Anda di halaman 1dari 8

STEP 3 No.

Hubungan Gravida dan Paritas (G5P3A1) dengan keluhan pasien:

a. Gravida
Gravida merupakan jumlah keseluruhan kehamilan pasien. Primigravida
dan gravida ≥4 lebih beresiko mengalami komplikasi persalinan dari pada
gravida 2-4.
b. Paritas
Paritas yang aman ntuk tidak terjadi komplikasi saat persalinan adalah
paritas 1-3 (seseorang yang pernah melahirkan bayi 1-3 kali). Sedangkan
yang beresiko untuk terjadi komplikasi terhadap persalinan adalah seseorang
yang paritasnya lebih dari empat kali. Pada skenario, pasien memiliki riwayat
paritas 3 kali. Artinya pasien merupakan seseorang yang memiliki faktor
resiko terjadinya komplikasi persalinan. Berikut beberapa komplikasi yang
dapat terjadi pada ibu yang pernah melahirkan lebih dari 3 kali:
1) Kelainan letak
2) Robekan Rahim
3) Persalinan lama
4) Perdarahan pasca persalinan
(Henderson dan Jones, 2006).
STEP 7 TENTANG ROBEKAN JALAN LAHIR
1. Ruptur Serviks
A. Definisi Robekan Serviks
Robekan serviks adalah perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah
lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan
tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir (Wiknjosastro, 2005).
B. Etiologi Robekan Serviks
Robekan serviks dapat terjadi karena:
a. Persalinan lama
Apabila serviks terjepit diantara kepala bayi dan simfisis pubis, sisi
antererior dapat membengkak, tidak teregang dengan baik dan
kemungkinan akan mengalami robekan.
b. Persalinan dengan bantuan
Misalnya dengan menggunakan forsep, ekstrasi vakum atau ekstrasi
pada bokong sebelum serviks berdilatasi penuh.
c. Persalinan presipitatus (baik secara spontan ataupun distimulasi
dengan oksitosin)
d. Kegagalan serviks untuk berdilatasi karena kelainan konginetal atau
adanya jaringan parut akibat luka atau robekan terdahulu (Saifuddin,
2010).
C. Faktor Predisposisi Robekan Serviks
a. Makrosomia
Semakin besar berat bayi baru lahir (BBL) meningkatkan resiko
terjadinya robekan serviks. Hal ini terjadi karena serviks tidak cukup
kuat menahan regangan kepala bayi dengan berat badannya yang besar.
b. Malpresentasi
Dengan adanya malpresentasi ini mengakibatkan persalinan yang lama
dan robekan serviks (jalan lahir) yang lebih luas lagi.
c. Partus presipitatus
Pada partus ini kontraksi uterus kuat dan sering sehingga janin didorong
keluar.
d. Distosia bahu (Saifuddin, 2010).
D. Tanda dan Gejala Adanya Robekan Serviks
Tanda dan gejala yang selalu ada yaitu perdarahan segera pada saat
bayi dilahirkan berupa darah segar dan mengalir terus menerus, uterus
berkontraksi dengan baik dan plasenta lahir lengkap. Sedangkan tanda dan
gejala yang terkadang ada yaitu keadaan ibu menjadi lemah, pucat,
ataupun menggigil (Wiknjosastro, 2005).
E. Klasifikasi Robekan Serviks
a. Robekan serviks tanpa mengenai segmen bawah rahim.
b. Robekan serviks membujur sampai segmen bawah rahim.
Dimana dari kedua klasifikasi di atas penangannya yang berbeda,
robekan serviks tanpa mengenai segmen bawah rahim dapat diperbaiki
dengan melakukan ligasi untuk menghentikan perdarahan. Sedangkan
robekan serviks yang sampai mengenai segmen bawah rahim perlu
dilakukan koporesis atau hiserektomi (Manuaba, 2008).
F. Diagnosis Robekan Serviks
a. Palpasi uterus
Pada kondisi dengan robekan serviks ini akan ditemukan bahwa
kontraksi uterus tetap baik (keras). Dan juga diperiksa juga tinggi
fundus uterinya dimana biasanya tinggi fundus uteri akan berada di
bawah pusat pada saat setelah bayi dan plasenta lahir.
b. Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban apakah lahir
lengkap atau masih ada yang tersisa di dalam.
c. Melakukan pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat robekan serviks dan
daerah disekitar robekan. Diagnosa perlukaan serviks dilakukan
dengan pemeriksaan speculum. Bibir serviks dapat dijepit dengan
cunam atromatik. Kemudian diperiksa seara cermat sifat-sifat dari
robekan tersebut. Bila ditemukan robekan serviks yang memanjang,
maka luka dijahit dari ujung yang paling atas, terus ke bawah. Pada
perlukaan serviks yang berbentuk melingkar, dilakukan pemeriksaan
dahulu apakah sebagian besar dari serviks sudah lepas atau tidak. Jika
belum lepas, bagian yang belum lepas tersebut dipotong dari serviks.
Jika yang lepas hanya sebagan kecil saja maka dijahit lagi pada
serviksnya.
d. Pemeriksaan laboratorium
Yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin darah
yang mana jika kadar Hb <8 gr% maka perlu dilakukan transfusi
darah.
G. Penatalaksanaan Robekan Serviks
a. Penatalaksanaan secara Mandiri
1) Menjelaskan kepada ibu dan keluarga tentang kondisi dan hasil
pemeriksaan ibu saat ini yang mengalami robekan serviks.
2) Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu.
3) Memastikan bahwa kontraksi uterus baik dan perdarahan berasal dari
perlukaan serviks serta memantau jumlah perdarahan.
4) Melakukan informed consent atas tindakan yang akan dilakukan.
5) Memasang infus RL atau NaCl.
6) Memantau input dan output ibu.
7) Melakukan pendokumentasian semua asuhan yang telah dilakukan
(Lisnawati, 2011).
b. Penatalaksanaan dengan Kolaborasi
1) Melakukan transfusi darah apabila diperlukan (Jika kadar Hb <8
gr%).
2) Penatalaksanaan pemberian obat amoxicillin 500mg.
c. Perbaikan robekan serviks
Melakukan perbaikan pada robekan serviks penting terutama jika
robekannya besar dan darah yang keluar persisten. Laserasi yang kecil
dan tidak mengeluarkan darah tidak perlu diperbaiki. Goresan pada
serviks sering terjadi pada kebanyakan persalinan. Goresan ini dapat
cepat sembuh dengan sendirinya. Dalam penyembuhan goresan tersebut
mengubah tampilan serviks dari bukaan sirkular yang halus menjadi
irisan transversal. Jika robekan serviks meluas ke dalam uterus, maka
laparotomi diperlukan untuk memperbaiki robekan (Widyastuti, 2002).
Tindakan gawat darurat:
a) Pasang klip panjang pada kedua sisi rupture, ujung-ujung klip harus
melekat satu sama lain di atas ruptur.
b) Mulai infus.
c) Kirim ke Rumah sakit
(Widyastuti, 2002).

