Anda di halaman 1dari 15

Nama : Krisnawan

Mata Kuliah : Konseling pastoral


Tugas : Ringkasan buku
Judul buku : Konseling yang Efektif dan Alkitabiah.
Pengarang : Dr. Larry Crabb.
Jumlah halaman : 251 halaman.

BAB I. SASARAN KONSELING


Apa pun arah yang diambil dalam konseling itu, pikirkan sejenak dengan seksama
sarananya. Sasaran untuk menjadi semakin seperti Tuhan harus ada dalam setiap keadaan
untuk memberi tanggapan alkitabiah, untuk mendahulukan Tuhan, berusaha bertingkah laku
seperti yang Tuhan kehendaki. Kebenaran yang luar biasa ialah bahwa ketika kita
mengerahkan seluruh kekuatan kita kepada tugas untuk menjadi seperti yang diinginkan
Kristus, Ia memenuhi kita dengan sukacita yang tak terkatakan dan damai sejahtera yang jauh
melebihi apa pun yang ditawarkan dunia. Paulus berkata bahwa ambisinya (sasaran) bukan
untuk menjadi bahagia, tetapi untuk menyenangkan Allah setiap saat.
Para konselor Kristen harus peka terhadap dalamnya keakuan dalam tabiat manusia.
Sangatlah mudah untuk membantu seseorang mencapai sebuah sasaran yang tidak alkitabiah.
Adalah tanggung jawab kita sebagai anggota tubuh untuk terus-menerus mengingatkan dan
saling menasehati untuk mempertahankan sasaran dari konseling yang benar: untuk
memerdekakan orang-orang sehingga dapat menyembah dan melayani Allah dengan lebih
baik dengan menolong mereka menjadi seperti Tuhan. Dengan kata lain, sasarannya adalah
kedewasaan.
Konseling alkitabiah akan menjadi sebagai strategi utamnya yaitu memperkenalkan
kedewasaan rohani dan psikologis. Ketika kita berbicara dengan orang percaya lainnya, kita
harus selalu menetapkan tujuan untuk menolong mereka menjadi semakin dewasa sehingga
mereka dapat lebih menyenangkan Tuhan. Kedewasaan mencangkup dua elemen: (1)
ketaatan langsung dalam situasi-situasi khusus dan (2) pertumbuhan karakter jangka panjang
untuk dapat memahami maksud kedewasaan dan melihat bagaimana kedua elemen ini
mempengaruhi perkembangannya, pertama-tama kita harus menangkap titik permulaan
secara alkitabiah dalam penyelidikan kita terhadap kedewasaan. Tidak ada sesuatu yang lebih
penting bagi sebuah kehidupan Kristen yang efektif selain daripada kesadaran yang jelas dari

STT Berea | 1
dasar keKristenan itu sendiri. Kedewasaan mencangkup menjadi semakin dan semakin serupa
dengan Tuhan Yesus melalui ketaatan kepada kehendak Bapa.
Sasaran dari konseling alkitabiah adalah untuk memperkenalkan kedewasaan Kristen,
untuk menolong orang-orang memasuki suatu pengalaman yang lebih dalam tentang
penyembahan dan suatu kehidupan pelayanan yang lebih efektif. Dalam jangkauan yang luas,
kedewasaan Kristen dikembangkan dengan (1) menangani masalah yang timbul secara
langsung dengan sikap yang konsisten dengan ajaran Alkitab: MASUK; dan (2)
mengembangkan karakter ke dalam yang membentuk karakter (sikap, keyakinan, tujuan)
Kristus: KE ATAS.
BAB II. KEKRISTENAN DAN PSIKOLOGI
Ilmu teologi dan psikologi merupakan suatu disiplin ilmu yang sering dipakai dalam
konseling. Bagaimana macam usaha untuk memadukan keduanya dan dengan demikian
menyediakan sebuah kerangka kerja untuk mengembangkan strategi konseling yang benar-
benar alkitabiah mungkin dapat dikurangi melalui empat pendekatan ini. Pendekatan
pertama, antara Alkitab dan psikologi merupakan disiplin ilmu yang berbeda tetapi sama,
dimana masing-masing berhubungan dengan bidang masalah yang berbeda , harus ditolak
dengan tegas sebagai suatu refleksi isi Alkitab yang tidak akurat. Pendekatan kedua, selada
yang diaduk. Pendekatan ini dengan mengkombinasikan pandangan-pandangan dan sumber-
sumber Alkitab dengan psikologi. Para ahli cenderung mempersekutukan kedua disiplin ilmu:
teologi dan psikologi, dan menentukan di mana pokok permasalahan dapat saling
memperlengkapi, dan kemudian menggabungkan bersama pandangan-pandangan dari kedua
pokok permasalahan. Pendekatan ini lebih menambahkan konsep-konsep ajaran Alkitab
terhadap psikologis, bukannya memulai dengan ajaran Alkitab dan dengan seksama meneliti
konsep-konsep psikologis dalam terang praduga-praduga alkitabiah. Pendekatan ketiga, tidak
ada hubungan. Pendekatan ini dengan rapi menangani masalah integrasi dengan mengabaikan
psikologi sama sekali. Pendekatan ini menekankan bahwa kekalutan psikologis paling tidak
dimengerti dan didekati sebagai sekumpulan masalah yang disebabkan secara langsung oleh
kehidupan yang berdosa dan tidak alkitabiah. Model tidak ada hubungan dengan tepat
menuntut bahwa setiap bagian konseling Kristen harus benar-benar konsekuensi dengan
pengungkapan alkitabiah, tetapi membuat ke luar semua psikologi, elelmen-elemen yang
(mungkin secara kebetulan) kansekuensi dengan ajaran Alkitab. Pendekatan keempat,
merampas orang-orang Mesir. Dalam metode ini psikologi harus berada dibawah ajaran
Alkitab. Dalam metode ini psikologi agak tumpang tindih dengan lingkaran yang kokoh dari
kebenaran yang tersingkap.
