Anda di halaman 1dari 44

CASE PRESENTATION

DIAGNOSIS HOLISTIK DAN TERAPI KOMPREHENSIF TERHADAP


KASUS TUBERKULOSIS PARU ANAK
PADA An. D DI PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG
Laporan Kesehatan Masyarakat
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat

HALAMAN JUDUL
Oleh :
Arrahma Yazmi Asy Syifa
30101507391

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
HALAMAN PENGESAHAN
CASE PRESENTATION
DIAGNOSIS HOLISTIK DAN TERAPI KOMPREHENSIF TERHADAP
KASUS TUBERKULOSIS PADA An. Devan di PUSKESMAS
PANDANARAN SEMARANG

Oleh :
Arrahma Yazmi Asy Syifa
30101507391
Laporan Kasus yang telah diseminarkan, diterima dan disetujui di depan tim
penilai Puskesmas Pandanaran Semarang.
Telah Disahkan
Semarang, Juni 2019
Disahkan Oleh:

Mengetahui,

Pembimbing Puskesmas Pembimbing Bagian IKM

Siti Nurul Qomariyah, S.KM Dr. Siti Thomas Z, S.KM, .Kes.

Kepala Puskesmas Pandanaran Kepala Bagian IKM FK Unissula

dr. Antonia Sadniningtyas Dr. Siti Thomas Z, S.KM, M.Kes.


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan
kasus “DIAGNOSIS HOLISTIK DAN TERAPI KOMPREHENSIF
TERHADAP KASUS TUBERKULOSIS PARU ANAK PADA An. DEVAN
PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG”. Laporan ini disusun untuk
memenuhi tugas-tugas dalam rangka menjalankan kepaniteraan Klinik Ilmu
Kesehatan Masyarakat.

Laporan ini dapat diselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk
itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Siti Thomas Zulaikhah, S.KM, M.Kes, selaku Kepala bagian IKM FK
Unissula Semarang.
2. Dr. Siti Thomas Zulaikhah, S.KM, M.Kes, selaku pembimbing case
presentation penulis.
3. dr. Antonia Sadniningtyas, selaku Kepala Puskesmas Pandanaran Semarang.
4. Siti NurulQomariyah, S.KM selaku pembimbing di Puskesmas Pandanaran
Semarang.
5. Dokter, Paramedis, beserta Staf Puskesmas Pandanaran atas bimbingan dan
kerjasama yang telah diberikan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari
sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan.Karena itu kami sangat
berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun.

Akhir kata kami berharap semoga hasil laporan kasus diagnosis holistik
dalam layanan kedokteran keluarga terhadap kasusTuberculosis di Puskesmas
Pandanaran Semarang dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, 19 Juni 2019


Penulis

2
Daftar Isi
HALAMAN JUDUL................................................................................................ I
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2
BAB I ……………… ............................................................................................. 4
PENDAHULUAN .................................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 5
1.3. Tujuan ..........................................................................................5
1.3.1. Tujuan Umum ................................................................... 5
1.3.2. Tujuan Khusus .................................................................. 5
1.4. Manfaat ....................................................................................... 6
1.4.1. Manfaat bagi Mahasiswa ................................................ 6
1.4.2 Manfaat bagi Masyarakat ................................................ 6
1.4.3. Manfaat bagi Tenaga Kesehatan ....................................... 6
BAB II ANALISA SITUASI .................................................................................. 7
2.1. Cara dan Waktu Pengamatan ...................................................... 7
2.2. Laporan Hasil Pengamatan ......................................................... 7
2.2.1 Identitas Pasien .................................................................. 7
2.2.2 Anamnesis Holistik ............................................................ 7
2.2.3 Data Keluarga ............................................................... 12
2.2.4. Diagnosis Holistik .......................................................... 19
2.2.5 Usulan Terapi Komprehensif .......................................... 20
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 22
3.1 Analisa Penyebab Masalah ........................................................ 23
3.2 USG (Urgency, Seriusness, Growth) ......................................... 26
3.3 Plan of Action (POA) ................................................................. 27
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 30
4.1. Kesimpulan ............................................................................... 30
4.2. Saran .........................................................................................30

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, TBC merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.


Jumlah pasien TBC di Indonesia merupakan ke-2 terbanyak di dunia setelah
India(Naga, 2013). Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, dengan beberapa jenis
antara lain, M. tuberculosis, M. africanum, M. bovis, M. Leprae dsb, sering
disebut BTA (bakteri tahan asam). Kawasan Indonesia timur banyak
ditemukan terutama gizi makanannya tidak memadai dan hidup dalam
keadaan sosial ekonomi dan higiene dibawah normal (Wenas, 2015).
Angka prevalensi TB menurun 22% dari tahun 2000 sampai 2015,
tidak merubah keputusan pemerintah dalam menetapkan TB sebagai salah
satu dari 3 fokus utama selain stunting dan angka cakupan dan mutu
imunisasi (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Angka cakupan pengobatan
TB Paru mengalami fluktuasi dari tahun 2013 sebesar 135, kemudian pada
tahun 2014 sebesar 125, pada tahun 2015 miningkat menjadi 130, tahun 2016
sebesar 139 dan peningkatan secara signifikan pada tahun 2017 sebesar 161,
angka angka tersebut dihitung per 100.000 penduduk di Indonesia.
Berdasarkan Jumlah penderita TB BTA (semua jenis) di Kota Semarang
tahun 2018 sejumlah 4.252 kasus, didominasi oleh 54% laki-laki atau 2308
kasus dan 46% perempuan atau 1844 kasus. Penderita laki-laki lebih sering
tertular karena intents kontak dengan faktor resiko dan pemeliharaan
pengobatan, Pembagian penderita TB BTA sesuai umur 20% dari jumlah
penderita TB BTA atau 884 kasus di dominasi oleh bayi dan balita, sebanyak
28% atau 1.191 kasus pada kelompok usia (15-34), kelompok usia 55-64
tahun sebanyak 14% atau 582 kasus dan kelompok usia >65 tahun sebanyak
9% atau 365 kasus (Profil Kesehatan Kota Semarang, 2018).

