Anda di halaman 1dari 27

BAB I

ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB PROFESI

1. Tanggung Jawab

1.1 Pengertian Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah suatu keadaan wajib secara sadar yang dilakukan oleh seorang manusia untuk menanggung perbuatan yang dilakukan olehnya baik secara sengaja maupun tidak sengaja atau dapat disimpulkan sebagai wujud kesadaran untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Tanggung jawab merupakan kodrat dari manusia yang artinya tanggung jawab itu sendiri telah menjadi bagian dari hidup seorang manusia. Tanggung jawab dapat dilihat dari 2 sisi diantaranya adalah sisi yang berbuat dan dari sisi pihak yang memiliki kepentingan lain. Tanggung jawab merupakan hal yang bersifat tidak tetap artinya tanggung jawab itu dapat diturunkan atau dipindahkan kepada pihak lain. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dunia mengakui 3 konsep penting dalam menumbuhkan sikap bertanggung jawab yakni “Menyadari, menerima, dan melakukan”. Konsep ini mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak karena bukanlah hal yang mudah untuk bisa mencapai ketiga hal ini. Sesuai dengan perkembangan zaman, maka tanggung jawab menjadi suatu tren dalam masyarakat dimana tolak ukur kesuksesan setiap orang ada pada sikap hidup “menyadari, menerima dan melakukan”. Tanggung Jawab kemudian berkembang dan menghasilkan suatu ide baru yakni bertanggung jawab. Pada hakikatnya tanggung jawab itu sendiri dapat

dilaksanakan oleh semua orang namun tidak semua orang memilih untuk menumbuhkan sikap hidup bertanggung jawab dalam kesehariannya. Tanggung jawab kemudian berkemembang dan menjadi titik tolak penilaian dalam menempuh sebuah pekerjaan, tanggung jawab memiliki kaitan yang sangat erat dengan kepercayaan oleh karena itu, orang yang memiliki tanggung jawab yang besar sering juga dipercayakan akan hal hal yang besar pula. Jika kita telaah lebih lanjut, tanggung jawab dibagi menjadi 4 bagian yakni tanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan tanggung jawab kepada bangsa dan negara. berikut ini adalah penjabaran mengenai bagian bagian tanggung jawab :

1.1.1 Tanggung Jawab Terhadap Tuhan Tanggung jawab terhadap Tuhan merupakan suatu mandat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap mahluk ciptaannya untuk menjalankan, menjaga, serta mengusahakan segala sesuatu yang telah diciptakanNya. Tanggung jawab kepada Tuhan bersifat abstrak dan termaksud kaedah agama karena tidak dapat dilihat oleh manusia yang lain namun bisa dirasakan oleh individu yang berbuat. Wujud dari tanggung jawab kepada Tuhan adalah dengan cara beribadah, sembahyang, mengucap syukur dan menjadi berkat bagi orang orang di sekitar kita.

1.1.2 Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri Tanggung jawab kepada diri sendiri merupakan kebutuhan utama dari setiap manusia untuk melindungi hak dan kewajibannya. Manusia sebagai mahluk individual yang selalu berusaha untuk mengembangkan dirinya sendiri serta berusaha untuk membangun citra diri sebagai mahluk yang beradab di kalangan publik. Tanggung jawab kepada diri sendiri menuntut setiap orang untuk mampu memecahkan masalah yang dilakukan olehnya.

1.1.3 Tanggung Jawab Kepada Keluarga Tanggung jawab kepada keluarga menjadi hal pokok kedua yang perlu dipenuhi oleh setiap manusia. Sesuai dengan definisinya, keluarga adalah sekumpulan orang (rumah tangga) yang memiliki hubungan darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi fungsi instrumental mendasar dan fungsi fungsi ekspresif keluarga bagi setiap anggota yang berada dalam satu jaringan. Bentuk tanggung jawab kepada keluarga adalah dengan cara menjaga nama baik serta harkat dan martabat dari keluarganya. Tanggung jawab akan keluarga dapat diwujudkan apabila tanggung jawab kepada diri sendiri telah dilaksanakan.

