Anda di halaman 1dari 18

ALTERNATIF PENGEMBANGAN KEMAMPUAN ALTERNATIF PENGEMBANGAN KEMAMPUAN

BERPIKIR SECARA NALAR DAN KREATIF DALAM BERPIKIR SECARA NALAR DAN KREATIF DALAM
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita


Yang terhormat,
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris dan Seluruh Anggota Senat
Universitas Sebelas Maret, Ketua dan Anggota Dewan Penyantun,
Pejabat dari Jajaran Pemerintah Kota/Kabupaten, Pejabat
Kepolisian dan Militer.
Dekan, Para Pembantu Dekan di Lingkungan Universitas Sebelas
Maret, Direktur dan Para Asisten Direktur Program Pascasarjana
Pidato Pengukuhan Guru Besar Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret, Kepala Biro, Ketua dan Sekretaris
Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Lembaga, UPT di lingkungan Universitas Sebelas Maret, Ketua
Universitas Sebelas Maret dan Sekretaris Jurusan, Program Studi, Laboratorium, Staf Pengajar
dan Administrasi, dan Mahasiswa di Lingkungan Universitas
Sebelas Maret
Disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka
Universitas Sebelas Maret Surakarta Tamu Undangan, Sanak Saudara, Handai Tolan, Para Wartawan,
Pada tanggal 12 April 2008 dan Hadirin yang saya muliakan.

Sebelumnya, marilah kita memanjatkan puji syukur ke


Oleh : hadirat Tuhan Yang Mahakuasa yang telah melimpahkan berkat
dan rahmat-Nya kepada kita sehingga dapat berkumpul di tempat
Prof. Dr. St. Y. SLAMET, M.Pd. yang terhormat ini dengan selamat dan sejahtera.
Pada awal Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Sidang
Senat Terbuka, Universitas Sebela Maret ini, izinkanlah saya
menyapaikan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia
UNIVERSITAS SEBELAS MARET melalui Menteri Pendidikan Nasional yang telah menghargai jerih
SURAKARTA payah, prestasi, dan potensi diri saya yang sejak 1 Desember 2007
2008 telah mengangkat sebagai guru besar tetap bahasa Indonesia di

1
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Sifat mandiri itu sangat diperlukan, mengingat semakin
Maret. kompleksnya permasalahan, serta semakin cepatnya perubahan
Selanjutnya, dalam memenuhi kewajiban dan mengikuti yang terjadi pada kurun zaman yang akan datang. Dengan
tradisi akademik perguruan tinggi, perkenankanlah saya kemandirian yang dimilikinya itu, seseorang diharapkan tidak saja
menyampaikan sumbangan pemikiran dan pandangan akademik mampu menyesuaikan diri dengan perubahan itu, melainkan juga
saya yang berjudul: mampu mengarahkan perubahan itu sesuai dengan tujuannya
ALTERNATIF PENGEMBANGAN KEMAMPUAN sendiri.
BERPIKIR SECARA NALAR DAN KREATIF DALAM Namun, kemandirian semacam yang dimaksudkan di atas
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA tidaklah lahir dengan sendirinya. Sifat itu harus ditumbuhkan dan
dibina sejak usia dini melalui upaya pendidikan. Lalu, pertanyaan
Pendahuluan yang timbul sekarang, bagaimana wujud pendidikan yang dapat
menghasilkan pribadi yang mandiri itu? Selanjutnya, karena
Hadirin yang terhormat, kemandirian di sini saya terjemahkan sebagai kemampuan berpikir
secara nalar dan kreatif maka masalah yang saya bahas ialah
Upaya peningkatan kualitas manusia ditujukan untuk bagaimana menumbuhkan kemampuan berpikir secara nalar dan
mewujudkan manusia yang akan melaksanakan pembangunan pada kreatif melalui jalur pendidikan formal?
masa yang akan datang. Upaya tersebut merupakan salah satu Dalam upaya membahas masalah di atas akan diutarakan hal-
aspek pembangunan sosial budaya melalui sektor pendidikan. hal berikut:
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 (1) Hakikat Kemampuan Berpikir secara Nalar dan Kreatif
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa tujuan
(2) Bahasa sebagai Sarana Berpikir
pendidikan nasional yang hendak dicapai masyarakat Indonesia
merupakan tujuan yang kompleks. Tujuan yang kompleks tersebut (2) Pengembangan Terpadu Melalui Pembelajaran Bahasa Indo-
tentu saja merupakan tugas besar bagi masyarakat, khususnya para nesia di Sekolah Dasar
pendidik. Bagaimana wujud pendidikan yang dapat menghasilkan (3) Strategi Kemampuan Berpikir secara Nalar dan Kreatif
manusia seutuhnya dengan pengertian seperti di atas? (4) Tantangan dan Kendala
Sehubungan dengan tujuan itu, saya ingin mengangkat ciri (5 Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai
”kepribadian yang mandiri” sebagai pangkal tolak pembahasan Langkah Awal.
saya. Ciri mandiri atau kemandirian meliputi berbagai aspek di
antaranya kemandirian secara moral, menemukan dan menciptakan Hakikat Kemampuan Berpikir secara Nalar dan Kreatif
sesuatu yang baru, melihat permasalahan, serta menemukan cara
pemecahan yang nalar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan Sebagai sebuah kegiatan berpikir, penalaran itu antara lain
kata lain, berpikir secara nalar dan kreatif. bersifat logis. Kegiatan berpikir bersifat logis adalah suatu kegiatan
berpikir menurut suatu pola tertentu atau logika tertentu. Logika
menurut Leonard adalah ilmu bernalar secara tepat. Hal ini berarti

2 3
bahwa ilmu bernalar berusaha dan menyatakan kaidah-kaidah berdasarkan langkah-langkah sebagai konsekuensi digunakannya
sesuai dengan kegiatan berpikir yang dapat dinilai baik atau buruk, pola pemikiran itu.
benar atau salah, atau masuk akal atau tidak (Leonard, 1997). Hal Kemampuan berpikir secara nalar bukan merupakan
yang sama juga dikemukakan Copi (1978) yang menyatakan bahwa kemampuan statis dibawa sejak lahir. Kemampuan itu berkembang
logika adalah studi tentang metode dan prinsip yang digunakan sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sehubungan
untuk membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang tidak dengan kemampuan berpikir secara nalar itu, berikut ini akan
benar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tiap bentuk dikemukakan beberapa teori yang berkaitan dengan anak usia SD.
penalaran mempunyai logikanya sendiri. Oleh sebab itu, bisa saja Teori Piaget (1976) tentang perkembangan kognitif sampai
terjadi, suatu kegiatan berpikir dinyatakan logis ditinjau dari suatu sekarang menempati kedudukan yang penting. Meskipun telah
logika tertentu, tetapi menjadi tidak logis jika ditinjau dari sudut banyak pendapat lain yang berkembang pada akhir-akhir ini, teori
logika yang lain. Piaget masih cukup dominan. Agaknya, hal ini disebabkan oleh
Pencapaian pengetahuan melalui penalaran terjadi secara tak cakupannya yang luas yaitu perkembangan sejak masa bayi sampai
langsung, yaitu melalui mediasi. Ciri mediasi ini membedakan dewasa. Teori Piaget mengacu kepada topik-topik yang selama
penalaran dari jenis pemikiran asosiatif dan persepsif. Ciri lain berabad-abad merupakan permasalahan orang tua, guru, serta para
yang penting ialah bahwa penalaran dilakukan secara sadar dengan ahli filsafat. Pada tahapan yang lebih khusus teori-teori itu
tujuan tertentu. membicarakan perkembangan konsep tentang waktu, ruang,
Vinacke (1974) mengemukakan bahwa secara tradisional bilangan, dan lain-lain yang merupakan pemerolehan intelektual
pemikiran mencakup penalaran dan imajinasi. Pemikiran mengacu yang mendasar dalam kehidupan manusia. Pada sisi ini teori Piaget
kepada pemecahan masalah secara logis. Pemecahan masalah ini sampai sekarang masih merupakan pencapaian intelektual yang
memerlukan penataan dan penataan kembali pengalaman masa sangat bermakna.
lampau serta pengetahuan yang sudah diperoleh, tidak hanya Secara umum, inti teori Piaget membahas perkembangan
sekedar memberikan respons yang sudah menjadi kebiasaan. intelegensi anak. Menurut Piaget (1976) perkembangan kognitif itu
Penalaran mempunyai peranan penting dalam pemecahan mengikuti empat tahapan, yaitu sensor motoris (0-2 tahun), pra-
masalah. Untuk keperluan analisis yang saya bahas dalam uraian operasional (2-6 tahun), operasional konkret (7-11 tahun atau 12
ini, saya menggarisbawahi pengertian penalaran sebagai kegiatan tahun), dan operasional formal (di atas 11 atau 12 tahun). Dalam
berpikir yang dilakukan dengan sadar, secara sistematis terarah dan setiap tahapan selalu terjadi perubahan-perubahan pemahaman
bertujuan dalam menghasilkan kesimpulan yang sahih dan benar. tentang berbagai konsep yang penting seperti konservasi, klasifi-
Salah satu jenis penalaran yang penting ialah penalaran ilmiah. kasi, dan hubungan atau relasi.
Penalaran ini merupakan sintesis antara penalaran induktif yang Perkembangan kognitif terjadi melalui tiga proses penting
empiris dan penalaran induktif yang rasional (Suriasumantri, 1997), yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Asumsi mengacu
serta bersifat logis dan analisis. Sifat logis menunjukkan bahwa kepada cara anak menginterpretasikan informasi yang diterimanya
penalaran dilakukan menurut pola pemikiran (logis) tertentu, menurut struktur mental yang dimilikinya. Akomodasi adalah cara
sedangkan sifat analisis menunjukkan bahwa penalaran dilakukan yang ditempuh anak untuk memahami dunia dengan mengubah

