
dalam mengembangkan kurikulum yang
prestasi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi
17
JURNAL INKUIRI
ISSN: 2252-7893, Vol 3, No. I, 2014 (hal 8-18)
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/sains
berhubungan dengan alokasi waktu, sarana Suparno, Paul. (2011). Pengantar Statistika Untuk
dan prasarana. Pendidikan dan Psilologi. Yogyakrta:
Universitas Sanata Dharma.

Daftar Pustaka Siswoyo, Dwi. (2011). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta:


Awang, Halizah, and Ishak Ramly. (2008). ‘Creative UNY Press.
Thinking Skill Approach Through Problem-
Based Learning: Pedagogy and Practice in the Wilis, Ratna. (1986). Teori-Teori Belajar dan
Engineering Classroom’, International journal Pembelajaran. Jakarta : Erlangga.
of human and social sciences. 3 (1).
Azwar, Saifudin. (2010). Tes Prestasi Belaja.-fungsi
dan Pengembangan Pengukuran Prestasi
Belajar.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Calais, Gerald J.. (2009). ‘The Vee Diagram as a


Problem Solving Strategy: Content Area
Reading/Writing Implications’. National
forum teacher education journal. 19( 3).

Chinn, C. A., & Li-Gek Chia. (2005). ‘Problem-


Based Learning: Using Ill-Structured Problems
in Biology Project Work’, Sci Ed 90: 44-67.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan


Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Doggett, A. Mark. (2005). Root Cause Analysis: A


Framework For Tool Selection. 36 QMJ, 12(4).

Gufron, M. Nur & Rini Risnawita S. (2010). Teori-


Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

Karli, Hilda. (2007). Implementasi KTSP-Dalam


Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Generasi
Info Media.

Rustaman, Nuryani. (2005). Strategi Belajar


Mengajar Biologi. Malang: UM Press.

Sabri. (2010). Diagram V: Perangkat Metakognisi


untuk Penyelesaian Masalah Matematika.
Universitas Negeri Makassar. Makassar.

Sagala, Syaiful. (2011). Konsep dan Makna


Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran, Edisi


pertama. Cetakan ke–5. Jakarta: Kencana,
Prenada Media Group.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang


Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukardi. (2007). Metodologi Penelitian Pendidikan.


Bumi Aksara: Jakarta.

18