Anda di halaman 1dari 55

TEKNIK PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA DENGAN INDIKASI

STROKE NON HEMORAGIC DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH

SAKIT PANTI WILASA “Dr. CIPTO” SEMARANG

Disusun dalam rangka memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan 3

Disusun oleh :

AFRIZA DIKI TYASANDI

NIM : P1337430216062

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sebagai laporan

kasus guna memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan 3 Jurusan Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang.

Nama : Afriza Diki Tyasandi

NIM : P1337430216062

Judul Laporan Kasus : Teknik Pemeriksaan CT Kepala Dengan Indikasi

Stroke Non Hemoragic di Instalasi Radiologi Rumah

Sakit Panti Wilasa “Dr.Cipto” Semarang

Semarang, April 2019

Clinical Instructure,

Emma Natalia Sari,S.ST

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT dengan segala rahmat dan karunianya

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Teknik

Pemeriksaan CT Kepala Dengan Indikasi Stroke Non Hemoragic di Instalasi

Radiologi Rumah Sakit Panti Wilasa “Dr.Cipto” Semarang”.

Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas Praktek Kerja Lapangan

(PKL) 3, Program Studi Diploma IV Teknik Radiologi, Jurusan Teknik

Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, yang

bertempat di Instalasi Radiologi RS Panti Wilasa “Dr.Cipto” Semarang.

Dalam penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan

serta bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih

kepada:

1. Bapak Warijan,S.Pd, Akep, Mkes., Selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kementrian Kesehatan Semarang.

2. Ibu Fatimah, S.ST, M.Kes, Selaku ketua Jurusan Teknik Radiodiagnostik

dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Semarang

3. Bapak Ardi Soesilo Wibowo, ST., M.Si, Selaku Ketua Prodi DIV Teknik

Radiologi Poltekkes Kemenkes Semarang.

4. Dokter Adji Suroso, Sp. Rad Selaku Kepala Isntalasi Radiologi RS Panti

Wilasa “Dr. Cipto” Semarang

3
5. Ibu Emma Natalia Sari S.ST Selaku Clinical Instructure Instalasi Radiologi

RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang

6. Dokter Anne Beatrice Handoko Selaku Dokter Radiologi di Instalasi

Radiologi RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang

7. Seluruh Staff dan Karyawan di Instalasi Radiologi RS Panti Wilasa “Dr.

Cipto” Semarang

8. Kedua orang tua dan segenap keluarga yang telah memberikan dukungan

moril maupun materil.

9. Teman-teman PKL di RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu dalam pembuatan Laporan Kasus ini.

Penulis menyadari dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak terdapat

kesalahan dan kekurangan, mengingat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan

penulis. Oleh karena itu, penulis mengharap saran dan kritik dan bersifat

membangun dari para pembaca guna memperbaiki Laporan Kasus berikutnya.

Penulis juga berharap semoga Laporan Kasus ini dapat bermanfaat baik bagi

penulis maupun pembaca.

Semarang, April 2019

Penulis

4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................. i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. vi

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ viii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1

A. Latar Belakang ...........................................................................................1

B. Rumusan Masalah ......................................................................................3

C. Tujuan Penulisan ........................................................................................3

BAB II DASAR TEORI ..........................................................................................5

A. Anatomi dan Fisiologi ...............................................................................5

B. Patologi ....................................................................................................15

C. Dasar-dasar CT Scan ................................................................................18

D. CT Kepala ................................................................................................27

BAB III PROFIL KASUS DAN

PEMBAHASAN ......................................................................................................3

6 ..................................................................................................................................

A. Identitas Pasien ........................................................................................36

B. Prosedur Pemeriksaan ..............................................................................36

5
C. Hasil CT Scan kepala ...............................................................................42

D. Pembahasan ............................................................................................45

E. Hasil Pembacaan Dokter ..........................................................................45

BAB IV PENUTUP ...............................................................................................47

A. Kesimpulan ...........................................................................................47

B. Saran ......................................................................................................47

Daftar Pustaka ........................................................................................................48

Lampiran ..................................................................................................................4

6
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke adalah istilah yang dipakai sebagai sinonim dari CVA

(Cerebrovascular Accident). Lesi vaskular pada jaringan otak sebagian besar

disebabkan oleh proses oklusi lumen arteri serebral dan sebagian lagi disebabkan

oleh pecahnya pembuluh darah. Penyumbatan pembuluh darah di otak terutama

disebabkan oleh arterosklerosis dan arteriosklerosis (Mardjono & Shidarta, 1978).

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di negara maju, setelah penyakit

jantung dan kanker. Insidensi tahunannya adalah dua per 1.000 populasi (Ginsberg,

2008). Setiap tahunnya 500.000 orang Amerika terserang stroke, 400.000 orang

terkena stroke iskemik dan 100.000 orang menderita stroke hemoragik (termasuk

perdarahan intraserebral dan subarakhnoid), 175.000 mengalami kematian (Adams

et al., 2004).

Menurut World Health Organization (WHO) (2004), perkiraan kematian

akibat penyakit serebrovaskular di Asia Tenggara adalah 1.073.569 jiwa. Stroke

diperkirakan menyebabkan 5,7 juta kematian pada tahun 2005, dan 87% dari

kematian ini terdapat di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah

(Strong et al., 2007; Sherin et al., 2011).

1
Salah satu modalitas untuk pemeriksaan stroke adalah CT-Scan kepala. CT-

Scan kepala terdiri dari dua jenis, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan media

kontras atau tanpa menggunakan media kontras (polos). Kedua jenis pemeriksaan

CT-Scan kepala ini sama-sama dapat membantu menegakkan diagnosa atas

berbagai kelainan atau patologi yang timbul. CT-Scan kepala polos biasanya

dilakukan pada kasus yang berhubungan dengan kelainan pada daerah otak ataupun

trauma pada kepala. Pemeriksaan CT-Scan kepala adalah sarana diagnosis

terpenting untuk mengetahui kelainan intra serebral pada penderita dengan gejala

klinis Stroke. CT-Scan mempunyai peranan untuk membedakan lesi otak

Infark/iskemik dengan Hemoragic (Perdarahan) sebagai penyebab Stroke. Pada

pemeriksaan CT-Scan dengan indikasi Non Hemoragic, teknik yang digunakan

range start of vertex dan end of range pada Basis crania.

