Anda di halaman 1dari 178

MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.

id

SINGKATAN KISAH YANG LALU

Di Mandailing, Tapanuli Selatan sampai


ke Kabupaten Pasaman di Sumatera Barat
bagian Utara yang berbatasan dengan
Mandailing, sebutan manusia harimau
tidak aneh sama sekali. Karena di daerah
itu sejak dulu memang ada manusia
harimau. Manusia hidup yang mempunyai
harimau, yang dapat menjadi harimau atau
menjadi harimau setelah ia meninggal
dunia. Sampai kini manusia harimau
masih ada tetapi jumlahnya tidak lagi
sebanyak dulu. Semakin banyak orang
nekat melepaskan warisan harimau yang
seharusnya ia terima darl ayahnya yang
meninggal. Memang ada resiko bagi,
mereka yang berbuat demikian, tetapi
perubahan lingkungan dan hidup
menyebabkan banyak orang malu menerima warisan harimau dengan akibat bisa menjadi harimau setelah tutup usia.
Manusia harimau yang telah kita ceritakan, adalah seorang pemuda cukup terpelajar bernama Erwin anak Dja
Lubuk yang telah tiada dan cucu Raja Tigor yang juga telah lama berpulang ke rahmatullah. Baik Dja Lubuk
maupun Raja Tigor hidup kembali setelah dikubur dalam bentuk "manusia harimau" yaitu setengah harimau dengan
setengahnya lagi manusia. Hidup kembali mereka tidak berarti hilang dari kuburannya lulu terus-menerus melata di
mana-mana. Mereka hanya keluar pada waktu-waktu tertentu dari kuburan.
Erwin yang mewarisi keharimauannya dari ayahnya, merantau ke Medan kemudian ke Jakarta dan Surabaya.
Sebenarnya hanya pekerjaan yang dicari, tetapi nasib menentukan lain. la berhadapan dengan seorang sakti dan
banyak ilmu bergelar Ki Ampuh den pernah pula jatuh cinta pada seorang wanita aneh yang sudah punya
umurseratus lima puluh tahun tetapi tetap kelihatan sebagai gadis remaja yang amat cantik, bermukim di daerah
Cikotok, Banten.
Permusuhan besar antara Erwin yang manusia harimau dengan Ki Ampuh akhirnya berubah menjadi suatu
persahabatan. Ki Ampuh sempat menuntut tambahan banyak ilmu di Tapanuli Selatan sebagai tamu Erwin dan
keluarganya serta orang-orang pandai ilmu di sana. Tetapi dasar manusia selalu tergoda dan rusak oleh keserakahan
harta dan nama; akhirnya Ki Ampuh mengkhianati Erwin supaya ia tidak mempunyai saingan lagi di Jakarta. la
sakit hati sekali karena Erwin dapat menyembuhkan seorang gadis anak orang kaya yang gagal diobati oleh Ki
Ampuh. Tuhan menghendaki Erwin masih meneruskan kehidupannya di dunia, sementara Ki Ampuh yang

SERIAL MANUSIA HARIMAU 1


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mengkhianati sumpahnya akhirnya mati dan menjadi babi hutan. Perlu ditambahkan bagi pembaca yang tadinya
belum mengenal manusia harimau, bahwa Erwin, ayahnya dan kakeknya selalu mempunyai sifat-sifat yang baik,
walaupun mereka bisa menjadi harimau dan punya ilmu sakti yang amat ampuh. Tidak pernah mengganggu atau
menyusahkan orang lain. Sebaliknya selalu membantu manusia. Tetapi manakala disakiti berulang kali, manusia
harimau akan marah dan kalau membalas, maka balasan itu tidak akan kepalang tanggung. Beberapa onggota yang
mestinya menegakkan keamanan, tetapi dalam praktek justeru menyiksa, telah menemui ajal dengan cara yang amat
mengerikan.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 2


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

KALAU ketika membakar Ki Ampuh, manusia harimau muda ini benar-benar dendam tak terkendalikan lagi,
maka kemanusiaan dalam dirinya menang kembali setelah beberapa waktu peristiwa itu berlangsung. Ia telah
banyak membinasakan musuhnya, tetapi membunuh dengan jalan membakar barulah kali itu. Manakala Ki
Ampuh yang telah menjelma jadi babi hutan datang ke pekarangannya dan menangis oleh sesal dan kesedihan,
maka Erwin merasa iba juga. Tetapi bukanlah salahnya orang berilmu itu akhirnya menemui nasib serupa itu
setelah kematiannya. Ki Ampuh dimakan sumpahnya sendiri.
Pada suatu malam bulan penuh, babi hutan itu datang ke rumah Erwin. Kali ini ia memanggil-mangggil
dengan suara bagaikan dengkur. Manusia harimau yang sedang berbaring dengan berbantalkan kedua belah
tangannya, mengenang kembali masa-masa lampaunya, terkejut mendengar panggilan aneh itu. Namun ia
segera menduga, bahwa makhluk itu tentu tak lain daripada Ki Ampuh yang semula jadi saingan dan musuh,
kemudian jadi sahabat akrab, tetapi akhirnya jadi musuh kembali oleh keserakahan yang menguasai dirinya.
Erwin keluar rumah, pergi mendapatkan babi yang duduk dengan perutnya rapat ke tanah. Oleh cahaya
bulan tanpa rintangan awan, Erwin jelas melihat penjelmaan kembali orang hebat itu mencucurkan air mata.
"Apa yang dapat kulakukan untukmu?" tanya Erwin bagaikan bicara dengan kawan.
Babi itu kelihatan terharu. Manusia harimau ini benar-benar jauh lebih baik dari dugaannya. Ia tidak
dendam berkepanjangan masa. Betapa beda dengan sifat-sifatnya yang amat hina tatkala ia masih hidup
sebagai manusia dan dukun yang berilmu tinggi.
"Kau masih mau menolong aku, Erwin?" tanya penjelmaan kembali Ki Ampuh itu.
"Kalau dapat," kata Erwin. Ia kembali jadi manusia penuh rasa kasih dan sayang. Walaupun yang dihadapi
itu hanya seekor babi yang semasa masih manusia berusaha dengan segala daya untuk membinasakannya.
"Aku ingin hidup kembali," kata babi itu.
"Bukankah kau kini juga hidup?"
"Ini bukan hidup, Erwin. Ini penderitaan dan siksa. Dan ia takkan berhenti kalau tiada orang sakti yang
bermurah hati mau menolong."
"Aku tidak mengerti," jawab Erwin.
"Aku ingin hidup seperti dulu. Jadi manusia."
Erwin tidak segera menyahut. Mungkin semua manusia yang setelah mati jadi binatang, mulai dari semut,
sampai gajah ingin menjadi manusia kembali.
"Kau atau ayah dan ompungmu barangkali mau menolong aku."
"Aku tidak tahu apakah itu mungkin," kata Erwin.
Hati babi hutan itu mulai diisi harapan. Ia yakin, Erwin telah lemah dan mau membantunya. Berkata babi
itu selanjutnya: "Biar aku tidak punya ilmu biar aku tidak lagi jadi dukun besar. Biarlah, asalkan jadi manusia
kembali."
Erwin tidak memberi jawaban. Babi itu mau meyakinkan manusia harimau itu.
"Kalau aku dijadikan manusia kembali, aku mau jadi orang suruhanmu. Yang penting bagiku hanya satu
Erwin. Kasihan istri-istriku yang kini jadi janda. Mereka membutuhkan aku," katanya.
"Aku tidak punya kesanggupan seperti itu Ki Ampuh," kata Erwin.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 3


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tapi ompungmu Raja Tigor, atau Datuk nan Kuniang kurasa sanggup."
"Entahlah!"
"Tetapi kau mau menolong aku? Kau masih punya secercah rasa kasihan padaku? Aku teramat malu Erwin.
Aku mengaku telah berbuat kejahatan dan pengkhianatan yang terlalu besar terhadap sahabat-sahabat yang
begitu baik kepadaku! Kau mau memaafkanku?"
"Telah kumaafkan. Tetapi kusangsikan apakah ompungku atau Datuk nan Kuniang dapat menjadikan babi
hidup kembali sebagai manusia. Aku rasa hanya Tuhan yang punya kemampuan tak terbatas. Kami hanya
makhluk-makhluk hina. Kau sendiri pernah mengatakan betapa hina diriku yang bukan manusia sejati."
Ki Ampuh teringat akan penghinaan yang beberapa kali dilontarkannya terhadap Erwin. Karena ia babi
hutan jadi-jadian dan punya otak sebagai manusia, pada saat itu ia merasa malu akan kesombongannya di masa
silam. Kepada orang yang dihinanya itu pula kini dia minta tolong. Tetapi keinginannya menjadi manusia
kembali untuk dapat menikmati keenakan hidup di samping wanita-wanita muda yang telah jadi korban guna-
gunanya harus dapat membuang rasa malu.
"Aku memang manusia tak tahu diri. Tak tahu pula membalas budi. Keserakahan akan nama dan uang
telah membuat aku jadi begini. Aku mohon diampuni Erwin." pinta Ki Ampuh dengan nada amat
merendahkan diri.
"Ampun dipinta kepada Tuhan. Manusia, apalagi yang manusia harimau semacam aku yang hina ini hanya
dapat memaafkan," sahut Erwin.
"Tolonglah aku Erwin. Selama hidupku dulu sampai kini setelah aku berubah rupa, aku belum pernah
menemukan sahabat sebaik kau." Ia tidak malu berkata begitu.
Dalam hati Erwin mengejek atas kehinaan Ki Ampuh yang mau mengatakan apa saja demi kepentingan
dirinya. Tetapi rasa kasihan membuat ia masih mau menolong babi hutan itu.
"Baiklah aku akan tanya pada ompungku!"
"Juga kepada Datuk nan Kuniang. Aku mau bersumpah tidak akan membuat kesalahan lagi!"
Erwin tak dapat menahan tawa sinis, walaupun hatinya tetap kasihan. Berkata Erwin, "Janganlah
bersumpah juga lagi. Bukankah kau jadi begini, karena kau melanggar sumpahmu. Kau telah mempermainkan
sumpah. Inilah jadinya. Semua orang yang mempermainkan sumpah, tanpa kecuali, pada suatu ketika akan
dikutuk dan dimakan oleh sumpahnya sendiri. Kalau kakekku tak sanggup aku akan coba minta bantuan pada
Datuk nan Kuniang." Dalam hati Erwin setengah yakin, bahwa mayat yang bisa hidup kembali dan sewaktu-
waktu keluar dari kuburannya di Kebayoran Lama itu dapat menolong babi hutan itu.
Ki Ampuh menyembah Erwin. Dalam hati ia berharap dan sudah hampir yakin bahwa ia akan jadi manusia
kembali. Betapa akan enaknya hidup kembali dengan istri-istrinya yang masih muda belia. Tak pernah terlintas
dalam hatinya mungkin perempuan-perempuan itu akan ketakutan, sepanjang tahu mereka ia telah mati dan
berubah jadi babi. Mungkin tak diterima di yaumil makhsyar.
Ki Ampuh mohon diri setelah mengulangi harapan dan permohonannya. Erwin memandanginya sampai ia
hilang entah ke mana. Dengan langkah gontai ia masuk ke rumah, memikirkan segala macam keajaiban yang
dapat terjadi di dunia ini. Kalau ompung dan ayahnya merupakan manusia harimau, maka ini baru saja

SERIAL MANUSIA HARIMAU 4


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

berhadapan dengan manusia yang mati menjadi babi. Ia pun tertanya-tanya di dalam hati, akan jadi apakah ia
kelak setelah mati.
Erwin masuk kamar tidur, ia jadi kaget sekali, walaupun dalam keadaan biasa ia tidak mestinya terkejut.
Yang menantikannya bukan ular cobra atau phyton, bukan pula ratusan kalajengking dan lipan. Juga bukan jin
atau hantu. Yang duduk di kamar itu tak lain daripada ayah dan ompungnya. Dja Lubuk dan Raja Tigor.
Erwin memberi salam dengan mencium tangan kedua manusia harimau yang bangkit dari kuburannya di
Mandailing sana. Erwin memandang heran. Tak tersembunyikan olehnya.
"Kau heran melihat ompung dan ayahmu datang, padahal tak kau panggil?" tanya Dja Lubuk.
Erwin tidak menjawab.
"Kami datang sebelum kau panggil. Kau akan meminta ompung datang, bukankah begitu?" tanya ayahnya
lagi.
Erwin masih tidak menjawab. Ia heran bagaimana ayahnya bisa tahu, walaupun ayahnya mempunyai
banyak ilmu. Biasanya ayah atau ompungnya datang, kalau ia memanggil atau dirinya dalam bahaya.
"Kau dalam bahaya Erwin," kata Raja Tigor kepada cucunya itu.
"Tetapi aku sudah tidak mempunyai musuh, ompung," kata Erwin.
"Orang semacam kau tidak akan pernah bebas musuh. Selalu saja ada yang dengki dan khisit."
"Tetapi mengapa begitu Ompung?"
"Begitulah sudah kebiasaan di dunia ini. Orang pandai selalu punya saingan. Kau keliru lagi, kalau
menyangka bahwa Ki Ampuh telah hilang dari riwayat hidup yang masih kau hadapi."
"Tetapi dia baru saja datang untuk minta bantuan." kata Erwin.
"Kami ketahui kedatangannya. Bahkan maksudnya." kata Raja Tigor.
"Dia minta tolong. Ompung sudah tahu?"
"Tahu. Dan kau menjanjikan akan berbuat sesuatu yang mungkin untuk menolongnya. Kau akan
memanggil Ompungmu. Kalau beliau tak sanggup kau akan minta bantuan Datuk nan Kuniang!"
"Benar Ompung. Bukankah Ompung mengajarku bahwa kita harus mempunyai sifat suka memaafkan.
Aku telah memaafkannya. Ia telah terhukum oleh sumpahnya. Ia telah menjadi babi hutan. Hina tak
terhingga."
"Jangan tolong dia," kata Raja Tigor memerintah. Terdengar dari suaranya, bahwa ia memerintah, bukan
sekedar memberi nasihat atau meminta pada cucunya.
"Apakah Ompung dapat membuatnya jadi manusia kembali?" tanya Erwin.
"Aku tidak punya ilmu memanusiakan babi, walaupun tadinya ia manusia. Tetapi Datuk nan Kuniang
dapat menolongnya, walaupun tidak terus-menerus jadi manusia. Datuk nan Kuniang punya kekuatan ilmu
untuk membuat Ki Ampuh sewaktu-waktu seperti manusia!"
"Begitu hebat beliau, Ompung?"
"Sebenarnya bukan manusia sebagai manusia lainnya. Tetapi orang akan melihatnya sebagai manusia. Ia
tetap babi hutan. Pandangan orang akan tertipu oleh ilmu gaib yang dimiliki Datuk nan Kuniang. Kalau ilmu
itu diajarkan kepada Ki Ampuh maka orang akan melihatnya sebagai manusia kembali. Dengan sifat-sifatnya

SERIAL MANUSIA HARIMAU 5


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

yang amat buruk ia bisa melakukan berbagai kejahatan terhadap manusia. Termasuk pada wanita-wanita yang
telah pernah jadi jadi isterinya karena diguna-gunai."
"Tetapi," kata Erwin, ingin mengatakan bahwa ia kasihan pada babi hutan itu.
"Tetapi kau kasihan padanya!" kata Raja Tigor meneruskan kalimat cucunya. "Sesungguhnya kita wajib
merasa kasihan terhadap tiap makhluk yang malang, itu menjadi prinsip dalam hidup kita sekeluarga turun-
temurun. Walaupun kita hanya ditakdirkan menjadi manusia-manusia harimau. Tetapi kalau menyelamatkan
seseorang untuk menyediakan diri kita jadi korbannya,, maka perbuatan itu menjadi suatu kebodohan. Bahkan
pengkhianatan terhadap diri kita dan keluarga kita sendiri. Jadi, buang niat dari kepalamu untuk membantu
dia. Kau tidak akan berdosa karena itu!"
"Dengar apa yang dikatakan Ompungmu," kata Dja Lubuk menguatkan. Terdengar pintu diketuk dari
luar, tanda ada pengunjung.
"Bukalah Erwin, itu Datuk nan Kuniang. Telah sejak tadi kucium kehadirannya di luar," kata Raja Tigor.
Tatkala pintu dibuka masuklah dia, sang mayat yang bangkit dari kuburnya di Kebayoran Lama.
"Kau kata kau mengetahui kehadiranku sejak tadi di luar." kata Datuk nan Kuniang. "Mengapa tidak sejak
tadi kau suruh aku masuk?"
"Barangkali kau mau berangin-angin di luar," jawab Raja Tigor. Dia tertawa sebagaimana lazimnya
manusia biasa tertawa dalam berkelakar. Keempat insan yang aneh, tetapi sesama makhluk hamba Allah
berkumpul di sana.
"Memang aku punya ilmu untuk mengelabui penglihatan orang. Tetapi aku tidak akan memberikan kepada
Ki Ampuh. Ada firasat kuat padaku, bahwa ia akan menyalahgunakannya. Apa yang dikatakan Ompungmu
benar Erwin. Jangan kau bantu dia. Kasihan boleh, tetapi memberi dia kesempatan untuk melakukan kejahatan
lagi jangan. Menurut hukumnya kau turut berdosa dan bertanggung jawab!" kata Datuk nan Kuniang. Tak
lama kemudian Raja Tigor dan anaknya Dja Lu meninggalkan Erwin. Begitu pula Datuk nan Kuniang
kembali ke rumahnya, sebuah kuburan di Kebayoran Lama.

***

KEESOKAN malamnya Ki Ampuh dalam bentuknya sebagai babi hutan datang lagi ke pekarangan Erwin untuk
menanyakan kabar tentang permohonannya. Dengan berat hati ia menyampaikan, bahwa Ompungnya dan
Datuk nan Kuniang tidak sanggup mengubah dirinya sebagai manusia.
Babi hutan itu terdiam. Putus asa. Kemudian ia berkata, "Mereka dapat menolong kalau mau. Tetapi
mereka tidak sudi lagi membantu karena aku telah membuat kesalahan."
Erwin tidak menanggapi.Tanpa pamit babi hutan itu pergi dengan dendam yang amat hebat di dalam
hatinya. Ia bertekad untuk membalas dengan cara apa saja yang masih dapat dilakukannya sebagai babi yang
mempunyai akal dan dendam seperti manusia. Erwin tergetar melihat kepergian Ki Ampuh, tetapi ia tidak
memikirkan apa yang akan terjadi.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 6


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sejak permohonannya ditolak, babi hutan itu tak pernah lagi datang ke pekarangan Erwin. Sampai hampir
tiga bulan lamanya, sehingga manusia harimau itu menyangka, bahwa berakhirlah sudah segala hubungannya
dengan penjelmaan dari manusia Ki Ampuh itu.
Sesekali Erwin diminta orang untuk mengobati penyakit yang telah berat dan tak terhadapi lagi oleh dokter
maupun dukun kawakan. Dan Erwin pun hanya mau mencoba kebolehannya kalau si sakit benar-benar telah
melalui segala macam pengobatan. Ia takut peristiwa semacam dengan Ki Ampuh terjadi lagi, sehingga
menyebabkan adanya musuh atau musuh-musuh baru. Erwin akan bertanya lebih dulu kepada keluarga si sakit
apakah dukun-dukun benar telah menyatakan tak sanggup dan mengundurkan diri. Dan dengan izin Tuhan,
beberapa keluarga yang mohon bantuannya itu tidak jadi kehilangan orang yang mereka cintai. Mereka jadi
amat kagum. Ada yang jadi begitu fanatik terhadap Erwin dengan menyangka bahwa ia seorang wali yang
sengaja diturunkan ke dunia untuk menolong orang-orang yang sudah sekarat.
Yang lebih mengherankan mereka lagi adalah kesederhanaan sifat dan kerendahan hati dukun muda itu.
Tiap dipuji ia selalu mengatakan, bahwa segala puji harus diperuntukkan untuk Tuhan, karena Dialah
sesungguhnya yang menyebabkan sakit payah sembuh kembali. Erwin sendiri hanyalah mohon kepada Allah
dan kebetulan permohonannya dikabulkan Tuhan. Tak lebih daripada itu.
Yang lebih mengherankan, tetapi justeru memusingkan Erwin adalah beberapa wanita, gadis atau janda
muda yang tertarik dan jatuh hati kepadanya, walaupun dukun itu tidak pernah berbuat sesuatu yang
dimaksudkan untuk memikat hati mereka. Mereka ini mengetahui bahwa Erwin hanya tinggal seorang diri di
rumah amat sederhana nya. Menduga, bahkan yakin bahwa ia masih bujangan. Mengetahui hal ini Erwin
memandangnya sebagai lampu kuning yang kalau dibiarkan bisa jadi lampu merah. Ia teringat pada mbah
Panasaran yang pernah digilainya, ia pun teringat lagi pada istri orang kaya di Surabaya yang hampir gila
karena jatuh cinta kepadanya sehingga ia terpaksa melarikan diri dari kota itu. Erwin mengambil keputusan
untuk mendatangkan istri dan anaknya dari kampung supaya godaan itu tidak akan berlarut-larut. Ia sudah
bertekad untuk tidak lagi mengkhianati istrinya Indahayati yang amat setia.

***

ISTERI Erwin dan anaknya yang sedang lucu-lucunya bagaikan penawar dalam segala kesulitan dan duka,
merasa berbahagia sekali dapat berkumpul lagi dengan suami dan ayah yang amat mereka cintai. Sebagaimana
manusia biasa, mereka bertiga sesekali berjalan-jalan ke Pasar Baru atau shopping centre seperti Duta Merlin.
Juga ke supermarket membeli susu bubuk untuk minuman si kecil. Tidak satu pun dari orang toko yang
mereka kunjung mengetahui, bahwa laki-laki yang berbahagia itu sebenarnya mempunyai nasib yang lain sama
sekali. bahwa bila saat sial datang ia mendadak bisa berubah jadi harimau berkepala manusia. Erwin selalu
menyadari ini dan tak pernah lupa mohon kepada Yang Mahakuasa agar ia jangan berubah rupa di tengah
orang ramai. Kalau terjadi di rumah, tanpa ada yang tahu selain daripada istri tercintanya, apa boleh buat. Itu
namanya suratan nasib yang tak terelakkan lagi.
Kalau turun angin kencang atau dirinya mendadak merasa dingin, maka timbullah takutnya kalau-kalau ia

SERIAL MANUSIA HARIMAU 7


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

akan berubah ujud. Ia lalu melihat ke sekitar dan berdoa agar jangan terjadi malapetaka. Atau dia bergegas
pulang agar kalau akan menjadi harimau, biarlah di rumah saja. Tetapi harapan manusia tidak selalu bisa
terkabul.
Begitu pula dengan Erwin yang dalam usia sekian muda sudah mengalami berbagai nasib yang
menakutkan, yang aneh di selang-seling dengan peristiwa-peristiwa yang menggembirakan. Hari itu, Selasa
awal bulan Pebruari. Seorang diri ia pergi ke rumah seorang kenalan yang mulai akrab dengannya. Seorang asal
Sulawesi Selatan, seorang keturunan Andi, jadi masih ningrat di daerah sana. Nama lengkapnya Andi
Sabaruddin Mappe. Masih muda, seumur Erwin. Masih punya ayah dan ibu di Pare-Pare. Tergolong seorang
hartawan, tetapi tidak termasuk orang sombong karena merasa punya harta.
"Kau menepati janji Erwin," kata Andi Sabar.
Erwin tertawa ringan. "Kau kira tidak? Aku selalu berusaha menepati janji, entahlah kalau ada sebab yang
menjadi rintangan."
"Ini hari Selasa, kata orang tidak baik untuk memufakatkan sesuatu yang penting," ujar Sabaruddin. Erwin
heran mendengar, soal penting apa yang mau dikemukakan sahabatnya itu. Mereka memang bersahabat cukup
baik, tetapi belum pernah membicarakan apa-apa yang termasuk penting, apalagi rahasia.
"Ah, semua hari kan sama saja Sab," kata Erwin.
Sabaruddin pernah meminta kepada Erwin agar jangan mempergunakan Andi-nya. Ia merasa dirinya sama
dengan orang lain, tidak ada Andi-Andi-an. "Memang kata setengah orang, hari Selasa dan Sabtu tidak baik
untuk melangkah berpesta atau pekerjaan apa saja yang dapat dikatakan penting. Tetapi bukankah hari Selasa
dan Sabtu semua berjalan seperti biasa. Kereta api, pesawat terbang, kapal laut, mobil tetap berangkat menuju
kota atau negeri yang hendak didatangi. Orang tetap juga ke pasar atau ke ladang. Pembuatan gedung atau
jembatan pun tidak dihentikan pada hari Selasa dan Sabtu. Jadi kurang masuk akal, kalau kedua hari itu
merupakan hari naas."
"Bagus, tepat alasanmu. Kalau begitu hari ini kuceritakan masalah yang penting itu!" kata Sabaruddin.
"Mari." Erwin mengikutinya heran mengapa ia dibawa masuk kamar tidur. Tidak pernah terjadi begitu.
Sabaruddin melihat keheranan sahabatnya, walaupun ia tidak mengatakannya.
"Ini benar-benar soal penting. Aku tak mau didengar oleh pembantu atau oleh pacarku kalau kebetulan dia
datang. Pendeknya orang lain tidak boleh tahu." Di kamar tidur yang cukup rapi bagi seorang bujangan
semacam Sabaruddin, Erwin dipersilakan duduk. Ia pergi ke belakang dan kembali dengan dua cangkir teh.
"Kau mau menolong aku Erwin?" tanya Sabaruddin.
"Mengapa kau bertanya begitu? Bukankah kita bersahabat?"
"Ya, tetapi kudengar kau tidak selalu mau?"
"Aku tak mengerti maksudmu," kata Erwin sejujurnya.
"Kau tidak marah bukan?"
"Aku jadi heran! Marah mengapa?"
"Aku sudah tahu siapa kau. Aku tak sangka kau sehebat itu. Kau begitu pendiam, seperti orang yang tak
menyimpan apa-apa."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 8


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Erwin agak terkejut. Kawannya ini telah mengetahui tentang dirinya. Bahwa ia bukan manusia seperti
orang lain. Bahwa kadang-kadang berubah jadi harimau. Dari siapa ia tahu?
"Jadi kau tak mau berkawan lagi denganku?" tanya Erwin.
"Gila kau ini! Aku justeru bangga kau seorang yang mengobati orang yang sudah tak tertolong oleh dokter
atau dukun!" kata Sabaruddin.
Lega hati Erwin. Yang diketahui sahabatnya, bahwa ia seorang dukun.
"Ah, itu dibesar-besarkan orang Sab!" kata Erwin.
"Orang yang benar-benar hebat memang biasanya merendahkan diri. Yang tanggung-tanggung biasanya
omong besar."
"Pengetahuanku tak seberapa. Semua pun berkat izin dan bantuan Tuhan," kata Erwin.
Sabaruddin yang seperti kebanyakan orang Bugis taat agama Islam tambah senang mendengar. Beruntung
rasanya punya kawan seperti Erwin.
"Aku ingin kau menolong aku."
"Soal apa? Asmara?"
"Bukan, aku sudah punya pacar. Aku sayang padanya, kurasa dia juga cukup sayang padaku. Satu
cukuplah!"
"Bagus! Lalu aku bisa menolong apa?"
"Kita ke Ujung Pandang, lalu dari sana ke Pare-Pare, kau mau?"
"Untuk apa? Jadi turis domestik? Bagiku belum waktunya Sab!"
"Bukan. Untuk menolong aku, kalau kau mau."
"Kau bukan orang yang butuh pertolongan Kau orang yang mampu memberi pertolongan! Kau tidak -
kekurangan apa-apa, bukan?"
"Dalam hal ini kau keliru. Semua manusia butuh bantuan. Kadang-kadang. Dan semua manusia dapat
memberi bantuan dengan cara masing-masing! Coba katakan manusia sehebat apa yang tidak memerlukan
bantuan."
"Baiklah, aku tentu saja mau menolong kalau aku bisa."
"Bisa, kalau kau mau. Aku punya seorang adik perempuan. Umur sekitar delapan belas." Sabaruddin diam
seketika. Dia memandang kosong ke depan. Kemudian baru ia melanjutkan, "Adikku itu cantik sekali. Salah
seorang yang paling cantik di antara dara-dara Bugis."
"Teruskan ceritamu," kata Erwin mulai tertarik melihat bahwa sahabatnya itu menghadapi problema cukup
berat.
"Adikku itu sakit. Sudah lebih sebulan." Sabaruddin diam lagi.
Ia menduga bahwa adik sahabatnya mungkin diserang kanker.
"Penyakit itu tak dapat diobati oleh dokter. Sudah puluhan. Dukun pun sudah banyak sekali yang
dipanggil. Tak seorang pun sanggup!"
"Penyakit apa itu Sab?"
"Adikku itu gila! Kami yakin oleh ramalan orang. Sebab sebelum sakit ia masih cerdas. Kami

SERIAL MANUSIA HARIMAU 9


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mengharapkan dia seorang dokter atau insinyur. Penyakit itu datang mendadak!"
Atas permintaan Erwin, Sabaruddin menceritakan, bahwa sebelum sakit telah beberapa orang melamar
adiknya. Ada yang sudah punya istri dan banyak pula yang memang masih bujangan. Tak juga diterima karena
mereka ingin ia mencapai sarjana. Mungkin ada di antara mereka yang sakit hati dan membalas penolakan
mereka. Adik Sabaruddin harus jadi miliknya atau tidak dikehendaki oleh siapapun. Caranya dengan membuat
dia jadi gila. Bagi Erwin cerita ini sama sekali tidak aneh. Di mana saja ada kejadian yang semacam itu. Balas
dendam melalui apa yang dinamakan jalan halus. Sakit hati terbalas, undang-undang tertulis tidak dilanggar.
Tak ada satu pasal pun di dalam Undang-undang Hukum Pidana menyebut menganiaya atau membunuh
orang melalui jalan guna-guna atau teluh.
"Kalian, maksudku keluargamu di Pare-Pare menaruh curiga pada seseorang?" tanya Erwin.
"Kami, termasuk aku yang turut hadir di sana telah memanggil beberapa tukang tenung untuk melihat
siapakah yang telah menjahili adikku. Tetapi keterangan mereka samar-samar dan berlainan pula yang seorang
dengan lainnya. Ada yang mengatakan orang yang menjahati adikku tinggal di sebelah Barat, berbadan gemuk
dan berkulit hitam. Ada pula yang berkata bahwa laki-laki yang yang jahat itu telah meminta pertolongan
seorang perempuan untuk membuat adikku jadi gila. Kami hanya bisa meraba-raba, tiada pegangan yang pasti.
Penyakit gila adikku itu semakin parah."
"Dia tak pernah menyebut nama seseorang?" tanya Erwin.
"Sepanjang tahuku tidak pernah."
"Kalau begitu yang mengerjai adikmu itu termasuk kuat ilmunya! Kalau aku boleh tahu siapa nama adikmu
itu. Dari tadi kau belum menyebut namanya."
"Farida Mappe!" jawab Sabaruddin.
"Lengkapnya Andi Farida Mappe," kata Erwin.
"Ya begitulah. Dia memang suka mempergunakan Andi-nya."
"Kasihan dia. Memang di sana-sini ada wanita-wanita yang dijahili oleh laki-laki yang kecewa. Ini suatu
resiko dari kecantikan."
Apa yang dikatakan Erwin dalam keterus-terangann benar. Andaikata Farida berwajah dan berpotongan
jelek tentu tak ada orang yang akan bersusah payah menganiaya dia. Tak akan jadi rebutan dan biasanya tidak
akan terlalu memilih kalau ada yang melamar. Ruginya tidak bisa turut kontes kecantikan atau ratu-ratuan.
Segala sesuatu punya segi buruk dan segi baiknya.
"Kau mau ke kampungku?" tanya Sabaruddin.
"Aku bersedia pergi tetapi jangan kau kira bahwa aku pasti dapat menyembuhkannya. Bahwa aku akan
berdaya upaya sudah pasti, tetapi kesembuhan letaknya di kekuasaan Tuhan!"
"Kau baik sekali Erwin. Dan kau hidup pada jalan yang diredhoi Allah!"
"Jangan memuji atau berkata begitu. Semua orang sebenarnya hampir sama. Keadaan yang menentukan
yang akan dilakukan manusia. Aku juga begitu. Kau lihat aku hari ini baik, tetapi pada lain waktu aku
mungkin jahat atau katakanlah jadi jahat karena keadaan atau lingkungan memaksa aku jadi jahat. Itu
dinamakan kelemahan manusia dan tidak selalu manusia bisa mengelakkan kelemahannya."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 10


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Kau bijaksana Erwin. Falsafah hidupmu baik sekali. Aku bisa belajar dari cara kau berpikir dan
memandang hidup. Bila kita pergi?"
"Besok kuberi tahu. Hari ini belum bisa kutentukan. Tapi nanti malam aku sudah akan mulai bekerja.
Sebisakulah."
"Kau dapat mengobati dari jauh?" tanya Sabaruddin.
"Tunggulah sampai besok pagi. Aku akan datang memberitahu."
Sabaruddin merasa senang. Tak lama kemudian Erwin pulang untuk melihat apa yang mungkin
dilakukannya untuk Farida yang gila di Pare-Pare.

***

DI PERJALANAN pulang Erwin merasa gelisah. Tanpa sebab. Ia tidak punya persoalan apa pun yang meresahkan
hati atau pikiran.
"Apa yang terjadi Indah?" tanya Erwin setelah tiba di rumah.
"Tidak ada apa-apa," jawab Indah, "Mengapa abang bertanya begitu?"
Erwin menerangkan bahwa perasaannya kurang tenteram, padahal menurut tahunya tidak ada suatu apa
pun yang membuat ia harus gelisah.
Setelah itu baru istrinya teringat kehebohan kecil tetangga beberapa rumah jaraknya dari tempat kediaman
Erwin.
Kata Muzakkir yang tinggal di situ ia dan istrinya serta beberapa orang lain melihat babi pada siang hari
itu. Babi besar dengan taring yang panjang. Hitam warnanya. Babi hutan tentu. Heran, ada babi berkeliaran di
kota pada siang hari. Yang lebih mengherankan, tiba-tiba babi itu hilang bagaikan ditelan bumi.
Kalau itu khayalan, kenapa begitu banyak orang mempunyai hayalan yang sama.
"Apakah cerita mereka itu benar Bang?" tanya Indah.
Erwin tahu bahwa babi itu tentu Ki Ampuh yang sudah sekian bulan tidak menampakkan diri. Tetapi ia
tidak mau membuat istrinya jadi takut. Dikatakannya saja, bahwa barangkali kebetulan ada babi hutan nyasar.
Di Pekanbaru pernah harimau masuk ke dalam pasar yang ramai dengan manusia tetapi tidak mencederakan
siapapun. Inikah yang membuat ia gelisah di perjalanan tadi? Mau apa Ki Ampuh datang lagi? Baginya berita
ini bukan sesuatu yang boleh dianggap angin lalu saja.

***

MALAM itu Erwin mengunci diri di dalam kamar khususnya. Ia mau melihat apa yang akan dapat dilakukannya
di Pare-Pare nanti. Ia ingin sekali menolong sahabat baiknya, Andi Sabaruddin Mappe yang rendah hati itu.
Seperti biasa dengan salah satu cara untuk melihat apa yang terjadi di tempat jauh, ia mengambil semangku air
dengan pisau yang sudah karatan. Sebuah limau purut jantan tak boleh tidak ada, karena buah itu merupakan
salah satu persyaratan utama. Limau diiris menjadi tiga potong diletakkan ke dalam mangkuk. Erwin membaca

SERIAL MANUSIA HARIMAU 11


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mantera dalam bahasa Mandailing. Dipanggilnya juga nama Ompung dan Ayahnya. Dipintanya bantuan
kepada segala harimau yang jadi-jadian, kepada manusia-manusia yang disebut cindaku di Kerinci Sumatera
Barat sana. Tetapi lebih dari semua itu ia berulang-ulang menyebut nama Tuhan agar membantunya. Setelah
itu ia mengkhusukkan diri menyebut nama Andi Farida Mappe tujuh puluh tujuh kali. Bulu romanya berdiri.
Pada kali yang ketujuh puluh tujuh dipanggilnya nama dara yang sudah jadi gila itu agak keras. Tidak ada
sahutan. Hati Erwin berdebar. Dalam hal yang wajar, wanita itu harus menampakkan wajahnya di permukaan
air putih itu. Tetapi kali ini tidak. Ini pertanda yang tidak baik.
Erwin mencoba lagi, tidak juga kelihatan apa-apa. Kemudian terjadilah apa yang dikhawatirkannya. Irisan
limau purut itu tenggelam satu persatu ke dasar mangkuk.
"Kasihan Sabaruddin," katanya pada diri sendiri. Abdi Farida telah tiada. Telah berpulang ke rahmatullah.
Orang mati tak dapat dihidupkan kembali. Oleh dukun sehebat apapun. Jikalau Dia menghendaki maka Dia
saja saja yang dapat berbuat saja, Allah sajalah yang maha Kuasa.
Apakah ia sekarang juga ke rumah Sabaruddin menyampaikan berita yang telah diketahuinya? Ataukah
besok saja, sesuai dengan janjinya.
Ia keluar mendapatkan istrinya di ruang duduk, sedang membaca buku.
"Kelihatannya Abang risau. Boleh aku tahu ada apa?"
Erwin menceritakan semua. Permintaan Sabaruddin dan apa yang baru diketahuinya.
"Apa yang baik kulakukan?" tanya Erwin.
"Jangan tunggu sampai besok. Kabarkan kepadanya sekarang! Kalau besok baru dikabarkan akan sama juga,
bahkan lebih lagi. Kalau malam ini ia tahu, ia bisa bikin persiapan untuk berangkat ke Ujungpandang dengan
pesawat pagi. Dari sana ia terus ke Pare-Pare untuk menemui adiknya, walaupun hanya tubuh tak bernyawa
lagi. Bila adiknya itu meninggal?"
"Tentunya tadi. Pendeknya baru saja. Sabaruddin belum mengetahui. Mungkin malam ini akan ada telpon
dari Ujungpandang," kata Erwin.
Erwin mengikut nasehat istrinya. Ia berangkat ke rumah sahabatnya, yang ditemuinya belum tidur.
Kedatangannya tidak diduga oleh Sabaruddin, tetapi nampaknya ia senang dengan kunjungan Erwin.
Tentu akan mengatakan ia mau berangkat ke Pare-Pare.
"Bagaimana, kau mau ke sana bukan?" tanya Sabaruddin setelah Erwin duduk. Erwin tidak segera
menjawab. Ia tak tahu mau memulai bagaimana.
"Kau tak bersedia?" tanya Sabaruddin.
Erwin memandang sahabatnya. Sayu tetapi mengandung kekuatan. Ia ingin menenangkan sahabatnya
dengan pandangan itu.
"Aku mau pergin tetapi—" Erwin tidak meneruskan.
"Tetapi apa?" tanya Sabaruddin. Masih penuh tanda tanya, tidak dapat menebak.
"Kau belum mendapat kabar rupanya," kata Erwin.
"Ceritakanlah Erwin. Ada musibah menimpa diri atau keluargamu?"
Erwin menggeleng.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 12


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Kau tabah dan percaya kepada Ilahi bukan?"


"Tentu, ada apa?"
"Ia telah tiada, Tuhan telah memanggilnya pulang."
"Siapa maksudmu? Adikku Farida? Dari mana kau tahu Erwin, katakan terus terang."
"Farida telah meninggal tadi," kata Erwin sambil memegang kedua bahu sahabatnya.
Sabaruddin tak kuasa menahan sedih, dilepaskannya melalui tangis terisak-isak.
"Kau tidak keliru Erwin?" tanyanya menumbuhkan harapan bagi dirinya sendiri.
"Aku harap aku keliru!"
"Kau yakin, adikku itu sudah tiada?"
"Farida telah tiada! Tabahkan hatimu. Semua yang bernyawa, pada suatu saat akan dipanggil Tuhan
kembali. Tanpa kecuali. Akan tiba juga detiknya bagiku dan kamu."
"Kalau begitu dia mati oleh perbuatan anjing keparat itu. Aku akan ke Pare-Pare besok. Kau mau
menemani aku Erwin?"
Tak layak Erwin menolak permintaan sahabat yang dalam kemasgulan. Ia akan ikut.
Malam itu Sabaruddin tidak bisa tidur. Tangis, amarahdan dendam silih berganti merasuk hatinya. Betapa
tidak begitu! Mereka hanya dua bersaudara, dia yang tertua dan Farida adik tunggalnya.
Kematian Farida Mappe yang Andi itu menggemparkan masyarakat kota karena hampir semua penduduk
mengetahui penyakit buatan yang menimpa dara keluarga hartawan dan bangsawan itu. Bisik-bisik di antara
mereka mempertanyakan siapakah laki-laki berdendam itu dan siapa pula dukun yang mengirim bencana atas
diri Andi Farida.
Terjadi spekulasi di antara mereka, tetapi tidak tahu dengan pasti siapa sesungguhnya yang bertanggung
jawab.
Pengaruh kematian Farida bukan hanya sampai keheranan dan desas desus saja. Banyak orang tua yang
mempunyai gadis cantik jadi ketakutan, kalau-kalau anak mereka juga akan ditimpa bencana seperti itu kalau
menolak pinangan. Di samping ketakutan ini ada pula sejumlah laki-laki, baik duda, bujangan maupun yang
sudah punya istri atau istri-istri jadi ketawa di dalam hati, karena ini akan membuka jalan yang agak lebar bagi
mereka untuk mendapatkan perawan cantik yang jadi incaran.

***

SEBELUM berangkat dari rumah menuju lapangan udara pagi itu, Andi Sabaruddin menerima kabar melalui
telpon dari Ujungpandang dari pamannya, mengatakan kematian adiknya Farida. Ia tidak lagi terkejut karena
sudah yakin pada keterangan Erwin. Dalam kesedihan hatinya. Sabaruddin masih sempat kagum akan
kehebatan kawannya yang sebaya dengan dirinya itu. Dan ia merasa lega dapat ke Pare-Pare bersama
sahabatnya yang belum diketahuinya, bahwa selain dukun ia juga manusia harimau.
Setelah masuk pesawat, Erwin kian mohon kepada Tuhan dan kepada kerabat-kerabatnya yang telah
meninggal agar atas dirinya jangan terjadi apa-apa. Kalau dalam pesawat ia berubah jadi setengah harimau,

SERIAL MANUSIA HARIMAU 13


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

bukan saja semua penumpang akan panik, bahkan pesawat itu mungkin akan jatuh, karena awak pesawat pasti
akan ketakutan mempersaksikan yang tak pernah mereka khayalkan itu. Masih lebih baik dibajak oleh
gerombolan atau petualang yang akan minta uang tebusan atau tuntut pembebasan kawan-kawan mereka dari
penjara daripada melihat manusia menjadi harimau di tengah-tengah mereka. Di angkasa langit. Permintaan
Erwin dikabulkan Tuhan. Dua jam kemudian pesawat mendarat dan kedua sahabat itu menyewa kendaraan
untuk langsung membawa mereka ke Pare-Pare. Kedatangan Sabaruddin disambut dengan tangis dan oleh ibu,
ayah dan keluarganya yang lain. Mereka tidak menduga, bahwa ia sempat tiba pada pagi itu, pamannya di
Ujungpandang pun baru pagi itu dapat menelponnya. Erwin turut sedih dan tak kuasa pula menahan air
matanya.
Melihat mayat adiknya dengan wajah yang sudah pucat tetapi kelihatan pasrah pada nasib, Sabaruddin kian
menjadi-jadi. Dendamnya bangkit.
Bagaikan orang kurang sadar ia bertanya keras: "Siapa yang menjahati adikku?"
Tidak ada jawaban, karena memang tak ada yang tahu. Semua keluarga berusaha menyabarkannya. Ada
yang menasehati bahwa tak baik bahkan tak boleh menangisi karena rohnya tidak akan tenang. Tangis tidak
membantu orang yang sudah meninggal. Semua hamba Allah, Tuhan yang empunya, maka Dia boleh me-
manggilnya pula kapan saja dikehendakinya.
"Kalian cuma pandai ngomong," kata Sabaruddin yang emosi. "Aku pun dapat berkata begitu, kalau kalian
yang kehilangan!"
Melihat kesedihan sahabatnya itu, hati Erwin pun seperti tersayat. Memang Tuhan yang menentukan
kematian, tetapi dalam hal-hal tertentu tangan manusia jadi penyebab.Tak semua kematian dapat kita
namakan takdir. Andi Farida yang cantik dan sehat menjadi gila karena buatan sesama manusia yang
mengamalkan ilmu jahat.
Aku ingin tahu siapakah dukun yang telah menjual Andi Farida kepada orang yang membayarnya. Orang
itu akan menerima balasannya! Pada waktu itu terpikir oleh Erwin, apakah ia akan mampu menghadapi dukun
hantu yang sudah puluhan dukun Bugis dan Makassar bahkan Toraja gagal menghadapi dia.

***

BANYAK sekali keluarga dan sahabat yang mengantar jenazah Andi Farida ke tempat peristirahatannya yang
terakhir. Banyak kawan-kawannya meneteskan air mata. Semua hati, dikecualikan sejumlah kecil orang-orang
yang kecewa, mengutuk dukun dan pengupahnya yang menyebabkan Farida menjadi gila.
Ketika jenazah diturunkan ke tempat abadinya, turun hujan rintik-rintik tetapi tiada angin selembut apa
pun. Keadaan hening sekali. Dan di tengah keheningan itulah mendadak terdengar suara auman harimau,
binatang buas yang tidak ada di Sulawesi. Orang banyak itu saling pandang dan tanya tanpa kata. Apakah
maknanya ini. Suara harimau di daerah yang langka harimau. Kalau sebagian dari mereka yang heran dan takut
itu tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu maka beberapa manusia yang mempunyai ilmu dukun ilmu
pusaka yang diturunkan ayah, ibu, kakek atau nenek segera mengetahui bahwa ada pendatang dari pulau lain

SERIAL MANUSIA HARIMAU 14


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

masuk ke daerah itu. Pendatang yang tak tampak oleh mata kasar, pun tak kelihatan oleh orang-orang berilmu
tinggi yang tidak bisa didapat dari fakultas mana pun permukaan bumi ini. Mereka hanya dapat menduga,
bahwa pendatang yang punya suara tapi tak kelihatan rupa itu asalnya dari pulau yang berharimau. Malaysia,
Muangthai, Birma, India atau barangkali Sumatera.
Erwin yang mendengar suara itu segera mengetahui bahwa ompungnya ada di sekitar situ. Baginya jelas
sekali perbedaan suara ompung dan ayahnya. Mengapa ompungnya datang ke Sulawesi? Untuk membayangi
cucunya? Mengapa?
Andi Sabaruddin, walaupun dalam duka cita yang amat besar, juga mendengar suara itu. Ia tahu bahwa
suara itu suara harimau dan dia mendengar selama di Jawa bahwa di Sumatera Barat dan Tapanuli ada
manusia-manusia harimau. Bahkan ia mengetahui bahwa manusia harimau pernah ada di Jakarta. Dibacanya
dari surat-surat kabar. Kini, dengan mendengar suara itu ia menyangka bahwa yang membuat adiknya gila
mungkin dukun yang punya piaraan harimau. Suara tadi menandakan kemenangan karena sasaran sudah mati
dan dikuburkan. Apakah ada orang Bugis atau Makassar atau Toraja yang menuntut ilmu halus di Sumatera
lalu membawa harimau itu. Ataukah dukun itu memang asal Sumatera dari daerah lain yang memiliki
harimau?

***

PADA malamnya, sehabis tahlilan, keluarga almarhumah membicarakan suara harimau di kuburan tadi. Erwin
juga hadir. Dia hanya mendengarkan sehingga beberapa saat kemudian baru menjawab pertanyaan Sabaruddin.
"Apakah kau tahu mengapa ada suara harimau tadi?" tanya Sabaruddin.
"Aku tak sanggup memastikan. Tetapi suara tadi memang suara harimau!" jawab Erwin. Ia tidak ingin di-
ketahui bahwa ia sendiri, ayahnya dan kakekrnya semua manusia harimau.
Keluarga Sabaruddin tidak kuasa menyembunyikan dendam yang amat mendalam terhadap orang yang
telah menyebabkan kematian Andi Farida. Sudah banyak dukun yang mereka mintai bantuan selagi gadis
malang itu masih sakit. Tak seorang pun kuasa menghadapi dukun yang menjahatinya. Karena ia punya ilmu
yang jauh lebih ampuh dari mereka. Sebenarnya di hampir seluruh kota Sulawesi Selatan ada orang-orang
hebat dengan ilmu hitam atau putih. Hanya nasib buruk Farida jugalah menyebabkan keluarganya belum
menemukan dukun yang tepat melawan orang yang merubuhkan gadis itu.
"Kau akan menolong kami Erwin?" tanya Sabaruddin.
"Aku akan berusaha, tidak dapat menjanjikan apa-apa. Barangkali apa yang kumiliki tidak lebih daripada
orang pandai yang sudah dipanggil!" Seperti biasanya ia tidak berani bicara takabur. Dan memang belum tentu
sanggup mengatasi kepandaian orang yang akan dihadapinya itu.
"Kami ingin dia binasa," kata paman Farida.
"Suatu dendam yang wajar. Tetapi," kata Erwin tanpa meneruskan kalimatnya.
"Biar aku yang memikul dosanya," kata Sabaruddin.
Setelah lepas sembahyang magrib mereka masih bicara-bicara.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 15


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Selesai makan malam, Erwin mengatakan bahwa ia akan berusaha sekuat kemampuannya dan akan
sembahyang Isya sendiri di kamar. Sabaruddin dan keluarga memberi salam kepada orang muda asal Sumatera
itu dengan iringan kata-kata: "Kami hanya dapat mendoa karena kami hanya orang-orang lemah tanpa daya!"
"Aku pun juga begitu. Yang akan kulakukan seluruh usaha, daya dengan kehendak Tuhan, karena Dialah
menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha." Erwin.

***

SETELAH selesai sembahyang terakhir dari yang waktu sehari semalam, Erwin bertenang dalam usaha
memusatkan pikiran dan mengkhusukkan permintaan. Di dalam berkhusuk itulah ia mendengar suara
ayahnya.
"Membalas dendam dan membunuh tidak baik. Tapi ada kalanya orang harus membunuh. Pertama agar
tidak dibunuh, kedua karena tiada bayaran yang lebih pantas daripada mengambil nyawa si pembunuh!"
Seperti biasa ia mengeluarkan pisau tuanya yang sudah setengah karatan, meletakkannya di sebuah piring.
"Kalau orang itu ada di kota ini, berputarlah kau seratus delapan puluh derajat. Kalau ia di luar kota,
kemarilah kau. Kau belum pernah mengecewakan, kali ini pun kupinta agar kau jangan sampai mengecewakan
aku." kata Erwin setelah lebih dulu membaca mantera.
Pisau itu tidak bergerak. Tidak menjawab pertanyaannya.Untuk pertama kali pisau berisi itu menolak
jawaban atas pertanyaannya. Bukan hanya itu. Erwin merasa badannya panas, tetapi mengeluarkan keringat
dingin. Tandanya ia menghadapi tantangan. Dan pisau itu rupanya tunduk kepada perintah si penantang.
Jelas, musuhnya bukan orang yang boleh dipandang enteng saja. Setidak-tidaknya dia tahu bagaimana
merahasiakan tempat bermukimnya.
Berkata Erwin: "Aku tahu asalmu. Baik mata maupun tubuhmu. Aku selalu setia memberi kau makan
sebagaimana yang dipinta oleh pemilikmu sebelum aku. Aku tidak mengatakan bahwa aku majikanmu. Aku
hanya yakin, bahwa kita berkawan. Dan kau salah satu kawanku yang terdekat. Tetapi kalau kau mau
meninggalkan aku, mau berpaling pada yang lain, itu menjadi hakmu. Aku tidak akan memaksa. Tak baik
melakukan paksaan. Barangkali yang itu dapat memeliharamu lebih baik dari aku yang telah kau kenal.
Manusia benar hanya kadang-kadang. Silakan pergi, kalau itu pilihanmu! Tiap makhluk berhak mencari nasib
yang lebih baik, kau tidak terkecuali daripada itu!"
Rasa panas badan dengan keringat dingin belum mereda. Dipandangnya pisau yang tidak mau menjawab
itu. Masih ada di sana. Padahal, kalau ia mau, ia dapat menghilang. Ia pun dapat disuruh, tetapi Erwin belum
pernah memberi tugas sejauh itu. Hulu pisau itu basah, kemudian entah dari mana sebabnya ia telah
mengeluarkan beberapa tetes air. Kemudian terdengar suara terisak-isak Jelas dari piring tempat pisau itu.
Menangiskah ia? Apkah ia tidak menjawab karena di bawah tekanan yang terasa berat?
"Tolong aku ayah, tolong ompung, tolong Inyek Datuk nan Kuniang. Bebaskan pisauku ini dari tekanan
orang itu!"
Tak lama kemudian panasnya mereda, keringat dingin pun tidak mengalir lagi. Berkat bantuan yang

SERIAL MANUSIA HARIMAU 16


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dipinta kepada orang-orang yang mengasihinya. Dibacanya lagi mantera sebelum mengulangi pertanyaan
kepada pisau saktinya.
Pelan, sangat pelan pisau itu bergerak. Rupanya ia mulai letih. Sampai seratus delapan puluh derajat ia
berhenti. Ia telah menjawab. Orang yang ditanyakan Erwin berada di dalam kota. Dalam kawasan Pare-Pare.
Diangkatnya pisau itu, diciumnya lalu disimpannya dalam sarungnya yang terbuat dari kayu.
Waktu itu hari telah agak jauh malam. Telah pukul sebelas menjelang tengah malam. Ia menghaluskan
diri, keluar dari rumah. Ia memakai ilmu angin delapan penjuru. Di mana angin dapat lewat dari situ dia dapat
keluar atau masuk. Dengan begitu tidak seorang pun di rumah itu mengetahui, bahwa Erwin telah tiada di
kamarnya. Tetapi kalau tugasnya selesai ia akan kembali sebagai manusia biasa. Lewat pintu. Tentu orang akan
heran. Ah, biarkanlah mereka heran. Tidak apa-apa. Yang penting tugas terselesaikan. Dan ia berharap sekali
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Untuk keadilan dan untuk memberi keringanan kepada keluarga
sahabatnya, walaupun dengan pembalasan, yang telah tiada juga tidak akan bisa hidup kembali.
Sebagai biasa ia membaca beberapa doa, supaya kaki melangkah ke tempat yang jadi tujuan. Gagak yang
sedari tadi tak henti-hentinya berkaok-kaok, membuat malam yang telah agak larut itu terasa seram. Bulu
kuduk orang juga pasti akan berdiri dibuatnya.
Ia berhenti di muka sebuah rumah. Di pagar tampak papan nama. Dengan mendekatkan mata Erwin dapat
membacanya. ''Daeng Guruh". Bukan nama biasa. Tetapi orang luar biasa memang biasa punya nama yang
luar biasa pula. Mungkin yang punya nama itu bukan dilahirkan dengan nama itu. Belakangan ia merasa perlu
menggantinya dengan yang lebih pantas dengan kemampuannya.
Pintu itu tidak digembok. Mudah dibuka. Tetapi ketika hendak melangkahkan kaki ke pekarangan, Erwin
merasa kakinya hampir tak terangkat. Wah, orang ini benar-benar bukan sembarang orang.
Tetapi untuk yang seperti itu Erwin punya penangkal. Ia menghadap ke jalan raya dan mencoba melangkah
mundur. Dan ia berhasil setelah mundur beberapa langkah ia putar lagi badannya dan kini dengan mudah
menuju rumah. Bangunan cukup lumayan.
Dalam hal yang begitu ia perlu meminta supaya dirinya mengharimau. Permintaannya terkabul. Semula
Erwin memberi salam. Tiada jawaban. Rupanya ada firasat pada orang pintar itu.
"Bukakan pintu, pak Daeng Guruh!"
Jelas pertanyaan yang empunya siapa nama pendatang di malam itu, Erwin tidak memberi jawaban.
"Buka pintu, Daeng Guruh!" Kini tanpa menyebut "pak".
Perbedaan ucapan itu dirasakan oleh Daeng Guruh. Memang benar itu rumahnya dan dia sendiri pula yang
bertanya nama. Ia berpikir, bagaimana orang ini bisa masuk. Biasanya pendatang hanya memanggil-manggil
dari luar pagar. Kalau telah dibebaskannya pekarangan dari pagar situ barulah pendatang dapat mendekati
rumahnya. Tentu orang yang sebiji ini sudah di depan pintu. Dia sudah mengetuk-ngetuk pintu.
"Aku mau masuk Daeng," kata Erwin dengan suara keras.
"Sebutkan dulu namamu, dari mana kau, siapa yang menyuruh ke mari," pinta Daeng Guruh terperinci.
"Nama tak penting, kalau sudah kau buka kau akan tahu."
Kurang ajar betul, kutuk Daeng di dalam hatinya yang terhina oleh kata-kata pendatang tak dikenal dan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 17


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

tak memperkenalkan nama itu.


Dari curiga Daeng Guruh mulai marah. Setan mana berani berkata begitu kasar kepadanya. Ini tentu
seseorang yang belum mengenal dia.
"Katakan siapa engkau!" bentak dukun besar itu. Bentakan itu dijawab dengan tendangan keras, yang
bagaimanapun handalannya telah membuat Daeng jadi kaget. Tentunya garong yang hendak merampok
karena tahu dia baru menerima banyak upah dari orang yang meminta bantuannya. Ia bukan jago silat atau
pencak, tak kenal ilmu phisik bela diri. Tetapi ia mempunyai yang lebih daripada itu. Ilmu kebatinan dan sihir
yang bisa membuat tiap musuhnya berdiri tanpa daya di hadapannya. Ia dapat memerintan musunnya yang
bagaimanapun garangnya bersimpuh atau sujud di hadapan kakinya.
Daeng Guruh membaca mantera. Pendatang belum sampai di kamar tempat ia ngomong-ngomong dengan
istrinya. Terdengar olehnya langkah-langkah berat. Dia tahu pendatang ini bukan garong biasa. Mungkin
punya ilmu semacam dia. Ada banyak penjahat yang punya ilmu pukau dan penggentar atau kebal.
"Keluarlah dukun!" kata tamu yang belum kelihatan itu.
Pengecut kalau ia tak keluar dan memberi hajaran pada pendatang itu. Daeng Guruh keluar dan berbisik
pada istrinya supaya tenang-tenang saja.
Begitu sampai di ruang muka Daeng Guruh tak dapat menahan rasa terkejut yang disertai debaran jantung.
Ia hebat memang, banyak pengalaman. Berbagai macam musuh telah dihadapi dan dijatuhkannya. Tetapi
makhluk macam ini baru kali pertama dilihatnya selama hidup. Harimau berkepala manusia.
"Mari ikut!" kata manusia harimau itu.
"Ke mana dan apa maumu?" Daeng Guruh benar-benar kehilangan keseimbangan jiwa dan pikiran.
"Ikut sajalah. Kau yang bernama Daeng Guruh, bukan!"
"Ya, tapi aku tidak punya urusan apa pun denganmu. Siapakah kau yang telah begitu berani mendobrak
pintu rumahku? Kau tahu kesalahanmu?" kata dukun Bugis itu. Dia menggertak setelah ia dapat menguasai
diri kembali.
Dukun itu membaca mantera supaya manusia harimau itu kehilangan daya, tetapi ia ditertawakan oleh si
pendatang:
"Kau coba melumpuhkan atau menakuti aku. Aku datang menjemput kau dan kau harus ikut. Belum ada
orang yang menolak ajakanku!"
"Mengapa kita harus bersengketa, sedangkan kukira kau juga mempunyai ilmu. Kita sama-sama tukang
dukun, buat apa adu kekuatan. Lagi pula kita belum pernah kenalan. Aku tidak menyusahkanmu, buat apa kau
menantang aku !"
"Jangan banyak dalih lagi Daeng. Aku mau berurusan denganmu, tetapi tidak di rumahmu ini. Aku mau di
sana, bukan rumahku dan bukan pula tempat kediamanmu."
Malu kalau-kalau dianggap takut, maka Daeng Guruh menyetujui. Otaknya dipenuhi tanda tanya, apakah
kemauan makhluk aneh tetapi pasti punya kekuatan hebat. Gagak-gagak tetap hiruk-pikuk berputar-putar di
kota Pare-Pare, kian banyak orang terbangun, tetapi seorang pun berani ke luar. Hati mereka jadi kecut
mebayangkan bencana apa gerangan yang akan menimpa daerah mereka! Gempa, badai, ataukah dunia akan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 18


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kiamat. Ya, mungkin dunia akan kiamat. Dan semua yang bernyawa akan mati. Uh, betapa menakutkan!
"Kau jalan di muka," kata manusia harimau. Dukun Daeng curiga, dia menolak. "Kau sajalah," katanya.
"Baik, kalau begitu maumu!" kata manusia harimau yang tak lain daripada Erwin.
"Sebetulnya kau ini siapa?" tanya Daeng Guruh.
"Aku perantau!"
"Dari mana?"
"Seberang!"
"Seberang mana? Kalimantan, Jawa, Ambon, atau Morotai barangkali?"
"Bukan, Sumatera!"
"Wah, jauh juga perantauanmu. Banyak orang Bugis di sana?"
"Banyak!"
"Yang pintar juga?"
"Ya, tapi yang sejahat kau kurasa tak ada!" .
Wah, perantau ini bicara terus terang, pikir Daeng Guruh. Dia dikatakan jahat, padahal berkenalan pun
baru malam ini.
"Mengapa kau kata aku jahat?"
"Jalan terus Daeng, jangan berhenti!" kata manusia.
Dukun itu malu. Rupanya pendatang itu tahu bahwa ia berhenti. Kuat benar panca inderanya.
"Kau hebat, tahu kalau aku berhenti!" kata Daeng menutupi rasa malu.
"Aku rasa tidak sepandai kau! Sekurang-kurangnya tidak sejahat kau!"
"Mengapa kau katakan aku jahat? Numpang tanya, siapa namamu. Kita sudah berkenalan tetapi aku belum
mengetahui namamu."
"Namaku Erwin. Kau memang jahat, jangan belagak tidak tahu!"
"Aku tak mengerti!" sahut dukun Daeng.
"Kau dukun merangkap pembunuh bayaran!"
"Kau sembarang ngomong. Fitnah siapa pula yang kau percayai itu?"
"Memang tengik kau Daeng. Kau memang pembunuh, Kau katakan aku mendengar fitnah. Kau
membunuh Andi Farida bukan? Setelah kau lebih dulu membuat dia gila. Apakah itu bukan pembunuh
bayaran? Kau kerjakan itu karena kau dibayar, bukankah begitu."
"Aku tak pernah membunuh dia, Erwin. Dia mati karena sudah sampai ajalnya!"
"Binatang kau. Baiklah kukatakan bahwa aku datang menghukum kau!"
"Apa sangkut pautmu dengan urusan ini!"
"Tak usah banyak tanya dukun jahanam. Bersiaplah kau!" Erwin membalik dan menghadapi Daeng Guruh.
"Gunakan semua ilmumu! Kalau aku kalah, kau akan selamat, tetapi kalau kau tak mampu menahan aku,
maka sampai di sini sajalah riwayatmu!" Dukun itu tahu, bahwa lawannya bukan sekedar main-main, ia mau
membunuh. Dan untuk menyelamatkan nyawa, maka Daeng harus lebih dulu membunuh Erwin. Ia gunakan
segala macam ilmu gaibnya. Tetapi manusia harimau itu tidak lumpuh, tidak sujud di hadapannya. Terang ia

SERIAL MANUSIA HARIMAU 19


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mempunyai ilmu yang luar biasa.


"Sebelum kau mati, katakan siapa yang membayar dirimu!" perintah Erwin.
"Katakan!" terdengar satu suara membentak di sebelah kanan Daeng. Ia menoleh, tampak olehnya lagi
makhluk seperti Erwin. Mukanya sudah tua dengan putih dan pancaran mata penuh wibawa. Daeng jadi panik
melihat Dja Lubuk yang tak dikenalnya ada di sana. Yang begini tak pernah dimimpi atau khayalkan
Dapatkah ia melawan makhluk-makhluk ini?
"Aku pergi Erwin, selesaikanlah," kata Dja Lubuk lalu ia menghilang.
"Siapa yang menyuruhmu! Kau dengar perintah ayahku tadi?"
"Yang tadi ayahmu?"
"Jangan buang-buang waktu. Kau katakan atau tidak!"
"Kalau kukatakan, kita akan bersahabat?" tanya Daeng. Dia benar-benar sangsi akan kesanggupan sekali
ini. Dan inilah untuk pertama kali ia takut menghadapi lawan. Itu pun karena yang menantang dia kali ini
bukan manusia biasa. Dia tidak pernah belajar bagaimana menghadapi manusia harimau dan tidak pula pernah
mengetahui sampai di mana batas-batas kekuatan makhluk itu.
"Katakanlah, tanpa syarat!" bentak Erwin.
"Baharsan yang sangat kaya itu. Bukan kehendakku Andi Farida mati!" kata dukun Daeng yang kian tidak
percaya pada diri sendiri dan mengharapkan belas kasihan.
"Kau harus membayar dengan nyawa Daeng Guruh!"
"Jangan. Aku berjanji untuk tidak lagi membantu orang yang bertujuan jahat. Aku bersumpah!" pinta
dukun itu.
Erwin teringat kepada Ki Ampuh yang beberapa kali dikalahkannya dan berjanji untuk jadi orang baik.
Bahkan bersumpah untuk jadi saudara, tetapi akhirnya dia berkhianat dan dimakan oleh sumpahnya sendiri.
Kutukan itu membuat dia jadi babi.
Erwin memandang Daeng Guruh.
"Aku tak percaya pada janji. Bahkan ragu-ragu pada sumpah. Banyak orang di zaman ini berani bersumpah
dan tidak takut melanggar sumpahnya sendiri!"
Manusia harimau itu menerkam sang dukun yang lalu jatuh terjajar karena lututnya sudah gemetaran.
Inilah rasa takut terbesar dalam riwayat hidupnya. Selama belum jadi dukun pun ia tidak pernah takut seperti
ini.
Manusia harimau itu tidak langsung membunuh. Dipandanginya dukun itu.
"Ampuni aku," mohon Daeng Guruh.
"Kau tak malu minta ampun?" tanya Erwin.
"Aku belum mau mati. Aku mau jadi orang baik! Beri aku kesempatan." Bersamaan dengan permohonan
dukun itu, kuku sang manusia harimau merobek dadanya, mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Setelah itu paha dan tangan Daeng Guruh dirobek-robek. Erwin menyeret tubuh yang sudah kehilangan
nyawa beberapa meter dari sana, sehingga meninggalkan bekas pada tanah yang agak becek oleh hujan pada
malam kematian Andi Farida. Erwin sengaja tidak mencederai muka dukun itu.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 20


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Melihat dengan mata yang tajam dan membaui dengan penciuman hidung yang luar biasa kekuatannya,
burung-burung gagak yang banyak beterbangan itu merendah bahkan ada yang mulai turun ke tanah. Erwin
mengaum beberapa kali. Burung-burung itu terkejut dan jadi takut mendengar suara yang belum pernah
mereka kenal tadinya, tetapi pasti mengandung bahaya yang amat besar, pergi menjauh. Pare-Pare menjadi
sepi kembali. Ada orang merasa lega tetapi banyak pula yang menanti dengan cemas, apalagi yang akan terjadi
sesudah pertanda yang begitu menyeramkan.
Erwin kembali lagi ke rumah sahabatnya. Doanya menjadi manusia biasa kembali terkabul, ia mengetuk
pintu. Sabaruddin sendiri membukakan, heran darimana sahabatnya itu, tetapi mulutnya bagaikan terkunci.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dibiarkannya Erwin masuk kamarnya. Setelah terbaring di tempat tidurnya,
berbagai macam pertanyaan timbul di hati Sabaruddin dan menyesal mengapa ia tidak menyapa Erwin.
Jangan-jangan sahabatnya itu menyangka dia marah, karena begitu jauh malam minta dibukakan pintu.

***

PAGI-PAGI sekali Erwin telah bangun, kemudian terdengar suara azannya yang amat syahdu, menggema di dalam
rumah sampai ke lingkungan sekitar. Segenap keluarga Sabaruddin yang memang tak bisa lelap tidur, semula
jadi heran kemudian kagum dan tambah senang dengan dukun muda itu. Semua orang Bugis, laki-laki, wanita,
tua dan muda umumnya taat beragama, bahkan ada yang fanatik. Dikecualikan satu dua orang yang barangkali
lain daripada mereka oleh karena pengaruh lingkungan pula. Pukul tujuh ketika mereka sarapan pagi,
terdengarlah berita itu. Ada dukun mati di pinggir jalan dengan isi perut berhamburan, tangan dan kaki penuh
luka. Seluruh masyarakat Pare-Pare segera mengetahuinya. Kabar yang tak pernah terjadi selama umur kota itu
menjalar ke segenap pelosok bagaikan api ditiup angin tatkala pangs sedang terik-teriknya. Inikah bencana
yang diberi tahu oleh keriuhan burung gagak malam tadi? Erwin yang sama-sama sarapan pagi hanya
mendengarkan, tidak memberi tanggapan spa-spa.
"Kau dengar bunyi gagak yang barangkali ratusan banyaknya malam tadi Er?" tanya Sabaruddin.
"Ya, aku pun heran. Belum pernah terjadi di Jakarta atau di tempat-tempat lain di mana aku pernah
tinggal. Tetapi itu pertanda buruk," jawab Erwin.
"Banyak orang mengira akan terjadi gempa hebat. Malahan ada yang menyangka akan kiamat dunia ini!"
Erwin tidak menanggapi. Kemudian Sabaruddin bertanya, apakah Erwin melihat gagak-gagak itu. Erwin
menjawab bahwa ia sengaja keluar untuk melihatnya. Dan karena terang bulan ia dapat melihatnya dengan
jelas, ratusan banyaknya.
"Padahal malam kemarin turun hujan dan gelap sekali," kata paman Sabaruddin. "Orang yang meninggal
dalam keadaan mengerikan itu, kabarnya dukun Daeng Guruh. Mereka menceritakan bahwa luka-lukanya itu
bukan kena bacokan. Dadanya yang koyak juga bukan oleh pisau atau badik! Aku akan pergi melihat, sampai
di mana kebenaran cerita orang-orang itu!"
"Ah, tentu sudah dibawa ke rumah sakit," sela Sabaruddin.
"Kurasa tidak. Polisi tentu hendak memeriksa di tempat dan karena kejadian ini luar biasa, tentu akan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 21


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dipanggil orang-orang yang ahli dalam soal luka. Misalnya dokter. Pembunuhan ini bukan pembunuhan
biasa!"
"Kau mau turut melihat Erwin?" tanya Sabaruddin.
"Hm, tak usah. Aku pernah melihat orang mati dibunuh seperti yang diceritakan itu. Di Surabaya dan di
Jakarta!" jawab Erwin.
"Apa hasib penyelidikan Polisi di sana?" tanya paman Sabaruddin.
"Orang-orang itu diterkam dan dikoyak-koyak harimau. Jantung dan hatinya juga dikeluarkan dari
perut."
"Tidak dimakan harimau itu?"
"Tidak!" jawab Erwin.
"Aneh, kata orang binatang buas suka isi perut korbannya."
Erwin tidak menanggapi, Sabaruddin bertanya kepada pamannya apanya saja yang dimakan harimau itu.
"Tidak ada. Ia hanya mengeluarkan isi perut dan merobek kaki dan tangan dukun itu. Muka orang itu
malah tidak dirusaknya," ujar paman Sabaruddin.
"Lalu, burung gagak itu! Apakah mereka tidak turun beramai-ramai memakan mayat?"
"Kurasa tidak. Tak ada bagian badannya yang hilang. Harimau tak memakannya, burung-burung gagak
juga tidak!" kata paman Sabaruddin.
"Heran. Harimau apa itu?" lalu Sabaruddin teringat kepada harimau yang mengaum di kuburan dan di
rumah kemarin siang dan malam.
Erwin merasa bahwa sahabatnya menanti penjelasan. Ia tidak mau bertanya, khawatir kalau-kalau Erwin
tersinggung.
"Harimau itu bukan harimau liar. Ia harimau manusia seperti ayahku yang datang tadi malam, walaupun
tidak memperlihatkan diri!"
"Beliaukah yang membalaskan dendam kami?" Erwin tidak menjawab pertanyaan itu tetapi berkata:
"Harimau manusia tidak makan orang. Sebenarnya ia manusia seperti kita-kita ini. Tetapi oleh suatu sumpah
beratus atau beribu tahun yang lalu oleh nenek-nenek moyangnya, akibatnya masih ada sampai kini. Manusia
harimau makan makanan seperti yang dimakan manusia. Tetapi selain itu oleh kekuatan gaib yang ada dalam
dirinya ia juga makan sesajian yang oleh sementara orang biasa dipersembahkan untuk orang halus atau arwah-
arwah keluarga yang kadangkala datang menjenguk yang masih hidup sebagai manusia biasa."
Sabaruddin bertanya apakah manusia harimau mempunyai persamaan dengan harimau piaraan.
"Ada persamaan. Badannya. Harimau piaraan memang harimau benar yang oleh kekuatan yang empunya
bisa disuruh apa saja. Yang empunya juga bisa membuat piaraannya itu tidak kelihatan oleh siapapun.
Bagaikan orang halus. Itulah sebabnya harimau piaraan bisa masuk ke gedung bagaimanapun kokohnya. Ia
masuk sebagai orang halus. Asalkan angin dapat lalu, maka ia pun dapat lalu di sana. Setiba di dalam rumah
barulah ia menjadi harimau." Sabaruddin, pamannya dan keluarga lain yang turut mendengar, membayangkan
apa yang dilakukan oleh orang halus yang jadi harimau di dalam rumah.
"Apakah harimau piaraan ini mau memakan munusia?" tanya paman Saburuddin.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 22


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Mau, seprrti harimau hiasa!"jawab Erwin.


"Jadi orang di dalam rumah yang dimasukinya akan habis dimakannya?"
"Tidak. Ia hanya membunuh atau memakan orang yang jadi sasarannya. Yang sesuai dengan peperintah
pemiliknya!"
"Yang lain tidak diganggunya?"
"Tidak. Kalau ia merusak yang lain di luar perintah pemiliknya, ia akan dihukum!" jawab Erwin.
"Manusia menghukum harimau?" tanya Sabaruddin.
"Ya. Sebagai piaraan, harimau itu sebenarnya punya status budak. Ia harus taat pada poerintah tuannyu.
Istilah populernya sekarang, boss-nya!"
Semua yang mendengar merasa heran dan dirasuk rasa ngeri.
"Yang membunuh dukun Daeng Guruh itu, di mana beliau sekarang?" tanya paman Sabaruddin. Dia
mempergunakan perkataan "beliau" karena takut kualat, atau manusia harimau itu marah kalau kurang
dihormati. Lagi-lagi Erwin tidak menanggapi, seakan-akan ia tidak mendengar pertanyaanitu.
"Harimau piaraan takut sekali dihukum oleh bossnya." kata Erwin meneruskan ceritanya tentang harimau
yang dikuasai manusia. "Majikannya itu bisa membuatnya jadi babi atau semut."
Yang mendengarkan tambah takjub. Di Sulawesi Selatan juga banyak orang pintar, tetapi belum
terdengar tentang dukun yang bisa memperbudak harimau. Ahli sihir, guna-guna segala macam, teluh dan
bunuh jarak jauh ada disana.
"Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada manusia harimau yang membunuh Daeng Guruh,
bagaimana suaranya Erwin?" tanya Sahuruddin.
"Tak usah. Dia tidak mengharapkan terima kasih!" jawab Erwin.
"Tetapi kami merasa berhutung budi."
"]angan,nanti dia merasa dihina."
"Tak dapatkah kami melihat beliau?" tanya paman Sabaruddin.
Ini pun tiduk dijawab oleh Erwin. Ia meneruskan ceritanya tadi. "Tetapi harimau piaraan yang disia-
siakan oleh majikannya tidak akan patuh lagi kepada yang empunya. Bahkan ia dapat melawan!"
"Tapi bagaimana caranya?" tanya ayah Sabaruddin yang sejak tadi mendengarkan dengan asyik dan
berbagai perasaan.
"Kalau majikan melupakan kewajiban terhadap piaraannya maka kekuatannya atas harimau itu akan
hilang. Itulah suatu keadilan dalam ikatan tak tertulis antara si harimau piaraan dengan yang empunya. Ia bisa
berbalik menerkam tuannya. Tetapi ia tidak mau memakan daging atau isi perutnya. Itu suatu pantangan.
Harimau bekas piaraan itu akan mengganas sampai ia menemukan tuan baru yang dapat menjinakkannya. Dan
ia akan bersedia menjadi budak majikannya yang baru."
"Ajaib," kata paman Sabaruddin.
"Dunia ini penuh dengan keajaiban. Oleh kesibukan duniawi atau ketidak-percayaan terhadap rahasia-
rahasia yang tak terjelaskan oleh pengetahuan modern, maka hanya amat sedikit manusia yang mengenal
keajaiban keajaiban ini," kata Erwin.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 23


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tetapi," kata Sabaruddin, "Dukun itu menjahili adikku Farida tentu atas suruhan seseorang. Dengan
kematiannya, maka gelaplah bagi kita siapa yang menjadi dalang."
"Tidak," kata Erwin. "Yang menyuruh atau mengupah dukun itu juga akan menerima hukumannya!"
"Manusia harimau itu tahu?" tanya ayah almarhumah Farida.
Erwin diam dan bangsawan Bugis yang baru kehilangan anak itu tidak mengulangi pertanyaannya. Entah
apa yang jadi penyebab, tetapi ia tidak lagi menanyakan apa yang ia ingin tahu.
Pada saat itulah mendadak muka Erwin jadi pucat, karena ia merasakan pertanda itu. Bahwa ia akan
berubah rupa. Badannya mendingin, ia tahu bahwa tidak ada waktu lagi untuk menutupi rahasia dirinya.
"Aku mohon," katanya. "Jangan kalian jadi takut. Jangan takut. Aku tidak akan berbahaya. Jangan kalian
lari dan jangan bikin heboh. Tolonglah aku!" Keluarga Bugis itu jadi tak mengerti, heran bercampur takut.
Semua berjalan cepat sekali.
Erwin berubah, ia mulai berekor, kemudian badannya berubah jadi harimau. Semua orang di situ jadi
ketakutan, tetapi tak seorang pun dapat beranjak dari tempatnya duduk. Karena tak berdaya untuk bangkit atau
karena takut melanggar pesan Erwin yang tadi telah mengatakan agar mereka jangan takut. Kini Erwin telah
berubah seluruhnya, hanya mukanya yang masih manusia. Keringat membasahi seluruh mukanya. Tetapi
matanya sayu, kelihatan sedih penuh derita.
"Jangan kalian ceritakan ini kepada siapapun," pinta Erwin. "Hanya kalian yang tahu. Kalau ada yang
menceritakan kepada orang lain, aku akan sangat sedih dan tersinggung. Aku tetap sahabat kalian selama
kalian bersikap sahabat terhadap diriku!" Di antara keluarga Sabaruddin ada yang gemetar, bahkan ada yang
terkencing. Yang mereka persaksikan ini sesuatu yang tak masuk akal, tetapi toh suatu kenyataan yang tak
dapat dimungkiri. Bukan khayal, bukan mimpi.
"Aku ke kamarku ya," kata Erwin. Ia berjalan dengan langkah tegap bagaikan langkah harimau liar. Ia
langsung masuk ke kamarnya.
Semua keluarga Sabaruddin saling pandang.
"Jangan langgar pesannya," kata ayah Sabaruddin. Sabaruddin sendiri jadi teringat pada peristiwa malam
yang lalu, ia yang membukakan pintu untuk Erwin di tengah malam. Jelas Erwin dari luar. Diakah yang mem-
bunuh Daeng Guruh? Ya, barangkali dia. Tetapi dia lebih suka merahasiakannya. Kasihan Erwin. Ia begitu
baik, kini ternyata dia hidup aneh penuh derita.
Tak ada seorang pun di antara mereka bertanya. Semua membisu dengan pikiran dan perasaan masing-
masing.

***

TIBA di kamar, Erwin tak kuasa lagi menekan tangisnya. Ia terisak-isak sampai terdengar ke luar. Sabaruddin
dan keluarganya turut bersedih. Rasa takut yang mencekam tadi berubah jadi rasa kasihan. Tadinya mereka
membayangkan apa yang dinamakan manusia harimau itu tentunya makhluk yang ganas. Tak mereka sangka,
bahwa mereka hidup dalam kecemasan dan kesedihan. Seperti nasib Erwin, ia berdaya upaya merahasiakan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 24


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

hidupnya, merahasiakan apa yang sebenarnya telah dilakukannya untuk membalaskan dendam keluarga
sahabatnya. Seperti dikatakannya tadi, manusia harimau yang membunuh dukun Daeng tidak mengharapkan
balasan budi. Bahkan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. la berbuat tanpa pamrih. Kiranya dia sendiri
pun manusia harimau. Kini bukan hanya Sabaruddin, tetapi semua keluarga berkeyakinan bahwa Erwin
sendirilah yang telah membalaskan sakit hati mereka pada dukun yang membuat Farida gila sehingga
kemudian mati.
Sabaruddin tak dapat mencegah air mata membasahi pipinya. Ia sangat terharu akan kebaikan hati dan
penderitaan sahabatnya.

