Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Seorang perawatan professional dalam merawat lanjut usia yang tidak ada
harapan mempunyai ketrampilan yang multi komplek. sesuai dengan peran
yang dimiliki, perawatan harus mampu memberikan pelayanan keperawatan
dalam memenuhi kebutuhan klien lanjut usia dan harus menyelami perasaan-
perasaan hidup dan mati.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia yang sedang
menghadapi sakarotul maut tidaklah selamanya muda, klien lanjut usia akan
memberikan reaksi-reaksi yang berbeda –beda, bergantung kepada
kepribadian dan cara klien lanjut usia menghadapi hidup. tetapi bagaimanapun
keadaan, situasi dan kondisinya perawat harus dapat menguasai keadaan
terutama terhadap keluarga klien lanjut usia. Biasanya, anggota keluarga
dalam keadaan krisis ini memerlukan perhatian perawatan karena kematian
pada seseorang dapat datang dengan berbagai cara, dapat terjadi secara tiba-
tiba dan dapat pula berlangsung berhari-hari. kadang –kadang sebelum ajal
tiba klien lanjut usia ke hilangan kesadarannya terlebih
dahulu(Nugroho,2008).
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan
WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu
unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itu
dibutuhkan dokter dan terutama perawat untuk memenuhi kebutuhan spritual
pasien. Karena peran perawat yang konfrehensif tersebut pasien senantiasa
mendudukan perawat dalam tugas mulia mengantarkan pasien diakhir
hayatnya dan perawat juga dapat bertindak sebagai fasilisator (memfasilitasi)
agar pasien tetap melakukan yang terbaik seoptimal mungkin sesuai dengan
kondisinya. Namun peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh perawat.

1
Padahal aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien terminal yang
didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut.
Menurut Dadang Hawari (1977,53) “orang yang mengalami penyakit
terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit
kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian sehingga pembinaan
kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
a. Mahasiswa mampu memberikan Asuhan Keperawatan Lansia
menjelang ajal atau kematian .
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep lansia
b. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep menjelang ajal / kematian
c. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian askep lansia menjelang ajal
d. Mahasiswa mampu menetapkan diagnosa keperawatan Asuhan
Keperawatan Lansia menjelang ajal
e. Mahasiswa mampu membuat intervensi keperawatan Asuhan
Keperawatan lansia menjelang ajal

2
BAB II
KONSEP TEORI

A. Konsep lansia
1. Definisi
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian
dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami
oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami
banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya
kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah
dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuaan
normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di
wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya
tahan tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut.
Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan
peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-orang
yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi
yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono, 2000).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965
adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari
nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima
nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menurut UU No.
12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah
seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999).
Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan
dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses
penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

3
2. Penggolongan lansia
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pengertian
lansia digolongkan menjadi 4, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
d. Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

3. Ciri-ciri Lansia.
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980: 380) terdapat beberapa ciri-ciri
orang lanjut usia,yaitu:
a. Usia lanjut merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan
faktor psikologis. Kemunduran dapat berdampak pada psikologis
lansia. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran
pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat apabila
memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi
yang kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b. Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat
dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut
usia dan diperkuat oleh pendapat-pendapat klise yang jelek
terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti: lansia lebih
senang mempertahankan pendapatnya dari pada mendengarkan
pendapat orang lain.
c. Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami
kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia
sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar
tekanan dari lingkungan.
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia

4
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia
cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih
memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan
yang buruk itu membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.

B. Konsep kematian
1. Pengertian kematian
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang
vital, akhir dari kehidupan manusia (Buku Ajar Keperawatan Gerontik
: 435).
Pengertian kematian / mati adalah apabila seseorang tidak teraba lagi
denyut nadinya tidak bernafas selama beberapa menit dan tidak
menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otak.(Nugroho:
153).

2. Penyebab kematian
a. Penyakit.
1) Keganasan (karsinoma hati, paru, mamae).
2) CVD (cerebrovascular disaese).
3) CRF (chronic renal failure (gagal ginjal) ).
4) Diabetes melitus (gangguan endokrin).
5) MCI (myocard infarct (gangguan kardiovaskuler) ).
6) COPD (chronic obstruction pulmonary disaese)
b. Kecelakaan (hematoma epidural).
(Nugroho,2008:153).

3. Ciri atau tanda klien lanjut usia menjelang kematian


a. Gerakan dan pengindraan menghilang secara berangsur – angsur.
Biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung
kaki

5
b. Badan dingin dan lembab, terutama pada kaki, tangan dan ujung
hidungnya
c. Kulit tampak pucat
d. Denyut nadi mulai tak teratur
e. Tekanan darah menurun
f. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
g. Pernafasan cepat dangkal dan tidak teratur.
(Nugroho,2008:153).

4. Tanda –tanda meninggal secara klinis.


Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui
perubahan-perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada tahun
1968, World Medical Assembly, menetapkan beberapa petunjuk
tentang indikasi kematian, yaitu :
a. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.
b. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan.
c. Tidak ada reflek.
d. Gambaran mendatar pada EKG.

5. Tahap Kematian
Tahap – tahap ini tidak selamanya bruntutan secara tetapi dapat saling
tindih. Kadang–kadang klien lanjut usia melalui suatu tahap tertentu
untuk kemudian kembali ketahap itu. Lama setiap tahap dapt
bervariasi, mulai dari beberapa jam sampai beberapa bulan. Apabila
tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa timbul kesan seolah –
olah klien lanjut usia melompati satu tahap, kecuali jika perawat
memperhatikan seksama dan cermat.(Nugroho:2008)

1) Tahap Pertama ( Penolakan )


Tahap ini adalah tahap kejutan dan penolakan. Biasany, sikap itu
ditandai dengan komentar “saya?tidak, itu tidak mungkin”. Selama

6
tahap ini klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut
menimpa semua orang, kecuali dirinya. Klien lanjut usia biasanya
terpengaruh oleh sikap penolakannya sehingga ia tidak
memerhatikan fakta yang mungkin sedang dijelaskan kepadanya
oleh perawat. Ia bahkan menekan apa yg telah ia dengar atau
mungkin akan meminta pertolongan dari berbagai macam sumber
profesional dan nonprofesional dalam upaya melarikan diri dari
kenyataan bahwa mau sudah diambang pintu.
2) Tahap kedua (marah)
Tahap ini ditandai oleh rasa marah dan emosi tidak terkendali.
Klien lanjut usia itu berkata “mengapa saya? ” sering kali klien
lanjut usia akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. Ia
mudah marah terhadap perawat dan petugas kesehatan lainya
tentang apa yang mereka lakukan. Pada tahap ini, klien lanjut usia
lebih menganggap hal ini merupakan hikmah, daripada kutukan.
Kemarahan disini merupakan mekanisme perthanan diri klien
lanjut usia. Akan tetapi, kemarahan yang sesungguhnya tertuju
kepada kesehatan dankehidupan. Pada saat ini, perawat kesehatan
harus berhati – hati dalam memberi penilaian sebagai reaksi yang
normal terhadap kemtian yang perlu diungkapkan.
3) Tahap ketiga (tawar – menawar )
Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata ,
“ya, benar aku, tapi...” kemarahan biasnya mereda dan klien lanjut
usia biasanya dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa
yang sedang terjadi pada dirinya. Akan tetapi, pada tahap tawar
menawar ini banyak orang cenderung untuk menyelesaikan urusan
rumah tangga mereka sebelum mau tiba, dan akan menyiapkan
beberpa hal, misalnya klien lanjut usia mempunyai permintaan
terkhir untuk melihat pertandingan olahraga, mengunjungi kerabat,
melihat cucu terkecil, atau makan direstoran. Perawat dianjurkan

