Anda di halaman 1dari 15

Jawaban forum Diskusi M1 KB 3 Tematik

Assalamualaikum
Mari kita lanjutkan materi kita
Kurikulum 2013 memiliki tujuan khusus untuk mempersiapkan generasi baru dan
penerus bangsa yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara
yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Untuk itu,
perancangan kurikulum 2013 perlu memperhatikan kebutuhan peserta didik saat ini
dan di masa depan yang dimasi ditengah pengaruh globalisasi dan kemajemukan
masyarakat Indonesia.
Memperhatikan konteks global dan kemajemukan masyarakat Indonesia itu, misi dan
orientasi kurikulum 2013 diterjemahkan dalam praktik pendidikan dengan tujuan
khusus agar peserta didik memiliki kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan
masyarakat di masa kini dan di masa mendatang.

Kompetensi yang dimaksud meliputi tiga kompetensi, yaitu: (1) menguasai


pengetahuan; (2) memiliki keterampilan atau kemampuan menerapkan pengetahuan;
(3) menumbuhkan sikap spiritual dan etika sosial yang tinggi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kompetensi sikap spiritual dan sikap
sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu
keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik
mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik. Penumbuhan dan
pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran
berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam
mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut. Mata pelajaran yang diajarkan
secara tematik di SD adalah PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, SBdP,
dan PJOK.
Dari ketujuh muatan mata pelajaran tersebut berikanlah identifikasi dan penjelasan
dari hakikat setiap muatan mata pelajaran dan meliputi kompetensinya. Selamat
mengerjakan. Trims

Jawaban;

1. Bahasa Indonesia.
Bahasa pertama yang dikuasai oleh setiap orang tentulah Bahasa Ibu baru
kemudian Bahasa Nasional dimana orang tersebut tinggal. Sebagai bangsa
Indonesia tentu saja adalah Bahasa Indonesia.
Siswa mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi, lebih daripada sekedar
pengetahuan tentang bahasa. Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan
keterampilan berbahasa dan bersastra, juga untuk meningkatkan kemampuan
berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Selain itu diarahkan
untuk mempertajam perasaan siswa. Bahasa memungkinkan manusia untuk saling
berkomunikasi, saling berbagi, saling belajar dari yang lain, dan untuk
meningkatkan kemampuan intelektual dan kesusastraan merupakan salah satu
sarana belajar untuk menuju pemahaman tersebut. Bahasa Indonesia juga
merupakan media penerima dan penyampai (penghela) mata pelajaran lainnya.
Dengan demikian, hakikat mata pelajaran bahasa Indonesia antara lain:
a. Sarana berpikir
Bahasa Indonesia merupakan sarana belajar memahami dan memproduksi
gagasan, perasaan, pesan, informasi, data, dan pengetahuan untuk berbagai
keperluan komunikasi keilmuan, kesasteraan, dunia pekerjaan, dan komunikasi
sehari-hari baik secara tertulis maupun lisan.
b. Sarana perekat bangsa
Bahasa Indonesia memiliki peran sentral untuk mempersatukan bangsa dan
sarana pengembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa.
c. Penghela ilmu pengetahuan
Bahasa Indonesia melalui aktivitas membaca, menyimak, berbicara dan
menulis sebagai sarana penerima dan penyampai ilmu pengetahuan lainnya.
d. Penghalus budi pekerti
Lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa
dan bersastra. Melalui jenis teks sastra, bahasa Indonesia dapat dijadikan
sebagai sarana penghalus budi pekerti siswa.
e. Pelestari budaya bangsa
Bahasa Indonesia merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu terus
dilestarikan eksistensinya

Peran sentral bahasa yaitu mengembangkan intelektual, sosial, dan emosional peserta
didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.

