Anda di halaman 1dari 50

SIR – 13 = METODE KERJA

PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN


PEKERJAAN JALAN
(SITE INSPECTOR OF ROADS)

2007

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Dalam rangka pelaksanaan proyek jalan, maka Modul Metode Kerja Pekerjaan
Konstruksi Bidang Jalan merupakan bagian yang sangat penting, agar seluruh
jajaran pelaksana mampu memahami dalam melaksanakan langkah-langkah
prosedur pelaksanaan konstruksi jalan sesuai dengan kaidah dan ketentuan
yang berlaku.
Penyamaan persepsi atas standar prosedur dalam pelaksanaan proyek
diperlukan agar proyek dapat terlaksana sesuai dengan batasan waktu, biaya
dan mutu. Oleh karena itu dalam Modul Metode Pekerjaan Konstruksi Bidang
Jalan, telah dijabarkan beberapa methode pelaksanaan jalan yang mengacu
beberapa referensi dan ketentuan yang tercantum dalam spesifikasi jalan dan
jembatan pada umumnya.
Modul ini menyajikan dasar-dasar methode pelaksanaan jalan baik untuk
proyek skala menengah maupun skala besar, sehingga sangat bermanfaat
untuk semua segmen yang memerlukan agar pelaksanaan jalan dapat
dilaksanakan lebih efektif dan efisien.
Telah dicoba membatasi materi modul ini agar sesuai dan optimal dengan
batasan waktu yang tersedia dalam pelatihan. Namun untuk memberikan
gambaran yang lebih lengkap dan jelas bagi peserta, akhirnya ditetapkan
cakupan materi modul sebagaimana terlampir.

Jakarta, Desember 2005


Penyusun

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) i


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan


Jalan (Site Inspector of Roads)

MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :


Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pengawasan dan
pelaporan pekerjaan konstruksi jalan untuk memastikan kesesuaian dengan
rencana, metode kerja dan dokumen kontrak.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :


Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:
1. Melaksanakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2. Melaksanakan Manajemen
3. Mengenal Bahan Jalan
4. Membuat Gambar Teknik
5. Mengenal Alat Berat
6. Melaksanakan Pengukuran dan pematokan
7. Melaksanakan Pekerjaan Tanah
8. Melaksanakan Pekerjaan Drainase
9. Melaksanakan Pekerjaan Perkerasan Jalan
10. Melaksanakan Pekerjaan Beton
11. Melaksanakan Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan
12. Melaksanakan Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas
13. Melaksanakan Metode Kerja
14. Menyusun Pelaporan

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) ii


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

MODUL NOMOR : SIR 13 : METODE KERJA

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Setelah mempelajari modul, peserta mampu menjelaskan metode kerja
pelaksanaan pekerjaan jalan sehingga dapat diperoelh hasil pelaksanaan
pekerjaan jalan sesuai dengan ketentuan spesifikasi dan gambar rencana yang
ditetapkan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Menjelaskan mengenai pengertian dasar spesifikasi dan gambar teknik;
2. Menjelaskan mengenai pekerjaan tanah;
3. Menjelaskan mengenai pekerjaan lapis pondasi;
4. Menjelaskan mengenai pekerjaan lapis permukaan dan penutup;

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) iii


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR i
LEMBAR TUJUAN ii
DAFTAR ISI iv
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN
INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN
(Site Inspector of Road) vi
DAFTAR MODUL vii
PANDUAN INSTRUKTUR viii

BAB I PENDAHULUAN I–1


1.1. UMUM I–1
1.2. SPESIFIKASI TEKNIS I–1
1.3. GAMBAR TEKNIS I–2
1.3.1. Gambar Rencana I–2
1.3.2. Gambar Tipikal I–3

BAB II METODE PENGHAMPARAN II – 1


2.1. LAPIS PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT II – 1
2.2. LABURAN ASPAL SATU LAPIS (BURTU) DAN
LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA) II – 5
2.3. CAMPURAN ASPAL PANAS II – 8

BAB III METODE PEMBENTUKAN TANAH DASAR, LAPIS III – 1


PONDASI DAN LAPIS PERMUKAAN
3.1. PENYIAPAN BADAN JALAN III – 1
3.1.1. Pengajuan Kesiapan Kerja III – 1
3.1.2. Kondisi Tempat Kerja III – 1
3.1.3. Bahan III – 2
3.1.4. Pelaksanaan Penyiapan Badan Jalan
3.1.5. Toleransi Dimensi III – 2
3.2. CARA KHUSUS PELAKSANAAN JALAN PADA III – 2
DAERAH RAWA
3.3. LAPIS PONDASI BAWAH (‘ SUB BASE COURSE ‘) III – 2
3.3.1. Fungsi III – 4
3.3.2. Macam Dan Uraian III – 5
3.4. LAPIS PONDASI ATAS (‘ BASE COURSE ‘) III – 7
3.4.1. LPA Menggunakan Lapen III – 8
3.4.2. LPA Batu Pecah (Agregat) III – 8
3.4.3. LPA Menggunakan Laston Atas III – 9
3.5. PEMBENTUKAN BAHU JALAN (‘SHOULDER’) III – 10
3.5.1. Fungsi Bahu Jalan III – 10
3.5.2. Jenis-Jenis Bahu Jalan III – 10
3.6. PEKERJAAN DRAINASE JALAN III – 13

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) iv


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

BAB IV PEMADATAN TANAH DASAR, LAPIS PONDASI DAN IV – 1


LAPIS PERMUKAAN IV – 1
4.1. PEMADATAN TANAH DASAR IV – 1
4.2. PEMADATAN LAPIS PONDASI IV – 2
4.3. PEMADATAN LAPIS PERMUKAAN IV – 2

RANGKUMAN

DAFTAR PUSTAKA

HAND OUT

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) v


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL


PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN
(Site Inspector of Road)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Inspektor


Lapangan Pekerjaan Jalan (Site Inspector of Road) dibakukan
dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang
didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan
Inspektor Lapangan Pekerjaan Jalan (Site Inspector of Road) unit-
unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.
2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-
masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang
menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku
dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu
susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi
tuntutan kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka
berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun
seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang
harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Inspektor Lapangan
Pekerjaan Jalan (Site Inspector of Road).

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) vi


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Site Inspector of Roads (SIR)

Nomor
Kode Judul Modul
Modul
1 SIR – 01 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2 SIR – 02 Manajemen

3 SIR – 03 Bahan Jalan

4 SIR – 04 Gambar Teknik

5 SIR – 05 Alat Berat

6 SIR – 06 Pengukuran dan Pematokan

7 SIR – 07 Pekerjaan Tanah

8 SIR – 08 Pekerjaan Drainase

9 SIR – 09 Pekerjaan Perkerasan Jalan

10 SIR – 10 Pekerjaan Beton

11 SIR – 11 Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan

12 SIR – 12 Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas

13 SIR – 13 Metode Kerja


14 SIR – 14 Teknik Pelaporan

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) vii


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN : Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan


Jalan
(Site Inspector of Roads )

KODE MODUL : SIR-13

JUDUL MODUL : METODE KERJA

DESKRIPSI : Modul ini membahas mengenai pengertian


dasar spesifikasi dan gambar teknik; pekerjaan
tanah; pekerjaan lapis pondasi; pekerjaan lapis
permukaan dan penutup untuk pelatihan
Inspektur Lapangan Pekerjaan Jalan.

TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya.

WAKTU PEMBELAJARAN : 2 (Dua) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) viii


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

B. RENCANA PEMBELAJARAN

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. Ceramah : Pembukaan
Mengikuti penjelasan TIU dan
Menjelaskan dan menguraikan
TIK dengan tekun dan aktif
tentang : OHT
Mengajukan pertanyaan
 Tujuan instruksional umum(TIU)
apabila kurang jelas.
dan Tujuan instruksional khusus
(TIK)
Waktu :5 menit

2. Ceramah : Bab I Pendahuluan


Menjelaskan dan menguraikan
Mengikuti penjelasan instruktur OHT
tentang:
dengan tekun dan aktif
 Umum
Mencatat hal-hal yang perlu
 Spesifikasi teknis Mengajukan pertanyaan bila
 Gambar teknis perlu
Waktu : 15 menit

3. Ceramah : Bab II Metode


Penghamparan
Mengikuti penjelasan instruktur OHT
Menjelaskan dan menguraikan
dengan tekun dan aktif
tentang:
Mencatat hal-hal yang perlu
 Lapis pengikat dan lapis perekat
Mengajukan pertanyaan bila
 Laburan aspal satu lapis (burtu) perlu
dan laburan aspal dua lapis
(burda)
 Campuran aspal panas
Waktu : 20 menit

4. Ceramah : Bab III Metode


pembentukan tanah dasar, lapis
pondasi dan lapis permukaan Mengikuti penjelasan instruktur OHT
dengan tekun dan aktif
Menjelaskan dan menguraikan
Mencatat hal-hal yang perlu
tentang:
Mengajukan pertanyaan bila
 Penyiapan badan jalan
perlu
 Cara khusus pelaksanaan jalan
pada daerah rawa
 Lapis pondasi bawah (‘ sub base
course ‘)
 Lapis pondasi atas (‘ base
course ‘)
 Pembentukan bahu jalan
(‘shoulder’)
 Pekerjaan drainase jalan
Waktu : 25 menit

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) ix


Modul SIR 13 : Metode Kerja Kata Pengantar

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

5. Ceramah : Bab IV Pemadatan


tanah dasar, lapis pondasi dan
lapis permukaan Mengikuti penjelasan instruktur OHT
dengan tekun dan aktif
Menjelaskan dan menguraikan
Mencatat hal-hal yang perlu
tentang:
Mengajukan pertanyaan bila
 Pemadatan tanah dasar
perlu
 Pemadatan lapis pondasi
 Pemadatan lapis permukaan
Waktu : 25 menit

