Anda di halaman 1dari 10

Beberapa waktu lalu, The South-East Asia Regional Association of Medical Education (Searame) digelar di

Yogyakarta. Seminar internasional dari badan pendidikan kedokteran Asia Tenggara ini membahas
peningkatan kualitas pendidikan profesi kesehatan untuk pelayanan kesehatan masa depan yang lebih
baik.

Searame sendiri merupakan organisasi non pemerintah yang ada di bawah World Federation for Medical
Education (WFME) yang fokus kepada pengarusutamaan standar tertinggi pendidikan kedokteran. WFME
memiliki enam anggota asosiasi yang sesuai enam wilayah WHO. Keenam asosiasi itu di antaranya AMEE
untuk Eropa, AMEEMR untuk Mediterania timur, AMEWPR untuk Pasifik, AMSA untuk Afrika, PAFAMS
untuk Amerika Utara dan Selatan, serta Searame untuk regional Asia Tenggara.

President WFME, David Gordon menjelaskan, WFME melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan
kualitas dunia pendidikan kedokteran yang memang luas. Tujuannya, tidak lain untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan bagi semua.

"Dengan mempromosikan standar tertinggi dalam aspek manajemen, organisasi, dukungan dan
mengirimkan pendidikan kedokteran, tapi tidak berkaitan dengan detail-detail apa yang diajarkan dalam
pendidikan kedokteran atau metode dan pendekatan yang dilakukan," kata Gordon.

Setiap negara pasti memiliki persoalan yang berbeda terkait ranah kesehatan. Misalnya saja, Timor Leste.
Dengan jumlah penduduk yang hanya satu jutaan orang, Timor Leste memiliki jumlah dokter dan tenaga
kesehatan yang terbilang sangat banyak. Serupa, Korea Utara memiliki tenaga kesehatan dan dokter
dengan jumlah yang terbilang tinggi. Hal ini menyebabkan rasio dokter dengan fakultas kesehatan yang
ada terbilang tinggi yaitu 1:500.

Ada pula negara-negara seperti India, yang punya fakultas kedokteran di atas 400 tapi jadi salah satu
pengekspor tenaga dokter. Sebanyak 30 persen tenaga dokter diekspor ke luar. Akibatnya, negara-negara
di Asia Selatan seperti India, Bangladesh, Srilangka, kekurangan tenaga kesehatan.

Bagaimana Indonesia?
Proyeksi Kementerian Kesehatan untuk periode 2005-2025, Indonesia sudah memiliki jumlah tenaga
kesehatan dan dokter yang cukup. Kondisi itu terjadi karena fakultas-fakultas kedokteran dari berbagai
universitas di Indonesia terbilang produktif mencetak tenaga kesehatan maupun dokter.

Tetapi, lagi-lagi, persoalan klasik di Indonesia adalah distribusi baik tenaga kesehatan dan dokternya. Tak
dipungkiri kebanyakan dari mereka berada, bahkan menumpuk di kota-kota besar di Pulau Jawa.
Padahal, masih banyak daerah pinggiran Jawa, apalagi luar Jawa yang jumlah tenaga kesehatan maupun
dokternya sangat kurang. Data dari Kemenkes menyebutkan ada sekitar 1.700 puskesmas yang tidak ada
dokternya. Hal ini menjadi sangat ironis ketika satu puskesmas di kota-kota besar bisa memiliki beberapa
dokter.

Yang tak kalah penting adalah meningkatkan kualitas pendidikan profesi kesehatan. Setiap negara harus
memiliki lembaga akreditasi yang terpisah dari pemerintah. Langkah memperkuat lembaga akreditasi
nonpemerintah ini akan mendorong semakin baiknya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
untuk pendidikan dokter dan tenaga kesehatan sesuai standard yang diinginkan.

Indonesia sendiri miliki lembaga akreditasi yang bernama Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi
Kesehatan (LAM-PTKes) sejak 2014 lalu. Lembaga ini harus terus diperkuat untuk meningkatkan proses
penilaian akreditasi di perguruan tinggi.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

Menurut WHO (2011), terdapat beberapa isu permasalahan pada Sumber Daya Manusia Kesehatan di
Indonesia yaitu :

Pengembangan tenaga kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan untuk
pelayanan/pembangunan kesehatan. Tenaga kesehatan terus membaik dalam jumlah, kualitas dan
penyebarannya, namun masih belum mampu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh
wilayah terutama pada daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan. Mutu tenaga kesehatan
belum memiliki daya saing dalam memenuhi permintaan tenaga kesehatan dari luar negeri.