4 5
struktur mental yang dimilikinya guna merespons pengalaman mereka pun mampu berpikir secara nalar di samping secara
baru. Ekuilibrasi merupakan tiga tahapan yang mencakup asimiliasi induktif.
dan akomodasi: pertama, anak berada pada keadaan ekuilibrum Bagaimana kemampuan berpikir secara nalar untuk anak usia
(keseimbangan); kedua, ketika anak menerima informasi baru dan SD? Yang dimaksud dengan anak usia SD di sini ialah usia antara 6
mengalami kegagalan untuk mengakumulasikannya, ia menjadi sampai 12 tahun. Dengan demikian, mungkin anak usia SD
sadar akan kekurangan pemahaman yang dimilikinya; akhirnya mengalami dua tahapan perkembangan, yaitu pada awal masa
struktur mentalnya menyesuaikan diri dengan informasi baru itu sekolah ia berada pada akhir tahapan praoperasional kemudian
dengan membentuk keadaan ekuilibrum yang lebih tinggi tingkat- berkembang ke arah tahapan operasional konkret. Mungkin juga ia
nya. Dengan cara demikian kemampuan kognitifnya berkembang. berada pada awal tahapan operasional formal. Bagaimanapun juga
Pada tahap perkembangan sensoris motoris seorang anak ia telah memiliki kemampuan-kemampuan kognitif dasar yang
“mempelajari” gerakan-gerakan yang makin lama makin kompleks. dicapainya pada tahapan praoperasional dan telah memiliki
Ia juga mempelajari konservasi sederhana; ia menyadari ketepatan kemampuan berbahasa yang “sempurna” dalam arti telah
suatu objek. Ia juga mulai memahami klasifikasi dan hubungan menguasai kaidah-kaidah dasar bahasa ibunya. Pada umur antara 4-
sederhana. Selanjutnya pada tahap praoperasional ia mempelajari 7 tahun, di dalam ia berbicara ia tidak lagi bersifat egosentrik.
fungsi-fungsi semiotik yang memungkinkannya mempelajari Semuanya itu merupakan modal dasar untuk perkembangan
bahasa dan kegiatan mental lainnya. Menurut Piaget (1976), anak selanjutnya. Piaget menganggap bahwa tahap praoperasional
praoperasional biasanya belum dapat memahami konservasi, merupakan tahap peletakan dasar-dasar operasi yang memungkin-
pengelompokan, dan relasi karena masih lebih terikat persepsi kan anak menggambarkan peristiwa-peristiwa secara internal. Pada
daripada transformasi, pada sifatnya egosentrik, dan masih terpaku tahap operasional anak mampu memanipulasikan gambaran
pada satu dimensi saja. Namun, pada akhir tahap ini pula ia internal ini. Dengan demikian ia menyadari akan potensi pemikiran
mencapai kemajuan yang sangat pesat dalam pemerolehan bahasa. yang luwes dan kuat.
Baru pada tahap operasional konkret, anak dapat memahami Hal yang pokok pada tahapan operasional konkret ialah
konsep-konsep yang tidak dapat dipahaminya pada tahap sebelum- pemerolehan berbagai operasi yang disebut juga tindakan ter-
nya karena ia telah mencapai kemampuan operasi yang sesungguh- internalisasikan. Operasi ini meningkatkan kemampuan berpikir
nya. Operasi-operasi ini memungkinkannya memahami konsep- anak. Dengan kemampuan itu pada tahap ini ia dapat memahami
konsep serta melakukan transformasi. Operasi ini dapat dibolak- serta memecahkan soal-soal yang tidak dapat dipahami atau
balik dan digabungkan menjadi sistem operasi yang lebih banyak dipecahkan pada tahap sebelumnya. Berikut ini akan dikemukakan
berpikir secara induktif. uraian tentang berbagai kemampuan yang telah dikuasai anak.
Tahap terakhir perkembangan kognitif ialah tahap operasi-
onal. Pada tahap ini ia tidak saja telah mampu memahami konsep- a. Konservasi
konsep yang abstrak. Ia tidak lagi terikat pada keadaan “di sini” Pada tahap praoperasional dan awal operasional konkret anak
dan “sekarang”. Ia lebih dapat membedakan dengan tegas antara menyadari bahwa kualitas tertentu pada objek bersifat tetap
kenyataan dan kemungkinan serta harapan. Dengan demikian, meskipun bentuknya berubah. Pada akhir tahapan operasional