Jahitan pertama dimulai dari Sebagian robekan serviks


puncak robekan pada serviks setelah dijahit

2. Ruptur Perineum
A. Definisi
Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir
baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan.
Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi
luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. Robekan perineum terjadi
pada hampir semua primipara (Wiknjosastro, 2005).
B. Klasifikasi
1) Ruptur Perineum Spontan
Yaitu luka pada perineum yang terjadi karena sebab-sebab tertentu
tanpa dilakukan tindakan perobekan atau disengaja. Luka ini terjadi
pada saat persalinan dan biasanya tidak teratur.
2) Ruptur perineum yang disengaja (Episiotomi)
Luka perineum yang terjadi karena dilakukan pengguntingan atau
perobekan pada perineum: episiotomi (torehan yang dibuat pada
perineum untuk memperbesar saluran keluar vagina) (Wiknjosastro,
2005).
C. Tingkatan Ruptur Perineum
1) Tingkat I
Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau mengenai
kulit perineum sedikit.
2) Tingkat II
Robekan yang terjadi lebih dalam, yaitu selain mengenai selaput lendir
vagina, juga mengenai musculus perinei tranversalis, tapi tidak mengenai
sfingter ani.
3) Tingkat III
Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot-
otot sfingter ani.
4) Tingkat IV
Robekan mengenai perineum sampai otot sfingter ani dan mukosa
rektum.