Regulasi untuk mendukung upaya pengembangan tenaga kesehatan masih terbatas.

Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan masih perlu ditingkatkan dan belum didukung dengan sistem
informasi tenaga kesehatan yang memadai. Rencana kebutuhan tenaga kesehatan yang menyeluruh
belum disusun sesuai yang diharapkan, sehingga belum sepenuhnya dapat dipergunakansebagai acuan
dalam pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan, pendayagunaan tenaga kesehatan, serta pembinaan
dan pengawasan mutu tenaga kesehatan.

Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan/pendidikan berbagai jenis tenaga kesehatan.
Kajian jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan tersebut belum dilakukan sebagaimana mestinya. Kualitas
hasil pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan pada umumnya masih kurang memadai. Masih banyak
institusi pendidikan tenaga kesehatan yang belum terakreditasi dan memenuhi standard. Hal ini akan
berdampak terhadap kompetensi dan kualitas lulusan tenaga kesehatan. Permasalahan pendidikan
tenaga kesehatan pada umumnya bersifat sistemik, antara lain terdapat ketidaksesuaian kompetensi
lulusan pendidikan dengan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat, lemahnya kerjasama
antara pelaku dalam pembangunan kesehatan dan pendidikan tenaga kesehatan, lebih dominannya
pendidikan tenaga kesehatan yang berorientasi ke Rumah Sakit dibandingkan dengan Primary Health
Care.

Dalam pendayagunaan tenaga kesehatan, pemerataan dan pemanfaatan tenaga kesehatan yang
berkualitas masih kurang, utamanya di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, kepulauan dan daerah
yang kurang diminati. Hal ini disebabkan oleh disparitas sosial ekonomi, budaya maupun kebijakan
pemerintah daerah termasuk kondisi geografis antar daerah mengurangi minat tenaga kesehatan untuk
ditempatkan di daerah tersebut. Selain itu pengembangan dan pelaksanaan pola pengembangan karir,
sistem penghargaan dan sanksi belum dilaksanakan sesuai yag diharapkan. Pengembangan profesi yang
berkelanjutan (Continue Professional Development/CPD), serta Training Need Assesment (TNA) masih
perlu dikembangkan.

Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan masih belum dapat dilaksanakan sebagaimana yang
diharapkan. Registrasi dan sertifikasi tenaga kesehatan masih terbatas pada tenaga dokter dan dokter
gigi. Sosialisasi dan penerapan peraturan perundang-perundangan di bidang pengembangan tenaga
kesehatan belum dilaksanakan secara memadai.

Sumber daya pendukung pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan masih terbatas. Sistem
informasi tenaga kesehatan belum sepenuhnya dapat menyediakan data yang akurat, terpercaya dan
tepat waktu. Dukungan sumber daya pembiayaan dan lain-lain sumber daya belum memadai.

Another Lost Stories : Cara Penghitungan Unit Cost Rumah Sakit

Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan RI (2009), terdapat permasalahan strategis Sumber Daya
Manusia kesehatan yang dihadapi saat ini dan ke depan yaitu sebagai berikut :

Pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia kesehatan belum dapat memenuhi
kebutuhan Sumber Daya Manusia untuk pembangunan kesehatan.

Perencanaan kebijakan dan program Sumber Daya Manusia kesehatan masih lemah dan belum didukung
sistem informasi Sumber Daya Manusia kesehatan yang memadai.
Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis Sumber Daya Manusia
kesehatan.Kualitas hasil pendidikan Sumber Daya Manusia kesehatan dan pelatihan kesehatan pada
umumnya masih belum memadai.

Dalam pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan , pemerataan Sumber Daya Manusia Kesehatan
berkualitas masih kurang. Pengembangan karir, sistem penghargaan dan sanksi belum sebagaimana
mestinya. Regulasi untuk mendukung Sumber Daya Manusia kesehatan masih terbatas.

Pembinaan dan pengawasan Sumber Daya Manusia kesehatan dan dukungan Sumber Daya Manusia
kesehatan masih kurang.

