Anda di halaman 1dari 10

TINGKAT KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN DENGAN KUALITAS

DAN DEPOSISI SEMEN YANG BERBEDA PADA SAPI PERANAKAN


ONGOLE

Susilawati T.
Bagian Produksi Ternak Fakultas Peternakan UB, Malang

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan
kualitas spermatozoa PTM, terutama dari semen beku yang memiliki kualitas di bawah
PTM kelas AI dan deposisi semen untuk keberhasilan kebuntingan pada Filial (PO)
sapi Ongole. Metodologi yang digunakan adalah percobaan menggunakan 80 PO
perempuan sebagai sampel yang diambil secara purposive. Penelitian ini menggunakan
8 perlakuan dengan mengulangi proses di 10 sapi. Perlakuan IB ini yang menggunakan
4 level kualitas PTM dari semen beku (PTM 5-20%, 20-30%, 30-40% dan  40%) dan
2 jenis deposisi semen (4 dan 4 +).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemungkinan kebuntingan dengan
kualitas semen dengan PTM 20-30% dan 30-40% yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kualitas semen PTM 5-20%, meskipun , secara statistik persentase
kebuntingan tidak berbeda. IB menggunakan deposisi semen 4 + hasil 2.168 kali lebih
tinggi dari kebuntingan dibandingkan dengan deposisi semen IB 4. Secara statistik,
persentase kebuntingan dari perbedaan kualitas spermatozoa PTM dan deposisi semen
itu tidak signifikan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini akan menjadi keuntungan
besar, terutama jika ditinjau dari aspek reproduksi.
Semen beku yang mempunyai kualitas PTM di bawah standar SNI (20 – 40%)
masih dapat menghasilkan kebuntingan pada ternak akseptor IB yaitu berhasil bunting
85% - 95%. Deposisi semen saat IB pada posisi 4+ menghasilkan kemungkinan
kebuntingan lebih tinggi dibandingkan dengan IB pada posisi 4.

PREGNANCY SUCCESSFULNESS WITH DIFFERENT QUALITY AND


SEMEN DEPOSITION IN FILIAL ONGOLE (PO) CATTLE

ABSTRACT
The objective of this study is to finding out the influence of the different quality
of spermatozoa’s PTM, especially from frozen semen that has under grade PTM
quality and AI semen deposition to the pregnancy successfulness in Filial Ongole (PO)
cattle. The methodology that is used is experiment using 80 female PO as the sample
that is taken purposively. This study used 8 treatments by repeating process in 10
cows. The treatment is AI that is using 4 grades PTM quality of frozen semen (PTM 5-
20%, 20-30%, 30-40% and 40%) and 2 kinds semen deposition (4 and 4+).
The finding of this study is showing that the chance of pregnancy by under
grade PTM quality semen (PTM 20-30% and PTM 30-40%) is higher compared with

J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 15-24, 2011 15


under grade PTM quality semen (PTM 5-20%), even though, statistically the
percentage of the pregnancy is not significantly different. The AI using semen
deposition 4+ result 2,168 times higher of pregnancy compared with AI semen
deposition 4. Statistically, the pregnancy percentage from the different quality of PTM
spermatozoa and semen deposition it is not significant. Hence, the result of this study
will be a great advantage, especially in reproduction.
The higher PTM quality and the closer semen placementin AI from tuba
fallopii as the place of fertilization between ovum and spermatozoa, the higher
percentage of pregnancy gotten. It is caused by more motil spermatozoa and the closer
distance that have to pass by spermatozoa to fertilize ovum. There for the change to
get fertilization will be higher.