***

ERWIN memandangi dirinya. Sebagai manusia harimau ia dapat berbuat banyak, yang tak terlakukan oleh
manusiabiasa. Tetapi sebagai manusia harimau ia juga mempunyai saat-saat penderitaan yang tak dialami oleh
manusia biasa.
"Ayah, mengapa kita bernasib begini?" keluh Erwin pelan. Dia tak tahu kepada siapa lagi hendak
mengadukan nasib. Sebagaimana biasa dalam hal-hal seperti itu, maka Dja Lubuk tak tega membiarkan
anaknya sendirian. Ia datang, berdiri di samping Erwin.
"Sudah kukatakan dulu, agar kau jangan menyesali nasib. Ini suatu penderitaan memang, tetapi jangan
kau kira hanya kita yang menderita di permukaan bumi Allah ini. Semua orang punya hari-hari gelap di dalam
hidup masing-masing. Baru saja kau ketahui sendiri, bagaimana keluarga, bangsawan, kaya dan baik hati
sahabatmu Sabaruddin kehilangan orang yang mereka sangat kasihi. Orang yang tak berdosa pada Daeng
Guruh. Kalau mau dikata salah, maka kesalahannya hanyalah karena ia tak mau menerima lamaran Baharsan.
Kau tahu, menjadi hak tiap wanita untuk menolak orang yang tak berkenan di hatinya. Sebagai manusia
harimau kau telah membalaskan sakit hati sahabatmu dan keluarganya. Manusia biasa tak akan sanggup
melakukannya seperti itu. Jadi kau juga punya kelebihan," kata Dja Lubuk tenang meringankan kesedihan
anaknya. Kedatangan Dja Lubuk tidak sia-sia. Anaknya merasa agak ringan, menerima nasib yang telah
ditentukan bagi dirinya.
Hampir satu jam Erwin dalam keadaan demikian. Setelah ia menjadi manusia kembali, ayahnya pergi.
Erwin tentu saja tidak bisa terus-menerus mengurung diri. Mau keluar kamar ia malu. Apa pikir dan
bagaimana perasaan keluarga Sabaruddin setelah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa ia bukan manusia
normal sebagai hampir semua manusia wajar di dunia? Tetapi akhirnya ia dapat menguatkan hati. Kenyataan
ini harus ia hadapi dan terima.
Erwin keluar dengan macam-macam perasaan dan pikiran. Melihat ini Sabaruddin menjadi lega, begitu
pula keluarganya. Mereka tadinya menyangka, bahwa ia akan menghilang begitu saja dari rumah itu tanpa
dapat mereka lihat. Dan di luar dugaan Erwin, semua menyalaminya. Bahkan ada yang mencium tangannya
tanpa sempat dicegah oleh Erwin. Rupanya mereka menaruh hormat padanya.
"Mari kita makan sedikit," kata ayah Sabaruddin.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 25


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tetapi kita baru saja sarapan Pak," kata Erwin.


"Marilah, sedikit saja,°" ajak orang tua itu. Dan mereka makan bersama, walaupun sebenarnya belum tiba
waktu makan.
"Maafkan saya atas kejadian tadi," kata Erwin.
"Jangan berkata begitu, tak ada yang harus dimaafkan, karena tidak ada siapapun membuat kesalahan.
Kami semua sayang pada nak Erwin," ujar paman Sabaruddin.

***

KINI sudah hampir segenap penduduk membicarakan peristiwa pembunuhan atas diri Daeng yang dukun
terkenal itu. Polisi dibikin sibuk karena menghadapi suatu kejadian untuk pertama kali selama mereka bertugas
sebagai penjaga keamanan. Pembunuhan sudah pasti. Tetapi yang membunuh bukan manusia, ini pun sudah
pasti. Istrinya yang ditanyai setelah ia sadar dari pingsannya mengatakan, bahwa dukun itu pergi dengan
seseorang yang datang dengan cara yang kasar, tetapi ia tidak melihat siapa orang itu, karena suaminya
melarangnya ke luar.
Istri Daeng meyakinkan Polisi bahwa yang datang itu manusia, ia dengar tanya jawab antara pendatang
dengan suaminya. Ia menambahkan bahwa orangnya tentu besar, karena langkahnya berat.

***

KETERANGAN yang diberi oleh istri dukun Daeng membuat Polisi menghadapi suatu misteri yang lebih besar.
Bagaimana bisa terjadi? Yang keluar dari rumah bersama dukun itu adalah manusia. Yang membunuh tak jauh
dari rumahnya sendiri pasti binatang yang bertenaga besar dan berkuku tajam seperti beruang atau harimau.
Jejak yang ditinggalkan si pembunuh adalah jejak harimau sedangkan di Sulawesi, baik Utara, Tengah maupun
Selatan tidak ada harimau.
Banyak penduduk jadi ketakutan, kalau-kalau makhluk aneh itu punya rencana untuk menteror di sana.
Dukun Daeng kebetulan saja orang pertama. Siapa lagi akan menyusul?
Tetapi beberapa orang penduduk sederhana yang tinggi ilmunya memperhitungkan kemungkinan bahwa
Daeng dibunuh oleh musuhnya. Barangkali saja ada sesama dukun yang sakit hati padanya. Tetapi siapa?
Sepanjang pengetahuan mereka di Pare-Pare tidak ada dukun pemelihara binatang buas. Yang ada pemelihara
lipan, kalajengking atau ular kecil yang amat berbisa. Polisi tidak dapat menahan seorang pun karena tidak ada
yang bisa disangka. Tetapi Kepala Polri setempat mengerahkan sejumlah bawahannya untuk berjaga-jaga dan
bersiap terhadap apa yang mungkin terjadi. Sebenarnya ia sendiri tidak bisa meramalkan apa yang kira-kira
mungkin terjadi itu.
Tidak banyak penduduk yang mau keluar rumah setelah jam tujuh malam, tetapi anak-anak muda yang
memandang kejadian mengerikan itu hanya suatu keanehan, tidak menghiraukan bencana susulan. Hanya
seorang laki-laki masih muda dan hartawan yang berdebar dan mendadak merasa khawatir ketika mengetahui

SERIAL MANUSIA HARIMAU 26


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kematian dukun Daeng Guruh yang sangat aneh itu. la perlukan pergi melihat ke tempat kejadian dan masih
sempat mempersaksikan mayat dukun itu dengan isi perut berhamburan. Ia juga melihat jejak harimau di
tanah lembab oleh curahan hujan pada malam kematian Farida Mappe. Pada saat itu jantungnya berdebar
lebih kencang dan tubuhnya menggigil.
Laki-laki itu juga langsung teringat pada Andi Farida yang mati satu malam lebih dulu dari dukun
tersebut. Ia bagaikan diperintah untuk mengaitkan kedua peristiwa itu. Kematian Farida dan kematian dukun.
Ia berusaha menghilangkan pikiran yang mengganggu benaknya, tetapi ia tak sanggup. Ia yakinkan dirinya
sendiri bahwa kedua kejadian itu ada hubungannya, walaupun ia tidak dapat menerangkan mengapa ia
berkeyakinan begitu. Ia cepat-cepat kembali ke rumahnya, mengunci diri dalam kamar. Ia mau menenangkan
diri. Tetapi apa yang terjadi membuat dia terjerit dan mengucurkan keringat. Muka dan bajunya jadi basah.
Ibunya bergegas datang karena terkejut oleh jeritan itu.
"Ada apa Bahar?" tanyanya.
"Dia datang ibu," jawab laki-laki yang bernama Baharsan. "Itu dia!" katanya sambil menunjuk ke suatu
pojok kamarnya.
"Dia siapa? Aku tak melihat siapapun. Kau berkhayal, apakah kau demam?"
"Tidak demam, tidak berkhayal. Itu Farida!" Mendengar nama ini perempuan itu jadi pucat. Farida
meninggal kemarin. Dia ingat beberapa bulan yang lalu pernah melamarkan gadis itu untuk anaknya. Setelah
itu tiada lagi hubungan. Kini setelah meninggal rohnya mendatangi Baharsan. Baginya ini suatu pertanda
bahwa gadis itu selalu teringat pada anaknya dan tidak rela berpisah dengan dia.
"Oh kasihan Farida. Kini aku baru tahu. Rupanya orang tuanya saja yang tidak menyukai kita. Mereka
yang menolak, sedangkan Farida suka padamu!" kata perempuan itu.
Mendengar cerita baru ini Baharsan menangis. Ia pun percaya pada apa yang dikatakan ibunya.
"Sudahlah nak. Nasibnya buruk. Dia mati karena merana mengingat kau!"
Baharsan tidak mengatakan apa yang telah dipintanya pada dukun Daeng Guruh. Ia membayar orang itu
untuk membuat Andi Farida Mappe jadi gila karena sakit hati pinangannya ditolak. Ia menyangka, bahwa
wanita itu tidak menyukainya, padahal kini ibunya mengatakan bahwa sebenarnya roh itu datang karena tak
mau berpisah dengan dia.
"Pelan-pelan ia akan tenang di kuburannya!" kata ibu Baharsan.
"Apa yang harus kulakukan untuk membuat dia tenang?" tanya laki-laki itu. Kini terharu. Betapa besar
sesalnya menganiaya orang yang dicintainya dan tanpa diketahuinya juga mencintai dirinya.
"Pergilah ziarah ke kuburannya. Bawa dan taburkan kembang lima macam dalam lima warna. Siram dari
kepala ke kaki lima kali dan katakan bahwa kau pun kelak akan menyusulnya. Kau tahu, tiap manusia pada
suatu hari akan mati!" Baharsan berjanji akan pergi pada esok harinya.
"Waktu yang paling baik adalah pagi-pagi benar, di saat orang bersembahyang subuh atau ketika
terdengar 'azan magrib."
"Aku akan pergi besok waktu subuh. Ibu tolong mencarikan bunga itu," pinta Baharsan kepada ibunya.
Hati laki-laki itu belum tenang, tetapi ia percaya bahwa setelah melakukan apa yang dikatakan ibunya wajah

SERIAL MANUSIA HARIMAU 27


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

wanita yang telah meninggal itu tidak lagi akan datang ke kamarnya. Walaupun Farida cinta padanya, tetapi ia
sangat takut. Karena ia telah bersekongkol dengan dukun Daeng Guruh.
Malamnya Baharsan tetap tidak bisa tenang. Bayangan Farida terus datang dan membuat dia takut.

LAIN pula yang terjadi dengan Erwin. Pada petang itu ia sudah berniat untuk mendatangi Baharsan di
rumahnya. Ia sudah tahu di mana laki-laki kaya itu tinggal. Ia ingin segera melaksanakan apa yang ia rasa jadi
kewajibannya sebagai sahabat Sabaruddin.
Tetapi ketika ia akan melangkah ke luar pekarangan, terdengar olehnya suara yang tak asing itu. Suara
ayahnya. Tak lama kemudian orang tua yang sudah lama dikuburkan itu berdiri di hadapannya dalam bentuk
manusia. Sebagai biasa, gagah dengan misainya yang tebal putih dan pandangan penuh wibawa.
"Ayah datang?" tanya Erwin lalu menyalam dan mencium tangan orang tua itu.
"Kembalilah ke rumah. Tak usah sekarang!" ujar Dja Lubuk.
Rupanya ayahnya itu memang serba tahu. Dan ia menyuruhnya kembali saja ke rumah. Artinya tidak
tepat melaksanakan rencananya di saat itu. Ia memandang ayahnya tanpa tanya tetapi sebenarnya ia ingin
penjelasan.
"Kau akan mengetahuinya," kata Dja Lubuk menjawab pertanyaan yang tidak dikeluarkan anaknya.
Manusia harimau tua itu menghilang, Erwin kembali ke rumah.
Seperti malam kemarinnya bulan bersinar terang. Dan untuk kedua kalinya penduduk Pare-Pare dibuat
takut oleh bunyi burung gagak beramai-ramai, menegakkan bulu roma. Kini mereka tidak lagi khawatir akan
datang gempa atau dunia kiamat, tetapi bertanya di hati masing-masing, siapa pula akan menerima giliran
seperti Daeng Guruh yang dukun kenamaan itu. Banyak dukun di kota dan di sekitar Pare-Pare menjadi pucat
dan membaca berbagai doa yang mereka ketahui untuk menolak bala. Apakah akan ada orang yang menggedor
pintu rumah sebagai yang diceritakan istri Daeng Guruh? Kemudian membawanya pergi untuk kemudian mati
dikoyak oleh makhluk yang tidak mereka ketahui jenisnya? Anggota-anggota Polisi yang ditugaskan menjaga
keamanan dan menembak makhluk yang diduga harimau atau beruang besar pun turut merasa ngeri
mempersaksikan begitu banyak burung gagak beterbangan, jelas kelihatan di bawah sinar bulan. Tiap burung
bagaikan membawa iblis atau setan yang mengintai orang berikut yang akan dijadikan korban. Dengan kaki
dan tangan gemetaran disertai rasa takut, apakah mereka akan sanggup membidik dan merobohkan sasaran?
Apakah bukan makhluk ganas itu yang akan merenggut nyawa mereka? Lewat tengah malam suara burung-
burung itu berhenti pula. Dan penduduk menyangka, bahwa sang makhluk aneh telah mengambil korbannya.
Itu makanya gagak-gagak itu pergi. Besok pagi mereka akan mendengar siapa gerangan yang mati dengan isi
perut terburai dan kaki tangan dikoyak-koyak! Dan semua mereka bersyukur karena saat-saat yang mencekam
telah berlalu pula.

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 28


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ERWIN yang bisa tertidur tenang setelah bertemu dengan ayahnya tidak tahu bila suara gagak-gagak itu
berhenti. Ketika ia terbangun, ia lihat jam telah menunjukkan waktu subuh. Sebagai pagi kemarinnya ia
mengambil air sembahyang, lalu 'azan dengan suaranya yang syahdu, membuat seisi rumah pun turut
terbangun dan melaksanakan wajib subuh. Kemudian ia pergi ke halaman, diketahui oleh beberapa penghuni
rumah yang menyangka bahwa ia ingin menghirup udara sejuk. Tanpa diduga Erwin merasakan pertanda yang
sudah kerapkali datang itu. Dan tak lama kemudian ia berubah. Tubuhnya telah menjadi harimau. Erwin
mengikutkan ke mana dirinya dibawa kaki dan tanpa dimaksud atau direncanakan ia sampai ke pintu masuk
sebuah kuburan. Ia sudah mengenal tempat ini. Kuburan di mana dua hari yang lalu Andi Farida dimakamkan.
Ia tidak tahu mengapa ia sampai ke sana, tetapi ia terus saja menurutkan gerak kakinya yang membawanya ke
dalam. Tiba-tiba ia melihat seseorang. Ketika ia mendekat diketahuinya bahwa kuburan baru itu adalah ke-
punyaan Andi Farida. Mengapa orang ini sepagi itu di sana? Siapa dia. Erwin merasa heran. Tidak biasanya
orang ziarah sepagi itu.
"Itulah dia," kata satu suara. Tidak keras, tetapi cukup jelas. Suara ayahnya lagi. Dan Erwin segera tahu,
siapa yang dimaksud ayahnya. Manusia ini tentu Baharsan. Tetapi mengapa dia ke sana? Mau mencuri mayat
Farida? Dalam ia berpikir dan bertanya-tanya tanpa ada yang menjawab, Erwin telah tiba beberapa meter di
belakang peziarah itu.
Manusia harimau berdiri di sana, ingin mempersaksikan apa yang akan dilakukan orang itu.
Peziarah itu membuka bungkusan yang ternyata berisi bunga. Dan bunga ini lima jenis dalam lima warna.
Di sisinya tampak botol berisi air putih. Untuk disiramkan nanti.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa ada makhluk lain memperhatikannya. Ia yakin bahwa takkan ada
peziarah lain pada waktu masih begitu pagi.
Laki-laki itu, yang tak lain daripada Baharsan yang mengikuti nasihat ibunya, memandangi kuburan yang
baru berusia dua hari itu.
"Aku tidak tahu Farida. Aku telah salah sangka. Kukira kau yang menolak, rupanya orang tuamu," kata
Baharsan pelan tetapi cukup jelas di waktu sesepi itu. "Katakan, bahwa kau memaafkan aku!" pinta Baharsan.
Pada detik itulah mendengar suara geledek. Hanya sekali, kemudian senyap kembali. Baharsan terkejut. Begitu
pula mereka yang sedang sembahyang atau masih tidur. Apa pula artinya itu!
Bersamaan dengan rasa terkejut, Baharsan tiba-tiba menjadi takut. Pandangan matanya seperti
menembus tanah yang ditimbunkan di lobang makam Andi Farida dan di sana ia melihat gadis itu terbaring
berbungkus kain kafannya. Laki-laki yang hendak membebaskan diri dari kejaran roh Andi Farida itu
menaburkan bunga dengan jari-jari gemetar. Setelah itu ia mulai menyiramkan air dari botol yang dibawanya.
Ia mengucapkan kata-kata yang diajarkan ibunya.
"Andi Farida Mappe, pada waktunya kelak aku akan menyusulmu. Nantikanlah kedatanganku!" ujar
Baharsan.
"Bila kau hendak menyusul?" tanya satu suara secara tiba-tiba. Baharsan terkejut lagi, lebih daripada
ketika mendengar geledek tadi. Suara siapa itu? Hantu, jin ataukah salah satu mayat yang bangkit dari
kuburnya. Suara itu pasti bukan suara wanita. Bukan suara Andi Farida. Baharsan tidak berani menoleh, tidak

SERIAL MANUSIA HARIMAU 29


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

pula dapat menjawab.


"Aku bertanya, bila engkau hendak menyusulnya?" bunyi suara itu lagi. Di pagi yang masih berhawa sejuk
itu, Baharsan berkeringat.
"Kau tak mau memandang aku?" tanya suara itu. Baharsan tidak juga dapat berkata, bimbang dan takut
sekali.
"Menolehlah kepadaku Baharsan," ujar suara itu. Pelan tetapi mengandung nada perintah.
Bagaikan digerakkan oleh suatu kekuatan laki-laki itu menoleh ke belakang. Ia hendak menjerit, tetapi
tak kuasa. Suaranya tertahan. Makhluk apakah yang dilihatnya itu?
"Mengapa kau suruh Daeng Guruh membuat Andi Farida jadi gila sampai mati?" tanya makhluk itu.
Baharsan tidak bisa menjawab. Takutnya kian menjadi-jadi, seluruh tubuhnya gemetar.
"Kau pun akan meninggalkan dunia ini Baharsan. Tetapi bukan untuk menyusul Andi Farida." Suara itu
berhenti lagi. Laki-laki itu jelas mendengar apa yang dikatakan harimau berkepala manusia itu. Bahwa dia pun
akan meninggalkan dunia.
"Kau harus menyusul dukunmu yang mati kemarin. Karena dialah yang kau upah untuk melakukan
kejahatan dan pembunuhan!"
Manusia harimau itu melangkah, Baharsan pingsan, rebah terkulai.

MANUSIA harimau yang hendak membalaskan dendam sahabatnya itu mendekat dan mengetahui dengan amat
mengecewakan hatinya, bahwa Baharsan telah tidak sadarkan diri. Dia duduk memikirkan sesuatu. Memang
dia datang ke kuburan ini dengan menurutkan bawaan kakinya untuk membunuh Baharsan. Sebenarnya dia
tak suka membunuh, tetapi dalam hal ini nyawa dibayar nyawa adalah wajar, begitu pikirnya.
Lalu mengapa tidak dilaksanakannya saja niatnya. Begitu mudah mencabut nyawa orang yang sedang
tidak sadarkan diri. Dia tidak akan melawan, tidak pula dapat menjerit. Tetapi manusia harimau ini tidak suka
dengap pembunuhan yang begitu. Dipanggulnya tubuh Baharsan dan dengan langkah secepat mungkin ia
pergi dari sana, keluar kota masuk ke hutan belukar.
Orang itu belum juga sadarkan diri. Si manusia harimau menunggu dengan sabar. Tetapi tanpa
dipintanya, ia berubah pula jadi manusia.
Di waktu itu pulalah Baharsan siuman kembali. Ia memandang ke sekitar. Pelan-pelan ingatannya
kembali. Dilihatnya ada orang lain di sampingnya. Ia heran. Di mana dia sekarang? Sepanjang ingatannya dia
tadi berziarah ke kuburan Andi Farida. Lalu tak tahu apa yang terjadi. Kini dia berada dalam sebuah hutan
kecil.
"Di mana aku?" tanya Baharsan mula-mula.
Erwin tidak menjawab. Laki-laki itu bertanya lagi, bagaimana ia bisa sampai ke sana sedangkan tadi ia
berada di kuburan orang yang amat dicintainya.
"Entahlah," jawab Erwin. "Aku pun tak tahu. Kulihat kau pingsan di sini, lalu kutunggui."
"Kau siapa?" tanya Baharsan.
"Erwin. Aku orang Sumatera datang melihat-lihat kotamu."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 30


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tetapi mengapa kau sampai di hutan ini? Lebih baik kita keluar, kembali ke kota," ujar Baharsan.
"Tak usah terburu-buru!"
"Untuk apa kita di sini. Nanti kita diserang, mungkin dimakan ular! Mengapa kau sampai ke dalam hutan
ini?" tanya Baharsan lagi. Ia jadi curiga. Tetapi wajah orang yang baru dikenalnya itu tidak memperlihatkan
tanda tanda penjahat.
"Baiklah aku berterus terang," kata Erwin. "Aku membutuhkan engkau. Tapi tidak sekarang."
"Katakanlah barangkali aku dapat menolong. Kau telah berbaik budi menunggui aku di sini!"
"Aku akan ke kota mencari makanan."
"Kita makan ke rumahku saja," ujar Baharsan.
"Tak usah. Kau menunggu di sini. Aku yang akan mengambil makanan!"
Baharsan heran, mulai takut. Apa kemauan atau rencana orang ini, tanyanya di dalam hati. Apakah dia
dalam tangan penculik yang akan meminta uang tebusan?
"Aku tak mau tinggal," kata Baharsan. Suaranya telah berubah nada, menandakan kegelisahan. Erwin
memandangnya dan berkata tenang: "Kau tak punya pilihan lain daripada yang kukatakan!"
"Apa maksudmu? Kau menawan diriku?"
Sebagai jawaban Erwin mengikat kedua kaki Baharsan lalu kedua tangannya yang diletakkan ke belakang
agar tak dapat melepaskan diri.
"Apa maksudmu? Kau penculik, hah. Kau tentu mau menuntut uang tebusan," kata Baharsan semakin
putus harapan. Erwin tidak menjawab.
"Katakanlah, orang tuaku akan membayar. Aku cukup kaya untuk menebus diriku. Aku tidak sangka kau
bermaksud begitu. Kukira kau orang yang mau menolong aku. Berapa kau kehendak?" Baharsan menceracau
inginkan kebebasannya kembali. Erwin hanya memandanginya. Tanpa kata. Sikap manusia harimau itu
semakin menakutkan Baharsan. Kalau dia katakan apa maunya akan jelas baginya apa sebenarnya keinginan
atau tuntutan orang ini.
"Mari kita sama-sama ke rumahku. Aku tidak akan buka segala apa yang telah kualami. Aku akan bayar.
Kau boleh pilih, uang atau emas atau uang dan emas."
Erwin tetap tidak memberi tanggapan. Ia sudah punya niat yang mantap dalam hati, tetapi ia sabarkan
dirinya. Ia tidak khawatir bahwa permainan dengan waktu bisa membuat sang tawanan meloloskan diri. la
yakin sekali, bahwa rencananya akan berhasil. Erwin mengatakan kepada Baharsan untuk tenang-tenang. Ia
akan mengambil makanan dan minuman. Ia bahkan bertanya makanan apa yang disukai tawanan itu. Caranya
menimbulkan banyak tanda tanya pada Baharsan. Erwin pergi tanpa merasa perlu menyumbat mulut orang
yang telah terikat itu. Kalaupun ia menjerit minta tolong, tidak akan terdengar ke jalan raya atau ke kampung
yang keduaduanya terletak cukup jauh dari tempat tersebut. Sepeninggal Erwin, orang kaya itu mencoba
membebaskan diri. Tak berhasil, la berteriak-teriak minta tolong, tidak tahu apakah akan terdengar oleh
orang. Tetapi bantuaan seseorang saja yang dapat membebaskan dia dari ikatan. Lama-lama suaranya jadi
parau dan rasa takut kian menghantui dirinya.
Untunglah, setelah ia tidak mampu berteriak lagi, terdengar suara kerisik dedaunan menandakan ada

SERIAL MANUSIA HARIMAU 31


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

orang tidak jauh dari sana. Baharsan coba lagi minta tolong, tetapi hampir tidak bersuara. Yang mendatang ini
pasti bukan ular besar, karena ular bergerak tanpa menimbulkan suara.
Oh sial betul. Yang datang itu kiranya Erwin dengan bungkusan. Bukan orang yang diharap-
harapkannya. Tetapi jadilah, sekurang-kurangnya ia tidak sendirian lagi. Walaupun maksud Erwin yang
sesungguhnya masih gelap baginya.
"Aku kembali, bukan?" kata Erwin. Ia membuka bungkusan. Menuang kopi hangat dari sebuah termos
ke dalam cangkir. "Minumlah," kata Erwin setelah membuka ikatan tangan Baharsan. Kedua kakinya pun
dibebaskan supaya ia bisa minum dan makan dengan leluasa.
"Aku semakin tak mengerti," ujar Baharsan parau. "Apa sebenarnya maksud atau kehendak hatimu."
"Tak mengerti pun tidak apa-apa," kata Erwin. "Kita menantikan waktu."
"Waktu apa? Kau membingungkan!"
"Tak usah bingung, nanti kau akan tahu juga."
Erwin membiarkan tawanannya bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban.

***

DI KOTA orang sudah mulai heboh. Dimulai dari kekhawatiran ibu Baharsan yang jadi panik setelah anaknya
tidak pulang dan ia mencarinya ke kuburan. Yang ditemukannya di sana bekas telapak harimau.
"Anakku dimakan harimau," tangis janda kaya yang menerima banyak harta warisan dari suaminya yang
baru setahun yang lalu meninggal. Baharsan anak satu-satunya. Makanya amat dimanja. Menjadi tumpuan
harapannya. Ia amat sedih ketika lamarannya untuk mempersunting Andi Farida bagi Baharsan, ditolak. Ia
tidak mengetahui bahwa kisah lamaran itu tidak hanya sampai di situ saja. Sebagian penduduk kota berbisik-
bisik, takut bicara keras-keras mengenai makhluk atau harimau yang misterius itu. Bagaimana atau harimau
yang misterius itu. Bagaimana dukun Daeng dan kini seorang laki-laki kaya jadi korban harimau, padahal di
seluruh Sulawesi tidak ada binatang buas yang amat ditakuti dan selalu mendapat julukan raja rimba itu.
Polisi yang belum dapat memecahkan misteri kematian dukun Daeng kini menjadi lebih bingung.
Sejumlah anggota Polri yang diperintah siap siaga dan menembak mati makhluk itu tidak melihat suatu apa
pun. Tetapi bukan hanya peristiwa hilangnya Baharsan yang jadi pembicaraan hangat. Apa sebab ia pagi-pagi
subuh ada di kuburan juga merupakan tanda tanya dan menimbulkan banyak duga dan sangka. Apalagi setelah
diketahui, bahwa ia diambil sang makhluk misterius dari kuburan Andi Farida yang masih amat baru. Keluarga
gadis yang baru meninggal itu masih ingat bahwa Baharsan pernah mengharapkan Andi Farida menjadi
istrinya melalui lamaran ibunya. Mereka tolak karena Farida tidak menyukainya. Tidak kembalinya Erwin dari
mengambil hawa pagi juga menjadi pertanyaan bagi keluarga Sabaruddin. Dan mereka semua, yang melihat
perubahan ujud Erwin dari manusia biasa menjadi seluruhnya harimau selain muka, sama-sama yakin bahwa
Baharsan telah diambil dan mungkin dibunuh oleh Erwin. Ia tidak memakan korbannya itu, karena menurut
cerita Erwin, manusia harimau tidak memakan daging manusia. Bersamaan dengan itu, mereka lalu menduga,
bahwa Baharsan mempunyai kaitan dengan kematian Andi Farida dan ada hubungan juga dengan kematian

SERIAL MANUSIA HARIMAU 32


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dukun Daeng. Tetapi antara anggota keluarga Sabaruddin tidak terjadi saling tanya. Semua hanya berpikir dan
mend uga.
Rasa takut merasuki hampir semua orang, terkecuali anak-anak muda yang tidak menghiraukan bahaya
apa pun. Yang mengherankan masyarakat adalah hilangnya Baharsan tanpa ada bekas darah, sehingga mereka
menarik kesimpulan, bahwa makhluk itu telah membawa korbannya pergi, tidak memakannya di tempat itu
juga. Telapak harimau itu hanya membekas di pekuburan yang bertanah sedikit lembab. Setelah itu hilang,
sehingga Polisi pun tidak tahu mau mencari ke mana.

***

KELUARGA Sabaruddin heran dan terkejut ketika pada siangnya Erwin datang dalam keadaan tenang-tenang
saja. Sabaruddin atau siapapun di rumah itu tidak ada yang berani bertanya, walaupun mereka tahu bahwa
Erwin baik sekali kepada mereka. Tiap orang di rumah itu telah memandangnya sebagai manusia aneh, bukan
hanya kadang-kadang menjelma jadi harimau, tetapi juga penuh dengan rahasia-rahasia lain. Erwin sendiri
tidak berkata sepatah pun tentang kejadian yang sedang menyebabkan rasa takut dan heboh itu.
Sampai petang dan malam Erwin tidak lagi keluar rumah, sehingga semua keluarga masuk ke kamar
masing-masing, tidur atau gelisah memikirkan apa yang terjadi pada dua hari belakangan ini.
Pada tengah malam barulah Erwin keluar tanpa diketahui oleh siapapun. Langsung menuju tempat
tawanannya ditinggalkan dalam keadaan diikat kembali.
Baharsan yang tidak dapat bergerak merasa lega bercampur cemas, karena tak tahu apa pula yang akan
terjadi. Orang yang dihadapinya ini benar-benar penuh rahasia dan tidak mau banyak bicara.
"Kau tentu lapar," kata Erwin sambil membuka ikatan tawanannya lalu membuka bungkusan yang baru
dibawa. Baharsan yang memang lapar, makan sekedar mengurangi rasa takut.
"Kini katakanlah apa maumu sebenarnya," pinta tawanan itu.
"Kau ingin tahu sekarang juga? Tidakkah lebih baik menanti sampai subuh?"
"Kenapa sampai subuh?" tanya Baharsan. Dan ia teringat kembali apa yang terjadi di kuburan pada subuh
yang lalu.
"Karena pada waktu itu rencanaku terputus. Aku mau meneruskannya."
"Katakanlah, apa rencanamu itu!"
"Membunuhmu."
Baharsan terkejut. Erwin mengatakan maksudnya itu tanpa ragu-ragu dan tidak ada tanda-tanda bahwa
ia berpura-pura.
"Tetapi untuk apa? Aku dapat menebus diriku."
"Aku tidak butuh uang."
"Tetapi mengapa kau hendak membunuhku?"
"Kau tak tahu? Mustahil."
"Aku tak pernah mengenal kau. Apa sebab kau tibatiba hendak membunuhku."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 33


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Kematian Andi Farida karena uangmu yang memerintah dukun Daeng untuk membuatnya gila sehingga
akhirnya mati. Kau mungkir?" Baharsan tidak menjawab. Bagaimana orang ini tahu, bahwa dia yang menyuruh
dukun yang telah mati itu. Erwin diam menunggu apa yang akan dikatakan tawanannya itu.
Setelah lama barulah Baharsan coba melunakkan hati Erwin, yang telah menceritakan bahwa ia sahabat
baik Sabaruddin, kakak Andi Farida. Erwin tidak dapat dibujuk.
"Tidurlah," kata Erwin akhirnya.
"Mana mungkin aku bisa tidur. Siapakah kau sebenarnya Erwin?"
"Sudah kuceritakan. Aku sahabat Sabaruddin. Aku telah membunuh dukunmu dan dengan cara yang
sama aku akan membunuhmu!"
"Tetapi dukun Daeng itu," Baharsan tidak dapat meneruskan kalimatnya.
"Benar, dukun Daeng dibunuh oleh makhluk aneh. Akulah makhluk yang dikatakan aneh itu.
Sebenarnya aku manusia yang bernasib malang."
"Kau?"
"Benar, akulah yang manusia harimau. Jangan kau pingsan lagi seperti kemarin subuh." Takut Baharsan
tidak terhingga, tetapi ia tidak pingsan lagi. Hanya seluruh tubuhnya gemetar dan hari pun mulai menjelang
fajar. Erwin mendukung Baharsan yang tidak kuat berjalan. Setiba di samping kuburan Andi Farida, tawanan
itu diletakkan di tanah.
Baharsan tahu, ajalnya akan tiba. Ia memandang ke Erwin yang pelan-pelan berubah menjadi harimau
berkepala manusia. Ia ingin mohon nyawa, tetapi tidak dapat bersuara lagi. Ia tidak pingsan, tetapi tidak
mampu bergerak. Tanpa kenal kasihan sesuai dengan maksudnya, manusia harimau itu merobek dada
Baharsan.

***

PADA saat itulah laki-laki yang sejak tadi terbisu sempat menggeliat dan berkata "ampun," tetapi manusia
harimau yang marah itu tidak menghiraukan, terus mengoyak-ngoyak dada, perut, kaki dan tangan korbannya.
Isi perut dikeluarkan lalu diletakkan di samping kuburan Andi Farida. Sama halnya dengan pembunuhan atas
dukun Daeng muka Baharsan tidak dijamahnya, dibiarkan utuh. Bahkan terkena percikan darah saja pun tidak.
Pada waktu itulah ibu Baharsan terbangun dari tidurnya yang memang tak lelap karena gangguan seram.
Mendadak jantungnya berdebar kencang merasa takutnya akan nasib anaknya kian menjadi-jadi. Apakah
anakku sedang disiksa ataukah dibunuh," tanya perempuan itu pada diri sendiri. Ketika sembahyang pun ia
tidak dapat khusuk karena keseraman yang menggoda dirinya. Manusia harimau sama sekali tidak tahu, bahwa
ada dua pasang mata mempersaksikan perbuatannya dari jarak lebih kurang dua puluh meter. Mata Udin dan
Amir, dua dari sekian petugas keamanan yang diperintahkan mengintip dan menembak mati makhluk aneh
yang membunuh dukun Daeng Guruh. Mereka tertarik melihat seseorang menggendong seorang lain di pagi
buta itu. Untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah atau akan terjadi, maka mereka mengikuti. Tidak
diduga bahwa orang itu menuju dan masuk ke kuburan.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 34


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tentu pembunuh," kata Udin.


"Pasti, tetapi diam-diamlah, mari kita ikuti. Dia pasti mau menanam korbannya di kuburan, supaya tidak
ada orang menyangka."
"Barangkali kuburannya sudah tersedia," kata Udin pelan-pelan.
"Mungkin, atau baru mau digalinya," tukas Amir, lagi dengan suara pelahan sekali. "Tetapi ia tidak akan
sempat, sebentar lagi hari mulai terang." Di luar segala sangkaan mereka mendadak manusia tadi telah
meletakkan bebannya itu berubah jadi harimau. Benar harimau, tidak salah lagi. Tetapi mukanya itu, ya
ampun, muka manusia.
Kalau semula mereka mengikuti karena mau tahu untuk dapat melaksanakan tugas kepolisian dengan
baik, maka kini mereka jadi mendadak takut. Suatu rasa takut dan ngeri terhebat dalam sejarah hidup mereka.
Kedua-duanya tidak dapat berkata sepatah pun. Senjata yang disandang tetap tinggal di bahu, karena mereka
membawa senjata api laras panjang. Ketika manusia harimau itu merobek dada lalu perut korbannya dan
kemudian mengeluarkan seluruh isinya, kedua petugas hukum itu gemetar sampai-sampai ke bibir dan gigi
mereka gemelutukan karena beradu, bagaikan orang yang merasa amat kedinginan.
Mata kedua orang ini pun mempersaksikan bagaimana manusia harimau itu begitu saja meninggalkan
korbannya. Khayalan tentang lobang kuburan yang teiah tersedia atau akan digali, sama sekali tidak tersua
dalam kenyataan. Mata mereka juga melihat dengan pasti, bahwa harimau yang berkepala manusia itu
langsung menuju pintu kuburan dan duduk di sana bagaikan orang berpikir, apa lagi yang akan dilakukan
berikutnya. Tetapi, ya Tuhan ke mana dia? Tiba-tiba saja makhluk itu hilang seperti lenyap ke dalam perut
bumi.
Lama kedua petugas keamanan itu tak kuasa berkata. Manusia sebagai diri mereka sendiri, menjadi
setengah harimau, membunuh tanpa memakan korbannya, kemudian hilang lenyap tanpa bekas. Dimulai
dengan rasa ingin tahu, kemudian melihat dengan mata sendiri. Kini tiada keinginan lain daripada segera
menghindar dari kuburan itu. Tidak ada lagi keinginan membunuh makhluk aneh yang jadi buah bibir
masyarakat setempat. Padam segala maksud untuk melaksanakan tugas sesuai dengan yang diperintahkan
komandan. Apa lagi yang mau dibunuh? Semua telah sirna. Tadi, ketika ada kesempatan untuk itu tak ada
daya mengangkat dan membidikkan senjata. Mereka sudah pernah mendengar kisah tentang jin dan setan,
tentang hantu dan jembalang tetapi semua yang pernah mereka dengar itu tidak ada yang sehebat apa yang
mereka persaksikan sendiri. Dan sesungguhnya mereka harus bersyukur, makhluk itu tidak mengetahui
kehadiran mereka. Jikalau sekiranya ia tahu, mungkin mereka pun akan menemukan nasib yang serupa dengan
korbannya. Tak tahu berapa lama kedua petugas itu jadi terbodoh dan terbisu.
Udin yang kemudian bertanya: "Kau lihat Mir?"
"Entahlah! Apakah semua itu mimpi atau khayalan kita oleh rasa takut?"
"Mana bisa khayal. Laki-laki itu dibunuhnya dan mayatnya tentu masih ada di situ. Kau mau
melihatnya?" tanya Udin lagi.
"Aku tak mau melihat apa-apa lagi. Biar aku diberhentikan daripada bertugas lagi mengintai dia."
"Jangan bilang dia. Nanti kau kualat. Siapa tahu, beliau ada di samping kita, hanya tidak kelihatan." Baik

SERIAL MANUSIA HARIMAU 35


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Udin maupun Amir jadi gemetaran lagi.


"Lalu, harus bilang bagaimana?"
"Nenek atau beliau!" kata Udin.

***

DENGAN tenang, si manusia harimau meninggalkan kuburan. Hanya Amir dan Udin tidak melihatnya. Makhluk
itu telah membaca doa agar tidak ada mata kasar siapapun dapat melihatnya. Sama seperti yang dibuatnya di
hadapan banyak orang dan anggota Polisi di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Kalau ia tak mau dirinya
dilihat orang maka ia hanya perlu membaca sebuah doa untuk itu. Doa si mago-mago yang membuat dirinya
bagaikan tiada ada lagi di permukaan bumi.
Tiba di rumah Sabaruddin, manusia harimau itu melihat bahwa orang tenang-tenang saja.
Pagi itu Erwin tidak memperdengarkan suara 'azannya yang menyerukan kepada segenap ummat Nabi
Muhammad agar bangun dari tidur, menyucikan diri dan menyembah Allah hu Akbar, Tuhan yang
menjadikan alam dan seluruh isinya, pemilik dari segala-galanya di permukaan bumi-Nya ini. Sesungguhnya
dalam sholat subuh itu tiap orang Islam harus berjanji pada Tuhan untuk memulai hidup hari itu dengan hati,
pikiran dan niat yang bersih, lalu melaksanakannya sesuai dengan yang dikehendaki dan diredhoi Allah.
Sebenarnyalah pula Sabaruddin dan keluarganya merasa agak heran mengapa tidak terdengar suara Erwin
menyebut dan memuji Tuhan, tetapi kemudian mereka menyangka bahwa ia barangkali ketiduran. Tak
seorang pun menyangka bahwa ia sejak tengah malam tidak ada di rumah dan tidak pula ada yang melihat
bahwa pagi itu ia telah masuk dalam ujud harimau berkepala manusia. Mereka tidak melihat Erwin melalui
mereka di ruang tamu dan ruang tengah lalu masuk ke kamarnya. Padahal manusia harimau itu melihat
mereka, mendengar mereka berkata-kata. Tiba di dalam, Erwin merebahkan diri di pembaringan. Tampak
olehnya apa yang baru saja dilakukannya. Setelah jadi manusia kembali, Erwin ke luar. Merasa bahwa Sa-
baruddin dan keluarganya ingin bertanya tetapi tidak menanyakannya, Erwin mendahului dengan mohon maaf
karena ia ketiduran.
Tetapi tak lama kemudian berita itu sampai juga ke rumah Sabaruddin. Bahwa dua anggota Polisi telah
melihat makhluk aneh di kuburan, membunuh Baharsan anak janda kaya. Bahwa si harimau yang berkepala
manusia tidak memakan korbannya, tetapi kemudian hilang tanpa meninggalkan jejak ke mana arah perginya.
Berita begitu segera tersiar ke seluruh kota dan sekitarnya. Kuburan jadi ramai, terutama di dekat kuburan
Andi Farida. Dan sebagian dari masyarakat yang berjubel itu dapat melihatnya. Mayat Baharsan dengan isi
perut bertaburan, pakaian koyak-koyak tetapi mukanya utuh. Kian ramai bisik-bisik masyarakat Pare-Pare.
Bahwa pasti ada makhluk buas atau aneh berkeliaran di sekitar kota itu. Ada yang mengatakan harimau, tetapi
binatang ini langka di Sulawesi. Lebih daripada itu, kalaupun toh ada harimau, mengapa ia tidak memakan
korbannya. Yang pernah merantau atau membaca buku-buku tentang kekuaan gaib menduga bahwa ada
penduduk yang memelihara harimau. Orang ini pasti baru datang, karena sebelum itu tidak pernah ada
bencana yang begitu.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 36


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Semua penduduk, tanpa kecuali apakah ia petani; pedagang atau pejabat dari berbagai macam instansi
mempunyai pendapat yang lama. Bahwa pembunuh Baharsan adalah makhluk yang dua hari yang lalu
membunuh dukun Daeng Guruh. Yang lebih kritis cara berpikir dan menduga, bahwa ada kaitan antara
kejadian ini. Seorang dukun kawakan dan seorang laki-laki kaya dibunuh dengan cara yang sama. Yang lebih
pintar berpikir, untuk kematian kedua korban mungkin adanya hubungan pula dengan keluarga Andi Farida
yang lebih dulu diserang penyakit gila buatan. Apa hubungan pembalasan dengan kematian Andi Farida
sehingga ia harus menemui ajalnya di atas pusaranya?
"Kurasa ada kaitan," kata Daeng Lollo yang kolonel Polri dan dikenal sebagai petugas yang gigih
menegakkan keadilan di tengah-tengah sekian banyaknya petugas yang justeru selalu menginjak-injak hukum,
sehingga merusak citra Polri yang seharusnya melindungi orang yang tidak berdosa.
Rekan Daeng Lollo, Mayor Polisi Andi Basso sependapat.
Mayor ini, wakil bangsawan dan punya kedudukan yang selalu memasyarakatkan diri. Bergaul langsung
dengan siapa saja, yang kaya maupun rakyat termiskin. Itulah yang membuat dia populer dan disukai, walau
dibenci oleh sementara rekannya sendiri. Sebagaimana Daeng Lollo, ia pun seorang petugas yang
mengharamkan suap dan sogok. Tidak bisa dibeli dengan apa pun. Kalau segenap anggota Polri seperti dua
perwira ini, maka Polri akan sangat dicintai dan dihargai oleh masyarakat. Tidak perlu dilihat sebagai momok
lagi, tapi sayang, Polri mempunyai banyak penjahat di dalam tubuhnya, suatu kenyataan yang bukan dibesar-
besarkan. Rakyat ngeri mendengar milyar-milyar yang disentak oleh perwira tinggi yang semacam Siswadji cs
dan rakyat jadi kehilangan harapan mendengar korupsi bermilyar-milyar pula di Kodam XIII, Kalimantan
Selatan. Kalau penegak hukum ke atasan pula lagi—jadi maling, bagaimana mau menjalankan tugas
sebagaimana mestinya. Ironis memang, bandit-bandit besar menguber bandit-bandit kecil semacam pencopet,
penodong dan penjambret. Kalau yang kecil-kecil memang benar-benar harus dibasmi, tentunya yang raja
masih harus dibinasakan, begitu pendapat sebagian besar masyarakat.
Kedua perwira Polri yang disukai rakyat itu berbincang-bincang. Melihat kemungkinan sebab dan
caranya dari berbagai segi. Tidak dikesampingkan kemungkinan oleh kepintaran-kepintaran-ku yang sampai
kini masih ada pada sejumlah keturunan dari penguasa-penguasa ilmu gaib ratusan tahun yang lampau. Hal ini
berdasarkan keterangan Udin dan Amir yang telah melihat dengan mata sendiri serta berulang kali bersumpah
bahwa mereka tidak berkhayal atau dihantui mimpi buruk oleh rasa takut mereka. Mereka akui bahwa mereka
sangat takut, tetapi apa yang mereka persaksikan dimulai dengan kejadian biasa. Seorang laki-laki
menggendong laki-laki lain. Berubahnya manusia jadi harimau, kemudian raib begitu saja menunjukkan
kekuatan ilmu yang tidak kepalang tanggung. Kemudian kedua perwira itu mengambil keputusan untuk
melihat kejadian malam berikutnya.
Tidak ada kejadian yang ditakuti oleh masyarakat. Tiada pembunuhan baru. Tetapi kedua perwira Polri,
Daeng Lollo dan Andi Basso mengalami kejadian yang membuat mereka cukup terkejut dan hilang seluruh
semangat. Walaupun terjadinya berlainan tempat dan waktu. Malam itu, ketika Mayor Polisi Andi Basso
sedang makan malam bersama istrinya, mendadak merasa kamar makannya menjadi dingin sekali. Suami istri
yang belum punya anak itu saling pandang dan mata mereka menunjukkan tanda keheranan dan sedikit

SERIAL MANUSIA HARIMAU 37


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kecemasan, tetapi mereka tidak berkata apa-apa. Pada saat itulah makhluk aneh itu tibatiba hadir di sana.
Seekor harimau dewasa dengan muka manusia. Sudah tua, bermisai putih penuh wibawa.
"Maafkan kedatanganku," kata makhluk itu memulai dan bersamaan dengan suaranya itu hawa dalam
ruangan itu normal kembali.
Andi Basso memandang si manusia harimau. Dalam pikirannya yang cerdas walaupun kaget dan takut,
terlintas dugaan, bahwa inilah barangkali makhluk yang melakukan teror di Pare-Pare.
"Kalian tidak marah atas kunjunganku yang tiba-tiba ini?" tanya makhluk yang tak lain dari Dja Lubuk,
ayah Erwin.
"Tidak," jawab Andi Basso tanpa sengaja. Jawaban itu begitu saja keluar dari mulutnya.
"Aku telah mengejutkan kalian, tetapi janganlah takut. Orang baik seperti kafian tidak perlu takut
padaku. Aku perkenalkan diriku: Namaku Dja Lubuk, asalku Mandailing. Pernah dengar tentang Mandailing?
Suatu daerah yang boleh dikata miskin sekali di Tapanuli Selatan."
"Bapak mau makan atau minum?" tanya istri Andi Basso.
"Tidak usah, terima kasih."
"Mengapa? Bukankah bapak datang dari jauh?"
"Ya, itu benar. Tetapi seperti kalian lihat aku ini makhluk yang menjijikkan. Bukan kemauanku begini.
Kadang-kadang manusia harus tunduk pada nasib suratan badan. Bagiku, beginilah nasib! Aku tak pantas
makan atau minum bersama kalian." Suara Dja Lubuk, tenang dan jelas membuat Andi Basso dan istrinya jadi
terharu. Rasa takut pun hilang.
"Makanlah bersama kami."
"Jangan, nanti piring bekasku, kalian buang!" Suara Dja Lubuk menimbulkan rasa sedih dan kasihan.

SUAMI istri Andi Basso untuk pertama kali menyaksikan adanya makhluk seperti itu, yang ujudnya menakutkan
tetapi kiranya rendah hati dan hidup dalam derita.
"Jangan berpikir begitu pak. Kami akan senang sekali kalau bapak mau turut makan dengan kami. Dan
kami sama sekali tidak akan membuang piring yang bapak pakai. Sebaliknya, kami akan menyimpan baik-baik
sebagai barang kenangan, karena kami telah bertemu dengan bapak," kata Andi Basso.
"Ya, kami akan menyimpannya baik-baik menjadi barang kebanggaan. Marilah kita makan," tambah
Nyonya Andi Basso.
"Terima kasih. Kalian orang berpangkat yang baik. Aku tahu sedikit-sedikit tentang dirimu Andi Basso,"
ujar Dja Lubuk, membuat perwira polri itu kaget sekali, bagaimana makhluk ini mengetahui namanya.
"Kau pejabat yang jujur dan mencintai rakyat. Aku juga tahu sedikit-sedikit tentang Pancasila negara ini,
walaupun aku tidak pernah mengikuti seminar atau penataran. Kau seorang penghayat dan pengamal Pancasila
yang baik. Tidak seperti kebanyakan orang yang selalu omong tentang Pancasila, tetapi dirinya adalah orang
yang mengkhianati ajaran Pancasila itu sendiri." Dja Lubuk tertawa sinis.
"Dudukiah di kursi pak," kata Andi Basso mempersilakan manusia harimau yang sejak tadi duduk saja di
iantai.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 38


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Jangan, tubuhku ini berat. Dan aku tak usah makan. Minum mau."
"Bapak suka minum apa?" tanya Nyonya mayor Polri itu.
"Kalau tidak menyusahkan kopi panas saja. Jangan pakai susu. Aku dulu biasa minum kopi hitam, tidak
disaring. Kami di Sumatera menamakannya kopi tubruk," ujar Dja Lubuk.
Nyonya Andi Basso membuatkan kopi keinginan manusia harimau itu. Tidak disaring.
"Silakan pak," kata perempuan yang amat ramah dan baik hati itu. Rasa takutnya telah berubah menjadi
suatu rasa bangga karena dapat berkenalan dengan makhluk aneh yang rupanya saja menyeramkan, tetapi
hatinya sama baik dengan dia.
"Sebentar lagi, masih panas tentu," ujar Dja Lubuk. Betapa samanya makhluk ini dengan manusia biasa.
Tidak gegabah dengan minuman yang diketahuinya masih terlalu panas untuk diteguk.
Dja Lubuk memberitahu kepada Andi Basso, agar pembunuh Daeng Guruh dan Baharsan tidak usah
dicari. Tidak akan dapat, katanya. Ia tahu, bahwa diam-diam petugas Polisi itu menduga dirinya sebagai
pembunuh dan masalahnya sudah selesai sampai di situ saja.
"Oh bukan aku yang membunuh. Andi Basso jangan salah faham dan jangan sembarang sangka," kata
Dja Lubuk, menyebabkan muka perwira itu jadi merah padam karena malu. Makhluk ini dapat membaca isi
hatinya. Benar-benar ia aneh, bahkan sakti mungkin.
"Mau bapak menolong saya?" tanya Andi Basso.
"Tentu saja. Orang sebaik engkau patut ditolong. Kau tak keberatan kusebut 'engkau'? Biasanya kau di-
panggil 'bapak'. Aku tak pantas menyebutmu 'bapak', bukan? Umurku ketika meninggal sudah sembilan puluh
tahun lebih."
"Oh tidak apa-apa. Saya malah senang dengan cara begini. Tidak kaku. Maukah bapak memberitahu
padaku siapa yang membunuh dukun Daeng dan Baharsan?"
"Anakku!" jawab Dja Lubuk singkat.
Andi Basso dan istrinya jadi tambah heran. Anaknya, tanya mereka dalam hati. Jadi makhluk aneh ini
punya anak pula? Apakah barangkali juga punya istri yang macam dia sendiri, hanya berlainan jenis?
"Boleh kuminum kopiku?" tanya Dja Lubuk mengalihkan pembicaraan.
"Tentu, silakan pak," ujar Nyonya perwira itu.
"Anak bapak?" tanya Andi Basso agak lama kemudian.
"Ya, anakku. Ia berbuat begitu untuk orang lain. Dia main hakim sendiri. Perbuatannya itu salah. Tetapi
dia hanya melihat cara itu untuk membalas sakit hati sahabatnya. Maafkan dia, Andi Basso. Dia dan aku sama
saja. Orang-orang kampung yang berpikir dan berbuat secara amat sederhana. Tidak pandai berbelat-belit
dalam omongan. Tidak mengenal lain kata, lain perbuatan." Mayor Polisi itu merasa terpukul, walaupun ia
sendiri tidak merasa turut berbuat. Lain kata dan lain perbuatan memang banyak tersua dalam masyarakat.
Menyuruh orang berhemat, padahal dia sendiri boros dan royal setengah modar. Menganjurkan orang bekerja
keras dan jujur padahal yang ngomong justeru seorang koruptor yang hanya mementingkan diri sendiri. Kalau
punya hak untuk memesan barang bagi keperluan negara, maka harga dinaikkan semau hati agar keuntungan
atau komisinya jadi ratusan juta dollar. Persetan sama nasib negara dan rakyat.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 39


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Di mana anak bapak sekarang?" tanya Andi Basso.


"Mengapa? Kau hendak menangkapnya?" tanya Dja Lubuk.
Andi Basso diam. Mau dibilang tidak, menyalahi kewajibannya sebagai penegak keamanan, mau dibilang
"ya" juga tidak tepat.
"Aku anjurkan padamu Andi Basso yang baik. Tak usah cari dia. Dan jangan pikir untuk menangkap
dirinya. Perbuatannya salah dan orang yang salah sewajarnya harus berani menerima resiko perbuatannya. Tapi
ia tidak akan sudi ditangkap. Sama halnya dengan aku. Aku tidak akan biarkan anakku ditangkap. Ia berbuat
begitu supaya dukun dan laki-laki yang telah menganiaya dan membunuh itu jangan sampai luput begitu saja
dari hukuman. Kau tahu, bahwa ada banyak orang bersalah besar yang bisa lolos dari hukuman. Dituntut saja
pun tidak!" kata Dja Lubuk. Perwira Polri itu merasa terpukul lagi. Manusia harimau ini banyak mengetahui
keadaan.
"Bapak orang pintar," kata Andi Basso memuji.
"Bukan. Aku hanya orang yang telah mati dan sewaktu-waktu bangkit dari kuburanku. Sudah kukatakan
tadi. Sudah begini nasib yang ditentukan bagiku."
"Bapak orang baik," ujar Nyonya Andi Basso.
"Juga tidak. Aku pun pernah melakukan pembunuhan. Beberapa kali. Tetapi semua karena aku dipaksa
atau terpaksa berbuat demikian!" Dja Lubuk lalu menceritakan apa hubungan dukun dan Baharsan yang mati
dibunuh anaknya dan apa pula kaitannya dengan Andi Farida yang sakit gila lalu meninggal. Berdiri bulu roma
istri Andi Basso. Begitu pula perwira itu sendiri. Mereka mengetahui tentang adanya ilmu itu.
"Kopi buatan istrimu ini enak sekali Andi Basso," kata Dja Lubuk, lalu ia memandang perempuan yang
berwajah lembut dan ramah itu dengan pandangan menyatakan senang dan terima kasih. Setelah
menyampaikan keterangannya, Dja Lubuk mohon diri. Dan sebagaimana ia tadi mendadak hadir di sana,
maka kini ia lenyap secara itu pula. Hilang entah ke mana. Beberapa saat lamanya suami istri itu tidak dapat
berkata apa pun, seolah-olah terbisu oleh kenyataan yang baru saja berlalu.
"Malam ini merupakan malam ajaib yang bahagia," kata Andi Basso. "Suatu misteri yang tak terpecahkan
telah dibikin terang oleh yang bersangkutan!"
"Bapak itu begitu sayang pada anaknya. Suatu bukti lagi dari kasih orang tua yang tak pernah padam
terhadap anaknya, walaupun ia sebenarnya telah meninggalkan dunia," kata Nyonya Andi Basso. "Kalau terjadi
sesuatu atas anaknya tentu ia akan datang membela dan menuntut balas."
"Tentu, sedangkan dendam sahabatnya ia balas. Aneh, di dunia ini ada kehidupan yang begitu. Kalau ia
tak memberi penjelasan, rahasia kedua pembunuhan itu tidak akan pernah terbongkar! Aku harus sampaikan
apa yang kita alami tadi!"
"Tetapi apakah kawan-kawanmu akan percaya?" tanya Nyonya Andi Basso.
"Terserah kepada mereka. Tidak bisa dipaksa untuk percaya!"
Dari rumah Andi Basso, manusia harimau itu langsung saja ke tempat kediaman Daeng Lollo yang
kolonel Polisi itu.
Pintu telah ditutup, tetapi lampu di dalam bersinar terang. Mungkin penghuninya belum tidur.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 40


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sebagaimana Erwin dulu ke rumah dukun Daeng dengan mengetuk pintu, maka Dja Lubuk juga
mengucapkan assalamu'alaikum. Salamnya berjawab dengan pertanyaan siapa gerangan yang berada di luar.
"Sebelum kau buka pintu, kuatkan dulu hatimu."
"Hee, siapapun kau, caramu ini aneh sekali. Apa maksudmu?" tanya Kolonel Polisi Daeng Lollo.
"Aku ini mau menyampaikan informasi. Penting untuk jabatanmu."
"Katakan dulu siapa engkau," ujar Daeng Lollo sambil mengambil pistolnya yang selalu terisi penuh
dengan peluru.
"Aku ini ayah dari pembunuh dukun Daeng Guruh dan Baharsan. Kau ingin tahu siapa pembunuh
mereka, bukan?" Suara Dja Lubuk mantap. Tiada ragu-ragu sedikitpun.
"Mengapa kau minta agar aku menguatkan hati?"
"Supaya kau jangan terkejut melihat aku!"
"Kau ini tambah aneh. Mengapa pula aku mesti terkejut berhadapan dengan manusia yang mau memberi
keterangan membantu tugasku!"
"Karena aku ini manusia yang lain daripada manusia yang kau kenal."
Srrr, tersirap darah Daeng Lollo. Kini ia ingat bahwa kedua pembunuhan itu dilakukan oleh makhluk
aneh yang tidak dikenal apa jenisnya. Hanya kukunya bagaikan kuku beruang atau harimau dan telapak yang
ditinggalkan sama dengan telapak kaki harimau.
"Mengapa kau mau mengkhianati anakmu yang pembunuh itu?"
"Kau tidak mengerti. Ini bukan soal pengkhianatan. Ini hanya suatu pengakuan untuk membantu kalian
agar jangan bersusah payah sia-sia, bahkan mungkin ada anggota Polisi yang gugur nanti kalau salah tindak!"
"Mengapa kau sebaik itu?"
"Jenis kami sebenarnya memang baik-baik semua. Kecuali kalau kami disakiti. Kau tidak pernah
menyakiti kami, maka aku ingin berbuat baik padamu!"
Dalam hati, Daeng Lollo merasa heran dan sedikit tersinggung mengapa pendatang ini hanya menyebut
dia dengan engkau. Ia ingin tahu bagaimana rupa orang ini, yang mengatakan dirinya lain dari manusia
lainnya.
"Baiklah, kubukakan pintu. Nanti sebentar."
Tak lama kemudian pintu terbuka dan makhluk yang lebih banyak harimau daripada manusia itu terus
masuk. Dan walaupun ia sudah memberi ingat, tetapi terkejut dan takutnya tuan rumah bukan alang kepalang.
"Mengapa kau mengambil pistol tadi? Kau mau menangkap atau menembak aku?" Daeng Lollo tidak
menjawab, karena seperti Andi Basso dia pun terbisu oleh apa yang dilihatnya.
"Sudah kuperingatkan kau tadi! Coba kulihat pistolmu itu!" kata Dja Lubuk.
Walaupun suaranya lembut tetapi mengandung wibawa bagaikan perintah atasan kepada bawahan. Tak
kuasa menolak, Daeng Lollo menyerahkan pistol yang tadi terselip di pinggangnya untuk membela diri, kalau
perlu.
"Apakah senjatamu ini sudah banyak makan nyawa?" tanya Dja Lubuk.
Daeng Lollo menggeleng.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 41


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Sudahlah, buang rasa takutmu. Aku datang sebagai pemberi keterangan. Sebelum ke mari aku sudah ke
rumah rekanmu Andi Basso. Sudah kuceritakan kepadanya. Yang membunuh dukun dan Baharsan dua hari
berturut-turut adalah anakku. Makhluk semacam aku ini, tetapi ia masih muda dan ganteng. Aku sengaja
bangkit dari kuburanku untuk mendatangi Andi Basso dan kau. Tak usah lagi cari pembunuh yang kalian
anggap misterius itu. Nah, hanya itu yang mau kusampaikan. Nih senjatamu," kata Dja Lubuk lalu dia keluar
pintu. Mata Daeng Lollo masih mengikuti, tetapi mendadak manusia harimau itu lenyap. Jadi persis seperti
yang diceritakan oleh Udin dan Amir yang melihat makhluk aneh semacam itu membunuh di kuburan lalu
menghilang tanpa bekas.
Berbeda dengan Andi Basso, perwira yang lebih tinggi ini sampai keesokan paginya tak dapat tidur. Rupa
Dja Lubuk terus membayang. Ia pun heran ada makhluk semacam ini di dunia. Semula ia menyangka bahwa
kisahkisah tentang manusia ular atau harimau jadi-jadian hanya khayalan belaka. Kini ia telah melihat dengan
matanya sendiri.

KEESOKAN paginya Andi Basso dan Daeng Lollo menceritakan pengalaman mereka.
"Sebenarnya aku mau menelpon Anda kemarin malam, tetapi terus terang aku takut," kata Kolonel
Daeng Lollo. Rekannya juga berkata begitu.
"Bagaimana kita menyampaikan hal ini kepada masyarakat? Kalau kita diam saja akan dinilai tidak
mampu membekuk pembunuhnya!" kata Kolonel Daeng Lollo.
"Bukankah benar begitu? Kita tidak sanggup menangkapnya. Tetapi memang benar kita harus memberi
penjelasan kepada masyarakat, supaya mereka tahu duduk perkara dan bebas dari rasa takut yang
berkepanjangan."
"Kini aku tahu, bahwa senjata tidak selalu ada gunanya," kata Daeng Lollo lalu ia menceritakan tentang
senjata apinya yang diketahui si manusia harimau. "Aku betul-betul tak berdaya. Kuturut saja apa yang
dikatakannya."
"Anaknya yang juga manusia harimau dan telah melakukan dua pembunuhan itu mungkin masih ada di
sini," kata Mayor Andi Basso. "Aku ingin sekali bertemu dengannya." Heran, waktu dia mengucapkan itu bulu
romanya serasa berdiri.
Mayor Polisi itu jadi gelisah tetapi tidak mengatakan kepada atasannya. Sebaliknya Daeng Lollo tidak
ingin bertemu lagi dengan makhluk seperti yang mendatanginya malam itu.
Pada waktu itu terdengar kembali suara yang telah mereka kenal. Suara Dja Lubuk. Seperti biasa, tenang
penuh wibawa.
"Andi Basso, mengapa kau ingin sekali bertemu dengan pembunuh dukun dan Baharsan?" tanya suara
yang tidak kelihatan orang atau makhluknya itu. Kedua perwira Polri yang sama-sama mendengar pertanyaan
itu saling pandang. Kemudian Kolonel memberi isyarat kepada bawahannya supaya menjawab. Maka
berkatalah Andi Basso: "Bukan ingin bertemu dengan pembunuh tetapi dengan anak Bapak Dja Lubuk yang
sudah kuanggap sebagai orangtua. Saya ingin bersahabat dengannya."
"Hah, aneh kau ini. Buat apa bersahabat dengan makhluk semacam kami. Tempatmu di kalangan orang-

SERIAL MANUSIA HARIMAU 42


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

orang terkemuka dan berpengaruh!" kata Dja Lubuk.


"Aku merasa diriku salah seorang rakyat biasa."
"Bagus, sebenarnya aku tahu bahwa kau rendah hati. Masih suka bergaul dengan orang kecil. Lanjutkan
kebiasaan baik itu. Dari mereka kau akan mengetahui bagaimana kehidupan mereka sebenarnya. Seharusnya
semua orang atas atau pemimpin hidup dan berkecimpung juga dengan rakyat gembel. Dengan itu mereka
akan mendengar jerit tangis rakyat dan hanya dengan menyadari kesulitan hidup mereka barulah mereka akan
berusaha dengan segala wewenang yang ada untuk bersama-sama orang secita-cita meratakan keadilan sosia!.
Tidak cukup dengan kursus, seminar, rapat kerja atau loka karya!"
"Bapak dulu orang politik di zaman penjajahan Belanda?"
"Yah, cuma anggota partai. Bukan pemimpin. Tetapi saudara-saudara dan kawan-kawanku ada yang
didigulkan. Dituduh komunis. Padahal mereka nasionalis sejati yang inginkan kemerdekaan dan kehidupan
yang layak!" Mayor Andi Basso dan Kolonel Daeng Lollo merasa kagum. Ini benar-benar bagai khayalan.
Makhluk bertubuh harimau dan berkepala manusia mengerti begitu banyak tentang perjuangan dan politik.
"Boleh saya berkenalan dengan anak Bapak?" tanya Andi Basso.
"Kalau tiada niat buruk di dalam hatimu, mungkin kelak kalian bisa bertemu. Tetapi kalau kau punya akal
licik oleh perintah atasanmu dan hasutan orang, maka kau akan menamatkan riwayat hidupmu sendiri.
Sebenarnya sayang, kau belum punya keturunan, bukan?"
"Saya tak punya niat jahat. Saya benar-benar hanya ingin bersahabat!" ujar Andi Basso.

***

DAENG Lollo dan Andi Basso masih ngomong-ngomong tentang pengalaman mereka, ketika Letnan Polisi
Aziz masuk dan melaporkan, bahwa ada seorang wartawan ingin bertemu dengan kedua perwira itu.
"Dari koran mana?" tanya Kolonel Daeng Lollo.
"Koran Jakarta, Pak," sahut Letnan Polisi itu.
"Wah, sudah sampai ke sana berita ini," kata Andi Basso.
"Mengapa kau sangka ia datang untuk berita pembunuhan misterius ini?" tanya si atasan.
"Untuk apa lagi, kalau bukan untuk itu. Kalau untuk pemberitaan lain ia tentu tidak akan minta ketemu
dengan kita."
Kolonel Daeng Lollo bertanya kepada si Letnan apakah wartawan itu datang langsung dari Jakarta atau
pembantu sebuah koran Jakarta yang berkedudukan di Ujungpandang atau Pare-Pare?
"Dia dari Jakarta Pak."
"Dia katakan padamu mau bicara tentang apa?"
"Katanya orang di Jakarta, terutama yang asal Sulawesi Selatan amat gempar oleh kedua pembunuhan
aneh ini. Ia ingin berita dari tangan pertama untuk korannya." Wartawan Ibukota itu dipersilakan masuk. Ia
memberi hormat lalu menyalami kedua perwira Polisi itu. Orangnya masih muda, periang, kelihatan cerdas
tetapi juga serius dalam menjalankan tugas. Ia menyatakan terima kasih atas kesediaan kedua penegak hukum

SERIAL MANUSIA HARIMAU 43


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

itu menerima dia. Ditanyakannya apakah di Pare-Pare selalu terjadi peristiwa-peristiwa aneh semacam itu.
"Wah jarang sekali. Selama kami bertugas di sini baru sekali inilah!" jawab Kolonel Daeng Lollo.
Kedua perwira itu bersama-sama memberi keterangan atau menceritakan apa yang mereka tahu. Saling
mengisi atau mengoreksi.
"Sudahkah ada tanda-tanda yang membawa bapak-bapak ke arah si pembunuh?" tanya wartawan yang
simpatik itu.
"Tiap kasus harus dapat dipecahkan. Kalau tidak, wibawa Polisi akan menurun di mata masyarakat!"
"Alhamdulillah!" kata wartawan yang tadi memperkenalkan diri dengan nama Herman. Hanya itu.
Daeng dan Andi saling pandang dan bertanya, mengapa ia menjawab begitu.
"Saya bersyukur kepada Allah, karena bapak berdua merupakan perwira-perwira yang menghargai dan
menjunjung tinggi tugas yang dibebankan atas bahu bapak-bapak!" Sebuah kalimat yang cukup jelas
maknanya. juga bagi kolonel dan mayor Polisi itu.
"Apakah di Jakarta pernah terjadi pembunuhan misterius seperti ini?" tanya mayor Andi Basso.
Wartawan itu tidak menunggu lagi untuk menjawab, bahwa Jakarta dan Surabaya juga pernah
mengalami. Diketahui bahwa yang membunuh adalah semacam makhluk yang dinamakan manusia harimau,
karena badannya harimau dan kepalanya kepala manusia.
"Adakah di antaranya Polisi yang dijadikan korban?" tanya Kolonel Daeng Lollo.
"Ada! Yaitu Polisi yang menyakiti dia!"
"Dia siapa?"
"Manusia harimau itu!" jawab Herman.
"Bagaimana mungkin. Apakah manusia harimau itu tertangkap?"
"Dia ditangkap ketika ia merupakan manusia biasa. Seperti kita ini. Atas tuduhan yang tidak benar. Dia
disiksa. Karena itu ia dendam. Dia kembali tanpa dilihat oleh sekian banyak Polisi yang bertugas malam. Yang
didatangi hanya orang-orang yang menyiksa dia. Pembalasannya mengerikan!"
"Apakah betul ada manusia harimaunya?" tanya Mayor Andi Basso memancing.
"Bukan hanya ada dalam cerita. Mereka benar-benar ada. Yang anak, yang ayah dan yang kakek. Bapak-
bapak tidak percaya?"
"Belum pernah melihat," kata Kolonel Daeng Lollo.
"Bapak juga belum?" tanya Herman kepada si mayor Polisi.
Ia tidak menjawab.
Herman bertanya: "Apakah pertanyaan saya menyinggung Bapak?"
"O, tidak," jawab Andi Basso segera.
"Jadi Bapak juga belum pernah bertemu," kata Herman.
Andi Basso diam saja. Berat mengiyakan. Berat pula berdusta.
Wartawan Herman tidak meneruskan pertanyaan. Ia mengatakan, bahwa sebelum menghadap kedua
perwira itu ia telah membuat potret kuburan tempat terjadinya peristiwa. Termasuk atau terutama kuburan
Andi Farida, karena di situ terjadinya pembunuhan kedua. Juga tempat dibunuhnya dukun Daeng Guruh.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 44


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Kata beberapa orang yang tahu, ketika masih hidup Andi Farida pernah dilamar oleh Baharsan, korban
kedua si manusia harimau. Ada lagi yang mengatakan, bahwa dukun Daeng Guruh itu yang membuat Andi
Farida jadi gila kemudian mati," pancing Herman.
"Ya, memang ada yang mengatakan begitu. Tetapi kita tidak bisa membuktikan bahwa dukun itu yang
menganiaya Andi Farida,"
"Benar. Yang jelas, dukun itu mati dibunuh makhluk aneh, kemudian menyusul Baharsan yang pernah
melamar Andi Farida. Dan terjadinya di kuburan gadis itu," kata Herman.
"Saudara cerdas sekali merangkaikannya. Pernah bekerja sebagai intel?" tanya Kolonel Daeng Lollo
setengah berkelakar.
"Bukan saya rangkaikan memang begitu rangkaian kejadiannya."
"Apa lagi yang sudah saudara dapat?"
"Bahwa bapak berdua ditugaskan untuk memecahkan rahasia ini. Dan bahwa bapak berdua disukai
masyarakat karena jujur dan suka bergaul dengan mereka. Saya salut dan berharap semua pejabat seperti bapak
berdua!" Agak lama juga suasana jadi sepi, tiada yang bertanya atau bercerita. Sampai kemudian wartawan itu
mengulangi: "Bolehkah saya ketahui apakah sudah ada tanda-tanda akan tertangkapnya si pembunuh?"
"Kami akan menjelaskannya kepada masyarakat!" kata Kolonel Daeng Lollo.
"Apakah saya tidak boleh mengetahui apa yang akan bapak katakan?"
"Belum waktunya. Kami masih akan memikirkan caranya!"
"Cara menjelaskan?" tanya Herman.
"Ya, begitulah kira-kira."
"Kalimat Bapak pun misterius, penuh rahasia!" kata Herman ramah.
"Anda wartawan baik," kata Kolonel Daeng Lollo.
"Terima kasih. Tugas Bapak-bapak berat sekali, tetapi tetap baik kepada saya."
"Di mana saudara menginap?"
"Di rumah kenalan. Dulu dia di Jakarta!"
"Oh, bagus. Orang baik selalu disenangi orang. Kalau belum dapat tempat menginap saya mau tawarkan
untuk bermalam di rumah saya," kata mayor Andi Basso.
Herman mengucapkan terima kasih lagi lalu mohon diri.

***

DAENG Lollo dan Andi Basso tukar-menukar pikiran bagaimana caranya menyampaikan pembunuhan ganda itu
kepada masyarakat. Menceritakan saja apa yang mereka alami? Tentang kedatangan Dja Lubuk yang
mengatakan dirinya ayah si pembunuh dan bahwa mereka benar-benar telah melihat manusia harimau yang
datang ke rumah mereka.
"Apakah mereka akan menerima?" tanya Kolonel.
"Tentu ada yang percaya. Tapi akan ada juga yang diam-diam atau terang-terang menertawakan. Mereka

SERIAL MANUSIA HARIMAU 45


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ini akan menganjurkan supaya kita jadi dukun saja. Sebab Polisi tidak akan membebaskan diri dari pemecahan
masalah dengan cerita yang hanya bisa dikhayalkan!"
"Tetapi bukankah kita menceritakan yang sebenarnya?"
"Itulah susahnya. Orang bisa tidak percaya pada yang benar karena terlalu fantastis. Dan ada orang yang
cukup senang menelan kebohongan yang tidak masuk akal! Manusia memang aneh. Tetapi apa mau dikata.
Kita harus berhadapan dengan masyarakat manusia ini!"
"Apakah mayor akan menceritakan tentang Pak Dja Lubuk yang minta kopi panas tak disaring itu? Apa
namanya kopi itu katanya?" tanya Kolonel Daeng Basso.
"Kopi tubruk. Saya akan menceritakannya kalau perlu."
Tiba-tiba terdengar tawa, tidak terlalu keras tetapi cukup jelas. Tawa menunjukkan rasa geli hati.
"Kalau diceritakan tentang kopi tubruk itu mereka akan tertawa!" kata suara yang tak bertuan itu. "Masih
kau kenal aku?"
Kedua penegak hukum itu segera tahu. Suara Dja Lubuk. Rupanya dia ada di sana.
"Di mana bapak?" tanya mayor Andi Basso.
"Di sini. Aku senang pada kalian berdua. Kalian benar-benar orang baik!" kata Dja Lubuk lagi.
"Apakah baik kami ceritakan saja apa yang kami aiami?" tanya Daeng Lollo.
"Aku pikir itulah jalan yang tepat."
"Tadi ada wartawan dari Jakarta. Tetapi tidak semua pertanyaannya kami jawab."
"Tidak apa-apa. Kurasa dia sudah tahu!"
"Tahu apanya Pak?" tanya Kolonel Daeng Lollo kepada suara yang tidak memperlihatkan rupa itu.
"Tahu semuanya!"
"Bagaimana mungkin?" tanya si mayor Polisi.
Dja Lubuk menerangkan, bahwa di dunia ini banyak yang serba mungkin. Ia memberikan beberapa
contoh di dalam kehidupan masyarakat, peristiwa-peristiwa mengherankan dan tak masuk akal, tetapi
sesungguhnya terjadi.
"Tetapi kami heran, kalau wartawan Jakarta ini mengetahui semua apa yang telah terjadi. Maksud kami
segala sesuatu yang hanya kami dan bapak mengetahuinya. Rasanya tidak mungkin," kata Andi Basso.
"Kalian hanya mengenal wartawan itu bernama Herman dan datang dari Jakarta," ujar Dja Lubuk.
"Bahwa ia datang dari Jakarta, itu memang benar." Dja Lubuk diam sehingga kedua perwira Polri itu mohon
agar ia melanjutkan ceritanya.
Dja Lubuk berkata lagi: "Namanya bukan Herman dan ia sama sekali bukan wartawan, walaupun ia
sebenarnya punya bakat untuk menulis."
"Lalu siapa dia?" tanya Kolonel Daeng Lollo.
"Dia itulah Erwin, sang manusia harimau yang telah membunuh dukun Daeng Guruh dan Baharsan,"
kata Dja Lubuk setenang air danau tanpa tiupan angin.
"Jadi, dia menyamar dan dia ..." Kolonel Daeng Lollo tidak meneruskan kalimatnya.
Dja Lubuk menyelesaikan: "Benar, dia itu anakku." Kedua perwira itu diam. Tak masuk akal. Tetapi yang

SERIAL MANUSIA HARIMAU 46


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

bercerita Dja Lubuk yang ayah pembunuh ganda itu.


"Tetapi apa gunanya ia menyamar sebagai wartawan?" tanya Andi Basso.
"Tidak ada niat buruk. Dia tidak memeras sebagai yang dilakukan wartawan gadungan atau wartawan
merangkap penjahat," kata Dja Lubuk.
"Saya masih belum mengerti apa gunanya?" tanya Andi Basso lagi.
"Bukankah kau mengatakan pada kawanmu dan mengakui padaku bahwa kau ingin berkenalan
dengannya, bukan sebagai pembunuh tetapi sebagai anakku? Karena itulah maka ia datang. Keinginanmu
sudah terpenuhi, bukan?"
Kini Andi Basso ingat, begitu juga Daeng Lollo.
"Apakah manusia harimau mengetahui semuanya? Segala pembicaraan dan isi hati orang?" tanya Kolonel
Daeng Lollo.
"Ah tidak. Hanya kadang-kadang, yaitu tatkala nalurinya sedang bekerja kuat luar biasa. Tidak selalu!"
kata Dja Lubuk berterus terang. Dan memang begitulah halnya.
"Di mana anak bapak itu sekarang?"
"Masih ada di sini. Beberapa hari lagi akan kembaii ke Jakarta. Tak usahlah dicari dia. Bukankah dia
sudah datang sendiri?" ujar Dja Lubuk. Saat itulah telpon berdering, diangkat sendiri oleh Mayor Andi Basso.
Dari ujung lain orang berkata: "Maafkan saya, pak Mayor. Saya terpaksa datang dan berdusta dengan
pengakuan sebagai wartawan. Tak ada maksud jahat. Bapak ingin berkenalan, saya sudah datang tadi. Bapak
perwira baik, begitu juga Kolonel Daeng Lollo. Saya minta agar jangan berusaha menangkap saya. Ayah saya
sudah mengatakannya bukan?" Terdengar oleh Mayor Andi Basso telpon diletakkan kembali.
"Kini aku mohon diri," kata Dja Lubuk yang tak memperlihatkan rupa. "Sekali lagi terima kasih atas
suguhan kopi tubruk yang amat lezat itu. Salamku untuk istrimu Andi Basso. Dua tahun lagi kalian diberkahi
seorang putera. Aku turut mendoakan."
Dalam keadaan seperti terpukau oleh berbagai keajaiban dan kegaiban itu, mayor Andi Basso merasa
seperti tersentak dari alam mimpi mendengar ucapan Dja Lubuk bahwa ia akan diberkahi seorang putera. Dua
tahun lagi. Sudah lama ia merindukan kehadiran seorang anak, tetapi belum pernah tercapai meskipun sudah
banyak dokter dan dukun yang dikunjungi. Menurut keterangan dokter, kedua-duanya, ia dan istrinya tidak
ada yang mandul. Dan dokter hanya menerangkan, bahwa dalam hal suami istri sama-sama subur pun
kehamilan bisa tertunda bertahun-tahun. Dokter menerangkannya oleh berbagai sebab iimiah, orang awam
mengatakan "belum rezeki". Seorang dukun mengemukakan, bahwa ketidakhamilan disebabkan ada roh
seorang nenek istri Andi Basso yang minta disuguhi tujuh macam buah, kesemuanya berwarna sama. Seorang
dukun lain mengatakan, bahwa pada diri Andi Basso menumpang seorang halus yang membenci anak. Itulah
sebabnya ia mematikan tiap benih laki-laki itu sehingga tidak bisa menghamilkan istrinya. Dan ini harus
disingkirkan dengan berbagai syarat dan sebuah upacara.
Karena inginnya suami istri itu mempunyai anak, maka kedua saran dukun diikuti namun bayi yang
diharapkan tidak juga muncul.
Kini, di luar dugaan, Dja Lubuk yang makhluk aneh mengatakan bahwa ia akan mendapat anak. Dua

SERIAL MANUSIA HARIMAU 47


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

tahun memang waktu yang cukup lama, tetapi lima tahun yang telah dilalui merupakan masa yang jauh lebih
lama. Andi Basso yakin bahwa Dja Lubuk berkata benar. Ia tidak mendokter atau mendukun, bahkan
kepadanya tidak ditanyakan tentang anak, tetapi dia sendirilah yang meramalkan atau mengatakan.

