Anda di halaman 1dari 11

Pengembangan Media Berbasis TI

Dosen pengampu: Dr. Kundharu Saddhono, S.S, M. Hum

Disusun oleh:
Yunita Agung Lestari (K1217081/A)

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2019
Membaca Pemahaman

1. Pengertian Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman adalah suatu kegiatan membaca untuk menyerap informasi dari
bahan bacaan tersebut dan memahami atau mengetahui maksud atau makna yang
tersirat dari bacaan tersebut sehingga dapat tersampaikan dengan baik kepada
pembaca. seseorang yang yang melakukan kegiatan membaca pemahaman harus
menguasai bahasa atau tulisan yang digunakan dalam bacaan yang dibacanya dan
mampu menangkap informasi atau isi bacaan tersebut. Menurut Tampubolon
(1990:8) menyatakan bahwa membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan
membaca untuk membina daya nalar. Membaca pemahaman adalah membaca dengan
penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya dikuasai siswa/pembaca
(Saddhono dan Slamet (2014:133). Sementara itu, Abidin (2012:60) membaca
pemahaman sebagai proses sungguh-sungguh yang dilakukan pembaca untuk
memperoleh informasi, pesan dan makna yang terkandung dalam sebuah bacaan.

2. Prinsip Membaca Pemahaman

prinsip membaca pemahaman sama seperti membaca pada umumnya namun


lebih menekankan makna atau pemahaman sendiri dari pembacanya. Prinsip
membaca pemahaman McLaughlin & Allen (melalui Farida Rahim, 2008:3)
mengemukakan prinsip membaca sebagai berikut: 1) Pemahaman merupakan proses
konstruktivis social, (2) keseimbangan kemahiran adalah kerangka kerja kurikulum
yang membantu perkembangan pemahaman, (3) guru yang membaca profesional
(unggul) akan memengaruhi belajar siswa, (4) pembaca yang baik memegang peranan
yang strategis dan berperan aktif dalam proses membaca, (5) membaca hendaknya
terjadi dalam konteks yang bermakna, (6) siswa menemukan manfaat membaca yang
berasal dari berbagai teks pada berbagai tingkat kelas, (7) perkembangan kosakata dan
pembelajaran memengaruhi pemahaman membaca, (8) pengikutsertaan adalah factor
kunci pada proses pemahaman, (9) strategi dan keterampilan membaca bisa diajarkan,
dan (10) asesmen yang dinamis menginformasikan pembelajaran membaca
pemahaman. Membaca pemahaman merupakan suatu proses mencari makna dari
gagasan-gagasan tertulis melalui interpretasi bermakna dan interaksi dengan bahasa.
Membaca intensif dipandang sebagai suatu proses beragam yang dipengaruhi oleh
berbagai pemikiran kemampuan berbahasa. Dengan demikian, model proses membaca
intensif adalah: (1) pemahaman arti kata (pemahaman harfiah); (2) pemahaman
interpretasi; dan (3) pemahaman kritis (Harsono, dkk 2012). Sementara itu, prinsip-
prinsip membaca secara umum, yaitu sebagai berikut:(1) membaca bukanlah hanya
mengenal dan membunyikan huruf, tetapi kegiatan membaca melampaui pengenalan
huruf dan bunyi.(2) membaca dan menguasai bahasa terjadi serempak. Seseorang
tidak dapat dikatakan mempunyai keterampilan membaca jika ia tidak menguasai
bahasa.(4) membaca dan berfikir terjadi serempak. Orang tidak dapat membaca tanpa
mempergunakan pikiran dan perasaannya.(5) membaca berarti memahami. Ini berarti
kegiatan membaca bermuara pada pemahaman (Aminuddin, 1999:27-28).