Key Word : Spematozoa, Post Thawing Motility, semen deposition

PENDAHULUAN lain: ternak betina itu sendiri,


Inseminasi Buatan merupakan ketrampilan Inseminator dalam
program yang telah dikenal oleh mendeposisikan semen, ketepatan
peternak sebagai teknologi reproduksi waktu IB, deteksi berahi, handling
ternak yang efektif. Secara umum semen dan kualitas semen terutama
teknik IB terdiri dari dua metode yakni motilitas pasca thawing atau post
metode inseminasi vaginaskop atau thawing motility (PTM) (Correa,
spekulum dan metode rectovaginal. Rodriquez, Petterson and Zavos. 1996)
Keberhasilan kebuntingan dipengaruhi Kualitas semen beku terutama motilitas
oleh beberapa faktor, salah satu faktor setelah thawing-nya, tidak diragukan
yang dominan adalah posisi deposisi lagi karena pihak produsen
semen dalam saluran reproduksi ternak mendistribusikan semen beku sesuai
betina (Selk, 2007). Angka konsepsi standar SNI 01-4869.2-1988, semen
dari pelaksanaan IB pada sapi beku dengan konsentrasi 25 juta/straw,
Peranakan Ongole dalam intra utery persentase spermatozoa PTM 40% dan
(posisi 4) adalah sebesar 69,5%, persentase spermatozoa yang abnormal
sedangkan persilangan sapi Simmental maksimal 10% (Anonimous, 2000),
dan PO memiliki nilai Service per sedangkan yang kurang dari standar
Conception (S/C) sebesar 2,3; anestrus SNI akan dibuang.
post partum 131 hari dan CI selama Produksi semen beku di BIB
445 (Aryogi, Rasyid dan Mariono, dalam setahun mencapai lebih dari satu
2006). Prayogo (2008) menambahkan juta straw, dari jumlah tersebut terdapat
bahwa melalui teknik modifikasi 3-4 % atau sekitar 30.000-40.000
deposisi semen pada sapi PO dicapai semen beku yang tidak didistribusikan
angka Service per Conception (S/C) (dibuang), karena kualitas persentase
sebesar 1,1; Conception Rate (CR) PTM-nya di bawah standar SNI. Semen
sebesar 90% dan Non Return Rate beku yang dibuang tersebut sangat
(NRR) sebesar 90%. sayang kalau tidak dimanfaatkan
Keberhasilan program IB karena berasal dari bull yang
dipengaruhi oleh beberapa hal antara genetiknya sangat baik. Pada

16 Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ……..………….………..….. Susilawati, T.


pelaksanaan di lapangan, karena Pelaksanaan penelitian
beberapa sebab seperti jarak tempuh menggunakan 8 (delapan) perlakuan,
yang jauh, handling yang jelek, dengan masing-masing ulangan 10 ekor
kekurangan N2 cair saat perjalanan ke sapi. Perlakuan tersebut adalah
peternak, sehingga kualitas semen beku pelaksanaan IB menggunakan semen
(PTM) yang sebenarnya sudah sesuai beku dengan 4 (empat) macam kualitas
standar SNI tersebut bisa saja turun. PTM dan 2 (dua) macam deposisi
Hal ini dikhawatirkan sebagai salah semen (4 dan 4+)
satu sebab kegagalan IB. Prosedur Penelitian
Untuk bisa memanfaatkan
semen beku yang telah diproduksi a.Uji kualitas semen
tetapi PTM-nya dibawah standar SNI Uji kualitas semen beku dengan
dan semen beku yang karena beberapa mengamati persentase motilitas
faktor sehingga persentase PTM-nya menggunakan mikroskop cahaya
turun perlu diadakan penelitian apakah
dengan pembesaran 400 kali.
IB menggunakan semen beku dengan
berbagai persentase PTM, terutama Pengujian dilakukan di Laboratorium
yang di bawah standar SNI dan dan di lapangan sesaat sebelum
deposisi semen beku pada saat IB pelaksanaan IB untuk menentukan
berpengaruh terhadap keberhasilan perlakuan kualitas semen.
kebuntingan.
Penelitian ini bertujuan untuk b. Pelaksanaan IB menggunakan
mengetahui pengaruh tingkat kualitas Semen Beku
spermatozoa post thawing (PTM) dan - Memilih sapi PO sebanyak 80 ekor
deposisi semen terhadap keberhasilan yang berahi normal
kebuntingan pada sapi peranakan - Melakukan IB dengan menggunakan
ongole (PO). semen beku yang memiliki kualitas
PTM 5 - 20 % (P1), 20 - 30% (P2), 30
MATERI DAN METODE - 40% (P3) dan > 40% (P4) dengan
Penelitian dilakukan di deposisi semen pada posisi 4 dan 4+
peternakan rakyat wilayah Kecamatan dengan masing-masing ulangan
Pakis Kabupaten Malang. Metode sebanyak 10 ekor.
penelitian yang digunakan adalah - IB dilakukan pada sapi yang berahinya
percobaan dengan sampel sebanyak 80 sempurna yaitu vulva membengkak,
ekor sapi PO induk yang diambil secara merah, suara melenguh, mengeluarkan
purposive sampling. Pengambilan lendir, saling menaiki dan gelisah.
sampel berdasarkan kesengajaan - IB dilakukan oleh seorang Inseminator
dengan kriteria : pernah beranak yang terampil pada posisi 4 dan 4+
paritas 1 – 3, siklus birahi normal, tidak sesuai perlakuan
pernah mengalami gangguan - Evaluasi dilakukan dengan perhitungan
reproduksi atau distokia, anatomi alat NRR0-30, NRR30-60 dan NRR60-90 hari,
reproduksinya normal, BCS antara 4 – untuk sapi-sapi yang menunjukkan
6 (skala 1 – 9 ) dan manajemen tanda-tanda berahi setelah IB pertama
pemeliharaan yang relatif sama. dilakukan IB kedua dan untuk tanda-
tanda berahi ketiga dianggap gagal.

