Anda di halaman 1dari 52

Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

BAB
EROSI

Abdur Rahman
12
 PENDAHULUAN

SESI/PERKULIAHAN KE :

TIK : Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu :


1. Menjelaskan konsepsi Erosi
2. Menjelaskan konsep-konsep erosi, proses terjadinya erosi, jenis
dan tipe erosi, erosi yang diijinkan, model-model erosi, faktor-
faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya erosi dan
mengetahui tingkat bahaya erosi.

Pokok Bahasan : Erosi


Deskripsi Singkat : Dalam pertemuan ini Anda akan mempelajari konsep-
konsep erosi, proses terjadinya erosi, jenis dan tipe erosi, erosi yang
diijinkan, model-model erosi, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya erosi dan mengetahui tingkat bahaya erosi.

Pengantar Erosi

Proses-proses hidrologi secara langsung maupun tidak langsung, akan


mempunyai kaitan dengan terjadinya erosi, transport sedimen, deposisi sedimen di
daerah hilir, dan mempengaruhi karakteristik fisik, biologi dan kimia secara
keseluruhan mewakili status kualitas perairan. Perubahan tataguna lahan dan praktek
pengelolaan DAS juga mempengaruhi terjadinya erosi, sedimentasi dan pada
gilirannya akan mempengaruhi kualitas air (Asdak, 2010).

12.1. Proses Terjadinya Erosi


Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah atas,
baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin (Suripin, 2004). Penyebab utama
terjadinya erosi biasanya disebabkan oleh 2 sebab utama yait sebab alamiah dan erosi
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena
pembentukan tanah dan proses erosi yang terjadi untuk mempertahankan
keseimbangan tanah secara alami. Erosi merupakan tiga proses yang berurutan,
yaitu pelepasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan
(deposition) bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi (Asdak, 1995).
Di daerah-daerah tropis yang lembab seperti di Indonesia maka air
merupakan penyebab utama terjadinya erosi, sedangkan untuk daerah-daerah panas
yang kering maka angin merupakan faktor penyebab utamanya. Erosi tanah yang
disebabkan oleh air meliputi 3 tahap (Suripin, 2004), yaitu:
a. Tahap pelepasan partikel tunggal dari massa tanah.
b. Tahap pengangkutan oleh media yang erosif seperti aliran air dan angin.
c. Tahap pengendapan, pada kondisi dimana energi yang tersedia tidak cukup lagi
untuk mengangkut partikel.
Percikan air hujan merupakan media utama pelepasan partikel tanah pada
erosi yang disebabkan oleh air. Pada saat butiran air hujan mengenai permukaan
tanah yang gundul, partikel tanah terlepas dan terlempar ke udara. Karena gravitasi
bumi, partikel tersebut jatuh kembali ke bumi. Pada lahan miring partikel-partikel
tanah tersebar ke arah bawah searah lereng. Partikel-partikel tanah yang terlepas
akan menyumbat pori-pori tanah. Percikan air hujan juga menimbulkan pembentukan
lapisan tanah keras pada lapisan permukaan.
Hal ini mengakibatkan menurunnya kapasitas dan laju infiltrasi tanah. Pada
kondisi dimana intensitas hujan melebihi laju infiltrasi, maka akan terjadi genangan air
di permukaan tanah, yang kemudian akan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan
ini menyediakan energi untuk mengangkut partikel-pertikel yang terlepas baik oleh
percikan air hujan maupun oleh adanya aliran permukaan itu sendiri. Pada saat energi
aliran permukaan menurun dan tidak mampu lagi mengangkut partikel tanah yang
terlepas, maka partikel tanah tersebut akan mengendap baik untuk sementara atau tetap
(Suripin, 2004).
Proses pengendapan sementara terjadi pada lereng yang bergelombang, yaitu
bagian lereng yang cekung akan menampung endapan partikel yang hanyut untuk
sementara dan pada hujan berikutnya endapan ini akan terangkut kembali menuju
dataran rendah atau sungai. Pengendapan akhir terjadi pada kaki bukit yang relatif datar,
sungai dan waduk. Pada daerah aliran sungai, partikel dan unsur hara yang larut dalam
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

aliran permukaan akan mengalir dan mengendap ke sungai dan waduk sehingga
menyebabkan pendangkalan. Besarnya erosi tergantung pada kuantitas suplai material
yang terlepas dan kapasitas media pengangkut. Jika media pengangkut mempunyai
kapasitas lebih besar dari suplai material yang terlepas, proses erosi dibatasi oleh
pelepasan (detachment limited). Sebaliknya jika kuantitas suplai materi melebihi
kapasitas, proses erosi dibatasi oleh kapasitas (capacity limited).

Gambar 145. Bagan Alir Model Proses Erosi oleh Air (Suripin, 2004)

12.2. Tipe-Tipe Erosi Permukaan


Beberapa tipe erosi permukaan yang ditemukan di daerah tropis adalah (Asdak,
2010) :
a. Erosi percikan (splash erosion) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel
tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.
Tenaga kinetik ditentukan oleh dua hal yaitu massa dan kecepatan jatuhan air
(1/2 mv2). Tenaga kinetik bertambah besar dengan bertambah besarnya diameter
air hujan dan jarak antara ujung daun penetes (driptips) dari permukaan tanah
(pada proses erosi terdapat di bawah tegakan vegetasi).
b. Erosi Kulit (Sheet erosion) adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis
permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

larian (runoff). Besar kecilnya tenaga penggerak terjadinya erosi kulit ditentukan
oleh kecepatan dan kedalaman air larian.
c. Erosi Alur (riil erosion) adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan
partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-
saluran air. Hal ini terjadi ketika air larian masuk ke dalam cekungan permukaan
tanah, kecepatan air larian meningkat, dan akhirnya terjadilah terjadilah transport
sedimen. Tipe erosi alur umumnya dijumpai pada lahan-lahan garapan dan
dibedakan dari erosi parit (gully erosion). Rose (1988) menegaskan bahwa tipe
erosi ini terbentuk oleh tanah yang kehilangan daya ikat partikel-partikel tanah
sejalan dengan meningkatnya kelembaban tanah di tempat tersebut. Kelembaban
tanah yang berlebih pada gilirannya akan menyebabkan tanah longsor. Bersama-
sama dengan logsornya tanah, kecepatan air larian meningkat dan terkosentrasi
di tempat tersebut. Air larian ini mengangkut sedimen hasil erosi, dari sini
menandai awal dari pembentukan erosi parit.
d. Erosi parit (gully erosion) adalah proses lanjut dari erosi alur, yang membentuk
jajaran parit yang lebih dalam dan lebar. Erosi parit dapat diklasifikasikan
sebagai parit berambungan dan parit terputus-putus. Erosi parit terputus dapat
dijumpai di daerah pegunungan. Erosi tipe ini biasanya diawali oleh adnaya
gerusn yang melebar di bagian atas hamparan tanah miring yang berlangsung
dalam waktu relative singkat akibat adanya air larian yang besar. Kedalaman
erosi parit bersambungan berawal dari terbentuknya gerusna-gerusan permukaan
tanah oleh air larian kea rah tempat yang lebih tinggi dan cenderung berbentuk
jari-jari tangan. Pada tahap awal, proses pembentukan erosi parit tersebut akan
kehilangan karakteristik dinamika perkembangan gerusan-gerusan pada
permukaan tanah oleh aliran air, pada akhirnya, terbentuk pola aliran-aliran kecil
atau besar yang bersifat permanen. Namun demikian proses terbentuknya erosi
parit tidak selalu beraturan seperti tersebut di atas. Pada kondisi tertentu,
terutama oleh perubahan-perubahan geologis dan/atau karena pengaruh aktivitas
manusi, proses pembentukan erosi parit tidak pernah samapi pada tahap lanjutan.
Secara umum erosi parit dapat terjadi serentak atau pada waktu yang berbeda.
Proses ini pada umumnya terdiri atas :
1. Erosi pada pinggir parit bagian atas yang berlangsung dalam waktu relatif
lambat.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

2. Bertambah melebar dan dalamnya parit di bagian atas akibat konsentrasi


aliran semakin besar dan semakin cepat. Gerusan air larian menjadi semakin
dalam seringkali mencapai horizon C dan dengan demikian, semakin banyak
lagi bahan induk yang tererosi. Pada tahap ni terjadi gerakan massa tanah di
dalam parit.
3. Tahap ketika berlangsung pertumbuhan vegetasi di dalam saluran.
4. Tahap pemantapan menjadi parit yaitu ketika saluran yang terbentuk oleh
gerusan air larian tersebut telah mencapai keadaan yang mantap dengan
diiringi terbentuknya lapisan tanah baru sebagai akibat tumbuhnya vegetasi
di pinggir saluran.
Erosi parit dibedakan menjadi dua berdasarkan bentuk penampang
melintangnya, yaitu parit bentuk V dan parit bentuk U. Erosi bentuk V
terjadi pada tanah yang relative dangkal dengan tingkat erodibilitas (tingkat
kerapuhan tanah) seragam. Untuk mencegah meluasnya erosi parit bentuk V,
pecegahan dengan menggunakan cara vegetatif.
e. Erosi Tebing Sungai (streambank erosion) adalah pengikisan pada tebing-tebing
sungai dan penggerusan dasar sungai oleh aliran air sungai. Dua proses
berlangsungnya erosi tebing sungai adalah oleh adanya gerusan aliran sungai dan
oleh adanya longsoran tanah pada tebing sungai. Semakin cepat laju aliran
sungai (debit puncak atau banjir) semakin besar kemungkinan terjadinya erosi
tebing. Erosi tebing sungai dalam bentuk gerusan dapat berubah menjadi tanah
longsor ketika permukaan sungai surut (meningkatnya gaya tarik ke bawah).
Proses terjadinya erosi tebing kedua lebih ditentukan oleh keadaan kelembaban
tanah di tebing sungai menjelang terjadinya erosi. Hooke (1979) membedakan 3
faktor penyebab terjadinya erosi tebing sungai berdasarkan karakter fisik tebing
sungai sebagai berikut :
1. Erosi tebing sungai yang sebagian besar disebabkan oleh adanya gerusan
aliran sungai, dalam hal ini debit puncak berpengaruh besar.
2. Tebing sungai dengan karakteristik tanah terdiri dari bahan berpasir dengan
kelembaban tinggi. Erosi yang terjadi umumnya dalam bentuk tanah
longsor.
3. Tebing sungai dengan karakteristik tanah solid (mempunyai resistensi tinggi
terhadap pengelupasan partikel tanah). Erosi, dalam skala lebih kecil,
umumny aterjadi oleh adanya penambangan tebing sungai atau ketika
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

berlangsung debit aliran besar (banjir). Erosi tebing sungai antara lain
dipengaruhi oleh ; kecepatan aliran, kondisi vegetasi di sepanjang tebing
sungai, kegiatan bercocok tanam di pinggir sungai, kedalaman dan lebar
sungai, bentuk alur sungai dan tekstur tanah.

Sedangkan Suripin (2004) membagi tipe dan jenis erosi menjadi 7 bagian
yaitu :
1. Erosi percikan (splash erosion) adalah terlepas dan terlemparnya partikel-partikel
tanah dari massa tanah akibat pukulan butiran air hujan secara langsung
2. Erosi aliran permukaan (overland flow erosion) akan terjadi hanya dan jika
intensitas dan/atau lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi atau kapasitas simpan
air tanah
3. Erosi alur (rill erosion) adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan
partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-
saluran air
4. Erosi parit/selokan (gully erosion) membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan
lebar dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur
5. Erosi tebing sungai (streambank erosion) adalah erosi yang terjadi akibat pengikisan
tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau oleh terjangan arus sungai
yang kuat terutama pada tikungan-tikungan.
6. Erosi internal (internal or subsurface erosion) adalah proses terangkutnya partikel-
partikel tanah ke bawah masuk ke celah-celah atau pori-pori akibat adanya aliran
bawah permukaan
7. Tanah longsor (landslide) merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau
gerakan massa tanah yang terjadi pada suatu saat dalam volume yang relative besar.

12.3. Erosi yang diijinkan

Erosi tidak bisa dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya
untuk lahan-lahan pertanian. Tindakan yang dilakukan adalah dengan mengusahakan
supaya erosi yang terjadi masih di bawah ambang batas yang maksimum (soil loss
tolerance), yaitu besarnya erosi yang tidak melebihi laju pembentukan tanah.
Apabila besarnya erosi, untuk lahan pertanian khususnya, masih lebih kecil dari 10
ton/ha/tahun, maka erosi yang terjadi masih dapat dibiarkan selama pengolahan
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

tanah dan penambahan bahan organik terus dilakukan (Suripin, 2004). Besarnya
erosi tanah yang masih dapat dibiarkan (soil loss tolerance) berdasarkan keadaan
tanah yang dikeluarkan oleh SCS-USDA diberikan pada Tabel 16.