Permasalahan Sumber Daya Manusia Kesehatan tingkat Global

lebih dominannya pendidikan tenaga kesehatan yang berorientasi ke Rumah Sakit dibandingkan dengan
Primary Health Care

RELATED LOST STORIES

“Dukun” And Traditional Medicine In Indonesia

Dukun - traditional healers - continue to play an important role in health care, particularly…

Sajak Sebatang Lisong

Sajak Sebatang Lisong merupakan salah satu Puisi atau Sajak karya WS Rendra yang sangat fenomenal
ini…

Sumber: bppsdmk.kemkes.go.id

Berdasarkan hasil Global Health Workforce Alliance (GHWA) Conference, 2014, permasalahan Sumber
Daya Manusia Kesehatan di tingkat global, diidentifikasi terdiri atas :

Ketersediaan,

Jenis,
Kualitas,

Distribusi ,

Data Sumber Daya Manusia Kesehatan minim, dan

Sistem pembiayaan kesehatan 90% diperuntukkan rumah sakit

Pelayanan kesehatan termasuk dalam hak azasi warga negara Indonesia. Perlindungannya berada dalam
lingkup Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat (1), (2), dan, (3) dan Pasal 34 ayat (1), 2), dan (3).

Dalam Pasal 34 ayat (3) disebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Namun pada prakteknya masih terdapat empat
masalah utama pelayanan kesehatan di Indonesia.

Menurut Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia, ada empat hal terkait layanan kesehatan,
yakni; Accessibility, Capability, Capacity, dan Affordability. "Untuk Accessibility, memang sekarang sudah
banyak rumah sakit. Tapi hanya mengelompok di kota-kota tertentu, kota-kota besar, terutama
pelayanan rumah sakit yang bentuknya spesialis," ujar Suryo dalam forum Diskusi Philips HealthTech
dengan tema 'Peran Teknologi dalam Meningkatkan Akses Kesehatan' di bilangan Menteng, Jakarta
Pusat, pekan lalu.

"Bayangkan orang di pedalaman di mana orang harus tiga hingga empat jam naik perahu untuk menuju
ke Rumah Sakit, ditambah harus menyambung lagi satu jam dengan naik kendaraan darat. Mereka
terkadang punya biaya untuk berobat tapi ngga punya biaya untuk transportasinya," tambah Suryo.

Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia, dan Fajaruddin Sihombing dalam Forum Diskusi
Phillips/Prisma PR

Untuk Capability adalah kendala di mana tenaga-tenaga dokter umum mungkin memang banyak, tetapi
tidak dengan dokter-dokter spesialis. Sedangkan menyoal Capacity, alat-alat medis dengan terobosan-
terobosan inovatif yang belum dimiliki oleh banyak rumah sakit. Kalau pun ada, ketersediaannya terbatas
sehingga tidak mampu mengakomodir jumlah pasien yang banyak.
"Affordability adalah apakah mereka (pasien) mampu berobat? Problem kita ada di empat area
(Accessibility, Capability, Capacity, dan Affordability) itu," lanjut Suryo.

Menurut Fajaruddin Sihombing, selaku perwakilan dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia, apa yang
dikatakan Suryo adalah realita yang terjadi di Indonesia. Keempat masalah inilah yang memang butuh
atensi khusus agar pemerataan pelayanan kesehatan dapat terlaksana.

"Banyak faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan nantinya. Faskes dan subsistem lainnya
harus bisa saling dukung," ujar Fajaruddin saat berbincang di kesempatan yang sama.

Bentuk pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan dengan kehadiran teknologi. Sebab dengan teknologi
nantinya akan membantu untuk peningkatan efisiensi biaya pelayanan rumah sakit. Sebagai contoh
adalah kerja sama antara dokter di Amerika Serikat dengan di India.

Tenaga-tenaga ahli medis merupakan tenaga mahal di AS. Mereka berusaha memikirkan bagaimana cara
menekan biaya jasa mereka dengan menggunakan teknologi dan bekerja sama dengan tenaga ahli
kesehatan di India. Dua negara yang memiliki beda waktu 12 jam ini kemudian saling bekerja sama
dalam melakukan diagnosa.

Waktu pagi AS, dokter melakukan tes radiologi, kemudian mereka pun mengirimkan ke India untuk
dibaca hasilnya oleh ahli radiologi di India. Ahli radiologi India pun mengirimkan hasil diagnosanya dan
kemudian dokter di AS bisa mengambil tindakan medis selanjutnya berdasarkan hasil diagnosa dari India.
Diharapkan inilah nantinya yang bisa diaplikasikan di Indonesia.

"Dokter-dokter di pedalaman dapat melakukan tes-tes radiologi kemudian mengirimkan hasilnya ke


dokter ahli di kota. Dan nantinya, hasil diagnosa bisa diberikan untuk tindakan medis selanjutnya," Suryo
memberikan pengandaian.