7
memenuhi permohonan itu karena membantu klien lanjut usia
memasuki tahap berikutnya.
4) Tahap keempat (sedih/ depresi )
Pada tahap ini biasanya klien lanjut usia pada hakikatnya berkata
“ya, benar aku” hal ini biasanya merupakan saat yang
menyedihkan karena lanjut usia sedang dalam suaana berkabung.
Di masa lampau, ia sudah kehilangan orang yang dicintainya dan
sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri. Bersamaan dengan
itu, dia harus meninggalkan semua hal menyenangkan yang telah
dinikmatinya. Selam tahap ini, klien lanjut usia cenderung tidak
banyak bicara dan sering menangis. Saatnya perawat duduk dengan
tenang disamping klien lanjut usia yang melalui masa sedihnya
sebelum meninggal
5) Tahap kelima (menerima/ asertif)
Tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian.menjelang saat
ini, klien lanjut usia telah membereskan segala urusan ysng belum
selesesai dan mungkin tidak ingin berbicara lagi karena sudah
menyatakan segala sesuatunya. Tawar menawar sudah lewat dan
tibalah saat kedamaian dan ketenangan. Seseorang mungkin saja
lama ada dalam tahap menerima, tetapi bukan tahap pasrah yang
berarti kekalahan . Dengan kata lain pasrah terhadap maut tidak
berarti menerima maut.
(Nugroho,2008:154).

6. Pengaruh Kematian
a. Pengaruh kematian terhadap keluarga klien lanjut usia :
1) Bersikap kritis terhadap cara perawatan.
2) Keluarga dapat menerima kondisinya.
3) Terputusnya komunikasi dengan orang yang menjelang maut.
4) Penyesalan keluarga dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan tidak dapat mengatasi rasa sedih.

8
5) Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi.
6) Keluarga menolak diagnosis. Penolakan tersebut dapat
memperbesar beban emosi keluarga.
7) Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan.
b. Pengaruh kematian terhadap tetangga / teman :
1) Simpati dan dukungan moril.
2) Meremehkan / mencela kemampuan tim kesehatan
(Nugroho,2008:156).

7. Pemenuhan kebutuhan klien menjelang kematian :


a. Kebutuhan jasmaniah.
Kemampuan toleransi terhadap rasa sakit berbeda pada setiap
orang. Tindakan yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien
lanjut usia ( mis., sering mengubah posisi tidur, perawatan fisik,
dan sebagainya ).
b. Kebutuhan fisisologis
1) Kebersihan Diri
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kerbersihan
diri sebatas kemampuannya dalam hal kebersihan kulit, rambut,
mulut, badan dan sebagainya.
2) Mengontrol Rasa Sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada
klien dengan sakit terminal, seperti morphin, heroin, dsbg.
Pemberian obat ini diberikan sesuai dengan tingkat toleransi
nyeri yang dirasakan klien. Obat-obatan lebih baik diberikan
Intra Vena dibandingkan melalui Intra Muskular atau Subcutan,
karena kondisi system sirkulasi sudah menurun.
3) Membebaskan Jalan Nafas
Untuk klien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan lebih
baik dan pengeluaran sekresi lendir perlu dilakukan untuk
membebaskan jalan nafas, sedangkan bagi klien yang tida

9
sadar, posisi yang baik adalah posisi sim dengan dipasang
drainase dari mulut dan pemberian oksigen.
4) Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, klien dapat dibantu untuk
bergerak, seperti: turun dari tempat tidur, ganti posisi tidur
untuk mencegah decubitus dan dilakukan secara periodik, jika
diperlukan dapat digunakan alat untuk menyokong tubuh klien,
karena tonus otot sudah menurun.
5) Nutrisi
Klien seringkali anorexia, nausea karena adanya penurunan
peristaltik. Dapat diberikan annti ametik untuk mengurangi
nausea dan merangsang nafsu makan serta pemberian makanan
tinggi kalori dan protein serta vitamin. Karena terjadi tonus otot
yang berkurang, terjadi dysphagia, perawat perlu menguji
reflek menelan klien sebelum diberikan makanan, kalau perlu
diberikan makanan cair atau Intra Vena atau Invus.
6) Eliminasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat
terjadi konstipasi, inkontinen urin dan feses. Obat laxant perlu
diberikan untuk mencegah konstipasi. Klien dengan
inkontinensia dapat diberikan urinal, pispot secara teratur atau
dipasang duk yang diganjti setiap saat atau dilakukan
kateterisasi. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar
perineum, apabila terjadi lecet, harus diberikan salep.
7) Perubahan Sensori
Klien dengan dying, penglihatan menjadi kabur, klien biasanya
menolak atau menghadapkan kepala kearah lampu atau tempat
terang. Klien masih dapat mendengar, tetapi tidak dapat atau
mampu merespon, perawat dan keluarga harus bicara dengan
jelas dan tidak berbisik-bisik.

10
c. Kebutuhan emosi.
Untuk menggambarkan ungkapan sikap dan perasaan klien lanjut
usiadalam menghadapi kematian.
1) Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat (
ketakutan yang timbul akibat menyadari bahwa dirinya tidak
mampu mencegah kematian ).
2) Mengkaji hal yang diinginkan penderita selama
mendampinginya. Misalnya, lanjut usia ingin
memperbincangkan tentang kehidupan di masa lalu dan
kemudian hari. Bila pembicaraan tersebut berkenaan, luangkan
waktu sejenak.
3) Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama terhadap klien.
d. Kebutuhan sosial
Klien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi, dan untuk
memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat melakukan:
1) Menanyakan siapa-siapa saja yang ingin didatangkan untuk
bertemu dengan klien dan didiskusikan dengan keluarganya,
misalnya: teman-teman dekat, atau anggota keluarga lain.
2) Menggali perasaan-perasaan klien sehubungan dengan sakitnya
dan perlu diisolasi.
3) Menjaga penampilan klien pada saat-saat menerima kunjungan
kunjungan teman-teman terdekatnya, yaitu dengan memberikan
klien untuk membersihkan diri dan merapikan diri.
4) Meminta saudara atau teman-temannya untuk sering
mengunjungi dan mengajak orang lain dan membawa buku-
buku bacaan bagi klien apabila klien mampu membacanya.
e. Kebutuhan spiritual
1) Menanyakan kepada klien tentang harapan-harapan hidupnya
dan rencana-rencana klien selanjutnya menjelang kematian.
2) Menanyakan kepada klien untuk mendatangkan pemuka agama
dalam hal untuk memenuhi kebutuhan spiritual.