Tabel 16. Batas Maksimum Laju Erosi yang Dapat Diterima untuk Berbagai Macam
Kondisi Tanah
KONDISI TANAH Laju Erosi (kg/m2/th)

Skala makro (misal DAS) 0,2


Skala meso (misal lahan pertanian):
- Tanah berlempung tebal dan subur (Mid-West, USA) 0,6 - 1,
- Tanah dangkal yang mudah tererosi 1 0,2 - 0,5 1,3 - 1,5
- Tanah berlempung tebal, yang berasal dari endapan vulkanik

Tanah yang mempunyai kedalaman:


- 0 -25 cm 0,2
- 25 - 50 cm 0,2 - 0,5
- 50 - 100 cm 0,5 - 0,7
- 100 - 150 cm 07 - 09
- > 150 cm 1,1
Tanah tropika yang sangat mudah tererosi 2,5
Skala mikro (misal daerah terbangun) 2,5
Tanah dangkal di atas batman 0,112
Tanah dalam di atas batman 0,224
Tanah lapisan dalam padat di atas batman lunak 0,448
Tanah dengan permeabilitas lambat di atas batman lunak 1,121
Tanah yang permeabel di atas batman lunak 1341
Sumber : Suripin (2004)

12.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Erosi


Hasil erosi yang terbawa oleh air hujan sebagian terendapkan pada daerah-
daerah lembah maupun cekungan-cekungan kecil dan sebagian lainnya masuk ke
sungai dan diendapkan di sungai. Hasil Erosi yang diendapkan meliputi hasil erosi
permukaan, erosi tebing, erosi parit dan longsoran. Faktor-faktor yang
mempengaruhi erosi tanah dapat digolongkan ke dalam lima faktor yaitu ; 1) iklim,
2) tanah, 3) vegetasi dan 5) kegiatan manusia (Utomo, 1985 dalam Rahayuningsih,
2005).
Kelima faktor tersebut dinyatakan dalam suatu fungsi dengan persamaan

berikut (Asdak, 2002) :

E = f(i,t,r,v,m) ................................................. (1)


Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Dimana E = erosi, merupakan fungsi dari i = iklim, t = tanah, r = topografi, v =


vegetasi dan m = manusia.
Parameter iklim yang paling menentukan dalam persamaan tersebut adalah
hujan, yang dinyatakan dalam indeks erosivitas hujan. Parameter tanah ditentukan
oleh sifat-sifat tanah yang dinyatakan dalam nilai erodibilitas tanah, sedangkan
parameter topografi ditentukan oleh nilai lereng.

1.4.1. Iklim
Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung maupun tidak
langsung. Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan , terutama
intensitas dan diameter butiran air hujan. Pada hujan yang intensif dan berlangsung
pada waktu yang pendek, erosi yang terjadi biasanya lebih besar dibandingkan
dengan hujan yang intensitasnya kecil dan berlangsung lebih lama.

12.4.2. Tanah
Empat sifat tanah yang penting dalam menentukan erodibilitas tanah (mudah
tidaknya tanah tererosi) adalah:
1. Tekstur tanah, biasanya berkaitan dengan ukuran dan porsi partikel-partikel
tanah dan akan membentuk tipe tanah tertentu. Tiga unsur utama tanah adalah
pasir (sand) debu (silt) dan liat (clay). Tanah dengan unsure dominan liat, ikatan
antara partikel-partikel tanah tergolong kuat, dengan demikian tidak mudah
tererosi. Tanah dengan unsur dominan pasir(tanah dengan tekstur kasar),
kemungkinan untuk terjadi erosi pada tanah jenis ini rendah, karena laju
infiltrasi pada jenis tanah ini tinggi sehingga mengurangi laju air larian (surface
run off). Tanah dengan unsur utama debu, pasir lembut dan sedikit unsur
organic, memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya erosi.
2. Unsur Organik, terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil proses
dekomposisi. Unsur organik cenderung memperbaiki tekstur tanah dan bersifat
meningkatkan permeabilitas tanah, kapasitas tampung air tanah dan kesuburan
tanah. Kumpulan unsur organic di atas permukaan tanah dapat menghambat
kecepatan air lariansehingga berpotensi terjadinya erosi.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

3. Struktur tanah, adalah susunan partikel-partikel tanah yang membentuk agregat.


Struktur tanah yang mempengarui kemampuan tanah dalam menyerap air tanah.
Misalnya, struktur tanah granuler dan kepas mempunyai kemampuan besar
dalam meloloskan air larian, sehingga menurunkan laju air larian dan memacu
pertumbuhan tanaman.
4. Permeabilitas tanah, menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air.
Struktur dan tekstur tanah serta unsure organic lainnya ikut ambil bagian dalam
menentukan permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan
laju infiltrasi dan berakibat pada turunnya laju air larian.

12.4.3. Topografi
Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan
karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut berperan
penting dalam menentukan besar kecilnya erosi karena kedua faktor tersebut
menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian. Kecepatan air larian yang
besar pada umumnya ditentukan oleh kemiringan lereng yang tidak terputus dan
panjang serta terkonsentrasi pada saluran-saluran yang sempit yang berpotensi besar
untuk terjadinya erosi alur dan erosi parit.
Kedudukan lereng juga berperan penting pada besar kecilnya erosi. Lereng
bagian bawah lebih mudah tererosi daripada lereng bagian atas, dikarenakan
momentum dan kecepatan air larian akan lebih terkonsentrasi ketika mencapai lereng
bagian bagian bawah. Daerah tropis dengan gunung berapi dengan topografi
bergelombang dan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun seperti Indonesia akan
lebih berpotensi besar untuk terjadinya erosi dan tanah longsor. Oleh karena itu pada
program konservasi tanah dan air di daerah tropis, usaha-usaha pelandaian
permukaan tanah seperti pembuatan teras di lahan-lahan pertanian, peruntukan tanah-
tanah dengan kemiringan lereng besar untuk kawasan lindung kerapkali dilakukan.

12.4.4. Vegetasi Penutup Tanah


Pengaruh vegetasi penutup tanah terhadap erosi adalah: a) melindungi
permukaan tanah dari tumbukan air hujan (menurunkan kecepatan terminal dan
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

memperkecil diameter air hujan), b) menurunkan kecepatan dan volume air larian, c)
menahan partikel-partikel tanah pada tempatnya melalui sistemperakaran dan seresah
yang dihasilkan, d) mempertahankan kemantapan kapasitas tanah dalam menyerap
air.
Yang lebih berperan penting dalam mengurangi erosi adalah rapat tidaknya
tumbuhan yang ada di bawah tajuk tanaman. Semakin rapat tumbuhan bawah maka
semakin efektif dalam melakukan perlindungan terhadap struktur tanah permukaan,
sehingga dapat memperkecil lajunya air larian yang akan berpotensi dalam
pengupasan permukaan tanah. Oleh karena itu dalam melakukan program konservasi
tanah dan air harus dilakukan dengan cara vegetatif dengan jalan mengatur
sedemikian rupa sehingga tegakan (vegetasi) hutan mempunyai struktur tajuk yang
berlapis dan tanaman bawah yang rapat.

12.5. Model-Model Prediksi Erosi


Model erosi tanah dapat diklasifikasikan men‫ز‬adi tiga, yaitu model empiris,
model fisik dan model konseptual. Model empiris didasarkan pada variabel- variabel
penting yang diperoleh dari penelitian dan pengamatan selama proses erosi terjadi.
Model prediksi erosi secara umum menggunakan model empiris, terutama model-
model kotak kelabu. Model-model kotak kelabu yang sangat penting adalah:
a) Model regresi ganda (multiple regression)
b) Universal Soil Loss Equation (USLE)
c) Modifikasi USLE (MUSLE)
Model regresi ganda digunakan untuk memprediksi yil sedimen jangka
panjang atau tahunan pada suatu DAS. Model regresi ganda merupakan persamaan
regresi ganda yang mengkorelasikan antara yil sedimen dan beberapa variabel yang
tersedia untuk DAS-DAS tertentu telah banyak dikembangkan. Tetapi hasil dari
regresi ganda tidak dapat digunakan untuk DAS lain, pemakaiannya terbatas pada
lokasi dimana model itu dikembangkan. Suripin (2004) dalam studinya untuk anak-
anak sungai di Solo Hulu, setelah menganalisis sembilan parameter DAS
mendapatkan persamaan yang paling tepat dengan melibatkan tiga variabel sebagai
berikut:

(2)
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Dimana:
SY = yil sedimen tahunan (ton/ha/tahun)
Qwa = debit tahunan (mm)
S = kemiringan rata-rata DAS (%)
Dd = kerapatan drainase (panjang total sungai per luas DAS)

Model USLE adalah metode yang paling umum digunakan. Metoda USLE
dapat dimanfaatkan untuk memprakirakan besarnya erosi untuk berbagai macam
kondisi tataguna lahan dan kondisi iklim yang berbeda. USLE memungkinkan
perencana memprediksi laju erosi rata-rata lahan tertentu.
Pada bagian lain, erosi juga diartikan suatu perkiraan jumlah tanah hilang
maksimum yang akan terjadi pada sebidang lahan, bila pengelolaan tanaman dan
konservasi tanah tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu yang panjang.
Perkiraan jumlah tanah hilang maksimum diperhitungkan dengan rumus yang telah
dikembangkan oleh Smith & Wischmeier atau dikenal sebagai Universal Soil Lost
Equation (USLE), yaitu :

A = R x K x LS x C x P (3)

Dimana :
A = jumlah tanah hilang maksimum dalam ton/ha/tahun
R = faktor erosivitas hujan
K = faktor erodibilitas tanah
LS = indeks panjang dan kemiringan lereng
C = indeks pengelolaan tanaman
P = indeks teknik konservasi tanah

Dari uraian di atas tampak bahwa untuk LS, C, dan P tidak memiliki satuan karena
semuanya dinyatakan dalam indeks.

a. Faktor Erosivitas Hujan (R)


Indeks erosivitas hujan dapat diperoleh dengan menghitung besarnya energi
kinetik hujan (Ek) yang ditimbulkan oleh intensitas hujan maksimum selama 30
menit (EI30) atau energi kinetic hujan dari intensitas hujan yang lebih besar dari 25
mm dalam satu jam (KE > 1). Untuk menghitung EI30 atau KE > 1 diperlukan data
curah hujan yang diperoleh dari pencatat hujan otomatik. Padahal data ini tidak
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

selalu tersedia di setiap wilayah, maka untuk menghitung harga indeks erosivitas
hujan (R) dapat ditempuh dengan menggunakan :
a). Peta Iso–erodent
Peta tersebut untuk wilayahS Jawa dan Madura telah tersedia, yang dibuat
oleh Bolls (1978), atau Menggunakan data curah hujan (data sekunder) dari pencatat
hujan otomatik atau manual dan kemudian dapat disusun peta iso-erodentnya.
b). Curah hujan harian
Bila tersedia data curah hujan harian dari penakar curah hujan tidak otomatik,
maka nilai erosivitas bulanan (Rm) dapat dihitung dengan menjumlahkan erosivitas
hujan harian (RH) selama satu bulan. Nilai / harga erosivitas harian (RH) dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

2,467 (Rh)2
RH = --------------------------- (4)
(0,02727 Rh + 0,725)

dimana :
RH = erosivitas hujan harian
Rh = curah hujan harian (dalam Cm)

c). Curah hujan bulanan


Bila tersedia curah hujan bulanan dari penakar hujan tidak otomatik, maka
nilai/harga erosivitas hujan bulanan (Rm) dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:

1,21 -0,47 0,53


Rm = 6,119 (Rain) . (Days) . (Max . P)
m m (5)

dimana :
Rm = erosivitas hujan bulanan
(Rain)m = curah hujan bulanan(cm)
(Days) m = banyaknya hari hujan
(Max.P)m = hujan harian maksimum (cm)
Bila data jumlah curah hujan harian maksimum rata-rata (max.P)m dan banyaknya
hari hujan tidak tersedia (Stasiun Penakar Hujan Tidak Otomatik), maka nilai/harga
erosivitas hujan bulanan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

1,36
RM = 2,21 (Rain)m (6)

dimana :
RM = erosivitas hujan bulanan
(Rain)m = curah hujan bulanan (cm)

b. Faktor Erodibilitas Tanah (K)


Besarnya nilai K ditentukan oleh : tekstur, struktur, permeabilitas, dan bahan
organik tanah (Wischmeier, Johnson, dan Cross, 1971). Penentuan besarnya nilai K
dapat dengan menggunakan nomograph dan rumus berikut :
a). Penentuan nilai K dengan menggunakan nomograph
Atas dasar data yang tersedia, penggunaan nomograph ada dua cara yaitu :
Bila data yang tersedia : tekstur tanah dalam fraksi (debu, pasir sangat halus dan
pasir), % bahan organik struktur tanah, dan permeabilitas tanah, maka penggunaan
nomograph adalah sebagai berikut (lihat Gambar 146.)
Prosentase debu dan pasir sangat halus yang sudah diketahui, ditetapkan pada
titik yang bersesuaian pada sumbu tegak sebelah kiri dari nomographdari titik
tersebut tariklah garis horizontal hingga memotong grafik prosentase pasir yang
bersesuaian dari titik perpotongan ini tarik garis vertikal hingga memotong grafik
klas bahan organik yang bersesuaian dari titik perpotongan ini tarik garis horizontal
ke kanan hingga memotong grafik klas struktur tanah dari titik perpotongan ini tarik
garis vertikal ke bawah hingga memotong grafik klas permeabilitas tanah yang
bersesuaian.
Dari titik perpotongan tersebut tarik garis horizontal ke kiri hingga memotong
skala indeks erodibilitas K, skala tersebut harus dibaca persepuluhan. Untuk jelasnya
dapat dilihat dalam Contoh (penggunaan nomograph).

