Anda di halaman 1dari 13

FILSAFAT PENDIDIKAN PADA SEBELUM MASEHI

SAMPAI ABAD IV

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

1. DESTIANA SARI (06101181722002)

2. FRIDA RAMADIAN (06101381722057)

3. KURNIA MEGA LESTARI (06101381722047)

4. NAURAH AFIFAH (06101381722051)

5. WAFIQA DINDA KENAMON (06101381722064)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Filsafat Pendidikan Pada Sebelum Masehi Sampai Abad IV ini tepat pada
waktunya. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas matakuliah Sejarah
Pendidikan yang diampu oleh Bapak Dr. Iceng Hidayat, M.Sc.

Dalam makalah ini memuat materi tentang perkembangan pendidikan pada


masa Yunani dan Romawi kuno beserta dangan tokoh-tokoh yang berperan besar
dalam sejarah perkembangan pendidikan di Yunani dan Romawi kuno.
Segala upaya telah kami dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini,
namun bukan tidak mungkin dalam penulisan makalah ini masih terdapat
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan makalah lain di masa
yang akan datang.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua, serta
menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi
kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

Palembang, 18 Agustus 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1

1.1 LATAR BELAKANG ........................................................................................ 1

1.2 RUMUSAN MASALAH .................................................................................... 2

1.3 TUJUAN ............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 3

2.1 Sejarah Filsafat Yunani ........................................................................................ 3

2.2 Perkembangan Ilmu Pada Zaman Yunani Kuno(Abad VII-II SM) .................... 3

2.2.1 Thales (624-548 SM) .................................................................................. 4

2.2.2 Phytagoras (580-500 SM) ........................................................................... 4

2.2.3 Sokrates (470-399 SM) ............................................................................... 5

2.2.4 Plato (427-347 SM)..................................................................................... 7

2.2.5 Aristoteles (384-322 SM)............................................................................ 8

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pendidikan merupakan usaha manusia untuk kepentingan manusia. Pada
saat manusia itu ada dan masih ada, pendidikan itu telah dan masih ada pula. Ilmu
pendidikan sendiri merupakan substansi yang penting dan mendasar dalam
kehidupan manusia. Pada era modern ini, ilmu pengetahuan sangat berkembang
pesat seiring dengan peradaban dan perkembangan zaman.
Masa Yunani Kuno merupakan masa awal kebangkitan filsafat di dunia
karena pada masa ini terjawablah persoalan disekitarnya dengan rasio yang
akhirnya meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang
irasional. Filsafat yunani kuno merupakan periode yang sangat penting bagi
sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu pola pemikiran manusia masih
mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam.
Pendidikan pada masa Yunani kuno diawali dengan lahirnya filsafat. Ilmu
filsafat adalah hasil spekulasi manusia dan filosof adalah manusia dengan segala
kekuatan dan kelemahannya, dan daya kemampuan pikir manusia mungkin naif
bahkan nisbi, sehingga kebenaranya kenyataan yang dihasilkan sangat relatis,
tidak stabil, selalu dapat berubah dan mengalami perubahan (Saifullah, 1983).
Filsafat Yunani kuno memang tidak menyodorkan semua jawaban atas
semua pertanyaan, apalagi jawaban yang benar. Akan tetapi kemudian menjadi
premis bagi peradaban manusia. Singkat kata orang Yunani kunolah yang
melahirkan cara berpikir ilmiah (Kusumohamidjojo, 2012).
Pendidikan Romawi dapat dilihat tampak lebih sederhana dan lebih
disesuaikan dengan kebutuhan negara jika dibandingkan dengan pendidikan
Yunani. Pendidikan pada zaman Romawi lama bertujuan membentuk warga
negara yang setia dan berani, siap berkorban membela kepentingan tanah airnya.
Dengan kata lain membentuk warga negara menjadi tentara yang cakap. Lambat
laun bangsa Romawi mulai menyadari arti penting ilmu pengetahuan, sehingga
tujuan pendidikan mengalami perubahan untuk pembentukan manusia yang
harmoni.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah filsafat Yunani?
2. Bagaimana perkembangan ilmu pada zaman Yunani kuno (abad VII-II
SM)?
1.3 TUJUAN
1. Mengetahui sejarah filsafat Yunani.
2. Mengetahui perkembangan ilmu pada zaman Yunani kuno (abad VII-II
SM).

