Anda di halaman 1dari 12

A.

Latar Belakang

Mata merupakan salah satu alat indera khusus yang dimiliki manusia, dan
berguna untuk melihat. Dalam kehidupan sehari-hari, mata sangat berguna untuk
membantu mempermudah kita dalam mengerjakan segala sesuatunya, bahkan untuk
hal-hal sederhana seperti berjalan, atau makan dan minum. Tanpa organ mata yang
baik, kita juga akan mengalami kesulitan dalam beraktivitas. Gangguan kemampuan
mata untuk membiaskan cahaya dapat menurunkan ketajaman penglihatan seseorang
(visus). Gangguan ini biasanya disebabkan oleh gangguan kelengkungan lensa dan
lain-lain. Gangguan kemampuan mata untuk membedakan warna biasanya di sebut
buta warna. Untuk menentukan jenis gangguan harus dilakukan beberapa pemeriksaan
terkait fungsi mata itu sendiri.

B. Tujuan Praktikum
1. Memahami fungsi dan mekanisme kerja indera penglihatan
2. Dapat mengukur ketajaman penglihatan
3. Memahami mekanisme persepsi penglihatan warna
C. Tinjauan Pustaka

Visus atau ketajaman penglihatan adalah nilai kebalikan sudut terkecil di


mana sebuah benda masih kelihatan dan dapat dibedakan. Sementara tajaman
penglihatan adalah kemampuan untuk membedakan antara dua titik yang berbeda
pada jarak tertentu). Visus (ketajaman penglihatan) adalah ukuran, berapa jauh, dan
detail suatu benda dapat tertangkap oleh mata sehingga visus dapat disebut sebagai
fisiologi mata yang paling penting. Ketajaman penglihatan didasarkan pada prinsip
tentang adanya daya pisah minimum yaitu jarak yang paling kecil antara 2 garis yang
masih mungkin dipisahkan dan dapat ditangkap sebagai 2 garis. Proses visual dimulai
saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan menghasilkan sebuah bayangan
yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal, pupil dapat dilalui cahaya sebanyak
lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang konstriksi maksimal. Diameter
pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada iris yaitu papillary constrictor
yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator yang terdiri dari sel-sel
epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai
myoepithelial cells (Sherwood, 2012).

Secara klinik kelainan refraksi adalah akibat kerusakan ada akomodasi visual,
entah itu sebagai akibat perubahan biji mata, maupun kelainan pada lensa. Contoh
dari kelainan refraksi :

a) Miopi
Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau
kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Pasien dengan miopia akan
menyatakan melihat jelas bila dekat, sedangkan melihat jauh kabur atau disebut
pasien adalah rabun jauh. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan mengeryitkan
matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang
kecil). Miopia tampak bersifat genetika, tetapi pengalaman penglihatan abnormal
seperti kerja dekat berlebihan dapat mempercepat perkembangannya. Cacat ini dapat
dikoreksi dengan kacamata lensa bikonkaf (lensa cekung), yang membuat sinar
cahaya sejajar berdivergensi sedikit sebelum ia mengenai mata
b) Hipermetropia
Hipermetropia atau rabun dekat merupakan keadaan gangguan kekuatan
pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik
fokusnya terletak di belakang retina. Pasien dengan hipermetropia apapun
penyebabnya akan mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus menerus harus
berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang
makula agar terletak di daerah makula lutea. Keadaan ini disebut astenopia
akomodatif. Akibat terus menerus berakomodasi, maka bola mata bersama-sama
melakukan konvergensi dan mata akan sering terlihat mempunyai kedudukan estropia
atau juling ke dalam. Cacat ini dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata lensa
cembung, yang membantu kekuatan refraksi mata dalam memperpendek jarak focus