STT Berea | 2
Manusia bertanggung jawab untuk mempercayai kebenaran yang akan berakibat pada
tingkah laku yang bertanggung jawab yang akan menyediakan kepadanya arti pengharapan
dan kasih dan akan bertindak sebagai pembimbing bagi kehidupan yang efektif dengan orang
lain sebagai peribadi yang menerima diri sendiri dan orang lain, yang mengerti diri sendiri,
yang dengan memadai mengapresiasikan diri sendiri, dan yang tahu bagaimana mengontrol
diri sendiri.
BAB III. KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PRIBADI
Kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah perasaan layak
sebagai pribadi, suatu penerimaan diri sendiri sebagai pribadi yang utuh dan nyata. Dua
masukan yang dibutuhkan adalah makna (tujuan, makna, kecukupan dalam pekerjaan, berarti,
pengaruh) dan keamanan (kasih – yang diekspresikan tanpa bersyarat dan terus menerus,
penerimaan yang permanen). Pria dan wanita membutuhkan dua macam masukan tersebut,
bagi pria rute utama terhadap nilai pribadi adalah makna dan bagi wanita rute utamanya
adalah jaminan keamanan. Makna merupakan suatu kebutuhan normal, suatu bagian yang
terkandung dalam diri manusia sebagai mahkluk pribadi, suatu kebutuhan yang hanya dapat
dipenuhi Allah sendiri, dan suatu kebutuhan yang ingin dipenuhi Allah.
Kita semua membutuhkan makna dan keamanan jika kita harus berfungsi secara efektif.
Jika kita dapat menghargai diri sendiri sebagai pribadi yang memiliki makna dan rasa aman,
maka kita akan merasa sebagai pribadi-pribadi yang berharga. Amsal 18:14 mengajukan
pertanyaan, “Siapa akan memulihkan semangat yang patah?.” Ketika seseorang merasa tidak
berharga, ia akan membuat hal itu menjadi masalah prioritas utama untuk melindungi dirinya
dari bertambahna perasaan-perasaan yang tidak tertahankan itu dan untuk memudahkan
perasaan-perasaan yang sudah ada di sana.
Freud pada mulanya mengajarkan bahwa kebutuhan-kebutuhan yang tidak senonoh
terhadap kuasa dan kesenangan merupakan hal yang utama dan bahwa gejala-gejala neurotik
itu berkembangketika kebutuhan-kebutuhan itu tidak dipuaskan. Banyak konselor pada saat
ini melayani dengan asumsi bahwa jika kebutuhan seseorang yang mementingkan diri sendiri
untuk mengerahkan kuasa atau mengalami kesenangan tidak terpenuhi, maka ia harus
menemukan beberapa cara untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan itu.
Makna dan keamanan yang benar tersedia hanya untuk orang Kristen, seseorang yang
mempercayai kehidupan Kristus yang sempurna dan kematian-Nya yang menggantikan kita
sebagai dasar satu-satunya untuk penerimaan dihadapan Allah yang kudus. Apabila sumber-
sumber Allah tidak tersedia karena ketidakpercayaan, maka pribadi itu akan berada dalam
keadaan tanpa harapan untuk makna dan keamanan sejati. Hidup ini tidak dapat memiliki
STT Berea | 3
tujuan atau kasih yang tidak bersyarat jika terpisah dari Tuhan. Orang-orang kemudaian
mengembangkan strategi-strategi alternatif untuk belajar merasa berharga sedapat mungkin.
Karena strategi-strategi ini tidak pernah benar-benar dapat bekerja dan karena strategi-strategi
itu sering kali menambah rintangan-rintangan, maka orang-orang tidak menikmati makna
atau keamanan, dua elemen yang sangat dibutuhkan kita semua jika harus hidup secara
efektif, produktif, kaya dengan kreativitas dan kehidupan yang penuh.
BAB IV. MOTIVASI
Terdapat lima pernyataan dasar mengenai motivasi. Lima pernyataan tersebut antara
lain sebagai berikut:
Pernyataan 1, motivasi ssecara khas bergantung pada keadaan manusia yang
membutuhkan, atau dalam bahasa yang sederhana, kita dimotivasi untuk memenuhi
keperluan-keperluan kita.
Pernyataan 2, motivasi merupakan sebuah kata yang mengacu kepada energi atau
kekuatan yang akibat pada tingkah laku secara khusus. Sebelum menjadi tingkah laku yang
khusus, energi yang bermotivasi dihubungan melakui pikiran. Disana energi mengambil alih
arah. Saya motivasi untuk memenuhi suatu keperluan dengan melakukan hal-hal tertentu
yang saya percayai dalam pikiran saya akan memenuhi keperluan itu.
Pernyataan 3, tingkah laku yang mendorong selalu diarahkan menuju suatu sasaran.
Saya percaya bahwa sesuatu akan memenuhi keperluan saya. Sesuatu itu menjadi sasaran
saya.
Pernyataan 4, apabila sasaran itu tidak dapat dicapai (atau apabila individu yang
menyadari hal itu tidak dapat dipercayai), maka keadaan tidak seimbang muncul (secara
subyektif dirasa sebagai suatu kegelisahan). Keperluan merupakan kepuasan yang disangakal
menjadi suatu sumber-sumber dari emosi-emosi negatif. Dalam istilah yang lebih sederhana
yaitu apabila saya tidak dapat memiliki apa yang saya pikirkan saya butuhkan untuk makna
atau rasa aman, maka saya merasa tidak berharga. Saya kemudian dimotivasi untuk
melindungi keperluan saya untuk merasa berharga dari luka selanjutnya dengan mengurangi
perasaan-perasaan tidak memiliki makna atau rasa aman.
