Anda di halaman 1dari 31

DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dalam menyelesaikan Modul Pendaftaran Tanah
Sistematis Lengkap Tingkat II. Modul ini disusun sebagai penunjang kegiatan
diklat agar peserta diklat dapat mempelajari dan memahami materi-materi yang
diberikan.

Pada kesempatan ini pula, kami menyampaikan rasa terima kasih kepada semua
pihak yang terlibat dalam penyusunan modul ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
membalas semua kebaikan dan jerih payah Saudara-saudara sekalian.

Semoga modul ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan yang lebih luas
kepada pembaca, khususnya peserta diklat. Akhir kata dengan segala
kerendahan hati, tim penyusun mengharapkan masukan dan kritikan demi
perbaikan penyusunan modul di masa akan datang.

Terima kasih.

Bogor, November 2017


Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan,

Dr. H. Dadang Suhendi, S.H., M.H.


NIP. 19611128 199103 1 002

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 i


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

DAFTAR ISI

Hal
KATA PENGANTAR ......................................................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG ...................................................................................................... 1
B. DESKRIPSI SINGKAT .................................................................................................. 3
C. MANFAAT MODUL BAGI PESERTA ........................................................................... 3
D. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................................... 3
E. MATERI POKOK DAN SUB POKOK BAHASAN ......................................................... 4
BAB II DASAR HUKUM PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP ................................. 5
A. PERATURAN DARI PENDAFTARAN TANAH ............................................................. 5
B. PERATURAN PERUNDANGAN MENGENAI PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS
LENGKAP ..................................................................................................................... 5
C. PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP ................... 6
BAB III RUANG LINGKUP PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP ............................. 7
A. PENDAFTARAN TANAH .............................................................................................. 7
B. PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP ................................................... 12
RANGKUMAN ...................................................................................................................... 15
LATIHAN .............................................................................................................................. 17
UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ................................................................................ 21
BAB IV PENUTUP ......................................................................................................................... 22
KUNCI JAWABAN .......................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 24
GLOSARIUM .................................................................................................................................. 26

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 ii


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tanah mempunyai arti penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini
dikarenakan bahwa Negara Indonesia merupakan negara agraris, sehingga setiap
kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar rakyat Indonesia senantiasa
membutuhkan dan melibatkan soal tanah. Bahkan pada sebagian masyarakat, tanah
dianggap sebagai sesuatu yang sakral, karena di sana terdapat simbol status sosial
yang dimilikinya.
Pembangunan yang dilaksanakan oleh Negara Indonesia saat ini diharapkan
pada masalah penyediaan tanah. Tanah dibutuhkan oleh banyak orang sedangkan
jumlahnya tidak bertambah atau tetap, sehingga tanah yang tersedia tidak mampu
lagi memenuhi kebutuhan yang terus meningkat terutama kebutuhan akan tanah
untuk membangun perumahan sebagai tempat tinggal, untuk pertanian, serta untuk
membangun berbagai fasilitas umum dalam rangka memenuhi tuntutan terhadap
kemajuan di berbagai bidang kehidupan.
Mengingat arti pentingnya tanah bagi kelangsungan hidup masyarakat maka
diperlukan pengaturan yang lengkap dalam hal penggunaan, pemanfaatan,
pemilikan dan pembuatan hukum yang berkaitan dengan hal tersebut. Semua ini
bertujuan untuk menghindari terjadinya persengketaan tanah naik yang menyangkut
pemilikan maupun perbuatan- perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemiliknya.
Untuk memperoleh kepastian hukum dan kepastian akan hak atas tanah
Undang-Undang Agraria No. 5 Tahun 1960 telah meletakkan kewajiban kepada
Pemerintah untuk melaksanakan pendaftaran tanah yang ada di seluruh Indonesia,
disamping bagi pemegang hak untuk mendaftarkan hak atas tanah yang ada
padanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1

1
Djoko Prakosa dan Budiman Adi Purwanto, Eksistensi Prona Sebagai Pelaksana Mekanisme
2
Fungsi Agraria, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985, Hal. 19. Pasal 19 ayat (1) UUPA

