Anda di halaman 1dari 12

NAMA : ELITRIA SAPITRI

NIM : P07131216102

TUGAS : EKONOMI PANGAN

1. Data BPS di Kalimantan Selatan


Berdasarkan Badan Pusat laki-laki berjumlah 257.320 dan
Statistik provinsi Kalimantan Selatan yang berjenis kelamin perempuan
yang telah di update terakhir pada yaitu 249.519.
tanggal 27 februari 2018 jumlah Kabupaten Barito Kuala
penduduk di provinsi Kalimantan memiliki jumlah penduduk 276.147
Selatan berjumlah 3.626.616 jiwa. dengan penduduk yang berjenis
Dengan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki berjumlah 138.357
kelamin laki-laki yaitu 1.836.210 dan yang berjenis kelamin
jiwa dan jumlah penduduk berjenis perempuan yaitu 137.790.
kelamin perempuan yaitu 1.790.406 Kabupaten Tapin memiliki
jiwa. jumlah penduduk 167.877 dengan
Pendistribusian penduduk di penduduk yang berjenis kelamin
provinsi Kalimantan Selatan yaitu laki-laki berjumlah 84.626 dan yang
sebagai berikut: berjenis kelamin perempuan yaitu
Kabupaten Tanah Laut 83.251.
memiliki penduduk berjumlah Kabupaten Hulu Sungai
296.333 dengan penduduk yang Selatam memiliki jumlah penduduk
berjenis kelamin laki-laki berjumlah 212.485 dengan penduduk yang
152.385 dan penduduk yang berjenis berjenis kelamin laki-laki berjumlah
kelamin perempuan berjumlah 105.766 dan yang berjenis kelamin
143.948. perempuan yaitu 106.719.
Kabupaten Kotabaru Kabupaten Hulu Sungai
memiliki jumlah penduduk 290.142 Tengah memiliki jumlah penduduk
dengan penduduk yang berjenis 243.460 dengan penduduk yang
kelamin laki-laki berjumlah 151.586 berjenis kelamin laki-laki berjumlah
dan yang berjenis kelamin 121.519 dan yang berjenis kelamin
perempuan yaitu 138.556. perempuan yaitu 121.942.
Kabupaten Banjar memiliki Kabupaten Hulu Sungai
jumlah penduduk 290.142 dengan Utara memiliki jumlah penduduk
penduduk yang berjenis kelamin 209.246 dengan penduduk yang
berjenis kelamin laki-laki berjumlah kelamin laki-laki berjumlah 102.285
102.351 dan yang berjenis kelamin dan yang berjenis kelamin
perempuan yaitu 106.895. perempuan yaitu 97.342
Kabupaten Tabalong
memiliki jumlah penduduk 218.620
dengan penduduk yang berjenis
kelamin laki-laki berjumlah 111.086
dan yang berjenis kelamin
perempuan yaitu 107.534.
Kabupaten Tanah Bumbu
memiliki jumlah penduduk 267.929
dengan penduduk yang berjenis
kelamin laki-laki berjumlah 139..686
dan yang berjenis kelamin
perempuan yaitu 128.243.
Kabupaten Balangan
memiliki jumlah penduduk 112.430
dengan penduduk yang berjenis
kelamin laki-laki berjumlah 56.504
dan yang berjenis kelamin
perempuan yaitu 55.926.
Kabupaten Banjarmasin
memiliki jumlah penduduk 625.481
dengan penduduk yang berjenis
kelamin laki-laki berjumlah 372.740
dan yang berjenis kelamin
perempuan yaitu 372.741.

Kabupaten Banjarbaru
memiliki jumlah penduduk 199.627
dengan penduduk yang berjenis
Kelompok Jenis Kelamin
Total
Umur Laki-laki Perempuan