3. Aspek Membaca Pemahaman

Di dalam membaca pemahaman, pembaca tidak hanya dituntut hanya sekadar


mengerti dan memahami isi bacaan, tetapi ia juga harus mampu menganalisis atau
mengevaluasi dan mengaitkannya dengan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan
yang telah dimilikinya. (Setyaningrum dkk. 2018) bahwa keterampilan berbahasa
sebagai sarana berkomunikasi, pengajaran dan integrasi yang meliputi menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis.Oleh karena itu dalam aspek membaca terdapat
aktivitas kompleks. Aspek dalam membaca pemahaman meliputi: (a) memahami
pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal), (b) memahami signifikansi atau
makna (a.l. maksud dan tujuan pengarang relevansi atau keadaan kebudayaan, reaksi
pembaca), (c) evaluasi atau penilaian (isi, bentuk), (d) kecepatan membaca yang
fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan ( Broughton [et al] dalam H.G.
Tarigan, 1986:12). Membaca pemahaman harus dilakukan diantaranya membaca
dengan tidak bersuara, bibir tidak bergerak atau komat-kamit, tidak menggerakkan
kepala mengikuti baris bacaan, tidak menunjuk baris bacaan dengan jari, pensil, atau
alat lainnya, dan tidak membaca kata demi kata, atau kalimat demi kalimat. Kegiatan
ini berguna untuk menyerap informasi yang disampaikan penulis dalam setiap bacaan
dengan tepat ( Saddhono dan Slamet 2012:66).
4. Tujuan dan Manfaat Membaca Pemahaman

Tujuan membaca pemahaman untuk mengetahui informasi dari bahan bacaan


yang telah dibaca. Membaca pemahaman diperlukan bila kita ingin mempelajari dan
memahami masalah yang kita baca sampai pada hal-hal yang sangat detail. Beberapa
manfaat membaca, antara lain yaitu: (1) memperoleh banyak pengalaman hidup; (2)
memperoleh pengetahuan umum; (3) mengetahui berbagai peristiwa besar dalam
peradaban dan kebudayaan suatu bangsa; dan (4) dapat mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi mutakhir di dunia Saddhono (2012:66). Menurut Greane
dan Patty sebagaimana dikutip oleh tarigan (1985:37) bahwa tujuan membaca
pemahaman diantaranya: (1) menemukan ide pokok kalimat, paragraf, wacana, (2)
memilih butir-butir penting, (3) menentukan organisasi bacaan, (4) menarik
kesimpulan, (5) menduga makna dan meramalkan dampak-dampak, (6) merangkum
apa yang terjadi, (7) membedakan fakta dan opini, dan (8) memperoleh informasi.
Menurut Farida Rahim(2007: 11) tujuan membaca mencakup (1) kesenangan, (2)
menyempurnakan membaca nyaring, (3) menggunakan strategi tertentu, (4)
memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, (5) mengaitkan informasi baru
dengan informasi yang telah diketahuinya, (6) memperoleh informasi untuk laporan
lisan atau tertulis, (7) mengkonfirmasi atau menolak prediksi, dan (8) menjawab
pertanyaan- pertanyaan spesifik.

5. Faktor yang Mempengaruhi Membaca Pemahaman

Faktor yang mempengaruhi pemahaman membaca karena setiap orang akan


memiliki pendapat atau pemikiran yang berbeda dari satu bacaan yang sama. Faktor
yang mempengaruhi pemahaman membaca adalah isi kurikulum pembelajaran bahasa
indonesia yang belum menyentuh pemahaman bacaan secara mantap, pembelajaran
membaca pada kelas rendah diarahkan pada pengenalan teks (Rahim, 2007), bukan
pemahaman teks. (Rahmawati dkk. 2012) bahwa kemampuan berbahasa meliputi:
menyimak, menulis, membaca dan berbicara. Membaca merupakan salah satu jenis
kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif, karena dengan membaca seseorang
akan memperoleh informasi, ilmu pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman baru.
Just, dkk, (1982) bahwa didalam proses pemahaman bacaan banyak perbedaan-
perbedaan individual yang mempengaruhi cara mereka memproses teks yang
dibacanya. Berdasarkan faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap orang akan
memiliki pendapat atau pemikiran yang berbeda dari satu bacaan yang sama. Arus
informasi berjalan begitu cepat, kesibukan manusia semakin banyak, sehingga waktu
yang tersedia untuk membaca sangat terbatas (Saddhono & Slamet, 2014:98).
Kemampuan membaca pemahaman menurut Farida Rahim (2008: 16) yaitu faktor
fisiologis, intelektual, lingkungan dan psikologis. Faktor fisiologis mencakup
kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, jenis kelamin, dan kelelahan. Gangguan
alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan juga dapat memperlambat
kemajuan belajar anak. Secara umum ada hubungan positif antara kecerdasan dengan
kemampuan membaca. Namun tidak semua siswa yang memiliki intelegensi tinggi
mampu menjadi pembaca yang baik. Faktor lingkungan dapat berupa latar belakang
anak di rumah dan faktor sosial ekonomi.