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 1


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

Jaminan kepastian hukum ini tercantum dalaam ketentuan Pasal 19 ayat (1)
Undang – Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960, yang berbunyi
sebagai berikut :
”Untuk menjamin kepastian hukum hak dan tanah oleh Pemerintah diadakan
pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan yang
diatur dengan Peraturan Pemerintah ”2
Ketetapan diatas mengandung pengertian bahwa hal – hal yang menyangkut
kepemilikan, penguasaan, dan penggunaan tanah harus diikuti dengan kegiatan
pendaftaran tanah baik yang dimiliki oleh masyarakat maupun oleh Badan Hukum ke
Kantor Pertanahan guna mendapatkan kepastian hukum hak atas tanah yang
dikuasainya atau yang dimilikinya.
Dengan diselenggarakannya pendaftaran tanah, maka pihak-pihak yang
bersangkutan dengan mudah dapat mengetahui status atau kedudukan hukum
daripada tanah tertentu yang dihadapinya, letak, luas dan batas-batasnya, siapa
yang punya dan beban apa yang ada diatasnya.2
Dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum
Hak atas Tanah masyarakat secara adil dan merata, serta mendorong pertumbuhan
ekonomi negara pada umumnya dan ekonomi rakyat khususnya, perlu dilakukan
percepatan pendaftaran tanah lengkap di seluruh wilayah Republik Indonesia
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, perlu dilaksanakan pendaftaran
tanah secara menyeluruh dan lengkap di seluruh Indonesia.
Untuk dapat terlaksananya pendaftaran tanah secara menyeluruh dan lengkap,
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah menetapkan
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah
Sistematis Lengkap sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2017 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan

2
Effendi Perangin, Hukum Agraria Indonesia, Jakarta: CV. Rajawali. 1991, Hal. 95.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 2


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

Pertanahan Nasional Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan


Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap selanjutnya disingkat PTSL.

B. DESKRIPSI SINGKAT
Mata Diklat ini membekali peserta memahami tentang peraturan perundangan
terkait dengan pendaftaran tanah sistematis, peraturan perundangan terkait dengan
PTSL, petunjuk teknis terkait dengan PTSL, pengertian, tujuan, objek dan
permasalahan dalam pelaksanaan PTSL.

C. MANFAAT MODUL BAGI PESERTA


Modul Pengantar Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap ini sangat diperlukan
bagi peserta Diklat Pendaftaran Tanah Sistemasis Lengkap dalam rangka
memperoleh pemahaman yang utuh mengenai peraturan perundangan terkait
dengan pendaftaran tanah sistematis, peraturan perundangan terkait dengan PTSL,
petunjuk teknis terkait dengan PTSL, pengertian, tujuan, objek dan permasalahan
dalam pelaksanaan PTSL. Selain itu dengan mempelajari bahan ajar ini memberikan
panduan bagi peserta mengenai ruang lingkup pekerjaan PTSL di lingkungan Kantor
Menteri Agraria dan Tata Ruang/ BPN, Kanwil BPN Provinsi dan Kantor Pertanahan
Kabupaten/ Kota.

D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Hasil belajar
Setelah pembelajaran ini peserta mampu menjelaskan peraturan
perundangan terkait dengan pendaftaran tanah sistematis, peraturan
perundangan terkait dengan PTSL, petunjuk teknis terkait dengan PTSL,
pengertian, tujuan, objek dan permasalahan dalam pelaksanaan PTSL.

2. Indikator Hasil Belajar


Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta dapat:
a. Menjelaskan dasar hukum Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap;
b. Menjelaskan ruang lingkup Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 3


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

E. MATERI POKOK DAN SUB POKOK BAHASAN


Mengacu pada deskripsi singkat dan indikator hasil belajar, maka pokok
bahasan modul ini membahas berkenaan dengan :
1. Dasar hukum Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap
a. Peraturan Perundangan terkait dengan pendaftaran tanah;
b. Peraturan Perundangan terkait dengan Pendaftaran Tanah Sistematis
Lengkap;
c. Petunjuk Teknis terkait Pendaftaran Tanah Sistemasis Lengkap.
d. Daftar dan Istilah
2. Ruang lingkup Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap.
a. Pendaftaran Tanah
1) Pengertian Pendaftaran Tanah
2) Tujuan Pendaftaran Tanah
3) Jenis Pendaftaran Tanah
b. Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap
1) Pengertian Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap
2) Tujuan pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis lengkap;
3) Objek pendaftaran tanah sistematis lengkap;
4) Permasalahan dalam pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis lengkap.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 4


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

BAB II
DASAR HUKUM PENDAFTARAN
TANAH SISTEMATIS LENGKAP

Indikator keberhasilan : Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan
dasar hukum pendaftaran tanah sistematis lengkap.

A. PERATURAN DARI PENDAFTARAN TANAH


1 Undang- undang Undang No.5 Tahun 1960 Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria Pasal 19.
2 Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1961 jo. Peraturan Pemerintah no.24
Tahun 1997 Pendaftaran Tanah.
3 Peraturan Menteri Negara Agraria No.3 Tahun 1997 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah.