Atas beberapa solusi teknologi yang diberikan Suryo bersama layanan kesehatan Phillips, Fajaruddin
mengaku mendukung karena memang diperlukan sinergi antara para stake-holder untuk mengatasi
masalah ini.
"Asosiasi Rumah Sakit Swasta saat ini sudah melakukan penghitungan biaya pelayanan rumah sakit yang
mencakup tiga komponen, yaitu lama perawatan, ketenagaan medis yang terlibat dan komponen-
komponen pendukung. Bila penggunaan teknologi mampu menjawab ketiga komponen tersebut maka
memang teknologi kita butuhkan dan tidak akan bisa dielakkan," tutup Fajaruddin

Keberadaan tenaga kesehatan dalam jumlah dan jenis yang diperlukan dengan mutu terbaik di
Puskesmas dan Rumah Sakit sangat diperlukan guna mendukung tercapainya sasaran-sasaran
Millennium Development Goals (MDG) dan suksesnya pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, SP.A, MPH, saat meresmikan Gedung
Jurusan Kebidanan, Analis Kesehatan dan Laboratorium Gizi; Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II
Manado, dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Kelas I Manado,
Senin (24/3).

Mengutip data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai 20 Maret 2014, terdapat 95.976
dokter yang teregistrasi dan bekerja pada sektor kesehatan di Indonesia - baik di jajaran Pemerintah
maupun swasta.

Dengan demikian, rasio jumlah dokter terhadap penduduk di Indonesia yang saat ini berjumlah 243,6
juta jiwa adalah 1 dokter untuk 2.538 penduduk. Rasio ini lebih tinggi dari rasio dokter ideal menurut
WHO, yaitu 1 dokter untuk 2.500 penduduk, ujar Menkes

Menkes menuturkan dari jumlah tersebut, 17.507 dokter bekerja di Puskesmas, sehingga diperkirakan
setiap Puskesmas rata-rata memiliki sekitar 1,8 dokter. Akan tetapi, data Kementerian Kesehatan
menunjukkan 938 Puskesmas atau 9,8% dari 9.599 Puskesmas yang ada masih kekurangan atau bahkan
tidak memiliki dokter yang diakibatkan oleh distribusi tenaga dokter di Indonesia yang belum merata.
Sebab, ternyata ada beberapa daerah yang mempunyai kelebihan tenaga dokter, sedangkan daerah
lainnya kekurangan.

Masalah distribusi yang belum merata ini juga terjadi pada tenaga kesehatan lain seperti perawat dan
bidan. Dewasa ini, ada 2,958 Puskesmas (30,8%) yang belum mempunyai sanitarian, 2,898 Puskesmas
(30,2%) yang belum mempunyai tenaga gizi, dan ada 5.274 Puskesmas (54,9%) yang mempunyai tenaga
analis laboratorium.
Menkes menyatakan bahwa Pemerintah menyikapi tantangan dalam pemenuhan SDM kesehatan
dengan melakukan strategi dan terobosan sebagai berikut : 1) Menempatkan tenaga kesehatan PTT
Dokter, Dokter gigi dan Bidan di seluruh Indonesia, 2) Melaksanakan Penugasan Khusus Tenaga D3
Kesehatan yang diprioritaskan di DTPK dan Daerah Bermasalah Kesehatan; 3) Melaksanakan Program
Residen Senior; dan Keempat, melaksanakan Program Internship Dokter Indonesia.

Saya berharap strategi Pemerintah ini dilaksanakan oleh segenap jajaran kesehatan di Tanah Air dan
didukung Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia dengan sungguh-sungguh, kata Menkes.

Lebih lanjut, Menkes mengharapkan seluruh jajaran Pemerintah Daerah di Indonesia melakukan langkah
dan upaya untuk: 1) Menjamin terpenuhinya jumlah dan jenis tenaga kesehatan dan menjamin
retensinya; 2) Memperhatikan pola karir t;enaga kesehatan dan 3) Memperhatikan tersedianya fasilitas
dan insentif bagi tenaga kesehatan.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk
informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567;
SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email
kontak[at]depkes[dot]go[dot]id

