Anda di halaman 1dari 9

KONSTIPASI PADA

LANSIA
Inkontinensia Alvi
Oleh: dr. Ni Made Mardani
KONSTIPASI PADA
LANSIA
A. PENGERTIAN

Konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem pencernaan di
mana seseorang mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk
dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada penderitanya.

B. ETIOLOGI

Banyak lansia mengalami konstipasi sebagai akibat dari penumpukan sensasi saraf,
tidak sempurnanya pengosongan usus, atau kegagalan dalam menanggapi sinyal untuk
defekasi. Konstipasi merupakan masalah umum yang disebabkan oleh penurunan motilitas,
kurang aktivitas, penurunan kekuatan dan tonus otot.

Faktor-faktor risiko konstipasi pada usia lanjut:

1. Obat-obatan: golongan antikolinergik, golongan narkotik, golongan analgetik,golongan


diuretik, NSAID, kalsium antagonis, preparat kalsium, preparat besi, antasida aluminium,
penyalahgunaan pencahar.
2. Kondisi neurologik: stroke, penyakit parkinson, trauma medula spinalis, neuropati
diabetic.
3. Gangguan metabolik: hiperkalsemia, hipokalemia, hipotiroidisme..Kausa psikologik:
psikosis, depresi, demensia, kurang privasi untuk BAB, mengabaikan dorongan BAB,
konstipasi imajiner.
4. Penyakit-penyakit saluran cerna: kanker kolon, divertikel, ileus, hernia, volvulus, iritable
bowel syndrome, rektokel, wasir, fistula/fisura ani, inersiakolon.

Lain-lain: defisiensi diet dalam asupan cairan dan serat, imobilitas / kurang olahraga, bepergian
jauh, paska tindakan bedah parut
C. MANIFESTASI KLINIS

Beberapa keluhan yang mungkin berhubungan dengan konstipasi adalah: (ASCRS,2002)

1. Kesulitan memulai dan menyelesaikan BAB


2. Mengejan keras saat BAB
3. Massa feses yang keras dan sulit keluar
4. Perasaan tidak tuntas saat BAB
5. Sakit pada daerah rectum saat BAB
6. Rasa sakit pada daerah perut saat BAB
7. Adanya perembesan feses cair pada pakaian dalam
8. Menggunakan bantuan jari-jari intuk mengeluarkan feses
9. Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa BAB

D. TANDA DAN GEJALA

Gejala dan tanda akan berbeda antara seseorang dengan seseorang yang lain,
karena pola makan, hormon, gaya hidup dan bentuk usus besar setiap orang berbeda-beda,
tetapi biasanya gejala dan tanda yang umum ditemukan pada sebagian besar atau kadang-
kadang beberapa penderitanya adalah sebagai berikut:

1. Perut terasa begah, penuh, dan bahkan terasa kaku karena tumpukan tinja (jika tinja
sudah tertumpuk sekitar 1 minggu atau lebih, perut penderita dapat terlihat seperti sedang
hamil).

2. Tinja menjadi lebih keras, panas, dan berwarna lebih gelap daripada biasanya, dan
jumlahnya lebih sedikit daripada biasanya (bahkan dapat berbentuk bulat-bulat kecil bila
sudah parah).

3. Pada saat buang air besar tinja sulit dikeluarkan atau dibuang, kadang-kadang harus
mengejan ataupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat
mengeluarkan tinja.

4. Terdengar bunyi-bunyian dalam perut.

5. Bagian anus terasa penuh, dan seperti terganjal sesuatu disertai sakit akibat bergesekan
dengan tinja yang panas dan keras.

6. Frekuensi buang angin meningkat disertai bau yang lebih busuk daripada biasanya (jika
kram perutnya parah, bahkan penderita akan kesulitan atau sama sekali tidak bisa buang
angin).

7. Menurunnya frekuensi buang air besar, dan meningkatnya waktu transit buang air besar
(biasanya buang air besar menjadi 3 hari sekali atau lebih).

8. Terkadang mengalami mual bahkan muntah jika sudah parah.


Suatu batasan dari konstipasi diusulkan oleh Holson, meliputi paling sedikit 2 dari
keluhan di bawah ini dan terjadi dalam waktu 3 bulan :

1. Konsistensi feses yang keras;

2. Mengejan dengan keras saat BAB;

3. Rasa tidak tuntas saat BAB, meliputi 25% dari keseluruhan BAB;

4. Frekuensi BAB 2 kali seminggu atau kurang.

International Workshop on Constipation berusaha lebih jelas memberikan batasan


konstipasi. Berdasarkan rekomendasinya, konstipasi dikategorikan dalam dua golongan :

1. Konstipasi fungsional, Konstipasi fungsional disebabkan waktu perjalanan yang lambat


dari feses, sedangkan penundaan pada muara rektosigmoid menunjukkan adanya disfungsi
anorektal. Yang terakhir ditandai adanya perasaan sumbatan pada anus.