Hasil CT-Scan kepala dapat menentukan lokasi penutupan aliran darah ke

sebagian otak tertentu, maka terjadi serangkaian proses patologik pada daerah

iskemik. Pada stroke iskemik terjadi iskemia akibat sumbatan atau penurunan aliran

darah otak. CT-Scan dilakukan proses ROI (Region of Interest) atau pengambilan

sampel pada daerah yang terdapat kelainan untuk menentukan nilai dari Hounsfield

Unit (HU).

Houndsfield Unit (HU) adalah tingkat kepadatan dari berbagai jenis jaringan

yang memiliki 4096 warna abu-abu, dan memiliki kepadatan yang berbeda-beda

yang terdapat pada CT-Scan. HU pada tiap-tiap jaringan mempunyai nilai yang

berbeda-beda. Udara memiliki nilai -1000 HU, lemak -50 s/d -100 HU, otot +50

HU, CSF +15 HU air 0, darah +45 s/d +65 HU, tulang +700 s/d +3000 HU (Buzug

2
Tm 2008). Untuk membedakan lesi Infark dengan hemorage pada otak dapat

diketahui dengan melihat nilai HU pada CT-scan.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih

lanjut mengenai pemeriksaan CT Scan kepala non kontras di RS Panti Wilasa dr.

Cipto Semarang dengan membuat laporan kasus yang berjudul “TEKNIK

PEMERIKSAAN CT-SCAN KEPALA DENGAN INDIKASI STROKE NON

HEMORAGIC DI INSTALASI RADIOLOGI RS PANTI WILASA “Dr. CIPTO”

SEMARANG”.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana teknik pemeiksaan CT-Scan Kepala dengan indikasi stroke non

hemoragic di Instalasi Radiologi RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Mengetahui teknik pemeiksaan CT-Scan Kepala dengan indikasi stroke non

hemoragic di Instalasi Radiologi RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi penulis dapat mengetahui lebih lanjut tentang prosedur teknik

pemeriksaan CT-Scan Kepala dengan indikasi stroke non hemoragic di

Instalasi Radiologi RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang.

1.4.2 Bagi Akademi sebagai bahan masukan bagi penulis laporan kasus dengan

topic yang sama.

3
1.4.3 Bagi Rumah Sakit Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang sebagai lahan

praktek mahasiswa, baik dari jurusan kedokteraan, keperawatan, maupun

jurusan radiologi yang mana sebagai salah satu syarat adalah selama

praktek mahasiswa tersebut membuat laporan kasus yang dapat digunakan

sebagai bukti Instalasi Radiologi telah melakukan bimbingan kepada

mahasiswa.

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam memahami isi laporan kasus ini, maka penulis

menyajikan dalam beberapa pokok bahasan yang terdiri:

BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat

penulisan, dan sistematik apenulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang anatomi dan fisiologi kepala, patologi stroke, CT-Scan,

prosedur pemeriksaan CT-Scan kepala.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang hasil dan pembahasan.

BAB IV PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi

2.1.1 Anatomi Fisiologi Kepala

Gambar 2.1 Bagian-bagian tulang kepala

Tengkorak dibentuk oleh beberapa tulang yang bentuknya melengkung, satu

sama lain, dan berhubungan erat sekali. Tengkorak terdiri atas dua bagian yaitu:

tengkorak otak dan tengkorak wajah.

a. Gubah tengkorak, yang terdiri atas tulang-tulang:

5
1) Os Frontal (bagian depan)

2) Os Parietal (bagian tengah)

3) Os Occipital (bagian belakang)

b. Dasar tengkorak, yang terdiri atas tulang-tulang:

1) Os Sphenoidalis, tulang yang terdapat di tengah-tengah dasar

tengkorak dan berbentuk seperti kupu-kupu, dengan tiga pasang

sayap.

2) Os Ethmoidalis, terletak di sebelah depan dari Os Sphenoidalis di

antara lekuk mata.

Selain kedua tulang di atas, dasar tengkorak dibentuk pula oleh

tulang-tulang lain seperti tulang kepala belakang, tulang dahi, dan tulang

pelipis.

c. Samping tengkorak, yang dibentuk oleh tulang-tulang:

1) Tulang pelipis

2) Sebagian tulang dahi

3) Tulang ubun-ubun

4) Tulang baji

d. Tengkorak wajah

Tengkorak wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari

tengkorak otak. Di dalam tengkorak wajah terdapat rongga-rongga yang

membentuk rongga mulut (cavuum oris), rongga hidung (cavum nasi), dan

rongga mata (cavum orbita).

Tengkorak wajah terdiri dari dua bagian:

6
1) Bagian hidung

a) Os Lacrimal (tulang mata), letaknya di sebelah kanan atau kiri

pangkal hidung, di sudut mata.

b) Os Nasal (tulang karang hidung), letaknya di dalam rongga hidung

dan bentuknya berlipat-lipat.

c) Septum Nasi (sekat rongga hidung) adalah sambungan dari tulang

tapis yang tegak.

2) Bagian rahang

a) Os Maksilaris (tulang rahang atas)

b) Os Zygomaticum, tulang pipi yang terdiri dari dua tulang kiri dan

kanan.

c) Os Palatum (tulang langit-langit), terdiri dari dua buah tulang kiri

dan kanan.

d) Os Mandibularis (tulang rahang bawah), terdiri dari dua bagian yaitu

bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatu dipertengahan dagu. Di

bagian depan dari mandibula terdapat prosesus coracoid, tempat

melekatnya otot.

Tulang-tulang tengkorak kepala dihubungkan satu sama lain oleh

tulang bergerigi yang disebut sutura.

Sutura-sutura itu adalah:

1) Sutura Coronalis, yaitu yang menghubungkan antara os frontal dan

os parietal.

7
2) Sutura Sagitalis, yaitu yang menghubungkan os parietal kiri dan

kanan.

3) Sutura Lambdoidea, yaitu yang menghubungkan antara os parietal

dan os occipital.

2.1.2 Anatomi Fisiologi Brain (Otak)

Anatomi dan Fisiologi Otak

Otak adalah salah satu organ tubuh yang terdapat di kepala yang

merupakan sistem saraf pusat. Otak bertanggung jawab dalam mengurus

organ dan jaringan yang terdapat di kepala dan leher (Pearce, 2004).

