Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mengenai pendefisian kemiskinan memunculkan berbagai macam varian yakni;
Kemiskinan menurut undang-undang kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi
seseorang atau sekelompok orang yang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk
mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat (UU Kemiskinan).
Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk
dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini
berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua
kategori, yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan relatif.
Perilaku salah pada orang tua sering luput dari pengamatan, tak terkecuali di Amerika
Serikat, yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.Selama periode 1985 – 1992 angka
perlakuan salah pada anak justru memperlihatkan peningkatan sampai 50 % (Huraerah,
2012). Padahal seharusnya anak memiliki kebutuhan seperti perhatian dan kasih sayang
secara terus menerus, dorongan, dan pemeliharaan kesehatan, tapi pada kenyataannya
setiap anak mempunyai peluang yang sama untuk menjadi korban (Chomaria, 2014) yang
merupakan salah satu bentuk dari child abuse. Hal yang menjadi perhatian adalah bahwa
penganiayaan emosional hampir selalu ada bila bentuk penganiayaan lainnya
teridentifikasi (Betz, dan Linda A. Sowden, 2009).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksdu dengan definisi dan dimensi kemiskinan, potret kemiskinan di
Indonesia?
2. Apa yang dimaksud paradigma kemiskinan serta teori teorinya dan perubahan
paradigma?
3. Apa yang dimaksud dengan pekerjaan sosial dan kemiskinan ?
4. Apa yang dimaksud dengan kemiskinan dan perlindungan sosial?
5. Apa yang dimaksud dengan permasalahan anak, hambatan, model pertolongan,
program konseling dan sistem abuse ?

1
1.3 Tujuan dan Manfaat
1. Mengetahui definisi dan dimensi kemiskinan, potret kemiskinan di Indonesia
2. Mengetahui paradigma kemiskinan serta teori teorinya dan perubahan paradigma
3. Mengetahui pekerjaan sosial dan kemiskinan
4. Mengetahui kemiskinan dan perlindungan sosial
5. Mengetahui permasalahan anak, hambatan, model pertolongan, program konseling
dan sistem abuse

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Dimensi Kemiskinan

Kemiskinan merupakan keadaan dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi


kebutuhan dasar sperti makan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan.
Kemiskinan dapa disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuhan kebutuhan dasar, ataupun
sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.kemiskinan merupakan konsep dan
fenomena yang berwahyu wajah. Bermatra multidimensional.

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan, papan).


2. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya seperti, (Kesehatan,
Pendidikan, Sanitasi, Air bersih, Transportasi).
3. Ketiadaan jaminan masa depan (karna tiada investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun masal.
5. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam.
6. Ketidakterlibatan dalam kegiatan social masyarakat.
7. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharia yang
berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karna cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidak beruntungan social seperti
A. Anak terlantar
B. Wanita korban tindak kekerasan rumah tangga (KDRT)
C. Janda miskin
D. Kelompok marjinal dan terpenci

Konsep dimensi kemiskinan antara lain dikemukakan oleh David Cox dalam
Suharto (2006 : 132-133). David Cox membagi kemiskinan dalam empat dimensi, yaitu :
1. Kemiskinan yang diakibatkan oleh globalisasi. Globalisasi menghsilkan pemenang
dan yangg kalah. Pemenang pada umumnya adalah negara-negara maju. Sedangkan
negara negara berkembang seringkali terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas
yang merupakan prasyarat globalisasi.
2. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan subsisten (kemiskinan
akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat

3
peminggiran pedesaan dalam dalam proses pembangunan), kemiskinan perkotaan
(kemiskinan yang disebabkan olehhakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan).
1. Kemiskinan sosial. kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak, dan
kelompok minoritas
2. Kemiskinan konsekuensi. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau
faktor eksternal di luar simiskin. Seperti konflik, bencana alam kerusakan lingkungan,
dan tingginya jumlah penduduk
Konsepsi kemiskinan yang bersifat multidimensional ini kiranya lebih tepat juga
digunakan sebagai pisau analisis dalam mendefinisikan kemiskinan dan merumuskan
kebijakan penanggulangan kemiskinan di Indonesia.

Dimensi kemiskinan menyangkut aspek ekonomi, politik dan sosiologis, Ellis


(1984 : 242-245). Secara ekonomi, kemiskinan dapat didefinisikan sebagai
kekurangannya sumber dayayang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan
meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang.Sumber daya dalam hal ini menyangkut
tidak hanya aspek finansial, melainkan pula semua jenis kekayaan yang dapat
meningkatkan kesejahteraan dalam arti luas. Berdasarkan konsepsi ini maka kemiskinan
dapat diukur secara langsung dengan menetapkan persediaan sumberdaya yang dimiliki
melalui pengguaan setandar baku yang dikenal dengan garis kemiskinan. Cara seperti ini
disbut dengan pengukuran garis kemiskinan yang absolut.

Secara politik, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadapkekuasaan


(power).Kekuasaan dalam pengertian ini mencakup tatanan sistem politik yang dapa
menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan
sumberdaya. Ada tiga pertanyaan dasar dalam dalam kaitannya dengan akses terhadap
kekuasan ini yaitu:

a. Bagaimana orang dapat memanfaatkan sumber daya yang adadalam masyarakat


b. Bagaiman orang dapat turut ambil bagian dalam pembuatan keputusan penggunaan
sumber daya alam yang tersedia
c. Bagaimana kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan.

4
2.2 Potret Kemiskinan di Indonesia

Masalah kemiskinan merupakan isu sentral di Tanah Air. Terutama setelah Indonesia
dilanda krisis multidimensional yang memuncak pada priode 1997-1999 setelah dalam
kurun waktu1976-1999 tingkat kemiskinan menurun secara spektakuler dari 40.1 persen
menjadi 11.3 persen, jumlah orang miskin meningkat kembai dengan tajam. Terutama
selama krisis ekonomi.

Data dari BPS (1999) juga memperihatkan bahwa selama priode 1996-1998, telah
terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin secara hampir sama di wilayah pedesaan dan
perkotaan, yaitu menjadi sebesar 62,72 persen unutk wilayah pedesaan, 61,1 persen untuk
wilayah perkotaan. Secara agregat potensi peningkatan penduduk miskin terhadap total
populasi memang lebih besar di wilayah pedesaan (7,78%) dibandingkan dengan di
wilayah perkotaan (4,72%). Akan tetapi, selama dua tahun terakhir ini secara absolute
jumlah orang miskin meningkat sekitar 140% atau 10.4 juta jiwa di wilayah perkotaan,
sedangkan di pedesaan meningkat sekitar 10,5% atau 16,6 juta jiwa (Remi dan
Tjiptoherijanto, 2002)

2.3 Paradigma Kemiskinan

Kemiskinan pada hakikatnya merupakan persoalan kalsik yang telah ada sejak zaman
manusia ada.Hingga saat ini belum ditemukan suatu rumusan maupun formula
penanganan kemiskinan yang dianggap paling jitu dan sempurna. Tidak ada konsep
tunggal tentang kemiskinan .strategi penanganan kemiskina masih harus terus menerus
dikembangkan terdapat banyak sekali teori dalam memahami kemiskinan
karenakemiskinan adalah masalah lintas zaman. Kenyataan ini kiranya menjadi latar
mengapa kemiskinan selalu menjadi masalah yang mendapatkan perhatian besar dan
mengundang perdebatan, hingga pada level paradigmatik.Perdebatan abadi kapitalisme
dan sosialisme telah menjadikan kemiskinan sebagai salah satu tema sentral.Perdebatan
intra paradigmatik pun menjadikan peta paradigma kemiskinan menjadi semakin
kompleks. Latar belakang ini memberikan indikasi akan terbatasnya kemampuan setiap
pemetaan dalam menjelaskan paradigma kemiskinan secara komprehensif.