1.1.4 Tanggung Jawab Kepada Masyarakat Bertanggung jawab kepada masyarkat merupakan realisasi dari prinsip dimana manusia dikatakan sebagai mahluk sosial. Arti dari mahluk sosial itu sendiri adalah suatu keadaan yang secara kodrati tidak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu ingin hidup berkelompok dan membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Dalam hidup berkelompok, berlaku istilah yang dikemukakan oleh Thomas Hobes yakni “Bellum Omnium Comtra Omnes/Homo Homini Lupus” yang artinya “manusia yang kuat menjadi penguasa atas manusia yang lemah/manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia yang lain”. Bertanggung jawab dalam masyarakat memiliki jenjang yang lebih besar dibandingkan bertanggung jawab kepada keluarga karena faktor penentu kesuksesan seseorang dipandang dengan cara “Bagaimana dia membangun citra dirinya dalam bersosialisasi?”.

1.1.5 Tanggung Jawab Kepada Bangsa Suatu keharusan bagi manusia Indonesia untuk memiliki sikap bertanggung jawab kepada negarannya karena negara merupakan jenjang tertinggi dan menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi. Manusia dikatakan bertanggung jawab kepada negaranya apabila dia telah mampu merealisasikan nilai nilai, norma norma, kaedah kaedah serta mampu berfikir, berbuat dan bertindak sesuai dengan batasan batasan yang ditentukan oleh negaranya. Bertanggung jawab kepada negara memerlukan suatu sifat kerelaan yang mana dimaksud dari sikap kerelaan ini adalah kerelaan untuk memberikan sebagian haknya kepada pemerintah untuk dapat mengatur negaranya. Berbeda dengan pendapat dari Copernicus dan Gallileo Galilei, yang berpendapat kebebasan penuh berada di tangan individu, negara tidak boleh ikut campur dalam urusan individu (Faham Individual Liberalis). Ada beberapa ahli yang mengemukakan tentang arti dari tanggung jawab diantaranya adalah Frans Magnis Suseno (2014)

yang berpendapat bahwa tanggung jawab adalah suatu kewajiban yang perlu diembani seseorang dalam keadaan sadar secara sengaja maupun tidak sengaja dimana hal tersebut melibatkan manusia sebagai subyek yang melakukan suatu perbuatan.

1.2 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TANGGUNG JAWAB Seperti yang dikemukakan di awal pembahasan, tanggung jawab menjadi faktor penting dalam kehidupan setiap manusia karena berkaitan erat dengan kepercayaan. Semakin besar seorang manusia dipercaya, semakin besar tanggung jawab yang akan diembani. Namun disamping dari semua itu, ada beberapa hal yang membuat tanggung jawab tidak

dapat dijalankan dan tidak dapat berjalan dengan lancar yang perlu untuk diperhatikan diantaranya :

1.2.1

Fisik Fisik merupakan hal yang penting dalam menjalankan tanggung jawab yang diembani oleh setiap orang karena fisik menjadi faktor pendukung bagi setiap orang untuk menjalankan aktifitasnya. kita

cederung menilai seseorang berdasarkan faktor penampilan dan perilaku orang lain (Livingstone, 2001) faktor tersebut dapat

memberi kesan yang mendalam. 1 Fisik yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur serta tata cara yang ditentukan. Fisik merupakan penilaian utama seseorang dalam bekerja karena kemampuan fisik mencangkup kekuatan, kesanggupan, kesempurnaan fisik, ketidakcacatan fisik serta dapat atau tidaknya seseorang menjalankan fungsi panca indranya dengan benar untuk melakukan suatu tugas dan kepercayaan yang diberikan. Pada kenyataannya orang orang cacatpun dapat melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar dan baik bahkan lebih bagus dari manusia normal yang tidak bercacat pada umumnya. Namun jika ditelusuri, kita akan menemukan fakta yang mana bahwa dominannya sebagaian besar orang dapat dipercayakan tanggung jawab yang besar apabila memiliki kesempurnaan fisik namun hal tersebut tidak memberikan kepastian bahwa orang yang cacat tidak dapat diberikan tanggung jawab yang besar karena hal tersebut tergantung pada penilaian dari pihak pihak yang ingin memberikan tanggung jawab serta pribadi dari setiap orang. Dunia saat ini terkenal dengan istilah “Mensana In Corpore Sano” yang dikemukakan oleh seorang sastrawan dari Romawi dalam bukunya Satere X di abad ke 2 masehi. Beliau mengemukakan pendapat

