Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK TENAGA LISTRIK

ELEKTRONIKA DISKRIT

RESISTOR

DosenPembimbing:

Torib Hamzah, S.Pd., M.Pd

Abdul Kholiq, SST., MT

Singgih Yudha Setiawan, SST

Disusun Oleh :

Aditya Dwi Cahyaningrum

P27838017031

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK

TAHUN AJARAN 2017/2018


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Multimeter atau multitester merupakan alat ukur yang dipakai untuk mengukur tegangan listrik,
arus listrik, dan tahanan (resistansi). Ada juga orang yang menyebut multimeter dengan sebutan avo
meter, mungkin maksudtnya A (amper), V (volt), dan O (ohm).
Resistor merupakan komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat atau membatasi
aliran listrik yang mengalir dalam suatu rangkain elektronika.Satuan atau nilai resistansinya suatu
resistor disebut Ohm dan dilambangkan dengan simbol Omega (Ω).

1.2 Batasan Masalah


Dapat menggunakan dan membaca multimeter analog, mengkalibrasi multimeter, dan juga
mampu menghitung nilai gelang-gelang warna pada resistor .

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa definisi multimeter ?
2. Apa saja bagian-bagian multimeter ?
3. Bagaimana cara menggunakan multimeter analog ?
4. Bagaimana cara mengkalibrasi multimeter ?
5. Apa definisi resistor ?
6. Apa saja jenis-jenis resistor ?
7. Bagaimana cara mengetahui nilai resistor ?

1.4 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengunakan multimeter analog.
2. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dari setiap bagian-bagian multimeter analog.
3. Mahasiswa dapat mengkalibrasi multimeter analog.
4. Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis resistor.
5. Mahasiswa dapat membaca nilai resistor melalui gelang-gelang warna.
6. Membandingkan hasil pengukuran dan pembacaan.
7. Mahsiswa dapat menghitung nilai resistor menggunakan multimeter analog.

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Mahasiswa dapat memahami jenis-jenis resistor dan multimeter secara teori.


2. Mahasiswa dapat membaca nilai dari resistor melalui warna cincin gelangnya.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Mahasiswa dapat menghitung nilai resistor menggunakan multimeter analog dengan benar.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Multimeter
Multimeter adalah alat ukur yang dapat mengukur tegangan (volt meter) hambatan (ohm-meter)
dan arus (amper meter).multimeter juga sering disebut dengan avo meter, mungkin yang dimaksud A
(Amper), V (Volt), dan O (Ohm).
2.1.1 Bagian-bagian Multimeter Analog

1. Kotak Meter (Meter Cover)

Gambar 2.1 Kotak Meter

Merupakan kotak yang digunakan untuk meletakan berbagai komponen dari


multimeter. Fungsi lain dari kotak meter ini adalah untuk membuat multimeter menjadi
alat ukur yang praktis, simpel, dan memudahkan para pengguna untuk membawanya
kemana-mana.

2. Jarum Penunjuk

Gambar 2.2 Jarum penunjuk

Pada multimeter, jarum penunjuk memiliki fungsi untuk membaca hasil


pengukuran. Caranya sangat mudah, yaitu dengan melihat angka yang ditunjuk oleh
jarum, lalu menyesuaikannya dengan batas ukur yang sebelumnya dipilih.
3. Papan Skala

Gambar 2.3 Papan skala

Merupakan bagian multimeter yang berisi angka-angka dari nol hingga batas
tertentu. Fungsinya adalah untuk menentukan nilai hasil pengukuran berdasarkan jenis
besaran yang diukur. Misalnya anda mengukur besarnya hambatan pada resistor, maka
yang perlu anda perhatikan ialah papan skala pada bagian ‘Ohm’ yang tertelak di bagian
paling atas.

4. Pengaturan Nol (preset)

Gambar 2.4 Preset

Fungsi dari preset ialah untuk mengatur kedudukan dari jarum penunjuk. Pada
setiap kali ingin melakukan pengukuran, hal mendasar yang sangat penting untuk
diperhatikan ialah kedudukan jarum. Jarum penunjuk haruslah berada di posisi nol.
Apabila belum tepat berada pada posisi nol, maka anda perlu mengaturnya tepat ke posisi
angka nol dengan menggunakan obeng min.

5. Pengatur Nol Ohm meter (zero ohm adjustment)

Gambar 2.5 Zero ohm adjustment

Fungsi bagian ini adalah mengatur kedudukan jarum pada angka nol sebelah kanan
pada saat hendak melakukan pengukuran hambatan listrik.
Caranya adalah, pertama lakukan kalibrasi dengan menempelkan kabel merah dan
hitam multimeter, lalu atur kedudukan jarum agar berada di posisi nol sebelah kanan
dengan cara memutar zero ohm adjustment.