6 7
konkret anak menyadari bahwa pada objek banyak dimensi yang perkembangan kognitif? Piaget mengemukakan bahwa hal itu tidak
bersifat tetap meskipun mengalami transformasi yang mengubah mungkin. Namun, penelitian Muuss memperlihatkan bahwa sampai
bentuk atau rupanya. batas-batas tertentu percepatan dapat dilakukan, antara lain dengan
Menurut Piaget pada tahapan operasional konkret penalaran berbagai variasi teknik instruksional.
anak tidak hanya mengenai satu dimensi objek, tetapi masih belum
dapat secara konsisten (ajek) menggunakan cara berpikir yang baru Bahasa sebagai Sarana Berpikir
dan kerap kali masih ragu-ragu, serta belum mantap dalam meng-
gunakan cara memecahkan persoalan. Batas bahasaku adalah batas duniaku (Wittgenstein, 1992).
Manusia untuk dapat melakukan kegiatan berpikir dengan baik
maka diperlukan sarana berupa bahasa. Bahasa merupakan alat
b. Klasifikasi dan Hubungan
komunikasi verbal untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut
Piaget mengemukakan bahwa pada tahapan operasional kepada orang lain. Dengan menguasai bahasa maka seseorang akan
konkret, anak menganggap kelas dan hubungan sebagai bagian menguasai pengetahuan.
kebulatan suatu sistem. Pada umur antara 9-10 tahun ia telah dapat Tiada kemanusiaan tanpa bahasa, tiada peradaban tanpa
memecahkan soal tentang klasifikasi ganda dengan baik. bahasa tulis. Manusia tidak berpikir hanya dengan otaknya (Laird,
Menurut teori Piaget penalaran anak sesuai dengan tahapan 1989). Ungkapan di atas menunjukkan betapa pentingnya peranan
yang dialaminya. Jika seorang anak memiliki penalaran operasional bahasa bagi perkembangan manusia. Bahasa juga memberikan
konkret, dapat dikatakan bahwa di dalam banyak hal ia menerapkan urunan yang besar dalam perkembangan anak menjadi manusia
ciri-ciri tahapan itu. Seorang anak yang berumur 8 tahun secara dewasa. Dengan bantuan bahasa, anak tumbuh dari suatu orga-
ideal akan memahami semua konsep tahapan operasional konkret, nisme biologis menjadi suatu pribadi di dalam kelompok, yaitu
yaitu konservasi kuantitas zat cair, klasifikasi, serasi, dan seterus- suatu pribadi yang berpikir, merasa berbuat, serta memandang
nya, dan akan gagal dalam memahami soal-soal konsep untuk dunia dan kehidupan sesuai dengan lingkungan sosialnya.
tahapan operasional, seperti berpikir tentang semua gabungan yang Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada
mungkin ada, konservasi gerak dan sebagainya. Secara teoretis kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan ber-
konsep tentang konservasi bilangan, konservasi kuantitas zat padat, bahasanya. Manusia dapat berpikir dengan baik karena dia mem-
dan konservasi berat dikuasai anak secara serentak; seorang anak punyai bahasa. Tanpa bahasa maka manusia tidak akan dapat
akan memahami semua konservasi bilangan sekitar umur 6 tahun, berpikir secara rumit dan abstrak, seperti apa yang kita lakukan
konservasi kuantitas zat padat sekitar umur 8 tahun, dan konservasi dalam kegiatan ilmiah. Dengan kata lain, tanpa mempunyai
berat sekitar umur 10 tahun. kemampuan berbahasa ini maka kegiatan berpikir secara sistematis
Tingkat konsistensi penalaran anak dalam berbagai soal dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih lanjut lagi, tanpa
bergantung kepada siapa, mengenai apa, dan bila kita melakukan kemampuan berbahasa ini maka manusia tidak mungkin mengem-
observasi. Dalam hal ini faktor-faktor kepribadian, topik, kondisi bangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka
fisik dan lingkungan, kondisi psikis, serta nilai-nilai yang berlaku hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya
turut mempengaruhi. Dapatkah kita melakukan percepatan dalam dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya.

8 9
Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkin- Secara umum Halliday (1978) mengemukakan sejumlah
kan manusia untuk memikirkan kemampuan untuk berpikir secara fungsi bahasa, di antaranya adalah sebagai sarana untuk menafsir-
teratur dan sistematis. Transformasi objek faktual menjadi simbol kan pengalaman, untuk mengklasifikasikan fenomena yang tak
abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata ini terbatas jumlahnya. Baik di dalam maupun di sekitar manusia serta
dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan untuk menyatakan berbagai relasi khusus yang mendasar sifatnya.
pemikiran atau ekspresi perasaan. Kedua aspek bahasa (informatif Mengenai bahasa anak-anak, Halliday (1978) menunjuk tujuh
dan emotif) ini tercermin dalam bahasa yang kita gunakan. Artinya, fungsi awal yaitu fungsi-fungsi instrumental, regulatoris, interaksi-
kalau kita berbicara maka pada hakikatnya informasi yang kita onal, personal, penjelajahan, imajinatif, dan informatif. Fungsi-
sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga kalau fungsi itu menunjukkan bahwa anak dapat menggunakan bahasa,
kita menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur- baik sebagai sarana berpikir secara nalar maupun secara kreatif.
unsur informatif. Fungsi-fungsi di atas mudah terpenuhi karena bahasa
Bahasa mengkomunikasikan tiga hal, yakni buah pikiran, merupakan sistem simbol. Simbol-simbol yang pada dasarnya
perasaan, dan sikap. Seperti yang dinyatakan Kneller (dalam berupa bunyi bahasa itu ternyata sangat praktis, dapat dikombinasi-
Kemeny, 1990) bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai kan menjadi “kata-kata baru”. Gabungan kata-kata menghasilkan
fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Fungsi simbolik dari bahasa frasa dan kalimat yang tak terbilang jumlahnya. Dengan satu
menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif kalimat, anak dapat menggambarkan sesuatu yang nyata, sesuatu
menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam komunikasi ilmiah yang mungkin hanya dapat diandalkan. Anak bahkan dapat
sebenarnya proses komunikasi itu harus terbatas dari unsur emotif bermain dengan bunyi-bunyi dan kata-kata.
ini, agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif, Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa materi bahasa
artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Namun, dalam dapat digunakan sebagai materi berpikir secara nalar maupun
praktiknya hal ini sukar untuk dilaksanakan. Berbeda dengan secara kreatif. Dengan demikian, pembelajaran bahasa dapat
informasi yang terdapat dalam buku pedoman telepon dari Telkom dijadikan sarana pengembangan kemampuan berpikir secara nalar
misalnya, informasi atau petunjuk nomor telepon yang ada di dan secara kreatif. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan
dalamnya mudah dicari. sebuah gagasan kecil seperti yang diuraikan berikut ini.
Max Muller (dalam Sabarti, Maidar, dan Sakura, 1999)
mengatakan bahwa tak ada bahasa tanpa nalar dan tak ada nalar Pengembangan Kegiatan Terpadu Melalui Pembelajaran
tanpa bahasa. Yang jelas, sulit sekali memisahkan kegiatan penalar- Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
an dan bahasa sebagai sasarannya. Huxley (dalam Suriasumantri,
1997) mengatakan bahwa bahasa mempengaruhi pikiran pemakai- Pengembangan kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif
nya mempunyai kekuatan membentuk pikiran itu serta menyalur- dapat dilakukan melalui kegiatan terpadu antara “membaca -
kan perasaan, mengerahkan kehendak dan perbuatan. Sampai sambil berpikir – dan menulis”.
tingkat tertentu, bahasa mengendalikan pemikiran. Pengaruh Kegiatan ini dilandasi dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
tersebut sangat kuat pada usia muda.

