Anda di halaman 1dari 16

Pengertian Titrasi

Titrasi yaitu merupakan sebuah metode yang dapat digunakan untuk menentukan
suatu konsentrasi sebuah larutan. Caranya adalah dengan menetesi (menambahi
sedikit demi sedikit) larutan yang akan dicari konsentrasinya (analit) dengan sebuah
larutan hasil standarisasi yang sudah dapat diketahui konsentrasi dan volumenya
(titrant).

Pengertian Titrasi Asam Basa


Titrasi Asam Basa yaitu merupakan penentuan kadar suatu larutan basa dengan
larutan asam yang ingin diketahui kadarnya atau sebaliknya, kadar suatu larutan
asam dengan larutan basa yang ingin diketahui, dengan didasarkan pada reaksi
netralisasi.

Titrasi Asam Basa


Menetapkan kadar suatu larutan dengan mereaksikan sejumlah larutan tersebut
yang volumenya terukur dapat kita ukur dengan suatu larutan lain yang telah
diketahui kadarnya (larutan standar) dan juga secara bertahap.

Perubahan pH Pada Titrasi Asam Basa


Pada saat larutan basa sedang ditetesi dengan larutan asam, pH larutan pun akan
turun, dan sebaliknya jika larutan asam sedang ditetesi dengan larutan basa, maka
pH pun larutan akan naik.

Jika suatu pH larutan asam basa telah diplotkan sebagai fungsi dari volum larutan
basa atau asam tersebut yang sudah diteteskan, maka akan diperoleh suatu grafik
yang bisa disebut kurva titrasi.

Kurva Titrasi Asam Basa


Kurva titrasi dapat menunjukkan suatu perubahan pH larutan selama proses titrasi
asam dengan basa berlangsung atau sebaliknya. Bentuk kurva titrasi sendiri
memiliki karakteristik tertentu yang bergantung pada kekuatan dan konsentrasi asam
dan basa yang bereaksi.
1. Titrasi Asam Kuat Dengan Basa Kuat

Kurva Titrasi Asam Kuat


Dengan Basa Kuat
Kurva diatas dapat kita simpulkan sebagai contoh perubahan pH, yaitu sebagai
berikut :

 Pertama kita lihat pH larutan naik sedikit demi sedikit.


 Perubahan pH drastis akan terjadi pada titik ekivalen.
 pH titik ekivalennya = 7 (netral).
 Indikator yang dapat digunakan yaitu : metil merah, bromtimol biru, atau
fenolftalein.
 Namun, yang lebih sering digunakan yaitu fenolftalein karena pada
perubahan warna fenolftalein yang lebih mudah diamati.

2. Titrasi Asam Lemah Dengan Basa Kuat


Kurva Titrasi Asam
Lemah Dengan Basa Kuat
Kurva diatas dapat kita simpulkan sebagai contoh perubahan pH, yaitu sebagai
berikut :

 Dapat dilihat titik ekivalen berada di atas pH 7, yaitu antara 8 – 9.


 Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen akan lebih kecil, tetapi
hanya sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±10.
 Indikator yang dapat digunakan : fenolftalein.
 Metil merah tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya terjadi jauh
sebelum tercapai titik ekivalennya.

3. Titrasi Basa Lemah Dengan Asam Kuat

Kurva Titrasi Basa Lemah


Dengan Asam Kuat
Kurva diatas dapat kita simpulkan sebagai contoh perubahan pH, yaitu sebagai
berikut :

 Dapat kita lihat titik ekivalen berada di bawah pH 7, yaitu antara 5 – 6.


 Pada lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen hanya sedikit, sekitar
3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±4
 Indikator yang dapat digunakan : metil merah.
 Fenolftalein tidak dapat digunakan karena perubahan warnanya akan terjadi
jauh sebelum tercapai titik ekivalen.

Rumus Titrasi Asam Basa


 Rumus Titrasi Asam Basa Manovalen/Divalen :

Ma . Va = Mb . Vb

 Rumus Titrasi Asam Divalen dengan Basa Manovalen :

2Ma . Va = Mb . Vb

 Rumus Titrasi Basa Divalen dengan Asam Manovalen :

Ma . Va = 2Mb . Vb

Contoh Soal Titrasi Asam Basa


1. Terdapat Larutan HCl 0,3 M, akan dititrasi dengan larutan NaOH, pada titik akhir
titrasi tercapai bila 10 ml larutan HCl dan memerlukan 75 ml larutan NaOH :

 a. Tentukan molaritas NaOH tersebut !


 b. Tentukan Konsentrasi 20 ml Ca(OH)2 yang dititrasi dengan 100 ml larutan
HCI 0,1 M !