c) Presbiopia
Presbiopia adalah gangguan akomodasi pada usia lanjut yang dapat terjadi
akibat kelemahan otot akomodasi dan lensa mata tidak kenyal atau berkurang
elastisitasnya akibat sklerosis lensa. Akibat gangguan akomodasi ini maka pada
pasien berusia lebih dari 40 tahun, akan memberikan keluhan setelah membaca yaitu
berupa mata lelah, berair, dan sering terasa pedas. Keadaan ini dapat dikoreksi
dengan memakai kacamata lensa cembung

d) Astigmatisma
Kelainan refraksi karena kelengkungan kornea yang tidak teratur disebut
astigmatisma. Pada penderita astigmatisma, sistem optik yang astigmatismatik
menimbulkan perbesaran atas satu objek dalam berbagai arah yang berbeda. Satu titik
cahaya yang coba difokuskan, akan terlihat sebagai satu garis kabur yang panjang.
Mata yang astigmatisma memiliki kornea yang bulat telur, bukannya seperti kornea
biasa yang bulat sferik. Kornea yang bulat telur memiliki lengkung (meridian) yang
tidak sama akan memfokus satu titik cahaya atau satu objek pada dua tempat, jauh
dan dekat. Lensa yang digunakan untuk mengatasi astigmatisma adalah lensa silinder.
Tetapi pada umumnya, di samping lensa silinder ini, orang yang astigmatisma
membutuhkan juga lensa sferik plus atau minus yang dipasang sesuai dengan
porosnya. (Ganong, 2008).

Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang dapat dilakukan dengan kartu Snellen
dan bila penglihatan kurang maka tajam penglihatan diukur dengan menentukan
kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari), ataupun proyeksi sinar. Ketajaman
normal memiliki visus 20/20 yang merupakan jarak antara subjek dengan chart. Hal
ini menjelaskan jarak dimana garis yang membentuk huruf dapat dipisahkan dengan
sudut penglihatan minimal 1 menit, yang dibaca pada mata tanpa kelainan refraktif
dalam jarak 20 ft. Pengukuran ini sama dengan visus 6/6 dimana jarak 6 meter.
Ketajaman visual diukur berdasarkan resolusi spasial dari proses sistem penglihatan.
Simbol berwarna hitam pada background berwarna putih digunakan untuk kontras
maksimum dan jarak yang ditetapkan 6 meter merupakan jarak minimum mata
normal untuk melihat tanpa melakukan akomodasi. Dalam pemeriksaan, lensa
digunakan dalam berbagai kekuatan untuk memperbaikikelainan refraktif yang ada
dan menggunakan pinhole akan memperbaiki kelainan refraktif.Biasanya huruf
digunakan dalam melakukan pemeriksaan (Snellen chart) namun simbol lain (huruf E
yang menghadap berbagai arah) juga dapat digunakan. (Ilyas, 2009).

Penglihatan akan warna bergantung pada berbagai rasio stimulasi ketiga tipe
sel kerucut (sel kerucut merah, sel kerucut hijau, sel kerucut biru) sebagai respons
terhadap berbagai macam-macam panjang gelombang. Panjang gelombang yang
terlihat sebagai biru tidak merangsang sel kerucut merah atau hijau sama sekali tetapi
merangsang sel kerucut biru secara maksimal (presentasi stimulus maksimal untuk sel
kerucut merah, hijau, dan biru masing-masing 0:0:100). Sensasi kuning sebagai
perbandingan berasal dari rasio stimulasi 83:83:0, dengan sel kerucut merah dan hijau
masing-masing dirangsang hingga 83% maksimal, sementara sel kerucut biru tidak
dirangsang sama sekali. Dengan berbagai kombinasi menghasilkan sensasi warna
yang berbeda-beda. Putih adalah campuran semua panjang gelombang cahaya,
sementara hitam adalah tidak adanya cahaya. (Sherwood, 2011).