2.1.2.1 Bagian-Bagian Otak

Menurut Sanders (1999) otak terdiri atas banyak bagian yang

berfungsi sebagai satu kesatuan secara keseluruhan. Bagian utama

otak terdiri dari:

1. Serebrum

Serebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia, yang

terdiri dari 2 hemisfer yang dipisah oleh fisura longitudinalis. Pada

daerah basal cekungan dalam ini terdapat corpus collosum yang

menghubungkan hemisfer kanan dan kiri. Dalam setiap hemisfer

terdapat ventrikel lateral (Sanders, 1999).mmmm

Permukaan serebrum merupakan substansia grisea, yang

disebut korteks serebri. Pada otak manusia, korteks serebri tersusun

8
berlipat-lipat. Lipatan ini disebut konvolusi atau girus, dan

cekungan keduanya disebut sulkus (Sanders, 1999).

Menurut Sanders (1999) korteks serebri dibagi menjadi 4

lobus yaitu:

a. Lobus Frontalis

Di dalam lobus frontalis, terdapat area motorik yang

membangkitkan impuls untuk pergerakan volunter. Area motorik

kiri mengatur pergerakan sisi kanan tubuh, dan area motorik kanan

mengatur pergerakan sisi kiri tubuh. Inilah sebabnya penderita

stroke pada lobus frontalis kanan akan mengalami paralisis pada

otot di sisi kiri tubuh (Sanders, 1999).

b. Lobus Parietalis

Area sensorik umum di lobus parietalis menerima impuls

yang berasal dari reseptor di kulit dan merasakan serta

menginterpretasi sensasi kutaneus tersebut. Area kiri lobus

parietalis adalah untuk sisi kanan tubuh dan demikian sebaliknya.

Area ini juga menerima impuls dari reseptor regangan di otot untuk

sensasi otot yang sadar. Impuls dari kuncup pengecap melintas

menuju area pengecap, yang tumpang tindih antara lobus parietalis

dan temporalis (Sanders, 1999).

c. Lobus Temporalis

Area pendengaran di lobus temporalis menerima impuls

dari reseptor yang ada di bagian dalam telinga untuk pendengaran.

9
Area olfaktorius menerima impuls dari reseptor yang berada di

rongga hidung (Sanders, 1999).

d. Lobus Oksipitalis

Area visual pada lobus oksipitalis menerima impuls dari

retina mata yang berjalan melewati nervus optikus. Bagian lain dari

lobus oksipitalis berkaitan dengan hubungan spasial misalnya,

mengukur jarak dan melihat dalam 3 dimensi (Sanders, 1999).

Gambar 2.2 Bagian-bagian serebrum (Alleta, 2009).

2. Serebelum

Serebelum dipisahkan dari medula dan pons oleh ventrikel

ke 4 dan berada di bawah lobus oksipitalis. Semua fungsi

serebelum berkaitan dengan pergerakan, yang meliputi koordinasi,

pengaturan tonus otot, menetapkan lintasan dan tujuan gerakan,

dan mempertahankan postur dan ekuilibrium. Dalam upaya

mengatur ekuilibrium serebelum dan batang otak menggunakan

10
informasi yang diberikan oleh reseptor di dalam telingga bagian

dalam (Sanders, 1999).

3. Ventrikel

Ventrikel adalah 4 rongga di dalam otak terdiri dari 2

ventrikel lateral, ventrikel III, dan ventrikel ke IV. Masing-masing

ventrikel mengandung jaringan kapiler yang disebut pleksus

koroideus, yang membentuk cerebro spinal fluid (CSF) dan plasma

darah. CSF adalah cairan jaringan pada sistem saraf pusat (Sanders,

1999).

4. Medula

Medula memanjang dari medula spinalis sampai pons dan

terletak di anterior serebelum. Medula berisi pusat jantung yang

mengatur frekuensi jantung, pusat vasomotor yang mengatur

diameter pembuluh darah dan juga tekanan darah, serta pusat

pernafasan yang mengatur pernafasan (Sanders, 1999).

5. Pons

Pons menggelembung ke sisi anterior dari bagian atas

medula. Di dalam pons ada 2 pusat pernafasan yang bekerja sama

dengan yang terdapat di medula untuk menghasilkan ritme

pernafasan normal. Banyak neuron lain pada pons menghubungkan

medula dengan bagian lain pada otak (Sanders, 1999).

6. Otak Tengah

11
Otak tengah memanjang dari pons sampai hipotalamus dan

menutupi aqueduktus cerebri, suatu saluran yang menghubungkan

ventrikel ke 3, dan ke 4. Beberapa refleks yang berada diintegrasi

di otak tengah, termasuk refleks penglihatan dan pendengaran

(Sanders, 1999).

7. Hipotalamus

Terletak di bawah talamus, hipotalamus merupakan daerah

yang kecil di otak dengan beragam fungsi antara lain memproduksi

antidiuretic hormones (ADH) oksitosin, menghasilkan releasing

hormones, mengatur suhu tubuh, mengatur asupan makanan,

mengitegrasi fungsi syaraf otonom, merangsang respon organ

viseral selama berada dalam kondisi emosional, mengatur ritme

tubuh (Sanders, 1999).

8. Talamus

Talamus terletak di atas hipotalamus dan di bawah

serebrum. Fungsi talamus berkaitan dengan sensasi. Talamus

mengintegrasikan impuls atau menggabungkan impuls, sehingga

serebrum akan memahaminya secara keseluruhan dan

memungkinkan interpretasi sensasi secara tepat. Talamus dapat

juga menekan sensasi yang tidak penting (Sanders, 1999).

12
Gambar 2.3 Bagian-bagian otak (Alleta, 2009).

2.1.2.2 Lapisan-Lapisan Pelindung Otak (Meningens)

Otak diselimuti meningia yang melindungi struktur syaraf

yang halus, yang membawa pembuluh darah dan sekresi sejenis

cairan yaitu cairan serebrospinal untuk memperkecil

benturan/guncangan (Pearce, 2004).

