Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN

MASALAH GANGGUAN SENSORI PERSEPSI

Di susun oleh :

Novita Diana wulan sari 1407048

Oktaviana Putri 1407054

Reni Anderiyani S 1407056

Rio Ujiana A 1407058

PROGRAM STUDI NERS

STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Menjadi tua adalah suatu proses natural dan kadang-kadang tidak
tampak mencolok. Penuaan akan terjadi pada hampir semua sistem tubuh
manusia dan tidak semua sistem akan mengalami kemunduran pada waktu
yang sama. Meskipun proses menjadi tua merupakan gambaran yang
universal, tidak seorangpun mengetahui dengan pasti penyebab penuaan
dan mengapa manusia menjadi tua pada usia yang berbeda-beda.
Dahulu para ilmuan telah membuat teori tentang penuaan seperti
Aristoteles dan Hipocrates yang berisi tentang suatu penurunan suhu tubuh
dan cairan secara umum. Sekarang dengan seiring jaman banyak orang
yang melakukan penelitian dan penemuan dengan tujuan supaya ilmu itu
dapat semakin jelas, komplek dan variatif. Ahli teori telah
mendeskripsikan proses biopsikososial penuaan yang kompleks. Tidak ada
teori yang menjelaskan teori penuaan secara utuh. Semua teori masih
dalam berbagai tahap perkembangan dan mempunyai keterbatasan.
Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu
proses kehidupan yang ditandai dengan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan stress lingkungan. Penurunan kemampuan berbagai
organ, fungsi dan sistem tubuh itu bersifat alamiah/fisiologis. Penurunan
tersebut disebabkan berkurangnya jumlah dan kemampuan sel tubuh. Pada
umumnya tanda proses menua mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan
menimbulkan masalah pada usia sekitar 60 tahun.
Dimasa datang, jumlah lansia di Indonesia semakin bertambah. Tahun
1990 jumlah lansia 6,3 % (11,3 juta orang), pada tahun 2015 jumlah lansia
diperkirakan mencapai 24,5 juta orang dan akan melewati jumlah balita
yang ada pada saat itu diperkirakan mencapai 18,8 juta orang. Tahun 2020
jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan menempati urutan ke 6
terbanyak di dunia dan melebihi jumlah lansia di Brazil, Meksiko dan
Negara Eropa. Oleh karena itu dalam penyusunan makalah ini penulis
akan membahas tentang proses penuaan pada penurun fungsi sensori.

B. Tujuan
Tujuan umum : mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada
lansia dengan masalah gangguan sensori persepsi
Tujuan khusus :
1. Mahasiswa mampu Melakukan pengkajian keperawatan pada
lansia dengan gangguan sensori
2. Mengetahui definisi dari sensori
3. Mengetahui bagaimana proses penuaan
4. Mengetahui bagaimana perubahan fisiologis penuaan pada
penginderaan
5. Mengetahui masalah sensori pada lansia
BAB II
KONSEP DASAR TEORI
A. Pengertian :
Gangguan sensorik indera adalah : perubahan dalam persepsi
derajat serta jenis reaksi seseorang yang diakibatkan oleh meningkat
menurun atau hilangnya rangsangan indera ( Sisi Maryam, 2008 ).

B. Etiologi
hal- hal yang menyebabkan gangguan sensorik :
tersekap dalam ruangan yang sempit
tersekap dalam ruangan yang tidak berjendela
rangsangan dari luar secara terus- menerus, misalnya penerangan lampu,
suaara tau kerumunan orang.
Kurangnya rangsangan baru
Penempatan klien lansia dalam ruangan yang terisolasi ( Noor Kastani, S.
Tamher, 2009 ).

C. Manifestasi klinik
1. Halusinasi dan atau waham
2. Menarik diri
3. Sikap bermusuhan yaitu dengan mencari petugas
4. Perasaan yang tidak adekuat, suka menangis
5. bingung atau disorientasi waktu, tempt dan perorangan
6. gangguan indera misalnya: penciuman, perabaan, penglihatan dan
pendengaran
7. ganguan psikomotorik timbul kebosananan gelisah ( Mickey
Stanley, 2006 )

