Anda di halaman 1dari 7

KARAKTERISTIK IKLIM TROPIS

DI KOTA PALU

Selli Novia (F221 15 077)


FAKULTAS TEKNIK | JURUSAN ARSITEKTUR | UNIVERSITAS TADULAKO
A. Definisi Iklim Tropis
Climate (iklim) berasal dari bahasa Yunani, klima yang berdasarkan kamus
Oxford berarti region (daerah) dengan kondisi tertentu dari suhu dryness (kekeringan),
angin, cahaya dan sebagainya. Dalam pengertian ilmiah, iklim adalah integrasi pada
suatu waktu (integration in time) dari kondisi fisik lingkungan atmosfir, yang menjadi
karakteristik kondisi geografis kawasan tertentu”. Sedangkan cuaca adalah “kondisi
sementara lingkungan atmosfer pada suatu kawasan tertentu”. Secara keseluruhan,
Iklim diartikan sebagai “integrasi dalam suatu waktu mengenai keadaan cuaca”
(Koenigsberger, 1975:3).
Kata Tropis berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu kata tropikos yang berarti
garis balik, kini pengertian ini berlaku untuk daerah antara kedua garis balik ini. Garis
balik ini adalah garis lintan 23027” utara dan garis lintan 23027 selatan.
Iklim Tropis adalah iklim dimana panas merupakan masalah yang dominan
yang pada hampir keseluruhan waktu dalam satu tahun bangunan “bertugas”
mendinginkan pemakai, dari pada menghangatkan dan suhu rata-rata pertahun tidak
kurang dari 200C (Koenigsberger. 1975:3). Menurut Lippsmiere, iklim tropis Indonesia
mempunyai kelembaban relatif (RH) yang sangat tinggi (kadang-kadang mencapai
90%), curah hujan yang cukup banyak, dan rata-rata suhu tahunan umumnya berkisar
230C dan dapat naik sampai 380C pada musim “panas”. Pada iklim ini terjadi sedikit
sekali perubahan “musim” dalam satu tahun, satu-satunya tanda terjadi pergantian
musim adalah banyak atau sedikitnya hujan, dan terjadinya angin besar.
Indonesia sendiri termasuk dalam iklim tropis basah atau daerah hangat lembab
yang ditandai dengan:
 Kelembaban udara yang relatif tinggi (pada umumnya di atas 90%).
 Curah hujan yang tinggi.
 Temperatur tahunan di atas 18°C (dan dapat mencapai 38°C pada musim kemarau).
 Perbedaan antar musim tidak terlalu terlihat kecuali periode sedikit hujan dan
banyak hujan yang disertai angin kencang.

B. Karakteristik Iklim Tropis di Kota Palu


Palu adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Palu merupakan kota yang
terletak di Sulawesi Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Donggala di sebelah barat
dan Utara, Kabupaten Sigi di sebelah selatan, dan Kabupaten Parigi Moutong di
sebelah timur. Kota Palu merupakan kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan,
sungai, pegunungan, dan teluk.
Karakteristik Iklim Tropis di Kota Palu yaitu :
1. Secara astronomis, Kota Palu terletak pada posisi 119,45 - 121,15 BT dan 0,36 -
0,56 LS yang memanjang dari Timur ke Barat.
2. Peta ketinggian mencatat, 376,68 Km2 (95,34%) wilayah Kota Palu berada pada
ketinggian 100 - 500 mdpl dan hanya 18,38 Km2 (46,66%) terletak di dataran yang
lebih rendah.
3. Kota Palu terletak di bagian Utara khatulistiwa, menjadikan Kota Palu sebagai salah
satu kota tropis terkering di Indonesia.
4. Curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun.

Sebagai contoh suhu udara di Kota Palu pada tahun 2015, berkisar antara 23 °C – 36,5
°C, dengan suhu terendah terjadi pada Bulan Januari sedangkan suhu tertinggi berada
pada Bulan Oktober. Rata-rata suhu udara yang tercatat di Stasiun Meteorologi Mutiara
Palu mencapai 34,32 °C dengan kelembaban udara berkisar antara 64,7 – 78,8 persen.
Selama Tahun 2015, curah hujan di Kota Palu tercatat antara 4,5 – 112,5 mm dengan
rata-rata penyinaran matahari 73,43 persen serta kecepatan angin rata-rata mencapai
4,53 knot. Sementara itu, dominasi arah angin yang bertiup berasal dari arah Barat
Laut.