Menurut Pearce (2004) Meningia terdiri dari 3 lapisan yaitu

1. Durameter

Durameter merupakan lapisan yang padat dan keras yang

dibentuk oleh jaringan kolagen yang padat. Duramater terdiri dari

2 lapisan yaitu lapisan luar yang melapisi tengkorak dan lapisan

dalam yang bersatu dengan lapisan luar. Durameter pada tempat

tertentu mengandung rongga yang mengalirkan darah vena dari

13
otak, rongga ini dinamakan sinus longitudinal superior, terletak di

antara kedua hemisfer otak (Pearce, 2004).

2. Arakhnoid

Arakhnid merupakan selaput halus tetapi kuat yang terdiri

dari membran selular luar dan lapisan ikat di dalam, dimana

melekat jaringan longgar trabekula yang tipis. Arakhnoid

memisahkan durameter dengan piameter membentuk sebuah

kantong atau balon yang berisi cairan otak yang meliputi seluruh

susunan syaraf sentral (Pearce, 2004).

3. Piamater

Piamater terdiri dari lapisan sel mesodermal tipis seperti

endotelium, membran ini menutupi semua permukaan otak dan

medula spinalis, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi,

kecuali permukaan ventrikel. Lapisan ini terletak di dalam celah

yang ada pada otak dan sumsum tulang belakang. Piamater

belakang erfungsi mensuplai atau menyediakan darah untuk

struktur otak (Pearce, 2004).

14
Gambar 2.4 Bagian-bagian meningen (Alleta, 2009)

2.2 Patologi

Definisi dan Klasifikasi stroke

Stroke adalah hilangnya sebagian fungsi otak yang terjadi secara

mendadak atau tiba-tiba akibat dari sumbatan atau pecahnya pembuluh darah

otak. Tanpa oksigen dan nutrisi penting yang dialirkan bersama dengan darah,

sel otak akan rusak atau mati dalam beberapa menit (Bernard R, 2012).

Stroke atau gangguan aliran darah di otak disebut juga sebagai serangan

otak (brain attack), merupakan penyebab cacat (disabilitas, invaliditas), utama

pada kelompok usia diatas 45 tahun.

Berdasarkan proses yang mendasari terjadinya gangguan peredaran

darah otak, stroke dibedakan menjadi dua kategori yaitu:

15
1. Stroke Non Hemoragik

Stroke non hemoragik atau stroke iskemik merupakan 88% dari

seluruh kasus stroke. Stroke non hemoragik terjadi akibat penutupan

aliran darah ke sebagian otak tertentu, maka terjadi serangkaian proses

patologik pada daerah iskemik. Pada stroke iskemik terjadi iskemia

akibat sumbatan atau penurunan aliran darah otak. Berdasarkan

perjalanan klinis, dikelompokkan menjadi:

a. TIA (Transient Ischemic Attack)

b. RIND (Reversible Ischemic Neurologic Deficit)

c. Stroke in Evolution

d. Completed Stroke

2. Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan

otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum)

atau kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan

otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia

subaraknoid). Ini adalah jenis stroke yang paling mematikan dan

merupakan sebagian kecil dari stroke total yaitu 10-15% perdarahan

intraserebrum dan sekitar 5% untuk perdarahan subaraknoid.

Stroke hemoragik merupakan 15% sampai 20% dari semua stroke,

dapat terjadi apabila lesi vascular intraserebrum mengalami rupture

sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subaraknoid atau langsung

ke dalam jaringan otak. Sebagian dari lesi vascular yang dapat

16
menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) adalah aneurisma sakular

dan malformasi arteriovena (MAV). Stroke Hemoragik diklasifikasikan

menjadi 3 yaitu:

a. Perdarahan Sub Dural (PSD)

Perdarahan subdural terjadi diantara duramater dan

araknoid. Perdarahan dapat terjadi akibat robeknya vena

jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena

dipermukaan otak dan sinus venosus di dalam duramater atau

karena robeknya araknoid.

b. Perdarahan Sub Arakhnoid (PSA)

Perdarahan Subaraknoid (PSA) adalah keadaan akut

dimana tidak dapat masuknya darah ke dalam ruangan

subaraknoid, atau perdarahan yang terjadi dipembuluh darah di

luar otak, tetapi masih di daerah kepala seperti diselaput otak atau

bagian bawah otak. PSA menduduki 7-15% dari seluruh kasus

Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO). PSA paling banyak

disebabkan oleh pecahnya aneurisma (50%).

c. Perdarahan Intra Serebral (PIS)

Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang

primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan

bukan disebabkan oleh trauma, dimana 70% kasus PIS terjadi di

kapsula interna, 20% terjadi di fosa posterior (batang otak dan

17
serebelum) dan 10% di hemisfer (di luar kapsula interna). PIS

terutama disebabkan oleh hipertensi (50-68%).

Angka kematian untuk perdarahan intraserebrum

hipertensif sangat tinggi, mendekati 50%. Perdarahan yang terjadi

diruang supratentorium (diatas tentorium cerebeli) memiliki

prognosis yang baik apabila volume darah sedikit. Namun,

perdarahan kedalam ruang infratentorium didaerah pons atau

cerebellum memiliki prognosis yang jauh lebih buruk karena

cepatnya timbul tekanan pada struktur–struktur vital dibatang

otak.

2.3 CT-Scan

2.3.1 Definisi CT-Scan

CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer

dan televisi sehingga mampu menampilkan gambar anatomis tubuh manusia

dalam bentuk irisan atau slice. (Rasad, 1992)

Prinsip kerja CT-Scan hanya dapat men-scanning tubuh dengan

irisan melintang (potongan axial). Namun dengan memanfaatkan teknologi

komputer maka gambaran axial yang telah didapatkan dapat diformat

kembali sehingga didapatkan gambaran coronal, sagital, oblique, diagonal

bahkan bentuk tiga dimensi dari objek tersebut. (Tortorici, 1995)

18
2.3.2 Komponen Dasar CT-Scan

CT-Scan mempunyai dua komponen utama yaitu scan unit dan

operator konsul. Scan unit biasanya berada didalam ruang pemeriksaan

sedangkan operator konsul letaknya terpisah dalam ruang kontrol. Scan unit

terdiri dari dua bagian yaitu gantry dan couch (meja pemeriksaan).

a. Gantry

Didalam CT-Scan, pasien berada di atas meja pemeriksaan dan meja

tersebut bergerak menuju gentry. Gantry ini terdiri dari beberapa

perangkat yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menghasilkan

suatu gambaran, perangkat keras tersebut antara lain tabung sinar-x,

kolimator dan detector.

