Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH RISET KEPERAWATAN

“POPULASI DAN SAMPEL DALAM


PENELITIAN”

Disusun Oleh:
1. Lenny Alfiani (PO.71.20.4.16.018)
2. Putri Ayu Amalia (PO.71.20.4.16.023)

Dosen Pembimbing:
Azwaldi, App.,M.Kes

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
D-IV KEPERAWATAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini sebagaimana mestinya makalah ini yang
merupakan salah satu syarat mengikuti mata kuliah Riset Keperawatan.
Dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan terima kasih yang
sebesar– besarnya kepada tim penulis, semua rekan-rekan yang ikut
membantu demi terwujudnya makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi


para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri. Saran dan kritik yang
membangun untuk kesempurnaan penulisan ini sangat kami harapkan.

Palembang, Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 3

A. Latar Belakang........................................................................................ 3

B. Rumusan Masalah .................................................................................. 3

C. Tujuan ..................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 4

A. Definisi Populasi .................................................................................... 4

B. Definisi Sampel ...................................................................................... 5

C. Pemilihan Sampel ................................................................................... 5

D. Tehnik Sampling .................................................................................... 6

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 12

A. Kesimpulan ........................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 13

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam melakukan penelitian, populasi dan sampel merupakan satu komponen yang
sangat diperlukan. Dalam menentukan populasi dan sampel penelitian, sudah barang tentu
haruslah sesuai dengan langkah-langkah yang ditentukan serta haruslah tepat dan efisien.
Kendala-kendala yang timbul selayaknya dapat diantisipasi oleh peneliti. Oleh karenanya,
dalam menentukan populasi dan sampel peneliti hendaklah memperhatikan hal-hal yang
memang berkaitan dengan populasi dan sampel, sehingga didapatkan sampel yang tepat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Populasi ?
2. Apa definisi Sampel ?
3. Apa saja yang digunakan dalam pemilihan Sampel ?
4. Apa saja tehnik Sampling ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Populasi
2. Untuk mengetahui defimisi Sampel
3. Untuk mengetahui apa saja yang digunakan dalam pemilihan sampel
4. Untuk mengetahui tehnik sampling

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Populasi
Populasi berasal dari kata bahasa inggris yaitu population, yang berarti jumlah
penduduk. Oleh karena itu, apabila disebutkan kata populasi, orang kebanyakan
menghubungkannya dengan masalah-masalah kependudukan. Hal tersebut ada benarnya juga,
karena itulah makna kata populasi sesungguhnya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya,
kata populasi menjadi amat populer, dan digunakan di berbagai disiplin ilmu.
Dalam metode penelitian kata populasi digunakan untuk menyebutkan serumpun atau
sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian. Oleh karenanya, populasi penelitian
merupakan keseluruhan (universal) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan,
tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek
ini dapat menjadi sumber data penelitian.
Karena pengertian populasi yang dikemukakan diatas, maka populasi menjadi amat
beragam. Kalau populasi dilihat dari penentuan sumber data, maka populasi dapat dibedakan
menjadi:
1. Populasi terbatas, yaitu populasi yang memiliki sumber yang jelas batas-batasnya secara
kuantitatif.
2. Populasi tak terhingga, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat
ditentukan batas-batasnya secara kuantitatif.
Dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan menjadi:
1. Populasi homogen, yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki
sifat yang relatif sama satu sama lainnya.
2. Populasi heterogen, yaitu keseluruhan individu anggota populasi relative memiliki sifat-
sifat individual, dimana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu
dengan yang lainnya.

4
B. Definisi Sampel
Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut
penelitian sampel. Sampel dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama adalah sampel
judgemental yaitu sampel dipilih berdasarkan pendapat analisis dan hasil penelitian digunakan
untuk menarik kesimpulan tentang item-item didalam sampel yaitu observasi sesungguhnya.
Yang kedua, sampel statistical yaitu sampel dipilih secara acak/random dari seluruh populasi
dan hasil penelitiannya dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tentang seluruh populasi.
Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel serta
perhitungan besarnya sampel yang akan menjadi subjek atau objek penelitian.

