Anda di halaman 1dari 25

KIMIA LINGKUNGAN

PENCEMARAN MINYAK DI LAUT

Disusun Oleh :

Indri Yunita (06101381722050)


Claudia Labura (06101381722055)
Wafiqa Dinda Kenamon (06101381722064)

Dosen Pengampu : Rodi Edi, S.Pd., M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala


rahmat, taufik, dan hidayahnya yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kami sampaikan kepada semua


pihak terutama teman-teman yang telah membantu baik moril maupun spirituil
sehingga penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan lancar dan baik.

Juga ucapan terima kasih kami sampaikan kepada yang terhormat bapak
Rodi Edi, S.Pd., M.Pd. selaku dosen bidang studi Kimia Lingkungan yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.

Ibarat pepatah “Tak ada gading yang tak retak”, begitu pula dengan
makalah ini kami yakin masih banyak kekurangan-kekurangannya. Untuk itu
kami mengharapkan saran-saran yang sifatnya membangun guna
menyempurnakan makalah ini.

Dengan segala kerendahan hati, kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat dalam upaya meningkatkan prestasi.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat menjadi amal ibadah kami dalam
mengemban amanah Allah SWT. Amin ....

Palembang, 21 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... I


DAFTAR ISI ................................................................................................. II
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3
2.1 Karakteristik Minyak di Perairan ................................................. 3
2.1.1 Karakter Fisika Minyak ................................................... 3
2.1.2 Komposisi Minyak ........................................................... 4
2.1.3 Priaku Minyak Diperairan ............................................... 7
2.2 Sumber Pencemaran Minyak Di Laut ........................................ 11
2.3 Contoh Pencemaran Minyak Di Laut ......................................... 12
2.3.1. Sumber .......................................................................... 14
2.3.2. Reaksi Kimia................................................................. 15
2.3.3. Dampak ......................................................................... 16
2.2.4. Solusi ............................................................................ 17
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 21
A. Kesimpulan ................................................................................. 21
B. Saran ............................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pencemaran perairan adalah suatu perubahan fisika, kimia dan biologi yang
tidak dikehendaki pada ekosistem perairan yang akan menimbulkan kerugian pada
sumber kehidupan, kondisi kehidupan dan proses industri (Odum 1993). Menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999, pencemaran laut diartikan dengan
masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen
lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi
dengan baku mutu dan/atau fungsinya.
Bahan-bahan pencemar yang dibuang ke laut diklasifikasikan atas senyawa
konservatif (senyawa yang sukar terurai) dan senyawa non konservatif (senyawa
yang mudah terurai di perairan). Polutan yang masuk ke perairan laut seringkali
mengandung senyawa konservatif dan non-konservatif, salah satu diantaranya
adalah polutan minyak. Minyak merupakan polutan yang memiliki potensi besar
mencemari air laut. Pencemaran minyak merupakan penyebab utama pencemaran
laut yang dapat membahayakan ekosistem laut karena laut dan biota perairan
sangat rentan terhadap minyak (Mukhtasor 2007).
Akibat jangka pendek dari pencemaran minyak adalah terjadinya kerusakan
pada membran sel biota laut oleh molekul-molekul hidrokarbon minyak yang
mengakibatkan keluarnya cairan sel dan meresapnya bahan tersebut ke dalam sel.
Berbagai jenis udang dan ikan akan berbau minyak, sehingga menyebabkan turun
mutunya. Secara langsung minyak dapat menyebabkankematian ikan karena
kekurangan oksigen, keracunan karbon monoksida, dan keracunan langsung oleh
bahan toksik. Dampak jangka panjang dari pencemaran minyak dialami oleh biota
laut yang masih muda. Minyak dapat teradsobsi dan termakan oleh biota laut,
sebagian akan terakumulasi dalam senyawa lemak dan protein. Sifat akumulasi ini
dapat dipindahkan dari organisma satu ke organisma lain melalui rantai makanan.
Secara fisik, pencemaran minyak akan terlihat jelas pada lingkungan laut
seperti pantai menjadi kotor akibat permukaan air laut tertutup oleh lapisan

iii
minyak atau karena gumpalan ter dipermukaan air laut. Secara kimia, minyak
bumi mengandung senyawa aromatik hidrokarbon yang bersifat toksik dan dapat
mematikan organisme laut. Secara biologi, adanya pencemaran minyak dapat
mengganggu kehidupan organisme termasuk ikan, oleh karena itu perlu suatu
usaha yang intensif untuk meminimalkan pencemaran minyak di laut. Pengaruh
spesifik dampak dari pencemaran minyak terhadap lingkungan perairan laut dan
pantai tergantung pada jumlah minyak yang mencemari, lokasi kejadian, dan
waktu kejadian.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik minyak di perairan?
2. Bagaimana reaksi kimia pencemaran minyak di laut?
3. Bagaimana dampak tumpahnya minyak di laut?
4. Bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan pencemaran minyak di laut?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik minyak di perairan.
2. Untuk mengetahui sumber pencemaran minyak di laut.
3. Untuk mengetahui dampak tumpahan minyak di laut.
4. Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan pencemaran minyak di
laut.

