Anda di halaman 1dari 51

PENETAPAN KADAR ERDOSTEIN DALAM SUSPENSI

KERING PASCA-REKONSTITUSI DENGAN METODE


KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana


pada Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi
Universitas Jenderal Achmad Yani

WILDHAN ALVIAN HAKIM


3311141136

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2018
Kutipan atau saduran atas skripsi ini,
harus menyebutkan sumbernya, yaitu
nama penulis dan Fakultas Farmasi
Universitas Jenderal Achmad Yani
HALAMAN PENGESAHAN

PENETAPAN KADAR ERDOSTEIN DALAM SUSPENSI


KERING PASCA-REKONSTITUSI DENGAN METODE
KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT)

September 2018

WILDHAN ALVIAN HAKIM


3311141136

Disetujui oleh:

Mira Andam Dewi, S.Si., M.Si., Apt Rina Anugrah, S.Farm., M.Si., Apt
Pembimbing Pembimbing

Mengetahui,

Dekan Fakultas Farmasi Ketua Program Studi Farmasi

Prof. Dr. Afifah B. Sutjiatmo, M.S., Apt. Faizal Hermanto, S.Si., M.Si., Apt
NID: 0030064901 NID: 412172182
ABSTRAK

Erdostein merupakan agen mukolitik dengan mekanisme kerja mengencerkan


mukus dan sputum purulen. Erdostein memiliki struktur amida yang mudah
terhidrolisis, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penurunan
kadar apabila dalam fase cair. Beberapa faktor lain yang dapat memicu proses
degradasi adalah temperatur dan pH. Pengujian ini bertujuan untuk melakukan
penetapan kadar Erdostein dalam suspensi kering pasca-rekonstitusi dengan metode
KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi). Sistem kromatografi yang diterapkan
adalah kolom Inertsil ODS-3 C-18 (4,6 x 150 mm, 5 µm) sebagai fase diam,
asetonitril : asam asetat 1% (80:20) sebagai fase gerak, laju alir 1 mL per menit, dan
detektor UV λmaks 235 nm. Penetapan kadar Erdostein dilakukan sebanyak
kelompok 3 sampel, yaitu: bahan baku Erdostein yang dalam beberapa jenis pelarut,
Suspensi simulasi Erdostein yang didispersikan dalam air, dan Suspensi pasaran
Erdostein yang didispersikan dalam air. Hasil penetapan kadar bahan baku Erdostein
dalam pelarut air, dapar pH 4, dapar pH 5, dapar pH 6, dan dapar pH 7 pada jam ke-
3 secara berturut-turut adalah 93,29% b/v, 30,75% b/v, 58,26% b/v, 64,39% b/v,
dan 59,59% b/v. Hasil penetapan kadar suspensi kering Erdostein yang disimpan
pada suhu ruangan dalam suspensi simulasi dan suspensi yang beredar di pasaran
pada jam ke-24 adalah 74,52%±1,021633 dan 74,19%±0,996587.

Kata Kunci: Erdostein, KCKT, Penetapan kadar, pH.

i
ABSTRACT

Erdosteine is a mucolytic agent which able to increase the solubility of mucus and
purulent sputum as its mechanism of action. Erdosteine’s structure contains amide
functional group that easily hydrolyzed, so this would decrease its concentration in
liquid phase. Some other factors that may trigger degradation process are
temperature and pH. The main goal of this test is to determine Erdosteine’s
concentration in reconstituted suspension via High Performace Liquid
Chromatography as testing method. Chromatographic system that applied in this test
are Inertsil column ODS-3 C-18 (4.6 x 150 mm, 5 µm) as the stationary phase,
acetonitrile : 1% acetic acid (80:20) as mobile phase, flow rate 1 mL/ minute, and
UV detector at λmax 235 nm. The testing was carried out with 3 sample group which
are Erdostein solution in several kinds of solvent, dispered simulated Erdosteine
suspension in water, and dispered marketed Erdosteine suspension in water. The
results carried out for Erdosteine solution in water, pH 4 buffer, pH 5 buffer, pH 6
buffer, and pH 7 buffer on t-3 hours are 93.29%, 30.75%, 58.26%, 64.39%, dan
59.59% respectively. The results carried out for dry simulated Erdosteine
suspension and marketed Erdosteine suspension which was stored in room
temperature on t-24 hours are 74,52%±1,021633 and 74.19%±0.996587
respectively.

Keywords: Erdosteine, HPLC, Concentration determination, pH.

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT atas limpahan berkat dan rahmat-nya selama penulisan skripsi ini, yang
akhirnya dapat terselesaikan tepat pada waktunya. shalawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta pengikut
beliau hingga akhir zaman, Aamiin. Skripsi ini berjudul, “Penetapan Kadar
Erdostein dalam Suspensi Kering Pasca-Rekonstitusi dengan Metode Kromatografi
Cair Kinerja Tinggi (KCKT)”. Adapun maksud dan tujuan skripsi ini diajukan
adalah dalam upaya mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi,
Fakultas Farmasi, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Penulisan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan banyak pihak, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis dengan penuh
kesungguhan dan kerendahan hati menyampaikan terima kasih yang sedalam-
dalamnya kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Afifah B Sujiatmo, M.S., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi.
2. Bapak Faizal Hermanto, S.Si., M.Si., Apt., selaku Ketua Program Studi
Farmasi.
3. Ibu Mira Andam Dewi, S.Si., M.Si., Apt. dan Ibu Rina Anugrah, S.Farm.,
M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing yang telah memberi dukungan,
bimbingan, semangat, motivasi dan bantuan pemikiran selama penyusunan
skripsi ini.
4. Ibu Ari Sri Windyaswari S.Si., M.Si., Apt. selaku dosen wali yang memotivasi
dan membantu sejak awal perkuliahan.
5. Ibu Dra. Putranti Adirestuti, MS, Apt. selaku ketua kelompok bidang keahlian
Kimia Farmasi Analisis.
6. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani.
7. Seluruh staf administrasi dan laboratorium Fakultas Farmasi Universitas
Jenderal Achmad Yani, atas seluruh bantuannya.
8. Kepada kedua orang tua yang selalu mendoakan, membantu dan memberi
dukungan moral dan material.

iii
9. Rosi Roisatunnisa selaku rekan kerja tugas akhir dengan fokus kerja di KCKT,
yang selalu meluangkan tenaga dan pikiran selama pelaksanaan penelitian ini.
10. Keluarga besar Farmasi 2014 khususnya kelas D, serta rekan-rekan tugas akhir
kelompok bidang Kimia Farmasi Analisis yang telah berjuang bersama-sama,
memberi pengalaman kebersamaan dan kesan yang menyenangkan.
11. Sahabat-sahabat baik saya baik dari lingkungan internal atau eksternal kampus
yang selalu memberikan dukungan moral serta kritik yang membangun diri
saya.
12. Eva Siti Shohipah dan Luthfi Fauziyyah yang selalu mengisi hari-hari saya
dengan intrik dan perilaku yang unik.
13. Wahyuni Eka Lestari, Nurlailika Oktadella, Yorry Yuliantika, Sri Dewi
Maesaroh, Kennanti Ramadona Fauzi, dan Debby Ulfi Yuniarti yang selalu
mendukung saya di saat keadaan senang maupun susah.
14. Richad Alamsyah, Wisnu Tri Bagus Wibowo, Chandra Rifqi Ardyono, Ribka
Artha Maria, Shafira Febby Khaira, dan Redya Kumala yang selalu menjadi
teman seperjuangan sedari mahasiswa baru.
15. Hanna Chrismas, Sinta Indrayani, Elok Deshiari Mardiah, dan Arysinta Dewi
yang selalu memberikan dukungan semangat meski terpaut jarak ratusan
kilometer jauhnya.
16. Semua pihak yang telah membantu sehingga skripsi ini dapat selesai dengan
baik dan tepat pada waktunya.

