Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH DEMOGRAFI & KESLING

“Fertilitas Dan Peranan Tenaga Kesehatan/Keperawatan”

Disusun Oleh :
Annisa Rahmatillah 183110243
Ayu Syuraya Asfia 183110245

KELAS II.C

Dosen Pembimbing :
Hj. Murniati Muchtar,SKM,M.Biomed

JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN RI PADANG
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman dalam menuntut
ilmu.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan juga
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh Karena itu kami harapkan untuk memberikan masukan-
masukan yang bersikap membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Padang,
Agustus 2019

Penyusun

BAB I

2
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fertilitas (kelahiran) sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu
terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda
kehidupan misalnya bernafas, berteriak, jantung berdenyut dan sebagainya.
Indonesia merupakan negara yang padat penduduknya. Hal ini terlihat
dari jumlah penduduk Indonesia yang mendapati posisi terpadat keempat di
dunia setelah Amerika Serikat. Sebagai negara berkembang dengan tingkat
penduduk yang cukup tinggi, ini merupakan salah satu masalah pokok yang
harus dihadapi. Pada hakikatnya angka kelahiran merupakan hal positif bagi
sebuah negara dibanding tingginya angka mortalitas yang mengindikasi
adanya konflik dan permasalahan di negara tersebut. Namun tingkat kelahiran
dapat memberikan permasalahan lainnya khususnya dalam hal ekonomi. Hal
ini diperkuat dengan kenyataan bahwa kualitas penduduk masih rendah
sehingga diposisikan sebagai beban pembangunan daripada modal
pembangunan.
Pada umumnya kasus kehamilan yang tidak dikehendaki terjadi pada
ibu yang berstatus sosial ekonomi rendah. Ini akan menimbulkan masalah
tersendiri yang cukup rumit seperti proses kehamilan, proses persalinan ibu,
ketercukupan gizi ibu dan anak dan lain sebagainya. Sementara itu, kasus
kehamilan yang tidak dikehendaki tidak hanya terbatas terjadi pada
perempuan dengan status menikah, tetapi juga perempuan yang tidak
menikah.
Melihat dari apa yang tengah terjadi di saat ini, tentu kita harus
mempelajari dan memahami mengenai fertilitas itu sendiri dan diharapkan
kita sadar akan bagaimana mengendalikan laju fertilitas di masa mendatang
yang berdampak pada ketimpangan terhadap beban pembangunan negara.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada materi
fertilitas ini yaitu sebagai berikut :

3
1. Apa yang dimaksud dengan fertilitas ?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi angka fertilitas ?
3. Bagaimana cara menghitung angka fertilitas ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini ialah sebagai berikut :
a. Sebagai pengetahuan kepada penulis dan pembaca dalam mengetahui apa
yang dimaksud mengenai fertilitas.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi angka
fertilitas.
c. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai cara menghitung angka
fertilitas.
d. Agar dapat mengendalikan laju pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi
sehingga dapat seimbang dengan pembangunan negara.
e. Untuk memenuhi tugas pada mata kuliah geografi penduduk.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Fertilitas

4
Fertilitas yang bahasa inggrisnya “fertility” berarti reproductive
performance (Webster’s, 1966). Fertilitas adalah suatu pengertian yang
digunakan oleh ahli demografi untuk menunjukan tingkat pertambahan jumlah
anak (Hutabarrat, 1973)
Pengertian lain dari fertilitas sebagai istilah demografi diartikan
sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok
wanita, dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir
hidup (Hatmadji, 1981).
Menurut ahli lain, fertilitas adalah suatu istilah yang dipergunakan di
dalam bidang demografi untuk menggambarkan jumlah anak yang benar-
benar dilahirkan hidup. Fertilitas juga diartikan sebagai suatu ukuran yang
diterapkan untuk mengukur hasil reproduksi wanita yang diperoleh dari
statistik jumlah kelahiran hidup (Pollard, 1984)
Melihat dari pendapat para ahli dalam memberi definisi mengenai
fertilitas maka dapat disimpulkan bahwa fertilitas dapat diartikan sebagai
suatu ukuran dari hasil reproduksi dan dinyatakan dengan jumlah bayi yang
lahir hidup ataupun yang lahir mati.
Menurut Hatmadji (1981), terdapat konsep-konsep penting dalam
mengkaji fenomena fertilitas, diantaranya:

1. Lahir hidup (Life Birth), menurut WHO, adalah suatu kelahiran seorang
bayi tanpa memperhitungkan lamanya di dalam kandungan, dimana si
bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misal : bernafas, ada denyut
jantungnya atau tali pusat atau gerakan-gerakan otot.

2. Lahir mati (Still Birth) adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan
yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda
kehidupan.

