Anda di halaman 1dari 120

Pembinaan

Kompetensi Mengajar

PENYUSUN
Maria Paristiowati
Yuli Rahmawati
Nurbaity Mulyono

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FMIPA


UNIVERSITAS JAKARTA
2018
Kata Pengantar

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas karuniaNya,


sehingga buku ”Pembinaan Kompetensi Mangajar” telah
diselesaikan.

2
Daftar Isi
Halaman
Pengantar.............................................................................
Daftar isi ...............................................................................
Daftar Lampiran ...................................................................
PENDAHULUAN ..................................................................
BAB I KETERAMPILAN BERTANYA ...................................
1.1 Pendahuluan .........................................................
1.2 Tujuan Keterampilan Bertanya .............................
1.3 Keterampilan Bertanya Dasar ..............................
1.4 Keterampilang Bertanya Lanjut ............................
1.5 Manfaat Penggunaan Keterampilan Bertanya
Lanjut....................................................................
BAB II KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN..............
2.1 Pendahuluan .........................................................
2.2 Komponen-komponen Keterampilan Memberi
Penguatan.............................................................
2.3 Prinsip Penggunaan Penguatan ...........................
BAB III KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI............
3.1. Pendahuluan .........................................................
3.2. Penggunaan di Dalam Kelas ................................
3.3. Komponen-komponen Keterampilan Mengadakan
Variasi...................................................................
BAB IV KETERAMPILAN MENJELASKAN .........................
4.1. Pendahuluan..........................................................
4.2. Merencanakan ......................................................
4.3. Menyajikan Suatu Penjelasan ..............................
BAB V KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP
PELAJARAN.........................................................................
5.1. Pendahuluan .........................................................
5.2. Tujuan dan Prinsip-prinsip Penggunaan
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran. .
5.3. Komponen-komponen Keterampilan Membuka
dan Menutup Pelajaran ........................................

3
BAB VI KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS ................
6.1. Pendahuluan .........................................................
6.2. Permasalahan Dalam Pengelolaan Kelas ............
6.3. Beberapa Konsep Pendekatan Pengelolaan Kelas
...............................................................................
BAB VII KETERAMPILAN MEMIMPIN DISKUSI
KELOMPOK KECIL .............................................................
7.1. Pendahuluan .........................................................
7.2. Faktor-faktor yang Berpengaruh Dalam Diskusi
Kelompok...............................................................
7.3. Komponen-komponen Keterampilan Memimpin
Diskusi Kelompok .................................................
BAB VIII KETERAMPILAN MENGAJAR KELOMPOK
KECIL DAN PERORANGAN ...............................................
8.1. Pendahuluan .........................................................
8.2. Komponen-komponen Keterampilan Mengajar
Kelompok Kecil dan Perorangan ..........................
8.3. Keterampilan Merencanakan dan Melaksanakan
Kegiatan Belaja Mengajar ....................................
8.4. Penggunaan dalam Kelas ....................................
LAMPIRAN ..........................................................................
DAFTAR PUSTAKA .............................................................

4
PENDAHULUAN

Dalam proses pembelajaran, penguasaan materi


pelajaran oleh seorang guru sangatlah penting. Namun
perlu diketahui bahwa mengajar itu bukan hanya sekedar
menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik,
akan tetapi guru bertanggungjawab terhadap tercapainya
tujuan pendidikan yang utama yaitu terjadinya perubahan
tingkah laku.
Guru tidak dapat menyampaikan materi pelajaran
dengan baik dan peserta didik juga tidak dapat menerima
materi yang disampaikan dengan baik dalam suasana
kelas yang tidak kondusif. Jika peserta didik telah
kehilangan kesempatan untuk berpikir, maka perhatiannya
akan menyimpang, menjadi bosan, kehilangan pegangan
dan proses pembelajaran tidak mencapai tujuan yang
diharapkan meskipun guru telah menguasai materi
pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
Untuk mencapai suasana kondusif dalam proses
pembelajaran, seorang guru selain dituntut penguasaan
materi yang akan disampaikan pada peserta didik, juga
harus menguasai berbagai keterampilan mengajar.
Sehingga proses pembelajaran yang pada hakikatnya
adalah berkomunikasi dapat berjalan dengan baik, efektif
dan effisien. Artinya, pesan yang disampaikan oleh guru
sama dengan pesan yang diterima oleh peserta didik,

5
dengan demikian tidak terjadi miskonsepsi terhadap materi
yang disampaikan.
Perangkat keterampilan mengajar yang menentukan
keberhasilan seorang guru dalam mengajar, sebenarnya
mempunyai jumlah yang cukup banyak. Namun, dalam
rangka tujuan pembinaan, dan memudahkan dalam
implementasi di lapangan, perlu dipilih keterampilan
mengajar yang secara empirik sangat berperan.
Ada 8 (delapan) keterampulan dasar mengajar yang
harus dikuasai oleh seorang guru (Terry 1973) yaitu:
1. Keterampilan bertanya (dasar, lanjut).
2. Keterampilan memberi penguatan.
3. Keterampilan mengadakan variasi.
4. Keterampilan menjelaskan.
5. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran.
6. Keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil.
7. Keterampilan mengelola kelas.
8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

Pada kegiatan pembelajaran yang sebenarnya,


keterampilan–keterampilan dasar mengajar sebagaimana
dikemukakan di atas tidak dilaksanakan terpisah-pisah satu
dengan yang lain. Keterampilan–keterampilan dasar
tersebut selalu terintegrasi dalam satu kesatuan yang utuh
dan akan muncul secara otomatis sesuai dengan tuntutan
kebutuhan, situasi dan kondisi pembelajaran. Ibarat
seorang pengendara yang sedang mengemudi mobil di
jalan umum, ia harus terampil menguasai dan
menggunakan instrumen seperti kapan harus menginjak

6
gas, menginjak rem, kapan harus ganti perseneling, kapan
harus belok, kapan harus melihat kaca spion, dan lain-
lainnya. Pekerjaan tersebut dilakukan secara terintegrasi
sesuai kebutuhan, situasi dan kondisi, sehingga ia dapat
mengantar penumpang dengan selamat sampai ke tujuan.
Meskipun fakta di lapangan demikian, tetapi dalam
rangka pembinaan dan untuk memudahkan cara
mempelajari keterampilan mengajar, maka masing-masing
keterampilan dasar mengajar yang sangat berperan dalam
proses pembelajaran ini akan dibahas dan dipelajari secara
terpisah-pisah dan akan diuraikan satu persatu.

BAB 1
KETERAMPILAN BERTANYA

7
1.1. Pendahuluan

Dalam masyarakat kita terdapat pepatah yang


mengatakan “malu bertanya sesat di jalan”. Pepatah ini
menunjukan betapa pentingnya bertanya itu. Jadi bertanya
pada hakikatnya adalah kegiatan yang berkaitan dengan
berpikir dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang
benar dan akurat terhadap hal-hal yang belum diketahui.
Dengan informasi yang diperoleh dari bertanya, seseorang
akan memperoleh pengetahuan baru, tentang sesuatu
yang ingin diketahui, oleh karena itu sering dikatakan
bahwa bertanya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu
manusia terhadap sesuatu.
Tidak mengherankan jika dalam proses pembelajaran,
seorang guru ingin tahu apakah proses transformasi yang
terjadi antara guru dan peserta didik telah mencapai
sasaran dalam pengertian materi yang disampaikan sama
dengan yang diterima oleh peserta didik. Sehinga dalam
proses pembelajaran, guru sering mengajukan
pertanyaan–pertanyaan kepada peserta didik terkait
dengan materi yang disampaikan. Namun sangat
disayangkan, pertanyaan yang diajukan oleh guru semata-
mata hanya untuk mengetahui efektifitasnya mengajar
dengan hanya melihat hasil belajar, mengenal kelasnya,
dan hanya bertujuan untuk mengetahui ingatan peserta
didik tentang materi-materi yang diajarkan. Dalam

8
kaitannya dengan keterampilan bertanya, hendaknya
seorang guru tidak terfokus dan terjebak oleh makna
bertanya yang demikian.
Dalam keterampilan bertanya, perlu dipertanyakan
tentang fungsi dan tujuan-tujuan atas pertanyaan yang
diajukan. Idealnya, apakah pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan seorang guru kepada peserta didik baik secara
perorangan, kelompok, maupun seluruh kelas dapat
memberi dorongan atau motivasi terhadap rasa ingin tahu
peserta didik, membantu peserta didik belajar dari sesama
rekannya, dan memungkinkan peserta didik memproses
suatu informasi yang diberikan dengan lebih baik dan
sempurna, serta dapat meningkatkan kemampuan analisis
berpikirnya atau tidak.

1.2. Tujuan Keterampilan Bertanya

Dapat dipastikan, dalam kegiatan pembelajaran, guru


akan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik.
Permasalahan yang muncul dalam pemberian pertanyaan
tersebut adalah apakah pertanyaan yang disampaikan oleh
guru telah mencerminkan pertanyaan yang berkualitas atau
tidak. Sebab antara pertanyaan dengan jawaban
mempunyai keterkaitan yang sangat erat, artinya jika
pertanyaaannya berkualitas maka jawabannya pun akan
berkualitas.

Pertanyaan yang diajukan oleh guru kepada para


peserta didik seringkali hanya memberikan penekanan

9
pada pertanyaan-pertanyaan mengenai fakta, kurang
menggali kemampuan intelektual lainnya. Sehingga
peserta didik kehilangan kesempatan untuk berpikir.
Kondisi ini dapat mengakibatkan perhatian peserta didik
akan menyimpang, timbul kebosanan, kehilangan
pegangan, otak mereka tidak diberi kesempatan untuk
memperoleh pertanyaan-pertanyaan yang dapat
meningkatkan daya berpikirnya.
Untuk mencapai tujuan di atas, perlu diperhatikan
dalam mengajukan pertanyaan seyogyanya guru harus
memanfaatkan untuk mencapai beberapa tujuan seperti
berikut ini:
a. Meningkatkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik
tentang suatu topik yang sedang dibicarakan
b. Mengembangkan pendekatan yang aktif untuk belajar
c. Merangsang peserta didik untuk saling belajar dengan
bertanya di antara sesama mereka
d. Mengatur penjenjangan (strukturisasi) tugas-tugas yang
harus dikerjakan untuk memaksimalkan hasil belajar
peserta didik
e. Mengenal kesulitan-kesulitan tertentu yang menghambat
belajar peserta didik
f. Menjalin komunikasi dengan seluruh kelas untuk
menghidupkan interaksi dan proses pembelajaran
g. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
memahami informasi yang diberikan
h. Melibatkan peserta didik menggunakan pikirannya untuk
meningkatkan keterampilan berpikir

10
i. Memberikan kesempatan kepada peserta didik
mengembangkan pemikiran dan memberikan kritik atau
komentar atas jawaban peserta didik dan guru
j. Memberi kesempatan kepada peserta didik memahami
sendiri melalui diskusi dalam kelas

Dari berbagai tujuan pengajuan pertanyaan, jelaslah


bagi kita betapa pentingnya peranan bertanya dalam
meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil proses
pembelajaran. Oleh karena itu hendaknya guru dapat
membuat pertanyaan-pertanyaan jenis tertentu yang akan
diajukan atau yang akan dikemukakan. Secara umum
keterampilan bertanya dapat dibagi menjadi dua yaitu
keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya
lanjut.

1.3. Keterampilan Bertanya Dasar.

Pada uraian terdahulu telah disebutkan bahwa dalam


proses pembelajaran, guru sering mengajukan pertanyaan
kepada pada peserta didik berkenaan dengan materi yang
diajarkan, tetapi bagaimana membuat pertanyaan yang
diajukan kepada pada peserta didik itu dapat memotivasi
rasa ingin tahu dan melatih peserta didik untuk berpikir
serta dilakukan secara berjenjang, merupakan masalah
yang harus diperhatikan. Seorang guru harus menguasai
keterampilan bertanya yang terdiri dari keterampilan
bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Dalam
uraian ini akan disampaikan keterampilan bertanya dasar
dan selanjutnya akan diuraikan keterampilan bertanya
lanjut.
Keterampilan bertanya dasar, adalah keterampilan
bertanya dengan cara memahami, menguasai dan

11
menggunakan komponen-komponen keterampilan
bertanya antara lain sebagai berikut:
a. Kemahiran (Fluency).
Pertanyaan yang diajukan harus disusun secara logis
dan relevan dengan topik yang sedang dibicarakan atau
akan dibicarakan.
b. Pengungkapan (Phrasing)
Pertanyaan harus menggunakan kata-kata yang sesuai
dengan tingkat kemampuan peserta didik dalam kelas.
c. Penjejangan (Structuring)
Seorang guru harus mengetahui tugas yang akan
dilaksanakan untuk mencapai tujuan, sekalipun peserta
didik belum dapat menjawab pertanyaan yang diajukan
guru, tetapi mereka harus merasakan bahwa mereka
sedang diarahkan untk mencapai sesuatu tujuan yang
jelas.
d. Pemusatan (Focusing)
Jangkauan (scoupe) pertanyaan harus sesuati dengan
tujuan yang diharapkan.
e. Pengalihan (Re-directing).
Untuk menarik perhatian sejumlah peserta didik atau
seluruh kelas, guru harus dapat menyusun suatu
pertanyaan yang dapat dialihkan dari peserta didik yang
satu ke peserta didik yang lainnya.
f. Penyebaran (Distributing)
Dalam mengajukan pertanyaan hendaknya guru memilih
peserta didik secara acak untuk menjawabnya. Hal ini
akan menimbulkan perasaan ikut terlibat pada setiap
peserta didik dan turut memikirkan apa jawabnnya.
g. Penyeleaan waktu (Pausing)

12
Dalam mengajukan pertanyaan seorang guru harus
memberi kesempatan bagi peserta didik untuk meresapi
pertanyaan lebih dahulu.
h. Mendorong (Prompting)
Cara menanggapi peserta diidk apabila mereka
memberikan jawaban yang kurang tepat atau salah,
sebaiknya guru mencoba mengajukan pertanyaaan yang
sama dengan cara yang lain, dengan menggunakan
kata-kata yang lebih jelas bagi peserta didik. Atau dapat
pula mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana
relevan dengan pertanyaan sebelumnya.

Perlu untuk diketahui, dan diperhatikan dalam melatih


keterampilan bertanya dasar hendaknya dihindari hal-hal
sebagai berikut:
a. Mengulang pertanyaan untuk diri sendiri
Pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik
hendaknya satu demi satu dengan memberikan waktu
yang cukup pada peserta didik untuk memahami
maksudnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut
dari pertanyaan tersebut. Jika guru mengajukan
pertanyaan secara berurutan tanpa mendapan jawaban
atas pertanyaan satu persatu maka proses belajar
peserta didik akan terpecah.
b. Mengulang jawaban peserta didik
Meskipun mengulangi jawaban seorang peserta didik
dapat pula meningkatkan interaksi antara peserta didik
dengan guru, namun pengulangan yang terlalu sering
akan dapat mengalangi laju pelajaran dan menghambar

13
penenaman kebiasaan mendengarkan dengan baik
serta akan menghambat peserta didik memberi
komentar atas tanggapan kawannya.
c. Pertanyaan yang menimbulkan keributan:
Hindari pertanyaan–pertanyaan yang mengundang
jawaban secara bersama–sama yang akan
menimbulkan keributan di kelas.
d. Menjawab pertanyaan sendiri
Guru yang menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan
dapat menimbulkan frustasi pada peserta didik dan
berakibat peserta didik tidak perlu berpartisipasi karena
semua telah dijawab oleh guru.

1.4. Keterampilan Bertanya Lanjut.

Penemuan tentatif menunjukan bahwa pertanyaan dari


tingkatan tinggi atau sulit (high order questions), yakni
pertanyaan yang memerlukan pemikiran dan bukan ingatan
saja, ternyata meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Oleh karena itu perlu ditindak lanjuti keterampilan
pertanyaan dasar dengan keterampilan bertanya lanjut.
Keterampilan bertanya lanjut ini sebenarnya dibentuk di
atas landasan penguasaan komponen–komponen
bertanya dasar. Karena itu semua komponen bertanya
dasar masih dipakai dalam keterampilan bertanya lanjut.
Adapun komponen-komponen bertanya lanjut itu adalah:
a. Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab
pertanyaan.
Pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik harus
dapat mengarahkan peserta didik untuk berpikir.

14
Pertanyaan yang meminta peserta didik untuk berpikir
mengutarakan pendapat serta pertanyaan tentang
berbagai situasi dan dapat pula mengubah tingkat
kognitif dalam menjawab pertanyaan dari yang sekedar
mengingat kembali fakta-fakta yang telah dipelajari ke
berbagai tingkat kognitif lainnya yang lebih tinggi seperti
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
b. Pengaturan urutan pertanyaan
Untuk mengembangkan tingkat kognitif dari tingkat
rendah ke tingkat yang lebih tinggi dan kompleks, guru
hendaknya mengatur sedemikan rupa urutan pertanyaan
yang diajukan kepada peserta didik. Misalnya guru
mengadakan pertanyaan penerapan, seelah itu
pertanyaan analisis dan selanjutnya pertanyaan sintesa.
c. Penggunaan pertanyaan pelacak
Jika jawaban yang diberikan peserta didik dinilai oleh
guru kurang sempurna dan memadai, maka guru dapat
mengajukan pertanyaan pelacak kepada peserta didik.
Ada beberapa teknik pertanyaan pelacak yang dapat
digunakan guru:
1) Klarifikasi
Jika peserta didik menjawab pertanyaan guru
dengan kalimat yang kurang tepat kata-katanya,
maka guru dapat mengajukan pertanyaan-
pertanyaan pelacak yang meminta peserta didik
tersebut menjelaskan atau mengatakan dengan
kata-kata lain sehingga jawaban siswa itu menjadi
baik.
2) Meminta peserta didik memberikan alasan

15
Guru dapat meminta peserta didik memberikan bukti
untuk memperkuat kebenaran suatu pandangan
yang diberikan dalam menjawab pertanyaan guru.
3) Meminta kesepakatan pandangan
Guru dapat memberikan kesempatan kepada
peserta didik lainnya untuk menyatakan
persetujuannya atau penolakan mereka serta
memberikan alasan-alasannya terhadap suatu
jawaban yang diungkapkan oleh seorang peserta
didik dengan diperoleh pandangan yang benar dan
dapat diterima oleh semua pihak.
4) Meminta ketepatan jawaban
Apabila jawaban peserta didik kurang tepat dengan
pertanyaan yang diajukan guru, amaka guru dapat
meminta peserta didik untuk meninjau kembali jawab
itu agar diperoleh jawaban yang tepat dengan
mengajukan pertanyaan pelacak.
5) Meminta jawaban yang lebih relevan
Jika jawaban peserta didik kurang relevan dengan
pertanyaan yang diajukan guru, maka guru dapat
mengajukan pertanyaan yang memungkinkan
peserta didik mengemukakan kembali dengan kata-
kata lain sehingga jawaban tersebut benar dan
relevan.
6) Meminta contoh
Bila seorang peserta didik memberikan jawaban
kurang jelas atau terlalu luas, maka guru dapat
meminta peserta didik memberikan contoh kongkrit
tentang apa yang dimaksudkannya.
7) Meminta jawaban yang lebih kompleks

16
Jika guru menganggap jawaban yang diberikan
peserta didik ditingkatkan menjadi lebih luas dan
dalam, maka guru dapat meminta peserta didik
tersebut untuk memberi penjelasan.

d. Peningkatan terjadinya interaksi.