1 Psikologi Social Edisi Kedua Belas, Shelley E. Taylor., ET AL (2009), halaman 42

hal

tersebut kemudian menjadi trend topik sampai saat ini dan faktanya masih banyak orang yang berpegang teguh pada istilah tersebut.

bahwa “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”

1.2.2 Psikologi Faktor psikologi menjadi faktor utama seseorang dapat menjalankan suatu tanggung jawab. Seseorang bisa dikatakan memiliki fisik yang mendukung untuk melakukan suatu tanggung jawab namun apabila tidak memiliki psikis yang bagus pula, maka tanggung jawab tidak dapat dijalankan dengan benar. faktor psikologi berhubungan dengan bagaimana kondisi jiwa seseorang atau keadaan psikis dari seseorang. Semangat yang tinggi merupakan perwujudan dari kondisi psikis yang bagus. Artikel kesehatan “AlooDokter” memposting suatu fakta menarik mengenai

“Gangguan Psikosomatis, ketika pikiran menyebabkan penyakit

fisik” . Psikosomatis terdiri dari 2 kata yakni pikiran (phyche) dan tubuh (soma), gangguan psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan tubuh dan jiwa, dimana pikiran memengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau diperparah. Perkembangan zaman memberikan suatu persepsi baru dimana psikis menjadi faktor utama yang mempengaruhi optimalisasi berjalannya sebuah pekerjaan atau tanggung jawab.

1.2.3 Geografis/lingkungan Geografis Lingkungan dikatakan dapat menjadi faktor penentu dalam menumbuhkan sikap bertanggung jawab karena lingkungan turut ikut serta dalam proses pembentukan pola pikir dan pola bertindak, dan karakteristik dari seorang individu karena setiap orang dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingungannya. Jika seseorang berada pada lingkungan geografis yang keras akan persaingan, maka secara otomatis orang tersebut akan termotivasi untuk memodernisasikan serta mengembangkan dirinya agar dapat

dipercayakan akan tanggung jawab yang besar. Hal serupa seringkali terjadi di dunia pekerjaan dan dipengaruhi oleh motivasi diri. Apabila seseorang memiliki motifasi diri yang kuat dan gigih maka tanggung jawab yang besar pula dapat dipercayakan kepadanya namun apabila sebaliknya, maka tanggung jawab tersebut hanyalah akan menjadi sebuah mimpi.

1.2.4 Sosial dan Kebudayaan Kebudayaan memiliki peran besar dalam pembentukan karakter kepribadian manusia terutama unsur unsur budaya yang secara langsung mempengaruhi individu. Kebudayaan dapat menjadi pedoman hidup bagi manusia dan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kepribadian merupakan indikator bagi seseorang untuk dapat bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan sesuatu. Contohnya karena pergaulan dengan masyarakat yang sederhana, maka seseorang lebih cenderung untuk bertanggung jawab dalam hal yang sederhana.

1.3 Sifat dan Batasan Tanggung jawab Sifat dan batasan dari tanggung jawab merupakan cara awal yang patut untuk ditempuh untuk mengetahui kepastian dari jangka waktu kedua hal ini. sifat dari tanggung jawab adalah mutlak dan konkirt jika kita menggunakan metode heuristik karena tanggung jawab itu sendri memiliki sifat yang kompleks namun disederhanakan menggunakan metode heuristik. Metode heuristik sendiri adalah tahap yang dilakukan untuk menyederhanakan sesuatu yang bersifat kompleks ke sesuatu yang bersifat konkrit. Selain itu, sifat bertanggung jawab adalah memaksa dimana seseorang dituntut untuk bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan oleh perbuatannya namun juga untuk kerugia yang disebabkan kelalaian atau kurang hati hatinya (1365 KUHPerdata), dan dikonkritkan lagi dalam 1367 KUHPerdata tentang batasan batasan dari tanggung jawab. Tanggung jawab dalam pasal 1367 KUH Perdata