Cimahi, September 2018

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman
Abstrak ......................................................................................................................i
Abstract ................................................................................................................... ii
Kata Pengantar ....................................................................................................... iii
Daftar Isi ..................................................................................................................v
Daftar Lampiran .................................................................................................... vii
Daftar Tabel ......................................................................................................... viii
Daftar Gambar.........................................................................................................ix
Daftar Singkatan dan Lambang................................................................................x

BAB I : PENDAHULUAN .....................................................................................1

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................3


2.1. Erdostein ....................................................................................... 3
2.1.1. Data Sifat Fisika dan Kimia .......................................................... 3
2.1.2. Kegunaan Erdostein ...................................................................... 3
2.1.3. Stabilitas Erdostein ....................................................................... 4
2.2. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) ................................. 4
2.2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Analisis dengan KCKT......... 6
2.2.2. Parameter Fase Gerak ................................................................... 7
2.2.3. Karakterisasi Kolom ..................................................................... 8

BAB III : METODE PENELITIAN ........................................................................9


3.1. Alat dan Bahan .............................................................................. 9
3.1.1. Alat ................................................................................................ 9
3.1.2. Bahan ............................................................................................ 9
3.2. Prosedur Penelitian .......................................................................9
3.2.1. Sistem Kromatografi .......................................................................... 9
3.2.2. Pembuatan Sediaan Suspensi Simulasi Erdostein ............................... 9
3.2.3. Uji Kesesuaian Sistem ................................................................ 10
3.2.4. Pembuatan Kurva Kalibrasi ........................................................ 10

v
3.2.5. Penetapan Kadar Bahan Baku Erdostein ....................................11
3.2.6. Penetapan Kadar Erdostein dalam Suspensi Kering ................... 11

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................12

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................18


5.1. Kesimpulan ...................................................................................... 18
5.2. Saran ................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 19

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1. Rancangan Kerja .............................................................................................. 20
2. Sertifikat Analisis.............................................................................................21
3. Kurva Kalibrasi Erdostein dalam Metanol ......................................................22
4. Data Penetapan Kadar Suspensi Simulasi........................................................23
5. Kromatogram Penetapan Kadar Suspensi Simulasi Erdostein .......................24
6. Data Data Penetapan Kadar Suspensi Pasaran ................................................. 27
7. Kromatogram Penetapan Kadar Suspensi Pasaran Erdostein ......................... 28
8. Data Penetapan Kadar Erdostein dalam Beberapa Jenis Pelarut ..................... 31
9. Kromatogram Erdostein dalam Beberapa Jenis Pelarut ................................... 32

vii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
II.1. Dapar yang Umum Digunakan pada HPLC Beserta pKa dan Panjang
Gelombangnya ........................................................................................... 8
III.1. Formula Sediaan Simulasi .........................................................................10
IV.1. Data Uji Kesesuaian Sistem Asetonitril : Asam Asetat 1% (80:20) .............. 13
IV.2. Persentase Kadar Bahan Baku Erdostein dalam Beberapa Pelarut selama 3
Jam ............................................................................................................ 14
IV.3. Persentase Kadar Erdostein dalam Suspensi Kering selama 24 jam ......... 16
V.1. Data Pengukuran Kurva Kalibrasi ............................................................. 22
V.2. Data Penetapan Kadar Suspensi Simulasi Erdostein selama 24 Jam ............ 23
V.3. Kromatogram Suspensi Simulasi Erdostein selama Pengujian 24 Jam ......... 24
V.4. Data Penetapan Kadar Suspensi Pasaran Erdostein selama 24 Jam .............. 27
V.5. Kromatogram Suspensi Pasaran Erdostein selama Pengujian 24 Jam .......... 28
V.6. Data Kadar Erdostein dalam Beberapa Jenis Pelarut selama 3 Jam .............. 31
V.7. Kromatogram Erdostein dalam Beberapa Jenis Pelarut ............................... 32

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
II.1. Struktur Kimia Erdostein ............................................................................. 3
II.2. Skema Degradasi Erdostein .......................................................................... 4
IV.1. Kromatogram Bahan Baku dalam Fase Gerak Asetonitril : Asam Asetat 1%
(80:20) ....................................................................................................... 12
IV.2. Kromatogram Suspensi Simulasi dalam Fase Gerak Asetonitril : Asam Asetat
1% (80:20) ................................................................................................. 12
IV.3. Kromatogram Suspensi yang Beredar di Pasaran dalam Fase Gerak
Asetonitril : Asam Asetat 1% (80:20) ......................................................... 13
IV.4. Kurva Kalibrasi Erdostein dalam Metanol ...............................................14
IV.5. Persentase Kadar Erdostein dalam Beberapa Pelarut selama 3 Jam .............. 15
IV.6. Persentase Kadar Erdostein dalam Suspensi Kering selama 24 Jam
Pengujian.................................................................................................... 16
V.1. Rancangan Prosedur Penelitian ................................................................. 20
V.2. Sertifikat Analisis Erdostein ..................................................................... 21
V.3. Kurva Kalibrasi Erdostein dalam Metanol .................................................. 22

ix
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

Singkatan Nama
AUC Area Under Curve
HETP Height Equivalent to Theoretical Plates
HPLC High Performance Liquid Chromatography
KCKT Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
KIE Komunikasi, Informasi, dan Edukasi
pH Power of Hydrogen
RPLC Reverse Phase Liquid Chromatography
UV Ultraviolet

Lambang Keterangan
λmaks Panjang Gelombang Maksimum
tR Waktu Retensi
α Selektivitas
R Resolusi
k’ Faktor Kapasitas
N Efisiensi Kolom

x
BAB I
PENDAHULUAN

Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernafasan dan


merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan
karena adanya lendir atau mukus, makanan, debu, asap dan sebagainya. Batuk juga
merupakan salah satu gejala paling umum yang menyertai penyakit pernafasan
seperti asma, bronkitis, dan PPOK (Penyakit Paru Obruktif Kronis) (Mardiono,
2013).

Erdostein merupakan agen mukolitik dengan mekanisme kerja mengencerkan


mukus dan sputum purulen yang menjadi aktif setelah proses metabolisme
dimana gugus sulfidril bebas dibentuk. Gugus sulfidril akan memecahkan ikatan
disulfida yang mengikat serat-serat glikoprotein di dalam mukus yang
menyebabkan sekresi bronkus menjadi encer sehingga lebih mudah dikeluarkan
(Mhaske & Dhaneshwar, 2007).

Erdostein memiliki struktur amida yang mudah terhidrolisis. Dengan terjadinya


hidrolisis maka kadar Erdostein dalam sediaan dapat terdegradasi (Moustafa et al.,
2014). Sediaan Erdostein yang beredar berupa kapsul dan suspensi kering. Pada
sediaan suspensi yang mengandung air dapat memungkinkan terjadinya hidrolisis
(Khan et al., 2013).

Keterbatasan ini menyebabkan Erdostein diproduksi dalam bentuk sediaan


suspensi kering. Suspensi kering perlu direkonstitusi sebelum digunakan, dengan
cara menambahkan air sesuai petunjuk penggunaan lalu dilakukan pengocokkan
hingga serbuk dalam suspensi tersebut menjadi terdispersi dalam air. Hal ini
bertujuan untuk menjaga stabilitas zat aktif pada masa penyimpanan. Perubahan
stabilitas zat aktif dengan adanya penurunan kadar dapat memproyeksikan
kepada penurunan kualitas suatu produk (Mhaske & Dhaneshwar, 2007).
Temperatur sangat mempengaruhi laju degradasi kimiawi, perubahan fisik, dan
peluang tumbuhnya mikroorganisme. Degradasi kimia seperti oksidasi atau
hidrolisis dapat terjadi dengan meningkatnya temperatur (Alburyhi et al., 2013).
Selain beberapa faktor tersebut, derajat keasaman atau pH juga sangat

1
berpengaruh terhadap laju degradasi suatu zat. Pengaruh pH terhadap proses
degradasi disebabkan oleh efek katalis yang disebabkan ion hidronium atau
hidroksida menjadi bereaksi secara kimiawi (Yoshioka & Stella, 2002).