Pernyataan 5, semua tingkah laku terdorong oleh motivasi. Tidak ada sesuatu yang
lebih parah daripada seorang yang tidak memiliki motivasi. Kemalasan, penundaan,
penarikan diri sering terdorong oleh keinginan yang kuat untuk melindungi diri dari perasaan-
perasaan yang bertambah terhadap tidak adanya nilai. Dala menganalisa tinglah laku,
seseorang seharusnya tidak pernah berkata, “Tidak ada alasan untuk itu. Itu benar-benar tidak
masuk akal.” Semua tingkah laku pasti ada maksudnya. Mungkin tingkah laku yang berdosa
STT Berea | 4
tidak efektif, atau ganjil, tetapi pasti ada maksudnya. Agar dapat mengerti dari setiap unit
tingkah laku, maka anda harus mengetahi keperluan apa yang memotivasi tigkah laku,
gagasan seseorang mengenai apa yang akan memenuhi keperluan, sasaran yang telah
ditetapkan dalam pemikirannya sebagai sesuatu yang sangat diiginkan, dan keberhasilan atau
kegagalan dari seseorang dalam mencapai sasaran.
Hierarki keperluan klasis yang dikemukakan Abraham Maslow menyarankan bahwa
manusia memiliki lima keperluan dasar. Yang terendah dalam hierarki itu harus dipenuhi
sebelum orang itu dimotivasi untuk memenuhi keperluan kedua dan selanjutnya naik ke
hierarki yang lebih atas. Lima kebutuhan dalam dasar Maslow, dimulai dengan yang paling
rendah dan mendasar adalah:
1. Fisik (makanan, air, dll., elemen-elemen yang dibutuhkan untuk memperoleh
kehidupan secara fisik.
2. Sekuriti (yang dimaksudkan Maslow adalah rasa aman fisik: beberapa
keyakinan yang maksud akal bahwa keperluan-keperluan fisik akan dapat
dipenuhi di masa yang akan datang).
3. Kasih (apa yang saya sebut dengan rasa aman).
4. Tujuan (apa yang saya sebut dengan makna).
5. Aktualisasi diri (ekpresi dari kualitas tertinggi dari kemanusiaan –
pengembangan sendiri kepada sesuatu pribadi yang penuh, kreatif, dan dapat
mengekspresikan diri).
Ciri khas yang penting dari teori Maslow adalah bahwa orang-orang tidak dimotivasi
untuk memenuhi keperluan-keperluan yang “lebih tinggi” sampai yang “lebih rendah” atau
yang lebih mendasar dipenuhi. Daftar Maslow juga menyarankan bahwa rasa aman atau kasih
merupakan keperluan yang lebih mendasar daripada tujuan atau makna. Namun demikian,
keduanya dibutuhkan sebelum saya dimotivasi untuk benar-benar mengekspresikan siapa diri
saya, hanya karena sebelum saya menikmati rasa aman dan makna, saya tidak percaya bahwa
saya benar-benar pribadi yang berharga.
Karena Allah adalah pribadi yang tidak terbatas dan bersifat pribadi, maka Ia
membentuk menusia dalam gambar-Nya yang terbatas dan bersifat pribadi. Sebagai mahkluk
yang terbatas manusia bergantung pada sumber-sumber eksternal untuk memenuhi keperluan-
keperluannya: manusia adalah mahkluk yang bergantung. Keperluannya sebagai mahkluk
fisik yang terbatas sesuai dengan keperluan Maslow yang pertama: keperluan fisik yang
dipenuhi hari ini dan keyakinan bahwa keperluan-keperluan itu akan dipenuhi hari esok.
Keperluan Maslow yang ketiga dan keempat (kasih dan tujuan) sesuai dengan apa yang saya
sebut sebagai keperluan-keperluan manusia secara pribadi: rasa aman dan makna. Aktualisasi

STT Berea | 5
diri, keperluan terakhir dan tertinggi dalam sistem Maslow, mendekati konsep alkitabiah
untuk menjadi dewasa di dalam Kristus, mengembangkan di dalam diri kita atribut-atribut ini
yang menyerupai Tuhan dan kemudian mengekspresikan harga diri yang diberikan Allah
dalam menyembah secara bebas kepada Allah dan dalam melayani orang lain dengan melatih
karunia-karunia rohani kita.
Keempat keperluan yang pertama pada dasarnya berpusat pada diri sendiri.
Keperluan-keperluan itu mencangkup tindakan menerima, bukan memberi. Motivasi untuk
memenuhi masing-masing dari empat keperluan pertama ini dengan demikian dapat disebut
Motivasi Defisit, suatu keinginan kuat yang disebabkan oleh perasaan kurang dan didisain
untuk mencukupkan apa yang kurang. Hanya kerluan terakhir yaitu aktualisasi diri
memperhitungkan motivasi yang tidak egosentris yang berpusatkan kepada orang lain untuk
memberi, bukan untuk mendapat. Presiden yang baru dari Asosiasi Psikologi Amerika
menyarankan bahwa mungkin elemen terpenting dalam pertimbangan manusia adalah bukan
apa yang kita dapatkan , tetapi apa yang kita berikan: suatu keprihatinan terhadap hal-hal
sosial seperti yang diukur oleh ketaatan yang bertanggung jawab yang menyangkal diri
terhadap dasar-dasar moral. Pemikiran itu tampaknya konsisten dengan ajaran Kristen, “jika
Anda ingin menyelamatkan hidup Anda, lepaskan.”