Untuk meningkatkan interaksi dalam proses belajar
mengajar, hendaknya guru mengurangi peranannya
sebagai penanya sentral. Setiap peserta didik diberi
kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan diberi
kesempatan mendiskusikan jawaban bersama teman
terdekatnya. Jika peserta didik mengajukan pertanyaan,
sebaiknya guru tidak segera menjawab pertanyaan
tersebut, tetapi melontarkan kembali pertanyaan
tersebut kepada peserta didik untuk didiskusikan.

Gambar 1. Guru bertanya kepada peserta didik

17
1.5. Manfaat Penggunaan Keterampilan Bertanya
Lanjut
Penggunaan keterampilan bertanya lanjut sangatlah
bermanfaat bagi para peserta didik, manfaat yang
dimaksud antara lain adalah:
a. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
menemukan, mengorganisasi, dan menilai informasi
yang diterima.

b. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam


membentuk dan mengungkapkan pertanyaan-
pertanyaan yang didasarkan atas informasi yang
lengkap dan relevan.

c. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan ide-


ide, dan menggunakan ide-ide itu kepada anggota
kelompoknya secara timbal balik.

d. Memberi kesempatan kepada semua anggota kelompok


memperoleh sukses melebihi yang dicapai.

Meskipun para guru telah menguasai keterampilan


bertanya dan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang berkualitas, tidaklah sepenuhnya menjamin
tercapainya tujuan pembelajaran, jika mereka kurang sabar
atau kurang toleran dalam menunggu jawaban dari peserta
didik.
Guru yang sabar dalam arti memberi kesempatan yang
cukup untuk berpikir kepada peserta didik dalam menjawab

18
pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan pemikiran, dan
menghargai jawaban yang diberikan peserta didik, akan
menciptakan suasana yang kondusif untuk menghindari
kebosanan, memakai waktunya untuk menyimak,
menyediakan alternatif-alternatif, rela menerima pendapat
yang berbeda, dan memberi dorongan untuk berdiskusi
sebagai suatu cara meningkatkan daya pikirnya.

BAB 2
KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN

Tingkah laku dan penampilan peserta didik yang baik


dalam kegiatan pembelajaran, biasanya direspon oleh guru
dengan diberi penghargaan dalam bentuk kata-kata pujian,
atau senyuman. Tindakan ini merupakan penguatan
terhadap tingkah laku dan penampilan peserta didik yang
baik. Penguatan yang diberikan guru kepada peserta didik
tersebut pada umumnya dapat mendorong peserta didik
untuk mengulang kembali tingkah laku dan penampilan
positif ini menjadi lebih baik.
Penguatan atau reinforcement sebagaimana
dimaksud di atas adalah segala bentuk respon terhadap
suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan
berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Pemberian
penguatan yang tepat dalam proses pembelajaran dapat
menimbulkan pengaruh berupa sikap yang lebih positif dari
peserta didik sehingga partisispasi dan motivasinya dalam

19
proses pembelajaran akan meningkat, sehingga
pencapaian prestasi belajar diharapkan menjadi lebih
tinggi.
Dampak positif yang ditimbulkan akibat pemberian
penguatan oleh guru kepada peserta didik seperti
disebutkan di atas, disertai penerapannya secara
bijaksana, dapat mencapai tujuan antara lain: perhatian
peserta didik meningkat, membangkitkan dan
mempertahankan motivasi, menunjang belajar peserta
didik, mengontrol disiplin kelas, memperbaiki tingkah laku
peserta didik yang kurang positif dan mendorong
munculnya tingkah laku yang produktif.
Mekipun dampak positif sangat nyata, namun
sayang, jarang sekali guru memberikan penguatan dalam
kegiatan pembelajaran. Bahkan tidak jarang kita temui guru
yang hanya memberikan komentar negatif terhadap tingkah
laku peserta didik yang salah, dan jarang sekali atau
bahkan tidak pernah memberikan respons positif terhadap
tingkah laku peserta didik yang baik. Walaupun
memberikan seyuman dan kata-kata pujian kelihatannya
mudah tetapi perlu keterampilan bagaimana memberikan
penguatan itu agar diperoleh hasil yang maksimal sesuai
yang diharapkan.

2.1. Komponen Keterampilan Memberikan Penguatan

20
Komponen keterampilan memberi penguatan yang
harus dipahami dan dikuasai penggunaanya oleh guru agar
dapat memberikan penguatan secara bijaksana,
berhasilguna dan berdayaguna ada dua macam, yaitu
penguatan verbal dan nonverbal. Berikut ini uraiannya.
a. Penguatan Verbal
Penguatan verbal berupa respon dalam bentuk kata-
kata pujian, dukungan, pengakuan, dan dorongan yang
digunakan untuk menguatkan tingkah laku dan
penampilan peserta didik. Contoh kata–kata yang
digunakan untuk penguatan verbal, seperti: “Bagus, Ya,
Benar, Bagus sekali, Betul”. Di samping itu dapat pula
berupa kalimat, misalnya: “Saya puas dengan jawaban
Anda, ide Anda tentang pemecahan maslah ini sangat
cemerlang”, dan lain sebagainya. Tentu masih banyak
cara lain untuk mengungkapkan penguatan verbal
dalam bentuk kalimat.
b. Penguatan Nonverbal
Penguatan nonverbal yaitu bentuk penguatan yang
dilakukan dengan menggunakan cara:
1) Penguatan dalam bentuk mimik dan gerakan
badan (Gestural Reinforcement)
Guru memberikan penguatan dengan cara
tersenyum, menganguk, tepuk tangan, acungan
jempol dan lain sebagainya.
2) Penguatan dengan cara mendekati (Proximity
Reinforcement).

21
Guru mendekatkan dirinya dengan peserta didik
untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya
atas pekerjaan, tingkah laku peserta didik.
3) Penguatan dengan cara sentuhan (Contact
Reinforcement)
Guru mengadakan kontak fisik dengan peserta
didik misalnya menepuk bahu peserta didik,
menjabat tangan peserta didik.
4) Penguatan dengan cara melaakukan kegiatan
yang menyenangkan (Activity Reinforcement)
Guru memberikan aktivitas atau tugas-tugas yang
disenangi peserta didik.
5) Penguatan berupa simbol atau benda (To ken
Reinforcement)
Guru memberikan benda-benda mainan, makanan,
hadiah-hadiah, tanda (V), angka hasil ujian, tanda
tangan atau paraf pada hasil pekerjaan peserta
didik.

2.2. Prinsip Penggunaan Penguatan.


Pemberian penguatan kepada peserta didik dalam
proses pembelajaran dapat diberikan kepada pribadi
tertentu, dimana penguatan harus jelas ditujukan kepada
peserta didik tertentu dengan menyebutkan namanya
sambil mengarahkan pandangan kepada peserta didik
yang dimaksud. Selain penguatan itu diberikan kepada
peserta didik tertentu, kadang-kadang penguatan dapat
pula diberikan kepada sekelompok peserta didik, misalnya

22
tugas yang diberikan guru telah diselesaikan dengan baik
oleh satu kelas.
Agar pemberian penguatan mencapai sasaran
dengan baik, perlu diketahui prinsip penggunaan
penguatan. Ada 4 (empat) prinsip yang mendukung
keterampilan memberi penguatan yaitu:
a. Hangat dan antusias.
Dalam memberikan penguatan, guru sebaiknya
menambahkan kehangatan, keantusiasan sikap dan
gaya guru termasuk suara, mimik dan gerakan badan.
Sikap ini berperan penting dalam interaksi interaksi
guru dengan peserta didik.
b. Kebermaknaan.
Penguatan yang diberikan kepada peserta didik harus
bermakna baginya. Peserta didik perlu memahami dan
menyadari bahwa penguatan yang diberikan
kepadanya sesuai dengan tingkah laku dan
penampilannya. Hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian penguatan ini adalah penerimaan peserta
didik yang berbeda-beda. Jadi pemberian penguatan
dalam proses pembelajaran haruslah memperhatikan
situasi dan waktu yang tepat. Misalkan pemberian
penguatan yang sering atau berulang-ulang dan pada
waktu yang tidak tepat akan menghilangkan motivasi
dan partisipasi serta menghilangkan pembangkitan ide
peserta didik berinteraksi dalam pembelajaran.
c. Menghindari penggunaan respon yang negatif.

23
Walaupun teguran dan hukuman dapat digunakan
untuk mengontrol dan membina tingkah laku peserta
didik, tetapi respon negatif yang diberikan guru berupa
komentar yang bernada menghina, atau kata-kata yang
kasar (ejekan) perlu dihindari, karena akan
mematahkan semangat peserta didik dalam
mengembangkan dirinya.
d. Penggunaannya harus bervariasi.
Penggunaan penguatan yang tepat dan bervariasi
dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan sikap
yang lebih positif dari peserta didik sehingga
partisipasinya dalam proses pembelajaran akan
meningkat.

24
BAB 3
KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

Kata-kata bijak yang dilontarkan oleh seorang Filsuf


Yunani, Heraklitus “panta rae” mengandung arti segala
sesuatu itu berubah. Sepintas kita tidak memahami hakikat
makna yang terkandung dalam kata-kata ini, namun jika
kita mencoba untuk mengaitkan dengan kerja rutinitas
sehari-hari khususnya dalam proses belajar mengajar, kita
memperoleh pembelajaran yang sangat berarti. Kerja
seorang guru di satu pihak dan peserta didik di lain pihak
dalam proses belajar mengajar yang bersifat rutin ini
berkaitan erat dengan sifat alami yang ada pada manusia
yaitu kebosanan.
Kebosanan merupakan masalah besar di sekolah.
Kita bisa membayangkan peserta didik duduk dengan
tenang, mendengar dan melihat guru mengajar selama
berjam-jam sambal terkantuk-kantuk karena diserang
kebosanan. Aktivitas guru di depan kelas tidak berubah,

25
berbicara dengan monoton mulai dari awal pelajaran
sampai akhir pelajaran dengan pola interaksi yang tidak
berubah selalu dalam pola guru–peserta didik. Dalam
keadaan demikian, akan sulit bagi guru untuk dapat
mempertahankan perhatian peserta didik pada pelajaran,
sehingga waktu yang dipakai tidak ada manfaatnya, hilang
begitu saja, karena tujuan pembelajaran tidak tercapai
sebagaimana yang diharapkan.
Memaknai “segala sesuatu itu berubah”,
memberikan inspirasi kepada kita bahwa kalau kita
memperoleh sesuatu yang itu-itu saja akan menimbulkan
kebosanan. Oleh karena itu harus ada perubahan,
mengapa demikian? Jawabannya adalah, perubahan atau
variasi harus dilakukan karena pada umumnya orang selalu
ingin “sesuatu yang baru”.
Sebagai konsekuensi dari kenyataan di atas, tidak
dapat disangkal lagi, dalam proses pembelajaranpun,
peserta didik juga menginginkan adanya variasi kegiatan
yang membuat proses pembelajaran menjadi menarik dan
lebih hidup. Keadaan ini akan membuat peserta didik dapat
lebih memusatkan pikiran dan perhatiannya sehingga
proses belajar menjadi lebih berhasil. Inilah tantangan bagi
guru untuk memahami dan menguasai serta dapat
menggunakan keterampilan mengadakan variasi dalam
mengajar yang terkait dengan penggunaannya di dalam
kelas dan komponen-komponen dalam keterampilan
mengadakan variasi.

26
3.1. Penggunaan di dalam Kelas
Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa
kebosanan bisa muncul apabila seseorang selalu melhat,
merasakan atau mengalami peristiwa yang sama secara
berulang-ulang dan terus menerus. Selain itu pada
umumnya setiap orang meinginkan adanya perubahan,
menginginkan sesuatu yang baru yang berbeda dengan
yang sebelumnya. Keadaan dan keinginan yang demikian
inipun terjadi di dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
Selain faktor di atas, dalam proses pembelajaran di
dalam kelas terdapat faktor lain yang sangat khusus dan
spesifik yang dapat menyebabkan timbulnya kebosanan
pada diri peserta didik. Faktor-faktor yang dimaksud sangat
penting untuk diketahui oleh para guru sehingga mereka
dapat mengantisipasinya dan berusaha untuk
menghilangkan atau setidak-tidaknya dapat dikurangi.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan kebosanan
peserta didik dalam proses pembelajaran dapat diklasifikasi
ke dalam 3 kelompok, yaitu:
a. Kebosanan yang timbul dari metode pengajaran.
Peserta didik duduk dengan tenang, mendengar dan
melihat guru mengajar selama berjam-jam sambil
terkantuk-kantuk.
b. Kebosanan yang timbul dari gaya mengajar guru.
Sebagian besar guru tetap tinggal di kursinya atau
monoton mulai dari masuk kelas sampai akhir pelajaran.
c. Kebosanan yang timbul dari posisi guru.

27
Interaksi yang terjadi selama proses pembelajaran tidak
banyak berubah selalu dalam pola guru–peserta didik
atau disebut berpusat pada guru.
Berdasarkan uraian di atas sangatlah rasional bila
penggunaan keterampilan mengadakan variasi dalam
pembelajaran berhubungan dengan perubahan-perubahan
atau variasi yang dilakukan guru dalam menyampaikan
pelajaran. Variasi ini berkaitan dengan metode
pembelajaran, gaya mengajar guru, media dan bahan
pembelajaran yang digunakan dan juga berkaitan dengan
pola interaksi dalam kelas. Guru harus mengubah pola
interaksi yang menjadikan dirinya sebagai pusat
pembelajaran menjadi berpusat pada peserta didik.
Dalam proses pembelajaran di kelas, kebosanan yang
dialami oleh peserta didik pada umumnya dapat dilihat dari
gejala-gejala yang terjadi, di antaranya adalah: perhatian
peserta didik rendah atau tidak ada, proses pembelajaran
tidak menarik, tidak hidup dan interaksi yang terjadi hanya
satu arah dari guru kepada peserta didik, serta peserta
didik bersifat pasif. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa
keterampilan mengadakan variasi dalam pembelajaran itu
berhasil, jika dapat memberikan manfaat kepada peserta
didik, dapat menghilangkan kebosanan atau setidaknya
mengurangi kebosanan. Manfaat tersebut antara lain
sebagai berikut:
a. Menimbulkan dan meningkatkan perhatian peserta didik
terhadap aspek-aspek pembelajaran yang relevan.

28
b. Memberikan kesempatan berkembangnya bakat dan
rasa ingin mengetahui dan menyelidiki dalam diri
peserta didik tentang hal yang baru.
c. Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan
sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih
hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
d. Memberi kesempatan kepada peserta didik
mendapatkan cara menerima pelajaran yang disenangi.
e. Meningkatkan aktifitas belajar peserta didik di dalam
proses pembelajaran dengan melibatkan peserta didik
pada berbagai pengalaman yang menarik dan terarah
sesuai dengan tingkatan kognitif.
Prinsip–prinsip pengadaan variasi dalam pembelajaran
yang perlu diperhatikan guru adalah:
a. Semua variasi harus digunakan sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai, sesuai dengan kemampuan peserta
didik dan hakikat pendidikan, karena variasi yang
digunakan secara tidak beraturan akan menghambat
proses belajar. Sangat dianjurkan penggunaan variasi
hendaknya beragam dan tidak berlebihan, sebab
pemakaian yang berlebihan akan menyebabkan peserta
didik bingung dan sebaliknya dapat mengganggu
proses pembelajaran.
b. Variasi harus digunakan secara lancar dan
berkesinambungan, sehingga tidak merusak perhatian
peserta didik dan tidak mengganggu jalannya proses
pembejaran.

29
c. Variasi digunakan secara luwes, fleksibel dan spontan
sesuai dengan respon yang diberikan peserta didik
selama pembelajaran berlangsung. Biasanya respon itu
muncul dalam bentuk tingkah laku yang berkaitan
dengan perhatian dan keterlibatan peserta didik. Di
samping juga tentunya respon dalam bentuk
pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran
yang diajarkan.
3.2. Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi dalam kegiatan pembelajaran yang dimaksud di
sini adalah perubahan proses yang berkesinambungan
yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran
berlangsung. Variasi tersebut berkaitan dengan tiga
komponen pengajaran yaitu variasi gaya mengajar, variasi
dalam penggunaan alat dan media pembelajaran, dan
variasi pola interaksi di dalam kelas. Berikut ini uraiannya
satu persatu.

a. Variasi Gaya Mengajar


Sebenarnya banyak sekali variasi gaya mengajar yang
dapat dilakukan oleh guru. Namun perlu diingat dalam
penggunaannya harus dipilih dengan tepat dan bijak.
Sebab jika penggunaan variasi gaya mengajar tidak sesuai,
maka justru akan membingungkan peserta didik, dan
bahkan akan menghambat proses transformasi dalam
pembelajaran. Sebaliknya kalau berpegang pada 3 prinsip
sebagaimana yang telah dikemukakan di atas akan sangat

30
berguna dalam usaha guru untuk menarik dan
mempertahankan minat serta semangat peserta didik
dalam belajar.
Dalam praktiknya, variasi gaya mengajar sebagaimana
dimaksudkan di atas biasanya muncul di dalam dan di
antara komponen komponen yang terdiri dari:

1) Penggunaan variasi suara


Variasi suara adalah perubahan dalam nada, irama dan
tekanan suara, misalnya dari keras ke lemah, dari tinggi
ke rendah dari suara yang sedih menjadi gembira, atau
pada saat-saat tertentu yakni pada waktu guru ingin
menjelaskan atau menyajikan pokok penting biasanya
memberi tekanan pada kata-kata tertentu atau
mengucapakan dengan lambat sehingga dapat diikuti
oleh peserta didik.