iv
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Minyak di Perairan


Minyak adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan produk
petroleum yang komposisi utamanya terdiri dari hidrokarbon. Minyak bumi
merupakan campuran yang sangat kompleks dari hidrokarbon-hidrokarbon
organik (sel-sel dan jaringan hewan dan tumbuhan) yang tertimbun selama jutaan
tahun yang lalu di dalam tanah baik di daerah daratan maupun di daerah lepas
pantai (Mukhtasor 2007).
Minyak mentah (crude oil) yang baru keluar dari sumur eksplorasi
mengandung bermacam-macam zat kimia yang berbeda baik dalam bentuk gas,
cair maupun padatan. Lebih dari separoh (50-98%) dari zat-zat tersebut adalah
merupakan hidrokarbon. Senyawa utama yang terkandung di dalam minyak bumi
adalah alifatik, alisiklik dan aromatik.
Komponen hidrokarbon aromatik jumlahnya relatif kecil dibandingkan
dengan komponen hidrokarbon lainnya yaitu berkisar 2–4 %. Komponen
hidrokarbon aromatik yang paling sederhana adalah benzen. Secara umum
senyawa aromatik bersifat mudah menguap (folatil) dan lebih beracun dari
senyawa lainnya. Penyebaran minyak yang masuk ke perairan tergantung pada
jumlah, karakteristik dan tipe minyak, kondisi cuaca, gelombang, arus dan jika
minyak tertinggal di laut atau terbawa ke darat. Polutan yang berasal dari minyak
bumi (petroleum hydrocarbon) telah memperoleh perhatian yang sangat besar
secara internasional, politik dan keilmuan apabila mencemari perairan. Hal ini
disebabkan karena pengaruh minyak terhadap ekosistem perairan mampu
menurunkan kualitas air laut (Mukhtasor 2007).

2.1.1 Karakteristik Fisika Minyak


Karakteristik fisik minyak yang mempengaruhi prilaku minyak di laut yang
penting adalah densitas, viskositas, titik ubah (pour point) dan kelarutan air.

1
a. Densitas
Densitas diekspresikan sebagai specific gravity dan American Petroleum
Institute (API) gravity. Specific gravity adalah rasio berat massa minyak dan berat
massa air pada temperature tertentu. API gravity dinyatakan dalam angka 10°
pada air murni 10°C. Minyak mentah mempunyai specific gravity pada kisaran
0,79-1,00. Densitas minyak memegang peranan penting untuk memprediksi
prilaku minyak di perairan (BP Migas 2002).
b. Viskositas
Viskositas adalah sifat yang menunjukkan ketahanan dalam perubahan
bentuk dan pergerakan. Viskositas rendah berarti mudah mengalir. Faktor
viskositas adalah komposisi minyak dan temperature. Viskositas ini penting untuk
memprediksi penyebaran minyak di air.
c. Titik ubah
Titik ubah adalah tingkatan suhu yang mengubah minyak menjadi
memadat atau berhenti mengalir. Titik ubah minyak mentah berkisar –57°C
hingga 32°C. Tititk ubah ini juga penting untuk prediksi prilaku minyak di
perairan.
d. Kelarutan
Kelarutan minyak dalam air adalah rendah sekitar 30 mg/L dan tergantung
kepada komposisi kimia dan suhu. Besaran kelarutan itu dicapai oleh minyak
aromatis dengan berat molekul kecil seperti benzena, toluena, ethylbenzena, dan
xylena (BTEX). Sifat kelarutan ini penting untuk prediksi prilaku minyak di air,
proses bioremediasi, dan ekotoksisitas minyak.

2.1.2 Komposisi Minyak


Minyak adalah suatu campuran yang sangat kompleks yang terutama terdiri
dari senyawa-senyawa hidrokarbon,yaitu senyawa-senyawa organik yang setiap
molekulnya hanya mempunyai unsur karbon dan hidrogen saja. Komposisi kimia
minyak mentah berbeda dengan minyak hasil olahan.