Penyelesaian :

Diketahui :

 Ma = 0,3 M
 Va = 10 ml
 Vb = 75 ml
 nA = 1
 nB = 1

Ditanya : Mb = ….?

Jawab soal a :

 a. Mb = Va x Ma x nA/Vb x nB
 Mb = 10 x 0,3 x 1/75 x 1
 Mb = 0,04 M
Jadi, molaritas dari larutan tersebut adalah = 0,04 M

Jawab soal b :

 b. = Va x Ma x nA = Vb x Mb nB
 = 100 x 0,1 x 1 = 20 x Mb x 2
 Mb = 100 x 0,1 x 1 : 40
 Mb = 0,25 M

Jadi, konsentrasi dalam larutan tersebut adalah = 0,25 M


Pengertian Tentang Larutan Penyangga
pH dalam suatu larutan menjadi turun apabila ditambah Asam, hal ini juga
disebabkan dengan meningkatnya konsentrasi H+.

Sebaliknya, apabila pH dalam suatu larutan ditambah Basa akan berubah


menaikkan pH karena penambahan basa meningkatkan konsentrasi OH–.

Dan Penambahan air pada larutan asam & basa akan merubah pH larutan, sebab
konsentrasi asam & basanya akan mengecil. Tetapi, ada suatu larutan yang apabila
ditambah sedikit asam, basa, atau air tidak akan mengubah pH secara berarti.

Larutan itulah yang disebut dengan Larutan Penyangga (disebut juga larutan
Buffer atau Dapar).

Larutan Buffer yaitu larutan yang terdiri dari asam lemah atau basa lemah & sedikit
garamnya, karena kedua komponen itu harus ada.

Larutan Peyangga mampu menahan pH ketika terjadinya penambahan sedikit asam


atau sedikit basa.

Komponen Larutan Peyangga


Ada 2 komponen yang diperlukan oleh Larutan Buffer(Peyangga) yaitu :

 Suatu komponen yang mampu menetralkan Asam


 Suatu komponen yang mampu menetralkan Basa

Tetapi, kedua komponen itu tidak boleh saling menetralkan. Karena Persyaratan ini
mentiadakan Campuran Asam Kuat & Basa Kuat.

Jadi, larutan buffer biasa di deskripsikan sebagai gabungan dari asam lemah & basa
konjugasinya, atau basa lemah & asam konjugasinya.

1. Larutan Penyangga yang Bersifat Asam


Larutan Peyangga Bersifat Asam ini dapat mempertahankan pH pada daerah asam
(pH < 7).

Untuk mendapatkan suatu larutan ini juga dapat dibuat dari asam lemah & garam,
garamnya yang merupakan basa sebagai konjugasi dari asamnya.
Adapun cara lainnya yaitu menggabungkan suatu asam lemah dengan suatu basa
kuat dimana asam lemahnya digabungkan dalam jumlah yang lebih.

Campuran ini akan menghasilkan garam yang mengandung basa sebagai konjugasi
dari asam lemah yang terkait. Pada umumnya basa kuat yang digunakan yaitu
seperti Natrium (Na), Kalium, Barium, Kalsium, & lain-lainnya.

Suatu contoh yang biasa yaitu merupakan campuran Asam Etanoat & Natrium
Etanoat dalam suatu larutan. Pada kasus ini juga, jika suatu larutan mengandung
Konsentrasi Molar yang setara antara asam & garam, maka campuran itu akan
memiliki pH 4.76.

Namun Ini bukan suatu masalah dalam hal konsentrasinya, karena sepanjang
keduanya memiliki konsentrasi yang sama.

2. Larutan penyangga yang bersifat basa


Larutan Penyangga Bersifat Basa ini dapat mempertahankan pH pada daerah basa
(pH > 7).

Untuk mendapatkan larutan ini juga dapat dibuat dari basa lemah & garam, yang
garamnya berasal dari asam kuat.

Adapun cara lainnya yaitu dengan menggabungkan suatu basa lemah dengan suatu
asam kuat, dimana basa lemahnya dicampurkan dalam jumlah yang lebih.