11
3) Membantu dan mendorong klien untuk melaksanakan
kebutuhan spiritual sebatas kemampuannya.

8. Pertimbangan khusus dalam perawatan :


a. Tahap I ( penolakan dan rasa kesendirian ), mengenal atau
mengetahui bahwa proses ini umumnya terjadi karena menyadari
akan datangnya kematian atau ancaman maut.
1) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk
mempergunakan caranya sendiri dalam menghadapi kematian
sejauh tidak merusak.
2) Memfasilitasi klien lanjut usia dalam menghadapi kematian.
Luangkan waktu 10 menit sehari, baik dengan bercakap –
cakap maupun sekedar bersamanya.
b. Tahap II ( marah ), mengenal atau memahami tingkah laku serta
tanda – tandanya.
1) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk
mengungkapkan kemarahannya dengan kata – kata.
2) Ingat, bahwa dalam benaknya bergejolak pertanyaan, “
Mengapa hal ini terjadi pada diriku ? “.
3) Sering kali perasaan ini dialihkan kepada orang lain atau anda
sebagai cara klien lanjut usia bertingkah laku.
c. Tahap III ( tawar – menawar ), menggambarkan proses seseorang
yang berusaha menawar waktu.
1) Klien lanjut usia akan mempergunakan ungkapan, seperti
seandainya “ Saya...“
2) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk menghadapi
kematian dengan tawar – menawar.
3) Tanyakan kepentingan yang masih ia inginkan. Cara demikian
dapat menunjukan kemampuan perawat untuk mendengarkan
ungkapan perasaanya.

12
d. Tahap IV ( depresi ), lanjut usia memahami bahwa tidak mungkin
menolak lagi kematian yang tidak dapat dihindarkan itu, dan kini
kesedihan akan kematian itu sudah membayanginya.
1) Jangan mencoba menyenangkan klien lanjut usia. Ingat bahwa
tindakan ini sebenarnya hanya memenuhi kebutuhan petugas.
Jangan takut menyaksikan klien lanjut usia atau keluarga
menangis. Hal ini merupakan ungkapan pengekspresian
kesedihanya. Anda boleh saja ikut berduka cita.
2) “ Apakah saya akan mati ? “ Sebab sebetulnya pertanyaan klien
lanjut usia tersebut hanya sekadar mengisi dan menghabiskan
waktu untuk memperbincangkan perasaanya, bukannya
mencari jawaban. Biasanya klien lanjut usia menanyakan
sesuatu, ia sebenarnya sudah tahu jawabanya. Apakah anda
merasa akan meninggal dunia.
e. Tahap V, membedakan antara sikap menerima kematian dan
penyerahan terhadap kematian yang akan terjadi. Sikap menerima :
klien lanjut usia telah menerima, dapat mengatakan bahwa
kematian akan tiba dan ia tak boleh menolak. Sikap menyerah :
sebenarnya klien lanjut usia tidak menghendaki kematian ini
terjadi, tetapi ia tahu bahwa hal itu akan terjadi. Klien lanjut usia
tidak merasa tenang dan damai.
1) Luangkan waktu untuk klien lanjut usia ( mungkin beberapa
kali dalam sehari ). Sikap keluarga akan berbeda dengan sikap
klieen lanjut usia. Oleh karena itu, sediakan waktu untuk
mendiskusiakan perasaan mereka.
2) Beri kesempatan kepada klien lanjut usia untuk mengarahkan
perhatianya sebanyak mungkin. Tindakan ini akan memberi
ketenangan dan perasan aman.
(Nugroho,2008:156).

13
9. Hak asasi pasien menjelang ajal
Lanjut usia berhak untuk diperlakukan sebagai manusia yang hidup
sampai ia mati. Lanjut usia:
a. Berhak untuk tetap merasa mempunyai harapan, meskipun
fokusnya dapat saja berubah.
b. Berhak untuk dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus
harapan, walaupun dapat berubah.
c. Berhak untuk merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian
yang sudah mendekat dengan caranya sendiri.
d. Berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
mengenai perawatannya.
e. Berhak untuk mengharapkan terus mendapat perhatian medis dan
perawatan, walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi
tujuan memberi rasa nyaman.
f. Berhak untuk tidak mati dalam kesepian.
g. Berhak untuk bebas dalam rasa nyeri.
h. Berhak untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan.
i. Berhak untuk tidak ditipu.
j. Berhak untuk mendapat bantuan dari dan untuk keluarganya dalam
menerima kematian.
k. Berhak untuk mati dengan tenang dan terhormat.
l. Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak di hakimi
atas keputusan yang mungkin saja bertentangan dengan orang lain.
m. Membicarakan dan memperluas pengalaman keagamaan dan
kerohanian.
n. Berhak untuk mengharapkan bahwa kesucian tubuh manusia
akan dihormati sesudah mati.
(Nugroho,2008:156).

14
C. Perawatan Paliatif Pada Lanjut Usia Menjelang Ajal
1. Pengertian
Dalam memberi asuhan keperawtan kepada lanjut usia, yang
menjadi objek adalah pasien lanjut usia (core), disusul dengan aspek
pengobatan medis (cure), dan yang terakhir, perawatan dalam arti yang
luas (care). Core, cure, dan care merupakan tiga aspek yang saling
berkaitan dan saling berpengaruh. Kapanpun ajal menjemput, semua
arang harus siap. Namun ternyata, semua orang, termasuk lanjut usia,
akan merasa syok berat saat dokter memvonis bahwa penyakit yang
dideritanya tidak bisa di sembuhkan atau tidak ada harapan untuk
sembuh. Pada kondisi ketika lanjut usia menderita sakit yang telah
berada pada stadium lanjut dan “cure” sudah tidak menjadi bagian
yang dominan, “care” menjadi bagian yang paling berperan. Salah satu
alternatif adalah perawatan paliatif.
Perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif untuk meringankan
beban penderita, terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Yang
dimaksud dengan tindakan aktif antara lain mengurangi
/menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain serta memperbaiki aspek
psikologis, social, dan spiritual.
a. Tujuan perawatan paliatif.
Tujuan perawatan paliatif adalah mencapai kualitas hidup
maksimal bagi si sakit (lanjut usia) dan keluarganya. Perawatan
paliatif tidak hanya di berikan kepada lanjut usia yang menjelang
akhir hayatnya, tetapi juga diberikan segera setelah di diangnosa
oleh dokter bahwa lanjut usia tersebut menderita penyakit yang
tidak ada harapan untuk sembuh (mis, menderita kanker).
Sebagaian besar pasien lanjut usia, pada suatu waktu akan
menghadapi keadaan yang disebut “stadium paliatif”, yaitu kondisi
ketika pengobatan sudah tidak dapat menghasilkan kesembuhan.
Biasanya dokter memvonis pasien lanjut usia yang menderita
penyakit yang mematikan (mis, kanker, stroke, AIDS) juga