Teori-teori kemiskinan pada umumnya bermuara pada dua paradigma besar yang juga
berpengaruh pada pemahaman mengenai kemiskinan dan penanggulangan
kemiskinan.Dua paradigma yang dimaksud adalah Neo-Liberal dan Demokrasi-

5
sosial.Dua paradigma ini memiliki perbedaan yang sangat jelas terutama dalam melihat
kemiskinan maupun dalam memberikan solusi penyelesaian masalah kemiskinan.
Paradigma yang dimaksud adalah sebagai berikut :

 Paradigma Neo-Liberal Pada paradigma ini individu dan mekanisme pasar bebas
menjadi fokus utama dalam melihat kemiskinan (Syahyuti, 2006: 95). Pendekatan ini
menempatkan kebebasan individu sebagai komponen penting dalam suatu masyarakat.
Oleh karena itu dalam melihat kemiskinan, pendekatan ini memberikan penjelasan bahwa
kemiskinan merupakan persoalan individu yang merupakan akibat dari pilihan-pilihan
individu. Bagi pendekatan ini kekuatan pasar merupakan kunci utama untuk
menyelesaikan masalah kemiskinan. Hal ini dikarenakan kekuatan pasar yang diperluas
dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menghapuskan kemiskinan. Bagi pendekatan
ini strategi penanggulangan kemiskinan bersifat sementara dan peran negara sangat
minimum. Peran negara baru dilakukan bila institusi-institusi di masyarakat, seperti
keluarga, kelompok-kelompok swadaya, maupun lembaga-lembaga lainnya tidak mempu
lagi menangani kemiskinan. Paradima neo-liberal ini digerakan oleh Bank Dunia dan
telah menjadi pendekatan yang digunakan oleh hampir semua kajian mengenai
kemiskinan. Teori-teori modernisasi yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan
produksi merupakan dasar teori-teori dari paradigm ini (Suharto, 2002).
Salah satu indikatornya adalah pendapatan nasional (GNP), yang sejak tahun 1950-an
mulai dijadikan indikator pembangunan. para ilmuwan sosial selalu merujuk pada
pendekatan ini saat mengkaji masalah kemiskinan suatu Negara. Pengukuran 15 Strategi
untuk kemiskinan kemudian sangat dipengaruhi oleh perspektif income poverty yang
menggunakan pendapatan sebagai satu-satunya indikator “garis kemiskinan” (Edi
Suharto, 2009,138) Kelemahan paradigma ini adalah terlalu memandang kemiskinan
hanya melalui pendapatan dan kurang melibatkan orang miskin sebagai subyek dalam
permasalahan kemiskinan (Satterthwaite (1997).
Hal ini mengakibatkan bentukbentuk kemiskinan yang muncul dalam masyarakat
kurang mendapatkan perhatian.Bentuk-bentuk kemiskinan yang tidak dapat ditangkap
oleh paradigma ini terutama bentuk kemiskinan yang disebabkan oleh dimensi sosial
dalam masyarakat atau kelompok masyarakat.Akibatnya akar permasalahan yang menjadi
penyebab kemiskinan juga tidak dapat ditemukan.Namun memang pendekatan income
poverty ini lebih mudah dilihat dan dikaji karena langsung dapat terukur, serta sasaran
pada perbaikan ditingkat individu langsung dirasakan oleh masyarakat miskin.

6
 Paradigma Demokrasi-Sosial Paradigma ini tidak melihat kemiskinan sebagai
persoalan individu, melainkan lebih melihatnya sebagai persoalan structural (cheyne,
O’Brien dan Belgrave (1998:79).
Ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakatlah yang mengakibatkan
kemiskinan ada dalam masyarakat.Bagi pendekatan ini tertutupnya akses-akses bagi
kelompok tertentu menjadi penyebab terjadinya kemiskinan.Pendekatan ini sangat
mengkritik sistem pasar bebas, namun tidak memandang sistem kapitalis sebagai
sistem yang harus dihapuskan, karena masih dipandang sebagai bentuk
pengorganisasian ekonomi yang paling efektif. (cheyne, O’Brien dan Belgrave
(1998:79).
Pendekatan ini juga menekankan pada kesetaraan sebagai prasyarat penting dalam
memperoleh kemandirian dan kebebasan (Syahyuti, 2006 : 95). Kemandirian dan
kebebasan ini akan tercapai jika setiap orang memiliki atau mampu menjangkau
sumber-sumber bagi potensi dirinya, seperti pendidikan, kesehatan yang baik dan
pendapatan yang cukup. Kebebasan disini bukan sekedar bebas dari pengaruh luar
namun bebas pula dalam menentukan pilihan-pilihan.Disini lah peran negara
diperlukan untuk bisa memberikan jaminan bagi setiap Strategi untuk individu untuk
dapat berpartisipasi dalamtransaksi-transaksi kemasyarakatan, dimana mereka
dimungkinkan untuk menentukan pilihan-pilihannya dan memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya.Peran negara dalam pendekatan ini cukup penting terutama dalam
merumuskan strategi untuk menanggulangi kemiskinan.Bagi pendekatan ini
kemiskinan harus ditangani secara institusional (melembaga), misalnya melalui
program jaminan sosial. Salah satu contohnya adalah pemberian tunjangan
pendapatan atau dana pensiun, akan dapat meningkatkan kebebasan, hal ini
dikarenakan tersedianya penghasilan dasar sehingga orang akan memiliki kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihan-pilihannya, dan sebaliknya
ketiadaan penghasilan dasar tersebut dapat menyebabkan ketergantungan.

Kelemahan teori ini adalah adanya ketergantungan yang tinggi pada Negara dalam
membentuk struktur dan institusi untuk menanggulangi kemiskinan.Padahal
pencapaian pembentukan struktur dan institusi yang tepat dalam menangani
kemiskinan itu sendiri tergantung pada kapabilitas kelompok miskin.Penggunaan
kemiskinan relatif dalam pendekatan ini juga lebih menyulitkan dalam membentuk
kebutuhan standar yang diperlukan oleh kelompok miskin.Hal ini dikarenakan

7
kemiskinan tidak dilihat dari kebutuhan minimal yang harus dicapai tapi lebih pada
rata-rata kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun
demikian pendekatan ini membuka dimensi lain dari penyebab kemiskinan yaitu pada
struktur dan institusi, yang telah menyebabkan tertutupnya akses bagi kelompok
tertentu dalam masyarakat. Sehingga melalui pendekatan ini dapat dilihat bahwa akar
permasalahan kemiskinan bukan hanya sekedar pada kemampuan individu tetapi
bagaimana struktur dan institusi dalam masyarakat memberikan jaminan bagi semua
kelompok untuk mendapatkan kesetaraan dalam mencapai kemandirian dan
kebebasan.Perbedaan kedua paradigma tersebut dalam melihat kemiskinan maupun
penyelesaian masalah kemiskinan sangat terlihat, baik dalam merumuskan penyebab
maupun memberikan alternative solusi mengatasi kemiskinan.

