Anda di halaman 1dari 6

Sigit Sugiyanto

1806169332
Hukum Etika dan Kesehatan : Tugas Analisa Kasus Hukum dengan FIRAC
KARS 2018

Judul Kasus :

Makassar (ANTARA News) - Bayi perempuan yang lahir tanpa batok kepala terpaksa dibawa
pulang oleh kedua orang tuanya, Jumat, karena ditolak oleh rumah sakit rujukan RS Wahidin
Makassar. Bayi itu lahir di Puskesmas Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar pada
hari Rabu 22 Agustus sekitar pukul 19.00 Wita dari pasangan Subaedah (istri 20) dan Akbar
Hasan (suami 25). Bayi pertama perempuan dan merupakan anak keempat pasangan suami itri
itu belum sempat mendapat pelayanan khusus karena RS Wahidin yang menjadi rujukan tidak
menerima bayi tersebut. Alasannya, kedua orang tua bayi itu tidak memiliki kartu Bantuan
Tunai Langsung (BTL). Sampai hari Jumat (24/8) pukul 16.00 Wita bayi malang itu masih
dapat bertahan hidup. Dokter Emilia Handayani, kahumas RS Wahidin mengatakan pihak
rumah sakit harus mengikuti prosedur penerimaan pasien yang tidak mampu. "Setiap pasien
tidak mampu harus menyertakan kartu BTL dan bukan sekadar keterangan miskin dari
kelurahan atau camat. Banyak orang yang mampu tetapi berpura-pura miskin dan memiliki
kartu BTL," katanya. Selain itu, katanya, sudah ada instruksi dari pemerintah untuk
menghentikan bantuan pelayanan untuk keluarga miskin sejak Juni 2007, karena tunggakan
pemerintah untuk membiayai pelayanan kesehatan di RS Wahidin sudah di atas Rp10 miliar.

"Sampai saat ini, RS Wahidin belum mendapat bayaran, jadi bagaimana kami bisa melayani
lagi, sementara biaya operasional sangat terbatas," katanya.

Dia menambahkan, pihak rumah sakit sebelumnya tidak menolak pasien dari keluarga miskin
sepanjang memiliki kartu BTL dan bukti-bukti pendukung bahwa pasien berasal dari keluarga
tidak mampu.

Subaedah (ibu bayi itu) mengatakan sangat terkejut ketika mengetahui anak perempuan yang
selama ini diharapkannya memiliki kelainan.

Proses persalinan yang dibantu bidan Reni itu, kata Subaedah, berjalan tidak seperti persalinan
ketiga anak laki-lakinya sebelumnya.

"Sebelum bayi saya keluar, sekitar satu ember air bercampur lendir keluar dari mulut rahim.
Setelah itu keluar barulah bayi saya keluar dengan normal," ujar Subaedah dengan raut wajah
sedih.
Sigit Sugiyanto
1806169332
Hukum Etika dan Kesehatan : Tugas Analisa Kasus Hukum dengan FIRAC
KARS 2018

Lanjutan Kasus :
Bayi perempuan yang lahir tanpa batok kepala, akhirnya menghembuskan nafas terakhir Jumat
sore saat bayi tersebut hendak dirujuk ke Rumah Sakit Labuangbaji karena ditolak di RS
rujukan Wahiddin Sudirohusodo, Makassar. Anak ke empat pasangan Subaedah (20) dan
Akbar Hasan (25) itu meninggal dunia dalam perjalan menuju rumah sakit Labuangbaji setelah
bertahan hidup selama dua hari. "Kami hanya pasrah saja, mungkin ini kehendak yang di atas,"
ujar Akbar yang setiap harinya berprofesi sebagai pengayuh becak itu.

Jenazah bayi yang lahir dengan berat badan 2,8 kg dan panjang 48 cm di Puskesmas
Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar itu langsung dikebumikan di pekuburan
umum Kabupaten Maros, Sulsel Jumat malam sekitar pukul 19.00 Wita.

Bayi tanpa batok kepala itu semula dirujuk ke RS Wahidin, sebuah rumah sakit negeri terbesar
di Kawasan Timur Indonesia, namun pihak RS menolak merawat bayi itu karena orangtuanya
tidak dapat menunjukkan karta tanda bukti penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) keluarga
miskin. Dr Emilia Handayani, Kahumas RS Wahidin mengatakan, pihak rumah sakit harus
mengikuti prosedur penerimaan pasien yang tidak mampu.

"Setiap pasien tidak mampu harus menyertakan kartu BLT dan bukan sekedar keterangan
miskin dari kelurahan atau camat, karena banyak orang yang mampu tetapi berpura-pura
miskin dan untuk membuktikannya, harus ada kartu BLT," ujarnya.

