Anda di halaman 1dari 23

BAB III

PEMBAHASAN

Pelaksanaan praktik profesi Ners secara umum berjalan dengan lancar, ada beberapa
hal yang menjadi faktor pendukung dan beberapa yang lain menjadi faktor
penghambat, namun semua faktor penghambat dapat diatasi dengan baik sehingga
kompetensi yang dicapai selama praktik profesi baik kompetensi akademik
kelompok maupun kompetensi individu dapat dicapai secara keseluruhan. Adapun
penjelasan dari faktor pendukung dan faktor penghambat tersebut akan dijelaskan
sebagai berikut:

A. Departemen Keperawatan Dasar Profesi I


Kompetensi yang dicapai pada praktik KDP 1 yaitu asuhan keperawatan klien
yang membutuhkan bantuan dalam hal kebutuhan dasar manusia. Asuhan
keperawatan yang pernah dilakukan yaitu asuhan keperawatan klien dengan
masalah gangguan oksigenasi pada kasus status Asmatikus pada minggu pertama,
masalah gangguan eliminasi alvi pada melena pada minggu kedua, masalah
gangguan rasa nyaman (nyeri) pada kasus fraktur femur pada minggu ketiga, dan
masalah ansietas pada kasus hepatitis A pada minggu keempat. Asuhan
keperawatan yang dipilih untuk seminar yaitu Ny. F dengan masalah oksigenasi
pada kasus status asmatikus

Asuhan keperawatan kebutuhan dasar manusia meliputi pengkajian identitas,


keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, pola persepsi dan tata laksana kesehatan, pola nutrisi dan
metabolisme, pola eliminasi, pola aktivitas dan kebersihan diri, pola istirahat
tidur, pola kognitif dan persepsi sensori, pola konsep diri, pola hubungan peran,
pola fungsi sexsual-sexsualitas, pola mekanisme koping, pola nilai dan
kepercayaan.

Virginia Henderson (dalam Potter dan Perry, 2006) membagi kebutuhan dasar
manusia kedalam 14 komponen, antara lain: bernapas secara normal, makan dan
minum yang cukup, eliminasi (buang air besar dan kecil), bergerak dan
mempertahankan postur yang diinginkan, tidur dan istirahat, memilih pakaian

22
23

yang tepat, mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan


menyesuaikan pakaian yang dikenakan dan modifikasi lingkungan, menjaga
kebersihan diri dan lingkungan, menghindari bahaya dari lingkungan dan
menghindari yang membahayakan orang lain, berkomunikasi dengan orang lain
dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan, kekhawatiran dan opini, beribadah
sesuai dengan agama dan kepercayaan, bekerja sedemikian rupa sebagai modal
untuk membiayai kebutuhan hidup, bermain atau berpartisipasi dalam berbagai
bentuk rekreasi, serta belajar, menemukan, atau memuaskan, rasa ingin tahu yang
mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan, dan pengguna fasilitas
kesehatan yang tersedia.

Berdasarkan teori dan fakta yang dilakukan didalam praktik kebutuhan dasar
manusia memprioritaskan pengkajian dalam hal 14 komponen susuai dengan
teori diatas. Pengkajian tersebut memerlukan komunikasi yang baik sehingga
data yang diperoleh benar-benar sesuai dengan masalah klien.

Dukungan dalam praktik kebutuhan dasar manusia I ini adalah mendapatkan


bimbingan yang baik dari pembimbing klinik maupun perawat lainnya. Terlebih
lagi praktik KDM ini merupakan praktik tahap pertama sehinggan selama praktik
tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan tetapi juga
pembelajaran model pelayanan keperawatan yang tertib dan teratur.

Terdapat beberapa hambatan dalam melakukan dokumentasi asuhan


keperawatan. Selain itu komunikasi kepada klien juga masih kaku, sehingga
sangat perlu bimbingan yang sabar dari pembimbing akademik maupun
pembimbing klinik.

B. Departemen Keperawatan Dasar Profesi II


Kompetensi yang dicapai pada praktik Keperawatan Dasar Profesi II sama dengan
kebutuhan dasar manusia . Namun perbedaannya pada asuhan keperawatan
dengan mengambil kasus kebutuhan dasar manusia yang belum pernah di kelola
pada praktik KDM. Asuhan keperawatan yang pernah dikelola yaitu asuhan
keperawatan klien dengan masalah personal hygen pada kasus DM dengan
gangrene grade II pada minggu pertama, masalah istirahat tidur pada kasus ca
24

mamae pada minggu kedua, masalah gangguan mobilisasi pada kasus DM


dengan fraktur cruris pada minggu ketiga, dan masalah nutrisi pada kasus diare
kronis pada minggu keempat. Asuhan keperawatan pada klien Tn. B dengan
masalah gangguan istirahat tidur pada kasus post operasi hernia inguinalis
lateralis dipilih untuk dipublikasikan pada saat seminar.

Asuhan keperawatan kebutuhan dasar manusia meliputi pengkajian identitas,


keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, pola persepsi dan tata laksana kesehatan, pola nutrisi dan
metabolisme, pola eliminasi, pola aktivitas dan kebersihan diri, pola istirahat
tidur, pola kognitif dan persepsi sensori, pola konsep diri, pola hubungan peran,
pola fungsi sexsual-sexsualitas, pola mekanisme koping, pola nilai dan
kepercayaan.

Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow meliputi lima kategori


kebutuhan dasar, yakni kebutuhan fisiologis (kebutuhan oksigenasi, cairan,
nutrisi, eliminasi, istirahat tidur,temperature, tempat tinggal dan seks), kebutuhan
keselamatan dan rasa aman (keselematan fisik, dan fisiologis), kebutuhan cinta
dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaa dan harga dirikebutuhan aktualisasi
diri (Potter dan Perry, 2006).

Berdasarkan teori dan fakta yang dilakukan bahwa didalam praktik kebutuhan
dasar manusia memprioritaskan pengkajian dalam lima kategori susuai dengan
teori diatas. Pengkajian tersebut memerlukan komunikasi yang baik sehingga
data yang diperoleh benar-benar sesuai dengan masalah klien.

Dukungan didalam praktik kebutuhan dasar manusia IV ini adanya pembimbing


klinik yang cermat dalam mengevaluasi asuhan keperawatan sehingga kesalahan
selama proses keperawatan dapat diperbaiki. Dukungan lain yaitu banyaknya
macam kasus yang ada di ruang bedah RSD Balung Jember sehingga
memungkinkan mempelajari berbagai macam kasus penyakit bedah dalam di
ruangan. Selain itu aplikasi tentang rawat luka hamper selalu dilakukan sehingga
pada praktik ini lebih mendapatkan pengalaman lebih tentang rawat luka.
25

Hambatan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan masih belum mampu


merangkai kata komunikasi yang tepat dalam pengkajian, sehingga pengkajian
kepada klien membutuhkan waktu lama.