2.4 Perubahan Paradigma


Sadar bahwa isu kemiskinan merupakan masalah yang senantiasa aktual,
pengkajian konsep kemiskinan merupakan upaya positif guna menghasilkan pendekatan
dan strategi yang tepat dalam menanggulangi masalah yang krusial yang dihadapi bangsa
Indonesia dewasa ini.Meskipun pembahasan kemiskinan pernah mengalami tahap
kejenuhan pada pertengahan 1980- an, upaya pengentasan kemiskinan kini semakin
mendesak kembali untuk dikaji ulang. Beberapa alasan yang mendasari pendapat ini
antara lain adalah :

1. Konsep kemiskinan masih didominasi oleh perspektif tunggal, yakni “kemiskinan


pendapatan” (Chambers, 1997). Pendeketan ini banyak dikritik oleh pakar ilmu sosial
sebagai pendekatan yang kurang bisa menggambarkan potret kemiskinan secara
lengkap. Kemiskinan seakan akan hanyalah masalah ekonomi yang ditunjukan oleh
rendahnya pendapatan seseorang atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
2. Jumlah orang miskin di Indonesia menunjuk angka yang tinggi, baik secara absolut
maupun relatif, di pedesaan maupun perkotaan. Meskipun Indonesia pernah dicatat
sebagai salah satu negara berkembang yang sukses dalam mengentaskan kemiskinan,
ternyata masalah kemiskinan kembali menjadi isu sentral di Tanah Air karena bukan
saja jumlahnya yang makin meningkat, melainkan dimensinya pun semakin
kompleks seiring dengan menurunnya kualitas hidup masyarakat akibatterpaan krisis
ekonomi sejak tahun 1997`

8
3. Kemiskinan mempunyai dampak negatif yang sifatnya menyebar terhadap tatanan
masyarakat secara menyeluruh. Berbagai peristiwa konflik di Tanah Air yang terjadi
sepanjang krisis ekonomi, misalnya, menunjukan bahwa ternyata persoalan
kemiskinan bukan semata mata mempengaruhi ketahanan ekonomi yang ditampilkan
oleh rendahnya daya beli masyarakat dan mempengaruhi ketahanan sosial masyarakat
dan ketahanan nasional. Misalnya masalah anak jalanan, perlakuan salah terhadap
anak, KDRT, rumah kumuh, kejhatan, alkoholisme, kebodohan dan pengangguran,
terkait dengan masalah kemiskinan.

Menurut Hardiman dan Midgley (1982) dan Jones (1990), pekerjaan sosial di Dunia
ketiga seharusnya lebih memfokuskan pada penanganan masalah sosial yang bersifat
makro, seperti kemiskinan.Karena merupakan masalah dominan yang dihadapi oleh
negara negara berkembang.Sayangnya dalam perancangan kebijakan dan program anti
kemiskinan para pekerja sosial di Indonesia masih belum mampu memberikan kontribusi.
Khususnya dalam merumuskan konsep dan indokator kemiskinan yang genuine dan
sesuai dengan paradigma pekerjaan sosial.Penyebabbnya adalah karna para teoritis dan
praktisi pekerjaan sosial di Tanah Air belum mampu memformulasikan kemiskinan
sejalan dengan konsep keberfungsian sosial.

 Paradigma Lama

Hampir semua pendekatan dalam mengkaji kemiskinan masih berporos pada


paradigma neo-liberal yang dimotori oleh Bank Dunia dan didasari oleh teori teori
modernisasi yang sangat mengagungkan pertumbuhan ekonomi dan produksi (the
production centred model) (Suharto, 2002). Sejak pendapatan nasional dijadikan (GNP)
dijadikan indikator pembangunantahun 1950 an para ilmu sosial selalu merujuk pada
pendekatan tersebut manakala membicarakan masalah kemiskinan suatu negara.
Pengukuran kemiskinan kemudian sangat dipengaruhi oeh pesrpektif income poverty
yang menggunakan pendpatan sebagai satu satunya indikator “garis kemiskinan”

Seperti halnya GNP, pendketan income poverty juga memiliki beberapa


kekurangan. Menurut Sattertwaite (1997) ada 3 kelemahan pendekatan income poverty :

1. Kurang memberi pada dimensi sosial dan bentuk bentuk kesengsaraan orang miskin`
2. Tidak mempertimbangkan keterlibatan orang miskin dalam menghadapi
kemiskinannya.

9
3. Tidak menerangkan faktor faktor yang menyebabkan kemiskinan.

Karena pendekatan GNP dan income poverty memiliki kelemahan dalam memotret
kemiskinan, sejak tahun 1970an telah dikembangkan berbagai pendekatan alternatif.
Diantaranya adalah kombinasi garis kemiskinan dan distribusi pendapatan yang
dikembangkan Sen (1973) ; Social Accounting Matrix (SAM) oleh Pyatt dan Round
(1977), dan Physical Quality of Life Index (PQLI) oleh Morris (1977). Dibawah
kepemimpinan ekonom asal Pakistan, Mahbub Ul Haq, pada tahun 1990an UNDP
memperkenalkan pendekatan Human Development yang diformulasikan dalam bentuk
Indeks pembangunan Manusia (Human Development Indexs) dan Indexs Kemiskinan
Manusia (Human Poverty Indexs). Pendekatan ini relatif lebih komperehensif dan
mencakup faktor ekonomi, sosial dan budaya si miskin.Berporos pada ide ide heterodox
dari paradigma Popular Development.Pendekatan ini memadukan model kebutuhan dasar
yang digagas Paul Streeten dan konsep kapabilitas yang dokembangkan pemenang Nobel
Ekonomi 1998, Amartya Sen.

 Paradigma Baru

Bila dicermati, semua paradigma kemiskinan terdahulu masih tetap menyimpan


kelemahan.Konsepsinya masih melihat kemiskinan sebagai kemiskinan individu dan
kurang memperhatikan kemiskinan struktural.Akibatnya, aspek pelaku kemiskinan serta
sebab sebab yang mempengaruhinya belum tersentuh secara memadai. Sistem
pengukuran dan indikator yang digunakan nya terfokus pada “kondisi” atau “keadaan”
kemiskinan berdasarkan faktor faktor ekonomi yang dominan. Orang miskin hanya
dipandang sebagai “orang serba tidak memiliki” : tidak memiliki pendapatn tinggi, tidak
terdidik, tidak sehat dan sebagainya. Metodenya masih berpijak pada outcome indicators
sehingga belum menjangkau variabel variabel yang menunjukan dinamika kemiskinan.Si
miskin hanya dilihat sebagai “korban pasif” dan objek penelitian.Bukan sebagai
“manusia” yang memiliki “sesuatu”yang dapat digunakannya baik dalam
mengidentifikasi kondisi kehidupannya maupun usaha usaha perbaikan yang dilakukan
mereka sendiri.Kelemahan paradigma lama di atas menuntut perubahan pada fokus
pengkajian kemiskinan, khusunya menyangkut kerangka konseptual dan metodologi
pengukuran kemiskinan.