1) Tabung Sinar-x

Berdasarkan strukturnya, tabung sinar-x sangat mirip dengan

tabung sinar-x konvensional namun perbedaannya terletak pada

kemampuannya untuk menahan panas dan output yang tinggi.

2) Kolimator

Kolimator berfungsi untuk mengurangi radiasi hambur

membatasi jumlah sinar-x yang sampai ke tubuh pasien serta untuk

meningkatkan kualitas gambaran. Tidak seperti pada pesawat

radiografi konvensional, CT-Scan menggunakan dua buah

kolimator. Kolimator pertama diletakkan pada rumah tabung sinar-x

yang disebut pre-pasien kolimator. Dan kolimator kedua diletakkan

19
diantara pasien dan detector yang disebut pre-detektor kolimator

atau post pasien kolimator.

3) Detektor

Selama eksposi berkas sinar-x (foton) menembus pasien dan

mengalami perlemahan (atenuasi). Sisa-sisa foton yang telah ter-

atenuasi kemudian ditangkap oleh detector. Detector memiliki dua

tipe, yaitu detektor solide state dan detektor isian gas.

b. Couch (Meja Pemeriksaan)

Meja pemeriksaan merupakan tempat untuk memposisikan pasien.

Meja ini biasanya terbuat dari fiber karbon. Dengan adanya bahan ini

maka sinar-x yang menembus pasien tidak terhalangi jalannya untuk

menuju ke detector. Meja ini harus kuat dan kokoh mengingat fungsinya

untuk menopang tubuh pasien selama meja bergerak kedalam gentry.

Konsul tersedia dalam beberapa variasi. Model yang lama msih

menggunakan dua sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT-Scan

sendiri dan untuk perekaman dan percetakan gambar. Model yang baru

sudah memakai sistem satu konsul dimana banyak memiliki kelebihan

dan fungsi. Bagian dari sistem konsul yaitu: sistem control, sistem

pencetak gambar, dan sistem perekam gambar.

20
Gambar 2.5 Gantry dan Couch (Bontrager, 2001)

c. Operator Control Console

Dalam operator Control console terdapat komputer yang

mempunyai peranan dalam mengolah data dan mengkonversi kedalam

images yang mempunyai arti. Dalam operator console modern,

processing unit ditempatkan sebagai basis dari console dibawah

monitor dan control shelf.

Operator dapat mengontrol seluruh proses pemeriksaan pada

operator control console yang terletak diluar ruang pmeriksaan.

Console ini meliputi pengaturan parameter-parameter scanning seperti

Kv, mA, slice thickness, dan lain-lain. Serta pada operator control

console dapat dilakukan input data pasien.

Beberapa control console menggunakan sebuah monitor, dan ada

pula yang menggunakan 2 monitor warna dimana monitor yang satu

digunakan untuk icons dan pengaturan tampilan sedangkan yang

21
lainnya digunakan untuk menampilkan gambar. Teknologi terbaru

memungkinkan penempatan monitor di tempat yang berbeda agar bisa

dilihat oleh radiolog dengan transmisi melalui line telepon, fiberoptics,

atau transmisi satelit.

Kebanyakan dari sistem modern menggunakan kombinasi optical

disks dan hard disk Drives untuk penyimpanan informasi data dalam

bentuk data digital.

Gambar 2.6 Komputer dan Console(Bontrager, 2001)

2.3.3 Parameter CT-Scan

Beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan output gambar

yang optimal antara lain:

a. Slice thickness

22
Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari objek yang

diperiksa. Nilainya dapat di pilih antara 1mm-10mm sesuai dengan

keperluan klinis. Ukuran yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan

detail yang rendah sebaliknya ukuran yang tipis akan menghasilkan detail

yang tinggi. Jika ketebalan meninggi akan timbul artefak dan bila terlalu

tipis akan terjadi noise.

b. Range

Range adalah perpaduan atau kombinasi dari beberapa slice

thickness. Pemanfaatan range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan

yang berbeda pada satu lapangan pemeriksaan.

c. Volume Investigasi

Volume investigasi adalah keseluruhan lapangan dari objek yang

diperiksa. Lapangan objek ini diukur dari batas awal objek hingga batas

akhir objek yang akan diiris semakin besar.

d. Faktor Eksposi

Faktor eksposi adalah factor-faktor yang berpengaru terhadap

eksposi meliputi tegangan tabung (kV), arus tabung (mA), dan waktu

eksposi (s). Biasanya tegangan tabung bisa dipilih secara otomatis pada

tiap-tiap pemeriksaan.

c. Filed Of View (FOV)

FOV adalah diameter maksimal dari gambaran yang akan

direkonstruksi. Biasanya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12-

50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi karena FOV yang kecil

23
mampu mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam rekonstruksi matriks

hasilnya lebih teliti. Namun bila ukuran FOV lebih kecil, maka area yang

mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit untuk dideteksi.

d. Gantry tilt

Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan

gantry(tabung sinar-x dan detektor). Rentang penyudutan antara -25 derajat

sampai +25 derajat. penyudutan gantrybertujuan untuk keperluan diagnosa

dari masing-masing kasus yang dihadapi. Disamping itu bertujuan untuk

mengurangi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitif.

e. Rekonstruksi Matriks

Rekonstruksi matrikxs adalah deretan baris dari kolom picture

elemen (pixel) dalam pproses perekonstruksian gambar. Rekonstruksi

matriks ini merupakan salah satu struktur elemen dalam lemori komputer

yang berfungsi untuk merekonstruksi gambar. Pada umumnya matriks

berpengaruh terhadap resolusi gambar. Semakin tinggi matriks yang dipakai

maka semakin tinggi resolusinya

f. Rekonstruksi Algorithma

Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis yang digunakan

dalam merekonstruksi gambar. Penampakan dan karakteristik dari gambar

CT-Scan tergantung pada kuatnya algorithma yang dipilih maka semakin

tinggi resolusi yang gambar yang akan dihasilkan. Dengan adanya metode

ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jaringan lain

dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor.