Tanpa Tuhan mustahil untuk mencapai turisn yang mirip dengan rasa aman dalam
kasih yang diberikan pasangan hidup atau teman-teman dan mengalami perasaan yang pasti
dari makna dalam penyerahan diri terhadap tujuan yang disetijui banyak orangsebagai
sesuatu yang penting. Di atas dasar sumber-sumber makna dan rasa aman tiruan, namun yang
secara subyektif memuaskan, beberapa orang benar-benar bergerak atas apa yang disetujui
kebanyakan pengamat sebagai suatu tingkat yang sehat, yaitu memiliki aktualisasi diri.
Namun jika benar bahwa setiap usaha untuk memenuhi keperluan-keperluan pribadi diluar
hubungan yang sungguh-sungguh dengan Kristus secara logika pasti gagal mencapai sasaran,
maka setiap orang bukan Kristen pasti dalam beberapa hal terus-menerus terjebak dalam
tingkat 3 dan 4. Karena ia tidak akan dan tidak dapat secara penuh dipuaskan dalam
keperluan-keperluan pribadi yang paling mendasar, maka akan selalu ada perasaan yang
terpendam dari motivasi untuk menemukan makna dan rasa aman dalam tingkah lakunya.
BAB V. STUKTUR KEPIBADIAN
Pikiran sadar
Elemen yang pertama dalam fungsi pribadi manusia adalah pikiran sadar.orang
memiliki kesadaran diri, kita dapat berbicara kepada diri sendiri dalam kalimat-kalimat.
Dalam kemampuan untuk berkata-kata kepada diri sendiri dalam bentuk pro-porsional
STT Berea | 6
(misalnya: kita menutupi kesan dalam kata-kata), kita mengevaluasi dunia kita. Freud dan
Skinner keduanya menyarankan bahwa apa yang terjadi, seseorang bertanggung jawab
terhadap masalah-masalah. Bagaimana seseorang menerima yang terjadi pada saat berkaitan
dengan rekasi emosional dan tingkah laku. Jika ia menerima apa yang terjadi sebagai suatu
ancaman terhadap keperluan-keperluan pribadinya, maka ia akan mengalami perasaan negatif
yang kuat dan akan menghadapi peristiwa itu dengan sikap pribadi yang defensif. Barangkali
ia akan meluncurkan suatu serangan emosional terhadap peristiwa itu sambil berusaha
mengubahnya.
Pikiran bawah sadar
Fungsi mental bawah sadar sebagai tempat persediaan asumsi-asumsi dasar yang
dipertahankan dengan kuat dan secara emosional mengenai bagaimana memenuhi keperluan-
keperluan mereka terhadap makna dan rasa aman.
Bagi seorang konselor untuk menggali “sistem asumtif” seseorang mencangkup
cahaya yang bersinar dalam pemikiranya yang dalam hal ini telah diselubungi kegelapan.
Para konselor harus mengerti bahaw hanya sedikit orang menyambut penyingkapan yang
tidak menyenangkan mengenai dirinya. Bagi seorang pria sukar untuk mengakui bahwa
sasaran binisnya yang mewakili seluruh ambisi yang terpusat kepada dari sendiri adalah
untuk memenuhi harga diri. Para istri yang selama bertahun-tahun telah berusaha
menyenangkan para suami mereka dan dengan jujur telah merasakan tingkah laku mereka
yang murah hati tidak dengan mudah menyadari bahwa dalam kenyataan mereka telah
memanupulasi suami-suami mereka dengan kasih sayang karena mereka percaya bahwa rasa
aman pribadi telah bergantung pada kasih suami mereka.
Konseling Kristen dalam hal ini secara kritis berganung pada karya Roh Kudus yang
memberi terang. Tanpa pertolongan-Nya tidak seorangpun menyadari atau menerima
kebenaran mengenai pendekatan terhadap hidup yang berpusat kepada diri sendiri dan yang
keliru.
Para ahli psikologi telah lama bergulat mengenai masalah ketahanan ini, yang
mungkin dapat didefinisikan sebagai usaha pasien untuk memecahkan masalah di alam
bawah sadar yang menyakitkan pindah ke alam sadar. Ketahanan ini dapat dijelaskan dengan
dua cara. Pertama, sebuah gagasan yang dengan kuat telah ditambahkan dan dilakukan
selama bertahun-tahun akan menyerah untuk berubah dengan gerutuan. Kedua, adalah
penting untuk mennyadari bahwa asumsi-asumsi dasar lebih daripada sekedar keyakinan-
kenyakinan yang dipertahankan secara logis. Konseling yang berusaha secara logis mengajar
kebenaran baru tanpa memeperhatikan ancaman emosional yang mencangkup perubahan
STT Berea | 7
pendekatan seseorang untuk memenuhi keperluan-keperluan pribadinya akan memabajak
dengan sekuat tenaga kedalam ketahanan. Hanya dalam satu atmosfir keamanan seseorang
akan terbuka melihat dirinya dan mempertimbangkan keyakinan-keyakinan yang berubah
selama bertahun-tahun telah menentukan perjalanannya menuju harga diri. Kontor konseling
harus merupakan tempat yang aman, tempat klien mengetahui bahwa ia diterima sebagai
suatu pribadi tanpa menghiraukan masalah-masalahnya. Dalam bentuk hubungan ini, orang-
orang paling baik dimampukan untuk menghadapi diri sendiri dan berubah.
Petunjuk dasar (hati)
Elemen ketiga dalam kepribadian manusia mencangkup petunjuk dasar yang dipilih
seseorang bagi dirinya. Kitab Suci sering berbicara mengenai hati manusia. Kata Yunani
kardia digunakan dalam begitu banyak cara yang sulit ditentukan menuju makna sentral.