3. Abortus adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur kurang


dari 28 minggu. Ada dua macam abortus : disengaja (induced) dan tidak

5
disengaja (spontaneus). Abortus yang disengaja mungkin lebih sering kita
kenal dengan istilah aborsi dan yang tidak disengaja lebih sering kita
kenal dengan istilah keguguran.

4. Masa reproduksi (Childbearing age) adalah masa dimana perempuan


melahirkan, yang disebut juga usia subur (15-49 tahun).

B. Faktor-faktor Fertilitas
Menurut Ida Bagus Mantra (1985), terdapat sejumlah faktor yang
dapat mempengaruhi fertilitas yang dibedakan atas faktor-faktor demografi
dan non demografi. Faktor-faktor demografi antara lain meliputi struktur atau
komposisi umur, status perkawinan, umur kawin pertama, keperidian atau
fekunditas dan proporsi penduduk yang kawin.
Sedangkan faktor-faktor non demografi diantaranya keadaan ekonomi
penduduk, tingkat pendidikan, perbaikan status wanita, urbanisasi dan
industrialisasi. Faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh secara langsung
ataupun tidak langsung terhadap fertilitas.
Davis dan blake (1956 dalam Ida Bagus Mantra,1985) memperinci
pengaruh faktor social melalui 11 “variable antara” yang dikelompokkan
sebagai berikut:

a. Variable-variabel yang mempengaruhi hubungan kelamin


1. Umur memulai hubungan kelamin (kawin)
2. Selibat permanen, yaitu proporsi wanita yang tidak pernah adakan
hubungan kelamin
3. Lamanya masa reproduksi yang hilang karena perceraian, perpisahan atau
ditinggal pergi oleh suami, dan suami meninggal.
4. Abstinensi sukarela
5. Abstinensi karena terpaksa (impotensi, sakit, berpisah sementara yang
tidak dapat dihindari.
6. Frekuensi hubungan seks.

b. Variabel-variabel yang mempengaruhi kemungkinan konsepsi


1. Keperidian dan kemandulan (fekunditas dan infekunditas).

6
2. Menggunakan atau tidak menggunakan alat kontrasepsi.
3. Kesuburan atau kemandulan yang disengaja (sterilitas)

c. Variable-variabel yang mempengaruhi kehamilan dan kelahiran dengan


selamat
1. Kematian janin oleh faktor-faktor yang tidak disengaja
2. Kematian janin oleh faktor-faktor yang disengaja

C. Pengukuran Fertilitas
Pengukuran fertilitas memiliki dua macam pengukuran, yaitu
pengukuran fertilitas tahunan dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran
fertilitas tahunan (vital rates) adalah mengukur jumlah kelahiran pada tahun
tertentu yang dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko
untuk melahirkan pada tahun tersebut. Sedangkan pengukuran fertilitas
kumulatif adalah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh
seorang wanita hingga mengakhiri batas usia subur.

a) Ukuran-ukuran Fertilitas Tahunan


1. Tingkat Fertilitas Kasar (Crude Birth Rate)
Tingkat fertilitas kasar adalah banyaknya kelahiran hidup pada suatu
tahun tertentu tiap 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. Dalam ukuran
CBR, jumlah kelahiran tidak dikaitkan secara langsung dengan penduduk
wanita, melainkan dengan penduduk secara keseluruhan.
CBR = B x 1000
Pm
dimana:
CBR = Tingkat Kelahiran Kasar
Pm = Penduduk pertengahan tahun
K = Bilangan konstan yang biasanya 1.000
B = Jumlah kelahiran pada tahun tertentu
Adapun kelemahan dalam perhitungan CBR yakni tidak memisahkan
penduduk laki-laki dan penduduk perempuan yang masih kanak-kanak dan
yang berumur 50 tahun ke atas. Jadi angka yang dihasilkan sangat kasar.

7
Sedangkan kelebihan dalam penggunaan ukuran CBR adalah perhitungan
ini sederhana, karena hanya memerlukan keterangan tentang jumlah anak
yang dilahirkan dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.

2. Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate)


Tingkat fertilitas umum mengandung pengertian sebagai jumlah
kelahiran (lahir hidup) per 1.000 wanita usia produktif (15-49 tahun) pada
tahun tertentu. Pada tingkat fertilitas kasar masih terlalu kasar karena
membandingkan jumlah kelahiran dengan jumlah penduduk pertengahan
tahun. Tetapi pada tingkat fertilitas umum ini pada penyebutnya sudah
tidak menggunakan jumlah penduduk pada pertengahan tahun lagi, tetapi
jumlah penduduk wanita pertengahan tahun umur 15-49 tahun.