24
g. Window Width

Window width adalah rentang nilai computed tomography yang di

konversi menjadi gray levels untuk di tampilkan dalam TV monitor. Setelah

komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi matriks

dan algorithma maka hasilnya akan di konversi menjadi skala numerik yang

dikenal dengan nama nilai computed tomography. Nilai ini mempunyai nilai

satuan HU (Houndsfield Unit) yang diambil dari nama sang penemun CT-

Scan kepala pertama kali yaitu Godfrey Houndsfield.

Tipe jaringan Nilai CT (HU) Penampakan

Tulang +1000 Putih

Otot +50 Abu-abu

Materi putih +45 Abu-abu menyala

Materi abu-abu +40 Abu-abu

Darah +20 Abu-abu

CSF +15 Abu-abu

Air 0

Lemak -100 Abu-abu gelap ke hitam

Paru -200 Abu-abu gelap ke hitam

Udara -1000 Hitam

25
Gambar 2.7 Nilai CT pada jaringan yang berbeda

penampakannya pada layar monitor (Bontrager, 2014).

Dasar dari pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0 HU. Untuk

tulang mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai +3000 HU. Sedangkan

untuk kondisi udara nilai yang dimiliki -1000 HU. Diantara rentang tersebut

merupakan jaringan atau substansi lain dengan nilai yang berbeda-beda pula

tergantung pada tingkat perlemahannya. Dengan demikian maka

penampakan tulang dalam layar monitor menjadi putih dan penampakan

udara hitam. Jaringan dan substansi lain akan dikonversi menjadi warna

abu-abu yang bertingkat yang disebut gray scale. Khusus untuk darah yang

semula dalam penampakannya berwarna abu-abu dapat menjadi putih jika

diberi media kontras iodine.

h. Window Level

Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan

untuk penampilan gambar. Nilainya dapat dipilih dan tergantung pada

karakteristik pelemahan dari struktur obyek yang diperiksa. Window level

menentukan densitas gambar.

2.4 Prosedur Pemeriksaan Ct-Scan Kepala Non Kontras

2.4.1 Indikasi Pemeriksaan

a. Penyakit bawaan (kelainan kongenital)

b. Kejang

c. Peredaran darah yang tidak normal

26
d. Tumor

e. Inflamasi

f. Kelainan pada sistem tulang belakang (sistem saraf)

2.4.2 Persiapan pemeriksaan

a. Persiapan Pasien

Tidak ada persiapan khusus bagi pasien, hanya melepaskan benda-

benda asesoris yang mengandung logam karena akan menyebabkan

artefak dan memberi penjelasan tentang prosedur pemeriksaan agar

pasien dapat bekerjasama demi kelancaran pemeriksaan. Untuk

kenyamanan pasien mengingat pemeriksaan dilakukan pada ruangan

ber-AC sebaiknya tubuh pasien diberi selimut.

b. Persiapan Alat dan Bahan

1) Pesawat CT-Scan

2) Apron

3) Tabung oksigen

4) Automatic Scanning

5) Selimut

6) Head clamp & body straps

7) Standar infus

c. Teknik pemeriksaan

Posisi Pasien : supine di atas meja pemeriksaan dengan posisi

kepala dekat dengan gantry.

27
Posisi Objek : kepala fleksi dan diletakkan pada head holder.

Kepala diposisikan sehingga mid sagital plane

tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudinal

dan meatus acusticus externus setinggi lampu

indikator horisontal. Kedua lengan pasien

diletakkan di atas perut atau di samping tubuh.

Untuk mengurangi pergerakan, dahi dan tubuh

pasien sebaiknya difiksasi dengan sabuk khusus

pada head holder dan meja pemeriksaan.

Gambar 2.8 Posisi pasien pada pemeriksaan CT Scan kepala

(Bontrager, 2014)

d. Scan parameter

Parameter Nilai / Ukuran

Scanogram Kepala Lateral

28
Range Range I (basis cranii sampai petrous)

Range II (pars petrous sampai verteks)

Slice thickness Range I 2 – 5 mm

Range II 5 – 10 mm

FOV 24 cm

Granty Tilt Sudut granty tergantung pada besar

kecilnya sudut yang terbentuk dari

OML dengan garis vertikal

KV 120

MA 250 – 300

Recontruksi Algoritma Soft Tissue

Window Cerebelum dan Bone window

Window Width 0–90 HU (otak supratentorial)

110–160 HU (otak pada fossa posterior)

2000 – 3000 HU (tulang)

Window Level 40–45 HU (otak supratentorial)

30 – 40 HU (otak pada fossa posterior)

200 – 400 HU (tulang)

29
gambar 2.9 Scan Parameter

2.5 Contoh Gambaran CT Scan Kepala (Moeller, 2007)


a. Potongan axial

Gambar 2.10 Posisi irisan axial I dan gambaran irisan CT Scan (Moeller, 2007)
Keterangan :

1. Frontal bone

2. Superior frontal gyrus

30
3. Coronal suture

4. Precentral sulcud

5. Falx cerebri

6. Precentral gyrus

7. Parietal bone

8. Paracentral lobule

9. Central sulcus

10. Postcentral gyrus

11. Superior parietallobule

12. Precuneus

13. Sagittal suture

14. Superior sagittal sinus

31
b. Potongan Axial II

Gambar 2.11 Posisi irisan axial II dan gambaran irisan CT Scan

(Moeller, 2007)

Keterangan :

1. Frontal bone 14. Supramargnal gyrus

2. Superior sagittal sinus 15. Parietal bone

3. Superior frontal gyrus 16. Inferior parietal lobule

4. Coronal suture 17. Precuneus

5. Falx cerebri 18. Parieto-occipital sulcus

6. Middle frontal gyrus 19. Occpital bone

7. Longitudinal cerebral fissure

8. Precentral sulcus

32
9. Precentral gyrus

10. Central sulcus

11. Cerebral white matter

12. Postcentral gyrus

13. Paracentral lobule

c. Potongan Axial III

Gambar 2.12 Posisi irisan axial III dan gambaran irisan CT-Scan

(Moeller, 2007)

Keterangan :