D. Masalah Sensori Pada Lansia


1. Mata atau penglihatan
Deficit sensori ( misalnya, perubahan penglihatan) dapat
merupakan bagian dari penyesuaian yang berkesinambungan yang
datang pada usia lanjut, perubahan penglihatan dapat
mempengaruhi pemenuhan AKS pada lansia.
Perubahan indra penglihatan pada awalnya dimulai dengan
terjadinya awitan presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif.
Ini karena sel-sel baru terbentuk dipermukaan luar lensa mata,
maka sel tengah yang tua akan menumpuk dan menjadi kuning,
kaku, padat dan berkabu. Jadi, hanya bagian luar lensa yang masih
elastic untuk berubah bentuk (akomodasi) dan berfokus pada jarak
jauh dan dekat. Karena lensa menjadi kurang fleksibel, maka titik
dekat fokus berpindah lebih jauh. Kondisi ini disebut presbiopi,
biasa bermula pada usia 40-an. ( Smeltzer, Suzanne C, buku ajar
medical beda, edisi 8, 2001 hal: 179-180 )
a. Penurunan kemampuan penglihatan
Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya
adalah progesifitas dan pupil kekunningan pada lensa mata,
menurunnya vitous humor, perubahan ini dapat
mengakibatkan berbagai masalah pada usia lanjut seperti :
mata kabur, hubungan aktifitas sosial, dan penampialan
ADL, pada lansia yang berusia lebih dari 60 tahun lensa
mata akan semakin keruh, beberapa orang tidak mengalami
atau jarang mengalami penurunan penglihatan seirinng
dengan bertambahnya usia.
b. ARMD ( Age- related macular degeneration )
ARMD terjadi pad usia 50-65 tahun dibeberapa kasus ini
mengalami peningkatan makula berada dibelakang lensa
sedangkan makula sendiri berfungsi untuk ketajaman
penglihatan dan penglihatan warna, kerusakan makula akan
menyebabkan sesorang mengalami gangguan pemusatna
penglihatan.
Tanda dan gejala ARMD meliputi : penglihatan samara-
samar dan kadang-kadang menyebabkan pencitraan yang
salah. Benda yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan,
saat melihat benda ukuran kecil maka akan terlihat lebih
kecil dan garis lurus akan terlihat bengkok atau bahkan
tidak teratur. Pada dasarnya orang yang ARMD akan
mengalami gangguan pemusatan penglihatan, peningkatan
sensifitas terhadap cahaya yang menyilaukan, cahaya redup
dan warna yang tidak mencolok. Dalam kondisi yang parah
dia akan kehilangan penglihatan secara total.
Pendiagnosaan dilakukan oleh ahli oftomologi dengan
bantuan berupa test intravena fluorerensi angiografy.
Treatment
Beberapa kasus dalam ARMD dapat dilakukan dengan
tembok laser (apabila akondisi tidak terlalu parah)
pelaksanaan dalam keperawatan adalah membantu aktifitas
sehari-harinya, membantu perawatan diri dan memberikan
pendidikan tentang ARMD.
c. Glaukoma
Glaukoma dapat terjadi pada semua usia tapi resiko tinggi
pada lansia usia 60 tahun keatas, kerusakan akibat
glaukoma sering tidak bisa diobati namun dengan medikasi
dan pembedahan mampu mengurangi kerusakan pada mata
akibat glaukoma. Glaukoma terjadi apabila ada peningkatan
tekanan intra okuler ( IOP ) pada kebanyakan orang
disebabkan oleh oleh peningkatan tekanan sebagai akibat
adanya hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola mata
(cairan jernih berisi O2, gula dan nutrisi), selain itu
disebabkan kurang aliran darah kedaerah vital jaringan
nervous optikus, adanya kelemahan srtuktur dari syaraf.
Populasi yang berbeda cenderung untuk menderita tipe
glaukoma yang berbeda pula pada suhu Afrika dan Asia
lebih tinggi resikonnya di bandinng orang kulit putih,
glaukoma merupakan penyebab pertama kebutuhan di Asia.
Tipe glaukoma ada 3 yaitu :
1. Primary open angle Gloueoma (glaukoma sudut terbuka)
2. Normal tenion glukoma (glaucoma bertekanan normal)
3. Angel clousure gloukoma (Glaukoma sudut tertutup)
Treatment
Ketika tanda dan gejala sudah muncul segera lakukan
pemeriksaan alatnya berupa tanometer ) Penangananya
berupa :
Tetes mata : cara ini merupakan cara umum dan sering dan
harus dilakukan, sebagian klien dapat mendaptkan respon
yang bagus dari obat namun beberapa juga tidak ada respon
pemberian obat harus sesuai dengan tipe glaukoma.
Bedah laser : ( trabukulopasty) ini dilakuka jika obat tetes
mata tidak menghentikan glaukoma. Walaupun sudah
dilaser obat harus diberikan
Pembedahan ( trabekulectomy) sebuah saluran dibuat untuk
memungkinkan caira keluar, tindkan ini dapat
menyelamatkan sisa penglihtan yang ada.
Obat yang diperlukan :
a. Pilocarpine atau timololmalat
Yaitu untuk mencegah keparahan glaukoma dan
menurunkan produk cairan yang yang menyebabkan
gangguan pulmo dan detak jantung menurun. Betaxolol (
betotik ) direkomendasi bagi klien yang ,enderita asma atau
eapisima, pilocarpine menyebabkan miosis ( kontriksi )
pupil tetapi mempu menormalkan tekanan boal mata, obat
lain seperti : Brimohidrine, untuk menurinkan aquous
humor.
b. Oral karbonik anhydrase inhibitor seperti acitamolamide
(diamox ) yaitu untuk mengurangi cairan., obat ini
menyebabkan depresi, fatique latorgy.
d. Katarak
Katarak adalah tertutupnya lensa mata sehingga
pencahayaan da fokusing terganggu (retina) katarak terjadi
pada semua umur namun yang sering terjadi pada usia > 55
tahun. Tanda dan gejalanya berupa : Bertanbahnya
gangguan penglihatan, pada saat membaca / beraktifitas
memerlukan pencahayaan yang lebih, kelemahan melihat
dimalam hari, penglihatan ganda.
Penanganan yang tepat adalah pembenahan untuk
memperbaiki lensa mata yang rusak pembedahan dilakukan
bila katarak sudah mengganggu aktifitas namun bila tidak
mengganngu tidak perlu dilakukan pembedahan.
e. Entropi dan eutropi
Entropi dan eutropi terjadi pada lansia, kondisi ini tida
menyebabkan gangguan penglihatan namun menyebabkan
gangguan kenyamanan. Entropi adalh kelopak mata yang
terbuka lebar ini menyebabkan mata memerah entropi
terjadikarena adanya kelemahan pada otot
konjungtifa.ektropi adalah penyempitan konjungtiva
2. Telinga atau pendengaran
Perubahan indra pendengaran pada lansia disebut presbikusis.
Mhoon menggambarkan fenomena tersebut sebagai “suatu
penyakit simetris bilateral pada pendengaran yang berkembang
secara progreif lambat terutama memengaruhi nada tinggi dan
dihubngkan dengan penuaan”.
Lansia sering tidak mampu mengikuti percakapan karena nada