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) x


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab I : Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. UMUM

Metode pelaksanaan pekerjaan jalan mencakup cara dan urutan pelaksanaan pekerjaan
untuk kontruksi jalan yang meliputi:
 Pekerjaan persiapan
 Pembersihan lokasi
 Pekerjaan tanah, galian, urugan, pemadatan, dll.
 Pembentukan badan jalan
 Pembentukan lapisan pondasi bawah dan atas
 Pembentukan lapisan permukaan.
 Pembentukan lapisan bahu jalan.
 Pekerjaan Drainase.
 Pembersihan kembali lokasi.
Penerapan metode kerja merupakan usaha dalam rangka tercapainya hasil akhir
pekerjaan yang memenuhi ketentuan spesifikasi teknis dengan penggunaan sarana dan
sumber daya termasuk alat, tenaga kerja dan bahan seefisien mungkin.
Sebagai acuan utama dalam penyusunan dan penerapan metode kerja pelaksanaan
pekerjaan jalan adalah:
1. Spesifikasi teknis
2. Gambar teknis

1.2. SPESIFIKASI TEKNIS

Spesifikasi teknis adalah suatu uraian atau ketentuan-ketentuan yang disusun secara
lengkap dan jelas mengenai suatu barang, metode atau hasil akhir pekerjaan yang dapat
dibeli, dibangun, atau dikembangkan oleh pihak lain sedemikian sehingga memuaskan
semua pihak yang terkait.
Spesifikasi teknis sebagai tatanan teknis yang dapat membantu semua pihak yang terkait
dengan pelaksanaan pekerjaan untuk medapatkan kesamaan pemahaman dan rujukan
teknis dalam pelaksanaan pekerjaan seperti:
1. Menghindari perbedaan pendapat atau pertentangan yang tidak perlu;
2. Menciptakan kerjasama dalam pelaksanaan proyek sehingga pelaksanaan pekerjaan
dilakukan secara tertib dan efisien;
3. Menghindari kerancuan teknis pelaksanaan pekerjaan.
Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) I-1
Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab I : Pendahuluan

Secara umum dikenal 3 jenis spesifikasi teknis yakni:


1. Spesifikasi Hasil Akhir (End Result Specification), yaitu spesifikasi yang hanya
memberikan persyaratan dimensi dan kualitas akhir tanpa memberikan persyaratan
metode kerja untuk mencapai hasil akhirnya.
2. Spesifikasi Proses Kerja (Specification by Process), yaitu spsesifikasi yang mengatur
selain dimensi dan kualitas akhir,juga mengatur semua ketentuan yang harus
dilaksanakan selama proses pelaksanaan pekerjaan dalam rangka memperoleh hasil
kerja yang diinginkan.
3. Spesifikasi Multi Langkah Dan Metode (Multi Step and Methode Specification), yaitu
spesifikasi yang mengatur semua langkah, material, metoda dan hasil kerja yang
diinginkan.
Penyusunan metode kerja untuk jenis pekerjaan tertentu seperti pekerjaan tanah, beton ,
pekerjaan pondasi agregat, dan pekerjaan minor, karena spesiifikasinya tidak mengatur
sepenuhnya proses kerjanya maka kontraktor lebih bebas dalam menyusun metode
kerjanya. Sebaliknya untuk pekerjaan pengaspalan terutama pekerjaan campuran aspal
panas yang persyaratan proses kerjanya diaur dalam spesifikasi, maka kontraktor sangat
tidak dapat bebas dalam menyusun metode kerjannya.

1.3. GAMBAR TEKNIS

Gambar teknis dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok gambar, yaitu:


1. Gambar rencana, dan
2. Gambar tipikal

1.3.1. GAMBAR RENCANA

Gambar rencana, ialah gambar yang ada dalam dokumen lelang yang disiapkan oleh
Pemilik. Setiap perubahan atau penambahan pada gambar yang bersangkutan untuk
kelengkapan, harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi Teknik.
Gambar rencana antara lain meliputi:
(1) Jalan
(a) Peta situasi/lokasi
(b) Alinyemen
- Mendatar (‘horizontal alignment’)
- Tegak (‘vertical alignment’)
(c) Potongan melintang (‘cross section’)
Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) I-2
Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab I : Pendahuluan

(d) Gambar rinci


- Drainase
- Selokan
(2) Jembatan
(a) Peta situasi / lokasi
(b) Potongan memanjang dan melintang
(c) Gambar rinci

1.3.2. GAMBAR TIPIKAL

Gambar tipikal adalah gambar baku / standar yang mewakili suatu konstruksi sejenis yang
dapat berupa gambar-gambar:
(1) Jalan
(a) Potongan melintang tipikal (‘typical cross section’)
- Badan Jalan
- Tikungan
- Persimpangan
- Ruang milik jalan (Rumija), Ruang manfaat jalan(Rumaja), Ruang
pengawasan jalan (Ruwasja)
(b) Diagram super elevasi (‘super elevation diagram’)
(2) Drainase
- Gambar Drainase (‘drainage’)
(3) Bangunan Pelengkap
Konstruksi Penahan Tanah (‘retaining wall’)
- Bronjong
- Tembok pasangan
- ‘Sheet pile’
(4) Kelengkapan Jalan
- Patok dan pagar pengaman (‘guide post and guard rail’)
- Rambu- rambu lalu-lintas
(5) Jembatan (‘Bridge’)

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) I-3


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

BAB II
METODE PENGHAMPARAN

2.1. LAPIS PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT

1. Penyiapan permukaan yang akan disemprot aspal


 Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan dilaksanakan
pada permukaan perkerasan jalan yang ada atau bahu jalan yang ada, semua
kerusakan perkerasan maupun bahu jalan harus diperbaiki menurut Seksi 8.1 dan
Seksi 8.2 dari Spesifikasi.
 Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan dilaksanakan
pada perkerasan jalan baru atau bahu jalan baru, perkerasan atau bahu itu harus
telah selesai dikerjakan sepenuhnya, menurut Seksi 4.1, 4.2, 5.1, 5.4, 6.3, 6.4,
atau 6.6 dari Spesifikasi yang sesuai dengan lokasi dan jenis permukaan yang
baru tersebut.
 Sebelum penyemprotan aspal dimulai, permukaan harus dibersihkan dengan
memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi keduanya. Bilamana
peralatan ini belum dapat memberikan permukaan yang benar-benar bersih,
penyapuan tambahan harus dikerjakan manual dengan sikat yang kaku.
 Pembersihan harus dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan
disemprot.
 Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus disingkirkan dari
permukaan dengan memakai penggaru baja atau dengan cara lainnya yang telah
disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan dan bagian yang telah
digaru tersebut harus dicuci dengan air dan disapu.
 Untuk pelaksanaan Lapis Resap Pengikat di atas Lapis Pondasi Agregat Kelas A,
permukaan akhir yang telah disapu harus rata, rapat, bermosaik agregat kasar
dan halus, permukaan yang hanya mengandung agregat halus tidak akan
diterima.
 Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah
disiapkan dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

2. Takaran dan Temperatur Pemakaian Bahan Aspal


 Kontraktor harus melakukan percobaan lapangan di bawah pengawasan Direksi
Pekerjaan untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat (liter per meter persegi)

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-1


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

dan percobaan tersebut akan diulangi, bila jenis dari permukaan yang akan
disemprot atau jenis dari bahan aspal berubah. Biasanya takaran pemakaian yang
didapatkan akan berada dalam batas-batas sebagai berikut :

Lapis Resap Pengikat  : sampai 1,3 liter per meter persegi untuk Lapis Pondasi
0,4
Agregat Kelas A
0,2 sampai 1,0 liter per meter persegi untuk Lapis Pondasi
Semen Tanah.

Lapis Perekat  :
Sesuai dengan jenis permukaan yang akan menerima
pelaburan dan jenis bahan aspal yang akan dipakai. Lihat
Tabel 6.1.4.(1) untuk jenis takaran pemakaian lapis aspal.

 Suhu penyemprotan harus sesuai dengan Table 2.2., kecuali diperintahkan lain
oleh Direksi Pekerjaan. Suhu penyemprotan untuk aspal cair yang kandungan
minyak tanahnya berbeda dari yang ditentukan dalam daftar ini, temperaturnya
dapat diperoleh dengan cara interpolasi.

Tabel 2.1. Takaran Pemakaian Lapis Perekat


Takaran (liter per meter persegi) pada
Jenis Aspal Permukaan Baru atau Permukan Porous dan
Aspal Lama Yang Licin Terekpos Cuaca
Aspal Cair 0,15 0,15 - 0,35
Aspal Emulsi 0,20 0,20 - 0,50
Aspal Emulsi yang
0,40 0,40 - 1,00 *
diencerkan (1:1)
Catatan :
* Takaran pemakaian yang berlebih akan mengalir pada bidang permukaan yang terjal,
lereng melintang yang besar atau permukaan yang tidak rata.

Tabel 2.2. Suhu Penyemprotan


Rentang Suhu
Jenis Aspal
Penyemprotan
Aspal cair, 25 pph minyak tanah 110 ± 10 ºC
Aspal cair, 50 pph minyak tanah (MC-70) 70 ± 10 ºC
Aspal cair, 75 pph minyak tanah (MC-30) 45 ± 10 ºC
Aspal cair, 100 pph minyak tanah 30 ± 10 ºC
Aspal cair, lebih dari 100 pph minyak tanah Tidak dipanaskan
Aspal emulsi atau aspal emulsi yang di-encerkan Tidak dipanaskan
Catatan :Tindakan yang sangat hati-hati harus dilaksanakan bila memanaskan setiap aspal cair.

 Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulang-ulang


pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap bahan yang menurut pendapat
Direksi Pekerjaan, telah rusak akibat pemanasan berlebihan harus ditolak dan
harus diganti atas biaya Kontraktor.
Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-2
Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

3. Pelaksanaan Penyemprotan
 Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan,
harus dihitung sebagai volume bahan aspal yang telah dipakai dibagi luas bidang
yang disemprot. Luas lintasan penyemprotan didefinisikan sebagai hasil kali
panjang lintasan penyemprotan dengan jumlah nosel yang digunakan dan jarak
antara nosel. Takaran pemakaian rata-rata yang dicapai harus sesuai dengan
yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, dalam toleransi berikut ini :

( 1 % dari volume tangki )


Toleransi = + ( 4 % dari takaran yg diperintahkan + -------------------------------- )
takaran ( Luas yang disemprot )
pemakaian

Takaran pemakaian yang dicapai harus telah dihitung sebelum lintasan


penyemprotan berikutnya dilaksanakan dan bila perlu diadakan penyesuaian
untuk penyemprotan berikutnya .
 Setelah pelaksanaan penyemprotan, khususnya untuk Lapis Perekat, bahan
aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot
harus diratakan dengan menggunakan alat pemadat roda karet, sikat ijuk atau alat
penyapu dari karet.
 Tempat-tempat yang disemprot dengan Lapis Resap Pengikat yang menun-jukkan
adanya bahan aspal berlebihan harus ditutup dengan bahan penyerap (blotter
material) sebelum penghamparan lapis berikutnya. Bahan penyerap hanya boleh
dihampar 4 jam setelah penyemprotan Lapis Resap Pengikat.

4. Pemeliharaan Dan Pembukaan Bagi Lalu Lintas

a. Pemeliharaan Lapis Resap Pengikat


 Kontraktor harus tetap memelihara permukaan yang telah diberi Lapis Resap
Pengikat atau Lapis Perekat sesuai standar yang ditetapkan, sampai lapisan
berikutnya dihampar.
 Untuk Lapis Resap Pengikat yang akan dilapisi Burtu atau Burda, waktu
penundaan harus sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan
minimum dua hari dan tak boleh lebih dari empat belas hari, tergantung dari
lalu lintas, cuaca, bahan aspal dan bahan lapis pondasi yang digunakan.
 Lalu lintas tidak diijinkan lewat sampai bahan aspal telah meresap dan
mengering serta tidak akan terkelupas akibat dilewati roda lalu lintas.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-3


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

 Dalam keadaan khusus, lalu lintas dapat diijinkan lewat sebelum waktu
tersebut, tetapi tidak boleh kurang dari empat jam setelah penghamparan
Lapis Resap Pengikat tersebut. Agregat penutup (blotter material) yang
bersih, yang sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini harus dihampar
sebelum lalu lintas diijinkan lewat.

b. Pemeliharaan dari Lapis Perekat


Lapis Perekat harus disemprotkan hanya sebentar sebelum penghamparan lapis
aspal berikut di atasnya untuk memperoleh kondisi kelengketan yang tepat.
Pelapisan lapisan beraspal berikut tersebut harus dihampar sebelum lapis aspal
hilang kelengketannya melalui pengeringan yang berlebihan, oksidasi, debu yang
tertiup atau lainnya. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, Kontraktor
harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak
dengan lalu lintas.

5. Pengendalian Mutu Dan Pengujian Di Lapangan


 Contoh aspal dan sertifikatnya, harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal
ke lapangan pekerjaan.
 Dua liter contoh bahan aspal yang akan dihampar harus diambil dari distributor
aspal, masing-masing pada saat awal penyemprotan dan pada saat menjelang
akhir penyemprotan.
 Distributor aspal harus diperiksa dan diuji, sebagai berikut :
o Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada Kontrak tersebut;
o Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan bahan aspal sebanyak 150.000 liter,
dipilih yang lebih dulu tercapai;
o Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi, perlu dilakukan
pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.
 Gradasi agregat penutup (blotter material) harus diajukan kepada Direksi
Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan sebelum agregat tersebut digunakan.
 Catatan harian yang terinci mengenai pelaksanaan penyemprotan permukaan,
termasuk pemakaian bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan dan takaran
pemakaian yang dicapai, harus dibuat dalam formulir standar.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-4


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

2.2. LABURAN ASPAL SATU LAPIS (BURTU) DAN LABURAN


ASPAL DUA LAPIS (BURDA)

1. Pekerjaan Persiapan Permukaaan Aspal Lama


 Sebelum permukaan aspal lama dilabur, harus dibersihkan dengan alat penyapu
mekanis atau kompresor atau kedua-duanya.
 Pembersihan permukaan harus dilebihkan paling sedikit 20 sentimeter dari tiap-
tiap tepi yang akan disemprot.
 Lubang-lubang atau tonjolan dari bahan-bahan yang tidak dikehendaki harus
disingkirkan dari permukaan dengan alat penggaru baja atau cara lain yang
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
 Pekerjaan pelaburan tidak boleh dilakukan sebelum pekerjaan pembersihan
diterima oleh Direksi Pekerjaan.
 Permukaan jalan lama tanpa penutup aspal, sebelum dilapisi BURTU atau
BURDA harus terlebih dahulu diberi Lapis Resap Pengikat.
 Semua lubang-lubang harus ditambal terlebih dahulu sebelum pekerjaan
pelaburan aspal dimulai.

2. Pemakaian Bahan Aspal


 Penyemprotan bahan aspal harus dilaksanakan merata pada semua titik.
 Suhu pada saat penyemprotan untuk BURTU dan BURDA tidak boleh bervariasi
melebihi 10 ºC dari harga-harga yang telah diberikan dalam Tabel 4.3..
 Bilamana diperintahkan Direksi Pekerjaan bahwa lintasan penyemprotan bahan
aspal selebar satu lajur atau kurang maka harus terdapat bagian yang tumpang
tindih (overlap) selebar 20 cm sepanjang sisi-sisi lajur yang bersebelahan.
Sambungan memanjang selebar 20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan tidak boleh
diberi agregat penutup sampai lintasan penyemprotan di lajur yang bersebelahan
telah selesai dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan agar tepi permukaan yang
dibiarkan tetap terbuka ini mendapat semprotan dari tiga nosel, sehingga
mendapat takaran aspal yang sama seperti permukaan yang lain. Lapis kedua
BURDA harus mempunyai sambungan yang bergeser paling sedikit 15 cm dari
sambungan lapis pertama.
 Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi dengan bahan yang cukup
kedap.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-5


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

 Distributor aspal harus mulai bergerak kira-kira 5 meter sebelum daerah yang
akan disemprot, sehingga kecepatan lajunya dapat dijaga konstan sesuai
ketentuan.
 Sisa aspal dalam tangki distributor setelah penyemprotan selesai harus dijaga
tidak boleh kurang dari 10 persen dari kapasitas tangki atau sebesar yang
ditentukan oleh Direksi Pekerjaan, untuk mencegah terperangkapnya udara
(masuk angin) pada sistem penyemprotan dan untuk mencegah kurangnya
takaran penyemprotan.
 Jumlah bahan aspal yang telah digunakan dalam setiap lintasan penyemprotan,
atau jumlah yang disemprot secara manual harus diukur dengan cara
memasukkan tongkat celup ke dalam tangki distributor aspal segera sebelum dan
sesudah setiap lintasan penyemprotan atau setiap pemakaian secara manual.
 Lokasi yang telah disemprot aspal oleh lintasan penyemprotan, termasuk lokasi
yang telah dilabur secara manual, didefinisikan sebagai hasil kali panjang lintasan
penyemprotan yang dibatasi oleh bahan pelindung pada lokasi awal dan akhir
penyemprotan dan lebar efektif dari penyemprotan. Lebar efektif penyemprotan
didefinisikan sebagai hasil kali dari jumlah nosel yang bekerja dan jarak antara
nosel yang bersebelahan.
 Luas lokasi yang akan dilabur aspal dengan manual harus diukur dan luasnya
dihitung segera setelah penyemprotan selesai.
 Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan
atau yang disemprot secara manual, harus didefinisikan sebagai volume bahan
aspal yang digunakan dibagi luas bidang yang disemprot, dan jumlahnya harus
sesuai dengan takaran yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dengan
toleransi sebagai berikut:
( 1 % dari volume tangki )
Toleransi = + ( 4 % dari takaran yg diperintahkan + -------------------------------- )
takaran ( Luas yang disemprot )
pemakaian

Takaran pemakaian yang dicapai harus dihitung sebelum lintasan penyem-protan


atau penyemprotan secara manual berikutnya dimulai dan bila perlu diadakan
penyesuaian untuk penyemprotan berikutnya.

 Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata terdapat kerusakan pada alat
semprot saat beroperasi.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-6


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

 Tempat-tempat bekas kertas resap untuk pengujian takaran bahan aspal harus
dilabur dengan bahan aspal yang sejenis secara manual (sikat ijuk, dll.) dengan
takaran yang hampir sama dengan takaran di sekitarnya

3. Menghampar Agregat Penutup


 Penghamparan agregat tersebut harus dilaksanakan segera setelah
penyemprotan aspal dimulai dan harus diselesaikan dalam jangka waktu paling
lama 5 menit terhitung sejak selesainya penyemprotan.
 Agregat harus dihampar merata di atas permukaan yang telah disemprot aspal,
dengan alat penghampar agregat yang telah disetujui Direksi Pekerjaan.

4. Penyapuan dan Penggilasan


 Segera setelah penghamparan agregat penutup hingga diterima oleh Direksi
Pekerjaan, maka hamparan agregat tersebut harus digilas dengan dua alat
pemadat roda karet. Penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh permukaan
telah mengalami penggilasan sebanyak enam kali.
 Permukaan jalan kemudian harus dibersihkan dari agregat yang berkelebihan,
sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini.