***

SETELAH diadakan mufakat antara beberapa perwira Polri, akhirnya diambil suatu kebijaksanaan untuk me-
nyampaikan kepada masyarakat bahwa yang membunuh dukun Daeng dan Baharsan adalah makhluk halus
yang kadang-kadang mengambil rupa harimau. Pembunuhan itu suatu kutukan terhadap kedua orang itu
karena melakukan perbuatan jahil atas diri Andi Farida. Berita ini tidak diumumkan secara resmi karena bisa
mengundang reaksi yang tidak enak, melainkan disebarluaskan dari mulut ke mulut. Segenap anggota Polri di
Pare-Pare menerima keterangan dan alasan mereka sebagai suatu kenyataan, kecuali satu orang. Ia berpangkat
sersan. Orang ini bukan tidak percaya pada keterangan atasan, tetapi merasa bahwa makhluk halus itu toh bisa
dijerat atau ditewaskan, karena ia kadangkala mempunyai ujud harimau. Manakala ia sedang jadi harimau dan
dapat dilihat dengan mata kasar, maka ia dapat dilumpuhkan dengan ilmu tinggi. Dan sersan ini yang bernama
Daud mempunyai ilmu hebat yang diyakininya dapat menjebak si harimau misterius itu. Ia punya jampi untuk
memanggil makhluk itu. Manakala sudah datang akan ditikamnya dengan badik kecil yang oudah karatan.
Atau ia akan bikin harimau itu sebagai binatang liar biasa, tembus oleh peluru. Ia akan lakukan mana yang
lebih baik dan ia akan buktikan kepada atasannya bahwa ia, walaupum sersan saja mampu menawan atau
membunuh penjahat yang dikatakana tak terkalahkun oleh perwira-perwira Polri itu. Mereka akan tercengang
dan sudah pasti pangkatnya akan dinaikkan. Dirinya akan jadi buah bibir masyarakat Pare-Pare, bahkan se-
Sulawesi Selatan. Tidak, lebih lagi dari itu. Kehebatannya tentu akan dimuat dalam berbagai surat kabar.
Namanya akan menjadi terkenal dalam ukuran nasional. Seorang sersan merobohkan manusia harimau yang
tidak terkalahkan oleh siapapun. Dan orang akan berdatangan padanya dengan berbagai permohonan bantuan,
Itu artinya uang masuk dan bukan dalam jumlah kecil. Orang sekarang, termasuk atau terutama sebagian orang
berkedudukan penting yang kayaraya selalu mendekatkan diri dengan dukun, bahkan ada dukun-dukun yang
dikontrak oleh sejumlah orang kaya. Dunia kita ini memang aneh. Di satu pihak menganggap dukun
seharusnya menyingkir karena sekarang segala macam sudah serba modern, termasuk pengobatan hampir
sumua macam penyakit. Tetapi orang-orang pintar, yang membawahi banyak orang atau rakyat juga sebaliknya
semakin banyak yang bersandar pada mantera dan keampuhan ilmu gaib. Dan mereka ini punya uang berapa
sajia untuk melindungi diri melalui dukun. Jadi bukan pengobatan penyakit, tetapi perlindungan diri. Dari
tuntutan atau hukumun. Mengingat keuntungarn yang akan datang disertai keyakinan amat tebal terhadap
keampuhan limunya, maka Daud bertekad untuk membuktikan bahwa kalau baru manusia harimau bukan soal
besar baginya. Manusia naga pun, kalau ada dapat dirundukkannya.
Daud ingin agar manusia harimau itu menyerah dan ia akan menangkapnya hidup-hidup guna dibawa ke
komandannya. Ia akan mcnangkapnya hidup-hidup guna di bawa ke komandannya. Ia akana menariknya
melalui jalan-jalan yang ramai supaya orang dapat melihat dan takjub atas kehebatannya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 48


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sersan ini memang punya ilmu kelas berat. Pada malam Jumat ia bekerja. Pcrkakasnya terdiri atas
tengkorak kepala seorang wanita yang diambilnya sendiri dari sebuah kuburan, sudah sejak beberapa tahun
yang lalu. Sepotong bambu kuning, tujuh ekor lintah kerbau, kain kafan laki-laki yang lanjut usia. Sudah
berwarna kuning oleh lumpur. Sesuai dengan ketentuan, kain kafan itu pun diambilnya sendiri, tidak boleh
mengeluarkan mayat dari kuburnya. Mayat yang dilucuti dari pakaian terakhirnya itu harus dibiarkan di dalam
lobang kubur dam tak boleh ditutup lagi.
Daud sendiri melepas seluruh pakaiannya sehingga ia telanjang sama sekalii. Ia bekerja larut malam, tak
boleh diketahui oleh siapapun juga. Kalau sampai ada orang yang mengetahui, maka pekerjaan itu akan sia-sia.
Daud menyembah kepala yang mempunyai duo lobang pada tcmpat matanya dulu semasa masih hidup,
selalu melihat taiam seperti mempunyai daya menembus. Kepala ini milik nenek Mariam yang meninggalkan
dunia karena dibunuh oleh suaminya sendiri.
Ia membaca kalimat-kalimat dalam bahasa Toraja yang artinya lebih kurang sebagai berikut: "Siapapun
engkau, engkau hanya pendatang. Tak ada pendatang boleh berbuat semaunya di sini tanpa menerima
hukumannya. Aku adalah cucu dari jin Tinombala. Kuperintahkan kau, makhluk yang dinamakan manusia
harimau untuk menyerahkan diri padaku. Biarlah engkau tak terlawan oleh handalan mana pun, tetapi
terhadap aku engkau harus tunduk."
Setelah ia selesai membaca mantera, tengkorak terlompat-lompat, lintah yang tujuh berubah menjadi
tujuh ekor ular berwarna hijau. Kain kafan terangkat-angkat kemudian ikut terbang dengan tengkorak yang
mulai membubung. Mereka mengikuti perintah Daud bagaikan budak pada majikan.
Erwin gelisah di kamarnya. Terasa panas, dan jantungnya berdebar-debar. Ia segera menyadari bahwa ada
orang yang menantangnya. Itulah resiko dari orang berilmu tinggi. Jarang bisa tenteram. Ada saja orang lain
mau mengatasi. Selama di Jakarta dulu ia telah menghadapi Ki Ampuh dan mbah Panasaran. Hampir dia
binasa. Untung pada saat-saat genting datang ayah, ompungnya atau Datuk nan Kuniang dari kuburan
Kebayoran Lama. Dalam ia gelisah oleh rasa panas dan berpikir siapa gerangan yang ingin berhadapan dengan
dirinya, mendadak tampak olehnya tengkorak dengan kain kafan terbang di dalam kamarnya. Entah dari mana
masuknya. Pertanda bahwa yang menantang dia seorang pandai yang mempunyai ilmu tinggi. Mungkin juga
lebih tinggi dari ilmunya. Setelah mengunjungi Mayor Andi Basso dan Kolonel Daeng Lollo dalam
samarannya sebagai wartawan ibukota, ia yakin bahwa ia akan dapat kembali ke Jakarta tanpa halangan apa
pun lagi. Kiranya dugaan itu meleset.
"Apa maumu?" tanya Erwin kepada tengkorak dan kain kafan itu.
Mulut tengkorak itu bergerak menggumam: "Tunduklah pada majikan kami. Engkau telah membunuh
dua manusia, engkau harus bertanggung jawab. Begitu sifat seorang ksatria. Entahlah kalau kau pengecut!"
Erwin tidak terpengaruh oleh usaha setan-setan itu. Cukup banyak penjahat yang tidak ditangkap untuk
mempertanggungjawabkan kejahatan mereka. Buat apa ia harus mengikutkan anjuran tengkorak dan kain
kafan itu.
"Siapa majikanmu?" tanya Erwin.
"Bodoh, mengapa kau tanya kepada kami. Kalau kau orang pintar tentu kau mengetahui siapa atasan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 49


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kami!" kata sang tengkorak. Dan ia tertawa sinis.


"Benar katamu. Tetapi kalau menyebutkan namamu saja, bukankah kau tidak keberatan?"
"Aku mati dibunuh suamiku. Tetapi atas bantuan majikanku yang mengambil kepalaku dari kuburan aku
telah membalas dendam. Bekas suamiku itu telah kubunuh. Tadi kau tanyakan namaku. Aku Mariam!" Ketika
tengkorak Nenek Mariam berdialog dengan Erwin, mendadak terdengar desis yang ramai. Kemudian Erwin
melihat tujuh ular hijau di hadapan tempat ia berbaring. Lawannya ini benar-benar tangguh. Bukan hanya
memiliki tengkorak dan kain kafan. Ia mempunyai pula tujuh ular. Erwin kian waspada. Kini segala-galanya
bisa terjadi.
Patukan ular-ular itu bisa mematikannya.
"Kalian mau apa?" tanya Erwin. "Mau membunuhku?"
"Tidak," jawab ketujuh ekor ular itu. Bicara sebagai manusia karena mereka dikuasai dan diperintah oleh
manusia. "Kami hanya mau membawamu ke majikan kami. Kalau kau melawan, mungkin kami
membunuhmu." Di rumahnya, Daud mengikuti apa yang terjadi di kamar Erwin yang manusia harimau itu.
Sebagai kebanyakan dukun ia melihat melalui air putih yang ditempatkan dalam sebuah mangkok berwarna
putih pula. Ia tertawa, puas. Tak pelak lagi, ia akan menang. Agar Erwin menurut perintah ular-ularnya, Daud
membantu dengan mantera-mantera dari rumahnya. Mendadak rumah Daud tergoncang bagaikan ada gempa.
Tetapi tidak terdengar suara orang panik, tandanya tidak ada gempa.
"Siapa kau yang berani menggoncang rumahku! Kau mencari kematian. Keluar dan hadapi aku atau
pergilah seperti bangsat pengecut!" kata Daud.
Daud memperkeras bacaan manteranya, kalimat-kaliamt sakti pengusir setan dan hantu, jin dan
jembalang. Dia belum pernah gagal. Bukan baru kali ini ia mendapat cobaan. Semua lawannya dapat
dihalaunya. Tetapi gangguan berupa goncangan rumah barulah sekali ini dialaminya. Dan inilah pula untuk
pertama kali bacaan saktinya tidak menunjukkan hasil. Bahkan sebaliknya, goncangan itu kian keras.
"Siapa kau pengecut?" hardik Daud.
Bentakan itu dijawab dengan tawa terbahak-bahak. Persis mengejek.
"Kalau kau lihat aku sanggup menggoncang rumahmu mestinya kau juga bisa menaksir siapa aku ini,"
sahut suara dari luar. Terdengar sombong memang. Daud marah, tetapi apa yang dikatakan suara itu memang
benar. Kalau hanya berilmu biasa takkan sanggup menggoncang rumah.
"He, Daud, kau gila! Melawan ketentuan atasanmu. Jalan yang mereka pilih sudah sangat bijaksana. Kau
ingin kelihatan hebat ya!"
Orang ini tentu sakti. Dia tahu semua-muanya. Tapi dia bukan Daud kalau mengurungkan niatnya oleh
gertakan dan kenyataan itu.
"Kau tak berani keluar melihat aku?" tanya orang atau makhluk di luar.
Daud berpikir sejenak. Akan keluarkah dia? Mengapa tidak, bukankah dia yang pengecut, kalau tak
berani menjawab tantangan itu.
Dengan membacakan doa penunduk dan penggentar dalam bahasa Toraja, yang pernah dipelajarinya dari
seorang maha guru ilmu di daerah penuh misteri itu. Di mana mayat bukan dikuburkan ke bumi tetapi di-

SERIAL MANUSIA HARIMAU 50


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

selipkan di antara batu-batu guha. Dengan ilmu itu naga pun tidak akan berkutik, ular akan terpukau dan
dapat ditangkap seperti menangkap kucing saja.
Tiba di luar rumah mata Daud mencari tamu yang kurang ajar itu. Dia siap menghadapi apa pun yang
akan terjadi.
"Nih, aku sudah keluar, apa lagi, majulah!" kata Daud. Tak ada yang menyahut, pun tidak ada yang
kelihatan.
"Tadi kau pinta aku keluar. Tunjukkan dirimu, insan yang tak tahu adat!"
"Kita sudah berhadapan," kata suatu suara persis di depan tempatnya berdiri. Daud jadi kaget. Suara itu
memang dari depannya, tetapi mana manusianya?
"Lumayan juga kau, bisa membuat dirimu tak kelihatan. Tetapi itu berarti suatu ketakutan. Kalau kau
jantan, tampakkan dirimu!"
Mendadak di hadapan Daud makhluk itu berdiri seperti keluar dari bumi.
"Ini aku, perhatikan baik-baik!" kata makhluk yang tak lain daripada Dja Lubuk. Daud tidak segera
menjawab. Dia orang hebat memang, tetapi sama halnya dengan dukun Daeng Guruh ia pun seumur hidupnya
belum pernah melihat seperti apa yang ada di hadapannya itu.
"Sudah kau lihat aku?" tanya Dja Lubuk.
"Kau bukan manusia," kata Daud memberanikan diri setelah ia sadar dari terkejutnya. Dja Lubuk merasa
dihina, tetapi ia dapat mengendalikan diri.
"Kau ingin supaya pembunuh Daeng dan Baharsan menyerah atau akan kau tembak mati, bukankah
begitu?"
"Hm, kau tahu ya! Ilmumu boleh juga. Bisa menebak apa yang jadi rencanaku!"
"Urungkan niatmu. Panggil kembali tengkorak dan kain kafan serta ularmu yang tujuh ekor itu." Daud
semakin kagum dan mulai goyah atas kehebatan dirinya. Makhluk ini luar biasa, akan sanggupkah ia me-
nundukkannya?
"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Daud.
"Karena kaulah yang akan binasa. Urungkan sebelum terlambat!"
"Kau sombong, makhluk kejam. Aku tidak akan membatalkan maksudku." Dalam hati Daud membaca
berbagai macam mantera, tetapi Dja Lubuk tidak menyerah. Daud menyangka, bahwa makhluk inilah yang
telah mencabut dua nyawa warga kota itu.
"Kau telah membunuh. Kalau punya rasa tanggung jawab tentunya kau menyerah!"
"Kau keliru Daud. Bukan aku yang membunuh!"
"Lalu siapa?"
"Carilah olehmu, sebagaimana aku datang ke mari dengan mencari sendiri."
Daud merasa malu. Makhluk yang dimakinya dengan bangsat tadi bisa mencari rumahnya, mengetahui
tentang tengkorak dan kain kafan. Tahu juga tentang ular yang tujuh ekor. Tetapi bukan dia yang membunuh,
katanya. Daud dihadapkan pada sebuah teka-teki sekaligus suatu ujian sampai di mana kebolehannya yang
ingin memamerkan kepada penduduk Pare-Pare bahwa dialah penakluk makhluk yang tak tertundukkan itu.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 51


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sebagai biasa, Dja Lubuk menghilang tanpa bekas. Daud merasa dan mengakui bahwa lawannya bukan
kepalang tanggung. Untuk surut ia malu. Masyarakat termasuk atasannya di Polri belum ada yang mengetahui
niat dan usahanya, tetapi makhluk yang datang tadi sudah tahu. Daud malu pada makhluk yang menggoncang
rumahnya. Yang tahu rencana dan jalan pikirannya. Daud bertekad menghadapi makhluk yang mau dibinasa-
kannya. Menangkap atau membunuhnya atau mati terbunuh. Dia sadar, itulah resiko dari tiap orang yang ber-
ilmu dan mencari lawan. dia tidak akan memanggil semua anak buahnya yang dikirim mencari pembunuh
dukun Daeng dan Baharsan.
Itulah sebabnya maka Erwin terpaksa menguji ketangguhannya.
"Pergilah kalian," perintah Erwin.
"Kau pembunuh, harus menerima hukumanmu," ujar tengkorak. la berputar-putar bersama kain kafan
dengan maksud mengganggu syaraf Erwin. Ular yang tujuh terus mendesis dan kian mendekat. Dja Lubuk
yang sudah sampai di rumah anaknya menyaksikan semua apa yang sedang berlangsung. Ia mau melihat
apakah anaknya sanggup menghalau kiriman orang berilmu Toraja itu. Tetapi tampaknya Erwin kewalahan.
Sulit ia menghadapi budak-budak kepunyaan Daud. Kasihan Dja Lubuk melihatnya. Tetapi kalau ia turun
tangan di situ. Erwin jadi kurang kepercayaan pada diri sendiri. Sudah kerapkali ia datang manakala anak itu
membutuhkannya.
Tanpa memperlihatkan kehadirannya, Dja Lubuk pergi. Dan tak lama kemudian rumah Daud
bergoncang lagi. Kini ia tidak punya waktu berdialog dulu. Dengan kekuatannya menghaluskan diri, Dja
Lubuk masuk ke rumah melalui celah-celah yang hanya dapat dilalui oleh tikus. Dilihatmya Daud sedang
membaca-baca menghadapi mangkuk berisi air bersih. Ia sedang mengikuti kejadian di rumah Erwin.
Benarlah orang yang digoda suruhannya itu bukan makhluk yang datang tadi dan kini ia datang kembali.
"Tak kau suruh budak-budakmu itu kembali! Aku beri kau kesempatan sekali lagi," ujar Dja Lubuk yang
sudah terduduk di belakang Daud. Polisi itu terkejut dan marah.
"Apa urusanmu dengan pekerjaanku ini," tanya Daud.
"Apa maksudmu hendak meneruskan urusan yang oleh atasanmu dianggap sudah selesai. Kau ingin
nama. Mau memperlihatkan kehebatanmu! Panggil semua suruhanmu itu!"
"Mengapa kau menghendaki begitu. Apa hubunganmu dengan dia?"
"Kau mau tahu? Dia anakku. Menantang dirinya sama dengan memusuhi diriku. Kalau tak kau panggil,
maka aku terpaksa membunuhmu!" kata Dja Lubuk.
"Kau sombong sekali!" kata Daud.
"Bukan. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kalau tak kau panggil, kubunuh kau sekarang juga," dan ber-
samaan dengan itu kedua tangannya yang berbentuk, berbulu dan berkuku harimau telah memegang kedua
bahu Daud. Pelan-pelan ditekannya, darah mulai membasahi baju.
"Panggil budak-budak suruhanmu!" perintah Dja Lubuk.
"Tidak! Aku tidak akan mati sendiri! Anakmu akan menemaniku."
Dja Lubuk tahu apa yang harus diperbuatnya. Cepat ia mengoyak kedua bahu kemudian dada Daud.
Muka orang itu pun ditamparinya sehingga hancur. Ia yakin, semua budak suruhan tidak akan berdaya

SERIAL MANUSIA HARIMAU 52


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

manakala majikannya sudah binasa.


Meskipun merasa sakit tak tertahankan, Daud tidak mengaduh, tidak minta tolong, jauh daripada minta
ampun, ia tahu bahwa lawannya ini jauh lebih kuat di luar perkiraannya.
Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Erwin terhadap dua mangsanya, maka Dja Lubuk tidak
mengoyak dada serta perut Daud, tidak mengeluarkan isinya. Ia sengaja membiarkan orang itu hidup untuk
bisa bertahan sehari dua.
"Matikan aku," ujar dan pinta Daud.
"Tidak," jawab Dja Lubuk.

Dl LUAR dugaan Erwin, semua ular yang hendak membunuhnya mendadak berhenti mendesis, tengkorak dan
kain kafan pun hilang dari pandangannya. Tak lama antaranya tujuh ular yang menjelma dari tujuh lintah
kerbau itu pun menghilang. Erwin tidak tahu bahwa semuanya bisa terjadi karena Daud telah dilumpuhkan
oleh ayahnya. Dan ayahnya tidak akan memberitahukan itu, supaya anaknya tidak tahu bahwa lagi-lagi ia
selamat oleh bantuan orang tua yang keluar dari kuburannya di Mandailing sana.

KEESOKAN paginya masyarakat mengetahui kematian Daud yang sersan Polisi. Yang amat terkejut adalah
Mayor Andi Basso dan Kolonel Daeng Lollo setelah mereka mendengar bahwa kematian Daud disebabkan
makhluk yang membunuh dukun Daeng dan Baharsan.
"Kita telah sepakat untuk mengakhiri perkara ini, mengapa manusia harimau itu masih membunuh
anggota kita?" tanya Kolonel Daeng Lollo.
"Tentu ada sebabnya. Kalau dia pernah mendatangiku dengan baik, begitu juga mengunjungi Kolonel
tanpa maksud jahat, tentu ada suatu sebab yang membuat dia marah dan membunuh sersan Daud," jawab
Mayor Andi Basso.
Akhirnya kedua perwira itu mengetahui, bahwa Daud mempunyai ilmu yang cukup hebat. Ketika
diperiksa ke rumahnya tampak mangkuk berisi air, tujuh ekor lintah besar yang biasa dinamakan lintah kerbau
di dalam stopfles, tengkorak dan kain kafan berwarna lumpur yang sudah kering. Tak perlu seorang dukun
untuk mengetahui, bahwa alat-alat yang demikian hanya digunakan oleh seseorang yang punya ilmu gaib, ilmu
hitam atau sihir.
"Ini tentu pembalasan manusia harimau yang pernah menyamar sebagai wartawan itu," kata Kolonel
Daeng Lollo.
"Saya rasa juga begitu. Mungkin Daud menguji kekuatan manusia harimau itu. Rupanya tak termakan
olehnya dan dialah yang dibinasakan makhluk itu," kata Mayor Andi Basso. Apa yang disangka kedua perwira
itu menjadi dugaan sebagian besar masyarakat Pare-Pare. Ketika kedua perwira Polri itu sudah kembali ke
kantor, seorang tamu mendaftarkan diri untuk bertemu. Ia diperkenankan masuk. Ternyata seorang yang
sudah tua, bermisai putih dengan mata bersinar tajam. Melihat sorotan matanya kedua perwira itu
mengalihkan pandangan, tidak kuat menentangnya. Dalam hati mereka bertanya siapa gerangan orang ini.
Rasanya wajah itu pernah mereka lihat, tetapi di mana dan kapan? Ia dipersilakan duduk. Dengan sedikit

SERIAL MANUSIA HARIMAU 53


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

anggukan kepala tanda terima kasih ia duduk dan menatap wajah Mayor Andi Basso. Lagi-lagi perwira itu
membuang pandangannya.
"Rasanya bapak belum memperkenalkan diri. Siapa nama bapak?" tanya Kolonel Daeng Lollo.
"Orang-orang muda sekarang amat pelupa," kata orang tua itu. Umurnya ditaksir sekitar sembilan puluh
tahun tetapi badannya kekar. Misainya yang telah berwarna putih menambah wibawa wajahnya.
"Apakah kita sudah pernah bertemu?" tanya Mayor Andi Basso.
"Tiga hari yang lalu."
"Di mana?"
"Di rumah Mayor dan Kolonel."
Kedua perwira itu saling pandang. Terkejut, heran tambah sedikit takut.
"Aku Dja Lubuk, ayah Erwin yang mengunjungi kalian berdua sebagai wartawan. Aku mau menjelaskan
kekeliruan Polisi dan masyarakat!"
"Kekeliruan apa?" tanya Kolonel Daeng Lollo.
"Yang membunuh sersan Polisi Daud bukan Erwin, melainkan aku sendiri!" Dja Lubuk melihat bahwa
kedua perwira itu keheranan. Lalu katanya: "Jangan heran. Aku membunuhnya dalam ujud manusia harimau.
Kini aku datang sebagai manusia Dja Lubuk!"
Daeng Lollo dan Andi Basso tidak dapat menanggapi. Mau dikata mimpi, tidak mungkin. Ini suatu
kenyataan.
"Kalian mau menahan aku atas dasar pengakuanku sebagai pembunuh?"
Kedua perwira itu tidak menyahut. Dja Lubuk mohon diri dengan menyalami Andi Basso dan Daeng
Lollo. Mereka membiarkannya.

SABARUDDIN dan keluarganya memandangi Erwin bila ia tidak melihat, yakin bahwa dia membunuh sersan
Daud. Ingin bertanya tetapi tidak berani. Apakah masih ada orang lain dafam daftar maut Erwin? Kini
keluarga Sabaruddin jadi takut padanya. Berbagai bencana bisa terjadi.
Menjadi pertanyaan bagi Sabaruddin dan keluarganya mengapa Daud dibunuh Erwin pula, sedangkan
orang itu tidak punya sangkut paut dengan kematian Andi Farida. Apakah selain daripada selalu suka
membantu kawan, manusia harimau ini juga mempunyai nafsu membunuh tanpa sebab-sebab tertentu? Erwin
sebagai manusia yang perasa segera mengetahui adanya perubahan suasana di dalam rumah itu. Mereka tidak
banyak bicara dengannya.
Terasa pula oleh Erwin bahwa mereka dirasuki sedikit ketegangan. Erwin sendiri mengetahui bahwa
tanpa menampilkan diri tentu ayah, ompungnya atau Datuk nan Kuniang yang telah menyelamatkannya dari
serangan budak-budak suruhan yang tak terlawan olehnya malam itu. Ia pun tahu bahwa polisi yang bernama
Daud itu yang bertanggung jawab atas kedatangan tengkorak, kain kafan dan ular yang tujuh ke kamarnya.
Khawatir menimbulkan korban baru di Pare-Pare atas siapa saja yang mungkin mau mencoba-coba dirinya,
maka Erwin mengambil keputusan untuk kembali ke Jakarta.
"Aku sangat berterima kasih atas budi baik kalian semua padaku," katanya kepada Sabaruddin dan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 54


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

keluarga yang dimintanya berkumpul. Tidak ada tanggapan dan mereka semua menundukkan kepala, sadar
bahwa Erwin tentunya merasakan sesuatu yang menyinggung hatinya. Erwin meneruskan, "Aku tahu bahwa
kalian dalam dukacita. Hati kalian semua masih luka. Aku tak dapat berbuat apa-apa untuk meringankan
beban penderitaan kalian. Kehadiranku lebih lama tidak ada gunanya bagi kalian dan bagiku. Tak usahlah
kukatakan, bahwa kehadiranku sudah tidak dibutuhkan." Rupanya Erwin tidak seluruhnya dapat menahan diri.
Dilontarkannya sebagian untuk ditelan oleh keluarga Sabaruddin.
Sebelum sahabatnya dapat menjawab ia meneruskan, "Saya besok ke Ujungpandang dan terus ke Jakarta.
Kalian semua telah amat baik bagiku, semoga Tuhan memberi imbalannya."
"Mengapa begitu mendadak dan terburu-buru?" tanya ayah Sabaruddin.
"Demi kebaikan Pak. Demi ketenangan," jawab Erwin.
"Kau telah banyak sekali meringankan penderitaan batin kami!"
"Sabaruddin sahabat baikku. Apa yang kulakukan hanyalah yang wajar. Aku tidak pernah melakukan
sesuatu yang tidak pantas. Juga di Pare-Pare ini." Dengan begitu ia ingin menyampaikan kepada keluarga
Sabaruddin, bahwa kematian Daud bukan oleh tangannya. Dan nampaknya keluarga Sabaruddin mengerti
sindiran itu. Mereka saling pandang, tetapi tidak saling tanya. Pandangan mata mereka menunjukkan, bahwa
mereka mengerti. Erwin tidak membunuh Daud. Tidak selayaknya mereka berubah sikap terhadap Erwin
sejak kematian Daud yang tetap misterius itu.
"Kalau kami punya kesalahan atau kekhilafan kami mohon dimaafkan Er," kata ibu Sabaruddin yang
telah memandangnya sebagai anak sendiri.
"Kekhilafan adalah sesuatu yang bisa terjadi. Semua manusia pernah membuat kesalahan atau
kekhilafan."
"Budimu besar sekali Erwin, dengan apa kami dapat membalas?" tanya ayah Sabaruddin. Memang ia tak
tahu bagaimana membalas budi manusia harimau itu.
"Jangan membuat aku tersinggung Pak. Aku tidak menjual bantuan atau jasa."
Muka ayah Sabaruddin memerah malu mendengar jawaban Erwin. Ini salah seorang dari teramat sedikit
manusia yang memberi jasa tanpa mengharapkan imbalan. Pada umumnya manusia Indonesia masa kini,
hanya mau membantu kalau untuk itu ia mendapat bayaran yang setimpal. Bahkan banyak yang ingin bayaran
jauh lebih besar daripada bantuan yang diberikan. Untuk jasa wajib pun, misalnya pejabat terhadap rakyat,
masih terlalu banyak yang meminta atau memaksakan bayaran. Tanpa bayaran orang tidak akan memenuhi
kewajiban. Bayaran resmi dianggap tidak cukup. Menyedihkan memang, tetapi begitulah yang kita lihat dalam
kenyataan. Untuk memulihkan harga diri ayah Sabaruddin berkata: "Saya tidak bermaksud imbalan uang
Erwin. Tetapi kami sekeluarga akan senang sekali kalau kami dapat berbuat sesuatu untukmu. Bagi kami kau
sudah seperti anak sendiri, seperti Sabaruddin."
"Terima kasih," jawab Erwin, "Tetapi sungguh saya merasa cukup dengan apa yang ada. Kurasa tidak ada
yang dapat Bapak buat untukku! Aku dianggap sebagai keluarga,terima kasih."

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 55


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

SI MANUSIA harimau kembali seorang diri ke Jakarta. Sahabatnya Sabaruddin masih tinggal atas permintaan
kedua orang tua dan keluarganya. Sejak mulai masuk terminal sampai tiba saatnya naik pesawat, Erwin tak
hentinya berdoa agar dirinya jangan berubah menjadi harimau. Inilah yang selalu dirasakannya sebagai
kemungkinan yang menakutkan. Ia bisa saja mendadak berubah ujud tanpa dikehendakinya. Yang demikian
sudah beberapa kali terjadi. Inilah suatu kemalangan dan penderitaan bagi anak muda itu. Karena tidak selalu
terbang, maka tatkala memperlihatkan karcisnya pada petugas untuk mendapatkan tempat duduk, ia tidak
meminta tempat duduk baris mana dan nomor berapa yang dikehendakinya. Ia menerima saja apa yang diberi
oleh petugas.
Ia dapat tempat di baris kedelapan nomor C. Baru beberapa detik ia duduk datang seorang wanita yang
akan duduk di baris kedelapan itu juga nomor A, persis di sebelah kiri Erwin, di sisi jendela, sehingga leluasa
mernandang ke luar. Erwin berdiri memberi jalan kepada wanita itu, yang mengangguk tanda terima kasih atas
sopan santunnya. Jarang penumpang mau berdiri memberi jalan kepada penumpang yang duduk di bagian luar,
sehingga harus dengan agak susah melalui jarak sempit antara barisan-barisan tempat duduk itu.
Setelah wanita itu duduk, barulah Erwin mengambil tempatnya kembali.
"U akan ke Jakarta atau akan melanjutkan perjalanan ke Sumatera?" tanya wanita itu. Erwin menjawab
bahwa ia akan ke Jakarta saja, tetapi dalam hati merasa heran mengapa wanita itu bertanya apakah ia akan
meneruskan perjalanan ke Sumatera.
"Apakah nona akan ke Sumatera?" tanya Erwin mengimbangi pertanyaan kenalan baru itu. "Saya hanya
ke Jakarta. Maaf, saya Erwin, mengapa nona tanya apakah saya akan terus ke Sumatera?" Wanita itu tersenyum
kecil, lalu berkata bahwa ia bernama Sabrina dan memang akan meneruskan perjalanannya ke Padang. Ia
bertanya apakah Erwin ke Sumatera, hanya sekedar tanya.
"Nona asal Padang ataukah Bukittinggi?" tanya Erwin. Wanita muda dan cantik itu tidak segera
menjawab. Padahal pertanyaan kota asal saja tentu dapat dijawab tanpa pikir.
"Kenapa U tanya dari mana asal saya?" wanita itu balik bertanya beberapa saat kemudian.
"Ah tidak apa-apa, sekedar tanya saja sebagaimana Nona tanyakan tadi apakah saya akan meneruskan
perjalanan ke Sumatera!"
Wanita itu tersenyum lagi, merasa bahwa Erwin seorang yang cerdas dan sedap dalarn pergaulan. Dan
kalau ia diibaratkan orang berhutang maka ia termasuk orang yang suka segera membayar. Erwin juga tertawa.
"Saya dari Sungai Penuh," kata Sabrina. "Dan jangan katakan bahwa di Sungai Penuh tidak lazim wanita
punya nama Sabrina."
"Nona cerdas sekali, memang tadinya saya mau mengatakan begitu, tetapi telah keduluan Nona."
"Tidak secerdas U, yang begitu cepat memberi balasan tadi!"
Keduanya tertawa dan merasa serasi dalam bergaul walaupun baru saja berkenalan.
"Nama itu pemberian paman saya yang membesarkan dan menyekolahkan saya sejak umur sebelas tahun.
Saya bukan orang yang bernasib baik untuk masih punya ayah kandung selepas umur sebelas. Nama saya
sebenarnya Saribanun, paman membiasakan jadi Sabrina." Sabrina menghela napas, rupanya karena
mengenang ayahnya yang telah tiada.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 56


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Saya dapat merasakan," kata Erwin. "Saya juga sudah tidak punya ayah." Di hadapannya terbayang Dja
Lubuk. Kekar dengan misai tebal pada wajahnya yang selalu tampan. Sampai saat itu ia merasakan kasih
sayang ayahnya yang selalu keluar dari kuburan membela anaknya. Cinta ayah yang tak pernah padam terhadap
anak.
"Saya sayang sekali pada ayah saya, U juga?" tanya Sabrina.
"Kaku sekali kata-kata U yang Nona gunakan. Bagaimana kalau saya disebut dengan nama saja? Dan saya
akan menyebut Nona dengan Sab, Ina atau Sabrina!"
"Ide yang baik. Saya setuju," kata Sabrina bagaikan orang yang sudah bersahabat lama dengan Erwin.
"Tadi Ina tanya apakah saya juga sayang pada ayah saya. O, sayang sekali, sampai sekarang, sampai aku
telah dipanggil Tuhan kembali kelak. Dan ayahku pun sayang sekali padaku, sampai sekarang," katanya polos.
Ina memandangi Erwin yang bercerita seenaknya tetapi juga serius. Dalam hati ada tanda tanya, tetapi Sabrina
tidak menanyakannya. Bagaimana Erwin tahu bahwa sampai saat itu ayahnya masih selalu sayang padanya.
Dalam hatinya timbul pula tanda tanya lain, apakah Erwin ini mempunyai nasib yang sama dengan dia? Ah,
mustahil. Masa iya kebetulan bisa duduk berdampingan. Tidak ada dua di antara sejuta orang yang punya nasib
seperti dirinya, pikir Sabrina di dalam hati.
Pada saat itu, Sabrina yang sudah berpendidikan cukup, hidup secara modern—maksudnya tidak lagi
seperti orang di kampong—teringat pada ayahnya dan wajah orang tua itu terbayang di hadapan matanya. Dan
ia tidak dapat mencegah air mata menerobos bendungan lalu membasahi pipinya.
Dua manusia, duduk bersebelahan, sama-sama mengenang dan memandang wajah ayah. Dengan sebab
yang berbeda. Dengan akibat yang juga tidak seluruhnya sama.
Sabrina teringat kembali pada saat-saat yang amat memilukan itu. Ayahnya diusung beberapa orang ke
rumah dalam keadaan sudah tidak bernyawa, penuh dengan luka-luka bekas bacokan dengan parang, yang di
Tanah Minang dinamakan orang lading (menyebutnya ladiang). la, kakak-kakak dan adik-adiknya menangis
sejadi-jadinya. Pertama-tama kehilangan ayah, kedua keadaan mayat ayah yang begitu memilukan. Penuh
berlumuran darah. Hanya ibunya kemudian menerima keadaan itu tanpa tangis lagi. Walaupun sedihnya tak
terkatakan. Dilihatnya wajah suaminya sebentar, kemudian ia duduk di sudut rumah. Tak sudi didekati orang,
tak suka ditegur. Tak ada seorang pun tahu mengapa ia bersikap begitu. la bagaikan istri yang berhati baja,
pasrah kepada nasib dan keadaan. Tak ada seorang pun tahu, apa yang dipintanya dalam dia bersedih dan
berdiam diri itu. Peristiwa itu menjadi buah bibir orang kampung.
"Si Cindakulah mati dibunueh," kata orang berbisik-bisik. Si Cindaku sudah mati dibunuh, kata mereka.
Cindaku adalah manusia yang kadang-kadang menjelma jadi harimau. Tanda dari manusia yang cindaku
adalah suaranya yang kadang-kadang agak sengau tanpa sebab, kadang-kadang normal seperti manusia lainnya.
Di bawah hidung tidak ada parit. Rata saja. Matanya bisa mendadak kuyu, bukan liar menakutkan. Kekuyuan
mata itu bisa membuat orang lemah terhipnotis, tak berdaya dan tak bergerak kalau begitu perintah cindaku
dalam pikiran atau otaknya.
Cindaku tidak sama dengan manusia harimau seperti Raja Tigor, Dja Lubuk dan Erwin. Setelah
menggigil ia berubah seluruhnya jadi harimau. Dan dalam keadaan biasa, ia selalu mempunyai ekor, kira-kira

SERIAL MANUSIA HARIMAU 57


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

lima senti panjangnya. Tentu saja tak tampak karena tersimpan di balik celana atau kain sarungnya. Dan
berbeda dengan manusia harimau yang perubahan dimulai dari berbulu, maka cindaku berubah ujud mulai dari
buntut. Buntut atau ekor ini pelan-pelan memanjang dan mengambil rupa ekor harimau. Cindaku tidak bisa
jadi harimau besar sekali. Hanya sedang-sedang saja. la mau makan orang, tetapi lazimnya hanya mengambil
darah korbannya saja. Lain lagi dengan cindaku yang wanita. Baginya cukup membuat seisi rumah tak berdaya
lalu ia mengisap darah anak kecil atau bayi, tanpa meninggalkan bekas gigitan. Ia bisa mengisap darah dengan
hanya memandangi mangsanya, yang akhirnya akan jadi lemas dan pucat lalu mati karena seluruh darahnya
telah diisap oleh cindaku yang wanita.
Erwin membiarkan Sabrina dengan kesedihannya. Tak banyak guna atau tak ada guna sama sekali
mencampurinya, karena ia tidak tahu kisahnya. Kenal pun baru beberapa menit, sejak duduk bersebelahan.
Kini pesawat sudah dua puluh menit di angkasa, terbang dengan ketinggian sekitar 8.000 meter dari bumi.
Oleh Erwin terdengar kawannya menyebut: "Ya, Allah," lalu ia membaca-baca, mungkin ayat-ayat al Quran.
Almarhum ayah Saribanun, Maulana Sutan Rimbogadang pada tahun-tahun terakhir diketahui oleh
masyarakat kampungnya sebagai salah satu dari sekian banyak cindaku yang ada di seluruh Kerinci. Ada
berbagai macam cerita mengenai asal usul cindaku ini. Ada orang mengatakan bahwa di Kerincilah paling
banyak cindaku. Paling banyak tidak berarti dalam jumlah ribuan, tetapi lebih banyak dari daerah lain.
Menurut dongeng dari daerah inilah asal usulnya cindaku. Di daerah lain ia dinamakan harimau jadi-jadian,
karena hanya kadangkala ia menjadi harimau. Sudah tentu orang takut pada manusia yang jadi harimau,
walaupun hanya sewaktu-waktu.

SUTAN RIMBOGADANG dalam keadaan normal mempunyai perangai dan sifat-sifat yang baik. Sejak muda ia
disukai oleh kawan dan sahabat karena pandai bergaul dan suka saiing membantu antar para pemuda sebaya.
Di sekolah ia terkenal sebagai murid yang rajin dan pandai sehingga disayang pula oleh para guru. Tak jelas
apa yang menjadi sebab. Beberapa tahun setelah ia menikah, ia menjadi agak pendiam dan kemudian men-
jauhkan diri dari kawan-kawannya. Mereka semua tak mengerti apa yang jadi sebab perubahan sikap Maulana
yang setelah berumah tangga bergelar Sutan Rimbogadang. Menjadi kebiasaaan bagi orang Minang, manakala
telah menikah, maka laki-laki diberi gelar. Ada yang Sutan, yang Datuk atau yang Raja. Dari situlah datangnya
Datuk nan Basa, Sutan Majo Enda, Raja Batuah dan semacamnya. Keluarganya sendiri tidak mengetahui apa
sebab Sutan Rimbogadang jadi berubah. Tetapi pada suatu hari rahasia itu terbuka juga. Saat itu, istrinya
Bibah masuk kamar tanpa disadari oleh sutan yang sedang asyik memperhatikan wajahnya pada sebuah kaca
gantung cukup besar model kuno.
Mukanya rapat ke kaca itu, rupanya agar lebih jelas bagi Sutan apa yang hendak dilihat atau
dipastikannya. Ia meraba-raba bawah hidungnya dan memperhatikannya dengan teliti tetapi juga sangat
cemas. Muka Sutan berubah pucat dari rasa takut menjalari tubuhnya.
Bagaimana mimpi bisa jadi kenyataan? Pada malam yang lalu ia mimpi bertemu dengan kakeknya, yang
sudah lama meninggal. Diciumnya tangan orang tua itu dengan khidmat. Tanpa memandang wajahnya, karena
ia memang tak pernah berani menentang wajah itu. Nama kakeknya itu Pakih Imran, terkenal alim dan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 58


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

disegani orang. Tetapi ia juga terkenal sebagai orang yang tidak punya parit di bawah hidungnya, tandanya ia
seorang cindaku. Nasib baik bagi Pakih Imran, ia tidak pernah berubah bentuk di depan umum. la, selalu
mengetahui bila saat begitu akan tiba, maka ia buru-buru mengunci diri di kamar atau lari ke hutan.
Perubahannya menjadi harimau tak ada yang pernah melihat. Dia pun tidak tergolong pada cindaku yang
ganas, yang sewaktu-waktu haus akan darah manusia.
Dengan Pakih Imran inilah Maulana Sutan Rimbogadang bertemu dalam mimpinya. Ketika ia mencium
tangan orang tua itu, terdengar olehnya Pakih berkata: "Aku datang menyampaikan kabar buruk padamu
Maulana. Dengarkan baik-baik.'°
Dalam mimpi itu Maulana serasa mendengarkan dengan penuh perhatian apakah gerangan yang akan
dikatakan oleh orang tua itu. Setelah hening sejenak, Pakih berkata:
"Rupanya sudah penentuan bagi dirimu untuk mewarisi nasib burukku."
Pakih diam lagi sementara Maulana juga diam dengan hati berdebar, nasib buruk apakah yang akan
diwarisinya dari kakeknya itu.
"Aku telah coba mengelakkannya Maulana, tetapi ternyata tak mungkin."
"Apakah itu inyiek?" tanya Maulana kepada kakeknya.
"Mulai besok kau akan menjadi cindaku seperti aku di masa hidup dulu. Coba kuatkan hatimu. Terima
kemestian ini. Jikalau kau selalu tenang dan menguasai diri seperti aku dulu, tentu kau dapat menyembunyikan
rahasia ini. Setidak-tidaknya tidak akan pernah menampakkan keharimauan dirimu di muka khalayak ramai."
Terasa oleh Maulana bahwa ia benar-benar menangis dalam mimpi itu sehingga istrinya mendengar dan mem-
bangunkannya.
"Mengapa da?" tanya Bibah. (Da berasal dari Uda, yang artinya abang atau kakak laki-laki. Banyak
perempuan Minang menyebut suaminya dengan Uda). Maulana menggumam "astagfirullah", lalu membaca
sebuah ayat Al Quran.
"Mimpi buruk?" tanya istrinya.
"Tidak!" jawab Maulana menyembunyikan. Dan Bibah tidak mendesak, walaupun ia yakin bahwa
suaminya pasti memimpikan sesuatu yang menakutkan. Sampai pagi Maulana tak dapat tidur lagi,
bertopangkan kedua telapaktangannya memandangi langit-langit. Mimpi itu sangat jelas. Dia coba
menenangkan diri, bahwa mimpi hanya permainan atau godaan tidur, tidak akan jadi kenyataan. Banyak orang
mimpi mendapat harta yang bertumpuk, rasanya kekayaan itu dipegang dan dimilikinya, lalu ia kegirangan
dalam mimpi yang seperti benar-benar terjadi. Ketika terbangun secara pelahan baru ia akan sadar, bahwa
kekayaan yang jadi kepunyaannya hanya impian belaka.
Banyak pula orang memimpikan dirinya mati, ia ketakutan menghadapi maut, sampai ia berkeringat-
keringat, tetapi ternyata ia tetap hidup.
Maulana tahu, bahwa cindaku tidak mempunyai parit di bawah hidung. Setelah ia mimpi buruk itu jari-
jarinya selalu meraba tempat parit antara bibir atas dengan hiduoig. Ah, parit itu ada di sana. Benarlah, hanya
impian belaka dan ia tidak perlu menyiksa diri dengan perasaan takut. Dalam ia merasa agak tenang itulah ia
sempat terlena sebentar, hanya beberapa menit untuk kemudian terbangun kembali dan secara refleks jari-jari

SERIAL MANUSIA HARIMAU 59


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

tangan kanannya meraba bawah hidungnya. Ia mendadak jadi pucat, walaupun belum segera yakin karena
barangkali hanya pengaruh ketakutannya saja. Parit di bawah hidung itu tidak ada lagi. Hilang. Tadi masih
ada. Mustahil! Istrinya telah duluan bangun dan mengambil air sembahyang untuk subuh.
Maulana Sutan Rimbogadang pergi ke kaca kuno ukuran besar itu, diperhatikannya bawah hidungnya.
Memang parit itu, kini sudah tidak ada lagi. Mungkinkah? Ia masih coba tidak percaya. Tetapi dilihat dan
diraba berkali-kali, parit itu memang sudah tiada.
Tubuh Maulana menggigil oleh rasa takut dan malu. Ia telah jadi cindaku, mulai hari itu. Ia bukan
Maulana yang kemarin lagi. Bagaimana sekarang? Macam-macam pikiran timbul dalam otaknya.
Melarikan diri? Ke mana! Di tempat lain orang akan tahu juga. Si manusia tanpa parit di bawah hidung.
Tanda ia harimau jadi-jadian.
Kakeknya berkata bahwa ia harus menerima nasib itu dan berusaha untuk tidak jadi harimau di hadapan
orang banyak. Bahkan jangan di hadapan keluarga sekalipun.
Dia harus ingat dan patuh pada nasihat kakeknya itu.' Lari bukan jalan keluar, bunuh diri berarti mati
sesat dan menolak suatu takdir.
Mulai pagi itu Maulana jadi gelisah._ Rahasia itu disimpannya sendiri. Ia tak keluar-keluar kamar, kata-
nya ia kurang sehat. Ia takut ada keluarga yang melihat bahwa ia telah jadi cindaku. Betapa memalukan.
Padahal mestinya tidak usah malu. Bukan ia yang menghendaki. Itu suatu penentuan nasib, tidak bisa
ditentang ...
Tetapi pada siang itu, ketika ia untuk kesekian kalinya melihat wajahnya di kaca, istrinya masuk tanpa
diketahuinya sehingga perempuan itu tertarik dan kemudian mendekatinya.
"Apa yang Uda perhatikan itu? Tumbuh jerawat?" tanya Bibah.
Maulana tersentak karena terkejut. Menjawab, tidak ada apa-apa. Tetapi Bibah melihat perubahan pada
wajah suaminya. Jerawat tak kelihatan, lalu apa yang menyebabkan ia begitu asyik berkaca? Maulana menyapu-
nyapu mulut hingga ke hidungnya untuk menutupi parit yang telah tiada.
"Ada yang Uda sembunyikan padaku. Kelihatannya Uda bingung. Apa yang dipikirkan? Apakah aku tak
dapat menolong?"
"Tidak ada yang akan ditolong. Aku tidak apa-apa."
"Rupanya aku istri yang kurang dipercaya. Aku yakin ada yang Uda sembunyikan. Yang aku tidak boleh
tahu. Baiklah kalau begitu," lalu Bibah hendak beranjak pergi. Pada saat itulah Maulana menyadari bahwa ia
berbuat keliru kalau istrinya merasa tidak dipercaya. Mereka nikah atas dasar saling menyayangi.
"Bibah," seru Maulana, sehingga istrinya berbalik, tetapi tetap berdiri di tempat.
"Kemarilah," ujar Maulana, suaranya pelan. Bibah mendapatkannya.
"Lihatlah mukaku," kata Maulana. Bibah menurut. Ia tidak segera melihat adanya perubahan.
"Aku tak melihat apa-apa. Mengapa rupanya?"
"Lihatlah baik-baik Bibah. Di bawah hidungku," dan Maulana menunjuk dengan telunjuk tangan
kanannya. Bibah kaget. Mau tak percaya, mustahil. Matanya sendiri melihat sudah. Bibah juga jadi pucat.
"Mengapa begitu. Apa artinya ini!" Bibah bertanya, padahal ia tahu bahwa tidak adanya parit di bawah

SERIAL MANUSIA HARIMAU 60


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

hidung berarti yang punya diri seorang cindaku.


"Baru mulai tadi Bibah," kata Sutan Rimbogadang. Ia ceritakan mimpi dan kelanjutannya. Bibah
mendengarkan. Bagaimanapun anehnya, ia merupakan suatu kenyataan yang amat menyedihkan. Tetapi Bibah
tahu, bahwa kalau nenek, kakek atau yang iebih tua lagi pernah manusia cindaku, maka selalu ada
keturunannya, walaupun hanya seorang, yang juga cindaku. Bibah diam. Tak dapat disangkal lagi, bahwa
suaminya telah jadi manusia cindaku dan sewaktu-waktu akan jadi harimau. Hal ini tidak menyebabkan
berubahnya kasih sayang kepada Maulana, tetapi juga tidak dapat dibantah, bahwa jikalau masyarakat sudah
mengetahui, maka keluarga mereka akan didesas-desuskan. Orang-orang yang punya anak kecil akan takut
manakala Maulana singgah bertandang. Jangankan singgah, melewati rumah mereka pun akan menimbulkan
rasa takut. Kalau-kalau nafsu harimaunya bangkit dan ia ingin meminum darah manusia.
Itulah sebabnya Maulana menjauhkan diri dari kawan-kawannya. Mereka akan melihat kelainan pada
wajahnya itu dan mereka pun pasti akan membicarakan dirinya. Bukan hanya itu. Mereka yang sedang punya
anak kecil atau bayi juga akan seialu curiga padanya. Kian lama kian membesar rasa rendah diri pada Maulana.
Untunglah, walaupun hari, pekan, bulan dan tahun silih berganti, Maulana tidak pernah bernasib buruk.
Menjadi harimau di hadapan orang banyak. Sebagaimana dipesan oleh kakeknya di dalam mimpi, ia selalu
menghindar kala datang perasaan akan mengharimau itu. la hidup rukun dengan istrinya sebagairnana keluarga
damai lainnya. la mendapat anak, laki-laki dan perempuan. Yang nomor tiga adalah Saribanun, seorang gadis
yang amat rupawan.Kemudian terjadilah malapetaka itu. Pada suatu hari Jumat, selepas masyarakat setempat
bersembahyang, Sutan Rimbogadang merasakan keanehan itu. Bulu-bulu tubuhnya meremang, kemudian
terasa turnbuh ekor yang kian memanjang.
Ia berlari untuk menyingkir, tetapi semua terjadi begitu cepat. Masih di antara orang banyak ia berubah
jadi harimau yang kelihatan kebingungan. Orang banyak jadi panik, sepanik Sutan Rimbogadang sendiri. Ada
yang berlari lintang pukang cari selamat, sama halnya dengan cindaku yang sebenarnya juga mau
menyelamatkan diri. Tetapi sebagian dari orang banyak itu berteriak-teriak agar cindaku itu dikepung.
"Kapuang, bunuah!" kata beberapa orang dengan nada memerintah.
Mendengar ini cindaku jadi tambah ketakutan. Mengapa ia harus dikepung dan dibunuh sedangkan dia
tidak punya niat untuk menyusahkan siapapun, ia malah mau melarikan diri.
Sejumlah orang muiai membuat gerak untuk mengepung si cindaku. Maulana jadi tambah takut, tambah
panik. Kemudian tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan nyawa. Ia tak mau dibunuh.
la punya banyak anak yang masih jadi tanggungannya. Dulu, ketika ia manusia biasa dan kini setelah ia jadi
cindaku, ia tidak pernah menyakitkan hati atau menyakiti orang. Bukan keinginannya ditimpa nasib seperti ini.
Kepungan tambah rapat. Mereka telah diberi senjata oleh orang-orang yang tinggalnya di sekitar situ. Ada
parang, ada tombak. Ada pula yang membawa kayu panjang untuk menusuk cindaku dari jauh. Melihat
kenyataan yang mengerikan itu, cindaku jadi kalap. la tak mau mati, dan satu-satunya jalan kini adalah
melawan orang yang ingin membunuhnya. Harimau jadi-jadian itu kini tidak beriari lagi. la mengambil sikap,
menanti apa yang akan datang. Orang-orang yang mengepung kini mulai takut. Tetapi mau mundur merasa
malu. Lagi pula mereka banyak, ada sekitar dua belas orang. Mustahil tak dapat menangkap atau membunuh

SERIAL MANUSIA HARIMAU 61


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

cindaku itu. Akhirnya terjadilah adu kuat, yang banyak mau membunuh, yang cindaku mau menyelamatkan
nyawa. Dan untuk itu ia pun harus berani membunuh.
Beberapa orang telah mulai menyerang dengan tombak dan ladiang. Cindaku juga mulai menerjang kian
ke mari dengan kakinya yang berkuku kuat dan tajam. Maulana yang mengharimau akhirnya mendapat
beberapa luka, di antaranya ada yang cukup berat. Tetapi beberapa pengepung dan penyerang juga sudah ada
yang luka parah, diusung ke luar gelanggang pertarungan. Cindaku tambah marah, para pengepung juga
tambah galak. Kini tidak ada lagi lain pilihan. Membunuh atau dibunuh.
Berita tentang Sutan Rimbogadang mendadak jadi harimau dan sedang dikeroyok orang banyak akhirnya
sampai ke telinga Bibah, istrinya. Dengan pikiran yang amat cemas dan marah bercampur takut ia berlari
membawa sebilah parang untuk menolong suami yang amat dicintainya. Walaupun ia cindaku.

SEBELUM sampai ke tempat pertarungan antara suaminya dengan belasan penduduk itu orang telah melihat
Bibah dengan parang di tangannya. Maka berteriak-teriaklah mereka; "Si Bibah mengamuek, si Bibah
mengamuek!" Ketika hampir sampai ke tempat tujuan Bibah disergap orang. Ia meronta-ronta dalam usaha
membebaskan diri, tetapi tak berhasil.
Maulana sempat melihat istrinya dilumpuhkan. Hatinya terharu dan jadi lebih marah dan ganas. Dengan
sisa-sisa tenaga cindaku itu mengamuk sejadi-jadinya sehingga akhirnya tak kurang dari enam pengeroyok
tewas di tempat itu juga. Tetapi cindaku itu sendiri pun roboh. Pengeroyok-pengeroyok yang masih hidup
terus membacok dan menusuk dirinya, sehingga ia tewas. Lalu terjadilah apa yang harus terjadi dengan
cindaku yang mati. Tubuh harimau yang sudah tak bernyawa itu berubah menjadi tubuh manusia kembali,
manusia Maulana Sutan Rimbogadang dalam keadaan penuh luka dan berlumuran drah.
Bibah yang melihat dari jarak beberapa meter meraungraung oleh kesedihannya. Para pengeroyok dan
orang-orang yang berani mendekat setelah cindaku itu mati, semua tunduk dengan berbagai macam perasaan.
Sebab yang di hadapan mereka bukan bangkai harimau yang ganas, melainkan tubuh orang kampung mereka
sendiri, Maulana yang terkenal ramah dan baik budi, tak pernah menyakiti siapapun. Menyesal atau puaskah
mereka? Apapun yang mereka rasakan, semua telah berlalu, tak dapat diubah lagi. Mereka tidak sanggup
menghidupkan kembali Maulana yang sudah mereka bunuh. Yang dapat mereka lakukan hanyalah mengusung
mayatnya dan itulah yang mereka kerjakan. Mayat-mayat pengeroyok dibawa pulang oleh keluarga masing-
masing. Kejadian itu menimbulkan dukacita sekampung. Beberapa orang tua yang tidak turut di tempat itu,
amat menyesali perbuatan orang-orang yang mengeroyok si cindaku. Bukankah mereka melihat Maulana yang
berubah jadi harimau dan ia pun hanya mau melarikan diri. Mengapa harus dibunuh! Cindaku yang tidak
pernah menyakiti itu sampai terpaksa membunuh enam orang sekampungnya karena ia dipojokkan sehingga
tidak mempunyai pilihan lain. Manusia jadi cindaku bukan karena keinginan sendiri, tetapi karena suatu nasib
yang tidak dapat dielakkan.

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 62


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ITULAH yang terbayang di hadapan Sabrina.


Kenangan amat memilukan yang sewaktu-waktu datang, membuat air mata tak terbendung lagi.
"Maafkan aku," kata Sabrina setelah ia tenang kembali.
"Aku mengerti," ujar Erwin.
"Mengerti, katamu?"
"Ya, mengerti. Tiap orang punya masa silam yang mengharukan dan membuat ia teramat sedih manakala
sedang mengenangnya."
Sabrina berpikir, apakah mungkin kawan barunya ini mengetahui masa silamnya yang menyedihkan itu?
Ah, mustahil. Kenal pun baru ini.
"Aku juga punya masa lampau yang amat menyedihkan Ina, mungkin lebih parah dari kau, dan aku selalu
terkenang pada masa itu."
"Tak ada nasib sesedih diriku," kata Sabrina penuh keyakinan.
Erwin diam. Bertanyakan kisah sedih pada orang yang sedang dilanda kesedihan sangat tidak bijaksana.
"Kau akan langsung tukar pesawat di Jakarta untuk terus ke Padang?" tanya Erwin dalam usahanya
mengalihkan wanita itu pada soal lain.
"Tidak. Akan singgah beberapa hari di tempat famili!" jawab Sabrina.
"Siapa namanya? Siapa tahu, barangkali aku mengenalnya!"
"Pamanku, yang mengambil aku setelah ayahku meninggal. Nama beliau Sutan Mandiangin."
"Sungai Penuh kota kelahiranmu cukup terkenal dan menjadi sumber banyak cerita."
"Cerita apa maksudmu?" tanya Sabrina agak curiga.
°'Macam-macam. Di sana banyak orang pandai ilmu, bukan?"
"O, itu. Di seluruh Minang banyak orang pandai ilmu kebatinan!"
"Sihir juga ada kata orang."
"Ada juga, tetapi tidak banyak."
"Khusus di Kerinci kabarnya banyak orang kebal. Dan menurut cerita di sana ada banyak harimau jadi-
jadian. Apakah itu betul?" Sesudah berkata dan bertanya begitu barulah Erwin bertanya pada diri sendiri
mengapa ia menanyakan itu. Seharusnya ia tidak boleh mempersoaikan itu karena ia sendiri adalah manusia
harimau. Apakah yang mendorongnya sampai bertanya begitu?
Serentak dengan pertanyaannya itu, Erwin merasa bahwa apa yang amat ditakutinya akan terjadi. Ya
Tuhan, bagaimana itu? Seluruh penumpang dan awak pesawat akan panik. Bisa jadi pesawat tidak akan dapat
dikendalikan dengan baik dan jatuh untuk terbakar, menghanguskan seluruh manusia yang ada di dalamnya.
"Tuhan, tolonglah aku. Ayah, ompung, tolong aku," kata Erwin. la tidak hanya meminta dalam hati,
tetapi mengatakannya dengan pelan-pelan, seakan-akan ia takut Tuhan, ayah serta kakeknya tidak akan
mendengar kalau ia hanya mengatakannya di dalam hati saja. Dan celakanya, suara pelahan itu toh cukup keras
untuk terdengar oleh Sabrina. la terkejut, walaupun tidak memperlihatkannya. Mengapa kawannya itu sampai
menyebut Tuhan, ayah dan kakek.
"Ada apa Erwin?" tanya Sabrina pelahan.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 63


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sabrina melihat wajah Erwin mulai basah oleh keringat. Ia mulai takut. Sakitkah sahabat barunya ini?
"Kupanggilkan pramugari ya. Dia akan dapat menolong!" kata Sabrina.
"Jangan, jangan. Ya Tuhan, tolonglah aku sekali ini!"
"Kau mengapa Erwin. Apa yang kau rasa?"
"Lihat tanganku, jangan menjerit dan jangan minta tolong!"
Kini Sabrina melihatnya. Di tangan Erwin mulai keluar bulu. Kian banyak dan warna bulu harimau.
"Tolong aku Tuhan. Tolonglah aku Ayah, Ompung!" kata Erwin.
Rupanya Tuhan mendengar permohonannya. Pelan-pelan tangan yang sudah berbulu harimau itu,
normal kembali.
"Alhamdulillah. Segala puji terpulang padamu Tuhanku yang Maha Pengasih." Sabrina pun turut
bersyukur, kendati ia belum tahu apakah sebabnya tumbuh bulu harimau di tangan Erwin tadi. Apakah ia juga
cindaku seperti ayahnya yang telah tiada. Tak masuk akal, anak seorang cindaku kebetulan duduk
berdampingan dengan cindaku dalam sebuah pesawat terbang. Tanpa sengaja, hanya menurutkan gerakan
refleks, Sabrina memegang tangan Erwin dan berkata: "Tabahkan hatimu. Itu suatu penentuan."
"Kau tidak takut?" tanya Erwin.
"Tidak. Mengapa mesti takut?" sahut Sabrina.
"Aku bukan manusia normal. Manusia tidak akan ditumbuhi bulu harimau!"
"Tetapi kau sahabatku. Pasti tidak akan mengusik diriku. Di dunia banyak yang aneh. Keanehan tidak
mesti berarti keburukan. Dan kewajaran tidak selalu berarti kebaikan. Betapa banyaknya manusia yang
kelihatan normal, ganteng, berpangkat pula lagi, tetapi dalam tindak tanduk ternyata mempunyai jiwa hewan.
Kejam atau serakah. Tak mengenal kemanusiaan terhadap sesama manusia."
"Kau melantur ke soal-soal politik!"
"Itu bukan soal politik. Itu kenyataan yang diketahui oleh sebagian besar bangsa kita yang tidak buta
mata. Apalagi oleh yang bisa baca!"
"Kau cerdas sekali Sabrina!"
"Sudah kau katakan tadi. Kalau orang mengetahui apa yang jadi kenyataan di lingkungannya, maka orang
itu belum tentu cerdas. Dia cuma manusia yang punya telinga untuk mendengar dan punya mata untuk
membaca dan melihat."
"Aku heran kau tidak takut padaku."
"Sudah kukatakan. Kau sahabatku dan aku sudah jadi sahabatmu. Mana mungkin kau akan mengganggu
aku!"
"Kalau sekiranya aku berubah jadi harimau?" tanya Erwin.
"Aku tidak juga akan takut!" Erwin terdiam seketika.
"Walaupun kita sudah bersahabat, aku tetap heran kau tidak takut padaku, yang ..." Erwin tidak
meneruskan.
"Yang bisa jadi harimau," kata Sabrina meneruskan.
"Kau pernah mendengar tentang manusia harimau? Yang masih ada di Mandaiiing. Aku ini salah satu

SERIAL MANUSIA HARIMAU 64


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dari padanya!"
"Telah kukatakan, bahwa tidak ada manusia punya nasib sesedih aku!"
"Kenapa kau berpendapat begitu?"
"Aku anak cindaku! Dan ayahku meninggal karena dibunuh masyarakat!" Sabrina terkenang pula akan
peristiwa pembunuhan ayahnya dan tak dapat menahan air mata. Erwin terkejut mendengar Sabrina anak
cindaku?
"Aku turut berduka cita Sab!"
"Terima kasih. Ayahku dikeroyok orang banyak ketika beliau berubah jadi harimau. Ia tidak pernah
menyakiti seumur hidupnya. Hanya karena beliau bernasib buruk menjadi cindaku. Dan nasib itu bukan
dibuatnya sendiri."
"Kita senasib Ina. Ayahku dan kakekku juga manusia harimau. Masih selalu mendatangi aku!"
"Setelah beliau meninggal?"
"Ya. Dan selalu," kata Erwin.
Pada detik itulah terdengar auman harimau di dalam pesawat itu. Dua kali berturut-turut. Seluruh
penumpang kaget setengah mati. Ada beberapa penumpang wanita tidak dapat menahan jerit. Ada yang jadi
gemetaran. Ada yang terkencing tanpa sempat atau berani ke toilet. Kapten pilot dan awak lainnya juga
mendengar auman itu. Kaget bukan main. Tetapi nasib baik kapten dapat menguasai diri dan melaksanakan
tugasnya. la tahu nyawa seratus penumpang berada dalam tangannya. Walaupun Tuhan yang menentukan
segala-galanya. Sabrina memandang Erwin.
"Apa itu?" tanyanya.
"Ayahku!"
"Ayahmu? Beliau ada dalam pesawat ini?"
"Ayahku bisa berada di mana saja!"
"Aku telah memandangi wajahmu Er. Kau punya parit di bawah hidungmu! Aku tidak mengerti."
"Ayahku bukan cindaku. Beliau dan aku dan kakekku manusia harimau!"
"Lain dari ayahku?"
"Lain, tetapi nasibku dan ayahmu sama saja. Sama-sama punya kelainan. Aku sudah seringkali jadi
harimau. Kadang-kadang di luar keinginanku!"
"Apakah kadang-kadang kau ingin jadi harimau!"
"Ya, bila keadaan menuntut begitu untuk keselamatanku!"
"Apakah ayahmu juga meninggal karena dikeroyok?"
"Tidak. Beliau meninggal secara wajar!" Ia menceritakan dengan singkat, bahwa setelah meninggal Dja
Lubuk tetap manusia harimau dan keluar dari kuburannya manakala ia merasa perlu. Terutama kalau anaknya
dalam kesulitan. Sejak bunyi harimau yang mengejutkan itu, penumpang tidak tenang, walaupun auman itu
tidak berulang lagi.
Seorang tua dengan mata redup tetapi penuh wibawa berdiri, meminta para penumpang agar tenang:
"Janganlah takut lagi. Suara tadi memang suara harimau, tetapi tidak akan menimbulkan gangguan apa-apa.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 65


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Yang kita dengar itu suara roh seorang yang telah tiada. Beliau tidak akan menyusahkan siapapun yang tidak
punya hubungan dengan beliau. Beliau hanya memberi tahu kepada sanak saudara atau keturunannya bahwa
beliau selalu mengiringkan!" Orang tua itu duduk kembali dengan tenang. Semua orang percaya akan apa yang
dikatakannya. Hanya orang berilmu tinggi dapat berkata begitu. Orang itu pastilah bukan orang sembarangan.
Erwin dan Sabrina mengikuti dengan seksama tiap kata yang diucapkan oleh orang tua penenang suasana
itu. Orang itu tahu bahwa dalam pesawat ini ada orang yang punya hubungan dengan harimau yang mengaum
itu. Tahukah dia siapa penumpang itu?

***

PESAWAT DC-9 itu mendarat dengan selamat di landasan Kemayoran. Semua penumpang termasuk awak
bersyukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan mereka dari ketakutan atau bencana yang amat
dikhawatirkan.
Sabrina dan Erwin mengambil satu taksi saja. Lebih dulu Erwin mengantarkan Sabrina ke rumah
pamannya, Sutan Mandiangin yang termasuk hartawan dari rezeki yang halal. Sabrina datang tanpa memberi
tahu, sehingga ia tidak dijemput oleh pamannya yang mempunyai tiga sedan untuk keluarganya yang terdiri
atas lebih dari setengah lusin. Ketika berkenalan dengan Sutan Mandiangin, jantung Erwin berdebar keras
secara tiba-tiba.
"Ada bencana,"' katanya ketika berjabatan tangan, sehingga paman Sabrina merasa heran. "Saya
merasakan adanya bencana."
Ia mohon diri dan meminta sopir taksi untuk secepatnya membawa dia ke rumah. Jantungnya kian
berdebar juga. Ia teringat istrinya Indahayati dan anak kesayangannya. Ya Tuhan, apakah yang terjadi?
Setelah membayar sewa taksi, Erwin bergegas memasuki pekarangan, lalu masuk rumah yang memang
terbuka lebar daun pintunya.
"Indah," panggil Erwin, rindu dan cemas tanpa tahu apa sebabnya.
Tiada sahutan, ia memanggil lagi, juga tidak ada sahutan. la masuk kamar tidur yang juga tidak berkunci,
kalaukalau buah hatinya ada di dalam. Ternyata anaknya pun tidak ada. Dibawa ibunya tentu. Erwin
memanggil-manggil sambil pergi ke ruang dapur. Di sana pun tidak ada.
Pergi bertandangkah? Tetapi pintu tidak ditutup. Ke pasar lebih tak mungkin lagi. Inah, pembantu
mereka juga tidak ada. Kalau dia, mungkinlah ke pasar. Oleh ketidakhadiran istri dan anaknya itu Erwin Man
cemas dan mencari ke pekarangan depan. Sebetulnya tidak perlu ia memikirkan kemungkinan adanya istri dan
anaknya di sana, karena kalau ada tentu ia melihat mereka tadi tatkala ia baru turun dari taksi. Suatu gerak
membawa ia ke pekarangan di belakang rumah.
Ya Rabbi, di dekat pohon talas ia melihat istrinya menggeletak mendekap anaknya. Erwin menerkam dan
memeluk kedua insan yang tak bergerak dan berlumuran darah itu.
"Indah, Indah," kata Erwin setengah menjerit, kemudian disusul tangis.
Ia mulai putus asa. Kedua buah hatinya itu telah tidak bernyawa. Kini baru ia melihat ke sekitar. Bekas

SERIAL MANUSIA HARIMAU 66


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

telapak kaki! Bukan kaki manusia. Kaki babi. Babi yang masuk kota dan membunuh tentu bukan babi biasa.
Dan babi ini tak lain daripada Ki Ampuh yang telah mati dan kemudian menjadi babi.
Sedih dan marah bercampur jadi satu.
Tetangga mereka berdatangan oleh jerit dan tangis Erwin. Dan mereka pun melihat keadaan yang
mengerikan serta aneh itu. Mereka pun tahu, bahwa jejak-jejak di sekitar tempat kejadian pasti jejak babi
hutan yang besar. Luka-luka di badan ibu dan anak menunjukkan bahwa babi itu babi hutan bertaring. Dan
tentunya sangat ganas. Pada mereka pun timbul tanda tanya, mengapa seekor babi hutan masuk ke kota. Tak
adakah orang yang melihat? Ia tentu datang dari hutan. Bagaimana ia bisa sampai ke sana tanpa seorang pun
melihatnya? Para tetangga membantu apa yang mereka dapat lakukan. Mayat kedua manusia yang amat
malang itu diangkat ke rumah.
"Saya ke Polisi," kata Ahmad kepada Erwin.
"Tak usah," jawab Erwin yang pelan-pelan menguasai diri. Dia harus bisa menenangkan hati. la tahu apa
yang ia harus lakukan, tetapi ia harus menunda.
"Bukankah Polisi perlu mengetahui?" kata Ahmad.
"Ini perbuatan babi. Polisi tak dapat berbuat apa-apa!"
"Polisi harus mencari dan membunuh babi itu. Ia bisa menimbulkan bencana lain," kata Ahmad.
"Terserahlah," kata Erwin yang merasakan kebenaran dalam alasan Ahmad.
Dan Ahmad melaporkan musibah itu kepada Polisi. Dan sesuai dengan keharusan, beberapa petugas
Polri datang memeriksa. Juga dokter. Lalu dikerahkan beberapa tenaga mencari babi berbahaya itu untuk
dibunuh. Tak usah ditangkap hidup, karena ia toh tidakan dimintai keterangan.
Dalam menghadapi mayat istri dan anaknya yang diletakkan berdampingan sebelum dimandikan, Erwin
yang sudah mengalami berbagai kepahit-getiran tidak dapat menahan air mata, walaupun dikatakan, bahwa
tidak baik menangisi keluarga yang telah tiada. Manusia memang dapat memberi nasehat kepada orang yang
ditimpa musibah, tetapi manakala ia sendiri yang kemalangan, keadaan akan menjadi lain. Suami mana
mempunyai hati batu melihat istri tersayang dan tersetia pergi dengan cara yang begitu menyedihkan. Ayah
mana yang begitu kebal perasaan untuk tidak menangis menghadapi anak tersayang harus pergi dalam usia
yang begitu muda, anak terkasih yang tiap hari jadi permata hati dan penghalau segala duka dan putus asa.
Bagi orang yang telah merasakan, kehilangan anak adalah musibah yang amat besar atau terbesar dalam hidup.
Kehilangan istri, teman hidup yang baik dan setia merupakan kehilangan yang tak mudah dilupakan. Sakitnya
kehilangan istri tergantung bagaimana suami menilai istrinya. Tentang kesetiaan dan pengertian, tentang kasih
dan sayangnya. Erwin bertanya di dalam hati, mengapa ayah atau kakeknya tidak datang membantu? Apakah
kedua orang tua itu tidak mengetahui kejadian yang amat memilukan ini. Mereka tentunya tahu, bahwa
Indahayati hanya dengan si kecil dan pembantu di rumah! Ataukah Dja Lubuk dan Raja Tigor tidak
menyangka akan ada bahaya dari Ki Ampuh yang telah angkat sumpah jadi saudara seumur hidup?
Akhirnya Erwin menyadari bahwa hanya Tuhan jua yang bisa mengetahui segala apa yang akan terjadi di
tiap pelosok jagad ini. Hanya Tuhan yang punya kekuasaan Begitu. Tak ada yang lain selain Tuhan Yang
Mahaesa.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 67


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Pemakaman ibu dan anak mengundang awan tebal menutupi langit dan matahari, seakan-akan hujan
lebat pasti akan tiba. Tetapi ternyata hujan tak turun. Banyak sekali orang mengantar. Juga dari tempat-tempat
yang agak jauh dari rumah Erwin karena mendengar cerita yang amat menyedihkan dan mengherankan itu.
Ketika kedua jenazah keluar dari rumah, orang banyak dikejutkan oleh bunyi harimau, sedikitnya dua ekor
yang berlainan. Dan bunyi itu mengandung perasaan sedih yang mengesan di hati orang banyak yang akan
mengantarkan ke kuburan. Mereka terkejut tetapi anehnya tak ada seorang pun di antara mereka yang dirasuki
rasa takut. Seolah-seolah iringan tangis harimau memang sesuatu yang wajar.
Sedikit banyak orang-orang sekitar sudah ada juga mendengar tentang diri Erwin yang suka menolong
sesama manusia manakala mereka sakit. Ia menolong tanpa pernah mau menerima bayaran dari mereka yang
tak mampu. Mereka juga mendengar kisah-kisah aneh tentang Erwin, tetapi mereka tidak mengetahui
kepastiannya. Ketika jenazah Indahayati dan anak diturunkan ke lobang yang sama, terdengar lagi suara
harimau yang berbeda tadi. Seolah-olah mengucapkan selamat jalan ke alam baqa kepada mereka. Sekali lagi
Erwin tak dapat menahan tangisnya di pinggir kuburan. Ia berhati lemah, walaupun ia manusia harimau yang
kadang-kadang mempunyai kekuatan dan kelebihan yang mengagumkan dan tak dapat diterangkan dengan
hukum akal. Oleh isak yang tak tertahan, bahu Erwin terangkat-angkat. Beberapa banyak pengantar jenazah
turut meneteskan air mata. Mereka dapat merasakan musibah yang menimpa. Dalam hati mereka pun timbul
tanda tanya apakah akan terjadi sebagai akibat dari bencana yang menimpa Erwin, karena mereka mendengar
bahwa Erwin juga mempunyai ilmu tinggi.
Mereka juga bertanya dalam hati mengapa babi hutan yang aneh itu memilih istri dan anak Erwin sebagai
mangsanya.

MEMANG benar, Ki Ampuh yang telah jadi babilah yang membinasakan Indahayati dengan anaknya.
Dendamnya kepada Erwin selalu bangkit, karena anak Mandailing itu tidak mau atau tidak sanggup
membuatnya jadi manusia kembali. la begitu rindu kepada istri-istrinya yang cantik-cantik dan kerinduan itu
hanya akan dapat dilampiaskannya kalau ia bisa jadi manusia kembali. Ia tidak yakin, bahwa Dja Lubuk atau
Raja Tigor ataupun Datuk nan Kuniang tidak bisa menolongnya. Ia cemburu melihat Erwin hidup bahagia
dengan istri dan anaknya. Inilah yang menyebabkan dia pada hari itu dalam bentuk orang halus masuk ke
pekarangan rumah Erwin, dan menanti perempuan itu keluar, untuk diseruduknya sampai mati. Ia ingin Erwin
mengetahui bahwa dialah yang membunuh. Padahal, kalau ia mau ia dapat membunuh istri Erwin dan
anaknya dengan cara lain. Peluang baik bagi Ki Ampuh, orang yang dinantikannya pergi ke pekarangan
belakang dengan menggendong anaknya. Dua lalat sekali tepuk, pikir babi jadi-jadian itu. Dan ia
melakukannya tanpa mendapat perlawanan. Wanita itu begitu terkejutnya sehingga berteriak minta tolong saja
pun ia tak sempat.
Dengan badannya yang lebih seratus kilo dan taring-taring yang tajam ia menyerang istri Erwin yang
segera terjatuh dengan memeluk erat anak kesayangan. Dasar Ki Ampuh memang punya hati buas sebelum ia
menjadi babi hutan, maka anak kecil itu pun tidak dibiarkannya hidup. Taringnya menembus tubuh yang
empuk itu sehingga si kecil tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan. Sampai kematian mereka tidak ada

SERIAL MANUSIA HARIMAU 68


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

satu jerit pun. Rupanya Ki Ampuh telah memukau mereka. Ia ingin agar Erwin sendiri yang lebih dulu
mengetahui pembalasan dendam itu.
Setelah melakukan pembunuhan, babi hutan yang berasal dari manusia itu menghindar. Hatinya puas, tak
ada rasa sesal sedikit pun mengapa ia melakukan kejahatan terhadap orang yang pernah begitu baik
terhadapnya. Ki Ampuh memang tergolong pembunuh berdarah dingin di dunia mistik. Tetapi perasaan takut
juga menghantui dirinya, karena ia yakin, bahwa Erwin akan melakukan pengejaran dan pembalasan. Dulu ia
bisa minta bantuan ke Banten kepada mbah Panasaran yang berusia seratus lima puluh tahun tetapi tetap
berwajah cantik dan kelihatan bagaikan gadis itu. Kini ia tidak berani lagi. Apalagi dalam ujudnya seperti babi.
Ia sudah pernah ditertawakan dan diusir. Itu tatkala ia masih manusia. Kini tentu ia akan dihina, benar-benar
bagaikan manusia menghina babi. Lalu ke mana lagi akan mohon bantuan? la ingin jadi manusia kembali,
tetapi daripada mati ia masih memilih untuk jadi babi seperti sekarang.