1. Frontal bone 13. Lateral ventricle

2. Superior frontal gyrus 14. Postcentral sulcus

3. Falx cerebri 15. Parietal bone

4. Middle frontal gyrus 16. Supramarginal gyrus

5. Cingulate sutlcus 17. Precuneus

33
6. Coronal suture 18. Angular gyrus

7. Pericallosal artery 19. Parieto-occpital sulcus

8. Precentral gyrus 20. Occipital gyri

9. Corona radiata 21. Cuneus

10. Central sulcus 22. Occipital bone

11. Corpus callosum 23. Superior sagital sinus

12. Postcentral gyrus

d. Potongan Axial IV

Gambar 2.13 Posisi irisan axial IV dan gambaran irisan CT-Scan

(Moeller, 2007)

Keterangan :

1. Frontal bone 19. Cauded nucleus

2. Falx cerebri 20. Superior temporal gyrus

34
3. Superior frontal gyrus 21. Corpus Callosum

(splenium)

4. Middle frontal gyrus 22. Fornix

5. Inferior frontal gyrus 23. Cingulum

6. Cingulate gyrus 24. Lateral ventricel

7. Corpus callosum 25.Straight sinus

8. Lateral ventricle 26. Great cerebral vein

9. Caudate nucleus 27. Parietl bone

10. Precentral gyrus 28. Parieto-occipital sulcus

11. Central sulcus 29. Occipital gyrus

12. Corona radiata 30.Cuneus

13. Postcentral gyrus 31. Superior sagital sinus

14. Claustrum 32. Striate cortex

15. Thalamus 33. Occipital bone

16. Lateral sulcus

17. Temporal operculum

18. Insula

35
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Paparan Kasus

3.1.1 Identitas Pasien

Nama : Tn. MU

Umur : 65 Th

Jenis Kelamin : Laki – laki

Alamat :-

Pemeriksaan : CT-Scan Kepala Polos

Nomor Foto :

Diagnosa : Stoke non hemoragic

3.1.2 Riwayat Pasien

Pada hari kamis, 28 Maret 2019 Tn. MU datang ke Instalasi Radiologi RS

Panti Wilasa Dr.Cipto semarang, dengan membawa surat permintaan ct scan

kepala polos dengan indikasi stroke non hemoragic.

3.1.3 Prosedur Pemeriksaan

a. Persiapan alat dan bahan

- Pesawat CT-Scan

Merk : Hitachi

36
Type : GS4570A

Jenis : Multislice

kVp : 120 kV

mAs : 350 mAs

Tegangan : 200 V

No Seri : KB10810901

Gambar 3.1 Pesawat CT-Scan

- Komputer

Gambar 3.2 Komputer Ct-Scan

37
- Printer

Merk : Carestream

Tiper : Dry View Laser Image

Gambar 3.3 Printer


- Apron

- Selimut

- Head holder dan perekat badan

b. Persiapan Pasien

Tidak ada persiapan khusus bagi pasien, assesoris yang

menempel pada objek seperti anting anting disingkirkan karena dapat

mengganggu gambaran radiograf. Untuk kenyamanan pasien

mengingat pemeriksaan dilakukan pada ruangan ber-AC tubuh pasien

diberi selimut.

38
c. Teknik Pemeriksaan :

Posisi pasien :Supine di atas meja pemeriksaan dengan posisi

kepala pada arah gantry. Kedua lengan diletakkan disamping tubuh,

kedua kaki lurus kebawah, MSP tubuh berada pada pertengahan meja

pemeriksaan.

Posisi Objek :Kepala diletakkan pada head holder. Kepala

diposisikan sehingga mid sagital plane (MSP) kepala sejajar dengan

lampu indikator longitudinal dan indikator horizontal sejajar dengan

interpupilary line (IPL). Kepala difiksasi dengan head klem. Kedua

lengan pasien diletakkan di samping tubuh dan difiksasi dengan sabuk

khusus. Tubuh pasien diberi selimut. Dengan batas atas pemeriksaan

diatur 1 jari diatas vertex.

Prosedur pemeriksaan :

Pemasukkan identitas pasien :

1. Mengklik Registration.

2. Memasukkan identitas ( ID pasien, nama, jenis kelamin, tanggal

lahir, klinis, dan dokter pengirim).

3. Memilih protokol pemeriksaan (Head 5/2i + 7,5/2i PWDC)

39
Gambar 3.4 Pengisian identitas dan pemilihan protokol

Scanogram : Setelah melakukan pemilihan Head 5/2i + 7,5/2i

PWDC, kemudian mengklik proceed lalu akan muncul keterangan dari

protokol berisi parameter pemeriksaan ct scan yang dipilih, kemudian

mengklik confirm. Menunggu tombol start menyala, lalu menekan tombol

start tersebut yang digunakan untuk ekspos scannogram lateral. Setelah

dilakukan pengeksposan, maka akan tampak scannogram lateral, terlihat

adanya 2 range pada gambaran scannogram lateral tersebut. Range pertama

untuk dasar tengkorak dengan ketebalan 5 mm dan range kedua untuk area

otak dengan ketebalam 7,5 mm. Irisan pertama digunakan sebagai batas

bawah letak scanning, dengan mengatur kemiringan range sesuai dengan

garis khayal yang menghubungkan supra orbita dengan meatus akustikus

eksterna (SOML). Memastikan batas atas scannogram lateral yaitu vertex

dapat masuk ke dalam irisan terakhir.

40
Gambar 3.5 Scanogram Lateral

Scanning : Mengklik confirm jika dirasa sudah pas dalam

pembuatan irisan pada scannogram tersebut dan menunggu tombol move

menyala, lalu menekan sekali tombol move tersebut. Menunggu kembali

tombol move menyala, dan menekannya hingga tombol move tersebut

berhenti menyala. Hal ini bertujuan untuk memiringkan posisi gantry sesuai

dengan irisan yang telah dibuat pada scannogram tadi. Kemudian menunggu

tombol start menyala, lalu menekan tombol strart tersebut untuk ekspos

potongan axial sesuai dengan scannogram yang telah dibuat tadi. Menunggu

hingga proses ekspos tersebut berhenti dan akan muncul kumpulan citra

irisan axial sesuai dengan scannogram yang telah dibuat. Sebelum mengklik

menu exam end, mengecek terlebih dahulu gambaran hasil scan tadi apakah

terdapat movement artefak yang terjadi karena pergerakan pasien atau tidak.

Jika tidak terdapat movement artefak, maka

41
dapat mengklik exam end lalu mengklik yes untuk mengakhiri pemeriksaan

scan kepala polos.

Pengolahan Citra : Setelah didapatkan hasil scaning axial polos.