6. Tingkat Membaca Pemahaman

Tingkat pemahaman membaca seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia bisa
cepat memahami suatu bahan bacaan lebih menekankan pada membaca pemahaman
yang dalam tingkatannya sebagai pemahaman literal yaitu pemahaman terhadap apa
yang disampaikan dan disebutkan penulis di dalam bahan bacaan dapat dikatakan
bahwa pemahaman literal merupakan prasyarat untuk tingkat pemahaman yang lebih
tinggi, yaitu membaca untuk memperoleh detail isi bacaan secara efektif. Pemahaman
ini dimaksudkan untuk memahami isi bacaan seperti yang tertulis pada kata, kalimat,
dan paragraf dalam teks bacaan. Pemahaman literal menuntut kemampuan ingatan
tentang hal-hal tertulis dalam teks. Nurhadi sebagaimana dikutip (Priyatni, 2014: 148)
berpendapat, tingkatan membaca secara sederhana dapat dikelompokan menjadi tiga,
yaitu membaca literal atau tersurat ( reading on the lines ), membaca tersirat (
reading in the lines ), dan membaca tersorot ( reading beyond the lines ). Sedangkan
Alan Davies dan Widdowson (1974: 67-175) yang menyatakan bahwa indikator-
indikator kemampuan membaca pemahaman terdiri atas: (1) acuan langsung yang
dirinci dalam kemampuan memahami makna, kata, istilah, ungkapan;kemampuan
menangkap informasi dalam kalimat, dan kemampuan menjelaskan istilah; (2)
penyimpulan yang dirinci dalam kemampuan menemukan sifat hubungan suatu ide
dan kemampuan menangkap isi bacaan baik tersirat maupun tersurat; (3) dugaan,
yang dirinci dalam kemampuan menduga pesan yang terkandung dalam bacaan dan
kemampuan menghubungan teks dengan situasi komunikasi; (4) penilaian, yang
dirinci dalam kemampuan menilai teks, kemampuan menilai ketepatan organisasi
bacaan, dan kemampuan menilai ketepatan pengungkapan informasi.

7. Penilaian Kemampuan Membaca

Penilaian kemampuan membaca pemahaman dapat diukur dengan tingkat


pemahaman terhadap suatu bahan bacaan secara keseluruhan yang berkaitan dengan
tema, makna yang tersurat maupun tersirat. Nurgiyantoro (2010:376-388), penilaian
hasil membaca pemahaman dapat dilakukan dengan menggunakan tes kompetensi
membaca. Tes kompetensi membaca dibagi dalam dua cara; 1) tes kompetensi
membaca dengan merespon jawaban, dan 2) tes kompetensi dengan mengonstuksi
jawaban. Sedangkan menurut Arikunto (2012:177), tes dibedakan menjadi dua
bentuk yaitu tes subjektif dan tes objektif. Tampubolon (1990;244) dalam Andini
Nunik (2010;24) mengemukakan bahwa pemahaman terhadap bacaan diukur dengan
persentase dari jawaban benar tentang isi bacaan. Maksud dari persentase pemahaman
ini adalah persentase jawaban yang benar dengan pertanyaan yang tersedia.