15
mengalami penderitaan fisik, psikologis social, kultural, dan
spiritual.
b. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang medis
dan keperawatan, memungkinkan di upayakan berbagai tindakan
dan pelayanan yang dapat mengurangi penderitaan pasien lanjut
usia, sehingga kualitas hidup di akhir kehidupannya tetap baik,
tenang dan mengakhiri hayatnya dalam keadaan iman dan
kematian yang nyman. Diperlukan pendekatan holistik yang dapat
memperbaiki kualitas hidup klien lanjut usia. Kualitas hidup adalah
bebas dari segla sesuatu yang menimbulkan gejala, nyeri, dan
perasaan takut sehingga lebih menekankan rehabilitasi daripada
pengobatan agar dapat menikmati kesenangan selama akhir
hidupnya. Sesuai arti harfiahnya, paliatif bersifat meringankan,
bukan menyembuhkan. Jadi, perawtan paliatif diperlukan untuk
meningkatkan kualitas hidup dengan menumbuhkan semangatdan
motivasi. Perawatan ini merupakan pelayanan yang aktif dan
menyeluruh yang dilakukan oleh satu tim dari berbagai displin
ilmu.

2. Tim perawatan paliatif


Tim perawatan paliatif terdiri atas tim terintegrasi, antara lain
dokter, perawat, psikolog, ahli fisioterapi, pekerja social medis, ahli
gizi, rohaniawan, dan relawan. Perlu diingat bahwa tujuan perawatan
paliatif adalah mengurangi beban penderitaan lanjut usia. Penderitaan
terjadi bila ada salah satu apek yang tidak selaras, baik aspek fisik
maupun psikis, peran dalam keluarga, masa depan yang tidak jelas,
gangguan kemampuan untuk menolong diri, dan sebagainya.
Untuk memahami dna mengatasi hal tersebut, peran tim
interdisplin menjadi sangat penting / dominan. DR. Siti Annisa
Nuhoni, Sp, RM dalam makalahnya, Konsep perawatan paliatif pada
pasien kanker, mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai gambaran

16
klinis pasien tidak hanya gambaran seseorang yag sakit terbaring di
tempat tidur , tetapi merupakan cerminan pasien sebagai individu
dengan lingkungannya, keadaan rumah/tempat tinggalnya ,
pekerjaannya,teman,hobi,kesedihan, dan ketakutan.
Keberhasilan keperawatan paliatif begantung pada kerjasama yang
elektif dan pendekatan interdisplin antara dokter, perawat, pekerja
sosial medis, rohaniawan, /pemuka agama/relawan/dan anggota
pelayanan lain sesuai kebutuhan.
Tim ini tidak mudah tanpa adanya semangat kebersamaan dalam
memberi bantuan kepada pasien lanjut usia. Pemberi asuhan
keperawatan pada pasien harus bekerjasama secara profesional,ihlas,
dan dengan hati yang bersih. Perawatan paliatif lanjut usia bukan
untuk intervensi yang bersifat kritis. Perawatan paliatif adalah
perawatan yang terencana.walaupun dapat terjadi kondisi kritis dan
kedaruratan medis yang tidak terduga, hal ini dapat diantisipasi,
bahkan dapat dicegah melalui ikatan kerja tim yang solid dan kuat .

D. Asuhan keperawatan lansia menghadapi kematian.


1. Pengkajian
Pengkajian ialah tahap pertama proses keperawatan. Sebelum
perawat dapat merencanakan asuhan keperawatan pada pasien yang
tidak ada harapan sembuh, perawat harus mengidentifikasi dan
menetapkan masalah pasien terlebih dahulu. Oleh karena itu, tahap ini
meliputi pengumpulan data, analisis data mengenai status kesehatan,
dan berakhir dengan penegakan diagnosis keperawatan, yaitu
pernyataan tentang masalah pasien yang dapat diintervensi.
Tujuan pengkajian adalah memberi gambaran yang terus –
menerus mengenai kesehatan pasien yang memungkinkan tim
perawatan untuk merencanakan asuhan keperawatannya secara
perseorangan.Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk
mengenal pasien dan keluarganya. Siapa pasien itu dan bagimana

17
kondisinya akan membahayakan jiwanya. Rencana pengobatan apa
yang telah dilaksanakan ? Tindakan apa saja yang telah diberikan ?
Adakah bukti mengenai pengetahuannya, prognosisnya, dan pada
tahap proses kematian yang mana pasien berada ? Apakah ia menderita
rasa nyeri ? Apkah anggota keluarganya mengetahui prognosisnya dan
bagaiman reaksi mereka ? Filsafat apa yang dianut oleh pasien dan
keluarganya mengenai hidup dan mati. Pengkajian keadaan,
kebutuhan, dan masalah kesehatan / keperawatan pasien khususnya.
Sikap pasien terhadap penyakitnya, antara lain apakah pasien tabah
terhadap penyakitnya, apakah pasien menyadari tentang keadaannya ?
a. Perasaan takut. Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa
nyeri yang tidak terkendalikan yang begitu sering diasosiasikan
dengan keadaan sakit terminal, terutama apabila keadaan itu
disebabkan oleh penyakit yang ganas. Perawat harus menggunakan
pertimbangan yang sehat apabila sedang merawat orang sakit
terminal. Perawat harus mengendalikan rasa nyeri pasien dengan
cara yang tepat.
Perasaan takut yang mungkin takut terhadap rasa nyeri, walaupun
secara teori, nyeri tersebut dapat diatasi dengan obat penghilang
rasa nyeri, seperti aspirin, dehidrokodein, dan dektromoramid.
Apibila orang berbicara tentang perasaan takut mereka terhadap
maut, respon mereka secara tipikal mencakup perasaan takut
tentang hal yang tidak jelas, takut meninggalkan orang yang
dicintai, kehilangan martabat, urusan yang belum selesai, dan
sebagainya.
b. Kematian merupakan berhentinya kehidupan. Semua orang akan
mengalami kematian tersebut. Dalam menghadapi kematian ini,
pada umumnya orang merasa takut dan cemas. Ketakutan dan
kecemasan terhadap kematian ini dapat membuat pasien tegang an
stress.