C. Area Keperawatan Anak


Fokus mata kuliah keperawatan anak tingkat profesi merupakan pencapaian
berbagai konsep, prinsip, teori, dan model keperawatan anak dalam berbagai
tatanan pelayanan kesehatan dengan mengintegrasikan berbagai ilmu dasar
keperawatan, ilmu bedah anak, dan ilmu kesehatan anak pada masalah perawatan
anak yang sakit akut, sakit kronis, dan sakit yang mengancam kehidupan. Tujuan
akhir setelah menyelesaikan praktik keperawatan anak, mahasiswa dapat
memberikan pelayanan kesehatan menggunakan proses asuhan keperawatan anak
dengan mengintegrasikan terapi bermain sebagai strategi intervensi perawatan
atraumatik.

Prinsip dasar keperawatan anak menurut Rohmah (2010) yaitu anak bukan
miniature orang dewasa, berdasarkan tumbuh kembang anak, bersifat holistik,
asuhan keperawatannya menggunakan pendekatan persistem. Fokus keperawatan
anak tidak hanya pada perawatan anak sakit, tetapi perawatan untuk anak sakit
dan keluarganya. Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma
pada anak dan keluarga merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan
sebagai terapi bagi anak.

Pengkajian yang dilakukan melalui pendekatan sistem (Airway, Breathing,


Blood/kardiovaskuler, sirkulasi, Brain/Persarafan, Bladder/ perkemihan,
Bowel/pencernaan, Bone / Muskuloskeletal, integumen / perawatan diri) dan
terdapat tambahan lain yaitu imunitas, breast, Bonding attachment, psikologis
orang tua, psikologis anak, Growth, Development, Behavior and Community,
Spiritual value, Cultural value.

Praktik keperawatan anak dilakukan dalam 2 ruang keperawatan anak, yaitu


Ruang dahlia dan ruang Perinatologi Pada minggu pertama mengelolah pasien
An.R usia 12 Tahun dengan Epilepsi. Masalah keperawatan yang didapat pada
26

kasus ini yaitu Resiko kejang berulang sehingga intervensi yang di buat adalah
menejemen Kejang dengan pertahankan jalan nafas, monitr tanda-tanda vital,
monitor arah kepala dan mata selama kejang.

Pada minggu kedua ini mengelola pasien By. S dengan Asfiksia Berat. Kasus ini
juga digunakan sebagai ujian SOCA dengan menganalisis dan menyampaikan
secara langsung patways pasien tersebut. Masalah yang muncul adalah bersihan
jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan nafas. Intervensi
yang diberikan yaitu dengan manajemen jalan nafas . Intervensi tersebut dipilih
untuk membersihkan jalan nafas.

Berdasarkan teori dan fakta yang ditemukan selama praktik dapat dikatakan
bahwa pada area keperawatan anak terdapat perbedaan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan, dimana dalam malakukan asuhan keperawatan harus
memperhatikan tahapan tumbuh kembang anak, dukungan keluarga. Pendekatan
kepada anak harus atraumatic care sehingga dalam melaksanakan proses
keperawatan membutuhkan kemampuan komunikasi yang dipadukan dengan
kegiatan bermain pada anak atau bisa disebut dengan terapi bermain. Pada area
keperawatan bayi/neonates diperlukan anamnesis lebih dalam terkait riwayat
hamil, riwayat persalinan, dan riwayat keluarga, menilai skor APGAR, down
skor serta reflek bayi. Dukunguan dan keikutsertaan keluarga dalam proses
asuhan keperawatan pada anak dan bayi/neonates sangat besar pengaruhnya bagi
kesembuhan anak tersebut.

Hambatan yang dialami yaitu belum terbiasa dengan cara berkomunikasi dengan
anak sehingga kadang data yang diperoleh masih belum valid. Selain itu, proses
hospitalisasi pada anak akan cenderung membuat anak menjadi cemas. Sehinnga
dalam pelaksanaan tindakan keperawatan harus melakukan BHSP baik dengan
keluarga maupun klien agar setiap tindakan yang dilakukan tidak menjadikan
anak tersebut trauma atau sampai dengan terjadi penolakan. Dukungan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan di area anak ini yaitu terdapat ruangan yang
sesuai dengan ruangan keperawatan anak, tempat bermain, fasilitas serta adanya
pembimbing klinik yang sabar.
27

D. Area Keperawatan Medikal Bedah


Tujuan dari praktik profesi keperawatan pada departemen medical bedah yaitu
mampu menerapkan asuhan keperawatan medikal bedah dan mengelola
pemberian asuhan keperawatan pada klien dewasa yang mengalami masalah
kesehatan dan perubahan fungsi sistem tubuh di berbagai tatanan pelayanan
kesehatan menggunakan proses keperawatan dengan secara holistik (bio-psiko-
sosio-spiritual).

Pada asuhan keperawatan medikal bedah, pengkajian dilakukan pada identitas,


keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, pola persepsi dan tata laksana kesehatan, pola nutrisi dan
metabolisme, pola eliminasi, pola aktivitas dan kebersihan diri, pola istirahat
tidur, pola kognitif dan persepsi sensori, pola konsep diri, pola hubungan peran,
pola fungsi sexsual-sexsualitas, pola mekanisme koping, pola nilai dan
kepercayaan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Praktik keperawatan medikal bedah di RSUD Balung Jember dilaksanakan


mulai tanggal 26 November hingga 22 Desember 2018. Metode pembelajaran
asuhan keperawatan dilakukan dengan pre dan post conference serta bed side
teaching. Pada departemen ini juga dilakukan ronde keperawatan.

Selama di RSUD Balung Jember Jember, kompetensi yang diperoleh pada


minggu pertama di ruang Melati yaitu pasien Ny. W dengan Tubercolosis dan.
Minggu kedua pada Nn. D dengan DHF, pada minggu ini juga kelompok
melakukan penyuluhan tentang DM pada minggu ini juga dilakukan ronde
keperawatan Tn. S dengan Hernia. Minggu ke Tiga di Ruang Mawar dengan
kasus Fraktur femur untuk mingu ke empat yaitu mengelola pasien Tn. Jdengan
Illeus obstruktif.