6. Saklar pemilih (Selector Switch)

Gambar 2.6 Selector switch

Saklar ini berfungsi untuk memilih skala pengukuran beserta batas ukurnya.
Misalnya anda hendak mengukur tegangan bolak-balik. Maka letakanlah saklar pemilih
pada posisi ACV. Atau ketika anda hendak mengukur arus searah, maka letakanlah
saklar pemilih di posisi DCmA. Begitu juga pada saat mengukur besaran lainnya.

7. Cermin (Mirror)

Gambar 2.7 Cermin pada multimeter

Cermin yang terletak pada papan skala berfungsi untuk memastikan bahwa
pandangan mata telah lurus terhadap multimeter, sehingga kesalahan dalam pembacaan
hasil pengukuran dapat diminimalisir. Caranya adalah dengan melihat cermin tersebut.
Apabila pada cermin telah tidak terdapat bayangan, maka berarti pandangan mata anda
telah lurus terhadap multimeter dan siap untuk melakukan pembacaan hasil pengukuran.

8. Skala dan Batas Ukur

Gambar 2.8 Skala batas ukur


Bagian ini berisi besaran-besaran listrik yang dapat diukur oleh multimeter tersebut,
beserta batas pengukurannya. Jadi, misalnya anda ingin mengukur tegangan AC, maka
anda hanya perlu mengarahkan selector switch pada bagian ACV. Namun anda juga perlu
memperhatikan batas ukurnya. Berdasarkan gambar multimeter di atas, tegangan AC
yang dapat dikukur maksimal sebesar 1000 V. Apabila lebih dari itu, maka multimeter
akan mengalami kerusakan.

9. Kabel Merah dan Hitam

Gambar 2.9 Kabel merah dan hitam

Fungsi dari kedua kabel penghantar ini ialah untuk melakukan penguruan suatu
besaran listrik. Misalnya anda ingin mengukur tahanan pada resistor. Maka anda perlu
menempelkan kedua kabel ini pada masing-masing kaki resistor yang hendak diukur
tersebut.

10. Terminal Negatif

Gambar 2.10 Terminal negatif

Terminal ini berfungsi untuk menghubungan kabel hitam pada multimeter. Caranya
yaitu dengan menancapkan kabel pada terminal negatif.

11. Terminal Positif

Gambar 2.11 Terminal positif

Sedangkan terminal positif berfungsi untuk menghubungkan kabel merah pada


multimeter. Caranya pun sama, yaitu dengan menancapkan kabel merah pada multimter,
namun pada terminal positif.
2.1.2 Cara Menggunakan Multimeter Analog.

1. Cara Mengukur Tegangan DC

1. Atur posisi saklar selektor ke DCV


2. Pilihlah skala sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Jika ingin
mengukur 6 Volt, putar saklar selector ke 12 Volt (khusus analog Multimeter)
**Jika tidak mengetahui tingginya tegangan yang diukur, maka disarankan
untuk memilih skala tegangan yang lebih tinggi untuk menghindari terjadi
kerusakan pada multimeter.
3. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Probe merah pada
terminal positif (+) dan probe hitam ke terminal negatif (-). Hati-hati agar jangan
sampai terbalik.
4. Baca hasil pengukuran di display multimeter.

Gambar 2.12 Cara Mengukur Tegangan DC

2. Cara Mengukur Tegangan AC

1. Atur posisi saklar selektor ke ACV


2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Jika ingin
mengukur 220 Volt, putar saklar selector ke 300 Volt (khusus analog
multimeter)
**Jika tidak mengetahui tingginya tegangan yang diukur, maka disarankan
untuk memilih skala tegangan yang tertinggi untuk menghindari terjadi
kerusakan pada multimeter.
3. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Untuk tegangan AC,
tidak ada polaritas negatif (-) dan positif (+)
4. Baca hasil pengukuran di display multimeter.

Gambar 2.13 Cara Mengukur Tegangan AC


3. Cara Mengukur Arus Listrik (Ampere)

1. Atur posisi saklar selektor ke DCA


2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan arus yang akan diukur. Jika arus yang akan
diukur adalah 100mA maka putarlah saklar selector ke 300mA (0.3A). Jika arus
yang diukur melebihi skala yang dipilih, maka sekering (fuse) dalam
Multimeter akan putus. Kita harus menggantinya sebelum kita dapat
memakainya lagi.
3. Putuskan jalur catu daya (power supply) yang terhubung ke beban,
4. Kemudian hubungkan probe multimeter ke terminal jalur yang kita putuskan
tersebut. Probe merah ke output tegangan positif (+) dan probe hitam ke input
tegangan (+) beban ataupun rangkaian yang akan kita ukur. Untuk lebih jelas,
silakan lihat gambar berikut ini.
5. Baca hasil pengukuran di display multimeter.