10
 Keberfungsian Sosial
Keberfungsian sosial mengacu pada cara yang dilakukan individu imdividu atau
kelompok dalam melaksanakan tugas kehidupan dan memenuhi kebutuhannya. Konsep
ini pada intinya menunjuk pada “kapabilitas” (capabilities) individu, keluarga atau
masyarakat dalam menjalankan peran peran sosial di lingkungannya.Baker, Dubois dan
Miley (1992) menyatakan bahwa keberfungsian sosial berkaitan dengan kemampuan
seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar diri dan keluarganya, serta dalam
memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Konsepsi in mengedepankan nilai bahwa
manusia dalah subjek dari segenap proses dan aktivitas kehidupannya. Bahwa manusia
memiliki kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pertolongan.
Bahwa manusia memiliki atau dapat menjangkau, memanfaatkan, dan memobilisasi asset
dan sumber sumber yang ada di sekitar dirinya.

Pendekatan keberfungsian sosial dapat menggambarkan karakteristik dan dinamika


kemiskinan yang lebih realistis dan komperehensif.Ia dapat menjelaskan bagaiman
keluarga miskin merespon dan mengatasi permasalahan sosial ekonomi yang terkait
dengan situasi kemiskinannya. Pendekatan ini memandang orang miskin bukan sebagai
objek pasif yang hanya dicirikan oleh kondisi dan karakteristik kemiskinan.Melainkan
orang yang memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang sering
digunakannya dalam mengatasi berbagai permasalahan seputar kemiskinannya. Ada 4
poin yang diajukan pendekatan keberfungsian sosial dalam studi kemiskinan :

1. Kemiskinan sebaiknya tidak dilihat hanya dari karakteristik si miskin secara statis,
melainkan dilihat secara dinamis yang menyangkut usaha dan kemampuan si miskin
dalam merespon kemiskinannya, termasuk efektifistas jaringan sosial (lembaga
kemasyarakatan dan program program anti kemiskinan setempat) dalam menjalankan
fungsi sosialnya.
2. Indikator untuk mengukur kemiskinan sebaiknya tidak tunggal, melainkan indikator
komposit dengan unit analisis keluarga atau rumah tangga dan jaringan sosial (social
network) yang ada di sekitarnya.
3. Konsep kemampuan sosial (sosial capabilities) dipandang lebih lengkpa daripada
konsep pendapatan (income) dalam memotret kondisi sekaligus dinamika kemiskinan.
4. Pengukuran kemampuan sosial keluarga miskin dapat difokuskan pada beberapa
indikator yang mencakup kemampuan keluarga miskin memperoleh mata
pencaharian, memenuhi kebutuhan dasar, mengelola asset, menjangkau sumber

11
sumber, berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, serta kemampuan dalam
menghadai goncangan dan tekanan.Sedangkan indikator kunci untuk mengukur
jaringan sosial dapat mencakup kemampuan lembaga lembaga sosial memperoleh
sumber daya menjalankan peran atau fungsinya, mengelola aset, menjangkau sumber,
berpartisipasi dalam program anti kemiskinan.

Pendekatan kemiskinan yang berkembang selama ini perlu dilengkapi dengan konsep
keberfungsian sosial yang lebih bermatra demorasi sosial ketimbang neo-liberalisme, atau
penelusuran kembali makna keberfungsian sosial ini akan lebih memperjelas analisis
mengenai bagaimana orang miskin menghadapi kemiskinannya, serta bagaimana struktur
rumah tangga, keluarga, kekerabatan, dan jaringan sosial mempengaruhi kehidupan orang
miskin.

2.5 Pekerjaan Sosial dan Kemiskinan


Sejak kelahirannya ekian abad lalu, pekerjaan sosial telah terlibat dalam
penanggulanagan kemiskinan.Secara konseptual pekerjaan sosial memandang bahwa
kemiskinan merupakan persoalan persoalan multidimensional, yang bermatra ekonomi-
sosial dan individual-struktural. Berdasarkan perspektif ini, ada 3 kategori kemiskinan
yang menjadi pusat perhatian pekerjaan sosial, yaitu :

1. Kelompok yang paling miskin (destitute) atau yang sering didefinisikan sebagai fakir
miskin. Kelompok ini secara absolut memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan
(umumnya tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali) serta tidak memiliki akses
terhadap berbagai pelayanan sosial.
2. Kelompok miskin (poor). Kelompok ini memiliki pendapatn di bawah garis
kemiskinan namun secara relatif memiliki akses terhadap pelayanan sosial dasar
(misalnya, masih memiliki sumber sumber finansial, memiliki pendidikan dasar atau
tidak buta huruf)
3. Kelompok rentan (vulnerable group) kelompok ini dikategorikan bebeas dari
kemiskinan, karena memiliki kehidupan yang relatif lebih baik ketimbang kelompok
destute maupun miskin. Namun sebenarnya kelompok yang sering disebut “near
poor” (agak miskin) ini masih rentan terhadap berbagai perubahan sosial di
sekitarnya. Mereka seringkali berpindah dari status “rentan” menjadi “miskin” dan
bahkan “destititute” bila terjadi krisis ekonomi dan tidak mendapat pertolongan sosial.

12
Pekerjaan sosial melihat bahwa kelompok sasaran dalam menanngani kemiskinan
harus mencakup 3 kelompok miskin secara simultan. Dalam kaitan ini, maka seringkali,
orang mengklasifikasikan kemiskinan berdasarkan “status” atau “profil” yang melekat
padanya yang kemudian disebut Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) atau
Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Nelum ada hasil penelitian yang
komperehensif apakah mereka ini tergolong pada kelompok destitute, poor, atau
vulnerable.Namun dapat diasumsikan bahwa proporsi jumlah PMKS diantara ketiga
kategori tersebut membentuk piramida kemiskinna.Kelompok terbesar diperkirakan
berada pada kategori paling miskin, diikuti oleh ketgori miskin dan rentan.

Pekerjaan sosial adalah profesi pertolongan kemanusiaan yang betujuan untuk


membantu individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat agar mampu menjalankan tugas
tugs kehidupannya sesuai dengan perannya. Sebagaimana halnya profesi kedokteran
berkaitan dengan konsepsi kesehatan, guru dengan konsepsi pendidikan, maka
kebrfungsian sosial merupakan konsepsi yang penting bagi pekerjaan sosial karena
merupakan pembeda antara profesi lainnya. Maka, pendekatan pekerjaan sosial dalam
menanngani kemiskinan juga pada dasarnya harus diarahkan untuk meningkatkan
keberfungsian sosial masyarakat miskin yang dibantunya.