5. Pengendalian Mutu Dan Pengujian Lapangan


 Contoh aspal dan sertifikatnya, harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal
ke lapangan.
 Dua liter contoh aspal yang akan dihampar harus diambil dari distributor, masing-
masing pada saat awal penyemprotan dan pada saat menjelang akhir
penyemprotan.
 Jumlah data pendukung yang diperlukan untuk persetujuan awal atas mutu
sumber bahan agregat penutup harus meliputi semua pengujian seperti
disyaratkan dari Spesifikasi ini dengan minimum tiga contoh yang mewakili
sumber bahan yang diusulkan.
 Distributor aspal harus diperiksa dan diuji sesuai dengan ketentuan dari
Spesifikasi ini sebagai berikut :
o Sebelum dimulainya pekerjaan penyemprotan;
o Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan bahan aspal sebanyak 150.000 liter,
dipilih yang mana lebih dulu tercapai;
o Bilamana distributor mengalami kerusakan atau modifikasi, perlu diadakan
pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-7


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

 Semua jenis pengujian dan analisa saringan agregat harus dilakukan pada setiap
tumpukan persediaan bahan sebelum setiap bahan tersebut dipakai. Minimum
satu contoh harus diambil dan diuji untuk setiap 75 meter kubik agregat di dalam
tumpukan persediaan bahan.
 Catatan harian yang terinci dari setiap pekerjaan pelaburan permukaan, termasuk
pemakaian aspal pada setiap lintasan penyemprotan dan takaran pemakaian yang
dicapai, harus dibuat dalam formulir standar Lembar 1.11 seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar.

2.3. CAMPURAN ASPAL PANAS

Penghamparan campuran aspal panas mencakup kegiatan:


 Menyiapkan permukaan yang akan dilapisi
 Memasang balok kayu atau acuan lain yang disetujui harus dipasang sesuai dengan
garis dan serta ketinggian yang diperlukan oleh tepi-tepi lokasi yang akan dihampar.
 Penghamparan dan pembentukan.
 Pemadatan
Peralatan pokok pada kegiatan penghamparan campuran panas adalah:
 Peralatan Pengangkut
 Peralatan Penghampar dan Pembentuk
 Peralatan Pemadat
o Alat pemadat tiga roda
o Alat pemadat dua roda, tandem
o Alat pemadat tandem dengan tiga sumbu
Setiap truk yang telah dimuati harus ditimbang di rumah timbang dan setiap muatan harus
dicatat berat kotor, berat kosong dan berat neto. Muatan campuran aspal tidak boleh
dikirim terlalu sore agar penghamparan dan pemadatan hanya dilaksanakan pada saat
masih terang terkecuali tersedia penerangan yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

1. Pengendalian Mutu Dan Pemeriksaan Di Lapangan

a. Pengujian Permukaan Perkerasan


 Pemukaan perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 meter
atau mistar lurus beroda sepanjang 3 meter, keduanya disediakan oleh
Kontraktor, dilaksanakan tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan.
Kontraktor harus menugaskan beberapa surveyornya yang sudah terlatih
Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-8
Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

untuk menggunakan mistar lurus tersebut sesuai dengan petunjuk Direksi


Pekerjaan untuk memeriksa seluruh permukaan perkerasan. Toleransi harus
sesuai dengan ketentuan Spesifikasi.
 Pengujian untuk memeriksa toleransi kerataan yang disyaratkan harus dilaksa-
nakan segera setelah pemadatan awal, penyimpangan yang terjadi harus
diperbaiki dengan membuang atau menambah bahan sebagaimana
diperlukan. Selanjutnya pemadatan dilanjutkan seperti yang dibutuhkan.
Setelah penggi-lasan akhir, kerataan lapisan ini harus diperiksa kembali dan
setiap ketidak-rataan permukaan yang melampaui batas-batas yang
disyaratkan dan setiap lokasi yang cacat dalam tekstur, pemadatan atau
komposisi harus diperbaiki sebagaiamana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan.

b. Jumlah Pengambilan Benda Uji Campuran Aspal


 Pengambilan Benda Uji Campuran Aspal
Pengambilan benda uji umumnya dilakukan di instalasi pencampuran as- pal,
tetapi Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan pengambilan benda uji di lokasi
penghamparan bilamana terjadi segregasi yang berlebihan selama
pengangkutan dan penghamparan campuran aspal.
 Pengendalian Proses
Frekwensi minimum pengujian yang diperlukan dari Kontraktor untuk maksud
pengendalian proses harus seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 2.5. di
bawah ini atau sampai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-9


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

Tabel 2.5. Pengendalian Mutu Pengambilan Campuran

Frekwensi pengujian
Pengujian (satu pengambilan
contoh per)
Agregat :
- Abrasi dengan mesin Los Angeles 5.000 m3
- Gradasi agregat yang ditambahkan ke tumpukan 1.000 m3
3
- Gradasi agregat dari penampung panas (hot bin) 250 m (min. 2 pengujian
per hari)
- Nilai setara pasir (sand equivalent) 250 m3
Campuran :
- Suhu di AMP dan suhu saat sampai di lapangan jam
- Gradasi dan kadar aspal 200 ton (min. 2 pengujian
per hari)
- Kepadatan, stabilitas, kelelehan, Marshall Quo-tient, 200 ton (min. 2 pengujian
rongga dalam campuran pd. 75 tumbukan per hari)
- Rongga dalam campuran pd. Kepadatan Membal 3.000 ton
- Campuran Rancangan (Mix Design) Marshall Setiap perubahan
agregat/rancangan
Lapisan yang dihampar :
- Benda uji inti (core) berdiameter 4” untuk partikel 200 meter panjang
ukuran maksimum 1” dan 5” untuk partikel ukuran di
atas 1”, baik untuk pemeriksaan pema-datan maupun
tebal lapisan : paling sedikit 2 benda uji inti per lajur
dan 6 benda uji inti per 200 meter panjang.
Toleransi Pelaksanaan :
- Elevasi permukaan, untuk penampang melintang Paling sedikit 3 titik yang
dari setiap jalur lalu lintas. diukur melintang pada
paling sedikit setiap 12,5
meter memanjang
sepanjang jalan tersebut..

c. Pemeriksaan dan Pengujian Rutin


Pemeriksaan dan pengujian rutin akan dilaksanakan oleh Kontraktor di bawah
pengawasan Direksi Pekerjaan untuk menguji pekerjaan yang sudah diselesaikan
sesuai toleransi dimensi, mutu bahan, kepadatan pemadatan dan setiap ketentuan
lainnya yang disebutkan dalam Seksi ini.
Seluruh pengujian dari setiap ruas jalan, meliputi bahan atau ketenagakerjaan,
yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dibuang dan diganti
dengan bahan dan ketenga-kerjaan yang memenuhi Spesifikasi atau, bilamana
diperkenankan oleh Direksi Pekerjaan, diperbaiki sedemikian rupa sehingga
setelah diperbaiki, pekerjaan tersebut memenuhi semua ketentuan yang
disyaratkan, semua biaya pembuangan dan penggantian bahan maupun
perbaikan menjadi beban Kontraktor.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-10


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab II: Metode Penghamparan

e. Pengambilan Benda Uji Inti Lapisan Beraspal


Kontraktor harus menyediakan mesin bor pengambil benda uji inti (core) yang
mampu memotong benda uji inti berdiameter 4” maupun 6” pada lapisan beraspal
yang telah selesai dikerjakan. Biaya ektraksi benda uji inti untuk pengendalian
proses harus sudah termasuk ke dalam harga satuan Kontraktor untuk
pelaksanaan perkerasan lapis beraspal dan tidak dibayar secara terpisah.

f. Pengujian Pengendalian Mutu Campuran Aspal


 Kontraktor harus menyimpan catatan seluruh pengujian dan catatan tersebut
harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan tanpa keterlambatan.
 Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan hasil dan catatan
pengujian berikut ini, yang dilaksanakan setiap hari produksi, beserta lokasi
penghamparan yang sesuai :
o Analisa ayakan (cara basah), paling sedikit dua contoh agregat dari se-tiap
penampung panas.
o Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalsi pencampur
aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per jam).
o Kepadatan Marshall Harian dengan detil dari semua benda uji yang
diperiksa.
o Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dan persentase kepadatan
lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix Density)
untuk setiap benda uji inti (core).
o Stabilitas, kelelehan, Marshall Quotient, paling sedikit dua contoh.
o Kadar aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil ekstraksi kadar
aspal paling sedikit dua contoh. Bilamana cara ekstraksi sentri-fugal
digunakan maka koreksi abu harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan
SNI 03-3640-1994.
o Rongga dalam campuran pada kepadatan membal (refusal), yang dihi-tung
berdasarkan Berat Jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (AASHTO
T209-90).
o Kadar aspal yang terserap oleh agregat, yang dihitung berdasarkan
Berat jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (AASHTO T209-90).

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) II-11


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

BAB III
METODE PEMBENTUKAN TANAH DASAR, LAPIS
PONDASI DAN LAPIS PERMUKAAN

3.1. PENYIAPAN BADAN JALAN

Pekerjaan ini mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan permukaan tanah dasar
atau permukaan jalan kerikil lama atau lapis perkerasan lama yang rusak berat, untuk
penghamparan Lapis Pondasi Agregat, Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal, Lapis
Pondasi Semen Tanah atau Lapis Pondasi Beraspal di daerah jalur lalu-lintas (termasuk
jalur tempat pemberhentian dan persimpangan).
Untuk jalan kerikil, pekerjaan dapat juga mencakup perataan berat dengan motor grader
untuk perbaikan bentuk dengan atau tanpa penggaruan dan tanpa penambahan bahan
baru.
Pekerjaan ini meliputi galian minor atau penggaruan serta pekerjaan timbunan minor yang
diikuti dengan pembentukan, pemadatan, pengujian tanah atau bahan berbutir, dan
pemeliharaan permukaan yang disiapkan sampai bahan perkerasan ditempatkan diatasnya.