Keperawatan medical bedah merupakan pelayanan profesional yang didasarkan


ilmu dan teknik keperawatan medical bedah berbentuk bio-psiko-sosio-spiritual
yang komprehensif ditujukan pada orang dewasa dengan atau yang cenderung
28

mengaami gangguan fisiologi dengan atau tanpa gangguan struktur akibat trauma
(Umi, 2012).

Berdasarkan teori dan fakta yang ditemukakan, dapat disimpulkan bahwa dalam
asuhan keperawatan medikal bedah yang ditekankan yaitu bio-psiko-sosio-
spiritual yang komprehensif dan pemahaman patofisiologi yang baik.
Berdasarkan pengalaman selama mengelola ashuan keperawatan di area
keperawatan medikal bedah, diagnosa keperawatan yang sering ditemukan adalah
nyeri. Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat
sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala
atau tingatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau
mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. (Alimul Aziz dan Musrifatul, 2012).

Dukungan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan medikal bedah ini yaitu


adanya pre conference sehingga pemahaman yang didapat sebelum menghadapi
kasus klien akan meningkat. Hambatan dalam asuhan keperawatan klien medical
bedah yaitu kurangnya pemahaman terhadap patofisiologi penyakit.

E. Area Keperawatan Maternitas


Pada area maternitas, kompetensi yang dicapai antara lain asuhan keperawatan
antenatal, intranatal, postnatal, dan gynecologi. Praktik di lakukan di RSD
Balung Jember ruang bersalin (VK), nifas (Dahlia). Pada dua minggu pertama
mengelola pasien Ny. C persalinan pervaginam GII P0 A0 dengan Anemia dan
Ny.N dengan Abortus G2 P0 A0. Pada minggu ke tiga dilakukan asuhan
keperawatan pada Ny. A G3 P2 O2 dengan KPD UK 38 minggu janin T/H/I.
dilanjutkan pada minggu ke empat di Ruang Nifas melakukan asuhan
keperawatan dengan menggunakan model konsep adaptasi Roy pada Ny.S
dengan persalinan spontan di ruang Nifas. Sebagai bahan ujian dilakukan Asuhan
Keperawatan pada Ny.I G2 P1 O_0 UK 39 minggu dengan post SC indikasi Pre
Eklamsi diruang Nifas RSUD Balung Jember.

Konsep keperawatan maternitas berfokus pada keluarga juga diarahkan kepada


pemenuhan kebutuhan ibu dan keluarga pada masa kehamilan, persalinan dan
nifas, mempromosikan dan melindungi kesejahteran ibu dan bayinya dengan
29

melibatkan keluarga dan lingkungan dalam intervensi keperawatan baik


iuntervensi edukasi maupun kebutuhan ibu pada saat menjalani kehamilan,
persalinan dan nifas Piliteri 2003 dalam Indriyani 2013.

Dalam melakukan asuhan keperawatan harus lebih terperinci dalam melakukan


pengkajian, misalnya Pada saat antenatal, pengkajian dilakukan lebih detail
tentang kesehatan ibu dan janinnya. Sedangkan intranatal lebih memperhatikan
persiapan persalinannya, ketika postnatal memperhatikan hubungan ibu dengan
bayinya. Pada klien dengan masalah gynekologi, gejala dan patofisiologi
penyakit yang menjadi utama utnuk dikaji..

Berdasarkan fakta dan teori diatas, menyimpulkan asuhan keperawatan


maternitas merupakan asuhan keperawatan untuk membantu ibu atau wanita
dalam adaptasi fisik dan psikososial sehingga terdapat perbedaan cara asuhan
pada prenatal, intranatal, dan postnatal.

Dukungan dalam keperawatan maternitas yaitu ketersediaan bidan ruangan untuk


membimbing mempelajari masalah keperawatan di ruang kebidanan,
membimbing menolong persalinan, serta melakukan perawatan bpada bayi baru
lahir. Hambatan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan maternitas ini yaitu
melakukan berulang-ulang dalam mempelajari cara pemeriksaan yang
berhubungan dengan maternitas (pemeriksaan Leopold, VT, dan lain-lain).

F. Area Keperawatan Komunitas


Keperawatan komunitas terbagi dalam dua kegiatan praktik, yaitu di puskesmas
dan di komunitas masyarakat. Kompetensi yang dilakukan di puskesmas yaitu
mengikuti program kegiatan puskesmas anatara lain program gizi, kesehatan ibu
dan anak serta keluarga berencana, kesehatan lingkungan, pengobatan, promosi
kesehatan, dan pemberantasan penyakit menular dengan merangkum kegiatan
tersebut dan melakukan analisis dalam setiap programnya. Pada departemen ini
tidak mengelola asuhan keparawatan namun diharuskan mampu melakukan
pengkajian dari setiap kegiatan yang telah diikuti untuk selanjutnya di sampaikan
pada seminar akhir praktik pada minggu ke empat.
30

Sedangkan praktik komunitas hampir sama dengan kegiatan praktik puskesmas,


karena setiap kegiatan kesehatan harus bekerjasama dengan puskesmas wilayah,
poskesdes, polindes dan posyandu. Kegiatan terbagi dalam program kerja yang
meliputi program kesehatan kerja, promosi kesehatan dan pengobatan. Program
kegiatan tersebut di aplikasikan dalam berbagai kegiatan yang mengikut sertakan
masayarakat sebagai agen perubahan lingkungannya.

Tujuan akhir setelah menyelesaikan cabang ilmu ini mahasiswa mampu


mengembangkan rasa percaya diri dalam melakukan asuhan keperawatan keluarga
sesuai dengan konsep keluarga sejahtera dan adaptasi keluarga sesuai tahapan
tumbuh kembang keluarga meliputi: pasangan keluarga baru menikah, keluarga
dengan anak balita, keluarga dengan anak usia sekolah, keluarga dengan remaja,
keluarga dengan ibu hamil dan menyusui, serta masalah keluarga terkait dengan
masalah kesehatan yang lazim ada di Indonesia. Pemberian asuhan keperawatan
berorientasi pada penekanan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan,
pelayanan kesehatan khususnya di pelayanan keperawatan keluarga.