MALAM pertama Indahayati dan anaknya bersemayam di dalam bumi Allah, sejumlah orang mengaji di rumah
Erwin. la pun turut memohonkan ampun bagi dosa-dosa istrinya tatkala masih hidup dan meminta kepada
Tuhan agar kepada wanita yang amat setia itu diberikan tempat yang baik di padang makhsyar. Ia teringat
kembali, bagaimana dulu tatkala mereka masih pacaran ia pernah menjadi harimau di hadapan Indah dan
bagaimana lndah dengan haru mengatakan bahwa ia tetap mencintai Erwin. Rasanya tak adalah kesetiaan
bercinta yang melebihi kasih sayang ikhlas seorang wanita kepada orang kesayangannya yang manusia harimau.
Setelah semua pendoa kembali ke rumah masing-masing, tinggallah Erwin seorang diri di kamar. Sunyi
mencekam. Sekali lagi air mata tak terbendung. Rasa-rasanya Indah dan anaknya masih ada di kamar itu.
Padahal mereka teFah tiada. Khayalan sedih ini betapa menyakitkan! Mengapa istri dan anaknya harus
direnggutkan dari dirinya. la, Erwin yang tidak punya apa-apa di dunia ini selain istri tercinta dan anak
tersayang. Mengapa harta yang tak seberapa tetapi tak ternilai harganya ini harus disentakkan dari dia? Apakah
dosanya? Pada saat seperti itu, Erwin yang taat beragama itu sukar menguasai diri. Bahwa Tuhan Mahakuasa
dan Mahaadil. Bahwa Dia juga yang paling bijaksana. Bahwa segala apa pun milik manusia di dunia-ini adalah
titipan Tuhan belaka, apalagi kalau yang bernyawa seperti istri dan anak. Seperti adik dan kakak. Ibu dan ayah.
Pada waktunya yang Empunya akan memanggil mereka kembali. Dan Yang Punya adalah Tuhan Yang
Mahakuasa. Mengapa harus menyesali pemilik mengambil kembali harta miliknya yang dipercayakan dalam
waktu terbatas kepada hambaNya. Dia pun sukar menerima bahwa musibah semacam itu merupakan cobaan
Tuhan atas iman hambaNya. Sampai di mana keimanan dan ketabahan hamba yang beragama itu. Sampai di
mana agama memberi kekuatan, kepercayaan dan kepasrahan kepada manusia yang memeluknya! Di saat
seperti itu biasanya Erwin masih mendengar suara istri dan gelak senang anaknya yang lucu. Kini semua itu
sudah tidak terdengar lagi.
Apakah Tuhan menyuruh Ki Ampuh membunuh keluarganya? Erwin termenung.
Tidak mungkin. Tuhan tidak pernah kejam, tidak pernah melakukan sesuatu yang tak adil. His dan setan
durjanalah yang telah menguasai Ki Ampuh yang babi hutan itu. Dan kalau makhluk telah dikuasai iblis, maka
segala kekejaman dapat dilakukannya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 69


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Ki Ampuh itu memang setan, kata Erwin. la harus dibinasakan. Jadi babi pun ia tak boleh. Karena
sebagai babi ia masih saja bisa merusak. Ia harus punah, jadi debu yang diterbangkan angin, yang tak ada
makna apa pun di bumi Tuhan ini. Tetapi bagaimana melakukannya.
Kesedihan dan haus akan dendam merasuk dan mengacau hati manusia harimau yang malang itu. Ia
panggil ayah dan ompungnya. "Bantu aku, ayah. Beri aku jalan ompung," katanya pelahan. Wajah istri dan
anaknya membayang, hati Erwin menggelegak bagaikan air mendidih.
Tetapi tidak ayah, tidak ompungnya ataupun Datuk nan Kuniang tampil di hadapannya. Apakah mereka
sudah meninggalkannya? Apakah ia harus bisa hidup dan bertahan sendiri kini? Apakah di masa terberat
selama hidupnya ini tidak ada siapapun mendampinginya? Di saat ia sangat membutuhkan kawan dan nasehat.
"Ayah, aku Erwin dalam dukacita terbesar! Datanglah ayah!" katanya sampai terdengar dalam ruangan
sepi itu. Ia nantikan. Sia-sia.
Ketika terjadi serangan atas istri dan anaknya, tak ada siapapun menolong.
Kini setelah ia hanya sendirian di atas dunia ini, tidak juga ada yang mau datang memenuhi
panggilannya. Apakah ada suatu kesalahan yang telah dilakukannya dan menyebabkan ayahnya tak sudi lagi
mengunjunginya? Kesalahan apa? Karena ia menangisi istri dan anaknya? Apakah suatu kesalahan kalau
manusia yang lemah menangisi mayat anak dan istri? Apakah untuk itu ia harus dikucilkan? Mustahil,
mustahil! Lalu, mengapa ia dibiarkan seorang diri.
Tiga hari tiga malam Erwin meminta Ayah dan Ompungnya datang. Tiada tanda-tanda bahwa kedua
manusia harimau itu hendak mengabulkan. Tiada sahutan sama sekali sehingga Erwin Man gelisah. Bukan
takut menghadapi Ki Ampuh si babi pembunuh itu, tetapi merasa amat khawatir kehilangan kasih sayang ayah
dan kakeknya. Tidak biasanya mereka begitu. Meninggalkan dia tanpa pesan.
"Ayah, ampuni aku kalau aku telah membuat kesalahan. Tetapi jelaskan kesalahanku itu," pinta Erwin
sambil sujud seolah-olah menyembah arwah ayahnya.
"Jangan tinggalkan aku Ompung," katanya pula dalam kegelisahannya. "Kalau aku berbuat sesuatu yang
tidak berkenan di hati Ompung, ampunilah aku. Aku sungguh tak tahu apa kesalahanku."
"Pujiku bagimu Tuhan," tangisnya dalam bersujud ketika pada saat itu terdengar ayahnya mengaum. Apa
pun akan katanya, yang pasti ia ada di sekitar situ.
Ketika ia duduk kembali dilihatnya Dja Lubuk sudah ada di sana, tunduk tanpa kata. Melihat ayahnya
berduka cita, sesaat Erwin lupa akan musibahnya. Dengan suara lembut ia bertanya: "Apa yang memasygulkan
Ayah?" Dja Lubuk tidak segera menjawab. la angkat mukanya menatap anaknya.
"Belum pernah aku sesedih ini Erwin," kata Dja Lubuk.
Erwin masih menyangka bahwa ada sesuatu yang mendukacitakan ayahnya.
"Apakah yang telah terjadi Ayah?"
Manusia harimau yang telah tua itu membiarkan air mata menembus pembendungnya. la menggeleng-
geleng.
"Kau kehilangan istri dan anak tersayangmu. Aku kehilangan menantu yang begitu luhur budi dan cucu
tersayang tiada duanya. Seyogianya ia akan menjadi manusia yang amat penting. Bukan hanya di tanah air,

SERIAL MANUSIA HARIMAU 70


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

tetapi di dunia ini. Mungkin jadi kepala negara, barangkali penemu suatu ilmu yang amat berguna bagi
kemajuan dunia. Itulah yang membuat aku menjadi makhluk yang paling malang. Itulah juga yang membuat
aku tak mau mendatangimu, karena aku pun tidak akan sanggup meringankan beban penderitaanmu.
Membiarkan kau bersedih seorang diri akan membuat kau lebih merasakan betapa sakitnya rasa sedih dan
barangkali membuat kau lebih mudah mencari jalan bagaimana meringankan rasa sedih itu!"
Erwin memeluk ayahnya dan meneruskan tangisnya yang tadi terhenti.
"Menangislah sepuas hatimu. Tangis merupakan saluran terbaik bagi tiap dukacita. Juga untuk laki-laki.
Menahan tangis sama dengan memendam kesedihan. Dia akan membuat badan merana. Orang yang merana
ibarat mayat yang masih bernyawa!" Erwin kagum atas falsafah ayahnya mengenai kesedihan dalam kehidupan
manusia. Itulah yang membuat ayahnya selalu tampan, gagah penuh wibawa walaupun ia telah tiada dan hanya
sewaktu-waktu tampil ke atas bumi melaksanakan tugas setelah kehidupan wajar menemui titik akhirnya.
"Kini bagaimana ayah?" tanyanya setelah tangisnya mereda.
"Kau telah mengambil keputusan bukan? Membalas. Kau ingin meniadakan penjelmaan Ki Ampuh
sebagai babi!"
Rupanya ayahnya tahu apa yang telah terniat di dalam hatinya. Dan ia telah tahu pula mengapa selama
beberapa hari ayahnya sengaja tidak mau memenuhi himbauannya. Apakah itu juga penyebab ompungnya
tidak menampakkan diri?
Erwin memandangi ayahnya. Ingin bertanya, tetapi ia 140
merasa tak sanggup mengucapkannya, takut ayahnya tersinggung. Tetapi Dja Lubuk membantu agar
anaknya jangan memendam tanda tanya yang tak terjawab.
"Kau hendak bertanya, mengapa tak kau ucapkan? Ayah tahu, kau takut aku merasa kecil hati. Kau heran
mengapa aku atau ompungmu tidak datang menyelamatkan istri dan anakmu. Kau tak puas mengapa aku
membiarkan!" kata Dja Lubuk.
Erwin menundukkan kepala.
"Tiap makhluk Allah punya kelemahannya. Semua, tanpa kecuali. Apalagi aku, yang hanya setengah
manusia setengah harimau. Tidak mungkin mengetahui semua. Aku sama sekali tidak mengetahui, tidak
mendapat firasat tentang musibah yang akan menimpa dirimu. Kupikir kau juga begitu, ompungmu juga! Aku
mengetahui setelah terjadi. Malah kau yang lebih dulu mengetahui. Maafkan aku atas kekurangan itu," katanya
lebih lanjut. Erwin memeluk ayahnya. la sedih dan terharu, tetapi ia pun menyadari kebenaran kata-kata
ayahnya.
"Yang Maha Mengetahui hanya Dia yang satu. Tuhan. Tiada lain lagi dari padaNya," ujar Dja Lubuk,
lembut dan amat mengesanakan.
Erwin kini meneteskan air mata tanpa suara tangis. Terasa olehnya kekuasaan dan kemampuan Tuhan
yang tiada batas. Memungkinkan segala yang tak mungkin menurut akal manusia. Semua yang hidup di
permukaan bumi harus tunduk pada kehendak dan kekuasaanNya. Juga ia yang bernama Erwin, yang manusia
harimau, yang anak Dja Lubuk dan cucu Raja Tigor.
"Kau akan membalas. Itu suatu kemestian. Tiap sabar harus ada batasnya. Juga kesabaran makhluk seperti

SERIAL MANUSIA HARIMAU 71


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kita. Supaya kesewenang-wenangan jangan bersimaharajalela. Agar yang jahil tak dapat selalu berkuasa
menurut nafsu setan yang bertahta di dalam tubuh manusianya." Dja Lubuk diam seketika, ingin mendengar
reaksi anaknya. Tetapi Erwin juga diam menunggu apa lagi yang akan ditanamkan ayah ke dalam dirinya.
"Tetapi pembalasan yang dilakukan hanya karena ingin membalas seringkali berakhir dengan dukacita
baru karena tidak lagi punya pikiran yang dingin dan sehat. Orang yang berdosa selalu menyiapkan diri untuk
menyambut pembalasan.
Erwin bertanya: "Jadi bagaimana Ayah?"
"Pikirkan dulu cara yang baik. Ki Ampuh bukan babi hutan biasa. Ia manusia terkutuk yang menjelma
jadi babi dengan akal iblis dan kekuatan setan. Ia tidak akan berbuat sekeji itu, kalau ia bukan setan berakal
iblis," kata Dja Lubuk memberi nasehat. Ia tidak mau memandang enteng pada kekuatan Ki Ampuh. Orang
tua yang bangkit dari kuburannya itu menceritakan bagaimana babi hutan yang di Sumatera dikenal sebagai
babi rantai mempunyai ilmu kebal dan dapat mengalahkan harimau. Yang dihadapi ini mungkin lebih daripada
itu.
"Apa pun yang kau lakukan, jangan sebelum menujuh hari kepergian istri dan anakmu," kata Dja Lubuk
memberi nasehat.
Pembicaraan antara ayah dan anak itu mendadak disertai oleh Raja Tigor yang menampakkan diri. Ia
berkata: "Apakah yang dikatakan ayahmu itu benar. Tahan dirimu dulu untuk mencegah kegagalan. Aku tak
mengetahui kedatangan malapetaka itu. Seperti kata ayahmu, aku juga makhluk yang mempunyai banyak
kekurangan dan kelemahan. Maafkan aku Erwin. Aku merasa sangat kehilangan. Aku dapat merasakan
bagaimana beratnya pukulan ini!"
Jelas bagi Erwin mengapa ayah dan kakeknya tidak mencegah malapetaka yang ditimpakan Ki.Ampuh
terhadap dirinya. Membuktikan bahwa Dja Lubuk dan Raja Tigor pun mempunyai kelemahan. Dan dengan
sendirinya babi hutan yang membunuh anak dan istrinya itu juga mempunyai kelemahannya. Tinggal adu kuat
dan ilmu siapakah di antara mereka yang lebih tinggi keampuhannya.
"Baiklah Ompung, nasehat ompung akan kupatuhi. Apakah aku akan dapat membunuhnya Ompung?"
tanya Erwin.
"Tak dapat kukatakan. Aku belum pernah berhadapan dengan manusia babi atau babi manusia. Tetapi
sudah pasti ia mempunyai kekuatan luar biasa. Kuatkan hati dan niatmu!" jawab Raja Tigor berhati-hati.
Ia tak mau takabur, karena makhluk yang takabur akan menemui kegagalan.
Setelah memberi nasehat kepada Erwin, Dja Lubuk dan Raja Tigor pergi ke tempat istirahatnya di
Mandailing.

***

BEBERAPA hari kemudian, tepatnya pada menujuh hari meninggalnya anak dan istrinya, Erwin kedatangan
seorang tamu, yang tidak disangkanya akan menemui dia. Sabrina terperanjat heran melihat kemuraman wajah
sahabat yang dikenalnya di pesawat terbang tujuh hari yang lalu, ia tidak mengetahui, bahwa pada hari

SERIAL MANUSIA HARIMAU 72


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kedatangan di Jakarta kawan barunya itu ditimpa kemalangan terbesar dalam hidupnya. Erwin menceritakan
apa yang telah terjadi. "Mereka adalah segala-galanya yang kumiliki dan amat kusayang. Tiada yang lain
daripada mereka Ina," kata Erwin dan untuk kesekian kalinya ia menangis. Tiap teringat dan terbayang wajah
anak dan istrinya, Erwin selalu tak dapat menahan air matanya. Sabrina turut sedih tanpa dapat berbuat apa
pun untuk meringankan penderitaan sahabatnya. Tetapi di dalam hatinya timbul tanda tanya, mengapa babi
hutan masuk kota khusus untuk membunuh anak dan istri Erwin. Dia ingin bertanya babi apakah itu, tetapi
tidak berani mengatakannya, karena merasa tidak tepat saatnya.
"Besok aku akan berangkat mencarinya," kata Erwin.
"Akan dicari ke mana. Ada sekian banyak babi hutan. Bagaimana kau akan tahu yang mana yang
membunuh?" tanya Sabrina.
"Dia ini babi lain Ina," kata Erwin, membuat tanda tanya dalam hati Sabrina mulai terjawab tanpa ia
sendiri menanyakannya.
"Lain bagaimana?"
"Dia manusia yang jadi babi!"
Sabrina memandang Erwin. "Benar, dia tadinya manusia," kata Erwin.
"Kenapa dia jadi babi?"
"Panjang ceritanya Ina. Panjang sekali. Nantilah pada suatu hari akan kuceritakan, kalau kita masih
bertemu." Sabrina diam tetapi pada wajahnya jelas tampak bahwa ia tidak puas dengan jawaban Erwin.
"Ujungnya ia yang bernama Ki Ampuh dan pernah menuntut ilmu di negeriku mengkhianati sumpahnya
sendiri. Ia jadi babi. Ia minta supaya aku atau ayah dan kakekku menghidupkannya kembali jadi manusia.
Kami tak sanggup. Itulah yang barangkali menyakitkan hatinya dan membalas dengan cara itu. Mengapa harus
anak dan istriku. Mestinya akulah yang dibunuh. Anak dan istriku tidak berdosa apa pun kepadanya!"
"Kejam, sadis sekali dia," kata Sabrina yang anak cindaku itu. "Harus dibunuh mati dia," katanya
mengikutkan suara hati yang mendadak menghantui dirinya. Tidak biasanya dia begitu.
Erwin, walaupun berdendam pada Ki Ampuh, terkejut juga mendengar reaksi Sabrina. Terdengar begitu
spontan. Erwin memandang kawan barunya. Yang dipandang merasa bahwa kata-katanya menimbulkan
keheranan.
"Mengapa kau pandangi aku. Kau heran! Aku akan membalas dendam, kalau disakiti begitu! Apalagi dia
hanya babi. Kau harimau. Harimau, bukan?" kata Sabrina membiarkan hatinya bicara. Erwin semakin heran.
"Mengapa kau heran Erwin. Kau telah buktikan, bahwa kau manusia harimau, mengapa tak segera kau
cari dan bunuh dia!" Sabrina bicara dengan penuh emosi. Erwin tidak segera menanggapi.
"Kalau kau mau, aku ikut mencarinya bersamamu! Kalau aku yang duluan ketemu, biar aku menghabisi
nyawanya!"
Manusia harimau itu jadi semakin heran: Benarkah apa yang didengarnya itu.
"Dia bukan babi biasa Ina. Sudah kukatakan."
"Aku tidak takut."
"Kau belum tahu bagaimana ganasnya manusia babi!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 73


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Sudah tahu. Ia tega membunuh anak dan wanita tak berdosa!"


"Dia juga akan sanggup membunuhmu Ina. Jangan-jangan dia mendengar apa yang kau katakan!"
"Aku ingin dia mendengarnya!"
"Aneh kau ini!"
"Tidak lebih aneh dari kau Erwin!"
"Aku orang yang disakiti. Dan kebetulan aku punya pengetahuan bela diri ala kadarnya!"
"Kau sahabatku. Aku ingin membalas untuk dendammu terhadap hewan itu!" Sabrina merasa bahwa pada
saat itu ia lain daripada biasa, tetapi ia tak sanggup mengekang kata-katanya. Dibiarkannya saja mulutnya
mengatakan apa yang diingininya. Membuat Erwin jadi tambah heran, mengapa wanita cantik itu jadi begitu.
"Kau baik sekali ina, tetapi ini bukan urusan yang biasa dihadapi oleh seorang wanita! Ia manusia babi,
bukan babi biasa. Peluru pun belum tentu bisa merobohkan dia. Dia mungkin kebal. Di masa ia masih
manusia, ia sudah kebal. Ada babi yang namanya babi rantai. Juga kebal."
"Bisa mengalahkan harimau?" tanya Sabrina.
"Bisa. Harimau biasa akan kalah oleh babi berantai!"
"Kau juga dapat dikalahkannya?" tanya Sabrina.
"Mungkin! Dan aku rela untuk tewas dalam membalas dendam!"
"Ia tak akan dapat mengalahkan aku Erwin!"
"Ini urusan serius Ina!"
"Aku juga bicara serius Erwin. Bukan main-main. Kau di rumah, biarkan aku mencari dia! Berilah aku
kesempatan!" pinta Sabrina.
"Aku tidak mengerti! Yang pasti, kau seorang sahabat yang amat baik Ina."
"Kalau kau juga sahabat baikku, berilah aku kesempatan ! "
Erwin semakin tidak mengerti mengapa sahabat wanitanya itu jadi begitu. Tetapi ketidak-mengertiannya
kemudian diganti oleh rasa heran dan terkejut. Sabrina menarik napas lebih kuat dari biasa, kemudian
mendengus-dengus, lalu menggeram. Lalu wajahnya! Mengapa jadi begitu. Berubah rupa, tidak lagi seperti
Sabrina yang cantik, tetapi manjadi muka wanita yang kelihatan ganas. Lalu berubah lagi mendekati rupa
harimau. Setelah itu telinganya. Berubah menjadi telinga harimau. Mimpikah Erwin?
"Sabrina, mengapa kau?" tanya Erwin ketakutan walaupun ia manusia harimau.
"Mengapa, tanyamu? Kau lihat sendiri!" sahut Sabrina. Ia sendiri sebenarnya heran melihat perubahan
sikap dan dirinya, tetapi ia tidak kuasa melawan. Bahkan pada saat itu ia senang dengan perubahan itu. Karena
ia ingin menunjukkan kesetiaan kepada Erwin, ia sangat ingin membuktikan kepada duda muda itu bahwa ia
benar-benar sahabat. Bahkan lebih daripada itu. Apa yang lebih daripada sahabat? Entah, ia sendiri tidak
berani menjawab. Perasaan itu telah menyelinap ke dalam dirinya sejak beberapa hari yang lalu.
Sabrina sendiri heran mengapa ia sampai punya perasaan itu, yang dulu sekali pernah dialaminya,
kemudian ia ditimpa kekecewaan terbesar selama hidupnya. Ia takut mengingat masa lampau itu kembali, yang
semula terasa begitu indah, tetapi kemudian membuat ia menjadi manusia paling malang di dunia yang penuh
aneka ragam kekejaman dan keanehan ini.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 74


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Ia telah pernah bersumpah dalam hatinya sendiri untuk tidak lagi mau mengenal perasaan itu, yang
dirasakannya begitu ganas menyiksa dirinya. Pemuda yang pernah jatuh hati dan kemudian menjadi jalinan
kasih sayang timbal balik dengan dirinya itu bernama Fadli. Dia asal Minang juga ganteng memang. Dia
punya tampang yang mudah merobohkan hati rapuh enam dari sepuluh wanita. Dan kalau ada himpunan yang
menyediakan pria penghibur wanita, maka ia pasti akan menjadi penghibur yang laris dengan harga yang
tinggi. Pendek kata, Fadli punya wajah yang bisa dikomersilkan. Tetapi ia bukan laki-laki mata duitan. Bukan
bangsa penganggur yang mau hidup dari hasil keringat atau jual diri wanita. Ia seorang laki-laki baik, penuh
sopan santun. Baik budi halus perangai. Idaman bagi tujuh puluh persen wanita dan tidak disukai oleh tiga
puluh persen yang lebih tertarik dengan laki-laki berperawakan keras dengan perangai yang agak kasar tetapi
jangan sampai menyakiti. Selera wanita terhadap lawan jenisnya memang relatif, sama saja dengan keinginan
laki-laki terhadap wanita. Tidak selalu sama. Itu makanya semua wanita dapat jodoh dan segala laki-laki dapat
pasangan.
Selama hubungan asmara antara Sabrina dengan Fadli, semua berjalan lancar dan mengesankan.
Meskipun belum bertukar cincin, namun keduanya telah mengucapkan ikrar bersama untuk sehidup semati.
Walaupun matinya hanya untuk memperindah janji untuk tidak pernah benar-benar dilaksanakan.
Telah banyak yang mereka rasakan bersama. Keindahan tentu. Tetapi tidak termasuk yang satu itu. Yang
benar-benar larangan bagi pasangan yang belum menikah. Fadli pun tidak pernah menyinggung keinginan
yang demikian, pertanda keimanan dan kesopanan yang sekarang tidak semua laki-laki atau pemuda
memilikinya. Keduanya telah mencita-citakan atau mengkhayalkan kehidupan yang lebih indah kelak dengan
mempraktekkan keluarga berencana. Cukup dengan dua anak laki-laki dan seorang perempuan. Tiada lagi
rintangan, tinggal menunggu saatnya.
Tetapi apa mau dikata. Bagi Sabrina pun kiranya berlaku apa yang selalu terjadi pada manusia. Kejadian
yang tidak pernah dimimpikan. Diangan-angankan pun tidak.
Sabrina merasakan benar perbedaan Fadli. Pada hari yang getir dan terlupakan olehnya itu. Hari j umat
yang naas. Senaas jumat delapan tahun yang lalu tatkala ayahnya dikeroyok dan dibunuh oleh orang-orang
sekampung. Pada hari itu, tatkala ia bertemu dengan Fadli sesuai dengan perjanjian untuk kesekian puluh
kalinya, laki-laki itu kelihatan agak gugup. Barangkali ia berusaha menyembunyikannya, karena ia selalu punya
perasaan halus, tetapi jika demikian halnya maka ia tidak sepenuhnya berhasil.
"Kau agak lain Fad," kata Sabrina. "Ada apa?"
"Uh tidak apa-apa. Tidak apa-apa," Fadli dua kali mengulangi kalimat yang sama, satu dari sekian
pertanda kegugupan seseorang.
"Kau menyembunyikan sesuatu padaku Fad," desak Sabrina. "Suatu rahasia yang tak boleh kuketahui?"
"Tidak Ina, tidak ada rahasia. Apa pula yang mau kurahasiakan !"
"Aku sudah terlalu mengenal dirimu Fad. Ada sesuatu yang tak beres. Katakanlah!" desak Sabrina lagi.
Kini Fadli diam. Tidak menjawab, tidak membantah. Sabrina sudah tidak ragu-ragu, memang ada
sesuatu yang mengganggu kekasihnya itu.
Kemudian Fadli memandang lalu seperti meneliti wajah Sabrina. Seolah-olah baru kali itu ia melihatnya

SERIAL MANUSIA HARIMAU 75


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dan seperti ada sesuatu yang dicarinya. Lalu ia memperhatikan bibir serta hidung Sabrina. Wajahnya pucat, ia
benar-benar melihatnya kini. Parit di bawah hidung tidak ada. Benarlah seperti kata pamannya. Sabrina itu
anak si Maulana Sutan Rimbogadang, yang cindaku, harimau jadi-jadian yang dibunuh orang kampung
delapan tahun yang silam. Itu buktinya. Parit itu tidak ada. Selama hari ini Fadli tidak pernah melihatnya
padahal ia telah ratusan kali menikmati wajah yang licin cantik itu.
"Apa yang kau perhatikan Fad?" tanya Sabrina heran bercampur ingin tahu.
Fadli menggeleng.
"Katakan!" pinta Sabrina.
"Aku tak percaya Ina, tetapi rupanya benar," kata Fadli. Akhirnya ia toh harus mengatakannya.
"Apa yang kau tak percaya, tetapi benar?" tanya Sabrina.
"Kau pun mengetahuinya Ina."
"Apa yang aku pun tahu?"
"Di bawah hidungmu. Tidak ada parit."
Sabrina terkejut. Dia raba bawah hidungnya, ada. Parit itu ada. Jelas terasa olehnya. Dan memang benar
parit itu ada. Mata Fadli telah tertipu oleh cerita paman yang begitu sungguh-sungguh. Dan memang
pamannya itu mengatakan yang sebenarnya. Bahwa Sabrina anak Maulana gelar Sutan Rimbogadang.
Sabrina segera mengerti apa maksud Fadli. Ia hendak mengatakan bahwa Sabrina cindaku, harimau jadi-
jadian betina. Sebab ayahnya harimau jadi-jadian.
Sabrina menerima nasib tanpa protes. Sangat menyakitkan hati. Tetapi itulah suatu nasib yang benar-
benar sudah jadi suratan badan. Cinta kasih yang begitu indah bisa putus mendadak. Secara sepihak tanpa ada
kesempatan bagi pihak lain untuk pantas mengatakan bahwa yang demikian tidak adil. Di dunia memang tidak
selalu ada keadilan. Bahkan hakim yang diharapkan adil pun selalu menjatuhkan vonis yang tidak adil. Sengaja
tak mau adil dan tidak perlu takut pada siapapun di dunia ini. Atau tanpa sengaja telah menjatuhkan hukuman
yang tidak adil.
Keadilan sejati hanya ada kelak. Di dunia yang lain, di mana bukan hanya manusia-manusia semacam apa
yang ada di permukaan bumi ini yang menjadi hakim. Di sana manusia yang jadi hakim itu sendiri akan diadili
oleh Hakim yang tidak bisa keliru dan tidak bisa dibeli. TUHAN, hanya Dia Hakim yang benar-benar maha
adil. Terhadap keputusanNya tidak ada tertuduh yang bisa naik banding. Tidak seperti di dunia ini. Hakim
lain yang dinamakan hakim Pengadilan Tinggi bisa mengubah keputusan Pengadilan biasa. Lalu Mahkamah
Agung bisa mengubah keputusan Pengadilan Tinggi.
Sedih hati Sabrina tak mudah dilukiskan dengan katakata. Bukan terutama karena kehilangan seorang
manusia bernama Fadli! Dia bukan wanita lemah yang mau minta dikasihani. Bukan macam dia orangnya yang
mau mengemis kasih. Dia sedih karena dia ditakdirkan menjadi anak cindaku. Tidak cukup kematian ayahnya
membuat dia berurai air mata tatkala ia baru berusia sebelas tahun. Kini ia merasa dihina oleh manusia yang
pernah memeluk menciuminya sambil melagukan senandung cinta yang maha indah.
Sejak itu Sabrina menjauhkan diri dari laki-laki. Padahal tak sedikit yang berdaya upaya dengan segala
macam cara mendekati dia. Yang tampan, yang berkedudukan baik, yang kaya, semua ads. Kalau mau dikata

SERIAL MANUSIA HARIMAU 76


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sabrina tinggal pilih sebenarnya tidak berlebih-lebihan. Beberapa orang muda mengadu untung dengan
berkirim surat. Ada yang sekedar ingin berkenalan sebagai awal dari kisah yang diharapkan akan panjang. Ada
yang cukup konyol untuk serta-merta menyatakan cinta dan mau berbuat apa raja demi cintanya pada
pandangan pertama itu. Kalau dikaji-kaji cara orang menyatakan cinta, entah cinta monyet entah pun cinta
gombal, kita akan merasa geli. Dan kadang-kadang juga kasihan.
Semua itu tidak bisa lagi menggugah hati Sabrina yang telah dijauhi oleh Fadli karena ia anak cindaku. Ia
bahkan benci! Mereka itu menyatakan ingin berkenalan atau ingin bersahabat intim, semata-mata karena ia
cantik. Bilamana kelak mereka telah mengetahui atau mendengar raja, bahwa is anak harimau jadi-jadian,
maka mereka akan serta-merta menjauhkan diri. Karena merasa takut atau merasa malu. Siapa pula yang mau
bercintaan dengan anak cindaku. Kalau si cantik mendadak jadi harimau, yang lazimnya ganas dan pemakan
daging apa raja, pacar atau suami pun pasti akan dikoyak dan disantapnya.
Tetapi beberapa hari setelah ia bertemu dengan Erwin di pesawat dari Ujungpandang ke Jakarta, perasaan
yang tak disukainya itu timbul di dalam dirinya. Ia teringat-ingat pada pemuda itu, yang pada pertemuan
kedua ternyata telah menjadi duda dengan cara yang amat tragis. Kemudian, tanpa dapat dilawan ia begitu
ingin membunuh babi hutan yang berasal dari manusia itu. Ia ingin menunjukkan kepada Erwin bahwa dia
benar-benar sahabat yang setia. Semua keinginan itu karena perasaan yang pernah padam sama sekali setelah ia
dijauhi Fadli.

***

APA yang disaksikan Erwin bukan mimpi. Sabrina telah berubah rupa. Walaupun tidak atau belum seluruhnya
jadi harimau, tetapi ia bukan lagi Sabrina yang cantik tadi. Kemudian hidungnya berubah jadi hidung harimau.
Mukanya berbulu. Tetapi matanya tetap mata manusia. Mata Sabrina yang indah. Rambutnya pun masih
rambut Sabrina yang ikal sampai ke bahu. Perubahan itu berlangsung terus. Tidak seperti Erwin dari manusia
berubah ke harimau. Prosesnya lain. Kini tangan dan kakinya berbulu. Serupa harimau. Erwin memperhatikan
dengan perasaan tegang. Yang disaksikannya adalah perubahan manusia ke ujud harimau. Inikah yang
menyebabkan Sabrina tidak takut tatkala ia di pesawat melihat tangan Erwin pelan-pelan ditumbuhi bulu
harimau? Sebangsakah dia dengan Sabrina? Ada hubungan keluargakah? Kenalkah ia pada orang tua Erwin,
Dja Lubuk dan Saodah?
"Percayakah kau kini, mengapa aku minta diberi kesempatan untuk menghadapi manusia babi yang telah
menimbulkan bencana atas dirimu Erwin?" tanya Sabrina.
"Kau Sabrina, kau," kata Erwin tanpa sanggup meneruskan.
"Benar, aku manusia harimau atau katakanlah wanita harimau! Ayahku cindaku!"
"Adduuuh Sabrina . . ." lagi-lagi Erwin terhenti dengan kalimatnya.
"Apanya yang aduh. Kau kasihan padaku? Tak usah Er, aku bukan orang yang suka dikasihani. Sudah
begini penentuan. Kuterima apa adanya," Sabrina terdiam dan pada wajahnya membayang suatu perasaan duka
yang tak tersembunyikan. Kemudian air mata itu! Yang tak pernah kering manakala ia teringat akan peristiwa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 77


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

yang menimpa ayahnya dan mereka sekeluarga, pada hari Jumat naas yang membuat mereka jadi buah bibir
orang sekampung.
"Kalau ada yang kusedihkan Er, maka ia hanya malapetaka yang menimpa diri ayahku!"
"Di mana beliau sekarang? Di Jakarta ini?"
"Ia telah tiada. Dikeroyok dan dibunuh orang. Padahal ayahku itu tak pernah menyakiti siapapun. Itulah
yang tak dapat kulupakan!"
"Tetapi mengapa?" tanya Erwin.
Meskipun dalam keadaan masygul oleh kenangan, Sabrina menceritakan juga secara singkat bagaimana
peristiwa itu terjadi. Erwin dapat merasakan betapa besar dukacita keluarga Sabrina. Tentu tak kalah getirnya
dari bencana yang menimpa dirinya.
"Siapa kepala pengeroyok itu Ina?" tanya Erwin.
"Mengapa? Itu sudah lama berlalu."
"Tiap orang ramai mengeroyok mesti ada yang jadi biang keladinya!"
"Memang ada. Sutan Mandiangin, jago silat di masa itu. Semua orang takut padanya. Mengapa kau
tanya? Kau takkan kenal padanya!"
"Ah tidak apa-apa. Sekedar tanya saja," sahut Erwin. Dan nama itu diingatnya baik-baik di dalam
benaknya. Sutan Mandiangin, jago silat di daerah Sungai Penuh.
"Kita kini lebih bersahabat, bukan?" tanya Sabrina. Erwin hanya memandang. Tanpa kata, tetapi cukup
jelas bagi Sabrina. Dan ia senang. Banyak alasan untuk merasa senang, walaupun ia harimau jadi-jadian betina.
Sabrina bertanya, apakah Erwin kini mau memperkenankannya turut serta mencari babi manusia itu.
Tetapi Erwin tetap menolak dengan halus. Bukan urusan gadis itu, walaupun mereka bersahabat.
"Persahabatan tak usah diikat dengan mempertaruhkan nyawa Ina," kata Erwin.
"Tetapi aku ingin membunuhnya karena ia membunuh istri dan anakmu. Orang semacam itu harus
dibinasakan. Aku ingin ia merasakan bagaimana seorang wanita tak sempurna semacam aku ini bisa
merupakan lawan yang tak terkalahkan olehnya. Kau beri aku peluang ini sahabat baikku yang malang," kata
Sabrina. Ia berkata seperti merayu, tetapi sebenarnya Sabrina hanya menyampaikan apa yang benar-benar
terasa di dalam hatinya. Dan Erwin pun dapat merasakan bahwa wanita itu hanya berkata seadanya saja. Bukan
hendak mengambil muka dan sama sekali bukan bermaksud takbur terhadap manusia babi yang amat ganas
itu.
"Aku dulu mencobanya Ina, kalau aku gagal, kau turun tangan. Binasakan dia sesuai dengan keinginanku
dan setimpal dengan kebuasannya yang tak kenal batas."
"Kalau begitu kehendakmu apa boleh buat. Tetapi aku masih ingin mengatakan bahwa kau
mengecewakan harapanku Erwin."
"Mengecewakan untuk kebaikan masih jauh lebih baik daripada mengizinkan untuk kebinasaan. Apakah
tidak begitu pendapatmu?"
"Cara berpikirmu itu baik sekali. Tetapi aku tidak akan binasa."
"Baiklah kalau begitu, pada lain kesempatan!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 78


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Lain kesempatan katamu? Apakah kau masih punya musuh-musuh lain?"


"Musuh tidak selalu kita ketahui dan tidak selalu kelihatan Ina."
"Kau amat bijaksana!"
"Entahlah. Aku tidak merasakannya. Aku dapat dikatakan bijaksana kalau aku tadinya membawa serta
anak dan istriku ke Ujungpandang."
"Erwin, aku ingin bertanya. Kau tidak akan marah? Kita sudah bersahabat bukan? Aku begitu ingin
mengetahui lebih banyak tentang dirimu!"
"Kau sudah mengetahui apa yang kau perlu tahu. Bahwa aku manusia harimau yang saban waktu bisa
berubah ujud."
"Aku tidak iebih beruntung dari kau Erwin. Kau telah melihatnya," kemudian Sabrina secara berangsur-
angsur menjadi manusia biasa kembali. Seorang gadis cantik dengan mata jelita. Baru Erwin seorang melihat
bahwa ia bisa berubah rupa. Baru kali itu pula Sabrina mengalami perubahan. Ketika akan berubah tadi ia
seperti melihat ayahnya yang telah meninggal delapan tahun yang silam. Dan inilah untuk pertama kali
Sabrina mengetahui bahwa ia pun seorang cindaku. Pada umur sembilan belas tahun baru kecindakuan itu
menjelma ke dalam dirinya. Anehnya ia tidak merasa takut dan tidak menyesal. Mungkin karena sahabatnya
itu juga seorang manusia harimau. Mungkin karena keadaan dirinya menyebabkan ia merasa lebih dekat
dengan Erwin. Sebenarnya ia heran mengapa ia menyukai Erwin setelah diketahuinya orang muda itu bukan
manusia wajar. Padahal pada saat itu ia belum tahu bahwa ia pun cindaku seperti ayahnya.
"Kapan kau berangkat mencari babi itu?" tanya Sabrina.
"Besok. Sesuai dengan nasehat kakekku!" jawab Erwin.
Sabrina ingin bertanya bagaimana kakek Erwin memberi nasehat, tetapi ia menahan diri. Timbul dugaan
dalam hatinya bahwa Erwin masih punya hubungan dengan kakeknya yang mungkin manusia harimau juga di
masa hayatnya. Ia memandang Erwin dengan mata indahnya dan manusia harimau itu tunduk bagaikan tak
kuat menghadapinya. Ada daya penakluk tersendiri dalam pandangan gadis itu. Setelah mengucapkan selamat
jalan dan agar hati-hati, Sabrina pergi, diikuti oleh mata Erwin yang menaruh simpati besar terhadap dirinya.
Setelah sekitar dua puluh meter jauhnya. Sabrina menoleh dan pandangan mereka bertemu lagi. Sabrina
merasa malu, begitu juga Erwin. Dalam pertemuan pandang itu seolah-olah keduanya berbicara. Setidak-
tidaknya dengan hati. Sepeninggal Sabrina, gadis harimau jadi-jadian itu menjadi pikiran Erwin. Begitu pula
sepanjang jalan manusia harimau dari Tapanuli itu tak lepas dari ingatan Sabrina.

***

KEMATIAN istri dan anaknya harus dan mesti dibalas. Ki Ampuh si babi manusia harus membayar dengan nyawa
untuk itu. Begitulah tekad Erwin. Tetapi ia juga menyadari bahwa tekad manusia masih harus dibuktikan oleh
kenyataan. Tercapai atau tidak.
Malam itu Erwin tak dapat tidur nyenyak walaupun hatinya tidak bergoncang. Beberapa kali babi
manusia itu membayang di hadapannya, bahkan terdengar ia berkata seolaholah mengejek. "Kau tak akan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 79


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mampu melawan aku. Kau hanya manusia harimau. Aku adalah penjelmaan dari manusia. Sama dengan ayah
dan kakekmu. Penjelmaan dari manusia yang pernah hidup. Kau Erwin belum pernah mati. Tak tahu
bagaimana rasanya mati. Orang yang belum pernah mati tak akan dapat menundukkan makhluk yang hidup
kembali setelah mati. Tanamkan itu dalam benakmu yang bodoh, yang mau coba-coba melawan aku. Baru
seminggu istri dan anakmu mati, kau sudah jatuh cinta pada wanita lain. Betapa hinanya kau!" Panas hati
Erwin bukan buatan. Tetapi, malu juga! la dikatakan Ki Ampuh sudah jatuh cinta pada wanita lain. Tentu
maksudnya Sabrina. la tidak tahu apakah tuduhan babi manusia itu benar atau sama sekali tidak beralasan.
Apakah ia jatuh hati pada gadis cindaku itu? Entah! Pukul tiga pagi Erwin meninggalkan rumahnya. Begitu
pesan Raja Tigor, harus setelah lepas tengah malam menjelang subuh. Begitu keluar pekarangan ia mendengar
tawa Ki Ampuh. Terbahakbahak, kemudian mendengkur. Dengkur babi. la melihat ke sekitarnya, tiada babi.
Tiada siapapun. Kemudian terdengar suara tawa dan dengkur itu dari tempat lain, begitu dekat dengan dirinya,
tetapi toh tak kelihatan suatu apa pun: Setelah itu dari tempat lain lagi. Tentu musuhnya itu ada di sekitarnya
dan berpinclah-pinclah tempat, tetapi tak tampak oleh Erwin. Suatu pertanda dari ketinggian ilmu
menghilangkan diri atau mengaburkan mata lawan.
"Dulu kau pernah mempermainkan aku, ingat! Kau dapat menghilang, aku tak sanggup melihatmu. Kini
sudah lain, Erwin."
Erwin merasakan kebenaran kata-kata Ki Ampuh. Dia memang sudah lebih hebat. Mungkin dia masuk
kota tanpa terlihat oleh siapapun. itulah makanya ia begitu bebas melaksanakan keganasannya. Erwin tidak
menjawab. la berjalan terus mengikutkan- kehendak kakinya. Ki Ampuh tentu melihat dia. Bukan hanya dia.
Erwin tidak tahu bahwa sepasang mata lain juga memperhatikan gerak jalannya sejak ia keluar rumah. Dan
makhluk yang empunya mata ini juga mendengar tawa, dengkur dan kata-kata Ki Ampuh.
"Hai Erwin, kini aku pergi. Kau carilah aku. Nanti kita bersua, kalau kau dapat menemukan diriku," kata
Ki Ampuh. Ucapan ini didengar pula oleh makhluk yang mengintai. la terus mengikuti Erwin, sehingga ia
melihat manusia itu berubah menjadi harimau yang dengan langkahlangkah lebar meneruskan perjalanannya.
Mata itu merasa takjub. Cindaku dapat berubah menjadi harimau, sebagaimana harimau di rimba. Tetapi laki-
laki yang diamatinya ini tidak demikian. Kepalanya tetap kepala manusia dengan rupa yang tidak berubah.
Mulai leher dan bagian badan lainnya ia harimau. ia pernah mendengar tentang adanya keajaiban begitu di
daerah Mandailing. Kini ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Kiranya manusia harimau benar-benar
harimau dengan kepala manusia. Tiba-tiba makhluk itu berhenti sejenak, lalu mengambil jalan lain. la punya
rencana sendiri yang diharapnya akan dapat terlaksana. Erwin tak tahu ke mana ia akan mencari Ki Ampuh
yang tadi berkata akan pergi dan kemudian tidak memperdengarkan tawa dan suara lagi. Mengapa babi
jahanam itu tadi tidak menyerang dia padahal ia dapat melakukannya dengan mudah? Rencana apa yang
mengulat di dalam otak kotornya? Akan memasang jebakankah ia, agar ia dapat menangkap hidup musuhnya
itu untuk kemudian ia memperlihatkan diri dan tertawa sepuas hatinya melihat manusia harimau itu
dilumpuhkan?
Bagaimanapun yakin akan kehebatan kemampuannya, kini Erwin bimbang dan cemas. Ayah dan
kakeknya telah mengakui bahwa mereka hanyalah makhluk-makhluk yang mempunyai banyak kekurangan dan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 80


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kelemahan. Tentu ia sendiri pun mempunyai kekurangan dan kelemahan itu. Ia bukan takut mati, karena mati
adalah tunangan bagi semua makhluk yang hidup di bumi. Tuhan ini. Tetapi betapa akan sakitnya mati
dikalahkan Ki Ampuh tanpa dapat menebus dosanya atas kematian anak dan istrinya. Kalau bersama mati
dengan musuhnya itu masih lumayan. Khawatir dendam tak terbalas maka dalam hati Erwin mohon agar ayah
dan ompungnya sudi datang membantu manakala ia terjepit atau tak berdaya menghadapi manusia babi itu.
Erwin berjalan terus, tetap tanpa tujuan. Hanya mengikuti ke mana dibawa kakinya. Liwat Ciputat ia
masuk ke pekarangan rumah orang, terus ke belakang, akhirnya berada di sebuah kebun karet yang tak
terpelihara. Mungkin karena harga getah dirasakan terlalu rendah, tak sesuai dengan tenaga atau biaya yang
harus dikeluarkan untuk menyadap serta menyianginya. Manusia harimau itu berhenti sejenak. Kebun karet
yang penuh semak-semak di Sumatera memang jadi kesenangan harimau. Kalau perut lapar dan ada manusia
sedang menyadap getah, maka ia akan mendapat santapan. Cukup sekali lompat dan terkam dari belakang. Si
penyadap getah akan berhenti hidup, sementara sang raja hutan akan kenyang. Lepas dahaga oleh darah segar
dan hilang lapar oleh daging yang manis. Mana pula Ki Ampuh akan ke mari. Kebun karet bukan tempat
kesenangan babi hutan. Tetapi Erwin sampai di sana pun karena bawaan kakinya, bukan karena tujuan hati.
Kini ia sadar, bahwa kakinya telah membawanya ke tempat yang salah, ia berpikir, ke mana akan mencari
manusia babi itu. Kalau ia pun suka makan ubi atau singkong seperti babi hutan lainnya, maka Erwin harus
mencarinya di kebun singkong. la telah mengambil keputusan untuk memutar langkah, tetapi terhenti kembali.
la mendengar suara tawa dan dengkur lagi. Ki Ampuh, tentu tidak keliru.
Tetapi apa yang dikatakannya? Erwin memasang telinga. Bukan terhadap dirinya. Apakah manusia babi
itu sedang menghadapi mangsa lain yang akan dibunuhnya sebagaimana ia membunuh anak dan istrinya.
Apakah Ki Ampuh telah menjadi sadis yang harus selalu membunuh untuk memuaskan nafsu iblisnya? Boleh
jadi. la telah begitu marah pada dunia ini! Orang bisa bersenang-senang dengan istri atau kekasih masing-
masing, sedangkan dia sebagai babi tidak dapat melakukannya. Padahal ia pun punya keinginan dan nafsu.
Bukan nafsu terhadap babi biasa! Ia masih saja ingin tidur dan bercumbu dengan manusia. Dan harus wanita
yang cantik!
Erwin menuju ke tempat suara Ki Ampuh. Kini ia dapat mendengarnya.
"Bodoh kau! Semuda dan secantik ini mencintai harimau!" Ki Ampuh berkata tenang dengan nada mem-
pengaruhi orang yang dilawan bicara. Siapakah orang itu? Dan perempuan apa yang dikatakan Ki Ampuh
mencintai harimau? Mustahil ada manusia cinta pada binatang buas. Mustahil. Sama sekali tidak bisa masuk
akal. Tetapi mendadak Erwin terkejut dan tak percaya akan penglihatan matanya.
Di sebelah sana berdiri seorang perempuan. Muka ganas yang bertelinga harimau dan cilaka. Perempuan
itu adalah Sabrina yang sedang mengalami perubahan menjadi harimau, sebagaimana pernah dilihat Erwin
kemarin, ketika ia minta diberi kesempatan untuk mencari dan membunuh manusia babi yang amat ganas itu.
Sepuluh meter di hadapan wanita itu tampak babi hutan, berbadan besar dengan taring-taring panjang. Kedua
makhluk itu saling berhadapan. Pohon karet di antara dan di sekitar mereka.
Berbeda dengan kemarinnya, kini mata Sabrina tidak lagi memandang lembut dan kelihatan indah. la
kelihatan ganas dan bernafsu sekali untuk menaklukkan lawannya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 81


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Harimau masih jauh lebih baik dari babi hina seperti kau," kata Sabrina. "Menjadi hakku untuk
menyukai siapa atau apa pun yang kupilih. Tidak peduli apakah itu singa atau gajah. Asalkan jangan babi.
Apalagi babi hutan yang bangkit dari orang yang sudah mati."
Ki Ampuh merasa dihina. Kini ia bukan lagi hanya ingin membunuh si perempuan yang ternyata bukan
pula wanita wajar, tetapi ia hendak melampiaskan nafsunya dulu. Apalagi Sabrina hanya mengalami perubahan
pada wajah. Pun belum serupa harimau seluruhnya. Badannya masih tetap manusia. Badan Sabrina yang
berpotongan indah. Dan tadi, ketika ia mula-mula menghadapi perempuan itu, jelas tampak olehnya betapa
cantiknya perempuan itu. Ia sudah cukup lama berpuasa. Maka kesempatan ini tidak akan dilewatkan.
"Hanya sekiankah perubahanmu wanita muda dan ayu?" tanya Ki Ampuh mengejek. Ia tidak perlu
merayunya. Dengan cara bagaimanapun ia akan menguasai perempuan itu dan memuaskan nafsu atas dirinya.
Dan memang perubahan Sabrina hanya sebegitu. Dalam hati ia meminta agar ia dijadikan cindaku.
Sebenarnya ia kesal mengapa di waktu perlu begini ia tidak jadi harimau seperti ayahnya. Agar dapat
membunuh sebagaimana ayahnya itu dapat membunuh ketika orang banyak hendak menghabiskan nyawanya.
Erwin mengikuti adegan-adegan itu dengan hati tegang, tetapi dengan segala kekuatan menahan dirinya. Kini
ia mau memberi kesempatan kepada sahabatnya yang tidak bisa dicegah itu. Biar ia puas, pikir Erwin di dalam
hati. Tetapi kemudian ia pun jadi gelisah. Sabrina tidak menjadi harimau.
"Kesaktianku membuatmu tidak bisa berubah lebih daripada itu. Kau masih tetap wanita muda dan
cantik. Terus terang, aku ini lapar. Bukan lapar perut. Kau tahu maksudku bukan? Aku Ki Ampuh yang kau
hina sebagai babi hutan mengucapkan terima kasih atas kehadiranmu di sini. Kau tentu menyenangkan sekali,
tak kalah dari kesenangan yang biasa diberikan istri-istriku!" lalu babi itu bergerak ke arah Sabrina yang telah
membuat nafsunya bergelora.
"Tunggu," kata Sabrina membentak. Ia mengaum seperti harimau untuk membuat takut babi yang
hendak memperkosanya itu. Dan Ki Ampuh yang sedang diamuk nafsu memang terhenti, karena agak
terkejut. Tetapi hanya sesaat karena perempuan itu tetap saja tidak mengalami perubahan lebih lanjut. Ki
Ampuh tertawa.
Melihat babi hutan itu melangkah pelan-pelan dengan keyakinan penuh akan kemenangannya, harimau
cindaku betina itu menjadi tegang. Ia punya keberanian besar dan tekad bulat, tetapi mengetahui sepenuhnya
bahwa ia tidak punya senjata yang akan dapat diandalkan. Kuku kaki dan tangannya tidak mengalami
perubahan. Kalau saja berubah menjadi kuku harimau yang panjang dan kuat, maka dengan mudah ia akan
mencabik-cabik tubuh babi itu. Setidak-tidaknya begitulah pikiran Sabrina.
"Jangan takut cantik," ujar babi hutan itu seperti laki-laki menenteramkan seorang wanita. "Aku tidak
akan mencederai dirimu. Kalau kau menyerah baik-baik, kau akan merasakan kesenangan sebagaimana biasa
kuberikan kepada istri-istriku."
"Jangan mendekat lagi!" bentak Sabrina.
"Kau berani dan angkuh," kata babi itu. "Aku gemar akan wanita yang begitu."
"Tetapi aku tidak suka pada babi."
"Tak mengapa. Kesukaanmu tidak menjadi syarat mutlak bagiku."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 82


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Akan kubunuh kau!"


Babi itu tertawa membuat sakit hati Sabrina. Si manusia harimau mengikuti adegan-adegan itu dengan
perasaan tegang. Ia kagum akan kenekatan perempuan itu tetapi ia pun melihat bahwa ia bukan cindaku yang
sempurna. Ia akan dimakan oleh nafsu Ki Ampuh.
Tiba-tiba Erwin mengaum. Lebih keras daripada biasa. Ki Ampuh terkejut dan menoleh ke arah
datangnya suara. Sialan benar, hajatnya dihalangi oleh bajingan yang tak tahu diri itu, pikirnya di dalam hati.
Lebih dari sial malah. Selalu saja musuh yang sebiji ini menghalangi maksudnya. Babi itu mendengkus keras
kemudian berkata lantang: "Kedatanganmu memang kunantikan. Walaupun saatnya tidak tepat," katanya
berterus terang. Erwin tidak menanggapi. Sabrina merasa akan tertolong dari kebinasaan. Betapa akan getirnya
kalau ia yang masih dara sampai diperkosa oleh manusia terkutuk yang jadi babi hutan itu.
"Menghindar kau Sabrina," perintah Erwin. Dan wanita yang sudah setengah harimau itu mematuhi
bagaikan anak kecil menurut perintah ibunya.
Manusia harimau itu melangkah maju dan kini berhadap-hadapan dengan si babi yang kecewa dan amat
marah itu. Mata kedua makhluk itu saling pandang bagaikan memancarkan api, walaupun babi itu hanya
bermata ukuran kecil.
"Tak jemu-jemunya kau melakukan kejahatan bedebah," kata si harimau.
"Kepalang mandi, biarlah benar-benar basah," sahut babi hutan.
"Kau pengecut, membunuh anak dan istriku yang tak berdosa."
Ki Ampuh tertawa mengejek. "Kau harus merasakan kepedihan sebagaimana yang kurasa. Walaupun
sebabnya berlainan."
"Kau jadi babi karena melanggar sumpahmu!"
"Tidak peduli karena apa. Aku tuntut jadi manusia kembali, kau dan ayah serta kakekmu tak mau
menolong. Maka kau harus merasakan balasanku!"
"Kenapa kau pilih anak dan istriku."
"Aku bebas memilih cara yang kusukai, bukankah begitu?"
Erwin menjadi sangat panas. Ki Ampuh bukan menyesal, bahkan merasa bangga atas apa yang telah
dilakukannya.
"Kau tidak bisa dibikin baik lagi babi!"
"Siapa yang minta dibikin baik," jawab Ki Ampuh sombong.
"Hari ini kau akan menerima kematianmu!"
"Mati untuk kedua kalinya? Kau memang jantan Erwin, tetapi kau juga makhluk cacad. Kau mengerti
bukan? Manusia bukan, harimau benar juga bukan! Apa yang mau kau banggakan?"
Erwin marah tetapi apa yang dikatakan Ki Ampuh memang benar. Dia pun tahu bahwa babi itu mau
menggoyahkan mentalnya dengan penghinaan ini. Kemudian Ki Ampuh berkata lagi: "Pandai juga kau cari
pasangan. Perempuan yang harimau jadi-jadian. Rahasiamu sudah diketahui masyarakat hah. Kau tidak laku
lagi buat wanita biasa!" Hati Erwin bertambah panas. Sabrina yang mengikuti perang kata itu dengan tegang
juga merasa sangat tersinggung. Tetapi dia tahu, bahwa cindaku dengan kuku manusia tidak akan bisa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 83


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

menghadapi babi hutan bertaring panjang dan kuat.


"He, kau kata kau mau menamatkan riwayatku pagi ini! Apa lagi, lakukanlah!" tantang Ki Ampuh.
"Kau akan mati Ki Ampuh!" kata Erwin menahan amarah.
"Kau juga sombong sekarang. Aku mau katakan ini sebagai nasehat: Sukar mematikan aku yang sudah
pernah mati!"
Erwin menyerang, Ki Ampuh mengelak. Kemudian babi itu membalik dan menyeruduk manusia
harimau. Tapi anak Dja Lubuk yang pandai silat itu juga sempat menepiskan pukulan itu. Kalau taring-taring
Ki Ampuh yang kuat dan tajam mengena, pastilah akan menimbulkan luka parah.
Pertarungan antara babi dengan harimau memang seperti tak seimbang. Tetapi yang terjadi sekarang
adalah antara dua makhluk yang sama-sama punya kebolehan dan kesaktian. Si babi punya tenaga besar dan
bergerak cepat.. Sang manusia harimau juga begitu. Kedua-duanya punya tekad yang sama. Membinasakan
sampai mati lawannya supaya dendam terbalas dan permusuhan selesai. Sekali, manusia harimau mengambil
ancang-ancang untuk menerkam. Tetapi ketika ia melompat untuk menerkam, babi itu pun melompat dan
keduanya bertemu di udara. Babi dengan taring-taringnya yang dahsyat sementara si harimau dengan kuku-
kuku yang amat kuat dan tajam. Kedua-duanya menderita luka. Manusia harimau tertembus lehernya
sementara kepala babi itu mendapat luka-luka dalam oleh kuku lawannya. Ki Ampuh mendengkur-dengkur,
Erwin mendengus-dengus. Sama-sama merasa sakit dan menahan amarah. Dan sama-sama pula ingin
menyelesaikan pertarungan itu. Tapi kedua-duanya masih mempunyai tenaga yang mungkin meningkat oleh
rasa dendam.
"Kau lihat sendiri Erwin," kata Ki Ampuh melancarkan perang syarafnya, "Tidak mudah menaklukkan
aku. Kesaktianku kini lebih daripada dulu!" Erwin tidak menanggapi, tetapi dalam hati ia mengakui, bahwa
memang tidak mudah menundukkan manusia babi itu. Bahwa ia punya kesaktian, tidak diragukannya.
Kalau hanya babi hutan biasa, sudah sejak tadi punah oleh tamparan dan guratan kuku-kukunya.
"Kau tak mau minta bantuan ayah dan ompungmu?" tanya Ki Ampuh menyindir.
Erwin merasa malu, tetapi tidak menanggapi. Ia menerkam lagi dan keduanya terlibat dalam suatu
pergumulan. Babi itu ternyata punya kekuatan luar biasa. Dalam pergumulan itu kedua-duanya
mempergunakan senjata masing-masing, sehingga jumlah luka-luka bertambah. Napas mereka terdengar
mendengus-dengus tanda mulai letih. Tetapi juga oleh ketegangan dalam diri masingmasing. Ternyata babi itu
juga mempunyai daya tampar yang kuat dengan kaki depan dan dapat menendang dengan kaki belakang.
Setelah beberapa menit bergelut, keduanya saling berhadapan dengan darah mencucur dari tubuh
masing-masing. Sabrina menyaksikan dengan jantung berdebar dan kasihan yang bercampur dengan
kesedihan. Kalau tidak ada Erwin, dan dia coba menghadapi babi itu, pasti ia sudah bukan dara lagi. la tidak
berani membayangkan bagaimana dirinya diperkosa oleh babi hutan yang seganas itu. Tiba-tiba datang suatu
pikiran lain dalam benak Ki Ampuh. Kalau akhirnya Erwin dapat dikalahkannya, maka wanita itu dengan
sendirinya jatuh ke tangannya dan ia dapat memperlakukannya semau hati. Tetapi andaikata Erwin dapat
mengalahkannya maka musuhnya itulah yang akan beruntung. Ia tidak rela. Seiring dengan pikiran itu ia
melompat dan membuat Sabrina jadi tameng. Ia berdiri atas dua kaki sedang kaki depannya memegang kedua

SERIAL MANUSIA HARIMAU 84


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

bahu Sabrina yang sementara itu telah menjadi wanita biasa kembali. Cantik menggiurkan. Erwin terkejut dan
menyadari bahaya besar yang mengancam. Sabrina sendiri takut setengah mati. Ia mengetahui dirinya telah
menjadi manusia biasa kembali. Bau tubuh wanita itu membangkitkan nafsu sang babi lebih hebat lagi. Betapa
akan puas dia, kalau tidak ada rintangan dari manusia harimau bajingan itu.
"Kau pengecut," kata Erwin. Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana menyerang musuh tanpa memper-
taruhkan keselamatan Sabrina.
"Ngocehlah sesuka hatimu," kata Ki Ampuh. Kepada Sabrina ia berkata: "Kau tidak usah bingung. Aku
dan dia sama saja. Aku babi, dia harimau. Tidak ada yang lebih bail~ atau lebih buruk bukan!"
Sabrina tidak berkutik. Baginya, babi itu begitu menjijikkan, tetapi mau berbuat apa? Adegan
menakutkan itu berlangsung agak lama juga. Erwin benar-benar tidak tahu akan melakukan apa untuk
menyelamatkan Sabrina. Babi itu begitu bernafsu pada wanita yang mulai besar artinya bagi dirinya. la begitu
ingin memperlihatkan persahabatan dan kemampuannya sehingga ia diam-diam telah mengikuti jejak Erwin
sejak ia berangkat meninggalkan rumah.
Tiba-tiba terjadilah hal yang tidak diduga oleh siapapun di antara mereka bertiga. Babi itu mendadak
berada di gelanggang kembali. Ia bagai dilemparkan. Dan sebenarnyalah ia dilemparkan oleh Dja Lubuk yang
mendadak muncul karena kecurangan Ki Ampuh.
"Aku terpaksa melemparkan kau Ki Ampuh, karena kau melibatkan wanita ke dalam pertarungan ini.
Kau pengecut," kata Dja Lubuk, lalu ia menghilang kembali. Sabrina belum sempat melihat wajahnya yang
hanya bicara di belakang Sabrina kemudian menghilang.
"Sialan kau Dja Lubuk," kata Ki Ampuh. Setelah itu babi itu pun menghilang tanpa bekas. Entah karena
malu meneruskan pertarungan entah karena merasa lebih baik menunggu kesempatan lain. Bagaimanapun
lemparan yang mendadak itu telah amat mengejutkan dirinya.
"Erwin," kata Sabrina berlari mendapatkan manusia harimau itu.
"Mengapa kau begitu bandel Ina. Sudah kukatakan tadi," kata Erwin. Sabrina meneruskan kalimat yang
tak selesai itu. "Bahwa aku tak boleh turut campur."
"Aku amat menghargai pendirian kuatmu, tetapi aku tak mau kau cedera karena aku." Sabrina tidak men-
jawab.
"Kau benar Er, apakah kau marah?" tanyanya sesaat setelah berdiam diri.
"Aku khawatir akan keselamatanmu."
"Aku juga takut terjadi sesuatu yang tak diingini atas dirimu."
"Dia pasti akan mengatur pembalasan, karena pagi ini ia tidak berhasil. Kau telah melihatnya, hebat
sekali bukan?"
"Ya, memang kuat dia. Aku heran, mengapa kukukukuku tidak berubah tadi," ujar Sabrina. "Mujurlah
ada engkau."
"Bagaimana makanya kau tahu ke mana aku pergi?"
"Aku menunggu sejak malam sampai pagi. Aku telah mengikutimu dari belakang."
"Aku tak mendengar."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 85


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Aku dapat berjalan tanpa suara. Khas harimau."


"Mari kita pulang," ajak Erwin. Ia telah berubah jadi manusia biasa kembali.
Kedua sahabat itu pulang. Hanya sesekali bercakap-cakap. Lebih banyak masing-masing dengan pikiran
sendiri. Dan keduanya sama bertanya pada diri sendiri, bagaimana kenyataan seperti ini sampai bisa terjadi.
Yang begini harusnya hanya ada dalam cerita khayalan, tetapi mereka mengalaminya.
Memang mengherankan karena kejadian itu jarang sekali terdengar. Harimau manusia laki-laki
bersahabat dengan harimau jadi-jadian atau cindaku betina. Dan diam-diam saling menaruh hati.
"Ayahmu cinta sekali padamu ya. Sayang aku tak sempat melihat wajahnya."
"Ya, tanpa bantuannya aku sebenarnya sudah kehilangan akal, bagaimana menyelamatkanmu. Babi itu
benar benar telah kalap. Kalap pikiran dan kalap nafsu."
"Mengapa babi bisa begitu?" tanya Sabrina.
"Karena ia tadinya manusia. Sifat dan selera manusianya masih hidup terus dalam dirinya yang berujud
babi."
"Benarkah orang yang sudah mati kemudian hidup kembali dalam ujud lain tak dapat dibunuh rnati?"
"Tiap yang hidup, pada saatnya mesti mati. Itu sudah ketentuan Tuhan."
"Tetapi dia sudah pernah mati. Apakah orang bisa mati dua kali?"
Erwin diam. Sukar untuk dijawab. Ki Ampuh sudah pernah mati, kemudian hidup kembali. Apakah ia
rnasih akan mati pula sekali lagi?
Keluara Sabrina yang kehilangan merasa lega ketika melihat gadis itu diantar pulang oleh Erwin. Namun
merupakan tanda tanya bagi mereka pukul berapa Sabrina pergi, karena ia tidak kelihatan mandi dan tak ikut
sarapan pagi. Erwin menasehati sahabatnya agar berhati-hati. Jangan pergi sendirian. Manusia babi yang
berdendam itu pasti akan mencari kesempatan untuk menyampaikan maksud hatinya.

KI AMPUH kembali ke sebuah lobang tempat ia berlindung terhadap hujan. Luka-lukanya yang cukup parah
diobati dengan semacam daun yang amat mujarab. Erwin juga mengobati luka-lukanya yang tertutup baju
ketika ia sudah kembali di rumahnya. Dengan minyak gosok yang dibawanya dari Mandailing. Luka akan
segera kering, tidak akan bisa infeksi dan tidak akan meninggalkan bekas. Ia tidak berhasil menewaskan
musuhnya yang setelah jadi babi bisa menghilang. Padahal ia telah bersumpah untuk membalaskan kematian
anak dan istrinya.
Meskipun kecewa oleh ketidak-berhasilannya membunuh Ki Ampuh dan pikirannya masih teramat sedih
oleh kehilangan anak dan istri tersayang, namun sebagian dari hati Erwin yang kacau balau itu masih sempat
diambil Sabrina. Rentetan peristiwa yang seperti diatur itu begitu membekas dalam dirinya. Kesal oleh
kehilangan, dendam tak berbalas dan Sabrina yang cantik dan hampir sejenis dengan dirinya semua membuat
pikirannya tak menentu.
Senyampang ia merasa berdosa. Baru kehilangan, hatinya telah mulai dimasuki oleh wanita lain. Memang
benar ejekan Ki Ampuh, ia juga merasa malu oleh kelemahan hatinya itu. Tetapi semua kejadian yang bagai
dirangkai itu bukan buatannya. Semua itu suratan takdir. Benar-benar takdir yang tak dapat dielakkan atau

SERIAL MANUSIA HARIMAU 86


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ditolak. Rasanya tak ada insan lain di dunia ini yang punya nasib seaneh Erwin.
Pada waktu merasa dirinya kecil oleh kekurangan iman dan timbunan dosa, ia mendengar suara ayahnya
lagi. Dja Lubuk yang menyelamatkan Sabrina dari kekuasaan Ki Ampuh. Mengapa ayahnya tahu akan
keselamatan Sabrina yang terancam, sementara ia sama sekali tidak tahu tentang bahaya maut yang akhirnya
mematikan istri dan anaknya. Mengapa harus begitu? Tetapi ia ingat lagi akan kata-kata ayahnya bahwa ia pun
hanya makhluk yang punya banyak kelemahan. Tidak bisa mengetahui segala-galanya sebagaimana manusia
yang sepintar apa pun tidak mungkin mengetahui semua-muanya yang akan terjadi.
"Jangan menyesali nasib, Erwin, ia akan membuat kau merana. Lawan kelemahan hatimu dengan segala
daya dan ketawakalan. Manusia-manusia hebat dan kuat akan binasa oleh kelemahan hati. Yang menentukan
kalah menangnya makhluk Tuhan dalam bertarung dan menempuh hidup bukan besar tegap badan atau ilmu
yang menggunung, melainkan hati yang keras bagaikan baja dan keyakinan yang tak tergoyahkan oleh musibah
apa pun. Tuhan mencoba keimanan hambaNya justeru untuk membuat si hamba jadi lebih kuat. Orang yang
tak beriman akan dimakan oleh ujian Tuhan," kata Dja Lubuk yang belum memperlihatkan diri.
Erwin tidak menjawab, tetapi dalam hati ia mengakui betapa hebat falsafah hidup ayahnya. Mampukah ia
menjalankan ajaran-ajaran dan pedoman hidup itu?
"Jarang orang mempunyai iman dan tahan uji di dunia ini. Tetapi semua orang dengan tangan terbuka
menadah segala rahmat dan keberuntungan yang diberikan Tuhan. Manusia hanya mau yang enaknya. Selalu
marah kalau terjadi sesuatu yang menyedihkan atas dirinya. Yang jahat dan tak tahu diri malah berani
mengatakan atau bertanya tentang keadilan Tuhan. Hanya si murtad yang sanggup mengatakan bahwa Tuhan
tidak adil. Mengapa si jahat dibiarkan selamat dan si pencari nafkah dengan cucuran keringat kadangkala
ditimpa bencana yang mematikan! Mereka tidak tahu atau tidak mau percaya bahwa dalam setiap pemberian
Tuhan selalu terkandung hikmah-hikmah yang sebenarnya amat menentukan bagi nasib abadi tiap hamba
Allah di hari kelak, di dunia lain yang kekal sifatnya," kata ayah Erwin lagi. Erwin kian merasa betapa tinggi
ilmu dunia dan akhirat ayahnya. Apakah ia mampu mengikuti cara berpikir dan keyakinan itu?
"Ayah, aku merasa berdosa," kata Erwin tanpa meneruskan kalimat yang tidak sempurna itu, sehingga
ayahnya bertanya, dosa apa gerangan yang dimaksudnya.
"Aku rasa aku sayang pada Sabrina yang ayah tolong tadi," ujar Erwin.
"Menyayang seorang sahabat sudah suatu keharusan," kata Dja Lubuk. "Kau tidak perlu merasa berdosa
karena memang sama sekali bukan merupakan dosa."
"Tetapi perasaan ini lain. Sedangkan Indah baru saja pergi."
"Maksudmu kau jatuh cinta?"
"Bukankah itu suatu dosa ayah?"
"Husy, cinta apa? Baru beberapa kali bertemu saja jatuh cinta. Cinta monyet?" tanya Dja Lubuk yang
masih saja suka berkelakar seperti di masa hidupnya.
"Tidak ayah, cinta betul. Itulah yang kukatakan dosa."
"Mana ada cinta yang tumbuh dalam waktu sekian singkat. Kalau apa yang kau rasakan itu sebenarnya
cinta dalam makna yang sebenarnya."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 87


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tetapi aku merasakannya ayah. Benar-benar merasakannya!"


Dja Lubuk diam sejenak. Dia tak mau lagi membantah, walaupun dia tidak yakin akan kebenarannya.
"Aneh juga. Tapi sudahlah, sebenarnya kau sudah dewasa dan aku tidak usah mencampuri urusan-urusan
cintamu!"
Kini Erwin yang merasa tidak enak. Apakah ayahnya marah? Dia tanya pada orang tuanya itu apakah ia
marah.
"Tidak, aku cuma tidak mengerti!"
"Dia juga semacam kita ayah. Kadang-kadang jadi harimau!"
Setelah diam sebentar, Dja Lubuk bertanya apakah wanita itu juga punya ayah manusia harimau dan
dirinya manusia harimau pula. Erwin menerangkan, bahwa ayahnya cindaku dan kecindakuannya itu menurun
ke Sabrina.
"Bagaimana, kau percaya?" tanya Dja Lubuk.
"Aku sudah melihatnya. Dan tadi pun dia mulai jadi harimaul Ayah tidak melihatnya?"
"Tak jelas. Ada kelainan padanya. Tetapi kulihat tidak seperti cindaku yang sebenarnya. Cindaku yang
sebenarnya akan seluruhnya jadi harimau kalau sedang ditimpa saat perubahan. Kalau ayahnya cindaku, maka
padanya hanya ada kecenderungan untuk jadi cindaku. Bukan cindaku seperti ayahnya!"
Erwin merasa agak malu karena alasan yang dikemukakannya tidak seluruhnya diterima, bahkan dibantah
oleh ayahnya.
"Ayah tidak setuju?" tanya Erwin.
"Ayah setuju saja. Sebab itu urusanmu. Aku hanya mengatakan bahwa ia bukan cindaku yang sempurna
dan bahwa kau baru beberapa hari mengenalnya. Tetapi mungkin kau tergolong orang yang bisa jatuh cinta
pada pandangan pertama. Sudahlah, tak usah kita perdebatkan hal itu. Aku hanya minta agar kau jangan
mengatakan cinta hatimu padanya, sebelum empat puluh hari istri dan anakmu. Ingat itu baik-baik!"
"Akan kuingat ayah," kata Erwin dan bersamaan dengan itu ayahnya yang tak memperlihatkan diri itu
melangkah pergi. Suara kepergiannya terdengar oleh Erwin. Sebenarnya ia ingin ayahnya tadi berbicara
bermuka-muka dengannya, entah apa yang jadi sebab Dja Lubuk hanya memperdengarkan suara.