2
a. Minyak mentah
Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Minyak bumi
yang telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil).
Minyak mentah dapat dibedakan atas:
1) Minyak mentah ringan (light crude oil), mengandung kadar logam
dan belerang rendah, berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).
2) Minyak mentah berat (heavy crude oil), mengandung kadar logam
dan belerang tinggi, memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan
agar meleleh.
Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan komponen
utama alkana dan sebagian kecil alkena, alkuna, siklo-alkana, aromatik, dan
senyawa anorganik. Minyak mentah mengandung sekitar 50–98 % senyawa
hidrokarbon dan sisanya merupakan senyawa non-hidrokarbon (sulfur,nitrogen,
oxigen, dan beberapa logam berat seperti V, Ni dan Cu). Air dan garam hampir
selalu terdapat dalam minyak bumi dalam keadaan terdispersi. Bahan-bahan
bukan hidrokarbon ini biasanya dianggap sebagai kotoran karena pada umumnya
akan memberikan gangguan dalam proses pengolahan minyak dalam kilang dan
mempengaruhi kualitas minyak yang dihasilkan.
Berdasarkan kelarutannya dalam pelarut organik, minyak dapat
diklasifikasikan atas hidrokarbon jenuh, Hidrokarbon aromatis, dan resin
(Ryabinin 1998).
1) Hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbons)
Hidrokarbon jenuh adalah kelompok minyak yang dicirikan dengan adanya
rantai atom karbon (bercabang atau tidak bercabang atau membentuk siklik)
berikatan dengan atom hidrogen, dan merupakan rantai atom jenuh. Hidrokarbon
jenuh meliputi senyawa alkana dengan struktur CnH2n+2 (aliphatis) dan CnH2n
(alicyclis), dimana n > 40. Hidrokarbon jenuh merupakan kandungan terbanyak
dalam minyak mentah, termasuk dalam kelompok ini adalah golongan alkana
(paraffin), yang mewakili 10-40 % komposisi minyak mentah.
2) Hidrokarbon aromatis
Hidrokarbon aromatis meliputi monocyclis aromatis benzene, toluene, etil
toluene dan xilena (BTEX) dan polisik aromatis hidrokarbons (PAHs) yang

3
meliputi naphthalene, anthracene, dan phenanthrene (BP MIGAS 2002). Senyawa
aromatik ini merupakan komponen minyak mentah yang paling beracun, dan bisa
memberi dampak kronik (menahun, berjangka lama) dan karsinogenik
(menyebabkan kanker). Hampir kebanyakan aromatik bermassa rendah (low-
weight aromatics), dapat larut dalam air sehingga meningkatkan bioavaibilitas
yang dapat menyebabkan terpaparnya organisma didalam matrik tanah ataupun
pada badan air. Jumlah relatif hidrokarbon aromatis didalam mnyak mentah
bervariasi dari 10-30 %.
3) Resin dan aspal
Komponen penyusun minyak tersebut juga terdiri atas aspal (asphalt) dan
resin dengan komposisi 5-20 % yang merupakan komponen berat dengan struktur
kimia yang kompleks berupa senyawa siklik aromatik dengan lebih dari lima
cincin aromatik dan napthenoaromatik dengan gugus-gugus fungsional sehingga
senyawa-senyawa tersebut memiliki polaritas yang tinggi.
Resin merupakan senyawa polar yang mengandung senyawa nitrogen,
sulfur, oksigen (pyridines dan thiophenes), sehingga disebut pula sebagai senyawa
NSO. Aspal adalah senyawa dengan berat molekul besar dan pada umumnya
mengandung logam berat nikel, vanadium, dan besi. Aspal sukar larut dalam air
dan mempunyai sifat fisik padat.

b. Minyak hasil olahan


Minyak hasil olahan seperti gasolin, kerosen dan minyak jett adalah produk
olahan minyak mentah melalui proses catalitic cracking dan fractional distilation.
Distilation adalah pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan perbedaan
titik didihnya. Mula-mula minyak mentah dipanaskan dalam aliran pipa dalam
furnace (tanur) sampai dengan suhu ±370°C. Hasil olahan berupa minyak
mempunyai sifat fisik kimia yang berbeda dengan minyak mentah.
Senyawa baru dapat muncul dalam minyak olahan yang dihasilkan dari
proses pengolahan minyak mentah. Minyak hasil olahan mempunyai kandungan
senyawa hidrokarbon tak jenuh seperti olefins (alkena dan cycloalkena) dari
proses catalytic cracking. Kandungan olefins dapat mencapai 30% dalam gasoline
dan sekitar 1% dalam jet fuel.

4
Secara umum toksisitas minyak mentah meningkat dengan memanjangnya
rantai hidrokarbon. Selanjutnya hidrokarbon aromatik lebih toksik apabila
dibandingkan dengan sikloalkana dan alkana. Selain hidrokarbon, minyak bumi
juga mengandung senyawa lain seperti nitrogen dengan kisaran 0,0-0,9%,
belerang 0,0-1%, dan oksigen 0,0-2%.
Semua minyak mentah dan produk minyak kilang lainnya beracun terhadap
organisme laut. Efek lethal semakin menurun dengan meningkatnya lama waktu.
Pada tahap jentik dan larva efek lethalnya terhadap minyak terjadi pada
konsentrasi 0,1-1,0 mg/l dan organisme dewasa terjadi pada kisaran 1,0-10 mg/l.
Fraksi minyak bumi yang tidak larut dapat menyebabkan kerusakan karena
dapat menempel pada organisme dan menyebabkan organisme tersebut matilemas.
Selain itu, minyak juga dapat menyebabkan terkontaminasinya organisme perairan
yang biasanya dikonsumsi. Hidrokarbon aromatik pada titik didih rendah seperti
benzena, toluena, xilena, nafthalena dan phenantrena merupakan fraksi yang
paling toksik dan penyebab utama kematian organisme.
Senyawa hidrokarbon yang terdapat dalam minyak bumi seperti benzena,
toluena, etil benzena dan isomer xilena (BTEX) mempunyai sifat mutagenik dan
karsinogenik pada manusia. Senyawa ini sulit mengalami perobakan di alam
sehingga akan mengalami proses akumulasi pada rantai makanan (biomagnifikasi)
pada ikan maupun biota laut lainnya (Mukhtasor 2007).

