Anda di halaman 1dari 7

EVALUASI PASCA HUNI (EPH) PADA TAMAN BUNGKUL

SURABAYA

Waffiq Wildany(H03216023) (wwildany@gmail.com)


Habib Firauni Roby (H73216038) (ainhabib29@gmail.com)
Dimas Wahyu Saputra (H73216060) (dimaswahyus19@gmail.com)
Muhammad Rosyid (H73216070) (muhamadrosyd037@gmail.com)

ABSTRAK

Taman bungkul merupakan salah satu ruang public (taman) terbesar di Surabaya. Letaknya
yang tepat di jantung kota Surabaya menjadi salah satu ikon tersendiri. Dengan berbagai
fasilitas penunjang yang dirasa cukup lengkap taman bungkul selalu ramai oleh pengunjung
dan wisatawan. Seiring dengan perkembangan masyarakat perlu adanya peningkatan/ evaluasi
pada ruang public khususnya taman bungkul ini agar fungsi taman ini terus berkembang dan
bermanfaat bagi pengunjung serta menguji kelayakan performa. Metode yang dilakukan adalah
Metode Investigatif yaitu penilaian berdasarkan literatur dan perbandingan dengan bangunan
atau fasilitas lainnya yang sama. Dalam hal ini evaluasi dilakukan berdasarkan observasi
langsung pada lapangan lalu diperbandingkan standar fasilitas pada bangunan taman. Hasil dari
evaluasi menunjukkan kondisi fasilitas taman bungkul jika dibandingkan dengan standar
fasilitas pada taman. Sehingga dapat menjadi dasar dalam proses pengembangan taman
bungkul.

Kata Kunci : ruang public, evaluasi, pasca huni, taman

PENDAHULUAN
Taman Bungkul Surabaya merupakan salah satu ikon kota Surabaya. Taman ini
direvitalisasi dan diresmikan pada 21 Maret 2007. Taman ini berlokasi di Jalan Darmo dan
merupakan taman yang paling banyak dikunjungi di Surabaya, khususnya pada akhir pekan.
Menurut sejarah, taman ini berlokasi di tempat yang dulunya merupakan sebuah desa
bernama Desa Bungkul.
Taman Bungkul berdiri di lahan seluas 900 meter persegi dan merupakan ruang
terbuka hijau yang dilindungi oleh pemerintah. Sejak direvitalisasi, taman ini telah semakin
diperlengkap dengan berbagai macam fasilitas. Penjual makanan yang berderet di sisi timur
kompleks taman tersebut juga menjadi bukti bahwa taman ini juga menjadi sumber
penghidupan bagi beberapa masyarakat kelas menengah ke bawah. Warung-warung yang
terletak di belakang taman menawarkan berbagai macam makanan khas Jawa Timur seperti
Rawon dan Soto.
Sejak Taman Bungkul diresmikan pada tanggal 21 Maret 2007, pengunjung terus
meningkat dari segala macam usia dan latar belakang. Lokasi yang mudah dijangkau, suasana
taman dan kawasan yang teduh di iklim Surabaya yang panas, keberadaan petugas keamanan
24 jam (tiga shift jaga), fasilitas yang ramah terhadap penyandang cacat dan lansia serta
suasana terang di malam menjadikan Taman Bungkul mampu berfungsi sebagai destinasi
baru di Kota Surabaya (Alim, 2007). Variasi event kegiatan di taman juga terus bertambah
terutama kegiatan-kegiatan rutin (harian, mingguan) dan temporer (insidentil) yang digelar
oleh berbagai komunitas (skateboard, BMX, bloger, dll), mahasiswa, organisasi masyarakat,
partai politik maupun oleh masyarakat umum. Keramaian yang timbul kembali di taman ini
berdasarkan pengamatan lapangan berpengaruh terhadap kawasan sekitar dimana
perdagangan seperti FO (Factory Outlet), cafe, restoran, travel tour, dan sejenisnya lebih
ramai dan mulai muncul beberapa tempat bisnis baru yang meramaikan kawasan.
Pembangunan Taman Bungkul yang telah berfungsi sebagai destinasi serta mampu
mendorong investor untuk melakukan bisnis disekitar taman dan mendirikan beberapa fungsi
komersial baru menjadikan taman telah berfungsi sebagai katalis urban kota lama Surabaya.
Taman Bungkul juga telah mendapatkan prestasi tingkat internasional sebagai taman
terbaik se-Asia. Pada tanggal 26 November 2013, Walikota Surabaya periode 2010-2015, Tri
Rismaharini datang ke Jepang untuk menerima langsung penghargaan tersebut dari
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Taman sebagai ruang publik perkotaan memiliki fungsi yang esensial bagi masyarakat
perkotaan. Agar taman tersebut dapat terus dinikmati dan digunakan oleh masyarakat
diperlukan perancangan yang baik dan berkelanjutan dengan lingkungan sekitar. Selain itu
untuk menjaga keberlangsungannya, diperlukan evaluasi secara periodik untuk
mengidentifikasi permasalahan dan melakukan perbaikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Taman Bungkul sebagai salah satu ruang
publik di Kota Surabaya.