Tentu saja secara litertur pengertian itu mengacu pada organ utama dari kehidupan fisik.
Mendasari pemikiran yang keliru dalam pikiran bawah sadar merupakan fakta bahwa
kepribadia manusia secara keseluruhan dipimpin keaarah yang keliru. Terpisah dari
pekerjaan Allah yang Mahakuasa, orang-orang pada akhirnya keluar adari diri mereka
sendirir. Semua kapasitas mereka (rasionalitas, pertimbangan moral, emoasi, kehendak)
bekerjas sama bergerak menuju sasaran berdosa dari peninggian diri. Dalam hal ini,
barangkali hai yang sering digunakan dalam ajaran Alkitab merupakan bagian penting dari
pribadi yang memilih petunjuk dasar dalam hidupnya. Katakan dengan cara lain, hati yang
akan mewakili maksud-maksud dasar seseorang.
Dari suatu perspektif alkitabiah, sesungguhnya hanya ada dua kemungkinan petunjuk
dasar yang dapat dipilih seseorang: hidup untuk diri sendiri atau hidup untuk Allah. Jika
bersama hati Anda, Allah memilih untuk hidup bagi diri sendiri, maka Anda tidak akan
pernah secara sempurna memenuhi keperluan-keperluan pribadi Anda. Dengan memutuskan
Allah, maka Anda memutuskan satu-satunya sumber dari makna dan sekuriti yang benar. Jika
tujuan dasar Anda adalah kasih karunia Allah, meletakkan Kristus terlebih dahulu dan untuk
melayani Dia, maka Anda dapat menolak semua gagasan dunia mengenai bagaimana menjadi
berharga dan Anda dapat memenuhi alam sadar Anda dengan kebenaran-kebenaran ajaran
Kitab Suci. Sekarang ada dua sumber masukan di dalam pikiran sadar: apa yang dikatakan
iblis melalui dunia kepada pikiran bawah sadar kita dan apa yang dikatakan Allah melalui
Alkitab kepada pikiran bawah sadar kita. Jika respon proposional seseorang terhadap
peristiwa-peristiwa itu ditarik dari alam bawah sadar yang mempertahankan asumsi-asumsi
yang keliru, maka ia tidak akan berfungsi secara efektif daripada orang tidak percaya.

STT Berea | 8
Namun, jika ia memperbaharui pikirannya dengan mengevaluasi peristiwa-peristiwa dari
perspektif alkitabah, maka ia akan menjadi seorang yang diubahkan.
Kehendak
Setiap konsep dari fungsi pribadi yang mengabaikan kehendak tidak akan sempurna.
Kehendak manusia bukan merupakan perwujudan yang bebas. Kehendak manusia diikat
kepada pengertian mereka. Orang-orang akan melakukan apa yang mereka yakini. Daripada
membuat suatu usaha bersama untuk mempengaruhi pilihan, para pengkhotbah pertama-tama
perlu mempengaruhi pikiran. Ketika seseorang mengerti siapakan Kristus itu, di atas dasar
apa mereka merasa berharga, dan untuk apa hidup itu, maka ia memiliki formulasi yang
diperlukan untuk setiap perubahan terus-menerus dalam gaya hidup. Orang Kristen yang
berusaha untuk hidup benar tanpa mengoreksi pengertian yang keliru mengenai bagaimana
memenuhi keperluan-keperluan mereka akan selalu bekerja keras dan bergumul dalam
keKristenan, mengasah kewajiban tanggung jawab mereka dalam gaya tanpa sukacita dan
yang dipaksakan.
Emosi
Banyak orang-orang, emosi-emosi yang tidak menyenagkan merupakan suatu
penyakit yang memalukan dalam kesaksian Kristen dan dengan demikian semestinya tidak
pernah terlihat. Pengajaran seperti itu menghasilakan kepalsuan-kepalsuan rohani. Beberapa
perasaan negatif, meskipin sangat menyiksa, secara sempurna dapat diterima dan merupakan
pengalaman yang normal dalam keKristenan dan dapat hidup berdampingan dengan perasaan
yang dalam diri damai dan sukacita. Emosi-emosi negatif lainnya merupakan hasil pemikiran
dan kehidupan berdosa. Namun bahkan emosi negatif yang tidak harus dirahasiakan dan
dikuburkan, namun lebih baik harus dilibatkan dengan memeriksa penyebab-penyebabnya
dan melakukan sesuatu yang membangun untuk menyembuhkan masalah itu.
BAB VI. BAGAIMANA MASALAH-MASALAH BERKEMBANG I
Jika seorang konselor memiliki konsep yang secara luas dapat diterapkan mengenai
bagaimana manusia mengembangakan masalah-masalah, ma aia akan memiliki kesempatan
yang lebih baik untuk memahami kliennya dan akan berusaha secara rasional memecahkan
masalah-masalah menurut stategi yang sistematis dan cerdik. Suatu model yang baik dan
jelas akan menerangkan dasar-dasar dari fungsi manusia dapat melepaskan kita dari
pendekatan “untung-untungan, mudah-mudahan ini dapat membantu” dan meminjamkan
paling sedikit suatu ukuran yang tepat terhadap usaha-usaha konseling kita.
Konsep pertama dalam model itu adalah keperluan. Karena manusia adalah mahkluk
fisik dan pribadi, maka mereka memiliki keperluan fisik dan keperluan pribadi. Keperluan
STT Berea | 9
fisik terdiri dari apa saja yang dibutuhkan untuk dapat hidup secara fisik, untuk
mempertahankan tubuh tetap hidup – makan, pakaian, tempat tinggal dan lainnya. Keperluan-
keperluan pribadi terdiri dari apa saja yang dibutuhkan untuk bertahan secara pribadi, untuk
mempertahankan orang itu tetap hidup – makna dan rasa aman sebagai suatu dasar bagi harga
diri. Kita harus memiliki tujuan dan kasih jika kita ingin tetap hidup sebagai manusia.
