Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR MAMAE

A. Definisi
Tumor mamae adalah adalah karsinoma yang berasal dari parenkim, stroma,
areola dan papilla mamma. (Lab. UPF Bedah RSDS, 2010).
Tumor mammae adalah adanya ketidakseimbangan yang dapat terjadi pada
suatu sel / jaringan di dalam mammae dimana ia tumbuh secara liar dan tidak bisa
dikontrol (Dr.Iskandar, 2007).
B. Manifestasi Klinis
Pada masa-masa awal pertumbuhan tumor, gejala sulit dideteksi, sehingga
kasus ini biasanya baru diketahui setelah muncul benjolan yang sudah menjolok dan
bisa diraba. Tanda-tanda fisik yang biasa ditemui adalah:
1. Terbentuknya massa utuh atau jaringan yang tidak biasa, sifatnya kenyal, muncul
di payudara atau sekitarnya (misalnya, di bawah lengan)
2. Penderita merasakan nyeri di tempat massa tersebut
3. Lekukan pada permukaan payudara dan kulit yang berada di atas tumor menjadi
seperti kulit jeruk
4. lepasnya papilla mammae
5. puting susu mengeluarkan cairan yang tidak normal, bahkan bisa mengeluarkan
darah
C. Etiologi
Menurut Dr. Iskandar (2007) ada beberapa faktor resiko yang telah
terdefinisikan, yaitu :
1. Jenis Kelamin
wanita lebih beresiko terkena tumor payudara dibandingkan pria
2. Riwayat Keluarga
Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara
beresiko tiga kali lebih besar untuk menderita tumor payudara.
3. Faktor genetik
4. Faktor usia
5. Riwayat reproduksi
Melahirkan anak pertama diatas usia 5 tahun
6. Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidakdiseli
ngi oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko
terjadinya tumor payudara.
7. Terpapar radiasi
8. Intake alkohol
9. Pemakaian kontrasepsi oral
Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor
payudara.Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi
dibandingkan dengan penggunaan pada usia lebih tua.
10. Makanan yang berkarsinogen
D. Patofisiologi
Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri
proliferasi yang berlebihan dan tak berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan
sekitarnya. Proliferasi abnormal sel kanker akan menggangu fungsi jaringan normal
dengan menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sel ke organ-
organ yang jauh. Di dalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimiawi
terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang
mengalami transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas diantara
sel normal. Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase, yaitu:
1. Fase induksi 15 – 30 tahun
Kontak dengan bahan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai
dapat merubah jaringan displasia menjadi tumor ganas.
2. Fase insitu 5 – 10 tahun
Terjadi perubahan jaringan menjadi lesi “pre concerous” yang bisa ditemukan di
serviks uteri, rongga mulut, paru, saluran cerna, kulit dn akhirnya juga di payudara.
3. Fase invasi: 1 – 5 tahun
Sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi melalui membran sel ke
jaringan sekitarnya dan ke pembuluh darah sera limfa.
4. Fase desiminasi: 1 - 5 tahun
Terjadi penyebaran ke tempat lain.
E. Pathway

Genetik, gang hormonal, estrogen,


makanan berkarsinogen, dll

Reseptor meningkat

Pertumbuhan sel-sel epitel


payudara yg abnormal

Maligna

Tumor mamae
Sel tumor Hospitalisasi
menekan
pembedahan jaringan sekitar
Krisis situasi
Adanya luka terbuka
Terputusnya jaringan
konsistensi
Terpajan bakteri Stress psikologi
mamae
Stimulasi saraf nyeri
Mamae bengkak Perasaan
Kemerahan takut, kawatir
Sensasi nyeri ke SSP Masa tumor
Resiko infeksi mendesak ke jar. luar Ansietas
Hipotalamus
Perfusi jar. terganggu
Saraf motorik

Nyeri dipersepsikan Ulkus


Nyeri menjalar Nyeri Kerusakan
pada lengan integritas kulit
Ketidakmampuan
mobilisasi lengan
kiri dr tubuh