dikelompokan menjadi 2 (dua) jenis diantaranya adalah (1) tanggung jawab berdasarkan kesalahan dan (2) tanggung jawab berdasarkan resiko. Faktor utama yang membuat batasan dalam mewujudkan sebuah tanggung jawab adalah hak. Hak dapat dikatakan sebagai faktor utama pembatas sebuah tanggung jawab karena hak memberikan suatu kewenangan yang bersifat pasti tanpa dapat diganggu gugat sebagai contoh dalam Konstitusi RI pasal 28 F yang memberikan hak kepada setiap orang untuk berbagi informasi. Namun bagaimana jika hak yang diberikan bertentangan dengan tanggung jawab yang diembani? Salah satu alasan paling tegas untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan menggunakan Doktrin Ultra Vires (Ultra Vires Rulles). Doktirn ini memberikan suatu kepastian dimana setiap orang mampu untuk mengajukan gugatan apabila ha yang diberikan bertentangan dengan tugas yang akan dijalankan serta target yang harus dicapai. Sebagai contoh adalah Undang Undang nomor 9 Tahun 2004 perubahan dari Undang undang nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Apabila pada kenyataanya keputusan dari Tata Usaha Negara bertentangan dengan perundang undangan yang berlaku dan bertentangan dengan asas yang berlaku maka dengan berpegang pada doktrin ultra vires, kita mampu memberian gugatan terhadap tata usaha negara tersebut.

1.4

Bagan Etika dan Tanggung Jawab profesi

1.5

Contoh Etika dan Tanggung Jawab Profesi

Pada dasarnya, orang yang bertanggung jawab adlah orang yang beretika. Etika berasaldari bahasa Yunani “Ethikos” yang berarti timbul dari kebiasaan. Hal ini merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang nilai dan kualitas yang menjadi studi mengenai standar penilaian moral. 2 Etika mencangkup analisis dan penerapan konsep seperti baik dan buruk, benar dan salah dan mencangkup tentang tanggung jawab itu sendiri. Etika dimulai dengan merefleksikan unsur unsur etis dalam pendapat pendapat spontan kita. 3

Fungsi etika itu sendiri adalah untu kenciptakan suatu kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan setiap masyaraakat. Untuk mencapai suatu kehidupan yang teratur dan tertata, etika menjadi faktor utama dan faktor penentu terwujudnya suatu kehidupan yang tentraam dan penuh damai sejahtra. Jika dibuat dalam bentuk ilustrasi, maka hipotesis yang akan timbul untuk manusia beretika dan bertanggung jawab adalah control diri yang optimal. Seorang menjadi bertanggung jawab dan memiliki etika yang bagus bukanlah merupakan hal yang didapatkan secara sia sia tetapi merupakan suatu pelajaran penting yang perlu untuk diperhatikan.

Etika menjadi faktor penentu seseorang dalam menjalankan aktifitasnya di masyarakat karena etika mampu untuk menumbuhkan suatu kepercayaan dan memotifasi kita sendiri untuk terus maju.

2 Paul L. Lehman. 1963. Ethics In a Chrisitian Context. New York : Harper and Row Publisheres, 25 3 Eka Darmaputera. 1987. Etika Sederhana Untuk semua: Perenalan Pertama. Jakarta : BPK Gunung Mulia (Hal. 49)

BAB II

PERBUATAN MANUSIA

2.1 PENGERTIAN PERBUATAN MANUSIA

Perbuatan mausia adalah perbuatan yang seutuhnya dilandasi oleh akal yang menyatakan benar atau salah, rasa yang menyatakan baik atau buruk, dan karsa yang menyatakan pilihan berdasarkan kehendak bebas. Kehendak bebas adalah kesadaran dan kesadaran adalah suara hati nurani. Hati nurani cenderung untuk menyatakan sesuatu yang benar, baik dan bermanfaat. Perbuatan yang memenuhi ketiga unsur ini adalah perbuatan moral yaitu perbuatan yang bersumber dari hati nurani yang selalu baik, benar dan bermanfaat. 4 Setiap perbuatan manusia tentunya memiliki tujuan dimana tujuan tersebut tergantung pada motif setiap orang dalam bertindak. Namun pada kenyataannya perbuatan manusia cenderung bercampur dengan hawa nafsu yang mana berimplikasi pada proses bersosialisasi dalam lingkungan maupun komunitas karena perbuatan tersebut mengkontruksikan suatu ketidaksesuaian serta kesenjangan. Manusia merekontruksikan suatu gambaran mengenai prilaku yang dominan baik dan mendapat dukungan dengan masyarakat sebagai suatu perbuatan moral. Kontruksi moral yang tidak sempurna dalam masyarakat menciptakan suatu istilah baru yang sering dikatakan dengan istilah amoral. Dalam kaitannya dengan perbuatan, maka dapat disimpulkan bahwa amoral adalah perbuatan yang tidak baik, tidak benar dan tidak bermanfaat serta tidak dapat dikatakan sebagai perilaku