2) Pemusatan perhatian
Dalam menjelaskan materi pelajaran kepada peserta
didik, jika terdapat hal-hal yang dianggap penting
biasanya guru melakukan pemusatan perhatian peserta
didik pada hal-hal yang dianggap penting tersebut. Cara
yang lazim dilakukan adalah dengan perkataan seperti:
"perhatikan baik-baik", "harap diperhatikan hal ini
penting sekali", "dengar baik-baik", masih banyak
contoh lain, dengan kata-kata atau kalimat yang senada
dengan itu. Lazimnya cara pemusatan dengan lisan ini
bersamaan atau diikuti dengan isyarat.

31
3) Kesenyapan
Menghentikan sesaat secara tiba-tiba yang disengaja
selagi guru menerangkan atau menghentikan sesaat
aktifitas guru, akan menimbulkan adanya kesenyapan.
Kesenyapan tersebut merupakan perubahan stimulus
dalam proses pembelajaran, dari adanya suara ke
keadaan tenang, atau dari keadaan adanya kesibukan
lalu tiba tiba dihentikan. Perubahan ke dalam
kesenyapan ini merupakan cara yang baik untuk
menarik perhatian peserta didik. Hal ini dapat
dimungkinkan karena memunculkan rasa ingin tahu
peserta didik tentang "apa" yang terjadi. Namun
sebaliknya yang harus diingat, jika perubahan yang
dilakukan tersebut atau apabila kesenyapan yang
hendak diciptakan itu mengganggu proses
pembelajaran, maka sebaiknya tidak dilakukan. Guru
dalam hal ini harus pandai membaca situasi.
Kesenyapan yang diciptakan guru ini diperlukan pula
pada waktu guru menunggu jawaban dari peserta didik
atas pertanyaan yang diberikan guru kepada peserta
didik, terutama untuk menjawab pertanyaan yang
memerlukan pemikiran lebih mendalam. Kesenyapan
tersebut merupakan "waktu tunggu" untuk memberikan
kesempatan berpikir kepada peserta didik.
4) Mengadakan kontak pandang
Dalam budaya bangsa kita terdapat peribahasa: "Dari
mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali. Dari

32
mana datangnya cinta dari mata turun ke hati".
Peribahasa ini memberi pelajaran kepada kita bahwa
kontak pandang itu dapat menjalin komunikasi dan
dapat memberikan sinyal-sinyal informasi dalam makna
yang rasional maupun emosional.
Belajar dari makna tersebut, bila guru berbicara dan
berinterkasi dengan para peserta didik, hindari
pandangan tertuju atau terfokus pada seorang peserta
didik saja. Kontak pandang guru dalam proses
pembelajaran harus bervariasi, artinya pandangan
menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke seluruh
peserta didik untuk menunjukkan hubungan yang akrab
dengan mereka. Kontak pandang ini dapat digunakan
pula untuk menyampaikan informasi seperti
membelalakkan mata tanda kagum misalnya, atau
dapat juga digunakan untuk mengetahui perhatian dan
pemahaman peserta didik.
5) Gerakan badan dan mimik
Gerakan anggota tubuh atau badan, dan ekspresi wajah
guru pada saat pembelajaran di dalam kelas merupakan
bahasa isyarat yang dapat memberikan informasi dan
dapat diterjemahkan oleh peserta didik dalam berbagai
makna dan arti. Misalnya: guru mengganggukan kepala
dapat diartikan sebagai tanda guru setuju, sebaliknya
jika guru menggelengkan kepala memberikan arti tidak
setuju. Jika guru mengangkat bahu sambil
menggerakkan tangan dan membalikkan telapak tangan

33
serta dibarengi dengan ekspresi wajah yang agak
cemberut, menandakan guru tidak puas dengan
jawaban yang diberikan peserta didik atas pertanyaan
yang diajukan. Masih banyak contoh senada yang dapat
dipakai dalam kaitannya dengan variasi menggunakan
gerakan badan dan mimik. Dengan demikian di dalam
proses pembelajaran, variasi gerakan badan dan
ekspresi wajah guru merupakan aspek dalam
berkomunikasi yang dapat membuat suasana kelas
menjadi hidup, bergairah dan dapat mengusir
kebosanan. Namun demikian perlu diperhatikan pula
bahwa gerakan badan dan mimik yang dimaksud
tersebut harus dilakukan dalam batas kewajaran dan
tetap berada di dalam koridor kesopanan dan etika.
6) Pergantian posisi guru di dalam kelas
Di dalam kelas terutama pada waktu proses
pembelajaran berlangsung, guru menjadi titik pusat
perhatian peserta didik. Dimana posisi guru berada,
disitulah pandangan dan perhatian peserta didik tertuju.
Posisi guru yang sentral di dalam kelas ini dapat
dijadikan inspirasi dalam mengadakan variasi posisi
guru. Jika posisi guru hanya pada satu tempat saja,
dapat mengakibatkan munculnya kebosanan karena
peserta didik akan melihat gurunya di tempat yang
sama terus menerus. Oleh karena itu pergantian posisi
guru harus dilakukan untuk mempertahankan perhatian
peserta didik. Pergantian posisi yang dimaksudkan

34
disini adalah ke arah depan atau belakang, ke bagian
kiri atau kanan kelas, di antara peserta didik, atau
kadang-kadang duduk. Hal penting yang harus diingat
adalah variasi ini digunakan dengan tujuan tertentu, dan
dilakukan secara wajar tidak berlebihan.

b. Variasi penggunaan media dan bahan pembelajaran


Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,
proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses
berkomunikasi. Pengertian komunikasi di sini adalah suatu
proses penyampaian informasi yaitu berupa materi
pelajaran dari guru kepada peserta didik. Suatu komunikasi
yang yang baik dan tepat akan terjadi, kalau si pemberi
informasi (komunikator) menyampaikan secara tepat dan si
penerima (komunikan) menerimanya tidak dalam bentuk
distorsi (ganguan).
Jadi proses komunikasi dalam pembelajaran adalah
proses penyampaian informasi berupa materi pelajaran dari
guru kepada peserta didik dengan maksud agar isi
informasi yang disampaikan sama dengan yang diterima.
Untuk mencapai maksud ini guru membutuhkan media dan
alat pengajaran yang akan digunakan untuk
menyampaikan informasi tersebut.
Banyak media dan alat pembelajaran yang dapat
dipakai dalam komunikasi ini. Alat yang sederhana dan
paling umum untuk menyampaikan informasi adalah
melalui alat penginderaan yang dapat digolongkan menjadi

35
lima yaitu: penglihatan (mata), pendengaran (telinga),
penciuman (hidung), perabaan (tangan), dan
pencicipan/perasaan (lidah). Dari kelima indera yang
disebutkan di atas, dalam proses pembelajaran di kelas
lazimnya digunakan golongan indera yang dapat dilihat,
didengar dan yang dapat diraba, dibau (dicium) atau
dimanipulasi.
Peralihan atau pertukaran penggunaan dari jenis
yang satu ke jenis yang lainnya atau dari bermacam
alat/bahan dalam satu komponen misalnya dari gambar ke
tulisan di papan tulis, mengharuskan peserta didik
menyesuaikan alat inderanya sehingga lebih meningkatkan
perhatian. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan
yang berbeda dalam menggunakan alat inderanya untuk
belajar, maka pendekatan multi indera ini dapat memenuhi
gaya belajar peserta didik yang berbeda tersebut.
Jenis variasi dalam penggunaan media dan bahan
pembelajaran dapat digolongkan menjadi variasi alat/bahan
yang dapat dilihat, variasi alat/bahan yang dapat diukur dan
variasi alat/bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi.
Berikut ini pembahasannya satu persatu.
1) Variasi alat dan bahan yang dapat dliliat (visual)

Variasi dalam kategori ini meliputi: gambar di papan


tulis, grafik, film, telivisi, sumber-sumber di
perpustakaan, ukiran, peta, poster dan lain sebagainya.
2) Variasi alat dan bahan yang dapat didengar (aural)

36
Pada umumnya suara guru merupakan alat atau media
yang utama dalam kelas. Guru dapat mengatur secara
bervariasi irama dan nada suaranya sesuai dengan
tuntutan situasi dan kondisi, seperti dari keras ke lemah,
dari tinggi ke rendah, dari cepat ke lambat, dan gembira
atau sedih. Selain itu guru dapat pula melakukan
pertukaran kegiatan mendengar suara guru dengan
selingan rekaman suara, atau suara radio, suara musik,
deklamasi yang dibacakan peserta didik, drama, diskusi
dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut dapat menjadi
variasi yang sangat baik dan bermanfaat untuk
mempertahankan perhatian peserta didik. Guru sangat
dianjurkan dapat melakukan pertukaran antara kegiatan
mendengar dan melihat dalam proses pembelajaran.

3) Variasi alat dan bahan yang dapat diraba dan


dimanipulasi.
Banyak alternatif atau pilihan yang dapat digunakan
guru pada variasi jenis ini dalam kegiatan pembelajaran
di kelas, seperti: model, patung, alat mainan, binatang
hidup yang kecil, dan lain sebagainya yang dapat
diberikan kepada peserta didik untuk diamati, diraba
atau dimanipulasikan. Variasi ini sangat membantu
menarik perhatian peserta didik dan sekaligus dapat
melibatkan peserta didik dalam membentuk dan
memperagakan kegiatannya, baik secara mandiri
maupun dalam kelompok kecil.
c. Variasi pola interaksi dan kegiatan peserta didik

37
Pola interaksi dalam proses pembelajaran dapat
berbentuk klasikal, kelompok maupun perseorangan sesuai
dengan keperluan. Sedangkan variasi kegiatan dapat
berupa kegiatan menelaah materi, melakukan diskusi,
latihan, melakukan demonstrasi, dan lain sebagainya.

Untuk menghindari kegagalan yang sering terjadi


dalam melaksanakan variasi pola interaksi dan kegiatan
peserta didik ini, sebelum diterapkan harus direncanakan
terlebih dahulu, khususnya variasi kegiatan peserta didik
yang menuntut ketersediaan alat dan bahan. Sehingga
dalam pelaksanaannya nanti guru telah betul-betul siap
dan variasi yang diterapkan dapat berlangsung secara
efektif dan efisien.

Secara umum pola interaksi sebagaimana


dikemukakan di atas adalah beragam, mulai dari situasi
kegiatan yang sepenuhnya didominasi oleh guru, sampai
kepada kegiatan yang memungkinkan peserta didik bekerja
mandiri secara bebas. Sebagai contoh misalnya, guru
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
bekerja sama dalam kelompok kecil, tukar menukar melalui
diskusi, atau melakukan demonstrasi tanpa ada campur
tangan guru di dalamnya. Guru dapat pula berbicara atau
membantu peserta didik secara perorangan, atau memberi
pelajaran kepada seluruh kelas dengan mengajukan
kegiatan belajar tertentu, susunan meja dibuat melingkar

38
misalnya, susunan demikian ini dilakukan karena lebih
cocok untuk kegiatan diskusi.

Masih banyak cara melakukan variasi jenis ini,


namun perlu diperhatikan bahwa mengubah pola interaksi
dengan sendirinya guru mengubah kegiatan belajar peserta
didik, tingkat dominasi guru dan keterlibatan peserta didik,
tingkat tuntutan kognitif, serta susunan kelas.
BAB 4
KETERAMPILAN MENJELASKAN

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu tugas


pokok guru di dalam proses pembelajaran pada intinya
adalah menyampaikan materi pelajaran kepada peserta
didik. Agar materi pelajaran dapat diterima peserta didik
dengan baik dan benar, guru dituntut menguasai materi
pelajaran, dan mengorganisasikan materi dalam urutan
yang terencana dan sistematis sehingga mudah dipahami.
Meskipun kesiapan tersebut sudah ada, namun tanpa
diikuti dengan keterampilan menjelaskan, bisa jadi proses
penyampaiannya tidak dapat mencapai tujuan
sebagaimana yang diharapkan. Jadi mudah kiranya
dipahami bahwa ada keterkaitan yang erat antara kegiatan
menganalisis, mengorganisasikan dan merencanakan
secara sistematis dengan keterampilan menjelaskan.
Oleh karena itulah keterampilan menjelaskan
mempunyai dua komponen yang harus dikuasai dan
dipahami oleh guru yaitu komponen merencanakan dan
menyajikannya. Kedua komponen ini merupakan

39
keterampilan menjelaskan yang mutlak dimiliki oleh setiap
guru. Melalui keterampilan menjelaskan dalam
pembelajaran, akan dicapai beberapa tujuan antara lain:
a. Membimbing peserta didik memahami konsep atau
materi yang disampaikan.
b. Membantu peserta didik agar mampu memberikan
penalaran terhadap materi yang diterimanya.
c. Membuat peserta didik terlibat secara intelektual
maupun emosional, sehingga peserta didik ada
keinginan untuk memperdalam materi dan ada makna
yang dialami dirinya dari peristiwa pembelajaran.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru, dalam
menerapkan keterampilan menjelaskan yaitu:
a. Penjelasan diberikan sesuai dengan keperluan, artinya
penjelasan jangan sampai di luar konteksnya.
b. Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
c. Penjelasan harus difokuskan pada materi atau pesan
yang bermakna.
d. Penjelasan harus disesuaikan dengan kemampuan dan
latar belakang peserta didik
Berikut ini akan dibahas secara terpisah komponen-
komponen keterampilan menjelaskan yang terdiri dari
komponen merencanakan dan menyajikan, agar mudah
untuk dipelajari, dipahami dan di praktekan oleh guru
dalam proses pembelajaran.

4.1 Merencanakan

40
Kegiatan ini bertujuan agar pesan atau materi yang
disampaikan guru dapat diterima dengan baik oleh peserta
didik. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu
diorganisasikan secara berurutan, sistematis dan
direncanakan dengan baik, agar guru mudah dalam
menyajikannya serta peserta didik sebagai penerima pesan
dapat menerima pesan dengan baik dan benar. Kegiatan
merencanakan ini meliputi:
1. Isi Pesan (Materi)
Mengajar pada intinya adalah menjelaskan materi
pelajaran kepada peserta didik, dimana sasaran yang
ditargetkan dalam proses penyampaiannya adalah isi
pesan atau materi yang dijelaskan guru dapat diterima,
dipahami dan dimengerti dengan benar oleh peserta didik.
Kegiatan merencanakan isi pesan (materi) pelajaran
mencangkup hal-hal berikut:
a. Menganalisis masalah secara keseluruhan, dalam hal ini
termasuk mengidentifikasi unsur-unsur apa yang akan
dihubungkan atau dikaitkan dalam penjelasan suatu
materi
b. Menentukan jenis hubungan antara unsur-unsur yang
memiliki keterkaitan, apakkah unsur yang satu berbeda,
bertentangan atau saling menunjang dengan unsur yang
lainnya.
c. Menggunakan hukum, rumus, atau generalisasi yang
sesuai dengan kaitan atau hubungan yang telah
ditentukan.

41
2. Penerima pesan (peserta didik)
Pada akhirnya mata rantai terakhir dalam keberhasilan
proses keterampilan menjelaskan adalah penerima pesan
yaitu peserta didik. Ukurannya adalah isi pesan (materi)
yang telah dijelaskan oleh guru dapat dipahami dengan
baik oleh peserta didik atau sebaliknya. Dengan demikian
posisi atau kedudukan peserta didik yang akan diberi
penjelasan sangat penting bagi seorang guru, dengan
pandangan seperti itu, mengandung konsekuensi bahwa
merencanakan suatu penjelasan harus mempertimbangkan
penerima pesan yaitu peserta didik. Berhasil tidaknya
penjelasan yang diberikan guru sangat tergantung pada
kesiapan peserta didik. Oleh karena itu dalam
merencanakan penjelasan suatu materi, seorang guru
sebaiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Usia dan jenis kelamin peserta didik
b. Latar belakang sosial dan lingkungan peserta didik
c. Kemampuan peserta didik
d. Daya tangkap peserta didik

Berkenaan dengan adanya perbedaan-perbedaan


peserta didik sebagaimana dikemukakan di atas, maka ada
tiga macam kriteria pertanyaan yang harus dapat
membimbing seorang guru untuk merancanakan suatu
penjelasan yaitu:
a. Apakah penjelasan yang diberikan kepada peserta
didik itu cukup relevan dengan pertanyaan yang

42
diajukan peserta didik, atau dengan situasi yang
membingungkan mereka.
b. Apakah penjelasan yang disajikan itu sudah memadai,
artinya mudah diserap peserta didik melalui apa yang
mereka ketahui.
c. Apakah penjelasan itu mempunyai kesesuaian dengan
tingkat pengetahuan peserta didik pada masa itu.