GFR = __B__ x k
Pf’15 – 44
atau
GFR = __B__ x k
Pf’15 – 49
dimana:
GFR = Tingkat Fertilitas Umum
B = Jumlah kelahiran
Pf (15-49) = Jumlah penduduk wanita umur 15-49 tahun pada
pertengahan tahun
Pf (15-49) = Jumlah penduduk wanita umur 15-49 tahun pada
pertengahan tahun
K = Bilangan konstanta yang bernilai 1.000

Kelemahan dari penggunaan ukuran GFR adalah ukuran ini tidak


membedakan kelompok umur, sehingga wanita yang berumur 40 tahun
dianggap mempunyai resiko melahirkan yang sama besar dengan wanita
yang berumur 25 tahun. Namun kelebihan dari penggunaan ukuran ini ialah
ukuran ini cermat daripada CBR karena hanya memasukkan wanita yang
berumur 15-49 tahun atau sebagai penduduk yang “exposed to risk”.

3. Tingkat Fertilitas menurut Umur (Age Specific Fertility Rate)

8
Diantara kelompok wanita reproduksi (15-49 tahun) terdapat variasi
kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas wanita
pada tiap-tiap kelompok umur. Dengan mengetahui angka-angka ini dapat
pula dilakukan perbandingan fertilitas antar penduduk dari daerah yang
berbeda.
ASFRi = __ Bi__ x k
Pfi
dimana:
ASFRi = Tingkat Fertilitas menurut Umur
Bi = Jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i
Pfi = Jumlah wanita kelompok umur i pada pertengahan tahun
K = Angka konstanta, yaitu 1.000

Namun dalam pengukuran ASFR masih terdapat beberapa kelemahan


diantaranya yaitu:
a. Ukuran ini membutuhkan data yang terperinci yaitu banyaknya kelahiran
untuk tiap kelompok umur sedangkan data tersebut belum tentu ada di tiap
negara/daerah, terutama negara yang sedang berkembang. Jadi pada
kenyataannya sukar sekali mendapatkan ukuran ASFR.
b. Tidak menunjukkan ukuran fertilitas untuk keseluruhan wanita umur 15-49
tahun.

b) Ukuran-ukuran Fertilitas Kumulatif


1. Total Fertility Rate (TFR)
Total Fertility Rate/ TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan
seorang wanita sampai akhir masa reproduksinya. Rumus perhitungan
TFR yaitu sebagai berikut.
TFR 5 ASFR
Keterangan :
TFR = Angka Fertilitas Total
ASFR = Angka Fertilitas Menurut kelompok umur 5 tahunan
2. Gross reproduction rates (GRR)
Jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan sepanjang
masa reproduksinya, dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang

9
meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya Banyaknya
perempuan yang dilahirkan oleh kohor perempuan
GRR =5 ASFR
GRR = 5 x Jumlah ASFR
= 5 x 208,31
= 1041,55
= 1.041,55 kelahiran bayi perempuan tiap 1000 perempuan usia
reproduksi.
3. Net Reproduction Rates (NRR)
NRR adalah jumlah kelahiran bayi (pr) oleh sebuah kohor hipotesis
dari 1000 (pr) dengan memperhitungkan kemungkinan meninggalkan para
(pr) itu sebelum mengakhiri mengakhiri masa reproduksinya.
NRR =  ASFR x nLx 1o

D. Studi kasus tentang fertilitas

Jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah kohor hipotesis dari 1000
perempuan dengan memperhitungkan kemungkinan meninggalnya
perempuan tsb sebelum mengakhiri masa reproduksinya. Asumsi : bayi
perempuan mengikuti pola fertilitas dan mortalitas ibunya

jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat terbesar di


dunia.Tingkat pertumbuhan penduduknya juga tinggi. Sebenarnya jumlah
pendudukyang besar bukanlah suatu masalah, sebab apabila semua
penduduknya memiliki
kualitas SDM yang baik maka justru akan memberikan kontribusi kepada
negara.
Masalah kependudukan di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Masalah Penduduk yang Bersifat Kuantitatif

10
A. Jumlah Penduduk Besar Penduduk dalam suatu negara menjadi faktor
terpenting dalam pelaksanaan pembangunan karena menjadi subjek dan
objek pembangunan. Manfaat jumlah penduduk yang besar:

1)Penyediaan tenaga kerja dalam masalah sumber daya alam.

2) Mempertahankan keutuhan negara dari ancaman yang berasal dari


bangsa lain.

Selain manfaat yang diperoleh, ternyata negara Indonesia yang


berpenduduk besar, yaitu nomor 4 di dunia menghadapi masalah yang
cukup rumit yaitu:

1) Pemerintah harus dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan hidupnya.


Dengan kemampuan pemerintah yang masih terbatas masalah ini sulit
diatasi sehingga berakibat seperti masih banyaknya penduduk kekurangan
gizi makanan, timbulnya pemukiman kumuh.