18
c. Emosi. Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian,
antara lain mencela dan mudah marah.
d. Tanda vital. Perubahan fungsi tubuh sering kali tercermin pada
suhu badan, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah.
Mekanisme fisiologis yang mengaturnya berkaitan satu sama lain.
Setiap perubahan yang berlainan dengan keadaan yang normal
dianggap sebagai indikasi yang penting untuk mengenali keadaan
kesehatan seseorang.
e. Kesadaran. Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai
awas waspada, yang merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat,
didengar, dialami, dan perasaan keseimbangan, nyeri, suhu, raba,
getar, gerak, gerak tekan, dan sikap, bersifat adekuat, yaitu tepat
dan sesuai ( Mahar Mardjono dan P. Sidharta, 1981 ).
f. Fungsi tubuh. Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ.
Setiap organ mempunyai fungsi khusus.
(Nugroho,2008:160).

2. Diagnosa.
a. Aspek fisik atau biologis
Dx : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d
tidak mampu dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi
makanan karena factor biologi.
1) NOC I : Status nutrisi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam
pasien diharapkan mampu:
a) Asupan nutrisi tidak bermasalah
b) Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah
c) Energy tidak bermasalah
d) Berat badan ideal
2) NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder
management)

19
a) Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk memuat
perencanaan perawatan jika sesuai.
b) Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat
badann, jika berat badan pasien tdak sesuia dengan usia dan
bentuk tubuh.
c) Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori
setiap hari supaya mencapai dan atau mempertahankan berat
badan sesuai target.
d) Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien
e) Kembangkan hubungan suportif dengna pasien
f) Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan
makanan dan kenaikan atau pemeliharaan berat badan
g) Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan
berat badan dan untuk menimimalkan berat badan.
h) Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku
yang mendukung peningkatan berat badan.
Dx. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu
lama, terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan
kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur
dan cemas
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam
pasien diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan criteria :
1) Mengatur jumlah jam tidurnya
2) Tidur secara rutin
3) Miningkatkan pola tidur
4) Meningkatkan kualitas tidur
5) Tidak ada gangguan tidur
NIC : Peningkatan Tidur
1) Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien
2) Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya
3) Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik

20
4) Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam
tidurnya
Dx. Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan
neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet
melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu
mengontrol pengosongan.
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3×24 jam
diharapkan pasien mampu :
1) Kontinensia Urin
2) Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK).
3) Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat
waktu.
4) Mengosongkan bladde dengan lengkap.
5) Mampu memprediksi pengeluaran urin.
NIC : Perawatan Inkontinensia Urin
1) Monitor eliminasi urin
2) Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK.
3) Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke
toilet.
4) Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak
1500 cc/hari.
Dx. Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau
kerusakan memori sekunder
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2×24 jam
pasien diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dengan kriteria :
1) Mengingat dengan segera informasi yang tepat
2) Mengingat informasi yang baru saja disampaikan
3) Mengingat informasi yang sudah lalu
NIC : Latihan Daya Ingat
1) Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalahingatan

21
2) Ransang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin
dengan cepat
3) Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan pasien
Dx. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur
tubuh/fungsi yang ditandai dengan perubahan dalam mencapai
kepuasan seksual.
NOC : Fungsi Seksual
1) Mengekspresikan kenyamanan
2) Mengekspresikan kepercayaan diri
NIC : Konseling Seksual
1) Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh
termasuk organ seksual seiring dengan bertambahnya usia.
2) Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan.
Dx. Kelemahan mobilitas fisik b.d kerusakan musculoskeletal dan
neuromuscular yang ditandai dengan :
1) Perubahan gaya berjalan
2) Gerak lambat
3) Gerak menyebabkan tremor
4) Usaha yang kuat untuk perubahan gerak
NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat :
1) Memposisikan penampilan tubuh
2) Ambulasi : berjalan
3) Menggerakan otot
4) Menyambung
5) gerakan/mengkolaborasikan gerakan
NIC : Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy
Ambulation)
1) Kosultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana
gerakan yang sesuai dengan kebutuhan

22
2) Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas
yang aman
3) Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk
berdiri (mudah goyah/tidak kokoh)
Dx. Kelelahan b.d kondisi fisik kurang yang ditandai dengan:
1) Peningkatan kebutuhan istirahat
2) Lelah
3) Penampilan menurun
NOC : Activity Tolerance
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat:
1) Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas
2) Melaporkan aktivitas harian
3) Memonitor ECG dalam batas normal
4) Memonitor warna kulit
NIC Energy Management
1) Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang
adekuat
2) Tentukan keterbatasan fisik pasien
3) Tentukan penyebab kelelahan
4) Bantu pasien untuk jadwal istirahat
Dx. Risiko kerusakan integritas kulit
NOC : Kontrol Risiko ( risk control )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat :
1) Kontrol perubahan status kesehatan
2) Gunakan support system pribadi untuk mengontrol risiko
3) Mengenal perubahan status kesehatan
4) Monitor faktor risiko yang berasal dari lingkungan
NIC : penjagaan terhadap kulit ( skin surveillance )

23
1) Monitor area kulit yang terlihat kemerahan dan adanya
kerusakan
2) Monitor kulit yang sering mendapat tekanan dan gesekan
3) Monitor warna kulit
4) Monitor suhu kulit
5) Periksa pakaian, jika pakaian terlihat terlalu ketat
Dx. Kerusakan Memori b.d gangguan neurologis yang ditandai
dengan :
1) Tidak mampu mengingat informasi factua
2) Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau
masa lampau
3) Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman
4) Tidak mampu belajar atau menyimpan keterampilan atau
informasi baru
NOC : Orientasi Kognitif
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat :
1) Mengenal diri sendiri
2) Mengenal orang atau hal penting
3) Mengenal tempatnya sekarang
4) Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar
NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training )
1) Stimulasi memori dengan mengulangi pembicaraan secara jelas
di akhir pertemuan dengan pasien.
2) Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.
3) Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali
4) Monitor perilaku pasien selama terapi

24
B. Aspek Psikososial
Dx. Coping tidak efektif b.d percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan
koping, dukungan social tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik
atau hubungan.
NOC I : koping (coping)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien
secara konsisten diharapkan mampu:
1) Mengidentifikasi pola koping efektif
2) Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif
3) Melaporkan penurunan stress
4) Memverbalkan control perasaan
5) Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan
6) Beradaptasi dengan perubahan perkembangan
7) Menggunakan dukungan social yang tersedia
8) Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis
NIC I : coping enhancement
1) Dorong aktifitas social dan komunitas
2) Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan
3) Dorong berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan
dan ketertarikan yang sama
4) Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme pertahanan
yang sesuai.
5) Kenalkan pasien kepada seseorang yang mempunyai latar
belakang pengalaman yang sama.
Dx. Isolasi social b.d perubhaan penampilan fisik, peubahan keadaan
sejahtera, perubahan status mental.
NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family environment: interna)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien
secara konsiste diharapkan mampu:
1) Berpatisipasi dalam aktifitas bersama
2) Berpatisipasi dala tradisi keluarga