Gambar 2.14 Cara Mengukur Arus

4. Cara Mengukur Resistor (Ohm)

1. Atur posisi saklar selektor ke Ohm (Ω)


2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan Ohm yang akan diukur. Biasanya diawali
ke tanda “X” yang artinya adalah “Kali”. (khusus multimeter analog)
3. Hubungkan probe ke komponen resistor, tidak ada polaritas, jadi boleh
terbalik.
4. Baca hasil pengukuran di display multimeter. (Khusus untuk analog
multimeter, diperlukan pengalian dengan setting di langkah ke-2).

Gambar 2.15 Cara Mengukur Resistor


2.1.3 Cara Mengkalibrasi Multimeter Analog.
a. Hidupkan multimeternya (jika pada multi ada on/off-nya)
b. Kemudian putar sakelar multimeter pada posisi ohm meter x1.
c. Selanjutnya pasang probe merah ke lubang multimeter yang berlambangkan + dan
probe hitam ke lubang multi yang berlambangkan -.
d. Kemudian kudua ujung probe tadi kita tempelkan jadi satu.
e. Lihat pergerakan jarum multimeter akan bergerak menuju angka 0, namun jika
jarum belum berada di posisi angka 0 kita bisa memutar knop yang bernama Ohm
Adjustmen/Adjust hingga jarum berada tepat di angka 0.

2.2 Resistor
Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat atau membatasi
aliran listrik yang mengalir dalam suatu rangkain elektronika. Satuan atau nilai resistansi suatu
resistor disebut Ohm dan dilambangkan dengan simbol Omega (Ω). Sesuai hukum Ohm bahwa
resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya.
2.2.1 Jenis-Jenis Resistor

1. Resistor Tetap (Fixed Resistor)

Resistor tetap merupakan resistor yang nilai resistansinya tidak dapat diubah
atau tetap. Resistor jenis ini biasa digunakan dalam rangkaian elektronika sebagai
pembatas arus dalam suatu rangkaian elektronika. Resistor tetap dapat kita temui
dalam beberpa jenis, seperti :

1. Resistor metal film dibuat dengan bentuk hampir menyerupai resistor film
karbon. Resistor tahan terhadap perubahan temperatur. Resistor ini juga
memiliki tingkat kepresisian yang tinggi karena nilai toleransi yang tercantum
pada resistor ini sangatlah kecil, biasanya sekitar 1% atau 5%.
2. Resistor film karbon adalah resistor hasil pengembangan dari resistor batang
karbon. Sejalan dengan perkembangan teknologi, para produsen komponen
elektronika telah memunculkan jenis resistor yang dibuat dari bahan karbon
dan dilapisi dengan bahan film yang berfungsi sebagai pelindung terhadap
pengaruh luar. Nilai resistansinya dicantumkan dalam bentuk kode warna.
3. Resistor keramik adalah jenis resistor keramik ini sekarang sudah dilapisi
dengan kaca tipis, banyak digunakan dalam rangkaian elektronika saat ini
karena bentuk fisiknya relative sangat kecil serta memiliki tingkat resistansi
tetelitian yang tinggi.

2. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor)

Resistor tidak tetap atau variable resistor terdiri dari 2 tipe yaitu :

1. Pontensiometer, tipe variable resistor yang dapat diatur nilai resistansinya


secara langsung karena telah dilengkapi dengan tuas kontrol.
2. Trimer potensiometer, yaitu tipe variable resistor yang membutuhkan alat
bantu (obeng) dalam mengatur nilai resistansinya.
3. Thermistor, yaitu tipe resistor variable yang nilai resistansinya akan berubah
mengikuti suhu disekitar resistor. Thermistor terdiri dari 2 jenis yaitu NTC dan
PTC.
1. NTC (Negative Temperature Coefficient) nilai resistansinya akan
menurun apabila suhu yang berada di sekitar komponen NTC tersebut
tinggi, atau nilai resistansinya akan meningkat jika suhu disekitar NTC
rendah.
2. PTC (Positive Temperature Coefficient) nilai resistansinya akan
semakin tinggi apabila suhu yang ada di sekitarnya juga tinggi.
4. LDR (Light Depending Resistor), yaitu nilai hambatan LDR akan menurun
pada saat cahaya terang dan nilai hambatannya akan menjadi tinggi jika dalam
kondisi gelap.