Konsep keberfungsian sosial pada intinya menunjuk pada “kapabilitas” individu,


keluarga atau masyarakat dalam menjalankan peran peran sosial di lingkungannya.
Konsepsi ini mengedepankan nilai bahwa klien adalah subyek pembangunan, bahwa klien
memiliki kapabilitas dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pertolongan,
baha klien mmiliki atau dapat menjangkau, memanfaatkan, dan memobiisasi,asset dan
sumber yang ada di sekiar dirinya.

Strategi penanganan kemiskinan pekerjaan sosial terfokus pada peningkatan


kemampuan orang miskin dalam menjalankan tugas tugas kehidupan dengan sesuai
statusnya.Namun, karena tugas tugas kehidupan dan status merupakan konsepsi yang
dinamis dan multi wajah, maka intervensi pekerjaan sosial senantiasa melihat sasaran
perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi yang
dihadapinya.Prinsip ini dikenal dengan pendekatan “person-in-environment dan person-
in-situation”.Dianalogikan dengan strategi pemberian ikan dan kali, maka strategi
pengentasan kemiskinan tidak hanya bermatra individual, yakni dengan memberi ikan

13
dan kail kepada si miskin. Lebih jauh lagi, pekerjaan sosial berupaya untuk mengubah
struktur struktur sosial yang tidak adil, dengan :

1. Memberi keteramplian memancing


2. Menghilangkan dominasi kepemilikan kolam ikan oleh kelompok kelompom elit
dalam masyarakat; dan
3. Mengusahakan perluasan akses pemasaran bagi penjualan ikan hasil memnacing
tersebut

Berdasarkan analogi tersebut, maka ada dua pendekatan pekerjaan soaial yang
satu sama lain saling terkait. Pendekatan pertama melihat penyebab kemiskinan dan
sumber sumber penyelesaian kemiskinan dalam kaitannya dengan lingkungan dimana si
miskin tinggal, baik dalam konteks keluarga, kelompok, maupun masyarakat.Penanngan
kemiskinan yang bersifat kelembagaan biasanya didasari oleh pertimbangan ini.
Pendekatan kedua melihat si miskin dalam konteks situasinya, strategi pekerjaan sosial
berpijak pada prinsip prinsip individuaisation dan self determinismyang melihat si miskin
secara individual yang memiliki masalah dan kemampuan unik.Program anti kemiskinan
dalam kacamata ini disesuaikan dengan kejadian kejadian dan atau masalah masalah yang
dihadapinnya. Bebrapa bentuk program penanganan kemiskinan yang didasari dua
pendekatan ini antara lain :

1. Pemberian bantuan sosial dan rehabilitasi sosial yang diselenggarakan oleh pantipanti
sosial.
2. Program jaminan, perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial.
3. Program pemberdayaan masyarakat yang meliputi pemberian modal usaha, pelatihan
usaha ekonomi produktif, pembentukan pasar sosial dan koprasi, pelatihan dan
pembinaan keluarga muda mandiri, pembinaan pasrtisipasi sosial masyarakat,
pembinaan anak dan remaja.
4. Program kedaruratan. Misalnya, bantuan uang, barang dan tenaga bagi korban
bencana alam.
5. Program “penanganan bagian yang hilang”. Strategi yang oleh Caroline Moser
disebut sebagai “the missing piece strategy” ini meliputi program program yang
dianggap dapat memutuskan rantai kemiskinan melalui penanangan salah satu aspek
kunci kemiskinan yang kalau “disentuh” akan membawa dampak pada aspek aspek

14
lainnya. Misalnya, pemberian kredit, pembentukan kelompok usaha bersama (KUBE),
bantuan stimulan untuk usaha usaha ekonomis produksi skala mikro.

2.6 Kemiskinan dan Perlindungan Sosial


Indonesia adalah negara besar dalam banyak hal. Selain memiliki luas wilayah,
jumlah penduduk, dan utang besarpula.Jumlah penduduk miskin di indonesia saat ini
hampir mencapai 40juta orang jauh melampaui keseluruhan jumlah penduduk di selandia
baru (sekitar 4juta orang ), serta australia dan malaysia dengan penduduk masing-masing
berjumlah sekitar 10juta dan 24 juta jiwa.
Lebih miris lagi kita menyaksikan kasus busunag lapar yang sering menerpa
indonesia sejak lama. Fenomena busung lapar yang saat ini menggegerkan indonesia,
terutama kasus yang terjadi di NTT dan NTB, adalah puncak gunung es dari gunung
masalah kemiskinan yang paling ekstrim dan purba, yakni kelaparan.
Potret kemiskinan di atas sesungguhnya akan lebih buram lagi, jika pengukuran
kemiskinan menggunakan garis kemiskinan (poverty line) yang lain, yang lebih
"manusiawi". Alat ukur yang di pergunakan saat ini berdasarkan pada konsep kemiskinan
absolut yang lebih menekankan pemenuhan kebutuhan makanan, yakni sejumlah rupiah
yang di perlukan oleh setiap individu untuk dapat membeli makanan setara 2,100 kalori
per orang perhari.Kebutuhan non-makanan, seperti pakaian, perumahan, kesehatan,
pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa masih belum di perhatikan secara
memadai dalam indikator yang sering digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) itu.
Walhasil, jika garis kemiskinan dari Bank Dunia sebesar $2per hari per orang yang di
gunakan, jumlah orang miskin di Tanah Air akan lebih membengkak lagi, mirip perut
orang yang mengalami busung lapar maupun busung kenyang.
Salah satu strategi penanggulangan kemiskinan yang sangat erat kaitannya dengan
perspektif pembangunan kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial adalah perlindungan
sosial (social protection).Setiap manusia, kaya maupun miskin, tinggal di negara maju
maupun negara berkembang senantiasa di hadapkan pada resiko yang mengancam
kehidupannya setiap saat, setiap detik.Perlindungan sosial adalah skema yang dirancang
secara terencana oleh pemerintah maupun masyarakat untuk melindungi anggotanya dari
dirinya (kecelakaan, sakit, meninggal dunia), maupun yang timbul dari lingkungannya
(menganggur, bencana alami/sosial). Secara konseptual, perlindungan sosial mencakup:
1. Bantuan sosial. Skema jaminan sosial (sosial security) yang berbentuk tunjangan
uang, barang atau pelayanan kesejahteraan yg umumnya diberikan berdasarkam "tes
15
kemiskinan" tanpa memperhatikan kontribusi sebelumnya (prior contribution).
Tunjangan kesejahteraan bagi keluarga miskin, penganggur, anak-anak,penyandang
cacat, lanjut usia merupakan beberapa contoh bantuan sosial.
2. Asuransi sosial. Skema jaminan sosial yang hanya diberikan kepada para peserta
sesuai dengan kontribusinya, yakni berdasarkan premi atau tabungan yang
dibayarkannya. Sistem asuransi kesehatan dan pensiun adalah dua bentuk asuransi
sosial yang banyak diterapkan vanyak negara.
3. Kebijakan-kebijakan pasar kerja (labour market policies). Pekerjaan adalah bentuk
perlindungan sosial yang berkelanjutan. Kebijakan pasar kerja merupakan kebijakan
publik untuk meregulasi dunia kerja yang dapat menstabilkan hukum penawaran dan
permintaan kerja, serta melindungi tenaga kerja dari resiko-resiko di tempat kerja.
Kebijakan ini umumnya terdiri dari kebijakan pasar kerja aktif (penciptaan
kesempatan kerja, peningkatan kapasitas SDM, mediasi antara pemberi dan pencari
kerja) dan kebijakan pasar kerja pasif (perbaikan sistem pendidikan, penerapan
standar upah minimum, pembayaran pesangon bagi yang terkena PHK,keamanan
dan keselamatan kerja).
4. Mekanisme dan jaring pengaman sosial berbasis masyarakat. Sejak berabad-abad
lalu, indonesia sudah kaya dengan budaya dan inisiatif lokal dalam merespon
masalah dan kebutuhan rakyat kecil. Divpedesaan dan perkotaan, terdapat kelompok
arisan, raksa desa, beas perelek, siskamling, kelompok pengajian, kelompok dana
kematian