2) Penyediaan lapangan kerja, sarana dan prasarana kesehatan dan


pendidikan serta fasilitas sosial lainnya. Dengan kemampuan dana yang
terbatas masalah ini cukup sulit diatasi, oleh karena itu pemerintah
menggalakkan peran serta sektor swasta untuk mengatasi masalah ini.

b. Pertumbuhan Penduduk Cepat

Secara nasional pertumbuhan penduduk Indonesia masih relatif


cepat, walaupun ada kecenderungan menurun. Antara tahun 1961 – 1971
pertumbuhan penduduk sebesar 2,1 % pertahun, tahun 1971 – 1980 sebesar
2,32% pertahun, tahun 1980 – 1990 sebesar 1,98% pertahun, dan periode
1990 – 2000 sebesar 1,6% pertahun. Keluarga berencana merupakan suatu
usaha untuk membatasi jumlah anak dalam keluarga, demi kesejahteraan

11
keluarga. Dalam program ini setiap keluarga dianjurkan mempunyai dua
atau tiga anak saja atau merupakan keluarga kecil.Dengan terbentuknya
keluarga kecil diharapkan semua kebutuhan hidup anggota keluarga dapat
terpenuhi sehingga terbentuklah keluarga sejahtera. Dua tujuan pokok
Program Keluarga Berencana yaitu:

a. Menurunkan angka kelahiran agar pertambahan penduduk tidak


melebihi kemampuan peningkatan produksi.

b. Meningkatkan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai keluarga


sejahtera

c. Persebaran Penduduk Tidak Merata Persebaran penduduk di Indonesia


tidak merata baik persebaran antarpulau,

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Fertilitas yang bahasa inggrisnya “fertility” berarti reproductive performance


(Webster’s, 1966). Fertilitas adalah suatu pengertian yang digunakan oleh ahli
demografi untuk menunjukan tingkat pertambahan jumlah anak (Hutabarrat,
1973). Melihat dari pendapat para ahli dalam memberi definisi mengenai fertilitas
maka dapat disimpulkan bahwa fertilitas dapat diartikan sebagai suatu ukuran dari
hasil reproduksi dan dinyatakan dengan jumlah bayi yang lahir hidup ataupun
yang lahir mati.
Pengukuran Fertilitas Tahunan adalah pengukuran kelahiran bayi pada tahun
tertentu dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk
melahirkan pada tahun tersebut. Adapun ukuran – ukuran fertilitas tahunan adalah

a. Tingkat Fertilitas Kasar (Crude Birth Rate ) Adalah banyaknya kelahiran


hidup pada satu tahun tertentu tiap 1000 penduduk.

b. Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate ) Adalah jumlah kelahiran


hidup per.1000 wanita usia reproduksi (usia 14 14-49 atau 15 15-44 th th) )
pada tahun tertentu.

c. Tingkat Fertilitas Menurut Umur (Age Specific Fertility Rate )


Adalah perhitungan tingkat fertilitas perempuan pada tiap kelompok umur dan
tahun tertentu.

d. Tingkat Fertilitas Menurut Urutan Kelahiran (Birth Order Specific Fertility


Rates Rates) Adalah perhitungan fertilitas menurut urutan kelahiran bayi
bayioleh oleh wanita pada umur dan tahun tertentu.

13
Pengukuran Fertilitas Kumulatif Adalah pengukuran jumlah rata rata-rata
anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan hingga mengakhiri batas usia
suburnya. Adapun ukuran – ukuran fertilitas kumulatif adalah :

a. Tingkat Fertilitas Total (TFR) adalah jumlah kelahiran hidup laki laki-laki &
wanita tiap 1000 penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya
dengan catatan :

 tidak ada seorang perempuan yg meninggal sebelum mengakhiri masa


reproduksinya.

 tingkat fertilitas menurut umur tdk berubah pd periode waktu tertentu.

b. Gross Reproduction Rates (GRR) adalah jumlah kelahiran bayi perempuan


oleh 1000 perempuan sepanjang masa reproduksinya dengan catatan tdk ada
seorang perempuan yg meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya.

c. Net Reproduction Rates (NRR) adalah jumlah kelahiran bayi (pr) oleh sebuah
kohor hipotesis dari 1000 (pr) dengan memperhitungkan kemungkinan
meninggalkan para (pr) itu sebelum mengakhiri mengakhiri masa
reproduksinya.

14
Daftar Pustaka

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/125427-S-5750-Analisis%20hubungan-
Literatur.pdf

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-15202-Chapter1-803224.pdf

http://widyaastuti-agrittude.blogspot.com/2011/11/fertilitas-penduduk.html

http://demografi.bps.go.id/parameter2/index.php/fertilitas

15