2.1.3 Prilaku Minyak di Perairan


Proses penyebaran minyak akan menyebabkan lapisan menjadi lebih tipis
serta tingkat penguapan meningkat. Hilangnya sebahagian material yang
volatilmenyebabkan minyak lebih padat, berat dan tenggelam (GAO 2007).
Prilaku minyak di perairan tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Penyebaran (spreading)
Pada saat masuk ke perairan laut, minyak akan tersebar ke seluruh
permukaan laut dalam satu lapisan. Kecepatan penyebarannya tergantung pada
tingkat viskositas minyak. Minyak yang viskositasnya rendah dan berbentuk cair

5
akan menyebar lebih cepat dari minyak yang viskositasnya tinggi. Lapisan minyak
ini akan menyebar dengan cepat dan menutupi wilayah permukaan laut.
Penyebaran minyak tersebut pada umumnya tidak merata. Setelah beberapa
jam, lapisan tersebut akan pecah dan karena pengaruh angin, aksi gelombang dan
turbulensi air laut, akan membentuk buih tipis. Tingkat penyebaran minyak juga
ditentukan oleh kondisi fisik perairan seperti temperatur, arus laut, pengaruh
pasang dan kecepatan angin.
Gelombang dan turbulensi di permukaan laut dapat mengakibatkan
seluruhnya atau sebagian dari lapisan minyak pecah menjadi beberapa bagian dan
tetesan yang ukurannya bervariasi. Ini akan tercampur ke dalam lapisan atas pada
kolom air. Beberapa dari tetesan yang lebih kecil akan tertinggal dan tersuspensi
pada air laut sementara tetesan yang lebih besar akan cenderung naik ke
permukaan, dimana tetesan-tetesan ini kemungkinan tidak bergabung dengan
tetesan lain dan membentuk lapisan atau tersebar membentuk lapisan tipis.
Penyebaran ini merupakan proses terpenting selama awal ekspose minyak dalam
air. Proses ini akan memperluas sebaran minyak sehingga meningkatkan
perpindahan massa melalui proses evaporasi, pelarutan dan biodegradasi.

b. Penguapan (evaporation)
Proses penguapan adalah mekanisme utama hilangnya sebahagian fraksi
minyak dari permukaan laut. Laju dan jangkauan proses penguapan banyak
tergantung pada proporsi fraksi bertitik-didih rendah dari lapisan minyak yang
tumpah. Proses penguapan juga bergantung pada proses penyebaran awal yang
telah berlangsung, sebab makin luas dan tipis ketebalan tutupan daerah
penyebaran minyak, makin cepat fraksi minyak ringan untuk menguap. Faktor
lingkungan yang mempengaruhi penguapan minyak adalah angin, gelombang air
dan suhu. Proses penguapan menyebabkan minyak yang mengalami peningkatan
densitas dan viskositas. Minyak ringan seperti bensin dapat menguap hingga 90 %
dari total volumenya selama dua hari, sedangkan minyak mentah ringan dapat
menguap hingga 40%. Sebaliknya minyak mentah berat (residu) melepaskan tidak
lebih dari 10% dari volume awalnya beberapa hari setelah terjadi pencemaran
minyak. Penguapan senyawa alkana (< C15) dan aromatik berlangsung 1 – 10
hari.

6
c. Dispersi (dispertion)
Dispersi adalah mekanisme fraksinasi dari lapisan minyak menyebar dalam
bentuk gumpalan (droplet) dan pergerakannya di dalam badan air dapat secara
vertikal dan horizontal. Dispersi vertikal berkaitan dengan pergerakan droplet
yang memiliki dimensi kurang dari 100 μm. Fenomena ini lebih dianggap sebagai
pergerakan polutan dari satu tempat ketempat lain dan bukan sebagai mekanisme
degradasi. Formasi gumpalan minyak ukuran kecil secara signifikan mampu
meningkatkan kontak antara air laut dan minyak dan penguraian minyak oleh
mikroorganisme akan semakin besar. Gumpalan minyak akan menyebar melalui
lapisan atas air laut dan akan terapung kembali ke permukaan laut tergantung pada
densitas dan ukuran gumpalan minyak tersebut.