Bila data yang tersedia : klas tekstur tanah : lempung berat, lempung sedang,
lempung pasiran, lempung ringan, dan seterusnya (lihat Tabel 2.); % bahan organik
struktur tanah, dan permeabilitas tanah, nilai tekstur tanah yang sudah diketahui,
(lihat Tabel 2.), ditetapkan pada titik yang bersesuaian pada sumbu datar nomograph
yang mempunyai nilai antara 0 – 80. (lihat Gambar 1.). Dari titik ini ditarik garis
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

vertikal hingga memotong grafik % bahan organic yang bersesuaian dari titik
perpotongan ini ditarik garis horizontal ke kanan hingga memotong grafik klas
struktur tanah (lihat Tabel 4.). Dari titik perpotongan ini ditarik garis vertical ke
bawah sehingga memotong grafik klas permeabilitas tanah yang bersesuaian (lihat
Tabel 5.). Dari titik perpotongan tersebut tarik garis horizontal ke kiri hingga
memotong skala indeks erodibilitas (K), skala tersebut harus dibaca persepuluh.
Untuk jelasnya dapat dilihat pada contoh (penggunaan nomograph).

Gambar 146. Nomograph Erodibilitas Tanah untuk Menghitang Indeks K dalam Sistem
Metrik (FAO, 1977, menurut Wischmeier et. Al, 1971)

Contoh penggunaan nomograph

Bila data g tersedia :


prosentase debu dan pasir sangat halus : 65%
prosentase pasir kasar : 5%
prosentase bahan organik : 3%
struktur tanah granuler halus : 2
permeabilitas tanah lambat sampai sedang : 4
Arah garis hitam ( ------> ) menunjukan prosedur penentuan nilai K (nilai K : 0,40 ).
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Bila data yang tersedia :


tekstur tanah : geluh pasiran (sandy loam) nilai : 15
prosentase bahan organik : 32
struktur tanah : granuler halus :2
permeabilitas tanah : lambat – sedang :4
Arah garis putus-putus ( -------> ) menunjukkan prosedur penentuan nilai K (nilai K :
0,37).

Penentuan nilai K dengan menggunakan Rumus Menurut Hammer (1978),


perhitungan nilai K dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

1,14 -4
2,713 M (10 ) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)
(7)
K = -----------------------------------------------------------------
100

dimana :
M : parameter ukuran butir yang diperoleh sebagai berikut :
M = (% debu + % pasir sangat halus ) (100 % liat)
Bila data tekstur yang tersedia hanya fraksi pasir, debu dan liat, % pasir sangat halus
dapat diduga sepertiga dari % pasir.
a : % bahan organic ( %c x 1,724 )
b : kode struktur tanah (lihat Tabel 4.)
c : kode permeabilitas tanah (lihat Tabel 5.)

Bila data tekstur secara kuantitatif tidak tersedia/diketahui maka untuk


mendapatkan nilai M dapat digunakan Tabel 17. Bila data bahan organik yang
tersedia berupa klas penilaian bahan organik menggunakan Tabel 19. (nilai a = …%
x 1,724). Untuk kadar bahan organik > 6% ( agak tinggi – sangat tinggi), angka 6%
tersebut digunakan sebagai angka maksimum Penilaian struktur dan permeabilitas
tanah masing-masing menggunakan Tabel 18 dan 21.

Contoh : penggunaan rumus untuk menentukan/menghitung nilai Erodibilitas Tanah


(K)

Apabila data yang tersedia :


tekstur tanah : geluh pasiran (sandy loam)
nilai M : 4005 (Tabel 1.)
prosentase bahan organik : 3% (Tabel 3.)
Nilai a = 3 % x 1.724
a = 5,172 % ~ 0,05172
struktur tanah (b) : granuler halus : 2 (Tabel 4.)
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

permeabilitas tanah (c) : lambat – sedang (Tabel 5.)

2,713M 1,14(10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)


K = -------------------------------------------------------------
100

2,713(4005) 1,14(10 -4) (12-0,05172) + 3,25 (2-2) + 2,5 (4-3)


K = -------------------------------------------------------------
100

34706,97(10 -4) (11,948) + 3,25 (0) + 2,5 (1)


K = -----------------------------------------------------------
100

414688,595(10 -4) + 0 + 2,5


K = ----------------------------------------
100

41,4688595 + 2,5
K = --------------------------
100

K = 0,43

Tabel 17. Penilaian ukuran butir (M) untuk digunakan dalam rumus nomograph
(Hammer, 1978)
Kelas tekstur Nilai M Kelas tekstur Nilai M
(USDA) (USDA)
Heavy clay 210 Loamy sand 38
Medium clay 750 Silty clay loam 43
Sandy clay 1213 Sandy loam 45
Light clay 1685 Loam 45
Sandy clay loam 2160 Silt loam 46
Silty clay 2830 Silt 68
Clay loam 2830 Tidak diketahui 74
Sand 3035

Tabel 18. Penilaian tekstur lapangan untuk dipergunakan dalam nomograph


(Hammer, 1978)
Tekstur Penilaian Tekstur Penilaian
Lempung berat 2 Geluh lempung debuan 3245
(heavy clay) (silty clay loam)
Lempung sedang 15 Pasir 3770
(medium clay) (sand)
Lempung pasiran 16 Geluh pasiran 4005
(sand clay) (sandy loam)
Lempung ringan 20 Pasir geluhan 4390
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

(light clay) (loamy sand)


Lempung debuan 23 Geluh 6330
(silty clay) (loam)
Geluh lempung 26 Geluh debuan 8245
pasiran (silt loam)
(sandy clay loam)
Geluh lempungan 33 Debu 4000
(clay loam) (silt)

Tabel 19. Klas kandungan bahan organik


Klas Prosentase
0 Sangat rendah <1
1 Rendah 1–2
2 Sedang 2,1 – 3
3 Tinggi 3,1 – 5
4 Sangat tinggi > 5 (gambut)

Tabel 20. Penilaian struktur tanah (Hammer, 1978)


Tipe struktur Penilaian
Granuler sangat hlus (very fine granular) 1
Granuler halus (fine granuler) 2
Granuler sedang dan besar (medium, coarse 3
granular)
Gumpal, lempeng, pejal (block, platty, massif) 4

Tabel 21. Penilaian permeabilitas tanah (Hammer, 1978)


Klas permeabilitas Cm/jam Penilaian

Cepat (rapid) > 25,4 1


Sedang sampai cepat (moderate to rapid) 12,7 – 25,4 2
Sedang (moderate) 6,3 – 12,7 3
Sedang sampai lambat (moderate to slow) 2,0 – 6,3 4
Lambat (slow) 0,5 – 2,0 5
Sangat lambat (very slow) < 0,5 6

Tabel 22. Prakiraan besarnya nilai K untuk jenis tanah di daerah tangkapan air
Jatiluhur, Jawa Barat (Lembaga Ekologi, 1979)
Jenis Klasifikasi Tanah Nilai K rata-rata (metrik)
Latosol merah 0,12
Latosol merah kuning 0,26
Latosol coklat 0,23
Latosol 0,31
Regosol 0,12 – 0,16
Regosol 0,29
Regosol 0,31
Gley humic 0,13
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Gley humic 0,26


Gley humic 0,20
Lithosol 0,16
Lithosol 0,29
Grumosol 0,21
Hydromorf abu-abu 0,20
Sumber : Asdak (2010)

c Indeks Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)


Klas kemiringan lereng ditentukan dengan cara membuat jaring-jaring yang
berjarak tetap pada peta topografi yaitu 1 cm baik untuk peta topografi skala 1 :
50.000 maupun 1 : 100.000. untuk menghitung besarnya kemiringan lereng (S)
digunakan rumus :

( n-1 ) x Ci
S = ------------------ x 100 %
√2a2 (8)

dimana :
S = kemiringan lereng dalam ( %)
n = jumlah garis kontur yang memotong diagonal jarring-jaring
Ci = kontur interval dalam (m)
a = panjang jarring-jaring dalam (m)

Panjang lereng (λ) diukur mulai dari igir hingga pinggir sungai pada peta
topografi. Pada masing-masing unit lahan digunakan nilai rata-rata dari minimal 10
kali pengukuran. Untuk memperoleh harga panjang lereng sebenarnya digunakan
persamaan :

λp
∑ 1
λ = --------- : -------
10 cos α (9)

dimana :
λ : panjang lereng sebenarnya (m)
λp : panjang lereng yang diukur pada peta (cm)
α : sudut kemiringan lereng dalam derajat

λ
LS = √ ------ ( 1,38 + 0,965 S + 0,138 S2) (10)
100
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Rumus tersebut berlaku untuk lahan dengan kemiringan < 22% . sedang untuk lahan
dengan kemiringan yang lebih curam digunakan rumus Gregory et al (1977) sebagai
berikut :

λ
T = [--------]m . C . (cos α) 1,503[0,5 (sin α ) 1,249 + (sin α)2,149] (11)
2,21

dimana :
T : panjang lereng (m)
m : 0,5 untuk lereng 5 % atau lebih
0,4 untuk lereng 3,5 % - 4,9 %
0,3 untuk lereng < 3,4 %
C : 34,7046
α : sudut kemiringan lereng (o)

Adapun klas kemiringan lereng yang digunakan seperti tersebut pada Tabel 23.

Tabel 23. Klas Kemiringan Lereng (S)


Klas % Indeks (S)
1 0–8 0,4
2 8 – 15 1,4
3 15 – 25 3,1
4 25 – 45 6,8
5 > 45 >9,5

Apabila sulit untuk mendapatkan/menghitung panjang lereng, maka pengaruh


panjang lereng dapat diabaikan dan yang berpengaruh hanya kemiringan lereng
(kemiringan lereng berpengaruh 3 x panjang lereng terhadap erosi). sehingga faktor
LS dapat dinilai (gunakan Tabel 24.).

Table 24. Penilaian Klas Kemiringan Lereng (LS)


Kemiringan lereng % Penilaian
0–5 0,25
5 – 15 1,20
15 – 35 4,25
35 – 50 9,50
> 50 12,00
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Kajian yang telah dilakukan untuk menentukan angka penyimpangan dari


pemakaian rumus USLE dimana menggunakan kemiringan lereng maksimum yang
dipergunakan adalah kemiringan lereng pada plot percobaan (ladang pertanian)
sebesar 25 %. Pemakaian rumus USLE untuk daerah aliran sungai dengan topografi
bergelombang (tipikal DAS di Indonesia) akan memberikan hasil yang over estimate
(Brooks at al, 1988). Dengan demikian faktor S pada rumus USLE perlu
“dikoreksi”, sebelum dimanfaatkan.
Seringkali dalam perkiraan erosi menggunakan rumus USLE komponen
panjang dan kemiringan lereng (L dan S) diintegrasikan sebagai faktor LS dan
dihitung dengan menggunakan rumus :

LS = L1/2. (0,00138 S2 + 0,00965 S + 0,0138) (12)


Dimana:
L = panjang lereng (m)
S = kemiringan lereng (%)

Rumus di atas diperoleh dari percobaan dengan menggunakan plot erosi pada
lereng 3 – 18 %. Sehingga kurang memadai untuk topografi dengan kemiringan
lereng terjal. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Harper (1988), bahwa
perhitungan erosi akan menghasilkan nilai over estimate (penaksiran lebih) pada
kemiringan lereng lebih besar dari 20 %. Untuk lahan berlereng terjal disarankan
menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Foster and Wischmeier (1973) sebagai
berikut :

LS = [(l/22)m . C . (cos α)1.50 . (0,5 (sin α)1.25 + (sin α)2.25] (13)

Dimana:
m = 0,5 untuk lereng 5 % atau lebih
0,4 untuk lereng 3,5 – 4,9%
0,3 untuk lereng 3,5%
C = 34,71
α = sudut lereng
l = panjang lereng (m)
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Besarnya nilai LS dapat juga memanfaatkan besaran nilai LS yang didasarkan


pada keadaan panjang dan gradien kemiringan lereng di lapangan seperti pada Tabel
25.