10 11
(1) Berpikir nalar bersifat konvergen, menuju kepada suatu Strategi Pengembangan Kemampuan Berpikir secara Nalar
kebenaran, bersifat biologis dan analitis, serta menggunakan Pengembangan kemampuan berpikir secara nalar lewat jalur
pola berpikir deduktif dan induktif, sedangkan berpikir kreatif pendidikan formal dapat dilakukan melalui berbagai mata pelajaran
adalah berpikir secara bebas, divergen, lancar, rasional, terinci, dan kegiatan belajar. Sabarti, Maidar, dan Sakura (1999) yang
dan sensitif. mengembangkan taksonomi pertanyaan berdasarkan atas takso-
(2) Pengembangan kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif di nomi Bloom, menduga bahwa siswa dapat dilatih berpikir jika
SD merupakan tahap awal, pengembangan yang memberikan diberi “pertanyaan-pertanyaan”. Pertanyaan tersebut mencakup
kemampuan intelektual, sikap, serta nilai-nilai dasar yang semua jenis tugas dan latihan intelektual seperti pemecahan
diperlukan untuk pengembangan selanjutnya. masalah yang ditekankan pada penggunaan gagasan yang tidak
(3) Semua pokok bahasan dalam pembelajaran bahasa dapat berhenti pada taraf ingatan saja. Sesuai dengan taksonomi Bloom,
digunakan sebagai sarana pengembangan. Namun, yang paling kategori pertanyaan yang dikemukakan Sabarti meliputi pertanyaan
potensial ialah pokok bahasan membaca dan menulis. ingatan, terjemahan interpretasi, aplikasi, analisis, sintesis, dan
(4) Kegiatan membaca sambil berpikir yang dipadukan dengan evaluasi. Kecuali pertanyaan ingatan, pertanyaan yang lain, jika
kegiatan menulis kreatif harus dapat mendorong tumbuhnya disusun dengan cermat, dapat digunakan untuk mengembangkan
motivasi membaca, serta berkembangnya sikap dan nilai-nilai kemampuan berpikir siswa. Kategori tersebut dapat diterapkan
intelektual, sosiokultural, dan moral. pada semua tingkatan sekolah. Perbedaannya terletak pada
(5) Kegiatan berpikir yang dilakukan sambil membaca mencakup kompleksitas permasalahan.
kegiatan berpikir secara nalar dan kreatif. Pengembangan kemampuan bernalar secara ilmiah tidak
(6) Sikap dan nilai-nilai intelektual, sosiokultural, dan moral yang hanya mengenai ranah kognitif saja, melainkan juga secara tak
perlu dikembangkan di SD ialah sikap positif dalam berbahasa, langsung mengenai ranah afektif. Melalui pembiasaan berpikir
jujur, ingin tahu, rendah hati, kritis, terbuka, luwes, cermat, secara ilmiah diharapkan akan timbul sikap-sikap ilmiah, seperti
serta kebiasaan menunda penghakiman. selalu ingin tahu, rendah hati, objektif, tidak memihak, jujur, tekun,
(7) Untuk mengetahui pencapaian membaca–sambil berpikir-dan dan cermat.
menulis, perlu disusun alat evaluasi yang memenuhi persyarat- Pada tahun 2003 dalam rangka penelitian untuk menyusun
an dan mudah digunakan. disertasi saya, saya mencoba mengembangkan model pengajaran
untuk meningkatkan kemampuan bernalar secara ilmiah yang saya
Susunan kegiatan tidak mencerminkan urutan proses belajar- kaitkan dengan keterampilan menulis. Materi tersebut mencakup
mengajar. Proses divergen dan konvergen terjadi terus-menerus konsep-konsep dasar fakta dan bukan fakta, pembagian dan penge-
selama kegiatan. Untuk melaksanakannya dapat digunakan lompokan, kesimpulan umum, perbandingan, hubungan sebab
berbagai teknik. akibat, deduksi, induksi, dan salah nalar (Slamet, 2004).
Melalui pembelajaran di sekolah, pengembangan kemampuan
berpikir dapat dilakukan lewat program membaca. Stauffer dalam
Sabarti, Maidar, dan Sakura (1999) menciptakan kegiatan “directed

12 13
reading thinking activity” (DRTA) yang digunakan untuk Strategi Pengembangan Kemamuan Berpikir Kreatif
kemampuan berpikir kritis. Program ini dikembangkan berdasarkan
Pengembangan berpikir kreatif harus dimulai sejak usia
asumsi bahwa anak-anak dapat: berpikir, bertindak dengan sadar,
muda. Seperti telah dikemukakan, kreativitas secara potensial ada
menyelidik, menggunakan pengalaman dan pengetahuannya,
pada setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda. Namun, jika
menilai fakta dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta, dan
tidak dipupuk, potensi itu tidak berkembang.
menghakimi atau membuat keputusan. Selain itu mereka terlibat
secara emosional, memiliki berbagai minat, mampu belajar, dapat Selama dekade terakhir ini di negara kita, perhatian terhadap
membuat generalisasi, dan mampu memahami sesuatu. kemampuan berpikir kreatif makin besar. Di Taman Mini Indonesia
Indah (TMII) misalnya pada tahun 1984 dibuka Pusat Pengem-
Kegiatan DRTA menekankan kegiatan berpikir pada waktu
bangan Kreativitas Anak, sebagai wadah untuk penyaluran serta
membaca. Anak-anak dilatih memeriksa, membuat hipotesis, menemu-
peningkatan kreativitas. Akan tetapi perkembangan melalui jalur
kan bukti, menunda penghakiman, dan mengambil keputusan
pendidikan formal belum menampakkan tanda-tanda yang meng-
berdasarkan atas pengalaman dan pengetahuannya. Kegiatan ini
gembirakan. Dari pengamatan terhadap pelaksanaan pengajaran
dilaksanakan dalam pengajaran kelompok dan individual.
membaca di SD di wilayah eks-Karesidenan Surakarta dan
Kegiatan DRTA dilaksanakan dengan menggunakan pende- sekitarnya belum digarap secara nyata (Slamet, 2006).
katan pemecahan masalah. Bahan yang digunakan dapat berupa
Sehubungan dengan upaya pengembangan kemampuan ber-
cerita fiktif atau tulisan nonfiktif.
pikir kreatif, Treffinger (1990) mengemukakan model pengem-
Langkah-langkahnya mencakup: bangan berpikir kreatif melalui proses belajar kreatif. Proses belajar
(1) Pengembangan tujuan membaca. Tujuan membaca setiap indi- ini memungkinkan anak-anak menjadi lebih efisien dalam meng-
vidu dan kelompok ditentukan oleh pengalaman, kecerdasan, hadapi masalah-masalah mereka kelak, yaitu pada waktu orang tua
pengetahuan bahasa, minat serta kebutuhan siswa. dan guru tidak lagi berada di dekat mereka untuk memberikan
(2) Penyesuaian antara kecepatan membaca dengan tujuan yang pertolongan, dukungan, atau saran-saran. Melalui proses belajar
ingin dicapai dengan taraf kesulitan bahan. Penyesuaian ini kreatif, anak-anak mempelajari kemampuan-kemampuan dan nilai-
menghasilkan berbagai jenis membaca. nilai yang tetap berharga dan berguna. Dengan demikian, mereka
(3) Pengamatan bacaan. Pengamatan ini mencakup kegiatan memiliki kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang
memperhatikan kesanggupan untuk menyesuaikan kecepatan timbul pada zamannya. Selain itu, proses berpikir kreatif memberi-
membaca dengan tujuan dan kesulitan bacaan, konsep, dan kan kegembiraan dan kepuasan batin kepada anak-anak.
keperluan untuk membaca ulang. Beberapa hal yang penting di dalam proses belajar kreatif :
(4) Pengembanagn pemahaman (1) Respons anak lebih penting daripada bahan atau kurikulum.
(5) Kegiatan latihan keterampilan dasar yang mencakup diskusi, Dalam hal ini, perlu diperhatikan frekuensi, intensitas, kom-
membaca lebih lanjut, dan menulis. pleksitas, dan keterarahan respons.
(2) Proses belajar kreatif menghendaki pemudahan penghakiman
atau keputusan.