4
TB paru anak sama seperti TB paru dewasa merupakan penyakit yang
dapat ditularkan melalui droplet atau percikan air. Selain percikan air liur,
imunitas tubuh seseorang merupakan faktor pendorong terinfeksi kuman TB.
Faktor-faktor TB paru anak dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu, faktor
anak, keluarga dan lingkungan. Faktor anak yaitu status gizi, riwayat
imunisasi BCG dan riwayat kontak penderita TB. Faktor orang tua yaitu
pengetahuan orang tua, sosial ekonomi dan perilaku orang tua. Faktor
lingkungan yang mendorong terinfeksinya TB paru pada anak adalah
ventilasi yang minimal, cahaya yang kurang terutama cahaya matahari, luas
bangunan rumah, kelembapan rumah dan kepadatan penghuni (Febrian,
2015).
Berdasarkan perhitungan kasus TB dan suspek TB di Puskesmas
Pandanaran tahun 2018 sebanyak 38 kasus, pada bulan Mei 2019 berjumlah
15 kasus. Dari uraian di atas, penulis bermaksud memperoleh informasi
mengenai faktor faktor yang berpengaruh terhadap kasus tuberkulosis di
wilayah binaan Puskesmas Pandanaran.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana diagnosis holistik dan terapi komprehensif terhadap penyakit
tuberkulosis pada pasien An. D di Puskesmas Pandanaran?
1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penyakit TB Paru anak berdasarkan
pendekatan segitiga epidemiologi.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor host yang
mempengaruhi terjadinya TB Paru anak pada An. Devan
wilayah kerja Puskesmas Pandanaran Semarang.
1.3.2.2 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor agent yang
mempengaruhi terjadinya TB Paru anak pada An. Devan
wilayah kerja Puskesmas Pandanaran Semarang.

5
1.3.2.3 Untuk memperoleh informasi mengenai faktor lingkungan yang
mempengaruhi terjadinya TB Paru anak pada An. Devan
wilayah kerja Puskesmas Pandanaran Semarang.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Mahasiswa
1.4.1.1 Mahasiswa mengetahui secara langsung permasalahan yang ada
di lapangan.
1.4.1.2 Meningkatkan pengetahuan mengenai faktor yang berpengaruh
terhadap kejadian TB.
1.4.1.3 Meningkatkan pengetahuan mengenai ilmu kesehatan
masyarakat khususnya tentang TB.
1.4.1.4 Mahasiswa menjadi terbiasa melaporkan masalah mulai
penemuan masalah sampai pembuatan plan of action.
1.4.2. Manfaat bagi Masyarakat
1.4.2.1.Memberi informasi kepada masyarakat tentang kesehatan
khususnya penyakit TB.
1.4.2.2. Memberi rekomendasi langsung kepada masyarakat untuk
memperhatikan perilaku dan lingkungan tempat tinggalnya.

1.4.3 Manfaat bagi tenaga kesehatan

Memberi rekomendasi kepada tenaga kesehatan untuk lebih memberdayakan


masyarakat dalam upaya kesehatan promotif dan preventif kaitannya dengan
penyakit TB.

6
BAB II
ANALISA SITUASI

2.2 Cara dan Waktu Pengamatan


Pengambilan kasus TB Paru anak pada pasien dilakukan berdasarkan data
pasien di Puskesmas Pandanaran. Data diperoleh dari wawancara dengan
pasien, observasi langsung (home visite), dan catatan medik selama pasien
berobat. Anamnesa dan pemeriksaan holistik dilakukan di rumah pasien pada
tanggal 15 Juni 2019. Kunjungan rumah untuk mengamati kondisi lingkungan,
perilaku pasien dan keluarga pasien di Jl. Wonodri Kopen Barat I RT 5 RW 1,
Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan. Intervensi dilakukan pada
tanggal 18 Juni 2019.
2.3 Laporan Hasil Pengamatan
2.2.1 Identitas Pasien
Nama : An. D
Tempat, tanggal lahir : Semarang, 25-09-2016
Umur : 2 tahun 8 bulan 25 Hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan terakhir : -
Pekerjaan : -
Alamat : Jl. Wonodri Kopen Barat I RT 5 RW 1,
Wonodri, Semarang Selatan.
Kewarganegaraan : WNI
Cara pembayaran : BPJS PBI
2.2.2 Anamnesis Holistik
A. ASPEK 1: Personal (Diwakili oleh ibu dari An. D)
Keluhan utama : Berat badan tidak stagnant sejak usia 1 tahun dan
terkadang muncul nyeri daerah punggung yang menjalar ke daerah
genital.

7
Harapan : Sembuh dari penyakit TB paru. Sehingga berat
badan dan tinggi badan meningkat.

Kekhawatiran : Orang tua khawatir jika penyakit tidak dapat


disembuhkan sehingga tumbuh kembang dari An.
Devan tidak mengalami perbaikan.