J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 15-24, 2011 17


dilakukan untuk memperoleh sejumlah
kebuntingan pada kelompok akseptor
IB, sedangkan CR merupakan jumlah
akseptor yang bunting pada IB ke I
dibagi jumlah semua akseptor kali
100% (Susilawati, 2011)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Evaluasi Kebuntingan dengan
Metode NRR
Posisi 4 Posisi 4+ Metode NRR berpedoman pada
asumsi bahwa sapi yang telah di IB dan
Lokasi Deposisi Semen tidak berahi lagi, maka dianggap
Gambar 1. Ilustrasi Pendeposisian bunting. Hal ini sesuai dengan
Semen (Susilawati, 2011) pendapat Susilawati (2011) bahwa
NRR merupakan persentase jumlah
Setelah dua bulan dari IB yang terakhir ternak yang tidak kembali berahi antara
dilakukan pemeriksaan kebuntingan hari 60-90 setelah dikawinkan. Tetapi
untuk memastikan sapi tersebut bunting pengamatan NRR tidak dapat dijamin
atau tidak dengan palpasi rektal 100% kebenarannya, karena kadang-
(Susilawati, 2005) kadang terdapat sapi yang tidak bunting
Variabel yang diamati adalah akan tetapi tidak menunjukkan tanda-
NRR, angka kebuntingan, S/C dan CR. tanda berahi lagi. Sehingga untuk lebih
NRR adalah persentase sapi betina akurat dilakukan pemeriksaan dengan
akseptor IB yang tidak kembali lagi cara palpasi rektal. Hasil pengamatan
birahi selama 20 – 60 hari atau 60 – 90 dengan metode NRR ini dapat dilihat
hari pasca pelaksanaan IB. S/C adalah pada Tabel 1.
banyaknya pelayanan IB yang

Tabel 1. Evaluasi Kebuntingan Hasil IB dari Semen Beku dengan berbagai


Kualitas PTM dan Posisi yang Berbeda Menggunakan Metode NRR

Semen Beku Jumlah Sampel NRR (%)


No PTM (%) Posisi (ekor) 0-30 hari 30-60 hari 60-90 hari
1. 5-20 4 10 100 90 70
2. 20-30 4 10 100 100 90
3. 30-40 4 10 100 100 100
4. > 40 4 10 100 100 100
Jumlah rata-rata 40 100 97,5 90
5. 5-20 4+ 10 80 70 70
6. 20-30 4+ 10 100 100 90
7. 30-40 4+ 10 100 90 90
8. > 40 4+ 10 100 100 100
Jumlah rata-rata 40 95 90 87,5

18 Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ……..………….………..….. Susilawati, T.