3.1.1. PENGAJUAN KESIAPAN KERJA

Kontraktor harus menyerahkan hasil pengujian sebelum penghamparan bahan lain di atas
tanah dasar atau permukaan jalan, berikut ini :
 Hasil pengujian kepadatan seperti yang disyaratkan dalam Spesifikasi
 Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data survey yang menunjukkan bahwa
toleransi permukaan yang disyaratkan dalam butir Nomor 2.3.5. dipenuhi.

3.1.2. KONDISI TEMPAT KERJA

Gorong-gorong, tembok kepala dan struktur minor lainnya di bawah elevasi tanah dasar atau
permukaan jalan, termasuk pemadatan sepenuhnya atas bahan yang dipakai untuk
penimbunan kembali, harus telah selesai sebelum dimulainya pekerjaan pada tanah dasar
atau permukaan jalan. Seluruh pekerjaan drainase harus berada dalam kondisi berfungsi
sehingga menjamin ke-efektifan drainase, dengan demikian dapat mencegah kerusakan
tanah dasar atau permukaan jalan oleh aliran air permukaan.
Bilamana permukaan tanah dasar disiapkan terlalu dini tanpa segera diikuti oleh
penghamparan lapis pondasi bawah, maka permukaan tanah dasar dapat menjadi rusak.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 1


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

Oleh karena itu, luas pekerjaan penyiapan tanah dasar yang tidak dapat dilindungi pada
setiap saat harus dibatasi sedemikian rupa sehingga daerah tersebut yang masih dapat
dipelihara dengan peralatan yang tersedia dan Kontraktor harus mengatur penyiapan tanah
dasar dan penempatan bahan perkerasan dimana satu dengan lainnya berjarak cukup
dekat.

3.1.3. BAHAN

Tanah dasar dapat dibentuk dari Timbunan Biasa, Timbunan Pilihan, Lapis Pondasi Agregat,
atau tanah asli di daerah galian yang memenuhi syarat.

3.1.4. PELAKSANAAN PENYIAPAN BADAN JALAN

Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan Spesifikasi

3.1.5. TOLERANSI DIMENSI

Ketinggian akhir setelah pemadatan tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah 1 cm dari yang
disyaratkan atau disetujui.
Seluruh permukaan akhir harus cukup halus dan rata serta memiliki kelandaian yang cukup,
untuk menjamin berlakunya aliran bebas dari air permukaan.

3.2. CARA KHUSUS PELAKSANAAN JALAN PADA DAERAH


RAWA

1. Metode pembuangan dan penggantian


 Cocok untuk material yang tidak stabil dangkal (  3 m ).
 Sebelum timbunan, lumpur dibuang sampai material dasar yang stabil.

2. Metode pemindahan
 Cocok untuk material yang tidak stabil dangkal (  3 m ).
 Mengganti lumpur dengan material yang baik.
 Cara : dengan berat timbunan, beban tambahan, berat timbunan ditambah dengan
bahan peledak, pemancaran air.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 2


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

 Untuk timbunan dangkal, material baik ditempatkan disepanjang lereng timbunan


sebelumnya sehingga material tersebut meluncur, mengalir dibawah lumpur yang
kurang rapat, dan menggantinya kearah samping.
 Selain itu, suatu parit selebar timbunan jalan diledakkan dan segera ditimbun
kembali dengan material yang baik.

3. Metode underfill
 Cocok untuk lumpur yang cukup dalam.
 Sebuah parit diledakkan dan material timbunan ditempatkan.
 Bahan peledak yang dipasang didasar lumpur memaksa lapisan lumpur tersebut
keluar dari bawah timbunan yang akan turun menggantikan tempatnya.

4. Metode relatif
 Merupakan perbaikan dari metode underfill.
 Sesudah bahan timbunan ditempatkan, parit pertolongan dibuat di sepanjang sisi
timbunan untuk memudahkan pemindahan lumpur dibagian dasarnya.

5. Metode bahan tambahan


 Material timbunan ditempatkan sampai mendekati permukaan akhir.
 Bahan tambahan kemudian ditempatkan, tambahan berat ini mempercepat
keluarnya air dari lumpur dan mempercepat konsolidasi.
 Metode ini dapat digunakan sampai kedalaman 5 m.

6. Metode vertical sand drains


 Metode ini dapat mempercepat konsolidasi lapisan lumpur yang dalam.
 Saluran pasir merupakan kolom vertikal yang menembus lumpur. Melintang
diatasnya dipasang lapisan pasir horisontal sampai lereng tepi timbunan.

7. Metode pemancangan Mandrel


 Tabung baja kosong dengan dasar bersendi dipancangkan.
 Setelah tabung yang terpancang diisi pasir, tabung tersebut kemudian dicabut
perlahan-lahan, dan pasir mengalir keluar melalui dasar tabung dan mengisi
lubang.
 Dengan cara ini, dapat mencapai kedalaman 30 m.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 3


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

8. Metode pemancaran Mandrel


 Pemancaran air pada tabung Mandrel dapat melubangi permukaan tanah.
 Pasir dimasukkan pada saat tabung Mandrel dicabut.

9. Metode bor
 Bor menembus tanah lumpur dengan diputar sampai mencapai kedalaman yang
diinginkan.
 Pada saat bor dicabut, pasir yang mengisi rongga diberikan melalui bagian tengah
batang bor.

10. Metode fabrics reinforcement


 Melapisi tanah rawa dengan fabrics reinforcement.
 Lapisan tersebut dapat menambah kekuatan-tarik pada bagian bawah timbunan.

3.3. LAPIS PONDASI BAWAH (‘SUB BASE COURSE‘)

Lapis Pondasi Bawah (LPB), adalah bagian kontruksi perkerasan yang terletak antara
tanah dasar dan pondasi atas.
Lebar dan tebalnya sesuai dengan gambar rencana atau seperti ditetapkan oleh Direksi
Teknik.

3.3.1. FUNGSI

Fungsi dari Lapis Pondasi Bawah:


1. Mendukung dan menyebarkan beban roda
2. Sebagai lapis perkerasan
3. Mencegah tanah dasar masuk ke lapis pondasi akibat tekanan roda dari atas
4. Mencapai ketepatgunaan dalam pemakaian meterial yang relatif murah, agar lapisan-
lapisan berikutnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya kontruksi)
5. Sebagai lapis pertama untuk pelaksanaan perkerasan karena umumnya tanah dasar
lemah
6. Seringkali berfungsi sebagai lapis drainase pada jalan kerikil

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 4


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

3.3.2. MACAM DAN URAIAN

Ada tiga macam LPB yang biasa digunakan di Indonesia, yaitu:

1. LPB DARI BATU BELAH DAN BALAST PASIR


a. Bahan
Bahan untuk LPB dari batu belah dengan balast pasir, terdiri dari :
 Batu belah ukuran 15/20 cm
 Batu pecah ukuran 5/7
 Kerikil
 Pasir
 Batu ukuran 30/40 untuk batu pinggir
 Tanah timbunan bahu jalan

C
L

Tanah asli Batu pinggir 30/40 Batu pecah 5/7

Batubelah 20/30
-
10 cm Balast
pasir

Tanah dasar

Gambar 3.1.: Penampang Melintang pondasi Batu Belah dengan Balast Pasir, Tipe
TELFORD

b. Pelaksanaan :
 Batu belah 15/20 diatur di atas lapisan pasir 10 cm. Pengaturan batu-batu
belah secara ‘manual’ dan diusahakan ukuran batu belahnya agak merata.
 Bagian batu pinggir ukuran 30/40 sebagai penahan
 Batu pecah 5/7 dipasang di antara batu-batu belah sebagai pasak atau
pengunci
 Dilakukan penggilasan dengan mesin gilas roda besi
 Kerikil / batu pecah dengan ukuran yang lebih kecil ditebarkan untuk mengisi
rongga antara batu belah
 Dilakukan penggilasan lagi sampai padat dan rapat

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 5


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

2. LPB AGREGAT
a. Bahan
Bahan yang digunakan untuk Pondasi Bawah, gradasi Agregat harus memenuhi
persyaratan Aggregat Kelas B sebagaimana tercantum dalam gambar Rencana
atau Petunjuk Direksi Teknik.
b. Pelaksanaan
Sebelum penghamparan agregat dimulai, terlebih dulu tanah dasar harus sudah
siap sebagaimana diisyaratkan dalam gambar rencana.
1) Pencampuran dan Penghamparan
 Dengan Metoda Peralatan Tidak Berjalan (‘stationary’)
Agregat dan air dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujui
Direksi Teknik. Selama pencampuran, jumlah air diatur sesuai dengan
yang diperlukan untuk pemadatan seperti yang telah dipersyaratkan.
Selesai pencampuran, bahan diangkat ke tempat pekerjaan dengan
menjaga kadar airnya dalam batas yang dipersyaratkan.
Penghamparan dengan alat yang disetujui oleh Direksi Teknik.
 Dengan Metoda Menggunakan Peralatan Berjalan (‘mobile’).
Setelah bahan untuk tiap lapis dihampar dengan mesin penebar agregat
atau alat lain yang disetujui Direksi Teknik, pencampuran dilakukan
dengan “mesin pencampur berjalan” sampai campuran merata. Selama
pencampuran, jumlah air harus diatur agar diperoleh kadar air yang sesuai
dengan yang dipersyaratkan untuk pemadatan.
 Dengan Metoda Pencampuran di Tempat (Mix in place)
Setelah bahan untuk tiap lapis dihampar sambil mengatur kadar airnya,
bahan dicampur dengan ‘motor grader’ atau alat lain yang disetujui Direksi
Teknik.