 Potret Pembangunan Asia


Berdasarkan penilitian mendalam di beberapa negara Asia Tenggara dan Asia Timur,
yang kemudian dihimpun dalam buku Social Protection in Southeas and East Asia,
Erfried Adam, Michael von Hauff dan Marei John (2000) menunjukan bahwa lemahnya
sistem perlindungan sosial telah memperburuk ketahanan negara-negara di kawasan itu
dalam menghadapi krisis ekonomi yang menerpa tahun 1997.
 Tanggung jawab Negara; Landasan Faktual
Adam, Hauff dan John (2002) dengan tegas menyatakan bahwa aktor utama yang
harus menjalankan perlindungan sosial adalah negara, khususnya yang menyangkut
skema jaminan sosial (bantuan sosial dan asuransi sosial) dan kebijakan pasar kerja.
Banyak orang memberikan penilaian bahwa perlindungan sosial yang dilakukan
negara bersifat mahal, boros dan karenanya kontradiktif dengan pembangunan
16
ekonomi.Buku berbasis riset setebal 407 halaman yang ditulis Adam, Hauff dan John
(2000) itu menunjukkan hal sebaliknya.Karenanya, pernyataan bahwa perlindungan sosial
yang berbasis negara tidak bermanfaat bagi pembangunan ekonomi adalah asumsi yang
keliru, karena tidak di dasari landasan teori dan penelitian empiris. Kebijakan jaminan
sosial negara yang diterapkan di negara maju dan berkembang telah:
1. memberi kontribusi penting bagi pencapaian tujuan ideal bangsa, seperti keadilan
sosial dan kebebasan individu, dan karenanya mendukung kedamaian dan kemanan
sosial;
2. Mencegah memberi kompensasi terhadap dampak-dampak negatif yang timbul dari
sistem produksi ekonomi swasta, seperti perusahaan bisnis dari asuransi swasta; dan
3. Menciptakan modal manusia (human capital) dan pra-kondisi bagi penguatan
produktivitas ekonomi mikro dan makro, dan karenanya memberikan kontribusi bagi
pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan (Adam dan John,
2002:18).
Senada dengan temuan di atas, Lampert dan Althammer (2001:436) juga menyatakan:
banyak kritik telah salah menilai dan mengesampingkan bukti-bukti sejarah.menunjukan
kan betapa jaminan sosial negara mampu membangun dan merealisasikan masyarakat
yang humanis dan tingkat kesejahteraan sosial yang tinggi. Abramovitz (1981:2),
memberi bukti yang lebih jelas lagi, ketika menyatakan: perluasan peran ekonomi
pemerintah, termasuk dukungannya terhadap pencapaian pendapatan minimal, perawatan
kesehatan, asuransi sosial, dan elemen elemen lain dari sistem negara kesejahteraan ,
telah sampai pada satu kesimpulan bahwa jaminan sosial negara adalah bagian dari proses
produksi itu sendiri.

 Tanggung jawab Negara; Landasan Konstitusional


Tanggung jawab negara dalam membangun dan mengembangkan sistem perlindungan
sosial juga dilandasi konstitusi, baik pada arah internasional maupun nasional.Kematian
anak-anak akibat busung lapar di NTB atau gizi buruk lainnya di NTT, Lampung dan
daerah lain, sangat terkait dengan kemiskinan dan kemahnya perlindungan
sosial.Kejadian itu harus diakui sebagai akibat penelantaran dan pengabaian yang
dilakukan oleh negara (state neglect).Pemerintah dan perngkatnya, termasuk pemda dan
DPRD tidak melaksanakan mamdat state obligation sebagaimana di amanatkan konvensi
internasional, maupun konstitusi nasional.Negara tidak menerapkan kebijakan dan

17
menerapkan langkah-langkah efektif untuk memenuhi (to ful-fill) melindungi (to protect)
dan menghargai (to respect) hak-hak sosial, ekonomi dan budaya warganya.

Deklarasi Universal HAM Pasal 25 ayat 1 menyatakan "setiap orang berhak atas
standar hidup yang layak untuk kesehatan dan kesejahteraan diri dan keluarganya."
Konvenan Internasional Hak-hak Ekonomi,Sosial, Budaya (Ekosob) pasal 11 menyatakan
"Negara-negara penandatangan kovenan mengakui hak setiap orang atas standar
hidup.yang layak untuk diri dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, dan
perumahan..."

Dalam konstitusi Indonesia, hak atas standar hidup layak telah diakui sebagai HAM.
Pasal 28H Ayat 1 UUD 1945 Amandemen II menetapakan "setiap orang berhak hidup
sejahtera lahir dan batin , bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup
lebih.baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan keshatan." UU No.39 Tahun
1999 tentang HAM Pasal 11 menyatakan "Setiap orang berhak atas pemenuhan
kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak."

Hak-hak sosial di atas merupakan kewajiban negara sebagaimana tertuang dalam


UUD 1945 Pasal 28 Ayat 4 Amandemen II yang menyatakan "perlindungan, pemajuan,
penegakkan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggungjawab negara, terutama
pemerintah."kalaupun sebagian besar rakyat NTB dan NTT miskin, adalah kewajiban
negara untuk secara aktif mengeluarkan kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah
progresif membebaskan warganya dari kelaparan. Program JPS, raskin dan dana
kompensasi BBM telah terbukti gagal merespon problema sosial di masyarakat lokal.