8. Rendahnya Kemampuan Membaca Pemahaman

Membaca intensif lebih mengedepankan pemahaman daripada keindahan saat


membaca, dibuktikan dalam (Ariningsih dkk. 2012) bahwa membaca intensif juga
diperlukan konsentrasi, kecermatan dan ketekunan.agar mencapai proses berpikir
dalam bentuk rasionalisasi atas apa yang dibaca, dengan menela‘ah, mengkritisi untuk
menghasilkan pengetahuan baru. Penguasaan kosa kata, dan memaknai isi bacaan
yang merupakan proses membaca intensif. Pemahaman isi bacaan dalam membaca
intensif harus tinggi atau kompleks.
Kemampuan membaca pemahaman merupakan salah satu standar kemampuan
yang harus dicapai baik disemua jenjang. Diharapkan dengan membaca pemahaman
mampu memahami teks bacaan dengan kecepatan yang memadai. Namun,
kenyataannya sampai sekarang membaca pemahaman masih sangat memprihatinkan.
Senada dengan pendapat dari Tarigan (2010:136) bahwa kualitas hasil belajar bahasa
Indonesia para siswa sampai saat ini belum memuaskan. Keterampilan berbahasa
mereka belum mantap. Kemampuan membaca pemahamannya masih banyak
menunjukkan kelemahan. Diperkuat dengan pendapat Nurhadi (2011:67-68),
permasalahan membaca pemahaman para siswa disebabkan oleh beberapa faktor,
misalnya 1) penguasaan gramatika bahasa Indonesia yang kurang; 2) sikap siswa
terhadap bahasa Indonesia yang masih negatif; 3) kurangnya kemandirian belajar
siswa; 4) rendahnya penguasaan struktur kalimat; 5) ketidak-mampuan guru dalam
memilih dan menerapkan pendekatan yang tepat; 6) penekanan bahan pelajaran yang
terlalu teoretis; 7) kurangnya kegiatan praktis dalam rangka membina dan
meningkatkan kemampuan membaca siswa; 8) tidak cukupnya kesempatan siswa
untuk berlatih berkomunikasi secara tulis; 9) sistem penilaian yang kurang tepat; 10)
ketersediaan waktu yang kurang memadai dapat membuat proses pengajaran
membaca tidak berjalan dengan baik dan sebagainya.

9. Tahapan Membaca Pemahaman


Adanya kemampuan membaca pemahaman yang tinggi diharapkan dapat
menangkap ide-ide pokok yang terdapat dalam bahan bacaan, menemukan hubungan
suatu ide pokok dengan ide pokok yang lain serta secara keseluruhannya, selanjutnya
dapat menghubungkan apa yang dipahami dari bahan bacaan tersebut dengan ide-ide
diluar bahan bacaan. (Darmuki dkk. 2015) yang menyatakan bahwa membaca buku
referensi akan membantu para pembaca untuk meningkatkan keterampilan berbahasa.
Kegiatan membaca pemahaman terjadi apabila terdapat ikatan yang aktif
antara daya pikir dan kemampuan yang diperoleh pembaca melalui pengalaman
membaca mereka. Tahapan membaca hakikatnya terdiri atas lima tahapan yaitu: 1)
mengidentifikasi penyataan tesis dalam kalimat topik, 2) mengidentifikasi kata-kata
dan frasa-frasa kunci, 3) mencari kosakata baru, 4) mengenali dan memahami
organisasi tulisan, dan 5) mengidentifikasikan teknik pengembangan paragraf
(Ramlan, 2011:41-42). Menurut Saddhono dan Slamet (2014:121) jenis membaca
yang perlu dikuasai dalam dunia ilmu pengetahuan dan kesusastraan cukup banyak.
Jenis-jenis membaca yang dimaksud yaitu (1) membaca intensif, (2) membaca kritis,
(3) membaca cepat, (4) membaca apresiatif, (5) membaca teknik. Berkaitan dengan
tahapan membaca Goodman dalam Effendi (201:126) menyatakan bahwa kegiatan
membaca pada dasarnya merupakan suatu permainan tebak-tebakan psikolinguistik (“
a psycholinguistic guessing game”) yang terdiri dari tahap-tahap tertentu. Artinya,
dalam proses penguraian sandi atau pemberian makna suatu teks tertulis, pembaca
harus melalui tahap-tahap tertentu secara berurutan.
10. Proses Membaca Pemahaman