25
3) Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga besar
4) Memberikan dukungan satu sama lain
5) Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain.
6) Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan
7) Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas
8) Memecahkan masalah
NIC I : Keterlibatan keluarga (Family involvement)
1) Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk
terlibat dalam perawatan pasien.
2) Menentukan sumber fisik, psikososial dan pendidikan pemberi
pelayanan kesehatan yang utama.
3) Mengidentifkasi defisit perawatan diri pasien
4) Menentukan tinggat ketergantungan pasien terhadap
keluarganya yang sesuai dengan umur atau penyakitnya.
Dx. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan,
perubahan peran, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
NOC : Setelah dilakukan tindakan intervensi keperawatan selama
2×24 jam pasien diharapkan akan bisa memperbaiki konsep diri
dengan criteria:
1) Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif dan pada
saat ini tidak mungkin lagi digunakan akibat penyakit dan
penanganan (pemakaian alkohol dan obat-obatan; penggunaan
tenaga yang berlebihan)
2) Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan
perasaan dan reaksinya terhadap penyakit dan perubahan hidup
yang diperlukan
3) Mencari konseling profesional, jika perlu, untuk menghadapi
perubahan akibat pnyakitnya
4) Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual

26
NIC : Peningkatan harga diri
1) Kuatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan pasien
mengndalikan situasi
2) Menguatkan tenaga pribadi dalam mengenal dirinya
3) Bantu pasien untuk memeriksa kembali persepsi negative
tentang dirinya
Dx. Cemas b.d perubahan dalam status peran, status kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran, lingkungan, status ekonomi yang ditandai
dengan:
1) Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup
2) Mudah tersinggung
3) Gangguan tidur
NOC Anxiety Control
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat:
1) Memonitor intensitas cemas
2) Melaporkan tidur yang adekuat
3) Mengontrol respon cemas
4) Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress
NIC Anxiety Reduction
1) Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi percepatan cemas
2) Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan
mengurangi ketakutan
3) Identifikasi ketika perubahan level cemas
4) Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi
Dx. Resiko Kesendirian
NOC : Family Coping
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam
diharapkan pasien dapat:
1) Mendemontrasikan fleksiblitas peran
2) Mengatur masalah

27
3) Menggunakan strategi pengurangan stress
4) Menghadapi masalah
NIC : Family Support
1) Bantu perkembangan harapan yang realistis
2) Identifikasi alami dukungan spiritual bagi keluarga
3) Berikan kepercayaan dalam hubungan dengan keluarga
4) Dengarkan untuk berhubungan dengan keluarga, perasan dan
pertanyaan
Dx. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dan
ketergantungan fisik (ketidakseimbangan mobilitas) serta psikologis
yang disebabkan penyakit atau terapi
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24jam
pasien diharapkan meningkatkan citra tubuhnya dengan criteria :
1) Merasa puas dengan penampilan tubuhnya
2) Merasa puas dengan fungsi anggota badannya
3) Mendiskripsikan bagian tubuh tambahan
NIC : Peningkatan Citra Tubuh
1) Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan karena penyakit
atau pembedahan
2) Memutuskan apakah perubahan fisik yang baru saja diterima
dapat masuk dalam citra tubuh pasien
3) Memudahkan hubungan dengan individu lain yang mempunyai
penyakit yang sama

C. Aspek Spiritual
Dx : Distress spiritual b.d perubahan hidup, kematian atau sekarat diri
atau orang lain, cemas, mengasingkan diri, kesendirian atau
pengasingan social, kurang sosiokultural.
NOC I : pengaharapan (hope)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien
secara luas diharapkan mampu:

28
1) Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif
2) Mengekspresikan arti kehidupan
3) Mengekspresikan rasa optimis
4) Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri
5) Mengekspresikan kepercayaan
6) Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain
NIC I : penanaman harapan (hope instillation)
1) Pengkaji pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area
pengharapan dalam hidup
2) Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri
3) Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan
4) Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam
support group.
5) Mengembangkan mekanisme paran koping pasien

29
BAB III

ILUSTRASI KASUS

A. Kasus

Ny. R adalah seorang wanita lemah berusia 85 tahun. Ny. R 1 tahun yang
lalu mengalami diagnosis kanker payudara metastasis, ia telah menjalani
pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Pasien di informasikan bahwa
harapan hidupnya hanya tinggal kurang dari 1 tahun, pada suatu saat tiba-
tiba kondisinya menurun dan mengalami kondisi yang terminal, pasien
mengalami penurunan keyakinan terhadap Tuhan-Nya dan keluarganya
pun mengalami kecemasan akan kondisi terminal yang dihadapi klien.

B. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengalami kanker payudara metastasis stadium akhir.
2. Riwayat kesehatan dahulu
Satu tahun yang lalu Ny. R mengalami diagnosis kanker payudara
metastasis, ia telah menjalani pembedahan, radiasi, dan kemoterapi.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarganya tidak ada yang mengalami penyakaiat yang sama
4. Genogram
Ket:
: laki-laki

: perempuan

: Meninggal

: Klien

30
B. Pola Kebiasaan Sehari-hari

a. Nutrisi

1) Makan

Sehat: biasanya makan 3 kali sehari dan habis satu porsi

Sakit : biasanya 3 kali sehari,dan hanya menghabiskan setengah porsi

2) Minum

Sehat: biasanya minum 6-8 gelas sehari

Sakit :biasanya klien hanya menghabiskan minum 3-5 gelas sehari

b. Eliminasi

1) Miksi

Sehat : biasanya frekuensi BAK sehari 1500 cc

Sakit : biasanya frekuensi BAK sehari 800 cc,karateristiknya warna

kekunangan,pekat dan bau khas (BAK melalui selang kateter)

2) Defekasi

Sehat : biasanya frekuensi BAB 1 kali sehari

Sakit : pada saat sakit 1 kali dalam 3 hari karateristik warna

kehitaman atau kemerahan, konsistensi padat dan bau khas

c. Istirahat dan Tidur

Sehat: biasanya jam tidur siang 2 jam dan malam 9 jam sehari

Sakit : biasanya saat sakit susah tidur karena rasa nyeri yang dirasakan

di bagian payudara

d. Kebersihan Diri

31
Sehat : biasanya klien mandi 2 kali sehari,menggosok gigi 2 kali

sehari,cuci rambut 1 kali dalam 2 hari,pakain di ganti sesudah mandi

Sakit : biasanya pada sakit mandi 1 kali sehari,menggosok gigi 1 kali

sehari,cuci rambut 2 kali seminggu,pakain di ganti 1 kali sehari

(dibantu dengan keluarga).