Apabila seseorang menangkap kebenaran bahwa ia bermakna dan aman di dalam Kristus dan
mulai mempraktikkan kebenaran itu dengan hidup secara rasional, bertanggung jawab, taat
dan penuh penyerahan, maka ia menjadi utuh, hidup, bersemangat, penuh.
Kesepakatan merupakan keperluan tambahan, rasa aman merupakan keperluan utama.
Orang tidak pernah dapat berhenti membutuhkan makna dan rasa aman. Namun kita dapat
berhenti membutuhkan rute-rute tambahan tertentu untuk memuaskan keperluan-keperluan
primer kita terhadap makna dan rasa aman (1) jika rute-rute ini menciptakan masalah (2) jika
ada rute yang bebas masalah untuk memenuhi keperluan-keperluan utama yang sama itu.
Para konselor harus membedakan antara keperluan dengan keinginan. Kita
membutuhkan makna dan rasa aman agar dapat mempertahankan kehidupan yang beriman.
Paulus merupakan sebuah contoh yang terbaik. Namun Paulus, tidak dapat terus berfungsi
secara efektif bagi Kristus tanpa memuaskan keperluan-keperluan kita. Jadi konsep pertama
adalah keperluan, bukan keinginan, bukan keperluan tambahan, bukan tambahan sekunder,
tetapi keperluan. Dalam sebuah model mengenai bagaimana seseorang dapat berfungsi, kita
mulai dengan keperluan-keperluan pribadi terhadap makna dan rasa aman. Konsep kedua
dalam model itu adalah motivasi. Secara sederhana dinyatakan bahwa motivasi merupakan
kendali atau dorongan untuk memenuhi keperluan-keperluan saya. Daya gerak itulah yang
mendorong untuk melakukan sesuatu sehingga memiliki makna dan rasa aman. Motivasi
hasil pertimbangan diri sendiri agak lebih berarti dari pada energi tanpa ketentuan, tanpa arah.
Masalah-masalah dapat berkembang pada tingkah laku yang berorientasi pada
sasaran. Orang-orang dapat bergerak secara efektif atau tidak efektif menuju sasaran mereka.
Konseling yang menolong seseorang mencapai suatu sasaran yang ditentukan oleh suatu
asumsi yang keliru. Jika seorang klien dapat ditolong untuk mencapai suatu sasaran melalui
strategi-strategi yang lebih efektif, maka ia akan mencapai suatu ukuran kepuasan. Namun
jikabenar bahawa hanya Kristus yang benar-benar dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan
kita dan jika sasaran klien yang ditentukan oleh suatu asumsi yang keliru mengenai apa yang
menimbulkan makna dan sekuriti, maka klien yang mencapai sasarannya tidak akan
dipuaskan sepenuhnya, kebutuhan-kebutuhannya masih belum terpenuhi, dan ia akan
dimotivasi lingkaran lagi dan mencapai sasaran baru.
STT Berea | 10
BAB VII. BAGAIMANA MASALAH BERKEMBANG II
Konseling yang cermat membutuhkan suatu pemahaman konseptual yang baik
mengenai bagaimana masalah berkembang. Dokter akan mendiagnosa dahulu baru
mengobati. Mendiagnosa berarti memahami penyebab masalah dan apa perawatannya.
Elelmen penting di balik kebanyakan gejala adalah suatu hambatan yang berhubungan
dengan pencapaian sasaran yang dipilih seseorang. Paling sering penghambat yang keras
kepala tetap berdiri meskipun telah dilakukan usaha-usaha yang terbaik dari orang yang
frustasi dan dapat dimasukkan kedalah salah satu dari tiga kategori ini: Kategori #1: Sasaran
yang tidak tercapai. Kategori #2: Keadaan-keadaan dari luar. Kategori #3: Takut gagal.
Bentuk emosi yang diambil alih oleh rasa frustasi tergantug dari sifat dari hambatan
yang dijumpai. Jika sasaran yang ditetapkan oleh orang itu tidak dapat dicapai, maka
tanggapan utama yang paling umum adalah rasa bersalah atau perasaan mencemarkan diri
sendiri. Jika orang itu yakin bahwa sasaran itu dapat dicapai tetapi keadaan luar menghambat
jalan menuju sasaran, maka akibatnya biasanya rasa kesal. Jika hambatan itu bukan sasatran
yang tidak tercapai atau keadaan yang merintangi tetapi perasaan takut gagal yang
melumpuhkan, maka biasanya orang itu mengalami kegelisahan.
Tiga masalah emosi yang berada di balik banyak kesulitan pribadi adalah rasa
bersalah, kegelisahaan, dan kekesalan. Rasa bersalah, kegelisahan dan kekesalan sebagai
pengalaman-pengalaman preneurotis. Neurosis yang lebih parah timbul ketika seseorang
mengembangkan suatu gejala atau pola gejala yang dirancang untuk menghindari
penghinaan selanjutnya terhadap harga dirinya. Sasaran dari penderitaan preneurosis adalah
mengatasi hambatan dan mencapai sasaran yang sangat didambakan. Dengan rela ia akan
mengevaluasi ketepatgunaan (effctivenes) dari tingkah laku yang berorientasi pada tingkah
laku, dan mengambil strategi-strategi baru yang menjanjikan untuk menyeberangi rintangan
dan mencapai sasaran.
BAB VIII. APA USAHA ANDA UNTUK MENGUBAH?