AKAN lainlah nasib Sabrina kalau di saat kritis hari itu ia tidak diselamatkan oleh Dja Lubuk. Dengan peristiwa
itu ia mengetahui bahwa ayah Erwin selalu hadir kalau anaknya perlu bantuan dan dengan penyelamatan itu ia
mendapat keyakinan bahwa Dja Lubuk menyukainya dan tentu akan senang pula kalau anaknya hidup
berdampingan dengannya. Dia berharap agar hari-hari bahagia itu segera menjadi kenyataan.
Pada suatu malam, ketika Sabrina mengangan-angankan Erwin, ia jadi terkejut mendengar suara dengkur
yang sudah dikenalnya. Suara Ki Ampuh yang jadi babi. Jelas benar suara itu ada di dalam kamar tidurnya.
"Kau merindukan si harimau keparat itu ya! Dan kau telah menghina diriku, wanita cantik!" kata babi itu.
Sabrina ketakutan dan menjerit sekuat hatinya. Babi itu menyesal, karena ia lupa membacakan mantera
penutup mulut perempuan itu. Mendengar jerit melengking, maka paman dan makcik Sabrina yang masih
duduk-duduk di ruang tengah segera bangkit dan masuk ke kamar kemenakan mereka yang belum dikunci.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 88


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sabrina memang belum bermaksud untuk tidur. Ia hanya mau bertenang-tenang mengkhayalkan Erwin yang
telah memasuki lubuk hatinya.
Sutan Mandiangin dan istri mendapatkan Sabrina yang terbaring di tempat tidur dengan napas terengah-
engah seperti orang dikejar setan. Dadanya turun naik dengan kencang.
"Ada apa Ina?" tanya pamannya.
"Babi itu ... Ia tadi ke mari!" jawab Sabrina dengan suara tidak normal.
"Babi mana? Kau mimpi dikejar babi?"
"Tidak. Babi itu ke mari tadi."
Mandiangin memandang istrinya yang juga memandang dia dan keduanya berpikir bahwa kemenakan
mereka bermimpi buruk atau kena kiriman orang. Sutan Mandiangin, walaupun punya pendidikan cukup,
tergolong orang yang percaya akan kekuatan guna-guna atau ilmu hitam. Gadis secantik Sabrina yang selalu
menolak lamaran peminat bisa saja dibalas laki-laki yang sakit hati dengan jalan mengguna-gunainya.
"Kau benar-benar tidak bermimpi Ina?" tanya makciknya.
"Tidak! Babi itu datang ke mari. Aku tidak keliru."
"Mana pula ada babi masuk kamar."
"Tetapi babi ini tadi datang tante. Ina telah pernah melihatnya!"
Sutan Mandiangin dan istrinya jadi tambah heran.
"Babi apa yang kau lihat?"
"Babi hutan penjelmaan manusia yang sudah mati. Dia ganas. Sudah membunuh seorang wanita dengan
anaknya!"
Mendengar ini ketidakpercayaan Sutan Mandiangin dan istrinya kian besar tetapi di samping itu mereka
juga merasa heran, apakah sebenarnya yang sedang atau telah terjadi.
"Babi ini benar-benar ada Paman," kata Sabrina yang sejak dulu memanggilnya dengan paman sementara
makciknya sudah terbiasa disebutnya dengan Tante.
"Di mana kau melihatnya?"
"Entah di mana. Pendeknya di waktu menjelang subuh."
"Kau tak tahu di mana kau melihatnya? Bukankah itu aneh!"
"Aku tak tahu nama tempatnya. Tetapi aku jelas melihatnya. Bahkan aku sudah mau diterkam untuk ..."
Sabrina tidak meneruskan, sehingga menimbulkan tanda tanya pula di samping keheranan kedua suami istri
itu.
"Untuk apa Ina, mengapa kau tidak menyudahi kalimatmu?" tanya Sutan Mandiangin.
"Dia mau memperkosa Ina. Terang-terang dikatakannya. Dimintanya supaya Ina menyerah saja!"
Tentu saja Sutan Mandiangin dan istrinya kian heran. Kini keheranan lebih besar dari rasa tidak percaya.
Mau percaya juga sukar, karena Sabrina bertemu dengan babi itu menjelang subuh tanpa tahu di mana
bertemunya. Tidak masuk akal, tetapi Ina menceritakannya begitu terperinci dan sungguh-sungguh.
"Kau tidak berkhayal Ina?" tanya Sutan Mandiangin sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.
"Tidak paman. Sumpah, aku mengatakan yang sebenarnya!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 89


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Jangan bersumpah. Terlalu banyak orang mengucapkan sumpah di negara kita ini."
"Sumpahku bukan sumpah main-main. Biar terkutuk kalau Ina bohong."
Jikalau begitu, tentu Sabrina berkata benar, pikir paman dan tantenya. Tetapi mengapa dia tidak tahu di
mana ia bertemu dengan babi itu. Dan mengapa ia bertemu di waktu menjelang subuh? Begitulah pertanyaan-
pertanyaan yang timbul dalam hati suami istri itu.
"Ina mengerti, paman dan tante tentu heran sekali. Pada suatu hari kelak akan kuceritakan atau akan
terbuka juga!"
"Apanya yang terbuka. Kau bicara penuh misteri." "Memang semua ini rentetan dari peristiwa-peristiwa
yang amat misterius. Penuh kabut rahasia. Sukar masuk akal, tetapi toh sesungguhnya benar-benar terjadi."
"Kau melihat babi itu tadi di sini?"
"Tidak. Tetapi dia ada di dalam kamar ini tadi.
Kudengar dengkur dan kemudian kata-katanya dengan amat jelas."
"Apa katanya?"
"Katanya Ina menghina dia dan menyukai orang lain!"
"Benarkah itu?"
"Benar. Setidak-tidaknya ia menganggap Ina menghina karena tak sudi mengikuti ajakannya!"
"Babi itu bicara dan mengajakmu?"
"Ya. Tadi kuterangkan bahwa ia berasal dari manusia yang setelah mati menjadi babi hutan karena
dikutuk oleh sumpahnya."
"Siapa namanya tatkala masih hidup?"
"Ki Ampuh!"
"Apa, Ki Ampuh? Kau tidak keliru Ina. Dia seorang dukun dan ahli onistik yang sangat terkenal!" kata
Sutan Mandiangin. Nama Ki Ampuh memang sampai juga ke telinga Sutan Mandiangin. Begitu juga
ketenarannya. Tetapi ia tidak mengetahui kapan dia meninggal, pun tidak mengetahui petualangannya ke
Banten dan ke Sumatera. Juga tidak diketahuinya permusuhan antara Ki Ampuh dengan manusia harimau.
Hal itu memang tidak banyak orang yang mengetahuinya.
"Mungkin, lna tidak tahu apa kerjanya dulu. Tetapi ia sudah mati dan jadi babi. Dan dialah yang hendak
menyerang dan memperkosa diriku!"
"Tetapi bagaimana maka kau sampai bertemu dengannya?" tanya istri Sutan Mandiangin. la dan
suaminya jadi sangat tertarik dengan kisah penuh rahasia itu.
"Itulah yang belum saatnya kuceritakan sekarang!"
"Mengapa dia hendak menyerang dan memperkosa dirimu Ina?"
"Belum dapat kuceritakan paman."
"Kau berahasia terhadap paman dan tantemu?" Sabrina tidak menyahut. Ia merasa bahwa paman dan
tantenya merasa tersinggung karena ia tidak mau menceritakan kejadian itu dengan selengkapnya.
Tiba-tiba terdengar suara lantang di dalam kamar itu: "Pada suatu saat kau akan menurutkan keinginanku
perempuan sombong!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 90


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Rasa heran Sutan Mandiangin dan istrinya mendadak sontak berubah menjadi rasa takut. Tante Sabrina
bukan hanya menjadi pucat, tetapi seluruh tubuhnya gemetar. Suara itu begitu dekat. Pasti di dalam kamar itu
juga. Tetapi yang punya suara tidak kelihatan. Paman gadis itu membaca beberapa mantera untuk menolak apa
yang dianggapnya hantu atau setan. Tetapi ia pun jadi takut dan malu, karena suara tadi kini dengan lantang
berkata:
"Tak usahlah bersusah payah membaca-baca. Aku tidak dapat kau tolak dengan segala manteramu itu.
Pada suatu hari kau akan jadi mertuaku. Kau sudah tahu aku siapa. Dulu kau pun pernah mengagumi
kehebatanku. Aku Ki Ampuh, yang oleh keponakanmu dihina sebagai babi hutan!" Suara itu diiringi oleh tawa
panjang bernada mengejek.
Sabrina memandang pamannya. Begitu pula istri Sutan Mandiangin. Kini suami istri itu tidak bisa lain
dari percaya, meskipun mereka belum melihat adanya babi hutan di dalam kamar itu.
"Apa yang harus kita perbuat Rini?" tanya Sutan Mandiangin kepada istrinya yuang bernama Marini dan
berasal dari kota Cianjur yang konon banyak melahirkan gadis-gadis cantik. Meskipun sudah setengah baya,
wanita yang tante Sabrina ini memang kelihatan masih cantik. Umurnya sekitar empat puluh tetapi bagaikan
baru 28 saja. Semuanya rapi, ya padat ya montok, padahal sudah melahirkan enam orang anak. Yang tertua
sudah berusia 21 tahun.
Marini tidak tahu harus menjawab bagaimana. Dalam kegugupan dan takut, orang selalu tak tahu apa
yang harus diperbuat. Bahkan kadang-kadang menghindar pun tak kuasa. Seperti_ menyerah saja pada
kekuatan dan kekuasaan yang menyebabkan rasa takut itu.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan Ina?" tanya Sutan Mandiangin kepada kemenakannya.
"Menanti saat ia menampakkan diri!" kata Sabrina.
"Lalu?" tanya Sutan Mandiangin yang sudah seperti jadi bodoh. Sutan Mandiangin yang tadi begitu tidak
percaya pada cerita Sabrina.
"Lalu kita lawan," kata Sabrina meskipun ia sudah mengetahui betapa hebat manusia babi hutan itu.
Mungkin ia lantas saja menjawab begitu karena mengandalkan bantuan ayah Erwin yang nampaknya amat
sakti itu.
"Ina, jangan berkata begitu," kata Sutan Mandiangin takut. "Orang halus sangat marah pada orang yang
takbur! Maafkan kami Pak Ki Ampuh," katanya pula.
"Bagus," jawab suara yang tak mau menampakkan diri itu. "Itu namanya tahu diri. Aku ini tak terlawan
oleh kalian. Bahkan oleh semua manusia yang ada di sekitar sini. He, Sutan Mandiangin aku mau
keponakanmu yang geulis ini, kau tidak keberatan bukan?" Sutan Mandiangin tidak menjawab. Meskipun ia
takut pada suara itu, tetapi ia masih merasa malu pada istri dan kemenakannya untuk mengatakan "setuju".
Oo, dia masih punya rasa malu. Lumayan juga orang ini.
"Jawab Sutan Mandiangin!" perintah suara tadi kini menghardik.
Sutan Mandiangin tetap tidak menjawab. Dia takut memang, tetapi tidak mau menyerah pada
kesombongan. Bagaimanapun orang dari Kerinci ini masih punya harga diri ia bukan cindaku seperti
saudaranya Sutan Rimbogadang dan ia tidak punya ilmu tinggi untuk menghadapi makhluk yang menjelma

SERIAL MANUSIA HARIMAU 91


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dari manusia yang telah mati. Harga diri, modal utama dari manusia yang sebenarnya manusia itulah yang
membuat ia membangkang terhadap perintah Ki Ampuh.
"Kau memaksa aku menjawab, iblis! Aku tidak akan menyerahhkan anakku kepada iblis. Sudah jelas
bagimu?" kata Sutan Mandiangin dengan suara gemetar menahan geram. Bilamana terdesak dan amat tertekan
orang paling penakut pun akan menjadi marah dan bersedia menerima apa saja resikonya.
"O, begini kau, manusia tak tahu diri. Kau akan celaka nanti. Tapi aku yang baik hati memberi kau
kesempatan untuk memikirkannya sekali lagi!" kata suara Ki Ampuh yang masih saja tak mau memperlihatkan
dirinya.
"Tak ada yang perlu kupikirkan iblis keparat. Tunjukkan rupamu, kalau kau benar-benar jantan!" bentak
Sutan Mandiangin.
"Hahha, kau benar-benar ingin melihat aku?" tanya Ki Ampuh.
"Jangan Pa," pinta istri sutan Mandiangin.
"O, kau takut ya," tanya Ki Ampuh pada Perempuan setengah baya itu.
"Ya, saya mohon pergi dari sini. Kami orang-orang tak berdosa," kata istri orang yang telah kalap itu.
"Bagaimana Sutan Mandiangin? Aku beri kau suatu pilihan. Kalau kau merasa sayang pada
keponakanmu, berilah aku istrimu sebagai penukar. Ia juga masih cukup baik. Kau tentu selalu mengetahuinya,
bukan?" Dan babi hutan itu tertawa-tawa.
Hati Sutan Mandiangin kian panas dan kini istrinya pun jadi marah. Babi hutan yang iblis meminta
dirinya. Huh, ini benar-benar keterlaluan!"
"Pergi kau!" bentak Sutan Mandiangin.
"Kau tak melihat aku, bagaimana kau suruh pergi! Hebat aku hah, melihat kalian tapi tak dilihat oleh
kalian. Itu namanya sakti. Dan itu baru satu dari sekian banyak ilmuku yang tak terlawan oleh kalian manusia
biasa yang penuh kelemahan!"
"Tapi kau pengecut! Kau rupanya terlalu buruk dan hina untuk menampakkan dirimu!" kata Sutan
Mandiangin yang jadi semakin berani oleh kekalapannya. Rasa takut sudah hilang ditelan oleh rasa amarah dan
benci.
"Pandai kau memanaskan hatiku. Aku bukan pengecut seperti yang kau katakan. Aku pendendam, kalau
kalian mau tahu. Dan hari ini aku dendam pada kalian. Ini kalau kalian begitu ingin melihat diriku!"
Ketiga manusia yang serasa terejebak di rumah sendiri itu memundang ke arah bunyi suara. Tidak ada
apa-apa, sehingga mereka menanti dengan perasaan tegang.
"Pandang ke mari!" kata suara itu pula dari lain tempat di dalam kamar itu.
Mereka yang seperti dipermainkan memandang ke sana. Dan benarlah di sana berdiri seekor babi hutan
dengan taring-taring panjangnya. Dia mendengkur. Kini pandangan dan dengkur itu mengembalikan rasa
takut ke dalam diri ketiga orang itu.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 92


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Aku akan membalas! Tidak sekarang. Terlalu enak bagi kalian kalau aku membalas sekarang juga. Mulai
detik ini kalian tidak akan pernah tenang. Setidak tenang hidupku yang kalian hina dan nista. Untuk itu kalian
semua harus membayar. Aku akan menemui atau mendatangi kalian untuk menagih!" lalu manusia babi yang
kelihatan amat ganas itu menghilang lagi.
"Mari kita keluar dari sini," kata Sutan Mandiangin.
"Ke mana Pa?" tanya istrinya yang gemetaran kembali.
"Entah, tetapi sekarang kita keluar!"
"Dia bisa mendatangi kita di mana saja," ujar perempuan yang ketakutan itu.
"Kita bisa lapor pada Polisi," jawab Sutan Mandiangin.
"Tapi dia akan menghadang di tengah jalan!"
"Dengan telpon saja!" saran Sabrina. Dia juga terkejut, tetapi setidak-tidaknya penampilan manusia babi
itu telah membersihkan dirinya dari dugaan bohong atau berkhayal. Sutan Mandiangin segera menelpon
Polisi, sementara anggota keluarga lain dan pembantu di rumah itu dipanggil dan berkumpul di ruang tengah.
"Ceritakanlah Tante," kata Sabrina kepada makciknya.
"Kau sajalah yang mengatakannya."
"Nanti mereka kira aku berdusta atau berkhayal."
"Tidak, bukankah aku dan pamanmu juga melihat." Sabrina lalu menceritakan peristiwa di dalam kamar
tidurnya. Sejak ia mendengar suara dengkur, ancaman suara tak ada rupanya, sampai babi hutan yang menam-
pakkan diri. Yang mendengar semua jadi takut walaupun cerita itu sukar masuk akal bagi orang yang tidak
melihat atau tak percaya pada keajaiban-keajaiban di dunia ini.
"Aku juga melihatnya," kata Sutan Mandiangin yang sudah selesai memberitahu Polisi melalui telpon.
Meskipun jumlah mereka semua tak kurang dari sepuluh orang termasuk pembantu rumah tangga,
namun mereka merasa takut. Kalau babi itu babi biasa, tentu mereka tak setakut itu. Tetapi babi yang bisa
menghilangkan diri dan bisa berkata-kata sebagai manusia tentulah jadi-jadian atau mayat yang bangkit dari
kuburnya berupa babi, karena bumi tak mau menerimanya. Tiba-tiba suara dengkur yang amat keras terdengar
di ruang tengah yang cukup luas itu. Tiga kali berturut-turut. Ki Ampuh memberitahu kehadirannya di sana.
Semuanya jadi ketakutan dan saling mendekatkan diri. Seolah-olah berkumpul begitu bisa menyelamatkan
mereka dari suara yang menegakkan bulu roma itu.
"Aku senang melihat kalian semua dalam ketakutan," kata suara Ki Ampuh. Rasa takut mereka kian
menjadi. Ada dua orang terkencing-kencing, tetapi tetap berkumpul di sana.
"Rasakan oleh kalian," kata Ki Ampuh sambil tertawa-tawa mengejek.
Beberapa orang membacakan mantera, tetapi tawa Ki Ampuh selalu terdengar, bahkan sebagaimana ia
mengejek mantera Sutan Mandiangin, kini pun ia berkata: "Simpanlah mantera-mantera kalian itu. Aku
terlalu hebat untuk dapat disuruh pergi dengan bacaan-bacaan saja! Aku lebih dari iblis, di atas dari jin dan
setan," katanya dengan suara keras dan nada mengancam. Dua orang anak perempuan Sutan Mandiangin jatuh
pingsan. Keadaan jadi lebih panik.
"Berilah salah satu saja dari wanita-wanitamu yang sekian banyak. Aku tidak akan mengganggu lagi.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 93


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Kalau aku diterima sebagai keluarga aku akan melindungi kalian terhadap bahaya apa pun," kata Ki Ampuh.
Tidak ada jawaban dari Sutan Mandiangin.
Akhirnya Polisi yang amat dinanti-nantikan itu tiba di sana. Mereka heran melihat sekian banyak orang
berkumpul jadi satu dengan wajah ketakutan dan kemudian lebih heran lagi setelah mengetahui ada dua gadis
yang pingsan. Kapten Kamaludin dengan tiga pembantunya bersenjata lengkap bertanya apakah sebenarnya
yang telah terjadi. Sutan Mandiangin menerangkan bahwa mereka semua dalam bahaya. Sewaktu-waktu dapat
dibunuh oleh babi hutan yang kini ada di rumah itu.
"Mana babinya?" tanya Kapten Polisi Kamaludin sementara ketiga bawahan telah siap untuk bertindak
bilamana babi hutan yang diceritakan itu datang menyerbu atau memperlihatkan diri.
"Aneh, bagaimana di dalam rumah ada babi hutan!" Tetapi tiba-tiba Kapten Polisi itu pun jadi lebih
waspada. Ia teringat akan peristiwa sepuluh hari yang lalu, tatkala seorang wanita dengan anaknya mati
dibunuh oleh makhluk yang meninggalkan jejak-jejak babi. Mungkin dia tidak akan takut menghadapi bandit
bersenjata yang bisa dilihat dengan mata. Tetapi babi yang pernah didengarnya masuk kota tanpa dilihat orang
dan membunuh dengan cara yang begitu ganas menyebabkan Kamaludin merasa ngeri juga. Kalau benar ini
babi jadi-jadian seperti didesas-desuskan, dia pun bisa diseruduk dari belakang, depan atau samping tanpa
melihat makhluk yang menyeruduknya. Tentu saja sebagai manusia, perwira setinggi apa pun bisa menjadi
takut, tetapi sebagai seorang petugas yang sedang menjalankan kewajiban melindungi masyarakat ia harus
menyembunyikan kelemahan pribadi yang ada pada hampir semua insan.
"Kapten, kau teringat pada peristiwa pembunuhan istri dan anak si jahanam Erwin itu ya. Dan kau
menjadi takut, walaupun tidak terlalu, hah," kata suara yang tak mau memperlihatkan diri itu.
"Itu suara manusia, bukan babi," kata Kapten Polisi Kamaludin.
"Tapi dia babi hutan," kata Sabrina. Kejelitaan gadis yang menanggapi ini membuat Kapten Polisi itu
harus lebih mampu menyembunyikan kegelisahan hatinya. Malu dong kalau seorang gadis cantik sampai
metagetahui bahwa dia pun merasa takut.
"Dia babi hutan, panjang kisahnya. Dan dialah yang membunuh ibu dan anak sepuluh hari yang lalu. Dia
tadi ke kamarku, bersuara dan kemudian memperlihatkan diri. Meninggalkan kami dengan ancaman. Bahwa ia
akan kembali atau menemui kami di mana saja untuk membalas dendam!" kata Sabrina.
"Nona yakin, bahwa semua itu suatu kenyataan!"
"Kalau tiga orang mendengar dan melihat, barangkali tidak perlu diragukan lagi Kapten," kata Sutan
Mandiangin,
"Mereka tidak bohong. Memang aku tadi datang dan kini pun ada di sini. Jadi kalian tahu kelemahan
kalian dan kelebihanku. Aku melihat kalian, tetapi kalian tidak bisa melihat aku. Kalau aku mau, aku dapat
membunuh kalian semua tanpa kalian dapat membalas!" kata Ki Ampuh.
"Jangan," kata salah seorang keluarga Sutan Mandiangin. "Kami tidak bersalah."
"Tak usah khawatir. Aku bukan sadis yang suka melakukan pembunuhan masal. Tetapi aku tidak pernah
membebaskan orang yang menghina diriku dari pembalasan yang tak terlupakan seumur hidup. Kalau
kubiarkan dia hidup!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 94


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Saya tidak turut menghina Datok yang sakti," kata orang yang mengatakan mereka tidak bersalah itu.
"Baiklah, aku akan membiarkan kau selamat," kata Ki Ampuh dan orang yang amat ketakutan tetapi
sanggup bicara demi kelanjutan hidupnya merasa lega. Dia tidak akan dibunuh. Kenapa mesti malu minta
nyawa, pikirnya di dalam hati. Kalau turut dibunuh dalam keadaan tidak berdosa kan namanya mati konyol.
Ketiga anak buah Kapten Polisi. Kamaludin juga merasa takut walaupun masing-masing memegang senjata
siap tembak. Bagaimana tak takut. Hanya ada suara yang mengancam tetapi makhluknya tidak kelihatan. Dan
mereka tak habis pikir, bagaimana makhluk yang dikatakan babi hutan ini bisa bicara dan tahu jalan pikiran
atasan mereka.
"Aku di sini, tembaklah! Peluru kalian akan berbalik menembus dada kalian karena aku kebal. Tak bisa
dimakan senjata apa pun!" kata Ki Ampuh menantang.
Dua orang bawahan Kapten Polisi Kamaludin dengan gugup melepaskan tembakan ke tempat asalnya
suara. Terdengar tawa dan kedua peluru membalik, mengenai tembok di belakang kedua orang anggota Polisi
itu. Jadi persis seperti kata babi hutan itu. Ia tidak ditembus peluru dan sebaliknya peluru akan berbalik
mengenai yang menembakkan. Masih nasib baik peluru itu melewati kedua petugas dan tertanam di dinding
ruang tengah yang luas itu.
Kapten Kamaludin terkejut, lebih-lebih lagi ketiga bawahannya. Hal itu benar-benar membuktikan
bahwa ia kebal.
"Mau mencoba lagi?" tanya Ki Ampuh menyindir. "Silakan, semoga kali ini ia berbalik mengenai kalian!"
Ketiga petugas memandang atasan mereka menunggu perintah.
"Tak usah tembak lagi, percuma. Sasaran tidak kelihatan," kata si Kapten.
"Apakah tidak mau meminta bantuan tambahan Kapten?" tanya suara itu. Dan penegak keamanan itu
jadi semakin takut walaupun ia dapat menyembunyikannya. Nada itu mengejek dirinya dan tentu iblis itu kini
memandangnya sebagai musuh, padahal ia datang hanya karena menjalankan tugas. Semua penghuni rumah
memandang pada Kamaludin mau mendengar apa jawabnya.
"Mengapa Anda mengganggu ke mari?" tanya Kamaludin yang berharap akan mengetahui duduk
persoalan dari makhluk yang dihebohkan amat sakti dan sangat pandai ilmu mistik itu.
"Sebenarnya aku tidak suka mengganggu siapapun. Kecuali kalau aku disakiti lebih dulu. Perempuan dan
anaknya yang kubunuh di belakang rumah mereka tempo hari adalah untuk membalas sakit hatiku pada suami
wanita itu. Ia telah amat menyaingi usaha kehidupanku dan bahkan membuat aku jadi begini. Istri dan
anaknya yang kudapat, pada merekalah dendam kuhempaskan," jawab babi hutan itu. Lalu diam. Beberapa
saat kemudian Kapten Kamaludin mengatakan, mengapa ia datang ke rumah Sutan Mandiangin yang sama
sekali tidak bersalah. Ki Ampuh menceritakan, bahwa ia semula hanya menghendaki wanita yang bernama
Sabrina, tetapi wanita ini menolak, bahkan menghina dia. Kemudian pamannya pun menghina dirinya pula.
Untuk itu, kata babi itu, kedua manusia itu harus menerima balasan.
"Aneh, mengapa kau menghendaki manusia yang wanita?" tanya Kamaludin.
"Karena aku pun tadinya manusia seperti anda. Kini pun aku berasa diriku manusia, tetapi bentukku
diubah oleh penjahat-penjahat dari seberang sehingga aku merupakan babi. Apakah semua ini tidak patut

SERIAL MANUSIA HARIMAU 95


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kubalas?"
"Dia bohong," tukas Sabrina.
"Bagaimana nona tahu dia bohong?" tanya Kapten Kamaludin.
"Dia mengkhianati sahabatnya dan perbuatan itu berarti melanggar sumpahnya sendiri. Dia sendiri
pernah bersumpah agar mati jadi babi kalau ia sampai mengkhianati sahabat-sahabatnya yang banyak berjasa
pada dia!" sahut Sabrina.
"Wah, anda banyak tahu mengenai misteri ini!" ujar Kamaludin.
"Mendengar dari orang yang langsung bersangkutan dan dari apa yang telah kualami sendiri dalam
pertemuan dengan babi hutan yang asal manusia ini!" kata Sabrina menjelaskan.
"Perempuan itu pendusta," kata Ki Ampuh dengan suara keras membela diri. "Dia jatuh cinta pada
makhluk yang lebih buruk dari aku. Dia mencintai manusia harimau!"
Kapten Polri, ketiga bawahannya dan semua orang yang ada di sana jadi sebagai rnendengar cerita
dongeng. Kisah seribu satu malam pun tidak sehebat ini. Sebab apa yang terjadi sekarang benar-benar
kenyataan di dunia yang sudah begini modern dan maju. Ada babi inginkan wanita yang manusia. Ada wanita
yang jatuh hati pada makhluk yang manusia harimau. Kapten Polisi itu memandang pada wanita yang oleh
suara itu dituduh telah berbohong. Sabrina tidak segera menjawab. Artinya dia tidak segera membantah. Dia
tidak sanggup mengatakan tidak cinta pada manusia harimau yang dikenalnya sebagai Erwin. Ia takut Erwin
yang berilmu tinggi itu mendengar, membencinya! Kalau sampai terjadi begitu, maka dunia ini lebih baik
kiamat saja. Karena ia tidak membutuhkan dunia dengan seorang Erwin membenci seorang Sabrina. Pada
waktu Kamaludin menanti reaksi Sabrina dan Ki Ampuh merasa dirinya menang itulah terdengar suara auman
harimau yang amat keras. Di dalam ruangan itu juga. Kini hampir semua manusia di situ menggigil. Hanya
Sabrina yang besar hati, karena ia yakin bahwa bantuan bagi dirinya telah datang. Suara itu sudah pernah
didengarnya. Suara harimau yang oleh Erwin dikatakan ayahnya, Dja Lubuk yang selalu membantu dirinya
manakala ia amat terdesak. Suara Ki Ampuh tidak terdengar lagi. Takutkah dia akan suara raja rimba yang
selalu membinasakan babi-babi hutan?
"Kau keterlaluan Ki Ampuh," kata suara pendatang baru itu.
"Kau yang keterlaluan," kata suara pertama tiba-tiba menjawab.
Berbeda dengan babi hutan, Dja Lubuk memperBihatkan diri dalam bentuknya sebagai manusia. Gagah
dan kekar dengan misai putih melintang mempertinggi wibawanya. Semua orang duduk di lantai bagaikan ada
yang memerintah, padahal Dja Lubuk sama sekali tidak menyuruh mereka menghormati dia. Beberapa orang
yang coba memandangnya segera tunduk kembali, karena tak tahan oleh sinar matanya yang bagaikan
mengandung tenaga penakluk.
"Maafkan kedatanganku yang barangkali mengejutkan dan menakutkan kalian," kata Dja Lubuk. Tenang
dan jelas.
"Siapakah kakek yang sakti kalau cucu boleh ber• tanya?" tanya Kapten Kamaludin yang banyak membaca
buku tentang orang-orang sakti.
"Aku tadinya manusia biasa seperti kalian. Tetapi tidak semulia kalian karena aku punya nasib buruk.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 96


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Kadang-kadang jadi harimau. Aku dijuluki manusia harimau dan aku menerima nasib itu dengan penuh kesa-
baran sampai aku tutup usia. Aku kadang-kadang bangkit dari tempatku beristirahat kalau ada tugas untuk
menyelamatkan anakku atau orang-orang yang baik hati terhadap anak yang amat kusayang itu!" cerita Dja
Lubuk. Kata-kata Dja Lubuk meresap ke dalam hati semua orang yang ada di ruang tengah itu. Betapa
banyaknya kegaiban dan keajaiban dalam dunia ini. Baru tadi mereka ketakutan oleh ancaman suara manusia
tanpa manusianya yang dikatakan suara babi hutan yang asal usulnya juga manusia biasa. Kini mereka
didatangi seorang tua yang telah tiada tetapi kemudian bangkit lagi dari kuburnya. Kakek ini mengatakan
secara terbuka bahwa ia dinamakan orang manusia harimau dan ia menerima nasib yang katanya amat buruk
itu.
"Ki Ampuh, tunjukkan dirimu pada orang-orang yang kau takut-takuti ini," kata Dja Lubuk. Tetapi yang
terdengar hanya sebuah dengkur yang amat keras kemudian kata-kata mengejek: "Kau mau berlagak jadi orang
baik di hadapan mereka ini hah! Kau penipu yang telah membinasakan begitu banyak manusia tak berdosa.
Kau telah mengaku sendiri bahwa kau harimau. Dan orang tahu, bahwa harimau adalah binatang buas dan
ganas yang selalu haus darah dan ingin daging manusia!" kata Ki Ampuh menghasut.
Orang banyak itu jadi bingung. Dua keterangan yang bertentangan. Yang baru datang mengatakan
bahwa babi , hutan itu telah banyak membinasakan orang. Punya hati dan niat jahat selalu. Sebaliknya suara
pertama mengatakan, bahwa yang baru datang itu adalah manusia harimau yang selalu haus darah. Manakah
yang benar? Yang pasti hanya ancaman yang pertama dan pengakuan yang kedua bahwa ia dijuluki manusia
harimau karena ia kadangkala menjadi harimau.
"Ki Ampuh, keluarlah kau jahanam tukang fitnah. Kalau engkau berkata benar, keluarlah sekarang juga.
Kita tentukan di hadapan mereka siapa di antara kita yang benar. Taruhannya mudah saja. Kalau aku kau
kalahkan berarti kau yang baik dan akulah yang jahat dan haus darah itu. Tetapi kalau aku mengalahkan
engkau, kau yang selalu ganas. Suka menipu selama hidupmu dan haus nyawa serta masih mencari-cari wanita
untuk kau perkosa setelah engkau jadi babi karena kutukan sumpahmu. Keluarlah!" kata Dja Lubuk. Tidak
disangka bahwa orang yang kelihatan lembut tetapi penuh wibawa itu dapat berkata begitu.
"Lagi-lagi kau menggertak aku Dja Lubuk yang tak kenal budi!" jawab Ki Ampuh. "Di hadapan mereka
kau menantang aku bagaikan pahlawan yang teramat garang. Kau lupa berapa kali kau minta ampun padaku
ketika aku masih manusia dan kau telah jadi mayat yang berkeliaran dalam ujud harimau berkepala manusia.
Lupakah kau akan kemurahan hatiku yang selalu memberi nyawa kepadamu? Sungguh kau tak kenal malu.
Kini kau hendak menutupi kelemahanmu dengan lagak menantang aku bertarung di hadapan mereka. Aku
kasihan pada caramu yang amat tengik itu. Kalau kau masih belum kapok dengan pengalamanmu di masa lalu,
baiklah kita bertemu nanti di padang rumput dekat kuburan Tanah. Kusir. Ataukah kau lebih suka di lapangan
Monas setelah semua manusia tidur agar tidak ada satu insan pun dapat mengetahui dan memberi pertolongan.
Bangkai yang mati tentu akan tinggal di sana dan diketahui pada esok pagi. Dan koran tentu akan ramai
dengan berita yang amat besar ini. Harimau berkepala manusia akhirnya tewas di lapangan Monas. Cukup
menarik bukan?" kata Ki Ampuh menantang musuh lamanya.
Dja Lubuk geleng-geleng kepala. la tak kuasa lagi marah, sebab marah kepada iblis yang sinting seperti

SERIAL MANUSIA HARIMAU 97


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

itu akan membuat diri sendiri turut-turut sinting dan yang demikian sama sekali tidak menguntungkan. Si
terkutuk itu sanggup memutar balik seluruh kisah dan fakta, begitulah pikir manusia harimau itu. Ia
memandang orang-orang yang kebingungan dan ketakutan serta penuh ketegangan itu. Berbagai tanda tanya
di dalam hati masing-masing. Mengapa makhluk yang dikatakan babi hutan menantang tetapi tidak mau
menampakkan diri di sana? Mengapa ia mengajak bertarung di lain tempat yang sunyi, sementara si kakek
bersedia menguji tenaga dan kesaktian di sana juga. Mengapa kakek itu tidak menjawab mau bertempur di
Tanah Kusir atau di lapangan Monas? Tetapi akhirnya manusia harimau itu menjawab juga: "Baiklah.
Kutunggu kau di lapangan Monas pukul dua selepas tengah malam! Kau cukup berani untuk datang, bukan?
Ataukah kau akan menghilang masuk kebun mencari singkong penduduk untuk kau bongkar dan makan
sebagai pencuri!" Dja Lubuk rupanya ingin juga membalas walaupun hanya sedikit.
"Aku akan datang makhluk tak tahu diri!" kata Ki Ampuh. "Kalau kau yang tak datang akan kucari kau
sampai dapat. Walaupun aku harus berjalan kaki menyeberangi Selat Sunda mencari kau di Mandailing!"
Sutan Mandiangin dan keluarga serta pembantu-pembantunya jadi tahu bahwa kakek ini rupanya berasal dari
Mandailing, Sumatera.
Kapten Polisi Kamaludin teringat pada peristiwa hampir setahun yang lalu, ketika terjadi banyak
kehebohan tentang manusia harimau yang selalu mengganas. Tetapi tidak terhadap siapa saja. Ia ingat manusia
harimau pernah masuk kantor Polisi dan hanya memilih orang yang menyiksa dirinya ketika ia ditahan sebagai
manusia dengan tuduhan yang sama sekali tidak benar. Ia pun ingat bagaimana seorang anggota Polisi yang
sedang naik sepeda motor di Slipi dihadang oleh manusia harimau dan perutnya dikoyak-koyak di sana. Tanpa
dapat dicegah, berdiri seluruh bulu romanya. Kakek ini terus terang mengaku dirinya manusia harimau, tetapi
bentuknya manusia biasa. Benarkah pengakuannya? Yang dulu adalah harimau dengan kepala manusia dan
masih muda usia. Ia ingat semuanya itu.
"Memang benar ingatanmu itu Kapten," kata Dja Lubuk tiba-tiba. "Yang dulu itu anakku. Dia marah
karena ada di antara kalian yang menyiksa dia. Sampal sekarang pun masih ada di antara kawan atau bawahan
Kapten yang suka menyiksa tahanan yang belum tentu salah atau tidak. Padahal atasan kalian sudah melarang
penyiksaan terhadap para tahanan." Kapten Kamaludin jadi pucat sekali. Jalan pikirannya dibaca oleh kakek
itu.
"Kau sangsi apakah benar aku ini manusia harimau. Aku bukan ingin memamerkan diri karena menjadi
makhluk aneh semacam aku ini merupakan musibah seumur hidup. Tidak ada yang mau dibanggakan. Tetapi
keadaan diriku yang kadang-kadang menjadi harimau adalah nasib yang tak dapat ditolak! Mengertikah Anda
Kapten?" Oleh rasa takut yang memuncak, Kapten itu menjawab bahwa ia tidak ragu-ragu dan mengerti akan
keterangan kakek itu.
"Namaku Dja Lubuk, kuburanku di Mandailing. Yang dibunuh Ki Ampuh yang sudah terkutuk jadi babi
hutan itu adalah menantu dan cucuku!" dan kakek itu berubah ujud secara bertahap di hadapan sang Kapten,
Sutan Mandiangin, Sabrina dan yang lainnya. Semuanya memperhatikan penuh rasa takut tetapi tak dapat
melarikan diri. Kaki saja pun rasanya tak dapat diangkat. Bagaimana pula mau lari dari sana. Dalam tempo
beberapa menit Dja Lubuk menjadi harimau besar yang hampir sempurna. Hampir sempurna, karena

SERIAL MANUSIA HARIMAU 98


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kepalanya tetap kepala manusia. Keringat dingin membasahi baju orang-orang yang ketakutan itu. Tidak
terkecuali Kapten Kamaludin dan anak buahnya.
Ia tak berlama-lama lagi di sana. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada Sabrina yang pernah
diselamatkannya, lalu hilang bagaikan lenyap ke dalam lantai tempat ia berpijak tadi.
Setelah beberapa lama tak terdengar lagi lanjutan dari detik-detik yang mencekam itu, Kapten Kamaludin
mengatakan, bahwa semuanya sudah berlalu dengan baik dan ia akan kembali ke kantornya untuk melaporkan
semua kejadian itu.
"Tetapi keamanan kami bagaimana?" tanya Sutan Mandaiangin.
"Sudah Bapak lihat sendiri tadi. Yang dinamakan babi hutan tidak memperlihatkan diri. Tetapi ia benar
ada dan kebal. Sudah pula kita lihat bersama tadi suatu keajaiban yang tidak pernah termimpikan atau
terkhayalkan. Hadirnya seorang tua secara tiba-tiba di ruangan ini, kemudian jadi harimau kecuali wajahnya.
Dan menghilang tanpa dapat kita ketahui ke mana hilangnya. Apa yang dapat kami perbuat. Kalau yang bapak
takuti itu bandit-bandit, kami mudah meringkusnya. Tetapi yang kita hadapi adalah kenyataan yang ajaib dan
gaib!" jawab Kapten itu. Sutan Mandiangin kini hilang akal, karena babi iblis itu berjanji akan membalas sakit
hatinya.

LAPORAN Kapten Polisi Kamaludin mulanya tak dipercaya oleh atasan dan rekan-rekannya. Tak heran, siapapun
sukar perca-ya pada kisah yang tak masuk akal. Kamaludin mengingatkan kawan-kawannya pada peristiwa
hampir sepuluh bulan yang lalu ketika seorang laki-laki bernama Erwin ditangkap, disiksa dan kemudian
melakukan pembalasan. Mereka ingat bagaimana manusia harimau yang menggemparkan saat itu dapat masuk
melalui petugaspetugas yang jaga malam tanpa dilihat oleh siapapun. Setelah mendengar itu beberapa orang di
antara sesama anggota Polisi teringat akan peristiwa yang membawa beberapa korban jiwa itu. Dan keadaan
kini lebih gawat oleh karena yang mengganggu keamanan bukan lagi makhluk aneh yang dikenal dengan
manusia harimau, tetapi juga mayat yang bangkit dari kuburnya dan berkeliaran dengan ganas sebagai babi
hutan. Bagaimana orang tak merasa takut pada babi dan harimau yang kedua-duanya berasal dari manusia dan
dapat berkata-kata sebagai manusia biasa. Mempunyai keberanian dan kecerdasan lebih dari manusia yang
bukan merangkap fungsi babi atau harimau.
"Babi hutan yang tak mau memperlihatkan diri itu mengancam akan kembali membalas dendam pada
Sutan Mandiangin dan akan memperkosa gadis bernama Sabrina yang kemenakan dari orang yang termasuk
kaya itu, Kolonel," kata Kapten Kamaludin.
"Apa saranmu untuk melindungi keluarga itu?" tanya Kolonel Sugondo.
"Saya menunggu saran dan instruksi Kolonel!"
"Tetapi Kapten yang mengalami dan melihat sendiri manusia harimau itu!"
"Oleh karena itulah makanya saya tidak punya saran. Saya sungguh tak tahu harus berbuat apa
menghadapi makhluk-makhluk semacam itu. Lebih baik saya ditugaskan menghadapi penjahat berdarah
dingin yang rajin mencabut nyawa. Sekurang-kurangnya merupakan manusia lawan manusia!"
"Aku sendiri belum pernah melihat bagaimana rupa manusia yang jadi babi hutan dan tidak tahu

SERIAL MANUSIA HARIMAU 99


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

bagaimana rupa manusia harimau. Aku hanya mengenal senjata api untuk merobohkan mereka!"
"Sudah saya terangkan tadi. Sang babi sudah ditembak. Sebagaimana katanya, ia memang kebal. Dua
butir peluru yang ditembakkan, kembali lagi. Masih untung tidak mengenai kedua petugas kita yang
melepaskan tembakan itu."
"Heran. Babinya tidak kelihatan tetapi pelurunya kembali! Anda percaya pada setan atau jin, Kapten?"
"Saya tidak pernali ketemu setan atau jin, tetapi saya sudah dengar suara tanpa makhluk yang mengeluarkan
suara itu. Saya dengar dengkur babi tanpa melihat babinya. Kemudian saya dengar suara auman harimau,
disusul oleh kehadiran seorang kakek yang berubah jadi harimau besar berkepala manusia!" kata Kapten
Kamaludin. Ketiga bawahan menguatkan keterangan sang perwira. Kalau sampai empat pasang mata melihat
tentu tak mungkin khayalan atau mimpi!"
"Kalian berani menjaga rumah Sutan Mandiangin?" tanya Kolonel kepada tiga pembantu Kapten
Kamaludin yang turut serta ke rumah Sutan Mandiangin tadi. Ketiganya menyatakan tidak berani tanpa malu-
malu. Beri saja tugas yang lebih berat. Menghadapi bandit-bandit Senen atau para penodong penikam di
sekitar Monas. Mereka tak ingat bahwa manusia harimau akan menantikan kedatangan sang babi hutan di
Monas. Kalau mereka teringat akan itu, mungkin tidak akan minta bertugas di sana, karena dua di antara
mereka tadi menembak babi hutan ajaib itu. Sudah pasti makhluk itu melihat dan menandai mereka. Hampir
pasti pula bahwa ia akan melakukan pembalasan.
Tetapi Kolonel Sugondo banyak bertimbang rasa. Keempat bawahannya yang baru mengalami shock itu
disuruhnya istirahat untuk mengembalikan ketenangan mereka yang normal. Ketiga orang anak buah Kapten
Kamaludin merasa lega, sebaliknya sang perwira meminta agar ia boleh terus mengikuti perkembangan. la,
yang tadinya takut akhirnya ingin mengetahui bagaimana kisah misteri itu selanjutnya. Akan terjadikah
pertarungan di lapangan Monas antara sang babi dan harimau manusia? Betapa akan serunya. Dan ia yakin
bahwa salah satu akan mati. Dia akan mengintip dan kemudian menjadi orang pertama yang membawa
laporan ke kantor. Namanya akan menjadi buah bibir di kalangan kepolisian dan keesokan harinya di antara
masyarakat, karena koran-koran tentu akan membuat berita tentang pertarungan dan dirinya yang mem-
persaksikan perkelahian hidup mati yang teramat aneh dan baru pertama kali akan terjadi di ibukota.
Gambarnya pasti akan dimuat. Dia akan terkenal dan besar kemungkinan naik pangkat. Ia akan jadi Mayor
Polisi Kamaludin. Keinginannya diluluskan oleh Kolonel Sugondo. Kapten itu mengatakan bahwa ia akan
mengamati rumah Sutan Mandiangin yang malam itu mungkin akan mengalami sesuatu yang luar biasa kalau
babi hutan yang penasaran itu kembali untuk membalas dendam. Tetapi sebenarnya ia tidak bermaksud mau
ke sana. Ia lebih ingin melihat pertarungan antara babi hutan dengan manusia harimau yang bernama Dja
Lubuk. Dia akan berpakaian preman akan berlagak sebagai salah seorang penghadang di daerah yang selalu
membawa naas itu. Pistol akan dibawanya, walaupun telah diketahuinya bahwa sang babi tidak bisa ditembus
peluru. Bagaimanapun, senjata itu akan memberi keberanian kepadanya. Padahal orang yang sedang terkejut
dan takut biasanya lupa atau gemetar mempergunakan senjata.

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 100


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

yang belum mengetahui apa yang telah terjadi di rumah Sutan Mandiangin malam itu tidak bisa tenang. la
teringat pada wanita yang mulai merebut hatinya dan takut akan keselamatannya. la khawatir kalau-kalau
Sabrina mengalami nasib seperti istrinya. Ki Ampuh pasti tidak akan mengalah begitu saja. Sejak masih
manusia dan berprofesi sebagai dukun ia selalu lemah menghadapi wanita cantik dan mau berbuat apa saja
untuk memperolehnya. Kini, setelah sekian lama tak dapat menyalurkan hasrat hatinya dan dihina oleh
Sabrina, pasti ia akan berbuat apa yang mungkin untuk mencicipi gadis itu. Ia ingin untuk berkata kelak,
bahwa Sabrina yang sombong dan jatuh cinta pada Erwin akhirnya toh didapatnya. Dengan itu ia bukan saja
memuaskan nafsu manusia dalam dirinya yang jadi babi, tetapi sekaligus menyakitkan hati Erwin yang musuh
besarnya.
Malam itu ia berniat untuk ke rumah Sabrina pada keesokan harinya. Karena rindu dan ingin tahu
apakah tidak ada gangguan atas diri wanita itu, ia pun, walau manusia harimau, tidak mengetahui, bahwa tidak
mendapat firasat tentang kejadian di rumah gadis itu. Kalaulah ia tahu bahwa antara ayahnya dan Ki Ampuh
telah terjadi sengketa dan musuhnya itu menghina dan memfitnah ayahnya pasti ia akan berlari ke sana untuk
membuat perhitungan dengan si terkutuk itu.
Malam itu, ketika ayahnya menantikan waktu untuk pergi ke lapangan Monas, Erwin akhirnya dapat
juga tidur, walaupun selalu gelisah.

***

Rabu itu tiada bulan. Bintang pun tak memperlihatkan diri. Tertutup oleh awan tebal yang menggantung
bahana akan menjadi hujan amat lebat untuk membuat beberapa bagian ibukota menjadi lautan berair tawar.
Huh, Jakarta yang kota metropolitan ini sampai sekarang tidak dapat mengalahkan banjir walaupun milyar-
miiyar sudah dipindahkan ke tangan sekian kontraktor penanggulangan banjir, yang kata orang, telah berbaik
hati untuk menyalurkan sebagian dari padanya ke manusiamanusia berbudi yang telah memberi pekerjaan
kepada mereka. Kisah menjemukan yang tidak jemu-jemunya dilaksanakan oleh para "sutradara" dan "artis-
artis". Tepat pada jam 02.22 awan berat yang tidak disanggah oleh sebuah tiang itu pun roboh menimpa bumi
Jakarta dan sekitarnya.
Orang-orang yang dilahirkan untuk jadi penjahat dan makhluk-makhluk bernama manusia yang jadi
jahat karena dipaksa oleh perut yang tak kenal kompromi, telah meninggalkan daerah operasi mereka di sekitar
Monas yang amat terkenal itu. Telah pergi berteduh. Ke kaki lima, ke kolong jembatan atau ke gubug-gubug
reyot dari kertas dan plastik yang biasanya dibangun menjelang malam untuk dirobohkan petugas-petugas
pemeliharaan keindahan kota pada pagi harinya. Ada yang tertidur dengan baju basah kuyup karena tak punya
pengganti, ada pula yang membaringkan diri di atas tanah dalam keadaan telanjang karena takut tidur dengan
pakaian basah. Sebagian amat kecil dari mereka yang harus begini akan menemui ajal karena tidak kuat lagi
menahan derita. Tetapi sebagian besar sudah jadi kebal terhadap segala penyakit, dan binatang merayap.
Lipan, kalajengking, tikus dan ular pun takut mendekati mereka. Tapi boleh jadi juga tidak sampai hati!
Di bawah sebatang pohon yang rindang daunnya, salah satu dari sekian banyak pohon penghias di sekitar

SERIAL MANUSIA HARIMAU 101


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

patung Pangeran Diponegoro di seberang tugu ada seorang hamba Allah menahan curahan hujan yang lama
kelamaan membuatnya menggigil kedinginan. Orang itu Kapten Polisi Kamaludin yang kepada atasannya
mengatakan hendak mengawasi dan melindungi rumah Sutan Mandiangin. Matanya selalu mencoba
menembus pandangan di sekitar tempatnya berteduh, karerfa ia tidak tahu di
mana tepatnya pertarungan itu akan berlangsung. la mau menahan dingin dalam keadaan basah kuyup
karena ia yakin akan mendapat imbalan yang lebih daripada setimpal. Keharuman nama dan kenaikan pangkat.
Hanya 67 menit air bagai dicurah dari langit. Hampir secara mendadak ia berhenti dan tak lama antaranya
sejumlah bintang mulai gemerlapan. Tetapi beberapa bagian ibukota telah terendam dan penduduk di tepitepi
sungai telah mengungsi ke tempat yang agak tinggi. Begitulah besarnya kekuasaan hujan atas beberapa bagian
bandar raya Indonesia ini.
Kini kapten yang ingin melihat pertarungan itu agak mudah melihat ke sekitarnya. Apalagi di sana selalu
menyala banyak lampu. Untuk menerangi rumput, bunga dan pohon-pohon itu. Lampu-lampu itu memang
sangat perlu demi keindahan. Supaya orang tahu bahwa Jakarta ini sudah sangat maju dan tidak suka gelap-
gelapan. Tiba-tiba jantung Kamaludin berdebar dan ia tingkatkan daya lihat matanya. Benar, yang bergerak itu
binatang atau makhluk berkaki empat. Jalannya bagaikan harimau, kepalanya tak jelas. la menuju lapangan di
depan tugu. la berjalan tenang, setenang harimau berjalan di rimba raya yang dirajainya. Takkan keliru,
makhluk itu tentulah kakek yang menamakan dirinya Dja Lubuk. Manusia harimau dari Mandailing di
Tapanuli Selatan. la menepati janji. Untuk bertemu dengan manusia babi hutan yang menantangnya untuk
bertanding. Apakah benar makhluk ini akan mati nanti sehingga tubuhnya dilihat orang pada keesokan
paginya sebagaimana dikatakan oleh si babi hutan yang berilmu tinggi? Yang pasti, ia akan memberi laporan
pandangan mata kepada atasannya. Bukan masyarakat, tetapi atasan dan rekan-rekannya yang lebih dulu akan
melihat tubuh manusia harimau itu, kalau benar ia mati dibunuh musuhnya.
Setelah melihat ke sekitarnya, makhluk itu berhenti, kemudian duduk. Mungkin agar mudah dilihat Ki
Ampuh yang belum datang, ataupun bersembunyi untuk melakukan serangan dari belakang secara mendadak.
Babi hutan itu sejak masih manusia sudah mempunyai banyak akal licik. Dja Lubuk cukup tahu akan hal itu.
Kadangkadang makhluk itu bangkit dan berjalan mundar mandir seperti yang biasa dilakukan oleh harimau
tawanan di kandangnya di kebun binatang. Kapten Kamaludin yang melihat jam ketika harimau itu datang
dari mempunyai perasaan amat tegang kini mulai jemu menunggu, karena babi hutan yang belum pernah
dilihatnya tidak juga datang. Sudah lebih setengah jam Dja Lubuk menanti. Dalam hati ia mulai bertanya
apakah musuh yang menantang ini akan datang atau tidak. Satu jam lagi akan tiba waktu subuh dan setelah itu
fajar akan menyingsing. Apakah Ki Ampuh sudah ada dan memperhatikan kegelisahannya menunggu dengan
perasaan geli sambil mentertawakannya. Boleh jadi. Bilamana ia sudah benar-benar kesal dan semangat
tempurnya merosot barulah babi hutan terkutuk itu menyerang. Muslihat yang begitu bukan tak mungkin
dilakukan oleh Ki Ampuh. Akhirnya Dja Lubuk berseru keras: "Hee Ki Ampuh, keluarlah kalau kau ada di
sini. Kalau kau takut, katakanlah. Sebentar lagi akan fajar dan orang akan mulai ramai!" Memang di taman
rekreasi yang berair mancur pandai menyanyi menjelang subuh orang mulai ramai. Laki-laki, perempuan segala
umur. Mulai orang tua yang berolahraga gerak jalan guna memelihara jantung sampai anak-anak yang

SERIAL MANUSIA HARIMAU 102


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

beramai-ramai bersenam atau menghirup udara nyaman. Di waktu-waktu begitu saja Jakarta mempunyai udara
yang dapat dikatakan baik. Bila orang dan kendaraan bermotor, terutama bis-bis yang memakai mesin
berminyak solar mulai operasi maka udara akan kotor oleh polusi. Itu nasib semua kota besar.
Panggilan Dja Lubuk tidak mendapat sahutan. la ulangi, tidak juga ada jawaban. la mulai berpikir bahwa
Ki Ampuh hanya mempermainkannya. Bukan karena takut. Memang ia besar omong dan selalu takbur, tetapi
kenyataan sudah selalu membuktikan, bahwa Ki Ampuh punya cukup nyali untuk menghadapi musuh-
musuhnya. Setelah jadi amat kesal dan merasa ditipu, makhluk berupa harimau itu hendak pergi dari sana.
Tetapi baru saja ia bergerak beberapa langkah, terdengar suara makhluk yang dinantikannya. Suara Ki Ampuh.
"Dja Lubuk, mau ke mana? Kau takut?" kata suara yang masih belum mau memperlihatkan rupa.
"Kau babi keparat. Sudah lebih satu jam aku menunggu. Keluarlah. Masih ada waktu untuk menentukan
siapa di antara kita yang berhak hidup!" kata Dja Lubuk.
"Kau akan mati di sini Dja Lubuk. Kasihan, jauh dari kampung halamanmu. Mana anakmu yang selalu
tahu apa yang akan terjadi? Ia akan ditimpa musibah baru Dja Lubuk. Besok pagi ia akan membaca atau
mendengar bahwa ayahnya datang jauh-jauh kemari untuk mengantarkan nyawa!"
"Kau banyak omong dan tidak tahu diri."
"Sombong kau Dja Lubuk!" hardik Ki Ampuh. "Mari kita mulai!"
Mendengar Ki Ampuh menjawab, walaupun belum kelihatan. Kapten itu tidak ragu-ragu lagi, bahwa ia
akan menyaksikan suatu pertandingan mati-matian yang tak satu di antara seribu orang lain akan pernah
melihatnya dengan mata sendiri. Dua makhluk sakti, yang keduaduanya berupa hewan asal manusia akan
saling bunuh. Mungkinkah sang babi akan mati, sebagaimana biasanya babi hutan sukar bisa mengalahkan
harimau? Tetapi ia babi sakti yang bisa melihat tanpa dapat dilihat. Ataukah babi itu akan tewas oleh karena
harimau ini mempunyai ilmu yang tidak atau jarang sekali dimiliki oleh harimau lain. Oleh karena pada
umumnya harimau hanyalah binatang buas pemakan daging sedangkan yang satu ini sudah terang mempunyai
berbagai macam kepandaian.
Kamaludin telah melihatnya sebagai manusia tua yang kekar dan gagah mengaku bernama Dja Lubuk.
"Terima ini," teriak si babi, tetapi tak juga memperlihatkan diri.
Dengan amat mengherankan Kapten Polisi itu, Dja Lubuk terlempar beberapa meter. la menggeram,
marah bukan buatan.
"Pengecut!" bentak Dja Lubuk, "Kau hanya seekor pengecut yang belagak gagah. Orang atau hewan
gagah akan memperlihatkan dirinya dalam bertarung! Tapi baiklah, kalau itu maumu!" Entah apa yang dibaca
manusia harimau itu, tetapi tiba-tiba babi itu kelihatan jelas di sana. la tidak mampu lagi menyembunyikan diri
terhadap lawannya. Oleh kenyataan yang tidak disangkanya ini, Ki Ampuh jadi kaget bukan kepalang.
"Ha, ha, coba hilangkan lagi dirimu orang tersakti sejagat," kata Dja Lubuk menyindir. Ki Ampuh
merasa sangat dihina, tetapi kenyataan membuktikan, bahwa rupanya menjadi kebiasaan orang dari
Mandailing itu untuk tidak sekaligus menunjukkan segala kebolehannya. Merasa terpojok oleh hal tersebut,
tiada lain jalan bagi Ki Ampuh daripada melawan dengan segenap tenaga atau melarikan diri dengan perasaan
malu yang amat sangat. Dia telah memfitnah Dja Lubuk di hadapan keluarga Sutan Mandiangin dan beberapa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 103


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

anggota Polri, dia pun telah menyombongkan diri. Tentu amat memalukan kalau sampai terpaksa melarikan
diri.
"Coba ulangi serudukanmu tadi! Aku tadi sampai terpental!" tantang manusia harimau itu. Ki Ampuh
menyerang dengan segala kekuatan dengan taring-taring tajam laksana pisau yang dihunuskan, tetapi Dja
Lubuk mengelak sedikit sambil menampar kepala lawannya sebelah kanan. la kebal peluru, tetapi rupanya tidak
kebal terhadap kuku. Dari muka yang tergores lumayan dalam itu mengalir darah segar, memerahkan aspal
tempat mereka mengadu nyawa. Pada detik berikut mereka telah berhadapan muka lagi. Keduanya dengan
mata yang seperti memancarkan api, walaupun bentuknya berlainan. Mata Dja Lubuk besar hampir bundar,
mata Ki Ampuh sebagai lobang celengan. Dja Lubuk berdiri atas dua kaki belakang dengan maksud
menimpakan tubuh sambil menanamkan kuku-kukunya ke tubuh lawannya. Tetapi Ki Ampuh tak mau kalah,
ia juga berdiri atas kedua kaki belakangnya. Kekurangannya pada kuku, karena ia tidak mempunyai kuku yang
tajam dan kuat seperti Dja Lubuk, walaupun kuku babi biasa digunakan untuk menggali singkong, membantu
taring-taringnya.
Tahu akan letak kekurangannya, maka ketika serang menyerang atas dua kaki itu Ki Ampuh lebih banyak
mengelak. Dia menunggu peluang untuk menyeruduk perut Dja Lubuk dengan kedua taringnya yang tajam,
kalau saja terbuka untuk ditikam dengan sekuat tenaga. Tetapi rupanya Dja Lubuk juga mengetahui apa yang
diintai oleh lawannya. Maka ia tidak memberi kesempatan yang dinantikan Ki Ampuh.
Sedang mereka saling mencari kelemahan lawan itulah terdengar suara kendaraan tak jauh dari sana dan
tak lama kemudian dua buah lampu menyorot persis ke arah kedua makhluk yang sedang bertarung itu.
Pengemudi, seorang pembantu letnan terkejut sehingga setirnya terbanting ke kiri, untung segera ditolong oleh
rekan yang duduk di sampingnya.
Pengemudi itu tidak dapat berkata apa pun. Dia terlalu terkejut dan tidak bisa atau sempat memikirkan
apa yang dilihat atau terlihat olehnya. Badannya gemetar. Ketika lampu telah terarah kembali ke tempat
pertarungan dan semua orang di mobil patroli itu memandang apa yang sebenarnya terjadi atau terlihat, semua
anggota ABRI itu terkejut. Dua makhluk yang tak mungkin rasanya ada di Jakarta. Harimau dan babi. Jelas
belang si raja hutan dan jelas pula moncong si babi. Tetapi bukan hanya manusia-manusia di mobil itu saja
yang terkejut. Yang sedang berkelahi juga kaget. Tiba-tiba diterangi oleh lampu yang begitu benderang.
Letnan yang jadi komandan dalam rombongan kecil itu segera memberondong kedua makhluk aneh itu
dengan Karl Gustav. la yakin pelurupeluru itu ada yang mengenai sasaran, tetapi tak ada di antara keduanya
yang roboh atau menunjukkan tandatanda sakit kena tembakan. Yang lain dalam mobil juga segera meniru
tindakan sang komandan, sehingga dini hari yang amat sepi itu dimeriahkan oleh rentetan letusan yang
suaranya menggema ke sekitar. Kapten Kamaludin menjadi tegang. Ia merasa terganggu, tetapi ia juga
khawatir terkena peluru yang nyasar. Terganggu karena ia sedang asyik mengikuti perkelahian yang, aneh itu.
Tanpa mufakat, kedua makhluk yang ingin mencari ketentuan itu memutar diri dan lenyap ke jurusan
yang berlawanan.
Atas perintah komandan Djumario, semua anggota pasukan turun dan mengawasi daerah sekitar. Tidak
kelihatan babi atau harimau.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 104


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Ke mana lenyapnya?" tanya si komandan.


"Entah Pak, mendadak saja hilang. Heran, kenapa di sini ada babi dan harimau!"
"Barangkali babi yang tempo hari membunuh istri dan anak Erwin!" jawab seorang sersan.
"Ya, barangkali juga," kata yang lain. "Tetapi harimau itu dari mana?"
"Siluman barangkali," kata sersan tadi. "Dulu pernah ada harimau siluman yang dikatakan manusia hari-
mau."
Tiba-tiba terdengar suara tak jauh dari mereka: "Ya, akulah si manusia harimau. Kalian sudah melihat
cukuplah itu. Jangan beritakan ke luar. Aku tak suka diriku dihebohkan." Semua mereka, walaupun masing-
masing punya senjata api, terkejut. Kata-kata makhluk yang tak memperlihatkan diri itu semua jelas. la tidak
suka dihebohkan. Hanya permintaan, tetapi kalau diperhatikan nada suaranya, itu suatu perintah yang sedikit-
dikitnya mengandung peringatan. Dengan lampu mobil yang dihidupkan mereka melihat bekas darah yang
membasahi aspal.
"Ada yang luka?" kata komandan, "Rupanya sudah lama mereka bertarung!"
"Perkelahian aneh di dalam kota. Kalau terjadinya di dalam atau pinggir hutan masih tidak
mengherankan. Kalau babi itu yang membunuh wanita dan anaknya beberapa hari yang lalu, apakah mungkin
perkelahian dengan harimau itu ada kaitannya dengan kejadian tersebut?" tanya si sersan.
Tak ada yang menanggapi. Karena tidak tahu atau takut. Mereka jelas berhadapan dengan keajaiban dari
dunia gaib.
Sersan itu yang meneruskan: "Apakah harimau itu punya hubungan keluarga dengan wanita dan anak
kecil yang dibunuh si babi?"
"Mengapa kau berpikir begitu?" tanya komandan Djumario.
"Karena harimau itu bukan harimau biasa. la manusia harimau, sudah diakuinya tadi. Jangan-jangan
pembicaraan kita ini pun didengarnya."
Tiba-tiba kalimat sersan itu berjawab. "Memang aku mendengarkan."
"Kami hanya membicarakannya nenek," kata sersan, yang rupanya sedikit banyak tahu atau pernah
mendengar bagaimana bicara dengan harimau atau bagaimana menutur raja hutan. "Kami tidak akan
mencampurinya."
"Bagus, aku minta janganlah kalian campuri. Ini masalah pribadi yang sangat pelik. Tak dapat
diselesaikan menurut hukum yang berlaku bagi manusia biasa," kata suara Dja Lubuk. Kini semuanya kaget
lagi. Mereka merasakan hidup dalam suatu dunia yang lain walaupun mereka masih di dunia yang sama.
Atas mufakat bersama, walaupun dalam hal biasa si komandan cukup memberi perintah, mereka kembali
ke markas untuk melapor bahwa semua keadaan aman. Tidak akan menceritakan perkelahian yang mereka
lihat atau darah yang masih memerahi aspal.
Jam 6 pagi itu semua penjaga keamanan yang berdinas malam kembali ke rumah atau asrama masing-
masing. Sekali ini mereka merasa lain daripada biasa. Sebenarnya semuanya ingin bercerita tentang
pengalaman yang begitu menarik dan luar biasa tetapi mereka ingat pesan si manusia harimau.
Kamaludin juga pulang tanpa melaporkan kehadirannya kepada patroli keamanan tadi. Tetapi ia pun

SERIAL MANUSIA HARIMAU 105


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mendengar apa yang dipesankan oleh si manusia harimau yang sudah diketahuinya bernama Dja Lubuk dan
sudah pula dilihatnya bagaimana ia sebagai manusia dan bagaimana pula sebagai manusia harimau. la juga tahu
di mana rumah wanita dan anak kecil yang dibunuh sang babi hutan. Kini ia dengan mudah dapat
rnengadakan kontak dengan suami serta ayah yang jadi korban si babi. la berniat akan melakukannya siang
nanti. Bukan akan memanggilnya ke kantor Polisi tetapi akan mengunjunginya sebagai seorang yang ingin
bersahabat. Tiba-tiba saja datang keinginan Kamaludin yang mengalami keajaiban itu untuk berkenalan dan
bersahabat dengan laki-laki yang baru ditimpa musibah. Setiba-tiba itu pula ia ingin belajar bagaimana hidup
dalam dunia mistik yang penuh rahasia dan misteri.

***

penumpang-penumpang mobil melihat darah di dekat Monas pagi itu mereka menduga tentu ada orang
yang ditabrak mobil dan sebagai biasa, barangkali yang menabrak terus melarikan diri. Meninggalkan korban
menerima nasib. Berlama-lama menanggung sakit atau mati di tempat itu. Pengemudi mobil kian banyak yang
tidak punya kemanusiaan. Ada yang sudah sebagai algojo saja. Pengemudi merupakan pembunuh yang tak
dapat dituntut sebagai pembunuh.
Lain pula halnya dengan Kopral Mahadi yang turut dalam mobil patroli di sekitar Monas pada dinihari
itu. Sebagaimana yang lainnya otaknya dipenuhi oleh keanehan yang disaksikan dan didengar sendiri. Tetapi
berbeda dengan yang lain, ia merasa didorong oleh keinginan untuk menceritakan juga penglihatannya kepada
istrinya. Apalagi kepada kawan-kawannya. Mereka akan kagum dan ia akan dianggap sebagai seorang hebat,
kalau pun tidak dapat dikatakan pahlawan. Semula Mahadi dapat menahan diri karena ingat pesan sang
harimau manusia. Tetapi istrinya bertanya mengapa ia kelihatan gugup. Kentara sekali bahwa pagi itu ia
berlainan daripada biasa. Ketika ia sudah mandi, ada kawannya bertanya kenapa dia yang berdinas malam,
mandi sepagi itu. Biasanya ia langsung tidur untuk bangun nanti pukul 11 atau 12.
"Aku tak boleh menceritakannya. Dan kalian pun tidak akan percaya," kata Mahadi, tetapi akhirnya ia
bercerita juga tentang segala apa yang dialaminya. Kawan-kawan dan istrinya mendengarkan dengan asyik,
kebetulan semua percaya pada apa yang diceritakan Mahadi. Bahkan mereka bertanya.
"Ia menamakan dirinya manusia harimau," kata Mahadi atas sebuah pertanyaan rekannya. Di situlah tiba-
tiba semua orang yang berkumpul itu jadi pucat karena terkejut mendengar suara mengaum disertai kata-kata:
"Kau melanggar pesan, Mahadi. Kau akan mendapat hukuman untuk itu!" Semua orang saling pandang.
Siapakah yang bersuara setelah mengaum kalau bukan si manusia harimau. Dan tiba-tiba Mahadi menggeletar
lalu menggelugur bagai orang diserang penyakit ayan. Mulutnya berbuih-buih dan napasnya turun naik dengan
kencang seperti orang baru berlari jarak jauh. Dokter segera dipanggil. Ia periksa si sakit, tetapi ketika ia akan
menerangkan penyakit itu dan membuat resep, terdengar lagi suara Dja Lubuk. "Tak usahlah bersusah payah
dokter yang pandai dan baik hati. Ini bukan penyakit untukmu. Kau pintar, aku tahu. Namamu Dokter Nizar,
bukan? Dan kau seorang ahli penyakit dalam. Tetapi kau tidak akan sanggup mengobati penyakit si Mahadi
yang nakal ini. Kau akan buang tempo percuma. Ini penyakit untuk diobati dukun yang pandai. Itu suatu

SERIAL MANUSIA HARIMAU 106


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

keadilan dalam bidang pengobatan! Ada penyakit untuk dokter, ada khusus untuk dukun. Sama-sama dapat
hasil, sama-sama bisa makan. Walaupun tidak sempurna, tetapi keadilan sosial terlaksana sekedarnya dalam
bidang pengobatan penyakit!"
Dokter itu tidak meneruskan pembuatan resep. Walaupun ia seorang sarjana, ia turut belajar ilmu gaib
dan kebatinan. Dan dia tahu, bahwa suara ini datangnya dari seseorang yang punya ilmu gaib, sukar
diterangkan berdasar hukum akal.
"Anda juga orang baik Dokter! Aku akan ingat kebaikan itu," kata suara Dja Lubuk.
lstri dan kawan-kawan Mahadi jadi panik. Siapa dukunnya yang akan dapat mengobati Mahadi? Dukun
mana saja? Maka dukun pun dipanggil. Tetapi tak ada di antara kawan-kawan Mahadi yang berani
menceritakan apa yang mereka dengar melalui suara dari alam gaib tadi. Mereka takut akan terserang penyakit
seperti Mahadi. Tak terobati oleh dokter kawakan manapun.
Akhirnya seorang kopral bernama Hidayat terkenang pada seorang muda yang dulu pernah diceritakan
sebagai dukun yang hebat, tetapi tidak pernah memperkenalkan diri untuk dikenal orang ramai. Karena ia
bukan dukun komersil yang mengandalkan kebolehannya untuk hidup. Tetapi apakah orang ini ada di Jakarta.
Sudah lama namanya tidak terdengar.
Penyakit Mahadi tidak kian payah. Bukan karena ada dukun yang dapat membendung. Tetapi karena Dja
Lubuk yang marah memang tidak memperhebat serangan halusnya terhadap manusia yang panjang dan
banyak mulut itu, mengingkari janjinya. Sebelum kopral Hidayat mencari dukun yang pernah tenar namanya,
ia menghadap atasannya dula, Kapten Kamaludin. Diceritakannya maksudnya. Ia pun mengatakan, bahwa
sepanjang ingatannya dukun muda itu bernama Erwin. Ada beberapa orang berpenyakit berat dan aneh telah
dapat disembuhkan oleh Erwin. Kamaludin ingat bahwa orang yang kehilangan istri dan anak karena dibunuh
oleh babi hutan juga bernama Erwin. Suatu kebetulankah atau memang manusianya sama?
Atas persetujuan sang Kapten, kedua petugas penegak hukum dan pemeiihara keamanan masyarakat itu
pergi ke rumah Erwin. Pada pagi hari setelah dua hari berlangsungnya pertarungan antara babi manusia dan
manusia harimau di dekat tugu Monas. Karena keduanya berpakaian seragam, walaupun tidak punya maksud
tertentu tetapi juga tidak menduga akan membawa akibat lain, Erwin kaget. Ada apa pula polisi mendatangi
dia. Belum lama yang lalu, ketika di Ujungpandang ia juga sudah berurusan dengan Polisi. Apakah kedatangan
kedua petugas negara ini ada kaitannya dengan segala peristiwa yang menyebabkan kematian di Sulawesi
Selatan sana, Erwin jadi curiga. Dan ia bersiapsiap menghadapi kemungkinan. Apa saja!
"Saudara Erwin?" tanya Kapten Kamaludin.
"Ya, mengapa?" Pada wajah dan suaranya kentara ia curiga.
"Kami ingin bertamu."
"O, silakan," jawab Erwin. Memang tidak ada jawaban lain yang lebih tepat.
"Boleh kami masuk?"
"Tentu saja. Tapi rumah saya ini jelek!"
"Kami ingin menemui orangnya, bukan rumah," kata Kapten Kamaludin.
"Orangnya hanya rakyat kecil!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 107


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Sama kecilnya dengan kami," kata Kamaludin. Erwin jadi menaruh simpati. Perwira Polri yang seorang
ini lain. Andi Basso dan Daeng Lollo di Ujungpandang juga baik hati, tetapi lain pula dengan yang seorang
ini. Ia memperkenalkan diri sebagai Kamaludin, tidak menyebut pangkatnya. Dia juga memperkenalkan
bawahannya, katanya: "Ini rekan saya Hidayat!" Erwin jadi lebih simpati lagi. Orang yang berpangkat lumayan
ini rendah hati. Tentunya juga baik budi dan disukai oleh orangorang lingkungannya.
"Kami mau menyampaikan turut berdukacita atas musibah yang menimpa Saudara," kata Kamaludin. Air
muka Erwin berubah karena peristiwa menyedihkan itu terbayang kembali, tetapi ia masih cukup ingat untuk
mengucapkan terima kasih atas perhatian kedua petugas keamanan itu.
"Kami datang ingin memohon pertolongan," kata Kopral Hidayat.
"Dengan segala senang hati kalau ada yang dapat saya tolong," jawab Erwin.
"Ada rekan kami sakit payah," kata Hidayat menyambung. "Dokter tak dapat menolong itulah yang
akhirnya membawa kami kemari!" Erwin lantas mengerti apa keinginan kedua tamunya itu.
"Maukah Bapak menolong?" tanya Hidayat karena Erwin tidak memberi jawaban.
"Saya bukan orang berilmu tinggi. Dan sudilah menyebut saya dengan Saudara saja. Saya tidak merasa
pantas untuk diper-Bapak," kata Erwin yang menyebabkan bertatlibahnya rasa hormat Kapten Kamaludin
padanya. Musim orang menyebut "bapak" ini membuat perkataan tersebut telah terlalu banyak salah tempat.
"Tolonglah rekan kami itu," kata Kamaludin menguatkan.
"Apa sakitnya? Saya benar-benar ragu apakah saya dapat membantu. Saya tak banyak tahu ilmu
pedukunan. Sudahkah mencoba pertolongan dukun?"
"Sudah beberapa dukun mencoba, tetapi tiada yang berhasil," ujar Hidayat.
"Dan saya ada permohonan lain," kata Kapten Kamaludin, khawatir tidak selalu ada peluang untuk bicara
dengan Erwin. la lalu menceritakan bahwa selain mengharapkan bantuan untuk Mahadi yang sedang sekarat,
ia juga ingin menuntut ilmu kebatinan dari Erwin.
"Pak Kapten salah alamat," jawab Erwin. "Saya bukan guru ilmu kebatinan. Yang bapak maksud
mungkin pak Darwin yang tinggal di ujung jalan ini. Beliau memang terkenal."
Darwin memang seorang tua yang punya kepandaian mengobati dan beberapa banyak ilmu kuno. Sudah
banyak juga orang ditolongnya. Ia berbeda jauh dengan Ki Ampuh. Selalu merendahkan diri dan tidak
mengutamakan mated dalam pertolongan yang diberikannya.
"Tidak, saya tidak keliru. Yang saya cari adalah Saudara Erwin sendiri," kata Kapten Kamaludin
menegaskan. "Saudara terlalu merendahkan diri. Apakah dilarang mengajarkan yang baik kepada orang lain?"
Erwin tidak bisa menjawab lain daripada mengatakan, bahwa tidak ada larangan menyebarluaskan ajaran yang
baik, tetapi ilmu kebatinan ia tidak punya. Kalau pun ia mengetahui hanya kulit-kulitnya saja.
"Biarlah, saya sudah akan merasa sangat bahagia kalau Saudara Erwin mau memberi pelajaran, kata
Kamaludin.
"Janganlah dinamakan pelajaran. Sebab pelajaran hanya diterima dari guru. Saya bukan guru dan ticlak
akan pernah jadi guru."
"Terima kasih. Itu sudah lebih dari cukup buat saya," Kapten Kamaludin semakin yakin bahwa anak

SERIAL MANUSIA HARIMAU 108


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

muda ini tentulah salah seorang dari terlalu amat sedikit manusia yang benar-benar berilmu. Semakin rendah
tutur bahasa seseorang biasanya semakin tinggi ilmunya. Hanya orang yang picik pengetahuan yang suka
menyombongkan diri dan kadang-kadang malah menepuk dada.

***

ERWIN mendapatkan Mahadi sudah dalam keadaan amat payah. la sudah tidak mengenal orang. Katanya
pandangannya kabur.
"Ini hanya suatu pelajaran baginya," kata suatu suara yang cukup jelas tetapi hanya didengar oleh Erwin
sendiri. Kata-kata itu hanya diperuntukkan baginya. Dan yang berkata itu tak lain daripada ayahnya, Dja
Lubuk. "Ia menceritakan apa yang tak perlu diceritakannya, sebab aku tak mau peristiwa itu menjadi pem-
bicaraan ramai. Kapten dan beberapa anak buahnya itu pun sebetulnya mengetahui, tetapi mereka tidak berani
menceritakannya kepadamu." Erwin berpikir, apakah yang tak boleh diceritakan kepada orang lain itu.
"Pada suatu hari nanti aku datang menceritakannya kepadamu. Obatilah si Mahadi itu," kata Dja Lubuk
hanya untuk diketahui anaknya.
Sebagai kebanyakan dukun, Erwin pun meminta air. Cukup segelas katanya.
Beberapa keluarga Mahadi yang ada di sana mulai curiga, sedikitnya tidak menaruh harapan. Dukun ini
sama juga dengan yang lain-lain itu. Minta air, lalu nanti jarum atau pisau, jeruk purut, bunga tiga atau tujuh
macam, kemenyan atau setanggi.
Tetapi dugaan mereka meleset. Erwin tidak meminta lain daripada segelas air. Dan ia pun mulai
menjampi air itu. Persis lagi seperti kebanyakan dukun. Tetapi manteranya lain. Bukan mantera malah! la
berkata dalam hati: "Ayah, maafkan kesalahan si Mahadi ini. Kata ayah hanya pelajaran, cukuplah itu. Tarik
kembali penyakitnya Ayah!" Setelah itu Erwin meniup air dalam gelas itu.
"Saya hanya berusaha, penentuan tidak pada saya," ular Erwin. Coba teteskan air ini ke kedua belah mata
Pak Mahadi!"
"Dengan daun sirih?" tanya istri Mahadi. Biasanya penetesan air yang dijampi dukun dilakukan dengan
mempergunakan daun sirih.
"Tidak usah. Dengan apa saja. Kalau ada pompa penetes obat mata, boleh. Dengan sendok pun boleh
juga!" jawab Erwin.
Wah lain dukun ini, pikir mereka yang hadir. Pakai pompa atau sendok segala. Ini sih bukan dukun
beneran, pikir beberapa orang di antara mereka. Masa iya meneteskan air jampian ke mata dengan sendok atau
pompa. Kalau mau begitu lebih baik beli saja obat tetes mata. Tetapi karena begitu perintah dukun, maka istri
Mahadi menurut. Dengan sendok kecil air jampian itu diteteskan. Setetes saja tiap mata. Dan yang
menakjubkan, mereka termasuk si sakit tak usah menunggu sampai sore atau keesokan harinya untuk
mengetahui hasilnya.
"Aku melihat lagi. Telah sembuh mataku. Tidak rabun lagi. Ya Tuhan, ampuni dosaku. Engkau amat
pemurah dan pengasih," kata Mahadi yang saat itu lantas teringat pada kebesaran Tuhan yang dapat berbuat

SERIAL MANUSIA HARIMAU 109


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

sekehendakNya.
Beberapa lama kemudian baru ia bertanya, obat apakah yang dipergunakan.
Semua hadirin memandang pada Erwin yang duduk di samping pembaringan Mahadi dengan perasaan
gembira yang tidak dinyatakannya dengan kata-kata. Mahadi pun memandang pada Erwin.
"Bapakkah? Bapak yang mengobati saya?" tanya Mahadi. Suaranya masih lemah karena yang sembuh
baru pandangan mata. Tubuhnya masih lunglai tak berdaya.
"Saya hanya perantara. Semua pun karena kemurahan Illahi," kata Erwin. Semua orang tunduk terharu.
Dukun muda ini, dengan kepintarannya yang begitu hebat, begitu rendah hati dan hahu benar, bahwa semua
pun karena izin Tuhan juga.
Kapten Kamaludin yang ada di sana semakin kagum pada anak muda itu yang diam-diam sudah
dianggapnya sebagai guru, walaupun dia belum belajar suatu apa pun. Tetapi dari perkenalan yang baru dua
jam itu ia sudah melihat dan sebenarnya juga belajar banyak sekali dari Erwin. Caranya bicara dan bersikap.
Kalau dengan air putih saja ia bisa membuat mata rabun menjadi sembuh semula, maka pastilah ia seorang
dukun yang amat hebat.
"Bersyukurlah kepada Tuhan," kata Erwin lagi kepada istri dan keluarga Mahadi. "Sisa air ini nanti
sapukan ke seluruh tubuh Pak Mahadi. Mudah-mudahan Tuhan berkenan lagi mengabulkan permohonan kita
bersama. Yaitu kesembuhan Pak Mahadi sehingga dapat menjalankan tugasnya kelak sebagai polisi yang baik."
Ketika keluarga Mahadi menanyakan persyaratan termasuk bayaran yang harus mereka penuhi, Erwin
menjawab, bahwa ia tidak punya persyaratan. Pun tidak mau dibayar. Dukun aneh, pikir mereka, sebagaimana
telah beberapa pasien tak mampu, tak habis pikir mengapa seorang dukun sederhana semacam Erwin tidak
mau menerima bayaran atas jasa-jasanya.
"Mengapa begitu?" tanya istri dan rekan-rekan Mahadi.
"Ya, begitulah. Saya bukan dukun profesional. Tidak hidup dari mengobati orang. Mungkin pada suatu
ketika saya memerlukan uluran tangan Bapak-bapak. Misalnya kalau saya kebetulan haus di sekitar sini saya
akan mampir mohon segelas sir. Saya kira hidup di dunia ini harus tolong-menolong," jawab Erwin.
Sementara itu istri Mahadi mulai menyapukan air dingin yang dijampi anak muda tadi kepada badan
suaminya. Beberapa saat kemudian Mahadi telah mengatakan bahwa ia mutai merasa segar dan kemudian
seperti biasa kembali. Ajaib, sungguh ajaib. Seperti disulap saja. Dari merasa begitu sakit ia menjadi segar
bugar. Dan dukunnya tak mau dibayar. Dunia ini memang terlalu penuh dengan aneka keanehan. Di sana-sini
ada orang menipu. Mengaku dukun tetapi palsu. Mengaku sarjana tetapi ijazahnya palsu. Jual emas murni,
katanya butuh uang. Kemudian ternyata lagi bahwa yang dijualnya itu hanya emas palsu. Dan kini, seorang
manusia sederhana yang dengan cara sukar masuk akal menyembuhkan seorang sakit berat tidak ingin dibayar.
Mengapa dunia ini tidak mempunyai banyak insan seperti dukun muda ini. Mengapa orang baik dibanding
dengan orang jahat kini kira-kira hanya tiga dari sepuluh orang? Bangunan-bangunan menjulang ke angkasa,
tetapi mental merosot cukup menyolok!

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 110


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

SERIAL MANUSIA HARIMAU 111


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ERWIN terus jadi buah bibir sampai setelah ia meninggalkan rumah Mahadi. Bagi Kapten Kamaludin semakin
jelas, bahwa orang muda ini adalah pilihan tempat untuk mencari ilmu.
Malamnya dia datang lagi ke rumah Erwin. Menyatakan lagi keinginannya untuk menuntut ilmu.
"Saya ingin jadi orang seperti Saudara," kata Kapten Kamaludin.
"Jangan, jadilah orang baik sebagaimana keadaan Bapak sekarang."
"Saudara tidak suka disebut Bapak. Sebut jugalah saya dengan Saudara, supaya terasa lebih akrab.
Sebetulnya orang semacam saudara pantas disebut bapak, sebab ada sifat-sifat bapak terhadap anak pada diri
saudara. Misalnya menghadapi Mahadi tadi pagi. Ajarilah saya ilmu mengobati orang sakit. Saya pun kelak
akan mencoba jadi orang sebaik saudara!"
"Orang seperti saya hanya berguna sekali-sekali saja. Sedangkan orang dengan tugas seperti bapak
diperlukan setiap hari."
"Sebenarnya memang begitu. Diperlukan setiap hari. Tetapi saya lebih suka jadi orang seperti saudara.
Sungguh mati !"
"Mengapa begitu?"
"Terlalu banyak godaan dan tekanan. Kadang-kadang hati ini marah melihat keadaan di lingkungan
sendiri. Kadang-kadang pula mau meneteskan air mata!"
"Mengapa begitu?" tanya Erwin bagaikan orang yang ingin tahu.
"Karena perbedaan yang amat menyolok. Sudahlah jangan kita bicarakan itu," kata Kamaludin dengan
menarik napas.
"Sebenarnya mengapa Saudara mendatangi saya untuk berguru, padahal saya bukan guru?" tanya Erwin.
Kamaludin menyebut nama Dja Lubuk, membuat Erwin jadi terkejut. Ada hubungan apa antara Kamaludin
dengan ayahnya? Manusia harimau itu bertanya dari siapa Kamaludin mendengar nama itu. Tentu cerita yang
dikhayalkan orang, katanya.
"Bukan cerita orang. Saya sendiri telah melihat beliau," lalu Kapten Polisi itu menerangkan pengalaman-
nya. Mulai pertemuan di rumah Mandiangin sampai pertarungan di waktu dinihari di lapangan Monas.
Setelah cukup lama berdiam, Erwin berkata, "Memang, beliau ayahku. Kasihan. Semua gara-gara
salahku!"
"Bolehkah saya kini belajar dari Saudara?" tanya Kamaludin kemudian.
"Saya tidak punya ilmu yang berarti. Tak dapat mengajari. Barangkali ayah atau ompung saya dapat
memberi petunjuk kepada Saudara!"
"Bagaimana saya bisa bertemu dengan beliau-beliau?"
"Ayah dan ompungku sudah lama tiada!"
Kamaludin heran. Bagaimana pula belajar dari orang-orang yang telah tiada? Dan bagaimana pula tidak
ada lagi? Dia baru saja menyaksikan ayah Erwin yang sakti. Sebagai manusia biasa dan sebagai manusia
harimau.
Dan mendadak suara yang sudah dikenal Kamaludin itu terdengar di ruangan tak seberapa besar itu.
"Apa yang dikatakan anakku itu benar, Kapten Kamaludin. la tidak dapat mengajarkan apa-apa. Dari aku

SERIAL MANUSIA HARIMAU 112


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

pun tidak ada yang perlu dipelajari. Anda dapat berbuat banyak untuk masyarakat, kalau itu keinginan Anda.
Kedudukan Anda sebagai perwira kepolisian memberi anda peluang untuk mengabdi pada masyarakat yang
membutuhkan perlindungan. Memang kadang-kadang menyakitkan hati anda, tetapi lingkungan mana kini
yang bebas dari perbuatan yang kotor menyedihkan atau menyakitkan hati?" Suara itu suara Dja Lubuk.
Kamaludin merasa bahwa permintaannya ditolak dengan cara halus. Dan dia pun merasa bahwa apa yang
dikatakan Dja Lubuk, benar. Ia dapat berbuat banyak. Tetapi tidak selalu. Kadang-kadang ada hambatan. Ada
orang yang kadang-kadang tidak memilih kejujuran, tetapi keuntungan. Walaupun tidak halal. Walaupun
menyakiti orang lain. Walaupun bertentangan dengan sumpah jabatan. Persetan sama sumpah jabatan, kata
orang-orang buruk mental ini, toh tidak ada yang dikutuk sumpahnya!
"Jangan putus asa Kapten," kata Dja Lubuk. "Aku tidak berjanji, tetapi kalau aku kebetulan tahu anda
susah karena menjalankan tugas, aku akan datang! Jangan tanya apa-apa kepadaku Kapten. Aku mau pergi
kini. Jangan pula ceritakan tentang aku atau Erwin!" Dan Dja Lubuk menghilang lagi sebagaimana ia biasa
lenyap setelah meninggalkan pesan-pesannya. Kamaludin menyalam Erwin, kemudian tunduk karena tak kuat
menentang mata redup tetapi amat berwibawa itu.
"Bolehkah saya sesekali jalan-jalan ke mari?" tanya Kamaludin.
"Silakan. Saya beruntung mempunyai kenalan atau, kalau boleh saya katakan sahabat, seperti Saudara.
Punya kedudukan baik dan berhati baik," jawab Erwin.
"Bolehkah saya mengajukan sebuah pertanyaan saja?" tanya Kamaludin ketika ia sudah akan pergi. Erwin
mempersilakannya.
"Bila saudara mau menghadapi babi ganas itu, bolehkah saya melihat?"
"Sukar saya menjawabnya. Entah kapan akan bertemu dengannya atau kapan dia menyerbu ke rumah ini!
Tetapi saudara sudah berhasil mengintai ayah saya, tentu dapat juga mengintai saya nanti!" kata Erwin sambil
tertawa. Sebenarnya Kamaludin merasa kecewa dengan ditolaknya ia menjadi murid, tetapi di samping itu ia
telah melihat betapa baik hati sebenarnya Dja Lubuk dan anaknya.
Apalagi Dja Lubuk telah mengisyaratkan, bahwa kapan sangat diperlukan, mungkin ia akan
mendampingi Kamaludin dalam melaksanakan tugas manakala ia benar-benar dalam bahaya. la yakin tak
banyak, bahkan hampir tak ada orang yang mendapat peluang sebaik yang telah diperolehnya. Akhirnya ia
merasa dirinya termasuk orang beruntung. Dan dalam hati ia berjanji untuk tidak menceritakan semua
pengalamannya kepada siapapun, termasuk kepada istrinya sendiri.