Proses membaca pemahaman menerjemahkan simbol atau bahasa tulisan


sehingga memahami maksud dari bacaan tersebut. Somadayo (2011:14) menjelaskan
bahwa proses membaca dapat di klasifikasikan sebagai berikut: 1) membaca sebagai
proses psikologis, artinya kesiapan dalam kemampuan membaca seseorang itu
dipengaruhi serta berkaitan dengan faktor-faktor yang bersifat psikis, seperti motivasi
minat, latar belakang sosial ekonomi serta tingkat perkembangan dirinya seperti
intelegensi dan usia mental; 2) membaca sebagai proses sesoris, artinya proses
membaca seseorang dimulai dari melihat, atau meraba, proses ini melalui indera
penglihatan, mata, maupun telingan sebagai indera pendengar, dan 3) membaca
sebagai suatu proses peseptual artinya proses ini mengandung stimulus sosial makna
dan interpetasi berdasarkan pengalaman tentang stimulus respon yang
menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang. Diperkuat dengan pendapat
Burns dkk (dalam Rahim, 2011: 12), proses membaca terdiri dari sembilan aspek,
yaitu sensori, peseptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap,
dan gagasan. Saddhono (2014:126), menyatakan bahwa membaca yang baik adalah
membaca dengan: 1). Sikap mental dan sikap nalar yang baik, perwujudan ketentuan
ini adalah membaca dengan (a) penuh konsentrasi dengan kesungguhan, (b) pikiran
aktif mencerna, (c) perasaan aktif menghayati, 2). Sikap fisik yang baik dengan jarak
antara mata dengan kertas kurang lebih 30 cm, membentuk sudut 30 sampai 45 derajat
arah kebawah. Membaca di tempat yang terang lebih baik dibandingan di tempat yang
remang-remang, posisi membaca juga harus tegak. 3). Bahan yang baik yakni bahan
yang memberi makna kepada kehidupan, misalnya menyebabkan bertambahnya ilmu
dan kepandaian, 4). Bahan yang banyak beraneka ragam selain melaksanakan
membaca intensif kita perlu sekali membaca ekstensif. Contohnya membaca buku-
buku bahasa, buku-buku ilmu sastra serta kumpulan puisi, cerpen, dan novel, 5). Jenis
yang sesuai dengan tujuan dan kepentingan pembaca.
Referensi

Agustawan, Oka , Ida Bagus Sutresna, and Yasa. "Penggunaan Teknik Mind Mapping untuk
Meningktakan Kemampuan Siswa dalam Menentukan Fakta dan Opini pada Tajuk
Rencaa Bali Post di Kelas XI IPA 2." Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia 2 (2014): 1-12.https://doi.org/10.23887/jppsh.v2i2.15971
Ahmad, and Alex. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi: Substansi Kajian dan
Penerapannya. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2016.
Ahmad, F. Z. (2013). Penerapan Strategi PQ4R Untuk Meningkatkan Keterampilan
Pemahaman Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah
Dasar, 1(2), 1-8.
Ampuni, S. (2004). Proses Kognitif dalam pemahaman bacaan. Buletin Psikologi, 6(2).

Asna, M., Halidjah, S., & Utami, S. Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Menggunakan
Metode Demonstrasi di Kelas III Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran,
7(9).

Ariningsih, N. E., Sumarwati, & Saddhono, K. (2012). Analisis Kesalahan Berbahasa


Indonesia Siswa Sekolah Menengah Atas. Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia
Dan Pengajarannya, 1(1), 40–53.

Artu, N. (2016). Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas IV


SDN Pembina Liang Melalui Penerapan Strategi Survey Questions Reading Recite
Review (SQ3R). Jurnal Kreatif Tadulako, 2(2).Vol 2, No 2

Aulia, R. (2012). Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman pada Anak. Tunarungu.


Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus, 1.

Austin, C. R., Vaughn, S., & Mcclelland, A. M. (2017). Intensive Reading Interventions for
Inadequate Responders in Grades K – 3: A Synthesis.
https://doi.org/10.1177/0731948717714446
Basuki, I. A. B. (2011). Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD berdasarkan
tes internasional dan tes lokal. Bahasa dan Seni, 39(2).

Darmuki, A., Nurkamto, J., & Saddhono, K. (2015). Model Student Learning To Speak For
Education Study Language And Literature Indonesia : Document Analysis And Needs
Learning To Speak. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 2(1), 99–109.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.20961/pras.v0i0.1452

Dhora, T., Yulistio, D., & Susetyo, S. (2013). Peningkatan kemampuan membaca
pemahaman siswa dengan menggunakan metode SQ3R (Survey, Question, Read,
Recite, Review) di kelas VIII SMPN 16 Kota Bengkulu (Doctoral dissertation,
Universitas Bengkulu).

Djojosuroto, K. (2006). Prinsip-prinsip Membaca Pemahaman. Kajian Linguistik dan Sastra,


18(1), 67-78.

Fahrudin, M. (2009). Hubungan Antara Kemampuan Membaca Pemahaman dan Sikap


Bahasa Dengan Kemampuan Mengapresiasi Cerita Pendek (Sebuah Survei di
Sekolah Dasar Negeri Se–Gugus Yudistira Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri)
(Doctoral dissertation, Universitas Sebelas Maret).
Guntari, G., & Bukhari, B. (2017). Kontribusi Perpustakaan Sekolah terhadap Kemampuan
Membaca Pemahaman Siswa Kelas V SD Negeri 5 Banda Aceh. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2(1).