d. Emulsifikasi (emulsification)
Emulsifikasi adalah proses perubahan status butiran minyak dalam air
menjadi butiran air dalam minyak. Gerakan gelombang menyebabkan lapisan
permukaan minyak bergerak ke bagian atas permukaan air sehingga menyebabkan
formasi minyak yang tidak larut dalam air akan teremulsi dengan cepat. Emulsi
mampu mengubah karakteristik minyak secara signifikan. Emulsi yang stabil
mengandung 65-80 % air. Emulsi perangkap air dapat meningkatkan volume
minyak menjadi 3-5 kali lebih besar (Mukhtasor 2007).

e. Pelarutan (dissolution)
Proses pelarutan berperan penting bagi proses biodegradasi minyak di
perairan. Kecepatan pelarutan dipengaruhi oleh komposisi kimiawi hidrokarbon
minyak bumi, luasan penyebaran, dan kondisi hidrooseanografi perairan (arus,
angin dan gelombang) dan viskositasnya. Senyawa aromatik dengan beratmolekul
kecil seperti benzena dan toluena lebih mudah larut dalam air dibanding senyawa
minyak yang berberat molekul besar.
Berdasarkan Tabel diatas, senyawa aromatis memiliki kelarutan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan senyawa alkana. Benzena memiliki kelarutan yang
lebih tinggi, kemudian diikuti oleh toluene, ethylbenzena, xylena dan naphtalena.

7
Pada umumnya makin berat molekul dari senyawa hidrokarbon minyak semakin
kecil kelarutannya dalam air.

f.Oksidasi
Proses oksidasi mampu mengubah minyak menjadi senyawa-senyawa baru
berdasarkan kemampuan oksidasinya. Pada proses ini, hidrokarbon dapat
teroksidasi menjadi alkohol, keton dan asam-asam organik. Hasil oksidasi
merupakan senyawa yang lebih mampu larut dibandingkan dengan senyawa
hidrokarbon sebelumnya. Oksidasi minyak mentah dapat terjadi melalui dua
proses yaitu foto-oksidasi dan mikrobial-oksidasi. Saat minyak di perairan terkena
sinar matahari melalui bantuan oksigen maka terjadilah fotooksidasi dan diikuti
dengan oksidasi mikrobial secara aerob. Hal yang mempengaruhi fotooksidasi
adalah spektrum dan intensitas cahaya matahari, serta karakteristik permukaan air.
Radiasi matahari yang sampai ke lapisan minyak dapat meningkatkan proses
oksidasi (photo-oxidation), namun laju penguraian ini tidak lebih dari 0.1% per
hari meskipun dibawah intensitas sinar matahari yang tinggi. (Mukhtasor 2007).

g. Sedimentasi (sedimentation)
Sedimentasi merupakan proses perubahan minyak menjadi sedimen
tersuspensi yang akhirnya akan tinggal di kolom air dan terakumulasi pada dasar
perairan. Sinking merupakan mekanisme dimana minyak yang berat jenisnya
lebih besar dari air akan pindah ke lapisan bawah secara alami karena gaya
gravitasi. Sedimentasi memerlukan mekanisme proses untuk merubah minyak
menjadi sedimen. Proses sedimentasi minyak lebih cenderung berlangsung
melalui rantai makanan dan terdeposit pada dasar laut bersama kotoran buangan
organisme laut. Salah satu mekanisme yang terjadi adalah penyebaran butiran
minyak ke kolom perairan oleh zooplankton dan tenggelam ke dasar perairan.

h. Penguraian secara biologi (biodegredation)


Biodegradasi adalah proses penguraian minyak oleh mikro-organisme pada
permukaan kontak minyak dengan air yang berlangsung pada beberapa komponen
minyak. Proses biodegradasi merupakan proses perpindahan massa dari media

8
lingkungan ke dalam massa mikroba (menjadi bentuk terikat dalam massa
mikroba) sehingga minyak hilang dari perairan.
Proses penyebaran minyak dipengaruhi oleh jumlah dan tipe minyak,
kondisi cuaca, arus dan gelombang. Berdasarkan sifatnya beberapa komponen dari
minyak bumi tergolong polutan konservatif (sukar terurai) sehingga dapat
bertahan lama di perairan sebelum menguap atau teradsorbsi oleh organisme
perairan. Hal ini di pengaruhi oleh faktor oseanografi perairan seperti arus, dan
gelombang laut. Sirkulasi arus dapat mempercepat penguapan, penyebaran
percampuran, penyerapan dan pengendapan minyak.
Banyak kapal-kapal tanker, cargo dan ferry yang melintasi perairan Selat
Rupat yang menyebabkan perairan ini sangat rentan terhadap pencemaran minyak.
Propinsi Riau juga propinsi penghasil minyak, sehingga Pelabuhan Dumai telah
digunakan sebagai terminal bongkar-muat minyak. Oleh karena itu, di kawasan
Selat Rupat berpotensi terjadinya pencemaran minyak.