Buta warna adalah ketidak mampuan seseorang untuk membedakan warna


tertentu. Pada retina manusia normal terdapat 2 jenis sel yang sensitif terhadap
cahaya. Yaitu sel batang yang aktif pada cahaya rendah dan sel kerucut yang aktif
pada cahaya intensitas tinggi . Sel kerucut ini yang membuat kita dapat melihat warna
dan membedakan warna.Pada kondisi normal sel kerucut mempunyai spectrum
terhadap 3 warna dasar yaitu merah,hijau, biru. Orang normal sel kerucutnya sensitive
untuk 3 jenis warna ini. Pada orang tertentu mungkin hanya 2 atau 1 atau bahkan tak
ada sel krucut yang sensitive terhadap warna-warna tersebut. Pada kasus ini orang ini
akan menderita buta warna. Meski demikian ada juga orang yang sama sekali tak bisa
melihat warna, atau hanya tampak sebagai hitam dan putih. Namun kasus seperti ini
jarangterjadi.Buta warna dapat terjadi karena faktor keturunan atau karena memang
kita mengalami kelainan pada retina, saraf optic dan mungkin juga pada otak kita.
Sifat penurunannya bersifat X-linked recessive. Artinya diturunkan melalui
khromosom X. Hal ini menjelaskan bahwa buta warna kebanyakan ditemukan pada
lelaki, sedangkan perempuan berfungsi sebagai carrier .Ada 3 jenis buta warna, yaitu :

1.Trikromasi : jenis buta warna yang diderita banyak orang.

 Protanomali, seorang buta warna yang lemah mengenal warna merah.


 Deuteromali, seorang buta warna yang lemah mengenal warna hijau.
 Trinomali,seorang buta warna yang lemah mengenal warna biru.

2.Dikromasi (buta warna parsial) keadaan ketika 1 dari 3 sel kerucut tidak ada.

 Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat


kecerahan warna merah /perpaduannya kurang.
 Deuteranopia,retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhada hijau.
Sehingga tingkat kecerahan warna hijau /perpaduannya kurang.
 Tritanopia, sel kerucut biru tidak ditemukan. Sehingga tingkat
kecerahan warna biru /perpaduannya kurang.

3. Monokromasi (buta warna total) retina mata mengalami kerusakan total dalam
merespon warna. Tandanya dengan hilangnya/berkurangnya semua penglihatan
warna. Yang terlihat hanyawarna hitam dan putih. Buta warna jenis ini prevalensinya
sangat jarang.

Metode ishihara yaitu metode yang dapat dipakai untuk menentukandengan


cepat suatu kelainan buta warna didasarkan pada penggunaan kartu bertitik-titik. Tes
buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan
berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk
lingkaran.Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak
akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal ( pseudo-
isochromaticism).(Ganong,2008).
D. Alat-alat
a. optotip Snellen
b. bilah penunjuk
c. lampu senter
d. Ishihara’s test for color-blindness, concise edition 1983
E. Cara Kerja
1. Visus dan anomali refraksi
Naracoba berdiri 6 meter dari optotip Snellen. Naracoba ditanya tentang
ketajaman penglihatannya sebelum diperiksa

Mata kiri naracoba ditutup, naracoba membaca huruf-huruf pada optotip
Snellen dengan mata kanan dengan panduan penunjuk

Pembacaan dari deretan huruf terbesar sampai ke deretan hruf yang masih
dapat dibaca tanpa kesalahan. Catat jarah deretan huruf yang masih dapat
dibaca tanpa kesalahan

Ulangi percobaan tersebut untuk mata kiri (mata kanan ditutup). Tentukan
visus dengan rumus V=d/D

Apabila visus naracoba 6/6, perlu ditentukan mata naracoba emetrop atau
tidak. Pasang lensa sferis positif 0,5D di depan naracoba.

Mata kanan dan kiri diuji ketajaman penglihatannya dengan membaca optotip
Snellen seperti sebelumnya.

Jika visus tetap 6/6, berarti naracoba menderita hipermetrop fakultatif. Bila
kurang dari 6/6, mata naracoba emetrop

Apabila sampai huruf terbesar naracoba tidak dapat membaca dengan benar,
naracoba diminta menghitung jari dengan satu mata ditutup. Apabila naracoba
dapat menghitung jari dengan benar, visusnya 6/60

Apabila pada jarak 6 meter naracoba tidak dapat menghitung jari, ia diminta
maju 1 meter dan menghitung kembali, begitu seterusnya sampai jarak 1
meter.