Suatu contoh yang digunakan adalah Campuran Larutan Amonia & Larutan
Amonium Klorida. Jika keduanya dalam keadaan perbandingan molar yang setara,
larutan ini akan memiliki pH 9.25. Tetapi, hal itu bukanlah suatu masalah selama
konsentrasi yang dipilih keduanya setara.

Pembuatan & Cara Kerja Larutan Peyangga


Larutan Penyangga mengandung komponen Asam & Basa, dengan asam & basa
konjugasinya, sehingga dapat mengikat baik ion H+ ataupun ion OH-. Sehingga
penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat tidak bisa mengubah pH-nya secara
signifikan.

Campuran Asam Lemah dengan Garamnya (yang berasal dari asam lemah tersebut
& basa kuat), adapun cara kerjanya bisa dilihat pada larutan penyangga yang
mengandung CH3COOH & CH3COO- yang mengalami keseimbangan. Dengan
proses sebagai berikut:

 Pada Penambahan Asam

Penambahan Asam (H+) akan menggeser keseimbangan ke kiri. Yaitu dimana Ion
H+ yang ditambahkan akan bereaksi dengan Ion CH3COO- sehingga membentuk
molekul CH3COOH.

CH3COO-(aq) + H+(aq) → CH3COOH(aq)

 Pada Penambahan Basa


Bila yang ditambahkan adalah suatu Basa, maka dari itu Ion OH- dari basa itu akan
bereaksi dengan Ion H+ dan membentuk Air.

Karena itu dapat menyebabkan keseimbangan akan bergeser ke kanan sehingga


konsentrasi Ion H+ tetap dipertahankan.

Jadi, pada penambahan basa akan menyebabkan berkurangnya komponen asam


(CH3COOH), bukan Ion H+.

Basa yang akan ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH &
membentuk Ion CH3COO- & air.

CH3COOH(aq) + OH-(aq) → CH3COO-(aq) + H2O(l)

Campuran suatu basa lemah dengan garamnya (yang berasal dari asam kuat &
basa lemah tersebut), adapun cara kerjanya tersebut dapat dilihat pada larutan
penyangga yang mengandung NH3 & NH4+ yang mengalami keseimbangan.
Dengan proses sebagai berikut:

 Pada penambahan asam

Bila yang ditambahkan suatu asam, maka Ion H+ dari asam akan mengikat Ion OH-.

Hal itu akan dapat menyebabkan keseimbangan dan akan bergeser ke kanan, akan
sehingga konsentrasi Ion OH- dapat dipertahankan.

Suatu sisi penambahan ini dapat menyebabkan sehingga berkurangnya komponen


basa (NH3), bukannya Ion OH-.

Asam yang ditambahkan akan bereaksi dengan basa NH3 akan membentuk Ion
NH4+.

NH3 (aq) + H+(aq) → NH4+ (aq)

 Pada penambahan basa

Bila yang ditambahkan adalah suatu basa, maka keseimbangan bergeser ke kiri,
sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan.

Basa yang ditambahkan itu bereaksi dengan komponen asam (NH4+), membentuk
komponen basa (NH3) & air.

NH4+ (aq) + OH-(aq) → NH3 (aq) + H2O(l)

Rumus Larutan Peyangga


Larutan Penyangga Asam

Dapat digunakan tetapan ionisasi dalam menentukan konsentrasi ion H + dalam suatu
larutan dengan rumus berikut:
Larutan Penyangga Basa

Dapat digunakan tetapan ionisasi dalam menentukan konsentrasi ion H + dalam suatu
larutan dengan rumus berikut:

Fungsi Larutan Peyangga


Dalam suatu organisme terdapat berbagai macam-macam cairan, seperti Sel,
Darah, & Kelenjar. Cairan ini juga berfungsi sebagai pengangkut zat makanan &
pelarut reaksi kimia yang ada didalamnya.

Setiap reaksi akan dipercepat oleh suatu enzim tertentu, & tiap enzim dapat bekerja
efektif pada suatu pH tertentu (pH optimum).

Oleh karena itu, cairan yang berada didalam organisme mengandung sistem buffer
untuk mempertahankan pH-nya. Sistem buffernya yaitu berupa asam lemah dengan
basa konjugasinya.

1. Pengontrol pH Darah
Darah manusia yang berada didalam keadaan normal mempunyai pH = 7,35 – 7,45,
yang dapat dipertahankan oleh tiga sistem Buffer, yaitu Buffer Karbonat,
Hemoglabin, & Oksihemoglobin, sedangkan dalam suatu sel terdapat Buffer Fosfat.