3. LPB ASPAL BETON (LASTON BAWAH)


Lapisan Pondasi Bawah dari Aspal Beton atau disebut Laston Bawah (Lapis Aspal
Beton Pondasi Bawah), adalah suatu pondasi perkerasan jalan yang terdiri dari
campuran agregat aspal dengan perbandingan tertentu, dicampur dalam keadaan
panas pada temperatur tertentu.
Uraian selanjutnya, yaitu tentang bahan, cara pelaksanaan, dan sebagainya, dapat
dilihat di buku yang dikeluarkan oleh Bina Marga / Prasarana Wilayah, yaitu Petunjuk
No. 04/PT/B/1983, Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (Laston
Bawah).

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 6


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

4. PEMERIKSAAN ELEVASI
Cara Pengontrolan Elevasi pada Pekerjaan LPB Pondasi Bawah (‘Sub Base’)

C
L

Bahu jalan Perkerasan Bahu jalan


Titik 5
L Titik 3’ Titik 1’

Titik Y
Tanah Dasar (subgrade)
Titik Y’ Pondasi Bawah

Gambar 3.2.: Penampang Melintang Jalan Pada Pengontrolan Elevasi LPB

Titik-titik pengontrolan : 1, 3, 5, 3’ ,1’, (5-titik), pada setiap jarak 20-25m dengan toleransi
± 2 cm.

Penentuan titik-titik pengontrolan serta jaraknya seperti disebut di atas, tergantung pada
keadaan medan. Pada tikungan, umumnya diperlukan pengecekan pada jarak yang
pendek.
Juga pada proyek Pemeliharaan, diperlukan titik-titik pengontrolan yang lebih banyak dari
proyek Pembangunan jalan .
Hal ini disebabkan pada proyek Pemeliharaan, biasanya terpaksa pelaksanaan pekerjaan
ada pada setengah lebar jalan, sehingga mungkin pada ‘sub base’ diperlukan titik kontrol
y dan y’.

3.4. LAPIS PONDASI ATAS (‘ BASE COURSE ‘)

Lapis Pondasi Atas (LPA), adalah bagian kontruksi perkerasan yang terletak antara LPB
dan lapis permukaan. Lebar dan tebalnya harus sesuai dengan gambar rencana atau
seperti ditetapkan oleh Direksi Teknik. Tebal total harus cukup untuk mengurangi
tegangan-tegangan pada LPB atau Tanah Dasar sampai batas yang diizinkan, dengan
perubahan bentuk yang terjadi seminimum mungkin karena geseran dan pemadatan.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 7


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

a. Fungsi
Fungsi dari Lapis Pondasi Atas
 Sebagai lapis pendukung bagi lapis permukaan dan juga ikut menahan gaya geser
dari beban roda
 Sebagai lapis peresapan untuk lapis pondasi bawah
b. Macam dan Uraian
Ada tiga macam LPA yang biasa digunakan, yaitu :

3.4.1. LPA MENGGUNAKAN LAPEN

Lapis Penetrasi Makadam (Lapen), merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari batu
(agregat) pokok dan batu (agregat) pengunci bergradasi terbuka dari seragam yang diikat
oleh aspal dengan cara disemprotkan di atasnya dan dipadatkan lapis demi lapis. Uraian
selanjutnya, yaitu tentang bahan, cara pelaksanaan dan sebagainya, dapat dilihat di buku
yang dikeluarkan oleh Bina Marga, yaitu buku no. 001/PT/B/1983, Petunjuk Pelaksanaan
Lapis Makadam (Lapen)

3.4.2. LPA BATU PECAH (AGREGAT)

1. Bahan
Bahan yang dipakai untuk Pondasi Atas Agregat, harus memenuhi persyaratan
Agregat Kelas A atau Kelas B sebagaimana tercantum dalam gambar rencana atau
Petunjuk Direksi Teknik.

2. Pelaksanaan
Sebelum penghamparan agregat dimulai, permukaan LPB harus sudah siap
sebagaimana disyaratkan dalam gambar rencana.

a. Pencampuran dan Penghamparan


 Dengan Cara Peralatan Tidak Berjalan (‘stationary’)
Agregat dan air dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujui Direksi
Teknik. Selama pencampuran, jumlah air harus diatur sesuai dengan yang
diperlukan untuk pemadatan seperti yang telah disyaratkan. Selesai
pencampuran, bahan diangkut ke tempat pekerjaan dengan menjaga kadar
airnya dalam batas yang dipersyaratkan. Penghamparan dikerjakan dengan
alat yang disetujui oleh Direksi Teknik.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 8


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

 Dengan Cara Peralatan Berjalan (‘Mobile’)


Setelah bahan untuk tiap lapis dihampar dengan mesin penebar agregat atau
alat lain yang disetujui Direksi Teknik, pencampuran berjalan sampai
campuran merata. Selama pencampuran, jumlah air harus diatur agar
diperoleh kadar air yang sesuai dengan yang dipersyaratkan untuk
pemadatan.
 Dengan Cara Pencampuran di Tempat
Setelah bahan untuk tiap lapis dihampar, sambil mengatur kadar airnya bahan
dicampur dengan ‘motor grader’ atau alat lain yang disetujui Direksi Teknik.

3.4.3. LPA MENGGUNAKAN LASTON ATAS

Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (Laston Atas), merupakan pondasi perkerasan yang
terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan
dipadatkan dalam keadaan panas.
Uraian selanjutnya, yaitu tentang bahan, cara pelaksanaan, dan sebagainya, dapat dilihat
di buku yang dikeluarkan oleh Bina Marga, yaitu buku no. 03/PT/B/1983, Petunjuk
Pelaksanaan Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (Laston Atas).

1. Pemeriksaan Elevasi

Bahu jalan Perkerasan Bahu jalan


Titik 5
Titik 3 C Titik 3’
L

y y
Pondasi Bawah
Tanah Dasar (subgrade)

Gambar 3.3. Penampang Melintang Jalan Pada Pengontrolan Elevasi LPA

Pondasi Atas (‘Base Course’):Titik-titik pengontrolan: 3, 5, 3’ (3-titik), pada setiap


jarak 10-12.5 m dengan toleransi ± 1 cm.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 9


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

Penentuan titik-titik pengontrolan serta jaraknya seperti disebut di atas, tergantung


pada keadaan medan. Pada tikungan, umumnya diperlukan pengecekan pada jarak
yang pendek.
Juga pada proyek Pemeliharaan, diperlukan titik-titik pengontrolan yang lebih banyak
dari proyek Pembangunan jalan .
Hal ini disebabkan pada proyek Pemeliharaan, biasanya terpaksa pelaksanaan
pekerjaan ada pada setengah lebar jalan, sehingga mungkin pada ‘ ‘base course’
diperlukan titik kontrol y dan y’..(Gambar 3.3)

3.5. PEMBENTUKAN BAHU JALAN (‘SHOULDER’)


3.5.1. FUNGSI BAHU JALAN

Bahu Jalan mempunyai empat fungsi,sebagai berikut:


a. Memperjelas pandangan kepada jalur lalu-lintas
b. Tempat memarkir kendaraan atau menghindarkan kendaraan dari bahaya-bahaya,
seperti melanggar atau adanya rintangan-rintangan
c. Memberikan topangan dari samping terhadap perkerasan
d. Mempercepat pengeringan air yang mengalir di perkerasan jalan menuju selokan
Di samping keempat fungsi di atas, dapat juga bahu jalan berfungsi sebagai jalur lambat
di sisi luar jalur lalu-lintas yang ada, yang akan dipergunakan oleh lalu-lintas lambat,
seperti dokar, sepeda, becak dan sebagainya.

3.5.2. JENIS-JENIS BAHU JALAN

1. Bahu Jalan Tanah Lapisan Pondasi Bawah


Bahu jalan ini bahannya terdiri dari tanah hasil penggalian selokan jalan atau tanah
bahan bahu jalan di sekitar pekerjaan yang mutunya sesuai dengan spesifikasi teknik
yang telah ditetapkan.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 10


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

2. Bahu Jalan Batuan

C
L

Lapisan Perkerasan Lapisan Pondasi Atas


(Lap.no. 2) Bahu jalan
(Lap. No. 3)

Lapisan Pondasi Bawah (Lap. No. 1) Lapisan Tanah Dasar

Gambar 3.4. Potongan Melintang Jalan dengan Bahu Jalan

a. Bagian bahu jalan yang lapisannya sejajar dengan lapisan Pondasi Bawah,
menggunakan bahan-bahan yang sama dengan bahan-bahan lapisan Pondasi
Bawah tersebut (lihat gambar, lapisan no. 1).
b. Bagian bahu jalan yang lapisannya sejajar dengan lapisan Pondasi Atas, sebagian
bahu jalan tersebut menggunakan bahan-bahan lapisan Pondasi Atas (lihat gambar,
lapisan no. 2).
c. Bagian bahu jalan yang masih ada ( lihat gambar, lapisan no. 3, menggunakan
bahan yang lebih murah dari bahan-bahan lapisan pondasi).

3. Bahu Jalan Berumput


Seperti halnya dengan bahu jalan tanah atau bahu jalan batuan, maka bahu jalan
berumput pada permukaannya dilapisi dengan lapisan tanah atas (‘topsoil’), setebal +
10 cm dan ditanami dengan rumput.

4. Bahu Jalan Beraspal (‘Surface Treated Shoulder’)


Pelapisan aspal pada bahu jalan batuan dapat dilakukan dengan cara aspal penetrasi
ataupun dengan cara pelaburan permukaan dengan aspal.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 11


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

5. Bahu Jalan Aspal (‘Paved Shoulder’)


Untuk jenis bahu jalan seperti ini, konstruksinya dikerjakan dengan jalan Penetrasi
Makadam, aspal dingin, butas atau aspal beton.

6. Bahu Jalan Khusus


Pada jalan-jalan raya utama yang dipergunakan untuk lalu-lintas cepat, sering
dilengkapi dengan bahu-bahu jalan perpaduan antara bahu jalan batuan dengan bahu
jalan dengan perkerasan aspal. Perpaduan/gabungan dari bahu-bahu jalan inilah
yang kita maksud dengan bahu jalan khusus. Sesuai dengan kemampuannya, maka
bahu jalan batuan berada di bagian luar.

