Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS KASUS PERILAKU TERCELA

Juanita/XI-IPA-A

1. Durhaka terhadap Orang Tua


Empat orang anak berinisial AS, DR, AR, dan AK menggugat ibu kandungnya yang
bernama Cicih (78) sebesar Rp 1,6 miliar ke Pengadilan Negeri Bandung karena masalah harta
warisan. Awal mula gugatan tersebut terjadi saat Cicih menjual sebagian tanah warisan dari
almarhum suaminya, Udin. Cicih terpaksa menjual tanahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari akibat utang yang menjerat hasil meminjam kepada tetangganya. Cicih tidak memiliki
penghasilan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari setelah Udin meninggal. Cicih pun terpaksa
berhutang kepada tetangga untuk hidup sehari-hari. Sementara empat orang anaknya seperti
kurang peduli terhadap Cicih bahkan jarang menengoknya. Saat keempat anaknya tahu bahwa
tanah telah dijual Cicih, mereka tak setuju. Cicih dianggap telah menjual tanah tanpa
sepengetahuan mereka sehingga kasus tersebut pun dibawa ke meja hijau.

Kasus di atas merupakan contoh kasus yang menunjukkan perilaku durhaka terhadap orang
tua atau uququl walidain. Alasan mereka dianggap durhaka terhadap orang tua adalah karena
mereka mengetahui bahwa ibu mereka sedang berada dalam kesusahan, tetapi tidak memberi
bantuan apapun. Setelah itu, saat ibunya terpaksa menjual tanah, mereka menuntut ibu mereka
padahal beliau melakukan hal tersebut untuk melunasi hutang-hutang. Mereka juga dikatakan
jarang mengunjungi orang tua, menunjukkan bahwa mereka tidak peduli kondisi orang yang
melahirkan mereka semua.
Menurut saya, keempat anak tersebut melakukan sebuah dosa yang sangat besar. Kedua
orang tua merupakan orang-orang yang memiliki banyak jasa karena kerja keras mereka atas
melahirkan, memberi makan, mendidik, dan mengurus anak-anak mereka. Kita semua sebagai
manusia yang memiliki orang tua sebaiknya menghargai seluruh usaha mereka dalam
membesarkan kita dengan mengurus mereka saat mereka sudah tidak mampu bekerja, bukan
menggugat mereka saat mereka sedang dalam keadaan susah.
2. Bersaksi Palsu dan Melanggar Hak Asasi Manusia
Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut agar terdakwa pemberian
keterangan palsu Miryam S Handayani dihukum delapan tahun penjara. Mantan politisi Partai
Hanura itu dianggap dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar saat bersaksi di
pengadilan kasus korupsi proyek pengadaan KTP elektronik. Terdapat beberapa pertimbangan
jaksa yang menilai Miryam merekayasa seluruh keterangannya dalam persidangan. Pertama, tidak
benar Miryam ditekan oleh penyidik. Menurut keterangan tiga penyidik KPK, yakni Ambarita
Damanik, Novel Baswedan dan MI Susanto, Miryam selalu diberikan kesempatan membaca,
memeriksa dan mengoreksi berita acara pemeriksaan (BAP) sebelum ditandatangani. Ahli hukum
pidana dan ahli psikologi forensik yang melakukan observasi dan memberikan keterangan di
persidangan meyakini bahwa tidak ada penekanan yang dilakukan penyidik terhadap Miryam. Hal
lainnya yang menegaskan Miryam berbohong di pengadilan adalah, perbandingan keterangan dia
dengan saksi-saksi lainnya. Miryam mengatakan, sebenarnya tidak pernah ada pembagian uang ke
sejumlah anggota DPR RI periode 2009-2014, sebagaimana yang dia beberkan sebelumnya kepada
penyidik. Namun, saksi-saksi lain justru memberikan keterangan yang sama dengan yang
dijelaskan Miryam dalam BAP.

Perilaku tercela yang dilakukan Miryam S Handayani adalah bersaksi palsu. Ia merekayasa
banyak hal agar ia tidak dijerat hukuman berat, tetapi terbukti bahwa hal-hal yang ia katakan tidak
pernah terjadi. Karena itu, hukuman yang ia dapatkan malah menjadi lebih berat. Miryam juga
melanggar hak asasi manusia karena melakukan korupsi dengan terbuktinya ia menerima uang
dalam kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP).
Sudah tidak diragukan lagi bahwa Miryam S Handayani melakukan dosa besar. Tak hanya
menerima uang korupsi, ia juga memberi keterangan palsu kepada juri dengan harapan ia bisa lari
dari perbuatan buruknya. Untungnya, juri dapat membuktikan bahwa hal-hal tersebut adalah palsu
dan menghukumnya.

3. Perampokan, Pembunuhan, dan Melanggar Hak Asasi Manusia


Empat pelaku perampokan dan pembunuhan dengan korban seorang guru SMP di Serdang
Bedagai, Sumatera Utara, ditangkap aparat kepolisian. Dari para pelaku, polisi menyita sejumlah
barang bukti di antaranya pisau, sepeda motor, telepon genggam, dan uang tunai hasil kejahatan.
Keempatnya ditangkap karena diduga melakukan perampokan dan pembunuhan dengan korban
seorang guru SMP berusia 38 tahun di Dolok Masihul, Serdang Bedagai. Dalam pemeriksaan pada
hari Selasa, 10 April kemarin, pelaku mengaku tidak berencana membunuh korban. Pembunuhan
terjadi lantaran korban yang tinggal seorang diri terbangun saat pelaku melakukan aksi
kejahatannya pada tanggal 1 April sebelumnya. Oleh pelaku, korban ditusuk di bagian leher
dengan sebilah pisau.

Pembunuhan dan perampokan merupakan jenis perilaku tercela yang dilakukan keempat
orang tersebut. Mereka juga melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena telah
menghilangkan nyawa dan merampas hak sang guru untuk hidup.
Walaupun mereka tidak berencana membunuh korban, membunuh tetaplah perilaku keji.
Karena perbuatan mereka, sang guru telah hilang haknya atas segala hal, termasuk hak untuk
hidup. Mereka pantas mendapatkan hukuman yang sangat berat atas semua kejahatan yang mereka
lakukan.