4 Prof. Abdulkadir Muhammad (2006), “Etika dan Tanggung Jawab Profesi”, halaman 39. perbuatan yang bersumber ada hati nurani yang selalu baik, benar dan bermafaat. Perbuatan moral mempunyai Nilai Moral yaitu nilai manusia seutuhnya (manusia kodrat). Perbuatan moral menuntun manusia pada kebahagiaan, ketertiban, kestabilan, dan kemajuan.

manusiawi karena perbuatan tersebut dianggap tidak berasal dari hati nurani manusia. 5 Perbuatan manusia dibagi menjadi dua yakni perbuatan manusiawi dan hewani (Zaharudin Zar). Beliau mengutip hal tersebut berdasarkan pandangan Ibnu Bajjah dan Mahmud Shaghir yang mengelompokan dan merekonstruksikan bahwa seorang manusia memiliki 2 jenis perbuatan alamiah yakni perbuatan hewani dan perbuatan manusiawi. Perbuatan hewani adalah perbuatan yang didasarkan oleh hawa nafsu manusia semata, oleh dorongan dorongan naluri untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan perbuatan jasmani merupakan perbuatan yang didasarkan atas pertimbangan rasio dan kemauan bersih dari hati nurani. Zaharudin mencontohkan perbuatan makan sebagai perbuatan hewani apabila perbuatan tersebut dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, sedangkan dikatakan perbuatan manusiawi apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memelihara hidup untuk mencapai keutamaan hidup. Bagaimana cara menentukan atau menilai perbuatan manusia moral/mannusiawi dan perbuatan amoral/ hewani? Dalam keadaan seperti ini, manusia dituntut untuk menggunakan norma tertentu yakni norma moral untuk menilai suatu perbuatan. Menilai yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan menerapkan norma moral terhadap perbuatan, guna menetapkan perbuatan itu merupakan perbuatan moral manusiawi atau amoral/hewani. Dan yang dimaksud dengan moral dalam hal ini adalah ukuran manusia untuk mempertimbangkan perbuatan itu adalah benar atau salah, baik atau buruk serta bermanfaat atau merugikan diri sendiri dan orang lain. Moralitas perbuatan adalah segi baik buruknya perbuatan. Cara memberikan pertimbangan terhadap dasar norma moral untuk menilai suatu perbuatan itu baik, benar, dan

5 Prof. Abdulkadir Muhammad (2006), “Etika dan Tanggung Jawab Profesi”, halaman 40. “Perbuatan amoral yaitu perbuatan yang tidak baik , tidak benar dan tindak bermanfaat karena tidak memenuhi ketiga unsur manusia seutuhnya (manusia kodrat), serta tidak menyuarakan hati nurani. Seutuhnya manusia kodrat dikatakan juga manusiawi karena mencerminkan nilai nilai sebagai seorang manusia”.

bermanfaat atau sebaliknya adalah dengan melihat pada kebiasaan pada umummnya. Hal tersebut merupakan pemikiran dari Frans Magnis Suseno (1975), namun dapat juga dilihat dengan cara mengemukakan kesepakatan masyarakat sebagai dasar pengakuan suatu perbuatan (Thomas Hobes dan Rousseau, 1995).

Pada dasarnya perbuatan dan sikap merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena sifat mencerminkan perbuatan/perilaku. Contohnya seseorang yang sering menonton film porno cenderung memiliki perilaku yang kurang sopan. Seorang ahli yang membahas tentang sikap “Carl Jung”, beliau mendefinisikan sikap sebagai kesiapan psikis untuk bertindak dan beraksi dengan cara tertentu. Notoadmojo (1993) mengemukakan bahwa sifat merpakan kesiapan atau kesediaan seseorang untuk bertindak dan bersifat tertutup serta merupakan kesiapan untuk beraksi terhadap suatu obyek. Sikap dan perbuatan memiliki hubungan yang erat dimana perbuatan merupakan realisasi dari sikap itu sendiri. Unsur unsur yang mempengaruhi perbuatan manusia menurut Wikipedia adalah

2.1.1 Genetika Faktor genetika diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick. Beliau mengkaitkan peran genetika, DNA memiliki peran/kontribusi yang amat penting pada prilaku/perbuatan seorang manusia. DNA adlah bahan genetik dasar yang mempengaruhi sifat sifat mahluk hidup. Perbuatan manusia dalam hal ini, jika dikaitkan dengan faktor genetika maka kita dapat menyimpulka bahwa yang menentukan perbuatan seseorang yaitu faktor genetis.