0-4 183,788 172,604 356,392

5-9 188,917 177,274 366,191

10 - 14 171,850 161,473 333,323

15 - 19 167,230 160,742 327,972

20 - 24 162,519 161,926 324,445

25 - 29 170,654 170,897 341,551

30 - 34 163,140 160,328 323,468

35 - 39 155,362 149,676 305,038

40 - 44 132,141 126,060 258,201

45 - 49 106,694 101,537 208,231

50 - 54 85,065 79,410 164,475

55 - 59 55,594 50,309 105,903

60 - 64 38,017 42,688 80,705

65 - 69 25,226 29,210 54,436

70 - 74 16,289 22,831 39,120

75 + 13,717 23,436 37,153

TT 7 5 12

Total 1,836,210 1,790,406 3,626,616


Berdasarkan Badan Pusat sedangkan yang berjenis kelamin
Statistik provinsi Kalimantan Selatan perempuan berjumlah 161,926 jiwa.
yang telah di update terakhir pada Pada kelompok umur 25-29 tahun
tanggal 27 februari 2018, jumlah yang berjenis kelamin laki-laki
penduduk yang berjenis kelamin berjumlah 170,654 jiwa sedangkan
laki-laki berjumlah sebanyak yang berjenis kelamin perempuan
1.836,210 jiwa. Sedangkan jumlah berjumlah 170,897 jiwa. Pada
penduduk yang berjenis kelamin kelompok 30-34 yang berjenis
perempuan sebanyak 1.790.406 jiwa. kelamin laki-laki berjumlah 163,140
Kelompok umur 0-4 tahun jiwa, sedangkan yang berjenis
yang berjenis kelamin laki-laki kelamin perempuan berjumlah
berjumlah 183.788 jiwa sedangkan 160.328. Pada kelompok umur 35-39
yang berjenis kelamin perempuan yang berjenis kelamin laki-laki
berjumlah 172.604 jiwa. Kelompok berjumlah 155,362 jiwa, sedangkan
umur 5-9 tahun yang berjenis jumlah penduduk yang berjenis
kelamin laki-laki berjumlah 188.917 kelamin perempuan sebanyak
jiwa sedangkan yang berjenis 149,676 jiwa. . Pada kelompok umur
kelamin perempuan berjumlah 40-44 yang berjenis kelamin laki-laki
177.274 jiwa. Kelompok umur 10-14 berjumlah 132,142 jiwa sedangkan
tahun yang berjenis kelamin laki-laki jumlah penduduk yang berjenis
berjumlah 171.850 jiwa sedangkan kelamin perempuan sebanyak
yang berjenis kelamin perempuan 126,060 jiwa. . Pada kelompok umur
berjumlah 161.473 jiwa. Kelompok 45-49 yang berjenis kelamin laki-laki
umur 15-19 tahun yang berjenis berjumlah 106,694 jiwa sedangkan
kelamin laki-laki berjumlah 167,230 jumlah penduduk yang berjenis
jiwa sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak
kelamin perempuan berjumlah 101,537 jiwa. . Pada kelompok umur
160,742 jiwa. Pada kelompok umur 50-54 yang berjenis kelamin laki-laki
20-24 tahun yang berjenis kelamin berjumlah 85,065 jiwa sedangkan
laki-laki berjumlah 162.519 jiwa jumlah penduduk yang berjenis
kelamin perempuan sebanyak 79,410 Yang termasuk usia produktif
jiwa. . Pada kelompok umur 55-59 yaitu yang usianya berkisar antara
yang berjenis kelamin laki-laki 15-64 tahun. Berdasarkan data
berjumlah 55,594 jiwa sedangkan tersebut di dapatkan jumlah
jumlah penduduk yang berjenis penduduk usia produktif berjumlah
kelamin perempuan sebanyak 50,309 2.570.710 jiwa dengan jumlah
jiwa. Pada kelompok umur 60-64 penduduk berjenis kelamin laki-laki
yang berjenis kelamin laki-laki yaitu 1291.655 dan penduduk yang
berjumlah 38,017 jiwa sedangkan berjenis kelamin perempuan yaitu
jumlah penduduk yang berjenis 1.279.055 jiwa.
kelamin perempuan sebanyak 42,688
jiwa.

2. Hasil pertemuan WNPG


Sebagai rangkaian presentasi dan diskusi
kegiatan Widyakarya Nasional diantaranya sebagai berikut:
Pangan dan Gizi (WNPG) XI ,
Dalam rangka
Bidang 2 menyelenggarakan
mewujudkan kemandirian dan
Diskusi Pakar 1 dengan tema
kedaulatan pangan, selain
“Peningkatan Produksi Pangan
meningkatkan produksi pangan
yang Beragam untuk Perbaikan
perlu juga diupayakan
Gizi Keluarga” pada tanggal 23
diversifikasi/penganekaragama
Februari 2018 di Hotel Aston,
n konsumsi pangan. Hal ini
Jakarta. Hadir sebagai
untuk mengurangi
narasumber utama: Kepala
ketergantungan terhadap satu
Badan Ketahanan Pangan Dr.
atau dua jenis pangan pokok,
Ir. Agung Hendriadi, M.Eng,
terutama beras.
Drajat Martianto dari Institut
Pertanian Bogor dll. Beberapa Diversifikasi/penganeka

hal yang dihasilkan dari hasil ragaman pangan merupakan


2

kunci perbaikan gizi Perlu pembaharuan


masyarakat yang pada akhirnya terhadap peraturan/payung
berdampak pada kualitas hukum mengenai
sumberdaya manusia yang diversifikasi/penganekaragama
dihasilkan. Hal ini karena tidak n konsumsi pangan serta
ada pangan yang mengandung alokasi anggaran yang
semua zat gizi, sehingga memadai agar kegiatan tidak
semakin beragam pangan yang hanya berupa kampanye dan
dikonsumsi, maka semakin pameran saja, tetapi lebih
lengkap zat gizi yang kepada program-program aksi.
dikonsumsi.
Strategi pengembangan
Diversifikasi/penganeka diversifikasi pangan dimulai
ragaman pangan berbasis dari sisi hilir, yaitu
sumberdaya lokal dimaksudkan pengembangan teknologi
untuk menggali potensi pangan pengolahan pangan/industri
lokal dan kemudahan dalam pangan lokal skala rumah
memperoleh bahan pangan. tangga untuk menarik minat
Pangan lokal dimaksud tidak konsumsi pangan masyarakat.
hanya pangan sumber Selanjutnya diikuti dengan
karbohidrat, namun juga peningkatan produksi bahan
pangan sumber protein, baku pangan lokal.
vitamin, dan mineral seperti
Pemenuhan pangan
ikan, hewan ternak, sayur, dan
rumah tangga dapat dilakukan
buah-buahan. Indonesia
melalui pemanfaatan
merupakan negara terbesar
pekarangan. Indonesia
kedua di dunia yang memiliki
memiliki potensi lahan
keanekaragaman hayati
pekarangan sebesar 10,3 juta
(biodiversity).
ha dan potensi lahan marjinal
21 juta ha. Dalam hal ini BKP