***

KAMALAUDDIN pergi, Erwin bergegas ke rumah Sutan Mandiangin. Tampak banyak orang di rumah itu. Tentu
saja masih membicarakan apa yang malam lalu telah terjadi.
Erwin jadi cemas. Bukan memikirkan dirinya, melainkan diri Sabrina yang tanpa dapat dilawan telah
mengambil tempat dalam hatinya. Tetapi ia tak boleh menyatakannya, begitu pesan ayahnya. Dan ia harap
akan dapat menahan diri. Dan pernah lupa pada pesan orang tua sakti itu.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 113


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Pamanku takut sekali Er," kata Sabrina kepada manusia harimau itu.
"Semua manusia, bahkan hewan bagaimana buas sekalipun kadang-kadang punya rasa takut. Juga babi
itu. Tak ada manusia atau hewan yang kebal atau tahan terhadap segala-galanya. Orang yang kebal terhadap
semua senjata, mungkin tak tahan kena api rokok sekalipun. Sebaliknya ada orang yang kena pisau sedikit
sudah akan luka dan takut melihat darah, tetapi ia dapat melalui lautan api tanpa cedera. Terlalu banyak
macamnya ilmu di permukaan bumi ini. Yang sukar dimengerti dan tak dapat dianalisa dengan hukum akai.
Itulah kegaiban dan keajaiban. Kita terima semuanya itu sebagaimana adanya saja. Tak usah dipikirkan
mengapa bisa begitu," kata Erwin.
"Aku boleh sering main-main ke rumahmu?" tanya Sabrina.
"Aku senang kau datang, tetapi jangan selalu." "Kau tak suka?"
"Bukan, aku khawatir kau akan jadi pergunjingan orang."
"Perduli apa sama percakapan orang. Mereka-mereka, kita ya kita."
"Hidup bermasyarakat tak bisa begitu. Entahlah kalau mengasingkan diri ke tengah rimba." Sabrina
diam. Dia kagum atas banyaknya pertimbangan sahabatnya ini. Sudah banyak yang dipelajarinya dari Erwin.
Tetapi mendadak terdengar kursi meja bergerak dan berantakan. Diobrak abrik oleh manusia atau makhluk
yang tak kelihatan. Tetapi baik Erwin maupun Sabrina segera tahu. Itu tentu Ki Ampuh si manusia babi yang
dapat membuat dirinya tidak kelihatan. Lalu terdengar dengkur yang keras dan tawa terbahak-bahak.
"Kau datang lagi ya!" bentak Erwin.
"Aku akan selalu datang. Aku kasihan padamu Sabrina. Kau bertepuk sebelah tangan," kata Ki Ampuh
mulai menghasut kini.
Mendengar ini, Sabrina memandang Erwin. la tahu bahwa babi itu jahat dan mencintai atau setidak-
tidaknya ingin menguasai dirinya, tetapi ia termakan juga oleh hasutan itu. Bertepuk sebelah tangan? Itukah
sebabnya maka Erwin tidak mau ia selalu datang ke rumahnya? Lalu dia memberi alasan yang terdengar begitu
bijaksana. Tak baik dilihat masyarakat, katanya.
"O, itu rupanya yang menjadi sebab Erwin! Kini aku tahu," kata Sabrina. Dan ia, yang tadi mendekap
Erwin karena takut dan terkejut, kini merenggangkan diri.
"Dia menghasut, Rina. Apakah kau lebih percaya padanya?"tanya Erwin.
"Huh, ha ha, si pengecut itu betul-betul palsu. Dia tidak menyukaimu, tetapi dia juga tidak mau menolak
sekaligus. Makanya dia memberi berbagai macam dalih untuk tidak terlalu akrab denganmu! Kasihan, aku
sungguh kasihan melihat gadis secantik kau mengemis kasih pada makhluk yang hanya seperti dia palsunya!"
kata Ki Ampuh. Panas hati Erwin bukan buatan, tetapi girangnya Ki Ampuh juga bukan kepalang.
"Aku percaya, bahwa dia berkata benar," kata Sabrina. la sedih dan malu.
"Dia bohong. Dia berdusta dan menghasut," kata Erwin. Tetapi dia tak mau mengatakan bahwa ia
sayang dan cinta pada Sabrina karena dilarang oleh ayahnya. Padahal Sabrina justeru menantikan kata-kata itu,
pernyataan kasih dari mulutnya. Mengapa ia hanya mengatakan babi itu bohong sedangkan ia sendiri tak mau
mengatakan apa yang benar-benar terasa di hatinya, kalau benar ia cinta pada Sabrina?
"Aku tidak akan mencederaima Sabrina kalau kau menjauhkan diri dari pengecut itu. Kau keturunan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 114


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

cindaku, aku manusia yang sedang bernasib begini. Apa bedanya? Kita sama-sama makhluk yang malang," kata
Ki Ampuh. Erwin diam tak menanggapi lagi. Sabrina kian percaya, bahwa babi sakti itu mengatakan yang
sebenarnya. Tiba-tiba Erwin terpelanting dan suara Ki Ampuh berkata: "Pergi kau pengecut dan penipu
wanita!"
Erwin sebenarnya marah tetapi oleh malunya, ia meninggalkan tempat itu. Dan Sabrina tidak
mencegahnya. Ia cinta pada Erwin tetapi betapa hina dia kalau bertepuk hanya sebelah tangan. Erwin merasa
dadanya sesak. la ingin bicara banyak, mengatakan apa yang terkandung dalam hati, tetapi ia tak boleh
melakukannya. Kalau ia melanggar entah bencana apa yang akan datang. Kalau sudah ayah melarang, maka
sudah tentu ada suatu sebab pokok. Ayahnya cinta padanya, maka itu ia selalu melindungi anaknya. Dan
perlindungan itu berbagai cara, kadangkala bersifat pencegahan datangnya malapetaka yang tak terduga. Tiga
puluh hari lagi baru ia boleh mengatakan cinta pada Sabrina. Dan dalam menanti masa yang sekian lama
berbagai macam dapat terjadi. Jangan-jangan Ki Ampuh telah sempat membujuk atau dengan paksa menodai
Sabrina. Sudah terbukti bahwa Ki Ampuh pandai menghasut dan Sabrina yang ketakutan juga dapat dihasut.
Apalagi setelah ia membiarkan Erwin pergi tanpa berusaha menahannya sedikit pun. Mengapa nasibnya mesti
begitu? Kerapkali dilanda kesedihan. Pada saat itu Erwin yang mempunyai banyak ilmu pun tak berpikir
bahwa semua kejadian itu merupakan cobaan baginya. Dapatkah ia menahan diri? Tidak menyatakan kasih
sayang kepada wanita itu? la tidak menyadari bahwa yang demikian berat mungkin hanya ujian dan
gemblengan terhadap dirinya. Supaya ia mempunyai kemampuan dan kebolehan yang lebih besar di masa
mendatang. Memang, kalau suatu bencana menimpa diri sendiri, orang bijak pun selalu tak kuasa
mempergunakan kebijaksanaan yang dapat dinasehatkannya pada orang lain. Tiba di rumah Erwin
menghempaskan diri di ranjang dan tak dapat menahan air mata. Dia ingat pada ibunya yang selalu sayang
pada ayahnya. Ia ingin belaian ibu yang melahirkan dan membesarkannya. Ia merasa begitu sepi dan begitu
sendiri tanpa ada seorang pun mendampingi untuk menghibur hatinya yang terasa luluh.
Di waktu itulah pintu rumahnya diketuk orang, dan setelah mengeringkan air mata ia membukakannya.
Yang berdiri di sana membuat ia heran tetapi juga gembira. Orang itu tak lain daripada Sabaruddin yang baru
kembali dari Ujungpandang.
"Kau baru menangis, ada apa?" tanya Sabaruddin memasuki rumah.
"Ah tidak apa-apa," jawab Erwin. Suatu jawaban biasa dari orang yang diamuk kesedihan atau ditimpa
musibah tetapi tidak dapat atau tidak mau segera menceritakan apa gerangan yang telah terjadi.
"Ceritakanlah sahabat. Kau telah banyak sekali meringankan dukacita kami sekeluarga. Tidakkah aku
dapat berbuat sesuatu untukmu?" bujuk Sabaruddin.
"Istri dan anakku telah tiada," kata Erwin. Mendengar ini anak muda dari Ujungpandang itu tak dapat
membendung air matanya. Dan ia membiarkannya.
"Sudah berapa lama Er?"
"Pada hari aku tiba itu. Aku tak sempat bertemu dengan mereka," lalu ia menceritakan apa yang telah
terjadi. Kini Sabaruddin menangis terisak-isak. Ia merasa, kalau Erwin tidak dibawanya ke Ujungpandang,
mungkin semuanya itu tidak sampai terjadi. Mengapa begitu buruk nasib sahabatnya yang baik hati itu? Tak

SERIAL MANUSIA HARIMAU 115


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ada yang dapat dilakukan Sabaruddin untuk Erwin. Orang-orang yang sudah dipanggil Tuhan tidak akan
kembali. Termasuk orang-orang yang paling kita cintai. Dan Sabaruddin tidak tahu, bahwa air mata Erwin
yang baru dikeringkan ketika ia datang tadi, adalah karena kawannya itu tak dapat menyatakan cinta kepada
seseorang baru yang belum dikenalnya, Sabrina yang berayahkan cindaku. Sabaruddin mengajak Erwin ke
rumahnya dan manusia harimau itu menurut. Tak banyak sahabatnya, karena ia tidak cukup luas bergaul.
Setelah makan bersama, Erwin kembali ke rumahnya untuk melihat segala perabotan yang tidak seberapa
banyaknya telah porak poranda oleh perbuatan tangan jahil. Ia tahu bahwa yang melakukannya tak lain
daripada Ki Ampuh. Manusia babi itu amat sakit hati, karena walaupun ia dapat menghasut Sabrina tetapi ia
tidak berhasil mengambil hatinya untuk menyerah kepadanya secara suka rela. Namun pada hari itu ia tidak
meneruskan niat jahatnya. Ditinggalkannya gadis itu untuk merusak harta benda Erwin. Tetapi manusia
harimau itu tidak berapa menghiraukannya. Orang dalam duka seringkali tidak terlalu peduli dengan keadaan
sekeliling, apalagi kalau baru berupa kerusakan benda-benda mati seperti yang dilakukan Ki Ampuh. Nanti
pada saat ia telah dapat menguasai diri dan menghimpun daya ingat dan daya pikir, barulah pembalasan akan
diatur dan dilaksanakan. Kini sedang angin Ki Ampuh, nanti mungkin gilirannya akan tiba juga.

***

SEMUA peristiwa, baik di rumah Sabrina maupun di rumah Erwin sendiri, diketahui, bahkan disaksikan oleh
Dja Lubuk yang disertai oleh Raja Tigor, karena kakek ini sudah rindu pada cucunya. Ketika si kakek mau ber-
tindak, Dja Lubuk mohon agar menyabarkan diri.
"Semua ini ujian bagi Erwin yang masih akan menempuh banyak gelombang besar dalam hidup. Kalau ia
berhasil, ia akan jadi lebih mudah melaluinya," kata Dja Lubuk. Erwin tidak tahu akan kehadiran ayah dan
ompungnya. Setelah agak tenang, amarah dan sakit hati Erwin dibangkitkan oleh adanya tahi babi di bawah
bantal yang tak diganggu iblis itu. Manusia harimau itu memukulkan tinjunya ke tembok. Amarahnya
menyala-nyala. Suatu perbuatan kotor dan suatu penghinaan terbesar dalam hidupnya. Tubuh Erwin
menggeletar dan beberapa saat kemudian ia telah menjadi harimau. Anehnya, kali ini mukanya berubah jadi
muka harimau. Ia kaget, apakah arti perubahan yang lain sekali ini?
Perubahan menjadi harimau biasa itu kiranya telah menumbuhkan semangat dan hasrat harimau dalam
diri Erwin, walaupun ia masih dapat berpikir seperti biasa dan menyadari bahwa ia sebenarnya manusia yang
kadangkala bertubuh harimau. Oleh kesadaran inilah maka ia ingat membaca mantera untuk membuat dirinya
tidak terlihat oleh orang biasa dan oleh apa saja yang punya nyawa di dunia ini.
Ki Ampuh yang babi iblis telah memberaki tempat tidurnya. Itu tidak dapat dimaaflcan. la akan
mencarinya sekarang juga, walaupun tak tahu ke mana akan dicari sebagaimana dulu ia pernah juga mencarinya
tanpa mengetahui akan kemungkinan tempat persembunyiannya. Kala itu ia mengikutkan langkah kakinya
saja. Dan akhirnya ia menemukannya juga tatkala babi itu hendak memperkosa Sabrina.
Ia meninggalkan kota tanpa dilihat atau terlihat oleh siapapun. Kalaulah ada manusia yang melihatnya
tentu akan terjadi kepanikan dan mungkin ia akan ditembak oleh siapapun yang mempunyai senjata api.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 116


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sampai larut malam ia mencari ke berbagai tempat. Tidak berhasil. Menjelang pagi ia kembali ke kota.
Pukul 7.30 ia tiba di Jatinegara. Oleh kejengkelan harimau itu ingin menimbulkan kepanikan. Mengapa harus
dia sendiri yang kecewa. Biarlah orang-orang lain juga merasa takut dan panik. Dan ia membaca mantera
untuk melenyapkan kekuatan doa membuat diri tak kelihatan. Maka mendadak berteriak-teriak dan berlarian
puntang pantinglah ratusan manusia yang melihatnya. Bagaimana secara tiba-tiba ada harimau di tengah-
tengah mereka? Suatu keajaiban, tetapi itu tak terpikirkan oleh mereka. Ketakutan dan kepanikan saja yang
menguasai orang banyak itu. Beberapa anggota pemelihara keamanan yang berpistol juga iari tunggang
langgang. Tak ingat untuk mempergunakan senjata menembak mati binatang buas yang amat berbahaya
karena doyan membunuh dan makan daging makhluk hidup itu. Apalagi daging manusia yang manis rasanya.
Tetapi beberapa anggota ABRI yang bersenjata laras panjang dan sedang menumpang sebuah truk tidak
jadi panik. Tahu apa yang harus diperbuat dalam keadaan seperti itu. Truk berhenti dan beberapa orang
membidikkan senjata ke arah binatang itu. Tak usah takut akan mengenai orang, karena semua manusia itu
telah menyingkir. Yang sempat mengherankan mereka adalah tidak adanya orang yang diterkam oleh
binatamg buas itu. Ia hanya berjalan tenang-tenang, seolah-olah ia berada di rimba raya saja. Pasti bukan
harimau sirkus, karena tidak ada yang sedang mengadakan pertunjukan di Jakarta. Apakah harimau jinak
peliharaan seseorang yang sudah tidak ingin daging manusia karena terlalu sering melihat manusia dan selalu
mendapat makan cukup? Tetapi penjaga keamanan yang harus melindungi keamanan orang banyak tidak mau
ambil resiko. Peluru disuruh melaksanakan tugas. Membunuh sang raja hutan. Empat peluru mengenai
sasaran, sebab mereka memang pintar-pintar menembak dan melakukannya dengan hati tenang. Tetapi
harimau itu bukannya roboh atau berlari. la menoleh ke arah asalnya peluru, lalu berjalan lagi seenaknya.
Seperti orang mengejek atau tidak peduli.
Para penembak saling pandang. Menunjukkan rasa heran tanpa kata. Kemudian seperti dikomando
mereka bersama menembak lagi. Dan semua peluru pasti mengenai harimau yang tak acuh itu. Kini binatang
itu membalik, memandangi keempat orang yang menembakinya lalu berlari-lari ke arah truk. Orang-orang
bersenjata itu kini jadi takut. Mereka melompat dari truk, berhamburan lari ke berbagai jurusan. Malu?
Siapapun tidak akan perlu merasa malu dalam menghadapi kenyataan seperti itu. Harimau kebal peluru. Orang
bisa mati konyol kalau berlagak mau terus berhadapan dengan makhluk semacam itu. Lebih baik menghadapi
sepuluh Kasdut. Atau selusin pembunuh berdarah dingin.
Dan harimau itu tidak terus mengejar penembak-penembak itu. la berdiri di sana memandangi saja
seolah-olah sudah puas melihat mereka lari terbirit-birit. Orang ramai di sana lantas berpikir bahwa harimau
ini tidak bermaksud mencederai mereka, tetapi rasa takut mereka tidak berkurang. Sebaik-baiknya harimau, ia
terkenal sebagai raja hutan yang paling ganas. Bisa jadi pembunuh tak kenal ampun. Ada pula di antara mereka
yang berpikir, bahwa binatang buas kebal itu masuk kota mencari seorang pemburu yang barangkali menembak
mati atau melukai salah seekor dari keluarga kesayangannya. Betina pasangannya atau anaknya. Boleh jadi juga
membunuh atau melukai sahabatnya. Karena penasaran ia cari pemburu itu sebagaimana seorang dendam akan
mencari musuhnya walaupun harus menempuh neraka. Sudah tentu kehadiran harimau itu bukan hanya
menyebabkan orang ramai panik, tetapi juga beberapa banyak kendaraan bertabrakan karena pengemudinya

SERIAL MANUSIA HARIMAU 117


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dilanda ketakutan. Lalu lintas jadi kacau balau dan harimau itu terus saja jalan dengan tenang. Sesekali ia
berhenti dan menoleh ke sekeliling seolah-olah mencari sesuatu atau seseorang yang barangkali saja ada di
antara orang-orang itu. Tiba-tiba harimau itu mengaum keras dua kali berturutturut sehingga masyarakat
tambah ketakutan. Sepasukan Polisi yang dimintai bantuan telah tiba di sana. Semua melompat dari atas truk
yang membawa mereka. Ada yang terjatuh karena kaki sudah goyah tatkala menghadapi binatang yang katanya
tak dimakan peluru itu. Mereka menyebar diri, mengepung sang raja hutan. Harimau itu berdiri di tengah-
tengah, mendengus kemudian mengaum. Beberapa orang pemegang senjata jadi gemetar. Kaiau hanya
menghadapi bandit mereka tidak akan setakut itu. Mereka tidak bisa ramalkan apa yang akan terjadi, tetapi
mereka harus menjalankan tugas atasan untuk menembak mati binatang berbahaya yang telah menimbulkan
kepanikan itu.
Rupanya di antara petugas polisi itu ada seorang pawang harimau. Anak dari seorang pawang profesional
yang telah memanggil puluhan harimau di daerah Jambi dan Palembang. Orang ini, sersan mayor Basrah,
sebelum jadi polisi sudah biasa mengikut ayahnya ke hutan untuk menangkap harimau. Yang ditangkap
biasanya harimau yang telah berbuat salah. Membunuh penduduk atau ternak. Dengan kekuatan ilmu gaib
pawang bisa memanggilnya untuk menyerah. Pawang yang benar-benar hebat dapat menundukkan harimau
yang bersalah. Manakala sudah dalam jarak tembak, barulah ia dibunuh oleh yang ditugaskan untuk itu. Tidak
mesti pawang itu sendiri membunuhnya. Seringkali pawang tak mau melakukan pekerjaan yang dianggapnya
kejam itu. Tugasnya hanya memanggil, bukan membunuh. Serma Basrah mencoba jampi-jampi yang pernah
dipelajarinya dari ayahnya, bahkan pernah pula dipraktekkannya beberapa kali.
Rupanya manusia harimau ini merasa bahwa ia disuruh tunduk. Semula ia gelisah, sehingga sang pawang
dan kawan-kawannya yang sudah siap dengan senjata mulai yakin, bahwa serma rekan mereka itu benar-benar
orang luar biasa. Sudah dimufakatkan di markas tadi, bahwa mereka hanya menembak kalau perlu. Begitu
permintaan sersan mayor Basrah, yang mereka terima baik. Setelah gelisah, harimau itu berjalan. Semua
senjata siap tembak. Binatang itu tanpa ragu-ragu menuju satu orang saja. Sersan mayor Basrah. Kawan-
kawannya menjadi tegang, begitu juga banyak penonton yang tadi ketakutan kini berubah ingin menyaksikan
suatu pertunjukan yang pasti hanya bersua sekali seumur hidup mereka. Basrah mulai girang. Manteranya
berhasil. Harimau itu pasti akan sujud nanti di hadapannya. la akan membuat nama besar. Akan jadi pengisi
koran berhari-hari lamanya. Bayangkan, seorang sersan mayor Polisi menundukkan raja hutan di dalam kota.
Beberapa meter di hadapannya binatang buas yang punya rupa amat mengerikan itu memang berhenti.
"Duduk dan sujudlah!" perintah pawang Serma Basrah.
Sang harimau berdiri saja. Tenang, melihat ke kiri dan kanan. Seolah-olah menaksir kekuatan Basrah
dengan kawan-kawannya.
"Tunduk perintahku! Engkau tentu telah membunuh seseorang. Engkau mengaku?"
Harimau itu diam saja, kemudian menguap.
"Tunduk dan sujudlah. Aku atasanmu. Turut perintahku!"
Harimau itu memandangnya.
"Kau tak dapat menentang aku, harimau berdosa!" bentak sersan mayor itu dengan memusatkan seluruh

SERIAL MANUSIA HARIMAU 118


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kekuatan batinnya.
"Siapa bilang?" tanya harimau itu tiba-tiba. Kini semua tangan yang memegang senjata, termasuk Basrah
dan penonton jadi gemetar. Takut dan heran. Ya Tuhan, apa yang berada di hadapan mereka? Harimau yang
berbicara. His atau harimau jadi-jadiankah dia? Beberapa orang polisi bergegas meninggalkan tempat. Ini
bukan lawan. His atau jin bukan lawan manusia dengan senjata, sebab makhluk-makhluk halus itu tidak bisa
dibunuh dengan senjata.
Sersan mayor yang mulai takut itu pun merasa amat heran. Tetapi ia mau coba menghadapinya dengan
kekuatan batin. Kalau lawannya itu bicara kan belum berarti ia kalah? Boleh jadi ia manusia mati yang jadi
harimau. Mungkin nanti ia akan tunduk juga. Cuma tidak secepat harimau biasa. Sebab yang ini tentu punya
otak manusia.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya sersan mayor Basrah, masih dengan suara berwibawa.
"Pentingkah bagimu siapa aku?" tanya harimau itu.
"Mengapa kau masuk kota? Siapa yang kau cari, kalau ada yang kau cari?"
"Adakah hukum yang melarang harimau masuk kota? Pasal berapa?" Wah, harimau ini jelas mengejek
dan mempermainkan si pawang dan kawan-kawannya. Tetapi ia tidak menampakkan tanda-tanda mau
menyerang.
"Menyerahlah supaya kami tidak perlu menembak," kata pawang itu.
"Kalau aku tidak menyerah, perlukah kalian menembak diriku? Apa kesalahanku? Siapa yang kusakiti?
Penjahat pun harus diadili dulu. Sedangkan aku bukan penjahat!"
"Setidak-tidaknya kau menimbulkan ketakutan dan kepanikan!"
"Salah mereka. Kenapa mesti takut dan panik. Aku tidak bermaksud jahat terhadap mereka," kata
harimau itu.
"Katakankah siapa engkau sebenarnya," pinta Basrah. Kini mulai lunak.
"Sudah kukatakan, tak penting bagimu dan kawan-kawanmu!" lalu ia hilang.
Sekarang semua yang menyaksikan benar-benar bagai bermimpi. Ke mana perginya. Harimau masuk
kota, ditembak tak mempan, dipawangi malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dan ia sama sekali tidak
menyakiti siapapun. Apakah sebenarnya semua ini?
Berita itu segera menjalar ke tiap pelosok kota. Yang tidak melihat sendiri banyak yang tidak percaya. Ah,
kabar sensasi. Biasa zaman kita. Ada kejadian yang dibesar-besarkan untuk membuat orang melupakan
peristiwa lain yang sebenarnya lebih besar lagi. Untuk mengalihkan perhatian kata orang.
Beberapa banyak wartawan segera datang ke tempat kejadian. Masih ada bekas-bekas mobil saling
tabrakan. Pecahan-pecahan kaca yang bertaburan. Wartawan-wartawan ini pun sukar percaya pada kejadian itu
tetapi karena berita berarti duit, maka semuanya dilalap untuk disiarkan panjang lebar dalam koran-koran
mereka. Koran-koran sore pasti akan dicetak lebih banyak karena tiap orang pasti ingin membacanya. Memang
begitulah kenyataan. Kepanikan dan ketakutan bagi sementara masyarakat merupakan rezeki bagi sekelompok
orang lain. Yang memanfaatkan kejadian dengan berbagai cara. Antara lain dengan menulis.
Tetapi aneh, pada koran-koran terbitan sore itu tiada berita mengenai harimau kebal yang pandai bicara,

SERIAL MANUSIA HARIMAU 119


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

masuk kota. Tidak sebaris pun. Mereka menyangka bahwa mungkin koran tak sempat memuat. Tapi mustahil.
Kejadiannya pada pagi hari.
Tak ada yang tahu, bahwa tiap pemimpin redaksi dari koran sore telah ditelpon oleh orang yang tidak
mau menyebutkan namanya. "Perintahkan redaksi Anda untuk tidak memuat berita di Jatinegara pagi tadi.
Kalau kalian muat, aku akan datang mengobrak abrik kantor kalian! Jangan tanya siapa aku!" Telpon
diletakkan. Tak ada pemimpin redaksi yang mau ambil resiko. Barangkali yang memberi ingat itu si harimau
yang bisa bicara. Seorang wartawan koran terbitan pagi yang sedianya akan menurunkan berita tersebut dalam
penerbitan keesokan paginya telah menerima ancaman: "Jangan Anda komersilkan diriku kalau mau selamat!"
"Siapa Anda?" tanya sang wartawan.
"Aku yang datang ke Jatinegara tadi pagi!"
"Kau telah mendengarnya. Kau mau memberitakan"
"Harimau kebal yang pandai bicara tadi pagi?"
"Jangan tanya lagi. Jangan beritakan!"
"Tapi aku wartawan. Kewajibanku memberitakan berita."
"Aku melarangnya. Kau kadang-kadang juga dilarang menulis suatu berita, bukan. Kali ini aku yang
melarang!"
"Tapi . . ." ia tidak bisa meneruskan.
"Tiada tapi. Kuulangi jangan tulis!" perintah suara itu. Telpon diletakkan. Wartawan itu masih bimbang.
Mungkin hanya orang iseng yang mau menakut-nakutinya. Ia pun bertekad untuk tetap memuat berita itu.
Tetapi mendadak kursinya terjungkal dan ia jatuh terduduk di lantai. Tak ada yang menjungkalkan. Setidak-
tidaknya tidak kelihatan. Kemudian meja kerjanya dijungkir-balikkan oleh entah apa atau siapa yang tidak
kelihatan.
Wartawan yang oleh teman-temannya dipanggil Mus dari singkatan namanya Mustafa, kali ini bukan
mendengar berita tetapi mengalami suatu kejadian di mana dia sendiri dapat dijadikan bahan pemberitaan
yang menghasilkan uang bagi rekan-rekannya. Kali ini dia rasakan bagaimana tidak enaknya mengalami suatu
kejadian yang bukan hanya mengherankan, tetapi bahkan amat menakutkan. Ia yang selalu melahap cerita-
cerita tentang musibah yang menimpa siapapun, kecuali keluarganya sendiri barangkali, sekarang duduk
bagaikan tak kuat bangkit dengan muka pucat.
"Masih mau menulis tentang diriku?" tanya suatu suara di dalam ruangan itu. Sementara itu dua
kawannya yang mendengar hingar bingar di kamar kerjanya telah datang.
"Kerjaan siapa itu Mus?" tanya Budin, seorang wartawan yang cari makannya melalui berita-berita di
Pengadilan. Mustafa tidak menjawab.
"Aku tanya, masih mau meneruskan tulisan tentang diriku?" tanya suara tadi kembali, kini dengan nada
agak keras. Marah rupanya karena pertanyaan pertama tidak dijawab.
"Siapa itu Mus?" tanya Budin lagi yang masih bingung apa sebetulnya yang telah dan sedang terjadi. Ia
menduga bahwa ada seorang penjahat telah masuk dan kini sedang bersembunyi di ruang kerja rekannya.
Mengancam Mustafa yang barangkali ada niat menulis tentang dirinya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 120


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tidak, tidak lagi!" jawab Mustafa. Dia ingin bebas dari ancaman makhluk yang tidak kelihatan itu.
Budin dan kawannya. Adi jadi ikut ketakutan di samping heran bukan main. Apa sih yang sedang
berlangsung? Dengan siapa Mustafa bicara? Apakah ia tahu siapa yang- masuk ruangan itu? Kini Budin dan
Adi ikut takut. Dengan sendirinya mereka juga turut dalam bahaya. Biar wartawan, kalau keadaan gawat
begitu, jarang yang punya nyali untuk bertahan. Lebih baik cari selamat. Dan mereka mau pergi. Apa boleh
buatlah dengan nasib Mustafa. Tetapi mereka tertahan lagi, ketika suara yang tak kelihatan makhluknya itu
berkata. "He, kau Budin dan Adi, jangan pergi! Dengarkan! Jangan menulis tentang diriku yang tadi pagi
mencari seseorang di Jatinegara. Bukan kehendakku jadi harimau seperti yang mereka lihat!" Kini Budin dan
Adi bukan hanya takut dalam hati tetapi tubuh, terutama kaki juga gemetaran. Peluh pun mulai membasahi
baju.
"Sudahlah, aku mau pergi kini. Maaf, aku telah datang dan membuat kalian takut. Tapi masih lebih baik
takut daripada binasa, bukan!" Lalu terdengar langkah-langkah berat meninggalkan ruangan itu. Yang punya
kaki tentu bertubuh besar. Beberapa menit kemudian baru mereka merasa sudah aman. Karena sudah
mendengar cerita tentang harimau yang membuat masyarakat dan sejumlah pemelihara keamanan jadi
ketakutan dan panik, mereka tahu bahwa yang bicara tadi tentulah dia! Dia yang harimau tetapi tidak
kelihatan. Dia yang menjungkir-balikkan kursi meja Mustafa tanpa mau memperlihatkan diri. Ketika
pelaksana redaksi menanyakan copy tentang peristiwa di Jatinegara, Mustafa dengan terus terang saja
menjawab, bahwa berita tersebut tidak boleh disiarkan. Pelaksana jadi heran, siapa pula yang melarang. Berita
itu tidak akan menimbulkan kegoncangan politik, tidak merongrong wibawa Pemerintah, tidak akan
mengacaukan ekonomi dan keuangan, juga tidak akan mengganggu ketertiban dan keamanan.
"Pokoknya kalau kita semua dan surat kabar ini mau selamat, jangan dimuat," jawab Mustafa.
"Maksudmu Surat Izin Terbit akan dicabut kalau kita menyiarkannya?" tanya si Pelaksana. Mustafa
menceritakan apa yang terjadi kepada atasannya itu. Dengan membawa Budin dan Adi sebagai saksi. Walau-
pun mulanya menyangka dipermainkan, kemudian mau menertawakan ketiga wartawan itu, tetapi akhirnya si
pelaksana redaksi itu pun tak dapat berbuat lain daripada mempercayai kisah tak masuk akal tersebut.
"Jangan pikir tak masuk akal," kata satu suara tiba-tiba. "Mereka menceritakan yang sebenarnya,"
kemudian terdengar suara mengaum. Suara harimau yang binatangnya tidak kelihatan.
Mendengar suara menakutkan itu, kini malah si pelaksana yang berkata: "Ya Pak, kami tidak akan
memuatnya." Buat dia, tutur dengan "bapak" itu menandakan rasa hormat.
Itulah sebabnya tidak ada berita tentang kejadian amat menghebohkan di Jatinegara yang tersiar lumayan
luas melalui mulut ke mulut. Banyak pembaca, bahkan beberapa banyak pejabat tinggi menelpon mengapa
tidak ada satu koran pun memuat berita tentang kejadian tersebut. Mengetahui apa sebabnya banyak orang
tertanyatanya apa lagi yang akan dilakukan oleh harimau sakti itu.

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 121


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

BEBERAPA hari Erwin memikirkan bagaimana caranya ia membalas perbuatan keji Ki Ampuh. Ia juga belum
dapat memecahkan atau mendapat penjelasan dari ayahnya mengapa ia pada kali itu menjadi harimau penuh.
Untunglah pada waktu itu ia masih dapat berpikir sebagai manusia biasa dan tidak sampai bertindak sebagai
binatang buas terhadap masyarakat yang melihat dia di Jatinegara. Dan untunglah ia kebal peluru. Kalau tidak
demikian tentu ia telah roboh oleh peluru yang sekian banyak mengenai tubuhnya. Dan kalau ia waktu itu
tewas, tentu bangkainya akan jadi mayat manusia sebagaimana Sutan Rimbogadang, ayah Sabrina, menjadi
manusia yang sudah tak bernyawa setelah ia tewas dibunuh oleh puluhan manusia di Sungai Penuh.
Walaupun Sabrina telah membiarkannya pergi ketika Ki Ampuh memfitnah dirinya sebagai makhluk
palsu, hati manusianya tetap mengingat dan merindukan gadis yang dapat dipengaruhi babi manusia tersebut.
Ia merasa kelemahannya, yaitu tak dapat membantah tuduhan Ki Ampuh dengan bersumpah bahwa ia
sesungguhnya amat menyayangi dan mencintai Sabrina. Suatu larangan ayah yang telah membawa akibat
begitu menyakitkan baginya tetapi tentu juga bukan suatu larangan karena kejahilan ayah terhadap anak.
Justeru karena sayanglah maka ia berpesan untuk tidak menyatakan perasaan hatinya sebelum Indahayati dan
anaknya melewati empat puluh hari sejak kematian mereka yang amat menyedihkan. Dua puluh tiga hari lagi,
masih cukup lama. Dan apa yang dikhawatirkan Erwin memang pada tempatnya. Sejak berhasil
mempengaruhi Sabrina sehingga tertanam dalam hatinya bahwa Erwin tidak mencintainya, Ki Ampuh telah
dua kali dagang berkunjung. Tiap kali ia coba pula meyakinkan gadis itu bahwa ia sebenarnya juga manusia
biasa yang oleh suatu nasib buruk saja maka jadi babi. Kalau ia bukan manusia, mustahil ia bisa bicara. la sudah
sampai berusaha mempersamakan dirinya dengan Sabrina yang sebenarnya juga punya nasib seperti dia, yaitu
kadangkala bisa berubah jadi harimau. Sama dengan ayahnya. la jelaskan, bahwa ayah Sabrina yang sudah mati
itu pun akan bangkit dari kuburnya, bukan lagi sebagai manusia tetapi sebagai harimau. Hanya kebangkitan
kembali bagi cindaku tidak sama waktunya. Ada yang tujuh hari setelah kematian, tetapi ada juga yang sampai
sepuluh tahun atau bahkan lebih baru hidup kembali.
Cindaku, kata Ki Ampuh, sejak kematiannya telah menjadi penasaran dan ingin melakukan pembalasan
terhadap manusia yang pernah kejam terhadap dirinya. Mereka juga selalu rindu pada istri dan anak-anak yang
disayanginya. Sutan Rimbogadang, kata Ki Ampuh, pasti rindu sekali pada Sabrina dan pada saatnya ia akan
datang. Ia tidak akan menyukai Erwin, karena ia bukan cindaku, tetapi manusia harimau oleh ilmu-ilmu dunia
yang dianut ayah dan kakeknya semasa hidup. Sabrina yang tidak tahu tentang bagaimana sesungguhnya
penentuan bagi cindaku yang mati, menaruh kepercayaan pada cerita Ki Ampuh, walaupun susah diterima oleh
akalnya.
Setelah melihat bahwa gadis itu kian percaya pada dirinya, Ki Ampuh coba menyampaikan hasrat
hatinya, yaitu ingin selalu melindungi Sabrina sebagai wanita yang amat dicintai dan disayanginya. Tetapi
Sabrina menolak dengan cara halus bahwa ia belum berhasrat punya kekasih. ia menggunakan kata-kata yang
bijaksana kini, karena sudah melihat kehebatan Ki Ampuh. Bagaimanapun ia tidak ingin binasa oleh
kesombongan. Dalam hati ia berketetapan untuk tidak akan sudi menyerah pada rayuan Ki Ampuh. Kalau
sekedar bersahabat, dia bersedia dan bahkan suka sekali, karena dirinya akan dilindungi. Sebagaimana Erwin,
gadis ini pun selalu teringat pada orang yang sebenarnya masih dicintainya. Yang ia tidak mengerti, mengapa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 122


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Erwin tidak pernah mengatakan cinta padanya. Bukankah itu suatu tanda bahwa ia tidak mencintai? Otaknya
tidak sampai memikirkan bahwa mungkin manusia harimau benar-benar mencintai tetapi tidak boleh
menyatakan perasaan hatinya. Atau adanya larangan tertentu bagi manusia harimau. Apa bedanya manusia
harimau dan Ki Ampuh yang manusia babi? Ki Ampuh terus terang merayu dan menyatakan cinta, mengapa
Erwin tidak?
Tetapi ketekunan Ki Ampuh untuk mendapatkan Sabrina dengan jalan penyerahan sukarela akhirnya
berubah menjadi suatu kejengkelan dan bangkitlah nafsunya yang pernah berkobar ketika ia berhadapan
dengan gadis itu di sebuah kebun karet. Ia ingin melampiaskan nafsunya dan ia harus mendapatkannya.
"Kau menolak aku Sabrina?" tanyanya.
"Jangan kita bicarakan itu. Bukankah kita bersahabat. Bukankah kau pelindungku Ki Ampuh?" jawab
Sabrina dalam usaha mencegah amarah manusia babi itu.
"Sudah kukatakan, aku membutuhkan dirimu. Aku harus mendapatkannya malam ini," kata Ki Ampuh.
Sudah jelas apa yang dimaksudnya.
Sabrina tidak menjawab, tetapi Ki Ampuh yang hadir di kamar Sabrina dalam bentuknya sebagai babi
hutan juga tidak menantikan jawaban. Ia telah menyatakan keputusannya. Dia tidak mau menanti sampai hari
atau malam lain.
Babi itu menerkam Sabrina dalam posisi berdiri, lalu mendorong gadis itu ke tembok. Ia menciumi
Sabrina dengan menjaga jangan sampai taringnya melukai manusia itu. Dan Sabrina, yang sudah dipukau,
tidak dapat berteriak. Ia tahu, bahwa kehormatan dirinya menjadi taruhan. Kaki depan babi itu kemudian
merobek-robek baju Sabrina sehingga tampaklah dadanya yang putih bersih membangkitkan gairah si babi
sebagai api yang ditiup-tiup angin.
Pada saat itu Sabrina mohon kepada Tuhan dan almarhum ayahnya agar ia dijadikan harimau. Kini ia
amat memerlukannya. Tetapi, sial baginya permintaan itu tidak terkabul. Ia tetap Sabrina cantik dengan tenaga
lemah. Walaupun begitu diusahakannya mendorong babi yang mendengus-dengus itu. Bukan karena marah
tetapi karena nafsu yang berkobar-kobar.
"Binasalah aku sekali ini," pikir Sabrina dengan perasaan amat pilu, "Hancur kegadisanku oleh seekor
babi!"
Pada saat babi itu akan merenggut kehormatan Sabrina, mendadak terdengar suara harimau mengaum
dalam kamar itu juga. Manusia babi itu menoleh dan betapa terkejut dia. Di belakangnya berdiri seekor
harimau. Bukan tubuh harimau dengan muka manusia sebagaimana telah beberapa kali dihadapinya.
Sabrina yang sudah putus asa bagaikan hidup dari suatu kematian. Ayahnya, yang berdiri itu tentu
ayahnya. Begitulah juga sangka hati Ki Ampuh. Dia tadi mengatakan bahwa tiap cindaku yang mati, pada
suatu saat akan bangkit kembali dari kuburnya untuk mendatangi orang-orang yang pernah menyakitinya atau
mengunjungi orang-orang yang amat dicintainya.
"Ayah," teriak Sabrina.
Babi itu telah melepaskan calon korbannya, mengambil sikap bertahan atau menyerang, tergantung
bagaimana langkah si pendatang itu selanjutnya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 123


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Kau mengganggu aku cindaku. Tentu kaulah yang bernama si Rimbogadang, ayah calon istriku ini!" kata
Ki Ampuh.
Harimau itu diam, tidak menanggapi, juga tidak bergerak. Ia hanya memandang saja pada Sabrina dan Ki
Ampuh.
"Mengapa kau mematung di situ! Apakah cindaku yang bangkit dari kematian tidak bisa berkata-kata?"
ejek Ki Ampuh. Ia menyangka, bahwa harimau itu ragu-ragu menyerang dirinya.
"Ayah!" kata Sabrina lagi yang yakin benar bahwa harimau itu tak lain daripada ayahnya. Tetapi yang
dipanggil ayah diam saja. Seperti tadi, ia hanya memandang. Tidak bisa ditebak apa yang tersembunyi di balik
pandangan matanya itu.
"Ayah, aku bukan menyerah padanya. Ia menyerang, aku tak kuasa melawan," kata Sabrina yang khawatir
kalau-kalau ayahnya menyangka ia suka dengan babi itu. Harimau itu tidak menyahut, tetapi pandangan
matanya berubah.
"Yang kucintai adalah Erwin ayah, si manusia harimau. Tetapi ia tidak membalas cintaku. Salahkah aku
ayah?"
"Anakmu ini bodoh, menghendaki pengecut dan pengkhianat yang sama sekali tidak menyukai dirinya,"
kata manusia babi itu menyela. Karena harimau itu tidak menanggapi, maka ia seperti menaruh harapan
kembali. Barangkali saja Sutan Rimbogadang merestui, pikirnya. Mendadak harimau itu menggeram. Lalu
matanya seperti memancarkan api.
"Kau babi laknat, Ki Ampuh. Tak tahu malu dan kejam melebihi apa pun. Kau dajal yang mestinya tak
ada di dunia ini!" bentak harimau itu. Ki Ampuh terkejut. Harimau itu toh pandai bicara. Tetapi Sabrina pun
terkejut heran bercampur malu. Itu bukan suara ayahnya. Ia masih ingat bagaimana suara ayahnya. Itu suara
yang dikenal Ki Ampuh dan Sabrina. Tetapi mengapa mukanya pun muka harimau?
Sabrina dan Ki Ampuh sama-sama heran dan agak mengerti mengapa harimau itu mempunyai suara
Erwin yang biasanya adalah manusia harimau. Belum pernah Ki Ampuh melihat manusia harimau itu menjadi
harimau seluruhnya. Apakah ini harimau sakti lain yang mempunyai suara sama dengan Erwin atau hanya
meniru suara nya untuk suatu siasat.
"Tak usah kalian ragukan lagi," kata harimau itu, "Aku memang Erwin." Kini Ki Ampuh menjadi benar-
benar hampir tak percaya. Musuhnya ini kini bisa menjadi harimau dengan kepala harimau. Adanya dia di
kamar itu tentu karena mendapat firasat bahwa Sabrina dalam bahaya. Sabrina sendiri, bagaimana heran dan
terkejutnya, menjadi lega. Kedatangan Erwin di saat ia dalam bahaya besar tentulah karena orang yang
dicintainya mengetahui melalui firasat. Dan ia datang sudah pasti karena ia mau menyelamatkannya. Ia
menyelamatkan, sudah tentu karena sayang dan cinta! Ataukah karena kasihan sematamata? Begitu tanyanya di
dalam hati.
"Ki Ampuh, tidakkah kau punya malu hendak memperkosa gadis yang terang-terang tidak menyukai
dirimu!" kata harimau itu.
"Apakah kau kira dia menyukai engkau?" balas Ki Ampuh.
"Setidak-tidaknya aku tidak berusaha menggagahinya! Biarlah ia menghina diriku karena ia percaya pada

SERIAL MANUSIA HARIMAU 124


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

segala fitnahmu. Aku rela menerima segala cacian dan makian. Karena aku memang makhluk yang hina, tidak
seperti manusia yang wajar, juga tidak seperti harimau si raja hutan belantara! Namun begitu aku tidak sudi
kau memperkosa wanita yang membenci diriku!" kata Erwin. Kini ia tunduk seolah-olah hendak menutupi
mukanya. Sabrina amat terharu mendengar ucapan Erwin. Dalam merendahkan diri dan menerima semua
penghinaan itu tersembunyi tangis karena malu dan pilu. Lukakah hatinya karena Sabrina membiarkan ia pergi
tempo hari setelah dihina dan difitnah oleh Ki Ampuh tanpa berusaha sedikit pun untuk mencegah
kepergiannya? Apakah ia harus meminta maaf kepada Erwin yang pada detik tergawat telah menyelamatkan
dirinya? Perlukah itu? Minta maaf kepada seseorang yang hanya menaruh kasihan padanya, padahal yang
diharapkannya bukan iba kasihan melainkan kasih dan sayang?
"Jadi apa maumu sekarang harimau siluman?" ejek Ki Ampuh.
"Kau tahu apa mauku!" jawab Erwin.
"Maumu aku pergi dari sini? Jangan kau harap!"
"Aku mau nyawamu, bangsat!" bentak Erwin.
"Kau gila! Aku ini orang mati yang bangkit kembali! Orang hanya satu kali mati dan aku telah
melaluinya. Aku tidak akan bisa mati lagi. Bagaimana pula kau hendak mengambil nyawaku!"
Mendengar ini Erwin tidak segera menyahut. Apa yang dikatakan Ki Ampuh memang benar. Ia manusia
yang telah mati. Kemudian bangkit lagi jadi babi. Bisakah babi itu mati lagi padahal ia sudah pernah mati?
Benarkah orang tak bisa mati dua kali? Erwin tidak dapat menjawab pertanyaan yang timbul dalam benaknya.
Kalau benar Ki Ampuh tidak mungkin mati dua kali, maka babi yang tak lain daripada Ki Ampuh itu tak
mungkin dapat dibinasakannya.
Dalam pada itu pikiran sehat timbul dalam diri Sabrina. Kalaupun hanya karena kasihan, Erwin telah
datang dalam bentuk harimau untuk menyelamatkannya. Dan ia masih utuh sebagai gadis karena kedatangan
Erwin. Seharusnya dia mengucapkan terima kasih. Tetapi hasrat hatinya yang masih mengharapkan lebih
daripada kasihan dari Erwin menyebabkan Sabrina tidak dapat menahan pertanyaan: "Erwin, mengapa kau
datang menyelamatkan diriku?"
"Sudah kukatakan. Aku tak rela kau diperkosa oleh bedebah yang tak tahu malu ini!" jawab Erwin. Panas
hati Ki Ampuh dikatakan tak tahu malu dan bedebah pula lagi. Tetapi ia tidak langsung menyerang Erwin,
karena masih menanyai dirinya, apakah ia sanggup membinasakan lawannya yang kini telah datang sebagai
harimau? Dia benci sekali pada Erwin, tetapi dia tidak ingin mati konyol karena salah perhitungan.
"Mengapa kau tidak rela aku diambil Ki Ampuh?" tanya Sabrina memancing.
Erwin tidak menjawab. Ia tahu apa yang harus dikatakan, tetapi ia tidak boleh mengatakannya. Dia tahu
juga bahwa Sabrina menantikan jawaban yang justeru belum boleh diucapkannya itu.
Sabrina kecewa. Pancingannya tidak juga mengena. Ia menilai Erwin hanya kasihan saja padanya dan di
samping itu penuh tanda tanya. Ia tidak tahu sama sekali bahwa Erwin juga tidak kalah kecewa dibanding
dengan dirinya. Bahkan gelisah menantikan saat ia dapat memberi keterangan kepada wanita yang kini hanya
boleh dicintainya dalam hati itu!
Kini babi itu menjawab, "Ia hanya perusak kebahagiaan orang lain. Tidak mau melihat orang lain merasa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 125


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

senang. Itulah salah satu kebusukannya."


"Bagaimanapun ia telah menyelamatkan diriku," kata Sabrina.
"Menyelamatkan katamu? Kau berpikir begitu, karena belum mengetahui siapa dan bagaimana Ki
Ampuh ini. Meskipun ia berupa babi, tetapi ia dapat mencintai wanita dan memberi kesenangan kepadanya
lebih daripada manusia yang ganteng dengan tubuh yang kekar. Yang hanya lahiriah gagah, tetapi sebenarnya
bukan apa-apa jika telah sampai pada saat membuat seorang wanita merasa bahagia sesuai dengan hak tiap
wanita. Aku, aku ini orangnya yang dapat membuat wanita senang. Dan aku ini pula orangnya yang tahu
benar-benar apa tuntutan wanita!" kata Ki Ampuh. Meskipun dengan kata-kata berselimut, jelas bagi Sabrina
dan Erwin apa yang dimaksud dengan kesenangan dan kebahagiaan oleh Ki Ampuh.
"Kalau bajingan ini tidak mengganggu tadi," kata Ki Ampuh, "Maka takutmu hanya takut sementara
yang akan berubah jadi rasa senang yang belum kau rasakan seumur hidupmu. Aku hanya memerlukan sedikit
waktu untuk menunjuk-buktikan kepadamu, bahwa orang seperti aku inilah yang kau butuhkan. Kau akan
tahu Sabrina bahwa setelah berkenalan akrab dengan aku kau tidak akan pernah inginkan laki-laki lain, karena
mereka tidak akan dapat memberikan apa yang sedianya kuberikan tadi padamu," kata Ki Ampuh memuaskan
hati dan coba merangsang Sabrina dengan cara lain. Kalaupun ia tidak terangsang, tentu ia ingin tahu, apa
benar sih yang dapat disuguhkan Ki Ampuh, yang tak dapat dilakukan oleh kebanyakan laki-laki di atas dunia
ini? Erwin memandangi Sabrina bagaimana reaksi kata-kata babi itu terhadap dirinya. Ia merasa sangat dihina,
sebab dengan sendirinya Ki Ampuh bermaksud mengatakan, bahwa Erwin tidak akan dapat memberikan
kesenangan seperti dia.
"Walaupun bentuk diriku seperti babi, Sabrina;" kata Ki Ampuh melengkapi daya pikatnya. Dan pada
saat itu Ki Ampuh yang pernah belajar ilmu pekasih di Sibolga membaca mantera-mantera yang sudah lama
tak digunakannya. Selama. jadi babi inilah untuk pertama kali ia mencobakannya kembali. Semua istri-istrinya
semasa ia masih manusia diperolehnya dengan kekuatan ilmu pekasih. Yang Indo, yang Cina dan bangsa
sendiri yang kesemuanya muda-muda dan cantik-cantik. Dan mantera itu rupanya punya pengaruh atas diri
Sabrina. Hatinya jadi lunak kembali terhadap babi itu, bukan karena kesenangan dan kebahagiaan yang
dikatakannya itu, tetapi sesuatu yang ia tidak mengerti dan tak dapat menerangkannya. Sabrina memandang
harimau yang tak banyak berkata itu. dan tanpa disadarinya ia berkata: "Sudahlah Erwin, aku tidak
membutuhkan pertolongan atau kehadiranmu lagi. Aku tak takut pada Ki Ampuh. Aku tadi hanya terkejut!"
Erwin merasa seperti disambar petir. Kehadirannya tidak dibutuhkan lagi. Suatu cara pengusiran dengan
kata-kata lain saja. Dan ini untuk kedua kalinya.
"Sabrina," kata harimau itu sejurus kemudian. "Kau mengusir aku pergi?"
"Aku hanya tidak membutuhkan kehadiranmu," kata Sabrina. Sama saja artinya, hanya ia tidak mau
menggunakan kata-kata yang terlalu kasar.
"Itu kan sudah jelas harimau siluman," kata Ki Ampuh kini jadi berani. "Sabrina tidak mau mengatakan
mengusir, tetapi dia mengusir engkau. Ia mau berdua-dua saja dengan aku di sini," katanya lagi tanpa malu-
malu.
"Sabrina, kau keterlaluan terhadap diriku!" ujar Erwin yang harus menelan penghinaan dan menekan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 126


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

perasaan sayangnya kepada gadis yang masih bersih itu. Apakah menjelang selesai empat puluh hari sejak
kepergian istri dan anaknya ia akan kehilangan Sabrina pula yang tadinya sudah meringankan beban
penderitaannya, walaupun tak dapat dikatakan menggantikan orang-orang tersayang yang telah tiada dan tak
mungkin digantikan oleh siapapun?
Sekali lagi Erwin pergi dengan hati yang teramat masgul.
"Akhirnya kau menjadi bijaksana dengan pikiran sehat dan dewasa," kata Ki Ampuh. "Kau akan
menerima apa yang kujanjikan! Kau pasti akan merasakan kesenangan yang belum pernah kau rasakan, bahkan
tak pernah kau impikan." Babi itu melangkah mendekati wanita cantik yang telah tunduk di bawah
pengaruhnya dan akan menjadi mangsa, sebagaimana sekian banyak perempuan semasa ia masih manusia dulu
telah menjadi korban kekuatan ilmu hitam dan guna-gunanya.
"Marilah sayang," kata babi itu. Sabrina sadar bahwa babi itu asalnya manusia yang telah mati dan oleh
kutukan sumpah jadi begitu. Dalam hati kecilnya ia tidak mencintai babi, tak mungkin mencintainya, tetapi ia
juga tidak berdaya untuk menolak kini. Ia rasakan bahwa ia tidak berdaya. Dan ia menurut perintah, datang
mendekati babi hutan itu.
"Kau percaya pada apa yang kukatakan tadi bukan? Dan kau telah melihat untuk kesekian kalinya bahwa
si harimau siluman yang semula kau cintai itu sebenarnya sama sekali tidak mencintai dirimu. la datang tadi
hanya karena sifat busuknya tak rela melihat aku dan kau menikmati kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak
pernah dapat diberikannya kepada istrinya dulu dan juga tidak akan pernah sanggup memberinya kepadamu.
Kau telah melihat kebenaranku dan kau percaya bahwa aku benarbenar cinta padamu dan akan melindungi
dirimu. Berkatalah sejujur hatimu, iya atau tidak? Aku tidak memaksa!"kata Ki Ampuh yang tahu bahwa ilmu
hitamnya telah bekerja sebagaimana mestinya.
"Ya, aku percaya padamu Ki Ampuh," kata Sabrina yang telah terpukau.
"Dan kau sayang padaku bukan?"
"Ya, aku sayang padamu Ki Ampuh," kata Sabrina. Jelas, hanya tanpa perasaan orang yang sedang jatuh
cinta. Begitulah kekuatan guna-guna.
"Dan kau akan menurut segala nasehat dan permintaanku bukan?"
"Aku akan menurut Ki Ampuh."
"Kau tahu sudah bahwa harimau siluman itu tidak mencintai dirimu?"
"Aku tahu."
"Dan kau malu karena bertepuk sebelah tangan?"
"Aku malu Ki Ampuh."
"Dia tadi datang hanya untuk mengganggu kau dan aku, bukankah begitu."
"Ya, dia tadi datang mengganggu kita Ki Ampuh." "Sekarang kau benci padanya. Ataukah tidak?"
"Sekarang aku benci padanya."
"Aku ini pantas jadi kekasihmu bukan?"
"Ya, kau pantas jadi kekasihku Ki Ampuh."
"Kau akan memberi aku keturunan bukan?"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 127


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Ya, aku akan memberimu keturunan."


"Apa yang kau sukai? Manusia, harimau atau babi?"
"Aku ingin bayi Ki Ampuh, seperti ayahnya."
"Kau pandai sekali, sayang," kata Ki Ampuh.
"Anak harus sesuai dengan ayahnya Ki Ampuh."
"Kau akan menamakan siapa?" tanya Ki Ampuh.
"Ayahnya yang pandai memilih nama untuknya!"
"Kita beri dia nama Sabrinani kalau perempuan dan Ampualam kalau lelaki. Kau setuju?"
"Aku sangat setuju Ki Ampuh."
"Aku lebih suka anak lelaki supaya bisa menyambung keturunan, kau?"
"Aku juga lebih suka anak lelaki supaya berkembang biak babi-babi sakti." Ki Ampuh girang
bukan buatan. Dengan kekuatan ilmu hitamnya semua cita-citanya akan terpenuhi dan tercapai. Dan akan
habislah harapan bagi Erwin yang amat dibencinya itu.

***

ADAPUN Erwin sampai hadir tatkala Ki Ampuh hendak merenggut keperawanan Sabrina, karena ia
mendadak merasa gelisah dan mendapat firasat bahwa atas diri Sabrina akan terjadi malapetaka yang
akan menjadi tangisannya seumur hidup. Ia mohon supaya bisa menjadi harimau lagi dan doanya
terkabul, ia kaget sekali tatkala melihat Ki Ampuh telah siap untuk memperkosa wanita yang
disayanginya. Kedatangannya telah mencegah bencana itu, tetapi oleh larangan ayahnya untuk menyatakan
cinta, maka ia lagi-lagi tersingkir karena pandainya Ki Ampuh menjatuhkan namanya di hadapan
Sabrina. Ia terpaksa pulang. Bagaimanapun besarnya cinta pada Sabrina, is masih lebih taat pada pesan
ayahnya. Setiba di rumahnya Erwin menjadi manusia biasa kembali. Hatinya hancur luluh karena
sepeninggalnya tentulah Ki Ampuh akan melaksanakan hasrat hatinya yang sudah tak tertahankan.
Bukankah dari cinta, Sabrina telah jadi muak padanya dan terus terang mengatakan tidak lagi
menghendaki kehadirannya. Ia hanya tidak mengatakan bahwa ia ingin menikmati kesenangan dan
kebahagiaan yang dikatakan Ki Ampuh.
"Kau akan menurut ya sayang, supaya semua berjalan indah," kata Ki Ampuh. "Kau ingin mengalami
sesuatu yang paling indah dari semua keindahan, bukan?"
"Aku akan menurut Ki Ampuh. Berilah aku yang paling indah di antara semua keindahan itu," kata
Sabrina. Jauh di lubuk hatinya ia menangis, tetapi ia tak berdaya menolak segala perintah dan keinginan
manusia babi itu.
Kekuatan ilmu hitam memang luar biasa. Seperti halnya Sabrina. Ia bersedia menurut segala perintah
dan keinginan orang yang menyihirnya. Hati nuraninya sebenarnya tidak menyukai, merasa bahwa ia
menyerahkan kehormatannya kepada babi, walaupun asalnya manusia, tetapi untuk mengatakan tidak saja
pun ia tak sanggup. Ia telah sepenuhnya dalam kekuasaan babi pandai sihir itu. Ki Ampuh girang bukan

SERIAL MANUSIA HARIMAU 128


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

kepalang, sehingga ia gugup, menjelang saat akan tercapainya maksud. Kini sudah tidak akan ada halangan lagi.
Erwin tentu sudah tak sanggup datang, karena sudah dua kali dibikin malu.
"Pintalah agar anak kita ini lelaki, sayang," kata Ki Ampuh ketika sudah hendak memulai perbuatan
durjananya.
"Ya, semoga ia nanti akan jadi anak lelaki, Ki Ampuh," kata Sabrina.
Tetapi sesuatu yang ajaib terjadi. Sesuatu yang di luar perkiraan siapapun. Juga di luar dugaan Ki
Ampuh. Mendadak terdengar suara petir menggelegar dan bersamaan dengan lenyapnya gema halilintar itu,
daya kelelakian Ki Ampuh menurun lalu kendor sama sekali. Ia menjadi impoten, setidak-tidaknya
untuk saat itu. Sebagaimana ia setahun yang lalu pernah mendadak jadi impoten ketika mbah Panasaran
yang amat cantik menantikan suatu kesenangan dari dirinya. Dan seperti di belantara Cikotok dulu,
kini pun ia menjadi amat malu dan panas hati. Mengapa yang begitu menyakitkan hati terjadi
justeru pada saat ia hendak menunjukkan kemampuannya yang luar biasa sebagai lelaki, yang katanya sukar
dicari tandingannya di dunia ini. Sabrina telah menyerah sebagaimana dulu mbah Panasaran telah
menyediakan diri. Dia sendirilah yang tak sanggup. Malunya jadi berlipat ganda karena ia telah
menjanjikan bahwa setelah perbuatan pertama itu nanti Sabrina akan tahu bagaimana rasanya yang
dinamakan keindahan terindah di mayapada ini. Apakah sebenarnya yang terjadi? Ia sudah puluhan atau
bahkan ratusan kali mendengar petir tatkala melakukan kebersamaan dengan salah seorang istrinya
dulu. Petir tidak pernah punya pengaruh atas dirinya. Sabrina diam saja. Tidak bersyukur tetapi juga tidak
kecewa. Begitulah keadaan seseorang dalam pengaruh ilmu sihir, seperti menerawang saja di persawangan.
Tidak merasa berpijak, juga tidak merasa bergantung.
"Lain kali saja Sabrina. Pikiranku sedang terganggu. Ada seseorang sedang menjahili kita. Barangkali
jahanam itu lagi. Dajal yang kau usir tadi," kata Ki Ampuh penuh rasa kesal dan kecewa.
"Ya, lain kali Ki Ampuh. Barangkali si jahanam itu menjahili kita," kata Sabrina mengulangi
kata-kata Ki Ampuh.
Mendadak terdengar gelak tawa, lalu gelak terbahak-bahak. Dapat juga dikatakan gelak kemenangan.
Disusul
dengan suara, "Bukan si Erwin, Ki Ampuh. Dan bukan pula petir. Halilintar itu hanya memberitahukan
kepadamu tentang kedatanganku. Kau masih kenal suaraku?"
Ki Ampuh coba mengingat-ingat suara siapa yang didengarnya itu. Bukan suara Dja Lubuk. Apakah suara
Raja Tigor yang kakek Erwin? Ah bukan juga. Suara orang tua sakti itu lain. Tetapi suara ini pernah juga
didengarnya beberapa kali. Di mana? Ia coba mengingat-ingat. Benar pernah. Di Sumatera. Kini dia ingat,
suara Datuk nan Kuniang, si mayat yang dikuburkan di Kebayoran Lama, tetapi kadangkala bangkit dari
kuburnya. Bukan sebagai harimau, melainkan sebagai manusia biasa. Pakaiannya saja yang lain. Hanya kain
kafan yang menjadi pembungkus jenazahnya tatkala ia dikuburkan. Ia sahabat akrab Dja Lubuk dan Raja
Tigor. la pernah dikunjungi Erwin dan pernah menurunkan beberapa ilmu kepandaiannya kepada manusia
harimau yang anak sahabatnya Dja Lubuk itu."
"Betul Ki Ampuh, aku Datuk nan Kuniang. Tak menyangka akan bertemu lagi dengan aku. Bahkan tak

SERIAL MANUSIA HARIMAU 129


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

pernah mengingat aku lagi. Tak terkenang olehmu bahwa aku yang membawa kau ke Sumatera dengan
berjalan kaki di permukaan air Selat Sunda dan Samudera Indonesia? Kita masih sama-sama tatkala di Padang,
lalu kita berpisah. Ingatkah kau?" kata suara itu lagi. Tak lama kemudian ia berdiri di kamar itu. Datuk nan
Kuniang berbaju kain kafan dengan muka dan kaki serta seluruh penutup dirinya berlumpur tanah Hat yang
kuning warnanya.
Bagaimanapun merasa diri sangat hebat, melihat mayat bangkit dari kubur dalam bentuk yang begitu, Ki
Ampuh menjadi takut. Mengapa orang yang sudah tidak ada lagi dalam ingatannya itu mendadak kembali?
Apakah ia dari dalam kuburanrfya sana dapat melihat segala apa yang' terjadi di permukaan bumi? Dan
bangkit mendatangi siapa saja dan di mana saja dikehendakinya? Detik-detik yang berlalu tanpa kata,
membuat Ki Ampuh berkesempatan untuk menguasai dirinya kembali, walaupun hanya sebagian. la berdiri
atas dua kaki belakangnya dan pelan-pelan mendapatkan Datuk nan Kuniang. Setelah dekat ia berkata: "Apa
kabar Datuk, lama sekali sudah kita tak berjumpa?" la berusaha mengambil hati Datuk nan Kuniang. Yang
ditanya tak menjawab. Ki Ampuh mengulurkan kaki depan sebelah kanan bagaikan manusia mengulurkan
tangan untuk bersalaman. Datuk nan Kuniang tidak menjawab tanya, pun tidak menyambut salam. Ki Ampuh
merasa bahwa yang datang itu tidak bersenang hati dan memendam rasa amarah dalam dirinya. Dalam
perjalanan ke Minangkabau dulu, Datuk nan Kuniang bukan hanya dapat berjalan di atas air tetapi sanggup
pula membawa dirinya, Erwin dan Dja Lubuk bersama ayahnya Raja Tigor. Suatu kemampuan yang hanya
dapat dilakukan tak lebih dari selusin orang sakti di dunia ini. Kini ia melumpuhkan daya kelelakian Ki
Ampuh sehingga maksud jahatnya gagal total. Orang begini tak dapat dimusuhi. Yang paling bijaksana adalah
membuatnya jadi kawan. Kalaupun itu tidak dapat, sekurang-kurangnya jangan membuat ia sampai membenci.
"Aku mohon maaf Datuk!" kata Ki Ampuh dengan suara pelahan dan menundukkan kepala.
"Untuk apa?" tanya Datuk nan Kuniang.
"Untuk apa yang Datuk lihat tadi!"
"Minta maaflah kepada gadis yang masih suci itu!"
"Aku mohon Datuk mendengar penjelasanku. Aku tidak merasa salah terhadap diri perempuan ini, karena
perbuatan yang hendak dilaksanakan itu atas dasar sukarela. Tidak ada paksaan. la malah minta mendapat anak
laki-laki," kata Ki Ampuh.
"Benar ia menyukaimu?"
"Benar, sepenuh hatinya," kata Ki Ampuh dengan keyakinan bahwa Datuk nan Kuniang sudah mulai reda
dari marahnya.
"Ah, apa benar Ki Ampuh?"
"Aku bersumpah, silakan Datuk tanya sendiri." Babi itu mulai bangga dan senang.
Datuk nan Kuniang mendekat beberapa langkah. Wanita itu memandanginya. Entah takut entah jijik,
Sabrina tidak dapat membeda atau merasakannya Datuk nan Kuniang memandangnya sejenak. Lalu bertanya:
"Sabrina, engkau anak Sutan Rimbogadang, dulu di Sungai Penuh. Betulkah itu?"
"Betul Pak," jawab Sabrina.
"Ah, jangan panggil aku Bapak. Tatkala mati umurku sudah mendekati seratus tahun. Engkau anak

SERIAL MANUSIA HARIMAU 130


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Minang. Panggil aku dengan Inyiek!"


"Benar Nyiek!" kata Sabrina mengulangi jawaban. Inyiek dalam bahasa Minang adalah kakek.
"Benarkah kau suka dan cinta pada babi asal dari manusia ini?" tanya Datuk nan Kuniang sambil menoleh
pada Ki Ampuh.
"Tidak Nyiek. Demi Allah tidak!" Ki Ampuh terkejut dan marah. Terkejut karena Sabrina memberi
jawaban lain daripada keyakinannya. Marah karena jawaban itu akan membuat Datuk nan Kuniang menuduh
ia berdusta. la tak tahu, bahwa dalam memandang Sabrina sejenak tadi, mayat dari kuburan di Kebayoran
Lama itu telah membebaskannya dari pengaruh sihir Ki Ampuh.
"Telah kau dengar sendiri Ki Ampuh," kata Datuk nan Kuniang kepada babi itu.
"Sabrina, kau berdusta. Tadi kau sendiri yang meminta. Kau katakan ingin kebahagiaan dan ingin punya
anak dari aku. Katakan begitu!" kata Ki Ampuh.
"Dia dusta Nyiek. Aku tak pernah menyukainya. Bahkan aku benci dan takut padanya. Telah beberapa
kali ia hendak memperkosa diriku. Kadang-kadang dengan bujuk rayu, tetapi tadi dengan kekerasan. Pernah
Bapak Dja Lubuk dan bang Erwin menyelamatkan aku dari kejahatannya!" kata Sabrina. Ki Ampuh kian
marah dan menjadi gugup. Dia baca mantera untuk menghilangkan dirinya, karena ia yakin benar, bahwa ia
dalam bahaya. Tetapi apa mau dikata. Ki Ampuh yang tadi begitu kegirangan mendadak menjadi makhluk
paling sial. Manteranya tak bekerja sebagai biasa. Dirinya tetap ada di sana, tidak raib seperti yang dikehendaki
dan diyakininya.
"Tak usah kau coba melarikan diri Ki Ampuh," kata Datuk nan Kuniang dengan suara datar. Tiada nada
ejekan, membuat Ki Ampuh tambah takut. Mayat ini benar-benar angker. Ia merasa dirinya jadi sangat kecil.
Padahal biasanya ia merasa dirinya manusia atau manusia babi yang amat sakti. Baru tadi dia menundukkan
Sabrina hanya dengan kekuatan mantera dan pandangan mata, kini ia tidak berdaya apa-apa. Bukan hanya
tidak sanggup meneruskan maksud jahatnya karena mendadak jadi impoten, tetapi menghilang pun tak dapat
lagi.
"Kau dengar, Sabrina bukan hanya tak suka padamu, tetapi membencimu dan takut. Mengapa kau berani
mengatakan bahwa ia cinta dan bahkan minta anak darimu? Kau sampai berani bersumpah. Tidak cukupkah
kau menjadi babi yang hina karena kau melanggar sumpahmu sendiri? Apa yang kau lakukan atas dirinya?
Katakan kepada Sabrina dan minta maaf kepadanya!"
Walaupun merasa amat malu, tetapi harapan untuk dapat pergi tanpa cedera timbul kembali. Kalau dia
mengaku apa yang telah dilakukannya dan mau minta maaf, ia tentu akan diperbolehkan pergi. Bagaimanapun
itu lebih baik daripada membuat Datuk nan Kuniang marah dan mungkin saja membuat dirinya jadi kodok
atau kakerlak. Kalau sampai jadi begitu, habislah seluruh harapan dan kesombongan. Masih lebih baik jadi
babi dengan taring-taring yang dapat membunuh.
"Aku tadi menyihirnya Datuk!" kata Ki Ampuh.
"Jahanam kau babi sial tak tahu diri," kata Sabrina mendadak. Ia telah jadi Sabrina biasa kembali. Amat
marah dan tambah benci, mengetahui bahwa dirinya tadi disihir.
Marahnya Ki Ampuh bukan buatan, dikatakan jahanam, sial dan tak tahu diri. Oleh gadis yang tadi

SERIAL MANUSIA HARIMAU 131


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

hampir saja jadi santapannya. Tetapi ia tidak berani menjawab atau menantang, karena Datuk nan Kuniang
masih ada di sana.
"Masih ada yang kau lupa atau pura-pura lupa Ki Ampuh!" kata penyelamat Sabrina. Juga dengan suara
datar. Sakit hati Ki Ampuh. Tetapi apa boleh buat. Yang paling penting boleh pergi dengan selamat. Masih
ada hari esok, kesempatan lain.
"Jangan pikir hari esok atau hari lain Ki Ampuh. Engkau tidak akan pernah lagi dapat melakukan
kejahatan yang banyak kau lakukan semasa hidupmu sebagai manusia dulu!"
Cilaka, dia akan impoten selama-lamanya. Maka tanpa pikir, ia berkata: "Sabrina, aku mohon maaf atas
kesalahanku!" Sabrina tidak menjawab, tetapi tahu bahwa orang berlumpur dengan kain kafan itu pastilah
seseorang yang teramat sakti. la tahu anak siapa dirinya dan Ki Ampuh tunduk tanpa syarat kepadanya.
"Katakan kepadanya, bahwa babi, walaupun asal manusia tidak layak berbuat mesum dengan manusia.
Ia harus mencari jenisnya. Babi semacam dirinya," perintah Datuk nan Kuniang. Babi itu merasa tambah
tertekan, tetapi ini pun harus diterimanya kalau masih mau selamat. Kartu jadi terbalik kini. Tadi ia dapat
memerintah Sabrina dengan kekuatan sihirnya. Sekarang dia harus menurut apa saja yang diperintah oleh
Datuk nan Kuniang. Inilah suatu kenyataan, bahwa di atas seseorang yang merasa dirinya kuat selalu masih ada
orang yang lebih kuat dan pada saatnya mengatasi dirinya. Maka berkatalah Ki Ampuh: "Babi tidak layak
berbuat mesum dengan manusia. la harus mencari babi juga semacam dirinya."
"Sudah, kau boleh pergi," kata Datuk nan Kuniang. Gembiranya Ki Ampuh bukan main. Dia selamat.
Tidak jadi kakerlak atau kodok. Masih banyak harapan untuk hari esok dan hari-hari yang akan datang. Ki
Ampuh mengucapkan terima kasih dan berpaling untuk pergi. Tetapi ia terhenti kembali dengan pikiran
gundah. Datuk nan Kuniang telah membuatnya impoten. Kalau kehilangan daya kelelakian itu untuk
selamanya, maka tak ada lagi gunanya untuk hidup, begitu pandangan babi yang sejak masih manusia banyak
menumpukkan hidupnya dalam hubungan seks. la menghadap Datuk nan Kuniang kembali dan dengan kepala
ditundukkan ia mohon agar dirinya dibebaskan dari kematian kelelakiannya.
"Bebaskan aku dari hukuman itu Datuk, aku tidak akan berbuat kejahatan lagi," ujarnya dengan suara
minta dikasihani.
"Hah, kau masih ingat bahwa kau telah kukebiri. Kau tak boleh dipercaya Ki Ampuh, sudah banyak kali
terbukli."
"Ampuni segala kealpaanku Datuk. Kali ini aku berjanji akan mentaatinya." Sabrina tidak mau mencam-
puri. Ia yakin Datuk nan Kuniang akan mengambil keputusan yang bijaksana.
Kemudian Datuk nan Kuniang berkata: "Baiklah, kau akan kubebaskan dari kelemahanmu, tetapi dalam
arti yang terbatas!"
Ki Ampuh bertanya dalam hati, tak segera berani bertanya. Terbatas bagaimana yang dimaksudkan oleh
Datuk nan Kuniang?
KI Ampuh memandang Datuk nan Kuniang hendak mendengar keputusan atas nasibnya. Datuk itu juga
memandanginya, membuat ia akhirnya tunduk karena kalah kuat pengaruh mata. Sabrina mendengar dengan
perasaan tegang, apakah yang dimaksud Datuk dengan keterbatasan tadi.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 132


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Kau ingin penjelasan Ki Ampuh?" tanya Datuk nan Kuniang.


"Benar Datuk," katanya dengan nada minta dikasihani tanpa mengangkat kepalanya. Hatinya dilanda rasa
takut. Jantungnya berdebar menanti.
"Kau tadi telah mengatakan bahwa kau tidak lagi akan melakukan kejahatan seperti yang hendak kau
lakukan tadi!" kata Datuk nan Kuniang.
"Ya Datuk, saya tidak akan menyihir manusia lagi."
"Bukan itu yang kau janjikan tadi. Dan bukan janji itu yang kupinta!"
Ki Ampuh menanti kalimat-kalimat yang tidak lengkap itu. Karena Datuk nan Kuniang tidak
melanjutkan, maka dialah yang bertanya. "Tidak jelas bagiku Datuk."
"Bukankah kau berjanji bahwa kau tidak lagi akan memperkosa manusia!"
"Benar Datuk nan Kuniang. Saya tidak lagi akan melakukannya!"
"Dan kau telah mengatakan sendiri, bahwa babi seharusnya hanya bermesraan dengan sesama babi!"
Mendengar itu Ki Ampuh seperti disambar geledek. Apa maksud mayat hidup itu berkata begitu? Tetapi ia tak
perlu lama menantikan penjelasan.
"Karena kau tidak lagi akan menjahati manusia yang wanita, maka kau akan tidak berdaya lagi untuk
melakukannya. Kau mengerti maksudku bukan?" tanya Datuk.
Ki Ampuh tidak menjawab. Tak sanggup mengatakan mengerti, padahal ia mengerti. la ingin jangan
dihukum seberat itu.
"Mohon ampun Datuk nan Kuniang. Janganlah aku dihukum seberat itu!"
"Sebenarnya itu bukan hukuman. Hanya pelengkap bagi janjimu. Kau tidak membutuhkan kelelakian
terhadap manusia perempuan, karena kau tidak lagi akan melakukannya. Kau dapat melakukannya sekehendak
hatimu terhadap babi. Sesuai dengan janji yang kau ucapkan tadi!"
Sabrina girang di dalam hati. Sungguh bijaksana Datuk nan Kuniang. Dan ia penuh kemanusiaan dan
keadilan. Kejantanan babi itu terhadap sesama babi tidak dimatikannya.
Babi yang biasanya amat gagah dan garang itu menangis. Bukan air mata untuk men .~:erakkan iba
kasihan hati Datuk nan Kuniang lagi, tetapi benar-benar karena amat sedih dan putus asa oleh keputusan yang
harus diterimanya. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa dirinya paling hebat, dapat berbuat sekehendak
hatinya terhadap siapapun yang tidak sekuat dia. Sekarang ia merasakan bagaimana sakitnya ditindas oleh
mayat hidup kembali yang jauh lebih berkuasa pula dari dirinya. Diam-diam, jauh di lubuk hatinya, pada saat
dikalahkan seperti ini ia menyesal, mengapa ia hidup sejahat itu dan sekejam itu. Tetapi sesalnya sungguh-
sungguh sudah tiada berguna lagi.
"Datuk yang bijaksana," tangis Ki Ampuh dalam usaha terakhirnya, "Hukuman itu sangat bijaksana.
Tetapi apakah Datuk tidak sudi bermurah hati memberi maaf kepadaku yang mengaku salah dan mengaku
Datuk sebagai orang yang berkemampuan dan berkekuasaan jauh di atas diriku?"
"Engkau telah kumaafkan, boleh pergi ke mana kau suka. Apa yang kuputuskan bukan hukuman. Hanya
untuk membuat kau memenuhi apa yang kau janjikan! Pergilah, kuharap kau dapat pasangan yang sesuai dan
hidup bahagia!" kata Datuk nan Kuniang yang sudah tak terlembutkan lagi hatinya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 133


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Meskipun amat sedih Ki Ampuh masih sempat mengerlingkan mata sipitnya pada Sabrina yang telah
lepas dari jangkauannya. Dan sedih serta sakit hati itu membangunkan rasa dendam. Kalau ia tidak
berkesempatan lagi menjamah Sabrina menurut nafsunya, maka siapapun tidak akan boleh menikmatinya.
"Jangan punya niat buruk Ki Ampuh," kata Datuk nan Kuniang yang dapat membaca apa yang terpikir
dan terniat dalam hati babi itu. "Aku telah memberi kau kesempatan hidup."
Babi itu ngeluyur. Apa pun kata Datuk nan Kuniang sudah tak menjadi soal lagi. Ia toh sudah tidak akan
pernah bisa merasakan kebahagiaan lagi sebagaimana dulu dapat dilakukannya terhadap siapa saja yang ber-
kenan di hatinya.