Maka dari itu diperlukan penentuan kadar suspensi Erdostein pasca-rekonstitusi


dengan temperatur penyimpanan suhu kamar, mengingat suhu rata-rata di
Indonesia berada >20oC (BMKG, 2016). Pengujian ini membutuhkan metode
analisis yang mempunyai selektivitas dan sensitifitas tinggi, dikarenakan
banyaknya komponen lain yang terdapat dalam sediaan. Pengujian dilakukan
dengan menganalisis sampel suspensi kering Erdostein yang ada di pasaran dan
suspensi kering simulasi dengan metode instrumen KCKT karena teknik ini
mampu memisahkan senyawa-senyawa organik sekaligus penetapan kadar
senyawa-senyawa tersebut dalam sampel (Gandjar & Rohman, 2007).

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penentuan kadar Erdostein dalam


suspensi kering pasca-rekonstitusi, yang disimpan pada suhu kamar dengan
KCKT serta membuktikan secara ilmiah stabilitas kadar Erdostein dalam suspensi
kering pasca-rekonstitusi, yang disimpan pada suhu kamar dengan metode KCKT.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Erdostein
2.1.1. Data Sifat Fisika dan Kimia
Erdostein atau (±)-({[Tetahydro-2-oxo-3thienyl)carbamoyl]methyl}thio)acetic
acid memiliki rumus molekul C8H11NO4S2, dengan bobot molekul 249,309 g/mol
(Martindale, 2009). Erdostein memiliki warna putih sampai kekuningan, sedikit
larut dalam air, larut dalam metanol dan kloroform (Khan et al., 2013).

Gambar II.1. Struktur kimia erdostein

Absorpsi erdostein yang sangat cepat setelah pemberian oral, distribusi dengan
protein mengikat yaitu 64,5 % metabolisme lintas pertama untuk membentuk
metabolit aktif yaitu N-thiodiglycolyl-homosisteine dengan t ½ sekitar 4,6 jam
(Martindale, 2009).

2.1.2. Kegunaan Erdostein


Erdostein adalah agen mukolitik yang dapat mengencerkan mukus dan sputum
purulen. Erdostein juga merupakan mukolitik yang digunakan untuk mengobati
gangguan pernafasan dan penyakit paru obstrukif yang memiliki fungsi mukolitik,
antiinflamasi, antiadesi bakteri dan antioksidan (Moustafa et al., 2014). Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa erdostein memiliki keampuan untuk meningkatkan
produtivitas pada pasien PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) (Wiyono, 2012).
Erdostein adalah prodrug yang menjadi aktif setelah proses metabolisme dimana
gugus sufidril bebas dibentuk. Gugus sufidril akan memecahkan ikatan disulfida
yang mengikat serat-serat glikoprotein di dalam mukus yang menyebabkan sekresi

3
bronkus menjadi encer sehingga lebih mudah dikeluarkan (Mhaske & Dhaneshwar,
2007).

2.1.3. Stabilitas Erdostein


Senyawa obat dapat mengalami degradasi selama penyimpanan atau bahkan selama
proses pembuatan. Beberapa faktor kimia atau fisik dapat menyebabkan degradasi
obat-obatan. Hidrolisis dan oksidasi adalah jalur utama pada degradasi zat aktif
suatu obat, terutama obat yang memiliki gugus fungsional ester, amida, dan
laktam. Erdostein memiliki struktur amida yang mudah terhidrolisis (Moustafa et
al., 2014). Dengan terjadinya hidrolisis maka kadar erdostein dalam sediaan dapat
terdegradasi.

Erdostein mudah terdegradasi oleh asam, basa, dan radiasi UV. Erdostein juga
merupakan zat yang tidak stabil di dalam air, merupakan senyawa yang dapat
terhidrolisis sehingga suspensi erdostein dipasarkan dalam bentuk sediaan suspensi
rekontruksi (Khan et al., 2013).

Gambar II.2. Skema degradasi erdostein (Moustafa et al., 2014)

2.2. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)/ High Performance Liquid


Chromatography (HPLC)
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan sistem pemisahan dengan
kecepatan dan efisiensi yang tinggi. Hal ini karena didukung oleh kemajuan dalam
teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitif
dan beragam. KCKT mampu menganalisa berbagai cuplikan secara kualitatif

4
maupun kuantitatif, baik dalam komponen tunggal maupun campuran. KCKT
merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan
pemurnian senyawa kimia dan obat di bidang farmasi. Umumnya, KCKT
digunakan untuk pemisahan sejumlah senyawa organik, senyawa anorganik,
senyawa biologis, analisis kemurnian dan analisis senyawa-senyawa yang tidak
mudah menguap (nonvolatil). KCKT paling sering digunakan untuk menetapkan
kadar senyawa aktif obat, asam-asam amino, asam-asam nukleat dan protein-
protein dalam cairan fisiologis (Gandjar & Rohman, 2007).

KCKT memiliki beberapa keunggulan, antara lain mampu memisahkan molekul-


molekul dari suatu campuran, dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan
kuantitatif baik senyawa tunggal atau multikompenen, kecepatan analisis dan
kepekaannya tinggi, dapat menghindari terjadinya kerusakan bahan yang dianalisis,
dapat menggunakan bermacam-macam detektor, kolom dapat digunakan kembali,
reprodusibilitasnya lebih baik, instrumennya memungkinan untuk bekerja secara
otomatis. Namun demikian, KCKT juga memiliki keterbatasan antara lain untuk
tidak memungkinkan untuk identifikasi senyawa, kecuali jika KCKT dihubungkan
dengan spektrometer massa dan sulit untuk mendapatkan resolusi yang baik jika
sampelnya sangat kompleks (Ahuja & Dong, 2005).

Dalam KCKT terdapat dua komponen penting yang berperan dalam proses
pemisahan yaitu fase gerak dan fase diam. Fase gerak terdiri atas campuran pelarut
yang dapat bercampur secara keseluruhan yang berperan dalam daya elusi dan
resolusi. Daya elusi dan resolusi suatu senyawa dalam campuran sampel tergantung
pada polaritas pelarut, polaritas fase diam dan sifat-sifat komponen sampel. Untuk
fase normal (fase diam lebih polar dari fase gerak), kemampuan elusi meningkat
dengan meningkatnya polaritas pelarut. Untuk fase terbalik (fase diam kurang polar
dari fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut.
Fase gerak yang biasa digunakan antara lain n-heksana, kloroform, diklorometan,
asetonitril, etanol, metanol dan air. Fase diam berfungsi menahan komponen
campuran. Fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair. Fase diam yang biasa
digunakan antara lain; silika yang bersifat polar, serta yang bersifat non-polar
seperti oktadesil silika, polimer stirin atau divinil benzen (Ahuja & Dong, 2005).