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Filsafat Yunani


Masa filsafat Yunani merupakan masa terpenting dalam sejarah peradaban
manusia. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir
mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan
fenomena alam. Orang yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai
kepercayaan bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai sesuatu yang
bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng, yang berarti suatu kebenaran lewat
akal pikir atau logis tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang
bersumber dari mitos belaka yaitu dongeng-dongeng.
Pada abad ke-6 Sebelum Masehi mulai berkembang suatu pendekatan
yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu orang-orang mulai mencari jawaban
rasional tentang permasalahan yang di tampakkan oleh alam semesta kepada
manusia saat itu, dimana saat itu timbullah sejumlah ahli pikir yang menentang
dengan adanya mitos-mitos yang banyak terjadi. Sejumlah pemikir ini
menginginkan semua pertanyaan yang timbul dari alam semesta ini memiliki
jawaban yang dapat di terima oleh akal dan pikiran atau disebut dengan rasional.
Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir
ini telah menyebabkan orang-orang untuk mencoba membuat sebuah konsep yang
didasari dengan kekuatan akal atau pikiran secara murni, tidak lagi mengedepan
mitos belaka. Maka, dari kejadian tersebut timbullah peristiwa ajaib yang dimana-
mana buku filsafat menyebutkan peristiwa tersebut dengan nama “ The Greek
Miracle” yang artinya dapat nantinya dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.

2.2 Perkembangan Ilmu Pada Zaman Yunani Kuno(Abad VII-II SM)


Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat karena
pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau
pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat
karena bangsa Yunani pada masa ini tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi.
Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada
sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja) melainkan menumbuhkan

3
sikap an inquiring attitude (sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis).
Sikap tersebut merupakan cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern.
Filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah
peradaban manusia karena pada waktu ini pola pikir masyarakat masih
mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan
pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi dewa bumi
yang sedang menggoyangkan kepalanya. Tetapi ketika filsafat diperkenalkan,
fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai ativitas untuk memasuki
peradaban baru umat manusia.
Bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa.
Beberapa tokoh yang terkenal pada masa ini antara lain Thales, Phytagoras,
Sokrates, Plato dan Aristoteles.

2.2.1 Thales (624-548 SM)

Thales adalah filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam.
Thales digelari Bapak Filsafat karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat
dan mempertanyakan “apa sebenarnya asal usul alam semesta itu?”. Pertanyaan
ini dijawab oleh Thales dengan pendekatan rasional bukan dengan pendekatan
mitos atau kepercayaan.

2.2.2 Phytagoras (580-500 SM)

Pythagoras ho Samios berasal dari Samos, dekat Miletos daerah Ionia (di
pantai barat Turki sekarang). Dia diperkirakan lahir sekitar tahun 570 SM dan
mangkat sekitar tahun 490 SM (Kusumohamidjojo, 2012). Tujuan pendidikan
yaitu membentuk manusia susila dan beragama. Ajaran filsafatnya yang juga
ajaran tarekatnya merupakan “jalan” yang akan dilalui jiwa manusia menuju jiwa
Tuhan, sehingga akan menjadi satu (Saifullah, 1983). Beberapa cita-cita yang
menjadi dasar pendidikannya:

a. Hanya jiwa yang berharga, bukan badan;


b. Jiwa berasal dari dewa-dewa dan hidup terus jika badan telah mati;

4
c. Sejak kecil manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat,
pendidikan harus membawa manusia ke arah kesempurnaan;
d. Kesempurnaan adalah kebajikan, yaitu keselarasan antara jiwa dan raga,
harmoni dalam hubungan antara manusia, harmoni pula dalam negara.