METODE
Evaluasi Purna Huni atau Post Occupancy Evaluation adalah proses evaluasi terhadap
bangunan dengan cara sistematis dan teliti setelah bangunan selesai dibangun dan telah dipakai
untuk beberapa waktu. (Preiser, dalam Hermanto, 2000). Dalam hal pembaruan secara
psikologis dapat dilihat karena lingkungan yang ada sudah tidak menarik baih dalam hal
penilaian kognitif maupun afektif fungsi psikologis dari perencana yang lebih berperan dalam
melakukan pembaruan dan merupakan hal wajib dalam memperhatikan aspek kognitif dan
afektif dalam pengguna lingkungan , jika tidak memperhatikan hal tesebut perubahan akan
menjadi sia sia (zulriska Iskandar dalam psikologi lingkungan: teori dan konsep, 2012)

Tahapan yang dilakukan dalam evaluasi purna huni adalah


1. Perencanaan

2. Pengumpulan data
3. Penerapan
Metode EPH yang digunakan adalah metode investigatif yaitu menggunakan kriteria
penelitian secara objektif dan eksplisit. Kriteria evaluasi meliputi dua jenis kegiatan yatu
penilaian berdasarkan literatur dan perbandingan dengan bangunan atau fasilitas lain Dalam
Evaluasi Purna Huni taman bungkul, elemen penelitian yang dilakukan adalah Elemen
Fungsional. Menurut Sudibyo dalam Prabowo (2000), beberapa bagian kritis dari aspek
fungsional antara lain:

 Pengelompokan fungsi. Menyangkut konsep pengelompokan fungsi-fungsi yang


berlangsung dalam satu bangunan.
 Sirkulasi. Pengaturan sirkulasi dapat mempengaruhi arah kemana pengunjung akan
berjalan dan dapat mencapai semua fasilitas secara merata.
 Faktor Manusia. Terutama akan menyangkut segi perancangan standar. Yang sering
diangkat sebagai objek adalah kondisi spesifik dari fasilitas terhadap penggunanya
berkaitan dengan dimensi ruang dan jenis fasilitas pada bangunan.
 Fleksibilitas dan perubahan. Evaluasi terhadap perubahan fungsi, susunan organisasi
dan kegiatan dapat mempengaruhi rancangan tata luar dan prasarana

Elemen – elemen tersebut digunakan karena memegang peranan penting terhadap


terhadap performa kawasan dan bangunan berkaitan dengan fungsi pada masing masing
fasilitas pada taman bungkul.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode investigatif yaitu dengan
membandingkan kondisi eksisting berdasarkan observasi langsung dengan standar kebutuhan
fasilitas berdasarkan studi literatur. Tahapan yang dilakukan adalah
1. Perencanaan. Pada perencanaan dilakukan identifikasi terhadap objek yaitu taman
bungkul.
2. Pengumpulan data, dengan mengumpulkan dokumen dari studi literatur maupun
studi komparasi serta data dari pemerintah daerah, wawancara informal dengan pengelola
Taman bungkul serta beberapa pengunjung, mencatat data mengenai kondisi eksisting
fasilitas pada taman bungkul serta data potensi dan kondisi tapak.
3. Penerapan. Yaitu pelaporan serta pengambilan tindakan setelah diketahui hasil
evaluasi.