B. ASPEK 2 : Anamnesis Medis Umum


1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh daerah punggung, penis dan
pergelangan kaki nyeri. Nyeri sering muncul sejak 1 minggu
terahir. Pasien juga tetap mau diberi susu formula, akan tetapi
pasien sulit makan nasi.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah dirawat di rumah sakit roemani 3 bulan
yang lalu karena penyakit DBD. Sebelumnya pasien mengeluh
batuk berdahak, pilek dan demam 2 minggu yang lalu. Batuk
semakin sering jika pasien mengonsumsi minuman dingin dan
juga saat pasien menangis. Keluhan menghalangi aktivitas pasien
karena pasien menjadi lemas dan lesu.
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu dari pasien pernah menderita TB Paru anak semasa
balitanya.
4. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama nenek dan ibu, beberpa bulan
yang lalu kakek nya juga tinggal menjadi satu. Kakek dari pasien
perokok berat dan sering berkumpul dengan pasien.
Tetangga sekitar adalah seorang perokok yang
menderita batuk lama, akan tetapi tidak diketahui batuk kering
atau berdahak.
5. Riwayat Pengobatan
 Parasetamol syrup

8
 Antibiotik, namun ibu pasien tidak ingat nama antibiotiknya
6. Riwayat Persalinan
Pasien lahir dari ibu G1P0A0, dilahirkan spontan belakang
kepala dibantu oleh bidan RS, usia kehamilan cukup bulan, lahir
langsung menangis, warna ketuban jernih, berat badan lahir 2500 gr
dan panjang badan bayi 49 cm

7. Riwayat Pasca Lahir


Tali pusat dirawat oleh bidan, bayi tidak kuning, tidak terjadi
perdarahan pasca kelahiran pada bayi, ibu rutin membawa pasien ke
posyandu.

8. Riwayat Imunisasi
Imunisasi dilakukan di Posyandu dengan rincian seperti berikut
ini:

Gambar 1. Riwayat imunisasi


Kesan: imunisasi sudah lengkap sesuai jadwal

9. Riwayat Makan dan Minum


 lahir – usia 6 bulan : ASI + susu formula (sejak usia 2 bulan)
 6 bulan – 9 bulan : Susu formula + Bubur Susu/biskuit/buah

9
 9 bulan – 1 tahun : Susu formula + Nasi Tim & lauk + sayur
(diblender)
 1 tahun – 2 tahun : Susu formula + Nasi kasar + lauk variasi
 2 tahun – sekarang : Nasi + sayur + lauk bervariasi
(ayam/daging/tahu/tempe/ikan) + susu
formula.
 Saat ini napsu makan pasien menurun. Dalam sehari pasien
makan 3 kali. Sekali makan pasien hanya memakan sekitar 2-3
sendok saja.

10. Riwayat Tumbuh Kembang


Riwayat Pertumbuhan
BB lahir : 2500gr
BB sekarang : 9 kg
PB lahir : 49 cm
TB sekarang : 80 cm
Riwayat Perkembangan
PSIKOMOTOR
1 bulan : mampu tengkurap, mengangkat kepala dan dada
bertopang pada tangan
6 bulan : mampu untuk duduk
8 bulan : mampu merangkak
1 tahun : berjalan perlahan, memegang krayon, bisa makan
sendiri
2 tahun : dapat berlari bebas, mulai belajar naik sepeda roda
tiga

Kesan : riwayat perkembangan psikomotor sesuai dengan anak


seusianya.

10
BAHASA
2 bulan : Mengoceh spontan/merespon dengan mengoceh
3 bulan : tertawa dan menjerit jika diajak bermain
7 bulan : mengeluarkan kata-kata tanpa arti, menirukan suara
1 tahun : mampu menyusun kalimat singkat
SOSIAL
1 tahun : berpartisipasi permainan tepuk tangan, sembunyi-
sembunyian
1,5 tahun : memperlihakan minat kepada anak lain, bermain
bersama anak lain dan menyadari adanya
lingkungan diluar keluarganya

Mental/intelegensia
Sesuai anak seusianya

Emosi
Anak cukup pemberani jika berkomunikasi dengan orang
diluar keluarganya dan mudah beradaptasi dengan keadaan sekitar.
Kesan: Pertumbuhan, perkembangan psikomotor, mental intelegensia
dan emosi sesuai anak seusianya

11
C. ASPEK 3 :Faktor Risiko Internal
1. Data Individu
Pasien berusia 2 tahun 8 bulan 25 Hari. Berat badan pasien 9
kg dan tinggi badan 80 cm.
BMI berdasarkan umur = -2,76 (sangat kurus.
BB/U = -3,51 (Gizi Buruk).
BB/TB = -3,04 (sangat kurus).
TB/U = -2,71(Sangat Pendek).
Berdasarkan analisa tersebut pasien termasuk anak dengan gizi
buruk perawakan sangat kurus dan sangat pendek.

Gambar 2.1 Status Gizi


Gambar 2.2 Status Gizi
Menurut BB/U
Menurut TB/U
2. Data Keluarga
No. Nama Usia Pendidikan terakhir Status Ket
1. Ny. M 55 SD Nenek TB (-)
2. Ny. P 23 SMA Ibu TB(-)
3. An. D 2 - Anak TB(+)

Tabel 2.1 Data Keluarga

12
Gambar 2.3. Data Genetik
Keterangan:

: Ayah ( Tidak masuk dalam KK) : Kakek


: Ibu : Nenek
: Pasien (anak laki-laki)

Data Perilaku
Sejak usia 1 tahun berat badan dan tinggi badan pasien tidak
mengalami kenaikan, meskipun pola makan pasien tetap
normal, sangat suka minum susu, akan tetapi pasien kurang
menyukai makanan yang keras. Sebagai contohnya nasi, harus
lembek hampir menyerupai bubur. Buah buahan hanya mau
yang mudah dikunyah seperti pepaya. Susu formula yang
diberikan telah disesuaikan dengan rekomendasi petugas
kesehatan Puskesmas, susu formula yang tinggi lemak. Akan
tetapi, tidak ada kenaikan. Pasien juga suka tidur di lantai
dengan menggunakan kipas angin.