Data pada Tabel 1 menunjukkan yang diberikan pada ternak. Sapi yang
bahwa secara umum sampel sapi (40 diberi pakan yang berkualitas pada saat
ekor) yang di IB dengan posisi 4 angka antara pasca melahirkan sampai dengan
kebuntingannya cukup bagus yaitu pelaksanaan IB dapat menyebabkan
100% (0-30 hari); 97,5% (30-60 hari) fertilitas yang rendah dan
dan 90% (60-90 hari). Berdasarkan meningkatnya kematian embrio dini.
data tersebut secara rinci dapat Sampel sapi yang di IB dengan
dijelaskan bahwa sapi (10 ekor) yang di semen beku PTM 20-30%, 30-40% dan
IB dengan semen yang mempunyai > 40%pada pengamatan NRR (0-30
PTM 5-20% dengan posisi 4 pada hari), (30-60 hari) dan (60-90 hari)
pengamatan NRR (0-30 hari) tidak menunjukkan angka kebuntingan yang
terdapat sapi yang menunjukkan tanda- tinggi yaitu berkisar antara 90-100%.
tanda berahi lagi,tetapi pada Di antara 30 ekor sampel yang
pengamatan NRR (30-60 hari) muncul menunjukkan tanda-tanda berahi
1 (satu) ekor sapi yang berahi dan kembali hanya 1 ekor pada pengamatan
dilakukan IB ulang. Setelah dilanjutkan NRR (60-90 hari), sedangkan lainnya
pengamatan NRR (60-90 hari) muncul diperkirakan bunting. Sapi yang tidak
3 (tiga) ekor sapi yang berahi lagi, menunjukkan tanda berahi lagi (29
termasuk sapi tersebut. Hal ini ekor), pada kenyataannya didukung
kemungkinan disebabkan faktor nutrisi kondisi pemeliharaan yang rata-rata
dari pakan yang diberikan. Penyebab cukup baik, peternak yang terampil dan
kekurangan nutrisi ini didukung oleh deteksi berahi yang tepat.
hasil wawancara dengan peternak yang Sapi dengan perlakuan IB dengan
bersangkutan, dimana 4-5 bulan posisi 4+ secara umum menunjukkan
sebelum dilaksanakan IB sapi-sapi angka kebuntingan lebih rendah
tersebut sempat mengkonsumsi pakan dibandingkan dengan IB pada posisi 4,
yang kurang baik. yaitu 95%, 90% dan 87,5%. Sampel
Kecuali nutrisi, kemungkinan sapi yang di IB dengan semen beku
penyebab lain adalah kematian embrio yang memiliki PTM 5-20% pada posisi
dini atau waktu pelaksanaan IB yang 4+, pengamatan NRR (0-30 hari)
kurang tepat karena informasi yang didapatkan angka kebuntingan yang
kurang tepat dari laporan peternak. rendah yaitu 80%. Tetapi pada
Faktor-faktor penyebab sapi yang pengamatan NRR (30-60 hari) dan (60-
bunting dapat mengalami kematian 90 hari) diperoleh angka kebuntingan
embrio dini, abortus dan mumifikasi. yang lebih rendah yaitu 70%. Hal ini
Lebih lanjut dikatakan bahwa mungkin disebabkan karena kesalahan
kekurangan protein dalam ransum mendeposisikan semen pada arah
ternak betina dapat mengakibatkan ovarium yang tidak mengalami ovulasi
berahi yang lemah, kawin berulang, karena pada saat penyemprotan semen
kematian embrio dini dan aborsi sapinya bergerak, atau karena waktu
embrio. Pendapat ini didukung oleh pelaksanaan IB yang kurang tepat.
Jaenudin and Hafez (2000) yang Kemungkinan penyebab lain adalah
menyatakan bahwa angka konsepsi jumlah spermatozoa yang motil hanya
dapat dipengaruhi oleh kualitas pakan sedikit (20%), sehingga spermatozoa

