Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Telinga merupakan organ yang dapat menangkap rangsang yang berasal dari luar,
tengah, dalam. Indera pendengaran merupakan indera mekanoreseptor karena memberikan
respon terhadap getaran mekanik gelombang suara yang terdapat diudara. Proses
mendengar ditimbulkan oleh getaran atmoser yang dikenal sebagai gelombang suara yang
kecepatandan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga
luar (auris eksterna). Telinga berfungsi untuk merubah gelombang suara menjadi impuls,
yang kemudian akan dijalarkan ke pusat pendengaran, untuk mengukur kemampuan
pendengaran, pada praktikum ini dilakukan pengujian untuk menentukan sejauh mana
kemampuan pendengaran yang dimiliki seseorang.

B. Tujuan Praktikum
Menguji kepekaan indera pendengar dan jenis ketulian
BAB II
DASAR TEORI

Fisologi pendengaran
Telinga akan mengubah gelombang bunyi di luar menjadi potensial aksi di n.
auditorius. Gelombang suara dari luar akan ditangkap dan menggetarkan membran timpani.
Gelombang diubah oleh membran timpani dan tulang pendengaran sehingga menggerakkan
kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan di telinga dalam. Gelombang
akan menggetarkan jendela oval dan menimbulkan gerakan pada koklea dan menggetarkan
membrana basalis. Gelombang pada organ korti ditangkap oleh reseptor yang kemudian
mengalami perubahan (potensial reseptor) di sel-sel reseptor. Gelombang tadi akan diubah
oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke
cabang N.VIII . Kemudian terjadi perambatan potensial aksi ke korteks auditorius di lobus
temporalis otak akan menimbulkan persepsi suara (Ganong, 2006).

Gelombang suara
Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah
bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang berselang-
seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah karena adanya penjarangan(rarefaction)
molekul udara tersebut. Setiap sumber bunyi merupakan alat yang mampu menghasilkan pola
gangguan molekul udara, seperti halnya garpu tala. Saat dipukul, garputala tersebut bergetar,
ketika garpu tala bergerak ke satu arah, molekul udara di depannya terdorong bersama
sehingga terjadi peningkatan tekanan di daerah ini. Secara bersamaan, molekul udara di
belakang gigi garpu tala menyebar dan mengalami penjarangan saat gigi garpu tala bergerak
ke depan sehingga terjadi penurunan tekanan di daerah ini. Keadaan ini menyebabkan
molekul udara terganggu oleh adanya gelombang pemampatan dan penjarangan. Energi suara
tersebut semakin lama akan semalin bergerak menjauhi sumber suara semula. Intensitas suara
menjadi berkurang hingga akhirnya lenyap ketika gelombang terakhir terlalu lemah untuk
menimbulkan gangguan molekul-molekul udara sekitar.

Suara ditandai oleh adanya nada(tone), intensitas(kekuatan,loudness),dan timbre (warna


nada)
 Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran. Semakin besar frekuensi
getaran, semakin tinggi nada .Telinga manusia dapat mendeteksi gelombang suara
dengan frekuensi dari 20 sampai 20.000 siklus per detik tetapi paling peka untuk
frekuensi antara 1000 dan 4000 siklus per detik.
 Intensitas atau kekuatan suara bergantung pada amplitudo gelombang suara, atau
perbedaan tekanan antara daerah pemadatan bertekanan tinggi dan daerah
peregangan bertekanan rendah. Dalam rentang pendengaran,semakin besar
amplitudonya,semakin keras suara. Telinga manusia dapat mendeteksi intensitas
suara dalam rentang yang luas, dari bisiskan halus hingga suara jetlepas landas yang
memekakan. Kepekakan dinyatakan dalam desibel (dB)
 Kualitas suara atau warna nada(timbre), bergantung pada overtone, yaitu
frekuensi tambahan yang menimpa nada dasar. Garpu tala memiliki nada
murni,tetapi sbagian besar suara tidaklah murni.Warna suara memungkinkan
pendengar dapat membedakan sumber gelombang suara karena setiap sumber suara
menghasilkan pola nada tambahan yang berbeda beda (Sherwood,2012).

Gangguan fisiologi telinga


Gangguan pada telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif,
sedangkan gangguan telinga dalam dapat menyebabkan tuli sensoneural yang terdiri atas tuli
koklea dan tuli retrokoklea.