4.2 Menyajikan Suatu Penjelasan


Upaya perencanaan isi pesan (materi) yang telah
dilakukan dengan baik oleh seorang guru menjadi tidak
berhasil atau bahkan sia-sia jika penyajiannya kepada
pesera didik tidak baik. Penyajian isi pesan (materi) yang
kurang jelas dapat menimbulkan salah pengertian,
penyajian dengan emosi dan perilaku yang tidak tepat
dapat menciptakan suasana salah perkiraan. Demikian
pula adanya perbedaan bahasa, kata-kata, tulisan dan arti
dalam penyajian dapat menimbulkan akibat sebaliknya dari
apa yang dimaksud dalam isi pesan (materi) yang
sebenarnya.
Hal-hal yang dikemukakan di atas merupakan
hambatan-hambatan yang ditemui dalam suatu penjelasan
dan hambatan ini dapat dihindari apabila pelaksanaan
dalam menyajikan suatu penjelasan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Kejelasan

43
Kejelasan dalam menyampaikan suatu materi dapat
diperoleh dengan berbagai cara, antara lain:
a. Materi disusun secara sistematis sehingga mudah dalam
menyajikannya.
b. Bahasa yang digunakan harus jelas, diungkapan secara
baik dengan volume suara yang tidak monoton.
c. Berbicara harus lancar, tidak boleh tergagap-gagap dan
hindarilah kata-kata yang tidak perlu seperti: “eeee, aaa,
mmm” dan sebagainya.
d. Istilah-istilah teknis ataupun istilah baru harus di
definisikan dengan jelas dan hindarilah istilah atau
ungkapan yang meragukan seperti, “beberapa”, “kira-
kira semacam itu”, “dua atau tiga sudah cukup” dan lain
sebagainya.
e. Berhentilah sejenak untuk mengetahui apakah yang
dijelaskan telah dimengerti oleh peserta didik sebelum
dilanjutkan dengan penjelasan lain.
2. Penggunaan contoh dan ilustrasi
Penggunaan contoh-contoh dan ilustrasi dalam
penjelasan akan mampu menjembatani perbedaan
kemampuan dan daya tangkap peserta didik dalam
menerima isi pesan (materi). Sebaiknya guru
menggunakan contoh yang jelas, nyata dan mempunyai
hubungan dengan benda-benda yang dapat ditemui
peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Situasi khusus
yang dibuat relevan dengan keadaan setempat akan

44
sangat membantu keberhasilan tujuan menggunakan
contoh tersebut.
Pola pemberian contoh dengan mengaitkan
generalisasi (dalil) diharapkan dapat memberikan
penjelalasan lebih efektif. Pada umumnya ada dua pola
yang mempunyai efektivitas tinggi dalam menghubungkan
contoh dan dalil yaitu:
a. Pola induktif, memberikan contoh-contoh terlebih dahulu,
kemudian di akhir pemberian contoh-contoh ditarik
kesimpulan umum atau dalil (rumus).
b. Pola deduktif, menggunakan contoh-contoh untuk
memperjelas atau memerinci lebih dalam suatu hukum
atau generalisasi yang telah diberikan sebelumnya.
Pada umumnya dalam menggunakan pola dalil dan
contoh diperlukan kata-kata penghubung dan ungkapan-
ungkapan khusus. Kata-kata penghubung seperti: “jika…
maka”, “walaupun begitu”, “maka”, “sehingga”, “sementara
itu”, “bila”, “karena”, “sebab”, digunakan untuk mengaitkan
ide pertama dengan ide kurang penting. Sedangkan untuk
kata penghubung seperti: “di samping itu”, “juga”,
“selanjutnya”, “hanya”, “oleh karena itu”, “jadi” atau
“sebaliknya”, digunakan untuk menghubungkan ide-ide
yang sama pentingnya. Dengan menggunakan istilah-
istilah ini, guru tidak hanya memperjelas penyajiannya,
tetapi sekaligus menekankan keterkaitannya.
3. Pemberian penekanan

45
Dalam menyampaikan materi pelajaran kepada peserta
didik untuk mencapai kejelasan, pada umumnya seorang
guru berusaha untuk memusatkan perhatian kepada
masalah pokok dan cara pemecahannya. Untuk menarik
perhatian peserta didik kepada masalah atau bagian-
bagian yang penting dan membutuhkan pemecahan
masalah, maka guru dapat memberikan penekanan-
penekanan.
Memberikan penekanan-penekanan pada bagian-
bagian penting ini digolongkan menjadi dua katagori yaitu:
a. Melakukan variasi gaya mengajar guru seperti:
memberikan tekanan pada suara guru ketika
menjelaskan butir-butir penting. Melakukan perubahan
pada nada dan irama suara dari keras ke lemah dari
tinggi ke rendah dan dari cepat ke lambat. Selain itu
variasi gaya mengajar guru yakni mimik dan gerak-gerik
badan dapat digunakan untuk memberikan penekanan.
b. Membuat struktur sajian yaitu, memberikan informasi
yang menunjukan arah dan tujuan utama dari sajian
seperti: membuat ikhtisar dan pengulangan, mengatakan
dengan kalimat lain (memparafrase) jawaban peserta
didik, dan memberikan tanda (isyarat) lisan seperti
“pertama”, “kedua” dan lain sebagainya
4. Balikan
Tujuan akhir dari semua proses menyajikan penjelasan
adalah apakah peserta didik memahami materi pelajaran
yang sedang dijelaskan oleh guru. Untuk mengetahui

46
sejauh mana pemahaman peserta didik tersebut, guru
hendaknya memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk menunjukan pemahamannya ataupun
ketidakmengertiannya ketika penjelasan itu diberikan.
Untuk mengetahui hal tersebut, guru dapat mengajukan
pertanyaan kepada peserta didik dan memberi waktu
tunggu (kesenyapan), sehingga dapat memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab. Selain
itu dapat pula dilakukan dengan cara memperhatikan
tingkah laku, sikap dan mimik mereka selama penjelasan
itu diberikan.
Jawaban peserta didik dan pengamatan guru terhadap
tingkah laku dan mimik peserta didik merupakan balikan
bagi guru yang dapat digunakan untuk melakukan
penyesuaian dalam penyajiannya. Misalnya kecepatan
menjelaskannya dikurangi, mengulangi hal-hal yang
penting, memberikan contoh tambahan dan lain
sebagainya yang dianggap perlu.
Balikan berupa sikap peserta didik, sebaiknya dijaring
bersamaan dengan pertanyaan yang bertujuan menjaring
balikan atau pemahaman mereka. Oleh karena itu, selain
bertanya “apakah kalian mengerti penjelasan tadi?”, sangat
penting juga ditanyakan “apakah penjelasan tadi memiliki
makna? Jika ada, apa makna tersebut?”.

47
BAB 5
KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP
PELAJARAN

Pada saat bel sekolah berbunyi, peserta didik


bergegas masuk ke kelas masing-masing, bersamaan
dengan itu gurupun memasuki ruangan kelas untuk
memulai pembelajaran. Setelah menyapa peserta didik
dengan memberikan salam “selamat pagi”, kemudian guru
melakukan tugas rutin seperti menenangkan kelas, dan
mengecek daftar hadir. Selanjutnya guru langsung saja
masuk pada kegiatan inti pelajaran, menerangkan
pelajaran sampai selesai, kemudian berganti ke materi
pelajaran yang baru. Setelah jam pelajaran yang
disediakan berakhir, guru langsung berkata: “Anak-anak,
sayang sekali waktunya telah habis, pelajaran ini kita
lanjutkan minggu depan”.
Itulah sekelumit moment yang sering kita temui di
dalam proses pembelajaran di kelas. Pada waktu mulai

48
pelajaran, guru tidak melakukan kegiatan membuka
pelajaran, dan setelah pelajaran usai guru juga tidak
melakukan usaha untuk menutup pelajaran.
Dari kasus di atas muncul pertanyaan, mengapa
guru tidak melakukan kegiatan membuka pelajaran dan
menutup pelajaran. Ada berbagai alasan mengapa guru
tidak melakukan hal itu, mungkin saja lupa, tidak ada
waktu, atau memang belum mempunyai keterampilan
untuk melaksanakannya, atau boleh jadi sudah memiliki
keterampilan tersebut tetapi tidak termotivasi karena tidak
mengetahui makna dan fungsinya serta bagaimana
melaksnakannya dalam proses pembelajaran di dalam
kelas.
Sebetulnya membuka pelajaran dan menutup
pelajaran itu, ibarat para atlet cabang sepak bola yang
akan bermain sepak bola dalam latihan maupun dalam
pertandingan. Seorang pelatih sepak bola yang baik akan
memberikan pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai
latihan atau pertandingan. Jika sang atlet langsung berlatih
atau bertanding sepak bola tanpa pemanasan terlebih
dahulu, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.
Demikian pula setelah akhir latihan ataupun pertandingan,
sang pelatih dan sang atlet akan mendiskusikan hasil-hasil
yang dicapai dalam latihan dan tingkat keberhasilan
latihan. Mengadakan evaluasi yang akan dijadikan balikan
untuk menyempurnakan program latihan selanjutnya.

49
Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang
dilakukan oleh guru dengan maksud untuk menciptakan
suasana siap mental dan memusatkan perhatian peserta
didik pada hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka
pelajaran tidak saja harus dilakukan pada awal pelajaran
tetapi dilakukan pula pada awal setiap penggal kegiatan inti
selama jam pelajaran tersebut. Peserta didik yang
perhatian dan motivasinya telah timbul, akan asyik dalam
melakukan tugas, memiliki semangat tinggi, muncul
berbagai pertanyaan yang mereka ajukan dan cepat
merespon saran-saran guru.
Sedangkan yang dimaksud dengan menutup
pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk
mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Kegiatan ini dilakukan
dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh
tentang apa yang telah dipelajari peserta didik, mengetahui
tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan
guru dalam proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan
guru dalam menutup pelajaran antara lain adalah
merangkum kembali atau meminta peserta didik membuat
ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi yang
baru diberikan. Sama halnya dengan kegiatan membuka
pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan
oleh guru tidak saja pada akhir pelajaran tetapi pada akhir
setiap penggal kegiatan inti selama jam pelajaran.

50
Berdasarkan uraian di atas kegiatan membuka
pelajaran mempunyai komponen yang mencakup hal-hal
sebagai berikut :
a. Menarik perhatian
b. Membangkitkan motivasi
c. Memberi acuan
d. Membuat kaitan materi
Selanjutnya dalam kegiatan menutup pelajaran
mencakup konsep-konsep sebagai berikut :
a. Meninjau kembali materi yang diberikan.
b. Melakukan evaluasi terhadap penugasan materi.
c. Memberikan tindak lanjut.
Komponen-komponen membuka dan menutup
pelajaran ini dalam pelaksanaan proses pembelajaran tidak
berdiri sendiri-sendiri tetapi saling terkait dan melengkapi
satu sama lain. Dalam uraian selanjutnya setiap komponen
dibahas terpisah dengan maksud agar mudah untuk
dipelajari dan dipahami oleh para guru atau calon guru.

5.1 Tujuan dan prinsip penggunaan keterampilan


membuka dan menutup pelajaran.
Sebelum membahas tentang komponen-komponen
keterampilan membuka dan menutup pelajaran, akan
disampaikan terlebih dahulu tentang tujuan penggunaan
keterampilan ini dan prinsip-prinsip penggunaanya.
1. Tujuan

51
Tujuan yang diharapkan dalam kegiatan membuka
dan menutup pelajaran adalah sebagai berikut:
a. Timbulmya perhatian dan motivasi peserta didik untuk
menghadapi tugas-tugas yang akan dikerjakan.
b. Peserta didik tahu batas-batas tugas yang dikerjakan.
c. Peserta didik mempunyai gambaran yang jelas tentang
pendekatan-pendekatan yang mungkin diambil dalam
mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran.
d. Peserta didik mengetahui hubangan antara pengalaman-
pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru
yang akan dipelajari atau yang masih asing baginya.
e. Peserta didik dapat menggabungkan fakta-fakta,
keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep yang
tercakup dalam suatu peristiwa.
f. Peserta didik dapat mengetahui tingkat keberhasilannya
dalam mempelajari suatu pelajaran sedangkan guru
dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam
mengajar, dalam hal ini guru memperoleh balikan yang
dapat digunakan untuk memperbaiki diri.
2. Prinsip-prinsip penggunaan
Ada dua prinsip yang mendasari penggunaan
komponen keterampilan membuka dan menutup yang
harus dipertimbangkan oleh guru yaitu:
a. Bermakna

Menarik perhatian dan motivasi peserta didik merupakan


salah satu tujuan yang diinginkan oleh guru dalam

52
kegiatan membuka dan menutup pelajaran agar
pelajaran yang akan disampaikan menjadi bermakna.
Oleh sebab itu guru hendaknya memilih cara yang tepat
dalam artian cara yang dipilih harus relavan dengan isi
dan tujuan pelajaran. Hindari cara dan usaha yang
bersifat mengada-ada, dibuat-buat dan dicari-cari.
Sebab cara-cara yang tidak ada relavansinya dengan
pelajaran tidak akan bermakna, gagal menarik perhatian,
dan memotivasi peserta didik yang pada akhirnya akan
mengalami kegagalan dalam penguasan pelajaran.

b. Berurutan dan berkesinambungan

Merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran


yang diberikan, tidak terpisah dan saling berdiri sendiri,
tetapi harus merupakan satu kesatuan yang utuh,
berurutan, dan berkesinambungan. Untuk mewujudkan
hal yang demikian, perlu diusahakan suatu susunan
yang tepat, mempunyai kaitan yang jelas antara satu
bagian dengan bagian yang lain atau memiliki
keterkaitan dengan pengalaman dan pengetahuan yang
telah dimiliki oleh peserta didik dan harus berhubungan
dengan minat peserta didik.

5.2 Komponen keterampilan membuka dan menutup


pelajaran

53
Dalam rangka memudahkan pembahasan, maka
komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran
akan diuraikan secara terpisah.
1. Komponen membuka pelajaran
Telah disampaikan pada uraian sebelumnya, bahwa
membuka pelajaran adalah kegiatan guru pada awal
pelajaran atau pada pergantian setiap sub pokok bahasan
atau setiap penggal kegiatan dalam kegiatan inti pelajaran
dengan maksud untuk menciptakan kesiapan mental dan
menarik perhatian peserta didik. Untuk menciptakan situasi
dan kondisi seperti itu perlu diperhatikan komponen-
komponen yang berperan dalam kegiatan membuka
pelajaran, yaitu:

a. Menarik perhatian
Menarik perhatian peserta didik sebelum seorang
guru memulai pelajaran, merupakan pekerjaan yang
sangat penting. Namun yang perlu diperhatikan oleh
para guru, bahwa perhatian yang dimaksud disini adalah
ketertarikan peserta didik pada topik atau pokok
pembahasan yang akan disampaikan
Dalam proses pembelajaran, tidak dapat dipungkiri
bahwa guru menjadi titik perhatian peserta didik,
sehingga penampilannya di kelas dapat menarik
perhatian peserta didik. Meskipun penampilan seorang
guru di depan dapat menarik perhatian peserta didik,
namun hendaknya dihindari hal-hal yang tidak kondusif
dalam proses pembelajaran. Hindari jangan sampai
perhatian peserta didik lebih besar tertuju pada

54
penampilan guru dibandingkan dengan perhatian
peserta didik pada materi pelajaran.
Agar ketertarikan peserta didik lebih besar pada
materi pelajaran, usaha menarik perhatian yang
dilakukan guru bisa bervariasi dan gunakan topik atau
inti materi sebagai pemicunya. Usaha tersebut dapat
ditempuh dengan cara menempatkan materi menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari kebutuhan peserta
didik. Berbagai cara yang dapat dilakukan oleh seorang
guru untuk menarik perhatian peserta didik, antara lain:

1) Gaya mengajar guru

Satu hal yang perlu diingat agar usaha yang


dilakukan menarik perhatian peserta didik, misalnya
gaya mengajar yang dilakukan selalu bervariasi,
guru berpindah-pindah posisi di kelas dan memilih
kegiatan yang bervariasi di dalam dan di luar kelas.

2) Pengguaan alat bantu mengajar

Alat bantu mengajar yang dimaksud misalnya


gambar, model, skema dan lain sebagainya. Dengan
menggunakan alat bantu mangajar tersebut di
samping dapat digunakan untuk menarik perhatian
peserta didik, dapat pula menimbulkan motivasi dan
memungkinkan terjadi kaitan hal-hal yang telah
diketahui sebelumnya dengan hal-hal yang akan
dipelajari.

55
3) Variasi pola interaksi

Pola interaksi yang biasa terjadi antara guru dengan


peserta didik dalam proses pembelajaran seperti
guru menerangkan peserta didik mendengar, guru
bertanya peserta didik menjawab, hanya dapat
menimbulkan rangsangan permulaan saja. Peserta
didik belum sepenuhnya dapat memusatkan
perhatian kepada materi pelajaran yang akan
disampaikan oleh guru. Oleh karena itu agar
perhatian peserta didik dapat tertarik pada materi
pelajaran, guru hendaknya mengadakan pola
interaksi yang bervariasi.

b. Menumbuhkan motivasi
Motivasi dapat diartikan segala sesuatu yang
mendorong sesorang untuk bertindak melakukan
sesuatu. Dorongan atau motivasi yang dapat
menentukan seseorang untuk berbuat sesuatu dapat
berasal dari objeknya sendiri dengan motivasi internal
atau dapat pula berasal dari faktor luar yang disebut
dengan motivasi eksternal.
Dilihat dari sudut peserta didik, menumbuhkan
motivasi internal merupakan hal penting yang diperlu
dilakukan oleh guru. Sebab peristiwa belajar hanya
dapat terjadi bila ada keinginan dari dalam diri peserta
didik untuk belajar. Namun perlu pula dikemukakan
disini, biasanya motivasi internal tersebut tidak dapat

56
langsung muncul begitu saja kepermukaan, untuk itulah
guru perlu memberi motivasi eksternal kepada peserta
didik supaya motivasi internalnya dapat muncul
kepermukaan.
Untuk menimbulkan motivasi peserta didik, baik yang
eksternal maupun yang internal dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Di bawah ini dikemukakan empat cara
untuk menumbuhkan motivasi yang dimaksudkan di
atas, yaitu:
1) Dengan kehangatan dan keantusiasan

Sikap ramah, antusias, bersahabat dan hangat yang


ditunjukan guru kepada peserta didik dalam proses
pembelajaran diharapkan dapat memberikan nilai
positif bagi peserta didik yakni termotivasi.

2) Menimbulkan rasa ingin tau

Membangkitkan rasa ingin tahu yang dimiliki para


peserta didik merupakan peluang yang harus
dimanfaatkan oleh seorang guru dalam
menimbulkan motivasi peserta didik. Untuk
membangkitkan rasa ingin tahu ini dapat dilakuan
dengan berbagai cara misalnya dengan membuat
kriteria yang menimbulkan pertanyaan,
menunjukkan suatu gambar seri atau dapat pula
dengan melakukan demonstrasi tentang suatu
peristiwa. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan-
pertanyaan dengan cerita, gambar atau peristiwa-

57
peristiwa yang telah disampaikan kepada peserta
didik tadi.

3) Mengemukakan ide yang bertentangan

Dalam kaitan ini guru dapat melontarkan ide-ide


yang bertentangan dengan mengajukan masalah
atau kondisi dari kenyataan sehari-hari. Ide-ide yang
dilontarkan kepada peserta didik tersebut haruslah
mempunyai hubungan atau kaitan dengan materi
pelajaran yang hendak disampaikan.

4) Memperhatikan minat peserta didik

Sebagaimana rasa ingin tahu, manusia juga memiliki


minat, oleh karena itu minat peserta didik perlu
mendapat perhatian guru. Sesuaikanlah topik-topik
pelajaran yang hendak disampaikan kepada peserta
didik yang dapat membangkitkan minat peserta
didik. Sebab minat peserta didik merupakan gudang
yang kaya bagi aktivitas yang dapat dirancang oleh
guru untuk menumbuhkan motivasi. Perlu
diperhatikan oleh guru adanya faktor-faktor yang
berpengaruh dalam membangkitkan minat peserta
didik, yaitu umur, jenis kelamin, letak sekolah dan
sosial ekonomi.

c. Memberi acuan
Tujuan yang hendak dicapai setelah pembelajaran

58
selesai perlu diketahui oleh peserta didik, karena dengan
mengetahui tujuan pembelajaran, maka peserta didik
dapat mempersiapkan dirinya sebaik mungkin terhadap
apa yang akan dipelajari. Oleh karena itu, dalam
keterampilan membuka pelajaran memberikan acuan
dalam bentuk penyampaian tujuan yang akan dicapai
merupakan hal penting terutama dalam mencapai prinsip
belajar yaitu prinsip kesiapan.
Selain itu, memberi acuan juga akan membantu
peserta didik mempunyai gambaran secara jelas tentang
ruang lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan
beberapa cara yang dapat dilakukan guru antara lain:

1) Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas

Hal ini dimaksudkan agar peserta didik mengetahui


tujuan yang hendak dicapai setelah pembelajaran
sehingga dapat mempersiapkan diri dan mengetahui
batas-batas tugas yang harus dikerjakan serta
memperoleh gambaran yang jelas tentang ruang
lingkup materi pelajaran.

2) Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan

Memberi saran tentang langkah-langkah kegiatan


yang akan dilakukan baik pada permulaan atau
pada waktu-waktu tertentu selama pelajaran, agar

59
peserta didik terarah usahanya dalam mempelajari
materi pelajaran yang disajikan.

3) Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas

Dapat dilakukan guru dengan berbagai cara


misalnya dengan mengingatkan peserta didik untuk
menemukan hal-hal positif dari sifat tentang suatu
konsep, manusia, benda, gambar-gambar dan lain
sebagainya. Selain hal-hal yang positif, peserta didik
perlu pula diingatkan untuk menemukan hal-hal
negatif, yang hilang atau kurang lengkap.

4) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan

Dalam hal ini guru dapat mengajukan pertanyaan


sebelum menjelaskan materi pelajaran. Pertanyan-
pertanyaan yang diajukan dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat mengarahkan peserta didik dalam
mengantisipasi sisi pelajaran yang hendak
disampaikan.

d. Membuat kaitan
Hal-hal yang dikenal, pengalaman-pengalaman,
minat dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik, disebut
sebagai bahan pengait yang dapat digunakan oleh guru
untuk membuat kaitan. Jika guru akan mengajarkan

60
materi pelajaran yang baru, hendaknya guru dapat
menguhubungkan materi pelajaran yang baru dengan
bahan pengait tadi yaitu hal-hal yang telah dikenal
peserta didik sebelumnya, dan pengalaman peserta
didik terdahulu atau dengan minat dan kebutuhan-
kebutuhan peserta didik. Dengan demikian peserta didik
dapat merasa bahwa belajar itu merupakan proses yang
berkesinambungan, materi terdahulu berhubungan
dengan yang akan dipelajari kemudian, merupakan garis
lurus yang tidak terputus-putus, sehingga tidak terasa
para peserta didik telah mempelajari sesuatu yang baru.
Untuk membuat kaitan sebagaimana dimaksud di
atas, berikut ini dikemukakan usaha-usaha yang dapat
dilakukan oleh seorang guru:

1) Menghubungkan antar aspek yang relavan dari


bidang studi yang dikenal peserta didik.

Pada permulaan pelajaran guru meninjau kembali


sampai berapa jauh pelajaran yang diberikan
sebelumnya telah dipahami oleh peserta didik. Cara
yang dapat ditempuh guru dengan mengajukan
pertanyaan kepada peserta didik, atau guru mebuat
rangkuman inti materi pelajaran terdahulu secara
ringkas.

2) Membandingkan pengetauan baru dengan


pengetahuan yang diketahui.

61
Cara ini dapat dilakukan jika bahan baru yang akan
diajarkan itu erat kaitannya dengan bahan pelajaran
yang telah dikuasai.

3) Menjelaskan konsep atau pengertian sebelum bahan


diperinci.

Jika materi pelajaran yang hendak disampaikan


sama sekali baru, guru sebaiknya menyajikan
konsep dan pengertian secara terpeinci.

5.3 Komponen keterampilan menutup pelajaran


Jika dalam proses pembelajaran terdapat kegiatan
membuka pelajaran, maka harus ada kegiatan yang
menjadi lawannya yaitu menutup pelajaran, dengan
demikian lengkap sudah pekerjaan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Kegiatan menutup
pelajaran ini bertujuan, agar peserta didik memperoleh
gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran
yang dipelajari.
Adapun komponen-komponen yang perlu untuk
diperhatikan dalam menutup pelajaran dapat dikemukakan
berikut ini:

1. Meninjau kembali materi yang diberikan


Sebelum mengakhiri atau menutup pelajaran, meninjau
materi yang diberikan kepada peserta didik perlu dilakukan
oleh seorang guru. Melalui cara ini guru mengajak peserta

62
didik untuk mengingat kembali materi yang telah
dipelajarinya. Ada dua cara yang dapat dilakukan guru
dalam menutup pelajaran, yaitu:

a. Merangkum inti pelajaran

Merangkum inti pelajaran dapat dilakukan oleh peserta


ataupun oleh guru. Jika rangkuman dibuat oleh peserta
didik dengan cara lisan, maka guru harus memberikan
penguatan, meluruskan jika kurang tepat atau
menyempurnakan rangkuman itu. Dengan demikian
rangkuman yang dibuat peserta didik merupakan umpan
balik yang sangat berguna bagi guru untuk menilai
kinerjanya sekaligus guru dapat dengan cepat
mengetahui sejauh mana materi yang disampaikan telah
dipahami peserta didik.

b. Membuat ringkasan

Untuk memantapkan pokok-pokok materi yang


diajarkan, dapat dilakukan dengan membuat ringkasan.
Pembuatan ringkasan ini dapat dilakukan oleh guru,
dapat juga menugaskan peserta didik baik secara
perorangan atau kelompok atau dapat pula dibuat
secara bersama-sama antara guru dan peserta didik.

2. Melakukan evaluasi

63
Melakukan evaluasi terhadap penguasaan peserta
didik terhadap materi yang dipelajari sebelum pelajaran
atau sepenggal kegiatan pelajaran diakhiri, merupakan
salah satu upaya untuk mengetahui ketercapaian peserta
didik terhadap tujuan pembelajaran. Evaluasi yang
dilakukan oleh guru dapat dilakukan secara lisan atau
secara tertulis. Apabila rentang waktunya panjang, maka
idealnya evaluasi terhadap penguasaan peserta didik
terhadap materi pelajaran dapat dilakukan secara tertulis,
namun sebaliknya jika waktunya singkat, cukup dilakukan
secara lisan. Yang penting untuk dipahami bahwa evaluasi
dilakukan untuk mengetahui apakah pada diri peserta didik
terjadi proses belajar atau tidak. Hasil evaluasi ini akan
menjadi informasi yang sangat penting bagi guru untuk
pembelajaran selanjutnya. Bentuk-bentuk evaluasi dapat
diperinci sebagai berikut:

a. Mendemonstrasikan keterampilan

Misalnya, setelah guru selesai menerangkan konsep


tentang oksidasi meminta peserta didik untuk
mengerjakan soal di papan tulis.

b. Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain

Misalnya, setelah guru menerangkan tentang bilangan


reaksi, lalu peserta didik disuruh menyelesaikan soal-
soal tentang persamaan reaksi.

64
c. Mengekspresikan pendapat peserta didik sendiri

Guru dapat meminta peserta didik untuk memberi


komentar atau mengemukakan pendapatnya tentang
suatu demonstrasi yang telah dilakukan guru atau
peserta didik lain apakah efektif atau tidak.

d. Soal-soal tertulis

Guru dapat memberikan soal-soal tertulis kepada


peserta didik, baik berbentuk uraian, tes obyektif atau
melengkapi lembaran kerja.

3. Tindak lanjut
Peserta didik diberi tugas berupa pekerjaan rumah dan
guru merencanakan tentang pembelajaran remedial untuk
peserta didik yang mebutuhkan.

65
BAB 6
KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS

Dalam proses pembelajaran di sekolah, guru


dihadapkan pada dua kegiatan yang amat penting yaitu
pengajaran di satu pihak dan pengelolaan kelas di lain
pihak. Pada praktiknya di lapangan, kegiatan tersebut
merupakan dua kegiatan yang sangat erat berhubungan,
satu sama lain, saling menunjang dan mendukung secara
sinergi.
Meskipun di lapangan demikian adanya, namun kedua
kegiatan ini sebenarnya mempunyai tujuan yang berbeda.
Pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara
langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan
khusus pembelajaran seperti menentukan entry-behavior,
menyusun rencana pelajaran, memberi informasi, bertanya,
menilai dan lain sebagainya. Sedangkan pengelolaan kelas
menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang dapat menciptakan
dan mempertahankan kondisi optimal bagi terjadinya
proses pembelajaran. Misalnya kegiatan pembinaan raport,
penghentian tingkah laku peserta didik yang
menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran
atas prestasi yang ditunjukkan peserta didik, penetapan

66
norma kelompok yang produktif, pengaturan ruangan dan
benda-benda, dan lain sebagainya.
Ketika terjadi kondisi dimana proses belajar di kelas
tidak efektif, hendaknya perhatian guru tertuju pada dua
kegiatan yaitu pengajaran dan pengelolaan kelas. Kegiatan
ini perlu diantisipasi dengan benar, karena bisa jadi
masalah itu timbul disebabkan pengelolaan kelas bukan
karena pengajaran. Jika masalahnya adalah pengelolaan
kelas, maka harus ditanggulangi dengan tindakan korektif
pengelolaan kelas, sedangkan masalah pengajaran harus
ditanggulangi dengan tindakan korektif instruksional. Sudah
barang tentu untuk dapat menanggulangi masalah dengan
tepat, guru harus mampu mengenali dan mengientifikasi
masalah, membuat diagnosa yang tepat sehingga alternatif
yang diambil dalam penyelesaiannya akan tepat atau
setidaknya mendekati.
Sesuai dengan uraian di atas dan pembahasan pada
bab ini, keterampilan mengelola kelas itu dapat diartikan
keterampilan guru dalam menciptakan dan
mempertahankan situasi dan kondisi kelas yang kondusif
bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Dari
pengertian ini dapat dikatakan pengelolaan kelas yang baik
merupakan pra-syarat mutlak bagi terjadinya prose
pembelajaran yang efektif.
Sebagai pra-syarat sebagaimana dimaksudkan di atas,
pengelolaan kelas menunjuk pada pengaturan terhadap
peserta didik maupun pengaturan fasilitas. Pengaturan

67
peserta didik meliputi kegiatan mengatur orang dalam hal
ini peserta didik dan tingkah lakunya, sedangkan fasilitas
mencakup kegiatan mengatur ruangan tahu benda-benda
untuk menciptakan berbagai kemudahan dalam belajar.

6.1. Permasalahan Dalam Pengelolaan Kelas


Tindakan pengelolaan kelas yang dilakukan oleh
seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengenali
dengan tepat permasalahan yang sedang dihadapi
sehingga dalam mengambil tindakan koreksi pengelolaan
dapat dipilih strategi yang tepat pula. Masalah pengajaran
harus diatasi dengan tindakan korektif instruksional
sedangkan masalah pengelolaan kelas diatasi dengan
tindakan korektif pengelolaan.
Sesuai dengan pokok bahasan dalam uraian ini,
identifikasi masalah sangat penting dalam usaha guru
untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi optimal
untuk terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
Misalnya, jika ada seorang peserta didik yang kurang
terlibat aktif dalam kegiatan kelompok dan mengganggu
teman-temannya, maka kondisi ini akan menghalangi
kegiatan kelompok dan peserta didik tersebut dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
melalui kegiatan kelompok tersebut. Dalam menyelesaikan
masalah tersebut, guru sebaiknya mengidentifikasi hakikat
masalah yang dihadapi peserta didik dan mengumpulkan
berbagai alternatif pemecahan masalah yang relevan

68
dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Selanjutnya
guru mengambil kesimpulan bahwa peserta didik tidak mau
berperan aktif dan menunjukkan sikap mengganggu
tersebut karena merasa ditolak oleh kelompok. Tindakan
selanjutnya, dari berbagai alternatif yang dikumpulkan,
guru mengambil satu alternatif pemecahan yang tepat atau
mendekati ketepatan yaitu menciptakan hubungan
interpersonal yang baik antar peserta didik dan antara guru
dengan peserta didik. Tindakan guru ini akan membawa
keberhasilan dalam pengelolaan kelas, tetapi harus diakui
pengelolaan kelas tidak dengan sendirinya menjamin
bahwa proses pembelajaran akan menjadi efektif. Namu
demikian, sebagaimana telah dikemukakan pada uraian
sebelumnya, pengelolaan kelas yang efektif merupakan
pra-syarat mutlak bagi terjadinya proses pembelajaran
yang efektif.
Permasalahan dalam pengelolaan kelas dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu masalah individual dan
masalah kelompok. Perbedaan di antara kedua kelompok
ini sebenarnya hanya merupakan perbedaan tekanan saja,
apakah masalah itu ditekankan pada individu ataukah pada
kelompok.

1. Masalah pengelolaan kelas individual.


Pada dasarnya tingkah laku individu itu merupakan
upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan
untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai

69
harga diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan dimaksud tadi
tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang wajar dan
dapat diterima masyarakat, maka individu yang
bersangkutan akan berusaha mencapai dengan cara-cara
lain yang tidak wajar atau dengan kata lain individu
tersebut akan berbuat tidak baik, yang secara ekstrem ia
akan berbuat asosial.
Berdasarkan pada asumsi di atas, Rodulf Dreikurs dan
Pearl Cassel, berpendapat bahwa masalah pengelolaan
kelas individual muncul dari perbuatan-perbuatan asosial,
yang selanjutnya dibagi dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
a. Attention-behaviors: tindakan peserta didik yang
menunjukkan perilaku (aktif) membadut di kelas, atau
tindakan pasif seperti berbuat serba lamban sehingga
perlu mendapatkan pertolongan (remidial).

b. Power-seeking behaviors: tindakan aktif peserta didik,


misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali
emosional seperti marah-marah, menangis, atau
tindakan pasifnya: peserta didik selalu lupa pada aturan-
aturan penting di kelas (melanggar disiplin).

c. Revenge-seeking behaviors: tindakan peserta didik yang


menyakiti orang lain seperti mengata-ngatai, memukul,
menggigit dan lain sebagainya, pada kelompok ini
nampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif saja.

70
d. Peragaan ketidak mampuan: tindakan peserta didik
dalam bentuk sama sekali menolak untuk melakukan
apapun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang
menjadi bagiannya.

Selanjutnya Dreikurs dan Cassel mengemukakan


beberapa dugaan penyebab munculnya masalah di atas,
yaitu sebagai berikut:

a. Apabila seorang guru merasa terganggu oleh


perbuatan peserta didik, maka kemungkinan peserta
didik yang bersangkutan ada pada tahap attention-
getting.

b. Apabila seorang guru merasa dikalahkan atau


terancam maka kemungkinan peserta didik yang
bersangkutan ada pada tahap power-seeking.

c. Apabila seorang guru merasa tersinggung atau sakit


hati, maka kemungkinan pelakunya yaitu peserta didik
yang bersangkutan ada pada tahap revenge-seeking.

d. Dan pada akhirnya bila seorang guru merasa benar-


benar tidak mampu berbuat apa-apa, maka
kemungkinan yang dihadapi peragaan ketidak
mampuan peserta didik yang bersangkutan.

6.2 Masalah kelompok dalam pengelolaan kelas

71
Setelah kita ketahui masalah-masalah individual dalam
pengelolaan kelas berikut ini disampaikan masalah
kelompok dalam pengelolaan kelas dengan harapan setiap
guru dapat memahami bahwa setiap macam masalah
memerlukan penanganan yang berbeda. Sasaran
penanganan masalah individual, penanganannya
ditunjukan terhadap individu pelaku pelanggaran dan
sebaliknya di dalam masalah kelompok maka tindakan
korektif harus ditunjukan kepada kelompok. Untuk
menghindari diagnosa yang keliru yang berakibat tindakan
korektif yang keliru, berikut ini disampaikan beberapa
masalah kelompok dalam pengelolaan kelas.

Sebenarnya banyak permasalahan kelompok yang


muncul dan dihadapi guru, namun untuk memudahkan
dalam mempelajarinya akan disampaikan masalah
kelompok yang biasanya banyak berperan dalam masalah
pengelolaan kelas.

Menurut Lois V Johnson dan Mary A Bany ada 7 (tujuh)


kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu
sebagai berikut:

1. Kelas kurang kohosif karena alasan jenis kelamin,


ethnis, tingkatan sosial ekonomis, dan lain sebagainya.

2. Pelanggaran terhadap norma-norma tingkah laku yang


telah disepakati sebelumnya, misalnya ketika sedang
praktikum di laboratorium kimia, sengaja mencampur

72
zat-zat kimia yang dapat menimbulkan reaksi ledakan
kecil.

3. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang


anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas yang
dalam pengajaran seni suara menyanyi dengan suara
sumbang.

4. “Memberi semangat” anggota kelas yang justru


melakukan pelanggaran norma kelompok, misalnya
pemberian semangat kepada badut kelas.

5. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya


dari tugas yang tengah digarap, misalnya terdengar
suara teriakan ada kebakaran.

6. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes


kepada giuru karena menganggap tugas yang
diberikan kurang terbuka (kurang fair).

7. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan


keadaan baru, seperti misalnya gangguan jadwal, guru
kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain,
pergantian jam pelajaran setelah selesai pelajaran
olahraga, dan lain sebagainya.

6.3 Beberapa Konsep Pendekatan Pengelolaan Kelas.

73
Di dalam menangani kasus pengelolaan kelas agar
diperoleh hasil sesuai yang diharapkan, seorang guru
harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan
pengelolaan kelas. Sebab di dalam penggunaannya di
lapangan, guru harus terlebih dahulu meyakinkan dirinya
bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani
masalah dalam pengelolaan kelas merupakan alternatif
yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya.

Apabila alternatif tindakannya yang pertama misalnya


tidak memberi hasil sebagaimana yang diharapkannya,
maka seorang guru masih mampu melakukan analisa
ulang terhadap kasus dimaksud untuk kemudian sampai
pada alternatif pendekatan yang kedua dan seandainya
masih juga belum menampakkan hasilnya, ia pun masih
dapat mengambil alternatif pendekatan yang ketiga dan
seterusnya. Untuk mencapai maksud itulah berikut ini akan
dikemukakan beberapa pendekatan pengelolaan kelas.

1. Pendekatan behavior-modification (pendekatan


pengubahan tingkah laku)
Pendekatan ini bertitik tolak dari pandangan psikologi
behavioral yang mengemukakan adanya asumsi bahwa
semua tingkah laku, yang “baik” maupun tingkah laku yang
“kurang baik” itu merupakan hasil proses belajar, dan
terjadinya proses belajar yang dapat menghasilkan tingkah
laku baik dan kurang baik tadi dapat dijelaskan dengan
adanya sejumlah kecil proses psikologi fundamental.