B. PERATURAN PERUNDANGAN MENGENAI PENDAFTARAN TANAH


SISTEMATIS LENGKAP
1 Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 35 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan
Pendaftaran Tanah Sistematik sebagaimana telah beberapa kali diubah;
2 Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan

Nasional Nomor 1 Tahun 2017 Perubahan atas Peraturan Menteri Agraria

dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 35 Tahun 2016

tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap;

3 Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan


Nasional Nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah
Sistematik Lengkap.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 5


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

C. PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP


1 Petunjuk Teknis Nomor 01/juknis-300/2016 dan revisi 1 (juli 2017) tentang
Pengukuran Dan Pemetaan Bidang Tanah Sistematik Lengkap.
2 Petunjuk Teknis nomor 01/juknis-400/xii/2016 tentang Percepatan
Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Bidang Yuridis.
3 Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 33 Tahun 2016 tentang Surveyor Kadaster Berlisensi.
4 Surat Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang /Kepala Badan
Pertanahan Nasional, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 25/SKB/V/2017,
Nomor 590-3167A Tahun 2017, Nomor 34 Tahun 2017 tentang Pembiayaan
Persiapan Pendaftaran Tanah Sistematis.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 6


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

BAB III
RUANG LINGKUP PENDAFTARAN
TANAH SISTEMATIS LENGKAP

Indikator keberhasilan : Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan
ruang lingkup Pendaftaramn tanah dan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap

A. PENDAFTARAN TANAH
1. Pengertian Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah dalam buku Hukum Agraria Indonesia, Boedi Harsono
mengatakan bahwa:
Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi
pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data
fisik dan yuridis dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidangbidang tanah dan
satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian sertipikat sebagai surat tanda
bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas
satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.3
Kata-kata "rangkaian kegiatan" menunjuk adanya berbagai kegiatan dalam
penyelenggaraan pendaftaran tanah. Kata-kata "terus menerus" menunjuk kepada
pelaksanaan kegiatan, bahwa sekali dimulai tidak akan ada akhirnya. Kata
"teratur" menunjukkan, bahwa semua kegiatan harus berlandaskan kepada
peraturan perundang-undangan yang sesuai.
Pendaftaran tanah adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah untuk mengumpulkan data fisik dan data yuridis dari bidang-bidang
tanah yang akan didaftar. Sehingga dikatakan, bahwa pendaftaran tanah

3
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Edisi Revisi, Djambatan, Jakarta, 2005, hal.
474.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 7


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

merupakan proses administrasi yang merupakan kewenangan dari Kantor


Pertanahan untuk menghasilkan sebuah sertipikat sebagai suatu tanda bukti hak
kepemilikan atas sebidang tanah.4
Landasan yuridis pengaturan tentang pelaksanaan pendaftaran tanah di
Indonesia diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Pasal 19 ayat (1)
yang berbunyi sebagai berikut :
“Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah
di seluruh wilayah Indonesia menurut ketentuan yang diatur dengan Peraturan
pemerintah. “
Peraturan Pemerintah yang dimaksud dalam ketentuan pasal tersebut di atas
adalah peraturan Pemerintah (PP) No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
sebagai penyempurnaan dari PP No. 10 Tahun 1961 yang dalam perjalanan
selama kurang lebih 36 tahun dianggap belum memberikan hasil yang
memuaskan dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah. Terbitnya PP 24 Tahun
1997 tersebut di latar belakangi oleh adanya kesadaran akan semakin pentingnya
peran tanah dalam pembangunan yang semakin memerlukan dukungan kepastian
hukum dibidang pertanahan. Dengan berlakunya PP No. 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah yang baru tersebut, maka semua peraturan perundang-
udangan sebagai pelaksanaan dari PP No.10 Tahun 1961 yang telah ada masih
tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau diganti berdasarkan PP No. 24
Tahun 1997.
Hasil dari proses pendaftaran tanah tersebut, kepada para pemegang hak
atas tanah yang didaftar diberikan surat tanda bukti hak yang disebut dengan
"Sertipikat". Sertipikat menurut PP No. 24 Tahun 1997 adalah satu lembar
dokumen surat tanda bukti hak yang memuat data yuridis dan data fisik obyek
yang didaftar, untuk hak masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah. Data
yuridis diambil dari buku tanah, sedangkan data fisik diambil dari surat ukur.
Dengan tetap dipergunakannya sistem publikasi negatip yang mengandung unsur
positip dalam kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia, maka surat tanda bukti hak
4
Ana Silviana, Penerapan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997
Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah di Indonesia, Masalah-Masalah Hukum,
Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Vo. 33 N0. 3 Juli-September 2004,
hal. 252.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 8