14 15
(3) Proses belajar kreatif menghendaki kesinambungan, sebab maupun fantasi. Namun, penyelesaian masalah di sini tidak
belajar kreatif bukanlah tingkah laku yang acak-acakan, tak menuntut penyelesaian yang benar. Pemikiran ini bersifat divergen,
bertujuan, ataupun tak terkendali. lebih menekankan pada kualitas penyelesaian atau jawaban yang
(4) Proses belajar kreatif adalah proses belajar yang sistematis dan mungkin dipikirkan atau diandalkan. Karena itu, sering kita lihat
terencana. dalam kegiatan berpikir kreatif, meskipun atas dasar data dan
(5) Proses belajar kreatif menghendaki peran serta sepenuhnya dari informasi yang ada seakan-akan “bermain-main” dengan berbagai
anak didik. gagasan yang timbul. Menurut pandangan tradisional, proses
kreativitas mencakup beberapa fase. Wallace menyebutkan ada
Piaget (1976) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan pada empat fase, yaitu fase persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi
dasarnya ialah menghasilkan individu yang kreatif, serta mampu (Vinacke, 1974).
mencipta dan menemukan sesuatu yang baru. Berpikir kreatif
merupakan kemampuan yang kerap kali dihubungkan dengan
Tantangan dan Kendala
pemikir-pemikir seperti para ilmuwan dan seniman yang telah
menciptakan karya besar serta menghasilkan temuan baru yang Untuk melakukan pembelajaran membaca – sambil berpikir-
orisinil dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Sebenarnya, berpikir dan menulis terpadu diperlukan kondisi yang menunjang, di
kreatif bukanlah milik orang-orang tertentu saja. Kemampuan itu antaranya menyangkut:
ada pada setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda: ada yang (1) Guru SD yang mampu melaksanakan program yaitu yang
kurang kreatif dan ada pula yang sangat kreatif. memiliki kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif.
Sebagai kemampuan, kreativitas mengandung segi kognitif, (2) Materi pembelajaran membaca dan menulis yang disusun
afektif, dan psikomotorik. Berpikir kreatif adalah sejenis berpikir secara terpadu yang juga bertujuan untuk mengembangkan
yang mencakup proses berpikir lancar, luwes, orisinil, terinci, dan kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif.
sensitif. Ciri efektif muncul sebagai rasa ingin tahu, perasaan (3) Jumlah siswa di dalam kelas yang memungkinkan guru
tertantang, keberanian mengambil risiko, dan sifat menghargai melaksanakan kegiatan kelompok maupun individual.
(Munandar, 1997). Senada dengan pendapat Munandar, Conny (4) Kondisi sosiokultural sebagian besar anak Indonesia dewasa ini
Semiawan (1986) memandangnya sebagai salah satu ranah kurang mendorong tumbuhnya kemampuan berpikir secara
kemampuan manusia yang bersinggungan dengan ketiga ranah nalar dan kreatif. Sebagian besar orang tua tinggal di desa-desa
lainnya. Dalam hal ini banyak orang yang menganggap kreativitas dengan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan yang
sebagai sarana kognitif. rendah. Kebiasaan membaca belum membudaya di kalangan
Pada hakikatnya, kreativitas merupakan perwujudan kemam- mereka.
puan atau kegiatan berpikir kreatif. Vinacke (1974) memandang
berpikir kreatif sebagai ciri suatu kepribadian sekaligus sebagai Hal-hal di atas merupakan tantangan bagi pengambil
cara berpikir tertentu. Pemikiran kreatif terletak di antara pemikiran kebijaksanaan, para perencana, dan para pendidik di lapangan.
artistik dan realistik serta memiliki ciri-ciri pemecahan masalah Adalah sangat tepat tindakan pemerintah untuk meningkatkan mutu
pendidikan SD melalui Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

16 17
Diharapkan melalui progam ini dapat dihasilkan guru-guru SD serta proses belajar-mengajar, khususnya dalam mata kuliah
yang memiliki penguasaan kemampuan akademik dan keprofesi- Pendidikan Bahasa Indonesia di PGSD harus dapat membekali
onalan (Ditjen Dikti, 1996/1997a). Selanjutnya khusus mengenai mahasiswa calon guru dengan kemampuan profesional yang
pembelajaran bahasa Indonesia dinyatakan: memadai, serta mendorong tumbuhnya sikap dan nilai-nilai
(1) Pembelajaran bahasa Indonesia di SD bertujuan untuk intelektual dan moral.
mengembangkan kemampuan (keterampilan) serta sikap ber-
bahasa yang menyangkut fungsinya sebagai alat komunikasi Penutup
dan penalaran.
Dari uraian tentang pengembangan kemampuan berpikir
(2) Pembelajaran bahasa Indonesia di SD tidak hanya sekadar secara nalar dan kreatif yang dipaparkan di atas, dapatlah ditarik
memberikan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga simpulan-simpulan berikut:
harus dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa
(1) Kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif ada pada semua
(Ditjen Dikti, 1996/1997b).
anak dengan kadar yang berbeda-beda. Kemampuan itu harus
dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini.
Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai
(2) Pengembangan kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif
langkah Awal
melalui sekolah dilakukan secara bertahap, terarah, dan teren-
Seperti telah dikemukakan kondisi sosiokultural tumbuhnya cana sesuai dengan perkembangan anak, tujuan, dan jenjang
kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif pada anak. Banyak pendidikan.
orang tua yang terpaksa menghabiskan hari-harinya di luar rumah (3) Pengembangan kemampuan berpikir secara nalar dan kreatif
untuk mencari nafkah. Mereka tidak mempunyai waktu untuk dapat dilakukan melalui bahasa Indonesia. Pokok bahasan yang
membaca maupun memberikan pengalaman intelektual kepada paling potensial sebagai sarana pengembangan kreativitas dan
anak-anaknya. Kondisi sosiokultural ini sulit diubah. Terobosan kemampuan bernalar ialah pokok bahasan membaca dan
yang singkat ialah dengan menjadikan jenjang pendidikan dasar menulis yang dilaksanakan secara terpadu.
sebagai pusat kebudayaan generasi yang akan datang menjadi (4) Upaya pengembangan kemampuan berpikir secara nalar dan
pelaksana pembangunan pada abad yang akan datang. Untuk itu kreatif di SD melalui pembelajaran bahasa Indonesia memerlu-
diperlukan guru-guru yang berkualitas memadai yang tanggap akan kan tersedianya guru SD yang memiliki kemampuan yang
perubahan-perubahan yang terjadi, serta mampu merespons peru- sesuai dengan tugas pengembangan itu.
bahan-perubahan itu secara positif.
(5) Salah satu alternatif kegiatan yang dapat digunakan sebagai
Mulai tahun akademik 1990/1991 yang lalu, pengadaan guru sarana pengembangan kemampuan berpikir secara nalar dan
SD dilaksanakan melalui Program Diploma Dua (D2) Pendidikan kreatif ialah kegiatan membaca-sambil berpikir-dan menulis.
Guru Sekolah Dasar (PGSD). Mulai dari PGSD inilah upaya
(6) PGSD merupakan wadah penyiapan tenaga guru SD yang
peningkatan kualitas lulusan sekolah dasar yang merupakan penga-
profesional melalui proses pembelajaran yang digunakan,
laman pertama pendidikan dasar, dimulai. Ini berarti bahwa materi
mampu mengembangkan kreativitas, kemampuan bernalar, dan

18 19
mendorong tumbuhnya sikap serta nilai-nilai intelektual, dibantu oleh Prof. Drs. H. Sukiyo yang dengan tulus ikhlas
sosiokultural, dan moral pada anak didiknya. banyak memberi saran dan masukan demi mulusnya usulan
saya. Terima kasih juga kepada Bapak Midin dan Mas Willy
Hadirin yang saya hormati, yang menata berkas-berkas usulan saya.
4. Terima kasih juga kepada Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D.,
Pada penghujung pidato pengukuhan guru besar ini izinkan-
(selaku Ketua Tim Asistensi Pengukuhan Guru Besar),
lah saya mengungkapkan hal-hal yang sifatnya pribadi dalam
Prof. Dr. Ambar Mudigdo, dr. Sp.A, Prof. Dr. H. Joko
rangka mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang
Nurkamto, M.Pd., Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum., dan
Mahakuasa dan terima kasih semua pihak sebagai perantara saya
Prof. Dr. H. Sigit Santosa, M. Pd. (selaku Anggota Tim) yang
mencapai kedudukan guru besar saya ini.
telah memberikan masukan yang bersifat substantif, arahan,
1. Sekali lagi, terima kasih saya sampaikan kepada Pemerintah dan koreksinya demi penyempurnaan teks pidato saya.
Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional yang
4. Terima kasih juga kepada segenap Dosen Program Studi PGSD
telah menetapkan saya sebagai guru besar bahasa Indonesia
dan PGTK FKIP UNS yang telah mengusulkan, mendukung
secara loncat jabatan.
dengan sepenuh hati, membantu saya dalam memangku jabatan
2. Terima kasih juga kepada Rektor/Ketua Senat dan Sekretaris, tertinggi ini.
Pembantu Rektor, Dekan dan Pembantu Dekan, Direktur dan
5. Terima kasih juga kepada segenap Pimpinan dan Dosen
Asisten Direktur Program Pascasarjana UNS, Segenap Anggota
Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret atas motivasi
Senat Fakultas dan Universitas, Ketua dan Sekretaris Jurusan,
dan dukungannya dalam memangku jabatan guru besar ini.
Ketua dan Sekretaris Program Studi, Tim CCP, dan kawan-
kawan seprofesi yang telah mengusulkan dan memperjuangkan 6. Rasa terima kasih saya sampaikan juga kepada orang tua
saya untuk menduduki jabatan tertinggi ini. Saya sadar betul kandung saya, almarhumah Ibunda Sami Wiryosumarto dan
bahwa jabatan ini saya sandang berkat kerja keras dan Bapak Wiryosumarto. Bagi saya pribadi, kedua orang tua saya
kerjasama unsur-unsur di UNS tercinta ini. itulah manusia yang paling luar biasa dan paling saya kagumi.
Merekalah yang telah mendidik saya dengan penuh pengor-
3. Terima kasih juga kepada Prof. Dr. H.M. Furqon Hidayatullah,
banan dan deraan ujian yang bertubi-tubi, tetapi semua dapat
M.Pd., Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D., Prof. Drs. Haris
dijalani dengan selamat. Mereka semua yang mengajarkan saya
Mudjiman, M.A., Ph.D., Prof. Dr. H. Trisno Martono,
untuk tidak takut untuk hidup prihatin dan penuh tantangan.
Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd., Prof. Dr. H.D Edi Subroto,
Prof. Dr. Sri Jutmini, M.Pd., Prof. Drs. Anton Sukarno, M.Pd., 7. Terima kasih juga kepada mertua saya, almarhum Bapak
Prof. Dr. H. Sugiyanto, Prof. Dr. H. Sigit Santosa, M.Pd., Djasmani dan almarhumah Ibu Sumining, kakak-kakak ipar
Prof. Dr. Sri Samiati Taryana, Prof. Dr. Sudiro Satoto, dan (Watini, Sutirin, Sutrisno, Sujoto, Susetyo Tranggono) dan adik
Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd., yang tidak jemu-jemu ipar (Sunoto) yang telah banyak memberi bantuan untuk
menasihati saya untuk mengusulkan diri sebagai guru besar kesuksesan keluarga kami.
secara loncat jabatan. Langkah selanjutnya, kami sangat 8. Terima kasih juga kepada saudara kandung saya (Samirah,
Warsiti, Th. Sri Mulyani, dan Marsono, S.Pd) yang banyak