Selain itu, katanya, sudah ada instruksi dari pemerintah untuk menghentikan pelayanan untuk
keluarga miskin sejak bulan Juni 2007 karena tunggakan pemerintah untuk membiayai
pelayanan kesehatan di RS Wahidin sudah di atas Rp10 miliar.

"Sampai saat ini, RS Wahidin belum mendapat bayaran, jadi bagaimana kami bisa melayani
lagi, sementara biaya operasional sangat terbatas," katanya. Dia menambahkan, pihak rumah
sakit sebelumnya tidak menolak pasien dari keluarga miskin sepanjang memiliki kartu BLT
dan bukti-bukti pendukung bahwa pasien berasal dari keluarga tidak mampu. Akbar, ayah bayi
itu mengatakan, kendati tidak memiliki kartu BLT, dirinya sudah mengikhlaskan kepergian
anak pertama perempuannya itu. "Kita sudah berusaha namun Tuhanlah yang menentukan
semuanya.
Sigit Sugiyanto
1806169332
Hukum Etika dan Kesehatan : Tugas Analisa Kasus Hukum dengan FIRAC
KARS 2018

PEMBAHASAN

1. FACTS
a. Pelaku : RS W di Kota Makasar
b. Korban : Pasangan Suami Istri ( Ny. S dan Tn. AH )
c. Permasalahan :
Penolakan Rujukan pasien dari fasilitas tingkat pertama ke fasilitas Kesehatan
Lanjutan ,dimana bayi yang lahir tanpa batok kepala di Puskesmas dirujuk ke
sebuah RS besar dikota Makasar ditolak untuk dilakukan perawatan lebih lanjut
dengan alasan keluarga pasien tidak memiliki bukti kelengkapan administrasi
jaminan kesehatan daerah (kartu Bantuan Tunai Langsung).
d. Akibat : Anak bayi dari pasangan Suami Istri ( Tn. AH dan Ny. S) meninggal
dunia.
e. Cara melakukan tindakan :
RS W tidak mau melakukan perawatan terhadap bayi Tn, AH dan Ny. S
dikarenakan kelengkapan administrasi yang tidak dimiliki oleh keluarga pasien.
Kelengkapan administrasi berupa kartu peserta Bantuan Tunai Langsung tersebut
dibutuhkan di awal saat akan mendapatkan perawata di RS W sebagai bukti
adanya penjaminan tersebut.
f. Argumentas Kedua Pihak :
• RS : Pihak rumah sakit harus mengikuti prosedur penerimaan
pasien yang tidak mampu. "Setiap pasien tidak mampu harus menyertakan
kartu BTL dan bukan sekadar keterangan miskin dari kelurahan atau camat.
Banyak orang yang mampu tetapi berpura-pura miskin dan memiliki kartu
BTL," katanya. Selain itu, katanya, sudah ada instruksi dari pemerintah untuk
menghentikan bantuan pelayanan untuk keluarga miskin sejak Juni 2007,
karena tunggakan pemerintah untuk membiayai pelayanan kesehatan di RS
Wahidin sudah di atas Rp10 miliar.
• Keluarga pasien : Pihak keluarga pasrah, namun saat terjadinya penolakan
oleh RS W, keluarga membawa anaknya ke RS L, namun pasien tidak tertolong
sehingga meninggal dunia.

2. ISSUES
Permasalahan Etika Hukum yang terkait pada kasus ini adalah :
a. Apakah sebuah RS Negri terbesar di daerah tersebut dibenarkan menolak
merawat pasien hanya karena Jaminan ?
b. Apakah tidak ada penanganan kegawatdaruratan terlebih dahulu yang dapat
dilakukan oleh petugas medis di RS Tersebut ?
c. Apakah ada kelalaian dari Petugas Medis yang ada saat itu dalam melakukan
Standar Pelayanan Medis yang ada ?
Sigit Sugiyanto
1806169332
Hukum Etika dan Kesehatan : Tugas Analisa Kasus Hukum dengan FIRAC
KARS 2018

3. RULES
a. UUD 1945, Pasal 28 H ayat 1 : Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan”
b. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen keempat menyebutkan
bahwa : “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan
fasilitas pelayanan umum yang layak
c. UU no. 44 tahun 2009 : Tentang Rumah Sakit
• Pasal 29 Point 1. b : memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai
dengan standar pelayanan Rumah Sakit;
• Pasal 29 point 1. c : memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai
dengan kemampuan pelayanannya;
• Pasal 29 Point 1. f : melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan
fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa
uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa,
atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan;
d. Undang-undang Kesehatan no 23 tahun 1992 yang telah dirubah menjadi UU no.36
tahun 2009 tentang kesehatan yang berisikan :
• pasal 2 : Pembangunan kesehatan diselenggarakan berasaskan perikemanusiaan
yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, manfaat, usaha bersama dan
kekeluargaan, adil dan merata, perikehidupan dalam keseimbangan, serta
kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri
• Pasal 4 : setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat
kesehatan yang optimal
• Pasal 7 pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan terjangkau
oleh masyarakat.
• Pasal 32 ayat 1 : Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik
pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi
penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.
• Pasal 32 Ayat 2 : Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik
pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang
muka.
• Pasal 57 : sarana kesehatan dalam penyelenggaraan kegiatan tetap
memperhatikan fungsi sosial.
e. Peraturan Menteri kesehatan RI Nomor 159b/menkes/Per/II/1988 Tentang Rumah
Sakit:
Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan
pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan
penelitian
Sigit Sugiyanto
1806169332
Hukum Etika dan Kesehatan : Tugas Analisa Kasus Hukum dengan FIRAC
KARS 2018