konsonan frekuansi tinggi ( huruf f, s, th, ch, sh, b, t, p ) semua
terdengar sama. ( Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda,
edisi 8, 2001, hal: 180)
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berbagai factor yang telah
diteliti adalah ; nutrisi, factor genetika, suara gaduh, hipertensi,
stress emosional, dan arteriosklerosis. Penurunan pendngaran
terutama berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan
presbikusis.
Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian
dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf
pendengaran, batang otak atau jalur kortikal pendengaran)
penyebab dari perubahan konduksi tidak diketahui, tetapi masih
mungkin berkaitan dengan perubahan pada tulang telinga tengah,
dalam bagian koklear atau didalam tulang mastoid (Mickey
Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)
Kehilangan pendengaran menyebabkan lansia berespon tidak
sesuai dengan yang diharapkan, tidak memahami percakapan, dan
menghindari interaksi social. Perilaku ini sering disalahkaprahkan
sebagai kebingungan atau senil ( Smeltzer, Suzanne C, buku ajar
medical beda, edisi 8, hal: 180)
a. Tuli
Persepsi sensori terjadi apabila seseorang mengalami
kelainan pada organ korti, saraf VIII (Vestibulocochelaris
N) pusat pendengaran otak, keadaan pada seseorang yang
tuli persepsi terjadi gangguan mendengar baik melalui
hantaran udara maupun tulang.
b. Tinnitus
Selain yang disebutkan diatas, gangguan pendengaran yang
lain adalah tinnitus, tinnitus merupakan gangguan
pendengaran berupa ada suara di telinga (suara nging).
Tinitus terjadi karena adanya gangguan pendengaran
konduktif atau sensoris. Suara yang muncul seperti suara
bising atau segala sesuatu yang membikin tidak nyaman.
Tinnitus bisa juga terjadi karena adanya otoselorosis atau
karena adanya ototxic obat yang dikonsumsi seperti
gentamisin atau aspirin.
Tinnitus bukan merupakan sebuah penyakit namun sebuah
gejala dari adanya gangguan pendengaran bagaimanapun
juga kondisi ini memunculkan banyak masalah, tinnitus
kadang tidak dirasakan dalam lingkungan yang ramai
namun akan sangat teras dilingkungan yang sepi. Beberapa
orang tinnitus dapat menyebabkan kecemasan besar suara
musik yang pelan adanya gaduhnya lingkungan dapat
membantu mengalihkan suara dengung ditelinga.
Treatment
Management perawatan gangguan pendengaran pada lansia
tergantung dari jenis gangguannya seperti alat bantu
pendengaran hanya bisa digunakan walupun sedikit paa
lansia dengan ganguan pendengaran konduktif dan tidak
bisa digunakan untuk gangguan pendengaran sensori.
Kebersihan liang telinga dari penumpukan serumen sangat
membantu pendengaran lansia. Pembersih serumen dapat
dilakukan dengan irigasi normal yang saling dihangatkan.
Alat bantu pendengaran bisa membantu fungsi pendengaran
lansia yang telah berkurang. Namun, alat pendengaran tidak
bisa menyelesaikan masalh karena pmakaian alat bantu
pendengaran bagi beberapa orang menyebabkan rasa malu
(sehingga tidak mau pakai). Hal ini membutuhkan bantuan
dari ahli audiologi untuk dijadikan support dari sumber
sugesti bagi penderita.
3. Penciuman ( hidung ).
Pada sistem penciuman terjadi pembentukan kartilago yang
terus menerus terbentuk didalam hidung sesuai proses penuaan,
menyebabkan hidung menonjol lebih tajam. Atropi progresif pada
tonjolan olfaktorius juga terjadi, mengakibatkan kemunduran
terhadap dalam indra penciuman. Masalah yang sering terjadi pada
lansia adalah gangguan pada penciuman terhadap bau-bauan.
Kenikmatan makan akan didukung oleh indra pembau, makan yang
dibau akan merangsang mukosa hidung untuk menghantar impuls
ke otak untuk menyimpulkan bahwa makan itu enak atau tidak. Ini
juga akan berpengaruh terhadap keinginan pemenuhan nutrisi (
Bandiyah, 2009 ).
4. Pengecap
Organ pengecap yang paling berperan adalah pada bagian depan,
tepi dan belakang, rasa manis dan asin berada pada bagian ujung
lidah, asam dibagian tepi sedang pahit dipangkal lidah. Fungsi
pengecap akan berubah seiring bertambahnya usia. Kerusakan
fungsi pengecap akan menyebabkan makan kurang bergairah
terkadang seorang lansia perlu menambah jumlah garam karena dia
merasa bahwa masakannya kurang asin (padahal sudah asin).
Kenikmatan makan akan didukung oleh indra pembau, makan yang
dibau akan merangsang mukosa hidung untuk menghantar impuls
ke otak untuk menyimpulkan bahwa makan itu enak atau tidak. Ini
juga akan berpengaruh terhadap keinginan pemenuhan nutrisi (
Bandiyah, 2009 ).
5. Gangguan pengaturan suhu
Akibat kurang baiknya kerja bagian otak besar ( hipotalamus)
sebagai pengatur suhu (termostat) untuk menetapkan ke suatu suhu
tertentu. Bila termostat menetap tinggi pada suhu rendah akan
merangsang tegaknya rambut kulit (pilokontraksi) penyempitan
pembuluh darah tepi menggigil dan perasaan dingin, lansia tersebut
ingin berbaju tebal untuk manyamai suhu yang ditetapkan oleh
pengatur suhu tersebut, sebaliknya bila suhu ditetapkan rendah,
maka terjadi mekanisme pelebaran pembuluh darah, berkeringat
dan melepaskan baju untuk menyamakan suhu yang di tetapkan
oleh termostat tersebut lansia dapat terkena.
a. Panas tinggi (hipertermia)
Suhu tubuh menjadi > 40,60 c, bisa terjadi gangguan fungsi
susunan saraf hebat (psikosis/ ngacau, delirium/ kesadaran
menurun, koma/tidak sadar) dan gejala anhidrosis / kulit
panas dan kering, hipertermi dapat terjadi karena beberapa
hal : infeksi, dimulai dari gejala yang tidak spesifik seperti
rasa gemetar, ras hangat, anoreksia/ tidak mau makan,
mual, muntah, nyeri kepal dan sesak.
b. Hipotermia
Apabila suhu tubuh rektal / anus, esofagial / pangkal lidah
atau telinga menjadi < 35 c hal ini dapat dipicu dari paparan
hawa dingin. Perlu dipikirkan tempat yang sejuk tidak
langsung kena AC. Gejal awl biasanya ringan dan tidak
jelas (32-350 C) seperti rasa capai/ fatingue, lemah, langkah
melambat, apatis, bicara pelo, bingung, menggigil, kulit
dingin, dapat disebabkan oleh hipotiroidesme terutama bila
disebabkan bekas operasi tiroiddilehernya, pengobatan
sementara diberikan selimut hangat dan minuman hangat (
Bandiyah, 2009 ).

Asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan sensori persepsi


Konsep askep gangguan sensori ( penglihatan )
A. fokus pengkajian pada masalah penglihatan lansia :
Rasa nyeri pada mata
kelemahan penglihatan atau buram
penglihatan ganda
kehilangan penglihatan yang datang tiba-tiba
tekanan bola mata
B. Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan manajement perawat dirumah B/D turunnya penglihatan
2. Self care defisit B/D kerusakan penglihatan
3. social isolation B/D penglihatan yang tidak jelas, aktifitas gerak
yang tidak bebas
4. Resiko cidera B/D kerusakan penglihatan
5. Kurang pengetahuan
6. Intoleransi aktivitas
Konsep askep gangguan sensori ( pendengaran )
A. Fokus pengkajian pada klien dengan ganguan pendengaran
Kaji adanya penguanaan obat-obat yang menyebabkan ototoxic dan
merusak ssp serta organ-organ bagian telinga dan keseimbanagan
Kaji riwayat penguanaan obat-obatan
B. Diagnosa keperawatan
Kerusakan komunikasi verbal B/D kerusakan pendengaran
Kerusakan aktivitas B/D ketidakseimbangan dalm beraktifitas karena
hilangnya fungsi pendengaran.
Kehilangan perawatan diri dirumah B/D hilangnya fungsi pendengaran
Kerusakan interaksi sosial B/D kerusakan sarf sensori
C. Intervensi
1. Rencana perawatan bergantung pada penilaian perawat tentang
persepsi dan penerimaan klien tentang perubahan yang terjadi
dalam dirinya.
2. Prioritas perawatan harus diatur dengan mempertimbangkan
mengenai luasnya perubahan sensori yang terjadi
3. Tujuan perawatan klien yang mengalami perubahan sensori-
persepsi:
a. Klien memelihara fungsi indera yang ada saat ini
b. Menyediakan stimulus yang bermakna di lingkungan
c. Menyediakan lingkungan yang aman
d. Mampu melakukan perawatan diri
e. Klien dapat terlibat aktif dalam kegiatan sosial
f. Tidak terjadi perubahan sensori yang semakin buruk
BAB III
STUDI KASUS