5
2.2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Analisis dengan KCKT
a. Waktu Retensi (tR)
Waktu retensi merupakan durasi yang dibutuhkan sampel mencapai detektor,
dihitung setelah injeksi sampel. Waktu retensi dari komponen lain selain sampel
disebut t0, yang biasanya disebabkan oleh elusi dari pelarut sampel. Puncak waktu
retensi memiliki lebar dan ketinggian. Tinggi atau area puncak sangat proporsional
untuk penentuan konsentrasi dalam sampel, dengan perhitungan secara kuantitatif.
Area puncak digunakan dalam penentuan konsentrasi karena memberikan hasil
pengukuran secara kuantitatif yang lebih akurat (Ahuja & Dong, 2005).

b. Faktor Kapasitas (k’)


Faktor kapasitas dihitung dengan cara normalisasi waktu retensi terhadap t0. Faktor
kapasitas menetukan berapa kali analit yang dapat terpisahkan dengan komponen
lain.
(𝑡𝑡𝑅𝑅 − 𝑡𝑡0)
𝑘𝑘 ′ =
𝑡𝑡0
Keterangan :
tR = waktu retensi analit
t0 = waktu retensi spesi yang tidak diretensi oleh kolom

Apabila faktor kapasitas bernilai nol, maka analit tidak terelusi dengan fase gerak
yang digunakan. Jika faktor kapasitas bernilai 1, maka analit sedikit terelusi dan
tertahan di kolom kromatografi, dan bila faktor kapasitas bernilai 20 berarti analit
sangat terelusi dan tertahan di kolom kromatografi serta memiliki waktu lebih lama
untuk berinteraksi dengan fase diam. Di dalam sebagian besar pengujian, elusi
analit dengan nilai k’ 1-20 dinilai cukup baik, sementara nilai k’ diatas 20 dinilai
cukup bermasalah karena waktu elusi yang lama dan menghasilkan sensitivitas
yang buruk dari sisa puncak yang meluas di dalam kolom (Ahuja & Dong, 2005).

c. Selektivitas (α)
Selektivitas atau faktor pemisahan (α) adalah pengukuran dari retensi dua analit
yang berbeda. Selektivitas ditunjukkan sebagai rasio dari faktor kapasitas, dimana
nilainya harus lebih dari 1. Selektivitas sangat bergantung pada sifat dari fase diam
(C18, C8, Phenyl, Cyano, dan sebagainya) dan komposisi fase gerak (Ahuja & Dong,
2005). Faktor selektifitas dinyatakan dengan rumus:

6
𝐾𝐾2
α =𝐾𝐾1

Keterangan :
K2 = faktor kapasitas dari peak yang terelusi di akhir
K1 = faktor kapasitas dari peak yang terelusi di awal

d. Resolusi (R)
Resolusi adalah derajat pemisahan dari dua puncak analit yang berdekatan, dengan
waktu retensi berbeda dan dibagi dengan rata-rata lebar dasar puncak. Nilai resolusi
yang diharapkan adalah lebih dari 2, karena kondisi tersebut menetukan ketahanan
pemisahan dan kuantifikasi yang lebih baik (Ahuja & Dong, 2005).
2 (𝑡𝑡𝑅𝑅𝑅𝑅 −𝑡𝑡𝑅𝑅𝑅𝑅 )
Rs= 𝑊𝑊𝑏𝑏 +𝑊𝑊𝑎𝑎

Keterangan :
tR = waktu retensi analit
t0 = waktu retensi spesi yang tidak diretensi oleh kolom
w = lebar dasar puncak
a = senyawa A
b = senyawa B

2.2.2. Parameter Fase Gerak


a. Kekuatan dan Selektivitas Pelarut Organik
Kekuatan pelarut organik atau persentase kadar pelarut organik dalam fase gerak
menentukan waktu retensi analit dan berdampak juga pada selektivitas (Ahuja &
Dong, 2005).

b. Dapar
Berbagai jenis obat memiliki berbagai gugus fungsional yang bersifat asam atau
basa, yang dapat muncul dalam bentuk terionisasi dan tidak terionisasi. Bentuk
ionik dan derajat ionisasi sangat berpengaruh waktu retensi dalam RPLC (Reverse
Phase Liquid Chromatography) atau fase balik. Biasanya bentuk ionik tidak
terpartisi dengan baik ke dalam fase diam hidrofobik sehingga nilai faktor
kapasitasnya menjadi lebih rendah jika dibandingkan dengan bentuk tidak
terionisasi. Dapar biasa digunakan untuk mengontrol pH dari fase gerak untuk
pemisahan analit yang bersifat asam atau basa (Ahuja & Dong, 2005).

7
Tabel II.1. Dapar yang Umum Digunakan pada HPLC Beserta pKa dan Panjang
Gelombangnya

Dapar pKa Panjang gelombang UV


(nm)
Asam trifluoroasetat 0,3 210
Fosfat 2,1 ; 7,2 ; 190
12,3
Sitrat 3,1 ; 4,7 ; 225
5,4
Format 3,8 200
Asetat 4,8 205
Karbonat 6,4 ; 10,3 200
Tris(hidroksimetil)aminometana 8,3 210
Amonia 9,2 200
Borat 9,2 190
Dietilamin 10,5 235

c. Fase Gerak Bersifat Asam


Fase gerak dengan nilai pH 2,5-3,0 adalah titik awal yang baik untuk diaplikasikan
ke sebagian besar sediaan farmasi, karena pH yang rendah menekan laju ionisasi
sehingga nilai waktu retensi menjadi lebih baik. Asam yang biasa digunakan untuk
preparasi fase gerak adalah asam fosfat, asam format, dan asam asetat (Ahuja &
Rasmussen, 2007).

2.2.3. Karakterisasi Kolom


Metode RPLC telah banyak digunakan dalam proses kontrol kualitas dari produk
farmasetik. Selama proses KCKT berlangsung, beberapa tantangan yang harus
diatasi pada fase diam adalah selektivitas, stabilitas, dan reprodusibilitas.
Selektivitas kolom dan bentuk puncak sampel yang diinjeksikan ke KCKT sangat
bergantung pada karakteristik kolom yang digunakan. Beberapa karakteristik
tersebut adalah efisiensi kolom, hidrofobisitas, aktivitas silanol, kapasitas penukar
ion, selektivitas sterik, dan elemen pengotor (Ahuja & Rasmussen, 2007).

8
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
HPLC (Shimadzu SCL-10A VP), timbangan analitik (Sartorius BL 210 S), kertas
timbang, alat suntik, pH meter, filter milliphore 0,45 µm dan alat-alat gelas
laboratorium yang umum digunakan seperti labu takar, gelas ukur, pipet volume,
pipet tetes, corong, erlenmeyer dan gelas kimia.

3.1.2. Bahan
Bahan baku erdostein, sediaan suspensi kering erdostein yang beredar dipasaran,
PVP, CMC-Na, natrium benzoat, aquabidestillata, asetonitril (Grade HPLC),
asam asetat (Grade HPLC), metanol (Grade HPLC).

3.2. Prosedur Penelitian


3.2.1. Sistem Kromatografi
Kolom Inertsil ODS-3 C-18 (4,6 x 150 mm, 5 µm), fase gerak campuran asetonitril
: asam asetat 1% (80:20), laju alir 1 mL per menit, detektor UV λmaks 235 nm.

3.2.2. Pembuatan Sediaan Suspensi Simulasi Erdostein


Bahan-bahan yang digunakan dalam sediaan suspensi simulasi adalah Erdostein,
Na-CMC, natrium benzoat, dan PVP. Masing-masing zat dihaluskan secara
terpisah, kecuali Na-CMC dan PVP (dilarutkan dalam air). Kemudian dibuat massa
granul dengan mencampurkan semua bahan yang telah halus dengan larutan PVP
hingga terbentuk massa granul yang dapat dikepal dan dipatahkan. Lalu diayak
massa tersebut dengan pengayak no. 12, lalu dikeringkan dalam oven hingga kadar
air granul kurang dari 2%. Granul kemudian diayak kembali dengan ayakan no. 14,
lalu ditimbang kembali dan dicampurkan dengan serbuk Na-CMC hingga homogen
(Niazi, 2009). Granul suspensi kering dimasukkan dalam botol coklat dan siap
untuk direkonstitusi dan digunakan untuk uji kesesuaian sistem.