C. Pemeriksaan fisik
1. Head To Toe(mata-ekstremitas)
a. Keadaan umum
Kondisi umum klien lemah, klien mengatakan tidurnya
terganggu akibat nyeri pada payudara kanannya secara
mendadak di malam hari.
TD : 130/70 mmHg
Nadi : 80x menit
Suhu : 36.3 ˚ C
RR : 22x menit
BB : terjadi penurunan berat badab 10 kg, awalnya sebelum
sakit 50 kg menjadi 40 kg.
TB :155 cm
b. Kepala
Bentuk kepala mesocephal, rambut memutih tapi belum semua,
tipis dan sedikit, tidak ada luka, bersih, tidak berkutu.
c. Mata
Kondisi mata Ny.Romlah sudah mengalami perubahan dalam
penglihatan. Mata klien berwarna putih kemerahan, kurang
jernih, dan pucat. Ny.Romlah mengatakan pandangan mata
sudah kabur jadi kalau melihat sesuatu harus dari dekat.
Conjuntiva pucat.

32
d. Telinga
Pendengaran Ny.Romlah masih normal. Pada saat
berkomunikasi dengan orang lain masih bisa mendengar
dengan suara biasa tidak terlalu keras. Untuk kebersihan telinga
klien cukup terjaga.
e. Mulut, gigi, dan bibir
Ny. Romlah mengatakan tidak mempunyai keluhan pada
tenggorokan, gigi sebagian sudah tanggal dan ada kesulitan jika
mengunyah makanan. Membran mucosa tampak pucat.
f. Payudara
Perubahan ukuran dan kesimetrisan payudara, terdapat luka
yang diperban pada payudara kanan saja, bintik- bintik merah,
bengkak, tamapak ada massa, kadang keluar cairan berupa
nanah dan darah. Bau tidak enak yang menyengat.
g. Dada/ thorax
Pada stadium 4
1) Inspeksi

Bentuk dada tidak simetris kiri dan kanan yang disebabkan

oleh pembengkakan dan mestastase jauh keorgan lain

seperti paru-paru.

2) Palpasi

Biasanya tidak fremitus kiri dan kanan yang juga

disebabkan oleh karena kanker sudah metastase ke organ

yang lebih jauh seperti paru-paru sehingga mengakibatkan

paru –paru mengalami kerusakan dan tidak mampu

melakukan fungsinya.

33
3) Perkusi

Biasanya akan terdengar pekak pada paru-paru pasien

yang disebabkan pada paru-paru pasien didapatkanberisi

cairan yang disebut dengan efusi pleura akibat metastase

dari kanker mammae yang berlanjut,dan nafas akan terasa

sesak.

4) Auskultasi

 biasanya bunyi nafas pasien bisa terdengar

bronchial yaitu ekspirasi lebih panjang, lebih keras,

nadanya lebih tinggi, dari pada inspirasi dan

terdengar. Dan terdapat

 suara tambahan seperti : Ronchi dan wheezing. Ini

disebabkan oleh kanker metastase ke bagian tubuh

lainnya seperti paru -paru sehingga mengakibatkan

terjadinnya penurunan ekspansi

 paru dan compressive atelektasis sehingga terjadi

penumpukan secret pada daerah lobus paru.

h. Jantung
1) Inspeksi : ictuc cordis tidak terlihat
2) Palpasi : ictuc cordis tidak teraba
3) Perkusi : pekak
4) Auskultasi : terdengar bunyi jantung 1 dan 2
i. Abdomen
Ny. Romlah mengatakan tidak ada masalah dengan kondisi
perutnya. Nafsu makan biasa, minum + 6 gelas perhari, jenis

34
air putih. Setiap habis makan tidak ada keluhan untuk muntah
atau nyeri perut. Ny.Romlah dalam BAB lancar setiap hari
sekali. Hasil pemeriksaan peristaltik dalam batas normal dan
tidak ada nyeri tekan.
j. Kulit
Pada tubuh klien terdapat lesi atau luka pada payudara kanan
saja, bintik- bintik merah, bengkak, kadang keluar cairan
berupa nanah dan darah lalu diperban. Di bagian tubuh lain
tidak terdapat luka. Kuku – kuku klien bersih dan terpotong
rapi.
k. Ekstremitas Atas
Tidak ada nyeri pada kedua tangan.
l. Ekstremitas Bawah
Tidak ada nyeri pada kedua kaki klien. Tapi kalau berjalan jauh
terasa lemes kakinya, sekarang jika berjalan harus pelan-pelan
dan jika berdiri dari duduk atau tidur berpegangan terlebih
dahulu, misal:pinggiran tempat tidur.
2. Perubahan fisik saat kematian mendekat:
a. Pasien kurang rensponsif
b. Fungsi tubuh melamban
c. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja
d. Rahang cendrung jatuh
e. Pernafasan tidak teratur dan dangkal
f. Sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan
melemah.
g. Kulit pucat
h. Mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya

35
D. Analisa Data
No Data Penyebab Masalah
1. DS : Klien mengatakan nyeri Proses penyakit Gangguan rasa
pada payudara kanannya, nyaman (nyeri)
seperti ditusuk-tusuk,
kadang keluar cairan berupa
nanah dan darah, kalau buat
jalan jauh rasa nyeri
bertambah.
- Klien mengatakan saat nyeri
terasa berat bisa menangis.
- Klien mengatakan nyeri
bertambah kalau buat
bergerak terlalu banyak.

DO : Terdapat luka pada


payudara kanan saja, bintik-
bintik merah, bengkak,
tamapak ada massa, kadang
keluar cairan berupa nanah
dan darah lalu diperban.
- Raut wajah pucat dan
terkadang tampak
menyeringai menahan nyeri
dan menyangga payudara
kanan

2. DS : Klien mengatakan Diperkirakan Ansietas


merasa takut menghadapi dengan situasi (ketakutan
sakitnya itu. yang tidak individu,
- Klien mengatakan terkadang dikenal, sifat dan keluarga)

36
kalau saat sendiri sempat kondisi yang
menangis dan memikirkan tidak dapat
hidupnya tidak lama lagi. diperkirakan
Keluarga klien mengatakan takut akan
khawatir dengan kondisi Ny kematian dan
R saat ini. efek negatif pada
gaya hidup
DO : Kalau saat berbincang-
bincang klien tampak biasa.
- Tampak putus asa apabila
membahas penyakitnya
tersebut.

penyakit
3. DS : Klien mengatakan Berduka
terminal dan
putus asa dengan
kematian yang
penyakitnya dan hanya bisa
dihadapi,
pasrah dengan tuhan.
penurunan
Klien merasakan hidupnya
fungsi
tidak lama lagi
perubahan
Keluarga klien mengatakan
konsep diri dan
selalu mendoakan yang
menarik diri dari
terbaik untuk kondisi Ny R.
orang lain.

DO : klien tampak lemas,


Klien tampak tak
bersemangat dan putus asa

37
E. Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses penyakit
2. Ansietas (ketakutan individu, keluarga) yang berhubungan
diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang
tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada
gaya hidup.
3. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian
yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik
diri dari orang lain.