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
Nama : Tn.P
Alamat : Binjai
Telp : - Tempat,
Tanggal lahir/Umur : Tanjung keliling,4 maret 1932
Jenis kelamin : Laki - Laki
Suku : Jawa
Agama : Islam
Status perkawinan : Duda
Pendidikan : -
Alamat : Binjai
Orang yang paling dekat di hubungi : Anak Kandung
2. Riwayat keluarga
Tn.P tinggal bersama anak dan menantunya, kemudian
menantunya mengantarkan kepanti sosial, dikarenakan tidak ada
yang merawat Tn, P dirumah.Anak perempuan sibuk bekerja dan
mengurusi rumah tangganya sehingga kurang memperhatikan Tn,P
istrinya sudah meninggal dunia dikarenakan kelumpuhan. Setelah
tinggal di panti sosial Tn.P menikah lagi dengan Ny,S yang mana
mereka bertemu dipanti sosial tersebut dan mereka pun tinggal
bersama di wisma Matahari, tetapi Tn.P mengatakan kalau dia
hidup bersama dengan Ny.S hanya sekitar 5 tahun. Karena Tn.P
keluarga telah meninggal dunia pada umur 100 tahun akibat
kelumpuhan dan serangan jantung dan Tn,P keluargadikebumikan
di kawasan panti sosial tersebut.
3. Riwayat pekerjaan
Saat ini Tn.P tidak bekerja, sebelum tinggal di panti sosial Tn.P
bekerja sebagai petani dan kadang - kadang Tn.P pun berjualan
tape untuk memenuhi kebutuhannya sehari - hari. Dan setelah
tinggal di panti, Tn.P tidak lagi sanggup untuk bekerja
dikarenakan semakin meningkatnya usia.
4. Riwayat lingkungan hidup
Tn.P tinggal bersama anak dan menantunya, yang mana rumah
terbuat dari bambu dan atap dari rumbia, Rumah Tn.P tidak
bertingkat, dan didalam rumah terdapat dua kamar. Adapun jumlah
orang yang ada di rumah Tn.P tersebut adalah 11 orang, yang mana
8 orang adalah cucu dari Tn.P dan 2 lagi adalah anak dan menantu
dari An.S sendiri. Tetangga terdekat Tn.P adalah Ny. A yang selalu
membantu dikala Tn.P mengalami kesulitan.
5. Riwayat rekreasi
Tn.P mempunyai hobi berjualan, Tn.P hidup dengan rukun
bersama anak - anaknya, Dalam keluarga Tn.P tidak mempunyai
kegiatan rekreasi.
6. Sumber atau sistem pendukung yang di gunakan
Bila Tn.P sakit, Tn.P berobat ke klinik yang tidak jauh dari tempat
tinggal jauh.
7. Kebutuhan istirahat dan tidur
Sebelum tiggal dipanti, Tn,P tidak mempunyai kegiatan atau
kebiasaan waktu tidur. Setelah tinggal dipanti Tn,P tidur malam ±
7 - 8 jam dan siangnya Tn.P menghabiskan waktunya untuk tidur
dikamar dan akan bangun kalau waktu makan saja.
8. Status kesehatan saat ini
Sejak satu tahun lalu Tn.P mengeluh nyeri di daerah kepala dan
dada. Tn. Pmengalami sakit ini sudah satu tahun ini, dulunya Tn.P
tidak tahu kenapa dia terus mengalami pusing dan dadanya terasa
sesak, tapi setelah Tn.p berobat di klinik baru Tn.Ptahu kalau Tn.P
sakit hipertensi. Biasanya Tn.P mengonsumsi captopril 12, 5 mg
2x1 dan kalau sakit dadanya kumat Tn.P mengkonsumsi neo
napacin tablet 1x dalam sehari. Tn.P tidak pernah di imunisasi,
danTn.P tidak ada riwayat alergi, baik alergi terhadap obat maupun
makanan.Tn.P makan 3x sehari dengan ½ porsi, Tn. P mempunyai
berat badan : 50 kg, Tn.P tidak punya masalah dalam
mengkonsumsi makanan.
9. Status kesehatan masa lalu
Tn.P tidak mempunyai penyakit pada masa anak - anak, dan tidak
pernah di rawat di rumah sakit. Tetapi Tn.P mengatakan kalau
Tn.P pernah mengalami trauma yang mana waktu usia 18 tahun
mata Tn.P terkena batang padi, sehingga menyebabkan Tn.P tidak
bisa melihat sampai sekarang. Dan Tn.P juga mengatakan sewaktu
terjadinya kejadian itu, Tn.P tidak langsung berobat, karena pada
waktu itu menurut keteranganTn.P belum ada layanan kesehatan,
jadi mata Tn.P hanya di obati dengan obat kampung saja.
10. Riwayat keluarga
Tn.P merupakan anak pertama dari dua bersaudara, tetapi adik
Tn.Ptelah meninggal dunia pada umur 70 tahun dikarenakan
penyakit darah tinggi. Dan ayah dari Tn.P sendiri telah meninggal
dunia sewaktu usia Tn.P 13 tahun. Sedangkan ibunya meninggal
karna kelumpuhan di waktu usia Tn.P 35 tahun
11. Genogram

ibu
AYAH
uu
H
u
ayah
Ket :