J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 15-24, 2011 19


yang mampu bergerak mencapai tuba yang di IB menggunakan semen beku
fallopii hanya sedikit, sehingga tidak dengan PTM 20-30% pada pengamatan
terjadi pembuahan. Susilawati (2011) NRR (60-90 hari) muncul 1 ekor sapi
menyatakan bahwa meskipun berahi kembali. Kemungkinan
spermatozoa yang dideposisikan dalam penyebabnya adalah kesalahan
saluran kelamin betina jumlahnya pengamatan tanda berahi oleh peternak
berjuta-juta, akan tetapi yang dapat atau sapi tersebut sudah bunting tetapi
mencapai tuba fallopii tidak lebih dari karena adanya kelainan hormonal,
1000. Beberapa spermatozoa mencapai sehingga tetap menunjukkan tanda
tempat fertilisasi lebih kurang 15 menit berahi. Kawin berulang dapat terjadi
sesudah perkawinan. Inseminasi harus pada ternak betina yang masih dara
dilakukan beberapa saat sebelum atau induk yang sudah beberapa kali
ovulasi, yaitu harus sesuai dengan dikawinkan. Selanjutnya dikatakan
waktu yang dibutuhkan untuk bahwa 3-5% ternak yang bunting
menyelesaikan proses kapasitasi ( menunjukkan munculnya tanda berahi
Einarsson , 1992 .) lagi dikarenakan kelainan hormonal.
Sampel sapi yang di IB dengan Hal ini sesuai dengan pendapat
semen beku yang memiliki PTM 20- Jaenudin (2000) dan (Jaenudin and
30% pada posisi 4+, pengamatan NRR Hafez 2000)
(0-30 hari) dan NRR (30-60 hari) Secara keseluruhan sapi yang
didapatkan kebuntingan 100%. Pada mendapat perlakuan IB dengan posisi 4
NRR (60-90%) terdapat 1 ekor sapi pada pengamatan NRR (0-30 hari), (30-
yang kembali berahi atau 90% 60 hari) dan (60-90 hari) secara
diperkirakan bunting. Hal ini berurutan diperoleh kebuntingan 100%;
dimungkinkan karena pada saat NRR 97,5% dan 90%. Data ini menunjukkan
(0-30 hari) dan NRR (30-60 hari) bahwa pada pengamatan NRR (30-60
terdapat ternak sapi yang muncul berahi hari) terdapat 2,5% sapi yang berahi
tetapi tidak diketahui oleh peternak, lagi, kemudian dilaksanakan IB ulang.
sehingga pada saat itu dengan Pada pengamatan NRR (60-90 hari)
pengamatan NRR sapi dianggap terdapat 10% sapi yang menunjukkan
bunting. Atau sapi tersebut memang tanda berahi lagi dan dilaksanakan IB
berahi tetapi tenang (silent heat), ulang. Pelaksanaan IB ulang maksimal
sehingga tidak tampak tanda-tanda 3 kali, apabila terjadi berahi lagi, maka
berahi dan tanda-tanda berahi tersebut IB dianggap gagal.
muncul pada NRR (60-90 hari) Dari semua perlakuan yang
berikutnya. dilaksanakan, terdapat 2 perlakuan
Selanjutnya data pada Tabel 1 yaitu IB dengan semen beku PTM >
menunjukkan bahwa untuk 20 ekor sapi 40% pada posisi 4 dan 4+ yang
yang di IB menggunakan semen beku memenuhi rekomendasi SNI yang pada
PTM 30-40% dan > 40% dengan posisi penelitian ini digunakan sebagai
4, pada pengamatan NRR (0-30 hari), kontrol (pembanding). Berdasarkan
(30-60 hari) dan (60-90 hari) diperoleh hasil pengamatan kebuntingan metode
kebuntingan 100%. Sapi-sapi tersebut NRR pada Tabel 1 menunjukkan bahwa
selama pengamatan tidak menunjukkan persentase kebuntingan pada NRR (60-
tanda berahi ulang. Tetapi 10 ekor sapi 90 hari) adalah 100%. Sedangkan