KAJIAN TEORI
Ketika mengunjungi suatu tempat baru , setiap orang dapat memberikan penilaian bahwa
daerah tersebut baik atau buruk. Proses yang terjadi dalam melakukan evaluasi lingkungan adalah
persepsi. Di dalam diri manusia yang terjadi diawali oleh proses pengindraan, kemudian proses dalam
kognisinya memberikan arti dan menilai lingkungan yang dihadapi (zulriska Iskandar,2012).
1. Pemilihan suatu lingkungan
Ketertarikan suatu objek dapat dikarenakan sebagai hasil evaluasi komponen kognitif
atau disebabkan oleh komponen emosi atau afektif karena ia menyenangi objek tersebut.
untuk memilih lingkungan objek tersebut harus memiliki daya Tarik. steven dan Rachel
Kaplan melakukan penelitian dan menggunakan model preferensi mendapatkan hasil tersebut
(psikologi lingkungan: teori dan konsep,2012).
1. Coherence
Tingkatan pemandangan objek yang saling bergantung atau memiliki organisasi.
Semakin koheren, pemandangan yang terorganisasi akan mendapatkan poin lebih
besar untuK dipilih.
2. Legibility
Tingkatan yang dapat membedakan pengamat untuk memahami atau
mengkategorikan isi pemandangan objek. pengunjung akan lebih mudah
memahami apa yang ingin dilihat, karena dapat menduga makna lingkungan yang
diamatinya.
3. Complexity
Jumlah dan variasi dari elemen elemen pemandangan yang berada pada
lingkungan. Semakin beragam suatu lingkungan akan lebih menarik
dibandingkan dengan lingkungan yang tidak kompleks atau monoton yang akan
menimbulkan kebosanan. Karena terjadi stimulasi yang kurang
4. Mystery
Tingkatan dimana pemandangan objek berisikan informasi tersembunyi, dengan
adanya salahsatu yang tergambarkan dalam pemandangan yang akan dicari
informasinya. lingkungan yang memiliki informasi tersembunyi akan
menimbulkan keinginan seorang untuk mencari tahu informasi tersembunyi
dalam lingkungannya

2. Evaluasi lingkungan
Dalam melakukan evaluasi lingkungan pada penilaian lingkungan , berlyne
mengemukakan konsep utama dalam hal manusia menilai lingkungan. Membandingkan objek
serupa yang pernah dialami pada masa lalu dan yang dirasakan saat tertentu,
1. Kompleksitas
seorang akan terkesankan oleh elemen kompleksitas yang terdapat pada lingkungan,
Sebagaimana pada teori stimulus berlebihan , maka stimulus lingkungan tersbut memiliki
variasi yang amat berlebihan dan stimulus yang dihadapi pada saat tertentu belum tentu
akan menarik, dan hal ini berarti , bahwa elemen lingkungan yng memiliki variasi yang
cukup akan lebih menarik.

2. Baru
Elemen lain untuK membandingkan suatu objek lingkungan dengan objek lingkungan
yang lain adalah keterbaruan. Lingkungan akan lebih menarik pengunjung jika terdapat
keterbaruan , bukan berarti berbeda linngkungan namun lingkungan dengan fungsi yang
sama namun memiIki citra yang berbeda. Sudah menjadi barang pasti apabila ada
lingkungan yangberbda dan belum pernah dilihat sebelumnya, akan menjadi lingkungan
yang baru bagi orang yang belum pernah melihatnya.
Elemen lingkungan yang menarik terdapatnya unsur keganjilan ,manusia
seringkali tetarik dengan keganjilan . Keganjian terjadi karena adanya ketidak sesuain
diantara faktor yang terdapat di lingkungan kita dan konteksnya. Keganjilan juga akan
menimbulkan perhatian seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk membandingkan lingkungan satu dengan yang lainnya , dapat dilakukan
dengan elemen yang membuatnya heran . keheranan Ini terjadi karena meluasnya harapan
kita pada suatu objek tanpa diketahui, adanya elemen lain yang tidak diketahui dan diluar
harapan seseorang pada suatu lingkungan menyebabkan ia menjadi heran.
Konsep lain yang dikemukakan oleh berlyne adalah eksplorasi. Eksplorasi ini
memiliki dua bentuk yaitu Eksplorasi lingkungan yang mencari variasi lain dan eksplorasi
spesifik.
a. Eksplorasi yang mencari variasi lain adalah eksplorasi dikarenakan stimulusnya
kurang, sehingga manusia mencari informasi yang lain
b. Eksplorasi spesifik dilakukan karena penyelidikannya untuk mencari tahu lebih
dalam untuk memberikan kepuasan pribadi untuk memenuhi keingintahuannya
terhadap stimulus yang muncul.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Fungsi pada taman Bungkul Surabaya