: Laki – Laki : Meninggal : Anak


: Perempuan : Meninggal : tinggal serumah

B. Pemeriksaan fisik
1. Vital sign
TD : 190/100 Mmhg RR : 28 x/m Pols : 84 x/m Temp : 36 c
2. Pemeriksaan lain
a. Kepala
Bentuk kepala Tn.P bulat, kulit kepala tidak terlalu bersih, rambut
acak - acakan dengan warna rambut putih, dikepala terdapat
ketombe dan bau yang khas.Dan Tn.P juga mengaku sering
mengalami sakit dan gatal pada kulit kepala.
b. Mata
Tn.Pmengalami perubahan penglihatan, dikarenakan usia lanjut.
Dan mata Tn.P hanya satu yang bisa melihat. Hal itu dikarenakan
adanya trauma yang terjadi pada Tn.P sehingga mengakibatkan
mata kanannya tidak lagi berfungsi. Tn.P tidak menggunakan
kacamata, sehingga dengan begitu Tn.P tidak terlalu bisa melihat
dengan baik.
Fungsi penglihatan : terganggu karena adanya kekeruhan lensa
pada mata sebelah kanan dan mata sebelah kirinya tidak bisa
melihat dengan baik dikarenakan usia lanjut.
c. Telinga
Pendengaran Tn.P tidak lagi berfungsi dengan baik, Tn.P tidak bisa
mendengar detak jarum jam, serumen ada dalam batas normal. Di
dalam telinga Tn.P tidak ada keluar cairan maupun peradangan.
Dan Tn.P juga tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
Fungsi pendengaran : tidak terlalu baik, karna Tn.P tidak lagi bisa
mendengar dengan baik dikarenakan usia Tn.P yang semakin
bertambah.
d. Hidung
Tn.P dapat mencium dengan baik. Didalam hidung tidak terdapat
polip dan tidak ada obstruksi didalam hidung. Dan didalam hidung
Tn.P juga tidak ditemukan adanya pendarahan maupun
peradangan.
Fungsi Penciuman : baik, karna Tn.P masih bisa mencium dengan
baik.
e. Mulut
Rongga mulut terlihat kotor kering dan pucat. Gigi Tn.P hanya
tinggal 3 batang itu pun tinggal separuh karena habis keropos,
lidah terlihat agak kotor dan pucat. Tn.P mengalami perubahan
suara. Suara sesak, dan Tn.P mengalami kesulitan menelan.
Fungsi pengecapan : terganggu karna Tn.P sulit untuk mengunyah
dikarenakan gigi yang semakin lama semakin habis keropos dan
adanya karies pada gigi Tn.P.
f. Leher
Pada leher Tn.P tidak dijumpai pembengkakan pada kelenjar
tyroid. Nyeri tidak ada, dan pada leher Tn.P juga tidak ditemukan
benjolan.
g. Payudara
Ukuran dan bentuk payudara Tn.P normal. Dan tidak ditemukan
adanya kelainan pada payudara Tn.P Dan pada payudara Tn.P
juga tidak ditemukan adanya benjolan dan pembengkakan serta
tidak ada keluar cairan dari putting susu.
h. Pernafasan
Inspeksi : simetris kedua lapangan paru
Perkusi : sonor kedua lapangan paru
Palpasi : strem premitus kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler kedua lapangan paru
i. Kardiovaskuler
Tn.P sering mengalami nyeri dan ketidaknyaman pada dada, Tn.P
sering mengalami sesak nafas, dan jika sesak nafasnya kumat Tn.P
meminum neo napacin 1x dalam sehari. Sedangkan didaerah kaki,
Tn.P tidak lagi dapat berjalan dengan baik, Tn.P berjalan bungkuk
dan terdapat perubahan warna kaki pada Tn.P
j. Gastrointestinal
Tn.P mengalami disfagia dan perubahan kebiasaan pada defekasi.
dan Tn.Pjuga mengatakan kalau dia sering mengalami nyeri pada
ulu hati. Tetapi walaupun Tn.Pmengalami disfagia tetapi Tn.P
masih dapat mencerna makanan dengan baik, walaupun sedikit
demi sedikit.
k. Muscolakeletal
Tn.P mengalami kelemahan otot, tetapi walaupun demikian Tn.P
tidak mempunyai masalah dengan cara berjalan. Tn.P masih bisa
berjalan sendiri tanpa menggunakan alat bantu seperti tongkat.
l. Sistem saraf pusat
Tn.P mengaku sering mengalami sakit kepala, tetapi Tn.P
mengatakan kalau dirinya belum pernah mengalami kejang dan
serangan jantung. Karena semakin meningkatnya usia maka Tn.P
mengalami masalah pada memorinya, sehingga Tn.P tidak mampu
mengingat semua masa lalunya.
m. Sistem integumen
Tn.P mengaku sering mengalami gatal - gatal pada kulitnya, itu
dikarenakan karena Tn.P tidak sepenuhnya bisa menjaga
kebersihan dirinya, sehingga kulitnya sering mengalami gatal -
gatal.
n. Psikososial
Tn.P mengatakan cemas akan setiap hari - hari yang dilaluinya,
Tn.P juga mengaku kalau dia sering menangis jika mengingat akan
jalan hidupnya. Dan Tn.P juga mengatakan kalau dia sering
mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi
C. Pengkajian Status Fungsional, Kognitif, Afektif, Psikologis dan Sosial
1. Pengkajian status fungsional
INDEK KATZ
SKORE KRITERIA
A Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah,
ke kamar kecil, berpakaian dan mandi
B Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari,
kecuali satu dari fungsi tersebut
C Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari,
kecuali mandi dan satu fungsi tambahan
D Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari,
kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan
E Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari,
kecuali mandi, berpakaian,ke kamar kecil dan satu fungsi
tambahan
F Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari,
kecuali mandi, berpakaian, berpindah, dan satu fungsi
tambahan
G Ketergantungan pada enam fungsi tersebut
Lain – lain Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi, tidak
dapat diklasifikasikan sebagai C, D, E, F dan G