13
D. ASPEK 4: Faktor Resiko Eksternal

1. Lingkungan
Pasien tinggal diAA merupakan kawasan padat penduduk,
jarak antar rumah sangat berdekatan. Rumah pasien dengan
rumah tetangga kanan dan kiri saling menempel. Rumah pasien
memiliki ukuran 7m x 12m = 84m2. Rumah tersebut memiliki 1
kamar tidur yang menjadi satu dengan ruang tamu, 1 dapur, 1
kamar mandi.
Rumah pasien memiliki tembok campuran yaitu sebagian
permanen dan sebagian papan triplek, berlantai keramik, sebagian
bersemen dan tanpa ternit. Pada ruang tamu terdapat 2 jendela,
serta terdapat jendela atau ventilasi pada kamar namun jarang
dibuka. Kesan pencahayaan pada ruang tamu, kamar, dapur, dan
kamar mandi kurang.
Kamar tidur memiliki 2 kasur dan hanya satu yang memakai
dipan yang dengan tumpukan pakaian dan barang-barang lainnya.
Kamar-kamar tersebut terkesan lembab dan kurang cahaya
matahari yang masuk ke kamar. Kasur jarang dijemur dan tidak
memakai sprai. Kamar mandi terletak di bagian samping rumah,
dan kurang pencahayaan, terdapat 1 WC jongkok dan tidak ada
bak mandi hanya ada 1 ember. Dapur terletak paling belakang
dekat kamar mandi.
Rumah pasien dan tetangganya sangat dekat. Lingkungan
disekitar rumah pasien bersih, lokasi jalan raya cukup berdebu
dan posisi rumah pasien disamping tanjakan, sehingga debu
sering tersapu ke beranda sekitar rumah pasien. Sumber air
minum dan masak menggunakan air PAM, sedangkan sumber air
untuk mandi dan mencuci menggunakan air sumur. Keluarga
mengatakan, kakeknya perokok berat beberapa bulan yang lalu
tinggal dengan pasien dan keluarga. Ada tetangganya yang

14
memiliki riwayat batuk lama akan tetapi tidak tahu jenis batuk
yang berdahak atau tidak.

2. Ekonomi
Ekonomi pasien hanya ditanggung oleh ibu pasien. Ibu pasien
bekerja sebagai admin butik di semarang. Penghasilan orang tua
pasien sekitar 2,5 juta rupiah perbulan.

3. Sosial Masyarakat
Pasien merupakan anak pertama yang tinggal bersama Ibu dan
neneknya dalam satu atap.

4. Anamnesis Sistemik
 Sistem serebrospinal : demam (-), kejang (-)
 Sistem kardiovaskuler : jantung tidak berdebar, pulsasi nadi
normal
 Sistem pernafasan : sesak nafas (-), batuk (-), dahak (-),
 Sistem gastrointestinal : nafsu makan turun, berat badan
sulit naik, diare (-), tidak nyeri perut
 Sistem integumentum : turgor kulit normal, ptechiae (-),
purpura (-)
 Sistem urogenital : BAK normal, nyeri (-), darah (-)
 Sistem muskuloskeletal : Nyeri otot
 Sistem KGB : Pembesaran KGB (-)
Pemeriksaan Fisik (Tanggal : 17 Juni 2019)

Kesadaran : Composmentis
Keadaan Umum : Baik
Tanda Vital
a. Tekanan Darah : 110/60 mmHg
b. Nadi
- Frekuensi : 76x/menit
- Irama : Reguler

15
- Isi & Tegangan: Cukup
- Ekualitas : Ekual
c. Laju Pernapasan : 22 x/menit
d. Suhu : 36,2oC
e. Antropometri : BB = 9 kg, TB = 80 cm, BMI = 16, 26 kg/m2.
f. Status gizi : berat badan kurang dengan perawakan
pendek
g. Kulit : turgor kulit normal
h. Kelenjar limfe : pembesaran KGB regional (-)
i. Otot : nyeri otot daerah genital dan tungkai kaki,
tidak ada atrofi pada keempat ekstermitas.
j. Tulang : Tidak ada deformitas, tidak terdapat tanda
radang
k. Sendi : Tidak ada deformitas dan tidak terdapat
tanda-tanda peradangan
Kesan : pasien tampak sakit ringan, gizi buruk dengan perawakan
sangat kurus dan sangat pendek

Status Present
a. Kepala: Mesocephale
b. Rambut: Hitam, tidak mudah dicabut
c. Kulit: Sianosis (-), Ikterus (-), Petechie (-),turgor cukup.
d. Mata : Oedema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), pupil isokor (3 mm/3mm) bulat-
di tengah
e. Hidung : napas cuping hidung (-), deviasi septum(-), discharge(-/-)
f. Telinga : kelainan bentuk aurikula (-/-), discharge (-/-), nyeri (-/-)
g. Mulut: Gusi berdarah (-), Bibir kering (-), Bibir sianosis (-)
h. Leher : Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)
i. Tenggorok : Uvula di tengah, mukosa faring hiperemis (-), Tonsil
T1-T1 tenang.
j. Thorax