Taman bungkul Surabaya memiliki empat fungsi utama yaitu komersial, olahraga,
rekreasi, dan religi. Menurut fungsi dan penataan zonasi taman bungkul, telah
memenuhi tiga dari 4 poin yang telah menjadi hasil dari penelitian kaplan yaitu
1. Coheren
Zonasi yang terbagi menurut fungsi nya pada tmana bungkul Surabaya ddapat
menarik perhatian lebih karena fungsi fungsi yang berbeda pad ataman bungkul
tekah terorganisir menurut fungsinya
2. Legibility
Sama seperti konteks diatas selain telah terorganisisr meurut fugnsinya, setip zonasi
telah memiliki citra tersendiri sebagai fungsinya. Sperti skate area pad ataman
bungkul yang memilikI suasana lingkungan yang mudah dipahami oleh pengunjung
maka daya Tarik taman bungkul Surabaya lebih tinggi
3. Complexity
Pemandangan lingkungan di taman bungkul Surabaya memiliki penataan yang
beragam dan tidak monoton, seperti pada setiap zona dengan penataan yang
disesuaikan dengan fungsinya. Penataan tempat duduk setiap zona pun tidak sama
seperti zona lain. Disamping memiliki karakter yang berbeda di setiap zona,
penataan lebih fleksibel terhadap pengunjung yang datang. Hal Ini dapat
menimbulkan daya Tarik tersendiri karena tidak menimbulkan kebosanan pada
taman bungkul Surabaya

B. Sirkulasi pada taman Bungkul Surabaya


Menurut model kaplan penataan yang terorganisir dapat menarik pengunjung untuk
datang ke tempat tersebut. namun aksesibilitas setiap fungsi juga harus diperhatikan
sirkulasi dan akses masuk pada taman bungkul telah tertata dengan baik sesuai dengan
akses setiap fungsinya. Namun hal yang merugikan adalah penataan ruang parkir yang
kurang telah menimbulkan gangguan terhadap akses kearah kawasan taman bungkul.
C. Faktor manusia yang mengunjungi taman Bungkul Surabaya (teori berlyne )
Berlyne telah mengemukakan model perbandingan terhadap evaluasi lingkungan. Pada
taman bungkul Surabaya. Menurut model kaplan perbandingan tersebut dapat berasal
dari kompleksitas dan keterbaruan fungsi. Kompleksitas pada taman bungkul telah
menjadi daya Tarik tersendiri dibandingkan dengan taman lainnya dimana taman
bungkul memiliki empat fungsi yang berbeda dan telah terorganisir sesuai dengan
fungsinya. Hal yang menjadi daya Tarik ini sebenarnya telah mencitrakan
tamanbungkul yang memilIki karakter tersendiri dibandingkan dengan taman lainnya
yang hany memilIki satu fungsi utama sebagai RTH kota dan memilikI satu fungsi
sekunder yang lain.
Keterbaruan adalah hal yang belum bisa di prediksi , karena fungsi taman bungkul yang
telah ditata sejak tahun 2007 dengan fungsi yang beragam akan menimbulkan
keterbaruan pada saat itu. Namun pada saat Ini taman bungkul telah lama digunakan
selama 12 tahun sejak diresmikan, maka taman bungkul belum dapat dikatakan
memiliki keterbaruan.
Namun jika menurut model berlyne yang mengatakan unsur keterbaruan dari
perbandingan evaluasi lingkungan, taman bungkul adalah salahsatu inovasi RTH kota
yang memiliki keterbaruan lain disbanding taman taman lainnya yaitu penataan fungsi
fungsi yang berbeda dan memiliki satu kesatuan.

Gambar 1: Siteplan Taman Bungkul

Gambar 2: A. Area Plaza Gambar 3: B. Playground


Gambar 4: C. Skate/BMX tack Gambar 5: D. Makam Mbah Bungkul

Gambar 6: E. Sentra Kaki Lima Gambar 7: E. Taman Hjau

KESIMPULAN
Taman bungkul telah memiliki citra dan karakter yang berbeda dibandingkan dengan
taman lainnya yaitu memilikI empat fungsi sekunder yang menjadi satu kesatuan yang telah
terorganisir. Karakter ini telah sesuai dengan model hasil penelitian kaplan dan berlyne dimana
taman bungkul telah memiliki daya Tarik tersendiri oleh masyarakat dengan beberapa point
yang telah disebutkan diatas

namun kurangnya lahan parkir yang dimiliki oleh taman bungkul Surabaya telah
memberikan point buruk karena mengganggu sirkulasi dan akses untuk menuju ke area taman
bungkul maupun akses menuju setiap fungsi taman bungkul Surabaya

Daftar Pustaka
1. Psikologi lingkungan: teori dan konsep, prof. Dr. Tb. zulriska Iskandar, S.Psi., M.Sc
,2012, bandung