Tabel 25. Nilai LS berdasarkan panjang dan gradien kemiringan lereng (diadaptasi dari
Goldman et al., 1986)
Nilai LS menurut panjang lereng (m)
Kemiringan lereng, s (%)
3,0 6,1 9,1 17.7 15,2 18,3 21,3 24,4 27,4 30,5

0,5 0,06 0,07 0,07 0,08 0,08 0,09 0,09 0,09 0,09 0,10
1 0,08 0,09 0,‫ا‬0 0,10 0,11 0,11 0,12 0,12 0,12 0,12
2 0,10 0,12 0,14 0,15 0,16 0,17 0,18 0,19 0,19 0,20
3 0,14 0.18 0,20 0,22 0,23 0,25 0,26 0,27 0,28 0,29
4 0,16 0,21 0,25 0,28 0,30 0,33 0,35 0,37 0,38 0,40
5 0,17 0,24 0,29 0,34 0,38 0,41 0,45 0,48 0,51 0,53
6 0,21 0,30 0,37 0,43 0,48 0,52 0,56 0,60 0,64 0,67
7 0,26 0,37 0,45 0,52 0,58 0,64 0,69 0,74 0,78 0,82
8 0,31 0,44 0,54 0,63 0,70 0,77 0,83 0,89 0,94 0,99
9 0,37 0,52 0,64 0,74 0,83 0,91 0,98 1,05 1, 11 1,17
10 0,43 0,61 0,75 0,87 0,97 1,06 1,15 1,22 1,30 1,37
12,5 0,61 0,86 1,05 1,22 1,36 1,49 1,61 1,72 1.82 ‫ ا‬,92
15 0,81 1,14 1,40 1,62 1,81 1.98 2,14 2,29 2,43 2,56
20 1,29 1.82 2,23 2,58 2.88 3,16 3,41 3,65 3,87 4,08
22 1,51 2,13 2,61 3,02 3,37 3,69 3,99 4,27 4,53 4,77
25 1.86 2,63 3,23 3,73 4,16 4,56 4,93 5,27 5,59 5,89
30 2,51 3,56 4,36 5,03 5,62 6,16 6,65 7,11 7,54 7,95
35 3,23 4,57 5,60 6,46 7,23 7,92 8,55 9,14 9,70 10,22
40 4,00 5,66 6,93 8,00 8,95 9,80 10,59 11,32 12,00 12,65
45 4,81 6,80 8,33 9,61 10,75 ‫ ا‬1,77 12,72 13,60 14,42 15,20
50 5,64 7,97 9,76 11,27 12,60 13,81 14,91 15,94 16,91 17,82
55 6,48 9,16 11,22 12,96 14,48 15,87 17,14 18,32 19,43 20,48
57 6,82 9,64 11,80 13,63 15,24 16,69 18,03 19,28 20,45 21,55
60 7,32 10,35 12,68 14,64 16,37 17,93 19,37 20,71 21,96 23,15
66,7 8,44 11,93 14,61 16,88 18,87 20,67 22,32 23,87 25,31 26,68
70 8,98 12,70 15,55 17,96 20,08 21,99 23,75 25,39 26,93 28,39
75 9,78 13,83 16.94 19,56 ?1 87 23,95 25,87 27,66 29,34 30,92
80 10,55 14,93 18,28 21,11 23,60 25,85 27,93 29,85 31,66 33,38
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

85 11,30 15,98 19.58 22,61 25,27 27,69 29,90 31,97 33,91 35,74
90 12,02 17,00 20,82 24,04 26,88 29,44 31,80 34,00 36,06 38,01
95 12,71 17,97 22,01 25,41 28,41 31,12 33,62 35,94 38,12 40,18
100 13,36 18,89 23,14 26,72 29,87 32,72 35,34 37,78 40,08 42,24

Keterangan:
Nilai LS dihitung dengan rumus :
LS = [(65,41 x s2) / (s2 + 10.000) + (4,56 x s) / (s2 + 10.000)-2 + 0,07] . [(l/72,5)m]

dimana:
LS = faktor topografi
l = panjang lereng (m); s = kemiringan lereng
m = angka tetapan, besarnya tergantung pada kemiringan lereng
0,2 untuk kemiringan lereng < 1 % ; 0,3 untuk kemiringan lereng 1 – 3%
0,4, untuk kemiringan lereng 3,5 – 4,5 %
0,5, untuk kemiringan lereng > 5 %

Tabel 26. Nilai LS berdasarkan panjang dan gradien kemiringan lereng (diadaptasi dari
Goldman et al., 1986) (Lanjutan)
Nilai LS menurut panjang lereng (m)
Kemiringan Lereng s (%)
46 61 76 91 107 122 137 152 183 213 244 274

0,5 0,10 0,11 0,11 0,12 0,12 0.13 0,13 0,13 0,14 0.14 0,14 0,15
١ 0.14 0,14 0,15 0,16 0,16 0,16 0,17 0,17 0,18 0,18 0,19 0,19
2 0,23 0,25 0,26 0,28 0,29 0,30 0,32 0,33 0,34 0,36 0,37 0.39
3 0.32 0,35 0,38 0,40 0.42 0,43 0,45 0,46 0,49 0,51 0,54 0,55
4 0,47 0,53 0,58 0,62 0,66 0,70 0,73 0,76 0,82 0,87 0,92 0,96
5 0,66 0,76 0,85 0,93 ‫ ا‬٨٨ 1,07 ‫ ا‬١٦ 1,20 1,31 1,42 1,51 60, [
6 0,82 0,95 1,06 1,16 1,26 1,34 1,42 1,50 1,65 1,78 1,90 2,02
7 101 1,17 1,30 1,43 1.54 1.65 1,75 ‫ ا‬,84 2,02 2,18 2,33 47 7
8 1,21 1,40 1,57 1,72 1,85 1,98 2,10 2,22 2,43 2,62 2,80 2,97
9 1,44 1,66 1,85 2,03 2,19 2,35 2,49 2,62 ?.87 3,10 3,32 3,52
10 1,68 1,94 2,16 2,37 2,56 2,74 2,90 3,06 3,35 3,62 3,87 4,11
12,5 2,35 2,72 3,04 3,33 3,59 3,84 4,08 4,30 4,71 5,08 5,43 5,76
15 3,13 3,62 4,05 4,43 4,79 5,12 5,43 5,72 5,27 6,77 7,24 7,68
20 5,00 5,77 6,45 7,06 7,63 8,16 8,65 9,12 9.99 10,79 11,54 12,24
22 5,84 6,75 7,54 8,26 8,92 9,54 10,12 10,67 11,68 12,62 13,49 14,31
25 771 8,33 9,31 10,20 11,2 11,78 12,49 13,17 14,43 15,58 16,66 17,67
30 9,74 11,25 12,57 13,77 14,88 15,91 16,87 17,78 19,48 21,04 22,49 23,86
35 12,52 14,46 16.16 17,70 19,12 20,44 21,68 22,86 25,04 27,04 28,91 30,67
40 15,50 17,89 20,01 21,91 23,67 25,30 26,84 28,29 30,99 33,48 35,79 37,96
45 18,62 21,50 24,03 26,33 28,44 30,40 32,24 33,99 37,23 40,22 42,99 45,60
50 21,8.3 25,21 28,18 30,87. 33,34 35,65 37,81. 39,85 43,66 47,16 50,41 53,47
55 25,09 28,97 32,39 35,48 38,32 40,97 43,45 45,80 50,18 54,20 57,94 61,45
60 28,35 32,74 36,60 40,10 43,31 46,30 49,11 51,77 56,71 61,25 65,48 69,45
66,7 32,68 37.74 42.19 46.22 49.92 53,37 56,60 59,66 65,36 70,60 75,47 80,05
70 34,77 40,15 44.89 49,17 53,11 56,78 60.23 63,48 69.54 75,12 80,30 85,17
75 37,87 43,73 48.89 53,56 57,85 61.85 65,60 69,15 75,75 81,82 87,46 92,77
80 40,88 47,20 52.77 57,81 62,44 66,75 70,80 74,63 81,76 88,31 94,41 100.1
85 43,78 50,55 56.51 61,91 66,87 71,48 75,82 79,92 87,55 94,57 101,09 3
107,2
90 46,55 53,76 60,10 65,84 71.11 76,02 80,63 84,99 93,11 100,5 107,51 3
114,0
95 49,21 56,82 63,53 69,59 75,17 80,36 85,23 89,84 98,42 7
106.3 113,64 3
120,5
100 51,74 59,74 66,79 73,17 79,03 84,49 89,61 94,46 103,48 0
111.7 119,48 4
126,7
7 3
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

d. Faktor Pengelolaan Tanaman (C)


Pada dasarnya penentuan besarnya indeks C ini sangat rumit/sulit karena
harus mempertimbangkan sifat perlindungan tanaman terhadap erosivitas hujan. Sifat
perlindungan tanaman harus dinilai sejak dari pengolahan lahan hingga panen,
bahkan hingga penanaman berikutnya. Disamping itu penyebaran hujan selama satu
tahun juga perlu memperoleh perhatian. Untuk menghemat waktu maka untuk
menentukan besaran indeks C tanpa mengurangi ketelitian yang hendak dicapai
dapat ditempuh cara sebagai berikut :
Untuk jenis tanaman-tanaman tunggal dapat dipergunakan Tabel 27. Untuk
jenis tanaman dengan rotasi tanam tertentu atau dengan cara pengelolaan pertanian
tertentu dapat dipergunakan Tabel 9. Bila untuk sebidang lahan terdapat rotasi tanam
atau cara pengelolaan tanaman yang tidak tercantum pada tabel distas maka dapat
ditempuh dengan langsung memperhitungkan nilai indeks factor konservasi tanah
tersebut pada Tabel 10.

e. Indeks Konservasi Tanah (P)


Yang dimaksud dengan konservasi tanah di sini tidakan hanya tindak
konservasi secara mekanika atau fisis saja, tetapi termasuk juga berbagai macam
usaha yang bertujuan mengurangi erosi tanah.
Interpretasi foto udara dengan skala 1 : 50.000 atau yang lebih kecil, agak
sukar untuk mendeteksi tindak konservasi tanah yang berlangsung di sutu unit lahan.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut kiranya uji-medan maupun informai yang
tersedia akan sangat membantu. Selanjutnya indeks konservasi tanah ditentukan
berdasarkan Tabel 27.

Tabel 27. Nilai faktor C dengan pertanaman tunggal (Abdulrachman, Sopiyah, dan
Undang, 1981) dan (Hammer, 1981)
No. Jenis tanaman Abdulrachman cs. Hammer
1. Rumput Brachiaria decumbers 0,287 0,3
tahun I
2. Rumput Brachiaria decumbers 0,002 0,02
tahun II
3. Kacang tunggak 0,161 -
4. Sorghum 0,242 -
5. Ubi kayu - 0,8
6. Kedelai 0,399 -
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

7. Serai wangi 0,434 0,4


8. Kacang tanah 0,200 0,2
9. Padi (lahan kering) 0,561 0,5
10. Jagung 0,637 0,7
11. Padi sawah 0,010 0,01
12. Kentang - 0,4
13. Kapas, tembakau 0,5 – 0,7*) -
14. Nanas dengan penanaman
menurut kontur :
dengan mulsa dibakar 0,2 – 0,5*) -
dengan mulsa dibenam 0,1 – 0,3*) -
*)
dengan mulsa dipermukaan 0,01 -

15. Tebu - 0,2


16. Pisang (jarang yang - 0,6
monokultur)
17. Talas - 0,86
18. Cabe, jahe, dll - 0,9
19. Kebun campuran (rapat) - 0,1
Kebun campuran
ubi kayu + kedelai - 0,2
Kebun campuran gude + kacang
tanah (jarang) 0,495 0,5
20. Ladang bepindah - 0,4
21. Tanah kosong diolah 1,00 1,0
22. Tanah kosong tak diolah - 0,95
23. Hutan tak terganggu 0,001 -
24. Semak tak terganggu 0,010 -
Sebagian berumput 0.100 -
25. Alang-alang permanent 0,020 -
26. Alang-alang dibakar 1 kali 0,700 -
27. Semak lantana 0,510 -
28. Albizia dengan semak campuran 0,012 -
29. Albizia bersih tanpa semak dan 1,000 -
tanpa serasah
30. Pohon tanpa semak 0,320 -
31. Kentang ditanam searah lereng 1,000 -
32. Kentang ditanam menurut 0,350 -
kontur
33. Pohon-pohon di bawahnya 0,210 -
dipacul (diolah)
34. Bawang daun ditanam dalam 0,090 -
bedengan
*)
Sumber : Roose, 1977.