Sumbatan tuba eustachius menyebabkan gangguan telinga tengah dan akan terdapat
tuli konduktif. Gangguan pada vena jugulare (aneurisma) menyebabkan telinga berbunyi
sesuai denyut jantung.

Bila terdapat radang di telinga tengah atau trauma mungkin korda timpani yang
berjalan antara incus dan maleus atau terjepit maka akan timbul gangguan pengecap.

Obat-obatan juga dapat merusak bagian telinga seperti striia vaskularis, sehingga
merusak saraf pendengaran dan terjadi tuli sensoneural. Pemakaian obat ototoksik seperti
streptomycin akan mengakibatkan tuli sensoneural dan gangguan keseimbangan.

Ketulian dibagi menjadi 3:

1. Tuli konduktif : terdapat gangguan hantaran suara, disebabkan oleh kelainan atau
penyakit telinga luar atau telinga tengah.
2. Tuli sensoneural (perseptif) : terdapat kelainan di koklea, nervus VIII atau pusat
penfengaran.
3. Tuli campur (mixed deafness) : disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan tuli
sensoneural. Tuli campur dapat merupakan suatu penyakit, misalnya radang telinga
tengah dengan komplikasi ke telinga dalam atau merupakan dua penyakit yang berlainan
misalnya tumor nervus VIII dengan radang telinga tengah. (FKUI, 2007)

Tes pendengaran
Uji kepekaan indera pendengaran dilakukan untuk mengukur kemampuan
pendengaran dalam menangkap percakapan sehari-hari, atau dengan kata lain validitas
sosial pendengaran. Ada berbagai cara untuk melakukan hal tersebut seperti penggunaan
audiometri, tes bisik dan juga tes arloji / jam weker.
Tes Rinne: tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran
tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.
Tes Weber: tujuan melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang
antara kedua telinga probandus.
Tes Schwabach: tujuan melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan
hantaran tulang antara pemeriksa dengan probandus.
Tes Bing (Tes Oklusi): tes Bing adalah aplikasi dari apa yang disebut sebagai efek
oklusi, dimana garpu tala terdengar lebih keras bila telinga normal ditutup. (Soedjak,
S. dkk.2000)
BAB III

METODOLOGI

3.1. Alat & Bahan

1. Garpu tala 112 – 870 Hz


2. Jam weker
3. Pita ukur

3.2. Cara Kerja

I. Pemeriksaan kepekaan indera pendengar

Naracoba menutup telinga kanannya dengan jari & menutup mata

Penguji menggerakan jam weker mendekati telinga kiri naracoba (dari jauh ke dekat) sampai
naracoba mendengar suara jam untuk pertama kalinya. Ukur dan catat jarak antara jam dan
telinga kiri naracoba, ulangi sampai tiga kali

Lakukan percobaan yang sama pada telinga kanan (telinga kiri ditutup). Setelah
naracoba 1 selesai, berganti dengan baracoba 2. Catat hasil danbandingkan
II. Pemeriksaan Jenis Ketulian
1. Percobaan Rinne

Penguji meletakkan pangkal garpu tala yang sudah digetarkan pada proc.
Mastoideus kanan naracoba. Saat naracoba sudah tidak mendengar suara garpu
tala, penguji segera memindahkan garpu tala ke dekat telinga

Naracoba memberitahu apakah masih terdengar atau tidak. Ulangi sebanyak tiga
kali dan catat hasilnya

Lakukan percobaan yang sama pada telinga kiri. Bandingkan hasil yang diperoleh
antara telinga kanan & kiri
2. Percobaan Weber

Penguji meletakkan pangkal garpu tala yang sudah digetarkan pada puncak kepala
(os frontalis) naracoba.

Naracoba memperhatikan intensitas suara di kedua telinga, perhatikan


kemungkinan yang terjadi (sama keras / lateralisasi). Ulangi sebanyak tiga kali
dan catat hasilnya

3. Percobaan Schwabach

Penguji meletakkan pangkal garpu tala yang sudah digetarkan pada proc.
Mastoideus naracoba. Sampai suara garpu tala melemah & sudah tidak terdengar,
pindahkan garpu tala ke proc. Mastoideus penguji (kanan) sebagai pembanding

Bagi pembanding, terdapat 2 kemungkinan yaitu mendengar suara atau tidak.