2.1.2 Sikap

Sifat adalah pernyataan evaluatif tentang obyek, yang mencerminkan perasaan terhadap sesuatu. Sifat terdiri dari 3 komponen utama yakni kesadaran, perasaan dan perilaku.

2.1.3 Norma Sosial Norma social adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batas wilayah tertentu. Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan kesepakatan social masyarakat yang sering juga disebut sebagai peraturan social. Norma memiliki kaitan dengan perbuatan karena norma yang berlaku dalam masyarakat dapat mengikat atau membatasi seseorang untuk bertindak diluar dari kesepakatan yang telah disetujui.

2.1.4 Kontrol Prilaku Pribadi Kontrol pribadi adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku. Kontrol pribadi berkaitan erat dengan perbuatan karena kontrol pribadi sendiri berbicara mengenai bagaimana seseorang mengarahkan dirinya serta membatasi dirinya untuk melakukan sesuatu yang baik dan buruk.

2.2 KEBUTUHAN MANUSIA Manusia bekerja keras dan rela melakukan segala sesuatu adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan tersebut dapat berupa materil maupun immateril, yang dimaksud dengan kebutuhan materil adalah kebutuhan yang dapat dipanca indrakan yakni dapat dilihat, diraba, dan disentuh. Kebutuhan materil adalah kebutuhan akan suatu benda, berbeda halnya dengan kebutuhan immateril yang mana kebutuhan ini adalah kebutuhan yang tidak dapat dipanca indrakan namun dapat dirasakan. Kebutuhan immateril yang dimaksud adalah kebutuhan akan nama baik, serta harkat, dan martabat. Pengertian kebutuhan adalah segala sesuatu yang muncul secara naluriah dan sangat diperlukan oleh

manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Beragamnya barang dan jasa yang dibutuhkan manusia membuktikan bahwa kebutuhan manusia beragam juga. Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi dan karenanya maka semua orang berusaha untuk bekerja keras tanpa memandang bahaya dari pekerjaan mereka dan pandangan orang tentang mereka (PSK), apabila kebutuhan tidak dipenuhi maka manusia pada umunya akan merasa kekurangan dan selalu mencari cara untuk memuaskannya.

Kebutuhan Berdasarkan Intensitas Kegunaannya

Primer

:

Kebutuhan utama yang harus untuk dipenuhi.

Tersier

:

Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang

Sekunder

:

bertuju pada kebutuhan mewah yang dapat diwujudkan apabila kebutuhan primer dan sekunder dipenuhi. kebutuhan setelah kebutuhan primer berjalan dengan baik. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan penunjang kebutuhan primer.

Kebutuhan Berdasarkan Sifatnya

Jasmani

:

Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang

Rohani

:

diperlukan manusia untuk memelihara raga atau fisik. Kebutuhan rohani adalah kebutuhan untuk

Kebutuhan Berdasarkan Waktu

pemenuhan jiwa dan batin.

Kebutuhan Sekarang

:

Kebutuhan yang pemenuhannya harus ada

Kebutuhan yang akan datang

:

sekarang dan tidak boleh ditunda tunda. Kebutuhan yang pemenuhannya harus ditunda

Kebutuhan Tak Terduga

:

tetapi pemenuhannya dari sekarang. Kebutuhan yang datang secara tiba tiba.

Kebutuhan Berdasarkan Subyek yang ditubuhkan

Kebutuhan Individual

:

Kebutuhan yang diperuntukkan bagi perorangan

Kebutuhan Kolektif

:

Kebutuhan yang diperuntukkan masyarakat dan secara bersama sama.

BAB III

PEKERJAAN DAN PROFESI

3.1 Pengertian Pekerjaan Bekerja merupakan kodrat manusia, sebagai kewajiban dasar. Manusia dikatakan memiliki martabat apabila dia mampu bekerja dengan keras.

