Anda di halaman 1dari 4

A.

Manifestasi Klinis Bell’s Palsy

Diawali dengan nyeri pada bagian belakang telinga, yang dapat menjadi paresis atau

paralisis yang terjadi dalam waktu satu jam atau biasanya maksimal 48 sampai 72 jam. Pada

wajah, pasien merasa ada bagian wajah yang kram atau terasa berat. Daerah yang terkena akan

menjadi datar dan tanpa ekspresi, kemampuan mengedip mata, meringis dan mengerut kepala

dapat menjadi terbatas atau tidak dapat dilakukan sama sekali. Pada kasus berat, fissura palpebra

melebar dan mata tidak bisa tertutup, dapat mengiritasi konjungtiva dan mengeringkan kornea.1

Pada pemeriksaan sensoris biasanya normal tetapi terdapat nyeri tekan (disentuh) pada

canalis auditori eksternum dan pada daerah mastoid. Jikal lesi pada proksimal dari ganglion

geniculatum, maka saliva, indra perasa, dan lakrimasi dapat terganggu dan hiperakusis dapat

terjadi.1
B. Hubungan Bells Palsy dengan Terapi Hiperbarik

Di laut konsentrasi oksigen dalam plasma mencapai 3 ml/l. Pada keadaan istirahat,

jaringan membutuhkan 60 ml oksigen per liter aliran darah (diassumsikan perfusi normal) untuk

mempertahankan metabolisme seluler, walaupun ada perbedaan kebutuhan antara jaringan yang

satu dengan jaringan lainnya. Pada tekanan 3 atmosfer (304 kPA) kadar oksigen yang larut

mencapai 60 ml/l dalam plasma, yang mana hal ini mencukupi kebutuhan oksigen pada jaringan

tanpa kontribusi oksigen yang terikat dengan hemoglobin.

Tekanan oksigen pada 300 kPA dapat meningkatkan tekanan oksigen arteri mencapai 270

kPA pada aliran darah dan sekitar 53 kPA pada jaringan. Hal ini meningkatkan kebutuhan

oksigen pada seluler dengan menaikkan gradient difusi jaringan-seluler. Hiperoksia ini

mempunyai banyak keutungan termasuk angiogenesis dan pembentukan formasi matriks

kolagen. Dengan kata lain hiperbarik oksigen lebih efektif dari normobarik oksigen dalam hal

meningkatkan tekanan parsial oksigen dijaringan yang dapat menyebabkan pembentukan proses

angiogenesis dan perbaikan luka.2

Mengenai hemoglobin (Hb), pada normobarik oksigen, Hb hampir tersaturasi secara

sempurna, dalam hal ini terapi hiperbarik bukan hanya tujuan untuk menyempurnakan, walaupun

pada kenyataan Hb tersaturasi meningkat, dalam artian pada Hb akan tersaturasi sempurna pada

vena dan meningkatkan tekanan oksigen pada dinding vaskuler. Karena perbedaan tekanan maka

oksigen akan keluar dari vaskuler dan masuk pada jaringan (dengan atau tanpa Hb). Jaringan dan

sel membutuhkan oksigen terutama untuk membunuh bakteri, replikasi sel, dan mekanisme

homeostasis seperti, pengaktifan transport membrane dan pompa natrium-kalium. Terapi

hiperbarik meningkatkan adhesi leukosit pada endotel, menggurangi kerusakan jaringan dan
motilitas leukosit meningkat, sehingga mikrosirkulasi lebih efektif. Terjadinya vasokontriksi

menyebabkan berkurangnya edema, meningkatkan proses perbaikan, serta regenerasi sel lebih

baik dari sebelumnya.3

Pada bell’s palsy secara etiologi dapat terjadi karena virus maupun hipoksia pada nervus

facial (lesi neural), maka hal ini dapat memperjelas bahwa terapi hiperbarik dapat mengatasi

masalah yang didasarkan kekurangan oksigen maupun infeksi apalagi jika penyebabnya anaerob.

Lesi neural, apapun etiologinya akan menyebabkan edema dan konsekuensinya peningkatan

tekanan endoneural. Peningkatan tekanan endoneural akan mempengaruhi tekanan pada

perineural sehingga terjadi ‘‘blok’’ pada daerah epineural dan transepineural, dengan

terhambatnya aliran darah pada vaso nervosum menyebabkan iskemik dan degenerasi akson. Hal

ini dikarenakan secara anatomi, nervus facial pada tulang (berongga) rentan terjadi iskemik. 4

Dasarnya setiap jaringan membutuhkan oksigen, pada keadaan seperti blok kapiler,

trauma, inflamasi, maka akan terjadi edema serta menyebabkan hipoksia lokal yang menganggu

fungsi dari jaringan termasuk perbaikan jaringan. Terapi hiperbarik meningkatkan oksigen yang

terlarut pada plasma sekitar 6% dari normal atau 20 kali lebih banyak, hiperoksia menyebabkan

vasokonstriksi pada pembuluh darah dan mengurangi dan menghilangkan edema serta

berhubungan dengan pelepasan mediator proinflamasi. Selain itu terapi hiperbarik menyebabkan

degenerasi akson dan dimielinisasi nervus perifer, pertumbuhan akson, dan pematangan fiber

neural, yang ditemukan pada beberapa penelitian sebelumnya.4

Beberapa penelitian mengenai terapi hiperbarik pada pasien bell palsy menunjukan

prognosis yang baik. Pada James McCaul dkk dengan menggunakan metode randomized
controlled trial memperlihatkan bahwa proses perbaikan lebih cepat (95.5%, 40/42) daripada

dengan terapi kortikosteroid saja (75%, 28/37) dalam waktu 9 bulan terapi.5

Daftar Pustaka

1. Rubin M. Facial Nerve Palsy [internet]. USA; MSD Manual. Available from:

https/www.msdmanuals.com/professional/neurologic-disorder/neuro-opththalmologic-

and-cranial-nerve-disorder/facial-nerve-palsy

2. Leach RM, Rees PJ, Wilmshurst P. ABC Oxygen. Hyperbaric Oxygen Therapy. BMJ. 24

Oktober 1998; 317: 1140-1143.

3. Mortensen CR. Current Anaesthesia & Critical Care. Hyperbaric Oxygen Therapy.

Elsevier. 2008; 19: 333-337.

4. Vilela DSA, Lazarini PR, Da Silva CF. Acta Oto-Laryngologica. Effect of Hyperbaric

Oxygen Therapy on Facial Nerve Regeneration. Informa Healthcare. 2008; 128: 1048-

1052.

5. McCaul J, Cascarini L, Godden D, Coombes, D, Brenna P, Kerawala CJ. Evidence Based

Management of Bell’s Palsy. 2014; 52: 387-391.