7. Standar Geometrik
Yang dimaksud dengan standar geometrik, adalah ketentuan akan bahu jalan dan
ketentuan lereng melintang dari badan jalan, Kemiringan ini penting untuk
mengalirkan air dari permukaan jalan, agar tidak meresap ke konstruksi yang dapat
menurunkan kemampuan daya dukung jalan.

LAPIS PENUTUP

TANAH DASAR

LEBAR PERKERASAN
BAHU JALAN

Gambar 3.5. Lebar dan Lereng Melintang Bahu Jalan

Ketentuan lebar dan lereng melintang bahu jalan tergantung dari:


 Kelas Jalan,
 Jenis Jalan
 Jenis Bahu Jalan

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 12


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

3.6. PEKERJAAN DRAINASE JALAN

Drainase adalah pengaturan air. Air dapat merusak jalan, dengan :


 Terbawa serta hanyutnya konstruksi jalan itu
 Terendamnya jalan sehingga melemahkan konstruksi
Tetapi kalau air diatur, jalan akan bertahan. Jalan yang dikeringkan dengan baik, adalah
jalan yang baik.
Di dalam segala aspek dari drainase, harus diingat satu kenyataan, bahwa air mengalir ke
tempat yang lebih rendah.

Arah air keluar


Gorong-gorong

Arah air

Gambar 3.6. Gambar Pekerjaan Drainase Jalan

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 13


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

Air diselokan/parit mengalir ke bawah menuju tempat terendah. Air dari selokan-selokan
dari berbagai arah dikumpulkan di tempat terendah dan dialirkan memotong jalan melalui
gorong-gorong.

Drainase jalan terdiri dari

1. Drainase Permukaan

a. Fungsi
Drainase ini berfungsi untuk menampung, mengalirkan dan membuang air hujan,
agar:
 Tidak merusak perkerasan jalan
 Tidak menggangu kelancaran arus lalu-lintas (karena tergenangnya air pada
permukaan jalan Air hujan akan:
o Bergerak sebagai aliran permukaan
o Menguap
o Menembus ke dalam tanah/ke dalam perkerasan jalan

b. Bentuk dan fisik


 Kemiringan normal pada permukaan perkerasan, bahu jalan dan talud
 ‘Minimum Grade’ pada ‘S-curve’
 ‘Side Ditch’
 ‘Culvert’
 ‘Catch Drain’
Drainase permukaan jalan, adalah pengeluaran air dari jalan. Ini dikerjakan
dengan membuat kemiringan permukaan jalan yang harus dibuat sedemikian
rupa, sehingga:
 Cukup landai untuk memperoleh aliran air dari jalan dengan cepat
 Tidak terlalu curam sehingga dapat membahayakan kendaraan
Kemiringan permukaan beragam menurut jenis permukaan jalan itu sendiri. Untuk
jalan beraspal, kemiringan permukaan antara 2 – 3 % dan untuk jalan tak beraspal
antara 3– 7 %. Prosentase tersebut diartikan seperti tertera dalam Gambar 3.6

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 14


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

Kemiringan
a/b x 100 %

Gambar 3.7. Prosentase Kemiringan

Cara pengecekan kemiringan di lapangan, adalah sebagai berikut:


Dibuat segitiga dari papan kayu, dengan sisi-sisi tegaknya sesuai prosentase yang
di minta. Misalnya 7%, dibuat seperti gambar di bawah ini:

Alat waterpas

Gambar 3.8.
Alat pengukur Kemiringan
di lapangan
a

Bentuk penampang melintang jalan dapat berupa ‘crossfall’ atau ‘camber’ seperti
gambar di bawah ini

C 3%
4%
Camber

Gambar 3.9. Camber’

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 15


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

Crossfall’ digunakan pada tanah lereng atau tikungan yang jalannya mempunyai
saluran tepi satu sisi, sedangkan ‘camber’ digunakan pada tanah datar yang
jalannya memakai dua saluran tepi.

c. Jenis Drainase Permukaan

1). Saluran Tepi (‘Side Ditch’)


Saluran tepi penting artinya bagi jalan, karena saluran tepi sebagai
penampung dan sekaligus menbuang air keluar dari jalan. Saluran tepi
menampung air dari dua sisi:
 Air yang ada di permukaan jalan
 Air yang ada di permukaan bukit, yang mengalir menuju ke jalan.

a). Pencegahan Erosi pada Saluran


Erosi terjadi bila aliran air cukup curam dan deras, sehingga
menghanyutkan dasar dari saluran. Perlindungan terhadap erosi
diperlukan, karena mencegah saluran menjadi dalam yang bisa
mengakibatkan jalan runtuh/longsor.
Usaha pencegahan erosi ini dilakukan dengan memberikan lapisan atau
membuat perkerasan pada dasar dan dinding saluran, yang antara lain
bisa dengan:
 Pemasangan Batu Kosong
 Pasangan Batu Muka
 Pasangan Batu dengan Adukan Semen Pasir
 Pemasangan Tegel
 Pembetonan, dan Sebagainya

b). Saluran Penyimpangan (‘Ditches Turn Outs’)


Saluran penyimpang, adalah saluran tepi jalan yang dibelokkan
keluar/menjauhi jalan. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk membuang
air dari saluran tepi ke saluran pembuangan yang berdekatan dengan jalan
tersebut. Pada suatu perbukitan yang panjang, diperlukan supaya saluran
tidak terlalu penuh dan meluap. Yang perlu diperhatikan, adalah agar
tempat belokan itu berada pada tanah berumput atau pada batu untuk
menjaga terjadinya erosi.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 16


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

2). Drainase Memotong Jalan (‘Cross Drainage’)


“Cross drainage”, adalah konstruksi yang menyalurkan air dengan memotong
jalan dan drainase ini selalu diperlukan pada :
 Suatu titik/tempat yang jalan dan salurannya menuruni bukit menuju suatu
titik dari dua arah
 Tempat jalur jalan memotong suatu jalan air / sungai, kecil atau besar
 Tempat yang kadang-kadang mengalami perubahan kemiringan
 Tempat yang kadang-kadang merupakan bagian dari jalan menurun yang
panjang dan suatu saluran penyimpang tidak mungkin diadakan
Pilihan dari konstruksi mana yang dipakai, tergantung pada berapa besar air
yang diperlukan untuk mengalir melalui tempat itu dalam keadaan yang paling
buruk (banjir). Volume air tergantung dari daerah, dimana semua air hujan
mengalir turun ke tempat konstruksi itu dibangun. Daerah ini bisa disebut
daerah penangkapan air (‘catchment area’).

2. Drainase Bawah Permukaan

a. Fungsi
Drainase ini dibuat untuk melindungi ‘subgrade’ maupun lapis perkerasan dari
pengaruh air tanah yang merugikan.

 Kedudukan Permukaan Air


Jika kedudukan permukaan air tanah dekat dengan tepi atas ‘subgrade’ ( < 1
m ), hal ini dapat mengakibatkan daya dukung ‘subgrade’ berkurang, sehingga
perlu permukaan air tanah diturunkan dengan menggunakan ‘sub drain’.
Contoh cara menurunkan permukaan air tanah, adalah seperti gambar berikut
ini.
Perkerasan

Min. 1.20 m

Muka
Air tanah
Gambar 3.10. Penurunan Muka Air Tanah (M.A.T.)

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 17


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab III :Metode Pembentukan Tanah Dasar,
Lapis Pondasi dan lapis Permukaan

 Filter Material
o Harus mempunyai kemampuan tembus-air (‘permeability’) yang cukup
tinggi, agar dapat membuang air.
o Bahan: pasir, kerikil atau batu pecah dengan gradasi tertentu dan bersih
serta keras.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) III - 18


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab IV : Pemadatan Tanah Dasar, Lapis Pondasi
dan Lapis Permukaan

BAB IV
PEMADATAN TANAH DASAR, LAPIS PONDASI DAN
LAPIS PERMUKAAN

4.1. PEMADATAN TANAH DASAR

Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan
dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui sampai mencapai kepadatan yang
disyaratkan.
Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada
dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum.
Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum
yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm dari
bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta
mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu tersebut. Lapis
penutup ini harus dilaksanakan sampai mencapai kepadatan timbunan tanah yang
disyaratkan.
Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan, diuji
kepadatannya sebelum lapisan berikutnya dihampar.
Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan
sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama.
Bilamana bahan timbunan dihampar pada kedua sisi pipa atau drainase beton atau struktur,
maka pelaksanaan harus dilakukan sedemikian rupa agar timbunan pada kedua sisi selalu
mempunyai elevasi yang hampir sama.
Bilamana bahan timbunan dapat ditempatkan hanya pada satu sisi abutment, tembok sayap,
pilar, tembok penahan atau tembok kepala gorong-gorong, maka tempat-tempat yang
bersebelahan dengan struktur tidak boleh dipadatkan secara berlebihan karena dapat
menyebabkan bergesernya struktur atau tekanan yang berlebihan pada struktur.
Timbunan yang bersebelahan dengan ujung jembatan tidak boleh ditempatkan lebih tinggi
dari dasar dinding belakang abutment sampai struktur bangunan atas telah terpasang.
Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas,
harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 15 cm dan
dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat
minimum 10 kg. Pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian
khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa
terdukung sepenuhnya.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) IV - 1


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab IV : Pemadatan Tanah Dasar, Lapis Pondasi
dan Lapis Permukaan

Timbunan pilihan di atas tanah rawa mulai dipadatkan pada batas permukaan air dimana
timbunan terendam, dengan peralatan yang disetujui.