Untuk mengembangakan strategi konseling kita harus memutuskan dengan tepat apa
yang akan kita usahakan untuk mengubah. Sasaran seorang konselor Kristen akan berbeda
secara radikal dari sasaran para sekular. Para konselor duniawi, berakar pada pemikiran
humanistis, menghargai kesejahteraan individu manusiasebagai sesuatu yang utama. Tanpa
standar objektif atau petunjuk untuk mengidefinisikan apa sebenarnya kesejahteraan itu,
konselor harus mengijinkan klien individu untuk menentukan definisinya sendiri mengenai
apa yang akan membuatnya bahagia. Jadi sasaran akhir bagi konselor sekular adalah
menolong klien merasa enak. Para konselor Kristen mendambakan kesejahteraan dari klien
STT Berea | 11
merasa juga tetapi mereka percaya bahwa kesejahteraan seorang tergantung dai hubungannya
dengan Kristus. Ada standar-standar absolut (mutlak). Konselor Kristen ada dalam posisi unik
dalam menasehati orang-orang untuk hidup dalam cara yang mungkin menambahkan beban
kehidupan. Setiap masalah dalam model itu dapat dihindari sama sekai jika asumsi dasar
sesuai dengan kebenaran yang diungkapkan. Orang yang benar-benar menyesuaikan dengan
baik adlaah orang yang bergantung kepada Allah semata-mata untuk membuatnya berarti dan
aman. Banyak konselor mengabaikan kunci ini terhadap transformasi Kristen dan mencoba
mengubah sesuatu yang lain. Beberapa orang mencoba mengubah tingkah laku yang
berorientasi pada sasaran dari tingkah laku yang tidak rasional dan berdosa menjadi rasional
dan alkitabiah.
Beberapa konselor mencoba untuk mengubah sasaran. Namun demikian, untuk
mengubah sasaran yang penuh makna, maka seseorang perlu mengubah pemikirannya.
Ketika pemikiran berubah, sasaran tentu saja akan berubah karena sasaran tergantung dari
asumsi dasar mengenai begaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi. Dalam setiap
situasi, sasaran yang luas adalah ketaatan terhadap Kristus. Kapan pun seseorang bermaksud
mencapai sasaran yang tidak dapat dijamin oleh usaha yang bertanggung jawab, maka ia akan
mengalami apa yang disebut kegelisahan dasar.
Pengalaman terhadap rasa bersalah kadang-kadang merupakan titik fokus dalam
usaha-usaha konselor untuk mengubah segala sesuatu. Rasa bersalah adalah suatu emosi yang
kompleks yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan pendekatan sederhana terhadap
pengampunan Kristus. Penyembuhannya kembali harus mencangkup suatu perubahan dalam
sasaran-sasaran yang menuntut perubahan dalam pemikiran.
BAB IX. SEBUAH MODEL SEDERHANA BAGI KONSELING
Elemen inti yang harus dubah dalam setiap konseling yang benar-benar efektif adalah
keyakinan seseorang mengenai apa yang dibutuhkannya untuk menjadi berarti dan terjamin.
Model konfrontasi tidak cukup luas untuk mencangkup semua bahan dari konseling Kristen
yang ekektif. Untuk melakukan konfrontasi dengan keras terhadap orang yang sedang lemah
bukan hanya kejam tetapi juga sangat merugikan. Dorongan-dorongan semangat lainnya
untuk saling menanggung beban mendukung gagasan bahwa anggota tubuh Kristus dari
orang-orang percaya harus merupakan persekutuan yang saling bergantung yang mencangkup
konfrontasi, dorongan semangat yang mendukung, bantuan yang kuat, dan sejumlah tingkah
laku lainnya yang serupa. Jadi konseling mencangkup lebih daripada sekedar konfrontasi dan
kadang-kadang mungkin tidak memasukkan konfrontasi sama sekali. Konsep datang untuk
menolong seseorang dalam berbagai macam yang berbeda tergantung dari masalah-masalah
STT Berea | 12
yang nampaknya bagi yang memberikan suatu model yang luas dan akurat bagi konseling,
barangkali lebih baik daripada pendekatan konfrontasi yang sempit, dan lebih terbatas.
Sasaran pertama dari para konselor adalah menunjukkan dengan tepat apa pun
masalah emosi yang ada. Jika klien mulai dengan mencurahkan perasaan, refleksikan,
pancing agar ia berbicara, pahami dan jelaskan. Jika klien mulai dengan mendiskusikan
keadaan masalahnya, tanyalah bagaimana perasaannya mengenai keadaan-keadaan ini. jika
masalah yang diperlihatkan adalah suatu gejala atau serangkaian masalah tingkah laku,
kembali cobalah mengidentifikasi perasaan apa yang mendahuluinya atau yang menyertai
gejela-gejala itu. dalam konseling terdapat beberapa tingkat antara lain sebagai berikut:
1. Mengenali maslah perasaan.
2. Mengenali tingkah laku yang berorientasi pada sasaran (masalah).
3. Mengenali pemikiran masalah.
4. Mengubah asumsi atau barangkali menjelaskan pemikiran Alkitabiah.
5. Memastikan komitmen.
6. Merencanakan dan menjalankan tingkah laku Alkitabiah.
7. Mengenali perasaan-perasaan yang dikuasai roh.
BAB X. KONSELING DALAM KELOMPOK KRISTEN
Tuntutan yang semakin besar bagai pelayanan konseling telah mendorong studi yang
serius bagi para profesional sebagai konselor. Bagi sejumlah orang gagasan “konseling”
memiliki pesona dan daya tarik tertentu tetyapi yang menyerang prospek sekolah formal.