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

(sertipikat) berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, seperti dinyatakan dalam
Pasal 19 ayat (2) huruf c, Pasal 23 ayat (2), Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 38 ayat
(2) UUPA. Artinya, bahwa selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya, data fisik
dan data yuridis yang tercantum di dalam sertipikat harus diterima sebagai data
yang benar, baik melakukan perbuatan hukum sehari-hari maupun dalam perkara
di Pengadilan.
Pendaftaran Tanah diselenggarakan untuk menjamin kepastian hukum,
pendaftaran tanah ini diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
dan pemerintah. 5
Dalam memenuhi kebutuhan ini pemerintah melakukan data penguasaan
tanah terutama yang melibatkan para pemilik tanah. Pendaftaran tanah semula
dilaksanakan untuk tujuan fiscal (fiscal kadaster) dan dalam hal menjamin
kepastian hukum seperti diuraikan di atas maka pendaftaran tanah menjadi Recht
Kadaster.6
Indonesia mempunyai suatu lembaga pendaftaran tanah untuk pertama
7
kalinya dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961, yang
kemudian disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, dan
baru berlaku 8 Oktober 1997.8 Sebelum berlaku Peraturan Pemerintah No. 10
Tahun 1961 tersebut, dikenal Kantor Kadaster sebagai Kantor Pendaftaran untuk
hak-hak atas tanah yang tunduk kepada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Barat.
Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 tersebut merupakan perintah dari
Pasal 19 UUPA No. 5 Tahun 1960 yang berbunyi sebagai berikut.
a. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah dilakukan pendaftaran tanah
di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
b. Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi:
1) pengukuran, penetapan, dan pembukuan tanah;
5
Badan Pertanahan Nasional, Himpunan Karya Tulis Pendaftaran Tanah, Jakarta, Maret
1989, hal. 3.
6
Ibid, hal. 5.
7
A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Cet. 2, Bandung, Mandar Maju,
1994, hal. 1.
8
Ibid

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 9


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

2) pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;


3) pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian
yang kuat.
c. Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan Negara dan
masyarakat, keperluan lalu lintas sosial ekonomi serta kemungkinan
penyelenggaraannya, menurut pertimbangan Menteri Agraria.
d. Dalam Peraturan Pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan
pendaftaran termaksud ayat (1) di atas, dengan ketentuan bahwa rakyat yang
tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biayabiaya tersebut.
Apa yang telah diperintahkan ayat (1) Pasal 19 tersebut, oleh pemerintah
telah diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961, yang kemudian ayat
(1) dari Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 tersebut ditegaskan lebih lanjut
sebagai berikut.
1) Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada
pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun, dan hakhak lain
yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai
pemegang hak yang bersangkutan.
2) Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang
diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang
tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.
3) Untuk menyelenggarakan tertib administrasi pertanahan.
4) Jelaslah, Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 yang sudah diubah dengan
Peraturan Pemerintah N0. 24 Tahun 1997 ini telah memperkaya ketentuan
Pasal 19 UUPA, yaitu:
a) Bahwa diterbitkannya sertipikat hak atas tanah, maka kepada pemiliknya
diberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum.
b) Di zaman informasi ini maka Kantor Pertanahan sebagai kantor di depan
haruslah memelihara dengan baik setiap informasi yang diperlukan untuk
sesuatu bidang tanah, baik untuk pemerintah sendiri sehingga dapat
merencanakan pembangunan negara dan juga bagi masyarakat sendiri
informasi itu penting untuk dapat mewujudkan sesuatu yang diperlukan

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 10


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

terkait tanah. Informasi tersebut dapat bersifat terbuka untuk umum, artinya
dapat diberikan informasi apa saja yang diperlukan atas sebidang tanah dan
bangunan yang ada.
c) Untuk itu perlulah tertib administrasi pertanahan dijadikan suatu hal wajar. 9
Sebagai kebijakan publik pendaftaran tanah merupakan program pemerintah
untuk mencapai tujuan yaitu terwujudnya catur tertib pertanahan, menjamin
kepastian hukum, dan penerbitan sertipikat sebagai bukti hak atas tanah.

2. Tujuan Pendaftaran Tanah


Pendaftaran Tanah bertujuan :
a. Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah
di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
b. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada
pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain
yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai
pemegang hak yang bersangkutan.
c. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang
diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang
tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.
d. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.

3. Jenis Pendaftaran Tanah


Jenis pendaftaran tanah yang dilaksanakan dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat meliputi:
a. Pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah kegiatan pendaftaran tanah yang
dilakukan terhadap obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar berdasarkan

9
A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, (Berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 24 Tahun 1997) Dilengkapi dengan Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah
15
(Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998), Cet. 1, Bandung, Mandar Maju, 1999), hal. 2. Inu
Kencana Syafie, Op. Cit, hal. 47.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 11


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah atau


Peraturan Pemerintah ini.
b. Pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk
pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek
pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah
suatu desa/kelurahan.
c. Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk
pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam
wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau
massal.
d. Pemeliharaan data pendaftaran tanah adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk
menyesuaikan data fisik dan yuridis dalam peta pendaftaran, daftar tanah,
daftar nama, surat ukur, buku tanah, dan sertipikat dengan perubahan-
perubahan yang terjadi kemudian.

B. PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP


1. Pengertian Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap
Dalam rangka pelaksanaan pendaftaran tanah agara dapat dilaksanakan
sesuai dengan yang diharapkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agraria
dan Tata Ruang/Badan Pewrtanahan Nasional telah mengeluarkan kebijakan
dalam bentuk Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 35 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan
Pendaftaran Tanah Sistematik sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 1 Tahun 2017 dan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 35 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah
Sistematik Lengkap
Dalam rangka pelaksanaan pendaftaran tanah agar dapat dilaksanakan
sesuai dengan yang diharapkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agraria
dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah mengeluarkan kebijakan dalam
bentuk Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 12


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

Nasional Nomor 35 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran


Tanah Sistematik sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1
Tahun 2017 dan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 35
Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematik
Lengkap.
Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap yang selanjutnya disingkat PTSL
adalah kegiatan Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara
serentak bagi semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik
Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat
dengan itu, yang meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan
data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk
keperluan pendaftarannya.
Percepatan pelaksanaan program PTSL yang dilaksanakan desa demi desa
di wilayah kabupaten dan kelurahan demi kelurahan di wilayah perkotaan yang
meliputi semua bidang tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap yang selanjutnya
disingkat PTSL dilakukan secara serentak bagi semua obyek Pendaftaran Tanah
di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau
nama lainnya yang setingkat dengan itu meliputi pengumpulan dan penetapan
kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek
Pendaftaran Tanah untuk keperluan pendaftarannya.
Kegiatan pendaftaran tanah sistematis lengkap dilaksanakan dengan
tahapan sebagai berikut :
1. perencanaan dan persiapan;
2. penetapan lokasi kegiatan PTSL;
3. pembentukan dan penetapan Panitia Ajudikasi PTSL;
4. penyuluhan;
5. pengumpulan Data Fisik dan Data Yuridis bidang tanah;
6. pemeriksaan tanah;
7. pengumuman Data Fisik dan Data Yuridis bidang tanah serta pembuktian hak;

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 13


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

8. penerbitan keputusan pemberian atau pengakuan;


9. Hak atas Tanah;
10. pembukuan dan penerbitan Sertipikat Hak atas;
11. Tanah; dan
12. penyerahan Sertipikat Hak atas Tanah.

2. Tujuan PTSL
Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sitematik Lengkap bertujuan untuk
percepatan pemberian kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas Tanah
masyarakat secara pasti, sederhana, cepat, lancar, aman, adil, merata dan
terbuka serta akuntabel, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat dan ekonomi negara, serta mengurangi dan mencegah
sengketa dan konflik pertanahan.

3. Objek PTSL
Obyek PTSL meliputi seluruh bidang tanah tanpa terkecuali, baik bidang
tanah yang belum ada hak atas tanahnya maupun bidang tanah hak, baik
merupakan tanah aset pemerintah pusat/pemerintah daerah, tanah Milik Badan
Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, Tanah Desa, Tanah Negara,
Tanah Masyarakat Hukum Adat, Tanah Objek Landreform, dan bidang tanah
lainnya.
Pelaksanaan PTSL pada suatu lokasi dilaksanakan melalui anggaran DIPA
PTSL dan/atau gabungan dari kegiatan PTSL dengan kegiatan antara lain
Kegiatan massal swadaya masyarakat, Kegiatan Lintas Sektor, Kegiatan
Landreform, Konsolidasi Tanah atau gabungan dari beberapa kegiatan,
mekanisme pelaksanaan dan pembiayaannya sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
Apabila lokasi yang ditetapkan sebagai obyek PTSL terdapat Tanah Obyek
Landreform yang tidak lagi memenuhi persyaratan, maka dengan sendirinya tanah
tersebut dikeluarkan dari obyek landreform dan pelaksanaan pendaftaran
tanahnya dilakukan melalui mekanisme PTSL.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 14


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

4. Permasalahan dalam pelaksanaan PTSL


a. Kurangnya pengetahuan dan kepatuhan terhadap ketentuan pelaksanaan
Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap.
b. Kurangnya perencanaan dalam penunjukan lokasi, sehingga tidak mendukung
pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis.
c. Lokasi kegiatan yang berpencar berpengaruh pada banyaknya jumlah tim yang
harus dibentuk, di sisi lain jumlah SDM sangat terbatas.
d. Di beberapa lokasi, pengumpulan data yuridis dilakukan oleh kelompok
masyarakat (pokmas) bukan oleh Satgas Pengumpul Data Yuridis.
e. Satgas Fisik dan Yuridis yang tidak bekerja berdasar peta kerja yang sama,
menyebabkan kesulitan saat integrasi data.
f. Ditemukan banyak bidang tanah dengan penguasaan yang terindikasi absente.