Intoleransi
aktivitas
F. Pemeriksaan diagnostik
1. Laboratorium :
a. Morfologi sel darah
b. Laju endap darah
c. Tes faal hati
d. Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma
e. Pemeriksaan sitologik : Pemeriksaan pada penilaian cairan yang keluar spontan
dari putting payudara, cairan kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi
2. Tes Diagnostik
a. Ultrasonografi
Untuk mndeteksi luka-luka pada daerah padat pada mammae ultrasonography
berguna untuk menentukan adanya kista, kadang-kadang tampak kista sebesar
sampai 2 cm.
b. Mammografi
memperlihatkan struktur internal payudara,dapat mendeteksi tumor yang terjadi
pada tahap awal
c. Aspirasi
Pengaliran kista dan untuk mendapat preparat dan sediaan pemeriksaan
sitologik.
d. Biopsi
Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atau ganas, dengan
cara pengambilan massa.
G. Penatalaksanaan medis dan keperawatan
1. Penatalaksanaan Bedah:
Mastektomi Parsial (mengeksisi tumor lokal). Diawali dengan lumpektomi untuk
mengangkat jaringan yang terjangkit tumor atau kankerm kemudian dilanjutkan
dengan kuadranektomi yaitu pengangkatan seperempat payudara.
Mastektomi Total: mengangkat seluruh payudara beserta kelenjar limfe di lateral
otot pektoralis minor.
Mastektomi Radikal: mengangkat payudara, otot pektoralis mayor dan minor, dan
seluruh isi aksilanya.
2. Penatalaksanaan Non-bedah
Penyinaran pada payudara dan kelenjar linfe regional atau pada jaringan lain yang
sudah terserang kanker.
Kemoterapi: merupakan terapi adjuvan sistemik khususnya setelah dilakukan
pembedahan. Contoh: kombinasi penggunaan cyclophospamide, methotrexate,
flouracil, dan adriamycin. Terapi Hormon: antiestrogen, androgen, prostaglandin,
tamoksifen, dsb.
3. Masalah Keperawatan Yang Muncul
Dalam proses keperawatan, kemungkinan akan ada masalah yang terjadi, seperti
berikut ini:
a. Nyeri, bisa nyeri karena aktivitas kanker itu sendiri, atau nyeri selama dan
setelah pengobatan dan pembedahan.
b. Kecemasan, rasa cemas dan gangguan psikis lainnya dapat muncul saat
diagnosis, sebelum, selama, dan sesudah pengobatan.
c. Resiko Infeksi, karena adanya luka terbuka akibat pembedahan yang
dilakukan
d. Intoleransi aktifitas, karena rasa nyeri yang ditimbulkan mengakibatkan
tidak bisa beraktivitas seperti biasanya.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama, umur, suku/bangsa, status perkawinan, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat, tanggal masuk rs, tanggal pengkajian
2. Riwayat keluhan utama meliputi
Adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah
dan mengeras, bengkak, nyeri.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak
dan nyeri.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae,
kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga
pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada
kemungkinan klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah
mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala: normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan
tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
2. Rambut: biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu berminyak.
3. Mata: biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata anemis, tidak
ikterik, tidak ada nyeri tekan.
4. Telinga: normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi
dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
5. Hidung: bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
6. Mulut: mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
7. Leher: biasanya terjadi pembesaran KGB.
8. Dada: adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi atau
tanda-tanda radang.
9. Hepar: biasanya tidak ada pembesaran hepar.
10. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
C. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Persepsi dan Manajemen : Biasanya klien tidak langsung memeriksakan
benjolan yang terasa pada payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu
hanya benjolan biasa.
2. Nutrisi – Metabolik : Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami
anoreksia, muntah dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat
mengkonsumsi makanan mengandung MSG.
3. Eliminasi ; Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, nyeri saat defekasi,
distensi abdomen dan konstipasi.
4. Aktivitas dan Latihan : Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas
dan lathan klien terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.
5. Kognitif dan Persepsi : Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah
sehingga kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
6. Istirahat dan Tidur : Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena
nyeri.
7. Persepsi dan Konsep Diri : Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan
atau kehilangan akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu,
dan kehilangan haknya sebagai wanita normal.
8. Peran dan Hubungan : Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami
gangguan dalam melakukan perannya dalam berinteraksi social.
9. Reproduksi dan Seksual : Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan
perubahan pada tingkat kepuasan.
10. Koping dan Toleransi Stres: Biasanya klien akan mengalami stress yang
berlebihan, denial dan keputus asaan.
11. Nilai dan Keyakinan : Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima
kondisinya dengan lapang dada.
D. Masalah keperawatan
1. Nyeri
2. Kerusakan integritas kulit
3. Intoleransi aktivitas
4. Ansietas
5. Resiko infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Junaedi, Iskandar dr., (2007) Kanker. Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer

Lab. UPF Bedah,2010. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. RSDS-FKUA. Surabaya

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta:
Dewan Pengurus Pusat PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta:
Dewan Pengurus Pusat PPNI

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat PPNI