Tabel 28. Nilai Faktor C dengan Berbagai Pengelolaan Tanaman (Abdurachman,


Sopiyah, dan Undang, 1981)
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

No. Pengelolaan Pertanian Nilai C


1. Ubi kayu + kedelai 0,181
2. Ubi kayu + kacang tanah 0,195
3. Padi + sorghum 0,345
4. Padi + kedelai 0,417
5. Kacang tanah + gude 0,495
6. Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha 0,049
7. Kacang tanah + kacang tunggak 0,571
8. Padi + mulsa jerami 4 ton/ha 0,096
9. Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ha 0,120
10. Kacang tanah 0,136
11. Kacang tanah + mulsa kacang tanah 0,259
12. Kacang tanah + mulsa jerami 0,377
13. Padi + mulsa crotalaria 3 ton/ha 0,387
14. Pola tanam tumpang gilir *) + mulsa jerami 6 0,079
ton/ha/tahun
15. Pola tanam berurutan **) + mulsa sisa tanaman 0,347
16. Pola tanam berurutan 0,498
17. Pola tanam tumpang gilir + mulsa sisa tanaman 0,357
18. Pola tanam tumpang gilir 0,588
Keterangan : *) jagung – padi – ubi kayu, setelah panen padi kemudian ditanam kacang tanah
**)
Padi – jagung – kacang tanah

Table 29. Nilai faktor P (Konservasi Tanah)


No. Teknik konservasi Tanah Nilai
1. Teras bangku
Sempurna 0,04
Sedang 0,15
Jelek 0,35
2. Teras tradisional 0,40
3. Padang rumput (permanent grass field)
Bagus 0,04
Jelek 0,40
4. Hill side ditch atau field pits 0,3
5. Contour cropping
Dengan kemiringan 0 – 8% 0,5
Dengan kemiringan 9 – 20 % 0,75
Dengan kemiringan > 20 % 0,9
6. Limbah jerami yang digunakan
6 ton/ha/tahun 0,3
3 ton/ha/tahun 0,5
1 ton/ha/tahun 0,8
7. Tanaman perkebunan
dengan penutup tanah rapat 0,1
dengan penutup tanah sedang 0,5
8. Reboisasi dengan penutup tanah pada tahun 0,3
awal
9. Strip cropping jagung – kacang tanah. Sisa
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

tanaman dijadikan mulsa 0,05


10. Jagung – kedelai, sisa tanaman dijadikan mulsa 0,087
11. Jagung – mulsa jerami padi 0,008
12. Padi gogo – kedelai, mulsa jerami 4 ton/ha 0,193
13. Kacang tanah – kacang hijau 0,73
14. Kacang tanah – kacang hijau – mulsa jerami 0,013
15. Padi gogo – jagung – kacang tanah + mulsa 0,267
16. Jagung + padi gogo + ubi kayu + kacang tanah,
sisa tanaman dijadikan mulsa 0,159
17. Teras gulud : padi – jagung 0,013
18. Teras gulud : sorghum – sorghum 0,041
19. Teras gulud : ketela pohon 0,063
20. Teras gulud : jagung – kacang tanah, mulsa +
sisa tanaman dijadikan mulsa 0,006
21. Teras gulud : kacang tanah + kedelai 0,105
22. Tersa gulud : padi – jagung – kacang tunggak,
kapur 2 ton/ha 0,012
23. Teras bangku : jagung – ubi kayu/kedelai 0,056
24. Teras bangku : sorghum – sorghum 0,024
25. Teras bangku : kacang tanah – kacang tanah 0,009
26. Teras bangku : tanpa tanaman 0,039
27. Serai wangi 0,537
28. Alang – alang 0,021
29. Ubi kayu 0,461
30. Sorghum – sorghum 0,341
31. Crotalaria ussaramuensisi 0,502
32. Padi gogo – jagung 0,209
33. Padi gogo – jagung – mulsa jerami 0,083
34. Padi gogo – jagung – kapur 2 ton/ha –
mulsa/pupuk kandang 10 – 20 ton/ha 0,030
35. Jagung + padi gogo + ubi kayu –
kedelai/kacang tanah 0,421
36. Jagung + kacang tanah – kacang hijau – mulsa 0,14
37. Strip crotalaria – sorghum – sorghum 0,261
38. Strip crotalaria – kacang tanah – ketela pohon 0,405
39. Strip crotalaria – padi gogo – kedelai 0,193
40. Strip rumput – padi gogo 0,841

Klasifikasi untuk indeks erosi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :

Tabel 30. Klasifikasi Indeks Erosi


Jumlah tanah hilang (ton/ha/tahun) Klas
< 15 Sangat ringan
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

15 – 60 Ringan
60 – 180 Menengah
180 – 480 Berat
> 480 Sangat berat

12.6. Keterbatasan Metode USLE


Dalam memanfaatkan rumus USLE terdapat keterbatasan yang harus
diketahui sehingga dapat diperoleh hasil perkiraan erosi yang memadai.
Pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemakaian rumus USLE
adalah (Asdak, 2010):
1. USLE bersifat empiris dan secara matematik tidak mewakili proses erosi
yang sebenarnya. Kesalahan dalam memprakirakan besarnya erosi dapat
dikurangi dengan menggunakan angka-angka tetapan yang seharusnya juga
bersifat empiris.
2. Persamaan matematik USLE dirancang untuk memperkirakan besarnya
kehilangan tanah rata-rata tahunan. Musim hujan yang lebih besar daripada
biasanya, terutama hujan dengan intensitas tinggi, dapat menghasilkan lebih
banyak sedimen daripada yang diprakirakan (penaksiran-kurang).
3. USLE hanya memprakirakan erosi kulit dan erosi alur dan tidak ditujukan
untuk menghitung erosi parit (Murchler, et al, 1998).
4. USLE tidak memperhitungkan endapan sedimen. Artinya, USLE hanya
memperkirakan besarnya tanah yang tererosi, tetapi tidak mempertimbangkan
deposisi sedimen dalam perhitungan besarnya prakiraan erosi.
5. Petak-petak erosi yang digunakan untuk mengukur besarnya erosi
mempunyai kemiringan antara 3-20% dan terletak di daerah iklim sedang. Di
daerah tropis, kebanyakan daerah aliran sungai mempunyai kombinasi
kemiringan lereng besar (>25%) dan curah hujan tinggi, oleh karenanya
pemakaian rumus USLE untuk memprakirakan besarnya erosi dapat
menghasilkan prakiraan yang lebih kecil daripada yang sesungguhnya terjadi
(penaksiran-kurang).
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

12.7. Modifikasi USLE


Dari beberapa kelemahan yang terdapat dalam perhitungan erosi dengan
menggunakan metode USLE, secara umum terdapat dua kelemahan dalam
pemakaiannya yaitu:
1. Endapan sedimen di dalam cekungan tidak diperhitungkan dalam persamaan.
2. Metode USLE lebih ditekankan penggunaannya untuk daerah pertanian yang
relatif datar dengan intensitas hujan tidak terlalu tinggi. Oleh karenanya,
beberapa usaha yang telah dilakukan untuk memodifikasi persamaan USLE
dengan harapan dapat diperoleh bentuk persamaan baru yang lebih sesuai
dengan daerah bukan pertanian. Usaha tersebut salah satunya dilakukan oleh
Snyder(1980) dengan persamaan berikut:

A = R.K.LS.VM (14)
Dimana:
A = erosi rata-rata tahunan (ton/ha)
R = indeks erosivitas
K = indes erodibilitas
LS = faktor topografi
VM = faktor konservasi tanah dan sistem pertanaman

Pengukuran nilai K langsung dari plot pengamatan air larian umumnya mahal
dan memerlukan waktu lama. Oleh karenanya besarnya nilai K dapat diprakirakan
dengan menggunakan nomograf erodibilitas tanah apabila besarnya persentase pasir,
unsur organik, struktur dan permeabilitas tanah diketahui. Untuk memprakirakan
besarnya erosi yang lebih teliti perhitungan harga K secara langsung di lapangan
atau pemakaian nilai K yang telah tersedia di daerah kajian lebih diutamakan.
Tetapi, bila nilai K untuk daerah penelitian belum tersedia, maka disarankan untuk
menggunakan nilai K hasil prakiraan dari nomograf erodibilitas tanah seperti pada
Tabel 22.
Ladang pertanian di negara tropis umumnya terletak di daerah dengan
kemiringan lereng relatif besar. Di darah tersebut tingkat bahaya erosinya tinggi.
Kemiringan lereng (s) dalam persen (%) dan panjang lereng (l) dalam satuan meter
secara kuantitatif terwakili oleh faktor-faktor S dan L dalam persamaan USLE. Nilai
L dan S dapat dihitung dengan menggunaan persamaan 13.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Tabel 31. Faktor VM untuk beberapa tipe vegetasi penutup tanah (U.S. Soil
Conservation Service, 1977)

Vegetasi Penutup Tumbuhan Bawah


1 2
Tipe dan Tinggi Tajuk Tajuk Persentase penutupan (%)
Penutup Tipe3 0 20 40 60 80 95-100

Kondisi tanpa G .45 .20 .10 .042 .013 .003


Tajuk W .45 .24 .15 .090 .043 .011
Semak-belukar 25 G .36 .17 .09 .038 017 .003
Rendah W .36 .20 .13 .082 .041 .011
(0,5 m dari tanah) 50 G .26 .13 .07 .035 .012 .003
W .26 .16 .11 .075 .039 .011
75 G .17 .10 .06 .031 .011 .003
W .17 .12 .09 .038 .038 0,11
Semak atau tanaman 25 G .40 .1‫؟‬ .09 .040 .013 .003
bawah lainnya W .40 .22 .14 .085 .042 .01]
(2 m dari tanah) 50 G .34 .16 .085 .038 .012 .003
W .34 .19 .13 .081 .041 .011
75 G .28 .14 .08 .036 .012 .003
W .28 .17 1? .077 .040 .011
Pohon-pohonan dng. 25 G .42 .19 .10 .041 .013 .003
sedikit semak W .42 .23 .14 .087 .042 .011
(4 m dari tanah) 50 G .39 .18 .09 .040 .013 .003
W .39 .21 .14 .085 042 .011
75 G .36 .17 .09 .039 .012 .003
W .36 .20 .13 .083 .041 .011
Asumsi yang digunakan: 1) penyebaran vegetasi/serasah secara acak, 2) ketebalan serasah cukup. Tanah tidak produktif dapat
diartikan sebagai tanah yang tidak dimanfaatkan selama tiga tahun berturut-turut. Juga dapat diartikan sebagai areal hutan yang
selesai dipungut hasilnya (kurang dari tiga tahun berselang).
1
Rata-rata ketinggian air jatuh bebas dari tajuk ke permukaan tanah
2
Bagian tanah yang terlindung tajuk tanaman bila dilihat dari atas (gambar tampak atas)
3
G = rumput atau tanaman yang menyerupai rumput, ketinggian sekitar 2,5 cm.
W = semak dengan tajuk daun lebar atau serasah yang beium membusuk.

Tabel 32. Faktor VM untuk daerah berhutan yang tidak terganggu (U.S. Soil
Conservation Service, 1977)
Tajuk efektif1 (%) Serasah Hutan2 (%) Nilai VM3
100 – 75 100 – 90 0,0001- 0,001
75 – 40 85 – 75 0,002 – 0,004
35 – 20 70 - 40 0,003 – 0,009
1
Bila luas tajuk efektif kurang dari 20 %, daerah tersebut dapat dianggap sebagai padang rumput atau tanah kosong/tidak
produktif.
2
Serasah hutan diasumsikan mempunyai ketebalan 2,5 cm pada daerah naungan.
3
Nilai “VM” berkaitan dengan daerah naungan. Tajuk yang rendah efektif dalam mengurangi dampak negatif air hujan
terhadap permukaan tanah dengan menurunkan nilai “VM”. Tajuk yang tinggi, lebih dari 13m, kurang efektif dalam
mengurangi dampak negatif air hujan, dan dengan demikian tidak berpengaruh terhadap besarnya nilai “VM”.

Faktor-faktor konservasi tanah dan sistem pertanaman yang ditentukan


berdasarkan kondisi lapangan yang telah dikeluarkan oleh U.S. Soil Conservation
Service (1977) tersebut pada Tabel 31 dan Tabel 32, untuk pemakaian di Indonesia
mungkin tidak akurat, tetapi apabila data VM tidak tersedia di lokasi penelitian, maka
angka tersebut memadai untuk digunakan sebagai perkiraan, terutama dalam
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

memprakirakan besarnya erosi di daerah-daerah non pertanian seperti hutan dan


daerah bervegetasi kayu lainnya.