Phytagoras pada masa itu juga menyusun suatu lembaga pendidikan dan
himpunan yang beranggotakan murid-muridnya dan para sarjana yang dikenal
sebagai Phytagoras Society. Hal ini mirip dengan masyarakat ilmiah seperti
sekarang ini. Anggotanya hidup bersama-sama dan patuh pada aturan-aturan
tertentu. Lembaga tersebut terdiri dari 3 bagian:
a. Bagian 1: terdiri dari calon-calon anggota dalam masa percobaan 3 tahun.
Selama itu ia harus dapat mengatasi penderitaan-penderitaan dan harus
membuktikan kesanggupan dalam menempuh jalan hidup yang saleh;
b. Bagian 2: merupakan lanjutan dari bagian 1, tetapi masih diasingkan dari
anggota – anggota penuh, dan mendapat ajaran dari pythagoras sendiri;
c. Bagian 3: terdiri dari anggota-anggota yang dianggap sudah cukup
memenuhi syarat, mendapat hak dan kepercayaan yang penuh, mereka
mendapat ajaran dari pythagoras sendiri.

Kusumohamidjojo (2012) menjelaskan bahwa ajaran Pythagoras melopori


tiga gagasan besar diantaranya:
a. Ajaran Pythagorean mengukuhkan kedudukan sentral dan matematika dalam
menjelaskan harmoni alam semesta;
b. Ajaran Pythagorean menetapkan struktur dasar musik yang kini menjadi
bagian integral dari peradaban dunia;
c. Ajaran Pythagorean mengajukan doktrin tentang metempsychosis yang lantas
menjadi soal perenial dalam theologi dan psikologi.

2.2.3 Sokrates (470-399 SM)

Sokrates berasal dari distrik Alopeke di lerang Gunung Lycabettus dekat


Athena. Dia berasal dari suku Antiochis. Ketika pada tahun 399 SM menjalani

5
hukuman mati yang tekenal itu, usianya sudah mencapai 70 tahun
(Kusumohamidjojo, 2012).
Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tidak
dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar
dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi
Sokrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan diri sendiri.
Sokrates tidak pernah meninggalkan tulisan, tetapi pemikirannya dikenal melalui
dialog-dialog yang ditulis oleh muridnya Plato. Metode Sokrates dikenal sebagai
Maieuitike Tekhne (ilmu kebidanan), yaitu suatu metode dialektika yang
melahirkan kebenaran.
Sokrates merupakan tokoh yang melawan ajaran sofisme. Ia berpendapat
bahwa yang menjadi ukuran segala-galanya bukan manusia melainkan ke-
Tuhanan. Berlawanan dengan sofisme, Socrates percaya bahwa manusia
mempunyai pembawaan untuk berbuat baik. Socrates berpendapat bahwa ilmu
adalah sumber dari kebajikan, oleh karena itu ia dianggap perintis kaum
Philantropin: cinta pada sesama manusia. Usaha Socretes untuk melepaskan diri
dari ikatan ajaran kaum Sofis yang skeptis bahkan nihilistis itu, dan dalam rangka
menyelesaikan permasalahan adalah ajaran utama dan pertamanya yang berbunyi
dalam rumusannya bahwa “knowladge is virtues,” artinya pengertian adalah
kebijakan (Saifullah, 1983).
Sokrates selalu mendatangi orang yang dia pandang memiliki otoritas
keilmuan dengan bidangnya untuk berdiskusi tentang pengertian-pengertian
tertentu. Dalam melaksanakan pengajaran Socretes melakukan dialog, percakapan
dan tanya jawab dengan masyarakat di jalan-jalan, di taman, dan pasar. Socrates
selalu mengajarkan bahwa manusia itu berpengetahuan hanya dalam
prasangkanya saja, padahal yang sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa, dan
mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa mereka hanya mengetahui satu
hal, yaitu bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Dengan begitu maka pada diri
manusia itu tumbuh keinginan untuk mengetahui yang sebenarnya. Dengan jalan
induksi, mereka dibawa kepada ilmu yang sebenarnya (menarik kesimpulan
sendiri). Bagi Socretes pengetahuan sebenarnya adalah pengetahuan yang
bersumber atau yang diperoleh melalui pembentukan konsep dan metode