2. Konstipasi karena penundaan keluarnya feses pada muara rektisigmoid. Konstipasi


fungsional disebabkan waktu perjalanan yang lambat dari feses, sedangkan penundaan pada
muara rektosigmoid menunjukkan adanya disfungsi anorektal. Yang terakhir ditandai adanya
perasaan sumbatan pada anus.

E. PATOFISIOLOGI

Defekasi merupakan suatu proses fisiologi yang menyertakan kerja otot-otot


polosdan serat lintang, persarafan, sentral dan perifer, koordinasi sisitem reflek,
kesadranyang baik dan kemampuan fisik untuk mencari tempat BAB. Defekasi dimulai dari
gerakan peristaltik usus besar yang menghantarkan feses kerektum untuk dikeluarkan. Feses
masuk dan meregangkan ampula rektum yang diikuti relaksasi sfingter anus interna. Untuk
menghindarkan pengeluaran feses yang spontan, terjadi refleks kontraksi refleks anus
eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang dilayani oleh syaraf pudendus. Otak menerima
rangsang keinginan untuk BAB dan sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi,
dan rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut. Kontraksi ini
akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan otot elevator ani. Baik
persyarafan simpatis ataupun Parasimpatis terlibat dalam proses ini. Patogenesis konstipasi
bervariasi macam-macam, penyebabnya multipel, mencakup beberapa faktor yang tumpah
tindih, motilitas kolon tidak terpengaruh dengan bertambahnya usia. Proses menua yang
normal tidak mengakibatkan perlambatan perjalanan saluran cerna.

Pengurangan respon motorik sigmoid disebabkan karena berkurangnya inervasi


instinsik akibat degenerasi pleksus myenterikus, sedangkan pengurangan rangsang saraf
pada otot polos sirkuler menyebabkan memanjangnya waktu gerakan usus. Pada lansia
mempunyai kadar plasma beta-endorfin yang meningkat, disertai peningkatan ikatan pada
reseptor opiat endogen di usus. Ini dibuktikan dengan efek konstipasif sediaan opiat karena
dapat menyebabkan relaksasi tonus otot kolon, motilitas berkurang dan menghambat refleks
gaster-kolon. Terdapat kecenderungan menurunnya tonus sfingter dan kekuatan otot-otot
polos berkaitan dengan usia khususnya pada wanita. Pada penderita konstipasi mempunyai
kesulitan lebih besar untuk mengeluarkan feses yang kecil dan keras, menyebabkan
upaya mengejan lebih keras dan lebih lama. Hal ini berakibat penekanan pada
saraf pudendus dengan kelemahan lebih lanjut.

F. PEMERIKSAAN

Pemeriksaan fisik pada konstipasi sebagian besar tidak mendapatkan kelainan yang
jelas. Namun demikian pemeriksaan fisik yang teliti dan menyeluruh diperlukan untuk
menemukan kelainan yang berpotensi mempengaruhi fungsi usus besar. Pemeriksaan
dimulai pada rongga mulut meliputi gigi geligi, adanya luka pada selaput lendir mulut dan
tumor yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan. Daerah perut diperiksa
apakah ada pembesaran perut, peregangan atau tonjolan. Perabaan permukaan perut untuk
menilai kekuatan otot perut. Perabaan lebih dalam dapat mengetahui massa tinja di usus
besar, adanya tumor atau pelebaran batang nadi. Pada pemeriksaan ketuk dicari
pengumpulan gas berlebihan, pembesaran organ, cairan dalam rongga perut atau adanya
massa tinja. Pemeriksaan dengan stetoskop digunakan untuk mendengarkan suara gerakan
usus besar serta mengetahui adanya sumbatan usus. Sedang pemeriksaan dubur untuk
mengetahui adanya wasir, hernia, fissure (retakan) atau fistula (hubungan abnormal pada
saluran cerna), juga kemungkinan tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang air
besar. Colok dubur memberi informasi tentang tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja,
atau adanya darah. Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor
risiko konstipasi seperti gula darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia akibat keluarnya
darah dari dubur. Anoskopi dianjurkan untuk menemukan hubungan abnormal pada saluran
cerna, tukak, wasir, dan tumor.Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi
untuk mendeteksi adanya pemadatan tinja atau tinja keras yang menyumbat bahkan
melubangi usus. Jika ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari dubur atau
riwayat keluarga dengan kanker usus besar perlu dilakukan kolonoskopi. Bagi sebagian orang
konstipasi hanya sekadar mengganggu. Tapi, bagi sebagian kecil dapat menimbulkan
komplikasi serius. Tinja dapat mengeras sekeras batu di poros usus (70 persen), usus besar
(20 persen), dan pangkal usus besar (10 persen). Hal ini menyebabkan kesakitan dan
meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit dan berpotensi menimbulkan akibat yang
fatal. Pada konstipasi kronis kadang-kadang terjadi demam sampai 39,5 derajat celcius,
delirium (kebingungan dan penurunan kesadaran), perut tegang, bunyi usus melemah,
penyimpangan irama jantung, pernapasan cepat karena peregangan sekat rongga badan.
Pemadatan dan pengerasan tinja berat di muara usus besar bisa menekan kandung kemih
menyebabkan retensi urine bahkan gagal ginjal serta hilangnya kendali otot lingkar dubur,
sehingga keluar tinja tak terkontrol. Sering mengejan berlebihan menyebabkan turunnya
poros usus.
G. PENATALAKSANAAN