16
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis teraba tidak kuat angkat
 Perkusi : konfigurasi jantung dalam batas normal
 Auskultasi : bunyi jantung I-II murni, gallop (-), murmur (-)
Paru :
Kanan Kiri
Depan I = simetris, retraksi (-) I = simetris, retraksi (-)
P = fremitus raba (+), dBN P = fremitus raba (+), dBN
P = sonor P = sonor
A = Ves (+), Rh (-). Wh (-) A = Ves (+), Rh (-). Wh (-)
Belakang I = simetris, retraksi (-) I = simetris, retraksi (-)
P = fremitus raba (+), dBN P = fremitus raba (+), dBN
P = sonor P = sonor
A = Ves (+), Rh (-). Wh (-) A = Ves (+), Rh (-). Wh (-)
Tabel 2.2 Pemeriksaan Paru

Jantung :
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis tidak teraba
 Perkusi : Redup pada ICS II PSL D s/d ICS II PSL S
Redup pada ICS III PSL D s/d ICS IV MCL S
 Auskultasi : S1 S2 tunggal, reguler, ekstra sistole (-), gallop (-),
murmur (-)
k. Abdomen :
 Inspeksi : permukaan dinding cembung,
 Auskultasi : bising usus (+) Normal
 Perkusi : redup
 Palpasi : soepel, turgor dan elastisitas kulit normal,
hepatomegali (-), splenomegali (-), nyeri tekan (-)
l. Anggota Gerak :

17
Atas : akral hangat -/-, odema -/-, tidak ditemukan
pembengkakan sendi

Bawah : akral hangat -/-, odema -/-, tidak ditemukan


pembengkakak sendi.

Hasil Pemeriksaan Penunjang

a) GDS : 108 mg/dl


b) HIV : Non Reaktif
c) Hasil foto Thorax AP

Gambar 2.3. Hasil Foto Polos Thoraks

Trakea di tengah.

Cor : tidak ada pembesaran jantung

Pulmo : terlihat gambaran infiltrat pada parahilus

Sinus kostofrenikus kanan dan kiri tajam.

Hemidiafragma kanan dan kiri baik.

18
2.2.3. Diagnosis Holistik
Aspek 1 :Personal

Keluhan utama : Berat badan tidak stagnant sejak usia 1 tahun.

Harapan : Sembuh dari penyakit TB paru. Sehingga berat


badan dan tinggi badan meningkat.

Kekhawatiran : Orang tua khawatir jika penyakit tidak dapat


disembuhkan sehingga tumbuh kembang dari An. Devan tidak mengalami
perbaikan.

Aspek 2 : Medis Umum

Diagnosa Klinis : TB Paru Primer

Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan hasil foto polos dada dan


laboratorium.

Aspek 3 :Faktor Risiko Internal


a. Berat badan kurang.
b. Kebiasaan hidup yang tidak bersih dan tidak sehat
Aspek 4 :Faktor Risiko Eksternal

a. Kakek perokok berat


b. Tetangga batuk lama dan sering datang kerumah
c. Kepadatan lingkungan rumah
d. Rumah yang tidak sehat
e. Kepadatan hunian rumah
f. Ventilasi kurang
Aspek 5 :Derajat Fungsional

4 : Mampu melakukan perawatan diri, dan mampu melakukan aktifitas.

19
2.2.4 Usulan Terapi Komprehensif
A. Identifikasi Masalah
Berdasarkan dari kasus tersebut didapakan pasien dengan
kasus Tuberkulosis Paru. Dari faktor internal diperoleh perilaku yang
tidak bersih dan sehat dan berat badan kurang. Faktor eksternal yang
didapatkan adalah rumah yang kurang sehat, ventilasi kurang, pasien
tinggal di daerah yang padat penduduk dan kepadatan hunian dalam
rumah.
B. Intervensi
1. Promotif
a. Patient Centered ( melalui orang tua pasien)
- Edukasi ke orang tua pasien mengenai penyakit TB
mencakup : definisi, penyebab, penularan, tanda-tanda,
pencegahan, dan pengobatan dengan.
- Edukasi kepada orang tua pasien mengenai pengobatan
selama 6 bulan dan kepatuhan minum obat.
- Edukasi kepada orang tua pasien mengenai pentingnya
pengecekan berkala untuk mengetahui kondisi imun tubuh
setelah diberikan terapi.
- Edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di Rumah Tangga
- Pemberian leaflet mengenai penyakit TB
- Pemberian leaflet mengenai menu sehat untuk
meningkatkan gizi pasien melalui orang tua pasien.
b. Family Focused
- Edukasi ke keluarga pasien mengenai penyakit TB
mencakup : definisi, penyebab, penularan, tanda-tanda,
pencegahan, dan pengobatan.
- Edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) di Rumah Tangga.

20
- Edukasi cara pemberian gizi seimbang supaya ada
peningkatan pada berat badan dan tinggi badan pasien.
- Edukasi mengenai rumah sehat.
- Edukasi mengenai kepatuhan pasien minum obat yang
perlu diawasi.
2. Preventive
 Menjelaskan kepada Ibu pasien bahwa anaknya menderita infeksi
TB, hal ini kemungkinan didapatkan karena tertular dari anggota
keluarga yang lain.
 Obat harus diminumkan secara rutin setiap pagi hari saat perut masih
kosong dan harus segera kontrol sebelum obat habis.
 Perbaikan gizi anak untuk menunjang kesembuhan dari anak.
 Menjelaskan bahwa penyakit ini bisa disembuhkan asal rutin minum
obat dan orang disekitar rumah yang dicurigai menderita TB paru
segera diperiksakan dan mendapat terapi yang sesuai untuk
mengurangi resiko kekambuhan pada anak.
 Penyakit TB paru pada anak tidak menular.