Ulangi percobaan ini sampai 3x dan catat hasilnya

4. Percobaan Bing

Penguji meletakkan pangkal garpu tala yang sudah digetarkan pada puncak kepala
(os frontalis) naracoba.

Naracoba memperhatikan suara & sebelum suara menghilang naracoba menutup


telinga kanan dengan jari. Kemungkinan naracoba akan mendapatkan suara
bertambah keras atau tidak mengalami perubahan.

Lakukan percobaan yang sama pada telinga kiri. Ulangi percobaan sampai 3 x,
catat hasil dan bandingkan
BAB IV

HASIL PERCOBAAN

A. Pemeriksaan Kepekaan Telinga


1. Data Naracoba 1
 Nama : Ezra Gde Asa H.
 Usia : 20 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Tinggi Badan : 169 cm
 Berat Badan : 65kg
 Tabel hasil percobaan :

Jam didekatkan dari arah belakang kepala,


suara mulai terdengar pada jarak (cm)
Telinga Kiri Telinga Kanan
81 55
77 79

2. Data Naracoba 2
 Nama : Lucas L.L.
 Usia : 20 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Tinggi Badan : 170cm
 Berat Badan : 65kg
 Tabel hasil percobaan :
Jam didekatkan dari arah belakang kepala,
suara mulai terdengar pada jarak (cm)
Telinga Kiri Telinga Kanan
44 40
59 41

B. Pemeriksaan Jenis Ketulian


1. Data Naracoba 1
 Nama : Ezra Gde Asa H.
 Usia : 20 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Tinggi Badan : 169 cm
 Berat Badan : 67kg
 Garpu Tala yang digunakan : 512 Hz

2. Data Naracoba 2
 Nama : Aryo N.
 Usia : 21 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Tinggi Badan : 168cm
 Berat Badan : 55kg
 Garpu Tala yang digunakan : 341,2 Hz
i. Percobaan Rinne
Hasil menggunakan Garpu Tala dangan Frekuensi 512 Hz dan Frekuensi 341,2 Hz
adalah sama yakni :

Telinga Kiri Telinga Kanan


Hantaran Hantaran
Udara : Mendengar Udara : Mendengar
Tulang Tidak Mendengar Tulang Tidak Mendengar
sudah 1. (+) sudah 1. (+)
tidak 2. (+) tidak 2. (+)
mendengar 3. (+) mendengar 3. (+)

ii. Percobaan Weber


Hasil menggunakan Garpu Tala dangan Frekuensi 512 Hz dan Frekuensi 341,2 Hz
adalah sama yakni:

Telinga kanan dan kiri Lateralisasi Telinga


mendengar suara sama
Kiri Kanan
keras atau tidak
1. Sama keras - -
2. Sama keras - -
3. Sama keras - -

iii. PercobaanSchwabach
Hasil menggunakan Garpu Tala dangan Frekuensi 512 Hz dan Frekuensi 341,2 Hz
adalah sama yakni:

Orang Pembanding
Mendengar suara, atau Tidak mendengar suara
Naracoba sudah tidak 1. Tidak mendengar suara
mendengar suara 2. Tidak mendengar suara
3. Tidak mendengar suara
iv. Percobaan Bing
Hasil menggunakan Garpu Tala dangan Frekuensi 512 Hz dan Frekuensi 341,2 Hz
adalah sama yakni:

Setelah liang telinga ditutup :


Telinga -Mendengar lebih keras, atau
-Tidak ada perubahan
1. Mendengar lebih keras
Kiri 2. Mendengar lebih keras
3. Mendengar lebih keras
1. Mendengar lebih keras
Kanan 2. Mendengar lebih keras
3. Mendengar lebih keras
BAB V

PEMBAHASAN

Pada percobaan uji kepekaan telinga didapatkan hasil yang bervariasi, hasil ini
disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kebisingan ruangan, dimana diketahui pada saat
dilakukan pengujian kepekaan ini ruangan yang seharusnya tenang didapati masih terdengar
suara-suara kecil yang dapat mengganggu konsentrasi dari naracoba, lalu juga faktor
kesensitivan telinga masing masing orang yang berbeda, bagi mereka yang sangat sensitive
tentu dapat mendengar suara-suara kecil, tetapi tidak untuk orang-orang yang normal. Begitu
juga dengan kepekaannya, berdasarkan perbedaan intensitas suara (ukuran fisik) dan
kenyaringan (respons sensorik). Intensitas suara yang diukur dalam decibel akan direspons
oleh sensor di tubuh untuk mengetahui tingkat kenyaringannya. Terdapat berbagai perbedaan
skala dalam merespons suara yang muncul, dapat berdasarkan faktor usia, lingkungan dan
anatomis telinga naracoba sendiri (kelainan / tidak).