RANGKUMAN

1. Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah


secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan,
pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan yuridis
dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidangbidang tanah dan satuan-satuan
rumah susun, termasuk pemberian sertipikat sebagai surat tanda bukti haknya
bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan
rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.
2. Tujuan pendaftaran tanah adalah
Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah di
seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
a. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada
pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain
yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai
pemegang hak yang bersangkutan.
b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 15


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

diperlukan dalam mengada-kan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang


tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.
c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
3. Jenis Pendaftaran tanah meliputi :
a. Pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah kegiatan pendaftaran tanah yang
dilakukan terhadap obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah atau
Peraturan Pemerintah ini.
b. Pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk
pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek
pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah
suatu desa/kelurahan.
c. Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk
pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam
wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau
massal.
d. Pemeliharaan data pendaftaran tanah adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk
menyesuaikan data fisik dan yuridis dalam peta pendaftaran, daftar tanah,
daftar nama, surat ukur, buku tanah, dan sertipikat dengan perubahan-
perubahan yang terjadi kemudian.
4. Ruang lingkup Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap ( PTSL)
adalah semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia
dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu
meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis
mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk keperluan
pendaftarannya.
5. Pendaftaran Tanah Sitematik Lengkap bertujuan untuk percepatan pemberian
kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas Tanah masyarakat secara
pasti, sederhana, cepat, lancar, aman, adil, merata dan terbuka serta akuntabel,
sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan
ekonomi negara, serta mengurangi dan mencegah sengketa dan konflik
pertanahan.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 16


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

6. Obyek PTSL meliputi seluruh bidang tanah tanpa terkecuali, baik bidang tanah
yang belum ada hak atas tanahnya maupun bidang tanah hak, baik merupakan
tanah aset pemerintah pusat/pemerintah daerah, tanah Milik Badan Usaha Milik
Negara/Badan Usaha Milik Daerah, Tanah Desa, Tanah Negara, Tanah
Masyarakat Hukum Adat, Tanah Objek Landreform, dan bidang tanah lainnya.
7. Pembiayaan kegiatan PTSL berasala dari DIPA PTSL dan/atau gabungan dari
kegiatan PTSL dengan kegiatan antara lain Kegiatan massal swadaya
masyarakat, Kegiatan Lintas Sektor, Kegiatan Landreform, Konsolidasi Tanah
atau gabungan dari beberapa kegiatan, mekanisme pelaksanaan dan
pembiayaannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
8. Permasalahan dalam pelaksanaan PTSL disebabkan karena kurangnya
pengetahuan dan kepatuhan terhadap ketentuan pelaksanaan Pendaftaran Tanah
Sistematis Lengkap, kurangnya perencanaan dalam penunjukan lokasi, sehingga
tidak mendukung pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis, lokasi kegiatan yang
berpencar berpengaruh pada banyaknya jumlah tim yang harus dibentuk, di sisi
lain jumlah SDM sangat terbatas. beberapa lokasi, pengumpulan data yuridis
dilakukan oleh kelompok masyarakat (pokmas) bukan oleh Satgas Pengumpul
Data Yuridis, Satgas Fisik dan Yuridis yang tidak bekerja berdasar peta kerja
yang sama, menyebabkan kesulitan saat integrasi data. Serta ditemukan banyak
bidang tanah dengan penguasaan yang terindikasi absente.

LATIHAN

Pilihlah satu jawaban yang tepat dari pertanyaan di bawah ini


1. Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus,
berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan
dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan yuridis dalam bentuk peta dan
daftar, mengenai bidangbidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk
pemberian sertipikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah
yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak
tertentu yang membebaninya disebut juga :

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 17


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

a. Redistribusi
b. Pendaftaran tanah
c. PTSL
d. IP4T

2. Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak
yang meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah
atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan.
a. Landreform
b. Pendaftaran tanah Sistematik
c. PTSL
d. Pemberian hak

3. Dasar hukum Pendaftaran Tanah adalah :


a. Tap No. IX/MPR/2001
b. Undang- undang Undang No.5 Tahun 1960 pasal 19
c. Perpres Nomor 17 Tahun 2015
d. Premen Nomor 12 Tahun 2107

4. kegiatan Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak
bagi semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia
dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu,
yang meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis
mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk keperluan
pendaftarannya.:
a. NIB
b. NIS
c. IP4T
d. PTSL

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 18


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

5. Jenis Pendaftaran tanah meliputi :


a. Pendaftaran tanah untuk pertama kali, Pendaftaran tanah secara sistematik,
Pendaftaran tanah secara sporadik, dan Pemeliharaan data pendaftaran
tanah
b. Pendaftaran tanah untuk pertama kali, Pendaftaran tanah secara sistematik,
dan Kontrol Kualitas
c. Pendaftaran tanah secara sporadik, dan Pemeliharaan data pendaftaran
tanah
d. a,b dan c benar

6. Semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam


satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu meliputi
pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu
atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk keperluan pendaftarannya
merupakan :
a. Kegiatan inventarisasi
b. Kegiatan Pendaftaran tanah
c. PTSL
d. Ruang Lingkup PTSL

7. Tujuan Pendaftaran Sistematis Lengkap adalah.


a. Percepatan pemberian kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas
Tanah masyarakat secara pasti, sederhana, cepat, lancar, aman, adil, merata
dan terbuka serta akuntabel
b. Percepatan pemberian kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas
Tanah masyarakat secara pasti, sederhana, cepat, lancar, aman, adil, merata
dan terbuka serta akuntabel, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat dan ekonomi negara, serta mengurangi dan
mencegah sengketa dan konflik pertanahan.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 19


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

c. Perlindungan hukum Hak atas Tanah masyarakat secara pasti, sederhana,


cepat, lancar, aman, adil, merata dan terbuka serta akuntabel, sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan
d. Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan ekonomi
negara, serta mengurangi dan mencegah sengketa dan konflik pertanahan.