20 21
membantu dalam doa, dorongan, dan dukungannya saya baik yang langsung maupun tidak langsung telah ikut mem-
sehingga saya dapat memangku jabatan guru besar ini. bantu saya dalam mempersiapkan pengukuhan ini.
9. Selanjutnya, yang sangat bermakna bagi hidup saya adalah Akhirul kalam, terima kasih atas perhatiannya dan mohon
ucapan terima kasih kepada istri saya tercinta, M.M. Prih maaf atas segala kekurangannya. Semoga Tuhan Yang Mahabaik
Harini. Terima kasih atas pengertian, doa, ketulusan, kesabaran, selalu memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita. Amin.
dan pengorbanannya telah mendorong dan memberi semangat
kepada saya terutama selama menempuh studi di Program
Pascasarjana IKIP/UNJ Jakarta maupun tugas di luar kampus
dalam mencapai jabatan akademik tertinggi ini.
10. Terima kasih juga kepada keempat anak saya tersayang
(Ig. Kristanto, S.Si, M.E., E.Linda Khristianawati, S.Pd.,
Ag. Deny Khristiawan, S.Kom., dan M.A. Kristi Erawati)
beserta keempat menantu saya termasuk keempat cucu saya
tersayang, (Kuntoaji Satrio, Daniel Aditama, Olivia, dan
Michella). Merekalah permata hati saya dan harapan generasi
masa depan saya. Tanpa doa, pengertian, dan dorongan mereka,
tentu saya tidak dapat menjalankan tugas sampai mencapai
jabatan yang setinggi ini. Saya menyadari bahwa jabatan ini
mengandung tanggung jawab yang besar yang harus saya pikul.
Karena itu, saya memohon doa kepada hadirin, semoga jabatan
yang mulia ini dijadikan oleh Tuhan sebagai sarana saya untuk
dapat lebih mendekatkan diri dan menyembah kepadaNya serta
mengamalkannya dalam kehidupan.
10. Terima kasih juga kepada guru-guru saya: SD, SMP, SPG,
PGSLP, IKIP Negeri Surakarta dan IKIP Veteran Sukoharjo
dan semua dosen, IKIP/Universitas Negeri Jakarta khususnya
Prof. Dr. Hj. Sabarti Akhadiah, Prof. Dr. H.A. Djunaedi, M.Sc.
(almarhum), dan Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa
Jakarta) yang telah membimbing, mengarahkan, dan mengantar-
kan saya ke jabatan yang mulia ini.
11. Terima kasih juga kepada semua pihak dan handai tolan serta
teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu

22 23
DAFTAR KEPUSTAKAAN Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1999.
Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Black, Max. 1966. Critical Thinking. New York: LiHefield, St. Y. Slamet. 2004. “Pengaruh Orientasi Pembelajaran dan
Englewood Cliffs. Kemampuan Penalaran terhadap Keterampilan menulis
Cony Semiawan. 1996. Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi, Bahasa Indonesia”. Disertasi. Jakarta: PPs UNJ.
Laporan Penataran Guru Anak Berbakat. Jakarta: _________. 2006. “Studi Kemampuan Membaca Kritis dalam
Gramedia. Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar”. Jurnal
Widyaparwa. Nomor Balai Bahasa Yogyakarta.
Copi, Irving M. 1978. Introduction to Logic. New York: Mcmillan.
Stubbs, Michael. 1993. Discourse Analysis, the Sosiolinguistics
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996/1997a. Kemam-
Analysis of Nutural Language. Axford: Basil Blackwell.
puan Akademik dan Keprofesionalan Guru. Jakarta: Ditjen
Dikti JAB -1. Treffinger, D.J. 1990. Encouraging Creative Learning for the
_________. 1996/1997b. Kurikulum Pendidikan Guru Sekolah Gifted and Talented. Vetura: California.
Dasar Prajabatan: Bahasa Indonesia. Jakarta: Ditjen Dikti Undang-Undang. Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
JAB-2. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Halliday, MAK. 1978. Language as Social Semiotic: A Social Utami Munandar, SC. 1997. Mengembangkan Bakat dan
Interpretation of Language as Meaning. London: Edward Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia.
Arnold. Vinacke, W. Edgar. 1974. The Psychology of Thinking. New York:
Jujun Suriasumantri. 1997. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar McGraw-Hall Book Company.
Pouler. Jakarta: Sinar Harapan.
Wettgenstein, Ludwig. 1992. Tractatus Logoco-Philosophicus.
Kemeny, John GA. 1990. A Philosopher Looks at Science. New New York: The Humanities Press.
York:Van Nostrand.
Laird, Charlton. 1989. The Miracle of Language. Greenwich:
Fawcett.
Leonard, Henry S. 1987. Principles of Reasoning: n Introduction to
Logic. Methodology and the Teory of Signs. New York:
Dover Publication. Inc.
Piaget, J. 1976. Play, Dreams, and Imitation in Childhood. New
York: Norton.