Tes Rinne, tes ini bertujuan untuk membandingkan antara hantaran tulang (bone
conduction) dengan hantaran udara (air conduction) pada telinga pasien. Hasil pada naracoba
adalah (+) yang berarti pada interpretasi hasil Tes Rinne adalah normal, dimana hantaran
udara naracoba lebih baik dari pada hantaran tulang. Namun hasil positif Tes Rinne sendiri
dapat diartikan adanya kondisi tuli sensori neural sehingga diperlukan tes penala lain untuk
memastikan adanya tuli sensorineural. Pada hasil Tes Rinne negative menunjukkan adanya
kondisi tuli konduksi dimana hantaran udara lebih buruk dari hantaran tulang. Kesalahan
pada tes Rinne dapat terjadi, bisa dari pasien maupun penguji. Misalnya pemeriksan salah
meletakkan pangkal garpu tala (tidak tegak lurus, mengenai rambut / aurikula pasien) dan
pada pasien apabila lambat memberi tahu bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi sehingga
getaran pada garpu tala sudah berhenti.

Tes Weber, tujuan dilakukannya tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran
tulang antara kedua telinga pasien. Hasil pada naracoba adalah normal dimana naracoba
mendengar sama keras dan tidak terjadi lateralisasi ke telinga kanan maupun telinga kiri
naracoba. Hal tersebut terjadi karena getaran yang dihantarkan melalui tulang akan dialirkan
ke segala arah oleh tengkorak sehingga akan terdengar di seluruh bagian kepala. Pada
keadaan tuli sensorineural, dapat terjadi lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih
baik sedang pada tuli konduksi lateralisasi terjadi pada telinga yang sakit sebab telinga yang
mengalami penurunan pendengaran terdapat hambatan (misal obstruksi) sehingga konduksi
tulang mengalami peningkatan.

Tes Schwabach, tujuan tes ini untuk membandingkan daya transport melalui tulang
proc. mastoid antara pemeriksa (pemeriksa di asumsikan memiliki pendengaran yang normal)
dengan naracoba. Hasil yang didapat adalah normal dimana ketika naracoba sudah tidak
mendengar suara dan saat dibandingkan penguji juga tidak mendengarkan suara dari garpu
tala. Jika hasil test ini memanjang dapat menunjukkan adanya tuli konduktif namun jika
memendek dapat menunjukkan adanya tuli sensorineural.

Tes Bing, tes ini bertujuan untuk menghalangi hantaran udara dair luar sehingga
gangguan dari luar dapat dibendung. Tes Bing sendiri merupakan aplikasi dari efek oklusi
dimana suara garpu tala akan terdengar lebih keras bila telinga normal ditutup. Dengan
prosedur yang sama dengan tes Weber, naracoba lalu menutup telinga dan mendengarkan
suara yang ada. Hasil yang didapat pada naracoba adalah normal sebab suara terdengar lebih
jelas saat telinga ditutup. Bila suara pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras, berarti
telinga tersebut menderita tuli konduktif.
BAB VI

KESIMPULAN

- Uji kepekaan indera pendengaran dapat dilakukan dengan menggunakan jam weker dan
dari hasilnya dapat diketahui kepekaan dari telinga seseorang

- Uji jenis ketulian dapat dilakukan percobaan seperti Rinne, Schwabach, Weber dan
Bing dan uji jenis ketulian ini untuk menentukan seseorang mengalami tuli
sensorineural atau tuli konduksi
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad,Efiaty dkk.2007.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Kepala&Leher.Jakarta:Balai Penerbit FKUI

Ganong, William. F. 2006. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN. Penerbit Buku


Kedokteran : EGC, Jakarta

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem.Ed 6. EGC, Jakarta.

Soedjak, S. dkk.2000. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung & Tenggorok.EGC. Jakarta