2.2 Sumber Pencemaran Minyak Di Laut


Lingkungan laut merupakan tempat hidupnya berbagai jenis biota laut dan
tumbuhan yang sangat beraneka ragam dan harus dilindungi untuk
memertahankan ekosistim yang telah ada. Kerusakan lingkungan laut diakibatkan
oleh ulah manusia yang tidak peduli dan akibat pencemaran yang antara lain :
Penyebab pencemaran laut dapat berasal dari :
1. Ladang minyak di bawah dasar laut, baik melalui rembesan maupun
kesalahan pengeboran pada operasi lepas pantai.
2. Kecelakaan pelayaran seperti kapal kandas, tenggelam dan kapal tanker yang
tabrakan.
3. Pembuangan air bilge (air got) dari kapal.
4. Terminal banker minyak dipelabuhan, dimana minyak dapat tumpah pada
waktu memuat/membongkar pengisian bahan bakar.
5. Limbah pembuangan refinery, minyak pelumas dan cairan yang mengandung
hydrocarbon dari darat.

9
Tumpahan minyak dari kapal terjadi karena faktor-faktor :
1. Kerusakan mekanis :
a. Kerusakan dari sistim peralatan kapal
b. Kebocoran lambung kapal
c. Kerusakan katup-katup hisap atau katup pembuangan kelaut
d. Kerusakan selang-selang muatan bahan bakar

2. Kesalahan manusia :
a. Kurang pengetahuan/pengalaman
b. Kurang perhatian dari personil pada saat pengisian bahan bakar
c. Kurang ditaatinya ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan
d. Kurangnya pengawasan terhadap pentingnya perlindungan lingkungan laut

2.3 Contoh Pencemaran Minyak Di Laut

Masalah : Tumpahan minyak di laut Jawa

Kebocoran sumur minyak YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ)
PT Pertamina di bibir pantai Cilamaya, pesisir utara Karawang, Jawa Baratterjadi
sejak Jumat 12 Juli 2019 pukul 01.30 WIB. (KumparanNEWS).

VP Relations PHE Ifki Sukarya menyatakan hingga saat ini, PHE ONWJ
selaku operator Blok ONWJ telah melakukan pengeboran sumur baru YYA-1RW
dengan kedalaman sekitar 624 meter dari target 2.765 meter. (CNN Indonesia).

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah


mengatakan kandungan minyak yang berasal dari kebocoran minyak tumpah
milik Pertamina di perairan Karawang, Jawa Barat mengandung senyawa
Polycyclic Aromatic Hydrocarbon atau Polisiklik Aromatik
Hidrokarbon.Kandungan senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (Polisiklik
Aromatik Hidrokarbon) sendiri merupakan senyawa organik yang tersebar luas di
alam dan bentuknya terdiri dari beberapa rantai siklik aromatik dan bersifat
hidrofobik.

10
11
2.3.1 Sumber
Limbah minyak yang berasal dari minyak mentah (crude oil) terdiri dari
ribuan konstituen pembentuk yang secara struktur kimia dapat dibagi
menjadi lima family :
a. Hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbons), merupakan kelompok
minyak yang dicirikan dengan adanya rantai atom karbon (bercabang atau
tidak bercabang atau membentuk siklik) berikatan dengan atom hidrogen,
dan merupakan rantai atom jenuh (tidak memiliki ikatan ganda). Termasuk
dalam kelompok ini adalah golongan alkana (paraffin), yang mewakili 10-
40 % komposisi minyak mentah. Senyawa alkana bercabang (branched
alkanes) biasanya terdiri dari alkana bercabang satu ataupun bercabang
banyak (isoprenoid), contoh dari senyawa ini adalah pristana, phytana
yang terbentuk dari sisa-sisa pigment chlorofil dari tumbuhan. Kelompok
terakhir dari famili ini adalah napthana (Napthenes) atau disebut juga
cycloalkanes atau cycloparaffin. Kelompok ini secara umum disusun oleh
siklopentana dan siklohexana yang masanya mewakili 30-50% dari massa
total minyak mentah.
b. Aromatik (Aromatics). Famili minyak ini adalah kelas hidrokarbon
dengan karakteritik cincin yang tersusun dari enam atom karbon.
Kelompok ini terdiri dari benzene beserta turunannya (monoaromatik dan
polyalkil), naphtalena (2 ring aromatik), phenanthren (3 ring), pyren,
benzanthracen, chrysen (4 ring) serta senyawa lain dengan 5-6 ring
aromatic. Aromatik ini merupakan komponen minyak mentah yang paling
beracun, dan bisa memberi dampak kronik (menahun, berjangka lama) dan
karsinogenik (menyebabkan kanker). Hampir kebanyakan aromatik
bermassa rendah (low-weight aromatics), dapat larut dalam air sehingga
meningkatkan bioavaibilitas yang dapat menyebabkan terpaparnya
organisma didalam matrik tanah ataupun pada badan air. Jumlah relative
hidrokarbon aromatic didalam mnyak mentah bervariasi dari 10-30 %.
c. Asphalten dan Resin. Selain empat komponen utama penyusun minyak
tersebut di atas, minyak juga dikarakterisasikan oleh adanya komponen-
komponen lain seperti aspal (asphalt) dan resin (5-20 %) yang merupakan