Contoh soal :
Suatu penelitian untuk memprakirakan besarnya laju erosi (erosi kulit dan
erosi alur) akan dilakukan di salah satu Sub-DAS di Kalimantan Selatan yang
mempunyai luas 10.000 ha. Prakiraan besarnya erosi dilakukan dengan
memanfaatkan modifikasi rumus USLE. Berdasarkan hasil penguluran dilapangan
dapat diketahui besarnya masing-masing parameter sebagai berikut:
R = 1200 (diperkirakan dari persamaan 5)
K = 0,26 (diperkirakan dari nomograf K pada Gambar 146 atau persamaan 7)
LS = 10 (diperkirakan dari persamaan 13)
VM = 0,087 (diperkirakan dari persentase penutupan tanah adalah pohon-pohon
dengan sedikit semak dengan persentase penutupan 60 %).
Besarnya perkiraan erosi tahunan adalah sebagai berikut:
E = R x K x LS x VM = 1200 x 0,26 x 10 x 0,087 = 271,44 ton/ha

Total erosi sub-Das yang bersangkutan adalah 2.714.400 ton/tahun. Usaha-


usaha penghijauan dan reboisasi, sebagai salah satu program rehabilitasi tanah dan
air, dapat diantisipasi akan menghasilkan keadaan sebagai berikut:
Setengah dari luas sub-Das= hutan dengan penutupan tajuk (25%), rumput sebagai
vegetasi penutup tanah (60%). Setengah dari luas sub-Das = rumput sebagai penutup
tanah (80%), semak rendah dengan penutupan tajuk (50%).
Perubahan penutup tanah sebagai akibat kegiatan rehabilitasi diharapkan akan
dapat menurunkan laju erosi di tempat perubahan tersebut berlangsung. Perubahan
erosi yang diharapkan akan terjadi diperkirakan dengan menggunakan rumus USLE
dengan perubahan nilai VM (Tabel 31 dan Tabel 32) sesuai dengan aktivitas
rehabilitasi yang dilakukan. Perubahan erosi yang diperkirakan akan terjadi adalah
sebagai berikut:
E (1/2 luas sub-Das = 1200 x 0,26 x 10 x 0,041 = 127,92 ton/ha
E (1/2 luas sub-Das = 1200 x 0,26 x 10 x 0,013 = 40,56 ton/ha
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Laju erosi untuk wilayah sub-Das dengan program rehabilitasi adalah sebesar
1.279.200 ton/tahun. Dengan adanya program rehabilitas di sub-Das tersebut laju
erosi dapat ditekan menjadi 405.600 ton/tahun menurun sebesar 873.600 ton/tahun.

 LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan


Anda mengerjakan latihan berikut ini !

1. Buatlah rangkuman dari materi di atas dengan membentuk kelompok kerja


(satu kelompok minimal 2 orang).

2. Rangkuman yang telah anda lakukan selanjutnya dipresentasikan, sebelum


pelajaran pada materi selanjutnya.

 RANGKUMAN

Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah
atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin (Suripin, 2004). Penyebab
utama terjadinya erosi biasanya disebabkan oleh 2 sebab utama yaitu sebab alamiah
dan erosi yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Erosi merupakan tiga proses yang
berurutan, yaitu pelepasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan
pengendapan (deposition) bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi (Asdak, 1995).
Lima tipe erosi permukaan yaitu; erosi percikan (splash erosion), erosi alur
(riil erosion), erosi lembar (sheet erosion), erosi lembah (gully erosion) dan erosi
tebing (streambank erosion).
Metode pengukuran erosi permukaan biasa dilakukan dengan menggunakan
persamaan Universal Soil Loss Equition (USLE). Karena keterbatasan yang terdapat
pada persamaan USLE, persamaan dimodifikasi sesuai dengan kondisi lereng dan
slope serta jenis vegetasi yang ada di Indonesia menjadi persamaan MUSLE.
Empat faktor yang menyebabkan terjadinya erosi yaitu disebabkan oleh; faktor
iklim, topografi, tanah, dan vegetasi.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

BAB
SEDIMENTASI

Abdur Rahman
13
 PENDAHULUAN

SESI/PERKULIAHAN KE :

TIK : Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu :


1. Menjelaskan konsepsi sedimentasi
2. Menjelaskan proses sedimentasi, pembagian sedimentasi,
pengukuran sedimentasi, hasil sedimentasi dan upaya
pengendalian sedimentasi

Pokok Bahasan : Sedimentasi


Deskripsi Singkat : Dalam pertemuan ini Anda akan mempelajari konsep-
konsep sedimentasi, pembagian sedimentasi, pengukuran, hasil dan upaya
pengendalian sedimentasi

Pengantar Sedimentasi

Sedimentasi dapat didefinisikan sebagai pengangkutan, melayangnya


(suspensi) atau mengendapnya material fragmentasi oleh air. Sedimentasi merupakan
akibat adanya erosi, dan memberi banyak dampak di sungai, saluran, waduk,
bendungan atau pintu-pintu air, dan di sepanjang sungai (Soemarto, 1995).

13.1. Proses Pengangkutan Sedimen


Sedimen di dalam sungai, terlarut atau tidak terlarut, merupakan produk dari
pelapukan batuan induk yaitu partikel-partikel tanah. Begitu sedimen memasuki
badan sungai, maka berlangsunglah pengangkutan sedimen. Kecepatan
pengangkutan sedimen merupakan fungsi dari kecepatan aliran sungai dan ukuran
partikel sedimen. Partikel sedimen ukuran kecil seperti tanah liat dan debu dapat
diangkut aliran air dalam bentuk terlarut (wash load). Pasir halus bergerak dengan cara
melayang (suspended load), sedang partikel yang lebih besar antara lain, pasir kasar
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

cenderung bergerak dengan cara melompat (saltation load). Partikel yang lebih besar
dari pasir, misalnya kerikil (gravel) bergerak dengan cara merayap atau
menggelinding di dasar sungai (bed load) seperti tampak pada Gambar 147.

Gambar 147. Macam-macam pengangkutan sedimen (Asdak, 2010).

Karena bed load senantiasa bergerak, maka permukaan dasar sungai kadang-
kadang naik (agradasi), tetapi kadang-kadang turun (degradasi) dan naik turunnya
dasar sungai disebut alterasi dasar sungai (river bed alterasion). Wash load dan suspended
load tidak berpengaruh pada alterasi dasar sungai, tetapi dapat mengendap di dasar-
dasar waduk atau muara-muara sungai. Penghasil sedimen terbesar adalah erosi
permukaan lereng pegunungan, erosi sungai (dasar dan tebing alur sungai) dan
bahan-bahan hasil letusan gunung berapi yang masih aktif (Asdak, 1995).
Besarnya ukuran sedimen yang terangkut aliran air ditentukan oleh interaksi
faktor-faktor sebagai berikut: ukuran sedimen yang masuk ke badan sungai,
karakteristik saluran, debit dan karakteristik fisik partikel sedimen. Besarnya
sedimen yang masuk sungai dan besarnya debit ditentukan oleh faktor iklim,
topografi, geologi, vegetasi dan cara bercocok tanam di daerah tangkapan air yang
merupakan asal datangnya sedimen. Sedang karakteristik sungai yang penting,
terutama bentuk morfologi sungai, tingkat kekasaran dasar sungai dan kemiringan
sungai. Interaksi dari masing-masing faktor tersebut akan menentukan jumlah dan
tipe sedimen serta kecepatan pengangkutan sedimen (Asdak, 1995).
Berdasarkan pada jenis sedimen dan ukuran partikel-partikel tanah serta
komposis mineral bahan induk yang menyusunnya, dikenal bermacam-macam jenis
sedimen seperti pasir, liat dan sebagainya. Berdasarkan ukurannya, sedimen
dibedakan 4 jenis seperti pada Tabel 33 (Dunne dan Leopold, 1978).
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Tabel 33. Perbedaan jenis dan ukuran sedimen


Jenis Sedimen Ukuran partikel (mm)
Liat < 0,0039
Debu 0,0039 – 0,0625
Pasir 0,0625 – 2,0
Pasir Besar 2,0 – 64,0
Sumber : Dunne dan Leopold (1978)

13.2. Pengukuran Sedimen


13.2.1. Pengukuran Sedimen Melayang
Pengukuran sedimen dilakukan terhadap dua jenis sedimen yaitu a) sedimen
melayang (suspended sediment) dan sedimen merayap (bedload). Pengukuran
sedimen melayang dilakukan dengan cara pengambilan sampel air melalui alat
sediment sampler U.S.DH-48 yang terbuat dari bahan semacam aluminium yang
dilengkapi dengan rongga untuk menempatkan botol sampel seperti tampak pada
Gambar 148. Gambar tersebut menunjukkan dua cara pengukuran muatan sedimen
yang mempunyai prinsip kerja yang sama yaitu teknik depth-integrating suspended
sediment sampler. Perbedaannya hanya terletak pada model standar/baku, pada alat
pada Gambar 148a telah dibakukan (US.DH48) sedangkan pada alat kedua
merupakan alat modifikasi dari model US.DH-48.
Pada dasarnya kedua alat tersebut terdiri dari botol penampung air yang akan
ditentukan konsentrasi sedimennya, dan galah penyangga untuk menahan botol
penampung air (sediment sampler) agar dapat tetap di tempatnya. Alat tersebut
dilengkapi dengan dua lubang, lubang pertama untuk tempat masuknya sampel air
dan lubang lainnya berfungsi sebagai buangan udara dalam botol. Pada bagian ekor
terdapat alat seperti sirip berfungsi sebagai pengarah agar lubang penampung air
selalu mengarah ke arah datangnya aliran air. Alat tersebut biasanya dilengkapi
dengan lubang penampung sampel air yang berbeda ukurannya sehingga diperoleh
muatan sedimen dengan berbagai ukuran.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Gambar 148. Contoh alat ukur sedimen yang biasa dipakai di lapangan; a). alat
ukur sedimen standar (depth-integrating sediment sampler merk
US.DH-48 dan b) modifikasi alat standar (adaptasi dari Gordon, et
al, 1992).

Cara pengukuran muatan sedimen dengan menggunakan teknik depth


integrating adalah sebagai berikut:
a. Alat ukur sedimen diikatkan pada tongkat penduga, kemudian dimasukkan ke
dalam aliran sungai dengan gerakan ke bawah dan ditarik kembali ke atas
dengan kecepatan yang sama. Kecepatan gerak tergantung pada kecepatan
aliran sungai. Semakin deras aliran air, semakin cepat gerakan yang harus
dilakukan.
b. Besarnya sampel air untuk sekali pengukuran diusahakan kurang lebih 2/3 isi
botol (Gordon et.al, 1992).
c. Pengukuran muatan sedimen dilakukan bersamaan dengan pengukuran debit
aliran dengan prosedur yang sama, yaitu dengan cara membagi penampang
melintang sungai menjadi beberapa sub-penampang. Pada tiap sub-
penampang tersebut dilakukan pengukuran sedimen. Hasil pengukuran
sedimen kemudian dianalisis di laboratorium.
d. Di laboratorium, sampel tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring
dengan ukuran yang sesuai dengan tingkat akurasi yang diinginkan. Sampel
air yang telah disaring, dikeringanginkan dengan menggunaan oven.
Sedimen yang sudah dikeringanginkan kemudian ditimbang (% dari berat
total gabungan air dan sedimen).
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Dengan asumsi konsentrasi sedimen merata pada seluruh bagian penampang


melintang sungai, debit sedimen dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Qs = 0,0864 x C x Q (15)
Dimana:
Qs = debit sedimen (ton/hari)
C = konsentrasi sedimen (mg/l)
Q = debit sungai (m3/dt)

Hasil perhitungan aliran debit dan sedimen selnjutnya dapat digambarkan


dalam bentuk diagram dan peta menurut lokasi pengambilan dengan menggunakan
komputer atau Sistim Informasi Geografis (SIG).
Data debit bulanan atau tahunan dapat dibuatkan kurva hubungan rating
curve. Caranya yaitu dengan membuat hubungan regresi antara muatan sedimen
dengan debit bulanan/tahunan yang diperoleh dari hasil pengukuran (sediment-
discharge rating curve). Informasi data debit ini kemudian dijadikan sebagai darta
masukan untuk persamaan regresi kurva hubungan suspended sediment-discharge
rating curve yang telah dibuat untuk mendapatkan besaran sedimen.

13.2.2. Pengukuran Sedimen Merayap


Untuk mengukur besarnya sedimen merayap di suatu aliran air maka alat
pengumpul sedimen perlu ditempatkan sedekat mungkin atau bahkan menempel pada
bidang dasar sungai atau aliran air yang sedang dikaji.
Alat ukur sedimen rayap pada dasarnya dibagi atas tiga tipe yaitu; a) tipe Pit,
b) tipe keranjang dan c) tipe alat ukur sedimen yang memanfaatkan beda tekanan
yang dikembangkan oleh Helley-Smith. Bentuk masing-masing alat pengumpul
sedimen rayap dapat dilihat pada Gambar 149. Idealnya alat pengumpul sedimen
merayap mampu menangkap sedimen dengan ukuran yang berbeda dengan tingkat
efisiensi yang sama. Tingkat efisiensi (nisbah antara sampel sedimen terhadap
keseluruhan transpor sedimen) antara 60 – 70 % sudah dianggap memadai.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

a b

Gambar 149. Beberapa Tipe alat pengumpul sedimen merayap: a). tipe Pit, b) tipe
keranjang dan c) tipe Helley-Smith (adaptasi dari Gordon et al, 1992).

