Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

CA MULUT

Disusun oleh :

NURHANIFAH

P1337420217002
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOERTO

2019

A. PENGERTIAN

Ca rongga mulut adalah tumor ganas dalam rongga mulut yang


tumbuh secara cepat dan menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai
daerah endontel, dan dapat bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan
sering asimtomatik pada tahap awal.

Kira-kira kanker rongga mulut merupakan 5% dari semua


keganasan yang terjadi pada kaum pria dan 2% pada kaum wanita
(Lynch,1994). Telah dilaporkan bahwa kanker rongga mulut merupakan
kanker utama di India khususnya di Kerala dimana insiden rata-rata
dilaporkan paling tinggi, sekitar 20% dari seluruh kanker (Balaram dan
Meenattoor,1996).

Walaupun ada perkembangan dalam mendiagnosa dan terapi,


keabnormalan dan kematian yang diakibatkan kanker mulut masih tinggi
dan sudah lama merupakan masalah didunia. Beberapa alasan yang
dikemukakan untuk ini adalah terutama karena kurangnya deteksi dini dan
identifikasi pada kelompok resiko tinggi, serta kegagalan untuk
mengontrol lesi primer dan metastase nodus limfe servikal (Lynch,1994;
Balaram dan Meenattoor,1996). hampir semua penderita kanker rongga
mulut ditemukan dalam stadium yang sudah lanjut, yang biasanya sudah
terdapat selama berbulan-bulan atau bahkan lebih lama (Lynch,1994).
Akibatnya prognosa dari kanker rongga mulut relatif buruk, suatu
kenyataan yang menyedihkan dimana seringkali prognosa ini diakibatkan
oleh diagnosa dan perawatan yang terlambat.

Lokasi Terjadinya Kanker Pada Mulut Sebagai Berikut

1. Kanker pada lidah

Hampir 80% kanker lidah terletak pada 2/3 lidah anterior lidah
(umunya pada tepi lateral dan bawah lidah) dan dalam jumlah sedikit
pada posteror lidah (daftar 1992 Tambunan 1993 Pinborg 1986) gejala
pada penderita tergantung pada lokasi kanker tersebut bila terletak
pada bagian 2/3 anterior lidah biasanya timbul suatu massa yang
sering kali terasa tidak sakit bila timbul pada seprtiga posterior kanker
tersebut selalu tidak di ketahui oleh penderita dan rasa sakit yang di
alami yang biasanya dihubungkan dengan rasa sakit tenggorokan.
Kanker yang terletak 2/3 anterior lidah lebih dapat di deteksi dini dari
pada yang terletak pada 1/3 posterior

2. Kanker pada bibir

Kanker bibir selalu di hubungkan dengan orang – orang yang


memilki aktifitas di luar seperti nelayan dan petani. Sinar matahari
mungkin terlibat dalam faktor terjadinya kanker bibir. Umumnya lebih
banyak terjadi pada bibir bawah dari pada bibir atas (daftar 1992
Pinborg 1986 smith 1989). pada awal pertumbuhan lesi dapat berupa
modul kecil atau ulkus yang tidak sembuh sembuh deteksi tumor pada
keadaa ini memberikan kesempatan untuk menemukan karsinoma
dini.

3. Kanker dasar mulut

Kanker dasar mulut biasanya di hubungkan dengan


penggunaan alkohol dan tembakau.pada awalnya mungkin tidak
menimbulkan gejala. Bila lesi berkembang pasien akan mengeluhkan
adanya gumpalan dalam mulut atau perasaan tidak nyaman (Pinborg
1986 Daftari 1982)

4. Kanker pada mukosa pipi

Di negara yang sedang berkambang kanker pada mukosa pipi di


hubungkan dengan kebiasaan mengunyah campuran pinang, daun
sirih, kapur dan tembakau. Hal tersebut berkontak dengan mukosa
pipi kiri dan kanan selama beberapa jam

5. Kanker pada palatum

Pada daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan menghisap


rokok secara terbali kanker pada palatum merupakan kanker rongga
mulut yang umum terjadi dari semua kanker rongga mulut.
Perubahan yang terjadi pada mukosa mulut yang di hubungkan
dengan menghisap rokok secara terbalik adalah adanya ulser,
erosi,daerah modul dan bercak (reddy dkk 1974)

B. ETIOLOGI

Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu


proses yang terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi,
promosi dan perkembangan tumor :

Secara garis besar, etiologi kanker rongga mulut dapat dikelompokkan


atas:

1. Faktor lokal, meliputi kebersihan rongga mulut yang jelek, iritasi


kronis dari restorasi, gigigigi karies/akar gigi, gigi palsu.
2. Faktor luar, antara lain karsinogen kimia berupa rokok dan cara
penggunaannya, tembakau, agen fisik, radiasu ionisasi, virus, sinar
matahari, trauma yang kronik.
3. Faktor host, meliputi usia, jenis kelamin, nutrisi imunologi dan
genetic.
Kanker mulut biasa juga terjadi karena kekurangan vitamin C, kurangnya
penjaggan pada mulut sehingga mulut menjadi kotor.