9
Tabel III.1 Formula Sediaan Simulasi
Bahan Formula
Erdostein 175 mg / 5mL
PVP 2%
CMC-Na 1%
Na benzoat 0,25%
Aquadest ad 60mL

3.2.3. Uji Kesesuaian Sistem


Uji kesesuaian sistem dilakukan dengan cara membuat campuran fase gerak yaitu
asetonitril : asam asetat 1% (80:20). Kemudian dilakukan pengujian kesesuaian
sistem yang bertujuan untuk memastikan keefektian sistem operasional pengujian.
Optimasi fase gerak meliputi penentuan faktor kapasitas (k’) dan resolusi (R).
(𝑡𝑡𝑅𝑅 − 𝑡𝑡0) 2 (𝑡𝑡𝑅𝑅𝑅𝑅 −𝑡𝑡𝑅𝑅𝑅𝑅 )
𝑘𝑘 ′ = 𝑅𝑅 =
𝑡𝑡0 𝑊𝑊𝑏𝑏 +𝑊𝑊𝑎𝑎

Keterangan :
tR = waktu retensi analit
t0 = waktu retensi spesi yang tidak diretensi oleh kolom
w = lebar dasar puncak
a = senyawa A
b = senyawa B

Fase gerak dinilai optimal apabila kapasitas faktor (k’) bernilai 1-20 dan resolusi
bernilai lebih dari 2 (Ahuja & Dong, 2005). Uji Kesesuaian sistem dilakukan
terhadap bahan baku, suspensi simulasi, dan suspensi yang beredar di pasaran,
dengan cara disiapkan bahan baku dan kedua suspensi dengan konsentrasi 100
μg/mL, kemudian disaring dengan filter miliphore 0,45 µm. Disuntikkan ke dalam
lubang penyuntik KCKT dan dielusi dengan fase gerak yang telah disiapkan.
Parameter yang diamati yaitu waktu retensi, faktor kapasitas, selektivitas, dan
resolusi.

3.2.4. Pembuatan Kurva Kalibrasi


Serangkaian larutan standar Erdostein dibuat dalam metanol grade HPLC dengan
konsentrasi 20, 40, 60, 80, 100, dan 120 µg/mL. Kemudian disaring dengan filter
milliphore 0,45 µm lalu disuntikkan ke dalam lubang penyuntik KCKT. Diukur
waktu retensi dan luas puncak larutan tersebut. Kurva kalibrasi dibuat dengan
membuat grafik hubungan luas puncak terhadap konsentrasi, kemudian dihitung
persamaan regresi liniernya.

10
3.2.5. Penetapan Kadar Bahan Baku Erdostein
Penetapan kadar bahan baku Erdostein dilakukan dalam beberapa jenis pelarut,
yaitu air, dapar asetat pH 4, dapar asetat pH 5, dapar fosfat pH 6, dan dapar fosfat
pH 7. Erdostein sebanyak 50,0 mg dilarutkan ke dalam air hingga 50 mL. Kemudian
diambil sebanyak 1 mL dan dilarutkan masing-masing dengan beberapa jenis
pelarut yang diinginkan hingga 10 mL. Larutan uji disaring dengan penyaring
milliphore 0,45 µm. Filtrat disuntikan sebanyak 20,0 µL ke dalam alat KCKT dan
ditentukan nilai AUC (Area Under Curve) atau luas puncaknya. Kadar Erdostein
dalam suspensi dihitung dengan cara menginterpolasikan nilai AUC ke dalam
persamaan kurva kalibrasi. Ditentukan kadar dari masing-masing campuran setiap
1 jam, selama 3 jam.

3.2.6. Penetapan Kadar Erdostein dalam Suspensi Kering


Pengujian ini dilakukan terhadap 2 jenis sampel, yaitu suspensi simulasi dan
suspensi yang beredar di pasaran. Suspensi yang telah disiapkan direkonstitusi
dengan cara penambahan aquadest ke suspensi dalam dua tahapan. Tahapan
pertama aquadest diisi hingga 1,5 cm dibawah tanda batas yang tertera di botol, lalu
dikocok hingga terdispersi. Tiga menit kemudian, setelah busa yang timbul akibat
pengocokkan menghilang, sisa aquadest ditambahkan hingga tanda batas lalu
dikocok lagi hingga terdispersi. Suspensi kemudian disimpan pada suhu kamar
terkendali (15oC-30oC) (Kemenkes RI, 2014). Kedua suspensi yang sudah
direkonstitusi diambil sebanyak 5 mL lalu dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL
lalu ditambahkan metanol grade HPLC hingga 25 mL, lalu labu dikocok hingga
terdispersi. Dipipet campuran sebanyak 5 mL lalu diencerkan dengan metanol
grade HPLC hingga 25 mL. Kemudian dipipet campuran sebanyak 1 mL lalu
diencerkan dengan metanol grade HPLC hingga 25 mL. Larutan uji disaring
dengan penyaring milliphore 0,45 µm. Filtrat disuntikan sebanyak 20,0 µL ke
dalam alat KCKT dan ditentukan nilai AUC-nya. Kadar Erdostein dalam suspensi
kering dihitung dengan cara menginterpolasikan nilai AUC ke dalam persamaan
kurva kalibrasi. Ditentukan kadar dari masing-masing suspensi setiap 1 jam, selama
24 jam.

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Erdostein dapat dideteksi secara kualitatif dan kuantitatif sekaligus dengan metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) karena metode ini mampu memisahkan
senyawa-senyawa organik sekaligus penetapan kadar senyawa-senyawa tersebut
dalam sampel (Ahuja & Dong, 2005). Erdostein dideteksi dengan detektor UV
karena memiliki gugus auksokrom yang dapat menyerap radiasi ultraviolet di
panjang gelombang maksimum sebesar 235 nm. Sebelum dilakukan penetapan
kadar Erdostein dalam sampel, perlu dilakukan uji kesesuaian sistem terlebih
dahulu agar hasil pengujian baik dan dapat merepresentasikan kadar Erdostein yang
sebenarnya.
mV (x100)
Detector A:235nm

2.523/263544
2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
1.862/71669

0.75
1.464/56322

0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 min

Gambar IV.1. Kromatogram bahan baku dalam fase gerak asetonitril : asam
asetat 1% (80:20)
mV(x100)
2.474/206023

2.25 Detector A:235nm

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
1.876/93758

0.75
2.025/47009

0.50
1.445/36547

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 min

Gambar IV.2. Kromatogram suspensi simulasi dalam fase gerak asetonitril :


asam asetat 1% (80:20)

12
mV(x100)

2.448/316333
3.5 Detector A:235nm

3.0

2.5

2.0

1.5

1.876/88046
1.0

2.033/33018
1.502/53176
0.5

0.0

-0.5

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 min

Gambar IV.3. Kromatogram suspensi yang beredar di pasaran dalam fase gerak
asetonitril : asam asetat 1% (80:20)

Uji kesesuaian sistem dilakukan terhadap tiga sampel, yaitu bahan baku, suspensi
simulasi, dan suspensi yang beredar di pasaran. Sediaan simulasi digunakan sebagai
pembanding untuk mengetahui apakah formulasi suspensi yang umum digunakan
dapat mempengaruhi stabilitas kadar. Berdasarkan hasil yang diperoleh, kombinasi
fase gerak yang digunakan yaitu asetonitril : asam asetat 1% (80:20) dinilai optimal
untuk diterapkan dalam penetapan kadar Erdostein, karena telah memenuhi
beberapa parameter yang dapat dilihat di Tabel IV.1. dan kromatogramnya tersedia
di Gambar IV.1., IV.2., dan IV.3.