A. Buffer Karbonat, yaitu suatu pasangan Asam Karbonat (H2CO3) & Basa Konjugasi
Bikarbonat (HCO3–):

Buffer Karbonat adalah pasangan Asam Karbonat (H2CO3) dengan Basa Konjugasi
Bikarbonat (HCO3–):

H+(aq) + HCO3–(aq) ⇄ H2CO3(aq) ⇄ H2O(aq) + CO2(aq)


Penyangga karbonat sangat penting dalam mengontrol pH darah.

Seorang Pelari maraton bisa mengalami suatu kondisi Asidosis, yaitu terjadinya
penurunan pH darah terjadi disebabkan terjadinya metabolisme yang tinggi,
sehingga dapat meningkatkan produksi Ion Bikarbonat.

Kondisi asidosis ini juga mengakibatkan suatu penyakit Jantung, Ginjal, Diabetes
Miletus (Penyakit Gula) & Diare.

Seorang yang akan mendaki gunung tanpa adanya Oksigen tambahan akan dapat
menderita Alkalosis, yaitu peningkatan pada pH darah.

Jika kadar oksigen yang berada digunung sedikit dapat membuat seorang pendaki
bernafas lebih cepat, sehingga Gas Karbondioksida yang terlepas akan terlalu
banyak, padahal CO2 dapat larut dalam air menghasilkan H2CO3.

Hal ini juga mengakibatkan pH darah akan naik. Kondisi alkalosis juga dapat
mengakibatkan hiperventilasi (bernafas terlalu berlebihan, karena cemas dan
histeris).

B. Buffer Hemoglobin

Oksigen adalah zat utama yang diperlukan oleh sel tubuh dan didapatkan melalui
pernapasan.

Oksigen akan diikat oleh Hemoglobin yang berada didalam darah, di mana O2 juga
sangat sensitif terhadap pH. Reaksi keseimbangan yang terjadi bisa dituliskan
sebagai berikut.

HHb+ + O2 ⇄ H+ + HbO2

Keberadaan suatu oksigen pada reaksi di atas dapat mepengaruhi konsentrasi Ion H
+, sehingga pH darah juga dapat dipengaruhi olehnya.

Dan pada reaksi di atas O2 bersifat basa. Hemoglobin yang telah melepaskan O2
dapat mengikat H + & membentuk suatu asam hemoglobin.

Sehingga Ion H + yang dilepaskan pada peruraian H2 CO 3 merupakan asam yang


diproduksi oleh CO 2 akan terlarut dalam air saat terjadinya metabolisme.

Produk buangan yang diproduksi dari tubuh adalah CO2– yang berada di dalam
tubuh bisa membentuk senyawa H 2CO3 dan nantinya akan terurai menjadi H+ &
HCO3–.

Penambahan H+ yang ada didalam tubuh akan mempengaruhi pH, tetapi


hemoglobin yang telah melepaskan O2 dapat mengikat H+ & membentuk asam
hemoglobin (HHb+).

c. Buffer Fosfat

Penyangga Fosfat adalah penyangga yang berada di dalam suatu Sel.


Penyangga Fosfat ini adalah campuran dari asam lemah H2PO4– & basa
konjugasinya, yaitu HPO42-.

Bila proses Metabolisme Sel dapat dihasilkan oleh banyak zat yang bersifat asam,
dan akan segera bereaksi dengan ion HPO42-.

HPO42-(aq) + H+(aq) ⇄ H2PO4–(aq)

Bila diberi OH–, maka keseimbangannya bergeser kekiri, karena OH– diikat oleh H+
menjadi H2O. Sebaliknya, bila ditambah OH– keseimbangannya bergeser kekanan
sehingga [H+] relatif tetap.

H2PO4–(aq) + OH–(aq) ⇄ HPO42-(aq) + H2O(l)

Sehingga perbandingan antara [H2PO4– ] / [HPO42-] akan tetap & akibatnya pH


larutan menjadi tetap.

Penyangga ini juga berada di luar sel, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Selain itu,
penyangga fosfat berperan penting sebagai penyangga urin.