3. Kuratif
a. Patient Centered
 OAT KDT Anak 2RHZ 2 – 0 – 0 (Fase intensif)
 Lycalvit Syr 2 dd cth I

b. Family Focused

 Peran aktif dalam memberikan obat pasien.


 Keluarga diharapkan dapat memberikan asupan makanan
gizi tinggi kalori tinggi protein kepada pasien.
 Keluarga diharapkan selalu mengingatkan pasien untuk
beristirahat secara cukup.

21
4. Rehabilitatif
a. Patient Centered (melalui orang tua)
- Melalui orang tua pasien pemberikan gizi yang cukup dan
lebih bervariasi.

b. Family Focused
- Perbaikan gizi pasien untuk menunjang kesembuhan dari
pasien.

22
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisa Penyebab Masalah


A. Host

1. Pengetahuan tentang TB Kurang

Berdasarkan kuisoner, pengetahuan pasien tentang TB dan

PHBS sangat minim. Pasien hanya mengenal bahwa batuk merupakan

suatu penyakit yang akan sembuh sendiri. Pasien mengetahui TB

hanya setelah menderita TB yaitu informasi dari puskesmas dan

dokter tempat periksa. Pasien juga tidak mengetahui tentang sebab,

cara penularan, cara penularan dan pengobatan TB yang benar.

Tingkat pengetahuan seseorang akan TB akan mengurangi

resiko terjangkit ataupun penularan TB juga mempengaruhi gaya

hidup seseorang dimana akan dapat mengakibatkan seseorang tidak

dapat meningkatkan taraf hidupnya, dimana dengan taraf hidup yang

baik maka pemenuhan akan kebutuhan pokok dapat dipenuhi dengan

baik. Dengan terpenuhnya kebutuhan pokok khususnya asupan gizi

yang baik maka kejadian penyakit tuberkulosis dapat ditanggulangi,

seiring dengan meningkatnya daya tahan tubuh (Rasmin, 2008).

2. Perilaku yang kurang bersih dan sehat

Menurut Woro, pemutusan rantai penularan TB melalui udara

dapat dihindari jika penderita memiliki kesadaran yang tercermin

pada perilaku sehatnya, seperti menutup mulut menggunakan tisu saat

23
batuk dan membuang dahak pada tempat khusus yang kemudian

disterilkan. Jika seseorang belum terkena TB tetapi lingkungan sekitar

terdapat TB disarankan untuk memakai masker dan menjaga jarak

atau tidak kontak dengan penderita TB, selain itu membersihkan diri

dan cuci tangan setelah berpergian, makan dan minum (Woro, 2008).

B. Agent

Agent adalah faktor esensial yang harus ada agar penyakit dapat

terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup, energi, sesuatu yang

abstrak, suasana sosial, yang dalam jumlah yang berlebih atau kurang

merupakan penyebab utama/esensial dalam terjadinya penyakit

(Soemirat, 2010).

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh

kuman dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacteriumt uberculosis.

Terdapat beberapa spesies Mycobacterium, antara lain:

M.tuberculosis, M.africanum, M.bovis, M.leprae dsb.Yang juga dikenal

sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA).

Secara umum sifat kuman TB (Mycobacterium tuberculosis)

antara lain adalah berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron,

lebar 0, 2-0, 6mikron, bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan

metode Ziehl Neelsen, memerlukan media khusus untuk biakan, antara

lain Lowenstein Jensen, kuman nampak berbentuk batang berwarna

merah dalam pemeriksaan dibawah mikroskop, tahan terhadap suhu

24
rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada

suhu antara 4°C sampai minus 70°C, kuman sangat peka terhadap panas,

cahaya matahari dan cahaya ultraviolet, paparan langsung terhadap

cahaya ultraviolet, sebagian besar kuman akan mati dalam waktu

beberapa menit, dalam dahak pada suhu antara 30-37°C akan mati

dalam waktu lebih kurang 1minggu, kuman dapat bersifat dormant

(Atmosukarto dan Soewasti, 2011).

AGENT

Mycobacterium Tuberkulosa

INFEKSI TUBERKULOSIS

LINGKUNGAN
HOST

 Tinggal Di Lingkungan Padat  Kurangnya pengetahuan orang


tua pasien mengenai penyakit
Penduduk
tuberculosis
 Kepadatan Hunian yang tinggi  Pasien tidak dapat menularkan
 Rumah yang tidak sehat penyakit
 Pasien gemar tidur di lantai
 Pencahayaan dan ventilasi
 Pasien jarang berada diluar
kamar tidur, kamar mandi rumah
kurang  Status gizi kurang

Gambar2.2 Analisis Penyebab Masalah dengan Trias Epidemiologi

25
3.2 USG (Urgency, Seriousness, Growth)

Masalah U S G Total Priotitas

Kepadatan hunian 3 3 3 9 5

Tinggal di lingkungan padat 3 4 3 10 4


penduduk

Ventilasi tidak memenuhi syarat 4 5 4 13 2

Tidak melakukan PHBS 4 4 3 11 3

Pengetahuan mengenai rumah 5 5 4 14 1


sehat kurang

26
3.3 Alternatif Pemecahan Masalah

Masalah Alternatif Pemecahan Masalah

- Pengetahuan mengenai rumah sehat kurang Edukasi mengenai rumah sehat


- Ventilasi tidak memenuhi syarat
- Rumah yang kurang terkena Sinar matahari
- Tinggal di lingkungan padat penduduk Pencegahan penularan TBC disekitar lingkungan pasien
- Kepadatan hunian