12
komponen berat dengan struktur kimia yang kompleks berupa siklik
aromatic terkondensasi dengan lebih dari lima ring aromatic dan
napthenoaromatik dengan gugus-gugus fungsional sehingga senyawa-
senyawa tersebut memiliki polaritas yang tinggi.
d. Komponen non-hidrokarbon. Kelompok senyawa non-hidrokarbon
terdapat dalam jumlah yang relative kecil, kecuali untuk jenis petrol berat
(heavy crude). Komponen non-hidrokarbon adalah nitrogen, sulfur, dan
oksigen, yang biasanya disingkat sebagai NSO. Biasanya sulphur lebih
dominant disbanding nitrogen dan oxygen, sebaga contoh, minyak mentah
dari Erika tanker mengandung kadar S, N dn O berturut-turut sebesar 2.5,
1.7, dan 0.4 % (Baars, 2002).
e. Porphyrine. Senyawa ini berasal dari degradasi klorofil yang berbentuk
komplek Vanadium (V) dan Nikel (Ni).

2.3.2 Reaksi Kimia

Struktur kimia petroleum terdiri atas rantai hidrokarbon dalam ukuran


panjang yang berbeda. Perbedaan kimia hidrokarbon ini dipisahkan oleh
distilasi pada penyulingan minyak untuk menghasilkan gasoline, bahan
bakat jet, kerosin, dan hidrokarbon lainnya. Formula umum untuk
hidrokarbon ini adalah CnH2n+2. Contohnya 2,2,4-Trimethylpentane,
banyak digunakan pada gasoline, memiliki formula kimia C8H18 yang
bereaksi dengan oksigen.
C8H18(aq) + 12.5O2(g) → 8CO2(g) + 9H2O(g) + panas
Pembakaran tidak sempurna pada petroleum atau gasoline menghasilkan
emisi gas beracun seperti karbon monooksida dan/atau nitrit oksida.
Contohnya:
C8H18(aq) + 12.5O2(g) + N2(g) → 6CO2(g) + 2CO(g) + 2NO(g) + 9H2O(g)
+ panas
Formasi petroleum kebanyakan terjadi dalam bermacam reaksi endotermik
pada tekanan dan/atau suhu tinggi. Contohnya, kerosin dapat pecah
menjadi hidrokarbon dalam panjang yang berbeda.

13
CH1.45(s) + heat → 0.663CH1.6(aq) + 0.076CH2(aq) + 0.04CH2.6(g) +
0.006CH4(g) + 0.012CH2.6(s) + 0.018CH4.0(s) + 0.185CH.25(s)

Minyak mentah dengan air laut tidak bereaksi dikarenakan karena


sifatkimia dan berat jenis benda cair tersebut berbeda. Dalam istilah
kimianya, air merupakan senyawa kimia yang bersifat polar. Sedangkan
minyak merupakan senyawa kimia yang bersifat nonpolar. Senyawa polar
dan nonpolar apabila disatukan tidak dapat bercampur karena memiliki
sifat-sifat khas yang berbeda. Air juga memiliki berat jenis yang lebih
berat daripada minyak, maka bila dicampur, air selalu berada di bawah dan
minyak akan berada di atas. Kemudian air dan minyak memiliki titik didih
yang berbeda.

2.3.3 Dampak

1. Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan


senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa
beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah
fitoplankton menurun, maka populasi ikan, udang, dan kerang juga
akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia
karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang tinggi.
2. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun
slick (lapisan minyak di permukaan air). Selain itu, terjadi kematian
burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat permukaan
laut lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya
ataupun menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak,
terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem
kekedapan air dan isolasi, sehingga burung akan kedinginan yang pada
akhirnya mati.
3. Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu
berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir,
tumbuhan dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses
pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai.

