Anda di halaman 1dari 3

Rehabilitasi Perkerasan Jalan

1. Analisis overlay menggunakan data lendutan dan lengkung lendutan dengan


pendekatan disain mekanistik empiris untuk jalan dengan lalu lintas berat
2. Rencana pemeliharaan aset jalan harus dapat :
• Mengoptimalkan pelayanan dan pemeliharaan
• Menyediakan rencana tahun jamak yang komprihensif
• dimutahirkan setiap tahun berdasarkan pekerjaan kontrak yg telah selesai dan
hasil survey kondisi jalan terakhir.
3. Prioritas penanganan jalan harus berdasarkan pada :
• Konsidi jalan dengan prioritas, kebutuhan pencegahan dan pengawetan,
kebutuhan pemeliharaan tertinggi.
• Sisa umur rencana (minimal 2 tahun untuk lalu lintas berat).
• Volume lalu lintas
• Penghematan biaya selama umur rencana.
4. Jika anggaran tidak mencukupi untuk penanganan secara menyeluruh, atau jika
penanganan peningkatan kapasitas sudah dijadwalkan dlm waktu dekat, maka dapat
digunakan penanganan sementara (holding treatment) harus dapat mempertahankan
kondisi existing perkerasan sampai penanganan menyeluruh dilaksanakan
5. Penanganan sementara adalah penanganan untuk mempertahankan kondisi jalan
sampai solusi yang permanen dapat dilaksanakan.
6. Nilai Pemici (Trigger Value) adalah nilai indikator kondisi perkerasan seperti IRI
atau lendutan, yang memicu perubahan jenis penanganan optimum, misal
pemeliharaan rutin menjadi overlay, atau dari overlay menjadi rekonstruksi.
7. Jalan dengan Lalu lintas Lebih dari 10 juta ESA4
• Data lendutan maksimum dianggap tidak cukup memadai untuk desain overlay,
atau rekonstruksi dengan beban lalu lintas rencana 10 juta ESA4.
• Analisis lengkung lendutan dan informasi test pit menghasilkan desain
perkerasan yg lebih baik dengan menggunakan desain mekanistik.
8. Rehabilitasi dengan Beban Lalu Lintas < 100.000 ESA4
• Retak leleh bukan merupakan kerusakan yang umum terjadi pada jalan dengan
lalu lintas ringan dan dengan perkerasan HRS.
• Atas pertimbangan tersebut kinerja HRS fatigue tidak diperlukan.
9. Desain tebal overlay cukup dengan pendekatan lendutan maksimum (D0),
10. Rehabilitasi dengan Beban Lalu Lintas > 100.000 ESA4
• Pada jalan dengan lalu lintas > 100.000 ESA4 terdapat potensi retak lelah pada
lapisan aspal.
• Karena deformasi permanen (pendekatan lendutan maksimum D0.) dan kriteria
retak lelah (pendekatan lengkung lendutan D0 – D200) harus diperhitungkan.
11. Rehabilitasi dengan Beban Lalu Lintas > 10x10^6 atau 20 x 10^6 ESA5
• Untuak pekerjaan rehabilitasi dengan beban lalu lintas > 10x 10^6 ESA5 atau
lebih besar 20x10^6 ESA5 harus digunakan prosedur mekanistik empiris metode
pt T-01-2002-B atau AASHTO 1993.
12. Disain Ketebalan Pengupasan dan Pelapisan Ulang (Mill and Inlay).
• Pengupasan dengan mesin millnag adalah cara efektif untuk memperbaiki
ketidak rataan permukaan perkerasan yang disebabkan oleh alur, sungkur,
keriting dan retak permukaan.
• Umumnya, pengupasan dilakukan untuk mengupas permukaan aspal.
• Peralatan pengupasan modern juga mampu mengupas lapisan stabilisasi semen
dan beton.
13. Metode Penentuan Tebal Rencana :
• Metode ini digunakan untuk merencanakan ketebalan inlay untuk penyamaan
elevasi permukaan lajur atau penyamaan ketebalan overlay setelah pengupasan.
• Prosedur unu untuk ESA5 1 juta sampai 20 juta
14. Disain Rekonstruksi Perkerasan. :
• Diperlukan pada saat rusak berat dan retak yg meluas merupakan indikasi bahwa
perkerasan telah mencapai umur pelayanan.
• Berbagai teknik dapat dilakukan untuk merekonstruksi seperti pengupasan dan
penggantian seluruh lapisan aspal, reklamasi atau daur ulang dan pembongkaran
diikuti penggatian perkerasan.
15. Foam bitumen adalah bahan pengikat aspal yg panas dalam waktu singkat diubah
bentuk dari cair menjadi busa dengan cara menambah sedikit air (2 %-3 %
terhadap berat bitumen ).
16. Desain Rekonstruksi dengan Lapis Fondasi Stabilisasi Semen :
• Stabilisasi semen pada meterial perkerasan umumnya dilaksanakan untuk
mendaur ulang lapisan aspal eksisting dan meterial lapis fondasi agregat.
Material harus mempunyai Indek Plastisitas < 10, kecuali stabilisasi kapur PI
sampai 20.