20 Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ……..………….………..….. Susilawati, T.


perlakuan-perlakuan lain dengan semen alternatif akurasi atas kesalahan
beku yang memiliki PTM di bawah diagnosa prediksi kebuntingan dengan
standar SNI dapat menghasilkan metode NRR.
kebuntingan berdasarkan metode Dari 40 ekor sapi dengan
pengamatan NRR, berkisar 70-90%. pemberian semen pada posisi 4 saat
Perbedaan tersebut disebabkan oleh inseminasi buatan diperoleh tingkat
banyak sedikitnya jumlah spermatozoa kebuntingan 77,5% (31 ekor).
yang dapat bergerak mencapai tempat Sedangkan pada 40 ekor sapi dengan
fertilisasi, dan penyebab lain yang pemberian semen pada posisi 4+ saat
berhubungan dengan perlakuan inseminasi buatan diperoleh tingkat
mekanis handling semen beku di kebuntingan 87,5% (35 ekor). Secara
lapangan. deskriptif tingkat kebuntingan dengan
deposisi semen saat IB pada posisi 4+
Evaluasi Kebuntingan dengan adalah lebih tinggi jika dibandingkan
Palpasi Rektal dengan pada posisi 4. Hal ini sesuai
Palpasi rektal merupakan metode dengan penelitian Susilawati , Kuswati
pemeriksaan kebuntingan yang praktis, dan Taufik (2009) hasil IB pada posisi
mudah dilaksanakan dan dapat diyakini 4+ lebih baik dari pada posisi 4.
kebenarannya. Metode ini sebagai

Tabel 2. Persentase kebuntingan pada deposisi semen yang berbeda

Posisi Kebuntingan
Total
Tidak (%) Ya (%)
4 9 (22.5) 31 (77.5) 40
4+ 5 (12.5) 35 (87.5) 40
Total 14 (17.5) 66 (82.5) 80
Keterangan : Angka dalam kurung menunjukkan persentase terhadap baris.

IB dengan berbagai tingkatan kebuntingan yang dihasilkan. Data


kualitas spermatozoa post thawing keberhasilan kebuntingan yang berasal
menunjukkan bahwa semakin besar dari kualitas semen yang berbeda
persentase PTM semen yang diberikan, terdapat pada tabel 3.
akan semakin tinggi tingkat

Tabel 3.Persentase kebuntingan pada kualitas Spermatozoa Post Thawing yang


berbeda .

Kualitas PTM Jumlah Kebuntingan (%)


Total
(%) Tidak Ya
5 - 20 7 (35.0) 13 (65.0) 20
20 - 30 3 (15.0) 17 (85.0) 20
30 - 40 3 (15.0) 17 (85.0) 20

J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 15-24, 2011 21


 40 1 (5.0) 19 (95.0) 20
Jumlah 14 (17.5) 66 (82.5) 80
Keterangan : Angka dalam kurung menunjukkan persentase terhadap baris.

Tingkat kebuntingan semakin Sevice per Conception merupakan


meningkat seiring dengan PTM yang jumlah inseminasi yang dibutuhkan
meningkat. Tingkat kebuntingan sapi oleh betina sampai terjadinya
dengan pemberian semen beku dengan kebuntingan (Gebeyehu, Asmarew, and
PTM 5-20% adalah 65% (13 ekor sapi). Asseged, 2000). Toucbery, (2003).
Tingkat kebuntingan yang sama Susilawati (2005) Tinggi rendahnya
dijumpai pada pemberian semen beku efisiensi reproduksi pada kelompok
dengan PTM 20-30% atau 30-40% ternak akseptor IB, antara lain
masing-masing sebesar 85% (17 ekor ditentukan oleh jumlah angka
sapi). Sedangkan pada pemberian perkawinan per kebuntingan atau
semen beku dengan PTM 40% service per conception (S/C) dan
diperoleh tingkat kebuntingan yang persentase kebuntingan yang dihasilkan
sangat tinggi hingga mencapai 95% (19 oleh IB I atau conception rate (CR).
ekor sapi). Hasil pengamatan S/C dan CR untuk
semua perlakuan dapat dilihat pada
Indikator Keberhasilan IB Tabel 4.
Berdasarkan S/C dan CR