Tabel IV.1. Data Uji Kesesuaian Sistem Asetonitril : Asam Asetat 1% (80:20)
Parameter Bahan Suspensi Suspensi Persyaratana
baku simulasi pasaran
Kapasitas faktor 2,523 2,448 2,474 1-20
(k’)
Selektivitas (α) 1,302 4,00 1,204 >1
Resolusi (R) 11,74 11,603 10,205 >2
Efisiensi kolom 636,552 383.533 391,723 Semakin
(N) besar,
semakin
baik.
HETP (Height 0,023 0,039 0,038 Berbanding
equivalent to terbalik
theoretical plates) dengan nilai
N.
a = Handbook of Pharmaceutical Analysis by HPLC (Ahuja & Dong, 2005)

13
Koefisien korelasi (r) pada pengukuran kurva kalibrasi berada pada nilai 0,9989,
menunjukkan bahwa kurva kalibrasi erdostein dalam metanol memiliki linearitas
yang baik, dimana kriteria minimal untuk koefisien korelasi yang dianjurkan untuk
pengukuran kadar dengan KCKT adalah 0,99 (Ahuja & Dong, 2005). Maka kurva
kalibrasi tersebut dapat digunakan dalam interpolasi nilai AUC ke dalam persamaan
regresi linear untuk mendapatkan kadar Erdostein. Kurva kalibrasi Erdostein dalam
pelarut metanol tersedia di Gambar IV.4.
250000

200000

150000
AUC

100000

50000

0
0 20 40 60 80 100 120 140
KONSENTRASI (µg/mL)

Gambar IV.4. Kurva kalibrasi Erdostein dalam metanol, y = 1846,5x + 11488


(r = 0,9989)

Penetapan kadar bahan baku Erdostein dilakukan di beberapa jenis pelarut, yaitu
air dan dapar untuk mengetahui pengaruh pH terhadap kestabilan kadar. Beberapa
jenis dapar yang digunakan adalah dapar asetat pH 4 dan 5, serta dapar fosfat pH 6
dan 7. Durasi pengujian dilakukan selama 3 jam, dengan interval pengukuran kadar
sebanyak 1 jam. Data rata-rata kadar dan persentase penurunan kadar Erdostein
tersedia di Tabel IV.2. dan Gambar IV.5.

Berdasarkan data di Tabel IV.2, dari seluruh sampel menunjukkan penurunan kadar
di setiap jam interval pengukuran, dan kadar Erdostein paling stabil dengan pelarut
air murni, dan paling tidak stabil dalam pelarut dapar asetat pH 4. Penurunan drastis
yang terjadi pada kadar Erdostein pada pelarut pH 4 diprediksi karena gugus amida
pada struktur Erdostein mengalami pemutusan dalam suasana asam (Moustafa et
al., 2014). Hal tersebut menunjukkan bahwa derajat keasaman juga mempengaruhi
kestabilan kadar Erdostein.

14
Tabel IV.2. Persentase Kadar Bahan Baku Erdostein dalam Beberapa Pelarut
selama 3 jam
Pelarut Waktu (jam) % Kadar
0 100,25
1 95,75
Air
2 94,15
3 93,29
0 36,40
1 36,38
Dapar pH 4
2 32,21
3 30,75
0 63,07
1 62,99
Dapar pH 5
2 62,18
3 58,26
0 69,68
1 66,95
Dapar pH 6
2 64,98
3 64,39
0 67,51
1 63,52
Dapar pH 7
2 63,19
3 59,59

120.00%

100.00%

80.00%

60.00%

40.00%

20.00%

0.00%
T0 T1 T2 T3

Air murni Dapar pH 4 Dapar pH 5 Dapar pH 6 Dapar pH 7

Gambar IV.5. Persentase stabilitas kadar bahan baku Erdostein dalam beberapa
pelarut selama 3 jam

Pada penetapan kadar suspensi simulasi dan suspensi yang beredar di pasaran,
diperoleh rata-rata dan persentase kadar Erdostein yang relatif mengalami
penurunan. Durasi pengujian adalah selama 24 jam, dimana kadar Erdostein yang
diukur adalah pada jam ke-0, jam ke-1, jam ke-2, jam ke-3, jam ke-4, jam ke-5, dan
jam ke-24. Pada pada suspensi simulasi dan suspensi yang beredar di pasaran, kadar

15
Erdostein mengalami penurunan setiap jamnya dimana penurunan kadar paling
terlihat pada jam ke-4, jam ke-5, dan jam ke-24. Berdasarkan hasil pengujian
tersebut dapat diprediksi bahwa Erdostein mengalami hidrolisis sehingga kadarnya
tidak stabil dalam fase cair. Nilai pH pada suspensi simulasi dan suspensi pasaran
berturut-turut adalah 3,0 dan 3,6. Data rata-rata kadar dan persentase penurunan
kadar Erdostein tersedia di Tabel IV.3. dan Gambar IV.6.

Selain karena pengaruh pH sediaan yang rendah, faktor lain yang dapat memicu
proses degradasi adalah pengaruh formulasi sediaan. Faktor formulasi dari sediaan
dilaporkan berpengaruh terhadap stabilitas suatu zat aktif, salah satunya adalah
keberadaan bahan tambahan. Bahan tambahan menunjukkan efek katalis ke arah
degradasi, seperti katalisis nukleofilik oleh keberadaan sukrosa dan amina pada
degradasi obat golongan ester dan amida. Mekanisme lain yang mengarah ke
proses degradasi zat aktif adalah keberadaan molekul air yang terkandung dalam
bahan tambahan, efek perubahan pH sediaan yang disebabkan oleh bahan
tambahan, dan sebagainya (Yoshioka & Stella, 2002).

Tabel IV.3. Persentase Kadar Erdostein dalam Suspensi Kering Selama 24 jam
Pengujian
Waktu
Sampel Rata-rata %kadar
(Jam)
Suspensi pasaran 93,98051±0,359267
0
Suspensi simulasi 107,3501±1,512611
Suspensi pasaran 88,62359±1,345738
1
Suspensi simulasi 103,8318±1,850536
Suspensi pasaran 88,3515±1,055501
2
Suspensi simulasi 102,5264±1,203395
Suspensi pasaran 87,11923±0,55379
3
Suspensi simulasi 90,2357±0,713685
Suspensi pasaran 83,55383±1,262469
4
Suspensi simulasi 88,56769±0,518536
Suspensi pasaran 81,41939±1,100254
5
Suspensi simulasi 85,00465±1,612755
Suspensi pasaran 74,19661±0,996587
24
Suspensi simulasi 74,52487±1,021633

16
120.00000

100.00000

80.00000

60.00000

40.00000

20.00000

0.00000
T0 T1 T2 T3 T4 T5 T24

Suspensi Simulasi Suspensi Pasaran

Gambar IV.6. Persentase kadar Erdostein dalam suspensi kering selama 24 jam
pengujian

17
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a. Sistem kromatografi yang optimal untuk melakukan penetapan kadar Erdostein
dalam campuran adalah fase gerak campuran asetonitril : asam asetat 1%
(80:20), laju alir 1 mL per menit, detektor UV λmaks 235 nm.
b. Hasil penetapan kadar suspensi kering Erdostein yang disimpan pada suhu
ruangan dalam suspensi simulasi dan suspensi yang beredar di pasaran pada jam
ke-24 adalah 74,52% ±1,021633 dan 74,19%±0,996587.
c. Stabilitas kadar erdostein dalam suspensi kering pasca-rekonstitusi yang
disimpan pada suhu kamar dipengaruhi oleh keberadaan fase cair dan derajat
keasaman.

5.2. Saran
Untuk mendapatkan kondisi optimal bagi penyimpanan suspensi kering Erdostein
pasca-rekonstitusi, diperlukan pengujian lebih lanjut terhadap penetapan kadarnya
pada suhu lemari pendingin.

