Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM KETIGA BELAS

SOSIOLOGI AGRIBISNIS
Tema : Hubungan Industrial
Judul Bacaan 1 : Derita Kaum Buruh Di Tengah Kemegahan Perkebunan Kelapa
Sawit

Judul Bacaan 2 : Nasib Penderes Nira Dan Perajin Gula Kelapa di Banyumas Jika
Pasar (dibiarkan) Mengatur Dirinya Sendiri

Kelompok 4
1. Selma Debi Rulianda (J3J218474)
2. Siti Rahmi Awalia Azis (J3J118084)
3. Muhammad Kahfi Hartanto (J3J118261)
4. Muhammad Ariq Aiman (J3J218412)
5. Geraldy Samuel (J3J118186)

Pembimbing : Murdianto, Ir, Msi.

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS


DIREKTORAT SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
Praktikum Ketigabelas-1
Tema : Hubungan Industrial
Bacaan : Derita Kaum Buruh Di Tengah Kemegahan Perkebunan Kelapa Sawit

RINGKASAN
Kehadiran perkebunan kelapa sawit secara ekonomis telah memberikan harapan yang besar
bagi pemilik modal. Perluasan perkebunan kelapa saeit meningkat , perluasan tanpa kontrol
dengan melakukan eksploitasi menjadi perekbunan kelapa sawit. Di sumut sampai saat ini
tecatat luas seluruh perkebunan sekitar 967.000 lahan ,dan dengan jumlah sawit sekitar
600.000 ha, dengan jumlah buruh skitar 212.740 buruh. Perluasan lahan sawit dengan
mobilisasi buruh begitu banyak telah mendorong peningkatan produksi CPO dari sumut,
dan hal ini membawa keuntungan yang besar bagi pemilik modal dan pemrintah ,
seharusnya dengan ini kesejahterahaan buruh meningkat, ustru malah mengalami
penurunan kualitas.

Bentuk perikatan kerja di perkebunan,pola perikatan kerja yang longgar di perusahaan


perkebunan besumber dari rekruitmen warisan berakar-akar sejak dulu, dan jaman
kesejahteraan buruh tidak berlangsung lama. Seperti perusahaan perkebunan kelapa sawit
mengambil keuntungan dengan minimalisasi buruh tetap hanyab untul level managemen,
sementara level buruh adalah optimalisasi BHL. Semakin lengkap ketika dinera reformasi,
dimana Negara turut memberi adil menyengsarakan warganya ketika melegalkan
perbudakan modern .

Pengupahan yang tidak adil, bagi buruh merupakan unsur fundamental, upah satu-satunya
bersumber dari penghasilan utama untuk memenuhu kebutahan hidup keluarga, pada awal
orde baru, Indonesia memiliki sejarah pengupahan kembali berbasis penghisapan dengan
monoterisasi.

Dari aspek sejahterahaan sosial dampak kehadiran perusahaan perkebunan juga tidak
menunjukan perbaikan , fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa kehidupan buruh,
terutama buruh harian lepas dari komunitas juga meburuk. Akses untuk mendapatkan
pelayanan nuga tidak memadai ,akses pendidikan juga tidak memadai. Keselamatan dan
kesehatan kerja merupak hak untuk buruh dan kewajiban bagi pemerintah untuk
memberikan keselamatan dan kesehatan yang baik bagi buruh.
Bentuk kecelakaan di prkebunan sawit biasanya yaitu, tertimpa pelepah dan buah, mata
terkena kotoran, terkena tetesan obat yang beracun, sehingga sangat di butuhkan standar
keselamatan kerja dan prilaku tidak mengindahkan kerja yang benar terutama akibat
minimnya sosialisasi dan pelatihan kerja bagi buruh perkebunan.

pergerakan modal mengotruksi relasi kerja ,dan peran Negara diminimalisir yang berakibat
pada nasib buruh. Menguatnya praktek fleksibilitas hubungan kerja telah menetapkan
posisi buruh pada posisi tawar yang sangat rendah. Ruang kebebesan berserikatpun semakin
sempit, dan buruh harian lepas memaksa buruh menerima apa adanya kemauan perusaan.
Peraturan perundang undangan yang mengatur hak-hak buruh menjadi lips service semata,
karena peran pemerintah yang hilang. Posisi hokum perburuhan telah menggeser dari ranah
public ke ranah perdata pasca UU no13 tahun 2003 dan UU NO 2 TAHUN 2004.
PERTANYAAN