14
4. Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek
letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu
proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan
terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan
fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan kematian secara
langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal
dimana pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas
dari komunitasnya.
5. Peristiwa itu berdampak buruk bagi ekosistem laut dan masyarakat
pesisir yang tinggal di pesisir pantai Karawang. Masyarakat kehilangan
mata pencaharian sebagai nelayan, karena lokasi tangkapan tercemar
limbah minyak dan gas
6. Selain kehilangan tangkapan, limbah yang mengandung bahan
berbahaya dan beracun (B3), juga memicu dampak buruk bagi
kesehatan warga pesisir. Saat ini, warga sudah mengeluhkan
memburuknya kondisi kesehatan, seperti tangan gatal, pusing, dan
mual

2.3.4 Solusi

Metode Penanggulangan Tumpahan Minyak Di Laut

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penangannan tumpahan


minyak (oil spill) di laut adalah dengan cara melokalisasi tumpahan
minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian
akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah

15
fasilitas penerima "reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon.
Langkah penanggulangan ini akan sangat efektif apabila dilakukan di
perairan yang memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-surut,
ombak, dll) dan cuaca yang tidak ekstrem.
Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ
burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent
dan penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju
penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.
a. In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air
sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan
laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi,
yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini
membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran
minyak) atau barrier yang tahan api. Beberapa kendala dari cara ini adalah
pada peristiwa tumpahan besar yang memunculkan kesulitan untuk
mengumpulkan minyak dan mempertahankan pada ketebalan yang cukup
untuk dibakar serta evaporasi pada komponen minyak yang mudah
terbakar. Sisi lain, residu pembakara yang tenggelam di dasar laut akan
memberikan efek buruk bagi ekologi. Juga, kemungkinan penyebaran api
yang tidak terkontrol.

b. Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua


tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan
melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan
peralatan mekanis yang disebut skimmer. Upaya ini terhitung sulit dan
mahal meskipun disebut sebagai pemecahan ideal terutama untuk

16
mereduksi minyak pada area sensitif, seperti pantai dan daerah yang sulit
dibersihkan dan pada jam-jam awal tumpahan. Sayangnya, keberadaan
angin, arus dan gelombang mengakibatkan cara ini menemui banyak
kendala.

c. Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang


terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga
terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang
berbahaya seperti CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak
lingkunga kecil, cara ini bisa mengurangi dampak tumpahan secara
signifikan. Sayangnya, cara ini hanya bisa diterapkan pada pantai jenis
tertentu, seperti pantai berpasir dan berkerikil, dan tidak efektif untuk
diterapkan di lautan.

d. Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan


minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada
permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent).
Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat

17
sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki
karakteristik hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan
minyak, diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu
organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik
alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan,
polietilen, polipropilen dan serat nilon)

e. Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan


memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga
mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan.
Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut
surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat
aktif permukaan).

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Karakteristik fisik minyak yang mempengaruhi prilaku minyak di laut yang
penting adalah densitas, viskositas, titik ubah (pour point) dan kelarutan air.
2. Sumber pencemaran laut dapat berasal dari : Ladang minyak di bawah dasar
laut, Kecelakaan pelayaran, Pembuangan air bilge (air got) dari kapal,
Terminal banker minyak dipelabuhan, Limbah pembuangan refinery, minyak
pelumas dan cairan yang mengandung hydrocarbon dari darat.
3. Dampak Tumpahan Minyak di Laut adalah : Rusaknya estetika pantai akibat
bau dari material minyak, Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan
efek subletal, Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat
keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa
beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi, Penurunan populasi alga dan
protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air).
4. Upaya Penanganan Tumpahan Minyak di Laut dan Perairan dapat dilakukan
dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung
pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat
pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima "reservoar" baik dalam
bentuk tangki ataupun balon. Langkah penanggulangan ini akan sangat efektif
apabila dilakukan di perairan yang memiliki hidrodinamika air yang rendah
(arus, pasang-surut, ombak, dll) dan cuaca yang tidak ekstrem.

B. Saran
Saran saya adalah perlu adanya kesadaran dari para awak kapal maupun dari
berbagai institusi industry untuk tidak membuang atau menumpahkan minyak
maupun sisa-sisa air basal dari kapal maupun dari industri ke dalam perairan baik
secara sengaja maupun secara tidak sengaja. Dan juga perlu adanya perhatian dari
pemerintah untuk melihat pencemaran minyak di laut agar laut tidak tercemar dan
merusak ekosistem laut

19
DAFTAR PUSTAKA

Arifira,P.S.2019. Tumpahan Minyak di Laut Jawa.(Online).


https://m.kumparan.com/@kumparannews/kronologi-tumpahan-minyak-di-laut-
jawa-1rc27t8iV0O

Fakhruddin. 2004. Dampak Tumpahan Minyak Pada Biota Laut. Jakarta : Kompas
Ginting, Perdana, Ir.,2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri.
Jakarta : MS. CV YRAMA WIDYA
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190816123819-199-
421892/kandungan-minyak-bocor-pertamina-ancam-biota-laut
Malisan J. 2010. Kajian Pencemaran Kapal Dalam Rangka Penerapan PP Nomor
21 Tahun 2010 Tentang PErlindungan Laut. J.P. Transla.Vol 13 (1): 65-
77
Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta : PT. Pradnya Paramita
Sopiani A. 2014. Menjaga Laut Dari Pencemaran Dan Kerusakan. Mitra Edukasi
Indonesia: 37-46

20