C. Permasalahan Iklim Terhadap Bangunan di Kota Palu


Ada beberapa permasalahan iklim terhadap bangunan di Kota Palu seperti :
1. Suhu Panas
Dimana di Kota Palu sendiri terletak di garis katulistiwa yang menyebabkan Kota
Palu sebagai salah satu tropis terkering di Indonesia yang selama 1 tahun terjadi
beberapa musim yang berbeda-beda, namun suhu panas yang lebih mendominasi
sepanjang tahun sehingga perlu mengetahui besaran unsur dalam persamaan
keseimbangan panas dan mempertimbangkan dengan benar mengenai beban panas
terhadap sebuah bangunan.
2. Angin
Kota Palu merupakan kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai,
pegunungan, dan teluk. Sehingga memungkin kota Palu mendapatkan angin yang
cukup kuat dari laut yang umumnya terjadi pada siang hari kira-kira dari pukul
09.00 sampai pukul 16.00 di daerah pesisir pantai dan dari segi letak tempat Kota
Palu yang berada di dekat garis khatulistiwa sehingga memiliki kecepatan angin
yang lebih cepat daripada daerah yang jauh dari garis khatulistiwa. Untuk sebuah
bagunan rumah tinggal tekanan angin dinamis adalah sekitar 0,003 pon/(kaki)²
untuk kecepatan angin 0,7 mil/jam, dan meningkat menjadi kira-kira 5,7 pon/(kaki)²
untuk kecepatan angin 30 mil/jam. Sehingga bertambahnya kecepatan angin dan
ketinggian bangunan harus diperhitungkan karena tekanan angin pada bangunan
menjadi pertimbangan yang sangat penting untuk bangunan yang tahan terhadap
angin maksimum.
3. Sinar Matahari
Penyinaran matahari di Kota Palu memiliki durasi cukup lama dengan pemantulan
cahaya cukup tinggi karena posisinya berada di dekat garis khatulistiwa. Sehingga
tiap tahun penyinaran matahari rata-rata 64% - 78%. Dengan demikian
pemanfaatannya untuk bangunan cukup banyak dengan penerapan yang tepat dan
sebaliknya jika dalam pembangunan tidak memperhatikan sinar matahari akan
menyebabkan ketidaknyamanan terhadap penghuninya.
4. Hujan dan Kelembaban
Kota Palu merupakan salah satu daerah tropis kering sehingga curah hujan dan
kelembaban udara yang dihasilkan relatif rendah yang umumnya dibawah 50%.
Sehingga penanganan terhadap bangunan sangat di perhatikan dalam hal
mempertahankan kelembaban di dalam bangunan.

D. Contoh Bangunan di Kota Palu


Museum Negeri Sulawesi Tengah

Gambar. Tampak Bangunan


Sumber : www.indonesiakaya.com
Museum Negeri Sulawesi Tengah berada di Jl. Kemiri no. 23, Kelurahan Kamonji,
Kecamatan Palu Barat.

Gambar. Tampak Atas Bangunan Museum Negeri Sulteng


Sumber : Wikimapia. Org

 Bangunan Museum Negeri Sulawesi Tengah berorientasi kearah barat daya.


Sehingga Museum ini mendapatkan pencahayaan yang cukup maksimal dari
arah timur.
 Museum Negeri Sulteng memiliki atap yang cukup tinggi dan mimiliki ventilasi
yang berada di bagian depan dan belakang yang merupakan proses pengadaan
ventilasi silang yang dapat mengalirkan udara yang berada di atas plafond
bangunan.
 Memiliki bukaan yang cukup besar yang dapat mengairkan udara ke ruang-
ruang dalam bangunan.
 Mengunakan overstage atap yang cukup lebar yang berfungsi untuk
mengurangi efek tampias dari hujan yang disertai angin dan mereduksi sinar
matahari langsung yang masuk ke dalam bangunan.
 Bangunan ini juga memiliki bukan ventilasi yang cukup besar yang berada di
samping kiri dan samping kanan bangunan sebagai aliran udara sehingga suhu
didalam ruangan bisa tetap nyaman.
 Memiliki bentuk bangunan panggung yang di bawahnya dapat menambah
kelembaban.
 Menggunakan material kayu pada plafond dan atap yang memberikan kesan
natural dan material kayu juga dapat mereduksi suhu panas di dalam bangunan.
 Penataan taman yang cukup luas di sekitar bangunan yang fungsinya menambah
kelembaban suhu udara pada bangunan dan memiliki sifat mereduksi panas
dengan cepat seperti penggunaan rumput gaja dan penanam pohon di sekitar
tapak.

E. Kesimpulan
Iklim tropis di Kota Palu termaksud iklim tropis kering yang memiliki kelembabah dan
curah hujan yang rendah sedangkan penyinaran matahari hampir sepanjang tahun.
Sehingga pembangunan di kota palu harus memiliki penangan yang khusus dalam
merespon iklim karena kenyataanya masih banyak bangunan di Kota Palu dalam
pembangunanya tidak memperhatikan kondisi iklimnya yang hanya mengikuti trend
minimalis yang tidak respon terhadap iklim di kota palu sendiri yang mengakibatkan
kurangnya kenyaman pada siang hari dan malam hari bagi penghuni bangunan.
Sumber Informasi :
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/iklim/pengertian-ciri-ciri-dan-daerah-sebaran-
iklim-tropis
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Palu
http://palukota.go.id/v2/keadaan-iklim/