- Tidak melakukan PHBS Edukasi mengenai PHBS

27
3.4 Plan of Action (POA)
No Kegiatan Tujuan Sasaran Metode Tempa Waktu Biaya Pelaksa Indikator
t na Keberhasilan
1 Edukasi mengenai Meningkatkan Keluarga  Rumah
D 17 Juni - Dokter Keluarga
rumah sehat pengetahuan dan pasien Edukasi untuk: pasien 2019 muda mengetahui
kemauan FK dengan jelas
-memperbaiki
keluarga pasien UNISSU mengenai rumah
lubang ventilasi
untuk LA sehat dan
memperbaiki -selalu membuka meningkatkan
rumah pintu / jendela upaya untuk
terutama pagi hari mengurangi
kelembaban
- menambah
rumah
ventilasi buatan

2 Edukasi mengenai Meningkatkan Keluarga  Edukasi Rumah 19 Juni - Dokter Keluarga


PHBS kesadaran pasien mengenai etika Pasien 2019 Muda mengetahui
pengetahuan batuk, jemur FK dengan jelas
keluarga pasien peralatan dapur Unissula mengenai PHBS

28
untuk hidup dan kasur, jaga
bersih dan sehat kebersihan diri,
istirahat yang
cukup, makan
makanan yang
bergizi, tidak
merokok

3 Edukasi mengenai Meningkatkan Pasien dan Edukasi Rumah 19 Juni - Dokter Keluarga
Gizi yang baik kesadaran untuk Keluarga menggunakan Pasien 2019 Muda mengetahui
meningkatkan pasien leaflet FK mengenai asupan
asupan gizi yang Unissula gizi yang baik
baik

29
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisa Trias Epidemiologi didapatkan gambaran faktor
yang berpengaruh pada studi kasus TB paru An. D dengan diagnosis
Tuberkulosis paru di Puskesmas Pandanaran Semarang adalah sebagai
berikut :
- Host : kurang pengetahuan mengenai rumah sehat dan status gizi sangat
kurang dengan perawakan sangat kurus dan sangat pendek.
- Agent : Mycobacterium tuberculosa
- Environment :
o Ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat
o Tinggal dan beraktivitas di lingkungan padat penduduk dan sanitasi
buruk
4.2. Saran
a) Untuk Puskesmas
- Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang TBC.
- Pemberian Vitamin B6 untuk mencegah neuropati.
- Menjalin kerjasama dengan sektor lain, contohnya dengan tokoh
masyarakat setempat. Puskesmas dapat melakukan diskusi dengan
tokoh masyarakat setempat, diharapkan tokoh masyarakat dapat
menyampaikan dan mencontohkan perilaku yang dapat meningkatkan
kesehatan di masyarakat.
b) Untuk Pasien
- Memotivasi pasien dan keluarga agar berperilaku hidup bersih dan
sehat
- Memotivasi pasien dan keluarga agar melakukan pengobatan rutin TB
dan meningkatkan PHBS untuk menurunkan angka penularan dan
memberatnya penyakit.
- Jika didapatkan kasus seperti ini lagi segera memeriksakan ke
pelayanan kesehatan terdekat.

30
DAFTAR PUSTAKA
Arianato, E., 2012, Hubungan Antara Gizi Kurang Dengan Prevalensi Tuberculosis Paru
Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun
2010, Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Depkes, RI., 2002, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis, Depkes, Jakarta.

Dinkes Kota Semarang, Profil kesehatan Kota Semarang tahun 2018. Semarang: Dinkes Kota
Semarang.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis.. Jakarta. 2014.
Keman, I. & Ibrahim, E. (2005) Hubungan perilaku dan kondisi lingkungan fisik rumah

dengan kejadian TB Paru di Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kementrian Kesehatan RI, 2018, Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2017. Jakarta,
2018

Kementrian Kesehatan RI, 2015, Survei Prevalensi Tuberkulosis 2013-2014. Jakarta

Kemenkes RI., Strategi Nasional Pengendalian Tb Di Indonesia 2010 – 2014. Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan
Penyehatan Lingkungan 2011.

Munoz FM, Starke JR. Tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis). In : Behrman RE,


Kliegman RM, Jenson HB,editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Philadelphia:
Saunders, 2004; p. 958-72.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), 2006, Tuberkulosis; Pedoman Diagnosis &
Terapi Di Indonesia.

Rasmin, M., et al, 2008. Profil Penderita Tuberkulosis Paru di Poli Paru RS Persahabatan
Januari – Juli 2008. Department of Pulmonology and Respiratory Medicine, Faculty of
Medicine University of Indonesia, Persahabatan Hospital, Jakarta, Indonesia

31
Sidhi, D.P., 2010, Riwayat Kontak Tuberkulosis Sebagai Faktor Resiko Hasil Uji Tuberkulin
Positif. Tesis. Universitas Diponegoro, Semarang.

Soesanto, Sri S., Lubis, A., Atmosukarto, K., 2000, Hubungan Kondisi Perumahan Dengan
Penularan Penyakit ISPA dan TB Paru, Media Litabng Kesehatan Vol X Nomor 2.