Asuhan keperawatan pada komunitas dan keluarga diprioritaskan pada kesehatan


lingkungan, kesehatan ibu, anak, dan lansia. Pelaksanaan intervensi keperawatan
pada kesehatan lingkungan adalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan
lingkungan dan pembangunan fisik penjernihan air sebanyak 1 unit. Untuk usaha
kesehatan ibu, anak, dan lansia adalah melaksanakan Posyandu berupa kegiatan
penimbangan Balita, penyuluhan tentang Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIL)
dan kesehatan lingkungan, serta pemberian makanan tambahan (PMT) dengan
berkoordinasi dengan Puskesmas Sukorambi dan Bidan Desa Dukuh Mencek .
Dalam melaksanakan program ini kelompok menemukan kesulitan dalam
melakukan jalinan kerjasama antar warga, karena warga dari RT 01 dan RT 02
sulit di hubungi pada pagi hari karena banyak yang kerja.

Evaluasi kasus keluarga dilaksanakan pada keluarga Tn. J dengan masalah


kesehatan Tubercolosis.

Dukungan yang ada adalah penerimaan warga terhadap kehadiran mahasiswa,


seperti adatnya masyarakat desa yang ramah dan bersahabat bila praktikan
melakukan kunjungan rumah mereka langsung menyuguhkan minuman seperti
31

kopi dan teh, mereka juga mau meluangkan waktu untuk menjawab segala
pertanyaan yang dajukan maupun menunjukkan sesuatu yang diminta praktikan.
Karena wilayah mereka jarang dikunjungi orangmereka mengungkapkan sangat
terhibur dengan kedatangan orang lain yang berbondong-bondong naik sepeda
motor, dan mereka berharap agar tahun berikutnya desa mereka juga dijadikan
lahan praktik.

Pada area ini dituntut untuk dapat membangun rasa saling percaya dan juga
menjalin koordinasi antara perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan
tentunya masyarakat di desa Rambipuji kecamatan Rambipuji kabupaten Jember.
Hal itu diperlukan agar permasalahan-permasalahan yang ditemukan dapat
dipecahkan bersama dengan keterlibatan warga dan perangkat desa.

Berdasarkan teori dan fakta yang dilakukan, disimpulkan bahwa praktik


keperawatan komunitas ditekankan pada upaya-upaya peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan
(kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta
memfungsikan kembali baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat ke
lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). Pada area keperawatan
komunitas pengkajian ditekankan pada program wajib yang ada di puskesmas,
selain itu pengkajian komunitas di masyarakat sifatnya menyeluruh, dimana
pengkajian tidak hanya pada satu individu saja namun masyarakat yang ada,
pengkajian juga tidak hanya pada kesehatan fisik saja, melainkan kesehatan
lingkungan dan sarana kesehatan yang ada di masyarakat.

Dukungan saat pelaksanaan praktik komunitas di puskesmas yaitu adanya


pembimbing klinik yang intens dalam membimbing sehingga mampu
mempelajari berbagai kegitan yang ada di puskesmas. Dukungan praktik
keperawatam komunitas di masyarakat ini yaitu keikutsertaan dan bimbingan
aparatur desa sehingga praktik komunitas berjalan dengan lancer. kerja sama
yang baik dengan aparat setempat seperti : Camat, Kepala desa, Kepala Dusun
maupun aparat yang senantiasa membantu mahasiswa dalam pelaksanaan
program kerja. selain itu kebijakan dari pihak Kepala Puskesmas Sukorambi dan
petugas kesehatan penanggung jawab wilayah yang menempatkan praktik
32

komunitas ini di desa Karangpring dimana kerja sama dengan staf desa, tokoh
masyarakat dan LSM dapat mudah terjalin, bahkan penduduk dengan ramah mau
menerima kehadiran mahasiswa yang dianggap bisa memberikan suasana baru
bagi mereka.

Hambatan didalam praktik komunitas di puskesmas yaitu banyaknya kegiatan


yang ada di puskesmas sehingga tidak mampu mengikuti kegiatan secara
berkesinambungan. Hambatan praktik komunitas di masyarakat yaitu banyaknya
jumlah KK dalam satu desa sehingga masalah kesehatan di masyarakat tidak
terkaji dengan merata. Masalah kesehatan pun bervariasi dan komplek sehingga
penyelesaian masalah membutuhkan waktu yang lama. Hambatan yang kedua
adalah sulitnya mengahadirkan masyarakat, untuk memecahakan permasalahan
yang ada namun dari berbagai kendala tersebut akhirnya dapat dilalui dengan
baik dan menjadikan sebuah kenangan tersendiri pada praktek komunitas yang
dilakukan tersebut.

G. Area Keperawatan Keluarga


Kompetensi yang dicapai pada area ini yaitu asuhan keperawatan pada satu
keluarga dengan mengelola asuhan keperawatan pada keluarga Tn. Jkhususnya
Tn. Jdengan masalah penyakit TB Paru di dusun kidul pasar desa Rambipuji
kecamatan Rambipuji kabupaten Jember. Data yang digali pada asuhan
keperawatan keluarga yaitu identitas kepala keluarga, riwayat dan perkembangan
keluarga, pengkajian lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, stress dan
koping kelurga, keadaan gizi keluarga, pemeriksaan fisik, dan harapan keluarga.
Masalah yang didapatkan yaitu kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit
TB paru dan perilaku kesehatan tentang manajemen rumah sehat.

Menurut Suprajitno (2004) asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian


kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga
yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga
dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Pengkajian diarea
keperawatan keluarga difokuskan tidak hanya pada satu individu namun juga
terkait kondisi keluarga itu sendiri, pengkajian dilakukan terkait identitas kepala
keluarga, riwayat dan perkembangan keluarga, pengkajian lingkungan, struktur
33

keluarga, fungsi keluarga, stress dan koping kelurga, keadaan gizi keluarga,
pemeriksaan fisik, dan harapan keluarga.

Perawatan kesehatan keluarga bertujuan meningkatkan kemampuan keluarga


dalam memelihara kesehatan keluarga mereka, sehingga dapat meningkatkan
status kesehatan keluarganya. Untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan
kesehatan keluarga, keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan
para anggotanya dan saling memelihara yang menurut Friedman (2010) yaitu
mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga,
mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat, memberikan
keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan yang tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda,
mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga, mempertahankan hubungan timbal
balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan yang menunjukan
pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.

Berdasarkan teori dan fakta yang dilakukan, asuhan keperawatan keluarga


ditekankan pada lima masalah keperawatan keluarga. Masalah keperawatan
tersebut terdiri dari mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota
keluarga, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat,
memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda,
mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga, mempertahankan hubungan timbal
balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan yang menunjukan
pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.