Kompetensi
Pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 bermuara pada pengembangan
kompetensi dalam ranah sikap (KI-1 dan KI-2), pengetahuan (KI-3), dan keterampilan
(KI-4). Pendekatan berbasis teks yang dikembangkan pada kurikulum ini diaplikasikan
melalui KBM yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan (KI-3)
dan keterampilan (KI-4) mereka dalam memahami dan menyusun berbagai jenis teks
sesuai dengan jenjang. Pengembangan sikap (KI-1 dan KI-2) tidak menjadi bagian
tersendiri sebagai sesuatu yang diajarkan dalam proses pembelajaran.
Aspek Kebahasaan
Pembelajaran aspek kebahasaan inklusif dalam kegiatan pemahaman dan
penyusunan/pengembangan teks. Ketika siswa mempelajari teks pada tahap
pemodelan, mereka dapat mempelajari kaidah bahasa yang terdapat di dalamnya.
Unsur kebahahasaan yang dipelajari meliputi :
 pelafalan
 pembentukan kata
 pemilihan kata
 pemakaian istilah
 pembentukan frasa
 penggunaan struktur kalimat
 kebenaran isi kalimat
 kelogisan kalimat
 penggunaan penghubung antarfrasa, antarklausa, antarkalimat, dan
antarparagraf
 penulisan kalimat
 pengembangan paragraf
 penggunaan ejaan dan tanda baca

2. MATEMATIKA
Ensiklopedia Indonesia menyebutkan istilah matematika berasal dari bahasa
Yunani “Mathematikos” secara ilmu pasti atau “Mathesis” yang berarti ajaran,
pengatahuan abstrak dan deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan
pengalaman keinderaan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari kaidah-kaidah
tertentu melalui deduksi. Jadi, berdasarkan asal katanya matematika berarti ilmu
pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika adalah dasar
dalam banyak hal yang menginformasikan kepastian di bidang kehidupan.
Matematika memiliki fungsi lain yaitu sebagai alat, pola pikir dan ilmu atau
pengetahuan. Matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam mata
pelajaran lain, dalam kehidupan kerja atau dalam kehidupan sehari-hari. “It is the
questions that drive mathematics. Solving problems and making up new ones is the
essence of mathematical life.” (Hersh, 1997, p. 18)
Belajar matematika juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman
suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan di antara pengertian-
pengertian tersebut. fungsi matematika adalah mengembangkan kemampuan
berhitung, mengukur, menamakan dan menggunakan rumus matematika
sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melaui materi bilangan,
pengukuran, dan geometri.
Merujuk pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa,
maka ruang lingkup pelajaran matematika yaitu:
a. Bilangan.
Kompetensi dalam bilangan ditekankan pada kemampuan melakukan dan
menggunakan sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah dan
menaksir hasil operasi hitung
b. geometri dan pengukuran.
Pengukuran dan geometri ditekankan pada kemampuan mengidentifikasi
pengelolaan data dan bangun ruang serta menentukan keliling, luas, volume,
dalam pemecahan masalah
c. pengolahan data.
d. Pengelolaan ditekankan pada kemampuan mengumpulkan, menyajikan dan
membaca data.

3. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

A. Hakikat bidang studi pendidikan kewarganegaraan


Pendidikan kewarganegaraan adalah program pendidikan berdasarkan
Nilai-nilai Pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan
melestarikan nilai luhur dan Moral yang berakar pada budaya bangsa
Indonesia yang diharapkan menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk
perilaku dalam kehidupan sehari-hari para peserta didik baik sebagai
individu, anggota masyarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan kewarganegaraan adalah merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukkan diri yang beragam dari segi agama,
sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara
Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh
Pancasila dan UUD1945.