1. Tatalaksana non farmakologik

a). Cairan

Keadaan status hidrasi yang buruk dapat menyebabkan konstipasi. Kecuali ada
kontraindikasi, orang lanjut usia perlu diingatkan untuk minum sekurang kurangnya 6-8 gelas
sehari (1500 ml cairan perhari) untuk mencegah dehidrasi. Asupan cairandapat dicapai bila
tersedia cairan / minuman yang dibutuhkan di dekat pasien, demikian pula cairan yang
berasal dari sup, sirup dan es. Asupan cairan perlu lebih banyak bagi mereka yang
mengkonsumsi diuretik tetapi kondisi jantungnya stabil.

b). Serat

Pada orang usia lanjut yang lebih muda, serat berguna menurunkan waktu
transit(transit time). Pada orang lanjut usia disarankan agar mengkonsumsi serat skitar 6-
10gram per hari. Ada juga yang menyarankan agar mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 per
hari. Serat berasal dari biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur, kacang-kacangan. Serat
akan memfasilitasi gerakan usus dengan meningkatkan masa tinjadan mengurangi waktu
transit usus. Serat juga menyediakan substrat untuk bakteri kolon, dengan produksi gas dan
asam lemak rantai pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Perlu diingat serat tidaklah
efektif tanpa cairan yang cukup, dan dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja
(skibala) atau dilatasi kolon.Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala kembung,
banyak gas dan buang besar tidak teratur terutama pada 2-3 minggu pertama, yang
sering kali menimbulkan ketidak patuhan obat.

c). Bowel training

Pada pasien yang mengalami penurunan sensasi akan mudah lupa untuk buang
air besar. Hal tersebut akan menyebabkan rektum lebih mengembang karena
adanya penumpukan feses. Membuat jadwal untuk buang air besar merupakan langkah
awal yang lebih baik untuk dilakukan pada pasien tersebut, dan baik juga
diterapkan pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan kognitif. Pada pasien yang
sudah memiliki kebiasaan buang air besar pada waktu yang teratur, dianjurkan
meneruskan kebiasaan teresebut. Sedangkan pada pasien yang tidak memiliki jadwal teratur
untuk buang air besar, waktu yang baik untuk buang air besar adalah setelah sarapan
dan makan malam.

d). Latihan jasmani

Jalan kaki setiap pagi adalah bentuk latihan jasmani yang sederhana tetapi
bermanfat bagi orang usia lanjut yang masih mampu berjalan. Jalan kaki satu setengah jam
setelah makan cukup membantu. Bagi mereka yang tidak mampu bangun dari tampat tidur,
dapat didudukkan atau didudukkan atau diberdirikan disekitar tempat tidur.

Positioning bagi pasien usia lanjut yang tidak dapat bergerak, meninggalkan
tempat tidurnya menuju ke kursi beberapa kali dengan interval 15 menit, adalah salah
satu cara untuk mencegah ulkus dekubitus. Tentu saja pasien yang mengalami tirah
baring dapat dibantu dengan menyediakan toilet atau komod dengan tempat tidur,
jangan diberi bed pan. Mengurut perut dengan hati-hati mungkin dapat pula dilakukan
untuk merangsang gerakan usus.

e). Evaluasi penggunaan obat

Evaluasi yang seksama tentang penggunaan obat-obatan perlu dilakukan


untuk mengeliminasi, mengurangi dosis, atau mengganti obat yang diperkirakan
menimbulkan konstipasi. Obat anti depresan, obat Parkinson merupakan obat yang potensial
menimbulkan konstipasi. Obat yang mengandung zat besi juga cenderung menimbulkan
konstipasi, demikian obat anti hipertensi (antagonis kalsium). Anti kolinergik lain dan juga
narkotik merupakan obat-obatan yang sering pula menyebabkan konstipasi.