Berdasarkan data maka Tn.P memperoleh Skor B . maka Tn. P mandiri


dalam semua atifitas kkecuali satu fungsi tersebut ( berpindah ).
2. Pengkajian status afektif dan kognitif
Short Portable Mentol Status Questionnai (SPMSQ)
No Item pertanyaan Jawaban Benar Salah
1 Jam berapa sekarang 09.00 WIb 
2 Tahun berapa sekarang 2017 
3 Kapan bapak/ ibu lahir ? 70 an 
4 Berapa umur bapak/ ibu se Sekitar 80 an 
Karang ?
5 Dimana Alamat Bapak/ Karang mulyo 
Ibu sekarang ?
6 Berapa jumlah anggota kel 4 
Uarga yang tinggal bersa
Ma Bapak/ ibu ?
7 Siapa nama anggota kelu Ratmi, niko,ami, 
Arga yang tinggal bersama nazar
Bapak/ ibu ?
8 Tahun berapa Hari Kemer 17 agustus 45 
Dekaan Indonesia
9 Siapa nama presiden SBY 
Republik Indonesia seka
rang?
10 Coba hitung terbalik dari 20,19.15,14,13,11 
Angka 20 ke 1? 9,5,4,3,2,1

Kesalahan Tn.P 4
Makan kerusakan intelektual Tn P sedang
3. Pengkajian status psikologis
Skala Depresi Yessavage
No Pertanyaan Jawaban yang sesuai
1 Apakah anda sebenarnnay puas dengan Ya
Kehidupan anda ?
2 Apakah anda telah meninggalkan Ya
Banyak kegiatan dan minat / kesenang
An Anda ?
3 Apakah anda merasa kehidupan anda Tidak
Kosong ?
4 Apakah anda sering merasa bosan ? Ya
5 Apakah Anda mempunyai semangat tidak
Yang baik setiap saat
6 Apakah anda merasa bahagia untuk Ya
Sebagian besar hidup anda
7 Apakah anda merasa takut sesuatu yang Ya
Buruk akan terjadi pada anda ?
8 Apakah anda merasa sering tidak Ya
Berdaya
9 Apakah anda lebih sering di rumah Tidak
Daripada pergi keluar dan mengerjakan
Suatu hal yang baru ?
10 Apakah anda merasa mempunyai banya Ya
K masalah dengan daya ingat anda
Dibandingkan kebanyakan orang ?
11 Apakah anda pikir bahwa kehidupan Ya
Anda sekarang menyenangkan
12 Apakah anda merasa tidak berharga Tidak
Seperti perasaan anda saat ini ?
13 Apakah anda merasa penuh semangat Ya
14 Apakah anda merasa bahwa keadaan a Tidak
Nda tidak di harapkan
15 Apakah anda pikir bahwa orang lain Ya
, lebih baik keadaannya daripada anda ?

Analisa hasil
Berdasarkan data, maka Tn. P memperoleh nilai 7. Maka lansia tersebut
kemugkinan mengalami depresi.
D. ANALISA DATA
No Data Etiologi Problem
1 Ds : Klien mengatakan Penurunan tajam Penurunan
pandangan tidak jelas, penglihatan persepsi sensori
pandangan berkabut. : Penglihatan
Do : visus berkurang,
penurunan ketajaman
penglihatan, dan terdapat
kekeruhan pada lensa mata.
2 Ds : Pasien mengatakan cemas Kurang Ansietas
dan takut. pengetahuan
Do : Nadi meningkat, tekanan tentang proses
darah meningkat, wajah penyakit
tampak gelisah, wajah murung
dan sering melamun
3 Ds : Klien mengatakan tidak Penurunan Gangguan
bisa melihat dengan jelas, fungsi perawatan diri
pandangan kabur penglihatan
Do : Klien tidak dapat banyak
bergerak, kondisi tubuh
tidakrapidan tampak acak -
acakan.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan persepsi sensori : Penglihatan b/d penurunan ketajaman
penglihatan d/d visus berkurang, penurunan ketajaman penglihatan,
dan terdapat kekeruhan pada lensa mata.
2. Ansietas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit d/d Nadi
meningkat, tekanan darah meningkat, wajah tampak gelisah, wajah
murung dan sering melamun.
3. Gangguan perawatan diri b/d Penurunan fungsi penglihatan d/d
Klien tidak dapat banyak bergerak, kondisi tubuh tidak rapi dan
tampak acak - acakan.