18
DAFTAR PUSTAKA

Ahuja, S, and Dong, M.W. Eds. (2005). Handbok of Pharmaceutical Analysis by


HPLC.1st Ed. United Kingdom : Elsevier, Inc., 191-217, 401-412.

Ahuja, S., & Rasmussen, H. (2007). HPLC Method Development For


Pharmaceuticals. Elsevier Ireland Ltd.

Alburyhi, M. M., Siaf, A. A., & Noman, M. A. (2013). Stability study of six brands
of amoxicillin trihydrate and clavulanic acid oral suspension present in
Yemen markets. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 5(5),
293–296.

BMKG. (2016). Temperature Trends, diakses 28 Desember 2017, dari


www.bmkg.go.id/iklim/.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2014). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar, 323-417.

Kemenkes RI. (2014). Farmakope Indonesia Edisi V. (Depkes RI, Ed.) (5th ed.).
Jakarta: Depkes RI.

Khan, M. G., Jain, P. S., Shirkhedkar, A. A., Fursule, R. A., Kale, N. K., & Surana,
S. J. (2013). Stability indicating HPLC determination of Erdosteine in bulk
drug and pharmaceutical dosage form, 3(Lc), 105–109.

Mardiono, S. (2013). Pengaruh Latihan Batuk Efektif Terhadap Frekuensi


Pernafasan Pasien TB Paru, 1(2), 224–229.

Martindale. (2009). Martindale: The Complete Drug Reference, 36th Edition.


(S.C. Sweetman, Ed.). London: Pharmaceutical Press, p, 1560.

Mhaske, D. V, & Dhaneshwar, S. R. (2007). High-Performance Thin-Layer


Chromatographic Method for Determination of Erdosteine in
Pharmaceutical Dosage Forms, (19), 170–184.

Niazi, S. K. (2009). Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations


(2nd ed.). New York: Informa Healthcare.

Wiyono, W.H. (2012). Peran Erdostein Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik.
Medicinus, 25 (1), 9-12.

Yoshioka, S., & Stella, V. J. (2002). Stability of Drugs and Dosage Forms. New
York: Kluwer Academic Publisher.

19
LAMPIRAN 1
RANCANGAN KERJA

Uji Kesesuaian Sistem


- Pembuatan sediaan simulasi
- Preparasi sediaan uji
- Pengukuran kromatogram
- Penghitungan parameter uji seperti waktu
retensi, faktor kapasitas, selektivitas,
efisiensi dan resolusi

Tidak memenuhi parameter uji Memenuhi parameter uji

Penentuan stabilitas kadar Erdostein


pada suhu kamar terkendali (15o-
Orientasi perbandingan fase gerak 30oC)
yang digunakan atau mengganti
jenis fase gerak

Bahan baku Suspensi Bahan baku Suspensi


dalam air simulasi dalam dalam dapar pasaran dalam
air air

Pengolahan data

Gambar V.1. Rancangan prosedur penelitian

20
LAMPIRAN 2
SERTIFIKAT ANALISIS

Gambar V.2. Sertifikat analisis Erdostein

21
LAMPIRAN 3
KURVA KALIBRASI ERDOSTEIN DALAM METANOL

250000

200000

150000
AUC

100000

50000

0
0 20 40 60 80 100 120 140
KONSENTRASI (µg/mL)

Gambar V.3. Kurva kalibrasi Erdostein dalam metanol, y = 1846,5x + 11488


(r = 0,9989)

Tabel V.1. Data Pengukuran Kurva Kalibrasi


Konsentrasi
AUC
(µg/mL)
20 47388
40 83435
60 123061
80 163321
100 198370
120 228886

Keterangan :
AUC = Area Under Curve

22
LAMPIRAN 4
DATA PENETAPAN KADAR SUSPENSI SIMULASI

Tabel V.2. Data Penetapan Kadar Suspensi Simulasi Erdostein selama 24 Jam
Waktu AUC x BHA %kadar Rata-rata %kadar
(jam) (mg)
115067 59,3424 185,4451 105,968622
0 116192 59,9846 187,4518 107,115336 107,3501±1,512611
118008 61,0212 190,6912 108,966388
111521 57,3183 181,3139 103,607920
1 112946 58,1317 185,1222 105,784128 103,8318±1,850536
110603 56,7943 178,6810 102,103431
103809 52,9163 165,3633 94,493326
2 104090 53,0767 165,8646 94,779749 102,5264±1,203395
100831 51,2164 160,0512 91,457846
100214 50,8642 158,9506 90,828937
3 99827 50,6433 158,2603 90,434467 90,2357±0,713685
98855 50,0885 156,5265 89,443706
97661 49,4069 154,3967 88,226660
4 98606 49,9463 156,0823 89,189900 88,56769±0,518536
97808 49,4908 154,6589 88,376497
94393 47,5415 148,5673 84,895583
5 96133 48,5347 151,6710 86,669167 85,00465±1,612755
92974 46,7315 146,0361 83,449194
84038 41,6308 130,096 74,340716
24 85299 42,3506 132,346 75,626055 74,52487±1,021633
83319 41,2204 128,814 73,607838

Keterangan :
AUC = Area Under Curve
X = Analit
BHA = Bobot hasil analisis

23
LAMPIRAN 5
KROMATOGRAM PENGUJIAN PENETAPAN KADAR SUSPENSI
SIMULASI ERDOSTEIN

Tabel V.3. Kromatogram Suspensi Simulasi Erdostein selama Pengujian 24 Jam


Waktu (jam) Gambar
mV(x100)
3.5 Detector A:235nm

2.355/318698
3.0

2.5

2.0

1.5

0 1.0

0.5

0.0

-0.5

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 min

mV(x100)
Detector A:235nm

2.361/329986
3.5

3.0

2.5

2.0

1.5

1
1.0

0.5

0.0

-0.5

-1.0
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min
mV(x100)
Detector A:235nm
2.365/318699

3.5

3.0

2.5

2.0

1.5

2
1.0

0.5

0.0

-0.5

-1.0
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min

24
LAMPIRAN 5
(LANJUTAN)

Waktu (jam) Gambar


mV(x100)
Detector A:235nm

2.363/310549
3.5

3.0

2.5

2.0

1.5

3 1.0

0.5

0.0

-0.5

-1.0
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min

mV(x100)
Detector A:235nm

2.366/313194
3.5

3.0

2.5

2.0

1.5

4 1.0

0.5

0.0

-0.5

-1.0
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min

mV(x100)
Detector A:235nm
2.363/312259

3.5

3.0

2.5

2.0

1.5

5 1.0

0.5

0.0

-0.5

-1.0
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min

25
LAMPIRAN 5
(LANJUTAN)

Waktu (jam) Gambar


mV(x100)
Detector A:235nm

2.363/312259
3.5

3.0

2.5

2.0

1.5

24 1.0

0.5

0.0

-0.5

-1.0
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min

26
LAMPIRAN 6
DATA PENETAPAN KADAR SUSPENSI PASARAN

Tabel V.4. Data Penetapan Kadar Suspensi Pasaran Erdostein selama 24 Jam
Waktu AUC BHA
X %Kadar Rata-rata %kadar
(jam) (mg)
109727 52,6221 164,4440 93,968010
0 110120 52,8337 165,1053 94,345863 93,98051±0,359267
109373 52,4315 163,8484 93,627655
105764 50,4883 157,7761 90,157756
1 103593 49,3194 154,1233 88,070433 88,62359±1,345738
103148 49,0798 153,3745 87,642584
103361 49,1945 153,7329 87,847374
2 105147 50,1561 156,7379 89,564537 88,3515±1,055501
103148 49,0798 153,3745 87,642584
102727 48,8532 152,6662 87,237811
3 101976 48,4488 151,4026 86,515756 87,11923±0,55379
103108 49,0583 153,3072 87,604126
98912 46,7991 146,2472 83,569852
4 97574 46,0787 143,9960 82,283422 83,55383±1,262469
100200 47,4926 148,4144 84,808209
95475 44,9486 140,4643 80,265324
5 97754 46,1756 144,2988 82,456484 81,41939±1,100254
96797 45,6604 142,6886 81,536370
88009 40,9288 127,9024 73,087085
24 89465 41,7127 130,3522 74,486966 74,19661±0,996587
90015 42,0088 131,2776 75,015768