WHO, 2017. Global Tuberculosis Report 2017, Jenewa

Widoyono, 2011, Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Edisi II . Erlangga, Jakarta

32
Lampiran
Lampiran 1. Dokumentasi

33
Lampiran 2. Kuesioner PHBS

No Indikator Perilaku ya tidak


1 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan √
2 Asi Ekslusif √
3 Penimbangan balita √
4 Gizi keluarga/ sarapan √
5 Pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali √
KLP Kesling
6 Air bersih √
7 Anggota rumah tangga menggunakan jamban √
8 Anggota rumah tangga membuang sampah pada √
tempatnya
9 Lantai rumah kedap air √
KLP GAYA HIDUP
10 Aktivitas fisik/olahraga √
11 Tidak ada anggota keluarga yg merokok √
12 Mencuci tangan √
13 Menggosok gigi minimal 2 kali sehari √
14 Anggota rumah tangga tidak menyalahgunakan √
Miras/Narkoba
KLP UKM
15 Anggota rumah tangga menjadi peserta JPK/Dana Sehat √
16 Anggota rumah tangga melakukan PSN seminggu sekali √

Keterangan

 Sehat pratama : 0-5


 Sehat Madya : 6-10
 Sehat Utama : 11-15
 Sehat Paripurna : 16

Dari hasil di atas didapatkan skor 10 sehingga dapat di klasifikasikan sebagai keluarga yang
memiliki PHBS Strata Sehat Madya.

34
KOMPONEN
NO RUMAH YG KRITERIA NILAI BOBOT
DINILAI
I KOMPONEN RUMAH
31
Lampiran 3: Kriteria Rumah Sehat
1 Langit-langit a. Tidak ada 0
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan rawan kecelakaan 1 1
c. Ada, bersih dan tidak rawan kecelakaan 2
a. Bukan tembok (terbuat dari anyaman
2 Dinding bambu/ilalang) 1
b. Semi permanen/setengah tembok/pasangan bata
atau 2 2
batu yang tidak diplester/papan yang tidak kedap air.
c. Permanen (Tembok/pasangan batu bata yang
diplester) 3
papan kedap air.
3 Lantai a. Tanah 0
b. Papan/anyaman bambu dekat dengan
tanah/plesteran 1
yang retak dan berdebu.
c. Diplester/ubin/keramik/papan (rumah panggung). 2 2
4 Jendela kamar tidur a. Tidak ada 0
b. Ada 1 1
5 Jendela ruang keluarga a. Tidak ada 0
b. Ada 1 1
6 Ventilasi a. Tidak ada 0
b. Ada, lubang ventilasi < 10% dari luas lantai 1 1
c. Ada, lubang ventilasi > 10% dari luas lantai 2
7 Lubang asap dapur a. Tidak ada 0 1
b. Ada, lubang ventilasi dapur < 10% dari luas lantai
dapur 1

35
b. Ada, lubang ventilasi dapur > 10% dari luas lantai
dapur 2
(asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust
fan
atau ada peralatan lain yang sejenis.
a. Tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk
8 Pencahayaan membaca 0
b. Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk
membaca 1
dengan normal
c. Terang dan tidak silau sehingga dapat dipergunakan
untuk 2 2
membaca dengan normal.

II SARANA SANITASI
25
1 Sarana Air Bersih a. Tidak ada 0
b. Ada, bukan milik sendiri dan tidak memenuhi
(SGL/SPT/PP/KU/PAH). syarat kesh. 1
c. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesh. 2
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat kesh. 3 3
d. Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi syarat
kesh. 4

2 Jamban (saran pembua- a. Tidak ada. 0


b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup, disalurkan
ngan kotoran). ke 1
sungai / kolam
c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, disalurkan ke
sungai 2
atau kolam
d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, septic tank 3 3

36
e. Ada, leher angsa, septic tank. 4
a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak teratur di
3 Sarana Pembuangan halaman 0
Air Limbah (SPAL) b. Ada, diresapkan tetapi mencemari sumber air (jarak 1
sumber air (jarak dengan sumber air < 10m).
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka 2 2
d. Ada, diresapkan dan tidak mencemari sumber air
(jarak 3
dengan sumber air > 10m).
e. Ada, dialirkan ke selokan tertutup (saluran kota)
untuk 4
diolah lebih lanjut.
4 Saran Pembuangan a. Tidak ada 0
Sampah/Tempat Sampah b. Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak ada tutup 1
c. Ada, kedap air dan tidak bertutup 2 2
d. Ada, kedap air dan bertutup. 3

37
PERILAKU
III PENGHUNI 44

1 Membuka Jendela a. Tidak pernah dibuka 0


Kamar Tidur b. Kadang-kadang 1 1
c. Setiap hari dibuka 2

2 Membuka jendela a. Tidak pernah dibuka 0 0


Ruang Keluarga b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2

3 Mebersihkan rumah a. Tidak pernah 0


dan halaman b. Kadang-kadang 1 1
c. Setiap hari 2

4 Membuang tinja bayi a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam sembarangan 0


dan balita ke jamban b. Kadang-kadang ke jamban 1
c. Setiap hari dibuang ke jamban 2 2

5 Membuang sampah a. Dibuang ke sungai / kebun / kolam sembarangan 0


pada tempat sampah b. Kadang-kadang dibuang ke tempat sampah 1
c. Setiap hari dibuang ke tempat sampah. 2 2

Pemberantasan sarang a. Terdapat jentik nyamuk 0 0


6. nyamuk b. Tidak terdapat jentik nyamuk 1
TOTAL HASI PENILAIAN

Keterangan :
Hasil Penilaian : NILAI x BOBOT

38
Kriteria : 341+250 + 264= 855 (rumah tidak sehat)
1) Rumah Sehat = 1068 – 1200
2) Rumah Tidak Sehat = < 1068

39
Lampiran 4: Kuesioner TB Paru
Sebelum penyuluhan

40
Sebelum penyuluhan

41
Lampiran 5; Leaflet Penyuluhan
Leaflet TB Leaflet Gizi

42
Lampiran 5: Cuci Tangan

43