Alat pengumpul sedimen tipe Pit atau lubang adalah alat penangkap sedimen
merayap yang dibuat dengan cara menggali dasar sungai atau aliran air yang akan
diukur besarnya transpor sedimennya sehingga berbagai bentuk sedimen merayap
akan terperangkap apabila melalui Pit tersebut.
Alat pengumpul sedimen tipe keranjang umumnya dibuat dengan
menggunakan jaring dari bahan plastik atau bahan lainnya yang tahan air dengan
ukuran lubang sedemikian rupa sehingga dapat meloloskan sedimen melayang dan
menahan sedimen merayap.
Tipe alat pengumpul Helley-Smith bekerja dengan memanfaatkan beda
tekanan yang terdapat pada lubang keluaran. Dengan adanya perbedaan tekanan ini
akan menyebabkan terjadi pemisahan antara sedimen melayang dan sedimen
merayap. Tipe alat ini bervariasi mulai dari yang dapat dioperasikan dengan tangan
dengan ukuran 76 mm, sampai dengan ukuran mulut perangkap sedimen 152 mm
yang dioperasikan di bawah jembatan. Pengoperasian alat ini sebaiknya pada
permukaan sungai yang rata dan diletakkan pada dasar sungai atau pada permukaan
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

batu atau bangunan bersemen di dasar sungai. Pengambilan sampel dengan


menggunakan alat Helley-Smith dilakukan pada 3 - 10 titik pengamatan
perpenampang sungai. Sampel sedimen dikumpulkan dengan cara menurunkan alat
pengumpul ke dasar sungai untuk lama waktu tertentu. Lama waktu pengambilan
sampel ditentukan oleh kecepatan debit aliran dan ukuran kantung penampang
sedimen. Sebagai contoh, apabila dalam 5 menit pengambilan sampel tidak
mendapatkan hasil sedimen, waktu bisa ditambah menjadi 10 atau 20 menit untuk
satu pengamatan.

13.3. Hasil Sedimen


Hasil sedimen (sedimen yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi
yang terjadi di daerah tangkapan air yang diukur pada periode waktu dan tempat
tertentu. Hasil sedimen tergantung pada besarnya erosi total di DAS dan tergantung
pada transport partikel-partikel tanah yang tererosi tersebut keluar dari daerah
tangkapan air DAS. Produksi sedimen umumnya mengacu pada besarnya laju
sedimen yang mengalir melewati satu titik pengamatan tertentu dalam suatu DAS.
Besarnya hasil sedimen biasanya bervariasi mengikuti karakteristik fisik
DAS. Satuan yang biasa digunakan adalah ton per ha per tahun. Hasil sedimen
biasanya diperoleh dari pengukuran sedimen terlarut dalam sungai (suspended
sediment) atau dengan pengukuran langsung di dalam waduk. Cara lain yang dapat
dilakukan untuk memprakirakan besarnya hasil sedimen dari suatu daerah tangkapan
air adalah melalui perhitungan Nisbah Pelepasan Sedimen (Sediment Delivery Ratio)
atau cukup dikenal dengan singkatan SDR.
Perhitungan besarnya SDR dianggap penting dalam menentukan prakiraan
besarnya hasil sedimen total yang realistis berdasarkan perhitungan erosi total yang
berlangsung di daerah tangkapan air. Tergantung dari faktor-faktor yang
menpengaruhi, hubungan antara besarnya hasil sedimen dan besarnya erosi total
yang berlangsung di daerah tangkapan air umumnya bervariasi. Variabilitas angka
SDR dari suatu DAS akan ditentukan oleh pengaruh salah satu atau kombinasi dari
faktor-faktor seperti sumber sedimen, jumlah sedimen yang tersedia untuk proses
transport sedimen dan jarak antara sumber sedimen dan sungai/anak sungai, sistem
transpor, tekstur partikel tanah yang tererosi, lokasi deposisi sedimen, karakteristik
DAS.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Cara memprakirakan besarnya hasil sedimen dengan menghitung besarnya


SDR suatu daerah tangkapan air kurang begitu akurat mengingat bahwa erosi total
yang ditentukan berdasarkan rumus USLE tidak memperhitungkan besarnya erosi
parit dan deposisi hasil erosi (sedimen) di cekungan-cekungan permukaan tanah
antara daerah sumber erosi dan saluran air (sungai) yang dikaji besarnya hasil
sedimen. Namun demikian, cara ini lazim dilakukan di daerah yang kurang
memungkinkan dilakukannya pengukuran hasil sedimen secara langsung, di
lapangan. Menurut SCS National Engineering Handbook (DPMA,1984) besarnya
prakiraan hasil sedimen dapat ditentukan berdasarkan persamaan berikut :

SY = Ea x SDR (15)

Dimana:
SY = Jumlah sedimen (ton/tahun)
SDR = sediment delivery ratio
Ea = erosi total (ton/ha/tahun)

Nilai SDR dapat dihitung dari nomograf SDR seperti dapat dilihat pada
Gambar .

Gambar 150. Nomograf untuk menghitung SDR (Asdak, 1995)

Nilai sediment delivery ratio ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai alat ukur
untuk mengaetahui tingkat kekritisan DAS seperti dijelaskan oleh Sucipto (2007)
pada kriteria tabel .
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Tabel 34. Nisbah SDR berdasarkan tingkat kekritisan DAS


Kriteria SDR Tingkat Keritisan DAS
< 50 % Normal
50 – 75 % Tidak normal
> 75 % Rusak
Sumber : Sucipto (2008)

13.3. Upaya Pengendalian Erosi dan Sedimentasi


Tindakan-tindakan praktis yang dapat dilakukan untuk mengendalikan erosi
antara lain sebagai berikut:
a. Pengaturan penggunaan lahan
b. Usaha-usaha pertanian, antara lain:
1. Pengolahan tanah menurut kontur
2. Cocok tanam pias (strip cropping)
3. Memperkuat ujung alur sungai erosi atau polongan (gully)
4. Penutupan alur erosi
5. Sumuran penampung air
Cara pengendalian sedimen yang terbaik adalah pengendalian sedimen yang
dimulai dari sumbernya, yang berarti merupakan pengendalian erosi. Upaya
pengendalian sedimen untuk memperkecil akibat-akibatnya antara lain berupa:
Pengendalian sungai (river training):
a. Perencanaan bangunan inlet yang baik untuk penyadapan air ke saluran
b. Pemilihan lokasi bendungan yang tepat
c. Pembangunan Bangunan Pengendali Sedimen (chek dam) di hulu waduk
d. Membuat alur pintas atau sudetan
e. Perencanaan outlet waduk yang baik
f. Perencanaan bangunan (structures) yang baik
(Sumber: Soemarto, 1995)

Secara umum, teknik konservasi lahan seperti penataan lahan pertanian


dengan teras sering dan reboisasi lebih disarankan sebagai langkah penanganan erosi
dan sedimentasi. Selain lebih menguntungkan dari segi ekonomi, langkah konservasi
juga bisa dilaksanakan secara berkesinambungan tergantung dari keseriusan berbagai
pihak dalam menangani masalah ini. Namun teknik konservasi lahan tidak dapat
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

terlihat hasilnya secara signifikan dalam waktu singkat, hal ini dapat mengurangi
optimalisasi penganganan masalah ini, karena laju erosi dan sedimentasi umumnya
lebih cepat daripada teknik konservasi lahan seperti reboisasi.
Dalam hal ini Bangunan Pengendali sedimen bukan merupakan pilihan utama
dalam usaha penanggulangan erosi dan sedimentasi di suatu Daerah Aliran Sungai.
Namun pembuatan Bangunan Pengendali Sedimen merupakan langkah penunjang
utama dalam melakukan usaha konservasi lahan, dimana Bangunan Pengendali
Sedimen dapat meminimalisasi jumlah sedimen selama proses konservasi lahan
berlangsung (BBWS Serayu-Opak).

13.4. Prakiraan Bahaya Erosi


Untuk keberhasilan program konservasi tanah salah satu informasi penting
yang harus diketahui adalah Tingkat Bahaya Erosi (TBE) dalam suatu DAS yang
menjadi kajian. Dengan mengetahui TBE suatu DAS, prioritas rehabilitasi tanah
dapat ditentukan TBE suatu DAS.
Tingkat Bahaya Erosi (TBE) pada dasarnya dapat ditentukan dari perhitungan
nisbah antara laju erosi tanah potensial (A) dengan laju erosi tanah yang masih dapat
ditoleransi (TSL), secara persamaan matematis menurut Hammer (1981) dapat ditulis
sebagai berikut:
A (ton/ha/tahun)
TBE = ----------------------- (16)
TSL (ton/ha/tahun)

Prakiraan besarnya lajur erosi potensial dihitung dengan menggunakan


persamaan USLE (atau MUSLE), laju erosi yang masih dapat ditoleransi diperkirakan
dengan menggunakan rumus berikut.

DE - Dmin
TSL = ------------------ + SF (Hammer, 1981) (17)
T

De x fd
TSL = -------------- (Arsyad, 1989) (18)
T
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Dimana :
TSL = laju erosi yang masih dapat ditolerir (mm/th)
DE = kedalaman akar efektif (mm)
Dmin = kedalaman tanah minimum yang diperlukan untuk
perkembangan perakaran suatu jenis tanaman (mm)
fd = faktor kedalaman
T = umur guna sumberdaya tanah (tahun)
SF = laju pembentukan tanah

13.5. Metode Konservasi Tanah dan Air


Metode konservasi tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga yaitu: a)
metode Agronomis dengan cara pemanfaatan vegetasi, b) metode Mekanis dengan
cara penyiapan tanah untuk vegetasi dan c) Kimia dilakukan dengan cara perbaikan
struktur tanah.
Secara agronomis, kegiatan konservasi tanah dan air dilakukan dengan cara-
cara; Tumbuhan penutup tanah secara terus menerus (permanent plant cover),
pertanaman strip (strip cropping), pertanaman berganda (multiple cropping),
pertanaman bergilir (rotation cropping), pemanfaatan mulsa (residue management)
dan sistim pertanian hutan (agroforest).
Secara mekanis dapat dilakukan usaha-usaha; pengolahan tanah, pengolahan
tanah menurut garis kontur, pembuatan teras, pembuatan saluran air (waterways)
dan pembuatan dam pengendali (checkdam).
Secara kimiawi dapat dilakukan dengan memperkuat struktur tanah melalui
penambahan bahan-bahan kimia yang mempunyai syarat; mempunyai sifat adhesif
sehingga mudah bercampur dengan tanah, bersifat hidrophobik dan hidrofilik, dapat
meningkatkan KTK, daya tahan sebagai pemantap tanah dan tidak bersifat racun
(toxin). Contoh bahan-bahan tersebut misalnya; PVa, PVp, Asphalt, PVA,
Polyurethane, dan Latex.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Gambar 151. Contoh metode konservasi tanah dan air

13.6. Studi Kasus Erosi Permukaan di SSDAS Riam Kanan


Penelitian yang telah dilakukan oleh Rahman, dkk (2013), dengan
menggunakan metode USLE yang diintegrasikan dengan Sistim Informasi Geografis
diperoleh data erosi total yang terjadi di 6 SSDAS besar yang ada di SSDAS Riam
Kanan dan sekitarnya meliputi SSDAS PPAU, SSDAS Hajawa, SSDAS Tabatan,
SSDAS Kalaan, SSDAS Sekitar Waduk dan SSDAS Riam Besar. Erosi yang terjadi
pada ke enam Sub-sub DAS tersebut dapat dilihat pada Tabel 34, Tabel 35, Tabel 36,
Tabel 37, Tabel 38, dan Tabel 39.
Sebaran spasial dari ke empat faktor pembentuk persamaan metode USLE
yaitu faktor erosivitas hujan (R), faktor erodibilitas tanah (K), faktor kemiringan
lereng dan slope (LS) dan faktor jenis tanaman dan metode pengelolaan (CP),
ditumpangsusunkan dengan metode overlay aritmatika, sehingga diperoleh hasil
sebaran erosi total USLE. Selanjutnya dengan menggunakan klasifikasi Indeks erosi
pada Tabel 30, masing-masing area sebaran dikategorikan menjadi 5 kelas klasifikasi
yaitu erosi sangat ringan ( < 15 ton/ha/th), erosi ringan ( 15 - 60 ton/ha/th), erosi
menengah (60-180 ton/ha/th), erosi berat (180-480 ton/ha/th) dan erosi sangat berat (
> 480 ton/ha/th).
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Tabel 35. Hasil perhitungan erosi total metode USLE dengan memanfaatkan Sistim
Informasi Geografis di SSDAS Kalaan
Indeks Erosi Ton/Ha/Thn %
Berat 34.33304 0.04421
Menengah 3372.55269 4.342799
Ringan 4649.9576 5.9877
Sangat Ringan 69601.65386 89.62529
Total 77.658,49719
Sumber: Hasil Penelitian Rahman, dkk (2013)

Tabel 35. Hasil perhitungan erosi total metode USLE dengan memanfaatkan Sistim
Informasi Geografis di SSDAS Paau
Indeks Erosi Ton/Ha/Thn %
Sangat Berat 12.64042
Berat 1437.98896 1.915189
Menengah 405.38865 0.539918
Ringan 1547.23535 2.060689
Sangat Ringan 71680.12923 95.46737
Total 75.083,38261
Sumber: Hasil Penelitian Rahman, dkk (2013)