4. ANALISA
a. UUD 1945, Pasal 28 H ayat 1 : Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta
berhak memperoleh pelayanan kesehatan
 Setiap orang berhak dan wajib mendapat kesehatan dalam derajat yang optimal,
itu sebabnya peningkatan derajat kesehatan harus terus menerus diupayakan untuk
memenuhi hidup sehat. Dokter, pasien dan rumah sakit adalah tiga subyek hukum
dalam bidang kesehatan. Ketiganya membentuk hubungan hukum,yang subyeknya
adalah pemeliharaan kesehatan pada umumnya dan pelayanan kesehatan pada
khususnya. Rumah sakit adalah sarana utama pelayanankesehatan yangmerupakan
mata rantai rujukan pelayanan kesehatan.
 Hak atas kesehatan mempunyai ruang yang luas,yang tidak dapat hanya
menyangkut masalah individu an sich, tetapi meliputi semua faktor yang memberi
kontribusi terhadap hidup yang sehat (healthy life) terhadap individu, seperti
masalah lingkungan, nutrisi, perumahan, dan lain-lain. Sementara hak atas kesehatan
dan hak atas pelayanan dokter yang merupakan hak-hak pasien adalah bagian yang
lebih spesifik dari hak atas kesehatan.
 Di zaman sekarang ini, banyak pasien dari kalangan yang kurang mampu yang
tidak mendapat pelayanan kesehatan dari rumah sakit. Bahkan tidak sedikit pula
pasien miskin meninggal karena kesalahan (kealpaan) Pasal 359 KUHP (Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana).. Pihak rumah sakit yang tidak memberikan
pertolongan terhadap pasien tersebut, dengan alasan bahwa pihak pasien tidak dapat
memenuhi pembayaran biaya administrasi. rumah sakit sebagai organ yang semula
didirikan berdasarkan tujuan sosial, kemanusiaan, dan mendahulukan fungsi
sosialnya. Oleh karena itu rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap
semua kerugian yang ditimbulkan atas kesalahan (kealpaan) yang dilakukan oleh
penyedia jasa kesehatan rumah sakit.

b. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen keempat menyebutkan


bahwa : “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan
dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
 Penjelasan Pasal tersebut diartikan bahwa perintah konstitusi untuk menjamin
setiap warga negara mendapat pelayanan kesehatan dan fasilitas umum, termasuk
orang yang tidak mampu, untuk mendapatkan akses terhadap keadilan agar hak-hak
mereka atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama dihadapan hukum dapat diwujudkan dengan baik
Sigit Sugiyanto
1806169332
Hukum Etika dan Kesehatan : Tugas Analisa Kasus Hukum dengan FIRAC
KARS 2018

c. UUno.36 tahun 2009 tentang kesehatan


Berdasarkan Pasal-Pasal yang disebutkan di atas, dapat dilihat bahwa Rumah Sakit
memiliki kewajiban kepada pasien dan pasien memiliki hak yang dapat diterima
dari pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien di Rumah Sakit serta
Rumah Sakit dilarang menolak dan meminta uang muka kepada pasien yang
sedang dalam keadaan gawat darurat melainkan harus memberikan penangan
kesehatan terlebih dahulu.

d. UU No. 44 tentang Rumah Sakit

5. CONCLUSION
a. Dari kasus itu seharusnya RS W tetap menerima pasien bayi ditinjau dari segi
etika dan hukum bukan menolak pasien lantaran tidak mempunyai biaya
berobat. Padahal RS W merupakan salah satu rumah sakit negeri (milik
pemerintah). Sehingga soal pembiayaan dana seharusnya menjadi tanggung
jawab pemerintah bukan RS W sesuai dengan pasal 7 UU Kesehatan no 36
tahun2009.
b. adanya program yang dibuat oleh pemerintah tentang sistem jaminan sosial
nasional ini bertujuan untuk memberikan kepastian perlindungan dan
kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat.
c. Berdasarkan Analisa diatas,terbukti bahwa RS W melakukan kesalahan, namun
pihak keluarga pasien hanya pasrah menerima keadaan dengan kondisi bayinya
yang tidak sempurna karena merupakan takdir.