PENEMPATAN TENAGA KESEHATAN STRATEGIS DI DAERAH TERPENCIL

DIPUBLIKASIKAN PADA : JUMAT, 20 AGUSTUS 2010 02:34:50, DIBACA : 58.023 KALI

Masalah tenaga kesehatan telah menjadi salah satu kebijakan prioritas pemerintah karena mempunyai
kontribusi yang sangat besar untuk kesuksesan pembangunan kesehatan. Inpres nomor 1 tahun 2010
tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 menekankan upaya
penempatan tenaga kesehatan strategis di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan
(DTPK) dalam rangka peningkatan pemerataan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM (PPSDM) Kesehatan Dr.
Bambang Giatno Rahardjo, MPH saat temu media, Jumat, 13 Agustus 2010 di Kementerian Kesehatan.
Dr. Bambang Giatno menambahkan, Inpres nomor 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan Yang
Berkeadilan dijelaskan upaya penanganan masalah tenaga kesehatan diprioritaskan mulai dari pemetaan
kebutuhan nakes dan peningkatan persentase formasi nakes yang harus disediakan untuk DTPK.

Terkait dua kebijakan dan latar belakang tersebut, Kementerian Kesehatan telah melakukan langkah-
langkah konkret untuk implementasinya.

Upaya meningkatkan jumlah tenaga kesehatan strategis di setiap puskesmas dan rumah sakit di DTPK
dilakukan melalui mekanisme penempatan tenaga medis dan bidan PTT serta mekanisme penugasan
khusus. Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nakes di puskesmas di DTPK, Kemenkes
menempatkan tenaga medis dan bidan PTT dan nakes penugasan khusus lulusan Diploma III antara lain
perawat, sanitarian/kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga analis kesehatan, dan tenaga farmasi, ujar
Dr. Bambang Giatno.

Menurut Dr. Bambang Giatno, hingga Agustus 2010, untuk 257 puskesmas di 35 Kabupaten DTPK, telah
direkrut dan ditempatkan sebanyak 346 dokter dan dokter gigi PTT, 140 bidan PTT, 303 nakes penugasan
khusus (aktif sebanyak 293 nakes). Sedangkan untuk rumah sakit, telah ditempatkan sebanyak 98
residen senior di RS kabupaten yang membutuhkan. Penugasan khusus residen senior masih terus
diupayakan untuk ditingkatkan jumlahnya mengingat mayoritas RSUD Kabupaten tersebut bila ditinjau
dari ketersediaan tenaga medis spesialis masih belum memenuhi standar nasional untuk kelas C.

Berkaitan dengan hal itu, Kemenkes menjalin kerjasama dengan 13 Fakultas Kedokteran Universitas
Negeri yang memiliki program dokter spesialis yaitu pemberian bantuan pendidikan untuk peserta
program pendidikan dokter spesialis/dokter gigi spesialis (Permenkes RI No 535/Menkes/Per/VI/2008)
dan penugasan residen senior ke RSUD kabupaten yang membutuhkan terutama di DTPK.

Dr. Bambang Giatno mengatakan kendala utama dalam upaya meningkatkan ketersediaan nakes baik
dalam jumlah, jenis, dan distribusi secara merata adalah tidak tersedianya data yang akurat yang menjadi
dasar untuk menghitung perkiraan kebutuhan nakes untuk sarana pelayanan kesehatan. Tahun 2010
Kemenkes bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Propinsi telah melakukan upaya pemetaan ketersediaan
nakes dan kebutuhan di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah termasuk RS dan puskesmas. Hingga
saat ini 90% dari 495 Kabupaten/kota telah mengirimkan data keadaan nakes.
Sedangkan kendala dalam pelaksanaannya Dr. Bambang Giatno menjelaskan yaitu kepastian penyediaan
anggaran untuk kesinambungan pelaksanaan program, koordinasi dalam pelaksanaan masih perlu
ditingkatkan antara Kemenkes dengan lintas Kementerian terkait dan antara pusat dan daerah. Kendala
lain komitmen pemerintah daerah belum sepenuhnya terwujud terutama dalam penyediaan fasilitas
kesehatan yang memadai dan memenuhi standar.

Ke depan direncanakan ada peningkatan jumlah nakes yang ditugaskan di DTPK. Target akhir tahun 2010
penempatan nakes mencapai 1200. Masalah data hasil pemetaan akan diolah dan dikonfirmasi ulang
secara sampling ke 60 Kabupaten/kota untuk mengukur akurasi data agar diperoleh hasil perhitungan
kebutuhan sesuai kondisi sebenarnya di lapangan, tambah Dr. Bambang Giatno.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk
informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call
Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@depkes.go.id,
kontak[at]depkes[dot]go[dot]id.