Anda di halaman 1dari 2

Kot 23/9/2007 di Jemaat Karmel umat yang tidak mau bertobat, kita cepat tidak sabaran.

Kita
Introitus: 2 Tim 4:2 putus asa dan mengatakan: “ Ah memang dia tidak pernah bisa
Bacaan: 2 Tim 4:1-8. bertobat, biar saja dia terus begitu. Sampe kiamatpun ia tidak
Bacaan ini tentang nasehat dari seorang bapa rohani mau bertobat, saya tidak mau menasehati atau menolong dia
dalam hal ini Rasul Paulus kepada anak rohaninya yaitu lagi. Persetan dengan dia. Ini kali terakhir saya datang menegor
Timotius. Dari nasehat nasehat yang kita baca tadi dia. “ Kita biasanya kehilangan kesabaran bagi umat yang
menunjukkan betapa akrabnya hubungan mereka berdua. sesat, padahal sebenarnya kita mesti sabar dan memakai segala
Paulus terus menolong dan mendukung Timotius dalam cara pemberitaan untuk menolong umat yang sesat.
menjalankan tugasnya sebagai seorang pemberita injil. Dalam ayat 5, rasul menasehati Timotius agar ia dapat
Nasehat-nasehat paulus ini disampaikan demi Allah, demi menguasai dirinya dalm segala hal. Kuasai nafsu-nafsunya
Yesus yang akan menjadi Hakim bagi umat manusia. Nasehat- sebagai seorang yang masih muda. Mengusai diri berarti selalu
nasehatnya disampaikan dengan sungguh-sungguh. Karena mengenal dirinya dengan baik, sehingga tidak mudah jatuh
cintanya kepada Timotius sebagai anak rohaninya, maka ia dalam dosa dan kejahatan. Timotius dinasehati agar ia mesti
memberikan nasehat-nsehat seperti yang kita baca tadi. bersabar dalam penderitaan yang dialaminya karena pekerjaan
Inti nasehat Paulus : supaya Timotius tekun, rajin, setia pemberitan dan pelayanan. Agar Timotius dapat menjadi
melaksanakan tugas pemberitaan injil bagi umat. Dalam ayat 2: seorang pemberita yang berwibawa. Sehingga teguran-
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik tegurannya dapat didengar serta ditaati oleh umatnya. Agar
waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan mereka tidak saja mendengar pemberitaannya yang berisi
nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” tegurn nasehat, tetapi mereka juga dapat melihat perilakunya
Memberitakan firman tidak berarti mengatakan hal-hal yang yang juga setia dan taat pada Tuhan. Tuhan Yesus pernah
baik-baik saja yang menyenangkan para pendengar, tetapi berkata kepda umat pda waktu lalu: “Dengarkanlah apa yang
mesti tegas menegor dan menyatakan kesalahan umat. mereka katakan atau ajarkan(maksudnya orang Farisi), tetapi
Menasehati umat yang berbuat dosa dengan segala kesabaran janganlah mengikuti apa yang mereka lakukan. Maka sebagai
dan pengajaran.” Dalam praktek memang pemberitaan injil dan para penatua, pdt,diaken, pengajar hendknya kita hidup
pengajaran tidak saja berlangsung secara formal di dengan tertib, dapat kuasai diri kita seperti nasehat rasul, agar
gereja/kebaktian tetapi juga melalui percakapan pastoral, di kita menjadi pemimpin umat yang berwibawa. Karena kita
mana sang gembala(Pdt/penatua) menegor dan menasehati memiliki satu kata dan perbuatan, maka umat akan menyegani
secara langsung. Hal ini memang menarik karena kita.
biasanya kita segan mengungkapkan kesalahan umat, kita Mengapa rasul menasehati Timotius agar setia, tekun,
segan menegor umat yang berdosa, apa lagi kalau kita rajin memberitkan firman? Karena akan ada saat di mana umat
berhutang budi pada umat. Demikian pula sering kalau ada sudah tidak mau lagi dengar pemberitan firmn. Mereka lebih
suka mendengar cerita dongeng, atau mendengr nasehat-
nasehat yng sesuai dengan kesukaan/selera mereka sendiri.
Sebelum saat itu tiba, mumpung masih ada kesempatan, karena
hati umat belum dikeraskan oleh hal-hal duniawi, hendaknya
Timotius terus memberitakan, setia, tekun dalam
memberitakan, menasehati umat.
Bapak/ibu sdr semua yksh dalam Yesus Kristus!
Relasi antara Paulus dengan Timotius sebagai bapak dan anak
rohani, seharusnya terus dibina, dikembangkan dalam
kehidupan bergereja dan juga dalam kehidupan keluarga-
keluarga kristen. Relasi pastoral antara org tua dan anak-nak
rohani dan juga relsi pastoral antara orang tua dan anak dalam
keluarga, atau antara kakak dan adik hendaknya terus
dikembangkan dan dibina. Gereja mestinya membina umatnya
agar dapat membangun dan membina suatu kehidupan pastorl
di mana ada saling memperhatikan, mendukung dalam
menghdapi kesulitan-kesulitan hidup. Jika kita berhasil
membangun relasi pastoral baik dalam kehidupan bergereja
maupun keluarga dan masyarakat, sebagaimana yang sudah
dimulai oleh Paulus dan Timotius maka, sebenarnya itu sudah
merupakan suatu bukti bahwa kita sedang menghayati
kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan atau sebgai murid-
murid Yesus.
Dan pengaruh dari kehidupan yang dibangun dalam
relasi pastoral tadi sangat besar bagi masyarakat.