1. Hubungan Industrial mengatur hubungan manajemen dengan buruh/karyawan, sehingga


iklim menjadi kondusif dan berwujud kepada pencapaian tujuan perusahaan dan
kesejahteraan buruh. Apakah tipe hubungan yang direalisasikan dan apakah tercapai tujuan
mensejahterakan buruh? Jelaskan!
JAWABAN :
Hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang bersangkut atau
berkepentingan atas proses produksi atau pelayanan jasa di suatu perusahaan.
Tipe hubungan industrialnya dasarnya adalah proses terbinanya komunikasi, konsultasi
musyawarahserta berunding dan ditopang oleh kemampuan dan komitmen yang tinggi dari
semua elemen yang ada dalam perusahaan.
Tidak tercapai, karena masih banyak buruh yang mengalami kesengsaraan.
Terdapat di kutipan paragraph 2 pada bacaan 1

“ Tiga puluh menit mereka istirahat kemudian Supardi melanjutkan pekerjaannya


mengegrek sawit dengan ketinggian pohon sekitar 15-20 meter, agar dapat mengejar target
dengan ketentuan perusahaan serta premi yang diharapkan melampaui target. Sementara
istrinya membereskan sisa makanan. “

Terdapat kutipan paragraph 4 pada bacaan 2

“Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker juga tidak diberikan,
sehabis bekerja Suprawati merasakan mulutnya pahit… “

2. Iklim kerja dipengaruhi oleh kinerja buruh dan kinerja perusahaan. Perusahaan
‘diwajibkan’ memenuhi standar perlengkapan kerja APD bagi buruh,namun sering tidak
diprioritaskan. Perusahaan relative lebih mendahulukan produktivitas buruh dan kurang
menjamin K3. Inilah bentuk eksploitasi buruh, benarkah ? Jelaskan !
JAWABAN:
Iya benar.

Terdapat di kutipan paragraph 2 pada bacaan 1

“ Tiga puluh menit mereka istirahat kemudian Supardi melanjutkan pekerjaannya


mengegrek sawit dengan ketinggian pohon sekitar 15-20 meter, agar dapat mengejar target
dengan ketentuan perusahaan serta premi yang diharapkan melampaui target. Sementara
istrinya membereskan sisa makanan. “

Terdapat kutipan paragraph 4 pada bacaan 2


“Sementara alat seperti sarung tangan tidak diberikan. Masker juga tidak diberikan, sehabis
bekerja Suprawati merasakan mulutnya pahit… “
KESIMPULAN

Dari ini kami simpulkan bahwa tipe hubungan yang direalisasikan belum tercapai karena
masih banyak buruh yang sengsara, mereka dibatasi oleh waktu yang begitu sempit dan juga
tidak adanya peralatan yang menunjang keamanan kerja mereka, begitupun ppadabstandar kerja
APD bagi buruh yang belum terpenuhi dengan benar sehingga ini menjaddi bentuk eksploitasi
buruh.
Praktikum Ketigabelas-2
Tema : Hubungan Industrial
Bacaan : Nasib Penderes Nira Dan Perajin Gula Kelapa di Banyumas Jika Pasar
(dibiarkan) Mengatur Dirinya Sendiri

RINGKASAN
PERTANYAAN

1. Apakah industri gula kelapa pedesaan Banyumas, merupakan jenis industri yang berbasis
budaya lokal (Authonomous Industry) atau industri yang berbasis budaya luar (Indiced
Industry) Jelaskan!
JAWABAN:

2. Industri Gula Kelapa di Banyumas tersebut, menunjukkan ketergantungan timbal balik yang
timpang (menguntungkan sepihak) antara Penderes dengan Juragan Gula Merah. Dalam
perpektif sosio-ekonomi? Jelaskan!
JAWABAN:

3. Terdapat peristiwa-peristiwa 'perlawanan' Penderes terhadap tindakan Juragan yang


dipandang Penderes merugikan mereka. Posisi tawar Penderes yang rendah dihadapan
Juragan, disikapi Penderes dengan tindakan yang tidak fair (Unfairness), sebaliknya
Juragan tidak kurang akal, dengan strategi tertentu, juragan tetap memperoleh
keuntungan.
JAWABAN:

KESIMPULAN