Dukungan dalam asuhan keperawatan keluarga ini adanya kepala dusun yang
memfasilitasi untuk dapat berkomunikasi dengan keluarga karena keluarga
kurang kooperatif sehingga pemberian saran terkait dengan masalah kesehatan
yang dihadapi dapat dilakukan. Hambatan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan keluarga ini yaitu keluarga kurang kooperatif, keluarga malu dengan
34

keadaannya Tn. Js aat ini sehingga data yang digali tidak maksimal karena
keluarga tertutup.

H. Area Keperawatan Gerontik


Praktik di area keperawatan gerontik adalah untuk menerapkan pelayanan asuhan
keperawatan lanjut usia di berbagai tatanan pelayanan kesehatan khususnya di
keluarga, pada panti werda dan masyarakat secara menyeluruh dan
berkesinambungan dengan penekanan pada upaya pemeliharaan kesehatan,
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit lanjut usia. Pada area ini
dituntut untuk dapat memberikan asuhan keperawatan selain memperhatikan
permasalahan psikis, juga permasalahan fisik yang terkait dengan proses menua.

Kompetensi di keperawatan gerontik adalah asuhan keperawatan pada lansia,


pendidikan kesehatan pada lansia, dinamika kelompok, fisoterapi, dan
pemenuhan kebutuhan spiritual. Kasus yang dikelola individu yaitu asuhan
keperawatan gerontik pada Tn. S dengan atritis gout sedangkan kelompok dengan
program unggulan latihan balance exercise sebagai keseimbangan tubuh lansia di
Wisma Mawar UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha jember

Menurut Kane dan Ouslander (dalam Aini, 2013) menyebutkan masalah yang
sering terjadi pada lansia yaitu immobility (kurang gerak), instability (berdiri dan
berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), inkontinensia (beser buang air besar
maupun kecil) , gangguan intelektual / demensia, infeksi, gangguan panca indra,
gangguan komunikasi, sulit buang air besar, tidak punya uang, depresi, menderita
penyakit akibat obat-obatan, daya tahan tubuh menurun, dan impotensi.

Penuaan dapat menyebabkan perubahan fisiologis system muskoloskeletal yang


berfariasi. Salah satu diantaranya adalah perubahan struktur otot, yaitu penurunan
jumlah dan ukuran serabut otot (atrofi). Dampak penuaan ini dapat menurunkan
kekuatan otot.

Balance Exercise adalah suatu latihan yang dilakukan untuk melatih otot
ekstermitas bagian bawah sehingga dapat meningkatkan keseimbangan tubuh
lansia. Bentuk latihan yang digunakan adalah gerakan abduksi dan adduksi kedua
35

ekstermitas bagian bawah yang dilakukan dalam hitungan sepuluh detik dengan
frekuensi setiap ekstermitas lima kali. Setelah dilakukan balance exercise pada
lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha jember keseimbangan tubuh
lansia meningkat. Angka resiko jatuh dapat berkurang dari hasil penelitian yang
telah dilakukan menimbulkan kontraksi otot pada lansia, dengan begitu kekuatan
otot ekstermitas meningkat dan membuat dapat mempertahankan line of gravity
sehingga kualitas Activity Day Living (ADL) Penghuni panti sosial meningkat
pula. Dengan demikian tugas perawat maupun pengurus dinas sosial lebih ringan
untuk menjaga lansia.

Sesuai dengan tujuannya keparawatan gerontik adalah memenuhi kenyamanan


lansia, mempertahankan fungsi tubuh serta membantu lansia menghadapi
kematian dengan tenang dan damai melalui ilmu dan teknik keperawatan
gerontik (Dewi, 2014).

Dukungan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan lansia yaitu lansia bersedia


untuk mengikuti instruksi, dan lansia mudah menjalin hubungan saling percaya.
Selain itu adanya dosen pengampu yang bersedia membimbing sehingga
pelaksanaan asuhan keperawatan berjalan dengan baik.

Hambatan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan lansia ini yaitu kemungkinan


kurangnya pengetahuan pembimbing lahan dalam keperawatan lansia sehingga
mengalami kebingungan saat menyusun laporan asuhan keperawatan lansia.
Selain itu kurang mampunya dalam menggali faktor psikososial yang sebenarnya
merupakan masalah utama klien. Klien terkadang menutupi masalah psikososial
yang dihadapi.

I. Area Menejemen Keperawatan


Kompetensi yang dicapai pada area ini adalah penerapan manajemen
keperawatan di ruangan. Pengkajian dilakukan pada 4 pilar MPKP yang terdiri
dari pendekatan manajemen, compensatory reward, hubungan professional, dan
manajemen asuhan keperawatan hingga analisis masalah yang akan rangkum
dalam desiminasi awal pada minggu pertama. Pada minggu kedua dan ketiga,
dilakukan role play aplikasi dari pemecahan masalah yang diikuti perawat
36

ruangan. Pada pertengahan minggu ketiga yaitu pada tanggal 31 Desember 2019
diselenggarakan grand kegiatan yaitu workshop dengan judul “Diskusi Ilmiah
Standart Asuhan Keperawatan pada pasien Intensive Di RSD Balung Jember
Jember”. Minggu keempat merupakan tahap evaluasi dari kegiatan yang
dilakukan dan pembukuan dokumentasi hasil kegiatan hingga dilakukan
desiminasi akhir.

Manajemen keperawatan merupakan suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan


oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasikan,
mengarahkan serta mengawasi sumber-sumber yang ada, baik sumber daya
maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan yang efektif baik kepada
pasien, keluarga, dan masyarakat. Menurut Grant & Massey (1997) dan Marquis
& Huston (1998) dalam Winny (2013) terdapat macam-macam metode asuhan
keperawatan yaitu model asuhan keperawatan profesional (MAKP) fungsional,
MAKP kasus, MAKP primer, MAKP tim.

Berdasarkan fakta didapatkan data bahwa ruang HCU telah menerapkan MAKP
tim, dimana menurut teori MAKP tim merupakan salah satu metode asuhan
keperawatan. Dalam menerapkan model asuhan keperawatan profesional tim ini
terdapat kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana. Ruang HCU telah
melakukan MAKP tim ini, namun ada beberapa bagian yang perlu untu dibenahi
dan ditingkatkan lagi, dari sinilah diperlukan peranan untuk mengkaji dan
memberikan masukan terkait praktik model asuhan keperawtan professional tim
yang sesuai.