Tabel 4. Service per Conception (S/C) dan Conception Rate (CR) pada
Semua Perlakuan

PTM S/C CR (%)


No (%) Posisi 4 Posisi 4+ Posisi 4 Posisi 4+

1. 5-<20 2.66 3 60 50
2. 20-<30 1.75 1.77 50 50
3. 30-<40 1.37 1.44 70 80
4. > 40 1.37 1.20 80 80

Berdasarkan data Tabel 4, S/C S/C normal adalah 1,6-2,1 dan semakin
hasil IB perlakuan menggunakan semen rendah nilainya maka semakin tinggi
beku yang mempunyai PTM >40% pula nilai kesuburannya.
menghasilkan angka yang lebih baik. Pada pengamatan CR, hanya
Pada perlakuan semen beku yang perlakuan dengan semen beku kualitas
mempunyai kualitas PTM dibawah PTM 30-40% dan PTM >40% saja
standar SNI, hanya PTM 20-30% dan yang baik sesuai dengan pendapat
PTM 30-40% masih dapat dikatakan Hardjopranjoto (1995) yaitu efisiensi
baik dan dalam kisaran normal. reproduksi dikatakan baik apabila CR
Menurut pendapat Susilawati (2011) mencapai 65%-75%. Sapi dengan
dan Janudeen and Hafez (20001) bahwa perlakuan PTM 30-40% yang

22 Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ……..………….………..….. Susilawati, T.


diinseminasikan pada posisi 4+ __________. 2000. Petunjuk Teknis
memberikan angka CR yang lebih besar Pengawasan Mutu Bibit Ternak.
dibanding posisi 4. Hal ini berarti Direktorat Jendral Peternakan,
bahwa deposisi semen pada posisi 4+ Direktorat Perbibitan.
memberikan efisiensi reproduksi yang Aryogi, A. Rasyid dan Mariono. 2006.
lebih baik daripada posisi 4. Hal ini Performance Sapi Silangan
sesuai dengan penelitiannya Sudjono Peranakan Ongole Pada Kondisi
(2004) yang keberhasilan kebuntingan Pemeliharaan Di Kelompok
posisi 4+ lebih baik dari pada posisi 4 Peternakan Rakyat. Loka Penelitian
pada sapi potong. Sapi Potong Grati. Pasuruan.
Sapi bunting dapat mengalami http://peternakan.litbang.deptan.go.i
kawin berulang (repeat-breeder) yang d.
disebabkan oleh kematian embrio, Bearden JH, Fuquay JW and ST
abortus dan fetal mummification Willard.2004 . Applied Animal
(Jainudeen and Hafez, 2000). Faktor Reproduction 6th
penyebabnya adalah kekurangan zat edition.Pearson.Prentice Hall.Upper
makanan atau disebabkan terinveksi Saddle River,New Jersey 07458
virus. Einarsson S, 1992. Concluding
Remarks. In : Influence of Thawing
KESIMPULAN DAN SARAN Method on Motility, Plasma
Semen beku yang mempunyai Membrane Integrity and
kualitas PTM di bawah standar SNI (20 Morphology of Frozen - Thawed
– 40%) masih dapat menghasilkan Stallion Spermatozoa. (Borg K,
kebuntingan pada ternak akseptor IB Colenbrander B, Fazeli A,
yaitu berhasil bunting 85% - 95%. Parlevliet J and Malmgren L).
Deposisi semen saat IB pada posisi 4+ Theriogenology Vol. 48 Th. 1997 :
menghasilkan kemungkinan 531 – 536
kebuntingan lebih tinggi dibandingkan Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu
dengan IB pada posisi 4. Kemajiran Pada Ternak. Airlangga
Berdasarkan penelitian ini dapat University Press. Surabaya.
disarankan untuk Semen beku yang Hafez, ESE (2008) Preservation and
mempunyai kualitas PTM di atas 20% Cryopreservation of Gamet and
dapat digunakan untuk inseminasi Embryos in Reproduction Farm
buatan dan Inseminasi Buatan Animal ed by ESE Hafez 7th
sebaiknya dilakukan pada posisi 4+ edition Blackwell Publishing: 431-
karena menghasilkan kebuntingan yang 442
lebih tinggi. Correa, J.R., Rodriquez, Petterson and
Zavos. 1996. Thawing And
Ucapan Terimakasih : Dyah Eka Processing Spermatozoa At Various
Resti dan Sulaiman yang telah Temperatures And Their Effects On
membantu penelitian ini dalam Sperm Viability, Osmotic Shock
penatatan data dan pelaksanaan And Sperm Membrane Functional
Inseminasi Buatan Integrity. Theriogenology. Volume
46.
DAFTAR PUSTAKA