Gambar 2. Robekan Perineum

Keterangan gambar :
1) Derajat laserasi Perineum 1

2) Derajat Laserasi Perineum 2

3) Derajat Laserasi Perineum 3


4) Derajat Laserasi Perineum 4

D. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala robekan rupture adalah sebagai berikut:
1) Tanda-tanda Rupture: darah segar yang mengalir setelah bayi lahir,
uterus tidak berkontraksi dengan baik, plasenta tidak normal.
2) Gejala yang sering terjadi adalah: pucat, lemah, pasien dalam keadaan
menggigil (Wiknjosastro, 2005).
E. Tindakan
Tindakan yang dilakukan untuk robekan jalan lahir adalah sebagai berikut:
1) Memperbaiki robekan jalan lahir.
2) Memasang kateter ke dalam kandung kencing untuk mencegah trauma
terhadap uretra saat penjahitan robekan jalan lahir.
3) Jika perdarahan tidak berhenti, tekan luka dengan kasa secara kuat kira-
kira selama beberapa menit. Jika perdarahan masih berlangsung,
tambahkan satu atau lebih jahitan untuk menghentikan perdarahan.
4) Jika perdarahan sudah berhenti, dan ibu merasa nyaman dapat diberikan
makanan dan minuman pada ibu. (Wiknjosastro, 2005).
F. Penanganan
Penanganan robekan jalan lahir adalah:
1) Untuk mencegah luka yang robek dan pinggir luka yang tidak rata dan
kurang bersih pada beberapa keadaan dilakukan episotomi.
2) Bila dijumpai robekan perineum dilakukan penjahitan luka dengan
baik lapis demi lapis, dengan memperhatikan jangan ada robekan yang
terbuka ke arah vagina yang biasanya dapat dimasuki oleh bekuan
darah yang akan menyebabkan luka lama sembuh.
3) Penjahitan dilakukan dengan cara jelujur menggunakan benang catgut
kromik. Dengan memberikan anastesi lokal pada ibu saat penjahitan
laserasi, dan mengulangi pemberian anestesi jika masih terasa
sakit. Penjahitan dimulai 1 cm dari puncak luka. Jahit sebelah dalam
kearah luar, dari atas hingga mencapai bawah laserasi. Pastikan jarak
setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah dijahit. Ikat benang
dengan membuat simpul dalam vagina.
4) Potong ujung benang dan sisakan 1,5 cm. Lakukan pemeriksaan
ulang pada vagina dan jari paling kecil ke dalam anus untuk
mengetahui terabanya jahitan pada rectum karena bisa
menyebabkan fistula dan bahkan infeksi.
5) Memberikan antibiotik yang cukup (Wiknjosastro, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Widyastuti, P.(2002) Modul Hemoragi Postpartum Materi Pendidikan


Kebidanan. Jakarta: EGC

Wiknjosastro, H. (2005) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.
Manuaba, I. B. G. (2008) Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi & Obstetri-
Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC
Saifuddin, A. B. (2010) Buku Pandan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal &
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Lisnawati, L. (2011) Buku Pintar Bidan (Aplikasi Penatalaksanaan Gawat-
darurat Kebidanan di Rumah Sakit). Jakarta: TIM

Henderson, C., dan Jones, K. (2006) Buku Ajar Konsep Kebidanan, Jakarta: Buku
Kedokteran EGC