C. PATHOFISIOLOGI
Sel kanker muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal
yang disebabkan oleh zat-zat karsinogenm tadi. zat karsinogen dari asap
rokok tersebut memicu terjadinya Karsinogenesis (transformasi sel normal
menjadi sel kanker). Karsinogenesisnya terbagi menjadi 3 tahap :

• Tahap pertama merupakan Inisiaasi yatu kontak pertama sel normal


dengan zat Karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi
ganas.

• Tahap kedua yaitu Promosi, sel yang terpancing tersebut membentuk


klon melalui pembelahan(poliferasi).

• tahap terakhir yaitu Progresi, sel yang telah mengalami poliferasi


mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas.

D. MANIFESTASI KLINIS

Gejala-gejala kanker rongga mulut antara lain adalah munculnya


bintik putih atau merah (leukoplakia, eritroplakia, atau eritroleukoplakia)
di dalam mulut ataupun pada bibir, luka pada bibir ataupun rongga mulut
yang sulit sembuh, perdarahan pada rongga mulut, kehilangan gigi, sulit
atau timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah, kesulitan untuk
menggunakan geligi tiruan, pengerasan pada leher, serta rasa sakit pada
telinga. Kanker rongga mulut dapat didiagnosis dengan melakukan biopsi.
Selanjutnya, dilakukan staging untuk mengetahui jenis terapi apa yang
tepat diberikan pada pasien, apakah dengan intervensi bedah, radioterapi,
atau kemoterapi. Dengan penulisan artikel ini diharapkan kita dapat
mempelajari kembali gejala klinis kanker rongga mulut sehingga dapat
dilakukan deteksi dini untuk mencegah penyebaran kanker yang berakhir
dengan kematian.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sitologi mulut
Sitologi mulut merupakan suatu teknik yang sederhana dan efektif
untuk mendeteksi dini lesilesi mulut yang mencurigakan. Secara
defenisi, pemeriksaan sitologi mulut merupakan suatu pemeriksaan
mikroskopik gel-gel yang dikerok/dikikis dari permukaan suatu lesi
didalam mulut (Coleman dan Nelson,1993). Untuk aplikasi klinisnya,
seorang dokter gigi harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai
kapan pemeriksaan ini dilakukan dan kapan tidak dilakukan, peralatan
yang digunakan, prosedur kerja, data klinis yang disertakan sampai
pengirimannya ke bagian Patologi anatomi.
2. Biopsi

Jika hasil pemeriksaan sitologi meragukan, segera lakukan biopsi.


Biopsi merupakan pengambilan spesimen baik total maupun sebagian
untuk pemeriksaan mikroskopis dan diagnosis. Cara ini merupakan
cara yang penting dan dapat dipercaya untuk menegakkan diagnosa
defenitif dari lesi-lesi mulut yang dicurigai. Teknik biopsi
memerlukan bagian dari lesi yang mewakili dan tepi jaringan yang
normal. Biopsi dapat dilakukan dengan cara insisional atau eksisional.
Biopsi insisional dipilih apabila lesi permukaan besar (lebih dari 1 cm)
dan biopsi eksisional yaitu insisi secara intoto dilakukan apabila lesi
kecil.

F. PENATALAKSANAAN
1. Tindakan Bedah

Terapi umum untuk kanker rongga mulut adalah bedah untuk


mengangkat sel-sel kanker hingga jaringan mulut dan leher.
2. Terapi Radiasi

Terapi radiasi atau radioterapi jenis terapi kecil untuk pasien yang
tidak di bedah. Terapi dilakukan untuk membunuh sel kanker dan
menyusutkan tumor. Terapi juga dilakukan post operasi untuk
membunuh sisa-sisa sel kanker yang mungkin tertinggal didaerah
tersebut.

3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah terapi yang menggunakan obat anti kanker untuk
membunuh sel kanker.

KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas:
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama: klien mengeluh nyeri pada benjolan di mulutnya, dan
mengeluarkan darah dan nanah serta merasa gatal gatal.

b. Riwayat Penyakit Sekarang

c. Riwayat Kesehatan masa lalu

3. Pemeriksaan Fisik

a. Head to toe
b. ADL (Activitas Daily Living)
1) Pola Persepsi Kesehatan
2) Pola Nutrisi Metabolik
3) Pola Eliminasi
4) Pola Aktivitas dan Latihan

5) Pola Tidur dan Istirahat

6) Pola Persepsi Kognitif

7) Pola Persepsi dan Konsep Diri

8) Pola Hubungan dengan Sesama

9) Pola Reproduksi Seksualitas

10) Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress

11) Pola Sistem Kepercayaan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor
2. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit
3. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
C. INTERVENSI

No. Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional


keperawatan hasil

1. kaji jenis dan tingkat 1. Dapat mengetahui

1. Nyeri b.d Tujuan : nyeri pasien. kriteria nyeri pasien

inflamasi tentukan apakah 2. Untuk memfasilitasi

tumor nyerinya kronis atau pengkajian yang


Setelah dilakukan
akut. Selain itu, kaji akurat tentang
tindakan keperawatan
factor yang dapat tingkat nyeri pasien
selama 3x24 jam,
mengurangi atau 3. Untuk menentukan
diharapkan nyeri
memperberat; lokasi, keefektifan obat
berkurang atau
durasi, intensitas dan
teradaptasi
karakteristik nyeri;
dan tanda-tanda dan
Kriteria hasil :
gejala psikologis.
1. Pasien melaporkan 2. Pengkajian
nyeri berkurang berkelanjutan
2. Nyeri dapat membantu
diadaptasi meyakinkan bahwa
3. Dapat penanganan dapat
mengidentifikasi mem enuhi
aktifitas yang kebutuhan pasien
meningkatkan atau dalam mengurangi
menurunkan nyeri nyeri.
4. Pasien tidak 3. Berikan obat yang
gelisah dan skala dianjurkan untuk
nyeri 0-1 atau mengurangi nyeri,
teradaptasi bergantung pada
gambaran nyeri
pasien. pantau
adanya reaksi yang
tidak diinginkan
terhadap obat.
Sekitar 30 sampai 40
menit setelah
pemberian obat,
minta pasien untuk
menilai kembali
nyerinya dengan
skala 1 sampai 10

Resiko infeksi 1. Peringatkan agar 1. Untuk mencegah

2. b.d gangguan Tujuan : tidak menyentuh luka kerusakan kulit dan


integritas kulit atau balutan mencegah
2. Berikan pengarahan kemungkinan
Setelah dilakukan
pada pasien dan infeksi
tindakan keperawatan
anggota keluarga atau 2. Untuk mendorong
selama 3x24 jam
pasangan dalam kepatuhan
diharapkan resiko
program perawatan 3. Untuk membantu
infeksi berkurang
luka proses
3. 3. Berikan balutan yg penyembuhan
Kriteria hasil :
sesuai dg jenis luka 4. Untuk efektifitas
1. Tidak adanya 4. Perkuat balutan balutan sesuai
tanda tanda nfeksi sesuai kebutuhan kebutuhan
2. Demam menurun 5. Pertahankan 5. Untuk
teknik balutan mempertahankan
steril ketika luka secara steril
melalukan dan mencegah
perawatan lu infeksi
ka. 6. Untuk memastikan
6. Periksa luka perubahan luka
setiap kali 7. Untuk mengetahui
prubahan perkembangan
balutan. perubahan luka
7. Bandingkan dan catat
setiap perubahan
luka.
1. Sediakan 1. Untuk menciptakan

3. Insomnia b.d Tujuan : lingkungan yang lingkungan yang


ketidaknyama aman dan bersih nyaman bagi pasien

nan fisik 2. Posisiskan pasien


Dalam waktu 3x24 2. Untuk memberikan
untuk memfasilitasi
jam pasien merasa rasa nyaman pada
kenyaman
nyaman dan insomnia pasien
3. Tentukan obat apa
hilang
yang sesuai dan 3. Untuk mengurangi

kelola menurut rasa gatal pada


Kriteria hasil :
resep/protokol pasien
1. Kulitas tidur 4. Monitor efek 4. Untuk mengetahui
pasien baik samping obat apakah obat yang
2. Gatal gatal hilang
diberikan kepada
pasien tepat dan
tidak mengalami
alergi atau efek
samping lainnya
DAFTAR PUSTAKA

Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Media.
Diakses pada 24 Juli 2019

Buku saku Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014 – NANDA


International Diakses pada 24 Juli 2019

Corwin, Elizabeth J. 2003. Buku Saku Patofisiologis Edisi 3. Jakarta: EGC.


Diakses pada 24 Juli 2019

Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahern. 2012, Buku Saku Diagnosis Keperawatan:


Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC (Edisi 9).
Jakarta: EGC. Diakses pada 24 Juli 2019

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Diakses pada 24 Juli 2019

Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologis Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. Diakses


pada 24 Juli 2019

Underwood, J.C. E. 1999. Patologi Umum Dan Sistematik Volume Jakarta:EGC.


Diakses pada 24 Juli 2019