Apabila kita kaji secara historis-kurikuler mata pelajaran tersebut telah mengalami
pasang surut pemikiran dan praktis. Sejak lahir kurikulum tahun 1946 di awal
kemerdekaan sampai pada era reformasi saat ini.
Dalam Kurikulum 1957, dan Kurikulum 1961 tidak dikenal adanya mata Pelajaran
Penendidikan Kewarganegaraan. Dalam Kurikulum 1946 dan 1957 materi tersebut
itu dikemas dalam Mata Pelajaran Pengetahuan Umum di SD atau Tata Negara di
SMP dan SMA.
Dalam Kurikulum SD tahun 1968 di kenal Mata Pelajaran Pendidikan Kewargaan
Negara (PKN). Menurut Kurikulum SD 1968 Pendidikan Kewargaan Negara
mencakup Sejarah Indonesia, Geografi, dan Civics yang di artikan sebagai
Pengetahuan Kewargaan Negara. Dalam kurikulum SMP 1968 PKN tersebut
mencakup materi sejarah Indonesia dan Tata Negara, sedang dalam Kurikulum
SMA 1968 PKN lebih banyak berisikan materi UUD 1945.
Menurut Kurikulum SPG 1968 PKN mencakup sejarah Indonesia, UUD,
Kemasyarakatan, dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Dalam Kurikulum Proyek Printis sekolah Pembangunan (PPSP) 1973 terdapat Mata
Pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara (PKN) dan Pengetahuan Kewargaan
Negara.
Menurut Kurikulum PPSP 1973 di perkenalkan Mata Pelajaran Pendidikan
Kewargaan Negara/Studi Sosial untuk SD 8 tahun yang berisikan integrasi materi
Ilmu pengetahuan Sosial. Di sekolah Menengah 4 tahun selain studi Sosial terpadu
juga terdapat Mata pelajaran PKN sebagai Program inti dan Civics dan Hukum
sebagai program utama Jurusan Sosial.
Oleh Somantri (1967) istilah Kewargaannegara merupakan terjemahan dari “civics”
yang merupakan mata pelajaran sosial yang bertujuan membina dan
mengembangkan anak didik agar menjadi warga Negara yang baik (good citizen)
Warga Negara yang baik adalah warga Negara yang tahu, mau, dan mampu
berbuat baik “(somantri 1970) atau secara umum yang mengetahui, menyadari, dan
melaksanakanhak dan kewajibanya sebagai warga Negara”
(Winaaputra 1978) Di lain pihak, istilah Kewarganegaraan digunakan dalam
perundangan mengenai Status formal warga negara dalam suatu negara. Misalnya
sebagaimana diatur dalam UU No 2 tahun 1946 dan Peraturan tentang diri
kewarganegaraan serta peraturan tentang naturalisasi atau perolehan status
sebagai warga negara Indonesia bagi Orang-orang warga Negara Asing.
Kedua konsep tersebut kini di gunakan untuk kedua-duanya dengan istilah
kewarganegaraan yang secara konseptul diadopsi dari konsep citizenship, yang
secara umum di artikan sebagai hal-hal yang terkait pada status hukum (legal
standing)dan karekter warga negara, sebagaimana digunakan dalam Perundang-
undangan Kewarganegaraan untuk status warga negara, dan pendidikan
kewarganegaraan untuk program pengembangan karekter warga negara secara
kurikuler.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara Sekolah sebagai wahana


pengembangan warga yang demokratis dan bertanggung jawab, yang secara
kurikuler pendidikan Kewarganegaraan yang harus menjadi wahana psikologis-
pedagogis yang utama.

Dalam konteks itu, Khususnya pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah,
Sekolah seyogyanya dikembangkan sebagai pranata atau tatanan sosial-Pedagogis
yang kondusif atau member suasana bagi tumbuh kembangnya berbagai kualitas
pribadi peserta didik.

Sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat perlu dikembangkan sebagai


pusat pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, yang
mampu member keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan
kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran demokratis.

Dalam kerangka semua itu mata pelajaran PPKn harus berfungsi sebagai wahana
kurikuler pengembangan karakter warga negara Indonesia yang demokratis dan
bertanggung jawab.

Peran PPKn dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik


sepanjang hayat, melalui pemberian keteladanan, pembangunan kemauan, dan
pengembangan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Melalui PPKn sekolah perlu di kembangkan sebagai pusat pengembangan


wawasan, sikap, dan keterampilan hidup dan berkehidupan yang demokratis untuk
membangun kehidupan demokrasi.