74
Adapun yang dimaksud dengan proses psikologi tersebut
adalah penguatan positif (positive reinforcement), hukuman
(punishment), penghapusan (extination), dan penguatan
negatif (negative reinforcement).
Dengan pendekatan ini dimaksudkan, untuk membina
tingkah laku yang dikehendaki, guru harus memberi
penguatan positif yaitu memberi stimulus positif sebagai
ganjaran, atau guru memberi penguatan negatif yaitu
memberi stimulus negatif, menghilangkan hukuman.
Sedangkan untuk mengurangi tingkah laku yang tidak
dikehendaki, guru menggunakan hukuman, penghapusan
(pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya
diharapkan peserta didik).
Penguatan di sini dipandang sebagai kejadian yang
meningkatkan kemungkinan diulanginya penampilan
perbuatan atau tingkah laku tertentu, dengan demikian
tingkah laku diperkuat. Tingkah laku yang diperkuat itu bisa
berupa tingkah laku yang disukai ataupun yang tidak
disukai. Dengan kata lain jika tingkah laku tertentu diberi
ganjaran, maka tingkah laku itu cenderung diteruskan.
Perlu diingat dan diperhatikan serta dipertimbangkan
dengan bijaksana penggunaan pendekatan pengubahan
tingkah laku ini, sebab proses pemberian penguatan itu
bersifat ideo-sinkratik artinya suatu penguat yang diberikan
guru kepada peserta didik sangat bergantung pada si
pemberi dan si penerima secara unik. Apa yang oleh
seorang peserta didik dianggap sebagai penguat, bagi

75
peserta didik lainnya belum tentu berlaku sama dalam
mensikapi penguat tersebut.
Sering kita jumpai di kelas, guru menggunakan
hukuman sebagai sarana pengelolaan kelas. Sebagian
guru beranggapan bahwa hukuman merupakan sarana
atau alat yang efektif dalam pengelolaan kelas, karena
dapat digunakan untuk dengan segera menghentikan
tingkah laku peserta didik yang tidak dikehendaki guru
dalam proses belajar-mengajar. Faktanya secara sepintas
lalu memang demikian, akan tetapi akibat sampingnya
dapat menimbulkan masalah lain yang lebih serius. Akibat
sampingan yang ditimbulkan itu dapat berakibat hubungan
pribadi dapat terganggu antara guru sebagai pemberi
hukuman dan peserta didik yang dihukum. Peserta didik
yang menerima hukuman dan peserta didik yang lainnya
mungkin mengeneralisasikan tingkah laku yang dihukum,
misalnya peserta didik kapok mengemukakan pendapat,
atau peserta didik yang dihukum justru menjadi “pahlawan”
dalam pandangan kawan-kawannya. Oleh sebab itulah
mengapa hukuman sebagai sarana pengelolaan kelas
merupakan hal yang kontraversial.
2. Pendekatan sosio-emotional climate
Pendekatan socio-emotional climate ini berlandaskan
pada psikologi klinis dan konseling, dengan asumsi bahwa
proses pembelajaran yang efektif memsyaratkan iklim
sosio-emosional yang baik dalam pengertian terdapat
hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan

76
peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik.
Dalam menciptakan iklim sosio-emosional yang baik, guru
mempunyai peranan sangat penting dan menentukan.
Guru yang ingin menerapkan pendekatan interpersonal
perlu menyadari kenyataan bahwa kebutuhan untuk
diterima dan harga diri merupakan dua kebutuhan dasar
yang hendaknya dapat dirasakan oleh peserta didik jika
peserta didik itu hendak mengembangkan perasaan diri
sukses. Perlu diperhatikan pula bahwa peserta didik
bertindak atas dasar persepsinya tentang diri sendiri dan
memandang dirinya sebagai individu yang berharga (harga
diri). Oleh karena itu, guru haruslah memperlakukan
peserta didik dengan penuh penghargaan.
Pendekatan ini merupakan iklim sosio-emosional yang
sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa berakar dari
pandangan yang mengutamakan hubungan guru-peserta
didik dengan penuh rasa empati dan saling menerima.
Menurut pendekatan ini bahwa iklim atau suasana kelas
akan berpengaruh terhadap kegiatan pembelajaran,
sehingga guru dapat memberikan pengaruh yang sangat
besar terhadap iklim tersebut. Dengan demikian,
pendekatan ini menekankan pentingnya tingkah laku atau
tindakan guru yang menyebabkan peserta didik
memandang guru itu betul-betul terlibat dalam pembinaan
peserta didik dan benar-benar memperhatikan suka-duka
peserta didik.

77
Pandangan tersebut dapat dilihat dari pendapat
beberapa ahli yang menganjurkan pendekatan sosio-
emosional climate, antara lain:
a. Carl A. Rogers
Menekankan pentingnya guru untuk bersikap tulus di
hadapan peserta didik (realness, genuineness, and
congruence), menerima dan menghargai peserta didik
sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, and trust)
dan mengerti peserta didik dari sudut pandangan
peserta didik sendiri (empatic understanding).
b. Hain C. Ginott
Memberi tekanan kepada pentingnya kemampuan guru
untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan
peserta didik, sehingga upaya dalam pemecahan
masalah berhasil dengan baik. Saat guru membicarakan
situasi mengapa bisa terjadi masalah tidak berarti
membicarakan kepribadian pelaku yang telah
menyebabkan masalah itu. Terutama pada saat guru
mendeskripsikan apa yang dilihat maupun dirasakan,
dan saat mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan
sebagai alternatif penyelesaian masalah. Dengan kata
lain guru tidak bersikap menghukum.
c. William glasser
Memusatkan perhatian pada pentingnya guru dalam
membina rasa tanggung jawab sosial dan harga diri
peserta didik dengan cara mengarahkan peserta didik
untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi,

78
membantu peserta didik untuk menganalisis ataupun
menilai masalah, membantu peserta didik menyusun
rencana pemecahannya, membantu peserta didik untuk
membuat rencana penyelesaian masalah baru yang
lebih baik, dan memberikan tanggung jawab seutuhnya
jika perbuatannya kurang menyenangkan saat dibantu
oleh guru.
d. Rudolf Draikurs
Menekankan pentingnya democratic classroom
processes, di mana peserta didik diajar untuk
bertanggung jawab melalui kesempatan dalam memikul
tanggung jawabnya, diperlakukan sebagai manusia
sehingga dapat mengambil keputusan secara bijak, dan
diberi kesempatan untuk menanggung konsekuensi atas
perbuatannya sendiri.
3. Pendekatan proses kelompok (pendekatan group
process)
Penggunaan pendekatan proses kelompok dalam
pengelolaan kelas didasarkan atas prinsip psikologi sosial
dan dinamika sosial. Berdasarkan asumsi tersebut bahwa
kegiatan peserta didik di sekolah berlangsung dalam suatu
kelompok tertentu sehingga kelas merupakan suatu sistem
sosial yang mempunyai ciri-ciri sebagaimana yang telah
dimiliki oleh sistem sosial lainnya.
Oleh karena itu, penggunaan pendekatan proses
kelompok ini menekankan pentingnya ciri-ciri di dalam
kelompok kelas yang saling berhubungan dan saling

79
berinteraksi. Dilihat dari ciri-ciri tersebut, maka peranan
utama guru adalah mempertahankan keeratan hubungan
antar peserta didik, meningkatkan semangat produktivitas,
dan mengembangkan orientasi pada tujuan dari kelompok
kelas tersebut.
Dengan demikian dalam pendekatan proses kelompok
ini ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh setiap guru,
yaitu:
a. Mengembangkan hubungan erat antar anggota
kelompok kelas, maka perlu ditekankan bahwa guru
harus meningkatkan daya tarik peserta didik dalam
mengembangkan komunikasi yang tepat di dalam
proses pembelajaran sehingga dapat menumbuhkan
sikap saling mengahargai satu sama lain.
b. Membantu peserta didik untuk mengembangkan aturan
pengelolaan kelas, maka perlu didasarkan pada
pertimbangan bahwa tingkah laku atau norma-norma
kelompok harus yang produktif dan menyenangkan.
Misalnya, mengembangkan aturan bekerja yang dapat
diterima oleh semua anggota kelompok kelas. Sekali
kelompok yang terbentuk kompak dan produktif, maka
tugas guru selanjutnya adalah mempertahankan
kesatuan (kekompakan) dan norma-norma kelompok
tersebut.
Dalam menggunakan pendekatan berdasarkan
pertimbangan tingkah laku menyimpang dalam
menghadapi masalah pengelolaan kelas, pada dasarnya

80
bukan menyangkut masalah individu, namun
merupakan masalah sosial yang menyangkut kehidupan
kelompok dengan adanya keberadaan individu tersebut
sebagai anggota kelompok kelas. Oleh sebab itu, tugas
utama guru dalam menangani tingkah laku yang
menyimpang tadi adalah membantu kelompok untuk
bertanggung jawab atas perbuatan anggota-anggotanya,
sehingga secara efektif akan dapat melakukan kontrol
yang mantap terhadap anggota-anggotanya.
4. Pendekatan ekletik
Apabila disimak secara seksama, ketiga pendekatan
yang telah dikemukakan di atas mempunyai objek yang
sama hanya saja mempunyai sudut pandang yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, seyogyanya seorang guru
perlu menggunakan pendekatan ekletik. Hal ini bermaksud
untuk menganjurkan seorang guru agar dapat:
a. Menguasai pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas
(Behavior Modification, Sosio-emosional, and Group
Process) secara potensial.
b. Memudahkan dalam memilih pendekatan yang dianggap
paling tepat sehingga saat pelaksanaan prosedur dapat
sesuai dengan baik.
c. Membantu dalam menentukan strategi dan melatih
kemampuan analisis guru saat melakukan pengelolaan
kelas.
Pendekatan behavior modification dapat dipilih jika
tindakan dalam mengelola kelas bertujuan untuk

81
menguatkan tingkah laku peserta didik yang baik dan
menghilangkan tingkah laku peserta didik yang kurang
baik. Pendekatan sosio-emosional dapat dipilih jika
tindakan dalam mengelola kelas bertujuan untuk
meningkatkan hubungan interpersonal guru dengan
peserta didik maupun antar peserta didik. Pendekatan
group process dipilih jika tindakan dalam mengelola kelas
bertujuan untuk melakukan kegiatan produktif pada setiap
anggota kelompok. Setelah mengenali permasalahan yang
dihadapi guru dalam pengelolaan kelas, guru pun harus
bisa memahami dan menguasai pendekatan-pendekatan
yang tepat.
BAB 7
KETERAMPILAN MEMIMPIN DISKUSI KELOMPOK
KECIL

Gotong-royong, kebersamaan, musyawarah, dan


mufakat dalam mengambil keputusan merupakan ciri khas
kehidupan bangsa Indonesia yang diturunkan oleh para
leluhur kita. Namun demikian ironis nampaknya, yaitu
disatu pihak kita menjunjung tinggi sifat kebersamaan,
musyawarah, dan mufakat sebagai perwujudan kemauan
dan kemampuan bekerjasama. Akan tetapi, di pihak lain
strategi pembelajaran di sekolah masih kurang
mengembangkan peserta didik sebagai generasi muda
bagi dalam pembentukan kepekaan dan kompetensi
kemasyarakatan seperti maksud di atas.

82
Berkaitan dengan hal di atas, diskusi kelompok
sebagai kegiatan pembelajaran di kelas dapat
menyediakan peluang yang strategis bagi pencapaian
tujuan-tujuan pembelajaran seperti penjabaran di alinea
sebelumnya (tujuan khusus). Selain itu, melalui kegiatan
diskusi kelompok dalam proses pembelajaran, akan
diperoleh pula pencapaian tujuan yang tidak kalah
pentingnya, terutama yang berwujud efek penggiring
(nurturent effects) yang diperoleh dari pemberian
pengalaman belajar (experience learning) yaitu
pembentukan kompetensi sosial seperti kemauan dan
kemampuan bekerjasama.
Pemikiran di atas bukanlah tidak beralasan, jika kita
mencermati syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam
diskusi kelompok, karena tidak semua kegiatan kelompok
itu dapat disebut diskusi. Kegiatan kelompok hanya dapat
dinamakan diskusi jika memenuhi syarat-syarat antara lain
sebagai berikut:
a. Melibatkan kelompok yang besarnya kurang lebih 3
sampai 9 orang.

b. Interaksi di antara anggota kelompok berlangsung


dengan tatap muka secara informal dalam arti semua
anggota kelompok harus memperoleh kesempatan
melihat, mendengar, dan berkomunikasi secara bebas
dan langsung.

83
c. Harus ada tujuan yang hendak dicapai dengan
kerjasama antar anggota kelompok.

d. Berlangsung menurut proses yang teratur dan


sistematis, menuju kesimpulan atau adanya
pengambilan keputusan yang dapat disepakati oleh
semua anggota kelompok.

e. Memiliki seperangkat norma yang menetapkan apa


yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh
anggota kelompok.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam diskusi
kelompok saat proses pembelajaran tidak jauh berbeda
dengan syarat-syarat di atas. Peserta didik berdiskusi di
dalam kelompok-kelompok kecil di bawah pimpinan guru
atau temannya, untuk berbagi informasi, memecahkan
masalah, atau mengambil suatu keputusan.
Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana
terbuka, yang berarti setiap anggota kelompok dalam hal
ini setiap peserta didik bebas untuk mengemukakan ide-ide
atau pendapatnya tanpa adanya tekanan dari teman-
temannya. Tentu saja setiap peserta didik harus mentaati
aturan diskusi yang telah disepakati sebelumnya.
Sehingga dapat dipahami jika syarat-syarat diskusi
kelompok diterapkan dalam proses pembelajaran, maka
diskusi kelompok merupakan salah satu strategi yang
memungkinkan peserta didik menguasai suatu konsep
melalui proses berpikir (mengembangkan daya berpikir),

84
berinteraksi sosial, dan berlatih bersikap positif. Dengan
demikian peserta didik dapat meningkatkan kreativitas dan
membina kemampuan berkomunikasi serta termasuk di
dalamnya keterampilan berbahasa.
Pada akhirnya harapan-harapan yang dikemukakan
di atas kembali terpulang kepada guru, karena dalam
kegiatan diskusi kelompok membawa konsekuensi besar
terhadap perubahan peran guru. Guru yang selama ini
pada umumnya menempatkan dirinya sebagai titik sentral
dalam proses pembelajaran, mempunyai dominasi tertinggi
di kelas, harus mengurangi dominasinya tersebut. Dalam
memimpin diskusi guru harus mampu menempatkan
perannya, yaitu: sebagai koordinator, perencana tugas
bersama, pengarah atau penggerak di dalam belajar,
sebagai katalisator, sebagai pemandu atau pendukung
aktivitas peserta didik, dan sebagai narasumber serta
sebagai penilai bersama kemajuan kelompok. Dengan
peran tersebut, peserta didik akan termotivasi dalam
belajarnya sehingga peserta didik memiliki kebebasan
untuk berpikir, berkreasi, berbuat, dan bereaksi sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Namun perlu disadari, bahwa tuntutan sekaligus
tantangan bagi guru yang cukup berat ini, harus disikapi
bahwa keterampilan berdiskusi tidaklah dibawa sejak lahir.
Demikian pula halnya dengan keterampilan membimbing
diskusi kelompok. Tidak setiap orang secara otomatis
mampu membimbing diskusi, demikian pula tidak setiap

85
guru atau calon guru dengan sendirinya mampu berperan
untuk membimbing para peserta didik untuk berdiskusi.
Oleh karena itu, keterampilan memimpin diskusi kelompok
kecil perlu dipelajari, dipahami, dan dikuasai serta perlu
adanya latihan-latihan sehingga dalam pelaksanaan di
lapangan dapat diimplementasikan dengan baik.
Untuk menguasai keterampilan memimpin diskusi
kelompok kecil, berikut ini akan dikemukakan faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi, dan komponen-komponen
keterampilan apa saja yang perlu diperhatikan dalam
memimpin diskusi kelompok dengan harapan nantinya
dapat membantu guru dalam mengimplementasikan
penggunaannya dalam kelas pada setiap bidang studi.

7.1. Faktor–Faktor yang Berpengaruh dalam Diskusi


Kelompok
Seperti telah dikemukakan pada uraian sebelumnya,
dalam kegiatan diskusi kelompok, guru merupakan
pimpinan diskusi, dengan catatan fungsi pimpinan
kelompok yang diperankan oleh guru, dapat menjadi
contoh yang diharapkan dapat menjadi model bagi peserta
didik, sehingga pada saatnya nanti di antara peserta didik
dapat mengambil alih tugas guru untuk memimpin teman-
temannya dalam berdiskusi.
Agar dapat menjadi pemimpin kelompok yang baik,
ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh guru,
antara lain:

86
1. Keterbukaan
Diskusi hendaknya berlangsung dalam iklim terbuka,
yaitu dalam suasana persahabatan dengan ciri-ciri
interaksi antar anggota akrab dan penuh kehangatan,
kesediaan menerima, mengenal topik diskusi lebih
jauh, keantusiasan dalam berpartisipasi, memahami,
dan menghargai pendapat orang lain sehingga
kelompok menganggap diskusi sebagai suatu kegiatan
yang menyenangkan.

2. Perencanaan dan persiapan yang matang

Diskusi akan berjalan secara efektif jika sebelumnya


dibuat perencanaan dan persiapan yang matang, yaitu
mencakup:

a. Pemilihan topik atau masalah yang akan


didiskusikan dapat dilakukan guru, peserta didik,
ataupun dapat dilakukan peserta didik dengan guru.
Topik yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan
tujuan yang ingin dicapai, minat, dan kemampuan
peserta didik serta topik yang dimaksud haruslah
bermakna bagi peningkatan kemampuan berpikir
peserta didik.

b. Setelah topik dipilih, selanjutnya berdasarkan topik


tersebut dibuat perencanaan dan penyiapan
informasi pendahuluan. Kegiatan dimaksud

87
misalnya membaca artikel, mengadakan
wawancara, melakukan observasi, menyaksikan
film dan lain-lainnya. Hal ini dilakukan agar peserta
didik memiliki latar belakang yang sama.

c. Mempersiapkan diri sebagai pemimpin diskusi yang


akan memimpin jalannya diskusi. Dalam hal ini guru
harus siap untuk berperan sebagai narasumber,
motivator, mampu memberikan penjelasan, mampu
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat
memotivasi peserta didik, memahami kesulitan
peserta didik, dan lain sebagainya.

d. Pengaturan ruangan, dalam hal ini merupakan


pengaturan tempat duduk. Diusahakan tempat
duduk harus diatur sedemikian rupa sehingga
memberi kesempatan bagi semua peserta didik
untuk bertatap muka, guru sebagai pemimpin
diskusi harus berada dalam posisi yang
memungkinkan dia dapat berhadapan muka dengan
semua peserta didik sehingga setiap anggota dan
guru benar-benar menjadi bagian dari kelompok
tersebut.