24 25
BIODATA II. PENDIDIKAN

I. IDENTITAS No. Pendidikan Nama dan Tempat Tahun


1. Nama Lengkap : Prof. Dr. St.Y. Slamet, M. Pd. 1 SR SR Negeri Ngaran, Polanharjo, 1959
2. NIP : 13110631 Kabupaten Klaten
3. Tempat dan tanggal lahir : Klaten, 08 Desember 1946 2 SMP SMP Kanisius I Klaten 1963
4. Agama : Katolik 3 SGA/SPG SGA/SPG Negeri Surakarta 1967
5. Jenis kelamin : Laki-laki 4 PGSLP Jurusan Bahasa Indonesia PGSLP 1968
6. Alamat sekarang : Jl. Pajajaran Utara Gang II No. 32 Negeri II Surakarta
5 Sarjana Muda Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 1974
Perumahan Guru Sumber RT 02 RW X Kel. Sumber,
FKSS, IKIP Negeri Surakarta
Kecamatan Banjarsari, Kota
6 Sarjana (S1) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 1987
Surakarta Kode Pos 57138 FPBS, IKIP Veteran Sukoharjo
Telepon (0271) 717323 7 Magister (S2) Pendidikan Bahasa Program 1998
HP 081548721773 Pascasarjana IKIP Negeri Jakarta
E-mail: sty_pgsd@yahoo.co.id 8 Doktor (S3) Pendidikan Bahasa Program 2005
7. Pangkat/Golongan : Pembina Tingkat I/ IVb Pascasarjana Universitas Negeri
8. Jabatan Fungsional : Guru Besar (tmt.1 Desember Jakarta (UNJ)
2007)
9. Keluarga III. PENGHARGAAN
a. Istri : M.M. Prih Harini
b. Anak : 1. Ign. Kristanto, S.Si., M.E 1. Guru Teladan (SD) Tingkat Kotamadya Surakarta Tahun
2. E. Linda Khristianawati, S.Pd. 1976
3. Ag. Deny Khristiawan, S.Kom. 2. Piala dan Tanda Penghargaan di Bidang Karya Tulis Ilmiah
4. M.A. Kristi Erawati Guru SLTA Tingkat Kotamadya Surakarta Tahun 1983
10. Nama Orang tua kandung 3. Piala dan Tanda Penghargaan Lomba Menulis Ilmiah dalam
Ibu : Sami Wiryosumarto rangka HUT PGRI Kotamadya Surakarta 1983
(almarhumah)
4. Penghargaan Sepuluh Besar Penataran P4 Tipe B Tingkat
Ayah : Wiryosumarto
Kotamadya Surakarta Tahun 1978
11. Nama Mertua
Ibu : Sumining (almarhumah) 5. Tanda Penghargaan sebagai Penatar P4 Tipe B Tingkat
Ayah : Djasmani (almarhum) Kotamadya Surakarta Tahun 1979
6. Penghargaan sebagai Panitia Persidangan Kongres Bahasa
Nasional VIII di Jakarta 26-30 Oktober 1998

26 27
7. Piagam Penghargaan Rektor UNS dalam rangka mem- 11. Tenaga Pengajar MKDU Bahasa Indonesia pada Program
peroleh gelar doktor, 11 Maret 2005 Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS (1995-
8. Penghargaan sebagai Panitia Persidangan Kongres 1996)
Linguistik Nasional XII di Surakarta 6-8 September 2007 12. Tenaga Pengajar MKDU Bahasa Indonesia pada Program
9. Tanda Penghargaan di Bidang Penulisan Buku Teks Studi Pendidikan Fisika Jurusan PMIPA FKIP UNS (1995-
Bermutu LPP UNS Tahun 2006 dan 2007 1996)
10. Tanda Penghargaan sebagai Penatar Penyusunan dan 13. Tenaga Pengajar MKDU Bahasa Indonesia pada Program
Penulisan Buku Ajar di Perguruan Tinggi oleh Tim Studi Pendidikan Teknik Bangunan dan Mesin Jurusan PTK
Pengembang Bahan Ajar LPP UNS 2007 FKIP UNS (1994-1996)
14. Tenaga Pengajar MKDU Bahasa Indonesia pada Jurusan
IV. PENGALAMAN PEKERJAAN POK FKIP UNS (1998-2000)
15. Tenaga Pengajar pada Program Studi PGTK FKIP UNS
1. Guru Sekolah Dasar Keluarga Kanisius Mangkubumen (2005-2007)
Surakarta (1968- 1981) 16. Tenaga Pengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa
2. Guru Bahasa Indonesia SMP Xaverius Surakarta (1969- Indonesia (Program Magister/S-2) Program Pascasarjana
1976) Universitas Sebelas Maret (2005- sekarang)
3. Guru Bahasa Indonesia SMA Mikael Surakarta (1980-1987) 17. Tenaga Pengajar Mata Kuliah Linguistik (Matrikulasi)
4. Guru bahasa Indonesia STM Katolik Surakarta (1983-1984) Program Doktor/S-3 pada Program Studi Linguistik (2007)
5. Guru Bahasa Indonesia SMA Katolik Surakarta (1984- 18. Tenaga Pengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa
1987) Indonesia (Program Doktor/S-3) Program Pascasarjana
6. Guru Bahasa Indonesia SPG Negeri Surakarta (1982-1991) Universitas Sebelas Maret (2007 – sekarang)
7. Guru Bahasa Indonesia PGSLTP Negeri Surakarta (1983-
1988) V. PENGALAMAN ORGANISASI KELEMBAGAAN/
8. Tenaga Pengajar pada Program Studi PGSD FKIP UNS SOSIAL
(1991-sekarang) 1. Pengurus Rukun Tetangga (RT) 43 Rukun Kampung (RK)
9. Tenaga Pengajar MKDU Bahasa Indonesia pada Program IV Kelurahan Purwosari Kotamadya Surakarta 1970-1973
Studi Pendidikan Matematika, Jurusan PMIPA FKIP UNS (sebagai Ketua)
(1993-1996) 2. Pengurus LKMD Kelurahan Sumber 1976-1980 (sebagai
10. Tenaga Pengajar MKDU Bahasa Indonesia pada Program Ketua II)
Studi Pendidikan Biologi Jurusan MIPA FKIP UNS (1994- 3. Pengurus Rukun Tetangga (RT) 31 B Kelurahan Sumber
1996) Kotamadya Surakarta Tahun 1977-1980 (sebagai Ketua)

28 29
4. Pengurus Rukun Kampung (RK) IV Kelurahan Sumber VI. PENELITIAN
Tahun 1980-1983 (sebagai Ketua)
A. Penelitian dalam rangka studi
5. Komite Sekolah/BP3 SMA/SMK Kristen Widyaparama
Surakarta Tahun 1993-1999 (sebagai Ketua) 1. Deskripsi Pola Kalimat Tunggal Bahasa Indonesia
6. Pengurus Wilayah (Bidang Keagamaan Katolik) Kelurahan Siswa Sekolah Dasar Se-Kabupaten Blora (Skripsi
Sumber Tahun 1980-1987 (sebagai Ketua) Sarjana Muda, FKSS, IKIP Negeri Surakarta, 1974)
7. Pengurus Gereja (Dewan Paroki Kleco Surakarta) Tahun 2. Pengaruh Sikap Belajar dan Minat Baca Terhadap Hasil
1979-1982 (sebagai Ketua Seksi Bidang Karisma) Mengarang Siswa SPG Negeri Eks-Karesidenan Sura-
karta (Skripsi Sarjana, FPBS IKIP Veteran Sukoharjo,
8. Program Studi PGSD FKIP UNS Kelompok Bahasa Tahun 1986)
2001- sekarang (sebagai Ketua)
3. Hubungan antara Kemampuan Skemata, Penguasaan
9. Pengurus Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Struktur Kalimat, dan Derivasi dengan Keterampilan
Cabang UNS/Eks-Karesidenan Surakarta Tahun 1999- Membaca Pemahaman (Tesis, Prodi Pendidikan Bahasa,
sekarang (sebagai Ketua Bidang Organisasi) PPs IKIP Negeri Jakarta, 1998)
10. Anggota HPBI dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) 4. Pengaruh Orientasi Pembelajaran dan Kemampuan
Cabang UNS Tahun 1991- sekarang Penalaran Terhadap Keterampilan Menulis Bahasa
11. Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Rekonstruksi Kuri- Indonesia (Sebuah Studi Eksperimental) (Disertasi,
kulum Program PGSD di Hotel AGAS Solo Tahun 2002 Prodi Pendidikan Bahasa, PPs Universitas Negeri
(sebagai Ketua) Jakarta/UNJ, 2004)
12. Pengurus Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)
Cabang Eks-Karesidenan Surakarta Tahun 2007- sekarang B. Penelitian yang lain (5 tahun terakhir)
(Seksi Bidang Penelitian)
13. Sekretaris Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya 1. Studi Telaah Buku Ajar Berbahasa Indonesia pada
pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Program Studi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret
Pascasarjana UNS Tahun 2005-2007 (Tahun 2002) –Sebagai Ketua
14. Editor Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya 2. Analisis Kesalahan Membaca Nyaring di Sekolah
pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Dasar: Studi Kasus di SD Negeri Laweyan Surakarta
Pascasarjana UNS Tahun 2007- sekarang (Tahun 2003) – sebagai Ketua
15. Program Studi Linguistik (S-3) Program Pascasarjana UNS 3. Studi Keterampilan Menulis Cerita Anak-anak
Tahun 2007-2008 (sebagai Sekretaris Prodi) Mahasiswa (Sebuah Survei di PGSD FKIP UNS) Tahun
2003 – Sebagai Ketua
16. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (S-3) Program
Pascasarjana UNS Priode 2008-2012 (sebagai Sekretaris
Prodi)