Dengan bekerja, manusia dapat memperoleh hak dan mendapatkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Bekerja merupakan kegiatan psikis dan fisik yang terintegrasi. Pekerjaan dapat dibedakan menurut kemampuan, kelangsungan, lingkup dan tujuan. 6 Dengan demikian, pekerjaan dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu

a. Pekerjaan dalam arti umum, yaitu pekerjaan apa saja yang mengutamakan kemampuan fisik, baik secara sementara atau tetap dengan tujuan memperoleh pendapatan.

b. Pekerjaan dalam arti tertentu, yaitu pekerjaan yang mengutamakan kemampuan fisik atau intelektual, baik dengan sementara atau tetap dengan tujuan mengabdi

c. Pekerjaan dalam arti khusus yaitu pekerjaan dalam bidang tertentu, mengutamakan kemampuan fisik dan intelektual, bersifat tetap dengan tujuan memperoleh pendapatan.

Pekerjaan identik dengan melakukan suatu aktifitas dimana tujuan utama aktifitas tersebut adalah untuk memperoleh penghasilan yang mana penghasilan tersebut akan digunakan sebagai alat pemuas maupun pemenuhan kebutuhan di bidang ekonomi, psikis maupun biologis. Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu

6 Prof. Abdulkadir Muhammad (2006), “Etika dan Tanggung Jawab Profesi”, halaman 57. “bekerja merupakan kegiatan psikis atau fisik yang terintegrasi. Pekerjaan dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yakni (1) Menurut kemampuan, yaitu psikis dan intelektual; (2) kelangsungan, yaitu sementara dan tetap (terus - menerus); (3) Lingkup, yaitu umum dan khusus (spesialisasi); (4) tujuan, memperoleh pendapatan dan tanpa pendapatan.

tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Orang yang melakukan pekerjaan dikenal dengan istilah pekerja. Berikut adalah beberapa pendapat mengenai pekerja

a. Yayasan Obor Indonesia mengemukakan bahwa pekerja adalah seorang yang mempunyai kompetensi profesional dalam pekerjaan yang diperoleh melalui pendidikan formal atau pengalaman praktik di berbagai sektor dengan motif upah.

b. Tara Kuther, Ph.D mengatakan bahwa pekerja adalah seorang profesional, yang paling sering bekerja dengan orang dan membantu mereka mengelola kehidupan sehari hari, memahami dan beradaptasi dengan lingkungan.

Dari pengertian tersebut, maka ada beberapa unsur yang bisa diambil diantaranya adalah adanya pelaku (pekerja), aktifitas, kemampuan (fisik dan psikis), intelegensi (pengetahuan), tujuan, upah. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, kita akan menemukan fakta tentang jangka waktu dari sebuah pekerjaan sesuai dengan yang dipaparkan sebelumnya.

a. Pelaku : orang yang melakukan suatu perbuatan, atau agent yang cenderung menjadi pemeran utama dalam sebuah permasalahan (KBBI)

b. Aktifitas : Kegiatan melakukan sesuatu. Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 20) aktifitas adalah segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non fisik

c. Kemampuan : Menurut Mohammad Zain dalam Mizman Yusdi (2010 : 10) mengatakan bahwa kemampuan merupakan kesanggupan, kecakapan serta kekuatan untuk berusaha dengan diri sendiri. Sedangkan menurut Robbin (2007 : 57), kemampuan adalah kapasitas individu untuk melakukan berbagai aktifitas dalam suatu pekerjaan yang lebih lanjut.

d. Pengetahuan : pemikiran yang didapatkan melalui proses praktek menggunakan metode yang bersifat empiri mengenai suatu obyek yang dikaji.

e. Tujuan : menurut tomy suprapto, tujuan merupakan realisasi dari misi yang spesifik dan dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu.

f. Upah : upah menurut Gitosudarmo adalah imbalan yang diberikan oleh pemberi kerja, yang penerimaannya bersifat rutin, konstan serta tetap.

3.2

Profesi

Profesi adalah kata serapan dari sebuah jata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang bermakna Janji untuk memenuhi kewajiban melakuakn suatu tugas khusus secara tetap/permanen. Profesi sendiri memiliki arti sebuah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan dan keahlian khusus. Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu banyak orang yang bekerja tetapi belum tentu dikatakan memiliki profesi yang sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup untuk menyatakan suatu pekerjaan dapat disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teknik intelektual yang merupakan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.atau jenis pekerjaan (occupation) yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian. Profesi berbeda dengan pekerjaan karena memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang

rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah

sama.

a. Ciri-Ciri Profesi

Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :

1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.