F. Intervensi
1. Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan
proses penyakit
a. Tujuan : nyeri dapat berkurang dan pasien merasa nyaman
b. Kriteria hasil :
1) Nyeri berkurang
2) Ekspresi wajah rileks
c. Intervensi
1) Pantau TTV
R/ meyakinkan perbandingan data yang akurat
2) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat meredakan
nyeri
R/ meningkatkan kenyamanan
3) Atur posisi pasien semi fowler
R/ untuk pemenuhan kenyamanan tidur pasien
2. Diagnosa 2 : Ansietas (ketakutan individu, keluarga) yang
berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat
dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan
efek negatif pada pada gaya hidup.
a. Tujuan :
Kecemasan pasien dan atau keluarga akan berkurang / hilang.

38
b. Kriteria hasil :
Klien atau keluarga akan :
1) Mengungkapkan ketakutannya yang berhubungan dengan
gangguan.
2) Menceritakan tentang efek gangguan pada fungsi normal,
tanggung jawab, peran dan gaya hidup.
c. Intervensi :
1) Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya.
R/: Ansietas cenderung untuk memperburuk masalah.
Menjebak klien pada lingkaran peningkatan ansietas
tegang, emosional dan nyeri fisik.
2) Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan penyuluhan bila
tingkatnya rendah atau sedang.
R/: Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak
akurat dan dapat dihilangkan denga memberikan informasi
akurat. Klien dengan ansietas berat atau parah tidak
menyerap pelajaran.
3) Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-
ketakutan mereka.
R/ : Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan
memberiakn kesempatan untuk memperbaiki konsep yang
tidak benar.
4) Berikan klien dan keluarga kesempatan dan penguatan koping
positif.
R/ : Menghargai klien untuk koping efektif dapat menguatkan
renson koping positif yang akan datang.

1. Diagnosa 2 : Berduka yang berhubungan dengan penyakit terminal dan


kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan
menarik diri dari orang lain.
a. Tujuan :

39
Pasien dan keluarga siap secara mental menghadapi kondisi dan
kenyataan yang akan terjadi.
b. Kriteria Hasil :
1) Klien akan :
a) Mengungkapakan kehilangan dan perubahan.
b) Mengungkapakan perasaan yang berkaitan kehilangan dan
perubahan.
c) Menyatakan kematian akan terjadi
d) Anggota keluarga akan melakukan hal berikut :
mempertahankan hubungan erat yang efektif , yang
dibuktikan dengan cara sbb :
 Menghabiskan waktu bersama klien
 Mempertahankan kasih sayang , komunikasi terbuka
dengan klien
 Berpartisipasi dalam perawatan
c. Intervensi :
1) Berikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan, didiskusikan kehilangan secara
terbuka, dan gali makna pribadi dari kehilangan, jelaskan
bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.
R/ : Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang
dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat
menyebabkan menimbulkan perasaan ketidak berdayaan,
marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka
yang lainnya. Diskusi terbuka dan jujur dapat membantu
klien dan anggota keluarga menerima dan mengatasi
situasi dan respon mereka terhdap situasi tersebut.
2) Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang
terbukti yang memberikan keberhasilan pada masa lalu.
R/ : Stategi koping fositif membantu penerimaan dan
pemecahan masalah.

40
3) Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut diri
yang positif.
R/ : Memfokuskan pada atribut yang positif meningkatkan
penerimaan diri dan penerimaan kematian yang terjadi.
4) Bantu klien mengatakan dan menerima kematian yang akan
terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur.
R/ : Proses berduka, proses berkabung adaptif tidak dapat
dimulai sampai kematian yang akan terjadi di terima.
5) Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian,
menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan.
R/ : Penelitian menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling
menghargai tindakan keperawatan berikut :
a) Membantu berdandan.
b) Mendukung fungsi kemandirian.
c) Memberikan obat nyeri saat diperlukandan.
d) Meningkatkan kenyamanan fisik
(skoruka dan bonet 1982)
2. Diagnosa 3 : Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan
dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi
atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian.
a. Tujuan :
Tidak terjadi distres spiritual pada pasien dan keluarga.
b. Kriteria Hasil :
Klien dan keluarga mampu memenuhi kebutuhan spiritualnya yaitu
dapat melakukan sholat dalam keadaan sakit.
c. Intervensi :
1) Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek
atau ritual keagamaan atau spiritual yang diinginkan bila yang
memberi kesemptan pada klien untuk melakukannya.
R/ : Bagi klien yang mendapatkan nilai tinggi pada do’a atau
praktek spiritual lainnya, praktek ini dapat memberikan

41
arti dan tujuan dan dapat menjadi sumber kenyamanan dan
kekuatan.
2) Ekspesikan pengertian dan penerimaan anda tentang
pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien.
R/ : Menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu
mengurangi kesulitan klien dalam mengekspresikan
keyakinan dan prakteknya.
3) Berikan privasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai
kebutuhan klien dapat dilaksanakan.
R/ : Privasi dan ketenangan memberikan lingkungan yang
memudahkan refresi dan perenungan.
4) Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdo’a bersama klien
lainnya atau membaca buku keagamaan.
R/ : Perawat meskipun yang tidak menganut agama atau
keyakinan yang sama dengan klien dapat membantu
klien memenuhi kebutuhan spritualnya.
5) Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religius atau
rohaniwan rumah sakit untuk mengatur kunjungan. Jelaskan
ketidak setiaan pelayanan (kapel dan injil RS).
R/ : Tindakan ini dapat membantu klien mempertahankan ikatan
spiritual dan mempraktikkan ritual yang penting .

42
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965
adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari
nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah
dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menurut UU No. 12 tahun
1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah sesuatu
yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis.
Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan
kematian (Hutapea, 2005).
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang
vital, akhir dari kehidupan manusia (Buku Ajar Keperawatan Gerontik :
435).
Pengertian kematian / mati adalah apabila seseorang tidak teraba
lagi denyut nadinya tidak bernafas selama beberapa menit dan tidak
menunjukan segala refleks, serta tidak ada kegiatan otak.(Nugroho: 153).

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
a. Mahasiswa bisa menjelaskan lebih mendalam tentang asuhan
keperawatan lansia menjelang ajal
b. Mahasiswa lebih menggali lagi bagaimana cara menerapkan
asuhan keperawatan lansia menjelang ajal dengan profesional
2. Bagi Instansi Pendidikan
a. Diharapkan pada Institusi Pendidikan bisa memberikan
pembelajaran dan mengarahkan dalam pengaplikasian asuhan
keperawatan lansia menjelang ajal.

43
DAFTAR PUSTAKA

Maryam,R.Siti, dkk.2008. Mengenal Usia Lanjut Perawatannya.Jakarta:Salemba

Medika.

Mass,Meridean.2011.Asuhan Keperawatan Geriatrik.EGC:Jakarta.

Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Jakarta: EGC.

Stanley,mickey.2006.Buku Ajar Keperawatan Gerotik edisi 2.EGC:Jakarta.

44