Lalu memilih menu Subject List kemudian klik pada nama pasien Tn. ST,

kemudian klik icon bergambar loop pada atas toolbar maka semua citra

potongan axial akan terbuka.

42
Gambar 3.6 hasil scanning axial polos

Nilai HU : Untuk image yang diindikasi ada kelainan seperti

perdarahan dapat ditentukan dengan nilai HU, dengan memilih menu ROI

lalu ditempatkan pada daerah yang diindikasi memiliki kelainan.

Gambar 3.7 Pemilihan dan cara pembuatan ROI

Filming : Filming pada CT-Scan kepala polos dengan indikasi

stroke non hemoragic di RS Pantiwilasa “Dr. Cipto” Semarang dilakukan

dengan cara memilih 20 citra hasil rekonstruksi, kemudian memilih menu

filming lalu klik layout. Memilih layout 20 (4x5) yang bertujuan untuk

menentukan jumlah pembagian image pada film, pembagian yang dipakai

20 image dalam 1 film. Untuk memasukan image; klik all, maka kotak-

kotak kosong pada layout akan terisi image yang akan diprint. Kemudian

43
klik filming dan klik ok pada perintah yang muncul selanjutnya. Maka,

proses filming akan berjalan.

d. Scan Parameter

Parameter pemeriksaan CT Scan kepala polos dengan indikasi stroke

non hemoragic di RS Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang adalah :

1) Scanogram : Lateral

2) Tube Voltage : 120 kV

3) Tube Current : 175 mA

4) Scan Time :2s

5) Thickness : 5 mm untuk basis cranii dan 7,5 mm untuk otak

6) Collimation : 0,625 X 20

7) Image Mode : 2i

8) Table Index : +10,0 mm

9) FOV : 220 mm

10) Window : Brain window, dengan Window Width (WW) 98,

Window Level (WL) 38

44
3.2 Pembahasan

Pelaksanaan pemeriksaan CT-Scan kepala non kontras dengan indikasi

stroke non hemoragic di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang dilakukan dengan

posisi supine di atas meja pemeriksaan sehingga Mid Sagital Plane (MSP)

kepala sejajar terhadap lampu indikator longitudinal dan lampu indikator

horizontal sejajar dengan interpupilary line (IPL), sehingga gambaran akan

menjadi simetris. Untuk indikasi Stroke non hemoragic, potongan axial dalam

tampilan brain window untuk melihat kelainan pada otak. Pada kasus stroke non

hemoragic pengukuran HU dilakukan bila terdapat perdarahan untuk

membuktikan jika memang itu adalah perdarahan. Kesimpulan bacaan CT-Scan

kepala di Instalasi Radiologi RS Pantiwilasa “Dr. Cipto” Semarang dengan

indikasi stroke non hemoragic adalah

 Bain window

 Tampak lesi hiperdens pada korona radiate kiri, crus posterior

kapsula interna kiri, dan thalamus kiri, volume sekitar 2,2 cc

 Differensiasi substansia alba dan grisea baik

 Sulkus kortikalis dan fissure Sylvii kanan kiri baik

 Ventrikel lateral kanan kiri, ventrikel III dan IV

 Cisterna perimesencephali normal

 Tidak tampak midline shifting

 Batang otak dan cerebellum tak tampak kelaianan

45
 Bone window

 Tak tampak diskontinuitas pada ossa calvaria dan maxillofacial

Kesan :

Intracerebral haemorrhage pada korona radiate kiri, crus posterior

kapsula interna kiri, dan thalamus kiri, volume sekitar 2,2 cc

Infark lakuner pada pons paramedian kanan kiri, sentrum semiovale

kiri, peri cornu anterior ventrikel lateral kanan kiri tak tampak tanda-

tanda peninggalan tekanan intrakranial

46
BAB IV

PENUTUP

4.1 kesimpulan

Teknik pemeriksaan CT-Scan kepala pada kasus stroke di Instalasi

Radiologi Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang menggunakan protocol

head dual range, range pertama untuk dasar tengkorak dengan ketebalan

5 mm dan range kedua untuk area otak dengan ketebalam 7,5mm.

Pengukuran Hu dilakukan apabila terdapat kelainan pada otak dan

pemeriksaan ini tidak menggunakan media kontras karena dirasa sudah

dapat memberikan gambaran diagnosa.

4.2 Saran

4.2.1 Mengingat dosis radiasi yang dikeluarkan CT scan sangat besar,

sebaiknya pasien dikenakan apron saat pemeriksaan untuk mengurangi

dosis radiasi yang diterima.

4.2.2 Area scanning yang diatur pada awal pemeriksaan seharunya sesuai

dengan kondisi pasien terlebih dahulu. Tidak semua area scanning sampai

dengan vertex. Batas akhir scanning sesuai dengan kondisi klinis pasien.

Selain pertimbangan dari sisi dosis yang diterima pasien.

47
DAFTAR PUSTAKA

1. Ballinger, Philip W. 2007. Meril’s Atlas of Radiographic Positions and


Radiologic Procedures, Volume Two, Tenth Edition. The CV Mosby
Company, St. Louis, Missouri.
2. Bontrager, Kenneth L. 2014. Text Book of Radiographic Positioning and
Related Anatomy, Seventh Edition. St. Louis : Mosby Inc.
3. Moller, T.B dan Emil Reif. 2007. Pocket Atlas of Sectional Anatimy
Computed Tomography and Magnetic Resonance Imaging, Volume I Head
and Neck, Third Edition. Thieme Stuttgar : New York.
4. Putz. R & R. Pabst. 2000. Sobotta Atlas Anatomi Manusia, Jilid 1. Jakarta.
5. Seeram, Euclid. 2007. Computed Tomography Physical Principles, Clinical
Applications, and Quality Control, Second Edition. W. B. Sauders
Company : USA.

6. Sidharta, Priguna DR., dr., Sp.BS., dkk, 1989. Anatomi Susunan Saraf
Pusat Manusia. Jakarta : Dian Rakyat.
7. Bernard R, Bendok et al. 2012. Hemorrhagic and Ischemic Stroke: Medical,
Imaging, Surgical and Interventional Approach. Thieme Medical
Publisher, Inc.

48
Lampiran

Hasil bacaan dokter :

49

Anda mungkin juga menyukai