2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.

3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan.

4. Izin khusus untuk kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.

5. Ada menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.

6. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi

b. Syarat-Syarat Profesi

1. Melibatkan kegiatan intelektual

2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus

3. Memerlukan persiapan profesional yang alami dan bukan sekedar latihan

4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan

5. Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen

6. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.

7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat

8. Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik

Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang senang atau untuk mengisi waktu luang. Kaum profesional adalah orang- orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu. Standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik. Karyawan Profesional adalah seorang karyawan yang digaji dan melaksanakan tugas sesuai Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) dan juknis (Petunjuk Teknis) yang dibebankan kepada dia. Sangat wajar jika dia mengerjakan tugas di luar Juklak dan Juknis dan meminta upah atas pekerjaannya tersebut. Karena Profesional adalah terkait dengan pendapatan, tidak hanya terkait dengan keahlian.

3.3 Hubungan Pekerjaan dan Profesi profesi dapat dikatakan memiliki hubungan dengan pekerjaan karena terletak pada bagian dalang lingkaran yang sama , namun tidak semua pekerjaan dapat dikatakan sebagai profesi. Keduanya memiliki hubungan yang erat pada bidang keahlian dan pendidikan serta pengalaman. Jangka waktu merupakan kunci dan juga menjadi faktor yang mempengaruhi profesi. Dikatakan demikian karena profesi membutuhkan ketrampilan, kemampuan serta pengalaman yang semua itu ditetapkan oleh jangka waktu. Sebagai contoh, staff administrasi adalah seorang yang bisa saja berasal dari segala latar belakang pendidikan,

pengetahuan dan pengalaman sedangkan akuntan merupakan profesi karena akuntan haruslah berpendidikan dan memiliki pengalaman kerja beberapa tahun di kantor akuntan. Profesi memiliki cangkupan yang lebih kongkrit jika dibandingkan dengan pekerjaan. Profesi membutuhkan keahlian yang didasarkan pada pengalaman dan membutuhkan bukti nyata tertulis maupun tidak tertulis (berupa pengakuan). Profesi membutuhkan penguasaan teknik intelektual yang merupakan hubungan antara teory penerapan dalam praktek.

4.1 KESIMPULAN

BAB IV

PENUTUP

Dewasa ini, kita sering menemui berbagai hal yang berkaitan dengan

kehidupan kita. Dalam bersosialiasi dibutuhkan suatu kode etik sebagai

manusia yang memiliki martabat dan harkat, faktor etika adalah faktor

terpenting dalam bersosialisasi dalam masyarakat. Etika sering dicitrakan

dalam perilaku setiap individu dan perilaku tersebut yang akan dipandang

dalam masyarakat sebagai indikator penilaian kepribadian. Membangun

sikap bertanggung jawab dalam pribadi setiap orang dan menjadikannya

sebagai seorang manusia dipandang sebagai mahluk yang beretika. Hal

tersebut membuktikan bahwa perbuatan manusia mencitrakan

kepribadiannya. Etika dan tanggung jawab merupakan dua indikator utama

dalam melakukan suatu pekerjaan atau profesi.

4.2 SARAN

Dalam bersosialisasi sangat dibutuhka etika, karena etika itu sendiri

merupakan faktor penentu masa depan kita. Orang sukses adalah orang

yang beretika, hal tersebut merupakan istilah yang sering dipakai untuk

menyadarkan manusia tentang arti pentingnya etika dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai negara yang pluralis,

sangat penting bagi kita untuk menjunjung tinggi kode etik sebagai

kontruksi dari sikap saling menghargai. Kita perlu menyadari arti penting

sikap saling menghargai dalam masyarakat dan memberikan peghargaan

atas perbedaan dalam hidup

4.3 DAFTAR PUSTAKA

Supriadi, 2006, Etika dan Tanggung Jawab Profesi di Indonesia, Palu; Sinar

Grafika. Suriansyah Murhani, 2008, Etika Profesi Hukum, Yogjakkarta; LBM Prof. Abintoro, 2015, Etika Profesi Hukum, Surabaya, LBJ Prof. Abdulkadir, 2006, Etika Profesi Hukum, Bandung; PT. Citra Aditya Bakti

Beri Nilai