***

SETELAH babi itu pergi Sabrina sujud di hadapan kaki mayat hidup kembali yang berlumpur itu. Tiada rasa
takut dan tiada rasa jijik. Tanpa kedatangan Datuk nan Kuniang pastilah ia sudah tidak utuh lagi.
Kehormatannya hilang direnggut seekor babi siluman. Namun begitu, setelah ia selamat kini, tiada rasa
dendam pada Ki Ampuh. Walaupun ia boleh merasa aman terhadap kemungkinan perkosaan ia merasa sedih
juga melihat Ki Ampuh menangis tadi. Kelemahan hati Sabrina, lekas memaafkan dan lekas kasihan. Ia
selamat, apalagi yang lebih daripada itu.
"Inyiek, bolehkah saya bertanya?" ujar Sabrina.
"Tentu saja. Kau ingin tahu apa hubunganku dengan ayahmu yang dibunuh orang-orang kejam di
kampungmu itu. Terus terang tiada hubungan keluarga. Tetapi aku mengenalnya. la anak sahabatku yang lebih
dulu tutup usia dari aku. Kakekmu itu seorang hebat. Pandai silat, digelarkan si Pandeka. Dan gelar itu tepat
baginya. la seorang pendekar yang hebat sekali. Kalau baru sepuluh orang saja tak kan sanggup merobohkan
almarhum kakekmu itu. Tetapi menjelang akhir hidupnya ia membuat suatu kesalahan atau lebih tepat suatu
kekhilafan. Entah mengapa harus terjadi demikian," kata Datuk nan Kuniang bercerita tentang kakek Sabrina.
la terhenti. Pada mukanya tampak bahwa ia sedang mengenang atau membayangkan kembali masa lampau.
Puluhan tahun yang lalu.
"Apa yang terjadi Nyiek?" tanya Sabrina ingin tahu.
"Ketika pada suatu hari ia dan seorang kawannya pergi berburu, mereka bertemu dengan harimau yang
sedang menyusui dua ekor anaknya. Kakekmu membisikkan pada kawannya agar berhenti dan jangan harimau
itu sampai tahu. Tetapi malang, induk harimau yang amat tajam daya dengar dan daya ciumnya itu
mengetahui bahwa ada manusia di sekitarnya. Ia mengangkat kepala, telinganya berdiri lurus-lurus. Tetapi ia
masih terus menyusui anak-anaknya. Begitulah cinta ibu kepada anak!" Datuk nan Kuniang berhenti lagi
seakan-akan mengingat apa lagi kemudian terjadi. Sabrina menantikan dengan penuh keinginan tahu
bagaimana kelanjutannya.
"Kawan kakekmu itu rupanya jadi takut dan tak kuat menahan diri. Ia berkata "kita tembak saja". Suara itu
terdengar oleh induk harimau. Kini ia berdiri. Kedua anaknya di belakangnya. Apa pun yang akan terjadi,
anak-anak tersayangnya harus dibela. Sebenarnya kecelakaan itu masih bisa dicegah, kalau kawan kakekmu itu

SERIAL MANUSIA HARIMAU 134


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

menurut nasehat. Pandeka mengajaknya pergi. Harimau itu akan membiarkan. Yang amat penting baginya,
anakanaknya jangan diganggu. Bukan menyerang manusia-manusia yang diketahuinya ada di dekatnya. Tetapi
kawan kakekmu itu menembak juga." Karena Datuk nan Kuniang berhenti, maka Sabrina setengah bertanya
dan setengah meneruskan: "Induk harimau itu mati dan anak-anaknya kehilangan ibu."
"Oh, bukan begitu Ina, lebih buruk daripada dugaanmu!"
"Lalu bagaimana? Tembakannya meleset, harimau itu menerkam. Yang kena terkam kakekku sehingga ia
tewas di situ."
"Bukan begitu. Tembakan kawan kakekmu itu memang tidak mengenai sasaran karena ia tidak dapat
membidik dengan mantap. Harimau itu menggeram, lalu melompat. Yang jadi tujuan utamanya tentu saja si
penembak itu. Harimau termasuk binatang yang pintar. Dia tahu musuh mana yang paling berbahaya atau
jahat. Itulah yang harus dibinasakan lebih dulu. Kakekmu yang pendekar tanpa pikir juga melompat,
menyambut serangan harimau itu. Terjadi benturan. Menurut cerita kawan kakekmu itu, kakekmu memukul
kepala harimau dengan belakang tangan kanannya. Harimau itu terlempar beberapa meter. Begitulah kerasnya
pukulan itu."
"Lalu?" tanya Sabrina yang membayangkan bagaimana kira-kira jalan pertarungan itu.
"Amarah harimau itu kemudian berbalik pada kakekmu. Karena dia yang menghadang dan memukul
dirinya. Ia berdiri dan bersiap untuk menyerang lagi. Kini lebih cermat, karena ia tahu bahwa lawannya
seorang yang tangguh. Tiada pilihan bagi kakekmu. Ia harus membela diri. Hasilnya sudah dapat dipastikan.
Kakekmu atau si harimau akan mati. Tidak akan ada hanya luka berat. Si harimau, kalau menang, tidak akan
membiarkan musuhnya hidup. Si harimau juga tidak akan berhenti melawan selagi ia masih bernapas, yang
jadi taruhan adalah dua anak tercintanya. Untuk itu dia tidak takut pada siapa pun."
"Kawan kakekku itu tentu membantu kakekku, karena ulahnya maka harimau itu sampai menyerang," kata
Sabrina serasa tak sabar menunggu selesainya cerita.
"Tidak. Dia tidak menolong. Dia sendiri kemudian menceritakan, bahwa dia dengan gemetaran memanjat
sebatang pohon untuk menyelamatkan diri."
"Kemudian dia menembak harimau itu dari atas pohon," potong Sabrina.
"Itu juga tidak. Bedilnya tertinggal di tanah karena ia gugup dan sangat takut. Katanya, dia malah
terkencingkencing ketika memanjat pohon itu. Pertarungan matimatian terjadi antara kakekmu dan harimau
yang amat murka itu. Walaupun kakekmu pendekar, beberapa tamparan harimau itu melukai badan dan
mukanya. Setengah tubuhnya berlumuran darah. Tetapi kala itu ia pun hanya punya satu tekad dan tahu satu
kemungkinan. Membunuh harimau itu karena terpaksa atau tidak akan bertemu lagi dengan istri dan anak-
anaknya, termasuk ayahmu yang, setelah nikah diberi gelar Sutan Rimbogadang."
"Bagaimana kesudahan perkelahian itu Nyiek?" tanya Sabrina.
"Kakekmu keluar sebagai pemenang. Harimau itu tidak luka-luka, karena kakekmu hanya
mempergunakan tangan kosong. "Pukulan dan tamparan tangan itu menghabiskan tenaga dan melumpuhkan
si harimau. Ia akhirnya tak kuat berdiri. Masih dicobanya mengingsut-ingsut ke arah anak-anaknya. Mukanya
yang biasa amat ganas, pada saat itu memperlihatkan kesedihan. Kedua matanya berkacakaca. la mengerang-

SERIAL MANUSIA HARIMAU 135


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

erang. Kalau ia manusia mungkin mengucapkan kata-kata terakhir untuk kedua anaknya yang akan
ditinggalkannya, tak tahu entah nasib apa dan bagaimana yang sedang menanti, Dan kedua harimau kecil itu
mendatangi induknya, mungkin belum tahu atau mengerti apa yang terjadi atas diri ibu mereka. Kemudian
kepala harimau itu terkulai, tiada bernyawa lagi. Sabrina bertanya bagaimana akhirnya nasib kakeknya dan
anak-anak harimau itu.
Diceritakan oleh Datuk nan Kuniang, bahwa setelah melihat harimau itu roboh tak berkutik lagi, kawan
Pandeka turun dari pohon. la senang sekali karena telah selamat. Lebih daripada itu ia mengatakan hendak
membawa kedua ekor anak harimau itu pulang, untuk nanti dijual. Bisa mendatangkan uang yang lumayan
banyak, katanya. Pandeka menganjurkan supaya kedua anak harimau yang telah kehilangan induk itu dibiarkan
saja di situ. Nanti akan ada harimau betina lain atau bapaknya mengurus kelanjutan hidupnya. Tetapi karena
kawan Pandeka berkeras hendak membawanya pulang, pemburu yang telah setengah bermandi darah itu tidak
kuasa lagi membantah. Biarlah dibuatnya apa yang diingininya.
"Tapi Inyiek katakan, kakekku membuat suatu kesalahan atau kekhilafan. Bagaimana ceritanya?" tanya
Sabrina.
"Membiarkan kawannya membawa kedua anak harimau itu, adalah suatu kesalahan besar. Dia mengenal
sifat-sifat harimau. Pengingat kuat dan pendendam seumur hidup. Seharusnya kakekmu memukul kawannya
sampai pingsan dan membawanya pulang ke rumah. Membiarkan kedua anak harimau itu di sana. Membunuh
induknya saja sudah suatu kesalahan!"
"Tetapi bukankah beliau terpaksa melakukannya demi menyelamatkan nyawanya yang hanya sebuah?"
kata Sabrina membela kakeknya yang tidak pernah dikenalnya karena kala itu dia belum lahir. Ayahnya saja
saat itu masih bujangan.
"Mestinya beliau membiarkan harimau itu menerkam kawannya yang melepaskan tembakan tak mengena
itu!"
"Tapi, bukankah itu suatu sifat pengecut!" kata Sabrina.
"Tidak dalam keadaan seperti itu. Ia telah menasihatkan agar membiarkan harimau dengan anak-anaknya
itu. Ia tidak mengganggu. Lagi pula mereka bukan memburu harimau. Yang dicari rusa. Kalau pembelaan
kakekmu terhadap kawannya tidak dapat dikatakan kesalahan atau kekhilafan, maka seluruh kejadian itu kita
namakan saja takdir!" kata Datuk nan Kuniang. Mendengar pendapat ini, Sabrina tidak mendebat lagi. Kalau
sudah dinamakan takdir, penentuan nasib, orang mau berkata apa lagi.
"Kemudian bagaimana Nyiek?"
"Kawannya membawa kedua anak harimau pulang. Dimasukkannya ke dalam kandang. Cerita itu tersiar
ke seluruh kampung bahkan ke kampung-kampung sekitarnya. Banyak orang jadi gelisah!"
"Mengapa Nyiek?" tanya Sabrina.
"Ya, begitulah. Mereka menduga, bahwa dua anak harimau yang dibawa pulang itu akan menimbulkan
malapetaka. Setidak-tidaknya mendatangkan suatu musibah di kampung itu!"
"Apakah dugaan mereka itu benar?"
"Ya, empat hari kemudian sudah menjadi kenyataan. Malam itu hari Kamis malam Jumat. Hujan turun

SERIAL MANUSIA HARIMAU 136


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

besar sekali. Keesokan paginya penduduk gempar. Orang yang membawa harimau itu, pagi-pagi kedapatan
mati di pekarangan rumahnya. Padahal ia semalaman tidak keluar. Istrinya tahu benar."
"Bagaimana bisa begitu Nyiek?" Sabrina kian tertarik dan heran.
"Ia diambil seekor harimau dari kamar tidurnya. Dibawa ke luar. Istrinya pun tidak sampai mengetahui-
nya."
Meskipun hanya mendengar kisahnya, namun bulu roma Sabrina berdiri juga. Ia bertanya bagaimana
seekor binatang liar begitu besar dapat masuk rumah, mengambil seseorang dan membawanya ke luar tanpa
diketahui oleh siapapun.
"Harimau binatang yang sangat pintar, sudah kukatakan tadi. Selain harimau liar biasa dengan otak yang
pintar ada lagi harimau piaraan yang dapat disuruh melakukan apa saja oleh pemiliknya. Dan ada lagi manusia
harimau seperti Dja Lubuk, ayahnya Raja Tigor dan ada, lagi yang lain-lain."
Harimau dapat bergerak tanpa suara, walaupun badannya besar dan berat. Harimau piaraan atau suruhan
dapat dibuat tak kelihatan oleh pemiliknya, kalau ia mempunyai ilmu tinggi. Begitu pula harimau jadi-jadian
dan manusia harimau bisa menghilangkan diri. Datuk nan Kuniang menceritakan, bahwa orang yang diambil
dari sisi istrinya itu dibunuh di pekarangan, tak jauh dari tangga. Jantung dan hatinya telah tiada.
"Pembunuhan misterius oleh harimau itu merupakan pembalasan dendam," kata Datuk nan Kuniang.
"Bagaimana masyarakat mengetahui, bahwa yang mengambil dan membunuhnya itu benar-benar seekor
harimau?" tanya Sabrina.
"Dari jejak-jejak kakinya. Waktu itu hujan turun dengan amat deras. Sudah kuceritakan tadi. Bukan hanya
di pekarangan tetapi di dalam rumah juga ada bekas-bekas telapak kaki harimau itu. Kisah pembalasan itu
bukan sampai di situ saja, Ina. Harimau itu juga membebaskan dan membawa pergi kedua anak harimau yang
ditangkap oleh kawan kakekmu itu. Seluruh isi kampung jadi sangat gempar. Berbagai macam dugaan mereka.
Banyak yang mengatakan, bahwa harimau itu bukan harimau biasa. Tetapi tak siapapun dapat membuktikan,
harimau apa dan bagaimana ia sebenarnya."
"Orang kampung atau pawang di sana tidak mencari harimau yang masuk rumah itu?" tanya Sabrina.
"Tak ada yang berani mencari, takut akan jadi korban berikutnya. Ada dua pawang terkenal berusaha
memanggil harimau yang dianggap pembunuh itu. Biasanya si pemakan manusia akan datang. Tak kuat
melawan panggilan si pawang. Tetapi harimau yang ini tidak datang. Itu menguatkan keyakinan orang-orang
di sana bahwa ia bukan harimau biasa. Malahan kedua pawang yang memanggilnya. itu mendapat mimpi yang
sama. Didatangi harimau besar, kata mereka sebesar lembu. Sudah tua dengan janggutnya yang cukup panjang
oleh usia. Ia berpesan kepada kedua pawang itu agar jangan lagi mencoba memanggil si pembunuh, karena ia
hanya mengambil nyawa seseorang yang telah mengambil nyawa seekor harimau betina yang harus mengasuh
kedua anaknya. Perbuatan itu sangat kejam. Bagi orang semacam itu, kata harimau tua itu, hanya ada satu
hukuman. Membayar dengan nyawa juga!"
"Hebat sekali harimau itu. Apakah harimau yang datang dalam mimpi kedua pawang itu yang mengambil
dan membunuh kawan kakekku Nyiek?" tanya Sabrina lagi.
"Entah, tak ada orang yang tahu. Aku juga tidak tahu."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 137


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Dia tidak mendatangi kakekku dalam mimpi?" Sabrina ingin tahu. "Sudah kukatakan pada awal cerita
tadi, bahwa oleh satu kesalahan atau kekhilafan maka terjadi bencana yang akibatnya berkepanjangan. Sejak
peristiwa perkelahian dengan induk harimau itu, kakekmu selalu gelisah. Luka-luka oleh kuku binatang buas
itu menyebabkan Pandeka demam, kadang-kadang menggigil. Selalu tampak olehnya muka ibu yang
meninggalkan dua anak itu. Sedih dengan mata berlinang karena sebenarnya ia tidak rela berpisah dengan
mereka. Dan perpisahan itu terjadi karena Pandeka membunuhnya. Tidak soal apa yang menjadi sebab sampai
terjadi pembunuhan atas dirinya. Pandeka memang sangat hebat dalam pencak silat, tetapi dalam ilmu
perdukunan ia tak mempunyai pengetahuan apa pun. Dari kegelisahan Pandeka jadi pemenung, ia selalu
mengatakan menyesal sekali telah membunuh induk harimau itu. Ketika kawannya dibawa ke luar dari rumah
dan dibunuh oleh harimau, orang yang biasa hebat itu jadi dihantui perasaan takut. Apakah ia juga akan
mengalami nasib yang sama?
Beberapa orang dukun telah dipanggil untuk mengobatinya. Orang-orang pandai itu mengatakan, bahwa
harimau yang dibunuhnya itu selalu mendatanginya. Pandeka membenarkan.
Setelah luka-lukanya hampir sembuh. Pandeka mulai berjalan-jalan kembali. Ke kebun atau ke warung-
warung kopi. Beberapa sahabatnya selalu bertanya tentang kisah di hutan itu. Tetapi Pandeka selalu menjawab
bahwa ia tak ingat lagi bagaimana semuanya itu berlangsung. Hanya satu kalimat yang selalu diucapkannya.
Bahwa ia menyesal membunuh harimau itu. Akhirnya kenangan akan peristiwa itu mengganggu ketenteraman
jiwa Pandeka. Pada suatu malam ia bermimpi. Didatangi harimau besar dan tua. Mungkin harimau yang
mengunjungi dua pawang dalam impian mereka.
"Kau telah menceraikan ibu dari dua anaknya," kata harimau itu dalam mimpi Pandeka. "Kau harus
membayar untuk kejahatan itu." Ia seakan-akan berdialog dengan si harimau.
"Aku amat menyesal. Aku tidak punya pilihan lain!" jawab Pandeka.
"Mestinya kau tidak membela kawanmu yang jahat itu. Kau sendiri kuketahui berhati baik. Kasihan pada
induk yang menyusui anaknya. Ketika ibu itu menyerang kawanmu yang hendak membunuhnya, mestinya kau
biarkan. Kau kan tahu sifat bangsaku. Dalam kejadian seperti itu bangsaku hanya memilih orang yang berdosa.
Yang tidak bersalah tidak akan diusik sedikit pun."
"Ya, aku tahu. Tetapi aku tak tega kawanku itu diterkam!"
"Itulah kelemahanmu. Kawanmu itu sampai hati menembak induk yang sedang memberi makan dua
anaknya. Ia egoist. Mau cari uang dengan membuat pihak lain menderita. ia mau menjual anak-anak bangsaku
yang dibunuhnya. Dan kalau sampai kejadian, maka kedua anak kecil yang belum tahu apa-apa itu akan jadi
tawanan seumur hidup. Jangan-jangan saban hari kekurangan makan!"
"Semua tuduhanmu itu benar. Aku menyesal," kata Pendeka.
"Walaupun begitu kau harus dihukum untuk tindakanmu yang berpihak pada penjahat!" kata harimau tua
itu. Ketika Pandeka bertanya hukuman bagaimana, harimau itu hilang dan ia terbangun. Tiga hari saja setelah
mimpi itu Pandeka menunjukkan perubahan-perubahan dalam perbuatan sehari-harinya. Kemudian
keluarganya melihat bahwa Pandeka sudah kehilangan parit di bawah hidungnya. Pertanda bahwa ia sudah jadi
cindaku. Ketika pada suatu hari ia pergi ke Alahanpanjang, mendadak di tengah orang ramai ia berubah jadi

SERIAL MANUSIA HARIMAU 138


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

harimau. Ia dibunuh oleh orang banyak, tewas. Tetapi tubuhnya tidak kembali jadi manusia. Yang lebih
mengherankan, tubuhnya yang tetap harimau itu kemudian hilang. Melihat kenyataan itu semua orang jadi
ketakutan. Tubuh tanpa nyawa yang hilang, biar makhluk apa pun, pasti akan hidup kembali. Kalau tidak
dalam bentuk aslinya maka ia akan hinggap pada salah satu macam makhluk lain. Dan makhluk itu bisa juga
berupa manusia.
Dan betullah, setelah mati di Alahanpanjang dan berita itu tersiar luas sampai ke Sungai Penuh dan
sekitarnya, tiga hari kemudian Pandeka datang dalam bentuk aslinya sebagai manusia menemui keluarganya.
Meskipun suami atau ayah, kedatangannya kembali setelah resmi diberitakan meninggal, tentulah
menimbulkan rasa terkejut, kemudian syukur dengan berbagai macam tanda tanya. Pandeka melihat bahwa
banyak di antara keluarganya yang heran melihatnya. Tetapi mereka tak mau bertanya. Berat untuk membuka
mulut. Khawatir Pandeka merasa tersinggung atau bahkan terhina. Untuk menjawab tanda tanya dalam hati
yang rupanya diketahui oleh Pandeka, maka tanpa ditanya dialah yang bercerita,. "Macam-macam yang
kudengar tentang diriku. Terakhir bahwa aku mati di Alahanpanjang. Sebagai harimau, kata mereka. Dan
bangkai harimau itu hilang." Setelah diam sebentar, Pandeka meneruskan: "Itu bohong. Aku tak mengerti apa
gunanya mereka bercerita yang bukan-bukan seperti itu. Bagaimana aku mungkin mati di Alahanpanjang,
sedangkan dalam dua bulan terakhir ini aku tidak pernah ke sana. Dan aku bukan cindaku seperti kata mereka.
Cindaku tak punya parit di bawah hidungnya. Kalian lihatlah baik-baik mukaku. Nih, di bawah hidungku ini,"
kata Pandeka memperlihatkan bawah hidungnya pada sanak keluarga dan sahabat-sahabat akrabnya. "Ada
parit atau tidak." Kalau aku yang macam ini dikatakan cindaku, maka kalian semua juga cindaku sebab aku
tidak punya perbedaan dengan kalian."
Sabrina yang mendengar cerita Datuk nan Kuniang pun jadi heran tak mengerti. Jalan cerita itu begitu
rumit. Bagaimana yang sebenarnya ia tak tahu.
"Aku juga tidak tahu bagaimana yang sebenarnya," kata Datuk nan Kuniang, tanpa menunggu pertanyaan
Sabrina.
"Tetapi bahwa Pandeka pernah tak punya parit setelah ia dilukai oleh harimau betina itu, hampir semua
orang di Sungai Penuh tahu. Ayah dan pamanmu Sutan Mandiangin juga mengetahui," kata Datuk nan
Kuniang.
"Inyiek kenal juga dengan pamanku?" tanya Sabrina.
"Ya, kenal-kenal begitulah. Beliau tidak mengenal diriku."
"Boleh aku mengajukan sebuah pertanyaan lagi?" tanya Sabrina.
"Tentang Erwin? Huh, kau tunggu saja waktunya."
"Waktu apa Nyiek?"
"Yah, apa yang kau nantikan dari dia?"
"Apakah dia mernbenci diriku?"
"Itu sudah terang tidak. Bukankah dia datang menyelamatkanmu pada detik yang amat genting bagi
keselamatanmu?"
"Aku sayang sekali padanya," kata Sabrina memancing.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 139


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Bagus. Pantas menyayangi dia. Dia orang baik. Tetapi miskin."


"Aku tidak ingin yang kaya," kata Sabrina. Ia sudah tak malu-malu secara tak langsung mengatakan bahwa
ia cinta pada manusia harimau itu.
"Di dunia ini kekayaan harta banyak gunanya," kata Datuk nan Kuniang. "Lebih-lebih di waktu kini. Dari
kuburanku kulihat bagaimana serakahnya banyak manusia sekarang dan bagaimana kebanyakan orang menilai
derajat seseorang dari harta kekayaan yang dimilikinya. Kebanyakan orang sudah bersifat sangat materialistis,
bukankah begitu istilahnya sekarang."
"Yah, tapi harta saja tidak bisa membuat seseorang bahagia," debat Sabrina.
"Tak usahlah kita bicarakan hal itu. Tergantung pada selera masing-masing saja. Banyak gadis sekarang
mengutamakan yang punya banyak duit!"
"Inyiek," kata Sabrina karena semua pancingnya tidak atau kurang mengena. "Bang Erwin tidak pernah
mengatakan sayang kepadaku."
"Apakah itu perlu?"
"Apakah itu tidak perlu?"
"Menyatakan sayang atau cinta itu macam-macam caranya. Dengan kata-kata atau dengan perbuatan."
"Dia tak pernah mengatakan. Aku ingin dia mengatakannya supaya hatiku tenang."
"Tenangkan saja hatimu."
"Apakah sebab ia tidak mau mengatakannya berterus terang kalau benar ia pun sayang padaku?" Datuk
nan Kuniang jadi bimbang mendengar pertanyaan ini. Ia tahu pesan ayah Erwin kepada anaknya. Pesan itu
tentu mengandung suatu hikmah dan mempunyai sebab serta tujuan tertentu. Kalau ia katakan kepada Sabrina
apa sebab Erwin belum menyatakan cintanya, maka sama artinya ia membuka suatu rahasia yang mungkin
merupakan ujian bagi Sabrina dan Erwin.
Maka tanpa ragu-ragu lagi Datuk nan Kuniang menerangkan, bahwa hal itu tidak diketahuinya. Yang
diketahuinya Erwin tidak benci kepada Sabrina.
Sabrina penasaran, karena jawaban Datuk nan Kuniang tidak dapat memberi kepastian kepadanya. Orang
sayang saja belum tentu berarti ia mencintai. Dalam kata cinta tercakup sayang, tetapi sayang saja belum berarti
mencintai. Apalagi tidak benci. Orang bisa saja tidak membenci seseorang, tetapi itu sama sekali tidak
bermakna bahwa ia menyukai apalagi mencintai orang itu.
Orang yang bangkit kembali dari kuburnya itu sangat mengetahui bahwa Sabrina tidak puas, tetapi ia
harus membiarkannya begitu sebagai ujian yang mungkin dimaksud oleh Dja Lubuk.
Akhirnya Datuk nan Kuniang mengatakan, bahwa ia sudah cukup lama di situ dan mohon diri. Gadis
yang baru habis ketakutan dan dibebaskan dari malapetaka itu tampak jadi khawatir kembali. Siapa tahu, babi
itu nanti datang kembali untuk membalas sakit hatinya.
"Tidak ada manusia yang hidup bebas dari segala ketakutan di dunia ini," kata Datuk nan Kuniang. "Ter-
masuk orang terkaya atau merasa dirinya terkuat atau terhebat di permukaan dunia ini, di negara mana saja.
Raksasa pun akan hanyut ditelan banjir atau dilanda taufan. Orang terkuat dan terkaya pun bisa sakit dan pasti
mati manakala sudah datang saatnya. Kadangkala kekayaan dan kekuatan yang mereka khayalkan tak ada

SERIAL MANUSIA HARIMAU 140


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

lawannya itu sendiri yang mempercepat proses penyakit dan kematian mereka. Orang kaya malah selalu takut.
Takutnya yang terakhir di dunia adalah saat menghadapi kematian. la rasanya tak mau berpisah dengan harta
melimpah ruah yang dikumpulkannya selama hidup. Mungkin dengan sifat-sifat yang amat serakah. Kau
mengerti Sabrina?"
Sabrina mengangguk. "Nah, kalau kau pun mempunyai rasa takut, itu sesuatu yang lumrah. Tetapi ada
orang-orang serta malaikat yang akan melindungi orang tak berdosa. Erwin pun selalu memikirkan
keselamatanmu!"
Setelah tinggal sendirian, Sabrina jadi merasa takut lagi. Besar kemungkinan babi itu akan kembali. Ia tak
akan dapat lagi melampiaskan nafsunya atas manusia karena telah dilumpuhkan oleh Datuk nan Kuniang.
Tetapi selebihnya dia masih utuh dengan kekuatan yang luar biasa. Ia mungkin datang untuk membunuh
Sabrina yang telah menjadi sebab kedatangan Datuk nan Kuniang dan membuat dia tidak dapat menikmati
hubungan yang selama hidupnya dulu merupakan peristiwa-peristiwa terindah.
Sabrina menceritakan pengalamannya malam itu kepada paman dan tantenya yang menjadi ketakutan. Di
dalam sejarah hidup keluarga, mereka telah beberapa kali mengalami musibah yang amat menyedihkan dan
memalukan. Kakeknya mati dikeroyok di Alahanpanjang karena mendadak jadi harimau oleh karena ia
membunuh induk dari dua anak harimau yang masih amat membutuhkan asuhan. Ayahnya mati pula dibunuh
sejumlah manusia yang panik karena ia pun berubah jadi harimau di tengah orang ramai. Sabrina sendiri
ternyata menerima warisan dari ayahnya, pada waktu-waktu tertentu jadi harimau. Untunglah Sutan
Mandiangin yang berusia sekitar lima puluhan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menerima
sifat-sifat kakek atau saudaranya yang menemui ajal dengan amat tragis itu.
"Lalu apa yang harus kita perbuat?" tanya tante Sabrina.
"Aku pun tak tahu," kata Sabrina.
"Menunggu takdir sajalah sambil berdoa," kata Sutan Mandiangin.
"Aku tidak setuju diam-diam saja menunggu kedatangan maut yang tidak wajar. Kita harus berbuat
sesuatu. Misalnya minta bantuan Polisi atau dukun. Kalau dia kelihatan datang, biar ditembak mati oleh Polisi.
Dukun yang pandai akan dapat membuat babi itu tidak sanggup memasuki pekarangan kita. la akan kepanasan
seperti dibakar bila ia mendekati rumah kita!" ujar tante Sabrina.
"Dia bukan babi biasa tante," kata Sabrina. "Dia manusia yang jadi babi dan dia mempunyai ilmu hebat
yang sulit dilawan oleh dukun."
"Ya, jangan dukun biasa. Pasti ada dukun yang kawakan, yang dapat menaklukkan babi itu."
Sabrina ingat pada Erwin, tetapi mau menyebut namanya. Bagaimana mau minta bantuan kepadanya,
sedang pernyataan sayang yang diharapkan darinya tidak pernah terkabul.
"Baiklah," kata Sutan Mandiangin. "Kita minta bantuan Polisi dan cari dukun yang benar-benar punya
ilmu luar biasa untuk melawan makhluk ganas berkemampuan datang mendadak dan menghilang tanpa bekas
itu." Benar kata istrinya, orang hidup tidak boleh hanya menanti takdir. Tetapi kalau bahaya atau maut tidak
dapat dielakkan lagi, maka kita harus menerimanya sebagai penentuan yang tidak bisa kita ubah. Karena yang
menentukan itu Dia yang paling kuasa, paling tahu dan paling pengasih dan penyayang.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 141


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Kebetulan selama beberapa hari dua anggota Polisi menjaga keamanan di sekitar rumah Sutan
Mandiangin dan dua dukun dari Cirebon dan Banten menginap di rumah itu mempraktekkan ilmu mereka, Ki
Ampuh tidak pernah datang. Entah karena takut pada dukun-dukun itu, entah sengaja mau menunggu saat
yang tepat, yaitu manakala dirinya sudah mulai dilupakan atau kurang ditakuti.
Sepekan berlalu sejak Sabrina lolos dari perkosaan Ki Ampuh oleh kedatangan Datuk nan Kuniang.
Selama itu Erwin tidak pernah menemui gadis itu. Begitu pula Sabrina tidak pernah berkunjung ke rumah
Erwin. Lalu terjadilah apa yang biasanya hanya kita jumpai dalam buku-buku roman khayalan. Yang bagi
Sabrina benar-benar merupakan suatu kenyataan. Dalam suatu pesta ulang tahun temannya ia bertemu dengan
beberapa kenalan baru. Seorang di antaranya pemuda menarik asal Sulawesi. Kebetulan lagi Sulawesi Selatan
dan kota asalnya Pare-Pare, di mana belum lama yang lalu terjadi pembunuhan-pembunuhan misterius.
Pemuda yang menarik dan simpatik ini kebetulan pula bernama Sabaruddin, keturunan bangsawan Bugis.
Lebih kebetulan lagi, Sabaruddin ini bukan hanya senama dengan Sabaruddin yang baru kehilangan adik dan
kemudian dibantu oleh Erwin membalas dendam terhadap dua orang yang berhubungan langsung dengan
kematian Andi Farida. Sabaruddin kenalan baru Sabrin itu adalah Sabaruddin yang sahabat Erwin.
Jangan dikira bahwa Sabrina atau Sabaruddin jatuh cinta pada pandangan pertama, sebab mereka memang
tidak mendadak saling mencintai. Hanya orang-orang yang diduga kurang akal atau kurang sehat pikiran yang
bisa langsung jatuh cinta. Kalau pada pandangan pertama merasa senang, itu bisa terjadi dan bahkan banyak
terjadi, karena pembawaan seseorang memang bisa memikat rasa senang orang lain terhadap dirinya.
Walaupun baru sekali bertemu. Dan kalau belakangan ternyata bahwa orang yang tiba-tiba disenangi itu
rupanya punya perangai atau sifat-sifat yang memualkan, maka kesenangan,,akan berubah jadi kebencian.
Wajah atau pembawaan hanya menimbulkan simpati, bukan menceritakan bagaimana orang itu sebenarnya.
Nah begitulah perkenalan itu menimbulkan simpati Sabrina pada Sabaruddin dan demikian pula
sebaliknya. Perkenalan menyenangkan itu kemudian disusul oleh pertemuan-pertemuan persahabatan
selanjutnya. Sabaruddin datang ke tempat tinggal Sabrina, berkenalan dengan paman dan tantenya. Sabrina
juga beberapa kali ke rumah Sabaruddin. Persahabatan itulah yang kemudian tumbuh menjadi rasa sayang.
Bagi Sabrina mengisi hatinya yang lambat laun jadi kosong oleh karena Erwin tidak memberinya apa yang
dibutuhkannya, walaupun sekedar dalam kata-kata. Sabaruddin yang baru berputus kasih dengan pacarnya
Widya, merasa dapat sahabat yang boleh dijadikan kekasih. Tidak usah heran akan hal ini. Semua insan di
dunia ini membutuhkan kasih sayang yang dalam banyak peristiwa lambat laun tumbuh lagi menjadi saling
mencintai.
Sabrina mendapat angin baik. Selama hubungannya dengan Sabaruddin tidak pernah didatangi perasaan
untuk mencindaku. Ia tambah rapi memelihara diri. Sabun mandi pun ditukar dari buatan negeri sendiri
dengan resep impor menjadi sabun yang benar-benar buatan luar negeri seperti Christian Dior dan Madam
Rochas yang punya keharuman tersendiri. Barangkali boleh dikatakan, bahwa Sabrina jadi genit. Bersamaan
dengan perkembangan hubungannya dengan Sabaruddin, ia mulai melupakan Erwin dan suclah mulai lupa,
bahwa ia keturunan cindaku dan pernah jadi harimau. Ia yakinkan dirinya bahwa masa itu telah berlalu. Ia
hibur dirinya dengan menilai peristiwa-peristiwa itu sebagai mimpi buruk belaka. Sabaruddin dan Sabrina

SERIAL MANUSIA HARIMAU 142


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

semakin sering pergi bersama, apakah untuk menghadiri pesta, piknik atau menonton. Dan kedua insan itu
telah saling menumpahkan isi hati, saling menyayang dan mencintai. Apa yang dilakukan oleh Sabrina yang
tadinya begitu cinta kepada Erwin merupakan perubahan yang wajar dalam kehidupan manusia yang kesepian
atau kecewa. Bukan suatu pengkhianatan kasih. Dan apa yang terasa kemudian ditumpahkan oleh Sabaruddin
juga sesuatu yang biasa saja. Baginya Sabrina cantik, menarik dan hatinya belum diduduki oleh wanita lain.

***

ERWIN menanti hari demi hari berlalu dengan perasaan tak sabar, tetapi tak dapat membuat bumi berputar lebih
cepat untuk mempersingkat waktu yang empat puluh hari. Beberapa kali ia hampir kalah, dalam ujian. la ingin
mengatakan saja kepada Sabrina bahwa ia amat mencintainya tetapi belum boleh melakukannya karena ada
pesan dari ayahnya. Tetapi bagaimanapun lambat terasanya tiap hari berlalu, akhirnya Erwin hanya harus
menunggu delapan hari saja. Tiga puluh dua hari telah berlalu. Dia akan katakan nanti dengan kata-kata
terindah yang hanya dapat disusun oleh seorang pujangga. Dia akan cium tangannya mohon maaf atas lamanya
tenggang waktu yang diharuskan atas dirinya.
Dia akan katakan nanti: "Ina, aku telah amat berdosa membuat kau selalu bertanya bagaimana aku ini
sebenarnya. Bend atau sekedar kasihan padamu. Kau tak pernah tahu, bagaimana aku menderita menanti saat
ini, saat yang serasa-rasa tak akan pernah tiba. Aku bukan hanya sayang, tetapi amat cinta kepadamu Ina. Aku
tak akan sanggup hidup tanpa kau sayang." Banyak lagi yang akan dikatakannya, kemudian ia akan mencium
pipi Sabrina,
lalu lehernya, kemudian matanya, mulutnya, seluruh tubuhnya. Ia akan tumpahkan seluruh kasih sayang
pada Sabrina, hanya Sabrina seorang. Saat itu tentu akan indah sekali setelah sekian lama dia menanti dan
setelah sekian lama Sabrina menghadapi teka-teki yang tak terjawab. Mereka akan berpelukan, mungkin
menangis karena bahagia. Setelah itu ia akan melamar Sabrina secara resmi. Ia akan minta bantuan sahabatnya
Sabaruddin menyampaikan maksud hatinya, karena ia tidak punya orang tua dan kerabat di Jakarta. Sahabat
terbaik dan terdekatnya adalah Sabaruddin, maka dialah yang akan menjadi telangkai. Ia tahu, Sabaruddin
akan melaksanakannya dengan baik dan girang. Ia akan menganggapnya sebagai suatu balas budi terhadap
Erwin yang telah membinasakan musuh-musuh keluarga hartawan Bugis itu. Walaupun sesungguhnya Erwin
tidak mengharapkan imbalan budi dari sahabatnya itu.

***

LAIN pula halnya Ki Ampuh. Sepekan lamanya ia tak mau keluar dari sebuah gua tempat persembunyiannya.
Inilah nasib terburuk selama hidupnya sebagai manusia dan setelah ia hidup kembali dari kematian sebagai
babi. la masih ingin melepaskan diri dari hukuman yang dijatuhkan Datuk nan Kuniang atas dirinya. Itu hanya
dapat dilakukan oleh yang membuat atau orang yang (ebih hebat darinya. Siapakah yang lebih hebat dari
Datuk nan Kuniang? Mbah Panasarankah? Barangkali. Wanita berusia teramat lanjut dengan wajah bagai

SERIAL MANUSIA HARIMAU 143


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

perawan tercantik itu mempunyai amat banyak ilmu. Barangkali dia sanggup menghidupkan kelelakiannya
kembali. Tetapi kalaupun ia sanggup, apakah ia mau? la telah bermusuhan dengan perempuan keramat itu.
Tetapi siapa lagi selain dia?
Akhirnya Ki Ampuh mengambil keputusan untuk menemui Mbah Panasaran. Biarlah dia menyembah
dan mencium telapak kakinya asalkan ia dijantankan kembali. Sasaran utama nanti tentu Sabrina yang
menganggap dirinya telah tak mungkin lagi melampiaskan nafsunya. Dengan menghilangkan rasa malu Ki
Ampuh untuk ketiga kalinya pergi ke Cikotok di Banten. la tahu, bahwa kedatangannya pasti tidak akan
mengejutkan mbah Panasaran yang punya daya lihat jarak jauh itu. Mbah Panasaran sedang disisiri oleh dua
dayang-dayang di bawah sebatang pohon rindang yang merupakan salah satu penghias tamannya yang luas.
Anehnya, meskipun begitu besar, tak ada seorang pemburu pun pernah melihat istana mbah yang amat sakti
ini. Konon mbah sengaja membutakan mata mereka terhadap tempat kediamannya. Mereka tidak dapat
melihat bangunan megah dengan taman yang permai itu.
"Aku tahu, bahwa kau akan kemari. Aku pun tahu maksud kedatanganmu. Supaya jangan membuang
waktu, kembali sajalah kau ke tempat kediamanmu. Aku tak dapat menolong!" kata Mbah Panasaran.
"Aku bersedia jadi budakmu Ratu di atas semua Ratu!" kata Ki Ampuh sambil berlutut kemudian- me-
nyembah.
"Aku tidak membutuhkan babi sebagai budakku."
"Jika begitu jadikan aku manusia kembali. Aku akan mencium kakimu setiap pagi dan malam dan aku
bersedia melakukan apa saja yang kau perintah!"
"Dasar kau tak kenal malu. Bukankah kau ke Sumatera mencari ilmu untuk membalas dendam padaku?
Mengapa kau kini minta tolong!"
Ki Ampuh tidak segera menjawab. Malu tak kepalang. la tahu bahwa semua orang yang ada di situ
membicarakan dirinya yang berujud babi.
"Ampuni dan tolonglah aku mbah. Tak ada lagi tempat lain yang dapat kumintai pertolongan."
"Menolongmu berarti merusak orang lain. Kalau kukembalikan kejantananmu yang telah binasa oleh kekuatan
Datuk nan Kuniang, kau akan mengganas lagi Man kemari. Yang pertama-tama akan kau perkosa adalah
Sabrina, bukankah begitu?"
Ki Ampuh tambah malu. Semua rahasia hatinya dan perbuatannya diketahui oleh wanita sakti yang seperti
akan hidup terus sepanjang zaman.
"Pertanyaanku tak kau jawab Ki Ampuh!" kata Mbah Panasaran.
"Mbah telah mengetahuinya. Hatiku terlalu sakit mbah. Aku memang akan melakukannya, tetapi bukan
karena hawa nafsu, melainkan sebagai pembalasan sakit hati belaka. Sesudah aku membalas, biarlah aku tak
berdaya lagi."
"Hanya untuk membalas pada Sabrina?" tanya Mbah Panasaran.
"Benar mbah."
"Ah, aku tak percaya! Kau pendusta sepanjang masa. Kau pengkhianat yang tak kenal malu. Bukankah kau
mengkhianati Erwin maka kau jadi babi!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 144


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Aku bersumpah mbah!"


"Sumpah, katamu? Mana ada artinya sumpah bagimu. Sama saja dengan kebanyakan pejabat yang
mengangkat sumpah jabatan. Huh, dunia ini sudah terlalu banyak manusia kotornya. Makanya selalu dilanda
bencana alam!"
Segala bujuk rayu Ki Ampuh tak berhasil. Ia pulang dengan tangan hampa.
Sementara itu hari berganti, sehingga genaplah empat puluh hari istri dan anak Erwin meninggal dibunuh
Ki Ampuh. Masa menahan diri berlalu sudah.
Hari masih pagi ketika Erwin bangun dan menunaikan wajib subuh. Jam delapan nanti ia akan ke rumah
Sabrina menumpahkan seluruh isi hatinya yang selama ini terpaksa dipendam. Betapa akan girang Sabrina
nanti, pikirnya.
Kedatangan Erwin sepagi itu membuat terkejut hati Sabrina yang membukakan pintu. Tidak disangkanya
lakilaki yang pernah amat dicintai dan dirindukan itu akan datang lagi. Telah sekian lama ia tidak mendengar
kabar mengenai dirinya. Darah Sabrina tersirap memang, hanya seketika, kemudian ia menguasai diri.
Dipersilakannya Erwin masuk. Laki-laki harimau itu merasakan sambutan yang berbeda dari biasa. Dingin
dan sedikit kaku. Tetapi ia dapat memakluminya. Bukankah ia sekian lama membiarkan gadis itu terharap-
harap tanpa pernah mendengar pernyataan cinta dari dirinya? Dan bukankah ia telah begitu lama tak datang ke
rumah gadis yang amat disayangi dan selalu dirindukannya itu?
"Aku mohon maaf Ina. Bagaimana keadaan paman dan tantemu?" kata Erwin membuka bicara.
"Beliau berdua baik-baik saja. Terima kasih atas perhatianmu. Dan tidak ada yang perlu kumaafkan,
karena aku tidak merasa kau membuat suatu kesalahan pada diriku!" jawab Sabrina.
Suatu sindiran atau amarahkah ini?
"Aku punya salah padamu. Aku mengakuinya dan aku mohon maaf. Ataukah tiada maaf lagi bagi diriku?"
"Pada tiap kesalahan yang wajar sepantasnya manusia saling bermaafan. Tetapi engkau tidak mempunyai ke-
salahan apa pun padaku. Jadi apa yang harus kumaafkan?" Kalimat-kalimat Sabrina diucapkan dengan nada
datar.
Tanpa emosi, hampir tanpa perasaan> Erwin mulai kikuk. Ia tidak mempunyai kesalahan? Selama hari ini
ia dihantui perasaan bersalah karena tidak menyatakan sayang dan cinta pada gadis yang amat mengharapkan
dirinya. Ia yakin bahwa Sabrina amat kecewa dan dilanda berbagai pertanyaan atau dugaan di dalam hati. Kini,
waktu ia minta maaf dan tiba waktunya untuk mengatakan apa yang terpaksa dipendamnya selama ini, Sabrina
dengan datar mengatakan bahwa ia sama sekali tidak punya kesalahan.
"Kau marah Ina?" tanya Erwin memulai kembali.
"Tidak, mengapa harus marah? Sudah kukatakan, kau tidak punya salah padaku. Tidak ada sebab bagiku
untuk marah padamu!"
"Aku tak punya salah?!" tanya Erwin bagaikan hendak meyakinkan dirinya atas kebenaran kata-kata
Sabrina.
"Tidak Erwin. Tiap orang punya hak tertentu. Boleh juga dikatakan hak asasi tiap manusia."
"Kau menyindir aku Ina?"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 145


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Kau tidak menyukai kedatanganku? Ataukah aku terlambat! Kau tidak tahu Ina bagaimana sakit rasanya
aku memendam rasa."
"Siapa saja boleh datang ke rumah ini. Apalagi kau yang sudah sahabat. Pernah pula menyelamatkan
diriku. Aku ingat budi baik ayahmu dan Datuk nan Kuniang yang menganggap kau cucunya karena ia sahabat
akrab mendiang kakekku!"
Erwin terkejut. Ia tak menyangka Sabrina mengenal Datuk nan Kuniang.
"Beliau pernah datang ke mari?" tanya Erwin.
"Ya, menyelamatkan aku dari ki Ampuh. Aku tak dapat melupakan dan tak dapat pula membalas budi
baik beliau!"
Erwin merasa keadaan mulai cerah baginya. Tadinya ia sudah hampir berputus asa. Rupanya tadi Sabrina
amat marah atau sedih dipendam. Kini keadaan mulai biasa kembali. Sudah sepantasnya gadis itu marah dan
berkecil hati. Bagaimana kalau dirinya mendapat perlakuan begitu!
"Ina, aku mohon maaf karena selama ini aku tidak boleh mengatakannya!" kata Erwin penuh keyakinan
bahwa kini bicara cinta sudah boleh dimulai.
Sabrina diam. Mungkin sukar memilih kata-kata atau tidak mau membicarakan apa yang telah berlalu.
"Kau memaafkan aku, bukankah begitu Sabrina? Aku tidak boleh menyatakan perasaan hatiku. Aku akan
menceritakan sebab-sebabnya. Kau mau mendengarkan?"
Sabrina memandang Erwin. Tiada kebencian pada pandangannya. Tetapi juga tanpa keinginan untuk
mendengar cerita Erwin.
"Kau mau mendengarkan Ina?"
"Tak usahlah," kata Sabrina. "Jangan kita ungkap-ungkap kisah atau perasaan lama.
"Mengapa kau berkata begitu Ina. Aku tersiksa selama ini!"
Sabrina ingin mengatakan bahwa ia lebih tersiksa, tetapi ia dapat menahan diri. Bukankah sudah
dikatakannya untuk tidak mengungkap kisah lama?
"Aku sangat tersiksa Ina. Hari ini hari kebebasan bagiku!"
Kata-kata Erwin itu sebenarnya menimbulkan tanda tanya. Mengapa ia tersiksa dan mengapa hari ini baru
ia bebas. Tetapi Sabrina tidak mau bertanya supaya kisah lama itu jangan diingat kembali. Dari kisah Erwin ia
bisa berubah pendirian kembali dan mengerti bahwa sebenarnya Erwin barangkali tidak bersalah. Tetapi
bukankah ia telah mengikat janji dengan Sabaruddin. Ia sudah cinta pada pemuda Sulawesi itu dan ia tidak
akan mengkhianatinya.
"Ina, kau tahu bagaimana rasanya orang yang tersiksa?" tanya Erwin.
"Mungkin tahu, barangkali juga tidak!"
"Aku ini pernah sangat tersiksa karena amat mencintai dirimu tanpa boleh mengatakannya," kata Erwin.
"Aku merasa berdosa padamu karena itu!"
Tanpa dikehendaki, Sabrina telah mendengar sebagian dari kisahnya dengan Erwin selama ini. Timbul
juga dalam hatinya pertanyaan mengapa Erwin tidak boleh mengatakan sekian lama. Dan timbul juga

SERIAL MANUSIA HARIMAU 146


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

pertanyaan dalam benaknya apakah ada kaitannya dengan dirinya yang manusia harimau dan harus
mengindahkan pantanganpantangan yang tak boleh dilanggar? Ia mulai kasihan pada Erwin, dan kasihan ini
suatu tanda bahaya. Kalau ia dengarkan cerita Erwin, mungkin ia akan terdorong untuk mengkhianati
Sabaruddin dan ia tidak menghendaki itu. Sabaruddin begitu polos dan baik padanya. Dan ia tahu bahwa
pemuda Ujungpandang itu benar-benar amat cinta padanya. Dia juga tidak melupakan bahwa laki-laki itu
belum mengetahui rahasia yang disimpannya, ia tadinya sudah merasa kehilangan Erwin dan tidak mau akan
kehilangan Sabaruddin. Kini ia merasa wajib membuktikan kesetiaan dan kejujurannya.
"Orang yang terpaksa, tidak bersalah Erwin. Jadi kau tak perlu minta maaf dan kurasa tidak perlu
menceritakan sebab yang memaksa dirimu. Sudah cukup, kini aku mengetahui kau terpaksa dan terus terang
Erwin, keadaan telah membuat aku bukan Sabrina yang kau kenal dulu lagi!"
"Maksudmu, kau sudah berubah?"
"Benar, keadaan bisa memaksa orang berubah. Dan aku termasuk orang yang telah tunduk pada
perubahan yang dipaksakan keadaan!"
Erwin merasa bahwa gadis itu mengembalikan alasan yang dikemukakannya. Perubahan apakah yang
dialami Sabrina? Tidak mencintai lagi karena putus asa atau karena cinta itu sendiri telah berubah menjadi
suatu kebencian? Kenyataan bisa membuat orang berbalik dari benci menjadi sayang atau sebaliknya.
"Maksudmu, kau telah membenci diriku Ina?" tanya Erwin ingin tahu.
"Aku tidak mengatakan itu. Tetapi aku telah berubah!"
"Kau tidak mencintai diriku lagi?"
"Ya, aku rasa begitu Erwin," jawab Sabrina terus terang. Ini toh lebih baik daripada berputar belit
mengemukakan suatu keadaan.
"Kau telah berpaling pada yang lain?" tanya Erwin. "Tak penting membicarakannya."
"Tetapi aku ingin tahu."
"Kau telah mengetahui apa yang kau perlu tahu!"
"Hanya itukah jawabmu?"
"Aku telah menjawab seperlunya. Cerita panjang lebar tidak akan mengubah keadaan."
"Apakah aku harus mulai menderita lagi pada hari kebebasanku Ina?"
Sabrina tidak menjawab. Ia tak tahu bagaimana cara menjawabnya.
"Kukira hari ini aku akan memulai kebahagiaan Ina! "
"Perkiraan tidak selalu menjadi kenyataan Erwin. Bagaimanapun pahitnya, manusia harus menerima
kenyataan. Tiap manusia punya suka atau dukanya dan sernua harus tunduk pada kenyataan. Ada orang
menamakan itu takdir. Dan takdir tak dapat dilawan, sebab yang dinamakan takdir itu benar-benar suatu
penentuan Tuhan."
"Siapakah orang yang ditakdirkan berbahagia itu Ina?"
"Tak penting kita ceritakan Erwin."
"Nasibku buruk sekali Ina."
"Tak ada orang yang mengetahui nasib apa yang menantikan dirinya."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 147


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Aku merasakannya. Nasibku buruk!"


"Entahlah Erwin, kuharap tidak!"
"Kau tak merasakan bahwa aku bernasib buruk?"
"Aku tidak tahu, tetapi kuharap kau akan bernasib baik. Kau baik hati bahkan lebih daripada itu. Kau suka
menolong sesama manusia. Jarang orang sebaik kau Erwin."
"Jarang pula orang bernasib seburuk aku."
"Ah, itu hanya perasaanmu."
"Siapa orang baru pilihanmu itu Ina. Katakanlah, aku hanya ingin tahu. Aku akan mengucapkan selamat
kepadanya karena ia memperoleh seorang gadis secantik dan selembut engkau."
"Kita tetap bersahabat Erwin. Dua sahabat tidak mesti selalu menceritakan isi hati masing-masing. Tetapi
di mana perlu boleh saling membantu! Tadi kau katakan hari ini hari kebebasanmu. Tentu kau senang dengan
kebebasan itu, walaupun aku tidak tahu apa yang menyebabkan kau berkata begitu dan apa yang membuat kau
merasa tidak bebas selama ini."
"Apakah aku tidak punya harapan lagi Ina?"
"Kau orang kuat, selalu sanggup menempuh dan melalui ujian. Jangan bertanya begitu. Tidak ada orang
tahu apa yang akan terjadi besok. Hari esok dan hari-hari berikutnya bagi kita semua di tangan Tuhan. Kita
hanya boleh mengira-ngira, tidak memastikan. Maka pertanyaanmu tidak perlu kujawab!"
Erwin merasa bahwa tak ada lagi isi hati Sabrina yang dapat dikorek.
Dipandanginya gadis itu seolah-olah hendak mengubah pendiriannya. Sabrina membiarkan. la merasakan
kasihan tetapi hatinya tak tergoyahkan lagi.
"Aku mohon diri Ina," kata Erwin sejenak kemudian. "Tolong sampaikan salamku kepada paman dan
tantemu!"
"Terima kasih, pasti akan kusampaikan," jawab Ina. Suaranya tak mengandung keharuan.
Hari kebebasan itu telah menjadi hari kekecewaan bagi Erwin. Kalau ia tadinya tersiksa menanti, maka
kini ia tersiksa oleh berbagai pertanyaan yang tak terjawab. Dugaannya akan dapat memeluk-ciumi Sabrina
pagi itu telah meleset sama sekali. Ia telah menghadapi seorang Sabrina yang sedingin es dan sekeras karang.
Tiba di rumah ia menghempas diri ke ranjang, membayangkan masa-masa silam yang indah dengan istrinya
Indahayati dan saat-saat penuh harapan dengan Sabrina yang kesemuanya telah merupakan kenangan yang
kini amat menyakiti dirinya.
Dengan kesedihan itulah itu ia akhirnya tertidur, tanpa sadar air mata membasahi pipinya.

***

KETIKA telah selesai mandi petang dengan perut kosong karena tidak makan tengah hari, badannya merasa agak
segar kembali dan pikiran jernih pun memberi harapan baru. Barangkali Sabrina berbuat seperti pagi tadi
hanya untuk membalas sakit hati. Ibarat orang berhutang harus membayar. Tak mungkin Sabrina punya
pilihan lain, karena ia begitu mengharapkan dan mencintai Erwin. la tahu benar akan hal ini. la tidak keliru.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 148


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Kalau minta bantuan Sabaruddin menyampaikan permohonan maaf dan menceritakan apa sebab pernyataan
cinta terhalang sekian lama, mungkin Sabrina akan lembut kembali dan menerima kasihnya dengan kedua
belah tangan terbuka lebar. Laksana gadis menyambut kembali pemuda idaman yang dirindukannya sekian
lama. Maka pergilah Erwin ke rumah Sabaruddin yang menerimanya dengan senang hati sebab ia pun akan
menceritakan kisah cintanya yang. dirasakannya begitu membahagiakan dirinya.
Selepas makan, barulah kedua sahabat karib itu berceritacerita dengan santai.
"Sekali ini kau harus menolong aku Sab," kata Erwin.
"Mengapa hanya sekali ini. Berkali-kali pun aku akan menolong. Tiap aku dapat berbuat begitu akulah
yang akan merasa paling bahagia. Kau tahu Er, sahabat terkarib dan saudara terdekatku di Jakarta ini adalah
kau. Untukmu nyawa yang sebiji ini pun akan kupertaruhkan." Oh, betapa senang hati Erwin mendengarnya.
"Ini agak berat, tetapi kau dapat melakukannya!" kata Erwin lagi.
"Soal apa? Katakanlah. Kalau soal uang kau jangan malu-malu mengatakannya padaku. Menghadapi
lawan, aku bersedia menggadaikan nyawa, tetapi kurasa diriku tak ada arti dibanding dengan kemampuan dan
ilmumu yang luar biasa! Nanti aku akan menceritakan kisahku. Soal asmara Er, aku telah menemukan yang
berkenan di hati. Kalau kebetulan soalmu juga perkara cinta kuharap kita bisa nikah bersama. Kau mau, bukan?
Huuu, kalau bisa kejadian ia akan merupakan kenangan terindah selama hidupku. Kalau aku mendapat anak
laki dan kau anak perempuan akan kita pertunangkan. Pokoknya kalau anak-anak pertama kita berfainan
kelamin akan kita perjodohkan, kau mau?" tanya Sabaruddin.
"Tentu Sab, tetapi aku ini bukan orang bangsawan!" jawab Erwin.
"Jangan cerita urusan bangsawan atau bukan. Kuno," kata Sabaruddin tertawa.
Erwin meminta sahabatnya untuk bercerita lebih dulu tentang kisah cintanya. Sabaruddin setuju.
"Aku mulai mengenalnya di dalam sebuah pesta ulang tahun seorang kenalan," kata Sabaruddin memulai.
Dia tak menyebutkan nama. Ketika kemudian Erwin yang mendengarkan dengan asyik menanyakan nama
gadis itu. Sabaruddin hanya menjawab bahwa namanya untuk sementara mau dirahasiakannya. Pada waktunya
ia akan memperkenalkan Erwin kepadanya. Sekaligus hendaknya Erwin juga membawa pacarnya.
"Bagaimana rupanya Sab, tentu cantik sekali," kata Erwin.
"Bagiku tiada gadis secantik dan selembut dia."
"Dari daerahmu juga?"
"Bukan. Tetapi juga bukan dari pulau Jawa ini!"
"Kau membuat aku jadi lebih ingin tahu."
"Nanti kau akan kenal juga dengannya."
"Namanya sajalah Sab, siapa tahu barangkali aku mengenalnya."
"Kau pasti belum mengenalnya dan aku lebih baik tidak menyebut namanya. Nanti kau cari dan kalau me-
lihatnya aku khawatir kau akan berpaling dari kekasihmu pada dirinya. Kau ganteng Er, banyak ilmu lagi, aku
tak sanggup bersaing denganmu."
Erwin senang juga dengan keterangan sahabatnya.
"Nah, kini giliranmu menceritakan siapa gadis pujaanmu itu Er," kata Sabaruddin.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 149


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Ia juga bukan orang sini Sab. Cantik bagiku. Mungkin selembut gadismu itu. Tetapi kami sedang
bersengketa sedikit. Aku telah lebih sebulan jatuh hati tetapi tak boleh menyatakan cintaku padanya. Dilarang
oleh ayahku. Harus menunggu empat puluh hari setelah kepergian istri dan anakku. Hari ini hari keempat
puluh satu. Aku sudah boleh menyampaikan perasaan dan isi hatiku kepada dirinya."
"Nah apa lagi, mengapa tak kau sampaikan. Apakah ia tahu kau punya pantangan? Ataukah ia belum tahu
bahwa kau amat mencintainya? Berterus terang sajalah kepadanya. Nanti kau terlambat. Gadis cantik biasanya
jadi incaran banyak laki-laki," kata Sabaruddin menasehati sahabatnya.
"Aku sudah mengatakan padanya tadi pagi. Tetapi ia rupanya marah padaku. Mungkin karena ia begitu
lama menanti tanpa mengetahui cintaku padanya."
"Biasa, gadis tidak selalu secara serta-merta menyampaikan perasaannya. Apakah dia tahu bahwa kau
menyayangi atau sedikitnya menyukainya?" tanya Sabaruddin.
"Ia tahu, sangat tahu, tetapi aku tidak dapat mengatakannya."
"Menunjukkan ada?"
"Ya, sangat jelas. Ia pasti tahu bahwa aku amat menyayanginya."
"Jikalau begitu tidak ada problem."
"Entahlah Sab. Mau dikata tiada problem, kelihatannya ia banyak berubah. Ia nampak dingin saja. Dan
memperlihatkan pendirian yang keras!"
"Alah, keras seorang wanita biasanya keras-keras kerak!"
"Tetapi aku mengharapkan bantuanmu. Kau menemuinya, menyampaikan permohonan maafku dengan
lisan. Katakan bahwa kau sahabat terdekatku. Kau mau menolong?"
"Ya, aku bersedia kalau kau kira itu jalan yang terbaik. Siapa nama dan di mana alamatnya?" tanya
Sabaruddin.
"Ia asal Sumatera seperti aku. Tinggal pada pamannya."
"Nama dan alamatnya?"
"Sabrina, kau dapat menyebutnya dengan Ina," kata Erwin.
Darah Sabaruddin tersirap dan mukanya pucat. Asal sama dan nama sama dengan gadis yang dicintainya.
Ia usahakan menenangkan hatinya. Sama asal dan sama nama toh tidak mesti sama orangnya. Ada ribuan
orang berasal dari pulau yang sama dengan nama yang sama. Mustahil orangnya sama pula!
Tetapi ketika Erwin menyebutkan nama paman dan alamatnya, Sabaruddin benar-benar seperti
kehilangan keseimbangan. Ya Tuhan, mengapa mesti begitu? Sabrina Erwin adalah Sabrina-nya Sabaruddin.
"Kau tak mau menyebutkan nama kekasihmu padaku karena kau khawatir aku akan jatuh cinta padanya.
Aku telah memberi tahu nama gadisku, jangan sampai kau menaruh hati padanya Sab. Kuharap kita berempat
akan menjadi sahabat terakrab di dunia bahkan sampai di akhirat nanti!" ujar Erwin.
"Kau sudah-lama mengenalnya Er?" tanya Sabaruddin untuk menutupi kebingungannya. Ia masih sukar
percaya bahwa mereka berdua mencintai gadis yang sama.
"Ketika aku kembali dari Ujungpandang tempo hari," jawab Erwin. "Kau akan menyukainya Sab. Dia baik
dan lembut sekali!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 150


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Kasihan Erwin. Atau kasihan Sabaruddin?


Kalaulah Erwin tahu bahwa Sabaruddin bukan akan menyukai, tetapi telah mencintai dan dicintai
Sabrina, mungkin ia akan pingsan. Walaupun ia manusia harimau berilmu tinggi.
"Kau takut menyampaikannya Sab?" tanya Erwin melihat sahabatnya diam termangu.
"Tidak, mengapa harus takut," jawab Sabaruddin asal jawab saja. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam
benaknya.
"Kapan?" tanya Erwin.
"Kapan maumu?" tanya Sabaruddin. Juga asal tanya saja. Ia seperti mengalami mimpi yang amat
mengejutkan.
"Besok, kalau kau tidak keberatan. Aku ingin segera, supaya kami kembali normal Sab! Kau tentu tahu
bagaimana cara menyampaikannya!" Dengan susah payah Sabaruddin menyembunyikan perasaannya. Ia tidak
sanggup mengatakan bahwa Sabrina itulah juga yang direncanakan akan jadi istrinya. Kini ia tahu bahwa hanya
ada satu wanita untuk mereka berdua.
"Nasibku ada di tanganmu Sab," kata Erwin ketika ia mohon diri. Ia sendiri tidak sadar mengapa ia
berkata begitu. "Ingat usulmu, kita akan nikah bersama." Sabaruddin hanya sanggup mengangguk. Untunglah
Erwin lekas pulang. Ia sudah hampir tak sanggup menguasai diri. Erwin pergi dengan penuh harap.
Sabaruddin tinggal dengan masalah yang sukar atau tidak dapat dipecahkan. Ia masih saja sebagai bermimpi
buruk, mengapa harus demikian. Ia merasa seakan-akan tak ada kejadian yang bisa lebih buruk dan celaka
daripada ini. Ia begitu ingin membalas budi baik Erwin, sekarang ini yang terjadi. Kedua-duanya mempunyai
problem yang sulit menghadapi Sabrina.

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 151


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

JAM sembilan malam, Sabaruddin menelpon Sabrina, bahwa ia ingin datang oleb suatu kenyataan yang tak
disangka dan timbul begitu mendadal:. Sabrina cemas memikirkan apakah gerangan masalahnya. Baru pada
pagi itu ia dengan tabah hati menghadapi Erwin yang pernah dicintainya setengah mati dan kepada siapa ia
kini diam-diam menaruh rasa kasihan yang mendalam. Apa yang akan disampaikan laki-laki Ujungpandang
yang begitu cepat merebut hatinya menggantikan Erwin? Apakah orang tuanya mengetahui dan keberatan atas
hubungan mereka?
Apakah sebentar lagi ia akan menghadapi suatu kenyataan baru? Akan terpaksa memutuskan hubungan
dengan Sabaruddin?
Kedatangan Sabaruddin dengan mukanya yang bingung memperlihatkan kepada Sabrina bahwa
kekasihnya itu memang sedang menghadapi problim.
"Kau kelihatan menghadapi kesulitan," kata Sabrina.
"Ya," jawab laki-laki itu singkat.
"Ada kaitannya dengan hubungan kita?"
Pertanyaan ini tidak segera terjawab karena sukar untuk menjawabnya.
"Orang tuamu keberatan?" tanya Sabrina ingin tahu sambil menerka.
"Tidak. Tidak akan ada kesulitan dengan orang tuaku."
"Kalau begitu tiada kaitannya dengan hubungan kita," kata Sabrina sedikit lega. Yang paling dikhawatir-
kannya tadi memang orang tua kekasihnya itu. Yang ningrat dan yang kaya.
"Yah, sukar mengatakannya. Tetapi kurasa ada kaitan."
"Kaitan bagaimana?" tanya Sabrina heran.
"Kau kenal Erwin?"
"Kenal, kawan baik. Ada apa dengan dia?" Sabrina berdebar dan curiga.
"Dia juga kawan, bahkan sahabat terbaikku!"
"Jika begitu kita akan jadi tiga sahabat," kata Sabrina. Ia coba meringankan keadaan.
"Ina, aku tidak dapat melukai hatinya!"
"Kau tidak perlu melukai, karena kami hanya berkawan."
"Tidak ada yang kau sembunyikan?" tanya Sabaruddin.
Sabrina bisa meraba, bahwa Sabaruddin telah mengetahui riwayatnya dengan Erwin. Tentu Erwin yang
menceritakan.
"Kami pernah punya kisah. Tetapi itu telah berlalu tanpa kesan Sab. Ia atau kami tidak pernah berjanji
atau saling menyatakan isi hati. Aku berani bersumpah untuk itu." Dan Sabrina memang berkata benar.
"Ia amat mencintaimu Ina."
"Aku tidak tahu. Ia tidak pernah mengatakanya. Demi Tuhan ia tidak pernah bicara tentang cinta."
"Katanya kau tahu bahwa dia amat mencintaimu!"
"Itu menurut sangkaannya!"
"Apakah dia keliru. Ina?" tanya Sabaruddin. Kini dia agak lega.
"Kurasa begitu. Sudah kukatakan. Dia tidak pernah mengatakan cinta. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 152


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

dia sangat baik. Sangat suka menolong sesama manusia."


"Memang," kata Sabaruddin menguatkan. "Aku juga pernah ditolongnya. Budinya tak terlupakan olehku.
Mungkin juga tidak akan pernah dapat kubalas." Laki-laki itu lalu menceritakan, bahwa ia dimintai tolong
untuk mohon maaf, karena ia selama empat puluh hari sejak kepergian istri dan anaknya, tidak boleh
menyatakan cinta.
"Kasihan dia," kata Sabaruddin kemudian. "Kau tidak mencintainya Ina? Berkatalah terus terang, karena ia
sahabatku yang teramat baik!" sambung Sabaruddin.
"Aku menghormati dan menghargainya, karena ia baik budi. Lain tidak," kata Sabrina yang bertekad tak
mau kehilangan kekasih yang telah menyingkirkan Erwin dari hatinya.
Dalam hati Sabaruddin berkecamuk dua macam perasaan. Lega karena Sabrina tidak pernah mencintai
Erwin dan perasaan kasihan karena sahabat baiknya itu bertepuk sebelah tangan dan keliru menilai kebaikan
gadis itu. Tetapi suatu kepastian menjadi jelas. Ia tidak merebut Sabrina dari Erwin.
"Bagaimana aku menyampaikan berita duka baginya ini Ina?" tanya Sabaruddin.
"Terserah pada kebijaksanaanmu. Tetapi aku akan senang sekali kalau ia tidak tersinggung, karena aku
amat menghargainya. Aku benar-benar berharap agar kita bertiga bisa bersahabat!"
"Apakah kau rasa ia salah mencintaimu Ina?"
"Oh tidak. Hak tiap orang untuk mencintai atau membenci."
"Mengapa kau tidak mencintainya Ina?"
"Pertanyaanmu itu aneh dan tidak lucu Sab. Orang toh tidak mesti membalas semua cinta! Bukankah
cinta tidak bisa diatur-atur?"
"Kalau kau yang jadi aku, bagaimana kau mengatakannya kepada Erwin?" tanya Sabaruddin.
"Mudah saja. Kau jangan berbelat-belit. Katakan, kau telah menyampaikan semua pesannya. Bahwa aku
tidak pernah tahu, bahwa dia diam-diam menaruh hati padaku. Katakan juga bahwa perkenalan kita telah
berkembang menjadi hubungan saling menyukai dan berjanji untuk hidup berumah tangga. Ia akan mengerti,
karena ia orang pintar yang lapang hati," kata Sabrina. Dalam hati Sabrina menyadari bahwa ia berbohong.
Tetapi ia merasa tak punya pilihan lain yang agak baik. Dia telah kehilangan Erwin, dia tidak bersedia
kehilangan Sabaruddin pula. Ia menyesali keadaan, mengapa kedua orang itu bersahabat dan akrab pula lagi.
Walaupun ia sadar bahwa menyesali suatu kenyataan tidak akan dapat mengubah kenyataan.
Dengan langkah dan hati berat keesokan paginya Sabaruddin mengunjungi Erwin. Walaupun menurut
pertimbangannya Sabrina tidak bersalah, tetapi Erwin tetap akan kecewa, sangat kecewa. Ia, dalam keadaan
terpaksa diam selama empat puluh hari mencintai gadis itu mati-matian. Tiba-tiba ia terbentur pada
kenyatanan pahit bahwa ia hanya bertepuk sebelah tangan. Melihat Sabaruddin masuk dengan wajah tidak
gembira. Erwin sudah bisa menebak, berita apa yang dibawanya. Penolakan, kegagalan.
Sabaruddin memandang Erwin.
Akhirnya Erwin yang duluan bicara: "Aku sudah tahu Sab. Sabrina menolak. Bukankah begitu?"
Sabaruddin hanya menundukkan kepala. Dan itu sudah suatu jawaban yang tak kalah jelasnya dari kata-kata
hiburan yang dirangkaikan.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 153


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Ia tidak pernah tahu kau mencintainya Erwin," kata Sabaruddin sebagai pelengkap jawaban. Erwin perlu
mengetahui itu. Untuk membuktikan ketidak-bersalahan Sabrina.
"Dia berkata begitu?" tanya Erwin, tidak percaya.
"Ya, dia tak tahu kau mencintainya. Tetapi dia mengatakan kau sangat baik." Kalau tak kuat menahan
emosi, mau rasanya Erwin menjerit karena kesal atas kebohongan gadis yang cindaku itu. Sialan, wanita yang
selalu disayang dan dirinduinya serta pernah diselamatkannya itu kiranya pandai dan mau juga berbohong.
"Dia katakan juga siapa pemuda pilihan hatinya Sab?" tanya Erwin.
Pemuda Sulawesi itu jadi gugup. Akan berkata terus terang? Ia tak sanggup. Akan berdusta, khawatir
kalaukalau Erwin mengetahui dustanya. Bukankah ia mempunyai ilmu amat tinggi, punya firasat yang kuat
dan selalu mengetahui pikiran orang. Tetapi kalau ia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, untuk apa ia
bertanya lagi? Memang benar, Erwin tidak selamanya tahu semua. Yang mengetahui semua-muanya hanya
satu. Dia Yang Tunggal dan Mahakuasa. Bukan manusia yang mana pun. Orang pandai seperti Erwin
seringkali tahu apa yang telah atau akan terjadi. Kadang-kadang pandai membaca pikiran orang. Tidak tiap
waktu. Tidak di mana saja dan kapan saja.
Setelah agak lama Sabaruddin diam, Erwin bertanya lagi apakah Sabrina menyebut nama kekasihnya yang
sekarang. "Apakah kau tanya siapa kekasihnya kini?" tanya manusia harimau itu.
"Tidak," jawab Sabaruddin dan ia berkata benar. Jantungnya berdebar. Kalau Erwin tahu siapa kekasihnya
sekarang, apakah ia akan menyingkirkan orang itu? Dia pasti dapat melakukannya kalau dia tahu dan mau. Ia
telah membuktikan kemampuannya di Ujungpandang. Dukun terhebat pun tak kuat melawan Erwin.
"Sayang," kata Erwin seperti orang yang kecewa. Sabaruddin jadi gelisah.
Kalau Erwin mengetahui, bahwa yang berkata-kata dengan dia itulah pilihan hati Sabrina, maka hanya
Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Dan Sabaruddin yakin, bahwa pada suatu ketika ia pasti akan
mengetahuinya. Lalu bagaimana nanti? Apakah Erwin akan membunuh sahabatnya yang merebut Sabrina?
Ataukah ia akan membunuh Sabrina karena memilih sahabat terdekatnya sebagai pengganti?
"Coba kau selidiki siapa orang berbahagia yang mendapat hati Sabrina," pinta Erwin kepada sahabatnya.
Hati Erwin sakit dan cemburu memang. Inilah untuk pertama kali dalam hidupnya yang masih muda, ia gagal
atau ditampik. Biasanya wanita yang menginginkannya.
"Kalau kau sudah tahu, beritahu aku," kata Erwin lagi.
Sabaruddin tidak menjawab dan manusia harimau itu pun barangkali tidak menanti jawaban.
"Nasibku ini memang sial Sab," kata Erwin.
"Jangan berkata begitu, pantang," ujar Sabaruddin. "Tiap kekecewaan biasanya ada faedahnya. Tuhan
Maha bijaksana Er. Kau kan lebih tahu."
Setelah merasa tak ada lagi yang perlu diceritakan tentang kedatangannya ke rumah Sabrina, Sabaruddin
pun pulang.
Sepeninggal sahabatnya itu, pikiran Erwin kesal dan kacau. Ia menganggap dirinya sial. Apakah tidak
akan ada lagi hari-hari bahagia baginya? Dan tiba-tiba dia merasa keringat dingin membasahi bajunya.
Tubuhnya gemetaran seperti orang dihinggapi malaria. la segera melihat dirinya pada sebuah cermin besar

SERIAL MANUSIA HARIMAU 154


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

model kuno. Dipandanginya dirinya dan tampak pulalah olehnya proses perubahan itu. Tak lama kemudian ia
telah menjadi manusia harimau untuk kemudian mukanya pun berubah menjadi harimau. Bukan hanya itu. la
ingin mengaum dan ia tak sanggup mengekang diri. Maka mengaumlah ia dengan suara amat keras, sehin.!4:a
penduduk di sekitar rumahnya semua terkejut dan saling pandang. Bukan khayal. Mereka semua
mendengarnya. Suara harimau. Rasa takut melanda mereka. Untunglah ada seorang tua berkata: "Biarkan saja.
Dia tidak akan mengganggu orang yang tidak mengusik dirinya!" Ada orang yang lalu diam, karena takut.
Tetapi ada juga yang bertanya apakah itu betul suara harimau.
"Itu suara nenek," kata orang tua tadi.
Orang yang tidak mengerti itu tercengang, tetapi tidak berani bertanya lagi.
Beberapa banyak penduduk di situ saling berbisik. Tidak mungkin ada harimau liar di Jakarta. Itu tentu
piaraan seseorang. Berarti di daerah mereka ada seorang dukun besar atau seorang hebat yang mempunyai
harimau sebagai binatang buas piaraannya yang dapat disuruh apa saja, karena ia tunduk kepada yang
memelihara. Kepada majikannya.
Melihat wajah dan tubuhnya menjadi harimau, Erwin menyadari bahwa ia memang lain daripada manusia
wajar. Patutlah Sabrina akhirnya menolak. Tetapi kemudian otaknya berkata bahwa Sabrina lebih cocok
untuknya daripada bagi manusia biasa. Bukankah ia juga cindaku yang pada suatu saat nanti atau pada
beberapa banyak kesempatan dalam hidupnya bisa berubah jadi harimau. Bukankah kakek dan ayahnya mati
dikeroyok orang ramai karena tiba-tiba mencindaku? Siapakah laki-laki yang dicintainya itu? Apakah pada
suatu saat yang amat celaka nanti, kalau mereka bersengketa Sabrina berubah jadi harimau lalu memakan
suaminya sendiri? Memikirkan itu sejenak, manusia harimau yang biasanya amat lembut hati itu menyeringai
puas. Setan sedang menggoda dirinya. Pada waktu demikian nanti laki-laki yang kini tentu amat beruntung itu
akan menebus kesalahannya. Erwin tidak usah membalas, Sabrina sendiri akan meniadakan si penjahat itu.
Pada saat itu Erwin menganggap manusia yang merebut Sabrina seorang penjahat. Tetapi setelah ia sadar, air
mata membasahi pipi yang berbulu kuning itu. Harimau manusia itu menangis. Dan ia mengambil suatu
keputusan yang dianggapnya terbaik bagi dirinya. Menyingkir. Dia pindah ke Tanjungpriok.
Tidak ingin tahu lagi siapa laki-laki yang beruntung mempersunting Sabrina.
Erwin ingin segera pergi. Persetan sama perabotan rumah yang memang tak seberapa. Persetan sama
tetangga yang selama hari ini semuanya baik padanya. Persetan juga sama Sabaruddin yang tidak berhasil
melembutkan hati Sabrina untuk kembali kepadanya. la orang sial, tidak butuh persahabatan siapapun. la
manusia harimau, tak layak hidup berdampingan dengan manusia-manusia yang normal.
Erwin menghukum dirinya. Semua karena kesal dan pada saat itu merasa amat rendah diri. la ingin segera
pergi, tetapi setelah lebih satu jam menanti, ia belum juga berubah kembali jadi manusia. la mau keluar dari
rumahnya sebagai manusia, tidak mau sebagai harimau yang bisa menghilangkan diri, tak akan terlihat oleh
siapapun. Pada saat-saat menunggu itulah datang tamu yang tak diundang bahkan amat dimusuhinya.
Salamnya berupa tawa mengejek, kemudian disusul dengkur keras. Tamu itu musuh bebuyutannya, Ki Ampuh.
"Kau hendak melarikan diri hah!" ejek Ki Ampuh. Erwin diam saja. Tiada selera bertarung, tiada nafsu
men jawab.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 155


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Hendak ke mana kau, buaya!" Biarpun dia sedang berujud harimau, tetapi dikatakan "buaya" Erwin
merasa amat dihina, sebab buaya dikenal sebagai binatang jahat dan palsu.
"Mana guna-gunamu? Mengapa kekasihmu sampai direbut orang!"
Erwin malu dan marah: "Bukan urusanmu jahanam!" bentaknya.
"Akhirnya si gagah perkasa ditundukkan oleh manusia biasa, hah!"
"Enyah kau, sebelum aku membunuhmu di sini," bentak Erwin.
Ki Ampuh tertawa-tawa, kemudian pergi. Tanpa kehadirannya pun Erwin sudah cukup terhukum dan dia
senang akan hal itu. Ia datang tadi sekedar memperlihatkan kepada Erwin bahwa ia mengetahui betapa malu
dan terpukulnya Erwin oleh kehilangan Sabrina.
"Ya pergilah," tiba-tiba terdengar suara ayahnya tanpa menunjukkan diri.
"Ayah, mengapa jadi begini? Aku sudah mengikuti nasehat ayah, sekarang ini akibatnya," kata Erwin me-
nyesali kenyataan.
"Tiap kekecewaan ada gunanya!"
"Tapi aku kehilangan dia."
"Makhluk hidup pada saat-saat tertentu memang kehilangan sesuatu atau seseorang yang amat
dicintainya!"
"Aku ingin mati saja ayah!"
"Huh, bodoh. Kehilangan seorang wanita saja jadi bosan hidup!"
"Tetapi apa gunanya lagi hidup tanpa Sabrina?"
"Kau semakin bodoh!"
"Ayah hanya bisa mengatakan aku bodoh. Ayah tidak merasakannya," kata Erwin jengkel kepada ayahnya.
"Marahlah kepadaku. Aku bisa mengerti betapa perasaanmu. Tetapi ketahuilah bahwa dunia ini masih
akan menghadapi ribuan hari yang akan datang. Belum akan qiamat besok atau lusa!"
"Apa sangkut pautnya nasibku dengan dunia yang belum akan qiamat!"
"Banyak. Tiap hari semua hamba Allah, termasuk tumbuh-tumbuhan mengalami proses kehidupan. Kita
juga hamba-Nya."
Erwin menarik napas mendengar falsafah ayahnya mengenai kehidupan.
"Kau membenci ayahmu Erwin?" tanya Dja Lubuk.
Erwin diam saja.
"Kau tidak menjawab Er!"
"Tidak ayah. Aku membenci kehidupan yang penuh derita ini!"
"Kau hanya menyebut derita hidup. Kau melupakan hari-hari yang pernah penuh kebahagiaan. Kau tidak
adil menilai pemberian Tuhan."
Erwin teringat pada masa-masa lalu. Ia juga pernah mengalami saat-saat gelak dan tawa.
Kemudian ia menangis tersedu-sedu, bagaikan seseorang yang menyadari kekhilafannya. Ayahnya pergi
dan Erwin tinggal sendirian menerima nasib.
Hampir dua jam kemudian barulah Erwin jadi manusia kembali. Ia pergi tanpa pamit pada siapapun. Ia

SERIAL MANUSIA HARIMAU 156


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

mau memencilkan diri. Ia tak suka pada dunia ini walaupun ayahnya baru saja memberinya kuliah mengenai
hidup dan kehidupan.
Sabaruddin yang masih dihantui perasaan kasihan pada Erwin tetapi juga sangat menghendaki Sabrina
untuk dirinya sendiri, keluar rumah. Bukan untuk menyepi, melainkan untuk menemui sahabat akrabnya
Erwin. Didapatinya rumah dikunci. Para tetangga tak tahu ke mana ia pergi karena tiada meninggalkan pesan.
Tetapi mereka masih sempat menceritakan kepada Sabaruddin tentang suara harimau yang amat keras, yang
diduga piaraan salah seorang di sekitar tempat itu. Mendengar ini Sabaruddin terus teringat apa yang terjadi di
Ujungpandang dan ia tidak sangsi sedikit pun, bahwa yang bersuara itu pastilah Erwin, ayahnya atau kakeknya.
Besoknya Sabaruddin datang lagi. Dia mulai curiga. Ke manakah sahabatnya yang sangat kecewa itu? Lalu
timbul berbagai macam pikiran dan dugaan. Apakah ia sudah tahu bahwa pemuda pilihan Sabrina adalah
dirinya sendiri? Kalau ia sudah tahu, ia akan berbuat apa? Tak dapat bertindak karena tak sampai hati ataukah
akan melakukan pembalasan karena Sabaruddin tidak berterus terang? Kalau Erwin mau membalas, maka tak
ada kekuatan apa pun di permukaan bumi ini yang akan dapat merintanginya. Begitulah keyakinan
Sabaruddin. Seharusnya Sabaruddin gembira dengan lenyapnya Erwin tanpa meninggalkan alamat. Mungkin
Erwin menganggap penyingkiran diri lebih baik untuk dirinya agar tidak mengetahui siapakah gerangan
pemuda yang katanya amat beruntung itu.
Setelah empat hari tidak juga ada berita tentang Erwin, yakinlah Sabaruddin bahwa sahabatnya itu benar-
benar sudah menjauhkan diri. Bukan tak ada laki-laki yang menyepi dan tak mau bergaul lagi di tengah
masyarakat karena terlalu kecewa dalam asmara. Hidup di dunia bagi orang semacam itu hanya menunggu
takdir untuk dipanggil Tuhan pulang ke alam baka.
Lenyapnya Erwin diceritakan oleh Sabaruddin kepada kekasihnya yang dalam hati merasa kasihan
bercampur menyesal tetapi dapat disembunyikannya. Ia juga menceritakan bagaimana asal mula ia berkenalan
dengan Erwin sampai dibawanya ke Ujungpandang untuk membalas sakit hati terhadap orang-orang yang
bertanggung jawab atas kematian adiknya Farida.
"Jangan ceritakan Ina. Hanya kepada kau kubuka rahasia ini. Erwin sebenarnya manusia aneh yang
sewaktuwaktu menjadi harimau berkepala manusia!" kata laki-laki itu. Srrrr, berdesir darah Sabrina.
Sabaruddin tahu bahwa Erwin manusia harimau. Ia sendiri pun anak cindaku dan sudah pernah berubah jadi
harimau seperti almarhum ayah dan kakeknya. Bagaimana kalau pemuda kesayangannya itu sampai
mengetahui? Mendadak Sabrina jadi sadar betapa besar bahaya yang mungkin menimpa dirinya. Bagaimana
kalau sewaktu berduaan di kamar atau di ranjang kelak, dirinya tiba-tiba berubah ujud? Kesadarannya ini
membuat ia mulai takut dan menyesali nasibnya. Kalau ia tidak berpaling dari Erwin yang pernah menye-
lamatkan nyawanya, maka bahaya takut ketahuan tidak ada, sebab Erwin sudah mengetahui. Mereka lebih
kurang sejenis. Sama-sama bisa jadi harimau. Tetapi kini semua sudah terlanjur. Tak mungkin baginya untuk
surut kembali.