J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 15-24, 2011 23


Gebeyehu, Asmare and Asseged. 2000. Performans Reproduksi pada Sapi
Reproductive Performances of Peranakan Ongole. Universitas
Fogera Cattle and Their Fresien Brawijaya. Malang.
Cvrosses in Andassa Ranch, Susilawati T, Kuswati dan Taufik
Northwestern Ethiophia. Institute of (2009) Peningkatan Keberhasilan
Insemination, Royall College of Inseminasi Buatan menggunakan
Agriculture and Veterinary modified Insemination pada sapi
Medicine, Denmark. Peranakan Ongole. Animal
http://www.cipav.org.co/lrrd/lrrd17/ Production. Jurnal Produksi Ternak.
12/gosh17131.htm ISSN 1411-2027 Terakreditasi No
Jainudeen, M.R. and Hafez, E.S.E. 26/DIKTI/kep/2005. Volume 7,
2000. Cattle And Buffalo dalam Nomor 3, Februari 2009 : 161-167.
Reproduction In Farm Animals. 7th Susilawati T (2005) Tingkat
Edition. Edited by Hafez E. S. E. Keberhasilan Kebuntingan dan
Lippincott Williams & Wilkins. Ketepatan Jenis Kelamin Hasil
Maryland. USA. Inseminasi Buatan Menggunakan
. 2000. Pregnancy Diagnosis Semen Beku Sexing pada sapi
dalam Reproduction In Farm Peranakan Ongole. Animal
Animals. 7th Edition. Edited by Production. Jurnal Produksi Ternak.
Hafez E. S. E. Lippincott Williams ISSN 1411-2027 Terakreditasi No
& Wilkins. Maryland. USA. 26/DIKTI/kep/2005. Volume 7,
Prayogo, T. B. 2008. Peningkatan Nomor 3, September 2005 : 161-
Keberhasilan Kebuntingan Melalui 167.
Modifikasi Teknik Deposisi Semen Susilawati T (2011) Spermatologi. UB
Pada Sapi Peranakan Ongole (PO). Press. Brawijaya University
Skripsi. Fakultas Peternakan Toucbery, R.W. (2003). Associations
Universitas Brawijaya. Malang. between service Interval From First
Selk, G. 2007. Artificial Insemination Service To Conception, number of
For Beef Cattle. Division of Service Per Conception, And Level
Agricultural Sciences and Natural of Butervat Production.
Resources, Oklahoma State Departemen Of Dairy Science,
University. Unifersity of Illnois, Urbana.
http://osuextra.okstate.edu. http://jds.fass.org.
Sudjono. 2004. Pengaruh Deposisi
Semen Beku Hasil Sexing terhadap

24 Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ……..………….………..….. Susilawati, T.