Dari kedua konsep dasar tersebut dapat dikemukakan bahwa paradigma


pendidikan demokrasi melalui PPKn yang perlu dikembangkan dalam lingkungan
sekolah adalah pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional atau bersifat
jamak. Sifat multidimensionalnya itu terletak pada Pandangan yang pluralistik
uniter (bermacam-macam tetapi menyatu) dalam pengertian Bhineka Tunggal
Ika.
1. Sikapnya dalam menempatkan individu, Negara, dan masyarakat global secara
harmonis.
2. Tujuannya yang diarahkan pada dimensi kecerdasan (spiritual, rasional, dan
sosial)
3. Konteks (setting) yang menghasilkan pengalaman belajarnya yang terbuka,
fleksibel atau luwes, dan bervariasi kepada dimensi tujuannya.
Dalam program pendidikan , paradigma ini menuntut hal-hal sebagai berikut:
Pertama, memberikan perhatian yang cermat dan usaha yang sungguh-sungguh
pada pengembangan pengertian tentang hakikat dan karekteristik aneka ragam
demokrasi, bukan hanya yang berkembang di Indonesia.
Kedua, mengembangkan kurikulum dan pembelajaran yang sengaja dirancang
untuk memfasilitasi siswa agar mampu mengeksplorasi sebagaimana cita-
citademokrasi telah diterjemahkan kedalam kelembagaan dan praktik diberbagai
belahan bumi dn dalam berbagai kurun waktu.
Ketiga, tersedianya sumber belajar yang memungkinkan siswa mampu
mengekplorasi sejarah demokrasi di negara untuk dapat menjawab persoalan
apakah kekuatan dan kelemahan demokrasi yang di terapkan di negaranya itu
secara jernih.
Keempat, tersedianya sumber belajar yang dapat mempasilitasi siswa untuk dapat
memahami penerapandemokrasi di negara lain sehingga mereka memiliki wawasan
yang luas tentang ragam ide dan sistem demokrasi dalam berbagai konteks.
Situasi sekolah dan kelas di kembangkan sebagai democratic laboratory atau
lab demokrasi dengan lingkungan sekolah yang diperlakukan sebagai micro
cosmos of democracy atau linkungan kehidupan yang demokratis yang bersifat
micro ddan memperlakukan masyarakat luas sebagai open global classroom atau
sebagai kelas yang terbuka.
Dengan cara itu akan memungkinkan siswa dapat belajar demokrasi dalam stuasi
yang demokratis dan membangun kehidupan yang lebih demokratis. Itulah makna
dari konsep “learning and for democracy,and for democracy” dengan PKn
sebagai wahana kurikuler yang utama.

4. IPA

IPA didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data


dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu
penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Carin dan Sund (1993)
dalam Puskur-Depdiknas (2006) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang
sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa
kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sering disebut juga Sains yang dalam bahasa Inggris
disebut Science merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan
kebendaan yang sistematis tersusun secara teratur, berlaku secara umum, berupa
kumpulan hasil observasi dan eksperimen. Tidak hanya sebagai kumpulan benda
atau makhluk hidup, tetapi tentang cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan
masalah.
Merujuk pada pengertian IPA itu, pada hakikatnya IPA meliputi empat unsur utama
yaitu: sikap, proses, produk, dan aplikasi.

Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk Sekolah Dasar meliputi aspek-aspek berikut:
a. Makhluk hidup dan proses kehidupannya, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan
interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.
b. Benda/materi, sifat-sifat kegunaannya meliputi: benda cair, padat dan gas.
c. Energi dan perubahannya meliputi : gaya ,bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya,
dan pesawat sederhana.
d. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah ,bumi, tata surya, dan benda-benda
langit lainnya. (Depdiknas,2006 : 585).
Tujuan pembelajaran IPA adalah siswa memiliki tiga kemampuan dasar IPA, yaitu:
1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati,
2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum terjadi, dan kemampuan
untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen,
3) dikembangkannya sikap ilmiah.
Oleh karena itu pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya:
a. Memberikan pengalaman pada siswa sehingga mereka kompeten melakukan
pengukuran berbagai besaran fisis,
b. menanamkan pada siswa pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu
pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan
terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah,
c. latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu
sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan
dengan peristiwa alam,
d. memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan
perancangan dan pembuatan alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai
gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah.
Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut.
1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan
masyarakat
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan
melestarikan lingkungan alam
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar
untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Ruang Lingkup
Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut.
1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan
interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas
3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya
dan pesawat sederhana
4. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda
langit lainnya.
5. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
A. Pengertian pembelajaran IPS
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa
yang saling bertukar informasi. Pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada
pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada
aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah,
mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya
disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkaitan dengan kehidupan manusia
yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkaitan dengan
cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi
materi, budaya, dan kejiwaannya, memamfaatkan sumberdaya yang ada
dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun
kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat
manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem
kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau
manusia sebagai anggota masyarakat.
Ruang lingkup IPS terdiri atas pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang
dikembangkan dari masyarakat dan disiplin ilmu sosial. Penguasaan keempat
konten ini dilakukan dalam proses belajar yang terintegrasi melalui proses
kajian terhadap konten pengetahuan. Secara rinci, materi IPS dirumuskan
sebagai berikut:
a. Pengetahuan: tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya, bangsa, dan
umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya.
Ruang lingkup materi IPS SD terdiri dari kehidupan manusia dalam:

1) Tempat dan Lingkungan


2) Waktu Perubahan dan Keberlanjutan
3) Organisasi dan Sistem Sosial
4) Organisasi dan Nilai Budaya
5) Kehidupan dan Sistem Ekonomi
6) Komunikasi dan Teknologi
b. Keterampilan: berpikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning skills,
inquiry), memecahkan masalah, berkomunikasi dan bekerjasama dalam
kehidupan bermasyarakat-berbangsa
c. Nilai: nilai-nilai kejujuran, kerja keras, sosial, budaya, kebangsaan, cinta
damai, dan kemanusiaan serta kepribadian yang didasarkan pada nilai-
nilai tersebut.
d. Sikap: rasa ingin tahu, mandiri, menghargai prestasi, kompetitif, kreatif
dan inovatif, dan bertanggungjawab
Sebagai mata pelajaran dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di
negara kita IPS memiliki kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain
sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni kajian yang bersifat terpadu (integrated),
interdisipliner, multidimensional. Karakteristik ini terlihat dari perkembangan IPS
sebagai mata pelajaran di sekolah yang cakupan materinya semakin meluas.

B. Tujuan pembelajaran IPS


Tujuan pembelajaran IPS (instructional objective social) adalah perilaku
hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik
setelah mengikuti kegiatan pembelajaran IPS. Penyelenggaraan pendidikan
merupakan suatu keseluruhan yang terangkum dalam sebuah sistem
pendidikan nasional. Begitu juga dengan pendidikan IPS pada pendidikan dasar
dan mengenah merupakan suatu yang integral dari suatu sistem pendidikan
nasional pada umumnya, yang telah diatur berdasarkan undang-undang
sestem pendidikan nasional.
Menurut Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
satuan Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa mata pelajaran IPS bertujuan
agar siswa memiliki kemampuan untuk:
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat
dan lingkungannya.
b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin
tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sosial .
c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.
Keempat tujuan mata pelajaran IPS di atas menunjukkan bahwa IPS
merupakan mata pelajaran yang memiliki tujuan membentuk siswa menjadi
warga negara yang baik.

