Anda di halaman 1dari 6

1.

Karakteristik Responden Penelitian

a. Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan Terakhir

Tabel 1
Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan Terakhir

No Pekerjaan Frequensi (n) Presentase (%)


1 Pedagang 3 33,3
2 Petani 6 66,7
Total 9 100,0

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai

pekerjaan terakhir sebagai petani, yaitu sebanyak 6 orang (66,7%).

b. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 2
Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frequensi (n) Presentase (%)


1 Perempuan 9 100,0
2 Laki - Laki 0 0.0
Total 9 100,0

Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa semua responden berjenis kelamin

perempuan, yaitu sebanyak 9 orang (100,0%).

c. Karakteristik Responden berdasarkan Usia

Tabel 3
Karakteristik Responden berdasarkan Usia

Variabel Mean Mode Median SD Minimal-Maksimal

Usia 64,56 60 65,00 4,003 60-70

Berdasarkan tabel 3 di atas, rata-rata usia responden adalah 64,56 tahun, dengan standar

deviasi 4,003 tahun. Usia termuda adalah 60 tahun dan usia tertua adalah 70 tahun.
Adapun usia yang paling sering muncul adalah 60 tahun, dengan nilai tengah yaitu 65

tahun.

2. Hasil pengamatan terhadap subjek penelitian sesuai dengan variabel penelitian

a. Tekanan Darah Sistole Sebelum Perlakuan

Tabel 4
Tekanan Darah Sistole Sebelum Perlakuan

Variabel Mean Mode Median SD Minimal-Maksimal

Sistole-Pre 176,56 169 175,00 8,502 166-193

Berdasarkan tabel 4, dapat diketahui bahwa rata-rata tekanan darah sistole sebelum

diberikan perlakuan adalah 176,56 mmHg, dengan standar deviasi 8,502 mmHg.

Tekanan darah terendah adalah 166 mmHg dan tekanan darah tertinggi adalah 193

mmHg. Adapun tekanan darah yang paling sering muncul adalah 169 mmHg, dengan

nilai tengah yaitu 175,00 mmHg.

b. Tekanan Darah Sistole Setelah Perlakuan

Tabel 5
Tekanan Darah Sistole Setelah Perlakuan

Variabel Mean Mode Median SD Minimal-Maksimal

Sistole-Post 160,78 146a 163,00 11,032 146-179

Berdasarkan tabel 5, dapat diketahui bahwa rata-rata tekanan darah sistole setelah

diberikan perlakuan adalah 160,78 mmHg, dengan standar deviasi 11,032 mmHg.

Tekanan darah terendah adalah 146 mmHg dan tekanan darah tertinggi adalah 179

mmHg, serta nilai tengahnya adalah 163,00 mmHg.


c. Tekanan Darah Diastole Sebelum Perlakuan

Tabel 6
Tekanan Darah Diastole Sebelum Perlakuan

Variabel Mean Mode Median SD Minimal-Maksimal

Diastole-Pre 91,00 81a 92,00 5,477 81-100

Berdasarkan tabel 6, dapat diketahui bahwa rata-rata tekanan darah diastole sebelum

diberikan perlakuan adalah 91,00 mmHg, dengan standar deviasi 5,477 mmHg. Tekanan

darah terendah adalah 81 mmHg dan tekanan darah tertinggi adalah 100 mmHg, serta

nilai tengahnya yaitu 92,00 mmHg.

d. Tekanan Darah Diastole Setelah Perlakuan

Tabel 7
Tekanan Darah Diastole Setelah Perlakuan

Variabel Mean Mode Median SD Minimal-Maksimal

Diastole-Post 85,00 79a 85,00 5,000 79-94

Berdasarkan tabel 7, dapat diketahui bahwa rata-rata tekanan darah sistole setelah

diberikan perlakuan adalah 85,00 mmHg, dengan standar deviasi 5,0 mmHg. Tekanan

darah terendah adalah 79 mmHg dan tekanan darah tertinggi adalah 94 mmHg, serta

nilai tengahnya adalah 85,00 mmHg.

3. Hasil Analisa Data Pengaruh Senam Lansia terhadap Tekanan Darah

Sebelum dilakukan analisis data, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data sebagai syarat

uji parametrik. Adapun uji normalitas yang digunakan adalah dengan membagi nilai

skewness dengan standar errornya. Nilai skewness tekanan darah sistole sebelum dilakukan
perlakuan sebesar 0,737 dan standar error sebesar 0,717, sehingga hasil bagi skewness

dengan standar errornya sebesar 1,028. Nilai skewness tekanan darah sistole setelah

dilakukan perlakuan sebesar 0,184 dan standar error sebesar 0,717, sehingga hasil bagi

skewness dengan standar errornya sebesar 0,257. Nilai skewness tekanan darah diastole

sebelum dilakukan perlakuan sebesar -0,264 dan standar error sebesar 0,717, sehingga hasil

bagi skewness dengan standar errornya sebesar -0,368. Nilai skewness tekanan darah diastole

setelah dilakukan perlakuan sebesar 0,440 dan standar error sebesar 0,717, sehingga hasil

bagi skewness dengan standar errornya sebesar 0,613. Seluruh hasil bagi nilai skewness

dengan standar error menghasilkan nilai ≤ 2 atau ≥ -2 yang berarti semua data berdistribusi

normal. Setelah diketahui data berdistribusi normal, maka uji hipotesis yang digunakan

adalah statistik parametrik yaitu uji paired t-test pada masing-masing kelompok data

a. Pengaruh Senam Lansia terhadap Tekanan Darah Sistole

Hasil uji paired t-test untuk tekanan darah sistole sebelum dan setelah diberikan

perlakuan disajikan dalam tabel 8

Tabel 8
Distribusi Rata-Rata Tekanan Darah Sistole

Variabel Mean SD p value


Tekanan darah
Sebelum 176,56 8,502
0,000
Setelah 160,78 11,032

Tabel 8 di atas menunjukkan uji statistik untuk tekanan darah sistole mempunyai nilai p

value sebesar 0,000 (p value < 0,05), menunjukkan bahwa Ho ditolak, sehingga dapat

disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistole sebelum dan
setelah diberikan perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan tekanan

darah systole yang bermakna dari rata-rata 176,56 mmHg menjadi 160,78 mmHg setelah

diberikan perlakuan.

b. Pengaruh Senam Lansia terhadap Tekanan Darah Diastole

Hasil uji paired t-test untuk tekanan darah diastole sebelum dan setelah diberikan

perlakuan disajikan dalam tabel 9

Tabel 9
Distribusi Rata-Rata Tekanan Darah Diastole

Variabel Mean SD p value


Tekanan darah
Sebelum 91,00 5,477
0,000
Setelah 85,00 5,000

Tabel 9 di atas menunjukkan uji statistik untuk tekanan darah diastole mempunyai nilai p

value sebesar 0,000 (p value < 0,05), menunjukkan bahwa Ho ditolak, sehingga dapat

disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara tekanan darah diastole sebelum dan

setelah diberikan perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan tekanan

darah diastole yang bermakna dari rata-rata 91,00 mmHg menjadi 85,00 mmHg setelah

diberikan perlakuan.

c. Pengaruh Senam Lansia terhadap Tekanan Darah

Dari hasil uji statistik menggunakan paired t-test, menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sistole sebelum dan setelah diberikan

perlakuan (p = 0,000) maupun tekanan darah diastole sebelum dan setelah diberikan

perlakuan (p = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak. Sehingga dapat


disimpulkan “Ada pengaruh senam bugar lansia terhadap tekanan darah pada

lansia dengan hipertensi”