***

SERIAL MANUSIA HARIMAU 157


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ERWIN benar-benar mengurung diri secara hampir sempurna. Ia berdiam diri saja di kamar rumahnya yang
kecil. Hanya keluar kalau perlu membeli makanan seperti beras, ikan teri, cabai dan sedikit buah-buahan, la
masak sendiri sebagaimana kebanyakan anak-anak Mandailing bertanak sendiri kalau merantau. Membebani
diri dengan ruparupa pekerjaan agar bisa berdiri sendiri. Membiasakan diri hidup amat sederhana atau bahkan
miskin akan membuat mereka mengetahui bagaimana rasanya hidup melarat. Dengan pengalaman itu pula
mereka bisa memaklumi betapa sakitnya hidup sebagian besar bangsanya. Kalau orang-orang semacam ini pada
suatu hari berkuasa dengan wewenang untuk menentukan, maka rakyat akan mempunyai pemimpin-pemimpin
yang baik. Yang benar-benar sayang pada mereka dan bekerja keras untuk mengangkat mereka dari
penderitaan.
Pada suatu hari Erwin melihat Sabaruddin sedang memarkir mobilnya di depan sebuah rumah makan di
Tanjung Priok.
Melihat sahabat akrab yang ditinggalkannya tanpa pamit itu, Erwin jadi tertegun memandangi dari
tempatnya berdiri. Akan didatanginyakah? Bukankah ia sudah berlaku sangat tidak pantas, pergi begitu saja?
Tetapi rasa malu pun ada pula.
Sedang ia ragu-ragu itulah tiba-tiba Sabaruddin kebetulan melihat diri Erwin. Ia pun jadi tertegun seperti
sahabatnya itu, karena tidak menyangka akan bertemu tanpa janji. Sejenak kedua sahabat itu berpandangan,
masing-masing dengan keraguannya.
Sabaruddin mengambil inisiatip. Ia melambaikan tangan lalu bergerak cepat ke arah Erwin. Pada saat itu
pula Erwin menentukan sikap tanpa berpikir. Ia berpaling dan lari. Sabaruddin heran mengapa sahabatnya
berbuat begitu dan ia mengejar. Ia ingin tahu mengapa Erwin menjauhkan diri.
Cukup banyak orang mempersaksikan kejar-mengejar antara kedua laki-laki itu.
Beberapa orang bertanya kepada pengejar, apakah dia kecopetan atau ada barangnya yang dijambret orang
yang dikejarnya itu.
"Tidak, dia saudaraku!" kata Sabaruddin dan ia mengejar terus. Ia masih melihat Erwin berlari. Ia
berharap jangan sampai kehilangan jejak. Ia harus bicara dengannya. Ia harus tahu mengapa Erwin pergi tanpa
memberitahu. Sempat terpikir olehnya apakah Erwin sudah mengetahui, bahwa dia sendirilah yang jadi
pilihan Sabrina sehingga ia memutuskan hubungan dengan Erwin. Ia akan menerangkannya dan ia bersedia
melepaskan kekasihnya itu demi kebahagiaan Erwin.
"Erwin, Erwiiiin," serunya sambil terus mengejar. Manusia harimau itu tak mau menoleh. Oleh rasa
gugup ia bahkan tak ingat bahwa ia bisa menghilangkan diri dari pandangan Sabaruddin. Pada saat itu ia sama
sekali tidak ingat bahwa dia manusia harimau yang punya kemampuan besar. Yang disadarinya hanyalah
bahwa ia Erwin yang ditolak Sabrina. Ia sama sekali belum tahu bahwa laki-laki lain yang kini jadi kesayangan
gadis itu tak lain dari sahabatnya sendiri.
Akhirnya Erwin sampai ke pekarangan rumahnya. Napasnya terengah-engah. Cilakanya Sabaruddin pun
tiba juga di sana.
"Mengapa kau kejar aku?" tanya Erwin.
"Aku yang harus bertanya Er. Mengapa kau menjauhi diriku? Adakah dosaku padamu. Aku bersedia

SERIAL MANUSIA HARIMAU 158


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

menebus, karena aku tidak mau kehilangan kau sebagai sahabat yang paling kusayang."
Dalam hati Erwin amat terharu dengan kata-kata sahabatnya ini. Benar, apakah kesalahan Sabaruddin
padanya. Sepanjang tahunya, tidak ada.
"Tak ada kesalahanmu Sab!" kata Erwin menundukkan kepala.
"Lalu mengapa kau meninggalkan aku tanpa berkata barang sepatah pun?"
"Kau sudah tahu siapa kekasih atau tunangan Sabrina?" tanya Erwin. Entah mengapa ia menanyakan itu.
Sabaruddin jadi terkejut. Apakah Erwin benar-benar belum tahu siapa pilihan Sabrina? Sekiranya ia tahu
bahwa Sabaruddin-lah yang merebut kekasihnya, bagaimana?
Ia tak sanggup berterus terang kini. Padahal tadi ia bersedia melepas Sabrina demi kebahagiaan sahabat
yang pernah amat berjasa pada keluarganya dan dirinya sendiri di Ujungpandang.
"Apakah kau bersembunyi karena sangat kecewa Er?"
"Tidak! Mengapa harus kecewa. Aku yang salah. Aku tak tahu diri!"
Sedih sekali hati Sabaruddin mendengar jawaban sahabatnya.
"Adakah sesuatu yang dapat kubuat untukmu Er?"
"Tidak ada Sab. Terima kasih saja untuk budi baikmu. Aku tak kekurangan atau membutuhkan suatu apa
pun. Hanya satu yang kupinta."
"Katakanlah, aku pasti akan memenuhinya kalau aku sanggup!"
"Kalau kau sudah tahu siapa kekasih Sabrina sekarang, tolong beritahukan kepadaku."
Untunglah Erwin tidak menunggu jawaban. Ia malahan berkata: "Sudahlah, kita sudah bertemu. Antara
kita tidak ada apa-apa. Aku pergi diam-diam, hanya karena aku mau menyunyikan diri. Tak ada sebab lain."
Sabaruddin merasa amat berdosa. Ia tidak juga mau berterus terang. Ia tak sanggup untuk itu. Ia mohon
diri untuk pergi dengan perasaan dan hati yang kacau balau. Ketika tiba di pintu, Sabaruddin berhenti dan
menoleh pada sahabatnya. Tak kuat ia menahan pertanyaan: "Kalau sudah kutemukan atau kuketahui siapa
kekasih Sabrina itu, apa yang harus kuperbuat Er?"
"Tak ada apa-apa. Hanya tolong sampaikan kepadaku!"
"Akan kau bunuh dia?" Sabaruddin benar-benar sudah tidak mampu menyembunyikan keinginan tahu.
Bukankah dirinya sendiri yang langsung terlibat?
"Oh tidak Sab, tidak. Aku tidak sejahat itu. Hak Sabrina untuk menukar kekasih, apa lagi di antara kami
pun belum ada sesuatu ikatan."
"Lalu mengapa kau begitu ingin tahu?"
"Ada yang mau kusampaikan kepada laki-laki itu!"
"Bahwa dia merebutnya dari dirimu Er?"
"Tidak, itu juga tidak. Ada sesuatu yang mau kuceritakan. Untuk kebaikan semata-mata, tidak ada lain
tujuan." Dan Erwin mengatakan yang sebenarnya. Sabaruddin tertanya-tanya di dalam hati, apa gerangan yang
mau diceritakan bekas kekasih Sabrina. Tetapi, ia tidak punya cukup nyali. untuk mengatakan bahwa ,
dirinyalah yang harus menerima cerita Erwin. Sudah jadi terlalu berat dan malu untuk mengakui sebuah
kenyataan.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 159


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Bila kau akan datang ke rumah Er?" tanyanya ketika akan keluar pintu.
"Nanti-nanti, kalau kurasa harus ke rumahmu."
"Mengapa begitu?"
"Ya, begitulah! Jaga dirimu baik-baik Sab. Jakarta ini menyimpan banyak penjahat. Kewaspadaan selalu
amat perlu."
"Terima kasih Er. Aku pergi ya," dan ia melangkah. Sepanjang jalan ia merasakan ada sesuatu yang akan
terjadi. Mengapa Erwin menasehatinya untuk jaga diri baik-baik? Dan bahwa Jakarta menyimpan banyak
penjahat? Ia kenal Erwin sebagai seorang manusia yang kadangkala pandai melihat jauh ke depan. Telah
terbukti di Ujungpandang.

***

KEESOKAN harinya, sekitar jam empat petang Sabaruddin menjemput Sabrina untuk berkunjung ke rumah
seorang sahabat yang berulang tahun. Sahabat biasa, bukan seakrab persahabatan dengan Erwin. Keluarga
kaya. Gedung mewah dengan pekarangan luas berbunga-bunga indah pula. Sedap dipandang. Pemilik
semuanya ini bernama Safril. Pengusaha muda yang trampil. Baik budi, tak pernah menyombongkan hartanya,
karena insyaf, bahwa harta tidak menentukan segala-galanya. Dan bahwa semua itu akan ditinggal kalau si
pemilik dipanggil Tuhan pulang untuk ditanyai apa saja yang dilakukannya di dunia. Dan dia tahu, bahwa di
sana siapapun tak dapat berdusta. Siapapun tak dapat disogok. Yang dihitung di akhirat hanya kejahatan dan
kebaikan. Amalan dan dosa. Kalau neraka diibaratkan penjara, maka tak ada seorang hukuman pun dapat
melarikan diri dari neraka. Berbeda sekali dengan di dunia, banyak terhukum bisa lobs dari penjara. Safril
percaya akan adanya neraka, sepercaya pada adanya surga yang diperuntukkan hamba Allah yang saleh dan
banyak beramal.
Banyak kawan-kawan Safril hadir dalam pesta kecil yang diadakannya. Sabaruddin memperkenalkan
Sabrina pada suami istri Safril dan kenalan-kenalan yang ada di sana. Selain memberi selamat kepada yang
berulang tahun, mereka juga melihat anaknya yang pertama. Indri yang baru berusia empat bulan. Nyonya
Safril dengan perasaan bangga mendengar pujian sahabat-sahabat suaminya yang sebagian juga sudah jadi
sahabatnya. Semua mereka mengatakan, bahwa Indri sangat cantik dan lucu. Montok lagi. Tak heran, kalau
suami istri Safril amat sayang pada Indri. Bagi mereka, inilah harta yang paling berharga, lebih berharga dari
segala benda mati yang mereka miliki.
Sudah tentu Sabaruddin dan Sabrina juga dapat giliran. Nyonya Safril yang mendukung anaknya
memperlihatkannya. Ia tahu, bahwa kedua orang ini pun akan memuji.
"Aduuuh cakepnya," puji Sabaruddin.
Ketika Sabrina melihatnya mendadak ia dimasuki suatu keinginan yang belum pernah dialaminya. Kedua
matanya menatap bayi empat bulan itu. Ia menelan liur karena mendadak merasa haus. Haus yang lain dari
biasa. Ia ingin darah. Suatu keinginan mendadak tanpa ada tanda-tanda lebih dulu bisa timbul pada diri
cindaku.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 160


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Sabrina menatap anak itu. Nyonya Safril mengindung-indung anaknya yang tiba-tiba menggeliat-geliat,
kemudian kelihatan lemas. Sabrina merasa hausnya hilang. Ia telah menghisap darah Indri dengan tatapannya.
Tatapan cindaku yang berkekuatan gaib.
Nyonya Safril jadi gugup, kemudian menjerit. Begitu pula Safril. Tamu-tamu pun jadi terkejut. Suasana
pesta berubah jadi panik. Hanya Sabrina yang tahu apa yang telah terjadi. Hanya dia. Dan Tuhan tentu.
Cindaku itu dapat menyimpan rahasia. Pandai pula bersandiwara. Ia turut panik, lebih dari yang lain.
"Barangkali ditegur setan," kata Sabrina.
"Stuip barangkali," kata yang lain.
"Panggil dokter," kata seorang tamu memberi nasehat. Dokter datang lima belas menit kemudian.
Sabaruddfn mohon diri pada Safril untuk mencari bantuan. Sabrina permisi untuk pulang. Pergi bersama-sama
Sabaruddin. Sepanjang jalan gadis itu tidak berkata sepatah pun. Pikirannya kacau. Mengapa harus terjadi,
tanyanya di dalam hati. Ia menyadari apa yang telah dilakukannya di luar kemauannya, tetapi juga di luar
kemampuannya untuk mencegah. Matikah anak itu? Kalau mati, maka dialah yang membunuh. Betapa
jahatnya dia. Membunuh bayi yang tidak punya dosa apa pun. Walaupun di luar kemauan, tetapi tetap dia
yang membunuh. Bayi itu pasti mati. Ia masih ingat peristiwa sadis itu. Masih dapat diingatnya betapa manis
rasa darah Indri melalui kerongkongannya.
Setelah mengantarkan Sabrina. Sabaruddin bergegas ke Tanjungpriok. Ke rumah Erwin.
"Aku butuh bantuanmu Er. Mungkin kau dapat menolong!" kata Sabaruddin.
"Bantuan bagaimana?" tanya Erwin.
"Marilah ikut. Ini menyangkut nyawa seorang anak kecil. Masih bayi, empat bulan. Kasihan, ia anak satu-
satunya."
Hati Erwin lalu tergerak untuk pergi.
Setiba di rumah Safril, terdengar banyak tangis. Pertanda buruk. Sudah meninggalkah Indri? Buru-buru
Sabaruddin mendapatkan Safril yang sedang terisak-isak.
Nyonya Safril meratap: "Jangan pergi anak mama. Tuhan, kasihanilah anak kami ini. Ambillah aku
sebagai gantinya. Beri ia kesempatan melihat dunia, Tuhan."
Erwin tak dapat menahan tangis. Ia jadi teringat pada istri dan anaknya yang dibunuh Ki Ampuh.
"Dokter sudah tak sanggup Sab," kata Safril kepada Sabaruddin.
"Sudah tiada?" tanya Sabaruddin. Ia tidak dapat menemukan kata-kata lain yang lebih halus.
"Entahlah. Kurasa begitu. Kata dokter, tiada harapan!"
"Bolehkah kawanku coba menolong. Siapa tahu, dengan izin Tuhan."
"Aku tak tahu lagi apa yang harus diperbuat Sab."
"Bolehkah kawanku mencoba?"
Erwin sedang memperhatikan bayi yang cantik tetapi sudah pucat hampir bagaikan kain putih. Tanpa
memberitahu apa-apa, Erwin azan. Dengan suara merdu, tetapi juga dengan pipi dialiri air mata, Erwin
memuji kebesaran Tuhan. Semua yang hadir melihat Erwin menangis. Laki-laki muda itu mendekatkan
mulutnya pada telinga kanan Indri, kemudian pada telinga kirinya, ia seperti berbisik.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 161


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Beberapa menit kemudian bayi yang sudah sejak tadi tak bergerak itu, menunjukkan tanda-tanda hidup.
Setelah itu kepalanya bergerak dan kedua belah matanya terbuka sedikit.
Safril dan istrinya menangis lagi. Kini karena mendapat harapan kembali. Harapan yang tadinya suda-h
lenyap. Semua orang yang ada di sana saling pandang. Seperti tak percaya pada apa yang mereka lihat. Selain
itu mereka jadi kagum tak terhingga. Apalagi ketika Indri mendengarkan tangis. Ia masih hidup. Ataukah
hidup kembali? Tanpa sadar nyonya Safril mencium kaki Erwin. Begitu pula suaminya. Padahal mereka orang-
orang terpelajar yang selama ini belum pernah percaya akan kekuatan gaib yang ada pada seorang dukun.
Tadinya mereka menganggap bahwa dukun hanya penipu.
"Jangan begitu," kata Erwin menjauhkan kakinya dan beranjak dari tempat semula ia berdiri. "Apa yang
terjadi adalah karena kebesaran Tuhan semata-mata. Karena Tuhan Mahapengasih dan Mahapenyayang. Aku
hanya memohon kepadaNya."
"Mengapakah anak kami tadi Pak?" tanya Safril. "Ah tidak apa-apa. Darahnya manis. Tadi dihisap iblis
yang lalu di sini!"
"Apakah Dracula?" tanya seorang tamu yang ada di sana.
"Bukan. Dracula menggigit leher baru menghisap. Yang ini, menghisap dengan pandangan mata saja."
Hampir semua hadirin menjadi amat heran. Ada yang tak percaya. Bagaimana pula mengisap darah
melalui pandangan saja. Hanya dua tiga orang saja yang pernah mendengar kisah begitu. Di tanah Minang
orang mengenal istilah palasik. Kerjanya memang masuk ke rumah-rumah yang ada bayinya. Kebiasaannya
mengisap darah bayi. Palasik hanya menghendaki bayi di bawah umur dua tahun. Ratarata orang kampung
takut sekali pada palasik, kalau di dalam rumah ada bayi. Palasik itu sama saja rupa dan perilakunya dengan
manusia biasa. Jadi tak dapat dikenali. Yang ada hanya palasik perempuan. Ada di antaranya yang berpura-
pura jadi dukun beranak. Mendengar dari Erwin bahwa darah bayi itu diisap iblis yang lalu di sana, maka tak
seorang pun menduga, bahwa iblis itu berupa manusia. Iblis yang lalu atau datang ke sana tadi tentunya tidak
kelihatan. Sama halnya dengan setan.
Safril amat berterima kasih pada Sabaruddin. Tanpa dia tentu Erwin tidak akan ada di sana dan Indri
tidak akan tertolong lagi.
"Berapa harus dibayar kepada dukun itu?" tanya Safril berbisik kepada Sabaruddin.
"Husy, jangan didengarnya. Dia akan tersinggung. Dia bukan dukun yang memasang harga untuk
pertolongannya," kata Sabaruddin.
"Tapi dia telah menyelamatkan anak kami."
"Memang itu kesenangannya."
"Dia dukun?"
"Bukan professie, tetapi suka menolong."
Semua orang jadi sangat simpati pada Erwin dan semua bertanyakan alamat rumahnya. Belum pernah
mereka melihat dukun sehebat Erwin. Dalam usia begitu muda lagi. Dalam hati Erwin bertanya, tamu mana
gerangan yang telah mengisap darah bayi itu. Masih adakah dia di antara puluhan orang tamu-tamu itu? Erwin
memandangi mereka seorang demi seorang dengan tatapan mata yang redup tetapi punya kekuatan luar biasa.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 162


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Kalau ada di antara yang hadir pasti akan menjerit kemudian mengaku bahwa dialah yang mengisap darah.
Semua tamu tidak tahan melawan pandangan Erwin. Semua tertunduk, tetapi tidak sampai menjerit. Suatu
tanda bahwa si pengisap darah tidak ada di antara mereka. Orang itu tentu telah pergi, tetapi Erwin sengaja
tidak bertanya apakah sudah ada tamu yang pulang.
Ketika Erwin akan diantar Sabaruddin pulang, Safril bertanya: "Apakah iblis itu tidak akan kembali?"
"Tidak, ia menyangka bahwa tidak akan ada darah yang akan diisap lagi." Mereka mengerti, apa yang di-
maksud Erwin. Iblis itu menyangka bahwa Indri telah mati.
"Tetapi kalau ada iblis lain yang juga seperti iblis tadi, bagaimana?" tanya Nyonya Safril penuh kecurigaan.
"Letakkan gunting dan kunyit jantan di bawah bantalnya," kata Erwin.

***

"KAU telah amat berjasa Er," kata Sabaruddin di perjalanan.


Erwin tidak menanggapi, tetapi bertanya: "Sudah adakah tamu yang pulang menurut penglihatanmu?"
"Tamu apa?" tanya orang Bugis itu. Ia jadi tak tahu maksud Erwin karena pikirannya diliputi oleh
keajaiban yang baru saja diperlihatkan Erwin dengan mengembalikan kebahagiaan Safril dan istrinya.
"Tamu-tamu yang tadi berkunjung ke rumah Tuan Safril. Apakah sudah ada di antara mereka yang
pulang!" kata Erwin menjelaskan.
"Mengapa kau tanyakan itu?"
"Sekedar ingin tahu. Apakah kau tak ingin tahu siapa yang mengisap darah anak keluarga Safril?"
"Tentu, semua orang ingin tahu, tetapi bukankah tak mungkin. Kau bilang tadi iblis yang kebetulan lewat
yang mengisap darah bayi itu."
"Memang iblis."
"Iblis mana bisa kelihatan Er!"
"Kau kira iblis itu apa?"
"Ya semacam setan-lah atau orang halus!"
"Bukan hanya itu. Manusia juga bisa jadi iblis. Orang yang kejam atau sadis dapat kita umpamakan iblis."
"Maksudmu, mungkin ada seorang tamu yang mengisap darah anak Safril?"
"Ya, itu bukan mustahil. Adakah tamu wanita yang sudah pulang?"
"Ada beberapa orang."
"Kau kenal?"
"Ada yang kukenal. Misalnya Sabrina," kata Sabaruddin tanpa sengaja.
"Dengan siapa dia datang? Dengan kekasihnya?"
Darah Sabaruddin tersirap dan ia rasakan mukanya memerah.
"Dengan seorang laki-laki. Entah pacar entah saudaranya," jawab Sabaruddin membohong karena merasa
kepepet. Dia menyesal mengapa dia tadi menyebut nama Sabrina.
"Sabrina tidak memperkenalkannya kepadamu?"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 163


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tidak," bohong orang Bugis itu lagi.


"Kapan pulangnya. Sebelum atau sesudah orang panik?"
Sabaruddin jadi gugup.
"Entah, aku tak ingat."
"Tolong ingat-ingat Sab!"
"Apakah itu penting?"
"Dalam penyelidikan seperti ini, setiap keterangan penting!"
"Tapi kau tidak mengira atau menduga bahwa Sabrina terlibat, bukan?"
"Kau membela dia Sab?"
"Ah, tidak," jawab Sabaruddin semakin terdesak. Dia gugup.
"Ingat-ingatlah Sab!"
"Kurasa dia pulang ketika orang sedang panik. Mungkin dia lemah saraf, tak kuat menghadapi ketegang-
an."
"Kurasa juga begitu! Sarafnya tak kuat. Banyak wanita begitu. Dia pulang bersama laki-laki yang datang
dengan dia?"
"Tak kuperhatikan," kata Sabaruddin membohong lagi.
"Sarafmu kuat. Bukankah begitu Sab. Tak mudah emosi," kata Erwin.
"Kurasa cukup kuat. Mengapa?"
"Aku punya firasat."
"Firasat apa?"
"Kau betul-betul tidak akan terkejut?"
"Mengapa pula mesti terkejut?" Sebenarnya dia merasa amat tercekam. Apa yang akan dikatakan Erwin?
"Yang mengisap darah bayi itu Sabrina!"
Sangat terkejut, tak percaya bercampur dengan amarah Sabaruddin berkata: "Kau keliru Erwin. Jangan
ulangi tuduhanmu itu." Sabaruddin jadi panas.
"Kau tak perlu percaya Sabaruddin. Aku hanya mengatakan suatu kenyataan, bukan menuduh!"
Sabaruddin membawa mobil yang disetirnya ke pinggir jalan dan berhenti. Ia sudah tak dapat
mengendalikan diri.
"Mengapa kau berhenti Sabaruddin? Aku hanya mengatakan apa yang telah dilakukan Sabrina. Mengapa
kau kelihatan amat marah?"
Sabaruddin jadi mulai sadar lagi. Dia memang sudah tak kuasa menahan emosi. Tetapi sekaligus dia juga
membukakan rahasia hatinya. Atau sedikit-dikitnya membuat
Erwin jadi curiga ada hubungan apa antara dia dengan Sabrina, maka ia harus menjadi marah.
"Kau menuduh dia tanpa alasan Er. Kau mengenal dia, bahkan pernah, barangkali ini masih mencintainya.
Aku juga bersahabat dengan dia. Aku bukan membela Sabrina, tetapi merasa tidak mungkin," kata
Sabaruddin. Ia ingat betapa besar budi Erwin bagi dirinya dan keluarga di Ujungpandang.
"Jangan kau pikir aku mengatakan ini karena ia telah menolak aku Sab. Kalau kau menyangka begitu, kau

SERIAL MANUSIA HARIMAU 164


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

sangat keliru. Aku bukan laki-laki semacam itu. Memang aku pernah sangat sedih dan kecewa, bahkan pernah
meminta bantuanmu untuk memperbaiki hubungan kami. Apa yang kukatakan tidak ada sangkut pautnya
dengan penolakannya atas diriku. Kau boleh tidak percaya pada keteranganku, tetapi kenyataan tidak bisa
diubah oleh suatu ketidak-percayaan. Aku ulangi, yang mengisap darah bayi itu adalah Sabrina!"
"Kau memang pandai melihat apa yang tak dilihat orang lain. Kau juga pandai ilmu gaib, tetapi dalam hal
ini aku yakin kau keliru!" kata Sabaruddin.
"Kau tidak mengenalnya sebagaimana aku mengetahui tentang dirinya. Itulah makanya kutanyakan
apakah kau kenal siapa pacarnya. Aku mau memberi ingat kepadanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tak
tahu!"
"Apa yang mau kau beritahu?" tanya Sabaruddin.
"Kau bukan pacarnya. Yang perlu mengetahui adalah pacarnya," ujar Erwin.
Sabaruddin jadi bingung. Apakah dia akan mengatakan yang sebenarnya?
"Kau menyembunyikan sesuatu padaku Sab!" kata Erwin. Sabaruddin jadi tambah terpojok. Sudah
tahukah Erwin?
"Tak ada yang kusembunyikan. Aku cuma tidak percaya, bahwa Sabrina sejahat itu. Dia gadis baik. Dan
karena dia baik makanya kau dulu cinta setengah mati padanya, bukan?" kata Sabaruddin membela diri.
"Aku lain dari orang yang mencintai dia sekarang. Kau sudah mengetahui apa aku sebenarnya. Aku
manusia harimau. Ayahku manusia harimau. Bahkan kakekku juga manusia harimau!"
"Dia menolak kau, karena dia sudah tahu bahwa kau manusia harimau? Itukah maksudmu?" tanya
Sabaruddin.
"Dia tahu bahwa aku manusia harimau. Sebagaimana aku tahu, bahwa dia juga kadang-kadang jadi
harimau. Itu yang mau kuberitahukan kepada pacarnya," kata Erwin yang berpendapat lebih baik memberi
pengertian kepada sahabatnya yang jadi amat matah itu.
"Kau bohong Erwin. Kau mau membuat takut pacarnya supaya dia akhirnya kembali padamu," kata
Sabaruddin yang kini jadi lebih emosi karena tidak percaya.
"Aku heran mengapa kau yang jadi begini marah!" ujar Erwin tenang. "Apakah pacarnya itu masih
saudaramu atau sahabat akrabmu?"
"Kita berpisah di sini saja Erwin. Aku tak suka dengan orang yang mau memfitnah. Dengan cara yang
begitu keji lagi!" kata Sabaruddin.
"Baiklah Sab. Kau yang punya mobil. Aku hanya menumpang. Kalau orang kaya mengatakan berpisah di
sini, tentu aku dengan segala senang hati turun. Satu hal yang aku ingin beritahu padamu, orang kaya. Aku
bukan tukang fitnah!" lalu Erwin turun dari mobil Sabaruddin.
Pemuda Bugis itu melarikan mobilnya. Sebenarnya tak tahu mau ke mana. Dia benar-benar panik sendiri.
Dia merasakan betapa kasar kata-katanya terhadap Erwin. Tetapi yang menyebabkan dia kasar juga Erwin
sendiri. Ia tetap berkeyakinan, bahwa Erwin bohong. Orang yang kecewa karena cinta memang sanggup
berbuat segala-galanya. Antara lain berbohong untuk melampiaskan sakit hatinya. Akhirnya Sabaruddin tiba di
rumahnya. Pikirannya sangat kacau. Kalau Erwin pembohong, maka dia juga pendusta. Kini disadarinya. Ia

SERIAL MANUSIA HARIMAU 165


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

tidak pernah berani berterus terang kepada sahabat yang pernah amat berjasa padanya itu. Kini ia kehilangan
Erwin yang dibohonginya itu. Kini ia merasa malu. Apa yang harus dilakukannya. Semuanya sudah jadi kusut.
Apakah Sabrina bisa meredakan kekacauan yang melabrak dirinya? Dengan menceritakan segala apa yang
telah terjadi? Dengan berterus terang bahwa Erwin menuduh Sabrina yang mengisap darah bayi keluarga
Safril?

***

SUDAH agak jauh malam ketika Sabaruddin tiba di rumah Sabrina. Tetapi ia disambut dengan baik oleh paman
dan tante gadis itu. Mereka belum tidur.
Tak lama menanti duduk di ruang tamu, Sabrina pun keluar dengan gaun tidur berwarna merah jambu.
Dia kelihatan cantik sekali. Tenang dan agung seperti biasa. Memandang gadis yang amat dicintainya itu,
Sabaruddin terus yakin, bahwa apa yang dikatakan Erwin memang bohong dan fitnah yang amat keji.
"Kau cantik sekali dengan warna merah jambu itu Ina," kata Sabaruddin.
"Ah, kau selalu berkata begitu. Lama-lama bisa kuanggap gombal!" kata Ina berkelakar. Padahal dalam
hati ia senang sekali dengan sanjungan itu.
"Bayi Safril tertolong Ina, untunglah!" kata Sabaruddin senang.
Sabrina heran, tak segera menjawab, tetapi tak tampak oleh Sabaruddin yang sedikit pun tidak meragukan
kekasihnya.
"Kasihan sekali kalau sampai mereka kehilangan anak pertama dan tersayang itu. Memang Tuhan Maha
Pengasih. Dokter sudah tidak memberi harapan," kata Sabaruddin meneruskan ceritanya.
Dalam keheranannya Sabrina berkata tanpa gairah: "Ya, untunglah." Hampir tidak masuk akal. Ia merasa
benar tadi telah mengisap habis darah bayi itu. Bagaimana bisa tertolong.
"Memang hebat sekali dia," kata Sabaruddin lagi.
"Hebat apa? Siapa yang hebat?" tanya Sabrina.
"Katanya darah bayi itu diisap iblis!"
"Iblis?" tanya Sabrina heran. Bukankah dia bukan iblis!
Sabrina bertanya iblis apa namanya yang mengisap darah bayi Safril. Oleh Sabaruddin diceritakan, bahwa
menurut dukun itu ada berbagai macam iblis. Ada juga yang berupa manusia.
"Ah, mana ada iblis berupa manusia. Biasa, itu khayalan dukun!" kata Sabrina dalam usaha menunjukkan
ketidak-percayaannya.
"Kata dukun itu, orang tidak dipaksa atau diharuskan percaya. Tetapi kenyataan tetap kenyataan!"
"Apanya yang kenyataan?"
"Sukar menceritakannya, Ina. Aku sendiri tidak percaya!"
"Memang kita tidak perlu percaya pada segala ocehan dukun!"
"Tetapi dia menyembuhkan bayi yang menurut dokter tidak punya harapan lagi. Itu suatu bukti bahwa dia
punya kemampuan yang hebat!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 166


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Ngomong-ngomong perkara dukun hebat, kau belum mengatakan siapa dukun itu. Siapa tahu, besok lusa
kita juga memerlukan pertolongannya!" kata Sabrina. "Alamatnya sekalian."
"Aku tahu alamatnya secara kebetulan. Kau kenal dia."
"Hah, mana mungkin!"
"Namanya Erwin!" kata Sabaruddin dan dia memandang kekasihnya. Sabrina tak mampu menyem-
bunyikan rasa terkejut, walaupun ia tidak sampai berteriak. Mukanya memerah dan Sabaruddin melihat bahwa
gadisnya itu menjadi sedikit gugup. Tetapi semuanya itu mungkin hanya karena Sabrina teringat pada orang
yang pernah dan barangkali masih amat mencintainya.
"Apa katanya?" tanya Sabrina yang rupanya ditundukkan oleh keingintahuan.
"Ah, ada lagi ceritanya yang betul-betul tak masuk akal!" jawab Sabaruddin.
"Apa?"
"Huh, tak perlu kuceritakan. Memang betul katamu, dukun suka ngoceh. Memang benar dia pandai
mengobati, tetapi dia juga amat pandai beromong kosong!"
"Kau pernah ceritakan, bahwa dia pernah memberi pertolongan yang amat besar bagi keluargamu."
"Itu betul. Aku tidak akan pernah melupakannya. Aku merasa berhutang budi yang belum dapat kubalas.
Tetapi aku tetap tidak percaya pada ceritanya yang sedikit itu!"
"Cerita apa? Aku jadi tambah ingin tahu."
"Ah tak usah, nanti kau jad; benci padanya. Padahal dia itu orang baik. Cuma orang baik itu amat kecewa
karena cintanya kau tolak. Kupikir itulah yang membuat dia cerita nonsens!"
"Aku tak senang kalau kau tak menceritakan seluruhnya. Aku mau menikmati kebohongannya kalau ia
bohong!"
"Memang dia bohong. Mana bisa bohong dinikmati! Bohong bikin orang jengkel!"
"Dalam hal ini kita berbeda pendapat. Umpamanya begini: Ada orang kemalangan. Orang lain yang benci
padanya diam-diam menikmati kemalangan orang itu. Ada orang membohongi kita umpamanya. Kita pura-
pura percaya, padahal tahu bahwa dia bohong. Dia senang karena menyangka telah berhasil membohongi kita,
tetapi kita juga senang karena kita menikmati kebohongannya yang kita ketahui!"
"Hebat sekali cara kau berpikir. Tetapi walaupun begitu bohong. Erwin ini tidak bisa dinikmati. Dia
mengatakan, ah tidak usahlah!" kata Sabaruddin enggan meneruskan ungkapannya.
"Teruskan saja. Caramu ini menjengkelkan, Sab. Aku tak suka caramu itu."
Karena sudah terlanjur dimulai, walaupun belum sampai kepada pokoknya, dan khawatir Sabrina kecil hati
atau ngambek, maka Sabaruddin berkata: "Dia mengatakan, bahwa kau yang mengisap darah bayi itu. Gila
tidak!" Sabrina tidak segera menjawab. Nampak dia marah dan malu dan entah apa lagi yang disembunyikan
oleh ekspresi wajahnya.
"Aku hormati dan hargai dia karena pernah membantu dan memang pintar mengobati, tetapi dustanya ini
benarbenar gila!" kata Sabaruddin. "Itu makanya aku tidak mau menceritakannya tadi!"
"Jahanam dia! Dia berani berbohong begitu. Itu fitnah yang paling besar yang pernah kudengar. Akan
terkutuk dia untuk fitnahnya itu. Orang tak suka dituduh yang bukan-bukan dengan cara yang begitu keji!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 167


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

lalu sambungnya lagi: "Bagaimana mungkin manusia mengisap darah bayi mungil itu. Manusia mana pun tak
mungkin. Bekas luka saja tak ada!"
"Itulah yang tak masuk akal. Tetapi dia tidak segansegan mengatakan bahwa orang yang dikatakannya
iblis itu mengisap darah anak keluarga Safril melalui pandangan mata saja! Gila, benar-benar gila," kata Sa-
baruddin.
"Dia menuduh aku!?" tanya Sabrina seperti tak percaya.
"Ya, kau!" kata Sabaruddin datar karena klimaks cerita sudah dilalui.
"Dia bercerita di depan orang banyak? Akan kutuntut dia, karena memfitnah dan merusak serta menghina
nama baik diriku!"
"Dia hanya bercerita kepadaku. Lalu kusuruh dia turun dari mobil, karena aku sangat jengkel."
"Bagus. Dia pantas diperlakukan seperti itu karena kekurangajarannya. Dia turun tanpa protes?"
"Ya, dia turun. Sedih juga hatiku mendengar dia berkata bahwa dia tahu diri. Yang punya mobil aku,
orang kaya, katanya. Dia hanya menumpang!"
"Ah peduli apa sama dia," kata Sabrina yang jadi benci betul pada Erwin. Tetapi, ya Tuhan, apa ini!
Sabrina mendadak merasa mukanya jadi pucat dan badannya gemetaran. Tubuhnya bergoncang-goncang,
sehingga tak bisa luput dari pandangan mata Sabaruddin.
"Kau sakit?" tanya Sabaruddin.
Sabrina tidak menjawab, getar tubuhnya kian kuat.
"Kupanggilkan dokter ya!" ujar anak muda Bugis itu. Sabrina tidak juga menjawab. Tidak dengan kata-
kata juga tidak dengan gelengan atau anggukan kepala. Sabaruddin jadi cemas. Apakah yang menimpa diri
kekasihnya itu? Begitu mendadak. Tak tahu akal lain, dipijitpijitnya dahi dan kemudian kedua tangan Sabrina.
Getaran tubuh itu tidak mereda. Bahkan kini mata indah yang pandai menjatuhkan hati lelaki itu, mulai
merah dan kian merah. Setelah itu Sabaruddin jadi lebih terkejut disertai rasa takut. Tangan yang dipijitinya
itu mulai berbulu, jelas warnanya kuning dan hitam. Lalu muka Sabrina ditumbuhi bulu, pendek dan kian
banyak. Sabaruddin seperti terpaku dan kini tubuhnya gemetaran. Karena takut. Tak ada sebab lain. Ia sadar,
bahwa ia berhadapan dengan Sabrina yang mengharimau. Tak masuk akal. Sungguh tidak bisa dipercaya.
Tetapi mau tak percaya bagaimana kalau sudah mata kepala sendiri yang melihat.
Sabrina tersenyum dengan mulutnya yang masih belum berubah mungkin mengisaratkan agar Sabaruddin
jangan takut. Tetapi senyum yang begitu menawan tadi, kini telah tidak mempesona lagi. Dengan mata yang
memerah saga, dikelilingi bulu-bulu kuning dan hitam itu, senyum Sabrina menambah rasa takut pada diri
manusia yang belum sampai lima menit yang lalu masih begitu cinta dan tergilagila padanya.
Dengan muka pucat dan badan gemetaran Sabaruddin menjauh sedikit. Rasa sayang yang mendadak
sontak berubah jadi rasa takut itu tidak bisa membuat dia langsung melarikan diri, tetapi juga tidak punya
keberanian untuk tetap begitu dekat padanya.
Kini mata Sabrina yang merah seperti memancarkan semacam sinar yang membuat bulu roma berdiri.
"Kau benar-benar cinta padaku Sabaruddin?" tanya Sabrina.
Kini Sabaruddin yang tidak menjawab.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 168


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Sabaruddin, aku bertanya apakah kau benar-benar cinta padaku?"


Laki-laki itu tidak mampu memberi jawaban. Apa yang hendak dikatakan? Cinta? Ia telah menjadi takut!
Mau mengatakan tidak? Bukankah tadi ia begitu cinta padanya.
"Kau takut melihat aku Sabaruddin?" Ini pun terjawab oleh anak Bugis itu.
"Aku melepaskan Erwin untukmu. Kau masih ingat?"
"Ya," jawab Sabaruddin. Memang begitu yang telah terjadi.
Perubahan pada diri wanita itu berjalan terus. Kini kuku-kuku tangannya pun telah menyerupai kuku
harimau.
"Mengapa kau Sabrina?" tanya Sabaruddin menyadari benar apa yang telah berlangsung di hadapannya.
"Kau takut? Ini hanya terjadi sekali-sekali, di luar kemauanku. Dan tak akan berlangsung lama. Takutkah
kau?"
"Aku heran!"
"Hanya heran? Kau tidak takut padaku? Kau mencintai aku, bukan? Aku ini Sabrina-mu."
"Ina, betulkah kau yang mengisap darah bayi Safril?"
"Pentingkah itu?"
"Kau anggap tidak penting?"
"Kan dia sudah diselamatkan Erwin. Apa lagi!"
Sabaruddin masih dapat mengerti, bahwa ini suatu pengakuan tidak langsung. Jadi benarlah dia yang
mengisap darah anak Safril. Benar pula dia pun manusia harimau. Jadi, Erwin tidak berdusta. Betapa telah
amat bersalahnya dia, marah pada sahabatnya itu. Sampai-sampai disuruh turun di tengah jalan. Oh, betapa
sombong dia pada orang yang pernah menolong dia dan pernah sangat dikaguminya.
Kini, di depan matanya ia melihat Sabrina berubah jadi menyerupai harimau sehabis dia mengata-ngatai
Erwin. Keramatkah sahabatnya itu? Ah rasanya tidak usah dipikir sejauh itu. Bukankah Erwin sudah
mengatakan, bahwa Sabrina sewaktu-waktu dapat jadi harimau. Dalam proses perubahan itu dengan hati kecut
Sabaruddin melihat bahwa mulut Sabrina pun mulai menonjol dan kian menonjol. Lalu tampak empat buah
taring, dua di kiri dua di kanan. Menyaksikan ini laki-laki itu kian takut dan merasa bahwa dirinya mungkin
dalam bahaya. Kalau ia mau mengisap darah bayi dalam keadaannya masih seperti manusia biasa, apakah tidak
mungkin dia mau menerkam dalam keadaannya yang sudah berubah bentuk? Untuk sekedar jangan terlalu
menyakitkan hati Sabrina, maka Sabaruddin berkata bahwa ia masih ada suatu urusan lain. Katanya: "Aku
pergi dulu ya Ina, masih ada suatu urusan."
Mendengar ini gadis harimau itu menyeringai sehingga mulut dengan gigi-gigi yang tajam itu tambah
mengerikan dan mengecutkan semangat Sabaruddin.
"Ada urusan katamu? Sejauh malam begini? Kau bohong Sabaruddin. Yang benar kau takut padaku!
Katakan, bahwa kau tidak takut, bahwa aku kekasihmu yang sudah berpuluh kali kau peluk dan ciumi!" kata
Sabrina.
Sabrina bergerak mau memegang dan merangkul Sabaruddin. Sabaruddin tidak bisa lagi menahan rasa
takut. Ia menyingkir lebih jauh kemudian berdiri.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 169


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Jangan pergi Sabaruddin. Kau telah membuat aku meninggalkan Erwin. Kini kau tidak boleh
meninggalkan diriku. Aku cinta padamu, aku tidak mungkin menyakiti engkau. Duduklah kembali, sebentar
lagi aku akan jadi normal seperti biasa."
Sabrina yang menakutkan Sabaruddin itu sesungguhnyalah takut kehilangan orang yang sudah jadi pilihan
hatinya. Dia sadar bahwa laki-laki itu takut, tetapi dia lebih tahu dan berketetapan untuk tidak mau kehilangan
Sabaruddin. Bertemulah dua macam keadaan yang amat bertentangan. Seorang laki-laki yang pernah cinta kini
dalam keadaan takut setengah mati dan seorang wanita cantik yang berubah jadi amat menakutkan
kesayangannya, tidak mau kehilangan orang yang sedang amat ketakutan itu.
"Aku tidak akan menyakitimu sayang," kata gadis harimau itu dengan suara beriba hati. Kata-kata itu
masih sanggup menimbulkan rasa kasihan pada Sabaruddin tetapi tidak mampu melenyapkan rasa takutnya.
"Aku percaya Sabrina, tetapi mengapa kau jadi begini? Aku memang takut. Maafkan aku Sabrina, kau
membuat aku takut!" kata Sabaruddin akhirnya.
"Kau tidak perlu takut. Aku sayang sekali padamu. Sebentar lagi aku akan normal kembali. Jangan
tinggalkan aku. Aku bersumpah akan tetap menyayangimu sampai denyut napasku yang terakhir."
"Tetapi mengapa begini Ina? Mengapa? Aku benar-benar takut!"
Sabrina sangat sedih mendengar kata-kata itu. Tetapi jauh di lubuk hatinya ia bisa mengerti mengapa
manusia biasa takut melihat keadaannya seperti itu.
"Ini suatu takdir Sabaruddin. Bukan kemauanku. Tetapi juga tidak dapat kuelakkan. Siapa yang mau
seperti ini. Aku sendiri amat malu!"
"Kau tidak perlu malu. Terima ini sebagai suatu kenyataan," kata satu suara yang tak kelihatan orangnya.
Sabaruddin tambah terkejut. Begitu juga Sabrina sendiri. Suara itu dikenalnya. Suara ayahnya yang telah tiada
karena dikeroyok sampai mati oleh orang-orang kampungnva sendiri ketika ia mengharimau di Sungai Penuh,
Sumatera Barat.
"Siapa pula itu?" tanya Sabaruddin,
"Ayahku," jawab Sabrina. Anak Bugis itu tambah takut.
Itulah untuk pertama kali Sutan Rimbogadang mendatangi anaknya, sebagaimana Dja Lubuk pada saat-
saat genting mendampingi anak tersayangnya. Dalam hati Sabrina merasa malu diketahui oleh Sabaruddin
bahwa keluarganya bukan manusia-manusia yang wajar, tetapi apa boleh buat. Semua memang kenyataan yang
benar-benar dinamakan takdir.
"Sabrina, biarkan dia pergi. Dia bukan pasangan bagimu!" kata ayahnya yang masih tak mau memper-
lihatkan diri.
"Aku mencintai dia ayah dan dia pun menyayangi diriku. Aku tak mau berpisah dengannya."
"Dia sekarang takut padamu. Mana mungkin dia mencintaimu lagi."
"Dia telah berjanji ayah."
"Itu kan sebelum dia mengetahui betapa dan siapa kau sebenarnya!"
"Ayah, aku tidak melepaskannya. Aku telah berkorban untuknya."
"Kau melawan kata-kataku Ina."

SERIAL MANUSIA HARIMAU 170


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Maafkan aku, dalam hal ini kupinta ayah jangan campur. Aku sudah dewasa."
Sabaruddin yang mendengarkan dialog antara ayah dan anak itu kian menyadari bahwa Sabrina bukan
gadis untuk dirinya. Tidak mungkin, mustahil. Tetapi dia juga mengetahui bahwa Sabrina tidak mau mele-
paskannya. Dan kenyataan ini bukan pertanda baik bagi dirinya.
Tiba-tiba ayahnya membentak: "Biarkan dia pergi. Dia tidak mencintaimu lagi. Kau telah salah pilih.
Sebenarnya dirimu cocok untuk Erwin. Ia telah mengetahui keadaanmu sebagaimana engkau mengetahui
keadaannya. Orang ini bukan manusia yang cukup baik. Dia sahabat Erwin tetapi dia sampai kini masih
merahasiakan bahwa dialah jadi penyebab sampai Erwin menghindari masyarakat!"
Sabaruddin malu mendengar ucapan ayah Sabrina. Orang yang telah tiada ini tentu orang yang amat hebat
dengan ilmu yang sangat tinggi. Kalau tidak begitu, mustahil ia mengetahui apa yang dilakukan oleh Sabarud-
din.
"Benarkah itu Sabaruddin?" tanya Sabrina.
Laki-laki itu tunduk tidak menjawab. Tetapi sikapnya itu merupakan jawaban lebih jelas dari ratusan kata-
kata.
"Aku pergi Sabrina," kata Sabaruddin dan ia berpaling melangkah.
"Ingat Sabaruddin, aku cinta padamu dan aku tak akan melepaskan kau!"
Kata-kata itu merupakan ancaman, tetapi Sabaruddin terus berjalan ke luar. Setiba di luar dia
memperceppat jalan, kemudian berlari. Perasaan takut kini lebih menghantui dirinya. Dia menyesal, mengapa
ia tadi datang dengan menumpang taksi yang tidak pula disuruh menunggu. Celakanya tak ada satu taksi pun
lewat. Ada beberapa minicar dan bajaj lalu di jalan bebas becak itu, tetapi sialnya, semua berpenumpang. Ia
berjalan tanpa mengetahui dengan persis akan ke mana. Pulang ke rumah ia takut. Besar kemungkinan gadis
harimau itu akan mencarinya ke sana. Perasaan takut itulah yang membuat dia tiap sebentar menoleh ke
belakang. Sabrina akan mengejar. Gadis harimau itu merasa dibikin malu, dikecewakan dan ia dari sedih
menjadi marah karenanya. Sudah ditegaskannya, ia tak mau dan tidak akan rela ditinggalkan. Walaupun ia
hanya wanita, tetapi ia adalah wanita harimau dan sanggup melakukan pembalasan dengan dirinya yang
berkuku panjang dan bertaring tajam.
Malam itu Sabaruddin mengalami takut terbesar dalam hidupnya. Dia merasa keselamatan dan nyawanya
benarbenar terancam dan dia tidak akan mampu melindungi dirinya terhadap bahaya yang memburu itu. Akan
ke mana ia bersembunyi, siapa yang dapat dimintai pertolongan? Sepanjang yang diketahuinya hanya ada dua
tempat, yaitu pihak penegak hukum atau Erwin. Kalau keduaduanya diperbandingkan, maka yang paling
mampu menjamin keselamatannya dari cekikan dan robekan si gadis harimau hanyalah Erwin. Telah terbukti
bahwa Polisi tidak dapat berbuat banyak terhadap kekuatan gaib, kecuali kalau anggota Polisi itu sendiri
mempunyai ilmu kebatinan atau sihir yang sanggup mengimbangi si manusia harimau. Dan manusia yang
demikian sangat langka, juga di kalangan penegak hukum.
Kalau dia ingin selamat, dia harus ke Erwin. Manusia itu pasti akan dapat melindungi dirinya. Tetapi
apakah yang akan dikatakannya kepada orang yang pernah sahabat akrab dan pernah pula berjasa besar pada
dirinya sekeluarga di Ujungpandang. Bukankah ia telah mengkhianatinya, sekian lama membohonginya,

SERIAL MANUSIA HARIMAU 171


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

laksana insan yang menggunting dalam lipatan? Mengapa ia tidak terang pada Erwin? Apa akan dikatakannya
kalau ia ke sana? Mengaku bahwa ia diancam Sabrina boleh saja, tetapi dengan alasan apa? Mengatakan
sejujurnya bahwa dialah sebenarnya kekasih Sabrina yang baru dan sekarang tidak lagi mencintai perempuan
itu karena telah melihat sendiri bahwa gadis itu benar seekor harimau pula. Persis seperti apa yang dikatakan
Erwin. Dan ia menuduh Erwin memfitnah Sabrina ketika menceritakan kenyataan itu. Betapa hina dan
rendah diri serta kotor hatinya terhadap Erwin. Tetapi mau pilih yang mana? Malu dan mati di tangan Sabrina
atau menebalkan muka dan mengakui segala kedustaannya yang amat buruk itu? Akhirnya anak orang kaya
yang memilih hidup di atas segala-galanya menuju rumah Erwin, ia terpaksa terus berjalan karena tidak adanya
kendaraan dengan hati berdebar dan kaki gemetaran karena merasa tiap menit begitu berarti untuk
keselamatan dirinya. Kalau Sabrina mengejar dan mendapatkannya sebelum tiba di rumah Erwin, maka hanya
ada satu kepastian bagi dirinya. Tidak lagi sempat melihat terbitnya matahari pada keesokannya. Untunglah
dari belakang terdengar lagi suara minicar tersenggaksenggak. Itu pun jadilah, pikir Sabaruddin. Daripada
berjalan dengan kaki gemetar dan baju basah oleh keringat. Nasib baik, kendaraan itu kosong dan berhenti
secara mendadak dengan dua tiga kali terbatuk-batuk., Sabaruddin naik, pengemudi menstart. Sekali, dua kali,
tiga kali tak mau hidup.
"Cepatlah, saya bayar lima ribu," kata Sabaruddin. Bagi bang minicar, uang lima ribu bukan main! Dia
renggut lagi beberapa kali, tetapi si besi yang sudah termasuk tua tidak tertarik dengan lima ribu. Sebab dia toh
hanya makan solar secara irit sekali. la tak mau menolong tuannya meraih yang go-ceng itu.
"Adduh, tidak bisa pak," kata bang supir.
Sabaruddin turun lagi dengan hati kesal dan rasa takut yang meningkat. Apakah ini suatu pertanda bahwa
dia tidak akan luput dari balasan Sabrina? Terkutukkah dia karena mengkhianati orang sebaik Erwin?
Kemudian terdengar olehnya sayup-sayup suara gadis harimau itu memanggil dia dari kejauhan. Rupanya dia
mulai menyusul. Suara itu berulang lagi kian dekat. Hanya Erwin saja yang bisa menyelamatkan dia. Lalu ke
sanalah ia harus menuju. Bukan main, ke Tanjung Priok. Tak kan tertempuh olehnya jarak itu. Ia akan mati
ketakutan, lemas dan kehabisan semangat di perjalanan. Kalau Sabrina menemukannya masih bernyawa, maka
darahnya akan diisap habis.
Tak disadari Sabaruddin sebuah taksi berwarna kuning berhenti di sampingnya sambil bertanya: "Taksi
pak?" Sabaruddin seakan-akan bermimpi, karena ia sebenarnya sudah putus asa.
Bagai orang bodoh ia naik dan atas pertanyaan sopir ia menyebutkan tujuannya. Tiba di alamat ia turun,
memberikan sepuluh ribu. Si sopir mengatakan tak punya pengembalian untuk uang sebesar itu. Kini ialah
yang seperti mimpi karena penumpangnya berkata, bahwa ia boleh mengambilnya semua. Kalau saban hari ada
dua penumpang sebaik orang ini, maka dalam tempo satu tahun dia sudah akan dapat membeli taksi sendiri,
walaupun hanya mobil bekas.
Sabaruddin bukan mengetuk, melainkan menggedor pintu Erwin, begitu takutnya dia, kalau-kalau
Sabrina menyusul dan segera tiba di tempat itu.
Erwin yang belum tidur karena mengenang nasib, membukakan pintu. Tamu di jauh malam itu masuk.
Begitu tiba di dalam, langsung jatuh karena lemas dan tak sadarkan diri, membuat Erwin heran dan tertanya-

SERIAL MANUSIA HARIMAU 172


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

tanya dalam hati.


Apa yang dikhawatirkan Sabaruddin tadi, sebenarnya tak beralasan. Sabrina tidak mengejar, tetapi buru-
buru masuk kamarnya dan menutup pintu, ia takut dan malu kalau sampai kelihatan oleh paman dan tantenya.
Ketika kedua orang tua itu bertanya dari luar kamar apakah tamunya sudah pulang ia menjawab "sudah'",
tetapi suaranya lain dari biasa, agak parau dan besar, sehingga paman dan tantenya saling pandang, tetapi
kemudian terus ke kamar mereka, menduga bahwa Sabrina mungkin diserang pilek. Itu makanya suaranya
berubah. Gadis itu berharap segera menjadi manusia normal kembali, tetapi setengah jam kemudian barulah ia
merasa lega. Pulih semula. Cantik sekali. Kalau tak melihat sendiri orang tak akan percaya, dia tadi merupakan
cindaku yang mengerikan.
Ia melihat lalu mengagumi dirinya di cermin pintu lemarinya. Ia tersenyum, menarik sekali. Tetapi bagi
yang dapat membaca muka, tawa atau senyum akan dapat melihat bahwa senyumnya itu mewakili rasa dendam
yang ia ingin lampiaskan terhadap orang yang hanya menghendaki madu pada dirinya. Malam itu juga ia akan
mencari Sabaruddin yang ia yakini akan bertekuk lutut kembali manakala melihat dirinya begitu cantik dan
agung. Laki-laki itu akan memeluk-ciuminya lagi dan ia akan menyerahkan diri. Pada saat laki-laki itu berada
pada puncak kemesraan ia akan membinasakannya. Tidak seperti mengisap darah bayi yang masih manis,
tetapi ia akan menggigit lehernya sebagaimana Dracula membunuh dan menyedot darah mangsanya. la yakin,
kalau tidak di rumahnya sendiri, tentu Sabaruddin akan berada di rumah Erwin. Laki-laki itu sudah lebih
dikenalnya, berjiwa egois, lebih mementingkan nyawa daripada harga diri. Ia yakin, Erwin akan berlepas
tangan, tak mau mencampuri urusan mereka. Dia tentu sakit hati setelah mengetahui bahwa sahabat akrabnya
itulah yang telah merebut kekasihnya. Tetapi celaka benar, ketika ia hendak melangkah ke luar kamar untuk
menempuh kegelapan malam, tiba-tiba datang keinginan untuk melepaskan dahaga yang datangnya secara
sekonyong-konyong. Bukan ingin minum teh atau air dingin ataupun kopi, tetapi ingin minum darah. Dalam
keadaan masih sadar, ia coba melawan nafsu iblis itu, tetapi sia-sia. Tenggorokannya serasa Man kering, manis
darah bayi seperti yang dinikmatinya pada hari itu, merangsang. Dan ia langsung teringat bahwa di dalam
rumah pamannya itu ada seorang bayi, baru berusia dua setengah bulan. Anak saudara misannya, yaitu anak
dari anak kandung paman dan tantenya yang bernama Herlina. Bayi yang jadi kemenakannya itu diberi nama
Erni oleh kakeknya, Sutan Mandiangin. Bayi perempuan, putih bersih dengan tubuh montok.
Timbullah maksud sadis di dalam hati Sabrina. Darah kemenakannya itu dapat melepas dan memuaskan
dahaganya. Pada saat itu tiada rasa kasihan, jauh segala rasa sayang. Yang diketahuinya hanya kehausan yang
menyiksa tenggorokan dan nafsunya. Ia pergi ke kamar Herlina, didorongnya pintu yang kebetulan tidak
dikunci. Ia kaget sedikit, Herlina sedang mengindung-indung anaknya yang rupanya terbangun oleh sebuah
mimpi atau karem haus. Atau karena nalurinya mencium niat jahat Sabrina yang tantenya itu.
"Erni belum tidur Her?" tanya Sabrina.
"Sudah sejak tadi. Tetapi ia mendadak terbangun. Barangkali mimpi!" jawab Herlina.
Sabrina mendekati anak itu, dielusnya lemah lembut. Tetapi sesaat kemudian bayi itu menjerit lalu
menggeliatgeliat! Ibunya terkejut dan jadi ketakutan, tetapi Sabrina mengatakan, bahwa barangkali ia melihat
jin atau iblis lewat. Setelah itu ia keluar. Herlina menyangka Sabrina memanggil ayah dan ibunya, tetapi tak

SERIAL MANUSIA HARIMAU 173


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

ada seorang pun datang. Tangis bayi itu Man lemah, sesuai dengan melemahnya tubuh dan geliatnya. Herlina
berlari membawa anaknya ke kamar ayah dan ibunya, digedornya pintu, membuat kedua orang tuanya terkejut
dan bangun. Sutan Mandiangin dan istri memperhatikan cucu mereka. Ternyata tidak bergerak lagi. Denyut
jantungnya pun telah berhenti. Herlina menjerit bagaikan orang gila. Anak pertama yang amat disayang dan
jadi permata hati setiap saat, telah tiada. Ayahnya tak di rumah, tugas ke luar kota. Itulah makanya Herlina
menginap di rumah orang tuanya. Orang-orang yang ada di- rumah itu termasuk para pembantu segera datang
ke kamar Sutan Mandiangin. Dengan perasaan terkejut mendengar jerit Herlina yang begitu melengking. Dan
kini mereka melihat ibu muda dan kedua orang tuanya menangisi bayi yang masih digendong Herlina.
Tetapi Sabrina tidak ada. Dicari ke kamarnya juga tidak ada. Pintu depan ternyata tidak dikunci, berarti
Sabrina telah meninggalkan rumah. Herlina tidak sempat menceritakan, bahwa Sabrina baru saja dari sana.
Pun tidak curiga, karena ia tidak mengetahui tentang rahasia diri saudara misannya itu.
Ketika orang saling tanya tentang Sabrina, barulah Herlina di antara isak tangisnya mengatakan, bahwa
Sabrina baru saja ke kamar itu. Ketika itulah Erni tibatiba menjerit dan menggeliat-geliat. Kini orang saling
pandang. Sutan Mandiangin menundukkan kepala. Dalam benaknya barangkali timbul pertanyaan:
"Mungkinkah?" sebab dia tahu bahwa ayah Sabrina seorang cindaku yang mati dikeroyok ketika menjadi
harimau. Dan ia tahu cindaku betina mengisap darah bayi melalui pandangan mata. Tanpa kata, bingung,
sedih dan merasa sakit sekali, Sutan Mandiangin meninggalkan keluarganya dengan kepala tetap ditundukkan.
Sabrina yang cantik kebetulan cepat mendapat taksi, menuju rumah Sabaruddin. Karena baru melepaskan
dahaga dengan membunuh kemenakan sendiri, timbul rasa malu yang amat besar pada dirinya. Rasa malu yang
tidak bisa membuat hidup kembali bayi yang telah tiada itu. Ia akan menunjukkan rupanya kepada Sabaruddin.
Dia tidak akan jadi membunuhnya, kalau laki-laki itu mau melarikan diri bersama dia.
Tetapi tatkala dijumpainya rumah itu tanpa Sabaruddin, maka amarahnya bangkit kembali. Ia menduga
bahwa laki-laki pengkhianat sahabat itu tentu ke rumah Erwin. Bercerita benar atau mengarang suatu kisah
dusta lagi. Tetapi Sabrina tak tahu tempat kediaman Erwin. Karena ia dikenal oleh pembantu Sabaruddin,
maka ditulisnya sepucuk surat untuk diberikan kepada Sabaruddin. Setelah itu gadis cantik yang cindaku itu
pergi, minta diantarkan ke luar kota oleh sopir taksi yang menantinya.
Setelah Sabaruddin sadar, Erwin bertanya apa yang telah terjadi sampai ia mandi keringat dan gemetaran.
Sabaruddin berpikir sebentar. Mau bilang apa. Yang sebenarnya? Aduh malu sekali. Lebih baik bohong agar
Erwin mau melindunginya. Dikatakannyalah bahwa ia tadi ke rumah Sabrina, tetapi mendadak gadis itu
menjadi harimau dan hendak memakan dia. la tak tahu mau lari ke mana selain ke rumah Erwin untuk
mendapat perlindungan atas keselamatan nyawanya. Dan Erwin yang polos itu percaya. Dia pun bertekad
untuk memberi bantuan kepada sahabatnya itu.
Tetapi tiba-tiba terdengarlah suara Ki Ampuh yang selalu datang pada saat-saat yang dirasanya
menyenangkan dirinya yang amat berdendam pada anak dari Mandailing itu.
"Aku datang untuk menolongmu Erwin, walaupun kau amat membenci diriku, bahkan menanti suatu
kesempatan untuk membunuhku. Kedatanganku ini hendak membuktikan, bahwa aku sebenarnya tidaklah
sejahat yang kauduga. Setidak-tidaknya tidak selalu jahat. Kebaikan ada pula pada diriku ini. Dengarkan apa

SERIAL MANUSIA HARIMAU 174


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

yang kukatakan ini!" Suara itu jelas suara Ki Ampuh yang telah dikutuk oleh sumpahnya sehingga menjadi
babi. Bagaimanapun bencinya Erwin kepada musuhnya itu tetapi ia tertarik juga dengan apa yang hendak
diceritakannya.
"Ki Ampuh, aku bosan dengan segala ketengikanmu!" jawab Erwin marah. Dia yakin bahwa musuhnya ini
datang untuk menghina dia lagi. Atau mencobakan akal busuk yang tak pernah habis dari benak kotornya.
"Sejahat-jahat insan pada suatu hari ia mungkin menjadi makhluk yang baik, bahkan luar biasa baik untuk
mengimbangi segala kejahatannya di masa lampau. Insan semacam itulah aku ini, Erwin. Kau kenal baik pada
orang yang datang malam-malam begini ke rumahmu. Bukan sekedar kenalan, bahkan sahabat terakrabmu.
Sayangmu padanya sama dengan kebencianmu terhadap diriku."
"Kau pasti mau menghasut bedebah," kata Erwin marah.
"Sekali ini tidak Erwin. Aku mau menyampaikan kisah nyata. Kau jangan buru-buru naik pitam. Kau
tahu, bahwa aku ini palsu. Aku mengakuinya. Tetapi sahabatmu itu jauh lebih palsu dari diriku. Biar aku jadi
tikus atau katak yang hina, kalau aku berbohong. Kalau jadi tikus biar aku tak bergigi dan kalau jadi katak biar
aku tak pandai melompat!"
"Kau ini benar-benar tak tertolong lagi Ki Ampuh. Tetapi betapapun aku kagum atas keahlianmu memilih
kata-kata. Mestinya kau dulu jadi penyair atau sastrawan!" ujar Erwin. Dia akhirnya geli juga mendengar
kalimat-kalimat Erwin.
"Barangkali kau benar. Tetapi apa boleh buat. Aku ditakdirkan jadi dukun, sama seperti engkau. Padahal
kau lebih pantas jadi diplomat!" Erwin jadi tertawa sedangkan Sabaruddin mendengarkan tak berkutik, apa
gerangan yang akan diceritakan oleh babi hutan yang berasal dari manusia itu.
"Erwin, dengar baik-baik. Si Sabaruddin itulah yang merenggut Sabrina dari dirimu. Dia cinta setengah
mati pada perempuan itu. Dia tak percaya padamu, ketika kaukatakan bahwa Sabrina cindaku, sewaktu-waktu
bisa jadi harimau. Dia suruh kau turun dari mobilnya. Kau ingat, bukan? Kini datang minta perlindunganmu,
karena Sabrina yang mengharimau di hadapannya memaksa dia memenuhi janji. Padahal dia sudah jadi amat
takut pada gadis itu. Dia lari kepadamu dan masih juga akan menutupi rahasia kotornya. Dia itu egois nomor
satu Erwin. Hanya memikirkan dirinya."
"Kau dusta Ki Ampuh," bentak Erwin marah.
"Hm. Kau tak percaya. Coba tanya kepada sahabat baik dan setiamu itu!"
"Sabaruddin, benarkah cerita gila babi itu?" tanya Erwin. Sabaruddin tunduk tidak menjawab. Erwin sukar
percaya, tetapi tiadanya bantahan itu, apa artinya? Erwin bertanya sekali lagi. Sabaruddin tidak juga menjawab.
Malu dan takut. Setelah berdiam diri sejenak, Erwin menyuruh Sabaruddin meninggalkan rumahnya.
"Kau membiarkan aku mati? Sampaikah hatimu?" Sabaruddin seperti mengemis nyawa.
"Aku hanya menyuruh kau pergi. Gubuk ini milikku, sebagaimana mobil mewah yang pernah kutumpangi
adalah milikmu. Bukankah aku turun ketika kausuruh turun?" Erwin berkata dengan nada biasa, tetapi di
dalam hati ia marah pada manusia yang berhati culas itu.
"Ada lagi satu cerita Erwin. Sabrina baru saja mengisap darah bayi dua bulan, anak saudara misannya. Jadi
masih kemenakannya. Bayi tak berdosa itu telah mati!"

SERIAL MANUSIA HARIMAU 175


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Erwin terkejut. Ia masih merasakan betapa sakitnya kehilangan anak. Kematian bayi yang kemenakan
Sabrina ini sama dengan kepergian anaknya. Sama-sama dibunuh.
"Di mana bayi itu Ki Ampuh?" tanya Erwin. Suaranya merendah, lunak. Dalam hati diakuinya, bahwa
dalam tiap diri manusia, betapapun jahatnya, kadangkadang ada atau timbul secuil kemanusiaan. Kemanusiaan
dari seorang manusia. Sebaliknya Ki Ampuh merasakan, bahwa Erwin sesungguhnya insan yang baik hati
selalu menolong sesamanya. Pertanyaannya mengenai bayi itu membuktikan, bahwa ia menaruh perhatian
pada soal-soal yang ada kaitannya dengan rasa kemanusiaan.
"Masih di rumahnya. Sedang diratapi. Ayahnya sedang pergi tugas ke luar kota!" jawab Ki Ampuh.
"Di mana rumah itu?" tanya Erwin.
"Rumah Sutan Mandiangin. Bayi itu dengan ibunya yang saudara misan Sabrina menginap di sana."
"Jadi satu rumah dengan Sabrina?" tanya Erwin hampir tak percaya.
"Ya, hanya berlainan kamar!" jawab Ki Ampuh.
"Iblis, dia benar-benar iblis. Bagaimanapun ganasnya cindaku, ia toh mempunyai otak untuk berpikir
sebagai manusia. Tega membunuh keponakannya sendiri. Dia harus dibinasakan. Di mana iblis itu sekarang?"
"Sudah lari dari rumah itu. Mencari sahabatmu yang bernama Sabaruddin ini!"
Hati Erwin panas bukan buatan. Rasa takut laki-laki dari Sulawesi Selatan itu pun meningkat. Dia
bayangkan, bagaimana manusia harimau itu nanti merobek dadanya untuk mengeluarkan jantung dan hatinya
yang curang.
Ia akan tergeletak di pinggir atau bahkan di tengah jalan dengan isi perut berhamburan. Huh, betapa akan
sakit dan ngerinya menjelang kematian. Dia tidak mau kematian seperti itu.
"Erwin, aku akan mati dibunuhnya. Aku sahabatmu. Kau tidak akan membiarkan, bukan! Aku dulu
dirayunya, barangkali diguna-gunai sampai bisa tertarik kepadanya. Dialah yang punya ulah Erwin. Aku hanya
korbannya. Dia yang harus kaubunuh Erwin," pinta Sabaruddin beriba-iba sambil mendesak, dengan napas
terkadang terengah-engah. Ini menyangkut nyawanya. Yang hanya sebiji dan tak ada yang dapat memberinya
nyawa baru dengan harga berapa pun. Yang dapat menyelamatkannya hanya Erwin.
Ki Ampuh tertawa tanpa memperlihatkan rupa, kemudian berkata: "Kaudengar kepalsuan anak manusia
yang kaya ini!" Sabrina tak pernah mengguna-gunainya. Dialah yang membujuk dan bahkan mengatakan,
bahwa kau bukan kekasih yang cocok, karena kau manusia harimau Erwin!" tambah Ki Ampuh. la ingin
melihat Erwin membunuh sahabatnya di rumah itu.
"Keluarlah dari rumahku ini Sabaruddin. Kembalilah ke rumahmu yang mewah, aku hanya manusia
harimau yang hina dan patut kauperlakukan seperti itu. Kau banyak uang, bisa membeli bantuan dari mana
atau siapapun! Kau boleh coba menyewa satu batalyon orang bersenjata untuk melindungi dirimu! Keluarlah.
Kalau aku tak dapat mengendalikan kesabaran lagi, kau akan kubunuh dan jantungmu akan kumakan!" bentak
Erwin yang memang sudah jadi amat marah karena perilaku sahabat yang diduganya amat baik itu. Kiranya
orang itu baik hanya waktu membutuhkan bantuannya. Sabaruddin sangat terkejut, tidak pernah menyangka,
bahwa orang yang selalu lembut itu bisa semarah ini.
"Keluarlah orang kaya!" bentak Erwin.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 176


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

"Tidak, lebih baik aku mati di tanganmu daripada dibunuh oleh cindaku itu!" pinta Sabaruddin meng-
harapkan iba kasihan. "Erwin, tolonglah aku, aku akan beri apa saja yang kauminta atas perlindunganmu!"
"Hah, dasar kau manusia tak punya harga diri. Kautunjukkan lagi sifatmu yang hanya menuhankan uang.
Kaukira segala-galanya di dunia ini bisa kaucapai dengan uangmu yang melimpah-limpah. Kau sama saja
dengan para penipu dan pencuri harta negara. Tak bermoral sama sekali. Kalian terlalu mendewakan materi.
Aku tidak tertarik dengan uangmu, walaupun aku hanya seorang miskin. Kau tak dapat membeli aku dengan
kekayaanmu!" Pada akhir kalimat yang diucapkannya itu, Erwin menarik krah baju Sabaruddin, menyeretnya
ke luar pintu.
"Pergi kau!" hardik Erwin sekali lagi, lalu ia membanting pintu, membiarkan orang kaya dari Bugis itu
menghadapi nasibnya.
Ketika ia tiba di dalam kembali, Ki Ampuh berkata, bahwa Erwin telah bertindak tepat. Kata Ki Ampuh,
kalau kita terlalu mengalah di dunia ini, akhirnya kita diinjak orang. Orang-orang bermental buruk harus
dihadapi dengan cara yang sama. Tidak selamanya orang harus menjalankan perikemanusiaan terhadap mereka
yang terang-terang mau membinasakan kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah suatu sifat yang amat
agung tetapi kalau dilaksanakan secara keliru maka ia bisa membalik dengan akibat yang amat berat, bisa
menyengsarakan seseorang atau sekeluarga, bahkan suatu bangsa.
Setelah diam sejenak, Erwin berkata, bahwa Ki Ampuh sebenarnya amat bijaksana, tetapi mengapa harus
tergelincir atau membiarkan dirinya tenggelam di dalam nista seperti keadaannya sekarang.
"Orang bijaksana tidak selalu punya sifat-sifat yang baik. Dan orang bijaksana juga tidak selalu bijaksana
terhadap dirinya sendiri. Kau lebih baik, jauh lebih baik daripada aku, Erwin," ujar Ki Ampuh. Mendengar itu
Erwin jadi kasihan. Apakah Ki Ampuh yang sudah berusia lanjut sadar akan kesalahan dan seringkali
kejahatan dirinya?
"Benar, aku sadar kini, tetapi bukankah sudah terlambat? Aku tak mungkin jadi manusia kembali. Akan
beginilah nasibku sampai aku menemui ajal untuk kedua kalinya, entah untuk jadi apa pula lagi!"
"Jangan berkata begitu Ki Ampuh, orang yang menyadari kesalahannya dan menyesal atas kekeliruannya
serta mau tobat, mungkin dapat pengampunan dan dibebaskan dari penderitaannya."
Pada hari itu Ki Ampuh benar-benar menyesal atas segala kejahatannya.
Setelah itu Erwin berkata, bahwa ia mau ke rumah Sutan Mandiangin untuk melihat apakah ia masih
dapat berbuat sesuatu untuk bayi yang dibunuh oleh Sabrina.
"Bukankah ia sudah tewas Erwin. Apa lagi yang dapat kaulakukan!"
"Aku mau melihatnya. Bagaimanapun aku kenal Pak Sutan Mandiangin. Sedikitnya untuk menunjukkan
belasungkawa."
"Kau berhati mulia. Pergilah. Aku nanti juga akan hadir di sana!" kata Ki Ampuh.
Begitu besarnya kesediaan memaafkan pada diri manusia harimau itu, sehingga perubahan sikap dan cara
bicara Ki Ampuh membuat dia pada saat itu lupa, bahwa babi manusia inilah yang telah membinasakan anak
dan istri tercintanya. Dan kenyataan inilah pula, pada waktu itu membuat Ki Ampuh sangat sedih dan
menyesal atas apa yang telah dilakukannya.

SERIAL MANUSIA HARIMAU 177


KARYA: S.B. CHANDRA
MANUSIA HARIMAU MARAH Created by syauqy_arr @yahoo.co.id

Beberapa saat kemudian Erwin telah memberi salam, di rumah Sutan Mandiangin yang baru kehilangan
cucu. Ia menyambut uluran tangan Erwin dengan rasa malu dan sedih yang tak bertara. Ratap tangis Herlina
yang belum mereda telah membuat Erwin dan kakek bayi itu tambah sedih. Sutan Mandiangin menaruh
hormat yang besar sekali atas diri Erwin, karena walaupun ia telah diketepikan oleh kemenakannya, toh ia
datang tatkala keluarga itu berdukacita. Dalam pada itu Sutan Mandiangin mengetahui, bahwa Sabaruddin
yang berkunjung sebelum terjadi peristiwa duka itu telah pergi tanpa pamit.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Erwin.
"Silakan," jawab Sutan Mandiangin dan ia membawa tamunya itu ke ruangan tempat bayi Herlina
dibaringkan.
"Boleh kuraba tubuhnya?" tanya Erwin.
"Ia telah tiada Erwin," jawab Sutan Mandiangin. Dan jawaban ini membuat Herlina menangis lebih keras.
"Izinkankah aku, orang lain, memegangnya," pirlta Erwin.
Ibu yang sudah putus asa menganggukkan kepala, sebab bagaimanapun permintaan Erwin membuktikan
tanda simpati yang amat besar. Manusia harimau itu meraba muka dan kemudian dada Erni. Ia letakkan lagi
tangannya di muka Erni. Ia membaca-baca mantera, kemudian melekatkan bibirnya pada dahi Erni, membaca
lagi. Lalu ia dekatkan mulutnya ke telinga kanan dan kiri Erni membisikkan sesuatu.
"Bangunlah kembali sayang. Jangan tinggalkan ibu, ayah dan kakekmu. Mereka sangat sayang padamu
dan berat kehilangan dikau." Kalimat-kalimat itu jelas didengar hadirin. Setelah itu ia berbisik lagi pada telinga
Erni. Ajaib memang, Tuhan berbuat sekehendak-Nya karena ia dapat berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya.
Bayi yang telah meninggal itu bergerak, kemudian membuka matanya lalu menangis.
Kini Herlina dan seluruh orang yang ada di situ menangis karena kegirangan wal-aupun hampir tak
percaya akan apa yang mereka lihat. Bagaimana mungkin anak yang telah meninggal, hidup kembali.
Herlina hendak memeluk anaknya, Erwin menahannya! "Jangan dulu! Ia memang telah tidak bernafas
tadi, tetapi rohnya belum meninggalkan tubuh. Itulah makanya ia bergerak kembali. Puji dan bersyukurlah
pada Tuhan," kata Erwin.
"Sabrina yang mengisap darahnya. Dia itu cindaku, orang yang sesekali jadi harimau yang haus darah,"
kata satu suara. Dan suara itu suara Ki Ampuh.
"Betulkah itu Pak Erwin?" tanya Herlina.
Manusia harimau itu hanya mengangguk kecil. Erwin mohon diri. Herlina dan Sutan Mandiangin, begitu
pula beberapa orang lain mencium tangan Erwin walaupun ia sebenarnya tak mau dihormati sampai begitu.
"Aku akan mencarinya, sebab dia akan membunuh lebih banyak," kata Erwin. ***

TAMAT

SERIAL MANUSIA HARIMAU 178


KARYA: S.B. CHANDRA