6
ketercapainya pengetahuan dengann menggunakan metode dialektika (Saifullah,
1983). Berikut merupakan jasa-jasa dari Socretes diantaranya :
a. Pelopor dari ilmu kesusilaan. Ia berpendapat bahwa filsafat merupakan alat
untuk mencapai kebajikan;
b. Pelopor dari ilmu mengenai pengertian-pengertian. Ia berusaha selalu mencari
hakikat dari benda-benda, yakni pengertian-pengertian;
c. Pythagoras dan socrates adalah peletak dasar paedagogik moral.

Sokrates lebih mementingkan metode dialektika itu sendiri daripada hasil


yang dia peroleh. Jadi meskipun Sokrates tidak meninggalkan teori-teori tertentu,
tetapi ia meninggalkan sikap kritis melalui metode dialektika yang akan
berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan modern. Namun, pada akhir
hidupnya, Socrates dijatuhi hukuman dengan disuruh minum racun oleh hakim,
apabila ia tidak bersedia menarik kembali ajarannya. Socrates dianggap telah
merusak akhlak pemuda, dan difitnah oleh kaum sofis telah mengajarkan dewa-
dewa baru dan membelakangi dewa-dewa resmi. Bisa dikatakan bahwa Sokretes
telah meremehkan pengadilan dan bahkan memperolok-oloknya
(Kusumohamidjojo, 2012).

2.2.4 Plato (427-347 SM)

Plato adalah murid Socrates. Ia adalah seorang bangsawan. Saat Socrates


dijatuhi hukuman minum racun Plato melarikan diri dan mendapat perlindungan
dari keluarganya. Plato adalah satu-satunya filosof yang berhasil membangun
sistem pemikiran filsafat yang integral terdiri dari unsur-unsur ajaran filosof
pendahulunya (Saifullah, 1983).
Sistem pendidikan yang lengkap dan merupakan bagian dari ajaran
ketatanegaraan pertama disusun oleh Plato, ia adalah seorang pengarang pertama
di Yunani. Tujuan pendidikan menurut Plato adalah membentuk warga negara
secara teoritis dan praktis. Setiap manusia bertugas untuk mengabdikan
kepentingannya kepada kepentingan negara. Oleh sebab itu pendidikan harus
diselenggarakan oleh negara dan untuk negara. Dengan prinsip tersebut Plato
disebut sebagai pencipta Pendidikan Sosial. Ia berpendapat bahwa kesulitan-

7
kesulitan politis dapat diatasi apabila ada keadilan. Keadilan akan terwujud bila
setiap orang melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Dengan demikian tujuan
pendidikan itu selanjutnya adalah untuk membentuk negara susila yang
berdasarkan keadilan.
Dalam pendidikan moral, Plato berpendapat bahwa anak-anak telah dapat
melakukan suatu perbuatan meskipun mereka belum sanggup menyadari atau
memahaminya. Sehingga pendidikan harus dimulai sejak kecil, yaitu dengan
pembiasaan dan kemudian pengajarannya. Plato membagi ilmu pengetahuan
menjadi dua tingkat yang pertama “opinion” pendapat yang diperoleh dengan
pancaindera, yang kedua yaitu “genuine knowladge” yang dianggap lebih tinggi
dan diperoleh dengan berpikir dan pikiran melalui metode dialetika sehingga
diperoleh apa yang disebut konsep (Saifullah, 1983).