2.2.2 Cara Mengetahui Nilai Resistor


1. Menggunakan Kode Warna
Tabel 2.1 Nilai Kode Warna

2. Menggunakan Kode Angka

Gambar 2.16 Kode Angka


Kode huruf untuk nilai daya :
1. W = Watt.
Kode huruf untuk nilai hambatan :
1. R = x1 (Ohm).
2. K = x1000 (KOhm).
3. M = x1000000 (MOhm)
Kode huruf untuk nilai toleransi :
1. F = 1% Toleransi.
2. G = 2% Toleransi.
3. J = 5% Toleransi.
4. K = 10% Toleransi.
5. M = 20% Toleransi
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Multimeter 1 unit
2. Resistor secukupnya
3. PCB 1 unit
4. Solder 1 unit
5. Timah secukupnya
6. Power supply 1 unit
7. Tempat solder 1 unit
3.2 Langkah Percobaan
1. Persiapkan resistor yang memiliki warna-warna kode sesuai pada tabel.
2. Persiapkan multimeter dan lakukan pengukuran, cantumkan dalam tabel hasil pengukuran
nilai resistor.
3. Tulis nilai resistor sesuai dengan nilai kode warnanya.
4. Lakukan langkah 1 – 3 dan pilih resistor yang telah disediakan.
3.3 Tabel Pengamatan
Nilai Warna Nilai Nilai Total Nilai
No Resistor
1 2 3 4 5 Toleransi Ukur

8 2 104 5% Toleransi 820.000 210 K


41.000 +/- 5%
Range :
1
861.000
s/d
779.000
2 2 0 1 1% Toleransi 220 210
2,2 +/- 1%
2 Range :
222,2 s/d
218,2
1 0 103 5% Toleransi 10.000 10.000
500 +/- 5%
3 Range :
10.500
s/d 9500
4 7 0 101 1% Toleransi 4.700 4.500
47 +/- 1%
4 Range :
4.747 s/d
4.653
5 6 103 5% Toleransi 56.000 55.000
2.800 +/- 5%
Range :
5
58.800
s/d
53.200
BAB 4

ANALISIS DAN KESIMPULAN

4.1 Analisis

Multimeter merupakan alat elektronika yang memiliki fungsi untuk mengukur suatu komponen
elektronika salah satunya resistor.

Resistor merupakan komponen elektronika yang berguna untuk membatasi aliran listrik yang
mengalir dalam suatu rangkaian elektronika. Untuk membaca nilai resistor bisa melalui kode warna
ataupun kode angka yang terdapat pada resistor.

4.2 Kesimpulan

Multimeter merupakan alat elektronik yang digunakan untuk mengukur komponen elektronika.
Multimeter juga dapat digunakan untuk mengukur tegangan DC, tegangan AC, arus listrik dan
resistansi (hambatan).

Resistor merupakan suatu benda yang mempunyai nilai tahanan tertentu dan menyerap energi
dalam bentuk panas. Resistor dapat dibedakan menjadi resistor tetap (fixed resistor) dan resistor
tidak tetap (variabel resistor).
DAFTAR PUSTAKA

[1] Azizan, Ahdan. 2014.”Cara Menghitung Resistor Dengan Kode Warna” .


http://akhdanazizan.com/wp-content/uploads/2014/05/cara-menghitung-resistor-dengan-kode-warna-
2.png
Diakses pada : 17 September 2017

[2] No name. 2016. “Cara Membaca & Menghitung Nilai Hambatan Resistor”.
http://elektronika-kelistrikan.blogspot.co.id/2016/04/sistem-penulisan-cara-membaca-dan.html
Diakses pada : 17 September 2017
[3] No name. 2016. “Cara Menggunakan Multimeter / Multitester”.
http://teknikelektronika.com/cara-menggunakan-multimeter-multitester/
Diakses pada : 16 September 2017
[4] No name. 2015. "Cara Mengkalibrasi Multimeter".
http://cariartikelkita.blogspot.co.id/2015/02/artikel-mengkalibrasi-multimeter.html
Diakses pada : 16 September 2017
[5] No name. 2016. “Pengertian LDR (Light Dependent Resistor) dan Cara Mengukur LDR”.
http://teknikelektronika.com/pengertian-ldr-light-dependent-resistor-cara-mengukur-ldr/
Diakses pada : 17 September 2017
[6] No name. 2014. “Pengertian Resistor, Kode Warna Resistor, Jenis Resistor dan Fungsi ...”.
http://zonaelektro.net/resistor-karakteristik-nilai-dan-fungsinya/
Diakses pada : 17 September 2017
[7] No name. 2017. “ Pengertian Thermistor NTC dan PTC”.
http://belajarelektronika.net/pengertian-thermistor-ntc-dan-ptc/
Diakses pada : 17 September 2017
LAMPIRAN

1. Foto Praktikum
2. Laporan Sementara
FOTO PRAKTIKUM

GAMBAR KETERANGAN
Mengkalibrasi multimeter

Cara mengukur nilai resistansi resistor menggunakan


multimeter.