Sangat disesalkan, banyak yang ditarik kokoh yang dipikat oleh kesempatan untuk keintiman
yang instan; beberapa orang ditarik oleh posisi otoritas yang kelihatan; yang lainnya melihat
titel “konselor” sebagai pemenuhan secara pribadi. Banyak orang secara tidak sadar sedang
berharap untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri yang tertunda tanpa
menyingkapkan diri mereka sendiri dalam kedudukan sebagai konseli.
Konseling yang dikembangkan dalam pasal 9 menyediakan suatu dasar natural untuk
mengidentifikasikan tiga level yang adpat dipadukan dengan luwes ke dalam struktur gereja
lokal. Dalam konseling terdapat tiga level antara lain adalah sebagai berikut:
1. Level I: konseling melalui dorongan.
Konseling melalui dorongan tergantung pada kedewasaan terhadap emosi-emosi yang
menyakitkan dalam anggota keluarga dan suatu usaha yang tulus untuk memahami mereka,
yang keluar melalui sikap penuh belas kasihan dan perhtian terhadap orang yang terluka.
Ditolong melalui belas kasih dan melalui keinginan yang kuat untuk mengkomunikasikan
kasih Kristus, maka ia kemudian akan mencari kesempatan untuk memberi semangat, untuk
terlibat dalam percakapan yang berarti dengan tidak berat sebelah dalam membantu yang
lainnya. Para konselor level I seharusnya menjaga untuk mengamati bagi mereka yang
STT Berea | 13
nampaknya secara konsisten menuntut perhatian dengan menceritakan perhatian mereka.,
baik secara terbuka maupun secara samar, tanpa membuat usaha-usaha yang bertangung
jawab untuk mengangani masalah-masalah mereka.
2. Level II: konseling melalui nasihat.
Konseling level II pada dasarnya terdiri dari spesifikasi mengenai strategi rohani
untuk menangani situasi yang ada. Konseling level II menuntut pengetahuan Alkitab. Teknik
konseling penting. Kemampuan untuk membangun hubungan, untuk merefleksikan perasaan
secara akurat (level I) dan untuk bereaksi secara peka terhadap kebutuhan seseorang sangat
penting. Namun tanpa pengetahuan yang membentuk dari prinsip-prinsip kehidupan yang
alkitabiah, maka seseorang benar-benar tidak dapat menasihati dalam level II. Latihan dalam
level II akan mencangkup pemeriksaan kembali terhadap banyak situasi dan mencangkup
pemeriksaan kembali terhadap banyak situasi dan diskusi mengenai prinsip-prinsip alkitabiah
terapan. Jadi para calon yang latihan konseling level II harus orang-orang Kristen yang
memiliki pengenalan yang luas terhadap ajaran Alkitab dan secara aktif mengembangkannya
melalui studi. Latihan akan berpusat pada (1) prinsip-prinsip dasar kehidupan Kristen dalam
beberapa bidang penting, (2) bagaimana memikirkan suatu situasi masalah dan tiba pada
strategi alkitabiah uantuk mengatasinya dan keahlian-keahlian secara umun dalam
wawancara.
3. Level III: konseling melalui penerangan.
Untuk menjadi seorang konselor level III diperlukan lebih daripada sekadar beberapa
latihan. Seorang konselor level III akan melihat dibawah tingkah laku yang keliru dalam
dunia yang dipikirkan, sambil berharap mendapatkan asumsi-asumsi yang keliru mengenai
bagaimana menjadi makna dan merasa aman. Hal yang diperlukan konseling level III
menyelidiki dengan dalam ke dalam bagian-bagian pikiran yang tersembunyi, di mana orang-
orang memegang dengan kuat terhadap asumsi-asumsitertentu, mengenali keyakinan-
keyakinan yang menolak kecukupan dari Kristus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
pribadi terhadap maknadan rasa aman, mengajarkan bahwa Kristus itu cukup, dan kemudian
mendorong tingkah laku yang baru dalam kebenaran bahwa kebutuhan-kebutuhan kita
dipenuhi dalam Kristus.
Proses konseling mengikuti model yang ditampilkan dalam pasal 9: (1) bersikap
empati terhadap perasaan-perasaan yang menyakitkan, (2) mengidentifikasi pola-pola tingkah
laku yang berdosa yang bertanggung jawab terhadap emosi-emosi negatif, menyingkapkan
pemikiran yang keliru yang membawa kepada tingkah laku yang tidak mampu menyesuaikan
diri, (4) menerangi individu dengan pemikiran alkitab mengenai kebutuhan-kebutuhan
STT Berea | 14
pribadi, (5) memastikan komitmen untuk bertingkah laku secara konsisten terhadap
kebenaran, merencanakan perubahan-perubahan tingkah laku yang merefleksikan komitmen
itu, dan (7) meningkatkan perasaan-perasaan yang terjadi terhadap kasih, sukacita dan damai
sejahtera.
Ringkasan dan kesimpulan.
Tiga level konseling yang sudah diperkenalkan, antara lain adalah:
1. Level I: konseling melalui dorongan dapat mencangkup setiap anggota tubuh Kristus
dalam suatu pelayanan yang penuh arti untuk menolong satu dengan yang lainnya secara
dalam.
2. Level II. Konseling melalui nasihat membutuhkan sejumlah orang yang memiliki
pengetahuan ajaran Alkitab, dilatih dalam keahlian berinteraksi, dan mampu menerapkan
kehidupan.
3. Level III. Konseling melalui penerangan menuntut latihan yang lebih ekstensif tetapi
harus memperlengkapi calon-calonnya dalam waktu kurang dari setahun untuk
memenuhi setiap kebutuhan konseling non-organis dalam gereja lokal.

STT Berea | 15