3. Keuntungan diskusi kelompok harus dapat


dimanfaatkan secara maksimal antara lain:

88
a. Kelompok yang mempunyai sumber informasi atau
ide-ide pemikiran yang lebih kaya, jika diandingkan
dengan informasi atau sumbangan pikiran yang
dimiliki oleh individu, oleh karena itu dapat
menghasilkan keputusan yang lebih baik.
b. Anggota kelompok dalam hal kehadiran sering
dimotivasi oleh kehadiran anggota kelompok lainnya.
c. Anggota kelaompok yang pemalu lebih bebas
mengemukakan pendapatnya dalam kelompok kecil
dari pada dalam kelompok besar.
d. Anggota kelompok lebih merasa terikat dalam
melaksanakan keputusan kelompok, karena mereka
terlibat langsung didalam pengambilan keputusan.
e. Diskusi kelompok dapat meningkatkan pemahaman
tentang dirinya sendiri, maupun pemahaman
terhadap orang lain. Dengan demikian dapat
meningkatkan kemauan dan kemampuan individu
untuk berinteraksi.

4. Kelemahan Diskusi kelompok


Diskusi kelompok mempunyai kelemahan-kelemahan
yang dapat menimbulkan kegagalan, sehingga tujuan
yang hendak dicapai dalam diskusi tidak tercapai. Untuk
itu guru perlu mengetahui kelemahan-kelemahannya
sehingga dapat menghindarinya. Kelemahan-kelemahan
tersebut antara lain:

89
a. Perjalanan panjang dari cara belajar biasa ke cara
belajar diskusi kelompok, dan diskusi kelompok itu
memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara
belajar yang biasa.
b. Dapat memboroskan waktu, terutama jika terjadi hal-
hal negatif seperti: pengarahan yang kurang tepat,
pembicaraan yang berlarut-larut, penyimpangan
yang tidak ditegur, penampilan yang kurang baik,
dan lain sebagainya.
c. Anggota-anggota yang pendiam, pemalu dan tidak
berani bicara, menjadi kurang agresif, sering tidak
mendapat kesempatan untuk mengemukakan ide-
idenya, sehingga menyebabkan terjadinya frustasi
dan penarikan diri.
d. Ada kalanya diskusi hanya didominasi oleh orang-
orang tertentu saja.

Memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas, jelas


bahwa banyak faktor berpengaruh dalam menentukan
keberhasilan diskusi, faktor-faktor dimaksud merupakan
satu rangkaian yang saling menentukan, dalam pengertian
setiap faktor akan lebih berpengaruh bila didukung oleh
faktor-faktor lainnya.

7.2. Komponen-Komponen Keterampilan Memimpin


Diskusi Kelompok.

90
Peran guru dalam kegiatan diskusi kelompok telah
disebutkan antara lain sebagai pemimpin diskusi. Setelah
menyelesaikan perencanaan dan persiapan dengan
matang, maka guru sebagai pemimpin diskusi akan
memulai diskusi. Agar diskusi dapat berjalan dengan baik
dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, iklim
yang terbuka haruslah tetap dipelihara dan dipertahankan
selama diskusi berjalan.
Dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin
diskusi, ada 6 komponen keterampilan yang harus dimiliki
guru, yaitu:
a. Memusatkan perhatian
b. Memperjelas masalah yang akan dibahas peserta
didik
c. Menganalisis pandangan peserta didik
d. Meningkatkan peran serta peserta didik
e. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
f. Menutup diskusi
Komponen-komponen di atas dalam pelaksanaan
dilapangan tidaklah berdiri sendiri tetapi masing-masing
komponen akan terintegrasi secara otomatis muncul sesuai
dengan tuntutan kebutuhan. Namun untuk memudahkan
dalam mempelajari komponen-komponen dimaksud; disini
akan dikemukakan satu persatu.
1. Memusatkan Perhatian
Dalam proses diskusi, kemungkinan akan terjadi
penyimpangan atau hal-hal yang muncul dari faktor

91
kelemahan diskusi, yang menyebabkan diskusi tidak
terarah dan dapat menimbulkan kegagalan.
Penyimpangan dapat terjadi karena diskusi menyimpang
dari topik yang telah ditetapkan atau dapat pula terjadi
karena pembicaraan yang tidak fokus pada tujuan.
Solusi untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kondisi
yang demikian, adalah pemusatan perhatian yang dapat
dilakukan dengan cara:
a. Merumuskan tujuan pada awal diskusi, dan
mengenalkan topik atau masalah kepada peserta
didik dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang
dapat menggugah rasa ingin tahu. Pertanyaan yang
diajukan hendaknya tidak terlampau luas, jelas, dan
memungkinkan adanya alternatif jawaban.
b. Menyatakan masalah-masalah khusus, dan
menyatakan kembali jika terjadi
c. Menandai dengan cermat perubahan yang tidak
relevan yang membuat diskusi menyimpang dari
tujuannya atau penyimpangan diskusi dari masalah
khusus yang sedang dibicarakan. Apabila terjadi
penyimpangan tersebut, guru dengan segera
mengajukan pertanyaan yang didahului dengan
komentar yang memaksa dan mengarahkan peserta
didik untuk mempertimbangkan pertanyaan tersebut,
sehingga diskusi kembali ke arah semula. Perlu
dipertimbangkan, dalam menunjuk dan
menghentikan penyimpangan tersebut jangan

92
sampai membuat peserta didik merasa tersinggung
perasaannya.
d. Membuat rangkuman hasil pembicaraan pada tahap-
tahap tertentu, sebelum melanjutkan dengan
masalah berikutnya. Rangkuman ini sangat penting,
karena dengan adanya rangkuman hasil
pembicaraan di setiap tahap ini, kelompok
menyadari atas hasil yang telah dicapai, target yang
belum tercapai serta apa yang akan dibicarakan
pada tahap berikutnya. Rangkuman ini dibuat
dengan memanfaatkan gagasan peserta didik,
karena menerima gagasan peserta didik akan
memberikan pengaruh yang lebih efektif. Cara-cara
guru memanfaatkan gagasan peserta didik dapat
dilakukan antara lain sebagai berikut:
1) Mengakui gagasan peserta didik dengan jalan
mengulangi bagian penting yang diucapkannya.
2) Memodifikasi gagasan peserta didik tersebut
dengan cara menguraikannya kembali.
3) Menggunakan gagasan peserta didik untuk
mencapai kesimpulan atau menuju arah
berikutnya.
4) Membandingkan gagasan peserta didik dengan
gagasan yang telah diucapkan sebelumnya.
5) Merangkum hal-hal yang telah diuraikan peserta
didik baik secara perorangan ataupun kelompok.
e. Memperjelas Masalah atau Sumbangan Pendapat.

93
Selama proses diskusi berlangsung, tidak menutup
kemungkinan sering timbul kesalahpahaman atau
perbedaan persepsi diantara anggota kelompok
sehingga menimbulkan ketegangan. Kejadian
demikian ini sering terjadi karena penyampaian ide
yang kurang jelas, hingga sukar ditangkap oleh
anggota kelompok. Kondisi ini jelas harus diatasi
sedemikian rupa sehingga kesalahpahaman yang
menimbulkan ketegangan dalam kelompok dapat
dihindari. Hal ini, guru harus memperjelas ide
tersebut, guru ataupun peserta didik akan
mempunyai gambaran yang sama tentang ide yang
dikemukakan. Memperjelas ide yang disampaikan
dapat dilakukan dengan cara:
1) Menguraikan kembali atau merangkum
sumbangan pendapat peserta didik tersebut
hingga menjadi jelas.
2) Peserta didik diminta untuk memberikan
komentarnya dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang membantu para peserta didik
memperjelas ataupun mengembangkan ide
tersebut.
3) Menguraikan gagasan peserta didik dengan
memberikan informasi tambahan atau contoh-
contoh yang sesuai, sehingga kelompok
memperoleh pengertian yang jelas.

94
Penjelasan yang disampaikan guru terhadap
sumbangan ide peserta didik, akan memberikan
motivasi dan berperan penting dalam
mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.
f. Menganalisis Pandangan Peserta Didik.
Sebagai konsekuensi dari iklim terbuka dalam
kegiatan diskusi, setiap peserta dapat dengan bebas
untuk mengemukakan pendapatnya pada masalah
yang sedang dibahas. Sering terjadi adanya
perbedaan pendapat diantara anggota kelompok.
Perlu untuk dipahami bahwasanya perbedaan
tersebut sebenarnya merupakan khasanah ilmu.
Yang perlu diperhatikan guru adalah bagaimana
agar perbedaan diantara anggota kelompok ini dapat
membimbing kelompok untuk berpartisipasi secara
konstruktif dan kreatif.
Guru diharapkan mampu menganalisis alasan
perbedaan tersebut, misalnya dengan:
1) Meneliti apakah alasan tersebut mempunyai
dasar argumentasi yang kuat.
2) Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang
tidak disepakati.
Keterampilan ini terutama sangat berperan dalam
diskusi tentang atau bila diskusi bermaksud
mencapai kesimpulan atau konsensus.
g. Meningkatkan Sumbangan Peserta Didik

95
Di dalam diskusi kelompok seorang peserta didik
diajak befikir secara lebih kritis, karena di dalam
diskusi, pikiran dan pendapat/gagasan yang
dikemukakan anggota kelompok, diuji
kebenarannya. Kondisi yang demikian ini dapat
dicapai jika guru sebagai pemimpin diskusi mampu
meningkatkan sumbangan atau urunan pikiran yang
diberikan peserta didik. Berikut ini dikemukakan
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan sumbangan atau urunan pikiran
peserta didik, antara lain:
1) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci yang
menantang peserta didik untuk berpikir dan
karena pertanyaan tersebut memancing dan
menantang munculnya ide sehingga dapat
meningkatkan sumbangan pikiran peserta didik.
2) Memberikan contoh-contoh baik verbal maupun
nonverbal yang sesuai pada waktu dan saat
yang tepat. Misalnya, satu cerita, gambar,
diagram, dan lain sebagainya.
3) Menghangatkan suasana, misalnya dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
mengundang perbedaan pendapat.
4) Memberi waktu pada para peserta didik dalam
kelompok yang cukup untuk berpikir, tanpa
diganggu dengan komentar-komentar guru.

96
5) Memberikan dukungan terhadap sumbangan
pikiran peserta didik dengan jalan
mendengarkan dengan penuh perhatian,
memberikan komentar yang positif atau mimik
yang memberikan dorongan, serta sikap yang
bersahabat. Secara psikologis peserta didik
yang merasa mendapat dukungan dari guru,
akan terdorong untuk meningkatkan sumbangan
pikirannya.

h. Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi


Agar hasil dari diskusi kelompok dapat dikatakan
hasil kelompok, guru harus dapat menyebarkan
kesempatan berpartisipasi sedemikian rupa
sehingga setiap anggota kelompok dalam hal ini
peserta didik, merasa terlibat langsung, dapat
memberikan pastisipasinya secara aktif, dan
mendapat kepuasan dalam kegiatan diskusi
tersebut. Dalam diskusi, tidak tertutup kemungkinan
adanya pembicaraan yang hanya dimonopoli oleh
seseorang, atau oleh beberapa orang saja, bahkan
sering terjadi pembicaraan dimonopoli oleh guru
sebagai pemimpin diskusi. Kondisi seperti itu
mengakibatkan tidak semua peserta didik
memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi, yang
akan merusak iklim kelompok dan dapat
menimbulkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan

97
seperti sikap acuh tak acuh, menarik diri dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, guru harus mempunyai
keterampilan untuk memberikan kesempatan yang
sama bagi para peserta didik dalam berpartisipasi,
serta mencegah dominasi anggota tertentu yang
merusak iklim kelompok.
Adapun bagaimana cara penyebaran
kesempatan berpartisipasi berikut ini dikemukakan
beberapa cara antara lain:
1) Membuat pertanyaan pengarah yang dapat
memancing sumbangan/urunan pikiran peserta
didik yang enggan berpartisipasi. Misalnya: Saya
yakin si Fulan dapat memberikan contoh pada
masalah ini! Coba Fulan!
2) Antusiasme yang tinggi, sikap agresif, keinginan
menonjol dan lain sebagainya menimbulkan
terjadinya pembicaraan serentak, guru harus
peka dan mencegah terjadinya pembicaraan
yang serentak tersebut. Yakni guru memberikan
giliran pertama/terlebih dahulu pada peserta
didik yang pendiam, dengan demikian
pembicaraan dapat didengar oleh semua
anggota diskusi kelompok.
3) Mencegah secara cepat dan bijaksana peserta
didik yang suka memonopoli pembicaraan.
4) Memotivasi peserta didik untuk memberi
komentarnya pada urunan/sumbangan pendapat

98
temannya, sehingga interaksi antar peserta didik
dapat ditingkatkan.
5) Apabila diskusi mengalami jalan buntu, ini terjadi
apabila timbul ketidakcocokan antar anggota
kelompok, hingga terdapat dua pendapat yang
kuat. Dalam hal ini guru meminta persetujuan
peserta didik untuk melanjutkan diskusi dengan
mengambil salah satu pendapat atau mengambil
jalan tengah yang dianggap sesuai oleh guru.
i. Menutup Diskusi
Kegiatan diskusi hendaknya tidak langsung diakhiri
begitu saja, tetapi guru harus menutup diskusi
tersebut dengan melakukan hal-hal antara lain
sebagai berikut:
1) Membuat rangkuman hasil diskusi dengan
bekerja sama atau melibatkan peran aktif
peserta didik. Rangkuman yang dibuat bersama-
sama peserta didik akan lebih efektif dan dapat
diterima para anggota kelompok dari pada
rangkuman yang dibuat sendiri oleh guru.
2) Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil
diskusi, ataupun tentang topik diskusi yang
akan datang.
3) Mengajak para peserta didik menilai proses
maupun hasil diskusi yang telah dicapai. Hasil
penilaian ini memungkinkan peserta didik
menyadari, dapat menilai perannya dan

99
penampilannya dalam diskusi, serta sekaligus
merupakan umpan balik yang dapat
dimanfaatkan dalam diskusi berikutnya.

Berdasarkan pada enam komponen keterampilan


memimpin diskusi kelompok kecil seperti yang
dikemukakan di atas, agar guru dapat menguasainya
dengan baik komponen-komponen tersebut, berikut ini
disampaikan beberapa hal penting yang perlu dihindarkan
antara lain:
a. Hindari menyelenggarakan diskusi dengan topik yang
tidak sesuai dengan minat dan latar belakang
pengetahuan peserta didik.
b. Jangan mendomiasi diskusi antara lain dengan
pertanyaan yang terlampau banyak dan menyediakan
jawaban yang banyak pula.
c. Jangan membiarkan peserta didik tertentu memonopoli
diskusi.
d. Jangan membiarkan terjadinya penyimpangan-
penyimpangan dengan pembicaraan-pembicaraan
yang tidak relevan.
e. Tergesa-tergesa meminta respon peserta didik atau
mengisi waktu dengan berbicara terus, sehingga
peserta didik tidak sempat berpikir.
f. Jangan membiarkan peserta didik yang enggan
berpartisipasi.

100
g. Tidak memperjelas atau mendukung sumbang saran
dan pendapat peserta didik.
h. Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.

BAB 8
KETERAMPILAN MENGAJAR
KELOMPOK KECIL DAN PERORANGAN

Secara individual, terdapat perbedaan antara


peserta didik yang satu dengan dengan peserta didik
lainnya, baik dalam kebutuhan, kemampuan, kecerdasan,
dan daya tangkap. Seringkali dalam proses pembelajaran
yang berlangsung, baik kelas besar atau secara klasikal,

101
guru menganggap semua peserta didik dalam satu kelas
mempunyai kebutuhan, kemampuan, kecerdasan, serta
daya tangkap yang sama, karena itu diperlakukan dengan
cara yang sama. Atau dengan kata lain perbedaan individu
tersebut nyaris tidak mendapatkan perhatian sama sekali.

Pembelajaran kelompok kecil dan perorangan akan


memberi peluang besar perbedaan individu memperoleh
perhatian yang memadai, yang pada akhirnya mengarah
pada perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan setiap
peserta didik. Ini bukan berarti bahwa pembelajaran
dijuruskan ke arah pembelajaran individual, akan tetapi
disediakan alternatif yang memungkinkan terpenuhinya
kebutuhan individual dalam proses pembelajaran. Artinya
membuat proses pembelajaran di kelas yang bervarisasi,
yakni variasi menggunakan kelompok besar (secara
klasikal), kelompok kecil, dan pembelajaran perorangan.
Sehingga dapat dikatakan, dalam pembelajaran secara
klasikal, terjadi pula pembelajaran kelompok kecil dan
perorangan. Dengan demikian sepanjang waktu belajar,
guru menghadapi banyak kelompok dan banyak peserta
didik, yang masing-masing mempunyai kesempatan untuk
bertatap muka secara kelompok atau perorangan.
Sesuai dengan arti yang tersirat di dalam kata
kelompok kecil dan perorangan, maka yang dihadapi guru
dalam pembelajaran ini adalah terbatasnya jumlah peserta
didik yang dihadapi guru yaitu berkisar 3-8 peserta didik

102
untuk kelompok kecil dan hanya satu orang untuk
perorangan.
Hubungan tatap muka antara guru dengan kelompok
atau dengan perorangan sebagaimana dimaksud di atas,
diwarnai oleh:
a. Terciptanya hubungan interpersonal yang sehat, dan
akrab antara guru dengan peserta didik dan peserta
didik dengan peserta didik, yang ditandai dengan
interaksi pembelajaran tidak saja terjadi antara guru
dan peserta didik, tetapi juga antar peserta didik,
seperti nampak pada gambar B, dibawah ini

G = Guru
PD = Peserta Didik
b. Peserta didik belajar sesuai dengan kecepatan, cara-
cara, kemampuan, dan minatnya sendiri.
c. Peserta didik mendapat bantuan dari guru sesuai
dengan kebutuhannya.
d. Peserta didik dilibatkan dalam menentukan cara-cara
belajar yang akan ditempuh, materi dan alat yang akan
digunakan, dan bahkan tujuan yang hendak dicapai.