Berdasarkan fakta yang ada dan teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa
didalam praktik manajemen keperawatan, menemukan permasalahan dari
pengkajian 4 pilar MPKP yang terdiri dari pendekatan manajemen, compensatory
reward, hubungan professional, dan manajemen asuhan keperawatan. Pengkajian
pada area ini sangat berbeda dengan pengkajian diarea lain, hal ini karena pada
area manajemen keperawatan ditekankan pada proses dan sistem menejerial yang
ada pada suatu ruangan.
37

Selama pelaksanaan praktik manajemen keperawatan dukungan penuh


didapatkan dari kepala ruang HCU dan perawat ruangan. Mereka sangat terbuka
dan menerima adanya praktik manajemen di ruangan. Hambatan dalam
pelaksanaan praktik manajemen ini yaitu terkait kurang memahami cara
mengumpulkan data, sehingga mengalami kesulitan dalam menetapkan masalah
beserta prioritas masalah.
J. Area Keperawatan Gawat Darurat
Tujuan akhir dari departemen keperawatan gawat darurat ditujukan pada
kemampuan dalam pemberian pelayanan asuhan keperawatan pasien yang
mempunyai masalah aktual dan potensial yang mengancam kehidupan tanpa atau
terjadinya secara mendadak atau tidak dapat diperkirakan dan tanpa atau disertai
lingkungan yang tidak dapat dikendalikan. Rangkaian kegiatan yang
dilaksanakan dan dikembangkan untuk mencegah kematian atau kecacatan yang
mungkin terjadi menggunakan pendekatan sistem, holistik dan penggunaan
teknologi maju. Sehingga setelah menyelesaikan praktik profesi ini mahasiswa
mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kondisi kedaruratan
dan kegawat daruratan dengan menggunakan peralatan khusus untuk melakukan
tindakan yang spesifik pada pengelolaan kasus kegawatan berdasarkan inti
keilmuan keperawatan gawat darurat.

Terdapat 2 asuhan keperawatan yang dikelola yaitu asuhan keperawatan non


trauma dan asuhan keperawatan trauma. Klien Ny. S dengan Trauma fraktur digit
1,2,3Sedangkan pada kasus non trauma, melaksanakan asuhan keperawatan pada
klien Ny. S dengan Post SC dengan PEB. Selain asuhan keperawatan terdapat
pula tugas resume sebanyak 8 kasus dengan pembagian 4 kasus trauma dan 4
kasus non trauma.

Didalam asuhan keperawatan, data yang digali antara lain: trauma keluhan
utama, mekanisme trauma, dan sample (symptom, allergy, medications, past
illness, last meals, event)] non-trauma (keluhan utama). Data objektif yang digali
yaitu airway, breathing, circulation, kesadaran (disability),
exposure/environtmental control, full set of vital sign / five interventions, dan
give comfort.
38

Pendekatan dalam pelayanan keperawatan gawat darurat menurut Tamia (2013)


yaitu tepat, cermat, hemat, dan cepat. Tepat yaitu melakukan tindakan dengan
betul dan benar. Cermat yaitu melakukan tindakan dengan penuh minat,
perhatian, sabar, tanggap terhadap keadaan klien,penuh ketelitian dan berhati-hati
dalam bertindak, serta hemat sesuai dengan kebutuhan. Cepat yaitu tindakan
segera dalam waktu singkat dapat menerima dan menolong klien, cekatan,
tangkas, serta terampil. Sementara itu prioritas dalam penanganan kegawatan
berdasarkan 6B yaitu breath, bleed, brain, bladder, bowl, dan bone. Didalam
asuhan keperawatan kegawat daruratan pengkajian dilakukan pada : trauma
[keluhan utama, mekanisme trauma, dan sample (symptom, allergy, medications,
past illness, last meals, event)] non-trauma (keluhan utama). Data objektif yang
digali yaitu airway, breathing, circulation, kesadaran (disability),
exposure/environtmental control, full set of vital sign / five interventions, dan
give comfort.

Berdasarkan teori dan fakta yang ada, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
asuhan keperawatan kegawat daruratan diperlukan ketepatan, kecermatan, dan
kecepatan baik dalam pengkajian maupun pada penanganannya. Pengkajian pada
area ini difokuskan pada data objektif, dimana data tersebut didapat dari airway,
breathing, circulation, kesadaran (disability), exposure/environtmental control,
full set of vital sign / five interventions, dan give comfort. Penanganan klien juga
didasarkan pada data objektif yang didapatkan.

Secara umum dalam pelaksanaan praktik profesi di area ini, tidak mendapatkan
kendala yang berarti oleh karena dukungan dan bimbingan dari para
pembimbing.

K. Area Keperawatan Jiwa


Kompetensi yang dicapai pada area keperawatan jiwa terdapat dua macam yaitu
jiwa komunitas dimasyarakat dan jiwa klinik di RS Jiwa Lawang. Pada jiwa
komunitas mengasuh klien Tn. M dengan Ansietas di dusun Krajan desa
Rambipuji kecamatan Rambipuji kabupaten Jember. Kompetensi yang dicapai
pada area keperawatan jiwa di rumah sakit jiwa salah satunya asuhan
keperawatan di unit rawat inap di ruang Kasuari. Asuhan keperawatan jiwa yang
39

dikelola yaitu pada Tn. C dengan Resiko Perilaku Kekerasan RSJ dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang Malang. Sebelum memberikan asuhan keperawatan
diperlukan persiapan SPTK terlebih dahulu agar terjalin BHSP yang baik.

Asuhan keperawatan jiwa memperhatikan faktor psikologis dan sosial disamping


faktor biologis. Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa
berbeda dan unik, hal ini karena masalah kesehatan jiwa tidak hanya dilihat dari
penampilan luarnya (fisik) saja, karena sehat fisik belum tentu sehat psikis.
Pengalaman masa lalu memegang peranan yang sangat penting dalam
permasalahan kesehatan jiwa, serta kemampuan mereka untuk berperan dalam
menyelesaikan masalah juga bervariasi. Hubungan saling percaya antara perawat
dengan klien merupakan dasar utama dalam melakukan asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan jiwa (FIK UNPAD, 2008).

Pengkajian pada area keperawatan jiwa berbeda dengan area lainnya, dimana
dalam pengkajian harus mencakup data alasan masuk (data primer dan data
sekunder), riwayat penyakit sekarang atau faktor presipitasi, faktor predisposisi
(pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan), riwayat penyakit keluarga,
pemeriksaan fisik, psikososial, konsep diri, hubungan social, spiritual dan
kultural, status mental, penampilan, pembicaraan, aktivitas motorik, afek dan
emosi, interaksi selama wawancara, persepsi-sensori, proses pikir, kesadaran,
orientasi, memori, tingkat konsentrasi dan berhitung, kemampuan penilaian, daya
tilik diri, kebutuhan perencanaan pulang (makan, bab/bak, mandi,
berpakaian/berhias, istirahat dan tidur, penggunaan obat, pemeliharaan kesehatan,
aktivitas dalam rumah, dan aktivitas di luar rumah), mekanisme koping, masalah
psikososial dan lingkungan, pengetahuan kurang, dan aspek medis.