8. Seluruh bidang tanah tanpa terkecuali, baik bidang tanah yang belum ada hak
atas tanahnya maupun bidang tanah hak, baik merupakan tanah aset pemerintah
pusat/pemerintah daerah, tanah Milik Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha
Milik Daerah, Tanah Desa, Tanah Negara, Tanah Masyarakat Hukum Adat, Tanah
Objek Landreform, dan bidang tanah lainnya. Disebut :
a. Tujuan PTSL
b. Target PTSL
c. Ruang lingkup PTSL
d. Objek PTSL

9. Pembiayaan kegiatan PTSL berasal dari :


a. DIPA PTSL
b. Kegiatan massal swadaya masyarakat, Kegiatan Lintas Sektor, Kegiatan
Landreform, Konsolidasi Tanah
c. DIPA PTSL dan/atau gabungan dari kegiatan PTSL dengan kegiatan antara lain
Kegiatan massal swadaya masyarakat, Kegiatan Lintas Sektor, Kegiatan
Landreform, Konsolidasi Tanah atau gabungan dari beberapa kegiatan,
mekanisme pelaksanaan dan pembiayaannya sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan
d. Biaya pihak ketiga

10. Peraturan yang terkait dengan percepatan pendaftaran tanah sistematis


Lengkap adalah :
a. Permen ATR/ KBPN Nomor 12 Tahun 2017
b. Permen ATR/KBPN Nomor 2 Tahun 2016
c. Permen ATR/KBPN Nomor 10 Tahun 2015

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 20


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

d. Permen ATR/KBPN Nomor 18 Tahun 2014

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Lihat kembali materi yang ditanyakan di dalam bab ini. Periksa jawaban anda apakah
sudah benar atau belum. Apabila jawaban anda benar semua berarti sudah
memenuhi kompetensi yang diharapkan dalam bab ini. Sebaliknya apabila jawaban
anda ada yang salah, berarti anda harus mempelajari secara seksama materi pada
bab ini. Setelah itu kembali anda jawab dan bandingkan dengan materi pada bab ini.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 21


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

BAB IV
PENUTUP

Pendaftaran tanah merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh


Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi
pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik
dan yuridis dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidangbidang tanah dan satuan-
satuan rumah susun, termasuk pemberian sertipikat sebagai surat tanda bukti
haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan
rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninyaJenis Pendaftaran Tanah
meliputi :Pendaftaran tanah untuk pertama kali, Pendaftaran tanah secara sistematik,
Pendaftaran tanah secara sporadik, dan Pemeliharaan data pendaftaran tanah
Kegiatan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap merupakan percepatan
kegiatan Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak bagi
semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu
wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu, yang meliputi
pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu
atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk keperluan pendaftarannya.
PTSL bertujuan untuk percepatan pemberian kepastian hukum dan
perlindungan hukum Hak atas Tanah masyarakat secara pasti, sederhana, cepat,
lancar, aman, adil, merata dan terbuka serta akuntabel, sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan ekonomi negara,
serta mengurangi dan mencegah sengketa dan konflik pertanahan.
Objek PTSL adalah semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah
Republik Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang
setingkat dengan itu meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan
data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk
keperluan pendaftarannya.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 22


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

KUNCI JAWABAN

1. b
2. b
3. b
4. d
5. a
6. d
7. b
8. d
9. c
10. a

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 23


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

DAFTAR PUSTAKA

Djoko Prakosa dan Budiman Adi Purwanto, Eksistensi Prona Sebagai Pelaksana
Mekanisme Fungsi Agraria, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985,
Effendi Perangin, Hukum Agraria Indonesia, Jakarta: CV. Rajawali. 1991 .
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Edisi Revisi, Djambatan, Jakarta, 2005,
Ana Silviana, Penerapan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun
1997 Dalam Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah di Indonesia, Masalah-
Masalah Hukum, Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Vo.
33 N0. 3 Juli-September 2004,
Badan Pertanahan Nasional, Himpunan Karya Tulis Pendaftaran Tanah, Jakarta,
Maret 1989,
A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Cet. 2, Bandung, Mandar
Maju, 1994,
A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, (Berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 24 Tahun 1997) Dilengkapi dengan Peraturan Jabatan
Pembuat Akta Tanah (Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998), Cet. 1,
Bandung, Mandar Maju, 1999), hal. 2. 15 Inu Kencana Syafie, Op. Cit,
Undang- undang Undang No.5 Tahun 1960 Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
Pasal 19;
Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1961 jo. Peraturan Pemerintah no.24 Tahun
1997 Pendaftaran Tanah.
Peraturan Menteri Negara Agraria No.3 Tahun 1997 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 35 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah
Sistematik sebagaimana telah beberapa kali diubah
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 1 Tahun 2017 Perubahan atas Peraturan Menteri Agraria dan Tata