Keterangan :
AUC = Area Under Curve
X = Analit
BHA = Bobot hasil analisis

27
LAMPIRAN 7
KROMATOGRAM PENGUJIAN PENETAPAN KADAR SUSPENSI
PASARAN ERDOSTEIN

Tabel V.5. Kromatogram Suspensi Pasaran Erdostein selama Pengujian 24 Jam


Waktu Gambar
mV(x100)

2.456/279775
Detector A:235nm
3.00

2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

0 1.00

1.868/65919
0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 min
mV(x100)
2.479/200245

2.25 Detector A:235nm

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
1.857/84388

0.75
1
0.50
1.424/30136

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 min

mV(x100)
Detector A:235nm
2.457/209035

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
1.838/76797

2 0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 min

28
LAMPIRAN 7
(LANJUTAN)

Waktu Gambar
mV(x100)

2.471/207996
Detector A:235nm
2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

1.876/83568
3 0.75

0.50

1.497/48966
0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min
mV(x100)

2.470/211730
Detector A:235nm
2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
1.851/88172

4 0.75
2.033/23069
1.425/32870

0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min
mV(x100)
2.460/204277

2.25 Detector A:235nm

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00
1.883/81647

0.75
5 0.50
1.421/30727

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 min

29
LAMPIRAN 7
(LANJUTAN)

Waktu Gambar
mV(x100)

2.458/213588
Detector A:235nm
2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

1.855/73790
24 0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50

-0.75

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min

30
LAMPIRAN 8
DATA PENETAPAN KADAR ERDOSTEIN DALAM BEBERAPA JENIS PELARUT

Tabel V.6. Data Kadar Erdostein dalam Beberapa Jenis Pelarut selama 3 Jam
AUC BHA AUC BHA AUC BHA AUC BHA
Pelarut X %kadar X % kadar X % kadar X % kadar
t-0 (mg) t-1 (mg) t-2 (mg) t-3 (mg)
Air 263749 100,25 50,13 100,25 252389 95,75 47,88 95,75 248333 94,15 47,07 94,15 246172 93,29 46,65 93,29
pH 4 102495 36,40 18,20 36,40 102452 36,38 18,19 36,38 91916 32,21 16,10 32,21 88229 30,75 15,37 30,75
pH 5 169845 63,07 31,53 63,07 169639 62,99 31,49 62,99 167605 62,18 31,09 62,18 157710 58,26 29,13 58,26
pH 6 186553 69,68 34,84 69,68 179656 66,95 33,48 66,95 174674 64,98 32,49 64,98 173175 64,39 32,19 64,39
pH 7 181066 67,51 33,76 67,51 170978 63,52 31,76 63,52 170147 63,19 31,59 63,19 161057 59,59 29,79 59,59

Keterangan :
AUC = Area Under Curve
X = Analit
BHA = Bobot hasil analisis
31
LAMPIRAN 9
KROMATOGRAM ERDOSTEIN DALAM BEBERAPA JENIS PELARUT

Tabel V.7. Kromatogram Erdostein dalam Beberapa Jenis Pelarut


Waktu Jenis Gambar
(jam) Pelarut
mV (x100)
Air

2.441/263479
Detector A:235nm
2.75

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

1.488/8755
0.25

0.00

-0.25

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min

mV (x100)
pH 4
1.247/733476

8.0 Detector A:235nm

7.5

7.0

6.5

6.0

5.5

5.0

4.5

4.0

0 3.5

3.0

2.5
2.535/88229

2.0
1.587/55873

1.5

1.0

0.5

0.0

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 min


mV (x100)
pH 5
1.219/224545

Detector A:235nm

2.25
2.289/174674

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 min

32
LAMPIRAN 9
(LANJUTAN)

Waktu Jenis Gambar


(jam) Pelarut
mV (x100)
pH 6

1.219/224545
Detector A:235nm

2.25

2.289/174674
2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 min

mV (x100)
pH 7

2.251/164200
Detector A:235nm
1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

3.352/1468
0.633/617

0.25

0.00

-0.25

-0.50
0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 3.50 min

mV (x100)
Air
2.445/252389

2.75 Detector A:235nm

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1 1.00

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min

33
LAMPIRAN 9
(LANJUTAN)

Waktu Jenis Gambar


(jam) Pelarut
mV (x100)
pH 4

2.628/91916
1.0 Detector A:235nm

0.9

0.8

1.594/63921
0.7

0.6

0.5

1.245/31793
0.4

0.3

0.2

0.1

0.0

-0.1

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 min

mV(x100)
pH 5 Detector A:235nm

2.750/167605
1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50
1.243/21071

0.25
1.486/7966

0.00

-0.25

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min

mV (x100)
pH 6
2.299/179656

2.00 Detector A:235nm

1.75

1.50

1.25

1.00
1.234/58964

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 3.25 min

34
LAMPIRAN 9
(LANJUTAN)

Waktu Jenis Gambar


(jam) Pelarut
mV (x100)
pH 7

2.259/161057
1.75 Detector A:235nm

1.50

1.25

1.00

0.75

1.223/30498
0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 min

mV (x100)
Air

2.696/248333
Detector A:235nm

2.50

2.25

2.00

1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50
1.491/8985

0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 min

2
mV (x100)

pH 4
2.713/102495

Detector A:235nm
1.1

1.0

0.9

0.8
1.593/65375

0.7

0.6
1.245/41969

0.5

0.4

0.3
2.325/1798

0.2

0.1

0.0

-0.1

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 min

35
LAMPIRAN 9
(LANJUTAN)

Waktu Jenis Gambar


(jam) Pelarut
mV (x100)
pH 5

2.768/169845
Detector A:235nm
1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

1.241/22344
0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 min

mV (x100)
pH 6
2.312/173175
Detector A:235nm

1.75

1.50

1.25

1.00
1.235/55593

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 min

mV (x100)
pH 7
2.319/170147

Detector A:235nm
1.75

1.50

1.25

1.00

0.75
1.235/31244

0.50

0.25

0.00

-0.25

-0.50
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 min

36
LAMPIRAN 9
(LANJUTAN)

Waktu Jenis Gambar


(jam) Pelarut
mV (x100)
Air Detector A:235nm

2.389/173662
1.75

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.00 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00 2.25 2.50 2.75 3.00 min
mV (x100)

pH 4

2.713/102495
Detector A:235nm
1.1

1.0

0.9

0.8
1.593/65375

0.7

0.6
1.245/41969

0.5

0.4

0.3
2.325/1798

0.2

0.1

0.0

-0.1

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 min

mV (x100)
pH 5
2.768/169845

3 1.75
Detector A:235nm

1.50

1.25

1.00

0.75

0.50
1.241/22344

0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 min

mV (x100)
pH 6
2.312/173175

Detector A:235nm

1.75

1.50

1.25

1.00
1.235/55593

0.75

0.50

0.25

0.00

-0.25

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 min

37
LAMPIRAN 9
(LANJUTAN)

Waktu Jenis Gambar


(jam) Pelarut
pH 7 mV(x100)

2.433/320480
3.5 Detector A:235nm

3.0

2.5

2.0

1.5

1.857/91820
1.0

2.042/41537
0.5

0.0

-0.5

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 min

38