4.2. PEMADATAN LAPIS PONDASI

Setelah selesai penghamparan dan perataan, tiap lapis harus segera dipadatkan pada
seluruh lebar hamparan dengan menggunakan mesin gilas roda besi atau mesin gilas
roda karet, dapat juga menggunakan mesin gilas lain yang disetujui Direksi Teknik.
Pada bagian yang lurus, pemadatan dilakukan mulai dari bagian tepi hamparan,
kemudian bergeser ke bagian tengah sejajar dengan sumbu jalan dan diusahakan
berlangsung secara berkelanjutan tanpa berhenti sampai seluruh permukaan selesai
terpadatkan.
Pada tikungan (bagian yang miring), pemadatan dimulai dari bagian rendah dan bergeser
ke arah bagian yang tinggi.
Pada tepi-tepi ‘kurb’ dinding-dinding dan tempat-tempat lain yang tidak dapat dicapai
dengan mesin gilas, pemadatan harus dilakukan dengan alat pemadat lain yang tepat.
Kepadatan setiap laipisan, minimum harus mencapai 95% kepadatan berdasarkan
percobaan kepadatan di laboratorium.
Pemeriksaan kepadatan di lapangan dilakukan dengan ‘sand cone’, seperti halnya
dilakukan pada lapisan tanah dasar (subgrade).

4.3. PEMADATAN LAPIS PERMUKAAN


Segera setelah campuran aspal dihampar dan diratakan, permukaan tersebut harus
diperiksa dan setiap ketidak-sempurnaan yang terjadi harus diperbaiki. Temperatur
campuran aspal yang terhampar dalam keadaan gembur harus dipantau dan penggilasan
harus dimulai dalam rentang viskositas aspal yang ditunjukkan pada Spesifikasi.
Penggilasan campuran aspal harus terdiri dari 3 operasi yang terpisah berikut ini :

Perkiraan waktu mulai setelah


No. Operasi
penghamparan
1. Penggilasan awal atau breakdown 0 - 10 menit
2. Penggilasan kedua atau utama 5 - 15 menit
3. Penggilasan akhir / penyelesaian < 45 menit

Catatan : Perkiraan waktu di atas hanyalah pedoman kasar. Bagaimanapun juga aplikasi
penggilasan harus berdasarkan viskositas aspal yang ditentukan Spesifikasi

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) IV - 2


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab IV : Pemadatan Tanah Dasar, Lapis Pondasi
dan Lapis Permukaan

Penggilasan awal atau breakdown rolling harus dilaksanakan dengan tandem roller.
Penggilasan awal harus dioperasikan dengan roda penggerak berada di dekat alat
penghampar. Setiap titik perkerasan harus menerima minimum 2 lintasan penggilasan
awal.
Penggilasan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet atau
Pneumatic Tire Roller (PTR) sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Penggilasan
akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat Tandem Roller tanpa penggetar
(vibrasi).
Pertama-tama penggilasan harus dilakukan pada sambungan melintang yang telah
terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan pergerakan
campuran aspal akibat penggilasan. Bila sambungan melintang dibuat untuk
menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya, maka lintasan awal harus dilakukan
sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek.
Penggilasan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi
luar. Selanjutnya, penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan berurutan menuju ke
arah sumbu jalan, kecuali untuk superelevasi pada tikungan harus dimulai dari tempat
yang terendah dan bergerak kearah yang lebih tinggi. Lintasan yang berurutan harus
saling overlap minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak boleh
berakhir pada titik yang kurang dari 1 m dari lintasan sebelumnya.
Bilamana menggilas sambungan memanjang, alat pemadat untuk penggilasan awal harus
terlebih dahulu menggilas lajur yang telah dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari
15 cm dari lebar roda penggilas yang menggilas tepi sambungan yang belum dipadatkan.
Penggilasan dengan lintasan yang berurutan harus dilanjutkan dengan menggeser posisi
alat pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan, sampai tercapainya sambungan
yang dipadatkan dengan rapi.
Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan 10 km/jam
untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak mengakibatkan
bergesernya campuran panas tersebut. Garis, kecepatan dan arah penggilasan tidak
boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang menyebabkan terdorongnya
campuran aspal.
Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh
pemadatan yang merata saat campuran aspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan
sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidak-rataan dapat dihilangkan.
Roda alat pemadat harus dibasahi secara terus menerus untuk mencegah pelekatan
campuran aspal pada roda, tetapi air yang berlebihan tidak diperkenankan. Roda karet
boleh sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran aspal pada roda.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) IV - 3


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab IV : Pemadatan Tanah Dasar, Lapis Pondasi
dan Lapis Permukaan

Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan yang baru
selesai dikerjakan, sampai seluruh permukaan tersebut dingin.
Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng melintang dan
kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan. Setiap campuran aspal padat
yang menjadi lepas atau rusak, tercampur dengan kotoran, atau rusak dalam bentuk
apapun, harus dibongkar dan diganti dengan campuran panas yang baru serta
dipadatkan secepatnya agar sama dengan lokasi sekitarnya. Pada tempat-tempat tertentu
dari campuran aspal terhampar dengan luas 1000 cm 2 atau lebih yang menunjukkan
kelebihan atau kekurangan bahan aspal harus dibongkar dan diganti. Seluruh tonjolan
setempat, tonjolan sambungan, cekungan akibat ambles, dan segregasi permukaan yang
keropos harus diperbaiki.
Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan, Kontraktor harus memangkas
tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setiap bahan yang berlebihan harus dipotong tegak
lurus setelah penggilasan akhir, dan dibuang oleh Kontraktor di luar daerah milik jalan.

Ketentuan Kepadatan

 Kepadatan semua jenis campuran aspal yang telah dipadatkan, seperti yang
ditentukan dalam AASHTO T 166, tidak boleh kurang dari 97 % Kepadatan Standar
Kerja (Job Standard Density) untuk Lataston (HRS) dan 98 % untuk semua campuran
aspal lainnya.
 Cara pengambilan benda uji campuran aspal dan pemadatan benda uji di
laboratorium masing-masing harus sesuai dengan AASHTO T 168 dan SNI-06-2489-
1991 untuk ukuran butir maksimum 25 mm atau ASTM D5581 untuk ukuran
maksimum 50 mm.
 Kontraktor dianggap telah memenuhi kewajibannya dalam memadatkan campuran
aspal bilamana kepadatan lapisan yang telah dipadatkan sama atau lebih besar dari
nilai-nilai yang diberikan Tabel 4.1. Bilamana rasio kepadatan maksimum dan
minimum yang ditentukan dalam serangkaian benda uji inti pertama yang mewakili
setiap lokasi yang diukur untuk pembayaran, lebih besar dari 1,08 : 1 maka benda uji
inti tersebut harus dibuang dan serangkaian benda uji inti baru harus diambil.

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) IV - 4


Modul SIR 13 : Metode Kerja Bab IV : Pemadatan Tanah Dasar, Lapis Pondasi
dan Lapis Permukaan

Tabel 4.1. Ketentuan Kepadatan

Kepadatan yg. Jumlah benda uji Kepadatan Mini-mum Nilai minimum setiap
disyaratkan (% per pengujian Rata-rata (% JSD) pengujian tunggal (% JSD)
JSD)
98 3-4 98,1 95
5 98,3 94,9
6 98,5 94,8
97 3-4 97,1 94
5 97,3 93,9
6 97,5 93,8

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) IV - 5


Modul SIR 13 : Metode Kerja Rangkuman

RANGKUMAN
Penerapan metode kerja merupakan usaha dalam rangka tercapainya hasil akhir
pekerjaan yang memenuhi ketentuan spesifikasi teknis dengan penggunaan sarana dan
sumber daya termasuk alat, tenaga kerja dan bahan seefisien mungkin.
Sebagai acuan utama dalam penyusunan dan penerapan metode kerja pelaksanaan
pekerjaan jalan adalah:
1. Spesifikasi teknis
2. Gambar teknis
Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan
dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui sampai mencapai kepadatan yang
disyaratkan.
Setelah selesai penghamparan dan perataan, tiap lapis harus segera dipadatkan pada
seluruh lebar hamparan dengan menggunakan mesin gilas roda besi atau mesin gilas
roda karet, dapat juga menggunakan mesin gilas lain yang disetujui Direksi Teknik.
Pada bagian yang lurus, pemadatan dilakukan mulai dari bagian tepi hamparan,
kemudian bergeser ke bagian tengah sejajar dengan sumbu jalan dan diusahakan
berlangsung secara berkelanjutan tanpa berhenti sampai seluruh permukaan selesai
terpadatkan.
Segera setelah campuran aspal dihampar dan diratakan, permukaan tersebut harus
diperiksa dan setiap ketidak-sempurnaan yang terjadi harus diperbaiki. Temperatur
campuran aspal yang terhampar dalam keadaan gembur harus dipantau dan penggilasan
harus dimulai dalam rentang viskositas aspal yang ditunjukkan pada Spesifikasi.
Penggilasan campuran aspal harus terdiri dari 3 operasi yang terpisah berikut ini :
penggilasan awal atau breakdown, penggilasan kedua atau utama, penggilasan akhir /
penyelesaian

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) R-1


Modul SIR 13 : Metode Kerja Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Bina Marga, Spesifikasi Umum Jalan, April 2005.

2. Sain, Charles H., Earthworks, Section 13 of Standard Handbook for


Civil Engineers, Second Edition, Frederick s. Merrit, McGraw-Hill Inc.,New
York, 1976

3. Thagesen, Bent, Highway and Traffic Engineering in Developing


Countries, E & FN Spon, London, 1996

4. Oglesby, Clakson H., Highway Engineering, John Wiley and Sons, New
York, 1982

5. Parsons, A.W., Compaction of Soils and Granular Materials. A Review


of the Reseach Performed at the Transport Research Laboratory,
HMSO, London, 1992

6. Milard, R.S., Road Building in the Tropic, State of the Art Review No. 9,
HMSO, London, 1993

Pelatihan Site Inspector of Roads (SIR) DP-1