2. Tatalaksana farmakologik

a). Pencahar pembentuk tinja (pencahar bulk/bulk laxative) Pencahar bulk merupakan 25%
pencahar yang beredar di pasaran. Sediaan yang adamerupakan bentuk serat alamiah non-
wheat seperti pysilium dan isophagula husk, dan senyawa sintetik seperti
metal selulosa. Bulking agent sistetik dan serat natural sama-sama efektif dalam
meningkatkan frekuensi dan volume tinja. Obat ini tidak menyebabkan malabsorbsi zat besi
atau kalsium pada orang usia lanjut, tidak seperti bran yang tidak diproses. Pencahar
bulk terbukti menurunkan konstipasi pada orangusia lanjut dan nyeri defekai pada
hemoroid. Sama halnya dengan serat, obat ini juga harus diimbangi dengan asupan cairan.

b) Pelembut tinja

Docusate sering kali direkomendasikan dan digunakan oleh orang lanjut usia
sebagai pencahar dan sebagai pelembut tinja. Docusate sodium bertindak
sebagai surfaktan, menurunkan tegangan permukaan feses untuk membiarakan air masuk
dan memperlunak feses. Docusate sebenarnya tidak dapat menolong konstipasi yang kronik,
penggunaannya sebaiknya dibatasi pada situasi dimana mangedan harus dicegah.

c) Pencahar

Stimulan senna merupakan obat yang aman digunakan oleh orang usia lanjut.
Senna meningkatkan peristaltik di kolon distal dan menstimulasi peristaltik diikuti
dengan evakuasi feses yang lunak. Pemberian 20 mg senna per hari selama 6 bulan
oleh pasien berusia lebih dari 80 tahun tidak menyebabkan kehilangan protein atauelektrolit.
Senna umumnya menginduksi evakuasi tinja 8-12 jam setelah pemberian.Orang usia lanjut
biasanya memerlukan waktu yang lebih lama yakni sampai dengan10 minggu
sebelum mencapai kebiasaan defekasi yang teratur. Pemberian sebelum tidur malam
mengurangi risiko inkontininsia fekal malam hari dan dosis juga harus ditritasi berdasarkan
respon individu. Terapi dengan kodil supositoria memiliki absorbsi sistemik minimal dan
sangat menolong untuk mengatasi diskezia rectal pada usia lanjut. Sebaiknya
diberikan segera setelah makan pagi secara supositoria untuk mendapatkan efek refleks
gastrokolik. Penggunaan rutin setiap hari dapat menyebabkan sensasi terbakar pada rectum,
jadi sebaiknya digunakan secara rutin, melainkan sekitar 3 kali semingg.

PENANGANAN

Penanganan sembelit tergantung pada penyebabnya. Bila penyebabnya adalah gaya


hidup, penanganan terbaik adalah mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Dokter
mungkin juga meresepkan obat-obatan berikut untuk meringankan sembelit:

· Agen penggumpal (bulking agents), yang tidak harus berupa obat, untuk melunakkan
dan membentuk feses.

· Obat pencahar stimulan yang menyebabkan otot-otot usus berkontraksi.

· Agen osmotik yang meningkatkan jumlah air dalam tinja dengan menarik air dari
lapisan usus.

· Obat deterjen yang memecah lapisan permukaan tinja, menyebabkan air menembus
dan melunakkannya.

Sembelit yang disebabkan oleh penyakit, gangguan hormonal dan penyumbatan,


penanganan harus dilakukan dengan menghilangkan penyebab yang mendasarinya. Jika
sembelit disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu, penggantian atau modifikasi dosis
obat mungkin diperlukan.

“Mengapa mengalami konstipasi?” Pertanyaan ini mungkin hinggap di pikiran KITA. Jawabannya
mungkin ada di daftar berikut ini.

 Jumlah asupan air yang kurang atau dehidrasi.

 Kurang serat.

 Tidak peduli pada sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh perut, bahkan sering menunda desakan
untuk BAB.

 Kurang aktivitas fisik, terutama pada manula.

 Irritable bowel syndrome.

 Perubahan gaya hidup atau rutinitas, seperti kehamilan, penuaan, atau perjalanan ke luar
kota.

 Sedang tidak enak badan.

 Penggunaan obat pencahar yang terlalu sering atau berlebihan.

 Penyakit tertentu, seperti stroke, diabetes, penyakit tiroid, atau Parkinson’s.

 Gangguan pada usus besar atau dubur.


 Obat-obatan tertentu, seperti pereda rasa sakit atau penurun tekanan darah.

 Gangguan hormonal, seperti kelenjar tiroid yang tidak aktif.

 Wasir.

 Tubuh kekurangan garam karena muntah atau diare.

 Cedera sumsum tulang belakang yang dapat mempengaruhi saraf-saraf yang berhubungan
dengan usus.