Untuk menghadapi situasi belajar dari klasikal,


kelompok kecil dan perorangan dalam implementasinya

103
di lapangan, penguasaan keterampilan mengajar
kelompok kecil dan perorangan perlu dimiliki oleh setiap
guru. Apabila kita cermati seksama, pembelajaran
kelompok kecil dan peorangan, masing-masing
memerlukan keterampilan yang berhubungan dengan
penangan peserta didik disatu pihak, yang berarti guru
harus membutuhkan pendekatan psikologis dalam
penerapannya. Sedangkan dilain pihak adalah
keterampilan yang berhubungan dengan penangan
tugas yang berkaitan dengan pencapaian tujuan
pembelajaran khusus.

8.1 Komponen-Komponen Keterampilan Mengajar


Kelompok Kecil dan Perorangan

Komponen-komponen keterampilan mengajar


kelompok kecil dan perorangan yang harus dimiliki seorang
guru terdiri dari empat komponen keterampilan, yaitu:
keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi,
mengorganisasikan, membimbing dan memudahkan
peserta didik, serta merencanakan dan melaksanakan
kegiatan pembelajaran. Berikut ini akan diuraikan secara
garis besar masing-masing komponen.

1. Keterampilan Mengadakan Pendekatan Secara


Pribadi

Mengadakan pendekatan secara pribadi


membutuhkan perhatian, kepekaan perasaan dan

104
kepedulian guru terhadap pribadi peserta didik, oleh
sebab itulah keterampilan ini sebagaimana telah
dikemukakan, merupakan keterampilan yang
membutuhkan pendekatan psikologis dalam
penerapannya. Dengan pendekatan psikologis akan
tercipta hubungan yang akrab dan sehat, iklim terbuka,
sehingga peserta didik benar-benar merasa bebas dan
leluasa mengemukakan pikirannya dan permasalahan
yang dimilikinya. Peserta didik merasa yakin guru akan
siap mendengarkan serta mempertimbangkan segala
pendapatnya. Suasana tersebut dapat tercipta antara
lain dengan cara:

a. Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap


kebutuhan peserta didik, baik dalam kelompok kecil
maupun perorangan.
b. Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang
dikemukakan peserta didik.
c. Memberikan respon positif terhadap buah pikiran
peserta didik.
d. Membangun hubungan saling percaya
mempercayai. Sikap ini dapat ditunjukkan oleh guru
secara verbal dan nonverbal, misalnya dengan
ekspresi wajah, atau kontak langsung dengan
peserta didik seperti: berbicara langsung, menepuk
bahu dan sebagainya.
e. Menunjukkan kesiapan untuk membantu peserta
didik tanpa kecenderungan untuk mendominasi
ataupun mengambil alih tugas peserta didik.

105
f. Menerima perasaan peserta didik dengan penuh
pengertian dan keterbukaan
g. Berusaha mengendalikan situasi hingga peserta
didik merasa aman, penuh pemahaman, merasa
dibantu serta merasa menemukan alternatif
pemecahan masalah yang dihadapinya.

2. Keterampilan Mengorganisasikan
Pada keterampilan ini guru mampu berperan
sebagai organisator, yang mengatur pembagian orang
dalam kelompok, tugas, kegiatan, pekerjaan, aturan-
aturan, hubungan antar anggota, menyediakan alat,
tempat, waktu, dan lain-lainnya serta memonitor
kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir. Agar
dapat melaksanakan peran tersebut, guru memerlukan
keterampilan untuk:
a. Memberikan orientasi umum tentang tujuan,
tugas, atau masalah yang akan dipecahkan,
sebelum kelompok/perorangan mengerjakan
berbagai kegiatan yang telah ditetapkan bersama.
b. Memvariasikan kegiatan, meliputi: penetapan
penyediaan ruangan kerja, peralatan, cara keja,
aturan-aturan yang perlu dilaksanakan, serta
alokasi waktu untuk kegiatan tersebut.
c. Membentuk kelompok yang tepat, dalam jumlah,
tingkat kemampuan dan lain-lain sehingga siap
mengerjakan tugasnya dengan sumber yang telah
tersedia.

106
d. Mengorganisasikan kegiatan sedemikian rupa
sehingga tidak timbul kesan tumpang tindih.
Caranya dengan melihat kemajuan serta
penggunaan materi dan sumber, hingga dapat
memberikan bantuan pada saat diperlukan.
e. Membagi-bagi perhatian pada berbagai tugas dan
kebutuhan peserta didik, hingga guru siap datang
membantu siapa saja yang memerlukan.
f. Mengakhiri kegiatan dengan suatu kulminasi yang
dapat berupa: laporan hasil yang dicapai peserta
didik, kemudian disertai penyimpulan tentang
kemajuan yang dicapai peserta didik dalam
kegiatan tersebut. Hal ini sekaligus memberikan
adanya kesempatan saling belajar.
Rangkaian kegiatan sebagaimana urutan di atas
penting bagi guru untuk dapat menerapkan cara belajar
yang efisien serta menyediakan lingkungan dan
sumber belajar yang efektif bagi peserta didik.

3. Keterampilan Membimbing dan Memudahkan


Belajar
Sasaran yang hendak dicapai dalam pengajaran
adalah, tercapainya tujuan pengajaran khusus secara
efektif, artinya hambatan-hambtan dan kesulitan-
kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam proses
belajar mengajar dapat ditanggulangi dan dicarikan
solusinya sehingga peserta didik dapat maju tanpa
mengalami frustasi. Hal tersebut dapat dicapai bila
guru memiliki keterampilan untuk:

107
a. Memberikan penguatan yang sesuai dalam
bentuk kuantitas maupun kualitas, sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya pemberian
penguatan yang tepat akan memberikan motivasi
atau dorongan yang kuat bagi peserta didik untuk
maju.
b. Mengembangkan supervisi proses awal, kegiatan
ini meliputi sikap tanggap guru terhadap aktivitas
peserta didik baik secara perseorangan maupun
keseluruhan, sehingga guru dapat mengetahui atau
melihat apakah segala sesuatu berjalan lancar dan
memadai. Dalam hal ini supervisi awal
memfokuskan perhatian pada kelancaran
berlangsungnya segala sesuatu yang perlu
dilaksanakan pada awal kegiatan. Kegiatan ini
menuntut guru untuk berkeliling kesemua kelompok
atau perorangan untuk melihat apakah peserta
didik sudah mulai bekerja dengan arah yang benar,
membimbing peserta didik agar dapat bekerja
sesuai arah yang benar, memberi bantuan bila
diperlukan dan sebagainya. Bimbingan pertama ini
merupakan jaminan bagi tumbuhnya semangat dan
rasa percaya diri peserta didik untuk melakukan
kegiatan.
c. Mengadakan supervisi proses lanjut, jika supervisi
proses awal menekankan kelancaran
berlangsungnya segala sesuatu yang perlu

108
dilaksanakan pada awal kegiatan, supervisi proses
tindak lanjut menekankan dan pemberian bantuan
secara selektif setelah kegiatan berlangsung
beberapa lama. Kegiatan ini menuntut keterampilan
guru untuk mengadakan interaksi guru-peserta
didik. Interaksi dimaksud dapat berupa:
1) Memberikan pelajaran atau bbimbingan
tambahan (tutoring) kepada peserta didik
tertentu, baik secara perorangan maupun
berkelompok. Bimbingan tambahan yang
diberikan tersebut dapat berupa konsep atau
keterampilan khusus sesuai dengan tuntuan
kebutuhan.
2) Melibatkan diri sebagai peserta dengan hak
dan kewajiban yang sama dengan peserta
didik. Keberadaan guru sebagai peserta aktif,
diharapkan dapat memotivasi peserta didik,
hingga peserta didik menyadari potensinya
sendiri. Bila perlu guru memimpin diskusi.
3) Bertindak sebagai katalisator, sehingga dapat
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk
berpikir atau belajar melalui pertanyaan,
komentar, dan saran-saran.
d. Mengadakan supervisi pemanduan, yang
memusatkan perhatian kepada penilaian atas
pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan yang
dilakukan dalam rangka menyiapkan pelaksanaan
rangkuman dan pemantapanan, yang pada

109
akhirnya memungkinkan peserta didik saling
belajar serta memperoleh wawasan secara
menyeluruh tentang kegiatan tersebut.
Untuk melakukan supervise pemanduan ini, guru
mendatangi setiap kelompok, kemudian
mengadakan penilaian atas kemajuannya, dan
menyiapkan mereka untuk mmengikuti kegiatan
akhir. Salah satu cara yang efektif untuk tujuan
yang dimaksud adalah, mengingatkan peserta didik
akan waktu yang masih tersisa untuk
menyelesaikan tugas. Misalnya: “waktu tinggal 15
menit lagi! jam 10.00 semua kelompok sudah harus
berkumpul dikelas, siap dengan laporannya”.
Untuk memudahkan guru dalam tindakan supervisi
proses awal, proses lanjut, dan
KEGIATAN AWAL
supervisipemanduan dapat digambarkan sebagai
Pejelasan tugas
berikut:
Pembagian

Supervisi
proses awal
KEGIATAN KELOMPOK
BERLANGSUNG
Sesuai dengan pengarahan
antara lain :
Kegitan parallel
Kegiatan kompementer
Kegiatan berbeda penuh
2. Supervisi
proses lanjut

MENYIAPKAN KELOMPOK
UNTUK KEGIATAN AKHIR
Kesetiaan pada tujuan
Pengecekan kemajuan kel

3. Supervisi
110 pemanduan
KEGIATAN AKHIR
Laporan dan tanya jawab
Rangkuman
Pemantapan
8.4. Keterampilan Merencanakan dan Melaksanakan
Kegiatan Pembelajaran

Penguasaan guru pada keterampilan ini


memberikan peluang untuk melaksanakan perannya
sebagai pengembang kurikulum, hal ini sangat
dimungkinkan karena keterampilan merencanakan dan
melaksanakan kegiatan belajar mengajar mencakup hal-hal
yang berhubungan dengan kurikulum terutama
pengembangannya.
Membantu peserta didik melakukan kegiatan baik
perorangan, maupun kelompok dan sekaligus dapat
mmelaksanakannya, merupakan tugas utama guru dalam
proses belajar mengajar. Tugas tersebut dapat terlaksana
dengan baik mana kala guru mampu membuat
perencanaan kegiatan belajar yang tepat bagi setiap
kelompok, dan sekaligus dapat melaksanakan. Dalam
usaha untuk membuat perencanaan yang tepat, guru harus
mampu membuat diagnosis: kemampuan akademik

111
peserta didik, kemampuan memahami, gaya belajar,
kecenderungan minat dan tingkat kedisiplinan peserta
didik. Dari hasil diagnosis yang diperoleh ini, guru harus
dapat menetapkan kondisi dan tuntutan belajar, yang
memungkinkan peserta didik memikul tanggung jawab
belajarnya sendiri. Adapun kondisi dan tuntutan belajar
dimaksud dapat berupa: belajar mandiri, paket kegiatan
belajar, belajar dengan tutor sesama peserta didik, simulasi
dan lain sebagainya. Bentuk tuntutan belajar yang mana
yang akan dipilih yang penting dapat memandu peserta
didik untuk menghayati pengalaman bekerja sama atau
bekerja dengan pengarahan sendiri.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan
kegiatan belajar mengajar ini meliputi hal-hal antara lain
sebagai berikut:

1. Membantu peserta didik menetapkan tujuan pelajaran


yang dapat dilakukan dengan diskusi atau menyediakan
bahan-bahan yang menarik yang mampu menstimulasi
peserta didik untuk mencapai tujuan.
2. Merencanakan kegiatan belajar bersama peserta didik
yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah
kerja, waktu serta kondisi belajar.
3. Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagi peserta
didik bila diperlukan. Hal ini dapat dilakukan dengan
berinteraksi aktif, menunjukkan mimik tanda setuju atau
memberikan bimbingan yang dilakukan secara periodik,
bimbingan ini akan sangat berpengaruh pada kemajuan

112
peserta didik karena waktu dapat digunakan secara
efektif, peserta didik segera dapat diarahkan kembali jika
menyimpang dari tujuan, dengan demikian motivasi
pada peserta didik dapat dipelihara.
4. Membantu peserta didik menilai pencapaian dan
kemajuannya sendiri. Kegiatan ini mengandung
pengertian guru memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk memperbaiki dirinya sendiri, yang sekaligus
pencerminan kerja sama guru dengan peserta didik
dalam situasi pendidikan yang manusiawi.

Dari butir-butir yang disebutkan diatas ternyata


keterampilan mengajar dengan kelompok kecil dan
perorangan merupakan keterampilan yang kompleks,
karena didalamnya mencakup keterampilan yang
sebelumnya harus dikuasai oleh guru. Keterampilan yang
dimaksud yaitu keterampilan bertanya, memberi
penguatan, mengadakan variasi dalam mengajar,
menjelaskan dan membimbing diskusi kelompok kecil.
Perlu dikemukakan disini bahwa dalam pengajaran
kelompok kecil tekanan utama terletak pada penerapan
keterampilan mengorganisasikan, dan membimbing, serta
memudahkan peserta didik belajar, sedangkan dalam
pengajaran perorangan tekanan itu terletak pada
penerapan keterampilan mengadakan pendekatan secara
pribadi dan keterampilan merencanakan serta
melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

113
8.5 Penggunaan Dalam Kelas

Menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk


bekerja didalam kelompok kecil dan bila perlu secara
perorangan, merupakan salah satu alternative terbaik untuk
memberikan perhatian yang wajar pada perbedaan
individual peserta didik.

Berbagai variasi pengorganisasian dapat digunakan


untuk maksud tersebut, yang tentu saja dalam kegiatan
pengorganisasian harus disesuaikan dengan tujuan yang
akan dicapai, materi, kemampuan peserta didik,
kemampuan guru mengelola dan fasilitas yang tersedia.
Berikut ini variasi pengorganisasian untuk memberikan
kesempatan belajar dalam kelompok kecil dan perorangan.

(1)
Kelas Besar
Kelas Besar

&
&

Pelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk


memberi informasi dasar, penjelasan tentang tugas yang
&

akan dikerjakan, dan hal-hal yang dianggap perlu. Dalam

114
model ini setelah pertemuan kelas, peserta didik diberi
kesempatan untuk memilih:

a. Bekerja dalam kelompok, atau


b. Bekerja secara perorangan

Setelah waktu yang ditetapkan berakhir, pelajaran diakhiri


dengan pertemuan kelas kembali sebagai pengalaman,
laporan, atau pengukuran hasil kerja.

(2)
Kelas Besar

Q QQ QQ Q &
Kelompok Kecil
Q
Pertemuan diawali dengan pengarahan secara klasikal,
diantaranya mencakup informasi dasar, perundingan
tentang tugas yang akan dikerjakan, cara kerja dan lain
sebagainya. Selanjutnya kelas langsung bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil yang telah ditetapkan dan
menyelesaikan kontrak yang telah dibuat bersama guru
sebelumnya, sampai batas waktu yang telah ditetapkan.
Laporan yang dibuat kelompok diserahkan kepada guru
pada kegiatan akhir.

(3)

115
Pertemuan diawali dengan pengarahan/informasi secara
klasika. Setelah itu peserta didik langsung berkerja secara
perorangan dan kemudian bergabung dalam kelompok
kecil untuk mengolah hasil yang telah dicapai. Pada akhir
pertemuan, setiap kelompok menyerahkan hasilnya kepada
guru.

Setelah pertemuan dalam kelas besar yang


merupakan awal kegiatan, peserta didik langsung berkerja
secara perorangan sampai batas waktu akhir. Setiap
peserta didik bekerja sesuai dengan kontrak yang telah
dibuatnya bersama guru.

Masih banyak variasi pengorganisasian lain yang


dapat dibuat oleh guru, yang semuanya menuntut

116
kemampan dan keerampilan untuk mencanangkan,
melaksanakan, dan menilai.

Agar guru dapat menggunakan kelomok kecil dan


format perorangan secara tepat dan efektif, ada beberapa
hal yang diperhatikan antara lain:

a. Bagi guru yang telah biasa dengan pengajaran


klasikal, sebaiknya mulai dengan pengajaran
kelompok kecil, kemuian secara bertahap mengarah
kepada pengajaran perorangan. Sedangkan bagi
calon guru sebaiknya memulai dengan pengajaran
perorangan, kemudian secara bertahap ke
pengajaran kelompok.

b. Tidak semua topik dapat dipelajari secara efektif


dalam kelompok kecil maupun perorangan. Hal-hal
yang bersifat umum seperti pengarahan, informasi
umum, dan lain sebagainya, sebaiknya dilakukan
dalam bentuk klasikal.

c. Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama


yang harus dikerjakan guru adalah
mengorganisasikan peserta didik, sumber materi,
ruangan, dan waktu yang akan diperlukan. Langkah
ini merupakan landasan bagi berlangsungnya
kegiatan.

d. Kegiatan pengajaran kelompok yang efektif diakhiri


dengan suatu kulminasi yang dapat berupa:

117
rangkuman, pemantapan, laporan, dan lain
sebagainya, yang semuanya memungkinkan peserta
didik saling belajar.

e. Dalam pengajaran perorangan, guru perlu sekali


mengenal peserta didik secara pribadi, hingga
kondisi belajar dapat diatur dengan tepat.

f. Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat


berupa berkerja bebas dengan bahan yang telah
siap pakai (paket belajar, atau bahan yang telah
disiapkan guru) dapat juga belajar sendri dengan
jadwal harian disiapkan sendiri pula, dan dapat pula
berkerja dalam kelompok kecil. Dengan demikian
dalam situasi pengajaran perorangan, guru mungkin
berkerja dengan satu orang peserta didik, dua orang
peserta didik, atau guru mengunjungi setiap peserta
didik dengan berbagai kegiatan bila muncul
kebutuhan untuk itu.

Dengan memperhatikan hal-hal sebagaimana di


sebutkan di atas dan guru menguasai sejumlah
keterampilan sebagaimana telah dikemukakan pada uraian
terdahulu, diharapkan guru dapat melaksanakan
pengajaran kelompok kecil dan perorangan secara tepat.

118
DAFTAR PUSTAKA

B. Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di


Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Conny Semiawab, dkk. 1972. Pendekatan Keterampilan
Proses. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Hasibuan, JJ. Dkk. 1994. Proses Belajar Mengajar
Keterampilan Dasar Pengajaran Mikro. Bandung:
Remaja Rosdakarya
John I. Bolla, D.N. Pah. 1985. Panduan Pengajaran Mikro
Berbagai Keterampilan Dasar Mikro. Jakarta:
Depdikbud-PPLPTK
Nasution S. 1995. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara
Panduan Pengajaran Mikro. 1985. Berbagai Keterampilan
Dasar Mengajar. Jakarta: Dedpdikbud-DIkti
Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Mengajar-
Belaja. Bandung: Tarsito

119
120