Apabila pada jarak 1 meter naracoba tidak dapat menghitung jari, naracoba
diminta mengidentifikasi lambaian tangan. Apabila dapat, visusnya 1/300

Jika naracoba tidak dapat mengidentifikasi lambaian tangan, naracoba diminta
mengidentifikasi gelap terang. Lampu senter dihidupkan dan dimatikan secara
bergantian, naracoba diminta mengatakan kondisi lampu. Apabila bisa
mengidentifikasi, visusnya 1/~

Tulis hasil pemeriksaan kedua mata naracoba

2. Tes buta warna


Dua anggota kelompok menjadi naracoba dan pembanding (orang dengan
persepsi warna normal)

Letakkan alat uji pada jarak 75 cm, diangkat sehingga membentuk sudut tegak
lurus dengan garis penglihatan naracoba/pembanding

Penguji menunjukkan gambar nomor 1-14 berturut-turut. Dalam waktu kurang
dari 3 detik, naracoba/pembanding menyebutkan gambar yang dilihatnya

Daftar jawaban setiap gambar yang terdapat pada Ishihara’s test for color
blindness
F. Hasil
a. Visus dan anomali refraksi
Nama naracoba : Maria Harina
Umur : 20 th
Jenis kelamin : P
Pengakuan refraksi mata sebelum pemeriksaan :
 Occulus dexter (OD) : miopi
 Occulus sinistra (OS) : miopi

Visus :

 Occulus dexter (OD) : 20/30


 Occulus sinistra (OS) : 20/40

Nb: jarak menggunakan feet. 6 meter= 20 feet

b. Tes buta warna


Nama naracoba : Maria Harina
Jenis kelamin : P
Usia : 20 th
Periksa buta warna sebelumnya : pernah
No. gambar Terlihat oleh naracoba Terlihat oleh pembanding
1 12 12
2 8 8
3 5 5
4 29 29
5 21 74
6 7 7
7 45 45
8 2 2
9 X X
10 16 16
11 Dapat merunut Dapat merunut
12 35 35
13 96 96
14 Dapat merunut 2 lintasan Dapat merunut 2 lintasan
G. Pembahasan
Pada pemeriksaan visus, didapatkan hasil untuk mata kanan/OD = 20/30. Hal
ini berarti naracoba dapat membaca huruf pada papan Snellen pada jarak 20 kaki
padahal orang yang penglihatannya normal dapat membacanya pada jarak 30 kaki.
Begitu juga dengan mata kiri, didapatkan OS = 20/40. Hal ini menunjukkan bahwa
naracoba dapat membaca huruf yang ada pada papan Snellen dengan jarak 20 kaki
sedangkan orang normal dapat membacanya pada jarak 40 kaki. Pemeriksaan visus ini
umumnya digunakan untuk menilai adanya kelainan refraksi secara kuantitatif. Jarak
antara naracoba dan optotip Snellen, besar dan tebalnya huruf sudah diatur
sedemikian rupa berdasarkian sudut penglihatan sehingga tidak dapat diubah. Hasil
ini menunjukkan bahwa mata probandus mengalami gangguan dalam pemfokusan
cahaya dimana pada saat mata istirahat susunan lensa matanya memfokuskan sinar
sejajar di depan retina atau biasa disebut dengan miopi. Mata miopi dapat dikoreksi
dengan lensa sferis (-). Ketajaman penglihatan normal untuk dapat menghitung jari
adalah 60/60 pada jarak sekitar 60 m. Pada mata normal, bayangan benda yang
berjarak lebih dari 60 m akan jatuh tepat pada retina dan mata dalam keadaan relaks
atau tanpa akomodasi. Sehingga bila mata berada dalam keadaan seperti ini dikatakan
mata tersebut dalam keadaan normal.