30 31
4. Peningkatan Kemahiran Komunikatif dalam Pembe- 4. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia
lajaran Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Dasar Negeri (Kebahasaan Tulis) Tahun 1997 BPK PGSD FKIP UNS
se-Kecamatan Laweyan Tahun 2004-Sebagai Ketua (sebagai Penulis Utama)
5. Penerapan Action Research pada Kegiatan Belajar 5. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas
Mengajar Bahasa Indonesia: Studi Kasus Keterampilan Tinggi (Buku Ajar PGSD Kerjasama Pemda) Tahun
Berbicara Siswa Kelas IV SDN Kleco 01 Surakarta 2004 (sebagai Penulis Utama)
Tahun 2005-Sebagai Ketua 6. Pengenalan Membaca dan Menulis Permulaan Tahun
6. Kemampuan Membaca Pemahaman Ditinjau dari 2005 BPK PGTK FKIP UNS (sebagai Penulis Utama)
Penguasaan Minat Baca, Penguasaan Struktur Bahasa
dan Diksi Tahun 2005 – Sebagai Ketua B. Terbit dalam Bentuk Buku (Dipublikasikan)
1. Rambu-rambu Penyusunan Proposal dan Teknik
7. Pengembangan Model Penyusunan Silabi, RPP, dan
Seminar (Penerbit Mediatama Surakarta) tahun 2005
SAP Bahasa Indonesia Tahun 2006 – sebagai Ketua
(sebagai Penulis Utama)
8. Peningkatan Membaca dan Menulis Permulaan bagi 2. Metodologi Penelitian (Penerbit Mediatama Surakarta)
Anak yang Berkesulitan Belajar Melalui Model Tahun 2005 (sebagai Penulis Utama)
Remedial Teaching Tahun 2006 –Sebagai Ketua 3. Dasar-dasar Keterampilan Berbahasa Indonesia (ISBN
9. Keterampilan Mahasiswa dalam Menulis Karya Ilmiah 979-498-338-6 dan Diterbitkan atas Kerjasama LPP
Ditinjau dari Kemampuan Penalaran, Penguasaan UNS dan Penerbit UNS Press sebagai Penghargaan
Grammar, dan Kompetensi Semantik Tahun 2007- Buku Bermutu LPP) Tahun 2006 dan sudah mengalami
sebagai Ketua Cetak Ulang ke-2 Tahun 2007 (sebagai Penulis Utama)
4. Dasar-dasar pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
VII. PENULISAN BUKU (ISBN 979-498-348-9 Code Publishing 4.10 dan
A. Diktat/Buku Ajar (tidak dipublikasikan) Diterbitkan atas Kerjasama LPP dan Penerbit UNS)
Tahun 2007 dan sudah mengalami Cetak Ulang ke-2
1. Diktat Metodik Khusus Membaca dan Menulis Tahun 2008 (sebagai Penulis Utama)
Permulaan (Pengajaran Bahasa Indonesia) di Sekolah 5. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif (ISBN
Dasar Tahun 1983 (sebagai Penulis Kedua) 979-498-335-7 oleh Penerbit UNS Press) Tahun 2007
2. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas (sebagai Penulis Utama)
Rendah Tahun 1996 BPK PGSD FKIP UNS (sebagai 6. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif (ISBN
Penulis Utama) 979-498-342-8 oleh Penerbit UNS Press) Tahun 2007
3. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia (Penulis bersama Suwarto WA)
(Kebahasaan Lisan) Tahun 1996 BPK PGSD FKIP
UNS (sebagai Penulis Utama)

32 33
7. Dasar-dasar Penulisan Karya Ilmiah (ISBN 979-498- IX. MAKALAH DISAMPAIKAN MELALUI SEMINAR/
387-12 oleh Penerbit UNS Press) Tahun 2007 (Penulis LOKAKARYA
bersama Amir) No Judul Makalah Tahun Keterangan
1. Alternatif Pengembangan 2001 Seminar Sehari dalam rangka
VIII. TULISAN YANG DIMUAT DI JURNAL Bakat Seni Drama dan Tari memperingati Sastrawan Besar
Khairil Anwar diselenggarakan
No. Judul Tulisan Tahun Nama Jurnal Keterangan oleh Prodi Bahasa Indonesia
1 Penguasaan MKBS yang Rele- 1998 Dwijawarta FKIP UNS dan daerah, Jurusan PBS FKIP
van dengan Tes UMPGSD UNS
Ditinjau dari Kemampuan Awal 2. Pokok-pokok Pikiran: Peng- 2002 Seminar dan Lokakarya Guru-
dan Bakat Skolaistik gunaan Bahasa dalam Surat guru dan anggota Dharma-
2 Pengaruh Metode Pengajaran 2000 Pedagogia FKIP UNS Dinas wanita SMKI Surakarta
dan Pengalaman Mengajar ter- 3. Sebuah Alternatif Pengem- 2002 Seminar dan Lokakarya Dosen-
hadap Hasil Belajar Bahasa bangan Kurikulum PGSD dosen PGSD dan Dosen-dosen
Indonesia Mahasiswa PGSD Menuju Kurikulum Ber- Prodi 5 Bidang Studi FKIP
Penyetaraan basis Kompetensi (KBK) UNS di Hotel AGAS Sala
3 Kemampuan Membaca Pema- 2001 Pedagogia FKIP UNS 4. Teknik Penyusunan dan 2003 Seminar dan Lokakarya Guru-
haman Ditinjau dari Penguasaan Penulisan Karya Ilmiah guru dan Kepala SD Se-Keca-
Struktur Kalimat dan Derivasi matan Laweyan Kota Surakarta
4. Pengaruh Orientasi Pembela- 2005 Pedagogia FKIP UNS 5. Penyusunan Makalah Kua- 2004 Seminar Sehari Prodi Sejarah
jaran dan kemampuan Pena- lifikasi dan Teknik Notasi Program Pascasarjana UNS
laran Terhadap Keterampilan Ilmiah
Menulis Bahasa Indonesia 6. Bahasa dan Gaya Penulisan 2006 Semiloka & Pelatihan penyu-
5 Peningkatan Membaca dan 2005 Fenolingua UNWIDH Buku Teks dan Buku Ajar sunan Buku Teks/Ajar Dosen-
Menulis Permulaan bagi Anak A Klaten dosen Prodi Manajemen Pendi-
yang Berkesulitan Melalui dikan Universitas Negeri
Model Remedial Teaching Yogyakarta/UNY di LPP UNS
5 Keterampilan Membaca Pema- 2006 Jurnal IKIP PGRI 7 Metodologi dan Teknik 2007 Pelatihan peningkatan penu-
haman Mahasiswa Ditinjau dari Pendidikan Madiun Penyusunan Usulan Peneli- lisan karya ilmiah bagi Guru-
kemampuan Penalaran, Pengua- tian Tindakan Kelas (PTK) guru dan Kepala SD Se-
saan Diksi, dan Kompetensi Kecamatan Trucuk Klaten
Semantik
6 Penerapan Action Research pada 2006 Widyaparwa BALAI
Kegiatan Belajar Mengajar: BAHASA
Studi Kasus Kemampuan Mem- Yogyakarta
baca Pemahaman Siswa SDN
Kleco 01 Surakarta

34 35