1
3

telah melaksanakan program masyarakat yang sangat miskin


Kawasan Rumah Pangan sebanyak 48% mengalami
Lestari (KRPL) dimana tahun stunting dan pada kelompok
2018 akan dilaksanakan di masyarakat yang sangat
2300 titik KRPL yang tersebar sejahtera ternyata juga ada 29%
di seluruh Indonesia dengan mengalami stunting. Hal ini
prioritas di wilayah rentan menunjukkan bahwa
rawan pangan dan tinggi materi/pendapatan bukan satu-
prevalensi stunting. Manfaat satunya penyebab stunting,
KRPL antara lain menjamin namun juga pengetahuan gizi
ketersediaan dan akses pangan dan perilaku hidup.
rumah tangga, menghemat
Masalah stunting bukan
pengeluaran rumah tangga
hanya sekedar masalah anak
untuk membeli pangan (sampai
pendek tetapi juga dampak
30%), meningkatkan kualitas
kesehatan jangka panjang yang
konsumsi dan keamanan
memiliki konsekuensi terhadap
pangan, serta dapat menambah
kualitas sumberdaya manusia
pendapatan rumah tangga.
dan kerugian negara yang
Potensi industri kuliner ditimbulkannya.
pangan lokal seiring dengan
Penyebab stunting
meningkatnya destinasi wisata
berbeda-beda untuk setiap
menjadi tantangan untuk
wilayah, sehingga diperlukan
penyediaan pangan lokal.
penanganan yang berbeda-
Pengetahuan gizi beda. Seperti di Asmat sanitasi,
merupakan salah satu upaya kebiasaan hidup, dan KLB
untuk menurunkan stunting, campak menjadi penyebab
disamping juga perilaku hidup utama masalah gizi/stunting,
(behavior). Berdasarkan hasil sementara di Jayawijaya dan
penelitian, pada kelompok

1
4

Yahukimo akses pangan penganekaragaman pangan


menjadi penyebabnya. ditekankan untuk
meningkatkan keanekaragaman
Penyebab dasar (basic
pangan yang dikonsumsi, baik
factor) stunting diantaranya
dari jenis maupun kualitasnya.
kondisi sosial, ekonomi,
politik, kemiskinan, Intervensi pemberian
pendidikan, pendapatan. susu tidak tepat ditujukan
Penyebab tak langsung untuk masyarakat miskin,
(underlying factor) diantaranya karena produk susu mudah
ketahanan pangan rumah rusak, sehingga dapat menjadi
tangga, praktek pengasuhan, sumber infeksi penyakit seperti
sanitasi lingkungan, dan diare yang akan berdampak
layanan kesehatan. Adapun pada masalah gizi, termasuk
penyebab langsungnya adalah stunting.
asupan pangan dan
Pada tanggal 17 April
kesakitan/infeksi.
2018, bertempat di Hotel
Berdasarkan hasil Akmani, Jakarta, Bidang 2
penelitian, stunting berkorelasi WNPG XI kembali
negatif dengan menyelenggarakan Diskusi
penganekaragaman pangan Pakar II dengan Tema: Akses
yang artinya semakin beragam Penyediaan Pangan yang
pangan yang dikonsumsi, maka Beragam, Bergizi, dan
dapat menurunkan prevalensi Terjangkau untuk
stunting. Selain itu, disebutkan mensukseskan
pula konsumsi pangan sumber penyelenggaraan WNPG XI
protein hewani mampu pada bulan Juli 2018. Pada
menurunkan resiko stunting kesempatan ini hadir pakar dari
dan underweight. Dengan Kementerian Kelautan dan
demikian program Perikanan, Bappenas,

1
5

Kementerian Sosial, LIPI,


Kementerian Perhubungan,
Kementerian Kesehatan dan
Universitas Gadjah Mada. Hal
hal yang dibahas antara lain:
Program Penangan Fakir
Miskin oleh Kementerian
Sosial, Sinergi program-
program KKP dengan
kementerian lainnya seperti
Kemensos, Kemendiknas,
Kemenkes, dll untuk
menjangkau konsumsi ikan
bagi seluruh manusia,
Kebutuhan Gizi, Produk
Perikanan, dan Teknologi
Tepat Guna, Kebijakan dan
Strategi Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum dalam
Rangka Upaya Penurunan
stunting.

1
6