Apabila suatu mekanisme pengaturan pH dalam tubuh gagal, seperti akan terjadi
bila sedang sakit, sehingga pH darah menjadi turun di bawah 7,0 atau naik ke atas
7,8, akan menyebabkan kerusakan permanen pada organ tubuh manusia atau
bahkan kematian.
Pengertian Hidrolisis Garam
Hidrolisis berasal dari kata hidro yang berarti air dan lisis yang memiliki makna
penguraian. Jadi, hidrolisis merupakan reaksi penguraian dalam air.

Hidrolisis garam merupakan reaksi penguraian garam dalam air membentuk ion
positif dan ion negatif. Ion-ion tersebut akan bereaksi dengan air membentuk suatu
asam (H3O+) dan basa (OH–) asalnya.

Hidrolisis Garam
Hidrolisis garam ialah reaksi penguraian yang terjadi antara kation dan anion garam
dengan air dalam suatu larutan. Kation dan anion yang dapat mengalami reaksi
hidrolisis ialah kation dan anion garam yang termasuk elektrolit lemah. Sedangkan
kation dan anion garam yang tidak terhidrolisis ialah kation dan anion garam yang
termasuk elektrolit kuat.

Macam-macam Hidrolisis
Jika ditinjau dari komponen pembentuknya garam serta banyak tidaknya garam
tersebut dapat diuraikan ketika direaksikan dengan air, maka reaksi hidrolisis dapat
dibedakan sebagai berikut ini :

1. Hidrolisis Parsial
Hidrolisis parsial merupakan garam ketika direaksikan dengan air hanya salah
satu/sebagian ion saja yang mengalami reaksi hidrolisis, sedangkan yang lainnya
tidak. Komponen-komponen penyusun garam yang mengalami reaksi hidrolisi
parsial ini adalah asam lemah dan basa kuat atau sebaliknya.

2. Hidrolisis Total
Hidrolisis total ialah reaksi penguraian seluruh garam oleh air, yang mana komponen
garam terdiri dari asam lemah dan basa lemah. Berdasarkan jenis-jenis ion yang
dihasilkan ketika garam terlarut dalam air.

3. Hidrolisis Anion
Apabila garam yang terdiri dari komponen-komponen molekul asam lemah dan basa
kuat direaksikan dengan molekul air, maka garam-garam ini hanya akan terhidrolisis
sebagian/parsial didalam air dan akan menghasilkan ion yang bersifat basa (OH-).
Dengan demikian, yang terhidrolisis ialah sedangkan anion dari asam lemah
sedangkan kation dari basa kuat tidak terhidrolisis.

Misal :
CH3COONa( aq ) → CH3COO–( aq ) +Na+ ( aq )
CH3COO– +H2O ↔ CH3COOH +OH–
Na+ +H2O → tidak terjadi reaksi

Dari contoh tersebut, menjelaskan bahwa CH3COO– yang bertindak sebagai anion
asam lemah terhidrolisis membentuk OH– ketika garam direaksikan dengan molekul
air (H2O) sedangakn Na+ yang bertindak sebagai kation dari basa kuat tidak
terhidrolisis ketika direkasikan dengan molekul air. Kesimpulannya adalah garam
dengan komponen pembentuk asam lemah dan basa kuat, jika direaksikan dengan
air akan terhidrolisis sebagian dan menghasilkan ion yang bersifat basa.

4. Hidrolisis Kation
Sama dengan reaksi hidrolisis antara garam dengan komponen molekul asam lemah
dan basa kuat direaksikan dengan molekul air, jika garam dengan komponen
penyusun asam kuat dan basa lemah dilarutkan kedalam molekul air juga akan
mengalami suatu proses hidrolisis parsial dan menghasilkan ion yang bersifat asam
(H+). Hal ini diakibatkan karena hanya kation dari basa lemah terhidrolisis,
sedangkan anion dari asam kuat tidak mengalami hidrolisis.

Misal :
NH4Cl → NH4+ +Cl–
NH4+ +H2O ↔ NH4OH + H+
Cl– +H2O → tidak terjadi reaksi

Berdasarkan contoh tersebut, dapat dijelaskan bahwa NH4+ yang bertindak sebagai
basa lemah terhidrolisis menghasilkan ion yang bersifat asam, yaitu H+. Namun Cl-
yang sebagai anion asam kuat tidak terhidrolisis.