Berdasarkan teori dan fakta yang ditemukan, dapat dikatakan asuhan


keperawatan jiwa memiliki perbedaan dengan asuhan keperawatan lainnya.
Asuhan keperawatan jiwa ditekankan pada faktor psikologis dan social, dimana
diperlukan pengkajian yang khusus dan tepat. Intervensi yang dilakukan berbeda
dengan asuhan keperawatan lainnya dimana dalam asuhan keperawatan jiwa
diperlukan API (Analisa Proses Interaksi) dan SPTK (Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan). TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) dapat digunakan
40

dalam proses asuhan keperawatan, kegiatan ini dapat dilakukan pada klien yang
kooperatif, dimana kegiatan ini pada dasarnya bertujuan untuk lebih
mendekatkan kllien dalam kelompok, disamping tujuan khusus sesuai dengan
TAK yang dilakukan.

Selama melakukan praktik keperawatan jiwa mendapat bebeapa dukungan, pada


jiwa komunitas keikutsertaan aparat desa dalam memberikan informasi setiap
klien gangguan jiwa sangat membantu, sedangkan di rumah sakit jiwa didapatkan
klien yang kooperatif, bersedia untuk ditanya dalam proses pengkajian, dan
berhasilnya membina hubungan saling percaya dengan klien. Selain itu adanya
pembimbing klinik dan akademik yang bersedia membimbing. Hambatan dalam
asuhan keperawatan jiwa yaitu adanya kesulitan untuk menggali data valid dari
klien. Klien sering berubah-ubah dalam menjawab pertanyaan.

L. Area Praktika Senior


Praktik pada kompetensi praktika senior merupakan proses kegiatan
pembelajaran lapangan yang bersifat komprehensif (PBLK). Melalui kegiatan ini
diharapkan mahasiswa sebagai praktikan akan mampu mengaplikasikan
beberapa keilmuan mulai pemahaman terhadap manajemen keperawatan,
metodologi penelitian, ketrampilan klinik, ilmu klinik, ilmu dasar yang
menunjang secara terintegrasi. Fokus kegiatan ini diarahkan untuk
mengidentifikasi fenomena yang terjadi di klinik, hingga metode penyelesaian
masalahnya (problem solving). Sehingga pembelajaran akan mampu
terfasilitasinya kompetensi praktikan kearah berfikir kritis (critical thinking)
melalui metode pembelajaran dengan menggunakan Evidence Based Practice
(EBP) maupun Evidence Based Nursing (EBN).

Kompetensi individu melakukannya asuhan keperawatan melalui 3 pasien


dengan diagnosa medis yang sama yaitu Arhtritis Gout. Penyakit artritis gout
adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling sering ditemukan,
ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di dalam ataupun di
sekitar persendian. Monosodium urat ini berasal dari metabolisme purin. Hal
penting yang mempengaruhi penumpukan kristal adalah hiperurisemia dan
saturasi jaringan tubuh terhadap urat. Apabila kadar asam urat di dalam darah
41

terus meningkat dan melebihi batas ambang saturasi jaringan tubuh, penyakit
artritis gout ini akan memiliki manifestasi berupa penumpukan kristal
monosodium urat secara mikroskopis maupun makroskopis berupa tophi
(Mandel, 2008 dalam Zahara, 2013).

Pada pengkajian yang telah dilakukan tanggal 14 November 2018, tiga lansia di
UPT PSTW Jember mengeluhkan nyeri persendian khususnya pada bagian lutut
dan tumit. Pada kasus pertama, Ny. Sr 61 tahun mengeluhkan Nyeri pada daerah
lutut dan pusing. Nyeri seperti ditusuk-tusuk. Skala nyeri 4. Nyeri semakin berat
saat digunakan berjalan dan setelah bangun tidur, dan berkurang saat digunakan
istirahat dan duduk di teras, Ny. Sr memiliki riwayat jatuh sebelumnya ketika
bekerja. Pada kasus kedua, Ny D, 85 tahun Nyeri pada daerah kaki dan tangan.
Nyeri seperti ditusuk-tusuk. Skala nyeri 4. Nyeri semakin berat saat digunakan
berjalan dan setelah bangun tidur, dan berkurang saat digunakan istirahat. Pada
kasus ketiga, Ny. S, 80 tahun mengeluhkan nyeri lutut sebelah kanan dan kiri
yang bengkak. Nyeri seperti ditusuk-tusuk. Skala nyeri 5. Nyeri semakin berat
saat digunakan berjalan dan setelah bangun tidur, dan berkurang saat digunakan
istirahat.

Menurut Padila (2013) pada lansia yang mengalami penyakit salah satunya yaitu
artritis gout merasakan kecemasan yang cukup tinggi apalagi pada sistem yang
mengalami deformitas pada sendi-sendi karena lansia merasakan adanya
kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari berubah
serta merasa dirinya tidak berguna karena lebih bergantung pada orang lain.

Kecemasan (ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung
oleh situasi.Gangguan kecemasan (ansietas) adalah sekolompok kondisi yang
memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan yang disertai
respon perilaku, emosional dan fisiologis individu yang mengalami gangguan
ansietas (Videbeck Sheila L, 2008).
Pada pengkajian riwayat psikososial pada kasus pertama pada Ny.Sr Klien
mengatakan selalu kepikiran tentang penyakitnya yaitu lututnya bengkak dan
linu linu. Klien ingin pulang tapi badan sudah sakit-sakitan, pernah saat malam
hari menangis memikirkan untuk pulang tapi tidak punya uang dan tidak
42

berguna jika kembali ke keponakannya. Hal tersebut ditunjang data observasi


yaitu emosi stabil, klien tampak lebih suka di dalam kamar, wajah tampak
gelisah, sering menundukkan kepala, mata sembab, pemeriksaan ansietas
berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) di dapatkan nilai 26 yang
artinya klien mengalami kecemasan sedang.

Pada pengkajian riwayat psikososial pada kasus kedua pada Ny.D mengatakan
takut dengan kondisinya yang sudah tua dan sakit. Klien masih ingin bertemu
dengan anaknya yang sedang bekerja di Bali. Klien cemas meratapi nasibnya di
panti jompo karena klien ingin pulang untuk bertemu anaknya di Bali. Klien
merasa lemah dengan kondisinya sekarang. Hal tersebut ditunjang data observasi
yaitu emosi stabil, klien tampak lebih suka di dalam kamar, wajah tampak
gelisah, sering menundukkan kepala, mata sembab, pemeriksaan ansietas
berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) di dapatkan nilai 24 yang
artinya klien mengalami kecemasan sedang.