6. Seni Budaya dan Prakarya

Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) merupakan aktivitas belajar
yang menampilkan karya seni estetis, artistik, dan kreatif yang berakar pada norma,
nilai, perilaku, dan produk seni budaya bangsa. Mata pelajaran ini bertujuan
mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami seni dalam konteks ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni serta berperan dalam perkembangan sejarah
peradaban dan kebudayaan, baik dalam tingkat lokal, nasional, regional, maupun
global. Pembelajaran SBdP di tingkat pendidikan dasar dan menengah bertujuan
mengembangkan kesadaran seni dan keindahan dalam arti umum, baik dalam
domain konsepsi, apresiasi, kreasi, penyajian, maupun tujuan-tujuan psikologis-
edukatif untuk pengembangan kepribadian siswa secara positif.
Ruang lingkup materi SBdP di SD/MI mencakup gambar ekspresif, mozaik,
karya relief, lagu dan elemen musik, musik ritmis, gerak anggota tubuh, meniru
gerak, kerajinan dari bahan alam, produk rekayasa, pengolahan makanan, cerita
warisan budaya, gambar dekoratif, montase, kolase, karya tiga dimensi, lagu wajib,
lagu permainan, lagu daerah, alat musik ritmis dan melodis, gerak tari bertema,
penyajian tari daerah, kerajinan dari bahan alam dan buatan (anyaman, teknik
meronce, fungsi pakai, teknik ikat celup, dan asesoris), tanaman sayuran, karya
rekayasa sederhana bergerak dengan angin dan tali, cerita rakyat, bahasa daerah,
gambar ilustrasi, topeng, patung, lagu anak-anak, lagu daerah, lagu wajib musik
ansambel, gerak tari bertema, penyajian tari bertema, kerajinan dari bahan tali
temali, bahan keras, batik, dan teknik jahit, apotik hidup dan merawat hewan
peliharaan, olahan pangan bahan makanan umbi-umbian dan olahan nonpangan
sampah organik atau anorganik, cerita secara lisan dan tulisan unsur-unsur budaya
daerah, bahasa daerah, pameran dan pertunjukan karya seni.

7. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) pada hakikatnya adalah


proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan
perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta
emosional. PJOK memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk
total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas
fisik dan mentalnya.
Ruang lingkup materi mata pelajaran PJOK adalah sebagai berikut:
a. Pola gerak dasar, meliputi:
1) pola gerak dasar lokomotor atau gerakan berpindah tempat, misalnya;
berjalan, berlari, melompat, berguling, mencongklak,
2) pola gerak non-lokomotor atau bergerak di tempat, misalnya; membungkuk,
meregang, berputar, mengayun, mengelak, berhenti,
3) pola gerak manipulatif atau mengendalikan/ mengontrol objek, misalnya;
melempar bola, menangkap bola, memukul bola menggunakan tongkat,
menendang bola.
b. Aktivitas permainan dan olahraga termasuk tradisional, misalnya; rounders, kasti,
softball, atletik sepak bola, bola voli, bola basket, bola tangan, sepak takraw,
tenis meja, bulutangkis, silat, karate. Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk
kecenderungan alami anak untuk bermain melalui kegiatan bermain informal dan
meningkatkan pengembangan keterampilan dasar, kesempatan untuk interaksi
sosial, dan menerapkannya dalam kegiatan informal dalam kompetisi dengan
orang lain, dan mengembangkan keterampilan dan memahami dari konsep-
konsep kerja sama tim, serangan, pertahanan dan penggunaan ruang dalam
bentuk eksperimen/eksplorasi untuk mengembangkan keterampilan dan
pemahaman.

c. Aktivitas kebugaran, meliputi pengembangan komponen keburan berkaitan


dengan kesehatan, terdiri dari: daya tahan (aerobik dan anaerobik), kekuatan,
kelenturan, komposisi tubuh, dan pengembangan komponen kebugaran
berkaitan dengan keterampilan, terdiri dari; kecepatan, kelincahan,
keseimbangan, dan koordinasi.

d. Aktivitas senam dan gerak ritmik, meliputi senam lantai, senam alat, apresiasi
terhadap kualitas estetika dan artistik dari gerakan, tarian kreatif dan rakyat.
Konsep gerak berkaitan eksplorasi gerak dengan tubuh dalam ruang, dinamika
perubahan gerakan dan implikasi dari bergerak di kaitannya dengan apakah
orang lain dan /nya lingkungannya sendiri.