C. Pemilihan Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam
penelitian. Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel, yaitu:
1. Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya
tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama sekali
tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu, demikian juga dalam populasi
terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar dan tidak praktis untuk mengumpulkan
data dari populasi. Mislanya, populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh
pelosok Indonesia.
2. Masalah biaya
Besar kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki.
Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih-lebih bila
objek itu tersebar di wilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah salah satu
cara untuk mengurangi biaya.
3. Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian
populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan
yang diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel dalam hal ini lebih cepat.
4. Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat
merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh

5
seorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba
seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada
sampel.
5. Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan dapat dipertanggung
jawabkan. Ketelitian dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data.
Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengara. Boleh jadi peneliti akan
menjadi bosan dalam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua, penelitian
terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
6. Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian: apakah kegunaan
dari hasil penelitian sepadan dengan biaya, waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika
tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada
dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi.

Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua
unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
1. Harus meliputi seluruh unsur sampel.
2. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali.
3. Harus up to date.
4. Batas-batasnya harus jelas.
5. Harus dapat dilacak dilapangan.

D. Tehnik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang secara umum terbagi dua
yaitu probability sampling dan non probability sampling.
Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain :
1. Tabel Isaac dan Michael
Tabel penentuan jumlah sampel dari Isaac dan Michael memberikan kemudahan
penentuan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10%. Dengan tabel
ini, peneliti dapat secara langsung menentukan besarnya sampel berdasarkan jumlah
populasi dan tingkat kesalahan yang dikehendaki.

6
2. Rumus Slovin
n = N/N(d)2 + 1
Keterangan:
n = sampel
N = populasi
d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.
Misalnya, jumlah populasi adalah 125, dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 5%,
maka jumlah sampel yang digunakan adalah :
N = 125/125 (0,05)2 + 1 = 95,23, dibulatkan 95

Adapun teknik sampling dalam penelitian, yaitu:

a. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Teknik ini
meliputi:
1) Simple Random Sampling
Teknik ini adalah teknik yang paling sederhana (simple). Sampel diambil secara
acak, tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi. Misalnya: Populasi
siswa SD Negeri XX Jakarta yang berjumlah 500 orang. Jumlah sampel ditentukan
dengan Tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan adalah sebesar 5%
sehingga jumlah sampel ditentukan sebesar 205. Jumlah sampel 205 ini selanjutnya
diambil secara acak tanpa memperhatikan kelas, usia dan jenis kelamin.
2) Sampling Sistematis
Adalah teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi, baik
yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor
identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis
lainnya. Contohnya: Akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah
125. Karyawan ini diurutkan dari 1–125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa
menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dan seterusnya)

7
atau nomor ganjil (1, 2, 3, dan seterusnya), atau bisa juga mengambil nomor
kelipatan (2, 4, 8, 16, dan seterusnya).
3) Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan
sampelnya memperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam populasi. Misalnya,
populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 125. Dengan rumus Slovin (lihat contoh di
atas) dan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 95. Populasi sendiri
terbagi ke dalam tiga bagian (marketing, produksi dan penjualan) yang masing-
masing berjumlah:
Marketing : 15
Produksi : 75
Penjualan : 35
Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masing bagian tersebut
ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas/jumlah populasi keseluruhan)
X jumlah sampel yang ditentukan
Marketing : 15 / 125 x 95 = 11,4 dibulatkan 11
Produksi : 75 / 125 x 95 = 57
Penjualan : 35 / 125 x 95 = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 11 + 57+ 27 = 95 sampel.
Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah heterogen (tidak
sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam hal bidang kerja, sehingga besarnya
sampel pada masing-masing strata atau kelompok diambil secara proporsional.
4) Disproportionate Stratified Random Sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip
dengan proportionate stratified random sampling dalam hal heterogenitas populasi.
Namun, ketidak proporsionalan penentuan sample didasarkan pada pertimbangan
jika anggota populasi berstrata namun kurang proporsional pembagiannya.
Misalnya, populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang berstrata
berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya
sangat tidak seimbang, yaitu :
SMP : 100 orang