2.7 Permasalahan Anak


Permasalahan anak umumya di kategorikan ke dalam tiga konsep, yaitu perlakuan
salah terhadap anak atau PSTA (child abuse atau child maltreatment). Dalam buku
iniakan digunakan istilah yang sama, yakni PSTA untuk konsep-konsep bersangkutan.
PSTA meliputi (Suharto,1997:365-366).
1. PSTA secara fisik (physical abuse) adalah penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan
terhadap anak, dengan atau tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang
menimbulkan luka-luka fisik atau kematian pada anak. Bentuk luka dapat berupa lecet
atau memar akibat persentuhan atau kekerasan benda tumpul, seperti bekas gigitan,
18
cubitan, ikat pinggang atau rotan. Dapat pula berupa luka bakar akibat bensin panas
atau bepola akibat sundutan rokok ataubsetrika. Lokasi luka biasanya dibtemukan
pada daerah paha, lengan, mulut, pipi, dada, perut, punggung atau daerah bokong.
Terjadinya PSTA secara fisik umumnya dipicu oleh tingkah laku anak yang tidak di
sukai orang tuanya,seperti anak nakal atau rewel, menagis terus, minta jajan, buang
air, kencing atau muntah di sembarang tempat, memecahkan barang.
2. PSTA secara psikis (abuse) meliputi penghardikan, penyampaian kata-kata kasar dan
kotor, memperhatikan buku, gambar dan film pornografi pada anak. Anak mendapat
perlakuan ini umumnya menunjukkan gejala perilaku maladaptif, seperti menarik diri,
pemalu, menangis bila di dekati, takut keluar rumah dan takut bertemu dengan orang
lain.
3. PSTA sexsual(sexsual.abuse) dapat berupa perlakuan pra-kontak seksual secara
langsung antara anak denganorang dewasa ( incest,perkosaa, eksploitasi seksual).
4. PSTA secara sosial ( social abuse ) dapat mencakup penelwntaran anak dan
eksploitasi anak. Penelantaran anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak
memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya,
anakndi kucilkan,diasingkan dari keluarga, atwu tidak di berikwn pendidikan dan
perawatan kesehatan yang layak. Ekploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif
atau perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yang dilakukan oleh keluarga
ataupun masyarakat. Sebagai contoh,memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi
kepentingan ekonomi, sosial dan politik tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk
mendapatkan perlindungan sesuai dengan perkembangan fisik, psikisnya dan status
sosialnya. Misalnya, anak di paksa untuk bekerja dipabrik-pabrik yang mebahayakan
(pertambangan, sektor alas kaki) dengan upah rendah dan tanpa peralatan yang
memadai,anak dipaksa untuk angkat senjata, atau di paksa melakukan pekerjaan-
pekerjaan rumah melebihi batas kemampuannya.

Di antara keempat kategori tersebut, konsep mengenai PSTA secara sosial mencakup
lebih banyak permasalahan anak. Termasuk dalam kategori ini adalah:

1. Anak yang mengalami pengabaian (child neglect) dan eksploitasi (child exploitation)
seperti anak jalanan (street children) dan pekerja anak (child labour) yang bekerja di
sektor industri formal yang berbahaya.
2. Anak yang berada dalam kondisi darurat, seperti anak dalam pengungsian, bencana
alam, konflik bersenjata, kerusuhan sosial.

19
3. Anak yang di perdagangkan (child trafficking), baik untuk pelcuran (anak yang di
lacurkan atau AYLA dan pornografi), afopsi ilegal, maupun untuk pembantu rumah
tangga; anak kelompok minoritas dan anak komunitas adat terpencil.
4. Anak yang terlibat kriminalitas atau berkonflik dengan hukum.
5. Anak yang terlibat dalam produksi dan perdagangan obat terlarang, termasuk anak
korban penyalahgunaan NAPZA.
6. Anak korban HIV/AIDS
7. Anak korban diskriminasi sosial

2.8 Hambatan
Kasus Perilaku Salah Terhadap Anak sulit di ungkapkan. Bahkan, mesikipun
kasusnya sudah terindetifikasi, proses penyelidikan dan peradilan sering sangat terlambat.
Kesulitan dalam mengungkap kasus PSTA bisa disebabkan oleh faktor-faktor internal
maupun struktural (YKAI, 1996; Suharti, 1997; Zastrow. 1999).

 Penolakan korban sendiri. Korban tidak melaporkan kasusnya karena takut akan
akibat yang kelak di terima baik dari si pelaku (adanya ancaman) maupun dari
kejadian itu sendiri (traumatis, aib, dll).
 Manipulasi dari si pelaku. Pelaku yang umumnya orang yang lebih besar (dewasa)
sering menolak tuduhan (setidaknya di awal proses penyelidikan) bahwa dia adalah
pelakunya. Strategi yang di gunakan adalah pelaku menuduh anak melakukan
kebohongan atau mengalami “wild imagination”.
 Keluarga yang mengalami kasus menganggap PSTA sebagai aib yang memalukan
jika diungkap secara umum.
 Anggapan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan urusan keluarga (hubungan orang
tua-anak, suami-istri) tidak patut di campuri oleh masyarakat.
 Masyarakat luas tidak mengetahui secara jelas “tanda-tanda” pada diri anak yang
mengalami PSTA, khususnya pada kasus sexual abuse, karena tidak adanya tanda-
tanda fisik yang terlihat jelas.
 Sistem dan prosedur pelaporan yang belum diketahui secara pasti dan jelas oleh
masyarakat luas.

20
2.9 Model pertolongan
Pekerjaan sosial adalah professi yang senantiasa menempatkan sasaran pelayanan
(klien) dalam konteks situasi dan lingkungannya (person-in-situation dan person-in-
environment).Belakangan ini cukup popular sistem pelayanan semi-panti yang lebih
terbuka dan tidak kaku. Para pekerja sosial menentukan program kegiatan,
pendampingan, dan berbagai pelayanan dalam rumah singgah: rumah terbuka untuk
aktivitas, rumah belajar, rumah persinggahan, rumah keluarga pengganti atau tempat anak
mengembangkan sub-kultur tertentu. Selain itu, untuk anak jalanan dan pekerja anak
terdapat sistem pelayanan yang di kenal dengan nama locational based services. Pekerja
sosial menandatangi pabrik atau lokasi di mana anak berada dan memanfaatkan saran
yang ada di sekitarnya sebagai media dan sarana pertolongannya.

Pelaksanaan model pertolongan terhadap kasus PSTA dapat dilakukan melalui


prosedur atau proses sebagai berikut:

1. Identifikasi. Penelaahan awal terhadap masalah menegnai adanya tindak PSTA.


Laporan dari masyarakat atau dari profesi lain, seperti polisi, dokter, ahli hukum
dapat dijadikan masukan pada tahap ini.
2. Investigasi. Penyelidikan terhadap kasus yang dilporkan. Pekerja sosial dapat
melakukan kunjungan rumah, wawancara dengan anak atau orang yang diduga
sebagai pelaku mengenai tuduhan yang dilaporkan, pengamatan terhadap perilaku
anak dan orang yang diduga sebagai pelaku, penelaahan terhadap kehidupan
keluarga.
3. Intervensi. Pemberian pertolongan terhadap anak dan atau keluarganya yang dapat
berupa bantuan kongkrit (uang, barang, perumahan), bantuan penunjang (penitipsn
snsk, pelatihan manajemen stress, perawatan medis) atau penyembuhan (konseling,
terapi kelompok, rehabilitasi sosial).
4. Terminasi. Pengakhiran atau penutupan kasus yang dapat disebabkan oleh beberapa
faktor: keluarga membaik, anak tidak lagi berada dalam bahaya, keluarga
memburuk sehingga anak harus dilepaskan dari keluarganya dan ditempatkan dalam
asuhan luar keluarganya sendiri (foster care), tidak ada kemajuan dalam penanganan
kasus, lembaga kehabisan dana, keluarga menolak bekerjasama, tidak ada pihak
yang membawa kasus ini ke pengadilan.