Tabel 36. Hasil perhitungan erosi total metode USLE dengan memanfaatkan Sistim
Informasi Geografis di SSDAS Riam Besar
Indeks Erosi Ton/Ha/Thn %
Sangat Berat 18.2846
Berat 83.2497 0.10690
Menengah 989.64824 1.27081
Ringan 7179.74424 9.21955
Sangat Ringan 69604.28402 89.37926
Total 77.875,2108
Sumber: Hasil Penelitian Rahman, dkk (2013)

Tabel 37. Hasil perhitungan erosi total metode USLE dengan memanfaatkan Sistim
Informasi Geografis di SSDAS Tabatan
Indeks Erosi Ton/Ha/Thn %
Sangat Berat 51.21969
Berat 645.60824 0.85141
Menengah 680.41 0.89730
Ringan 4998.96212 6.59247
Sangat Ringan 69452.2 91.59128
Total 75.828,40005
Sumber: Hasil Penelitian Rahman, dkk (2013)
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Tabel 38. Hasil perhitungan erosi total metode USLE dengan memanfaatkan Sistim
Informasi Geografis di SSDAS Sekitar Waduk
Indeks Erosi Ton/Ha/Thn %
Sangat Berat 1.75272
Berat 217.5168 0.28192
Menengah 30.23164 0.03918
Ringan 7286.88788 9.44450
Sangat Ringan 69618.4438 90.23212
Total 77.154,83284
Sumber: Hasil Penelitian Rahman, dkk (2013)

Tabel 39. Hasil perhitungan erosi total metode USLE dengan memanfaatkan Sistim
Informasi Geografis di SSDAS Hajawa
Kriteria Indeks ton/Ha/Th %
Berat 1422.4442 1.829912
Menengah 84.84328 0.109147
Ringan 6728.1404 8.655459
Sangat Ringan 69497.48122 89.40548
Total 77.732,9091
Sumber: Hasil Penelitian Rahman, dkk (2013)

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Rahman dkk (2013) tersebut
diperoleh hasil perhitungan erosi permukaan metode USLE dan integrasi dengan
Sistim Informasi Geografis diperoleh erosi total di SSDAS Kalaan sebesar
77.658,49719 ton/ha/th (Tabel 34), SSDAS Paau sebesar 75.083,38261ton/ha/th
(Tabel 35), SSDAS Riam Besar 77.875,2108 ton/ha/th (Tabel 36), SSDAS Tabatan
75.828,40005 ton/ha/th (Tabel 37), SSDAS Sekitar Waduk sebesar 77.154,83284
ton/ha/th (Tabel 38) dan SSDAS Hajawa sebesar 77.732,9091 ton/ha/th (Tabel 39).
Melihat dari kisaran erosi permukaan yang terjadi di enam SSDAS besar
Riam Kanan dan sekitarnya terendah yaitu SSDAS Paau sebesar 75.083, 38 ton/ha/th
dan tertinggi di SSDAS Riam Besar yaitu sebesar 77.875,21 ton/ha/th. Dari keenam
SSDAS tersebut kisaran erosi total hasil perhitungan dengan menggunakan metode
USLE 75.083,38 ton/ha/th – 77.875,21 ton/ha/th yang disesuikan dengan klasifikasi
indeks erosi termasuk kedalam kelas menengah.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

STAR

Erosivitas Panjang Erodibiltas Pengelo


(R).JPEG &kemiringa Tanah laan
n Lereng Tanama
n&

On Screen

R.shp LS.shp K.shp CP.shp

Atribute Atribute Atribute Atribute


dan Score dan Score dan Score dan

R.lyr LS.lyr K.lyr CP.lyr

A = R.K.LS.CP

Overlay

IDEKS EROSI DI SUB DAS RIAM


Keterangan:
KANAN DAN SEKITARNYA
= Proses
= Hasil

Gambar 152. Bagan alur proses perolehan indeks erosi metode USLE dengan
memanfaatkan SIG
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Gambar 153. Sebaran Spasial Indeks Erosi di SSDAS Riam Kanan dan Sekitarnya
dengan latar belakang Digital Elevation Model (DEM)
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

 LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan


Anda mengerjakan latihan berikut ini !

1. Buatlah rangkuman dari materi di atas dengan membentuk kelompok kerja


(satu kelompok minimal 4 orang).

2. Rangkuman materi pelajaran di atas selanjutnya dipresentasikan sebelum


pelajaran dimulai pada pertemuan selanjutnya.

 RANGKUMAN

Sedimentasi dapat didefinisikan sebagai pengangkutan, melayangnya


(suspensi) atau mengendapnya material fragmentasi oleh air. Sedimentasi
merupakan akibat adanya erosi, dan memberi banyak dampak di sungai, saluran,
waduk, bendungan atau pintu-pintu air, dan di sepanjang sungai (Soemarto, 1995).
Pengukuran sedimen dilakukan terhadap dua jenis sedimen yaitu a) sedimen
melayang (suspended sediment) dan sedimen merayap (bedload). Pengukuran
dilakukan dengan menggunakan teknik depth-integrating suspended sediment
sampler.
Besarnya hasil sedimen dari suatu daerah tangkapan air adalah melalui
perhitungan Nisbah Pelepasan Sedimen (Sediment Delivery Ratio) atau cukup dikenal
dengan singkatan SDR.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

PENUTUP
Tidak terasa Anda sudah hampir menyelesaikan seluruh pokok bahasan dari
mata kuliah Aplikasi Inderaja dan Sistim Informasi Geografis/Inderaja dan SIG
Untuk Perairan ini, yaitu sebagai berikut:
1. Pengantar Kartografi dan konsepsi-konsepsi yang melatar balakanginya
2. Pengantar Sistim Informasi Geografis dan konsepsi-konsepsi yang
melatarbelakanginya.
3. Konsepsi Mitigasi Bencana
4. Studi Kasus distribusi spasial Bencana Rawan Longsor di Kabupaten Purworejo
5. Bekerja dengan ArcGis dalam memecahkan permasalahan Rawan Longsor di
Kabupaten Purworejo serta menggambarkannya secara spasial.
6. Konsepsi-konsepsi tentang bahaya erosi dan sedimentasi

Semoga Anda mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang arah dan
tujuan dari perkuliahan yang sedang Anda ikuti ini. Dengan mengikuti kuliah ini
semoga Anda termotivasi untuk menyelesaikan mata kuliah-mata kuliah yang lain
dan dapat membangun kompetensi Anda menjadi seorang yang profesional dan dapat
memberikan kontribusi yang nyata khususnya dalam bidang Sistim Informasi
Geografis untuk penyadapan informasi sumberdaya lahan dan Perairan.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, P. L., 2004, Natural Disaster. Fourth Edition. McGraw Hill, Higher
Education, New York, 460 pp.

Asdak, 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Penerbit Gadjah
Mada University Press. 618 halaman.

--------, 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Penerbit Gadjah
Mada University Press. Cetakan ke-5. 630 halaman.
Arsyad, S., 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor Press. Bogor

-----------, 2000. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.

Bos, ES, 1977. Thematic Cartography. Faculty of Geography, Gadjah Mada


University, Yogyakarta, Indonesia.

Borrough, 1986. Principles of Geographic Information System for Land and


Resources Assesment. Claredon Press. Oxford.

Campy M. & Macaire J.J. 1989. Géologie des Formations Superficielles:


Géodynamique, faciès, utilisation, Masson, Paris, 433 p.

Gatot, 2009. Petunjuk Pratikum Konservasi Tanah. Fakultas Geografi UGM

GIS Consortium Aceh-Nias. 2007. Modul Pelatihan Arc.GIS Tingkat Dasar.


Penerbit Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam –
Nias (BRR NAD-Nias). Situs: www.e-aceh-nias.org

GIS Implementation for Water and Wastewater Treatment Facilities. Jones, B.G,
dkk. Water Environment Federation. ISBN : 0-07-145305-9. Mc. Graw-Hill
Books, New.York. 2004.

Hazarika, K.M. 1999. Estimation of Soil Erosion Using Remote Sensing and GIS,
Its Valuation and Economic Implication on Agriculture Productioni.
International Soil Conservation Organization Meeting and The USDA-ARS
National Soil Erosion Research Laboratory at Purdue University.

Indosiar. 2006. Banjir Melanda 5 Kabupaten di Kalimantan Selatan. Di download


pada tanggal 15 Oktober 2009. URL htpp://

Jensen, J.R., 1996. Introductory Digital Image Processing: A Remote Sensing


Perspective. Prentice-Hall. New Jersey: Englewood Cliffs.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Kurniawati, A. 2002. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi


Geografis untuk Kajian Kerusakan DAS dari Tingkat Bahaya Erosi dan
Koefisien Limpasan Permukaan di DAS Rejoso Propinsi Jawa Timur. Tesis.
Sekolah Pascasarjana Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta. 158 halaman.

Kompas,. 2007. Enam DAS di Kalsel Kritis. Terbit tanggal 12 Agustus 2007. di
download tanggal 12 Oktober 2009.

LAPAN., 2006. Analisis Citra Satelit Penginderaan Jauh untuk Kejadian Banjir dan
Tanah Longsor Kabupaten Tanah Laut, Banjar dan Tanah Bumbu Provinsi
Kalimantan Selatan. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi
Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Jakarta. 6
halaman. Di download tanggal 15 Oktober 2009. URL htpp://

Linsley, R.K., Kohler and Paulhus, J.L., 1975. Hidrology for Engineers. Mc.Graw-
Hill/Kogakusha Ltd. Tokyo.

Lillesand, T.M. and R.W. Kiefer and Jonathan, W.C., 2004. Remote Sensing and
Image Interpretation. Fift Edition. Newyork; John Wiley and Sons.

Marsaid, 2002. Prosiding Simposium Nasional, Pencegahan Bencana Sedimen.


Makalah Kegiatan Kabupaten Purworejo dalam Penanggulangan bencana
Alam Tanah Longsor. Integrated Sediment Disaster Management Project
(ISDM-Project) Bekerjasama dengan Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah Dirjend Sumberdaya Air dengan Japan International Cooperation
Agency. Yogyakarta, tanggal 12 – 13 Maret 2002. Halaman 40 dari 662
halaman.

Menganalisis Data Spasial dengan Arc.View. GIS 3.3 Untuk Pemula. Wayan
Nuarsa, I. Penerbit PT. Elex media Komputindo, Kelompok Gramedia,
Jakarta. 2005.

Notodarmojo. 2005. Pencemaran Tanah dan Air Tanah. Penerbit ITB Bandung.
488 halaman

Pengantar GIS, GPS dan Remote Sensing. Dwi Prabowo, dkk. Dept. GIS
Forest Watch Indonesia. 2006

Taufiq, H.P., dan Suharyadi, 2008. Landslide Risk Spatial Modeling Using
Geographical Information System. Tutorial Landslide. Laboratorium Sistim
Informasi Geografis. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. 9 halaman

Sistem Informasi Geografis. Konsep-Konsep Dasar . Eddy Prahasta, Penerbit


Informatika, Bandung, 2001.
Modul Ajar Konservasi Sumberdaya Perairan

Sistem Informasi Geografis. Konsep-Konsep Dasar . Eddy Prahasta, Penerbit


Informatika, Bandung, 2005.

Sukwardjono; Sukoco, 1997. Kartografi Dasar. Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Program Pra Pasca Sarjana Geografi,
Yogyakarta.

Santoso Dipo, Toyo, 2002. Prosiding Simposium Nasional, Pencegahan Bencana


Sedimen. Permasalahan dan Pengelolaan Bencana Sedimen di Kabupaten
Kulon Progo. Integrated Sediment Disaster Management Project (ISDM-
Project) Bekerjasama dengan Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah Dirjend Sumberdaya Air dengan Japan International Cooperation
Agency. Yogyakarta, tanggal 12 – 13 Maret 2002. Halaman 40 dari 662
halaman.

http://if2.ubaya.ac.id/~daniel . Copyright © 2003 IlmuKomputer.Com

http://www.Purworejo.go.id Dep.Kom.Info. Kabupaten Purworjo. Didownload


pada tanggal 20 Desember 2008, jam 15.30 WIB

Taufiq, H.P., dan Suharyadi, 2008. Landslide Risk Spatial Modeling Using
Geographical Information System. Tutorial Landslide. Laboratorium Sistim
Informasi Geografis. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. 9 halaman

Wibowo, S, dkk., 2007. Modul Pelatihan Sistim Informasi Geografis dengan


Arc.View.GIS 9.2. Laboratorium Sistim Informasi Geografis. Fakultas
Geografi Universitas Gadjah Mada. 48 halaman.

Wibowo, S, dkk., 2007. Modul Pelatihan Sistim Informasi Geografis dengan


Arc.View.GIS 9.2. Laboratorium Sistim Informasi Geografis. Fakultas
Geografi Universitas Gadjah Mada. 48 halaman.