Pada pengkajian riwayat psikososial pada kasus ketiga pada Ny.S mengatakan
takut akan kondisinya sekarang, klien ingin tetap sehat walaupun dimasa tua dan
tidak ingin merepoti orang disekitarnya. Klien merasa sedih dan tidak berguna
akan kondisinya yang sudah tua dan sakit. Hal tersebut ditunjang data observasi
yaitu emosi stabil, klien tampak lebih suka di dalam kamar, wajah tampak
gelisah, sering menundukkan kepala, mata sembab, pemeriksaan ansietas
berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) di dapatkan nilai 24 yang
artinya klien mengalami kecemasan sedang.

Dari ketiga pasien seluruhya memilki diagnosis ansietas dengan penyebab yang
sama yaitu akibat penyakit yang diderita nyeri sendi (arthritis gout) akibat proses
penuaan dan merasa takut dan tidak berguna akan kondisinya saat ini. Maka dari
itu secara garis besar intervensi keperawatan dari ketiga pasien sama yang
tujuannya yaitu ansietas berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
4x24 jam. Intervensi keperawatan dari diagnosa keperawatan ansietas penulis
memodifikasi dari hasil penelitian yg dilakukan oleh Pranyata & Yuwanto
(2014) dengan judul pengaruh hidroterapi (Rendam kaki Air Hangat) terhadap
43

penurunan tingkat kecemasan pada lansia di Desa Sumbersari Kecamatan


Maesan Kabupaten Bondowoso.

Menurut Stevenson (2007), hidroterapi adalah sebuah teknik yang menggunakan


air sebagai media untuk menghilangkan rasa sakit dan mengobati penyakit.
Hidroterapi memiliki efek relaksasi bagi tubuh, sehingga mampu merangsang
pengeluaran hormon endorphin dalam tubuh dan menekan hormon adrenalin.
Dengan demikian, lansia yang menjalani treatment ini akan merasa tenang,
relaks dan tidak ada beban.

Treatment hidroterapi mampu memberikan efek relaksasi dengan meningkatkan


kenyamanan melalui sensasi hangat pada permukaan telapak kaki. Konsep ini
akan meningkatkan pelepasan hormone endorphin, sehingga tubuh merasa lebih
rileks dan menekan tingkat stress. Oleh karena itu, hidroterapi (rendam kaki air
hangat) mampu memberikan penurunan pada tingkat kecemasan lansia.
Hidrotepai (rendam kaki air hangat) adalah teknik meningkatkan stimulus
sensasi relaksasi yang dilakukan dengan cara merendam kaki pada air hangat
bersuhu 37°C-39ºC. Hidroterapi rendam kaki menggunakan air hangat dilakukan
selama 15 menit yang di lakukan pada bagian bawah lutut sampai mata kaki
selama 7 hari.

Secara keseluruhan intervensi keperawatan pada diagnosa keperawatan ansietas


pada ketiga pasien yaitu dengan menggunakan pendekatan yang menenagkan,
melakukan health education tentang upaya pegurangan tingkat ansietas
menggunakan rendam kaki air hangat untuk memberikan rasa nyaman pada
klien, mendiskusikan pentingnya melakukan kegiatan yang dapat memberikan
rasa nyaman dan ketenanagan. Melakukan nursing treatment dengan
menciptakan modifikasi lingkungan dengan suasana tenang dan tidak bising dari
lingkungan luar, memberikan hidroterapi (Rendam kaki Air Hangat), melakukan
kolaborasi dengan tim penjaga wisma atau ruangan : untuk memberikan suasana
yang nyaman dan tenang (tidak bising suara), dengan tim sarana dan prasarana
UPT: perhatikan kamar agar selalu bersih dan wangi pada lingkungan klien.
Melakukan observasi tingkat kecemasan meliputi Postur tubuh, ekpresi wajah,
44

bahasa tubuh dan aktivitas, kondisi lingkungan yang menjadi faktor risiko dan
penerapan cara mengurangi kecemasan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pranyata & Yuwanto (2014) dengan
judul pengaruh hidroterapi (Rendam kaki Air Hangat) terhadap penurunan
tingkat kecemasan pada lansia di Desa Sumbersari Kecamatan Maesan
Kabupaten Bondowoso menyatakan bahwa berdasarkan uji analisa Wilcoxon
Macth Paired Test didapatkan hasil da pengaruh hidroterapi (rendam kaki air
hangat) terhadap penurunan tingkat kecemasan pada lansia.

Hal ini ditunjukkan dengan nilai p = 0,021. P < α yaitu 0,021 <
0,05.Implementasi keperawatan disesuaikan dengan intervensi keperawatan
yang sudah ditentukan pada ketiga pasien. Implementasi yang dimodifikasi
dengan hidroterapi (rendam kaki air hangat) dilakukan selama 7 hari untuk
mengurangi ansietas pada lansia. Dimana terapi hidroterapi rendam kaki
menggunakan air hangat dilakukan selama 15 menit yang di lakukan pada
bagian bawah lutut sampai mata kaki dengan suhu 37-39 C selama 7 hari.
Setelah 7 hari dilakukan implementasi,ketiga lansia dilakukan evaluasi. Adapun
kendala dalam intervensi ini yaitu dalam proses penyediaan air hangat karena air
harus dalam suhu 37-39 C.

Hasil evaluasi yang didapatkan setelah dilakukan implementasi keperawatan


yang dimodifikasi dengan latihan hidroterapi (rendam kaki air hangat) pada
ketiga pasien yaitu sebagai berikut klien mengatakan kecemasannya berkurang
dan lebih tenang sekarang dan berpikiran positif bahwa anaknya sudah bahagia
ditunjang dengan data Objektif klien mampu mengidentifikasi gejala cemas,
postur tubuh, ekpresi wajah, bahasa tubuh dan aktivitas menunjukkan
berkurangnya tingkat kecemasan (wajah tampak tersenyum, tangan tidak kaku
saat berjabat tangan, mau keluar di luar kamar, tidak sering marah), klien
mampu mengungkapkan dan menunjukkan teknik mengontrol cemas (dengan
menyebutkan rendam kaki air hangat), klien mampu mendemosntrasikan cara
mengurangi tingkat kecemasan dengan rendam kaki air hangat.