21
2.10 Program Konseling

Sebagai contoh, bagian ini akan membahas program terapi untuk anak yang
mengalami sexual abuse. Program konseling untuk kategori ini cukup bervariasi,
tergantung pada usia dan kemampuan kognitifnya. Perlu dicatat bahwa bantuan pekerjaan
sosial saja, melainkan juga pada pelakunya.Beberapa terapi ada yang menggabungkan
terapi permainan (play therapy) dengan terapi seni (art therapy) ke dalam program
konselingnya. Dalam bukunya, The practice of Social Work, Zastrow (1999;560-562)
mengemukakan beberapa model program konseling yang dapat diberikan kepada anka
yang sexual abuse:

1) The dynamic of Sexual Abuse. Konseling ini difokuskan pada pengembangan


konsepsi anak bahwa kejadian kekerasan seksual termasuk kesalahan dan tanggung jawab
pelaku bukan korban. Anak-anak dijamin bahwa mereka tidak dipersalahkan meskipun
telah terjadi kontak seksual. Kontak seksual yang terjadi adalah akibat trik para pelaku
yang lebih dewasa, kuat, cerdas, dan itu merupakan pelanggaran hukum.
2) Protective behaviors Counseling. Pada konseling ini anak-anak dilatih untuk
menguasai keterampilan mengurangi kerentanannya terhadap kekerasan seksual dari
orang lain sesuai dengan usianya. Misalnya untuk anak prasekolah dilatih berkata ‘tidak’
terhadap sentuhan-sentuhan yang tidak diinginkan atau menjauh secepat mungkin dari
orang yang kelihatannya ingin melakukan kekerasan seksual.
3) Survivor atau self esteem.Konseling ini berupaya untuk menyadarkan anak-anak
yang menjadi korban, bahwa mereka sebenarnya bukan korban, melainkan orang yang
mampu bertahan (survivor) menghadapi masalah kekerasan seksual. Konseling juga dapat
difokuskan untuk meningkatkan kesadaran anak akan kekuatan dan kelebihan yang
mereka miliki.
4) Feeling Counseling. Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual pada proses ini
diidentifikasi kemampuannya mengenali berbagai perasaan. Anak-anak diyakinkan
bahwa mereka mempunyai hak untuk memiliki perasaan sendiri. Perasaan mereka tidak
akan dinilai baik atau buruk. Selanjutnya anak didorong untuk mengekspresikan
perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan baik pada saat mengalami kekerasan
seksual maupun saat ini. Dalam keadaan ini anak-anak diberi kesempatan untuk secara
tepat memfokuskan perasaan marahnya pada pelaku dan mungkin pula pada orangtua,
polisi, lembaga peradilan, atau pun konselor sekolah sendiri yang tidak mampu memberi

22
perlindungan memadai pada anak. Namun demikian, konselor juga perlu menghargai hak-
hak anak yang sulit atau menolak membicarakan perasaannya. Memaksa mereka justru
akan memperkuat rasa bersalah dan penderitaannya.
5) Cognitive Therapy. Konseling dilakukan dengan cara mengintervensi pikiran-pikiran
negatif anak yang muncul karena kekerasan seksual dengan berbagai cara, misalnya
penghentian pikiran-pikiran negatif. Dapat dilakukan dengan cara misalnya anak diminta
membayangkan bahwa ketakutan dan kekhawatirannya adalah seperti air yang mengucur
dari kran. Anak korban kekerasan seksual diminta untuk membayangkan bahwa dia saat
ini sedang mengangkat tangan dan menjangkau kran itu serta menutupnya dengan kuat.
Selain itu, terapi kognitif dapat pula dilakukan dengan cara mengganti atau menukar
pikiran, misalnya konselor membantu anak untuk menghafal syair pendek dalam bentuk
pernyataan yang berlawanan dengan kekhawatiran yang dialami anak. Anak kemudian
mengulangulang syair tersebut untuk membuang kekhawatirannya.

2.11 System Abuse

Bab ini telah membahas mengenai child abuse dan pendekatan


pertolongannya.Selama ini berkembang anggapan bahwa segala bentuk dan model
intervensi yang di lakukan oleh profesi atau lembaga secara otomatis dapat membantu
memecahkan masalah anak.Benarkah? Judy Cashmone (1997) memperingatkan bahwa
anak-anak dapat mengalami perlakuan salah (diekpsloitasi, ditelantarkan atau diperburuk
kondisi kehidupannya) justru oleh sistem yang semula di tujukan untuk membantunya.Ia
memberi istilah terhadap keadaan ini dengan system abuse atau “perlakuan salah” yang di
lakukan oleh sebuah sistem, seperti lembaga. kebijakan, program, atau prosedur
pertolongan. Secara ringkas, system abuse dapat diakibatkan oleh kurangnya sumber-
sumber, rendahnya koordinasi antar lembaga pelayanan, tidak awetnya supervise dan
dukungan staff, serta kurangnya atau tidak pernah diperhatikannya “suara” anak-anak.

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam artian bahwa
semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka kebutuhan pun
akan semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan hanya kewajiban dari
pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa penyakit sosial ini adalah
tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Ketika terjalin kerja sama
yang baik dari pemerintah, non pemerintah dan semua lapisan masyarakat. Dengan
adanya hal ini, tidak perlu sampai 2030 kemiskinan akan mencapai hasil yang seminimal
mungkin.
Child abuse adalah sikap/ tindakan-tindakan perlakuan salah yang dilakukan kepada
anak. Assesment merupakan proses dalam melakukan diagnosis yang hakikatnya adalah
melakukan identifikasi terhadap gambaran-gambaran yang berbeda dari setiap kasus
individual, seperti misalnya fungsi tingkah laku dan emosional anak-anak yang tampak
dan fungsi kognitif dan perseptual motor mereka. Hubungan antar keluarga tidak
harmonis atau ikatan emosi antar anggota keluarga tidak berjalan dengan baik.

3.2 Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih
kreatif, inovatif, dan eksploratif.Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia yang unggul untuk lebih eksploratif. Di
dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan
kualitas SDM dalam pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas yang
standarnya adalah standar global
Anak adalah anugerah dari Tuhan YME untuk itu peran orang tua dan orang di
lingkungan sekitar sangatlah penting.Jika ingin tindakan perlakuan salah/ child abuse
tidak terjadi pada anak-anak/dalam keluarga, sebaiknya kita harus menjaga hubungan
keharmonisan antar keluarga dan lingkungan sekitar.

24