Pada tes buta warna didapatkan perbedaan persepsi antara naracoba dan orang
pembanding pada satu gambar yaitu gambar nomor 5. Hal ini dapat disebabkan
karena pada ishihara test book pada gambar nomor 5 tersebut memang kurang
jelas(dibuktikan dengan dilihatnya gambar tersebut oleh pembanding dan praktikan
yang lain) dan naracoba disini tetap ditangguhkan memiliki penglihatan yang normal
dibuktikan dengan rasio yang benar lebih banyak dibanding yang salah. Pada individu
normal, mereka memiliki semua jenis sel kerucut normal, yakni sel kerucut merah, sel
kerucut hijau dan sel kerucut biru. Namun, kadang-kadang seseorang tidak memiliki
jenis sel kerucut jenis tertentu sehingga penglihatan mereka adalah produk dari
sensitivitas differensial dari hanya dua jenis sel kerucut. Pasien yang mengalami
gangguan penglihatan warna ini tidak saja mempersepsikan warna secara berbeda
tetapi mereka juga tidak mampu membedakan ragam warna sebanyak orang normal.
Buta warna disebabkan karena faktor genetis dari orangtua yang salah satu atau
mungkin keduanya menderita buta warna. Karena gen untuk pigmen visual merah
atau hijau terdapat pada kromosom X, buta warna merah atau hijau umumnya terjadi
pada laki-laki. Tidak seperti pada perempuan, laki-laki hanya memiliki satu
kromosom X sehingga tidak ada salinan yang bisa mengganti gen cacat yang sesuai.
Seorang perempuan harus memiliki cacat pada kedua kromosom X-nya agar menjadi
buta warna merah atau hijau. Bila hal itu terjadi, anak laki-laki pasti mengalami buta
warna, karena dia mewarisi kromosom X dari ibunya. Selain karena keturunan,
bentuk buta warna ringan juga disebabkan oleh mutasi gen opsin pada kromosom X.
Buta warna dibagi dalam dua jenis, buta warna parsial dan buta warna total. Pada buta
warna total, penderita tidak bisa mengenali warna lain kecuali hitam dan putih.
Sementara pada buta warna parsial, penderita mengalami kekurangan pigmen dalam
sel retina sehingga tidak bisa melihat warna tertentu saja. Pada umumnya, buta warna
merupakan kelainan bawaan yang tidak dapat disembuhkan. Dalam hal ini, untuk
melihat apakah naracoba carier atau tidak, bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
melalui pemeriksaan genetik dan juga bisa melalui anamnesis dari keluarga naracoba.
H. Kesimpulan
1. Pemeriksaan Snellen merupakan sebuah ukuran kuantitatif suatu kemampuan
untuk mengidentifikasi simbol-simbol berwarna hitam dengan latar belakang
putih dengan jarak yang telah distandarisasi serta ukuran dari simbol yang
bervariasi.
2. Dengan pemeriksaan snellen didapatkan naracoba dengan OD 20/30 dan OS
20/40 menunjukkan keadaan miopi,yang dapat disebabkan oleh berbagai
macam faktor.
3. Buta warna disebabkan oleh ketidakmampuan sel-sel kerucut pada retina
membedakan warna merah, hijau dan biru. Pengujian tes buta warna dapat
dilakukan dengan menggunakan buku Ishihara test, dimana pada buku ini
tertera angka yang terdapat pada titik-titik warna.
4. Dengan tes buta warna didapatkan naracoba perempuan yang dapat membaca
dengan tepat dan cepat uji ishihara yang berarti normal (tidak buta warna) atau
carrier buta warna (pembawa sifat buta warna).
I. Daftar Pustaka
1. Ganong,F.William. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed.20. Jakarta:EGC
2. Ilyas,Sidarta.2010.Ilmu Penyakit Mata.Jakarta.Balai penerbit FKUI
3. Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem ed.6.
Jakarta:EGC