8
SMA : 700 orang
DIII : 180 orang
S1 : 10 orang
S2 : 10 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu
kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya
ditetapkan sebagai sampel.
5) Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau populasi
sangat luas misalnya penduduk suatu propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan
yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan
sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan
menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut
dengan menggunakan teknik proporsional stratified random sampling mengingat
jumlahnya yang bisa saja berbeda.
Contoh: Peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di
tingkat SMU. Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena
jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan
sampelnya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :
a) Menentukan sample daerah. Misalnya, ditentukan secara acak 10 Provinsi yang
akan dijadikan daerah sampel.
b) Mengambil sampel SMU di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut
sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil
secara acak SMU tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel
(disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan/Desa
yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMU yang
dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi
secara keseluruhan.

9
b. Non Probabilty Sample
Non Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau
peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non
Probability ini antara lain:
1) Sampling Kuota
Sampling Kuota adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari
populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan. Misalnya
akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kemampuan mengajar
guru. Jumlah sekolah adalah 10, maka sampel kuota dapat ditetapkan masing-masing
10 siswa per sekolah.

2) Sampling Insidential
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau siapa saja
yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan
karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel. Misalnya, penelitian
tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan
ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja
yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15
tahun) akan dijadikan sampel.
3) Sampling Purposive
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
khusus sehingga layak dijadikan sampel. Misalnya, peneliti ingin meneliti
permasalahan seputar daya tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan adalah
para teknisi atau ahli mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Atau
penelitian tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil
adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini.
Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
4) Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya
dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100. Misalnya akan

10
dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA XXX Jakarta. Karena jumlah guru
hanya 35, maka seluruh guru dijadikan sampel penelitian.
5) Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil
kemudian terus membesar ibarat bola salju. Misalnya akan dilakukan penelitian
tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang
narapidana, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau
responden terus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas
permasalahan yang diteliti. Teknik ini juga lebih cocok untuk penelitian kualitatif.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sampel merupakan bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi
dalam penelitian. Dalam menyusun sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar
dari semua sampling dalam populasi sampling, dengan syarat harus meliputi seluruh unsur
sampling, tidak ada unsur sampling yang dihitung dua kali, harus up to date, batas-
batasnya harus jelas, dan harus dapat dilacak dilapangan.
Dalam penelitian yang menggunakan sampel sebagai alat untk menganalisis, baik
pada penelitian dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Yang menjadi masalah
atau persoalan yang dihadapi yaitu, bahwa persoalan sampling adalah proses untuk
mendapatkan sampel dari suatu populasi. Disini sampel harus mencerminkan keadaan
populasi. Masalah yang kedua adalah tentang bagaimana proses pengambilan sampel dan
berapa banyak unit analisis yang akan diambil. Sehingga masalan yang dihadapi
diantaranya teknik penarikan sampel manakah yang cocok dengan karakteristik populasi,
tujuan, dan masalah yang akan dikaji. Selain itu berapa banyak unit analisis atau ukuran
sampel yang akan dilibatkan dalam kegiatan penelitian.

12
DAFTAR PUSTAKA

Ajach, Rave. 2014. Makalah Populasi Sampel.


https://id.scribd.com/doc/246561559/MAKALAH-POPULASI-SAMPEL. (24 Agustus
2019)
Wulandari, Eni. 2017. Makalah Populasi dan Sampel Penelitian.
https//www.academia.edu/33088477/MAKALAH_POPULASI_DAN
SAMPEL_PENELITIAN_. (24 Agustus 2019)
Emzir. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Kasiram, Moh. 2008. Metodologi Penelitian. Malang: UIN-Malang Press.

13