F. Catatan perkembangan
No Tanggal Diagnosa Catatan perkembangan
keperawatan
1 3 april Penurunan S: pasien mengatakan pandangan masih
2017 persepsi tak jelas
sensori O: masih terdapat penurunan ketajaman
Penglihatan penglihatan dan visus berkurang
b/d penurunan A: masalah belum teratasi
ketajaman P : intervensi dilanjutkan
penglihatan I:-
d/d visus a. Kaji ketajaman penglihatan
berkurang, klien Identifikasikan alternatif
penurunan untuk optimalisasi sumber
ketajaman rangsangan Sesuaikan
penglihatan, lingkungan untuk optimalisasi
dan terdapat penglihatan :
kekeruhan b. Orientasikan klien terhadap
pada lensa ruangan Letakkan alat yang
mata. sering digunakan di dekat klien
atau pada sisi mata yang lebih
sehat
c. Berikan pencahayaan cukup
d. Letakkan alat ditempat yang
tetap
e. Hindari cahaya yang
menyilaukan
f. Anjurkan penggunaan alternatif
rangsang lingkungan yang dapat
diterima : auditorik, taktil.
2 4 april Ansietas b/d S : pasien mengatakan sedikit tenang
2017 kurang O : pasien sudah tenang
pengetahuan A : masalah sedikit teratasi
tentang proses P : intervensi dilanjutkan
penyakit d/d I:
nadi a. Kaji adanya tanda dan gejala
meningkat, ansietas. Gunakan suatu sistem
tekanan darah pendekatan yang tenang dan
meningkat, meyakinkan klien.
wajah tampak b. Jelaskan mengenai penyakit
gelisah, wajah yang dialami oleh klien, dan
murung dan berikan klien dukungan untuk
sering membangkitkan semangat
melamun. hidupnya.
c. Jawab pertanyaan yang diajukan
klien secara jujur dan berikan
waktu untuk klien
mengekspresikan perasaannya.
d. Ingatkan pasien untuk minum
obat tepat waktu.
3 4 april Gangguan S : klien mengatakan pandangan masih
2017 perawatan diri kabur
b/d Penurunan O : klien tidak bisa bergerak banyak
fungsi A : masalah belum teratasi
penglihatan P : intervensi dilanjutkan.
d/d Klien tidak I :
dapat banyak a. Terangkan pentingnya
bergerak, perawatan dan kebersihan diri
kondisi tubuh pada klien
tidak rapi dan b. Bantu klien untuk memenuhi
tampak acak - kebutuhan perawatan dirinya,
acakan. mis : ganti baju, dan berhias
setelah mandi.
c. Secara bertahap libatkan klien
dalam memenuhi kebutuhan
diri.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sensori adalah stimulus atau rangsangan yang datang dari dalam
maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui
organ sensori ( panca indera). Stimulus yang sempurna memungkinkan
seseorang untuk belajar berfungsi secara sehat dan berkembang dengan
normal.
Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki kerusakan yang diderita.
Seiring dengan proses menua tersebut tubuh akan mengalami berbagai
masalah kesehatan atau yang biasa disebut penyakit degeneratif.
Perubahan pada sistem indra yang dibahas meliputi pengelihatan,
pendengaran, pengecap, penciuman, dan peraba.

B. Saran
Ketika merawat klien yang mengalami perubahan sensori, perawat
mengevaluasi apakah tindakan perawatan meningkatkan atau paling tidak
mempertahankan kemampuan klien untuk berinteraksi dan berfungsi
dalam lingkungan. Sifat dasar perubahan sensori klien mempengaruhi cara
perawat mengevaluasi perawatan. Perawat mengadaptasikan hasil evaluasi
pada klien yang defisit sensori untuk menentukan apakah hasil actual sama
dengan hasil yang diharapkan. Misalnya, perawat menggunakan teknik
komunikasi yang sesuai untuk mengevaluasi apakah klien yang
mengalami defisit pendengaran mencapai kemampuan mendengar dengan
lebih efektif.
DAFTAR PUSTAKA

Bandiyah, siti. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. 2009.Yogjakarta :


Nuha Medika.
Mickey Stanley, dkk. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. EGC.
Jakarta. 2006
Noor Kastani, S. Tamher. Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendidikan
Asuhan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2009
Sisi Maryam, S dkk. Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Salemba
Medika. Jakarta. 2008 .
Tarwoto, Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika.

http://www.stikeskabmalang.wordpress.com/2009/09/19/pengkajian-dan-
pencegahan-jatuh-pada-lansia/

http://www.cita09060144.student.umm.ac.id/2010/02/05/peran-perawat-
dalam-pemenuhan-kebutuhan-keamanan-dan-keselamatan/