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 24


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 35 Tahun 2016 tentang


Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematik
Lengkap
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pendaftaran tanah Sistematis lengkap.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 25


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

GLOSARIUM

a. Pendaftaran Tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah


secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan,
pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data
yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan
rumah susun, termasuk pemberian tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah
yang sudah ada haknya, dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak
tertentu yang membebaninya.

b. Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap yang selanjutnya disingkat PTSL


adalah kegiatan Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara
serentak bagi semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik
Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat
dengan itu, yang meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan
data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk
keperluan pendaftarannya.
c. Hak atas Tanah adalah Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan
Hak Pakai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

d. Tanah Negara adalah Tanah yang tidak dilekati dengan suatu Hak atas Tanah,
bukan merupakan tanah ulayat Masyarakat Hukum Adat, bukan merupakan tanah
wakaf, dan/atau bukan merupakan Barang Milik
Negara/Daerah/BUMN/BUMD/Desa.

e. Data Fisik adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas bidang tanah dan
satuan rumah susun yang didaftar, termasuk keterangan mengenai adanya
bangunan atau bagian bangunan di atasnya.

f. Data Yuridis adalah keterangan mengenai status hukum atau status penguasaan
bidang tanah dan satuan rumah susun yang didaftar, pemegang hak atau pihak
yang menguasai, dan hak pihak lain serta beban-beban lain yang membebaninya.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 26


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

g. Peta Dasar Pendaftaran adalah peta yang memuat titiktitik dasar teknik dan
unsur geografis, seperti sungai, jalan, bangunan dan batas fisik bidang-bidang
tanah.

h. Peta Pendaftaran adalah peta yang menggambarkan bidang atau bidang-bidang


tanah untuk keperluan pembukuan tanah.

i. Peta Bidang Tanah adalah gambar hasil pemetaan satu bidang tanah atau lebih
pada lembaran kertas dengan suatu skala tertentu yang batas-batasnya telah
ditetapkan oleh pejabat yang berwenang dan digunakan untuk pengumuman data
fisik.

j. Gambar Ukur adalah dokumen tempat mencantumkan gambar suatu bidang


tanah atau lebih dan situasi sekitarnya serta data hasil pengukuran bidang tanah
baik berupa jarak, sudut, azimuth ataupun sudut jurusan.

k. Surat Ukur adalah dokumen yang memuat data fisik suatu bidang tanah dalam
bentuk peta dan uraian.
l. Daftar Tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat identitas bidang
tanah dengan suatu sistem penomoran.

m. Buku Tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat data yuridis dan
data fisik suatu obyek pendaftaran tanah yang sudah ada haknya.

n. Sertipikat Hak atas Tanah adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria untuk Hak atas Tanah, hak pengelolaan,
tanah wakaf, yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang
bersangkutan.

o. Komputerisasi Kegiatan Pertanahan yang selanjutnya disingkat KKP adalah


aplikasi utama dalam menunjang pelaksanaan kewenangan, tugas dan fungsi
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional berbasis
teknologi informasi dan komunikasi yang dibangun dan dikembangkan mengacu
kepada alur, persyaratan, waktu, biaya, dan kewenangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 27


DIKLAT PENDAFTARAN TANAH SISTEMATIS LENGKAP (PTSL) TINGKAT II

p. Ajudikasi PTSL adalah pelaksanaan program PTSL yang dilaksanakan oleh


Panitia Ajudikasi PTSL.

q. Surveyor Kadaster Berlisensi adalah mitra kerja Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, yang terdiri dari
Surveyor Kadaster dan Asisten Surveyor Kadaster.

r. Kantor Jasa Surveyor Kadaster Berlisensi yang selanjutnya disingkat KJSKB


adalah Surveyor Kadaster Berlisensi yang berbentuk badan usaha baik
perorangan maupun firma.

s. Pengumpul dan Pemeriksa Data Yuridis adalah petugas yang melaksanakan


kegiatan pemeriksaan, penelitian, pengkajian dan pengumpulan data yuridis
bidang tanah.

t. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional yang


selanjutnya disebut Kementerian adalah Kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang.

u. Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional yang selanjutnya disebut Kantor


Wilayah BPN adalah instansi vertikal Badan Pertanahan Nasional di Provinsi yang
berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri.

v. Kantor Pertanahan adalah instansi vertikal Badan Pertanahan Nasional di


Kabupaten/Kota yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada
Menteri melalui Kepala Kantor Wilayah BPN.

Pusdiklat Kementerian ATR/BPN 2017 28