5. Kation dan Anion Terhidrolisis


Jika garam dengan komponen asam lemah dan basa lemah direaksikan dengan
molekul air maka akan mengalami hidrolisis total. Hal tersebut dapat terjadi
dikarenakan kation dari basa lemah ataupun anion dari asam lemah dapat
terhidrolisis secara sempurna. Reaksi hidrolisis ini menghasilkan sebuah ion H+
atau OH-.
Misal :
CH3COONH4 → CH3COO– + NH4+
CH3COO– + H2O ↔ CH3COOH + OH–
NH4+ + H2O ↔ NH4OH + H+

Dari contoh tersebut, menjelaskan bahwa ke-2 komponen penyusun garam


CH3COO– (anion dari asam lemah) dan NH4+ (kation dari basa lemah) dapat
terhidrolsis secara sempurna yang masing-masing berurutan menghasilkan ion yang
bersifat basa (OH–) dan akan ion yang bersifat asam (H+).

Rumus Hidrolisis Garam


1. Garam yang terbentuk dari komponen asam
lemah dan basa kuat
Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat dalam air akan mengalami
hidrolisis sebagian. Komponen garam (anion asam lemah) mengalami hidrolisis
menghasilkan sebuah ion OH-, maka pH > 7 sehingga larutan garam bersifat basa.

Contohnya CH3COOK, CH3COONa, KCN, CaS, dan sebagainya.


Reaksi ionisasi = CH3COOK( aq ) → K+( aq ) + CH3COO-( aq )

Reaksi hidrolisis = K + (aq) + H2O(l) -/-> (tidak terhidrolisis)


CH3COO-( aq ) + H2O( l ) → CH3COOH( aq ) + OH-( aq ) bersifat basa

Rumus :

Hidrolisis Garam yang terbentuk dari asam


lemah dan basa kuat
Keterangan :
Kh adalah konstanta hidrolisis
Kw adalah konstanta air
Ka adalah konstanta asam
[G] adalah konsentrasi garam
h adalah derajat hidrolisis

Untuk menentukan besarnya derajat hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah
dan basa kuat digunakan rumus berikut ini :

Untuk Menentukan Besarnya Derajat Hidrolisis Garam


2. Garam yang terbentuk dari komponen asam kuat
dan basa lemah
Garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah dalam air akan mengalami
hidrolisis sebagian dikarenakan salah satu komponen garam (kation basa lemah)
mengalami hidrolisis menghasilkan ion H+,maka pH < 7 sehingga larutan garam
bersifat asam.

Rumus :

Garam yang terbentuk dari komponen


asam kuat dan basa lemah
Keterangan :
Kh adalah konstanta hidrolisis
Kw adalah konstanta air
Kb adalah konstanta basa
[G] adalah konsentrasi garam
h adalah derajat hidrolisis

Untuk menentukan besar derajat hidrolisis garam yang berasal dari asam kuat dan
basa lemah maka digunakan rumus sebagai berikut ini :

Untuk menentukan suatu besarnya derajat hidrolisis garam yang berasal


dari asam kuat dan basa lemah
3. Garam yang terbentuk dari komponen asam
lemah dan basa lemah
Garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah dalam air akan mengalami
hidrolisis total, karena ke-2 komponen garam (anion asam lemah dan kation basa
lemah) terhidrolisis akan menghasilkan ion H+ dan ion OH-, sehingga harga pH
larutan ini bergantung pada harga Ka dan Kb.

Rumus :

Garam yang terbentuk dari komponen asam


lemah dan basa lemah
Keterangan :
Kw adalah konstanta air
Ka adalah konstanta asam
Kb adalah konstanta basa
Kh adalah konstanta hidrolisis

Harga pH dari garam yang terbentuk dari komponen asam lemah dan basa lemah
tergantung dari harga Ka dan Kb.
a. Jika Ka = Kb, maka larutannya bersifat netral (pH = 7)
b. Jika Ka > Kb, maka larutannya bersifat asam (pH < 7)
c. Jika Ka < Kb, maka larutannya bersifat basa (pH > 7)
Contoh Soal Beserta Pembahasannya
1.Jika 50 mL larutan KOH 0,5 M dicampurkan dengan 50 mL larutan CH3COOH 0,5
M, maka hitung pH campuran yang terjadi (Ka = 10-6) ?

Jawab :

Jawaban Soal 1
2.Hitunglah pH larutan CH3COONH4 0,1 M. Jika diketahui Ka CH3COOH = 10-10 !!

Jawab :

Jawaban Soal 2
Inilah tadi pembahasan lengkap mengenai materi tentang Hidrolisis Garam, Semoga
Bermanfaat…