2.2.5 Aristoteles (384-322 SM)

Aristoteles lahir di Stageria Semenanjung Kalkidike (kawasan Yuani


Utara, sekarang kawasan Balkan pada tahun 384 SM. Dia meninggal pada usia 65
tahun di Kalkis pada tahu 322 SM (Kusumohamidjojo, 2012: 213). Ia adalah
murid dari Plato dan telah berguru selama 20 tahun. Bukunya yang terkenal
mengenai cita-cita pendidikan adalah Politica dan Anima. Seperti halnya dengan
Plato, maka Aristoteles pun menghendaki pendidikan negara.
Cita-cita pendidikan Aristoteles yaitu melalui kebajikan yang diperoleh
dengan jalan aman, melalui pengalaman, pembiasaan-pembiasaan, akal budi, dan
pengertian. Pendidik harus mempelajari dan memimpin pembawaan dan
kecenderungan anak-anak. Menurutnya sumber pengetahuan adalah pengalaman
dan pengamatan yang menghasilkan bahan untuk berpikir. Dalam satu hal ia
sepaham dengan J. Locke, bahwa jiwa seseorang pada waktu dilahirkan tidak
berisi apa-apa (tabula rasa). Dengan latihan dan pembiasaan mereka diajar
melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Masa triumvirat
disebut masa pembangunan kembali ajaran-ajaran filosof sebelumnya dengan cara
menentukan perbedaan dan persamaannya, meneliti mana yang benar dan baik,
serta membangun yang salah dan jelek (Saifullah, 1983). Pendidikan formal
menurutnya berakhir pada usia 21 tahun, dan periode ini terbagi menjadi 4 bagian:

8
pendidikan sampai dengan usia 5 tahun, pendidikan sampai dengan usia 7 tahun.
pendidikan sampai dengan usia pubertas dan pendidikan sampai pada usia 21
tahun.
Dalam prinsipnya, sebelum usia 5 tahun, hendaknya pendidikan bersifat
sewajarnya, disesuaikan dengan keadaan anak. Membaca, menulis, ilmu hitung,
gymnastic dan musik dianggap sebagai mata pelajaran untuk latihan kejiwaan.
Gymnastic dan musik adalah yang paling penting, sebab mempunyai akibat
pembersihan jiwa, dan nafsu-nafsu yang tidak baik dan mengembangkan
perbuatan baik sesuai dengan tuntunan moral. Menurut Aristoteles, karena
pendidikan adalah soal universal, maka pendidikan dilakukan oleh negara (Agung
& Suparman, 2012).
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles yang
merupakan seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-
persoalan besar filsafat yang dipersatukan dalam satu sistem yaitu logika,
matematika, fisika, dan metafisika. Aristoteles meneruskan sekaligus menolak
pandangan Plato
Filsafat Yunani yang rasional boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles
menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama
berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan
tenggelam dalam Abad Pertengahan. Namun jelas, setelah periode ketiga filosof
besar itu mutu filsafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan
kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya kerajaan
Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil setelah wafatnya Alexsander The
Great yang tepatnya pada ujung zaman Helenisme, yaitu pada ujung sebelum
masehi menjelang Neo Platonisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.

9
DAFTAR PUSTAKA

Kusumohamidjojo,B.2012.Filsafat Kebudayaan Proses Realisasi


Manusia.Yogyakarta: Jalur Sutra.
Saifullah,A.1983.Pengantar Filsafat Pendidikan.Surabaya: Usaha
Nasional.
Agung,L dan Suparman.2012.Sejarah Pendidikan.Yogyakarta: Penerbit
Ombax.
Uyoung,M.2017. Sejarah Perkembangan Ilmu. (Online).
https://www.academia.edu/36658224/MAKALAH_FILSAFAT_ILMU. (Diakses
pada tanggal 18 Agustus 2019).
Filla,R.2016. Pendidikan Masa Yunani dan Romawi Kuno. (Online).
https://www.academia.edu/33513653/PENDIDIKAN_MASA_YUNANI_DAN_R
OMAWI_KUNO. (Diakses pada tanggal 18 Agustus 2019).

10