Harjasusana , A. , and Vismaia Damaianti. Membaca dalam Teori dan Praktik. Bandung:
Penerbit Mutiara, 2013.

Harsono, A. S. R., Fuady, A., & Saddhono, K. (2012). Pengaruh Strategi Know Want To
Learn (Kwl) Dan Minat Membaca Terhadap Kemampuan Membaca Intensif Siswa
Smp Negeri Di Temanggung. 1(1), 53-64. https://doi.org/10.12973/iji.2018.1129a

Imtihan, H. (2013). Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Menggunakan Media


Cerita Pendek Pada Siswa Kelas III SDN 2 Sandik Tahun Pelajaran 2013/2014
(Doctoral dissertation, Universitas Mataram).

Jana, N. (2015). Hubungan antara Skemata dan Penguasaan Kosakata dengan Kemampuan
Membaca Pemahaman. Dialektika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra, dan
Matematika, 1(1), 32-41.

Kamalasari, V. (2012). Latihan Membaca Cepat Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan


Membaca Cepat Dan Pemahaman Bacaan. Basastra, 1(1).

Khuzaimatun, S. (2009). Upaya meningkatkan kemampuan membaca pemahaman dengan


metode SQ3R pada siswa kelas X. 3 SMA Negeri 1 Sumberlawang (Doctoral
dissertation, Universitas Sebelas Maret).
Kaya, M. F. (2019). Skills and Enriching Activities : Digital Stories and Games 1, 12(1),
555–572.https://doi.org/10.29333/iji.2019.12136a
Kurniawati, R. (2013). Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas XI SMA di
Surabaya. Bapala, 1(1).
Miciak, J., Roberts, G., Taylor, W. P., Ahmed, Y., Vaughn, S., & Fletcher, J. M. (2017). The
Effects of One versus Two Years of Intensive Reading Intervention Implemented with
Late Elementary Struggling Readers, 33(1), 24–36. https://doi.org/10.1111/ldrp.12159

Ngalimun, and Noor Alfulaila. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia.


Yogyakarta: Aswaja Press Indo, 2014.
Oka , Gusti Ngurah. Pengantar Membaca dan Pengajarannya. Surabaya: Usaha Nasional,
1983.

Rahmawati, L. E., Suwandi, S., Saddhono, K., & Setiawan, B. (2012). Urgensi Literasi
Komunikasi Dalam Pengembangan Tes Kompetensi Berbahasa Indonesia Untuk
Mahasiswa Asing. Pendidikan Bahasa Indonesia, 2(1), 901–906.

Ria Silvita Tanum and Cucu Sutarsyah and Hartati Hasan. The Effectiveness Of Using
Scrambled Pictures In Increasing Students’ Reading Ability
Roberts, G., Denton, C. A., Fletcher, J. M., & Vaughn, S. (2015). The Impact of Intensive
Reading Intervention on Level of Attention in Middle School Students, 44(6), 942–
953. https://doi.org/10.1080/15374416.2014.913251

Saddhono, K., and St. Y Slamet. Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Indonesia.


Bandung: Karya Putra Darwati, 2012.

Saddhono, K., Slamet. (2014). Pembelajaran Keterampilan Bahasa Indonesia: Teori dan
Aplikasi Edisi 2. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Setyaningrum, L. W., Andayani, & Saddhono, K. (2018). Pembelajaran Afiks Bahasa


Indonesia Bagi Penutur Asing. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(2),
49–61. https://doi.org/https://doi.org/10.21831/amp.v6i1.8066

Tarigan, Hendry Guntur. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:


Penerbit Angkasa Bandung, 2008.
Vaughn, S., Roberts, G., Capin, P., Miciak, J., Cho, E., & Fletcher, J. M. (2019). How
Initial Word Reading and Language Skills Affect Reading Comprehension
Outcomes for Students With Reading Difficulties.
https://doi.org/10.1177/0014402918782618

Yuniyanti, E. D., & Sunarno, W. (2012). Pembelajaran Kimia Menggunakan Inkuiri


Terbimbing Dengan Media Modul dan E-Learning di Tinjau Dari Kemampuan
Membaca Pemahaman dan Kemampuan Berpikir. Universitas Sebelas Maret, 1(2),
112-120.